Monday, 15 September 2014



Apa itu film omnibus? Buat yang belum tahu, film omnibus adalah film yang memiliki lebih dari satu cerita, dengan masing-masing kru nya tersendiri namun memiliki kesamaan genre. Seperti film horor V/H/S serta film yang satu ini. Rectoverso sendiri adalah film yang diadaptasi dari novel best seller karya salah satu novelis terbaik yang dimiliki oleh Indonesia yaitu Dewi 'Dee' Lestari. Di novel nya tersendiri memiliki 11 cerita pendek, namun di film ini dipilihlah 5 film yang mungkin bagi para sutradaranya memiliki kelebihan dibandingkan cerita-cerita yang lain. Mengenai sutradaranya, masing-masing film dihuni oleh para wanita yang mungkin kita ketahui lebih dahulu lewat sinetron atau ftv di Indonesia. Mari gw sebut satu per satu, Marcella Zalianty yang menukangi Malaikat Juga Tahu, Rachel Maryam dengan Firasat, Olga Lidya mengkomandoi Curhat Sahabat, Happy Salma menyutradarai Hanya Isyarat dan yang terakhir artis blasteran yang lebih kita kenal dahulu lewat karirnya sebagai VJ yaitu Cathy Sharon dengan Cicak di Dindingnya. Diadaptasi dari cerita novel yang ditelurkan oleh seorang wanita serta masing-masing disutradari oleh wanita pula, lengkaplah Rectoverso kental dengan sentuhan perempuannya. Maka tak dipungkiri keseluruhan Rectoverso begitu lembut, mencoba untuk menggugah hati para penonton serta merefleksikan kisah cinta yang terpendam yang gw yakin kita semua juga pernah merasakannya. Dari jajaran aktor/ aktris nya sendiri telah memiliki nama besar di dunia layar perak Indonesia. Dari jajaran aktor/aktris muda ada Yama Carlos, Dwi Sasono, Asmirandah, aktris manis Prisia Nasution, Acha Septriasa, di jajaran yang telah berpengalaman ada Lukman Sardi, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo, dan aktris yang masih terlihat cantik Widyawati. Dan jangan lupakan juga comeback yang dilakukan oleh Sophia Latjuba. Tentunya dengan porsi yang penuh akan bintang papan atas tersebut Rectoverso meninggikan ekspektasi para penontonnya, terutama para penonton yang telah menikmati novelnya terlebih dahulu.

Malaikat Juga Tahu

Sutradara: Marcella Zalianty

Pemain   : Lukman Sardi, Dewi Irawan, Prisia Nasution


"Jangan ngomong soal adil,, Aturan kamu, aturan kita, itu tidak berlaku untuk Abang"- Bunda

Plot


Menceritakan seorang Abang (Lukman Sardi) yang mengidap penyakit autis sehingga memiliki keterbelakangan mental. Namun dengan kelainan seperti itu tidak membuat Abang tidak bisa merasakan cinta terhadap lain jenis. Abang diam-diam menaruh rasa terhadap salah satu penghuni kost Bundanya (Dewi Irawan) yaitu Leia (Prisia Nasution). Hubungan Abang dan Leia sendiri terjalin dengan baik dimana Leia setia dan sabar menemani Abang untuk sekedar bercerita (keseringan Leia yang bercerita tentu saja). Namun kedatangan sang adik yaitu Hans (Marcell Domits) membuat sang Bunda khawatir akan Abang.


Review


Gw yakin mereka yang nangis bombay saat menonton Rectoverso diakibatkan oleh cerita yang satu ini. Karena Malaikat Juga Tahu (MJT) benar-benar memiliki segala aspek yang membuat para penontonnya merasakan kesedihan yang mendalam. Dan eksekusi maksimal dari segala orang yang terlibat di segmen ini membuat aspek tersebut sangat menghujam hati para penonton. Siapa yang tidak, minimal, merinding melihat adegan terakhirnya? Siapa yang tidak miris ketika surat yang ditulis tulus oleh Abang akhirnya dibaca oleh Leia? Sebuah kalimat yang begitu dalam dan menyentuh, terlebih ditulis oleh pria yang mengalami keterbelakangan mental seperti Abang. Ironis memang, cinta yang begitu tulus justru datang dari orang yang memiliki mental yang tidak normal. Kredit lebih untuk Lukman Sardi dan Dewi Irawan. Terutama Lukman Sardi, Lukman membuktikan bahwa dia adalah aktor yang serba bisa serta berkualitas level A. Dengan ekspresinya serta gesture badannya saja kita telah ikut terhanyut dengan apa yang dirasakan oleh Abang. Tidak heran bila Lukman Sardi begitu disukai para sutradara di Indonesia. Dewi Irawan juga tidak mau kalah, adegan terakhirnya menjadi begitu heartbreaking tidak lain juga berkat akting sang aktris senior ini. Prisia juga bermain cukup baik, tidak heran bila si Abang begitu menyukai karakter dari Leia, dan itu direpresentasikan dengan baik oleh Prisia. Kesimpulannya, mudah banget untuk menyatakan bahwa MJT inilah juaranya di film Rectoverso.

8/10



Firasat

Sutradara: Rachel Maryam

Pemain    : Asmirandah, Widyawati, Dwi Sasono



"Kalau kita punya firasat tentang seseorang, apa kita harus kasih tahu orang itu?"- Senja

Plot


Senja (Asmirandah) memiliki kedekatan khusus dengan salah satu anggota klub yang diikuti oleh Senja yaitu Panca (Dwi Sasono). Dan Senja memiliki firasat yang buruk terhadap Panca sehingga Senja mencoba untuk memperingatkan Panca.


Review


Segmen yang paling puitis dibandingkan dengan yang lain. Mungkin beda tipis dengan cerita Hanya Isyarat. Nah sayangnya gw kurang enjoy dengan bahasa-bahasa yang dikeluarkan di segmen ini, terdengar kaku aja sih, terlebih bahasa-bahasaa puitis tersebut sering dikeluarkan oleh Dwi Sasono dengan ekspresi yang cukup datar bagi gw sehingga bagi gw Dwi Sasono yang merupakan salah satu aktor yang memiliki akting yang bagus menjadi sedikit cukup sia-sia disini. Begitupun chemistry yang terjalin antara Dwi Sasono dengan Asmirandah yang kurang baik, kaku, sehingga sama sekali gak ada ikatan yang membuat gw perduli dengan hubungan mereka. Untunglah ada aktris senior sekelas Widyawati yang berakting sungguh baik dan mampu dengan sempurna membangun interaksi anak-ibu dengan Asmirandah. Adegan ketika Asmirandah menangis dan Widyawati menenangkannya itu priceless! Menyentuh banget. Ditambah tangisannya Asmirandah yang, yah, pemeran sinetron lah ya, sering dapat adegan nangis begitu sehingga tidak heran Asmirandah sempurna menjalankan tugas nya tersebut. Singkat kata, segmen Firasat tidak mampu membangun atensi dari gw.

6/10


Curhat Buat Sahabat

Sutradara: Olga Lidya

Pemain    : Acha Septriasa, Indra Birowo



"Aku tuh cuma pengen orang yang sayang beneran ama aku. Yang mau gitu datang kerumah kalo aku sakit, jam berapa aja, bawa segelas air putih. Keinginan kayak gitu gak ketinggian kan?- Amanda

Plot


Regi (Indra Birowo) telah terbiasa mendengarkan curhatan Amanda (Acha Septriasa) mengenai pacarnya. Di malam hari di sebuah cafe pun Regi telah siap untuk mendengar curhatan dari Amanda lagi yang bertekad untuk mengubah dirinya dari wanita yang selalu disakiti pacarnya menjadi wanita yang lebih selektif lagi dalam memilih pacar.


Review


Ketika gw membaca judul-judul dari cerita film pendek di Rectoverso, jujur aja gw sangat menunggu Curhat Buat Sahabat. Karena gw yakin cerita ini merupakan yang paling personal, yang paling dekat dengan para penontonnya. Di antara kalian pasti pernah merasakan hal yang sama seperti Regi kan? Olga Lidya cukup mampu memaksimalkan kelebihan seorang Acha yang terkesan cerewet itu, sehingga gw cukup enjoyable ketika si Acha bercerita. Sayangnya porsi Indra Birowo disini yang kurang dimaksimalkan, oke, aktingnya lumayan, tetapi interaksinya dengan Acha kurang banget sehingga eksistensi Indra yang cuma mendengarkan aja itu cukup tenggelam. Untunglah ada ketika akting Indra diperlukan, mantan komedian di Extravaganza ini mampu memaksimalkannya.

7/10



Cicak di Dinding
Sutradara: Cathy Sharon
Pemain    : Yama Carlos, Sophia Latjuba, Tio Pakusadewo



"Kalo kita minum yang pahit, kita jadi inget kalo di luar sana masih ada yang manis"- Taja 

Plot


Secara tidak sengaja sang pelukis muda Taja (Yama Carlos) berkenalan dengan wanita seksi Saras (Sophia Latjuba) di suatu cafe. Seorang wanita yang memiliki tato cicak, yang tidak lain adalah binatang yang dikagumi oleh Taja.


Review


Ada Sophia Latjuba disini, apa yang kita harapkan? Tentunya kesan seksi yang dimilik oleh model senior ini. Dan Cathy Sharon tahu betul dengan itu sehingga potensi Sophia betul-betul dimanfaatkan oleh sang sutradara newbie ini. Hasilnya? Sophia Latjuba menjadi bintang di segmen ini. Chemistrynya dengan Yama Carlos serta Tio Pakusadewo benar-benar cemerlang. Ya, berkat Sophia Latjuba juga lah segmen ini cukup menarik bagi gw. Segmen ini semakin berwarna dengan munculnya para sutradara wanita di masing-masing cerita ini sebagai cameo, oh ya, ada juga Julie Estelle loh.. Jadilah Cicak di Dinding merupakan segmen yang paling indah, dan juga visualisasi cicak di akhir cerita untuk segmen ini benar-benar memanjakan mata.

7,25/10


Hanya Isyarat
Sutradara: Happy Salma
Pemain    : Amanda Soekasah, Fauzi Badhillah, Hamish Daud



"Aku jatuh cinta, pada seseorang yang bahkan sampai hari ini pun aku tak tahu warna matanya"- Al

Plot


Di suatu malam, lima orang backpackers (Fauzi BaadilaRangga Djoned,Hamish DaudKims & Amanda Soekasah) yang berkumpul di sebuah pantai mengadakan permainan kecil. Semua punya latar berbeda yang mengantarkan mereka ke hobi itu, namun ada sebuah kisah isyarat yang tak pernah bisa terbaca. Cinta yang juga tak pernah bisa terbalas.




Review


Maafkan saya Happy Salma. Cerita yang Anda gawangi inilah cerita atau segmen terlemah di Rectoverso. Hanya Isyarat memang banyak sekali kalimat-kalimat puitis, akan sangat melelahkan dan membosankan apabila sang aktor atau aktris tidak mampu melafalkan nya dengan emosi yang tepat. Dan itu lah yang terjadi di Hanya Isyarat. Al yang diperankan Amanda Soekasah merupakan karakter sentral di cerita ini, dan tentunya dia banyak sekali mengeluarkan kalimat-kalimat yang berbau sastra di sini, namun Amanda Soekasah tidak mampu mengucapkan nya dengan emosi yang tepat. Karakter nya dari awal standar, tidak ada emosi yang dipancarkan, bahkan ketika dia bercerita pun gw hanya bengong menjurus ngantuk. Dan ketika ceritanya dinyatakan cerita paling sedih pun gw heran, Di sisi mananya yang sedih? Untunglah ada Fauzi Badhillah yang merupakan penyelamat di segmen ini. 



5,5/10


Overall, Rectoverso merupakan film yang memiliki potensi yang apabila dimaksimalkan akan mampu menjadi film yang berkualitas, memang ada cerita yang tidak begitu gw sukai, tapi tidak ada yang menyangkal bahwa Rectoverso adalah salah satu film Indonesia yang menarik untuk diikuti. Terakhir, gw angkat topi untuk editor nya yang telah membuat Rectoverso begitu rapi.





Skor Akhir



6,75/10

Friday, 29 August 2014



"Caesar is home- Caesar"

Plot

James Rodman (James Franco) merupakan peneliti yang sedang mengembangkan sebuah obat yang diharapkan akan mampu menyembuhkan penyakit alzheimer. Obat yang sedang dalam proses percobaan tersebut diberi nama ALZ 112. James menggunakan para kera untuk dijadikan wadah eksperimen tersebut. Salah satu kera yang diberi nama Bright Eyes ternyata menunjukkan sebuah efek yang membuat James mengambil kesimpulan bahwa obat tersebut berhasil dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Namun, di hari persentasi nya untuk meyakinkan ke beberapa pihak, Bright Eyes mengamuk dan mengacaukan persentasi yang dilakukan oleh James. Bright Eyes sendiri tewas dalam kejadian itu. Kesal akan kejadian tersebut, David Oyelowo memerintahkan para peneliti nya untuk menewaskan seluruh kera. Robert Franklin (Tyler Labine) tidak setuju akan keputusan tersebut, dan memberitahukan kepada James sebuah rahasia, ya, Bright Eyes ternyata memiliki sebuah bayi di kandangnya, dan Franklin membujuk James untuk membawa bayi kera tersebut ke rumahnya. Awalnya James hanya ingin merawat bayi tersebut untuk beberapa hari, namun bayi kera tersebut ternyata mewarisi efek yang terjadi terhadap Bright Eyes dan kera yang akhirnya diberi nama Caesar (Andy Serkin) tersebut pun mengalami peningkatan kerja di otaknya sehingga memiliki kecerdasan seperti manusia.




Review

Planet of the Apes merupakan film science fiction klasik yang dirilis pada tahun 1968, dan merupakan salah satu film yang memiliki kejutan terbesar di akhir filmnya. Ya bisa dibilang twist ending dari film tersebut merupakan salah satu twist ending yang terbaik dalam sejarah perfilman. Sayangnya remake yang dihadirkan oleh Tim Burton di 2001 mengecewakan sehingga franchise ini pun kembali mati suri. Hingga pada tahun 2011 sutradara Rupert Wyatt pun mendapatkan kepercayaan 20th Century Fox untuk kembali menghidupkan franchise Planet of the Apes. Namun, alih-alih meremake film klasik tersebut, Rupert lebih memilih untuk membuat prequelnya dan menceritakan lebih rinci kenapa kejadian yang terdapat di akhir film Planet of the Apes bisa terjadi. Yah anggap saja ini merupakan film reboot.

Tidak semua film reboot berakhir 'happy ending', namun ada juga film reboot yang banjir akan pujian dari kritikus serta mendapatkan box office yang menguntungkan, sebut saja Batman Begins dan Star Trek. Lalu, akan berakhir seperti apa film ini? Jawabannya, happy ending. Ya, film yang tidak diperhitungkan serta diragukan akan sukses ini secara mengejutkan ternyata sangat menghibur dan berkelas. ROTPOTA diisi dengan adegan-adegam yang begitu memanjakan mata, cerita yang solid dan cerdas, serta tidak meninggalkan kesan realistisnya, sehingga kita para penonton sama sekali tidak bosan dan jenuh dengan apa yang dihadirkan oleh sang sutradara beserta jajaran kru nya ini. Dan melalui karya film nya yang keempat ini, Rupert Wyatt juga seolah menyindir kita, para manusia, bahwa para kera pun memiliki nurani serta lebih manusiawi ketimbang kita manusia yang telah dianugerahi otak serta hati. Lihat saja dimana Caesar yang seolah tidak mau membunuh dan melarang 'kaum' nya untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang manusia lakukan terhadap para kera.

Bintang utama dalam ROTPOTA sendiri tidak diragukan adalah Caesar yang diperankan sangat baik oleh Andy Serkis, sang master akan peran motion captures. Memang Caesar bukanlah karakter ikonik seperti Gollum/Smeagol yang diperankan oleh orang yang sama, tetapi apa yang ditampilkan oleh Serkis sudah sangat luar biasa untuk menghidupkan karakter dari Caesar. Terutama ekspresi dari Caesar yang menunjukkan bahwa Caesar tidak hanya pintar, tetapi juga berperasaan. Tidak sulit untuk kita mendukung aksi Caesar beserta kaumnya, padahal kita manusia, LOL.

Mengenai aksinya, tidak usah dipertanyakan lagi. Adegan aksi nya sangat menghibur serta memancing adrenalin. Diiringi pula dengan soundtrack yang keren nan memacu jantung. Semua yang telah menikmati film ini akan manut setuju bahwa adegan terakhirnya benar-benar kereeeeen mampus... Sayangnya dominasi kera di film ini membuat porsi para karakter manusia nya sedikit tergusur, termasuk James Franco. Padahal dia berakting cukup baik di film ini. Bahkan karakter yang diperankan Freida Pinto pun tampak useless dan terkesan hanya pemanis saja.

Pada akhirnya ROTPOTA merupakan sajian yang sangat menghibur serta berkelas. Dengan karakter Caesar yang luar biasa dan juga para kera yang dihadirkan begitu realistis, ROTPOTA adalah salah satu film summer terbaik dan tentunya film terbaik pada tahun 2011..


Best Scene: 'Revolusi' di atas jembatan


8,3/10

Tuesday, 26 August 2014



The only way you can beat my crazy was by doing something crazy yourself. Thank you. I love you. I knew it the minute I met you. I'm sorry it took so long for me to catch up. I just got stuck.- Pat Jr.


Plot

Patrick Solitano Jr. (Bradley Cooper) mengidap penyakit bipolar, yaitu gangguan atas jiwanya yang terkesan tidak stabil, terkadang tenang namun dalam semenit kemudian bisa saja menjadi tidak terkendali walau hanya dengan hal sepele pun. Hal itu lah yang membuatnya harus menjalani rehabilitasi di suatu rumah sakit jiwa yang berlokasi di Baltimore. Tidak hanya itu, sebelum harus menghuni rumah sakit jiwa, Pat juga mengalami suatu konflik dimana dia harus menyaksikan istrinya Nikki (Brea Bee) sedang berselingkuh dengan pria yang memiliki satu profesi dengannya. Melihat hal itu, Pat menghajar pria itu hingga hampir kehilangan nyawanya. Maka dari itulah, ketika bebas dari rumah sakit jiwa, Pat berencana untuk menemui Nikki dan berniat untuk meminta maaf serta berusaha membina rumah tangga mereka kembali. Hal yang sungguh sulit melihat kenyataan bahwa suasana hati Pat yang sering berubah, ditambah dengan hukuman dari pihak kepolisian untuk menjauhi Nikki untuk sementara waktu. Pat yang telah kehilangan pekerjaan akibat penyakitnya itu pun kini diasuh oleh kedua orangtuanya, yaitu Patrik Solitano Sr. (Robert De Niro) dan sang ibu yang selalu sabar akan tingkah Pat Jr. Yaitu Dolores (Jacki Weaver). Sang Ayah sendiri merupakan pengidap OCD yang membuatnya sangat mempercayai takhayul, dan juga sang Ayah sangat menggemari baseball. Ditengah rencana serta usaha Pat untuk memperbaiki hubungannya dengan Nikki, muncullah wanita yang sama persis dengan Pat yang bernama Tiffany (Jennifer Lawrence). Tiffany baru saja ditinggal pergi oleh suaminya untuk selamanya. Keadaan itu membuatnya depresi sehingga dirinya melakukan seks dengan siapa saja, bahkan perempuan.




Review

Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama garapan Matthew Quick. Film yang disutradarai oleh David O. Russel ini berhasil masuk dalam 7 nominasi Academy Awards dimana keempat pemain utamanya Bradley Cooper, Robert De Niro, Jacki Weaver serta Jennifer Lawrence berhasil masuk di jajaran nominasi aktor/aktris terbaik. Tidak hanya itu, Silver Linings Playbook (SLP) juga masuk di kategori Best Picture. Lalu, apakah memang film ini istimewa?
Bila dilihat dari sinopsisnya, tidak ada yang spesial dengan film ini, bila tidak ingin dibilang standar. Orang yang mengalami kelainan, memiliki masa lalu kelam, mencoba memperbaiki semuanya, lalu bertemu dengan someone yang akan membuatnya menjadi lebih baik dan akan menjalin cinta dengan someone tersebut, ya, telah banyak film yang mengambil jalan cerita yang seperti itu. Hal itu lah yang pada awalnya membuat gw skeptis dengan film ini. Ditambah dengan nominasi Oscar yang banyak di dapat membuat gw menilai film ini overrated (dan ya, fakta bahwa SLP mendapatkan nominasi Best Picture juga sedikit gak bisa gw terima, masih trauma dan jengkel soalnya The Dark Knight gak masuk di nominasi itu).
Telah membaca sinopsisnya kan? Apa yang bisa kalian simpulkan dari karakter-karakter utamanya? Ya, sebagian besar karakter utamanya memiliki gangguan kejiwaan. Dari hal itulah yang membuat film ini cukup menarik untuk gw ikutin sehingga film yang sesungguhnya tidak terlalu spesial ini cukup berbeda dengan film-film komedi romantis lainnya. Karena akan banyak beberapa adegan yang cukup menyentuh karena karakter yang memiliki kelainan tersebut. Dan tidak jarang pula akan ada adegan yang lucu terjadi, disinilah salah satu keberhasilan dari David O. Russel. Dia mampu menyajikan setiap adegan nya dengan maksimal serta sedikit membingungkan, tapi tetap tidak kehilangan kualitasnya. Iya, membingungkan karena konflik lucu yang gw maksud itu adalah konflik itu seharusnya tidak harus terjadi namun karena karakternya memiliki semacam kelainan maka kita menganggap wajar konflik itu bisa terjadi, seperti adegan dimana Pat Sr. Mengamuk karena tim kesayangannya kalah dan menyalahkan kedua anaknya yang tidak mengikuti permainan sampai akhir karena terlibat kerusuhan, dan konflik makin hancur (dan lucu pastinya) ketika Tiffany masuk ke dalam keributan tersebut. Gw gak bisa menahan senyuman gw ketika adegan itu, disatu sisi gw khawatir akan terjadi keributan yang parah, di satu sisi hati gw berbisik ‘astaga, gak penting banget deh’.
Dan salah satu kelebihan lain dari David O. Russel adalah mampu mengarahkan setiap pemainnya untuk menampilkan akting terbaiknya. Lihatlah Bradley Cooper yang mampu menampilkan performa terbaiknya di dalam film ini. Bradley Cooper berhasil menampilkan seorang pria dewasa yang benar-benar terganggu jiwanya sehingga membuat dirinya tidak nyaman akan gangguan tersebut yang bisa datang kapan saja. Sungguh menyakinkan dimana ada suatu adegan dimana dia pada awalnya sedikit marah lalu semenit kemudian karakternya menjadi riang serta kembali seperti semula, suatu hal yang sulit dilakukan apabila bukan ditampilkan oleh aktor yang biasa saja. Chemistry yang ia jalin bersama karakter lain pun sangat baik, baik itu dengan Robert De Niro, Chris Tucker, dan tentunya dengan Jennifer Lawrence. Jennifer Lawrence, yang mampu menggondol piala Oscar di kategori Best Actrees, ini juga menampilkan akting terbaiknya, yang memang selalu bagus penampilannya. JL dengan meyakinkannya menampilkan karakter yang begitu kompleks seperti Tiffany, JL juga berhasil menjalin chemistry yang unik dengan Bradley Cooper, yang merupakan sebuah kekuatan dari film ini. Namun bagi gw adegan yang benar-benar membuat gw yakin bahwa JL adalah salah satu aktris terbaik saat ini adalah ketika dia menjadi highlight sendiri ketika adegan dimana Pat Sr. Mengamuk dan begitu hebatnya mampu menjadi scene stealer di adegan tersebut, JL juga dengan hebatnya mampu berinteraksi dengan sempurna dengan Robert De Niro dengan mulutnya yang cerewet cenderung kurang ajar itu. Dan ingat, JL masih berumur sangat muda kala itu!(dan jangan paksa gw untuk membahas adegan yang melibatkan JL setiap dansa). Hal yang cukup wajar apabila JL mampu mendapatkan gelar Best Actrees kala itu. Dan jangan lupakan pula akting dari Robert De Niro yang selalu mempesona. Walau pada akhirnya mindset gw terhadap film ini sedikit overrated tidak berubah, namun gw gak menyangkal bahwa Silver Linings Playbook merupakan film yang manis dan enak untuk diikuti. Dengan penampilan karakter-karakter utamanya yang sangat bagus, serta cerita yang berbeda dengan romcom biasanya, Silver Linings Playbook mampu memesonamu dan kalian pun mampu memetik pelajaran dari film ini bahwa sedikit rutinitas dan teman yang mampu mengerti dirimu, akan mampu mengobati kelainan yang ada di jiwamu.


Best Scene: Dinner Pat-Tiffany

7,5/10 


You love playing with that. You love playing with all your stuffed animals. You love your Mommy, your Daddy. You love your pajamas. You love everything, don't ya? Yea. But you know what, buddy? As you get older... some of the things you love might not seem so special anymore. Like your Jack-in-a-Box. Maybe you'll realize it's just a piece of tin and a stuffed animal. And the older you get, the fewer things you really love. And by the time you get to my age, maybe it's only one or two things. With me, I think it's one.-William James


Plot

Mengambil setting pada tahun 2004 di Negara Irak, The Hurt Locker menceritakan sekelompok pasukan gegana Negara Amerika Serikat atau dikenal dengan sebutan EOD (Explosive Ordnance Disposal) yang terdiri dari J.T. Sanborn (Anthony Mackie), Owen Eldridge (Brian Geragthy) dan seorang Team Leader sekaligus teknisi Matt Thompson (Guy Pearce). Di opening, kita diperlihatkan Matt mengalami kecelakaan dalam tugasnya dan menewaskan dirinya. Karena adanya kekosongan dalam kelompok tersebut, maka dipanggillah William James (Jeremy Renner). James sendiri merupakan seorang teknisi yang bebas dalam bertindak, dan cenderung cuek akan resiko yang mereka hadapi ketika sedang menjalankan tugas. Sikap James yang seolah ‘mau-mau gw’ sambil mengacungkan jari tengah ke aturan-aturan yang mengikat mereka tersebut, membuat sosoknya seringkali bentrok dengan Sanborn, seorang tentara yang kaku dan patuh terhadap segala peraturan, sehingga Sanborn sedikit tidak menyukai James awalnya. Sedangkan bagi Eldridge, hanya mencoba berusaha untuk mengikuti aturan dari James dan juga Sanborn. Eldridge sendiri masih dilanda rasa bersalah atas kematian yang dialami Matt.




Review

Ketika gw memutuskan untuk menonton film ini, tidak banyak yang gw harapkan. Gw Cuma berharap gw mendapatkan tayangan film yang menghibur dan seru, itu aja. Karena gw sendiri kurang menggemari film-film yang bertemakan perang. Film favorit gw yang bertemakan perang sampai sekarang adalah Full Metal Jacket, tapi itu sendiri gw kurang menyukai ketika setting nya mulai memasuki perang beneran. Gw tertarik mau menonton film ini karena film ini mampu menggondol 6 piala Oscar tahun 2010 lalu, termasuk Best Director untuk Kathryn Bigelow mengalahkan mantan suaminya James Cameron, dan Best Picture mengalahkan Avatar (yang lebih dijagokan) yang notabenenya adalah film yang digarap Cameron. Double kill dari Kathryn untuk Cameron :P
Dan ketika selesai menonton film ini, mau tak mau gw harus bertepuk tangan untuk Kathryn Bigelow, Jeremy Renner, dan seluruh jajaran staff atau kru yang telah menciptakan film yang hebat ini. Ya, The Hurt Locker berhasil mencuri hati gw, The Hurt Locker sukses membuat gw menyatakan bahwa inilah salah satu film favorit gw sepanjang masa. Film yang memiliki tagline ‘War is Drugs’ ini sendiri bukanlah sepenuhnya film yang menceritakan perang. Ada studi karakter yang terdapat di film ini. Kita melihat sosok William James, seorang tentara yang seenaknya, J.T. Sanborn yang sedikit menyimpan luka akan kehilangan teman sekaligus atasannya yang membuat dia menjadi tentara yang sangat patuh akan peraturan, dan juga tidak lupa ada Owen Eldridge yang terlihat bagaikan adik bagi James dan juga Sanborn. Gw udah mulai terikat dengan film ini ketika adegan awalnya cukup mencekam, dimana Sanborn, Owen dan Matt melakukan misinya di antara perumahan dan pasar! Ya, tempat dimana banyak orang yang menyaksikan mereka. Ditambah dengan pengambilan-pengambilan kamera yang bisa gw bilang bagus banget untuk meningkatkan kadar suspense nya sendiri. Contohnya ketika kamera menyorot para penduduk lokal yang menyaksikan mereka beraksi, gw sempat berharap-harap cemas jangan-jangan merekalah yang memegang pemicu bom nya.
Kemudian muncullah seorang William James yang diperankan fantastis oleh Jeremy Renner. Ketika menjalankan misi pertama, James mengejutkan Sanborn dan Owen. Ya, mereka terkejut bahwa teknisi mereka yang baru ini seakan-akan tidak takut mati dan hanya menganggap pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa ini sekadar permainan belaka. Dan ketika sosok James mendominasi layar, ketika itu pulah gw benar-benar semakin menyukai film ini dari menit ke menitnya. Kathryn Bigelow benar-benar tahu bagaimana mendirect sebuah film perang yang tidak hanya menjual ledakan-ledakan saja, namun juga memberikan sebuah studi karakter terhadap para pemainnya, kita tidak diperlihatkan akan sosok pahlawan, kita hanya diperlihatkan karakter-karakter yang sesungguhnya terjebak akan situasi perang sehingga mereka juga seringkali kangen akan rumah, kecuali William James mungkin, dan juga Kathryn berhasil memberikan kita sebuah visual yang menjelaskan betapa menegangkannya di medan perang itu sendiri. Sebuah hasil yang sungguh luar biasa dari seorang sutradara perempuan.
Naskah yang ditulis oleh Mark Boal juga menjadi salah satu faktor mengapa The Hurt Locker sulit dilupakan. Begitu banyak dialog-dialog yang sederhana namun cerdas bertebaran di film ini, dan gw menikmati dialog-dialog tersebut. Tidak heran bila Kathryn Bigelow betah untuk berkerja sama dengan Mark Boal dan kembail merekrutnya ketika menggarap film Zero Dark Thrity.
The Hurt Locker memang bukanlah film yang mudah untuk dinikmati, apalagi bila kalian mengharapkan film perang yang penuh akan adanya adegan tembak-tembakan yang seru, ledakan dimana-mana, darah yang bertumpahan. Hei, ini bukan Transformers!! Film ini sederhana, dan juga realistis. Dan kesan realistis tersebut ikut dibantu dengan teknik handheld camera sehingga kita seakan menyaksikan sebuah konflik perang yang sesungguhnya. Film ini tidak sepenuhnya menceritakan ketika mereka menjalankan misi saja, namun juga ketika mereka berada di luar tugas. Disitu kita diperlihatkan bahwa hubungan yang terjalin antara ketiga tokoh utama kita sedikit unik. Contohnya Sanborn yang sedikit kurang menyukai akan style bekerja nya James, namun ketika diluar misi, mereka berdua tetap kompak, bahkan sering besenda gurau bersama. Film ini juga menyajikan akan konflik batin yang dialami James ketika emosi telah mencekeramnya ketika di tengah-tengah tugas.


The Hurt Locker sendiri melambungkan nama seorang Jeremy Renner. Jeremy Renner sendiri bermain memukau, dia berhasil memperlihatkan kita sebuah akting yang benar-benar natural dan membuat kita menyukai karakter yang dimainkannya, sehingga bagi gw karakter William James adalah salah satu karakter favorit gw.
Pada akhirnya, The Hurt Locker adalah salah satu film perang yang tidak boleh kalian lewatkan bila kalian mengharapkan akan sebuah film perang yang tidak biasa. Sederhana, realistis, mampu memberikan suspense dengan caranya sendiri, sinematografi indah, naskah berkualitas, akting dari Jeremy Renner, dan begitu banyak kelebihan film ini yang membuat gw menganggap Avatar berada di dua level di bawah film ini. War is Drugs, baby!!

Best Scene: Ketika William James pertama kali beraksi


8,5/10



Monday, 26 May 2014




You need people like me. You need people like me so you can point your fuckin' fingers and say, "That's the bad guy."- Tony Montana


Plot

Bulan Mei 1980 negara Cuba dibawah pemerintahan Fidel Castro membuat kebijakan dengan membuka bebas pelabuhan Mariel dengan tujuan mengirim 125,000 pengungsi Cuba untuk menyatukan kembali dengan keluarga mereka di Amerika Serikat.Dampaknya, Negara Amerika Serikat sebagai Negara impian bagi kaum imigran semakin terbuka. Dari sekian banyak imigran tersebut, salah satu nya adalah Antonio Montana atau lebih akrab disapa Toni Montana (Al Pacino). Bersama sahabatnya, Manny Ribera (Steven Bauer), Toni mencoba untuk sukses di Amerika Serikat dan meraih mimpinya untuk menjadi sosok yang disegani dan memiliki segalanya. Karir Toni melesat cepat, setelah berhasil membunuh Emilio Rabenga yang notabenenya adalah mantan dari bawahan Fidel Castro, Toni mendapatkan tawaran yang membawanya ke hadapan Frank Lopez (Robert Loggia), bandar narkoba yang telah memiliki nama. Sikap Toni yang loyal serta memiliki nyali yang besar membuat Frank mempekerjakannya. Dari sinilah mimpi Toni untuk menjadi orang yang sukses di Amerika mendekati kenyataan.






Review

Akhirnya gw berhasil menonton film yang merupakan remake dari Scarface-nya Howard Hawk yang dirilis pada tahun 1932 ini. Gw sendiri memang udah lama ingin menonton film yang ditulis Oliver Stone ini, ada 2 faktor yang mendasarinya, pertama faktor gw senang ama film mafia, kedua tentu saja faktor dari aktor utamanya yaitu Al Pacino, salah satu aktor favorit gw sepanjang masa, salah satu aktor yang mampu memerankan karakter anti hero terbaik, bersanding dengan Robert De Niro. 

Scarface menceritakan bagaimana cara seorang Toni Montana yang dibantu oleh Manny Ribera yang mencoba meraih mimpi betul-betul dari bawah. Dari seorang yang hanya mencuci piring di kedai kecil, hingga mampu menjadi orang yang paling disegani di kotanya. Gambaran seseorang yang memiliki ambisi tinggi sehingga tidak cepat puas dengan apa yang telah ada di depan matanya. Gambaran tersebut ada di karakter Toni Montana. Ambisius, keras kepala, hanya mendengarkan 'nyali' nya, namun ada satu hal yang membuat gw salut dengan karakter Toni di antara sifat-sifat jeleknya. Yaitu mampu memegang omongan serta prinsipnya. Susah loh menjadi karakter seseorang yang seperti itu. Walau pun nyawanya terancam, Toni tetap berpegang teguh akan prinsipnya tersebut.

Kisah dari film yang diisi dengan kata F words sebanyak 226 kali ini memang telah banyak untuk film yang bergenre mafia, namun yang menarik dari film ini adalah konflik-konflik yang dialami Toni. Kita dari awal pasti telah mengira bahwa Toni akan sukses nantinya, tapi tentu disitulah pertanyaan muncul, apakah kebahagiaan akan tetap ada walaupun kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan? Nah lewat film ini Brian DePalma mencoba memberikan gambaran, bagaimana rintangan-rintangan kita untuk mempertahankan kesuksesan, dan menurut gw Brian DePalma mampu menguraikannya dengan jujur, tanpa mengada-ada. Kita juga menyadari memang beginilah kesulitan yang akan dialami orang yang baru mengalami kesuksesan. Ditambah dengan karakter Toni Montana yang susah untuk diajak kompromi dan hanya mendengarkan dia sendiri.

Namun tentu saja bagi gw kekuatan utama dari film yang memiliki durasi 170 menit ini ada pada sosok Al Pacino. Ya, memang film ini adalah film nya. Mungkin cerita Scarface udah menarik serta kuat, tetapi tetap saja akan tetap terasa bosan apabila kita tidak disuguhkan dengan akting yang cemerlang dari artis utamanya. Dan hey, kita sedang membicarakan Al Pacino disini, sudah barang pasti dia mampu menunaikan tugasnya dengan cemerlang. Ditambah memang karakter Toni Montana ini tidak jauh beda dengan sosok Michael Corleone, hanya beda dari faktor emosi nya saja. Dan sekadar informasi, agar mampu memiliki logat Spanyol, Al Pacino belajar dengan salah satu kru dari film ini yaitu John A. Alonzo. Membuktikan bahwa aktor yang satu ini memang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya.

Bila Anda pecinta film yang berkenaan mengenai Mafia, sudah barang pasti Scarface adalah tontonan yang wajib bagi Anda. Dengan cerita yang menarik serta penampilan ikonik dan gila dari Al Pacino, Scarface adalah salah satu film mafia terbaik sepanjang sejarah. Anda tidak setuju, well, SAY HELLO TO MY LITTLE FRIEND!!


8,5/10


Friday, 23 May 2014



I just want to apologize to Mike's mom, Josh's mom, and my mom. And I'm sorry to everyone. I was very naive. I am so so sorry for everything that has happened. Because in spite of what Mike says now, it is my fault. Because it was my project and I insisted. I insisted on everything. I insisted that we weren't lost. I insisted that we keep going. I insisted that we walk south. Everything had to be my way. And this is where we've ended up and it's all because of me that we're here now - hungry, cold, and hunted. I love you mom, dad. I am so sorry. What is that? I'm scared to close my eyes, I'm scared to open them! We're gonna die out here!-Heather Donahue


Plot

Pada tahun 1994, 3 Pelajar yang terdiri dari Heather Donahue, Michael Williams, dan Joshua Leonard berkeinginan untuk membuat film dokumenter tentang 'mitos' Blair Witch di daerah Burkitsville. Mereka pun memiliki rencana untuk menelusuri serta berkemah di hutan Burkitsville yang konon katanya legenda Blair Witch terjadi di hutan tersebut. Setelah mereka mengadakan interview dengan penduduk sekitar, akhirnya rencana pun dijalankan. Mererka nekat masuk ke hutan yang memiliki sejarah menyeramkan tersebut dan tidak peduli dengan konsekuensi yang akan mereka dapatkan.





Review

Belakangan ini gw kembali tertarik untuk menikmati film-film yang menggunakan teknik mockumentary atau juga sering disebut found footage. Film mockumentary yang pertama kali gw nikmatin adalah Cloverfield yang cukup terkenal tersebut, dan gw cukup suka dengan film tersebut, walau gw mengeluhkan akan shaky camera nya yang cukup mengganggu. Dulu gw sempat mengira bahwa Cloverfield lah yang menjadi pelopor akan film-film seperti ini, tapi ketika gw mencari-cari di internet, gw baru tahu bahwa The Blair Witch Project(TBWP) lah yang membuat film mockumentary kembali digandrungi dan memiliki fanbase tersendiri. Kesuksesan luar biasa film ini menginspirasi sutradara-sutradara film untuk mengekor TBWP sehingga jangan heran kalau film-film Mocku sekarang banyak menggunakan formula-formula yang ada di TBWP, liat saja Keramat, [REC], dan film-film Mocku yang lain.

TBWP merupakan fenomena di masanya, dan memiliki banyak pengikut. TBWP juga menjadi salah satu bukti bahwa film yang memiliki low budget bisa mendapatkan kesuksesan yang luar biasa, dimana budget film ini hanyalah $60,000, dan mendapatkan penghasilan lebih dari $250 juta!! Menariknya, walau TBWP mengambil genre mystery-horror, dalam film ini sama sekali tidak ada penampakan-penampakan yang seperti film horror lainnya. Salah satu faktor yang menurut gw menarik serta rawan. Karena, di satu sisi sangat menarik untuk ditunggu, sebuah film horror tanpa penampakan-penampakan itu sangat jarang sehingga bagi gw itu cukup menarik, tapi di sisi lain, tidak dipungkiri bahwa penikmat film horror sangat menantikan sebuah penampakan-penampakan yang mampu memompa jantung mereka untuk berdetak lebih kencang. Lalu, bagaimana sang sutradara Daniel Myrick serta Eduardo Sanchez meneror penontonnya?

Menurut gw, Sang sutradara mengambil jalan yang berbeda untuk tetap bisa meneror penontonnya, yaitu dengan memainkan psikis para pemainnya serta menjadikan rasa takut ketiga artis kita tersebut sebagai teror tersendiri. Lihatlah bagaimana awalnya mereka begitu semangat, begitu berani serta masih terlihat kompak, mulai mengalami degradasi akan keyakinan serta kepercayaan akan teman masing-masing. Lelah, keberanian yang mulai luntur, serta rasa lapar yang menyiksa mereka membuat penonton, khususnya gw juga ikut merasakan apa yang mereka alami. Suasana hutan Burkitsville juga sudah barang tentu menambah kadar ketegangan kita sebagai penonton, ditambah dengan suara-suara misterius yang entah dari mana dan penemuan-penemuan yang membuat kita semakin penasaran dengan misteri yang ditawarkan film ini. Walau yang ditawarkan kedua sutradara tersebut bisa dibilang minimalis, tetapi efeknya tetap maksimal dan masih mampu membuat kita merasa diteror. Itu membuktikan bahwa film horor tetap bisa membawa kita ke dalam jurang ketakutan tanpa adanya penampakan-penampakan sekalipun. 

Artis yang bermain di film ini sengaja tetap menggunakan nama aslinya sehingga menambah kesan real yang ada. Percaya atau tidak, gw sampai nyari-nyari info di internet apakah film ini memang nyata atau fiksi. Bukti bahwa TBWP berhasil untuk membuat film yang begitu realistis. Akting dari ketiga artis kita juga tidak bisa dianggap remeh, terutama Heather Donahue. Dia benar-benar bintang nya dalam film ini sehingga gw gak ragu apabila gw menganggap Heather Donahue adalah ratu untuk film bergenre Mockumentary. Aktingnya benar-benar natural, tidak berlebihan, dan mampu menyampaikan ekspresi ketakutan, frustasi, kelelahan, dan lain-lain dengan cemerlang. Hebatnya lagi, dia tetap berakting brilian walau kita hanya mendengar suaranya. Bagian akhir ceritanya begitu mencekam ya salah satu faktor nya adalah teriakan-teriakan dari Heather. 4 jempol untuk Heather Donahue. Dan siapa pula yang bisa melupakan adegan permintaan maaf Heather yang begitu terkenal?

Pada akhirnya, gw mengerti mengapa TBWP mampu menjadi panutan serta memiliki penggemar yang cukup banyak. Cukup mengherankan mengapa film ini mendapatkan rating yang cukup rendah di IMDB.COM.. Mungkin TBWP bukanlah film horor terseram, tetapi TBWP jelas merupakan salah satu yang terbaik di genrenya..

8,2/10

Sunday, 4 May 2014





 Never wiser than when we're children. They say it and it's true. We'll never see things that clear again.- Oliver Lang


Plot


Michael Faraday (Jeff Bridges) adalah profesor bidang sejarah yang spesialisasinya terorisme di Geroge Washington University.  Pada suatu hari Michael menyelamatkan seorang anak laki-laki dengan darah dengan tangannya.  Melihat kejadian itu, Michael langsung membawa anak tersebut dan membawanya ke rumah sakit terdekat.  Tidak lama kemudian, kedua orang tua anak tersebut, yang memiliki nama Brady (Mason Gamble), datang kerumah sakit dan berterima kasih ke Michael.  Tak disangka ternyata mereka yang masing-masing memiliki nama Oliver (Tim Ribbons) dan Cheryl Lang (Joan Cusack) adalah tetangga dekat Michael yang baru saja pindah.  Dengan cepat, mereka pun akrab satu sama lain.  Michael sendiri memiliki anak laki-laki yang bernama Grant Faraday (Spencer Treat Clark), Michael telah ditinggal selamanya oleh istrinya yaitu Leah Faraday (Laura Poe) dalam tugasnya sebagai agen FBI.  Karena kejadian tersebut lah Michael seakan skeptis dengan pemerintah dan sangat membenci serta paranoid semua hal yang bersinggungan dengan teroris.  Ketika mengajarpun Michael selalu menyinggung soal terorisme.  

Dan tidak lama kemudian Michael menaruh kecurigaan terhadap Oliver.  Hal tersebut disebabkan dengan salah kirimnya surat yang seharusnya dituju ke Oliver malah kesasar kerumah Michael.  Kecurigaan Michael bertambah ketika ia mengetahui bahwa nama Oliver Lang bukanlah nama aslinya.






Review


Arlington Road adalah sebuah film yang bergenre Misteri serta Thriller, disutradarai Mark Pellington dan ditulis naskahnya oleh Ehren Kruger.  Mark Pellington? Nama yang cukup asing bagi gw, termasuk nama-nama jajaran cast yang menghiasi film ini.  Praktis hanya Tim Ribbons lah yang gw kenal di film ini.  Tidak hanya itu, film ini juga kurang terkenal hingga sekarang.  Liat saja, tidak sampai 70,000 voters di imdb yang telah melihat film ini.  Sebuah angka yang cukup kecil untuk film Hollywood.  Lalu apa yang membuat gw tertarik dengan film ini?

Twist ending.  Ya, itu lah jawaban yang membuat gw tertarik untuk menonton film ini.  Lihatlah artikel-artikel yang menulis beberapa film yang memiliki twist ending edan.  Film ini pasti selalu masuk dalam list tersebut.  Sebagai informasi, gw adalah penikmat film yang sangat mencintai twist ending atau alur twist.  Rasanya senang sekali ditipu oleh sutradara di akhir film dan unsur tersebutlah yang sanggup membuat gw sulit untuk melupakan sebuah film yang memiliki twist ending.  Nah, bagaimana dengan film ini? Apakah twist endingnya memang edan seperti yang orang ceritakan?

Pertama, kita bahas dulu tentang ceritanya.  Ketika gw melihat sinopsisnya, mungkin kita langsung ingat dengan film Rear Windownya si Alfred Hitchock.  Namun apabila di Rear Window kita hanya melihat sang aktor utama hanya di apartemennya dan mengintip tetangga nya dengan kameranya, di Arlington Road kita akan diajak melihat usaha Michael mencari-cari informasi untuk mengobati rasa penasarannya, atau lebih tepatnya rasa paranoidnya.  Kita melihat seakan-akan Michael adalah seorang detektif, padahal apa yang dilakukan Michael cukup ilegal.  Sampai nekad masuk kerumah Oliver dengan kedok mau minjam telepon rumah loh! 

Sempat dibuka dengan adegan yang cukup mencekam, tensi film sedikit lambat karena bertujuan untuk menceritakan karakter-karakter yang ada.  Sedikit melelahkan karena bukan hanya alur nya yang sedikit lambat, tetapi juga dialognya biasa aja dan akting para pemain juga tidak terhitung istimewa.  Tapi semua berubah ketika Michael udah mulai curiga terhadap Oliver.  Tensi mulai lumayan naik, dan masing-masing jajaran cast mulai menunjukkan kemampuannya.  Menit demi menit, tensi film pun juga naik dan naik,  membuat film ini semakin enak untuk disaksikan.  Ibarat kita lagi dengar lagu Stairway to Heaven nya Led Zeppelin.  Awal-awalnya bosenin, tapi ketika pertengahan lagu tersebut semakin enak dan mencapai klimaksnya yang sangat berkelas.  Ya begitulah kira-kira film ini..  Tidak hanya itu, kita juga akan disuguhkan clue-clue baru serta twist-twist kecil yang semakin mencengkeram mata kita untuk terus menyaksikan film ini. Dan tibalah kita dengan akhir film yang dibumbui twist terbesar di film ini.  Ya, gw akui, film ini mampu membuat gw tersentak dan teriak "WTF!!!".  Terdengar hiperbolis? Gak juga.  Buktikan sendiri dengan menonton film ini.  Pokoknya gak salah apabila twist ending dari film ini dianggap salah satu yang shocking serta unbelievable.

Bicara akting, memang tidak ada yang spesial, tapi gw acungin jempol untuk Jeff Bridges.  Aktingnya sebagai pria yang lagi memiliki tekanan batin serta rasa curiga yang mendalam cukup berhasil bagi gw.  Dan cukup mengejutkan Tim Ribbons yang notabenenya adalah satu-satunya bintang yang terkenal di film ini malah terkesan biasa saja aktingnya.Bicara teknis, gw terkesan dengan scoring yang ada di film ini.  Benar-benar sebuah scoring yang mampu menghunting kalian setiap tensi film menaik.  Sebuah scoring sangatlah penting untuk sebuah film yang bergenre misteri seperti ini. 

Cukup disayangkan memang film ini sedikit underrated, pendapatan nya saja bisa dibilang flop.  Dan untuk kalian yang ingin mencoba film underrated yang bergenre thriller serta misteri, silahkan coba ini dan nikmatilah twist endingnya..

8/10

Tuesday, 29 April 2014







"God doesn't make the world this way. We do."- Rorschach

Plot


Adegan dibuka dimana Edward Blake (Jeffrey Dean Morgan) tewas dilempar jatuh oleh seseorang dari apartemennya. Edward Blake bukanlah orang biasa, dia adalah salah satu anggota dari superhero bernama Watchmen. Watchmen adalah sekumpulan orang yang memiliki keahlian dan memakai kostum khusus untuk membantu negeri Amerika ketika negara tersebut perang. Watchmen terdiri dari Dr. Manhattan/Jon Osterman (Billy Crudup), Rorschach/Walter Kovacs (Jackie Earle Haley), Silk Spectre II/Laurie Juspeczyk (Malin Akerman), Nite Owl II/Dan Dreiberg (Patrick Wilson), Ozymandias/Adrian Veidt (Matthew Goode) dan Edward Blake sendiri yang memiliki alias Comedian.. Mereka melakukan apapun demi kedamaian negeri serta dunia. Kemudian, kematian Comedian dicurigai oleh Rorshach sebagai awal dari pembantaian akan seluruh anggota Watchmen. Sementara itu, dua negara superpower Amerika Serikat dan Uni Soviet sedang terlibat dalam perang dingin di tahun 80an. Perang Nuklir pun seakan menunggu waktu dan Perang Dunia ke III pun akan muncul.





Review


Menganggap Trilogy The Dark Knight merupakan film bertemakan superhero yang sangat kelam? Maka kalian belum mencoba film ini. Film yang diadaptasi dari novel grafis 12 jilid dengan judul yang sama yang ditulis oleh Alan Moore ini sangatlah kelam serta bernuansa gelap yang gw sendiri bahkan cukup terkejut dengan hal tersebut. Tidak hanya kelam, konten-konten yang terdapat di film ini sendiri sangat lah tidak pantas untuk di saksikan oleh kaum yang belum menyentuh umur 17 atau bahkan 20 tahun! Brutal, sadis, penuh darah, frontal nude and sex scene. Makanya, bila kalian ingin menonton film ini, sebaiknya tonton sendiri dan jangan libatkan anak kecil. I warn you!

Watchmen jelas bukanlah film yang mudah untuk diikuti. Selain durasi nya yang menyentuh angka 180 menit, Film ini juga memiliki tema yang cukup berat untuk ukuran film superhero. Kritik dan satir politik serta sosial merupakan salah satu fondasi cerita dari film. Alur yang diambil juga non linear yang sanggup untuk membingungkanmu di awal-awal film bila kalian tidak memperhatikan dengan seksama. Tema cukup berat, alur non linear yang disajikan dengan tempo lambat ini cukup berpotensi untuk membuatmu bosan atau bahkan tidur ketika kalian menonton film ini. Tapi bila kalian cukup bersabar, maka kalian akan mendapatkan sebuah pertunjukan yang luar biasa dan sangat tidak terlupakan.
Dan bahkan menurut gw, predikat sebagai film superhero untuk film ini pun sedikit kurang tepat bagi gw. Alasannya, hanya satu anggota yang memiliki kekuatan super, yaitu Dr. Manhattan, selebihnya hanyalah memiliki teknik bela diri yang di atas rata-rata. Ya, mungkin ada Adrian yang memiliki otak jenius dan dianggap sebagai manusia terpintar di bumi saat itu. Kemudian, kepribadian mereka pun sangat jauh untuk dibilang karakter putih. Karena masing-masing anggota memiliki sifat yang buruk serta masa lalu yang pahit dan tidak mengenakkan. Ambil contoh Comedian yang seenaknya memukuli anggota unjuk rasa, dan juga memperkosa ibu dari Laurie yaitu Silk Spectre generasi pertama (Carla Cugino). Sangat jauh dari kesan sebagai superhero bukan? Tapi bagi gw, itu merupakan salah satu keunggulan dari film ini. Tidak hanya Comedian, tetapi hampir seluruh anggota Watchmen diperlihatkan masa lalu kelam serta sifatnya yang 'hitam' sehingga memberikan kesan bahwa mereka menjadi anggota Watchmen bukanlah pilihan, tapi sebuah tanggung jawab yang kebetulan dibebankan kepada mereka.

Watchmen juga menyajikan sebuah sajian fighting scene yang cukup brutal namun juga seru. Lihat saja opening nya yang telah menawarkan sebuah fighting tangan kosong yang seru, thrilling dan juga brutal. Visual effect yang memanjakan mata, serta slow motion yang menjadi ciri khas dari sang sutradara Zack Snyder pun juga turut membingkai film ini dan membuatnya semakin enak untuk dinikmati.

 Dan salah satu kelebihan film ini juga adalah karakter-karakter nya yang kompleks dan tidak ada yang benar-benar putih. Gw sendiri pribadi sangat menyukai karakter Rorschach. Besar dengan masa lalu yang menyakitkan, Rorschach menjadi karakter yang tidak akan kompromi dengan keputusan serta idealisme yang telah ia tanam. Benar-benar pria sejati yang memegang teguh apa yang telah ia ucapkan walau taruhannya adalah nyawa. Karakter keren ini berhasil diperankan dengan baik oleh Jackie Earle Haley. Baik menggunakan topeng atau tidak, Jackie berhasil memerankan karakter Rorschach yang kompleks tersebut dengan spektakuler dan tak mudah untuk dilupakan. Bisa dibilang, karakter yang dimainkannya merupakan nyawa dari film ini.

Pemeran-pemeran yang lain juga tidak mengecewakan, walau memang sedikit tenggelam dengan kegemilangan Jackie dengan Rorchach nya. Untuk penonton pria, mungkin akan sangat terhibur dengan performa total dari Malin Akerman.. She's so hot bro!!
Pada akhirnya, Watchmen adalah salah satu film terkelam yang gw tonton. Kekelaman yang berada jauh di atas The Dark Knight, namun tentu saja tidak untuk kualitas film seutuhnya :p

8/10

 

Wednesday, 16 April 2014





Did you see his face?- Park Doo-Man

Plot


Adegan dibuka dimana Detective lokal Park Doo-Man (Song Kang-Ho) melihat mayat perempuan muda. Kejadian tersebut bukanlah untuk yang pertama kali di Gyeonggi Korea Selatan tersebut karena kejadian itu adalah bagian dari pembunuhan serta pemerkosaan berantai. Pada awalnya kasus ini akan diserahkan kepada Park Doo-Man serta asistennya yaitu Detective Cho Yong-koo (Kim Roe-Ha), namun sikap mereka yang brutal serta sering seenaknya membuat kasus berat tersebut malah menemukan jalan buntu. Hal tersebut membuat kepolisian merasa membutuhkan jasa detektif dari kota besar. Dipanggilah Detectif Seo Tae-yoon (Kim Sang-kyung) yang memiliki karakter berbeda dari Doo-Man. Seo Tae-Yoon lebih tenang dan lebih cerdas serta berpengalaman dibanding Doo-Man. Namun jasa Seo Tae-Yoon ternyata tidak membuat kasus rumit ini lebih cerah, malah kasus tersebut bertambah sulit dan menemukan jalan buntu karena sang pelaku pembunuhan berantai sangat lihai melakukan 'pekerjaannya' dan hampir tidak meninggalkan bukti ketika sedang beraksi. Yang dapat dibaca dari kejadian itu hanyalah korban memiliki kebiasaan membunuh ketika hujan, dan korban-korban memakai baju merah. Kehebatan pelaku inilah yang membuat para detektif kita semakin depresi dan cenderung frustasi.





Review


Film bergenre crime misteri merupakan salah satu genre film favorit gw. Ya, semenjak gw menonton The Bone Collector yang dibintangi Denzel Washington dan Angelina Jolie, gw menggilai film-film yang berbau misteri. Sampai saat ini film bergenre misteri yang mengambil pendekatan investigasi favorit gw adalah Se7en. Menurut gw, Se7en karya dari David Fincher merupakan contoh ideal bagaimana film bergenre crime misteri itu dibuat. Se7en menghadirkan cerita yang solid, serta misteri yang akan membuatmu penasaran setengah mati sehingga kalian akan tetap menancapkan pantat kalian untuk menikmati 'hidangan' yang ada sampai selesai.

Gw tertarik dengan Memories of Murder disebabkan banyak pihak yang mengatakan bahwa film ini merupakan film thriller terbaik di negeri ginseng Korea Selatan. Tentunya gw penasaran bagaimana bisa pihak tersebut mengatakan demikian? 

Memories of Murder (yang memiliki judul asli Sarinui Chueok) memiliki alur lambat pada awalnya untuk mengenalkan kita pada karakter-karakter utamanya. Tenang, hal tersebut tidak akan membuatmu bosan karena sang Sutradara Bong Joon-ho mampu membingkai alur lambat tersebut dengan jalinan misteri serta konfli yang benar-benar menarik dan enak diikuti, belum lagi Joon-Ho juga menyisipkan komedi yang banyak dikeluarkan dari karakter Park Doo-Man. Barulah ketika film telah menginjak durasi pertengahan, tensi pun meninggi dan kita pun sebagai penonton akan tambah penasaran dengan misteri yang ada. Oh, dan satu lagi, unsur yang biasa dan harus ada disajikan oleh drama misteri/thriller, yaitu twist berlapis yang akan siap mengejutkanmu.

Dari segi teknis juga Memories of Murder memiliki kualitas yang jempolan, baik dari segi sinematografi, serta kostum-kostumnya yang benar-benar menggambarkan tahun 80'an. Memories of Murder memang sedikit hening dan sunyi akan sound music, tapi hal tersebut akan dihadirkan pada saat yang tepat, seperti ketika ada adegan kejar-kejaran yang intens antara ketiga detektif kita dan tersangka dan jangan lupakan backsound ketika adegan genting di akhir cerita.

Dari departemen akting juga Memories of Murder sangat memuaskan, terutama dari karakter Park Doo-Man yang diperankan sangat cemerlang oleh Song Kang-Ho. Pada awalnya dia hanyalah detektif yang payah serta terkesan tidak mengambil pusing dengan kasus ini. Namun Park Doo-Man menjadi karakter yang serius serta bersungguh-sungguh akan pekerjaannya. Dan transformasi tersebut mampu diaplikasikan dengan cemerlang oleh Kang-Ho. Kang-Ho juga mampu memperlihatkan performa akting yang jempolan ketika dia harus memainkan peran komedi, dan juga peran depresif. Lihatlah ekspresi muka nya ketika dia depresif, jempolan!!

Kim Sang-kyung yang memerankan Seo Tae-yoon juga tidak kalah hebatnya. Awalnya dia adalah polisi yang tenang dan percaya akan prosedur polisi, tapi disebabkan oleh kasus yang semakin sulit karakter Tae-Yoon pun menjadi tidak sabaran dan cenderung frustrasi, perubahan karakter tersebut mampu diperankan dengan cemerlang oleh Sang-Kyung. Adegan akhir di rel kereta api pun menjadi memorable berkat aktingnya.

Pada akhirnya, gw setuju apabila Memories of Murder adalah film drama misteri yang memiliki kualitas yang jempolan dan salah satu yang terbaik di genrenya, namun tetap, bagi gw film Korea Selatan yang terbaik adalah Oldboy..:p

8,2/10

Thursday, 13 March 2014




Kids forgive, they don't judge, they turn the other cheek, and what do they get for it?- Remy Bressant


 

 

Plot

Dibuka dengan narasi dari Patrick Kenzie (Casey Affleck) tentang kota Boston yang telah dihuninya beberapa tahun belakangan. Patrick merupakan detektif pribadi yang bekerja bersama pacarnya yaitu Angie Gennaro (Michelle Monaghan). Suatu hari mereka mendapatkan pekerjaan tentang kasus penculikan(well, awalnya kasus ini hanya tentang kehilangan saja) yang menimpa putri dari Helen McCready (Amy Ryan) yaitu Amanda. Permintaan tersebut datang dari Lionel (Titus Welliver) dan Bea McCready yang merasa kurang mempercayai investigasi kepolisian yang terkesan mengulur-ulur waktu. Dengan dibantu Sersan Remy Bressant (Ed Harris), Patrick dan Angie pun berlomba dengan waktu untuk menemukan Amanda.









Review

Familiar dengan Ben Affleck? Ya, dia adalah seorang aktor yang terkenal dengan perannya di film-film blockbuster macam Armagedon, Pearl Harbor dan Daredevil. Sayangnya walaupun dia adalah aktor kelas A, namun banyak orang yang mengkritiki aktingnya yang buruk dan standar. Terbukti dengan beberapa nominasi Razzie Awards sebagai worst actor yang telah dikantonginya. Gw hanya pernah melihat aktingnya di film Armagedon dan Daredevil, dan memang benar, aktingnya tidak ada yang spesial. Lalu bagaimana dengan profesinya sebagai sutradara? Apakah kariernya sebagai sutradara akan setali tiga uang ketika dia menjadi aktor? Fyi, Ben Affleck pernah mendapatkan piala Oscar untuk Best Original Screenplay dalam film Good Will Hunting (1997) bersama Matt Damon. Seharusnya ini telah menjadi jaminan kita bahwa kariernya di balik layar akan berada di arah sebaliknya dengan kariernya menjadi aktor..
Tuhan memang telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan, ada pria dan wanita, langit dan daratan, dan tentunya baik dan jahat, tapi kita renungkan kembali, baik dan jahat? Jangan salah, dalam kehidupan ada juga yang dinamakan sifat abu-abu. Tindakan yang tak bisa dibilang baik namun juga sulit untuk dibilang jahat. Karakter abu-abu favorit dalam film bagi gw adalah Batmannya Nolan yang diperankan Christian Bale. Nah sifat atau tindakan abu-abu itulah yang seringkali menimbulkan dilema dalam diri kita ketika menontonnya. Patutkah kita mendukung perbuatannya? Atau patutkah kita mencela tindakannya? Sulit untuk dijawab dan sayangnya disitulah letak menariknya film yang mengangkat tema abu-abu ini.
Dan kalian pun akan mendapatkan hal itu di film debut nya Ben Affleck menjadi sutradara ini. Kalian akan dibingungkan dengan pertanyaan siapa yang jahat dan baik. Dan itu merupakan kelebihan film ini. Pertanyaan itu akan tetap tertutup dan akan dibuka ketika film mendekati paruh akhir dan kita pun akan sangat puas dengan jawabannya. Affleck pun seperti gw bilang tadi tidak mau bertele-tele dengan film ini. Affleck tetap fokus dengan main plot nya sehingga setiap adegan pun tidak ada yang terkesan sia-sia atau seperti hanya mengulur-ulur durasi, tidak. Setiap scene memiliki andil tersendiri dan memiliki hubungan dengan main plotnya.
Gw juga suka dengan keputusan Affleck yang lebih memilih mengembangkan karakter-karakter utamanya ketimbang memperpanjang adegan-adegan yang tidak perlu. Semuanya mendapatkan perkembangan karakter yang menarik, baik itu Patrick, Angie, Remy bahkan karakter minor seperti Helen dan Lionel. Lihat saja karakter Helen yang begitu ‘loser’ ketika masih di awal film, ketika film mulai memasuki paruh pertengahan, karakter Helen berubah dan mulai bisa untuk mendapatkan simpati dari kita. Ya, walau attitudenya tidak layak sebagai seorang ibu, itu hanya lah attitudenya, ibu tetaplah ibu yang menyayangi darah daging yang telah ia lahirkan dengan pertaruhan nyawa, sehingga Helen yang terkesan cuek tetap saja mengkhawatirkan putrinya dan itu kita bisa lihat di pertengahan film. Karakter Helen pun mampu diperankan dengan cemerlang oleh Amy Ryan. Dan salut untuk Affleck dimana dia tidak menaruh peran Angie hanya sebatas pemanis saja. Soalnya gw sempat mengira begitu, tapi untungnya tidak, dimana karakter Angie yang awalnya tidak ingin terlibat dengan kasus ini bahkan terkesan menolak tawaran ini malah terikat batin dengan korban dan sangat perduli dengan korban. Oh ya, jangan lupakan juga karakter Jack Doyle yang diperankan oleh Morgan Freeman karena karakter inilah yang paling mencuri perhatian bagi gw, ingat, sekali lagi gak ada tokoh yang useless disini, termasuk karakter yang diperankan Morgan Freeman tersebut.
Gw juga menyukai pilihan Affleck menjadikan Boston sebagai latar tempat film terjadi, karena Boston sendiri merupakan salah satu kota yang terkenal dengan angka kriminilatisnya tinggi. Dan Affleck berhasil menjadikan kota Boston sangar di film ini. Lihat saja dimana warga nya seolah menyimpan senjata api dengan mudahnya, juga warganya yang terlihat tidak ramah, semua hal itu membuat film ini cukup tegang.
Dan pada akhirnya kita memasuki bagian yang paling emosional, yaitu endingnya. Gimana nggak? Ending film ini memberikan kita sebuah pilihan yang sangat sulit bila kita menjadi Patrick. Kalo gw sendiri menjadi Patrick gak tau deh gw bakal pilih yang mana. Dan pada akhirnya Ben Affleck memberikan kita ending yang cukup terbuka apakah keputusan yang diambil Patrick benar atau salah. Yang jelas Patrick telah mengikuti kata hati dan keadilannya dengan mengorbankan sesuatu yang besar pula. Sungguh, Gone Baby Gone menawarkan ending yang cukup powerful bagi gw.
Singkat kata, Gone Baby Gone merupakan sebuah bukti dari Ben Affleck bahwa dirinya memiliki bakat dalam suatu industri film ini. Mungkin bakat tersebut bukan menjadi aktor, namun menjadi Sutradara? Hell yeah, profesinya sebagai sutradara sepertinya cocok untuk Affleck. Dan gw udah gak sabar untuk menonton karyanya yang fenomenal yaitu Argo. Sampai saat ini file nya masih duduk tenang di harddisk gw. Semoga gw juga suka ama film tersebut.


8/10
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!