Thursday, 29 November 2018

"It's heartening to see so many strange, new faces here today. I know my mom would be very touched, and probably little suspicious."- Annie

Plot

Keluarga Graham yang terdiri dari Steve (Gabriel Byrne), Annie (Toni Collette) beserta kedua anak mereka yaitu Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Saphiro) tengah dirundung duka atas kematian ibu dari Annie yang sebelumnya tinggal bersama mereka. Satu hal yang mereka tidak ketahui adalah bahwa kematian tersebut merupakan tirai dari beberapa hal aneh dan mencekam yang akan terjadi selanjutnya.





Review

Setelah saya menonton Hereditary, saya seketika menyesali keputusan saya mengapa memilih waktu malam hari untuk menyaksikan Hereditary. Dipastikan, harapan untuk bisa tertidur nyenyak setelah menonton film ini tentu saja hilang. Entah karena tidak mengantuk, namun bisa dipastikan, semua momen menyeramkan yang ada di film ini seolah di rewind secara otomatis dalam benak. Sensasi menonton seperti ini tentu tidak selalu saya dapatkan dari film horor. Praktis, film-film bergenre serupa yang mampu memberikan sensasi yang sama adalah Rosemary's Baby (sang sutradara, Ari Aster, sepertinya mencintai film klasik tersebut karena atmosfir yang dibangun sekilas hampir sama seperti film karya dari Roman Polanski itu), The Witch, The Blair Witch Project, atau yang paling memorable adalah film Suzanna: Bernafas dalam Kubur. Just kidding, maksud saya adalah film mendiang Suzanna yang mana ada adegan kepala Suzanna gemetar, lengkap dengan mata melototnya yang ikonik saat paku ditancapkan di ubun-ubun kepalanya. Ada yang masih ingat? Percayalah adegan tersebut masih menghantui saya hingga saat ini.

Hereditary akan memberikan kesan tidak mengenakkan yang akan menepel pada diri Anda dalam kurun waktu yang cukup lama. Saya sendiri, di usia 25 tahun ini, bahkan tidak berani menatap plafon kamar saya sendiri setelah menyaksikan sajian film debut dari Ari Aster ini. Dan seperti The VVitch (yang juga diproduksi oleh A24), Hereditary juga menyerang aspek psikologis Anda yang diakibatkan dari berbagai momen-momen disturbing dalam film ini.

Momen-momen tersebut bekerja tentunya dikarenakan Hereditary memiliki fondasi cerita yang kuat. Mental illnes dan keluarga disfungsional menjadi dasar penceritaan Hereditary. Penonton sudah bisa merasakan ada yang tidak beres pada keluarga Graham, terutama Annie dan Charlie. Annie sendiri sama sekali tidak merasakan kesedihan atas meninggalnya sang ibu, bahkan pada saat ia berpidato pada acara pemakaman yang ia sampaikan pun sedikit banyak didominasi Annie menceritakan keburukan sifat yang dimiliki oleh mendiang ibunya dibanding dengan kebaikannya. Sedangkan Charlie merupakan gadis pre-teen tidak biasa, dengan sifatnya pendiam, bahkan cenderung ke arah freak. Bayangkan saja, dikala gadis seusianya bermain sosial media ataupun tik tok, Charlie lebih asik memutilasi kepala bangkai burung. Bahkan, lewat dialog yang disampaikan Annie, dari ketika ia dilahirkan, Charlie sama sekali tidak pernah menangis! Goks gak tuh? Hubungan antara anggota keluarga pun terlihat renggang.

Ari Aster mencoba membangun konflik demi konflik di awal dengan penceritaan yang cukup sunyi dan pergerakan narasi yang bisa dibilang cukup lambat, setidaknya di awal 30-40 menit nya. Saya berasumsi, selain untuk pembangunan karakter, Ari Aster menyajikan pergerakan narasi sedemikian rupa untuk mengajak penonton lebih memiliki waktu optimal untuk memperhatikan kepingan-kepingan puzzle yang disebarkan oleh Aster. Aster pun juga tidak pelit untuk menghadirkan tease yang cukup memacu adrenalin dalam setiap pergerakan lambat narasinya. Barulah setelah film beranjak ke durasi selanjutnya, Aster menaikkan tensi cerita. Penonton langsung diberikan momen shocking yang berhasil memaksa saya berteriak mengeluarkan kata sumpah serapah di tengah malam. Aster tidak sungkan-sungkan melakukan suatu hal tabu dalam dunia perfilman bergenre horor. Momen tersebut dan aftermath nya bisa dibilang merupakan adegan terbaik dalam tahun 2018. Perpaduan sempurna antara cemerlangnya penyutradaraan dari Aster, serta scoring dari Colin Stetson yang memberikan atmosfir dingin dan mencekam, juga penampilan dari Toni Collette dan Alex Wolff (we'll talk about it later). Ditutup pula dengan pemandangan yang diberikan Aster yang saya jamin mampu membuatmu tidak nyaman di tempat duduk Anda.

Usaha Aster dengan memberikan kesempatan pendekatan pada karakter di awal-awal durasi hingga pertengahan melahirkan hasil yang sesuai diharapkan Aster. Penonton memiliki keterikatan terhadap keluarga Graham, berharap segala tragedi yang dialami mereka segera berakhir dan akhirnya mereka bisa melalui semuanya tanpa mengalami kerugian apapun. Tema mental illness yang diangkat Aster pun melahirkan sebuah ambiguitas tersendiri karena penonton seolah diajak untuk membuat asumsi apakah setiap kejadian yang menimpa keluarga Graham murni akibat dari spirit yang menghantui keluarga Graham, atau tanpa sengaja dilakukan oleh salah satu anggota keluarga tersebut. Terlebih memang, di dalam narasinya terdapat satu karakter yang memiliki kebiasaan sleepwalking dimana pada saat sleepwalking tersebut, karakter itu bisa melakukan hal yang tak terduga, bahkan mampu menyakiti anggota keluarga lainnya. Apakah hal tersebut memang dilakukan tanpa sengaja atau ketidaksengajaan tersebut terlahir akibat kegelapan yang dimiliki karakter tersebut.

Hereditary adalah jenis film yang bisa menguras emosi. Untungnya Hereditary memiliki jajaran cast yang brilian. Alex Wolff berhasil secara meyakinkan memerankan karakter yang dilanda rasa traumatis serta bersalah. Tak jarang, Aster sering memberikan fokus pada ekspresi Wolff, sehingga penonton pun ikut tertular perasaan yang sedang dirasakan oleh karakter Wolff. Gabriel Byrne sendiri memang cukup jarang untuk mengeluarkan emosi nya disini, namun hal itu ditutupi dengan gestur subtil nya disini. Kredit lebih juga selayaknya diberikan kepada Milly Saphiro yang selalu berhasil memberikan atmosfir misterius nan creepy di setiap kehadirannya. Namun tentunya penampilan terbaik jatuh kepada Toni Collette. Saya sempat beranggapan bahwa Julianne Moore adalah aktris Hollywood terbaik dalam memperlihatkan akting yang histeris nan emosional tanpa ada kesan berlebihan, namun melihat penampilan Toni Collette disini, rasanya Moore memiliki pesaing yang sulit. Collette benar-benar mencurahkan segala kemampuan terbaiknya dalam film ini. Dari ekspresi kegelisahan maupun ketakutan seolah ia baru saja mengalami mimpi terburuknya, lalu tangisan parau nya yang mampu mencabik-cabik hati Anda, diiringi juga tatapan mata kosongnya yang sering ia perlihatkan, rasanya sebuah kejahatan atau kriminalitas sendiri dari pihak Academy bila Toni Collette setidaknya tidak mendapatkan nominasi Best Actress di pegelaran Oscar tahun depan.

Mengenai minor Hereditary sendiri saya hanya merasa bila Hereditary sedikit lambat di awal-awal filmnya bergerak. Tentu nya penonton yang sering menonton film horror seperti The Conjuring ataupun Insidious, pendekatan seperti membutuhkan kesabaran. Namun percayalah, kesabaran tersebut akan berbuah "manis". Editing yang dilakukan oleh Lucian Johnston dan Jennifer Lame pun terasa sedikit kasar di beberapa adegan. Kemudian mengenai endingnya pun sedikit bertele-tele dengan penjabaran monolog di akhir yang disampaikan oleh salah satu karakternya. Tidak masalah rasanya bila Aster sedikit pelit untuk membiarkan endingnya diakhiri tanpa adanya monolog tersebut. Yap, hanya itu saja kekurangan yang saya rasakan dari film yang berdurasi 127 menit ini. Hereditary berhasil memberikan sebuah showcase teror itu sendiri dengan kisah tragedi nan mencekam yang rasanya susah untuk dilupakan. Tidak berlebihan bila Hereditary adalah salah satu film terbaik yang dirilis pada tahun 2018.

9/10

Thursday, 22 November 2018


"What's the law on what ya can and can't say on a billboard? I assume it's ya can't say nothing defamatory, and ya can't say, 'Fuck' 'Piss' or 'Cunt'. That right?:- Mildred

Plot

Merasa kasus pemerkosaan serta pembunuhan terhadap putrinya tidak jua menemukan pelakunya, sang ibu, Mildred (Frances McDormand), akhirnya melakukan perbuatan nekad dengan menyewa jasa pemasangan billboard untuk menanyakan seraya memberikan kritik keras kepada kepolisian setempat, yang dipimpin oleh Chief Willoughby (Woody Harelson). Tidak tanggung-tanggung, 3 billboard yang disewa oleh Mildred dengan masing-masing bertuliskan "How Come, Chief Willoughby, Raped While Dying, And Still No Arrests"

Review





Adegan awal telah dibuka dengan sosok Mildred dengan penampilannya yang eksentrik, dengan muka tanpa ekspresi, mendatangi tempat penyedia jasa billboard dan meminta Red Welby (Caleb Landry Jones). Dari adegan awal tersebut saja, penonton telah mampu mempelajari bagaimana karakter Mildred tersebut. Ucapan kasar mudah terucap dari mulutnya, sosoknya yang begitu intimidatif walau dia hanyalah seorang perempuan berusia senja, penonton akan sadar bila pada film ini kita akan diberikan sosok protagonist yang tidak biasa.

Suatu film secara umumnya memiliki sebuah konflik utama dalam menggerakkan narasi. Dalam Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, tentu konfliknya adalah berpusat pada tindakan nekad dari Mildred untuk mengningatkan kepada penduduk setempat kota Ebbing, terutama kepolisisan setempat yang pernah terjadi di kota kecil tersebut. Sang sutradara, Martin McDonagh menjadikan konflik tersebut rupanya menjadikan konflik tersebut sebagai eksplorasi karakter yang ada pada film ini. Mungkin penonton mengharapkan bila narasi mengenai "siapa pelaku sebenarnya" adalah fokus utama narasi, yang mana nyatanya tidak sepenuhnya terjadi. Kenyataannya, McDonagh memperlihatkan bagaimana reaksi dari karakter-karakter yang terlibat, terutama tentu Mildred, Willoughby dan polisi kasar nan seenaknya saja yang memiliki reputasi sering melakukan tindakan kasar kepada orang berkulit hitam, Dixon (Sam Rockwell). 

Mildred seolah membuang semua nuraninya sebagai manusia (setidaknya di awal-awal penceritaan) demi mendapatkan keadilan untuk putri tercintanya. Ia sudah tidak perduli lagi dengan norma yang ada, bagaimana pandangan penduduk setempat yang kini berbalik memusuhinya, serta menganggap orang yang tidak menyetujui tindakan nya adalah sosok musuh. Pada awalnya, mudah untuk menjustifikasi tindakan Mildred. Ibu mana yang tidak terpukul serta murka akan tragedi yang ditimpa putrinya, sehingga bisa dimengerti ia akan mengambil cara apapun untuk mendapatkan apa yang ia cari. Menjadi masalah adalah orang yang "diserang" Mildred adalah sosok polisi bertanggung jawab, memiliki citra baik di pandangan penduduk, serta memiliki keluarga yang harmonis. McDonagh pun mengekspos bagaimana penilaian publik bisa berubah 180 derajat akibat suatu kejadian. Awalnya, penduduk kota Ebbing memberikan simpati sepenuhnya kepada Mildred, namun simpati tersebut seketika memudar setelah apa yang Mildred perbuat. Simpati tersebut berpindah kepada sasaran utama yang disuarakan Mildred, yaitu Willoughby. Terlebih Willoughby sendiri tengah mengalami kondisi tertentu.

Pada awal cerita, saya berasumsi jika Chief Willoughby tidak lebih dari polisi korup tak bertanggung jawab yang menyalahkan jabatan yang diembankan kepadanya. Tetapi anggapan tersebut patah ketika kita diperlihatkan bagaimana Willoughby adalah seorang family man yang begitu menyayangi keluarganya. Dirinya pun diperlihatkan begitu dihormati oleh rekan polisi lainnya, termasuk Dixon. Dixon sendiri memiliki reputasi buruk sebagai seorang polisi. Selain dirinya adalah polisi rasis, sosoknya pun seolah sebagai polisi yang memiliki masalah akan kecanduan pada minuman alkohol. Dirinya adalah orang yang tepat dalam menghadapi Mildred karena memiliki persamaan pada attitude mereka. McDonagh memberikan treatment yang begitu manusiawi terhadap 3 karakter utama tersebut. Tidak ada sosok protagonist putih seutuhnya, semuanya memasuki dalam lingkaran karakter abu-abu. Memang beginilah asyiknya ketika sutradara seolah menghapus konsep protagonist-antagonist seutuhnya dalam film. Anda ingin memberikan dukungan kepada siapa, itu sepenuhnya keputusan Anda sendiri, dan percayalah hal tersebut tidaklah mudah. Three Billboards mungkin memiliki dasar cerita yang kelam, namun McDonagh menolak untuk menjadikan karya nya ini kelam seutuhnya, karena selipan dark comedy bertebaran di sini, baik itu merupakan dialog yang diucapkan maupun perilaku karakternya yang tidak jarang memberikan kekonyolan sendiri. 

Mudah untuk langsung jatuh hati pada film ini karena di pertengahan durasi awal, McDonagh menggulirkan konflik demi konflik cerita dengan cepat. Ditambah soundtrack-soundtrack country nya yang catchy sangat membantu atmosfir western nya. Cukup disayangkan memang pada pertengahan durasi akhir, tepatnya ketika film memasuki third act nya, Three Billboards seolah kehabisan bensin. Atmosfir tegang di awal cukup hilang dimana McDonagh memilih untuk menyajikan di durasi akhir-akhir filmnya dengan atmosfir yang cukup sendu serta lamban. Saya sendiri sekali dua kali memeriksa durasi filmnya berjalan, menunjukkan kebosanan telah menghampiri. Untungnya, McDonagh dibantu 3 aktor pengalaman yang menunaikan tugasnya dengan sangat brilian.

Tidak salah jika pihak Academy memberikan Oscar masing-masing untuk McDormand dan Sam Rockwell. Entah ini berlebihan atau tidak, namun saya cukup yakin, dua karakter yang diperankan mereka berdua menjadi karakter yang memorable. McDormand begitu sempurna dalam memerankan karakter Mildred yang terlihat begitu kacau, dingin tapi di dalamnya terdapat sebuah kemarahan yang begitu besar akan tragedi serta ketidak adilan yang dialaminya serta kerapuhan yang memberikan kesan bila Mildred masih memiliki hati yang tersisa di dalam dirinya. Rockwell juga berhasil memerankan Dixon yang tampak begitu bengis, kasar serta slengean. Pada awalnya mungkin sosok Dixon sangat dibenci penonton, tetapi saat narasi nya bergerak kepada transformasi karakter kepada Dixon, sungguh mudah untuk mengubah benci tersebut menjadi simpati dan perduli terhadap karakter Dixon. Karakter ini juga menjadi favorit saya di dalam film ini. Harrelson juga mengesankan dalam menghidupi karakter Willoughby, walau memang bila dibanding dengan karakter Mildred dan Dixon, sosok Willoughby cukup tenggelam. Walau memang sedikit melambat dan sendu di paruh akhir, serta endingnya yang cukup mengundang pertanyaan, Three Billboards tetaplah film yang memuaskan dan tidak sulit untuk menobatkan bila Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah salah satu film terbaik di tahun lalu.

8,25/10




Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!