Monday, 27 March 2017


 "We have plenty of matches in our house. We keep them on hand always"- Paterson

Plot

Menceritakan satu minggu dari kehidupan sehari-hari Paterson (Adam Driver) di kota tenang yang memiliki nama yang serupa dengan dirinya, Paterson, New Jersey. Paterson sendiri memiliki kekasih yang memiliki ketertarikan dengan seni juga cupcakes, Laura (Golshifteh Farahani). Paterson juga memiliki profesi sebagai supir bus, dan dalam waktu senggangnya, ia menulis puisi demi puisi di dalam notebooknya.




Review

Ada sebuah adegan yang saya ingat di film Fences dimana dalam adegan tersebut salah satu anak dari Troy menanyakan mengapa Troy tidak menyukai dirinya. Dan Troy menjawabnya dengan jawaban yang mungkin jauh diharapkan oleh sang anak, tetapi sulit juga untuk menyalahkan jawaban dari Troy. Troy menjawab dirinya tidak perlu menyukai sang anak, karena dia telah menjalankan tugasnya sebagai ayah, yaitu menghidupi sang anak. Saya teringat adegan tersebut tidak lama setelah saya menyaksikan film yang disutradarai juga ditulis oleh Jim Jarmusch. Paterson mungkin merupakan film yang cocok sebagai permulaan bagi kalian yang ingin mencicipi bagaimana jalan penceritaan jenis film arthouse. Reaksi saya juga kala berakhirnya perjalanan saya dengan Paterson, well, agak mix juga karena bila dibilang saya menikmati film ini, jawabannya tidak. Lalu, apakah saya membenci film ini? Well, not even close.

Jim Jarmusch menyajikan Paterson mungkin bisa diperbandingkan dengan beberapa karya nya Richard Linklater. Dalam satu minggu kita menjadi saksi kehidupan Paterson, sama sekali tidak ada konflik besar yang menaikkan tensi penceritaan. Tetap masih ada konflik yang menjadi bumbu cerita, tetapi hampir keseluruhan konfliknya begitu dekat dan realistis, ya seperti konflik-konflik yang terjadi di dalam kehidupan kita (pengecualian mungkin konflik yang ada di bar). Tidak hanya itu, narasi bergerak pun cenderung repetitif. Paterson bangun dari tidur, melihat jam tangan untuk memastikan waktu, mengecup mesra Laura, sarapan, berangkat kerja, menulis puisi kala senggang, pulang kerja, mengobrol dengan Laura dan ditutup dengan mengajak jalan Marvin, anjing peliharaan mereka yang tidak pernah akur dengan Paterson, lalu mampir di bar langganan Paterson. Kebiasaan Paterson tersebut berulang-ulang memenuhi hari-harinya, ditambah dengan beberapa konflik-konflik kecil untuk sedikit mewarnai hari-hari yang dijalani Paterson. Perjalanan yang repetitif ini lah faktor utama mengapa saya kurang menikmati Paterson. Setelah tiadanya konflik yang terlalu menarik perhatian, ditambah pula lontaran-lontaran dialognya yang bisa dibilang biasa saja, dan Paterson juga tidak jarang menghabiskan durasinya dengan tanpa dialog. Makin komplitlah mengapa saya beberapa kali ingin menyudahi film ini. Tepat sekali bila Paterson itu bagaikan lukisan abstrak yang tidak sembarang orang mampu menangkap keindahannya. Serius, dalam setiap karakter Paterson mengawali harinya, saya selalu menebak konflik utama apa yang sebenarnya menjadi fokus cerita Paterson, dan ketika durasi menyentuh akhir, jawaban itu tak terjawab karena Jarmusch tidak memiliki itu di dalam karya nya ini. Entah apa yang ia presentasikan kala meyakinkan para produser untuk akhirnya mau membantu menelurkan Paterson.


Lalu, apa motif saya mengungkit salah satu adegan Fences di awal paragraf dalam mengulas film Paterson ini? Walau saya tidak menikmati film ini, tapi bukan berarti saya juga tidak memutar otak mencari maksud dari Jarmusch membuat film Paterson, dan jawaban dari hasil observasi saya adalah belajar dari seorang Paterson yang mungkin saja tidak menyukai kehidupannya yang begitu pasif tanpa ada perubahan signifikan yang berarti, tetapi Paterson tetap menjalaninya dengan tenang, mensyukuri semuanya yang terjadi. Memang masih banyak pertanyaan lainnya, seumpama apa maksud di balik kejadian Paterson yang selalu menemui dua saudara kembar di hari-harinya? Saya belum memiliki jawaban akan hal itu.

Mungkin saya tidak sepenuhnya menangkap maksud sesungguhnya dari film ini, tapi saya tahu bila Paterson adalah film yang indah. Berkat bantuan Frederick Elmes, Jarmusch menangkap dari sudut demi sudut kota Paterson, lalu yang saya suka ketika Paterson menulis puisi, beberapa kali Jarmusch memvisualisasikan apa yang dipikirkan oleh Paterson saat menulis puisinya. Namun, apa yang membuat saya betah hingga akhir adalah karakter Paterson itu sendiri. Paterson mungkin bukanlah orang yang membuatmu betah berlama-lama kala bercerita dengannya, tetapi Paterson jelas orang yang mudah disukai berkat sifatnya yang ramah, baik hati dan tidak jarang mampu menjadi pendengar yang baik. Karakter Paterson juga mengajarkan untuk kita selalu senantiasa memperhatikan sekitar karena bisa jadi apa yang kita saksikan menjadi inspirasi dalam berkarya. Adam Driver tentu sempurna menjelma menjadi Paterson berkat mukanya yang senantiasa tanpa ekspresi, suaranya yang berat juga menunjukkan kewibawaan dari seorang Paterson, dan kala dirinya harus melontarkan jokes, Adam Driver juga berhasil melaksanakannya. Penampilan charming dari Adam Driver diseimbangkan juga oleh akting memikat dari Golshifteh Faharani yang berhasil menjadi seorang istri yang eksentrik, menyenangkan, begitu perhatian dengan sang suami yang membuat karakter Laura ini menjadi seorang istri idaman bagi semua pria. Chemistry antara Adam Driver dan Faharani juga terjalin dengan baik, tidak datar walau hanya disokong lewat dialog-dialog yang bisa dibilang biasa saja, namun hal itu ternyata telah cukup untuk membuat saya begitu iri melihat pasangan ini.

Tidak salah memang menyatakan bila Paterson merupakan film yang cukup berani memutuskan untuk menggerakkan narasi nya dengan meniadakan letupan-letupan konflik yang tidak bisa dipungkiri adalah hal yang ampuh untuk membuat penonton tetap tertarik mengikuti filmnya. Namun, mungkin disitu juga yang menjadi daya tarik Paterson sehingga mendapatkan tanggapan yang cukup positif di kalangan para kritikus. Saya tidak begitu menikmati Paterson, namun saya juga tidak memungkiri bila saya menyukai hubungan antara Paterson dan Laura, yang merupakan faktor utama saya untuk senantiasa mengikuti film ini hingga akhir.

7,25/10

Friday, 24 March 2017


"Being good at this kind of work is not very beautiful"- Marianne Beausejour

Plot

World War II. Sebagai intelijen berasal dari Kanada, Max Vatan (Brad Pitt) mendapatkan tugas rahasia untuk membunuh duta besar Jerman. Dirinya akan dibantu oleh pemberontak asal Prancis, Marianne Beausejour (Marion Cotillard) yang berperan sebagai istrinya. Hari demi hari yang mereka lewati bersama tentu menumbuhkan rasa cinta di dalam diri Max sehingga ketika misi telah selesai, Max pun mengajak Marianne ke London untuk hidup sebagai suami istri yang sesungguhnya. Namun sayangnya, walau misi telah selesai, perang tetaplah berlangsung dan itu secara perlahan mulai memengaruhi hubungan Max dan Marianne.





Review

Tampaknya filmmaker yang berkarir di Hollywood tidak akan pernah bosan untuk mengangkat cerita perang dunia, dan mayoritas setting yang diangkat adalah masa dimana perang dunia kedua berlangsung. Musuh utama? Tentu saja Nazi, yang juga secara langsung akan memengaruhi tenang atau tidaknya Adolf Hitler di dunia sana. Kali ini ada seorang sutradara yang bisa dikategorikan sebagai sutradara yang cukup lawas, yaitu Robert Zemeckis yang sebelumnya telah mengangkat namanya melalui trilogy Back to the Future dan pemenang Oscar periode 1995, Forrest Gump. Sepanjang saya mengikuti karya beliau, setidaknya saya bisa menangkap Zemeckis tahu bagaimana menyeimbangkan segi teknisnya dan juga ceritanya untuk bisa menjadi kombinasi yang sempurna ketika tampil di layar. Masih ingat bagaimana dengan briliannya Zemeckis mempertontonkan sosok Gump seolah bersanding dengan beberapa tokoh-tokoh dunia seperti John Lennon ke dalam film untuk membantu penceritaan. Dalam Allied, Zemeckis dibantu Steven Knight, yang juga bukanlah screenwriter kacangan yang menunjukkan kemampuannya dalam film Locke. Jelas ini modal utama untuk penonton bisa berekspektasi bila sajian film romansa ala tahun 30an ini akan berakhir gemilang. Berhasilkah? Bisa iya, bisa tidak.

Allied berakhir dengan cukup gemilang karena tujuan utama sang sutradara atau juga penulis tercapai dalam memusatkan cerita kepada hubungan romansanya. Fokus itu tetap terjaga hingga menit akhir, tanpa ada usaha untuk lebih mengeksplor keadaan perang saat itu, Ditambah lagi dengan twist nya yang menyebabkan nasib romansa Max dan Marianne semakin kental terasa, meskipun memang ketika twist nya menyeruak, kebersamaaan antara Max dan Marianne tidak lah terlalu mendominasi karena roda penggerak narasi beralih kepada perjalanan Max yang diliputi rasa tidak menentu. Disini Allied bertambah menarik. Tidak perduli bila cerita utamanya mengenai romansa, Zemeckis dan Steven Knight telah mengambil keputusan untuk menjadikan setting perang dengan aroma spionanse nya sebagai ladang bermain, sehingga atmosfir penuh kecurigaan, pertanyaan siapa yang bisa dipercaya, tetaplah harus ada untuk menjaga esensinya. Oke, memang mungkin banyak di antara kita telah mengetahui film ini akan dibawa kemana bahkan sebelum twist nya terungkap, namun saya tidak memungkiri melihat karakter Max melakukan berbagai usaha untuk mencari jawaban itu menarik.

Allied pun ditunjang dengan teknis yang mengagumkan. Sinematografi nya digarap dengan tidak sembarangan. Ambil contoh seperti adegan bercinta di dalam mobil yang memperlihatkan pergerakan kamera yang dinamis serta efek badai pasirnya yang menambah adegan tersebut, dan juga saat di tengah pesta malam hari terjadi baku tembak di langit yang malah jatuhnya tampak seperti kembang api karena disuguhkan dengan sangat memanjakan mata. Naskah Steven Knight pun juga sadar diri dengan tidak memaksakan dialog-dialog yang dilontarkan terasa puitis atau bahasa gaulnya lebay lewat kelugasan serta straight to the point untuk memposisikan Allied sebagai tontonan masa kini, tidak ketinggalan dengan beberapa umpatannya. Dari performance artis nya, Allied tidak ada masalah. Brad Pitt mungkin sedikit terasa kosong di paruh awal, namun saat ia menjadi tombak utama cerita di pertengahan cerita hingga akhir durasi, Brad Pitt menunjukkan taji nya dengan meyakinkannya ia mengeluarkan ekspresi penuh kebingungan nan dilematis, tanpa kehilangan kharismanya sebagai aktor sedikitpun. Marion Cotillard juga sempurna sebagai Marianne yang elegan, anggun juga seduktif di saat bersamaan.

Namun, Allied juga memiliki kekurangan yang mengganggu. Yang pertama jelas chemistry yang kurang antara Pitt dan Cotillard. Telah menjadi barang wajib bila chemistry antar dua karakter utama nya merupakan syarat utama untuk membuat aspek romansa nya berhasil. Bukan sepenuhnya salah Pitt atau Cotillard juga karena mereka telah berusaha semampu mereka untuk membuat hubungan mereka berdua terlihat meyakinkan. Memang naskahnya yang tidak terlalu membantu, seperti dialog-dialog diantara mereka tidak ada yang memorable, terasa dingin pula karena di paruh awal, hubungan yang mereka jalin masih palsu, dan saat mereka telah menikah, kebanyakan durasi memisahkan mereka sehingga tidak mempertemukan di satu layar. 

Dan yang lebih membuat Allied tidak menggigit adalah rasa suspense nya kurang mengigit. Oke, atmosfir paranoid membumbung kental bersamaan perjalanan Max di paruh akhir, tetapi minim sekali rasanya ketegangan yang terasa. Mungkin hanya ada dua momen saja yang mampu membuat saya menahan nafas, seperti saat Max tengah menunggu dering telpon yang harus diakui digarap dengan apik oleh Zemeckis. Namun setelah itu butuh hingga menit akhir saat klimaks tampil di layar saya harus merasakan ketegangan lagi. Semua yang dilakukan Max tampak terasa lancar-lancar saja tanpa adanya ancaman yang mengintai. Saat adegan aksi, Allied juga biasa saja, Padahal bila Zemeckis memutuskan untuk menyajikan satu action secquence saja, itu pasti akan menambah kualitas penceritaan dan juga mampu menghibur bagi penonton yang mungkin mengekspektasikan Allied adalah film yang penuh dengan action package.

Pada akhirnya, Allied tetaplah merupakan sajian film yang menghibur berkat aspek teknisnya yang memanjakan mata, juga kesenangan saat melihat karakter Max disiksa akan rasa curiga dipenuhi dilematis saya dapatkan. Hanya sayang, adegan aksi atau ketegangan yang minim juga dinginnya interaksi antara Max dan Marianne membuat Allied sedikit tercoreng dan membuatnya tidak menjadi memorable. But still, it worth your time.

7,75/10

Thursday, 23 March 2017


"Some people build fences to keep people out, and other people build fences to keep people in"- Bono

Plot

Troy Maxson (Denzel Washington) merupakan pria yang berprofesi sebagai pengangkut sampah bersama dengan temannya, Bono (Stephen Henderson). Troy hidup bersama sang istri, Rose Lee (Viola Davis) beserta dua putranya yaitu Lyons (Russel Hornsby) dan Cory (Jovan Adepo). Troy sendiri memiliki permasalahan dengan kedua anaknya, seperti dengan Lyon yang kerap meminjam uang dari ayahnya dan Cory yang ingin menjadi pemain football tetapi mendapatkan larangan keras dari sang ayah. 





Review

Dari judulnya seolah menggambarkan bila konflik demi konflik yang terdapat di dalam film yang disutradarai pula oleh Denzel Washington ini memang hanya berpusat pada keluarga Troy. Fences sendiri merupakan film hasil adaptasi panggung teater karya August Wilson yang telah meraih berbagai penghargaan semenjak diputar perdana di Broadway pada tahun 1987. Maka merupakan hal yang wajar bila ketika durasinya berjalan, Fences dipenuhi dengan berbagai dialog yang seolah tanpa henti. Dialognya pun tidak terpungkiri sangat berasa teaternya sehingga saya yang belumlah terlalu sering melahap karya sejenis Fences cukup kesulitan untuk beradaptasi menangkap hujan dialog pada awal durasinya berjalan. Tidak bohong ada beberapa momen saya sedikit terlena untuk menghentikan perjalanan saya menikmati Fences karena faktor kesulitan tadi, namun setelah cukup beradaptasi dengan gaya ceritanya, saya pun tenggelam dengan cerita yang ditawarkan.

Seperti yang saya utarakan sebelumnya bila Fences berpusat pada penceritaan mengenai konflik yang dialami Troy dan keluarganya. Dari hubungannya dengan kedua anaknya dimana Troy ingin mereka memiliki pekerjaan sesuai keinginannya yang berbentrokan dengan keinginan masing-masing sang anak. kesulitannya dalam mengurus saudara nya, Gabriel (Mykelti Wiliamson) yang mengalami gangguan kejiwaan akibat luka yang diterimanya saat perang, hingga ketika film beranjak ke pertengahan durasi ada sedikit kejutan yang menambah pula konflik yang ada. Semua konflik seolah terjaga tetap berada di perkarangan sempit rumah Troy, yang tidak jarang menciptakan atmosfir claustrophobic tersendiri. Rentetan dialog yang ada tidak hanya mengeksplorasi permasalahan-permasalahan yang ada, juga berfungsi untuk menambah kedalaman karakter yang terlibat, terutama Troy. Dialognya membiarkan penonton untuk dapat mengobservasi karakter Troy seperti apa, Troy yang memiliki pemikiran keras, out of date dimana dalam pikirannya Troy seperti membangun pagar yang mencegah akan perubahan-perubahan yang terjadi sehingga ia tidak merasakan hal tersebut. 

Namun bukan berarti kuatnya karakterisasi yang ada pada diri Troy membuat karakter sampingannya terlupakan karena masih ada character development kepada Rose, Lyons dan Cory lewat perseteruannya dengan sang ayah. Tak jarang, para artis nya melakukan monolog yang cukup panjang yang tentunya menuntuk kapabilitas kemampuan akting dari aktor yang bersangkutan. Saya juga menyukai lewat konflik Cory dan Troy, Fences mengangkat isu ras yang memang masih cukup kental terjadi pada tahun 1950an. Denzel Washington yang juga terjun dalam memperubah sedikit naskah aslinya tampaknya memang telah begitu mengenal Fences layaknya ia mengenal telapak tangannya sendiri (kabarnya Washington telah ikut terlibat dalam karya teater Fences sebanyak 114 kali). Hal ini juga ikut berpengaruh akan perannya sebagai Troy. Tidak ada lagi tampaknya karakter yang tepat memerankan Troy selain dirinya, karena menurut saya Denzel Washington adalah salah satu aktor yang semakin bersinar kala diberikan dialog-dialog yang panjang. Saya selalu betah melihat dirinya bercerita, atau pun ketika melakukan percakapan dengan karakter lainnya. Kharisma Washington masih sulit tertandingi, sehingga di dalam film ini hanya satu yang mampu menyaingi sinar terang Washington ketika harus satu layar dengannya, tidak lain tidak bukan adalah Viola Davis yang memberikan performa terbaiknya sebagai Rose Lee. Cukup perhatikan bagaimana lihainya Davis memerankan adegan yang menuntut emosi dari sang aktris, dan dengan satu scene nya di akhir, disitu juga Davis membuktikan bahwa ia memang berhak mendapatkan piala Oscar di kategori Supporting Actrees, walau sebenarnya perannya disini jauh lebih layak sebagai pemeran utama. Namun tampaknya pihak Academy menaruh Davis di kategori serupa karena terlalu berat untuk melihat salah satu dari Davis atau Emma Stone pulang tanpa piala di tangannya. Walau keputusan tersebut harus mengorbankan Michelle Williams yang juga sebenarnya bermain cemerlang di Manchester by the Sea.

Walau begitu saya juga merasakan ketika memasuki pertengahan cerita, Fences sedikit kedodoran yang membuat atensi saya tidak terlalu antusias seperti pada awal. Mungkin karena di saat yang sama juga dialog-dialog yang terlontar dari karakternya ikut dikurangi. Interaksi antar karakter pun tidak memenuhi durasi layaknya sebelum memasuki pertengahan dimana bisa mungkin 3 hingga 4 karakter berada di satu layar dan secara dinamis melakukan pertukaran dialog. Flaw ini yang membuat Fences tidak lah terlalu meninggalkan kesan meski di akhir durasi Fences ditutup dengan emosional lewat kesunyiannya. 

8/10

Wednesday, 22 March 2017


"Row, row, row your boat gently down the stream, merrily merrily merrily merrily life is but a dream!"-Howard

Plot

Berkharisma, pembicara yang baik dan cerdas membuat karir seorang Howard Inlet (Will Smith) tampak mulus ketika lembaga yang ia dirikan, Yardsham Inlet, tengah berada di puncak kesuksesan. Namun semua berubah tiga tahun kemudian kala sang buah hatinya meninggal dunia yang berdampak pada hilangnya semangat Howard. Hal ini pun membuat Yardsham Inlet tengah berada di posisi sulit sehingga partner kerja Howard, Whit (Edward Norton) memtuskan untuk menjual saham Howard. Gagasan ini pun juga di setujui kedua rekannya yaitu Claire (Kate Winslet) dan Simon (Michael Pena). Namun, meminta persetujuan Howar yang bahkan diajak bicara pun susah bukanlah hal yang gampang, sehingga Whit pun memiliki ide untuk menggunakan tiga aktor teater yaitu Amy (Keira Knightley), Brigitte (Helen Mirren), dan Rafi (Jacob Latimore) untuk memanipulasi pikiran Howard.




Review

Bukan hal mudah memang membahas sesuatu yang abstrak seperti cinta, waktu dan kematian dan memasukkannya kedalam media yang bernama film, apalagi membahasnya ketiga-tiganya serentak. Oh, tidak ketinggalan juga durasinya yang termasuk singkat yaitu hanya sekitar 97 menit saja. Maka ketika saya mendapati hasil akhir dari Collateral Beauty hasil garapan David Frankel ini tidak memuaskan, bahkan cenderung berantakan, saya tidak terlalu terkejut. Sebuah karya yang ingin terlihat puitis dialog-dialognya seolah quote berjalan, bersentuhan pula dengan sedikit aura spiritualnya, malah jatuhnya membingungkan dan seolah menunjukkan kebingungan penulis naskah mau diapakan sebenarnya pondasi awal yang di atas kertas sebetulnya menarik.

Ya, cerita mengenai manusia yang tengah berada di bawah titik nadir dan akhirnya akan mendapatkan kembali arti hidupnya selalu menjanjikan bagi saya. Memang akhir kisahnya selalu sama, namun yang membuatnya menarik adalah proses bagaimana menuju happy ending tersebut yang bisa saja menginspirasi atau memberikan pelajaran bagi penontonnya. Lebih bagus lagi bila apa yang tampil di layar tidak terkesan menggurui dan pastinya realistis. Satu lagi, kisah mengenai kehilangan seseorang akan selalu relatable bagi penonton sebab manusia mana yang tidak pernah mengalami kehilangan seseorang yang berarti bagi dirinya. Modal awal untuk menjadikan Collateral Beauty sebagai tontonan yang ringan namun emosional telah berada di genggaman David Frankel dan Allan Loeb yang bertugas sebagai penulis naskah. Namun sayang, apa yang telah ada di genggaman (tak) sengaja dijatuhkan mereka akibat hilangnya arah untuk mencoba memperdalam cerita yang ada.

Collateral Beauty membukanya dengan cukup percaya diri. Dengan cukup cepat kita telah dihadapkan oleh konflik utama dan secara perlahan kita telah tahu film ini akan dibawa kemana. Loeb pun seolah mengambil risiko dimana Loeb secara outta nowhere membawa kisah Collateral Beauty masuk ke dalam ranah spiritual dengan cara yang bisa dibilang absurd, namun di sisi lain lumayan kreatif. Berisiko, karena ya keputusan Loeb untuk menggerakkan narasinya dengan cara tersebut sangat absurd bila ditilik dari logika. Dan memang setiap kali rencana itu berjalan di layar, logika kita pun terpaksa bekerja dengan menampilkan beberapa pertanyaan di benak. Namun, saya bisa memaafkan itu karena tak bisa ditampik, hal itu tersebut membuat film ini menarik dan tidak membosankan dengan segala keanehannya, ditambah juga ada usaha dari Loeb untuk tidak membiarkan adegan-adegan yang ada sepenuhnya tidak masuk akal. Sayangnya Loeb sedikit telat sebenarnya saat mengungkapkan jalannya narasi tersebut, karena sebelumnya Collateral Beauty sedikit telah terasa padat dengan sub plot yang ada pada karakter Whit. Dan seolah kurang dengan konflik yang ada, Loeb kembali memasukkan sub plot nya kepada dua karakter utama lainnya, yang membuat semakin padatnya film. Dari sini saya mulai khawatir akan hasil akhir dari Collateral Beauty. 

Bukan masalah sebenarnya keputusan untuk menambah konflik di dalam penceritaan, ditambah memang fokus penceritaan tetap berpusat akan konflik yang dialami karakter Howard dan bagaimana Whit, Claire serta Simon "membantu" Howard keluar dari permasalahannya, namun menjadi sebuah keputusan yang bisa dibilang salah juga bila sub plot yang hadir terasa dijadikan hanya tempelan tanpa ada pendalaman untuk tiap karakter sehingga sub plot yang ada terasa useless. Mustahil untuk bersimpati kepada mereka bila penonton tidak diberi alasan yang cukup kuat. Padahal sebenarnya sub plot Whit, Claire dan Simon tersebut merefleksikan tiga cerita yang ingin dibahas disini, yaitu Love, Time, and Death. Cerita pun mulai terasa berputar-putar seolah hanya demi menambah durasi film tanpa eksplorasi konflik yang memadai.

Dan tiba pada kesalahan fatal yaitu endingnya. Serius, saya sempat mempertanyakan kemampuan intelejensi saya karena saya tidak bisa menangkap apa maksud dari Frankel dan Loeb dengan begitu percaya dirinya menyajikan twist ending seperti ini. Apa mereka ingin Collateral Beauty terasa pintar? Atau memang mereka telah kehabisan ide untuk mengakhiri kisah "seberat" Collateral Beauty? Atau mereka sengaja ingin penontonnya ikut merasakan kebingungan seperti karakter Howard disini? Tidak tahu, dan mungkin juga Frankel dan Loeb tidak memiliki jawabannya. Bila Anda begitu penasaran dengan endingnya, percayalah, it's mindblowing (not in positive way) more than The Village's one. It's stupid. Double twist nya memperparah kualitas dari Collateral Beauty yang sebenarnya juga sebelum bencana tersebut tidak memiliki penceritaan yang bagus.

Jelas setiap film pasti memiliki nilai positifnya. Yah, paling tidak A-list star yang terlibat di film ini telah tahu bagaimana berakting, walau dengan naskah dangkal sekalipun. Will Smith bermain baik sebagai seorang ayah yang kehilangan arah, saya selalu menyukai tiap kali Will Smith mengeluarkan emosinya kala berakting. Tidak pernah gagal.  Karakter pendukung lainnya juga berinteraksi dengan baik seperti yang terbaik hubungan antara Hellen Mirren dan Michael Pena yang setidaknya membuat saya sedikit memperhatikan karakter Simon. Intinya lakon mereka mampu memenuhi ekspektasi yang ada di benak penonton. Bisa bertambah runyam dong kalau dengan artis-artis yang sering masuk nominasi Oscar seperti Will Smith, Kate Winslet, Edward Norton, Hellen Mirren atau juga Naomi Harris pada akhirnya juga mengecewakan seperti naskahnya. Pengambilan gambar dari Maryse Alberti pun sangat menyegarkan mata dan berhasil membangun semangat natalnya dengan kombinasi warna putih salju,dan gemerlap lampu-lampu yang menghiasi pohon cemara 

Saya ingin sekali menyukai Collateral Beauty (because Will Smith in it), tapi double twist di akhir merusak segalanya. Tidak perduli dengan letupan-letupan emosi yang ada di dalamnya, Collateral Beauty bagaikan adegan dimana ratusan domino runtuh di dalam film ini. Dengan pondasi atau modal yang sebenarnya cukup kuat dan menarik, namun sayangnya dengan sentuhan di akhir, film ini menjadi hancur lebur dan mengutip salah satu reviewer di yahoo,  Collateral Beauty left us questioning our inteligence after that double twist.

6/10

Friday, 17 March 2017

"Lo bukan seorang legenda, lo bukan seorang ayah. Tapi orang tua yang cuma beraninya sama anak kecil"- Ishmael

Plot

Pria tanpa nama terbangun dari masa koma nya dalam kurun waktu 2 bulan. Pria tersebut tidak memiliki ingatan alias amnesia. Disebabkan permasalahan tersebut, seorang wanita muda calon dokter yang selama dua bulan merawat dan memperhatikan pria itu bernama Ailin (Chelsea Islan)  memberikan nama Ishmael (Iko Uwais) kepada pria itu, terinspirasi dari bacaan buku Moby Dick nya. Ishmael sendiri ditemukan tak sadar diri di pantai oleh nelayan tua bernama Romli (Yayu Unru) dengan luka di kepalanya. Sebelum tersadar, Ishmael sempat terngiang di ingatannya mengenai masa lalu nya, yang dari jauh mengintai secara diam-diam mengancam ketenangan Ishmael.




Review

Melihat kesuksesan luar biasa dari karya-karya nya Gareth Evans seperti Merantau dan dwilogi The Raid yang mampu mencapai pasar internasional, tidak salah memang banyak sekali para sineas yang ingin mengekor keberhasilan Evans dengan mengikuti treatment yang serupa. Bahkan ada beberapa sinetron yang juga tidak ketinggalan untuk menyelingi ceritanya dengan adegan aksi layaknya film The Raid. Maka bisa dipahami bila sebelum menyaksikan karya terbaru dari Mo Brothers ini telah banyak yang mengecap bahwa Headshot hanya sebuah carbon copy dari The Raid dan hanya dibuat sebagai langkah pengeruk uang semata. Tidak sepenuhnya salah memang karena Headshot diisi dengan bintang-bintang yang turut menghiasi The Raid: Berandal juga ikut ambil peran disini seperti Jullie Estelle, Zack Lee,Very Tri Yulisman dan tidak ketinggalan Iko Uwais yang tetap didapuk sebagai peran utama. Tidak hanya itu, staf-staf di belakang layar pun juga dipercaya untuk berkontribusi dalam hal teknis Headshot. Namun, percayalah bila Headshot tetap berbeda dan masih menunjukkan identitas dari Mo Brothers. Bila memang ada kesamaan, itu hanya kebetulan dikarenakan visi antara Gareth Evans dan Mo Brothers tidaklah jauh berbeda.

Bagi siapa yang telah mengikuti jejak karir Mo Brothers, mereka pasti telah mengetahui bila dua saudara ini memang sinting dalam memerankan unsur kekerasan. Rumah Dara dan Killers bisa menjadi bukti shahih betapa sakit dan jelinya dua sutradara ini mengemas adegan yang berdarah-darah. Tetapi berbeda dalam Killers (pencapaian terbaik Mo Brothers bagi saya) yang menunjukkan kekerasan tersebut sebagai pondasi dalam bercerita, Rumah Dara dan Headshot justru sebaliknya yang menjadikan cerita hanya sebagai pondasi untuk menyajikan hal tersebut sebagai bentuk persembahan kepada para penonton yang menyukai darah yang bercipratan, kulit terkoyak, serta tulang patah di dalam medio film. Dan Mo Brothers seolah tidak pernah kehilangan ide bila membicarakan bagaimana membuat adegan kekerasan yang bermuncratan darah yang kali ini mereka selipkan di dalam pertempuran antar karakter. Mungkin memang kembali akan mengingatkan kita kepada koreografi pertempuran yang ada di The Raid, namun tampaknya Mo Brothers sadar akan hal ini sehingga mereka pun berusaha untuk menyajikannya dengan cara yang berbeda. Seperti misal menyelipi setiap pertempurannya dengan senjata, tidak sepenuhnya tangan kosong, lalu ada juga pertarungannya dihiasi dengan hide and seek, juga tidak jarang pula slow motion hadir di tengah serunya pertarungan seolah mempersilahkan penonton mengambil nafas dengan tenang sejenak. Memang, adegan demi adegan pertarungan yang tersaji di dalam Headshot belum ada yang mampu meninggalkan kesan memorable seperti dalam karya-karyanya Gareth Evans, tetapi paling tidak usaha yang telah dilakukan patut diapresiasi. Apalagi memang dalam hal koreo nya kali ini, Iko Uwais tidak dibantu oleh kehadiran partner in crime nya, Yayan Ruhian. Fights yang ada juga semuanya keren, terutama Rama Vs Rika yang tidak hanya cukup kental akan emosi, juga dilengkapi dengan pemandangan pantai yang memanjakan mata. Julie Estelle pun kembali membuktikan dirinya sebagai aktris yang serba bisa dan tidak hanya jual tampang saja.

Mungkin kelebihan yang ada di Headshot yang tidak dimiliki hasil garapan Gareth Evans adalah mengenai dialog-dialog yang dilontarkan tiap karakter di dalamnya yang memang lebih "Indonesia", tidak seperti dalam dwilogi The Raid yang terasa kaku serta "unik" yang seringkali membuat penonton dari ibu pertiwi sendiri malah bingung apa yang dimaksud.

Usaha Mo Brothers untuk menggali lebih dalam di aspek cerita pun patut diberi acungan jempol, seperti hubungan Ishmael dan para pemburu yang mengincar nyawanya dengan sedikit suntikan flashback-flashback yang membuat karakter Ishmael juga lebih tereksplor serta memberikan sedikit asupan emosi tidak hanya kepada Ishmael juga musuh-musuhnya. Saya pun juga menyukai adegan simbolis yang ada di akhir cerita, meski adegan tersebut memang telah banyak hadir di perfilman, tetapi Mo Brothers mengemasnya dengan baik dan tidak terlihat kacangan. 

Walau begitu, tidak dipungkiri memang Headshot masih meninggalkan begitu banyak lubang yang menganga tanpa penjelasan. Entah memang itu dibiarkan tersimpan untuk membuka peluang Headshot akan digarap sekuelnya, saya tidak tahu. Dalam aspek drama antara Ishmael dan Ailin pun sangatlah tipis, seperti apa yang membuat Ailin begitu perduli kepada Ishmael pun tidak dijelaskan secara detil, tersirat pun tidak. Yang terlihat hanya lah Ailin menganggap Ishmael beda dari pasien lain akibat luka-luka yang dideritanya. Bila memang itu telah cukup untuk membuat dokter muda berparas bidadari seperti Ailin tertarik kepada pasiennya, saya yakin banyak laki-laki sehabis nonton Headshot rela akan melukai tubuhnya sendiri dengan parah supaya mampu bernasib serupa seperti Ishmael. Mengenai Iko nya sendiri saya yakin, banyak yang membuat para lelaki kesepian seperti saya akan rela berlatih bela diri demi mendapatkan posisi Iko seperti sekarang.


*brb belajar bela diri dan bocorin kepala*


Karakter Ishmael ini sebenarnya lebih baik bila dibandingkan peran Iko Uwais sebelumnya yaitu Rama, tetapi memang tidak bisa terbantahkan dalam hal porsi drama, Iko perlu belajar lagi. Terlebih lagi ketika diharuskan bertukar dialog percintaan dengan Chelsea Islan yang cukup cringeworthy dan membuat tidak nyaman sehingga saya gatal untuk mempercepat adegan mereka berdua, terutama adegan dibawah rintik hujan tersebut. Bukannya iri, malah merusak romansa yang ada. Saya juga telah lelah melihat karakter superman Iko Uwais yang sendirian mengalahkan semua lawannya, mengingatkan saya akan Roman Reigns di WWE (Goddamnit, I hate that character so much). Saya angkat topi juga untuk Chelsea Islan yang berani menutupi muka cantiknya dengan muka lebam serta darah. Karakter-karakter antagonisnya yang memang memenuhi narasi untungnya kebanyakan memiliki karakterisasi yang menarik. Favorit saya adalah Tejo yang diperankan dingin oleh David Hendrawan dan Bondhi yang diperankan cemerlang oleh Ganindra Bimo yang sukses menjadi spotlight di tiap kehadirannya.

7,75/10




Tuesday, 14 March 2017

"This fucking life... oh, it's so fucking hard. So long. Life ain't short, it's long. It's long, goddamn it. Goddamn."- Earl Partridge

Plot

San Francisco, Valley. Menceritakan berbagai karakter dengan konfliknya masing-masing. Dari seorang Frank T.J Mackey (Tom Cruise), yang memiliki profesi sebagai ahli hubungan antara pria dan wanita, Claudia (Melora Walters) yang kecanduan akan narkoba dan juga memiliki hubungan yang buruk dengan sang ayah, Jimmy Gator (Philip Baker Hall) yang juga berprofesi sebagai host puluhan tahun dalam acara What do Kids Know? Salah satu peserta yang ikut kuis tersebut adalah bocah jenius, Stanley (Jeremy Blackman), juga mantan pemenang dari acara yang sama, Donnie Smith (William H. Macy) yang memiliki kehidupan tak selancar yang ia bayangkan, lalu ada Earl Partridge (Jason Robards), pria yang sebagai produser dari acara What do Kids Know? yang tengah mengalami masa akhir nya, yang dirawat oleh Phil Parma (Philip Seymour Hoffman). Sang istri, Linda Partridge (Julianne Moore) juga tidak ketinggalan dalam merawat Earl walauh ia harus tertekan dengan konflik batinnya akibat penyesalan masa lalu. Dan terakhir sebagai benang penghubung ada seorang polisi yang taat agama, Jim Kurring (John C. Reilly) yang jatuh hati pada Claudia.



Review

Oh my God. What a magnum opus from Paul Thomas Anderson. Entah apa yang berada dipikiran saya yang memutuskan untuk terus menerus untuk menunda menyaksikan maha karya dari salah satu sutradara terbaik saat ini. Sebuah perjalanan 188 menit yang begitu menyenangkan, penuh akan pembelajaran, renungan serta yang pasti turut pula dilengkapi lautan emosi dilibatkan. Banyak memang yang mengatakan dekade emas perfilman adalah tahun 90an, and I couldn't agree more. Pulp Fiction, Schindler's List, Terminator 2: Judgement Day, The Shawsank Redemption dan masih banyak lagi. Dan setelah menyaksikan karya kedua PTA pada dekade tersebut, saya pun tak ragu menyejajarkan Magnolia di posisi film klasik yang hadir pada dekade 90an.

Membicarakan Magnolia itu bagaikan menceritakan sebuah karya yang abstrak, karena pada dasarnya Magnolia memang begitu adanya. Susah untuk menceritakan plot Magnolia yang saling berkaitan dengan begitu indahnya. Magnolia telah menunjukkan tajinya kala masuk pada sequence pertama yang memperlihatkan kepingan-kepingan footage akan mengenai peristiwa-peristiwa yang semuanya berkaitan, saling mengisi bagaikan yin dan yang, dimana pada intinya maksud dari PTA untuk menghadirkan sequence tersebut adalah memberikan clue kepada para penonton mengenai apa inti dari Magnolia. Tidak hanya itu, saya juga menangkap bila sequence awal itu adalah sebuah pelatihan dari PTA untuk kita sebagai penikmat dalam mengikuti pergerakan narasi yang ada di dalam Magnolia. Karena percayalah, pada pertengahan film begitu Magnolia mulai masuk akan bagian konfliknya, Magnolia bergerak layaknya rollercoaster yang melaju kencang tanpa bisa terhenti hingga mampu membuatmu menahan nafas. Tidak hanya satu, tetapi dua sesi yang melibatkan pula musik menghentak memacu adrenalin tetapi merdu dari Jon Brion. Editing yang dilakukan Dylan Tichenor pun turut membantu menambah mencekamnya adegan tersebut dengan cut nya yang begitu rapih yang memperlihatkan dari karakter A berpindah ke karakter lainnya dan begitu seterusnya dengan begitu mulus. Bila diibaratkan ke dalam olahraga, apa yang terjadi sama saja dengan rally panjang yang terjadi dalam Volley atau pun Badminton. Jangan harap mampu bernafas dengan mudah, sekali lagi, percayalah. What a sequence

Magnolia pun dipadati dengan karakter utama yang begitu banyak diiringi pula akan konfliknya masing-masing, yang membuatnya kembali mungkin bagi sebagian penonton akan kewalahan mengikutinya. Saya pun turut merasakan hal itu pada 20 menit awal ketika PTA memperkenalkan mereka baik dari karakterisasi maupun pondasi dari tiap konflik. Saya sarankan cukup sabar kan hati Anda karena hal itu memiliki maksud tersendiri, sebab di tiap-tiap menitnya PTA pun dengan sabar serta ketelitian untuk mengeksplorasi setiap konflik yang ada dan jujur walau diceritakan sekaligus tanpa terpisah dengan chapter demi chapter layaknya karya Tarantino, tidak semenit pun saya merasa plot nya saling timpa tindih yang membuat saya kebingungan. Disinilah letak kejeniusan PTA dalam meracik naskah nya hingga membuat saya bergumam bagaimana PTA bisa menghasilkan hasil cerita yang begitu mengagumkan seperti ini. Tidak berlebihan tampaknya bila saya membandingkan hasil kerja PTA ini sama dengan apa yang telah dilakukan Francis Ford Coppola di dwilogi The Godfathernya. Lalu, apa sebenarnya inti cerita dari Magnolia dalam setiap konflik yang ada?

Jelas yang pertama paling tampak adalah Penyesalan. Bagaimana mayoritas karakter yang memeran sebagai orang tua di sini memiliki konflik yang sama. Dalam suatu adegan monolog yang dibawakan sangat fantastis oleh Jason Robards pun kalimat "The Goddamn Regret" diulang hingga beberapa kali. Kemudian memaafkan, baik memaafkan kepada orang lain atau pun diri sendiri. Hal ini juga saya tangkap akan monolog yang dibawakan oleh karakternya John C. Reilly memasuki menit-menit akhir yang pada intinya bila memaafkan adalah hal tersulit bagi seseorang. Maka, ketika terjadi momen "itu", terjadi pula di sekililingnya berbagai keajaiban yang mampu mengubah hati maupun keadaan seseorang. Saya tidak tahu apa maksud sebenarnya dari PTA dalam menyajikan momen yang bisa dikatakan cukup supernatural tersebut dalam film nya ini, tetapi yang saya tangkap memang PTA ingin menyampaikan hal yang mustahil bisa saja terjadi, begitu pula dengan berbagai turning point yang terjadi kala beriringan peristiwa itu muncul.

Satu lagi yang membuat Magnolia adalah sebuah masterpiece jelas adalah ensemble cast nya yang mungkin adalah salah satu ensemble cast terbaik yang terjadi dalam sejarah perfilman. Sekali lagi, mungkin sedikit berlebihan, tapi tampaknya para karakter utama yang terlibat di Magnolia layak untuk diganjar paling tidak nominasi Oscar di kategori akting. Serius, semuanya mampu menampilkan kadar emosi yang sesuai dengan perannya. Ditambah pula PTA kerap kali melakukan teknik zoom in secara perlahan memperlihatkan mimik ekspresi para artis nya, serta juga tidak ketinggalan PTA mengambil long take yang tentu menuntuk akan kepiawaian akting dari jajaran artis yang terlibat. Tapi kalau harus dibuat pilihan mana yang terbaik dari yang terbaik, pilihan saya jatuh pada Jason Robards, Tom Cruise dan Julianne Moore. Jason Robards tampil begitu meyakinkan dalam memerankan pria yang telah berusia renta yang tinggal menantikan ajalnya. Ia tampak begitu menderita sehingga berbicara pun dirinya kesulitan, tetapi kala ada adegan melakukan dialog panjang, he freakin' nailed it. Julianne Moore tentu tidak perlu diragukan lagi kapasitas aktingnya di dalam genre drama. Cara meluapkan emosinya di setiap adegan entah bagaimana bisa begitu pas tanpa terasa berlebihan. Tapi memang yang paling mencuri spotlight adalah Tom Cruise yang mampu membungkam para kritik yang menyatakan dirinya tidak mampu berakting yang melibatkan emosi. Sebagai Frank yang tampak begitu percaya diri nan flamboyan, ia tanpa kesulitan, dan ketika harus beradegan emosional, dia melakukannya dengan brilian. Salah satu momen heartbreaking yang terjadi dalam film ini pun berkat akan improvisasi nya yang juga turut berpengaruh akan genuiene nya reaksi dari Phillip Seymour Hoffman. Mengenai Hoffman, sebenarnya saya ingin memilihnya sebagai yang terbaik, tetapi dengan karakter yang tidak pernah menjadi pusat cerita, susah bagi saya untuk melakukannya, walau memang akting beliau tidak pernah mengecewakan, sejauh yang saya tonton. 

Magnolia itu film yang berat, dengan karakter penting yang begitu banyak serta konflik yang mengiringi. Ditambah pula dengan durasinya yang menyentuh 3 jam (walau bagi saya malah masih kurang itu #sok). Tetapi bagi saya ini adalah masterpiece nya dari PTA, dan bagaimana kenyataannya PTA tidak menerima piala Oscar pada kategori penulisan pun saya juga tidak mengerti. 

9/10

Saturday, 11 March 2017


"I feel so tempted. I feel so tempted to despair- Father SebastiĆ£o Rodrigues

Plot

Dua pastor asal Portugal, SebastiĆ£o Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) melakukan perjalanan ke Jepang untuk menemukan sang mentor mereka, Ferreira (Liam Neeson) yang dikabarkan telah murtad dari agama Kristen. Negara Jepang sendiri pada masa itu tengah menjalankan program pelarangan akan menyebarnya agama Kristen sehingga bagi siapa saja yang tertangkap basah memiliki keyakinan akan agama tersebut, mereka akan dipaksa untuk segera murtad dengan berbagai siksaan akan terus menghampiri bila tidak segera mengikuti keinginan pemerintahan Jepang.






Review

Siapa yang berani menyangkal akan kehebatan seorang Martin Scorsese dalam penyutradaraan? Telah beberapa karya fantastis yang telah ia telurkan, sebut saja seperti Raging Bull, The Departed, The Wolf of Wall Street dan tentu saja salah satu film favorit saya yaitu Goodfellas. Beliau sangat paham bagaimana meracik sebuah karya yang tidak mudah terlupakan hingga jatuhnya dikenang sebagai karya yang masterpiece tanpa lekang oleh waktu. Dan tampaknya, karya terbarunya ini akan kembali meneruskan winning streak seorang kakek yang pada tahun ini akan menginjak usia 75 tahun. Tampaknya, dalam usia senja ini seorang Scorsese merasa perlu untuk kembali membuat film mengenai kristiani setelah terakhir ia melakukan hal yang sama hampir 2 dekade yang lalu, yaitu The Last Temptation of Christ. Walau Silence memang memusatkan penceritaan pada agama Kristiani, tapi saya berpendapat apapun agama yang Anda anut, film ini tetaplah layak untuk dikonsumsi.

Mari saya ucapkan dahulu sebelum lebih jauh bahwa film Silence sangatlah berat untuk diikuti. Bukan hanya karena Silence berjalan begitu lambat dan juga sangat sunyi (seperti judulnya), konten yang ada pada Silence juga bisa dikatakan disturbing. Tidak, saya tidak membicarakan mengenai grafis kekerasannya. Walau memang ada adegan kekerasan seperti kepala yang terpenggal, tapi itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan teror psikologis yang menghiasi dalam jalinan menit-menit dalam petualangan spiritual ini. Naskah yang Scorsese kerjakan bersama Jay Cocks mengajak kita ikut terlibat dalam perjalanan ini dengan direpresentasikan oleh pastor Rodrigues. Penonton seolah menjadi saksi bisu akan betapa menderitanya rakyat Jepang umat Kristiani yang harus hidup dalam naungan teror dari pemerintahan Jepang. Juga, tidak ketinggalan menyaksikan kuatnya iman mereka di tengah situasi yang tidak mendukung tersebut. Selain itu, pada setengah jam awal, dikarenakan oleh situasi yang serba tak tentu, Silence kental akan unsur misteriusnya, apakah mereka dapat dipercaya? siapa yang patut dipercaya? Berbagai pertanyaan otomatis akan timbul sembari memperlebar jangkauan penceritaan.

Jangkauan penceritaan yang saya maksud kembali adalah unsur teror psikologis yang ada, karena apa yang dilakukan Scorsese sebelumnya, ia tambah menjadi dua kali lipat dosis dengan menjadikan konflik yang dialami Rodrigues lebih personal. Nah disini lah penceritaan Silence sangat disturbing setidaknya bagi saya. Sangat lah berat bila diri ini layaknya berada di posisi Rodrigues, yang tidak hanya diserang akan ketidak pastian keimanan atau suara Tuhan, ia juga dikondisikan akan berbagai pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya sebagai manusia. Rasa keterikatan yang telah terjalin antara penonton dengan Rodrigues yang seolah tanpa sekat tentu ingin melihat Rodrigues lepas dari segala penderitaan, namun lama kelamaan harap tersebut musnah. Saya tidak ingin menceritakan lebih lanjut karena berpotensi akan spoiler yang besar, cukup tonton saja film ini. Serius.

Seperti judul yang diangkat, film ini bergerak begitu sunyi dimana Silence hampir absen bila berbicara mengenai scoring. Dengan keheningan itu pula tampaknya Scorsese ingin penontonnya merasakan betapa kompleksnya perihal yang terjadi di layar. Kompleks yang saya maksud tentunya berkaitan dengan beberapa pertanyaan yang akan ada di relung penonton. Salahkah bila menyerah? Bila tidak menyerah, apa yang akan didapat? Dimana keberadaan Tuhan? Apakah saya mampu tetap mempertahankan iman saya bila berada di posisi yang sama? Kondisi yang layak dibandingkan seperti apa yang dialami Rodrigues. Sempat lemah, namun di waktu selanjutnya, dirinya kembali tegar, sebelum adanya terjadi konflik kembali yang membuat keimanannya kembali lemah. Ya, seperti itulah rasanya menonton Silence. Disaat terjadi konflik batin muncul di hati penonton tersebut, disitu pula lah tujuan utama Scorsese menghadirkan maha karya nya ini berhasil terlaksana. 

Pada karakterisasi para karakter utama Scorsese tidak pernah mengecewakan. Seperti dua pastor yang menjadi narasi penggerak yaitu Rodrigues dan Garupe. Mereka berdua memang pastur, namun tidak sekalipun Scorsese membiarkan dua karakter ini tetap putih layaknya malaikat walau memang mereka berprofesi sebagai pastur. Mereka tetaplah manusia yang memiliki logika yang kerap kali berbenturan dengan iman yang menciptakan keraguan. Sering kali mereka merasa lemah, tergoda untuk menyerah sebelum akhirnya rasa rapuh tersebut memberikan kekuatan kepada mereka untuk kembali melanjutkan. misi mereka. Karakter Kichijiro pun layak diperbincangkan berkenaan dirinya yang tampak begitu lemah, namun disatu sisi terdapat keinginan untuk membela keyakinannya.

Membicarakan teknis, tentu aspek sinematografis paling menonjol. Rodrigo Prieto selalu berhasil dalam menangkap gambar yang tidak hanya indah, namun juga lengkap diselingi nuansa puitis yang berkorelasi dengan penceritaan. Kabut-kabut yang tidak jarang menghiasi layar nan diwarnai abu-abu seperti menggambarkan hati manusia itu sendiri karena manusia tidak ada sama sekali yang memiliki hati yang putih layaknya malaikat. Semua aktor yang terlibat disini bermain cemerlang, termasuk karakter numpang lewat namun terkenang seperti Yoshi Oida sebagai Ichizo dan tentu karakter Michiko yang diperankan menawan oleh Shin'ya Tsukamoto. Andrew Garfield kembali bermain brilian sebagai pastor yang rapuh, tertekan, namun masih berselimutkan ketegaran yang berapi-api terpancar dari sorot matanya. Sebuah prestasi tersendiri untuk Garfield yang telah berkolaborasi bersama David Fincher serta Martin Scorsese. Liam Neeson pun tidak mau kalah sebagai aktor yang memegang peranan penting pada masa paruh akhir cerita yang selalu berhasil mencuri perhatian. 

Apakah ini merupakan film terbaik Scorsese sepanjang karirnya? Saya tidak berani berpendapat sejauh itu, walau menurut pendapat produser yang kerap bekerja sama dengan Scorsese, Irwin Winkler, memiliki pendapat demikian. Tapi tidak terpungkiri bila Silence merupakan perjalanan spiritual yang kompleks, mampu mempengaruhi dan juga menciptakan konflik batin yang ada. Dengan kesunyiannya, Silence mengajak mempertanyakan keyakinan kita. Dengan segala konflik yang disajikan begitu sunyinya juga, Silence pula mengajak untuk berdoa semoga apa yang terjadi di layar takkan terjadi di masa yang akan datang. Dengan kesunyiannya pula, Scorsese menutup Silence dengan sebuah kedamaian dari perjalanan panjang yang penuh akan derita. A masterpiece (again) from Scorsese.

                                            8,75/10
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!