Minggu, 22 Januari 2017



Mengutip pernyataan dari kritikus terkenal, Roger Ebert, yang dimana beliau bilang “Every great film should seem new every time you see it,” saya pun juga memiliki beberapa film yang setiap kali saya menontonnya, saya tidak pernah dilanda akan kebosanan. Saya pun tergerak untuk membuat list ini. Dan juga, saya membuat list ini sebagai “pelarian” akan kekecewaan saya yang gagal menonton Arrival di bioskop. Hal yang kelak akan saya sesali seumur hidup. Patut diingat, list film dibawah ini murni berdasarkan subjektifitas saya, jadi mungkin kalian akan menemukan film yang mungkin menerima kritik yang buruk atau bahkan sampah. Ini bukanlah list film terbaik, tetapi list ini adalah film yang mau ditonton berapa kali pun, tidak akan menawarkan suatu kebosanan untuk saya. Ibarat buah, film-film ini bagaikan buah semangka bagi saya (yes, i love watermelon so much). Tidak perlu basa-basi lagi, inilah daftar film-film favorit saya. Catatan, saya merupakan salah satu penggemar Christopher Nolan, maka bila dalam list ini, film beliau paling sering muncul, mohon di harap maklum.
 
20. The Wrestler

Mungkin saya adalah kaum minoritas dimana saya masih memiliki minat tersendiri akan dunia wrestling. Saya masih mengikuti WWE, ROH atau Lucha Underground dan mungkin suatu saat saya akan memulai untuk mereview pay per view yang diadakan oleh WWE. Ketika masih kecil, saya menganggap apa yang terjadi dalam dunia gulat merupakan suatu cerita yang asli, sebelum saya menonton film ini pada tahun 2010an. Mata saya terbuka akan bagaimana para pegulat ini berkorban segitu banyaknya demi “menipu” supaya mampu menghibur penonton, yang membuat saya bukannya malah merasa tertipu, namun meningkatkan rasa respect saya terhadap para pegulat ini. Dengan penceritaan berfokus pada karakter Randy “Ram” Robinson yang diperankan luar biasa oleh Mickey Rourke, film ini sangat cocok bagi orang yang selalu meremehkan akan dunia wrestling.
19. The Hurt Locker

Saya bukanlah pecinta film arthouse, maka saya sendiri terkejut ketika saya begitu mencintai film garapan Kaithryn Bigelow ini dimana bagi saya, untuk film yang bertemakan perang, The Hurt Locker sangatlah minim akan adegan perang seperti kebanyakan film bertema yang sama. Pendekatan yang berbeda di ambil Bigelow dengan lebih memilih untuk mengobservasi kehidupan para tentara saat perang, dimana pekerjaan “mulia” mereka tersebut turut mengganggu keadaan mental serta pola pikir mereka. Bisa dilihat bagaimana William yang diperankan cemerlang oleh Jeremy Renner yang merasakan dunia perang merupakan “rumah” baginya. Well, the war is drugs for him.
18. Titanic

Mungkin kebanyakan pria akan merasa malu bila mereka mengaku menyukai film yang begitu terkenal akan percintaan yang begitu melodrama ini. Saya kurang sependapat. Untuk siapapun yang telah menonton Titanic, mereka pasti sependapat bila Titanic itu memiliki suatu magis tersendiri yang membuat penonton nya merasa ingin kembali dan kembali menonton ulang film nya James Cameron ini. Lagi pula, kisah percintaan si kaya dan si miskin akan terus diminati oleh pecinta drama asmara bukan? Dan ya, saya selalu merasa merinding kala intro My Heart Will Go On mengudara di pertengahan narasi berjalan.
17. Warrior



Siapa yang menyangka bila drama seorang ayah yang telah tua renta bersama dua anaknya yang menggeluti dunia gulat begitu powerfull hingga mampu membuat para penonton ikut merasakan betapa peliknya problem yang ada? Mungkin baru Warrior lah yang mampu memaksa saya untuk mengeluarkan air mata kala adegan gulat dua saudara ini di akhir film. Oh, lupa juga dimana sebelumnya saya juga turut menangis haru kala melihat ekspresi Nick Nolte di kasino. Dan tidak lupa juga bagaimana Tom Hardy begitu keren dimata saya sebagai Tommy Riordan.
16. The Big Lebowski

Reaksi awal saya kala mengakhiri “petualangan” saya bersama The Dude di The Big Lebowski adalah “What the fuck did i just watch!!?” Serius, saya sama sekali tidak mengerti apa maksud sebenarnya Coen Brothers membuat film ini? Selama menonton The Big Lebowski pertama kali, saya sama sekali tidak merasakan kelucuan yang ada, muka yang saya pasang selama durasi itu face palm (silahkan buka google images bila tidak mengerti). Namun, tampaknya saat menonton pertama kali, virus The Dudenism telah menyebar di seluruh pembuluh darah sehingga saya ingin menonton ulang sekali lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan setiap menonton ulang, rasa bosan sama sekali tidak menghinggapi dan mungkin bila menonton sekarang, pada detik ini juga, saya masih bisa tertawa lepas saat melihat kesialan demi kesialan yang dialami The Dude akibat kesotoyan Walter. Classic cult movie.
15. Whiplash

Dalam dunia musik, saya terbuka akan berbagai genre yang ada. Dalam tiap genre pun saya memiliki idola masing-masing. Genre Rock, saya memiliki Queen dan Radiohead, di dunia Metal saya mengagumi dan mencintai karya demi karya dari Dream Theater, dan begitu seterusnya. Namun, maaf untuk pecinta Jazz, saya belum memiliki penggemar di genre Jazz. Sampai ketika saya menonton kisah penggebuk drum di Whiplash yang tersiksa akibat kerasnya pelatihan yang diberikan oleh sang mentor.  Walau kalian belum merasakan akan kerasnya dunia musik atau pun belum, tidak ada yang bisa memungkiri bila Whiplash merupakan karya debut cemerlang dari Damien Chazelle. Siapa yang bisa melupakan performa hebat dari J.K Simmons yang mampu membuat penonton muak akan kehadirannya, namun kala ia menghilang dari layar, penonton juga merasakan kerinduan pada setiap makiannya.
14. Bad Boys 2

Bad Boys 2 gave me so much fun!!! Selain memperkenalkan saya pada Will Smith (one of my favorite actors ever), Bad Boys 2 juga masih mampu menawarkan setiap adegan-adegan komedi gila berkat perpaduan sempurna antara Will Smith dan Martin Lawrence yang selalu berhasil meledakkan tawa saya. Adegan di ruang mayat, car chase yang melibatkan kapal boat besar, tembakan yang mengenai kulit pantat, komentar Marcus kala melihat dua tikus sedang bersenggama di saat mereka sedang mengintai, wow, saya masih bisa mengingatnya!! We ride together, we die together. Bad boys for life..! Hell, yeah!!
13. The Social Network

Bukan hanya kritikus yang begitu mencintai film ini, but i’m too!!!!! Berkat film ini, saya memiliki idola pada penulis naskah, yap, Aaron Sorkin. Semua yang mencintai The Social Network tidak akan ada yang bisa memungkiri bila pengaruh penulisan Sorkin lumayan dominan sehingga membuat dialog demi dialog yang diucapkan karakter dalam film begitu dinamis nan cerdas. 
12. Se7en

Dari sinopsis nya saja Se7en telah memiliki modal awal untuk menjadi film yang memorable. Tinggal bagaimana seorang sutradara menggarapnya untuk mencapai tujuan ke sana. Dan untungnya, kisah dua detektif berbeda karakter dalam pencarian pelaku pembunuhan berantai berdasarkan 7 dosa besar manusia ini jatuh di tangan David Fincher dimana David Fincher berhasil memberikan atmosfir mencekam di tiap menitnya seolah sang pelaku selalu mengintai di layar walau keberadaannya tak tertangkap mata. Serta, berkat keberhasilan film Se7en juga lah yang membuat Fincher kembali pede untuk menekuni profesinya sebagai sutradara setelah hasil akhir dari Aliens 3 tidak memuaskan. And yeah, “what’s in the box” scene is always stuck in my mind.
11. Goodfellas

Goodfellas itu bagaikan versi “fun” nya dari The Godfather. “Fun” yang saya maksud disini bukan berarti Goodfellas itu dipenuhi akan lelucon. Tetapi, saya merasakan “fun” itu berkat penyutradaraan berkelas dari Martin Scorscese dalam memperlihatkan kehidupan mafia yang sebenarnya penuh dengan intrik serta kejahatan, tapi di sisi lain juga ada kekeluargaan yang begitu hangat dan kuat dalam dunia kejahatan itu. Walau memang rasa keluarga yang telah tercipta akan hancur akibat satu kata. Traitor.
 
10. Casino Royale



The Bourne Identity itu pelopor dalam hal film spy atau agen rahasia. Pengaruh Bourne itu juga langsung berdampak franchise agen rahasia Inggris ini. Tidak ada lagi Bond yang rapi atau pun flamboyan, kini jamannya Bond yang brutal serta badass tanpa ampun demi mencapai tujuannya. Walau sempat mendapatkan kontroversi akan penunjukan dirinya sebagai James Bond, Daniel Craig membuktikan bila karakter Bond yang baru ini benar-benar cocok dengannya. Bahkan menurut saya, Daniel Craig adalah James Bond terbaik. Dan pada era Craig, favorit saya adalah Casino Royale. Begitu banyak adegan yang memorable di Casino Royale. Dari opening scene nya yang menunjukkan dua kepiawaian Bond baik kala bertarung atau pun mengintimidasi korbannya, berlanjut ke adegan kejar-kejaran ala parkour yang mampu membuat saya menahan nafas sambil kagum, pertarungan kartu di atas meja poker yang bertensi tinggi dan siapa juga yang melupakan betapa lembutnya Bond menenangkan Vesper di shower. Oh, mengenai Bond Girlnya, saya menyukai treatment dari Martin Campbell kepada Vesper Lynd yang diperankan brilian oleh Eva Green. Tidak heran bila James Bond mampu bertekuk lutut akan wanita ini.
09. Oldboy

“Sakit nian film ini vi!”, well, setidaknya begitulah komentar yang dilontarkan teman saya saat saya mengajak dia menonton film terbaik dari Korea Selatan ini. Film yang kabarnya mampu membuat Quentin Tarantino standing ovation ini memang mengambil tema yang begitu sensitif dan juga kekerasan tingkat tinggi di dalamnya. Namun, Park Chan-Wook membungkusnya sedemikian rupa bukan tanpa esensi. Chan-Wook ingin memperlihatkan bagaimana mengerikannya bila manusia telah diliputi akan rasa dendam. Tidak ketinggalan juga dengan twist nya yang sanggup mengganggu jiwa penontonnya. Percayalah, walau Oldboy diisi dengan beberapa adegan kekerasan yang mampu membuat ngilu, tetap saja ada sihir yang membuat penonton ingin menontonnya lebih dari sekali.
08. Memento

Mungkin kalian akan menganggap saya sok pintar ketika melihat film ini ada di dalam list film favorit saya, tapi mau bagaimana lagi? Rangkaian misteri yang ditawarkan Nolan brothers di Memento begitu membuat ketagihan, apalagi dengan format non linier nya serta hitam-putih dan warna di dalam filmnya yang membuat penonton pun merasakan bagaimana menderitanya mengidap penyakit yang sama seperti Leonard. Memento memang menceritakan dendam, namun Nolan membuka layer yang baru ketika twist nya terungkap di akhir.
07. Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll

Bila ditonton sekarang mungkin film karya Upi ini tidak lah terlalu spektakuler. Namun untungnya saya menonton ini pada saat masih SMP, yang tentu membuat keterikatan tersendiri dengan kisah kenakalan remajanya atau juga pencarian jati diri. Kenakalan yang dilakukan Vino dan Junot disini tampak begitu keren dimata saya dan sedikit membangkitkan keinginan untuk rebel tersendiri di dalam darah saya.
06. The Godfather Part I & II

I know i’m cheated, but i can’t help myself choose between them. Andai seri ketiga nya tidak terlalu jauh menurun kualitasnya, mungkin tidak akan ada yang menyangkal bila Trilogi The Godfather adalah trilogi terbaik. The Godfather Part I & II merupakan contoh sempurna bagaimana walau dengan durasi yang panjang (Part II bahkan durasinya menyentuh 3 jam lebih), dengan penceritaan yang kuat dan juga karakter yang sama sekali tidak ada yang flat atau terasa annoying keberadaannya, penonton akan tetap setia mengikuti kisah keluarga Corleone ini. 
5. Pulp Fiction



Pengalaman menonton pertama kali film ini tidak jauh berbeda dengan pengalaman saya saat menonton The Big Lebowski. Dipenuhi dengan ocehan-ocehan para karakter nya, tentu saya tidak langsung menyukai Pulp Fiction. Tetapi ada rasa kangen yang terus menerus untuk kembali menyantap masterpiece dari Quentin Tarantino ini. Dan semakin saya sering menonton Pulp Fiction, saya akhirnya menyadari mengapa Pulp Fiction selalu dianggap sebagai salah satu film yang paling berpengaruh yang disebabkan keberanian Tarantino melawan segala hal mainstream yang dilakukan Hollywodd.
4. Inception

Ada dua jenis penonton Inception yang rela menonton karya ambisius dari Nolan ini hingga beberapa kali. Pertama, penonton yang ingin mencari jawaban dan kedua adalah penonton yang memang mencintai Inception. Saya termasuk tipe yang kedua. Saya masih ingat betapa kagumnya saya bagaimana Nolan menggarap sebuah action secquence yang sebenarnya biasa saja namun dengan racikan yang berbeda, mampu terlihat begitu berkelas. Nolan juga tahu bagaimana menciptakan karakter-karakter yang keren tanpa perlu backstory. Beruntunglah mereka yang menikmati mahakarya Nolan ini di dalam bioskop. Terbayang bagaimana riuhnya kekesalan penonton saat blank screen muncul di layar pada momen akhir itu, yang memunculkan perdebatan panjang tanpa berkesudahan.
 
3. The Terminator 2: Judgement Day

Percaya tidak percaya, film ini lah yang memperkenalkan saya akan film-film Hollywood, karena ini adalah film hollywood pertama yang saya cicipi. Masih terbayang bagaimana saya diliputi akan kengerian serta kekesalan akan betapa hebatnya T-1000 itu. Juga masih terekam jelas bagaimana saya menahan nafas melihat car chase yang digarap begitu keren oleh James Cameron. Dan masih teringat juga saya dimarahi ayah saya karena ingin menonton film ini diam-diam pada malam hari (masih jamannya VCD). Thumbs up di akhir film itu juga terlihat sangat keren dan begitu fenomenal di sekolah saya pada saat itu. Entah sampai kapanpun, film ini akan selalu memiliki tempat di hati saya. 
2. The Pursuit of Happyness

Tidak perduli akan keakuratan film ini dengan kisah asli nya Chris Gardner, The Pursuit of Happyness tetaplah film motivasi terbaik bagi saya. Ketika saya mengalami kegagalan, The Pursuit of Happyness merupakan obat penawarnya. Ekspresi Will Smith kala mendekap anaknya yang sedang tidur sembari menahan pintu toilet dengan kakinya supaya tidak terbuka itu selalu sukses membuat saya berlinang air mata.
1. The Dark Knight



Tidak hanya influental bagi perfilman, terutama superhero, The Dark Knight juga sangat berpengaruh bagi saya. Mengulas segala hal positif dalam The Dark Knight itu sama halnya ketika menjelaskan betapa luar biasa nya Lionel Messi di lapangan, tidak akan ada habisnya. The Dark Knight mengajak saya untuk mempelajari sebuah film yang berkualitas itu seperti apa, bahkan juga berkat The Dark Knight pula yang menciptakan minat saya akan film. Mau tahu telah berapa kali saya menonton film ini? 20 kali lebih!! Tanpa merasakan kebosanan sedetik pun. Selain Inception, The Dark Knight adalah penyesalan terbesar saya karena tidak menonton film ini di layar lebar bioskop. Karya yang begitu luar biasanya sampai kebanyakan sutradara-sutradara terkenal ingin mencontek akan bagaimana hebatnya Nolan menyuntikkan atmosfir realisnya dalam film. Dan The Joker-nya Heath Ledger akan tetap dikenang sebagai salah satu, jika bukan, karakter antagonist terbaik yang pernah ada di dalam dunia perfilman.


Senin, 16 Januari 2017




"Black Phillip, I conjure thee to speak to me. Speak as thou dost speak to Jonas and Mercy. Dost thou understand my English tongue? Answer me.- Thomasin

Plot

Mengambil setting pada tahun 1630 di New England, Michael (Ralph Ineson) beserta istri, Katherine (Kate Dickie) harus menerima kenyataan bila keluarga nya harus diusir dari wilayah perkebunan akibat keteguhannya akan ilmu agama yang ia pegang. Mereka harus hidup di pondok kecil yang dikelilingi akan hutan yang lebat. Keputusan tersebut harus dibayar mahal karena tidak lama setelah mereka menempati tempat tinggal baru itu, kejadian aneh nan memilukan dimana sang bungsu, Samuel, hilang kala bermain dengan Thomasin (Anya Taylor-Joy). Peristiwa demi peristiwa tragis yang menerpa keluarga tersebut mulai memberikan dampak akan psikis serta keyakinan mereka yang selalu diyakini.








Review

The VVith (well, the title of this movie is written like that for real and i dunno what that means), berdasarkan penjelasan di awal film, adalah dongeng yang berasal dari New England, dan setelah menonton film ini, percayalah, kisah dongeng ini tidak akan pernah Anda biarkan diceritakan oleh siapapun kepada anak Anda. Bisa jadi, The VVith merupakan The Excorcist-nya film horor pada dekade ini.
Dari setting tahun serta tempatnya saja sebenarnya telah sangat membantu nuansa horor yang mencekam. Rumah pondok yang dikelilingi akan hutan belantara serta masih kuatnya akan rasa percaya penduduk setempat pada legenda penyihir dalam hutan, semuanya membantu membangun atmosfir horor yang sangat kuat. Belum lagi scoring memekakkan telinga yang digarap Mark Korven yang selalu berhasil memberikan teror kepada saya, terutama kala scoring tersebut menghentak di menit-menit akhir yang berhasil membuat saya kaget. Yang menjadi masalah kecil, mungkin bila ditonton pada periode sekarang, penjelasan-penjelasan yang dilontarkan oleh tiap karakter yang terlibat mungkin terdengar absurd serta menggelitik logika. Saya saja sempat ingin tertawa mendengar Thomasin melontarkan penjelasan yang tidak masuk akal kepada ayahnya pada salah satu momen menegangkan di pertengahan film. Maka hal yang cukup penting untuk penonton supaya bisa menempatkan persepsi penonton pada setting yang dipakai.
The VVitch tidak perlu menunggu waktu lama dalam menunjukkan taring horornya. Belum beranjak sepuluh menit saja, penonton telah disajikan akan momen yang memberikan petunjuk bila The VVitch tidak setengah-setengah dalam menebarkan terornya. Ya, siapa saja bisa menjadi korban kesadisan si penyihir. Setelah momen itu, barulah pergerakan naskah yang ditulis juga oleh sang sutradara, Robert Eggers, mengajak kita untuk ‘berkenalan’ dengan keluarga yang mengalami kesialan ini. Bagaimana ayah mereka yang begitu taat, juga sosok ibu yang rapuh ketika peristiwa pertama terjadi, juga karakter sentral kita yaitu Thomasin yang begitu dewasa serta penyabar. Walau tempo nya cukup lambat, tetapi saya sama sekali tidak merasakan kebosanan karena Robert Eggers tidak lupa untuk memberikan letupan-letupan konflik kecil pada perkenalan itu. Tentu juga rasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga tersebut yang membuat penonton untuk bersabar untuk menemukan jawabannya. Dan dari menit ke menit pula lah, transformasi akan degradasi kepercayaan tiap karakter mulai nampak dan hal itu terjadi begitu meyakinkan tanpa adanya paksaan. Saya juga menyukai setiap konflik yang terjadi memiliki sebab-akibat yang jelas, walau memang kehadiran kelinci hitam di awal-awal film masih menjadi misteri buat saya. Bahkan salah satu momen paling menegangkan akan film ini disebabkan oleh suatu candaan yang bahkan menurut saya pada awalnya tidak akan menjadi penunjang plot. Bukti bila Robert Eggers begitu jeli dalam merangkai ceritanya.
The VVitch itu menyeramkan, itu sudah pasti, namun hebatnya setelah menyaksikan "kesialan" yang menimpa keluarga Michael selama 93 menit, penonton juga merasakan rasa terganggu akan psikis pula. Hal itu tidak terlepas dari atensi penonton yang telah terebut dimana penonton telah merasakan simpati kepada keluarga yang sebenarnya tidak layak menerima segala teror yang ada. Bukan tidak mungkin apabila ada penonton yang terganggu keyakinannya setelah menyaksikan pagelaran horor ini.
Saya belum pernah mendengar nama Anya Taylor-Joy, namun melihat apa yang ia tampilkan di film ini, tampaknya karir Anya sangat cemerlang ke depannya. Seperti yang saya bilang di awal, Thomasin adalah gadis yang begitu dewasa nan penyabar. Namun, akibat semua masalah yang seolah disebabkan oleh kehadirannya, tentu Thomasin merasakan tekanan yang berat dan Anya mampu memberikan performa yang gemilang dalam menampilkan itu semua. Ekspresi muka nya di menit-menit akhir pun membuat saya tidak bisa untuk tidak memberikan tepuk tangan untuk aktris muda ini.
Didukung dengan production design yang meyakinkan, scoring yang menghantui juga begitu telitinya sang sutradara dalam menjahit setiap narasi, The VVitch berhasil menjadi film horor yang mungkin paling mencekam pada tahun 2016. Lupakan segala hal yang mungkin menurut kita menggelikan akan penjelasan yang ada pada film ini serta sinopsis yang terasa familiar, The VVitch bukanlah pilihan yang tepat untuk menonton pada malam hari.

8/10


Selasa, 10 Januari 2017


"I've been poor my whole life, like a disease passing from generation to generation. But not my boys, not anymore."- Toby Howard

Plot

Berniat menghentikan rantai kemiskinan, dua kakak beradik Toby (Chris Pine) dan Tanner Howard (Ben Foster) menjalankan aksi merampok bank dengan bermodalkan taktik cerdas dari Toby serta pengalaman Tanner yang merupakan mantan kriminal. Aksi kakak beradik ini tentu menarik perhatian duo ranger Marcus Hamilton (Jeff Bridges) dan rekannya berdarah indian Alberto Parker (Gil Birmingham).







Review

Patut diingat, Hell or High Water bernafaskan kental akan western nya. Maka, persiapkan ekspektasi kalian akan nuansa slow burning nya yang mungkin akan membosankan bagi sebagian penonton, terutama para pecinta action. Tetapi bila kalian telah terbiasa dengan pendekatan ini, maka Hell or High Water akan menjadi pengalaman menonton yang menyenangkan dan begitu berkelas. Sedikit mengingatkan saya akan karya klasik Coen Brothers, No Country for Old Men, Hell or High Water adalah film yang mampu memberikan kerinduan kalian pada saudara atau rekan kalian dengan pendekatan tema heist serta crime nya.

Ya, tema keluarga begitu lekat pada film garapan Dave Mackenzie ini. Praktis setelah pembukaan dua aksi kakak beradik kala merampok bank, selanjutnya kita diperlihatkan drama akan kedekatan keduanya. Dari adegan perampokan pula kita bisa menilai bila sang kakak, Tanner, memiliki pengalaman dalam melakukan aksinya. Begitu pula Toby yang walau dalam pengalaman hidupnya tidak pernah melakukan aksi kriminal sehingga tidak jarang melakukan blunder saat beraksi, namun memiliki otak yang cerdas nan taktikal dalam melakukan perampokan. Terlihat kala ia begitu emosional ketika sang kakak cenderung ceroboh dalam merusak rencana perampokan yang telah dirancang. Namun, walau Toby sering terlihat emosi dengan kakak nya yang urak-urakan itu, tak lantas penonton beranggapan bahwa Toby tidak perhatian dengan Tanner. Sebaliknya, momen-momen percakapan antar mereka berdua juga tindakan Toby di gas station saat melihat Tanner terlibat keributan, kita bisa menangkap betapa dekat serta sayangnya Toby dengan Tanner. Adegan kecil ketika diperlihatkan mereka bermain berdua pun mampu menyunggingkan senyuman saya kala melihatnya. Naskah garapan Taylor Sheridan pun juga mengajak motif dua pria koboi ini untuk menjalankan perampokan, yang kemudian diperkuat pula oleh sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh karakter Toby saat adegan akhir yang diucapkan begitu brilian oleh Chris Pine.

Tidak hanya berfokus pada Toby atau Tanner, pergerakan plot pun juga mengajak kita akan kedekatan yang unik dari hubungan kerja antara Marcus serta Alberto. Marcus yang memiliki darah Texas yang kental, sering menggoda Alberto yang notabene nya berdarah Indian dengan ejekan-ejekan narsisnya. Dari awal kalimat Marcus kepada Alberto saja telah menggambarkan akan hal itu, yang mampu mengundang ketawa saya. Hubungan ini anehnya juga tidak kalah kuatnya dibandingkan hubungan persaudaraan Toby dan Tanner. Fakta bahwa Marcus juga memiliki kemampuan menyelidik yang tidak bisa diremehkan pula merupakan "lawan" yang tepat akan Toby sehingga memaksa penonton berharap bila kedua karakter ini akan bertemu dan face to face pada akhir nya. Adegan aksinya juga tidak bisa diremehkan. Memang, dua aksi perampokan pada sajian pembuka tidak terlalu spesial, namun sajian akhir aksinya berhasil menyajikan keseruan nan hening yang berhasil menaikkan kadar suspensenya sendiri, terlepas dari kita yang telah terikat akan 3 karakter yang terlibat. Adegan razia sendiri juga sanggup memberikan ketegangan tersendiri, bukti bila penceritaan akan pendekatan karakter sebelumnya sukses karena kita telah terikat dengan semua 4 karakter.

Dan tibalah, momen yang saya anggap salah satu momen dalam film terbaik pada tahun 2016, dimana Toby dan Marcus akhirnya bertemu. Masih disajikan dengan hening, momen tersebut tidak kalah menegangkannya dengan sajian akhir pada aksinya. Kuatnya akting yang dikeluarkan oleh Chris Pine dan Jeff Bridges merupakan faktor utama mengapa momen tersebut begitu emosional, setelah build up yang juga mempesona yang memberikan penonton mengerti mengapa nuansa kebencian begitu terasa antar ke duanya.

Seperti yang saya tulis pada awal paragraf, film ini bukanlah film yang bisa dikonsumsi oleh semua lapisan penonton, seperti kebanyakan film western kebanyakan. Namun, untuk para pecinta film yang telah menjelajahi semua genre, Hell or High Water tentu adalah film yang memuaskan berkat studi karakter serta kuatnya akting 4 karakter utamanya, terutama Chris Pine.

8,25/10



Sabtu, 31 Desember 2016


"Life isn't some cartoon musical where you sing a little song and all your insipid dreams magically come true. So let it go."- Chief Bogo

Plot


Memiliki impian ingin menjadi polisi kelinci yang pertama, tentu saja Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) mendapatkan penolakan dari ayah dan ibunya. Namun keinginan Judy sudah sangat kuat. Walau harus kesusahan ketika menjalani pelatihan, namun dengan kerja kerasnya Judy mampu mewujudkan impiannya dan bertugas di Zootopia dimana pada kota tersebut memiliki berbagai jenis hewan yang hidup bersama. Namun masalah Judy belum selesai karena ketika dalam kepolisian pun, Judy masih dipandang sebelah mata oleh atasan serta rekan kerjanya. Hari pertama Judy pun hanya bertugas menjadi polisi yang mengatur parkir. Dalam tugas pertama itu pula ia bertemu dengan rubah bernama Nick Wilde (Jason Bateman), seekor rubah yang memiliki kemampuan berbicara yang apik. 







Review

Sulit memang menyaingi kedigdayaan Pixar dalam hal film animasi. Namun bukan berarti rumah produksi film animasi lainnya tidak memiliki usaha, dan tampaknya Disney kembali muncul sebagai saingan yang kuat untuk Pixar, setidaknya dalam tahun 2016 dimana dua film keluaran Disney, Zootopia dan Moana mendapatkan tanggapan yang sangat baik dalam segi kualitas maupun pendapatan pundi-pundi dollar nya. Karena saya belum menyaksikan Moana, maka pada kesempatan kali ini saya akan berbicara mengenai Zootopia yang pada awalnya sempat saya ragukan. Konsep di atas kertas Zootopia, dimana karakter utama ingin mendapatkan pengakuan dalam hal pekerjaan yang diimpikan nya bukanlah sesuatu yang fresh dan sudah banyak film animasi yang mengangkat tema serupa. Namun pepatah tua “Tonton dulu baru berkomentar” memang selalu benar adanya. Karena apa yang coba Zootopia narasikan jauh lebih luas dibanding hanya memperlihatkan karakter utama mendapatkan pengakuan.
Ya, saya tidak menyangka bila semenjak menit pertama Zootopia bergerak, tema diskrimasi lah yang diangkat. Atensi saya tentu telah direnggut karena saya selalu tertarik dengan permasalahan diskriminasi. Cerita teater yang diperankan oleh Judy pada awal film telah memberikan sebuah petunjuk bila walau film ini tetap dibingkai dengan misteri akan pencarian mamalia yang hilang, tema diskriminasi tetaplah yang akan menjadi fokus utama. Saya menyukai pilihan Byron Howard dan Rich Moore untuk lebih mengeksplorasi perihal diskriminasi tersebut disebabkan oleh memang permasalahan itu begitu dekat dengan penonton yang mungkin tergolong minoritas dalam kehidupan bermasyarakat, ketimbang menceritakan lebih akan aspek misteri atau kriminalnya.  Biarlah plot mengenai pencarian mamalia hilangnya dijadikan pondasi untuk sebuah masalah yang jauh lebih besar. Dan menurut saya penanganan cerita akan perbedaan jenis hewan ditangani dengan baik oleh Howard dan Moore yang juga ikut dalam penulisan naskah.
Walau memang dijadikan pondasi, namun bukan berarti kisah pencarian Judy dan Nick mamalia yang hilang menjadi tidak menarik. Misteri yang ditawarkan cukup untuk mengajak penonton menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi, tidak ketinggalan juga twist demi twist yang telah dipersiapkan guna membangun cerita.  Tidak hanya itu, kadar humor dan keseruan kala melakukan misi itu juga tidak menurun dosisnya yang membuat mata penonton tidak diizinkan untuk berpaling. Mengenai humor, Zootopia lebih menguatkannya akan pada interaksi tiap karakter, terkhusus untuk Judy dan Nick. Hal yang menarik akan kedua karakter utama jelas adalah fakta dimana mereka merupakan dua jenis hewan yang seharusnya bermusuhan dan memiliki rantai sejarah yang sulit dilupakan.  Bisa dilihat dimana ada suatu dialog yang dilontarkan ayah dan ibu Judy yang justru lebih mengkhawatirkan anaknya akan diganggu oleh rubah dibandingkan hewan-hewan yang jauh lebih berbahaya lainnya, Judy yang selalu waspada pada awalnya kala berdekatan dengan Nick, dan juga Nick yang menanggap remeh Judy karena, well, she’s just a rabbit. Namun lama kelamaan kedekatan mereka yang awalnya hanya keterpaksaan akan keadaan, menjadi pertemanan yang begitu dekat dan juga menjadi pembelajaran bagi masing-masing untuk lebih menerima perbedaan yang terjadi. Interaksi yang kuat serta dinamis antara Judy dan Nick mau tidak mau memaksa penonton untuk perduli dengan persahabatan mereka. Maka ketika persahabatan mereka terdapat sebuah konflik yang memaksa mereka berpisah, penonton pun juga ikut kehilangan dan saya pribadi pun sampai membatin “ayo dong baikan” sehingga ketika momen dibawah jembatan terjadi, penonton pun ikut merasa haru walau sebenarnya adegan tersebut klise. Sebagai karakter per individual pun Judy dan Nick sudah memiliki karakterisasi yang mumpuni. Judy adalah kelinci yang pantang menyerah, optimis, cerdas dan juga tekun, karakter wanita yang bersifat independen. Biasanya saya kurang begitu menyukai karakter yang begitu “putih”, tetapi Judy merupakan pengecualian. Begitu pula dengan Nick yang memiliki kemampuan bicara diatas rata-rata dan juga memiliki otak yang tidak kalah cerdasnya dengan Judy. Kudos untuk para dubber yang bekerja dengan baik, terutama Ginnifer Goodwin yang mampu membuat karakter Judy Hoops begitu manis dengan semua rasa optimisnya dan juga begitu mudah disukai kala menit pertama berjalan. Jason Bateman pun melakukan hal yang fantastis dalam mengisi suara Nick Wilde yang cerewet namun bukannya menjengkelkan malah berakhir lucu dan tetap menjadi karakter yang disukai.
Walau memang tidak menawarkan hal yang baru, tetapi tidak bisa dipungkiri Zootopia menawarkan tontonan yang begitu fun, menampilkan kedua karakter yang mengasyikkan juga jalinan cerita yang mampu membuat penonton tertarik untuk mengikuti hingga akhir. Tidak lupa juga momen-momen komedi nya yang efektif dalam mengajak tawa penonton (bagian Kungkang tetap yang terbaik). Dan ya, i love Shakira’s Try Everything.

8/10

Rabu, 28 Desember 2016



"What we lost in the fire, we found in the ashes"- Sam Chisolm

Plot


Emma Cullen (Haley Benett) adalah salah satu penduduk desa dari Rose Creek, dimana desa tersebut sedang dikuasai oleh pengusaha keji bernama Bartholomew Bogue (Peter Sarsgaard). Terbawa oleh keinginan dendam atas kematian suaminya, Emma meminta bantuan Sam Chisolm (Denzel Washington) untuk membantu penduduk desa menyingkirkan Bogue. Sam, yang menerima permintaan tersebut, mencoba mengumpulkan kenalan-kenalan nya yang dirasa mampu membantu misi mustahil itu.




Review


Dari judulnya saja bisa ditangkap bila film ini terinspirasi (atau remake) dari film klasik nan legendaris hasil polesan Akira Kurosawa yaitu Seven Samurai serta versi Hollywoodnya yang berjudul sama. Saya belum menonton kedua film tersebut sehingga saya pun tidak berani membandingkan kemiripan lainnya. Plot yang diangkat dalam garapan teranyar Antoine Fuqua sangatlah simple. Mengenai sebuah wilayah yang diduduki oleh penguasa kejam yang mengambil semua keuntungan sumber daya dari tempat tersebut, hingga timbul perlawanan dari penduduk wilayah yang bernama Rose Creek tersebut dengan menyewa 7 koboi (well, six actually) yang mahir dalam menggunakan senjata. Ya, sangat sederhana sehingga wajar apabila pada bagian third act nya menghabiskan hampir menyentuh durasi 45 menit. Tetapi sebelum menuju kesana, penonton akan diajak untuk melihat bagaimana kejamnya Bartholomew Bogue yang diperankan dengan baik oleh Peter Sarsgaard. Bogue merupakan karakter classic villain yang membuat penonton begitu muak ketika ia tampil di layar. Lihatlah dengan begitu dinginnya ia membunuh salah satu penduduk di depan rumah Tuhan dan di depan banyak orang. Dan sekali lagi, Sarsgaard berhasil dengan brilian memerankan Bogue. Selain Bogue, Haley Benett pun mencuri perhatian (no, i’m not talking about her cleavage) dimana Emma Cullen (nenek moyangnya keluarga Cullen, okay, i’m just playin’ with you) yang diperankannya memancarkan perempuan yang kuat, namun juga memiliki kerapuhan lewat sorot matanya. Emma pun memiliki momen-momen yang membuktikan bahwa dirinya bukanlah perempuan yang lemah, dimana dia juga turut membantu dalam perang melawan pasukan Bogue. Tak ayal, karakter Emma mengingatkan saya akan karakter Katniss Everdeen di The Hunger Games (terlepas dari kemiripan muka antara Haley Benett dan Jennifer Lawrence).

Permasalahan utama The Magnificent Seven jelas motivasi tiap karakter untuk membantu penduduk Rose Creek melakukan perlawanan kurang kuat. Kecuali Sam Chisolm (yang akan diungkapkan pada akhir cerita), naskah yang dibuat oleh Richard Wenk dan Nic Pizzolatto tidak mengajak penonton untuk menelusuri lebih jauh motivasi enam karakter lainnya. Untuk sebuah “misi” menyerahkan nyawa seperti itu (apalagi hampir semua anggota The Magnificent Seven sadar betapa hebat sumber daya yang dimiliki Bogue ), tentu diperlukan sebuah dorongan yang kuat, terutama untuk karakter-karakter yang sebelumnya tidak diperlihatkan memiliki hati bagai seorang ksatria . Walau tiap anggota The Magnificent Seven cukup likeable karena tiap anggota memiliki keunikan, tetapi dengan motivasi yang kuat tersebut penonton akan merasakan keterikatan yang jauh lebih dalam dengan mereka. Motivasi yang memutuskan Sam Chisolm meminta bantuan keenam karakter lainnya pun cukup dipertanyakan mengingat hanya dengan Goodnight Robicheaux saja ia memiliki hubungan pertemanan.
Tetapi mungkin hal-hal tersebut sengaja “dikorbankan” oleh Fuqua demi menampilkan adegan third act nya yang harus diakui sangatlah menghibur. Dengan diiringi scroing garapan Simon Franglen dan James Horner, desingan peluru, ledakan dinamit, aksi keren yang ditampilkan Billy Rocks serta karakter-karakter lainnya tentu memberikan pengalaman  menonton yang mengasyikkan. Dan mungkin saja gun fight sequence yang dimiliki The Magnificent Seven ini merupakan salah satu yang terbaik pada tahun ini. Sebelum menuju third act pun juga tidak kalah menariknya dimana Fuqua memilih untuk menggerakkan narasinya dengan mengajak kita melihat persiapan para penduduk untuk menghadapi perang melawan pasukan Bogue. Walau tidak berhasil secara optimal, tetapi apa yang diputuskan oleh Fuqua patut diapresiasi.
Sebagai karakter utama, Sam Chisolm sepertinya ingin diperlihatkan oleh Fuqua sebagai a badass hero with a silent type, apalagi ditambah dengan setelan baju hitamnya yang semakin menambah kesan tersebut. Ketika Denzel Washington yang mengemban tugas tersebut tentu saja penonton tak perlu cemas. Denzel Washington tak diragukan lagi memiliki seorang kharisma pemimpin sehingga tidak aneh apabila ia merupakan pemimpin di Magnificent Seven. Karakter Sam ini tentu mengingatkan saya akan peran Denzel lainnya yaitu Training Day sebagai Alonzo Harris, hanya ini adalah versi good guy.  Chris Pratt tentu tanpa kesulitan memerankan Joshua Faraday yang sedikit selengekan, walau harus diakui karakter ini mengingatkan kita akan peran yang membuat Chris Pratt menjadi hot komoditi di Hollywood saat ini, siapa lagi kalau bukan James Quill a.k.a Star Lord. Ethan Hawke, yang bekerja sama dengan Denzel Washington di Training Day yang keren itu, juga menarik perhatian dengan kalimat-kalimat sarkas nya. Menarik juga bila Goody yang walau memiliki kemampuan menembak yang jauh lebih baik dibanding lainnya, memiliki halusinasi dalam pikirannya yang memaksa dirinya untuk tidak menembakkan senjata lagi, dan Ethan Hawke tak kesulitan memerankan Goody yang memiliki paranoid itu.Karakter Jack Horne yang diperankan Vincent D’Onofrio pun tidak mengecewakan seperti banyak kata penikmat film. Mungkin hanya Vasquez yang terkesan biasa saja dan tidak menarik perhatian, kecuali bila ia berinteraksi dengan Chris Pratt. Dua karakter paling badass patut disematkan oleh Billy Rocks-nya Lee Byung-huun serta Red Harvest yang diperankan dengan baik oleh Martin Sensmeier, terutama Billy. Dari awal karakternya diperkenalkan saja, kita sudah tahu bila karakter ini akan menjadi karakter yang paling keren dalam film ini. Kalem, pendiam, dan juga dilengkapi dengan keahlian melempar pisau yang luar biasa. Dan benar saja, pada third act nya, Billy-lah yang paling mendapatkan banyak momen-momen badass.
Kesimpulannya, The Magnificent Seven tidak jauh berbeda dengan film-film popcorn lainnya. Sedikit menderita dalam penceritaan, dan juga overlong. Namun, dengan kerja bagus para castnya (terutama Halley Bennett yang membuat Emma Cullen adalah salah satu karakter perempuan terbaik tahun ini) serta third act nya yang luar biasa menghibur, The Magnificent Seven merupakan sajian western yang cukup menghibur walau kurang berkesan dan cukup pula mudah dilupakan.

7/10

 
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!