Monday, 24 April 2017


"I'm T.S... motherfuckin'-A. We handle shit. That's what we do. Consider this situation... fuckin' handled"-Rod Williams

Story

Seorang fotografer muda bernama Chris (Daniel Kaluuya) diundang sang pacar Rose Armitage (Allison Williams) untuk datang kerumahnya dan bertemu dengan keluarga. Chris yang awalnya sempat ragu menerima undangan Rose tersebut karena khawatir dengan perlakuan keluarga Rose setelah mengetahui bahwa dirinya berkulit hitam, malah diterima dengan hangat oleh ayah dan ibu Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy Armitage (Catherine Keener)), walau Chris sempat risih dengan sikap tidak mengenakkan yang datang dari dua pelayan keluarga Armitage yang juga berkulit hitam.






Review

Sulit memang membedakan genre film thriller dan horror karena pada dasarnya dua genre film tersebut menggunakan formula yang hampir sama, yaitu memberikan teror mencekam kepada para penonton sehingga mereka tidak merasakan rasa nyaman di kursi mereka. Jika membicarakan film favorit pada genre serupa, tampaknya Psycho tetaplah menjadi pilihan saya, karena susah sebenarnya terpuaskan dengan film yang kita telah tahu akhir kisahnya bagaimana, namun tetap terpuaskan berkat atmosfir horornya yang sangat kental dan tidak lupa ceritanya yang sederhana namun efektif guna menjadi fondasi. Tahun 2017 baru menyentuh di awal-awal tahun dan telah menghasilkan sebuah sajian thriller menyenangkan yang hebatnya juga terasa sangat orisinil bila membicarakan ide ceritanya.

Tidak menggunakan formula-formula dasar horror pada umumnya seperti rumah tua misterius ataupun penampakan-penampakan hantu, sang sutradara Jordan Peele menggunakan formula seperti Hitchock lakukan yaitu menggerakkan awal narasinya dengan begitu tenang, berjalan perlahan walau tetap masih ada beberapa momen yang mungkin sukses membuat jantung penontonnya sedikit berdetak dengan kencang. Namun bila dilihat secara garis besar, tidak ada teror yang berarti di awal-awal film. Peele tampaknya sengaja menyajikan ceritanya sedemikian rupa untuk memainkan pikiran ataupun persepsi penonton dengan menebak-nebak seperti apa yang dilakukan oleh Chris. Ya, posisi penonton dengan Chris sama, yaitu sama sekali tidak tahu menahu di tengah kondisi dan lingkungan yang asing sehingga hanya bisa menerka-nerka konflik utama apa yang ditawarkan oleh Peele guna memberikan keseruan bagi penontonnya. Disinilah letak keasyikkan Get Out, yang mengingatkan kembali film thriller indie tahun lalu yaitu The Invitation. Namun Get Out tetaplah berbeda, karena selain kental dengan nuansa thriller nya, Get Out juga mengangkat tema sensitif yaitu perbedaan ras kulit, yang mungkin saja ini adalah yang pertama kalinya diangkat ke media film dalam ranah thriller ataupun horror. Hal ini lah yang membuat Get Out sangat terasa orisinil, dengan membawa penontonnya seolah kembali ke periode Amerika lalu yang masih kental dengan diskriminasi perbedaan warna kulit.

Hingga pada durasi mendekati 1 jam film berjalan, barulah Peele mengungkapkan jawabannya yang jujur masih memberikan efek kejut kepada saya walaupun sebelum terungkapnya jawaban tersebut, saya telah memiliki jawaban yang sama persis seperti apa yang Peele sajikan. Hebatnya, untuk menyajikan twist nya tersebut, Peele telah mempersiapkan beberapa clue sekecil apapun sebelumnya yang bisa saja luput dari perhatian penonton, seperti ketika Rose menentang keras opsir polisi yang ingin melihat kartu identitas Chris. Selama 104 menit tidak ada rasanya momen-momen yang terjadi tanpa alasan. Semuanya memiliki motif yang jelas demi menghadirkan twist nya di pertengahan.

Peele pun juga telah menyiapkan parade berdarah di ujung penceritaan yang walau tidak terlalu terasa intens seperti The Invitation atau terlalu banjir darah, namun parade itu telah cukup untuk menjadi konklusi yang memuaskan dan menghilangkan rasa haus akan darah bagi para pecinta film gore yang mungkin merasakan durasi satu jam lebih sebelumnya terasa membosankan akibat pergerakan narasi yang cukup lambat disebabkan Peele ingin bermain-main dengan pikiran penontonnya. Saya sendiri merasakan intensnya penceritaan saat pesta yang diadakan keluarga Rose, dimana rasa tidak nyaman yang Chris rasakan juga mampu menular ke saya. Sebuah sajian menyenangkan dari Peele yang semoga saja diikuti oleh film-film horror lainnya di sisa tahun 2017.

8/10

Saturday, 15 April 2017

"So, this is what it feels like."- Logan

Plot

Bersamaan dengan para mutan semakin terancam akan kepunahan, Wolverine a.k.a Logan (Hugh Jackman) mencoba bersembunyi di suatu daratan Mexico dengan bertahan hidup bekerja sebagai supir limosin. Dari hasi kerjanya itu juga, Logan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk bisa membeli kapal pribadi supaya bisa hidup tenang di lautan bersama sang mentor, Profesor Charles Xavier (Patrick Stewart) yang kini kondisinya tengah mengidap ganasnya penyakit alzheimer. Namun ternyata rencana Logan tidak semulus yang ia harapkan ketika dirinya bertemu dengan gadis misterius, Laura (Dafne Keen).




Review

Tak diragukan lagi, diantara mutan-mutan lainnya dalam X-Men Universe, Wolverine a.k.a Logan merupakan karakter yang memiliki basis fanbase terbesar dan juga paling populer yang mungkin hanya bisa tersaingi oleh Magneto. Maka tidak heran jika dirinya selalu menjadi protagonis utama di film-film X-Men plus dua film solo mengenai dirinya telah ditelurkan sebelumnya. Bukan hanya karena ingin mengeruk uang lewat memanfaatkan nama besar Wolverine, tetapi dilihat dari karakter juga Wolverine yang paling kaya akan kompleksitas dan tidak one dimensional. Belum lagi membicarakan tentang design character serta signature nya yang makin menobatkan Wolverine adalah mutan paling keren. Namun sayang, dua film tentang Wolverine sebelumnya belum mampu memuaskan para penggemar. Film Wolverine pertama terlalu lembek, dengan mengorbankan karakter Wolverine nya yang garang, sedikit bermelow drama dengan unsur romance nya. Sedangkan film keduanya terlalu berpusat kepada aksi seperti film superhero generik lainnya sehingga melupakan pendalaman karakter pada sang titular karakter. Para penggemar, termasuk saya, tentu mengharapkan sebuah film Wolverine yang memenuhi ekspektasi tanpa harus menghilangkan jati diri Wolverine itu sendiri. Dan hadirlah Logan di tahun ini, yang bukan hanya menjadi kado perpisahan yang manis untuk Logan serta si pemeran karakter ikonis ini, Hugh Jackman, yang tidak bisa membohongi usianya sehingga harus meletakkan cakar adamantiumnya untuk diserahkan kepada generasi selanjutnya.

Bila The Dark Knight menjadi pelopor pendewasaan pada genre superhero, maka tidak berlebihan rasanya bila Deadpool, film superhero R-rated pertama, tahun lalu menjadi bukti shahih bila genre superhero tidaklah harus PG-13 untuk menyenangkan penggemar serta meraup kesuksesan. Keputusan untuk mengikuti jejak Deadpool sangatlah tepat dikarenakan kekuatan tebasan Wolverine itu sendiri, juga ditilik dari watak Wolverine yang kasar, juga beringasan layaknya binatang buas. Dengan rating R nya itu pun memberikan keleluasaan bagi James Mangold untuk menghidangkan aksi yang penuh darah akibat sayatan-sayatan cakar tajam Wolverine, dialog-dialog yang menyelipkan sumpah serapah dan tema cerita dewasa pula. Namun cukup di ranah aksinya saja Mangold bersenang-senang berkat rating R nya, karena dengan rating R nya pula lah penonton melihat sisi lain dari sang pahlawan tercinta ini, dan jujur itu merupakan pengalaman menonton yang memilukan. Ya, siapa yang tidak heartbreaking melihat jagoan masa kecil kebanyakan orang ini terlihat begitu lemah akibat kondisi fisiknya yang terlalu tua, sehingga mengalahkan tiga berandal amatiran saja dirinya begitu kesusahan?

Salah besar jika kalian mengharapkan sosok Wolverine yang badass dan ganas seperti biasanya di dalam Logan, karena apa yang kita saksikan adalah sosok pria dewasa biasa yang menghabiskan hari-harinya dengan minum-minuman beralkohol. Dirinya juga harus menerima kenyataan bila fisiknya telah termakan usia, sehingga setiap kali datangnya musuh, Wolverine mengambil langkah realistis dan mencoba kabur dari kejaran mereka. Bahkan akibat faktor usia pula lah, kemampuan memulihkan diri Wolverine menurun drastis, dimana biasanya dia mampu memulihkan diri dari luka secara total hanya memakan wakut beberapa detik saja, sekarang bukan hanya pemulihannya memakan waktu lama, namun juga meninggalkan bekas di tubuhnya. Terlebih setiap kali dirinya terlihat menderita akibat serangan-serangan yang ia terima, yang tidak jarang mengundang raut muka kesedihan saya setiap kali menyaksikannya.

Rasa trenyuh juga membuncah kala menyaksikan Profesor X yang tampak begitu memprihatinkan akibat penyakit yang dideritanya sehingga ia tidak mampu lagi mengendalikan kekuatan pikirannya. Tidak ketinggalan dari situ saja, Mangold pun menyelipkan sebuah info kecil yang mampu menghancurkan masa kecilmu, apalagi bila kalian adalah penggemar berat X-Men. Semua aura depresif itu terbantu pula dengan suasana gersang nan tandus kota Meksiko, menjadikan Logan bukanlah tontonan bagi penonton yang telah terbiasa dengan formula superhero biasanya. Untuk pertama kalinya lewat film solo nya, Wolverine mendapatkan perlakuan yang layak, dengan memperdalam karakterisasi tanpa harus melepaskan atribut garangnya, itu juga mungkin alasan Mangold lebih memilih judul Logan tanpa embel-embel Wolverine nya yang harus diakui jauh lebih dikenal luas oleh publik.

Dalam Logan, screenplay yang ditulis pula oleh Mangold memang menekankan pada sisi drama, tetapi bukan berarti Mangold melupakan kadar aksinya. Dan disinilah peran aktris cilik Dafne Keen yang menjadi highlight tersendiri berkat kebengisan dia kala beraksi, yang menjadikan sosok Hit Girl-nya Chloe Grace Moretz hanya tampak bagai putri Disney kala harus bersanding dengannya. Sifatnya yang pendiam juga berhasil menyuntikkan dosis badass kedalam diri Laura. Saya juga menyukai keputusan Mangold untuk tidak mengistimewakan Laura hanya disebabkan dirinya adalah gadis kecil. Dia tetap mendapatkan treatment yang sama dengan menerima serangan-serangan brutal dari musuhnya. Setiap adegan aksi pun nihil dengan kesan bombastis dan juga efek CGI untuk tetap menjaga fokus kesan realistisnya. Dafne Keen mungkin tampil meyakinkan sebagai Laura, sang mutan baru penerus Wolverine, namun ini adalah film Wolverine a.k.a Logan, yang juga berarti ini adalah filmnya Hugh Jackman.

Hugh Jackman beruntung sebelum memerankan Logan yang harus mengeluarkan humanisme dan kerapuhannya, Jackman sempat memerankan peran yang memang menuntut ia untuk mengeluarkan akting yang emosional seperti di dalam film Les Miserable dan Prisoners, sehingga range akting Jackman pun meluas yang membuat dirinya tidak kesulitan dalam memerankan Logan yang depresif, renta dan tidak powerful seperti dulu lagi. Totalitas aura depresif yang ditawarkan selalu terlihat baik dari caranya berjalan, berbicara dengan nafas yang ngos-ngosan, diikuti juga tatapan lusuhnya, seolah penderitaan yang tampak cukup untuk dirasakan dan menular kepada penonton. Ya, dalam peran terakhirnya sebagai Logan ini pula lah, Jackman mengeluarkan akting berkelas Oscar di ranah superhero, yang menambah rasa emosional kala film berakhir. Patrick Stewart pun memberikan persembahan terakhirnya sebagai Charles Xavier dengan manis berkat sentuhannya yang bagaikan mentor dan seorang ayah untuk Logan. Interaksi mereka maupun omelan Charles tidak jarang memberikan comic relief  sejenak melepaskan diri dari atmosfir kental depresifnya.

Kisah adaptasi lepas ini akhirnya berhasil memenuhi rasa dahaga para fans, dengan penceritaan yang sangat membumi, memperlihatkan sisi lain Wolverine yang sangat tidak nyaman untuk diikuti, terutama untuk pecintanya. Sebuah "upacara" perpisahan berdurasi 142 menit yang sangat layak namun emosional. Dan semoga film ini tidak membuat kapok anak-anak kecil yang terlanjur menikmati film ini untuk menyaksikan kembali film superhero yang makin lama makin meninggalkan pangsa pasar demografi anak kecil.

8/10

Monday, 10 April 2017

"Wondering if you're happy is a great shortcut to just being depressed."-Dorothea

Plot

Ditengah kondisi Amerika yang berada dalam krisis kepercayaan diri di tahun 70an, seorang single mother bernama Dorothea (Annette Bening) juga ikut kerepotan dalam menangani anak satu-satunya yang ia miliki, Jamie (Lucas Jade Zumann), yang tengah menginjak usia remaja. Sadar bahwa ia tidak bsia sendirian dalam menjaga pergaulan Jamie, Dorothea pun meminta bantuan dua wanita yang dekat dengan Jamie, Abbie (Greta Gerwig) dan Julie (Elle Fanning).




Review

Ada ungkapan umum yang mengatakan bila dimata seorang ibu, anak yang dimilikinya tetap akan selalu anak kecil entah berapapun usia nya. Mungkin ungkapan tersebut ada benarnya melihat bagaimana seorang ibu selalu saja mencoba mengingati seorang anak sampai kapanpun mana yang benar dan mana yang salah, dan berusaha melakukan apapun demi membuat sang buah hati bahagia. Bagi anak, mungkin perlakuan seorang ibu akan mengesalkan, terutama untuk mereka yang merasa telah dewasa. Namun mau bagaimana lagi, itulah sifat alami seorang ibu. Mike Mills, lewat 20th Century Woman, mencoba menyampaikan rasa cintanya terhadap sang ibu yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan remajanya.


Pada dasarnya, 20th Century Women hanyalah berpusat pada kekhawatiran seorang ibu, Dorothea, yang single parent terhadap perkembangan anaknya, Jamie, di tengah kondisi negara Amerika yang kesulitan di tahun 70an. Selain itu, dirinya juga memikirkan usia Jamie yang memasuki usia remaja sehingga otomatis Jamie tengah mengalami masa-masa pencarian jati diri, dilengkapi pula dengan sifat memberontaknya yang sulit terkendali. Jamie merasa dirinya tidak terlalu cocok dengan pandangan sang ibu dan salah satu faktor penyebab yang diyakini oleh Jamie adalah perbedaan zaman yang mereka hadapi sehingga Jamie menganggap apa yang dipikirkan Dorothea itu kolot dan ketinggalan zaman.Ya, sebenarnya itu lah pusat penceritaan. tetapi karena Mike Mills disini mengeksplor pondasi cerita itu beriringan pula dengan hubungan Jamie dengan dua wanita yang kebetulan dekat dengan dirinya. Lewat interaksi mereka, Mike Mills memasukkan beberapa elemen seperti cinta, dunia punk, dan tidak ketinggalan kebebasan, berdasarkan apa yang Abbie dan Julie coba perkenalkan kepada Jamie. Menit demi menit mengikuti interaksi mereka, muncul pertanyaan terlintas, apakah memang Jamie membutuhkan semua itu untuk dianggap "dewasa"? Cerita coming-of-age nya sendiri coba dihubungkan dengan kisah feminis nya, yang tidak bisa dipungkiri cukup kental atmosfirnya (mungkin karena itu pula judulnya 20th Century Woman). Karakter Jamie disini memang terlihat polos bila atribut rasa ingin kebebasan serta sifat rebel nya dilucuti dari dirinya. Lihatlah begitu mudahnya ia menelan mentah-mentah setiap pelajaran yang diberikan oleh Abbie dan Julie, yang tak jarang pada akhirnya merepotkan dirinya maupun sang ibu. Yang cukup disayangkan, penceritaan Jamie berhubungan dengan Abbie dan Julie malah cukup menenggelamkan kisah Jamie dan Dorothea sendiri. Awalnya kebersamaan mereka berdua cukup mendominasi, namun lama kelamaan keduanya jarang tampil di satu layar. Hal ini menyebabkan konklusi yang di akhir tidak cukup memuaskan karena terkesan tiba-tiba. Ditambah pula chemistry Jamie dengan Abbie dan Julie terasa kurang sehingga setiap narasi menceritakan kisah Jamie sedang bercengkerama dengan mereka berdua, disitu pula rasa interest saya cukup berkurang. Berbeda saat Dorothea hadir satu layar dengan Jamie, yang tidak pernah gagal merebut atensi saya.

Meski Jamie merupakan sumber penceritaan, tidak serta merta Mike Mills melupakan karakter-karakter sampingannya. Semuanya mendapatkan backstory yang adil, dengan tujuan untuk penonton mencoba memahami keputusan-keputusan yang telah diambil tokoh-tokoh yang terlibat. Dua karakter perempuan lainnya, Abbie dan Julie, masing-masing mewakili dua gadis dewasa mandiri yang memiliki masalah dengan ibu mereka. Julie sendiri memang tidak terlalu jauh beda umurnya dengan Jamie, tetapi bukankah wanita selalu mengalami kedewasaan diri lebih cepat dibanding pria? Keduanya mungkin berpikiran dewasa, tetapi tidak menutupi kenyataan bila mereka masih memiliki emosi yang labil dan butuh kasih sayang orang tua. Untuk Abbie, sosok Dorothea merupakan wanita yang ia hormati dan mungkin telah dianggapnya seorang ibu bagi dirinya. Berlainan dengan Julie yang seolah mengusahakan bila dirinya tidaklah butuh figur orang tua dalam hidupnya. Memang bila diukur dari screentime, karakter William sedikit terpinggirkan, namun bukan berarti dirinya tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam pergerakan cerita. William digunakan oleh Mills adalah pria dewasa yang bisa mengisi rasa kekosongan Dorothea yang telah lama tidak bergaul dengan pria sebaya dirinya semenjak bercerai dengan suaminya. Semua kisahnya bagai lingkaran yang saling mengisi, minim pula letupan-letupan konflik menghiasi menjadikan kisah 20th Century Woman begitu sederhana, seperti kehidupan sewajarnya.

Annette Bening mungkin sering menghabiskan karirnya selama ini berperan sebagai supporting actress, tetapi bukan berarti pula dirinya kesulitan ketika memainkan peran utama. Sebagai Dorothea, Bening tentu tidak kesulitan memerankan single parents yang diliputi kesepian. Karakter Dorothea disini memang terlihat tenang, tetapi lewat ekspresi subtil yang Bening tampilkan, terlihat jelas bila Dorothea mengharapkan seorang pendamping dalam mendidik Jamie. Sayang memang cerita mengenai mengapa pernikahannya harus berakhir dengan perceraian tidak terungkap. Hampir tidak ada memang yang mampu menyaingi pesona Bening kala berinteraksi dengannya. Tapi cast lainnya sudah cukup berhasil memainkan karakter mereka masing-masing. Seperti Elle Fanning yang sukses menjadikan karakter Julie tetap menawan walau dengan perilaku nya yang bitchy, atau ekspresi depresi namun diiringi dengan ketegaran seorang perempuan yang ditunjukkan oleh Greta Gerwig.

20th Century Women mungkin bukanlah sajian yang terlalu berkesan, namun Mike Mills tidak dipungkiri sukses menawarkan kehangatan kasih sayang sang ibu di tengah sikap bandel seorang anaknya yang mengalami proses transisi, penuh dengan rasa memberontak di usia remaja. 20th Century Women beruntung memiliki Annette Bening yang sekali lagi menunjukkan performa apiknya yang menunjukkan bila dirinya pun mampu memerankan karakter utama, tidak hanya menjadi "side kick" belaka. 


7,5/10

Saturday, 8 April 2017


"Do you guys feel like this whole process is kinda like, life telling us to just maybe move on?" -Bill

Plot

The Commune merupakan grup improvisasi komedi yang telah 11 tahun berdiri dan melakukan pertunjukan di gedung Improve America Theater. Grup tersebut beranggotakan Jack (Keegan-Michael Key), Miles (Mike Birbiglia), Bill (Chris Gethard), Sam (Gillian Jacobs), Allison (Kate Micucci) dan Lindsay (Tami Sagher). Pada suatu kesempatan, perwakilan dari acara tv terkenal, This Weekend Live, menyaksikan performa mereka dan ternyata tertarik dengan penampilan Jack dan Sam sehingga mereka pun berniat mengaudisi Jack dan Sam supaya bisa bergabung di acara tv tersebut.




Review


Berbagai profesi memang memiliki tantangan serta kesulitannya tersendiri, bahkan pekerjaan yang kita pandang terlihat mudah tetap saja ada rintangan nya. Dan salah satu profesi yang paling sukar untuk dikerjakan adalah pelawak atau komedian. Bukan hanya mereka harus selalu menciptakan materi-materi lawakan yang baru dan fresh, mereka juga harus memperhatikan timing, mengerti selera penontonnya dan terakhir cara delivery nya, dengan sejenak melupakan problematika kehidupan yang mereka alami demi menghibur penonton yang menyaksikan mereka. Semakin sulit lagi bila komedi nya dilakukan secara improvisasi, atau dengan kata lain tanpa script sama sekali. Dalam Don't Think Twice, kita diajak menjadi saksi kehidupan di balik layar para anggota The Commune, kelompok komedian berisikan 6 orang yang melakukan pertunjukan komedi lewat improvisasi. Bahan dasar materi yang selalu mereka bawakan adalah jawaban dari penonton kala Sam melontarkan pertanyaan "Has anybody out here had a particularly hard day?"

Komedi yang ditawarkan selalu berhasil. Improvisasi komedi yang tiap karakternya bawakan terasa natural, mereka terlihat sangat kompak dalam menyambut improve dari tiap anggotanya, belum lagi impersonate yang mereka lakukan, baik di atas panggung maupun diselingi dalam percakapan sehari-hari. Setiap kita menyaksikan aksi komedi yang The Commune lakukan, disitu juga muncul benih-benih keterikatan penonton dengan kelompok ini. Ditambah juga kedekatan mereka di luar panggung yang terlihat seperti keluarga. Saya pribadi begitu mencintai mereka sehingga kala konfliknya menyeruak ke permukaan, saya tahu arahnya ke mana dan tidak ingin ketakutan saya benar-benar terjadi menimpa The Commune. 

Komedinya pun terkadang muncul kala momennya tengah berduka, ataupun saat berseteru. Salah satu contohnya adalah pada puncaknya konflik dan terlibat adu mulut antara Miles dan Lindsey, yang saya pun pertama kali tidak aware dengan komedinya tetapi beberapa detik kemudian baru lah saya menyadari maksud jawaban dari Lindsey.

Premis dari naskah yang ditulis juga oleh Mike Birbiglia mengundang pertanyaan apakah impian perlu dikejar bila kita telah mendapatkan apa yang sebenarnya telah membuat kita nyaman dan bahagia. Perlukah meninggalkan itu semua demi keinginan pribadi? Mungkin pertanyaan itu sulit dijawab karena setiap individu pasti memiliki impian dan telah sewajarnya ketika ada kesempatan untuk mendapatkannya, kita harus memanfaatkannya. Tetapi apakah kenyamanan yang ada layak untuk dikorbankan? Naskah nya memang tidak menawarkan hal yang baru. Bila kalian memiliki pengalaman menonton cukup banyak, saya yakin kalian telah bisa menebak jalan ceritanya akan mengarah ke mana dan berakhir seperti apa. Tetapi ceritanya tetap menarik diikuti karena Mike Birbiglia telah berhasil membuat penonton perduli dengan kebersamaan The Commune. 

Penceritaan tetap terfokus kepada konflik yang terjadi di dalam The Commune, walau memang tetap ada sub plot masing-masing karakter, namun Mike Birbiglia menjadikan sub plot tersebut sebagai pondasi dalam konflik utamanya, sehingga dalam durasi 92 menit jalannya narasi sama sekali tidak pernah terasa melebar. Dan sebenarnya dalam durasi yang cukup singkat itu, cukup sulit untuk membuat tiap karakter yang terbilang cukup banyak ini tidak terlupakan. Tetapi ternyata Mike Birbiglia berhasil membagi porsi nya dengan lumayan adil. Memang tetap akan ada yang mendominasi, tetapi karakter yang lain tidak dikorbankan sehingga penonton tidak melupakan kehadiran mereka berkat di eksplornya konflik pribadi masing-masing dari mereka.

Minor komplain dari saya mungkin keputusan Birbiglia yang terlalu terburu-buru dalam mengakhiri filmnya, dengan menggunakan loncatan waktu yang bagi saya memberikan pertanyaan begitu banyak setelah konflik terjadi sebelumnya. Saya merasa aneh melihat semuanya tampak lancar-lancar saja namun beberapa menit sebelumnya belum hilang di ingatan bagaimana mereka terlibat dalam perseterusan mengenai ego masing-masing. 

Don't Think Twice memperlihatkan kembali begitu susahnya manusia dalam menerima kesukesan yang didapatkan oleh orang yang kita kenal begitu dekat. Rasa senang atau juga rasa iri melebur menjadi satu yang otomatis pula menjadi faktor utama yang mempengaruhi hubungan pertemanan dengan orang sukses tersebut. Tidak menawarkan hal yang baru memang, tetapi Don't Think Twice tetaplah sajian 92 menit yang menghibur juga powerful dengan memperlihatkan susahnya berprofesi menjadi komedian, komedi yang selalu berhasil dan pembagian porsi yang adil terhadap 6 karakter utamanya. 

8/10

Thursday, 6 April 2017


"Who are you? Goodbye. I'm Kurt Cobain"

Review 

Bila seseorang dipinta untuk menggambarkan muka musisi yang layak disebut ikon musik Rock, gambar Kurt Cobain sudah hampir 100% akan ia buat bersanding dengan puluhan musisi lainnya. Pengaruh yang disebarkan Kurt Cobain bersama band nya, Nirvana, tidak terbantahkan lagi. Musik yang ia tawarkan mampu menghidupi lagi genre Rock Alternatif yang sebelumnya sempat kalah bersaing dengan genre Metal yang begitu merajalela di periode 80an. Kerasnya suara distorsi gitar yang ia mainkan, dilengkapi juga lirik-liriknya yang puitis tetapi membara akan semangat muda berhasil melambungkan nama Nirvana sebagai band paling berpengaruh di awal 90'an. Tak ketinggalan juga sosok Kurt Cobain lengkap dengan rambut pirang panjang, terkenal dengan aksi panggung yang brutal dan unik, gaya hidup yang lekat dengan obat-obatan terlarang, plus sikapnya yang menolak kemapanan, menjelma menjadi pujaan dan begitu digilai oleh penggemarnya. Namun, seberapa jauh kita mengenal sosok Kurt Cobain selain dari apa yang diceritakan banyak pihak? Bagaimana sebenarnya kehidupan personal Kurt dari semenjak kanak-kanak hingga ke masa popularitas yang malah memberikan ketidaknyamanan kepada Kurt sehingga dirinya tenggelam mengkonsumsi narkoba dan memutuskan mengakhiri hidupnya tepat pada 5 April 1994? Brett Morgen, dengan dokumenternya ini mencoba menampilkan sosok Kurt yang mungkin tidak banyak yang diketahui oleh banyak orang, termasuk penggemarnya. Dari hubungan dengan sang ibu, kehidupan nya sebelum memutuskan mendirikan Nirvana, hingga kisah asmaranya dengan sang istri, Courtney Love. The most intimate rock doc ever, indeed.





Sudah wajib hukumnya bagi para pembuat film dokumenter untuk mengangkat cerita lain yang mungkin tidak terlalu diketahui oleh banyak pihak. Dan dengan mewancarai orang-orang terdekat selama hidup Cobain, termasuk Courtney Love (yang jujur begitu sangat saya harapkan hadir di dokumenter ini untuk memberikan pernyataannya mengenai Cobain), Brett Morgen pun sukses menghadirkan sosok Cobain secara personal dan apa adanya. Kita diajak mengenal Kurt yang semenjak kecil harus menerima kenyataan bila orang tuanya harus bercerai, sehingga berdampak ke psikis Cobain. Saya sendiri secara pribadi baru mengetahui bila Cobain termasuk seseorang terpinggirkan kala remaja, yang memiliki andil dalam menambah tekanan yang telah dialami Cobain. Dengan melibatkan pula suara rekaman Cobain dan coretan-coretan milik dirinya baik gambar maupun tulisan, banyak sekali fakta mengejutkan hadir di layar. 

Salah satu contoh utama adalah mengenai Cobain yang pernah sekali mencoba bunuh diri di rel kereta api akibat tidak tahan dengan ejekan-ejekan yang ia terima di sekolah. Fakta tersebut membersitkan pertanyaan "What if" yang menarik. Ya, bagaimana seandainya Kurt Cobainberhasil melaksanakan bunuh dirinya pada kala itu? Tampilan animasi yang disajikan Brett Morgen pada kisah tersebut diselingi dengan aransemen violin "Smells Like Teen Spirit" pun membuat scene tersebut sangat intens dan menjadi salah satu highlight di dokumenter ini. Oh, bagi siapa yang tumbuh dewasa bersama popularitas Cobain mungkin akan merasa haru saat musik sendu "All Apologies" mengiringi footage Cobain sedang bermain dengan gembiranya, baik ketika ia bermain di taman, memainkan gitar kecil miliknya, merayakan ulang tahun dan berinteraksi dengan cerianya bersama orang lain. Dari footage tersebut telah tampak memang Cobain berbeda dengan anak-anak seusianya. 

Lewat karyanya ini, Brett Morgen berhasil membuat para penonton melihat sisi Cobain sebagai seorang manusia, bukan rock star, atau pun drug addict. Sama sekali tidak ada usaha dari Brett Morgen untuk menyelidiki apa sebenarnya motif dari bunuh diri seorang Kurt Cobain. Semuanya ditampilkan natural dan diperlukan untuk melihat sisi lain Kurt Cobain. Bahkan ketika Brett Morgen menampilkan footage kebersamaan Kurt Cobain dan Courtney Love, yang tampil hanyalah kehangatan dari dua insan manusia yang saling mencintai. Ya, sepasang kekasih yang sempat dinobatkan sebagai salah satu pasangan paling kontroversial dalam sejarah ini ternyata memiliki momen-momen hangat juga kocak seperti Courtney yang membacakan surat kebencian untuk dirinya dan Cobain berperan sebagai penggemar tersebut. Sosok Cobain sebagai ayah pun juga ditampilkan kala keberadaan Frances hadir, bagaimana Cobain bertingkah konyol hanya ingin membuat sang buah hati tertawa dan memandikan Frances bersama sang istri. Footage-footage ini menempatkan para jurnalis yang membuat berita miring mengenai kehidupan Cobain bersama Courtney bagaikan sosok antagonist.

Namun tak disangkal memang, Kurt Cobain merupakan sosok yang rapuh dan memiliki emosi tak stabil sebagai rock star. Terlihat bagaimana liarnya ia di atas panggung, serta memperlihatkan kemalasannya saat diwawancara. Untuk menggambarkan emosi Cobain, Brett Morgen sering memvisualisasikan gambar-gambar yang ditulis tangan oleh Cobain sendiri. Tidak jarang juga visualisasi tersebut sedikit menyeramkan, seolah memperlihatkan apa yang Cobain rasakan kala menggambar.

Cobain: Montage of Heck memang diniati Brett Morgen untuk mengajak penonton melihat seorang Kurt Cobain sebagai manusia biasa. `Film ini bagaikan surat cinta dari Brett Morgen untuk ke semua penonton baik penonton biasa maupun penggemar berat Kurt Cobain yang ditampilkan kehidupannya secara personal ataupun yang dikenal publik luas. Seperti lagu Indonesia yang terkenal bahwa Rocker Juga Manusia.

8,75/10


Wednesday, 5 April 2017



"Untung ya, kamu cuma anjing, Bagong. Anjing tidak pernah merasakan kesepian, karena hanya memberikan kesetiaan"- Jaya

Plot

Untuk menjalankan wasiat sang ibu demi mendapatkan hak sepenuhnya rumah yang diwariskan sang ibu kepadanya, Larasati (Julie Estelle) bersedia jauh-jauh terbang ke Praha. Wasiat dari ibunya hanya menginginkan satu hal kepada Laras, yaitu mengantarkan sebuah kotak kecil dan tanda tangan dari yang bersangkutan sebagai tanda terima. Namun siapa sangka, orang yang harusnya menerima kotak tersebut malah menolak mentah-mentah "hadiah" itu. Orang itu bernama Jaya (Tio Pakusadewo), pria yang telah termakan usia, memiliki profesi janitor di suatu opera besar di Praha. Karena telah jauh-jauh berangkat dari Indonesia, Laras pun tetap berusaha untuk mendapatkan tanda tangan dari Jaya, sembari mengisi hari-harinya di Praha untuk mencari jawaban siapa sebenarnya Jaya tersebut.




Review

Kala menyaksikan trailernya di bioskop dan mengetahui bila aktor Tio Pakusadewo menjadi pusat penceritaan, saya pun tidak berpikir panjang memasukkan Surat Dari Praha ke dalam film yang harus saya tonton karena dengan keberadaan Tio Pakusadewo berada di garda terdepan dalam menggerakkan cerita, itu saja telah menjadi jaminan bila Surat Dari Praha bukanlah sajian sembarangan. Walau memang sempat khawatir Surat Dari Praha hanya akan berakhir menjadi film yang terlalu mengeksploitasi keindahan-keindahan kota Praha saja, seperti film-film Indonesia lainnya yang menjadikan kota di luar negeri sebagai setting filmnya. Namun tampaknya saya terlalu meremehkan sosok sutradara Angga Dwimas Sasongko. Bukan seperti film lainnya yang hanya memanfaatkan nama kota luar negeri sebagai usaha untuk menyedot perhatian masyarakat Indonesia, Angga memilih kota Praha dikarenakan kebutuhan dari penceritaan, dengan mengaitkan pula akan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. 

Pekerjaan Angga sebenarnya tidak mudah. Bagaimana tidak, cerita yang ditulis M. Irfan Ramli memasukkan tema cinta, kerinduan, pengorbanan, sejarah, politik, dan juga idealisme ke dalam film yang hanya memiliki durasi yang lumayan singkat, hanya 91 menit. Bila tidak mempelajari naskah yang ada dengan baik, mudah saja Surat Dari Praha malah berakhir mengecewakan akibat penceritaan yang tumpah tindih serta kehilangan fokus. Tetapi sekali lagi Angga membuktikan dirinya merupakan salah satu sutradara terbaik di Indonesia generasi sekarang. Angga tahu betul kapan momen yang tepat untuk membahas cinta, begitu juga sejarah, dan seperti itu seterusnya tanpa sekalipun perpindahan yang terjadi terasa dipaksakan. Semuanya berjalan mulus dan tepat waktu. Sekali lagi, itu bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga cukup mengherankan kenapa sutradara satu ini tidak mendapatkan piala sutradara terbaik di ajang Indonesia Movie Awards tahun lalu. 

Surat Dari Praha memang dipenuhi berbagai macam topik, namun jelas yang mendominasi tetaplah cerita cintanya. Dan percayalah, Surat Dari Praha akan berhasil membuatmu terbawa perasaan kala menyaksikannya, apalagi untuk orang yang posisinya sama seperti Jaya, rasa cinta yang harus bertemu dengan hasil akhir yang pilu akibat keadaan yang tak memungkinkan, sehingga tak pelak menghasilkan rasa rindu. Surat Dari Praha mengajak kita ke dalam kisah cinta Jaya dan Sulastri baik lewat surat yang Jaya tulis, ataupun cerita dari Jaya sendiri, tanpa sekalipun diperlihatkan keduanya memadu kasih secara fisik. Hanya tersampaikan dengan kata-kata. Tetapi dengan dua pendekatan unik tersebut tampaknya telah lebih dari cukup untuk menciptakan imaji di benak penonton bagaimana besar nan indah cinta yang tumbuh dari mereka berdua. Sehingga saya pribadi mengutuk akan situasi yang menghalangi mereka untuk menyatukan perasaan mereka. Ya, lewat kisah cinta yang pahit namun manis ini, Angga tampaknya melontarkan kritik serta kemarahan pula pada pemerintahan kala itu yang mengambil langkah begitu ekstrim dengan mengusir setiap orang yang menolak rezim orde baru.

Surat Dari Praha berjalan begitu tenang, lembut bahkan dengan konflik yang terjadi sekalipun tidak pernah melunturkan kehangatan yang ada. Kentalnya perasaan rindu pun sontak membuncah setiap kali soundtracknya mengalun lembut melengkapi adegan yang terjadi di permukaan layar. Baik suara lembut Glenn Fredly, Julie Estelle maupun suara serak Tio Pakusadewo, semuanya berhasil membuat saya ikutan baper dengan cerita cintanya. Rasa nasionalis pun juga tidak ketinggalan bergelora kala lagu Indonesia Pusaka sukses meruntuhkan tembok pertahanan terakhir saya untuk tidak menjatuhkan air mata. 

Berbagai kelebihan di atas dilengkapi pula dengan performa kuat Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Chemistry yang mereka tampilkan hadir begitu natural, tanpa sedikitpun dipaksakan (terbantu juga akan naskah yang tidak mengharuskan mereka mengeluarkan dialog-dialog lebay). Namun walau Julie Estelle bermain bagus (and gorgeus like usual, of course), tetap susah memang tidak terpesona dengan kharisma serta penampilan memikat Tio Pakusadewo. Ekspresi yang ia keluarkan kebanyakan subtil, menahan gelora rasa cinta yang tidak pernah padam dan juga kerinduan yang tak terhalang. Disisi bersamaan ia juga memerankan sosok ayah yang sedang menemani putrinya mencari jawaban. Tidak semua aktor yang mampu mengucapkan kalimat cheesy seperti "saya akan mencintai dia, selama-lamanya" terdengar berkelas dan memiliki arti sesungguhnya seperti bung Tio lakukan. Semoga saja Tio akan sering bermain sebagai tokoh utama dibanding hanya pendukung di film-film yang ia bintangi selanjutnya.

Tidak mudah memang mendampingkan unsur sejarah atau politiknya dengan kisah cinta yang manis, dan telah banyak bukti yang gagal kala mencobanya (bahkan Habibie & Ainun terlalu melodrama buat saya), namun Angga membuktikan lewat Surat Dari Praha bahwa tidak perlu terlau mengeksploitasi nuansa cintanya demi mendapatkan hasil yang maksimal, karena dengan jalan penceritaan sederhana, tema cinta di dalam Surat Dari Praha masih terasa powerful, diiringi pula akan nilai sejarah dan politiknya yang melengkapi pilunya kisah cinta yang ada.

8,5/10



"You realize to be free in this life, breaking the rules meant nothing. You have to be strong enough to make your own."- Joe Coughlin 

Plot

Kehidupan dunia perang yang begitu banyak aturan militer dan semacamnya membuat prajurit Perang Dunia I, Joe Coughlin (Ben Affleck) bertekad untuk menjalani kehidupan bebas sesuai dengan apa yang ia inginkan. Joe memulai karirnya dengan merampok bersama teman-temannya. Aksi mereka mendapatkan perhatian Maso Pescatore (Remo Girone), salah satu ketua gangster yang memiliki kuasa di Boston. Mengetahui Joe memiliki affair dengan kekasih Albert, Emma (Sienna Miller), Maso pun menawarkan Joe untuk bergabung dengan dirinya.





Review

Mengangkat kisah ganster di periode sekarang merupakan tantangan yang berat tersendiri. Faktor utama jelas disebabkan film-film bertemakan serupa telah mematok standart yang begitu tinggi hingga layak disematkan gelar klasik, sebut saja dwilogi The Godfather dan Goodfellas. Sehingga jangan salah bila film ganster yang diproduksi setelahnya akan selalu diperbandingkan dengan film-film tersebut. Dasar cerita film gangster pun akan selalu sama, seperti persahabatan yang berujung akan pengkhianatan, intrik demi intrik untuk mencapai keberhasilan, dan tidak lupa kekerasan. Maka menjadi hal yang mustahil rasanya bila akan ada kreasi yang baru mewarnai film seperti ini. Beban tersebut ada di pundak Ben Affleck, sutradara muda yang sebelumnya telah menghasilkan film-film yang mampu memuaskan para kritikus, yaitu Gone Baby Gone (yang juga mengadaptasi novel karya Dennis Lehane), The Town dan Oscar winning movie, Argo. Saya yang mengikuti semua karya-karya Affleck tersebut jelas tidak sabar lagi untuk menyaksikan film yang turut pula diproduksi oleh Leonardo DiCaprio ini. Bukan hanya temanya mengenai gangster, tetapi Live By Night sebenarnya memiliki bumbu-bumbu yang seharusnya memudahkan Affleck menyulap Live By Night menjadi sajian yang memuaskan. Ya, seharusnya, karena di hasil akhir malahan yang saya dapat adalah rasa kecewa, dan sedikit sekali rasa terpuaskan 

Bumbu-bumbu tersebut adalah mengenai genre yang diangkat Live By Night, yaitu crime-drama. Affleck sebenarnya tidak lagi asing menyutradarai film bergenre serupa karena film-film sebelumnya pun tidak berjauhan dari genre tersebut. Gone Baby Gone menceritakan drama yang diselimuti kisah kriminal, berlawanan dengan The Town yang menceritakan aksi kriminal namun tidak ketinggalan drama nya yang mewarnai setiap narasinya. Mengapa keduanya berakhir dengan memuaskan? Mudah, karena Affleck berhasil menyuntikkan emosi kepada setiap karakter yang menjadi pusat cerita. Keberhasilan Affleck tersebut membuat para penonton begitu mudahnya terikat dengan karakternya, tidak perduli karakter tersebut protagonis ataupun antihero. Nah, di dalam Live By Night, saya tidak merasakan itu. Saya menyaksikan karakter-karakter disini bagaikan robot yang tidak memiliki emosi. Memang tidak semuanya, seperti hubungan Chief Figgis dan Loretta Figgis sebagai ayah dan anak, namun terlepas mereka berdua, karakter yang terlibat disini seperti tanpa masa lalu dan juga motivasi. Akibatnya cukup fatal karena dengan minimnya emosi, saya tidak terlalu perduli dengan kisah-kisahnya. Romansa antara Affleck dan Zoe Saldana pun tidak menawarkan story arc yang menarik, diperparah pula chemsitry yang sangat kosong antara mereka berdua.

Begitu banyak yang diangkat Affleck dalam durasi 128 menitnya, sehingga mudah untuk memaklumi bila Affleck memutuskan kisahnya dibagi dalam beberapa chapter. Affleck masih mencampur ceritanya dengan cerita yang lain dalam satu chapter sebagai bentuk usaha membangun pondasi demi berpindah ke konflik selanjutnya.Tidak ketinggalan pula dalam setiap kisah Affleck menyelipkan nilai agama, idealisme yang berbenturan dengan kepentingan bisnis.Sayangnya Affleck mengisi berbagai kisahnya dengan menebalkan aroma drama, tanpa ada letupan-letupan konflik yang mampu merebut atensi. Minim sekali unsur-unsur yang mampu membuat film gangster menarik, seperti yang sebutkan sebelumnya. Dan mengenai dramanya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya bila karakter nya bagai tanpa emosi, aspek drama nya pun menemui hasil akhir kegagalan. Untungnya aksi yang diletakkan di kesimpulan cerita cukup menghibur setelah beberapa puluh menitnya diisi dengan cerita yang membosankan. 

Live By Night untungnya disokong dengan teknis yang memuaskan. Sinematografinya menawan, desain produksinya pun secara meyakinkan memperlihatkan kehidupan pada periode 1920an, seperti setelan yang dipakai, tidak lupa juga rambut klimis tertata rapi yang begitu identik dengan para gangster. Dalam jajaran aktornya, Chris Cooper dan Ellen Fanning muncul sebagai yang terbaik dalam memaksimalkan perannya. Berkat keduanya pula kisah mengenai Loretta bagi saya adalah kisah yang paling menarik di Live By Night. Sebagai motor utama penggerak cerita, Ben Affleck tidak lah buruk karena dirinya memang cocok sekali memerankan karakter yang tidak membutuhkan ekspresi-ekspresi yang kompleks. Tetapi mungkin akan jauh lebih baik bila seandainya Leonardo DiCaprio yang mengambil alih posisi Affleck tersebut.

Mudah memang menyematkan Live By Night adalah film terburuk Affleck. Tanpa suntikan emosi pada tiap karakternya, adegan aksi yang biasa saja, juga minimnya intrik atau kekerasan seperti film gangster lainnya, Live By Night berakhir mengecewakan dan tidak meninggalkan kesan, yang bahkan sisi teknisnya yang begitu meyakinkannya menampilkan kehidupan 1920an, dilengkapi pula sinematografi memanjakan mata, tidak mampu menyelematkan kisah gangster membosankan ini.

6,5/10

Friday, 31 March 2017


"When you lose your self-respect, you're done for."- Daniel Blake


Plot

Mengalami serangan jantung kala bekerja, dokter pun menganggap kondisi Daniel Blake (Dave Johns) tidak memiliki kemampuan lagi untuk bekerja sebagai pengrajin kayu. Sebab itu, Daniel mengusahakan untuk mendapatkan support allowance, namun secara mengejutkan nilai Daniel tidak memenuhi standarisasi penerima support allowance sehingga permohonannya pun ditolak dan Daniel diberi dua pilihan, mencari pekerjaan baru atau mengajukan banding ke pengadilan. Di tengah usahanya itu, Daniel bertemu dengan Katie (Harley Squires), young single mother yang memiliki dua anak.


Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!