Friday, 13 September 2019


"That's all"- Miranda Pristley

Plot

Lulusan anyar jurusan jurnalis yang seketika mendapatkan pekerjaan yang diklaim beberapa orang merupakan pekerjaan yang membuat sejuta wanita rela untuk membunuh siapapun, itulah Andy Sachs (Anne Hathaway) yang secara mengejutkan mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten kedua Miranda Priestly (Meryl Streep), pemimpin redaksi majalah fashion, Runway. Miranda sendiri telah dianggap sebagai the living legend dalam dunia modeling serta dihormati oleh banyak orang, namun selain itu, dirinya pula dikenal sebagai wanita bertangan dingin dan tak kenal ampun jika telah berkaitan dengan pekerjaan. 



Review

Anda dan saya pasti pernah mendapatkan satu bos kejam tanpa ampun dalam suatu pekerjaan, dan jika memang salah satu dari Anda belum pernah merasakan, well, I will congratulate but feel a pity to you. Berada di bawah pimpinan yang kejam tanpa hati memang terdengar seperti kiamat dan kalau bisa dihindari, tetapi bila dipikir lebih dalam lagi, sebenarnya kita telah mendapatkan suatu pengalaman yang sulit untuk dilupakan, serta sering kali, pimpinan kita yang kejam tersebut malah menjadi salah satu bos yang mungkin pula sulit kita gerus dalam ingatan. Pengalaman seperti inilah yang akan didapatkan Andy, seorang gadis muda yang baru saja menyelesaikan studi kuliah nya di jurusan jurnalis, hidup di salah satu kota tersibuk di dunia, New York, harus menerima kenyataan jika dirinya akan segera mendapatkan bos kejam yang kelak akan memberikan pelajaran paling berharga sepanjang hidupnya.

"Million girls would kill for that job", statement yang tiap kali Andy dengar untuk posisi yang kini ia tempati. Memang, bukan sembarang orang yang memiliki kesempatan untuk bisa menjadi asisten pribadi seseorang yang dianggap begitu powerful dan berpengaruh. Pada awalnya pun, Andy sama sekali buta akan dunia fashion, bahkan ia tidak pernah membaca majalah Runway sehingga ia tidak mengenal siapa itu Miranda Pristley dan mengapa sosoknya begitu ditakuti, yang kelak ia akan ketahui dalam hitungan menit kala Andy menginjakkan kakinya di gedung kantor majalah tersebut untuk memenuhi panggilan interview.

Penonton pun juga tidak perlu menunggu lama karena saat film baru berjalan 2 menit saja, kita telah diajak berkenalan dengan sosok Miranda. Entrance dari Miranda sendiri diracik begitu apik oleh David Frankel, sang sutradara. Dengan memperlihatkan para pegawai bekerja, berlari kesana kemari melakukan tugasnya masing-masing, termasuk Emily (Emily Blunt), asisten pribadi pertama Miranda, lalu diperlihatkan pula Miranda yang perlahan menuju ke meja kantor nya. Kesan akan betapa ditakutinya Miranda oleh bawahannya telah sukses didapatkan penonton, dan saat lift elevator dibuka, kita pun akhirnya melihat sosok Miranda. Tidak butuh waktu lama, Meryl Streep langsung saja melakukan monolog, memberikan komando perintah pada Emily dan bawahan lainnya agenda apa saja yang harus dikerjakan, hingga ia tiba di meja kantor, melihat sekilas Andrea dan siap melakukan interview untuknya. Dan dalam durasi kurang lebih 1 menit itu pula, penonton telah terpana dan terkesima akan karakter ini.

Judul film ini tentu saja merujuk pada karakter Miranda. Kata "Devil" pun telah menggambarkan dirinya merupakan seorang pimpinan yang kalau bisa kita hindari, bahkan untuk hadir dalam mimpi pun jangan. Namun, dengan performa memikat dari Meryl Streep, saya justru selalu menantikan kehadirannya di setiap menit dalam film. Setiap gestur yang ia lakukan sangat mempesona dan anggun (ditambah lagi kecantikan abadi dari Meryl Streep), terlihat meyakinkan jika dirinya memang adalah sosok bos yang layak dihormati dalam dunia mode, ditambah dengan busana yang ia kenakan semakin menambah dosis keanggunannya. Saya pribadi suka sekali setiap kali Miranda menopangkan dagu di salah satu tangannya.


Sayang memang penampilan spesial dari Meryl Streep tidak diimbangi dengan penulisan cerita yang bisa dibilang sangat klise. Walau fondasi cerita nya cukup rapi, namun kisahnya sendiri bisa dibilang predictable. Penonton sudah bisa menebak jika karakter Andy akan mengalami kesulitan beradaptasi dalam pekerjaan terbaru nya, kemudian saat telah menemui titik terendah, ia akan bangkit dan berhasil memberikan pelayanan kerja yang baik sehingga bisa membuat Miranda kagum dan mulai menganggap dirinya. Konflik pun tercipta sesuai dengan tebakan saya, yaitu dengan keberhasilan Andy melakukan pekerjaan nya, ia justru semakin melupakan kehidupan pribadinya. Sebagai penulis naskah, Aline Brosh McKenna, memang seolah menolak untuk melakukan perbedaan. Konklusi dari konflik yang tercipta pun terkesan menggampangkan dan masih meninggalkan beberapa pertanyaan di benak. Saya pribadi cukup menyayangkan minus nya karakter Nigel (Stanley Tucci) di bagian akhir. Padahal karakter Nigel merupakan karakter yang paling suportif dan berpengaruh akan tahan banting nya Andy selama bekerja di Runway.

Beruntung The Devil Wears Prada memiliki protagonist utama sekaliber Anne Hathaway. Penampilannya bukan lah yang terbaik, namun ia cukup berhasil menggambarkan konflik batin yang dirasakan Andy. Anne pun juga memiliki pesona likeable sehingga tidak sulit penonton untuk memberikan simpati terhadap karakternya.

Ceritanya memang klise dan ringan, namun justru karena itu film ini mudah untuk diikuti. Ditambah lagi elemen komedinya ditangani dengan baik oleh David Frankel yang sadar akan timing. Tentu pusat komedinya adalah sulitnya Andy dalam memenuhi banyaknya permintaan dari Miranda yang sudah pasti tidak akan memaafkan kesalahan sekecil apapun, tidak perduli juga betapa mustahil nya order dari nya, yang hanya ingin ia ketahui adalah permintaannya terpenuhi atau tidak. Cocok sekali untuk dinikmati dalam waktu senggang, seraya bagi yang pernah berada di posisi Andy, bisa jadi The Devil Wears Prada menjadi wadah untuk penonton bernostalgia sembari menertawakan kesialan demi kesialan Andy, dan mengingat kembali hari-hari neraka ketika masih menjadi bawahan dari bos mengerikan tanpa kenal ampun.

7,5/10

Monday, 9 September 2019

"He's my good friend, and I like him, but, Dani, do you feel held by him? Does he feel like home to you?"- Pele

Plot 

Dani (Florence Pugh) dan Christian (Jack Reynor) sama-sama mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan mereka. Jika Dani merasa tertekan karena beranggapan dirinya terlalu membebani Christian, di sisi lain, Christian juga merasa terpenjara atas kecemasan berlebihan dari Dani. Namun, niat putus dari keduanya harus tertunda akibat tragedi yang menimpa Dani, dimana ia harus menerima fakta adiknya yang bunuh diri dan "mengajak" kedua orang tua nya untuk ikut bersama. Di tengah rasa duka, Dani pun mendapat kabar pula jika Christian hendak mengunjungi Swedia demi mengerjakan tesisnya bersama teman-temannya, yaitu Mark (Will Poulter), Josh (William Jackson Harper) dan Pelle (Vilhelm Blomgren). Tak tega meninggalkan sang kekasih sendirian yang tengah bersedih, Christian akhirnya mengajak Dani juga untuk ikut bersamanya dengan harapan, wisata yang mereka lakukan mampu menggerus rasa kehilangan Dani.




Review

Melalui teror mencekam yang saya saksikan dari Hereditary (2018), yang merupakan film panjang pertama dari Ari Aster, telah cukup bagi saya untuk memperhitungkan nama sutradara satu ini dan tentunya menantikan karya-karya Aster selanjutnya. Hereditary jelas merupakan sajian film yang spesial untuk saya, dimana hanya Hereditary yang berhasil memaksa saya untuk tidak berani beranjak dari kasur tidur saya untuk sekedar ke kamar mandi. Hereditary pula yang sukses membuat saya paranoid dengan plafon rumah sehingga saya tak memiliki keberanian untuk menatapnya. Tidak ragu saya menobatkan Hereditary adalah film terbaik tahun 2018 versi saya. Maka ketika mendapatkan berita jika Aster, kembali dengan naungan rumah produksi A24, merilis film bergenre horor lagi di tahun 2019, jelas saya tidak sabar untuk menyaksikannya.

Elemen-elemen dari Hereditary masih kita temui di film terbaru Aster ini, seperti hubungan disfungsional, rasa duka atas kehilangan, dan tidak lupa ritual. Jika pada Hereditary kita menyaksikan drama disfungional keluarga, dalam Midsommar, kita diajak untuk melihat retaknya hubungan asmara Dani dan Christian. Memang terdengar sepele, namun permasalahan generik kaum remaja ini seketika berubah menjadi tragedi mencekam sesaat unsur ritual keagamaan warga setempat turut mengambil peranan. Kala Dani beserta Christian dan teman-temannya berkenalan dengan komunitas Harga di Halsingland, perlahan namun pasti kita pun akan menangkap ada yang tidak beres dengan komunitas ini. Hingga pada puncaknya ritual Attestupa dijalankan (one of the most haunting moment in the film), para karakter utama kita pun menyadari jika mereka tengah "terperangkap" dalam komunitas yang fucked up.

Jujur, Midsommar bukan film yang mudah dinikmati jika mengambil dari perspektif penonton yang belum terbiasa akan film keluaran A24. Seperti film dari A24 lainnya, Midsommar menggulirkan narasi nya dengan tempo yang cenderung lambat. Tidak jarang Aster menyajikan suatu adegan yang seolah akan di akhiri dengan momen shocking berkat pengambilan gambar melalui long take nya, namun nyatanya adegan tersebut terasa menggantung seperti lewat begitu saja. Momen hening tanpa terjadinya apa-apa juga tidak sedikit. Bukan berarti adegan-adegan seperti ini tidak memiliki esensi sendiri karena ketika film berakhir, saya pun menyadari terdapat banyak foreshadowing atau petunjuk yang diberikan oleh Aster. Namun bagi mereka yang belum familiar akan pendekatan slow burning ini, pendekatan Aster akan memberikan kebosanan serta tidak bisa menangkap apa yang diniati oleh Aster. Sekali lagi, dan mungkin Anda bosan mendengarnya, film-film keluaran dari A24 memiliki pendekatan non konvensional dan untungnya saya sudah mulai terbiasa style seperti ini.

Jika berbicara mengenai permasalahan Midsommar, secara pribadi saya cukup kesulitan untuk mengikuti ritual keagamaan yang dilakukan oleh komunitas Harga. Lebih ke arah gak ngerti dan awkward gitu karena terkesan konyol. Secara tidak sadar, saya serasa diajak menjadi remaja kurang ajar layaknya Mark yang tidak menghormati tradisi kepercayaan agama atau komunitas ini. Pengenalan tradisi demi tradisi dalam komunitas Harga pun bagi saya cukup kelamaan. Saya rasa jika disingkat pun tidak terlalu masalah

Namun memang, dengan pendekatan perlahan pada proses pengenalan ini, Midsommar berhasil menebarkan aura creepy di tiap menitnya, terutama setiap kali komunitas Harga melakukan kegiatan ritual nya. Sensasi halusinasi yang dialami tiap karakter nya pada suatu kegiatan ritual memberikan efek mencekam nan melelahkan seolah kita ikut menjadi bagian pada ritual tersebut. Salah satu kekuatan penyutradaraan Aster ya itu tadi, pendekatan perlahan serta realistis. Gaya penyutradaraan Aster dalam menebar horor nya itu layaknya Anda sedang naik gojek untuk diantar ke suatu tempat, namun driver membawa anda melewati jalan yang asing untuk Anda. Dihinggapi rasa cemas, Anda pun memiliki banyak pertanyaan, hingga bahkan ingin segera diturunkan. Meski pun secara aman Anda tiba di tujuan, saya jamin sensasi perjalanan yang telah Anda lalui susah dilupakan akibat rasa cemas. Yap, analogi nya ngaco, tetapi contoh ini saya rasa tepat menggambarkan pendekatan yang dilakukan Aster dalam menebarkan terornya. Dalam Midsommar, teror dari Aster kali ini diimbangi pula oleh scoring indah namun mencekam juga dari Bobby Krlic/The Haxan Cloak. 

Pada opening scene, keduanya telah menunjukkan kolaborasi nya dimana Aster menyajikan adegan panjang percakapan melalui telpon antara Dani dan Christian untuk memberikan kita konteks akan kegelisahan Dani, sebelum kita nanti akan diberikan sebuah pemandangan tragis. Kamera bergerak lambat, diiringi perasaan penonton tersayat berkat tangisan parau dari Dani, dan tak lupa scoring dari Bobby untuk memberikan atmosfir kelam dan horornya. Viola, salah satu adegan pembuka film tahun 2019 terbaik tengah anda saksikan. Saya sendiri kala melihat adegan pembuka ini, hanya bisa teriak "HOLY SHIT" dalam diam seraya menantikan tragedi-tragedi apa lagi yang disuap Aster untuk saya. Dengan pendekatan realis ini pula, Aster tidak terlalu bergantung dengan visual gelap minim pencahayaan layaknya Hereditary untuk memberikan sensasi tidak nyaman untuk penonton.

Saya rasa disini Aster cukup sadar jika lambat nya plot narasi bergulir akan memberikan masalah bagi penonton yang telah terbiasa akan film horor mainstream. Untuk itu, ia menyiasati nya dengan memberikan gambar-gambar visual pemandangan indah layaknya lukisan daerah Halsingland. Sebagai Sinematografer, Pawel Pogorzelski jelas telah melakukan pekerjaan brilian dalam menangkap seluruh gambar-gambar indah memanjakan mata. Setidaknya dengan visual indah ini, cukup bisa mengobati rasa suntuk yang mungkin menghinggapi penonton.

Disfungsional antara Dani dan Christian pun bagi saya menarik karena di antara keduanya, masing-masing tidak berada di zona putih sepenuhnya. Pada awalnya, saya dan mungkin sebagian besar penonton mudah saja menaruh simpati pada Dani. Tragedi yang menimpanya menjadi faktor terbesar mengapa penonton berharap Dani akan baik-baik saja, setidaknya hingga credit roll di akhir nanti. Sebaliknya, rasa tidak suka mulai menghinggapi penonton terhadap Christian semenjak ia mengutarakan keinginan putus di awal film. Namun seiring berjalannya film, kita pun mempelajari sebenarnya Christian bukanlah pria brengsek sepenuhnya. Ok, dia memang terasa cuek dan tidak terlalu perduli pada Dani, bahkan melupakan momen terpenting bagi Dani, namun selebih itu, he's fine. At least, saya merasa ia tidak layak mendapatkan apa yang kelak nanti menimpanya.

Performa mengagumkan diberikan Florence Pugh. Aster kerap memfokuskan kamera dengan teknik long take terhadap muka Pugh demi menangkap apa yang Dani rasakan. Tentu harus memiliki teknik akting memadai dimana seorang aktor harus senantiasa mengeluarkan akting pergulatan emosi kala kamera tepat dihadapan Anda. Namun sedari awal kala Dani terlibat percakapan di telpon dengan Christian, saya telah dibuat terpana akan luwesnya Pugh dalam mengekspresikan rasa cemas pada karakter Dani.  Dari obrolan biasa, bahkan sempat ceria, bertransformasi menuju kegelisahan, rasa sedih terpendam, diakhiri dengan rasa sedikit kecewa. Semuanya ditampilkan meyakinkan oleh Pugh, dan ingat, ini baru beberapa menit Midsommar berjalan. Sebelum nantinya kita menyaksikan tangisan memilukan dari Dani, yang tidak kalah pedih nya seperti yang dilakukan Toni Collette dalam Hereditary. Menit demi menit berlangsung, performa Pugh senantiasa stabil dan tidak pernah mengecewakan. Paling berkesan tentu saja setiap Pugh menampilkan sisi emosional dari Dani, seperti setiap kali ia menahan tangis yang mana ia terlihat sekali tersiksanya.

Dari total durasi original 147 menit (versi Director's Cut malah 171 menit), akhirnya Midsommar masuk ke bioskop Indonesia dengan total durasi 138 menit. Tentunya pemotongan durasi 9 menit cukup banyak, dan hal ini cukup terasa di berbagai adegan, seperti contoh utama ya di tradisi ritual Attestupa, yang saya cukup sayangkan karena momen kesadisan yang ada sebenarnya bisa menjadi momen shocking supaya penonton bisa lebih terpaku untuk menikmati Midsommar hingga akhir. Namun setelah momen ini, LSF telah bekerja cukup baik untuk meminimalisir terganggunya penonton akan sensor yang ada. Palingan pada adegan sex scene saja kembali sensor begitu terasa, tetapi bagi saya, cukup mengetahui konteksnya, saya tidak terlalu keberatan atas peniadaan adegan ini. Yang jelas, saya jauh lebih bersyukur Midsommar akhirnya bisa rilis di Indonesia, setelah tersiar kabar jika film ini batal tayang di bulan Agustus lalu, sehingga saya pun memiliki kesempatan untuk menikmati sajian teror mencekam dari Ari Aster, yang melalui karya teranyar nya ini, semakin menegaskan jika ia adalah sineas horor yang patut diperhitungkan di era perfilman generasi saat ini.

8/10

Friday, 6 September 2019

"I did it for me. I liked it. I was good at it. And I was really... I was alive."
Salah satu moto saya setiap kali ingin mencoba film yang memiliki usia cukup "tua" namun mendapatkan predikat critical acclaim adalah tidak ada kata untuk terlambat. Saya ingin mengetahui seberapa bagus nya film yang kerap dipuji. Saya ingin mendapatkan pengalaman menyenangkan dari apa yang saya nikmati. Dan terakhir, saya ingin mempelajari bagaimana sebuah film mampu memuaskan berbagai pihak dan dianggap spesial oleh kalangan penikmat film. Sedikit cerita, dalam bulan-bulan belakangan, minat saya menonton film ataupun anime baru berkurang drastis. Bisa dilihat dari postingan saya di blog ini yang jumlahnya dari bulan ke bulan semakin berkurang. Kerap kali untuk mengisi waktu luang, saya lebih memilih film yang sudah saya tonton sebelumnya dan mayoritas adalah film yang saya sukai. Hingga pada awal bulan Juli, ketika saya mendapatkan salah satu cobaan yang paling berat dalam hidup saya, saya membutuhkan media hiburan sebagai bentuk escapism saya akan kenyataan. Dan pilihan saya pun jatuh pada TV Series, Breaking Bad, yang kerap kali dicap sebagai salah satu, jika bukan, serial tv paling berpengaruh dan terbaik yang pernah ada. 


Jelas salah satu faktor mengapa saya tergerak untuk mencoba Breaking Bad karena pujian setinggi langit dari kritikus maupun penonton. Selain itu juga mungkin faktor selanjutnya adalah betapa mengecewakannya hasil akhir dari season terakhir Game of Thrones, tv series paling populer setelah Breaking Bad, yang juga sering disebut mampu menjadi tv series terbaik, namun harus banyak yang menjilat ludah akibat season 8 nya yang berantakan. Tapi untuk saya, faktor utama dan paling pertama adalah fakta bila Breaking Bad memiliki protagonist utama anti hero tidak biasa, yaitu Walter White (Bryan Cranston). Genre yang diambil pun merupakan salah satu favorit saya, yaitu crime drama

Plot


Breaking Bad mengambil cerita seorang guru kimia SMA bernama Walter White, yang didiagnosa mengidap stage 3 lung cancer. Membutuhkan biaya lebih untuk perawatan kanker ditambah pula kebutuhan hidup sehari-hari, Walter nekad terjun ke drugs world, dimana ia memproduksi serta menjual narkoba jenis methamphetamine (serius, susah banget namanya). Dibantu oleh mantan muridnya, Jesse Pinkman (Aaron Paul), Walter perlahan-lahan semakin dalam terlibat dalam dunia kriminal. Terlebih, hasil "memasak" meth karya nya dianggap terbaik yang pernah ada, sehingga permintaan dari para junkie semakin besar. 

Tinggal di Albuquerque, New Mexico, Walter memiliki seorang istri yang tengah hamil, Skyler White (Anna Gunn) dan anak laki-laki, Walter Jr. (RJ Mitte), yang mengidap cerebral palsy. Selain itu, Walter pun memiliki adik ipar, Marie (Betsy Brandt) dan suaminya yang merupakan agen DEA, Hank Schrader (Dean Norris). Hank sendiri tengah gencar melakukan penyelidikan atas semakin maraknya penggunaan meth di lingkungan Albuquerque.



Breaking Bad, yang dibuat oleh Vince Gilligan ini terdiri dari 5 season, dan percayalah dari season ke season nya, semakin menebarkan atmosfir kelam, depresif, serta tragic yang hadir per episode. Saya sendiri cukup kaget betapa dark nya cerita Breaking Bad berkembang, terutama dari pertengahan season 3 hingga season 5. Padahal di awal-awal season, atmosfir yang ditawarkanBreaking Bad terasa family friendly sekali. Harmonisnya keluarga Walter, eratnya hubungan mereka dengan Marie dan Hank, serta dunia kriminal yang belum terlalu menjamah kehidupan Walter, terutama di season 1, Breaking Bad masih mudah untuk dilahap, dan terlihat normal untuk ditonton bersama dengan keluarga. Namun, seiring dekatnya dan familiar nya Walter berhubungan dengan kehidupan kriminal, tone penceritaan mulai cenderung depresif, intense, dan tragic sehingga memberikan kesan tidak nyaman setiap menontonnya. 

Saya sangat menyukai pendekatan para kreator Breaking Bad, diketuai Vince Gilligan, yang perlahan namun pasti. Memanfaatkan format episode nya, penonton diajak untuk mengenal lebih dalam masing-masing karakternya. Seperti Walter yang sangat mencintai keluarganya dan rela melakukan apapun demi kebahagiaan mereka, bahkan harus melakukan tindakan kriminal. Jesse yang terlihat dari luar hanya lah berandal junkie pembuat onar, namun di dalamnya terdapat hati mulia yang menyukai dan menyayangi anak-anak. Lambat laun, pekerjaan mereka sebagai penyuplai meth ini akan mempengaruhi kehidupan orang-orang terdekat Walter dan Jesse, dan semakin sering pula mereka harus memutar otak untuk bisa menjamin keselamatan kerabat mereka dari tokoh-tokoh kriminal yang berbahaya. Dengan 5 season, total 62 episode nya, jelas Gilligan & co. memiliki durasi jauh lebih dari cukup untuk mengeksplorasi para karakter nya. Tidak hanya Walter dan Jesse, kita pun melihat pendalaman berbagai karakter yang melingkari mereka, sehingga para karakter ini jatuhnya tidak hanya sekedar lewat saja. 


Bagi saya, penulisan karakter-karakter dalam Breaking Bad ini merupakan aspek terkuat serial tv ini. Untuk karakter Walter White sendiri, percayalah, saya bisa menulis satu artikel panjang untuk karakter anti hero terbaik yang pernah saya tonton dalam media serial tv/film ini. You know I freakin' love this character if I said so. Awal mula, Walter adalah pria berkeluarga normal dengan pekerjaan yang normal pula. Dari permukaan, mudah sekali untuk menilai jika ia adalah pria baik-baik. Dibantu pula kharisma likeable dari Bryan Cranston. Namun, dengan kondisi yang semakin menyulitkan, ia berani mengambil jalan 180 derajat dengan tenggelam dalam dunia kriminal. Seiring waktu, sosok Walter White yang baik kita kenal di awal semakin tergerus, dan tidak jarang kita membenci atau paling tidak menyayangkan keputusan amoral yang sering ia ambil, sehingga melahirkan sosok alter ego Walter, sekaligus "nama kriminal" nya, Heisenberg.


Demi melancarkan segala urusannya, Walter tidak segan-segan dalam mengambil keputusan, bahkan jika keputusan tersebut harus melayangkan nyawa orang lain. Dari kriminal kelas teri yang bahkan sering melakukan kecerobohan mendasar, menjelma menjadi mastermind dalam menjalankan agenda nya. Transformasi Walter White ini dikerjakan begitu mendetil oleh Gilligan. Dari motif, karakterisasi, hingga narasi masa lalu, Gilligan begitu memperhatikan hal-hal tersebut. Walter sendiri sebelum ia menjelma menjadi seorang raja dalam dunia narkotika, ia hanyalah pria berusia senja normal, bahkan cenderung menyedihkan. Ia didiagnosa mengidap kanker paru-paru meskipun ia sama sekali tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Sebagai guru pun ia tidak dihormati, bahkan ada satu momen, Walter dipermalukan oleh salah satu muridny yang sebelumnya sempat ia marahi. Dalam keluarga pun, Walter seolah powerless. Sebagai pemimpin rumah tangga, terlihat sekali ia terlalu "diarahkan" oleh sang istri, Skyler. Hank, adik iparnya, tidak jarang meremehkan atau bahkan menjadikan Walter sebagai bahan candaan. From the start, Walter already got my sympathy. 

Maka, saat Walter keluar dari "sangkar" dan melakukan tindakan diluar comfort zone nya, meskipun ilegal dan berbahaya, saya merasakan ada motif utama selain uang yang mendorong Walter memulai petualangannya sebagai kriminal. Perhatikan dialog berikut ini di season 1.

Jesse: Some straight like you, giant stick up his ass, age-what, 60? He's just gonna break bad? It's weird is all, okay? It doesn't compute. Listen, if you've gone crazy or something. I mean, if you've... if you've gone crazy or depressed, I'm just saying...that's something I need to know about. Okay? I mean, that affects me. 
Walter: I am awake.. 
See? Kerap kali, kita selalu mendengar Walter beralasan jika ia menyebrangi jalan penuh mara bahaya, masuk ke dunia kriminal demi mendapatkan uang adalah untuk keluarga. I did this for family, bla bla bla, tapi dari awal kita bisa menduga, Walter melakukan semua ini adalah berdasarkan keinginannya sendiri, dan di episode akhir, akhirnya Walter mengakui tersebut. Dia merasakan hidup, seolah terlepas beban yang selama ini menahannya. Ada kepuasan melihat dirinya di akhir, ia terang-terangan mengakui itu. Pada akhirnya, ada satu hal yang mana bisa memuaskan ego terpendamnya. Ia bisa mendapatkan respect dari orang yang mengetahui potensi sebenarnya, keberadaannya memiliki impact besar. Dan secara tidak langsung pun, ia memegang kontrol penuh dan bisa mengelabui Hank, yang notabenenya kerap meremehkan dirinya.



Bryan Cranston memberikan performa monumental sebagai Walter White. Tak berlebihan rasanya jika mengklaim Walter White adalah salah satu karakter terbaik yang pernah ada dalam sejarah serial tv, dan selain faktor penulisan karakter, penampilan Bryan Cranston juga memiliki andil besar. Bukan hal mudah memerankan dualitas pada satu karakter, dan Cranston mampu menyeimbangkan sosok Walter yang likeable, clumsy, innocent, namun disisi berseberangan, ia juga briliannya sukses menampilkan sosok Heisenberg yang sociopath, berhati dingin sehingga bisa memberikan order untuk mencabut nyawa seseorang. Terdapat banyak adegan yang membuat saya speechless berkat akting luar biasa Cranston, seperti pada adegan "I am the danger", monolog pada episode Fly, saya dipaksa untuk terharu bahkan menangis akibat aktingnya di the telephone scene dalam episode Ozymandias, namun favorit saya adalah di akhir adegan episode Crawl Space, dan oh boy, saya dibuat terpana, takjub akan totalitas yang diberikan Cranston. What a phenomenal job.

Selain memperdalam karakterisasi, Gilligan mengajak kita untuk melihat interaksi antar karakter.  Kita mempelajari hubungan yang terjalin, apakah itu sayang, perduli, hormat atau bahkan benci. Namun, tetap yang paling stood out adalah duet Walter-Jesse. Seiring berjalan episode demi episode, hubungan keduanya mengalami pasang surut. Tidak jarang mereka berdebat bahkan bertengkar akibat pendapat berseberangan, namun juga sering pula mengemuka hubungan hangat ala ayah dan anak pada dua karakter ini.



Barisan para antagonist nya pun tidak mau kalah. Ada Tuco (Raymond Cruz) yang memiliki masalah dalam mengatur temper nya, Jack Welker (Michael Bowen) yang hadir di season akhir, duo the cousins, Leonel dan Marco Salamanca (Daniel dan Luis Moncada) yang miskin bicara namun setia memberikan ancaman di setiap kehadirannya. Gilligan & co. juga membuktikan kepada penonton jika untuk menghadirkan villain yang berbahaya, tidak selalu perlu sosok pria/wanita tangguh dengan fisik menyeramkan. Hector Salamanca (Mark Margolis) masih mampu menebarkan teror dengan tatapan penuh kebencian walau dirinya hanya duduk di kursi roda. Oh, tidak lupa juga dengan lonceng di kursi roda nya yang mampu membuatmu tidak nyaman. Dan ada juga Lydia Rodarte-Quayle (Laura Fraser), wanita high profile (terlihat dari namanya yang.....ribet -_-) terlihat lemah dan mudah cemas, tetapi di dalam nya ternyata tidak terlalu jauh busuknya dengan para kriminal lainnya. Tetapi tentu saja yang paling memorable adalah Gustavo Fring yang diperankan brilian oleh Giancarlo Esposito. Berdosa sekali rasanya jika tidak membahas karakter satu ini.

Ekspresi di periode awal masa kerja.

 2 bulan selanjutnya.
Gustavo atau Gus sebenarnya tidak jauh berbeda layaknya Walter White. Dirinya harus menjalani kehidupan ganda demi menutupi kedok mereka dalam keterlibatan di dunia kriminal. Keduanya sama-sama kalkulatif, cerdas, dan ahli dalam melakukan pekerjaan mereka. Namun bedanya, Gus memiliki pengalaman yang jauh di atas Walter sehingga Gus lebih tenang dan acap kali mendahului Walter di setiap kesempatan. Kondisi inilah yang juga harus memaksa Walter senantiasa memutar otak untuk mengalahkan Gus, bahkan harus melakukan apapun supaya nyawanya terselamatkan. Percayalah, ancaman yang dihadirkan oleh Gus jauh berlipat-lipat dosis nya dibanding antagonist lainnya. Gus merupakan pria kalem, tenang, mampu memberikan kesan nyaman kepada setiap orang didekatnya, namun dibalik itu, ia adalah sosiopat penuh perhitungan yang membuat Anda berharap untuk tidak melihat dirinya yang sebenarnya. Tatapan mata tajamnya nya saja saya rasa sudah lebih dari cukup untuk membuat saya kencing di celana. Rivalitas antara Walter vs Gus inilah yang semakin menobatkan Breaking Bad sebagai tontonan yang keren dan susah dilupakan.



Ada alasan tersendiri mengapa Breaking Bad menjadi sajian yang memorable, dan itu tidak terlepas dari suntikan realis dari Gilligan & co. Breaking Bad bukanlah kehidupan layaknya dalam film The Godfather trilogy dimana Walter hidup dalam dunia keluarga mafia. Setting Breaking Bad tidak diambil layaknya perang kerajaan ala Game of Thrones, melainkan kisah Breaking Bad hanyalah diambil dari kehidupan pria normal dengan lingkungannya yang normal pula, begitu jauh dari lingkungan kriminal. Dengan pendekatan realis inilah, setiap Breaking Bad memiliki momen yang mencekam, intense, yang melibatkan karakter utamanya dalam bahaya, penonton pun merasakan ketidak nyamanan. Susah dilukiskan bagaimana jantung saya berdetak begitu tidak normalnya setiap Walter dan Jesse dihimpit masalah besar yang bisa saja mempengaruhi kehidupan sekitar mereka.

Ambiguitas moral terasa kental saat mengingat, tokoh-tokoh utama dalam Breaking Bad sebenarnya tidak ada yang bisa dikatakan benar-benar putih (mungkin pengecualian adalah Walter Jr.) sehingga terasa humanis. Masing-masing memiliki flaws nya, termasuk Hank sebagai agen DEA yang di akhir memperlihatkan jika ia rela melakukan apa saja demi bisa menangkap Heisenberg. Namun dengan fakta ini malah membuat saya menyukai hampir semua karakter nya, termasuk Skyler yang kerap dicap sebagai karakter paling menyebalkan dalam seri ini. Saya sendiri menyayangkan penilaian ini sih karena bagi saya, Skyler bukanlah karakter one dimensional. Oke, di awal-awal season saya bisa memahami pemikiran ini, namun sama seperti karakter lainnya, karakter Skyler pun ikut berkembang, sehingga ia nantinya menjadi salah satu faktor mengapa Walter bisa meneruskan karir underground nya. Ia tidaklah sempurna, bahkan melakukan kesalahan fatal yang disayangkan, tetapi pada akhirnya saya pun tidak bisa menyalahkan sepenuhnya atas tindakan Skyler.

Di tengah pusaran kisah drama kriminal yang semakin mengental dan berintensitas tinggi, Gilligan & co. tidak lupa juga sering menyelipkan komedi gelap nya yang kerap datang secara tak diduga dan di situasi yang tidak tepat (in positive way). Minimnya pengalaman Walter di awal karir kriminal nya dimanfaatkan Gilligan untuk menjadi sumber black comedy nya, begitu pula dari duet Walter-Jesse yang kerap kali berdebat hingga sesekali mereka adu jotos. Perkelahian pertama mereka di toilet selalu berhasil membuat saya tertawa tiap kali saya menontonnya. Setidaknya sentuhan komedi hitam ini sedikit memberikan warna cerah tersendiri di tengah semakin kelamnya penceritaan. Karakter  comic relief seperti Saul Goodman (Bob Odenkirk) atau bahkan si bodyguard pendiam favorit penggemar, Huell (Lavell Crawford) tentu dibutuhkan untuk meningkatkan dosis komedinya.




Permasalahan Breaking Bad sendiri bagi saya adalah pacing nya yang sering begitu lambat. Tidak jarang Gilligan & co. menghabiskan menit demi menit dalam episode nya dengan memusatkan pada dialog atau cengkerama antar karakter tanpa ada nya momen pelecut adrenalin, terutama di season 1. Hal ini menjadi alasan tidak terbantahkan mengapa Breaking Bad cukup susah untuk dinikmati bagi mereka yang ingin memulai petualangan mereka bersama Breaking Bad. Saya sendiri yang biasanya bisa menonton 5-6 episode serial tv, membutuhkan waktu 1 bulan untuk melahap habis season 1. But, it's worth it, yo! Pengalaman menonton Breaking Bad ini tidak jauh berbeda kala saya menikmati Hunter X Hunter, dimana di awal-awal terlihat biasa saja, cenderung membosankan bahkan. Namun, lama kelamaan, saya ikut tenggelam dengan ceritanya yang semakin jauh dari kata family friendly. Terbukti, jika di season 1 saya cukup membutuhkan waktu lama supaya menonton semua episodenya, di season 3 hingga 5, saya hanya membutuhkan waktu satu minggu saja untuk mengakhiri perjalanan saya dengan tv series ini. Meski bisa dibilang minim adegan aksi, namun percayalah, berkat pendekatan slow burning inilah, semua momen mencekam dalam Breaking Bad begitu nendang.

Cukup disayangkan bila banyak para newbie yang ingin mencoba Breaking Bad segera menyerah di season pertama karena memang dengan pacing yang lambat panas ini memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan kepada penonton supaya tenggelam dengan kisah para karakter yang terlibat, hingga tercipta koneksi antara kita dengan karakter nya.  Saya sarankan untuk Anda yang telah memiliki niat untuk mencoba Breaking Bad, bersabarlah. Tidak perlu terburu-buru, nikmati kisahnya secara perlahan, karena percayalah, Anda akan mendapatkan pengalaman menonton luar biasa di setiap seasonnya. Terutama di season 3 hingga akhir. Tentunya saya pun sangat menantikan El Camino yang akan dihadirkan Netflix nantinya.

"Yeah, BITCH!!"

Season 1: 8/10
Season 2: 8,5/10
Season 3: 9/10
Season 4: 9,5/10
Season 5: 10/10

Overall: 9/10





Monday, 2 September 2019

"Don't cry in front of  the Mexicans"- Cliff  Booth

Plot 

Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) merupakan aktor Hollywood yang terkenal lewat perannya sebagai Jake Cahill dalam western tv series, Bounty Law. Dirinya sempat menjadi aktor kelas atas, namun memasuki periode 60'an akhir, namanya kian meredup. Rick hanya mendapatkan jatah pemeran penjahat yang harus rela dihajar dan kalah di akhir cerita. Karir meredup Rick ini secara langsung berdampak pada stuntman sekaligus teman Rick, Cliff Booth (Brad Pitt) yang juga sepi akan pekerjaan. Keseharian Cliff pun hanya menjadi asisten antar jemput Rick, dan sesekali membantu Rick perihal pekerjaan rumah. Rick sendiri tinggal tepat bersebelahan dengan sutradara yang tengah naik daun, Roman Polanski (Rafal Zawierucha) bersama istrinya, Sharon Tate (Margot Robbie), seorang aktris muda yang tengah menapak karir di Hollywood.




Apa yang anda harapkan dari film hasil sutradara sekaliber Quentin Tarantino? Tentu nya sajian kekerasan banjir darah bersanding dengan dialog-dialog "seenaknya" namun memorable di tiap menit yang tidak ketinggalan akan umpatan-umpatan layaknya film Martin Scorsese. Ya, bila Anda penikmat film, nama Tarantino jelas lebih dari sekedar nama. Tarantino adalah salah satu sutradara yang paling dihormati dalam dunia perfilman. Namanya seolah telah menjadi jaminan jika film yang disutradarai nya sudah hampir pasti akan berakhir memuaskan. Dari Reservoir Dogs, Pulp Fiction, dwilogi Kill Bill, hingga The Hateful Eight, tidak ada yang mengecewakan. Semuanya critical acclaim yang membuat Tarantino memiliki penggemar yang lumayan masif. Setelah "libur" sebagai sutradara dalam kurun waktu 4 tahun, karya kesembilan Tarantino pun lahir di tahun ini. Semua penikmat film menantikan, termasuk saya. Apalagi tersiar kabar jika ini adalah film terakhir dari Tarantino, dan apabila isu ini benar, sayang sekali, karena saya sedikit kecewa akan film ini. And dare I say it, this is the worst Tarantino's movie. Let me explain you why.

Berdasarkan judulnya, Tarantino seolah menulis surat cinta melalui Once Upon a Time in Hollywood (next, I'll call it OUATIH) ini akan perfilman Hollywood, tepatnya periode 50-60an. Lengkap dengan referensi film/tv series yang populer pada zaman itu, seperti The Great Escape, Batman, FBI dan sebagainya, lengkap pula penempatan beberapa film fiksi bergenre western movie yang tengah digandrungi kala itu, bahkan OUATIH ini begitu kental akan atmosfir western nya disebabkan dari gaya berpakaian Rick dan Cliff bagaikan koboi. Tidak ketinggalan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Bruce Lee (yang mengundang kontroversi akibat penggambaran karakter versi Tarantino yang almarhum miliki dalam film ini yang dianggap tidak menghormati Bruce Lee) dihadirkan atau paling tidak disinggung namanya. Musik latar berusia tua pun bertebaran di tiap adegan untuk penambah injeksi setiap momen. Dan jujur, untuk saya yang bisa dikategorikan penggemar film muda yang begitu buta akan situasi dunia Hollywood periode 50-60 an, tentu saja referensi yang bertebaran dalam OUATIH membuat saya tersesat. Saya tidak bisa membedakan mana adegan film/tv yang fiksi, ataupun yang nyata. Terlebih lagi, Tarantino masih menyuguhkan dialog nya yang lumayan cepat sehingga saya kesulitan untuk mengikuti, walau saya harus akui, jika dibandingkan film-film Tarantino sebelumnya, dialog-dialog dalam OUATIH jauh lebih "fokus", tidak terlalu ngalur ngidul sebelum ke inti suatu adegan. Namun entah kenapa, dialog dalam film ini tidak lah terlalu memorable

Fokus penceritaan pun terasa kurang fokus, dimana OUATIH menceritakan tiga karakter protagonist utama, yaitu Rick, Cliff dan Sharon. Story arc Rick dan Cliff tidak jauh berbeda. Keduanya tengah mengalami penurunan dalam karir mereka dalam dunia Hollywood. Yang membedakan adalah cara menyikapi fakta tersebut. Bila Rick kerap merasakan kecemasan berlebihan, bahkan sering menangis saat mengeluh bintang nya semakin pudar, beda hal dengan Cliff, yang justru lebih dewasa dan santai dalam menerima fakta. Cliff tetap menjalani kehidupan sehari-hari nya seperti biasa, bermain dengan anjing peliharannya yang setia, dan tetap setia dalam mengantar jemput Rick. Padahal jika dilihat dari kasat mata, Cliff harusnya lebih tepat untuk mengeluh. Terlihat kala Tarantino membandingkan kehidupan Cliff dan Rick yang seolah beda kasta. Cliff mendiami home trailer ditemani sereal murah dan tv kecil, berbalik dengan Rick yang mendiami rumah mewah dan kolam renang pribadi sembari menikmati minuman alkohol mahal nya kala menghapal naskah. Padahal, Cliff merupakan pahlawan perang yang mampu melakukan apa saja. Muncul dalam benak jika Cliff mungkin lebih layak berada di posisi Rick.

Di lain sisi, ada Sharon Tate, istri dari sutradara yang tengah booming, Roman Polanski, yang tengah menanjak karir nya berkat pesona nya sebagai aktris muda yang cantik dan seksi. Kita diajak untuk mengenal Sharon lewat kehidupan sehari-hari nya. Bercengkerama dengan teman-temannya, berpesta dan menonton film yang ia bintangi di bioskop biasa. Saat menonton film itulah, kita akhirnya mengenal sisi lain dari Sharon, yang tak lebih dari aktris muda yang girang kala penonton menikmati karakter yang ia perankan. 

Dalam durasi nya yang kurang lebih 2 jam dari keseluruhan 160 menit, tepatnya sebelum narasi bergerak ke akhir, Tarantino seolah menjadikan OUATIH sebagai media slice of life ketiga karakter utamanya. Saya pun harus mengakui cukup bingung dan tersesat apa sebenarnya yang ingin Tarantino sampaikan lewat film ini. Apakah ingin menceritakan seorang aktor yang tengah mengalami keterpurukan atau sebaliknya? Parahnya lagi di pertengahan, Tarantino menyajikan tiga narasi yang seolah tidak ada benang merahnya, dimana tiga karakter ini memiliki story arc nya masing-masing di tempat yang berbeda. Makin tersesat lah saya, sehingga tidak terpungkiri kebosanan mulai menghampiri, ditambah lagi bertebaran referensi film/tv series jadul tahun 50-60 an yang kebanyakan tidak saya ketahui. Maaf saja jika saya beranggapan Tarantino membuat film ini untuk mereka yang tahu seluk beluk dan memiliki wawasan luas dalam dunia Hollywood, terutama periode yang saya singgung sebelumnya, tanpa memikirkan apakah juga bisa dinikmati untuk penonton awam seperti saya.

Masih ada beberapa momen menghibur yang lumayan mampu mengusir kantuk, seperti penyutradaraan yang nyeleneh ala Tarantino ada. Penempatan flashback scene yang kerap muncul tiba-tiba juga menambah warna OUATIH. Terlepas dari benar atau tidak penggambaran karakter Bruce Lee disini, tetapi harus saya akui, ketika ia sparring dengan Cliff itu sangat menghibur untuk saya. Adegan kekerasan brutal yang hadir di penghujung film tentu saja sudah saya tunggu-tunggu kehadirannya (more on that later). Bukan film Tarantino banget jika minus adegan kekerasannya. 

Kelemahan di narasi cerita cukup mampu ditutupi akan eksplorasi tiga karakter utama serta kualitas yang membintanginya. Anxiety dari Rick digambarkan sempurna oleh Leonardo DiCaprio. DiCaprio mampu memerankan dualitas karakter Rick dimana Rick bisa menjadi laki-laki macho yang sudah terbiasa dengan baku tembak kala syuting berjalan, lalu bertransformasi menjadi Rick yang bahkan dengan mudah menangis akibat kecemasannya yang berlebihan. Bahkan ada suatu momen dimana DiCaprio begitu luwesnya memerankan dua versi Rick Dalton dalam waktu berdekatan. Adegan Rick meluapkan kekecewaan serta kemarahannya dalam trailer bagi saya adalah momen terbaik dalam OUATIH. Brad Pitt tentu saja tidak kesulitan memerankan Cliff sebagai karakter macho nan badass. Duet DiCaprio-Pitt menjadi elemen terkuat dalam OUATIH berkat chemisty meyakinkan mereka, sehingga saya cukup menyayangkan adegan mereka dalam satu layar cukup minim dalam film berdurasi dua jam lebih ini. Andai saja Tarantino lebih memilih mengeksplorasi hubungan persahabatan mereka. Margot Robbie memang cukup tenggelam dibanding dua aktor besar ini, tetapi ia masih bisa menunjukkan kebolehan aktingnya, terutama di adegan bioskop. Perhatikan ekspresi bahagia nya kala penonton menyukai karakter yang ia perankan, terasa genuine seolah menggambarkan perasaan Robbie sebenarnya, bukan Sharon.

Dalam membangun ketegangan, Tarantino masih ahli nya. Yang pertama adalah saat Cliff masuk ke "sarang" nya hippies. Lalu yang kedua sajian penuh kekerasan nan brutal di penghujung cerita. Yang saya sukai dari Tarantino adalah setiap adegan slow burning nya, Tarantino lebih memilih kesunyian dalam membangun intensitas, minus sound effect. Penonton dibuat tidak nyaman, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Glorifikasi kekerasan yang mengeksploitasi darah tersaji di adegan pertarungan pada akhir film, dihiasi call back dari Tarantino yang menjadikan beberapa momen yang terjadi sebelumnya memiliki esensi. 

Spoiler beware!!!!!

Kala judul film muncul tanda berakhirnya film, terlintas dalam benak, ada yang salah pada film ini. Tentu Tarantino memiliki maksud dan pesan sendiri yang ingin ia sampaikan melalui OUATIH. Diliputi kebingungan, saya pun mencoba gugling isu apa yang ingin diangkat Tarantino. Rupanya Tarantino mengangkat cerita dari tragedi penembakan Sharon Tate di 8 Agustus 1969, yang merenggut nyawa Tate dan teman-temannya. Tarantino pun menciptakan alternate reality layaknya Inglourious Basterds (2009) dimana dalam filmnya, Sharon Tate dan temannya justru selamat, karena para pelaku penembakan justru mengubah targetnya menjadi Rick Dalton akibat perilaku tidak menyenangkan Rick terhadap mereka. Para pelaku pun berakhir tragis karena kesalahan mereka memilih target, sehingga secara tidak langsung, jika kita mengetahui konteks nya, Rick dan Cliff (dan anjing peliharannya) telah menyelamatkan Sharon dan temannya. 

Karakter Rick dan Cliff sendiri adalah karakter fiksi. Penggambaran karakter Rick Dalton bagaikan kombinasi dari aktor kawakan periode 50-60 an seperti Steve McQueen (The Great Escape) dan Ty Hardin. Klimaks di akhir bagaikan kenyataan ideal bagi Tarantino. Andai ia bisa mengubah sejarah, ia berharap ada karakter seperti Rick dan Cliff sehingga mampu menghalangi tragedi yang terjadi. Dan sesungguhnya, pusat penceritaan OUATIH sebenarnya adalah Sharon Tate. Film ini seperti didedikasikan untuknya dari Tarantino. Dengan mengetahui konteks ini, saya pun mengerti jika Tarantino menganggap film teranyar nya ini adalah karya paling personal untuknya.

Spoiler End!

Seperti yang saya tulis sebelumnya jika film ini pasti mudah dinikmati oleh para penonton yang paham akan referensi atau paling tidak tahu konteks filmnya. Saya pun cukup yakin jika menonton film ini lagi, kepuasan saya akan bertambah beberapa kali lipat. Namun, untuk first viewing, pendapat saya tidaklah berubah. Susah untuk mengungkapkan saya puas dengan hasil akhir dari film ini jika saya sering dilanda kebosanan dan tersesat akan narasi cerita nya. Masih menghibur, terutama penggambaran karakter Rick dan Cliff dibantu performa mengagumkan DiCaprio (like usual) serta kuatnya chemistry nya bersama Brad Pitt, tetapi untuk film karya sutradara sekaliber Quentin Tarantino, of course I was expecting more than this.

7,5/10



Friday, 12 July 2019


Plot

Kehidupan apa adanya keluarga Ki-Taek (Kang-ho Song) mengalami perubahan kala anak laki-lakinya, Ki-woo (Woo-sik Choi), menjadi tutor pribadi Da Hye (Hyun Seung-min), putri dari Mr. Park (Sun-kyun Lee) dan Yeon-Kyo (Yeo-Jeong Jo).




BEWARE!! MINOR SPOILER BELOW

Review

Menyenangkan sekali rasanya di kala gempuran film superhero dari DC atau Marvel serta minim kreasi akan Hollywood, terdapat film berkualitas dari benua Asia mewarnai layar bioskop Indonesia. Bila tahun lalu ada Searching yang berhasil menarik perhatian para penonton kasual Indonesia, tahun ini juga dari negeri Ginseng, tampaknya Parasite sukses memberikan kesan yang sama. Terbukti, walau sudah 2 minggu tayang di CGV PTC Palembang, kursi bioskop untuk pemutaran Parasite masih dipenuhi oleh para penonton.  Parasite, yang memiliki judul Asia Gisaengchung ini, disutradarai oleh sutradara legenda, Bong Joon-ho. Bong Joon-ho mungkin dikenal luas melalui karyanya Snowpiercer 5 tahun lalu, namun jauh sebelum film tersebut, tepatnya di tahun 2003, Bong Joon-ho telah menarik perhatian para kritikus film lewat film thriller detektif Memories of Murder yang dianggap sebagai salah satu, jika bukan, film Korea Selatan terbaik. Memories of Murder pun juga menjadi inspirasi bagi David Fincher dalam menyutradarai film Zodiac. Lalu ada juga The Host yang merupakan salah satu film Korsel tersukses sepanjang masa. Tentunya nama Bong Joon-ho ini menjadi daya tarik utama bagi saya untuk sebisa mungkin menikmati karyanya terbaru ini di layar bioskop, terlebih setelah membaca sekali lewat review-review di internet, sang sutradara masih membawa signature nya, dengan plot twist dengan black comedy nya yang kental. 

Saya sengaja untuk sama sekali tidak mencari tahu cerita apa yang diangkat oleh Joon-ho dalam Parasite. Saya ingin dikejutkan oleh Joon-ho, saya ingin dibuat terpana akan twist yang telah disiapkan. Saya yang mengekspektasikan sebuah kisah crime thriller, cukup terkejut ketika di menit-menit awal film cukup beratmosfir cerah, dimana kita diajak untuk berkenalan dengan keluarga Ki-Taek yang tinggal di rumah yang sangat sederhana. Tidak hanya terasa family friendly, namun komedi juga sangat kental. Rasanya mustahil untuk tidak tertawa melihat Ki-woo dan Ki-jung (So-dam Park) harus rela duduk di wastafel toilet demi mendapatkan sinyal wifi. Secara singkat, kesan hangat berhasil saya rasakan melihat kehidupan sehari-hari dari keluarga ini. Meski hidup pas-pasan, namun setiap anggota keluarga terlihat begitu akrab. Mereka masih menikmati hidangan makanan bersama dengan memandang pemandangan melalui jendela yang menghadap langsung ke jalan, hingga menonton video di kanal youtube pun mereka lakukan bersama. Dengan pengenalan singkat ini, susah rasanya untuk tidak menyukai keluarga ini. Mengenai komedinya sendiri, Joon-ho begitu apik dalam memperhatikan comedy timing nya. Contohnya saja dengan gestur membungkuk badan dari anak kecil sukses meledakkan tawa seluruh penonton dalam bioskop berkat konteks yang ia berikan sebelumnya. 

Pendekatan yang efektif ini berguna bagi penonton untuk membangun kedekatan dengan mereka, sehingga ketika nanti keluarga ini mulai melakukan penipuan terhadap keluarga kaya raya Mr. Park, kita tidak serta merta langsung membenci mereka. Oke, yang mereka lakukan adalah perbuatan kriminal, namun dengan fakta mencari pekerjaan yang sangat sulit, saya bisa memahami akan pilihan yang mereka ambil. Ditambah lagi, bukannya nepotisme dalam kehidupan nyata bukanlah hal yang baru? Bukankah perusahaan-perusahaan besar juga menerapkan sistem perekrutan kerja yang serupa? Terlebih, ketika setiap anggota keluarga Ki-Taek berhasil diterima bekerja, mereka tetap melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Tidak ada usaha untuk melakukan tindakan kriminal seperti pencurian barang berharga yang mereka lakukan. Dengan fakta inilah, saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya atas keputusan yang mereka ambil, sebaliknya, saya justru ingin mereka tetap bisa bekerja dengan keluarga Mr. Park. Di sisi lain, dari keluarga Mr. Park pun bukanlah digambarkan sebagai keluarga kaya yang seenaknya. Baik Mr. Park, istri serta kedua anaknya, mereka menghormati para pekerja mereka. Bahkan di pertengahan film pun di ungkapkan jika Mr. Park keberatan dengan bau badan dari salah satu karakter. Meski begitu, hal ini ia simpan dan hanya ia ceritakan bersama istrinya. Oh, by the way, bau badan ini akan menjadi elemen yang penting di akhir cerita. 

Paruh awal didominasi narasi bagaimana keluarga Ki-Taek mengelabui Mr. Park dan keluarganya. Atmosfir nya masih terasa ringan, tidak lupa bumbu komedi yang masih kental. Hingga kala rencana yang dilakukan berjalan lancar, pada suatu malam dengan bel rumah berbunyi, mimpi buruk untuk keluarga ini dimulai. Dan dari sini pula, pergerakan cerita berbelok menjadi thriller yang menegangkan. Untuk penonton yang tidak mengantisipasi, tentu saja kelokan narasi ini akan memberikan efek ketegangan luar biasa. Sebenarnya Joon-ho telah memberikan tease sebelumnya lewat momen perangkap yang dirancang oleh Ki-woo dan Ki-jung, namun memang kelokan ini seolah menghapus sebagian besar unsur "keasikan" di paruh awal. Masih ada memang black comedy yang ada, tetapi unsur tersebut tenggelam di tengah kental nya momen mencekam serta atmosfir kelam yang hadir di tiap menit nya. Dibantu pula dengan setting nya yang terjadi di malam hari serta hujan yang lebat. Saya sendiri berhasil dibuat Joon-ho kesulitan bernafas berkat keapikannya menangani momen-momen thriller nya. Dibantu juga dengan garapan soundtrack yang cukup gloomy dari Jaeil-Jung

Film yang berhasil memenangkan Palm d'Or di festival Cannes ini begitu kental akan isu mengenai kasta kehidupan. Dari dialog saja sering kali menyinggung akan hal ini, salah satu contoh saat sang ibu, Chung-sook (Hye-jin Jang) mengungkapkan bila mudah saja untuk orang kaya memilih untuk menjadi orang baik. Tentu keluarga mereka tidak perlu repot-repot untuk melakukan penipuan bila saja mereka hidup berkecukupan. Bagi yang kaya, segalanya tampak mudah. Berbanding terbalik dengan si miskin yang mana untuk mendapatkan pemandangan yang layak ketika menikmati sarapan saja harganya begitu mahal bagi mereka. Puncaknya kala momen kegilaan di akhir cerita, memperlihatkan kenekadan yang (mungkin) lahir dari rasa lelah menerima kenyataan.

Para aktor bermain dengan baik, namun jika ditanya yang terbaik, pilihan saya jatuh pada So-dam Park dan, tentu saja, Kang-ho Song yang telah menjadi aktor langganan Joon-ho. So-dam Park begitu piawai dalam memerankan Ki-jung yang manipulatif, tenang nan cerdas. Kang-ho Song pun tidak perlu ditanya lagi akan kapabilitas nya dalam menyeimbangkan momen komedik dan serius untuk karakter nya. 

Kelemahan Parasite yang cukup mengganggu bagi saya terletak pada endingnya yang cukup dragging atau kelamaan. Saya rasa Parasite jauh lebih baik jika ditutup narasinya dengan kesan ambigu, tanpa harus dijelaskan secara mendetil. Piawainya keluarga Ki-Taek dalam melakukan penipuan juga patut dipertanyakan dari mana asalnya karena Joon-ho tidak mengeksplornya lebih dalam. Setali tiga uang dengan Mr. Park dan istrinya yang tampak mudah dikecoh, yang membuat saya bertanya-tanya bagaimana Mr. Park bisa menjadi pengusaha sukses jika dirinya saja bisa mudah dikelabui oleh keluarga Ki-taek yang notabenenya bukanlah penipu kelas atas. Namun rasanya tidak mungkin untuk tidak puas terhadap hasil akhir Parasite berkat penggambaran ironi kehidupan yang apik dari Joon-ho serta gabungan antara komedi dan thriller di setiap menit nya, menjadikan Parasite sebagai salah satu film terbaik pada tahun ini. Tidak mengejutkan jika beberapa tahun kedepan, Hollywood akan meremake karya Joon-ho ini.

8,5/10



Thursday, 4 July 2019


"The world need the next Iron Man"- Peter Parker

Plot

Delapan bulan rupanya masih terlalu singkat untuk umat bumi melupakan perang besar yang telah terjadi. Kemenangan memang berhasil diraih, namun harus dibayar akan pengorbanan nyawa yang dilakukan Tony "Iron Man" Stark (Robert Downey Jr.), Natasha "Black Widow" Romanoff (Scarlett Johanson), Steve "Captain America" Rogers (Chris Evans) dan Vision (Paul Bettany). Publik pun bertanya-tanya siapa pengganti mereka, terutama Iron Man. Beban besar di sandang oleh para Avengers yang tersisa, termasuk Peter Parker (Tom Holland) sebagai Spider-Man, dalam meneruskan tugas Avengers. Namun, Peter merasa ia butuh rehat sejenak dari kesibukan nya sebagai Spider-Man. Peter memiliki rencana tersendiri yaitu memanfaatkan study tour sekolahnya untuk bisa berdekatan dengan MJ (Zendaya). Sebab itulah ia sebisa mungkin menghindari panggilan tugas dari Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang sebenarnya membutuhkan sosok Spider-Man untuk menghadapi makhluk-makhluk yang dinamakan Elemental yang kerap hadir di berbagai belahan dunia. 



Review

Pondasi ceritanya memiliki perbedaan yang kontras. Disatu sisi, ada kisah ancaman kehancuran dunia, lalu di sisi lain ada sesosok remaja yang bertekad untuk bisa menyatakan cintanya. Peter dipaksa harus menentukan pilihan apakah ia harus menjalankan tugasnya sebagai anggota Avengers atau lebih mengedepankan kisah asmaranya yang ingin ia bangun bersama MJ. Ada kisah kepahlawanan, lalu coming of age layaknya film romcom pada umumnya. Keduanya melebur menjadi satu, untuk menjembatani proses pendewasaan diri Peter Parker. Narasinya jelas mengingatkan kita akan film kedua dari Raimi's Spider-Man trilogy (Which is, still the best Spider-Man movie ever), yang membedakan adalah pada karakter Peter Parker itu sendiri.

Jika di Spider-Man 2, kita diperlihatkan Peter Parker kesulitan dalam mengimbangi kehidupan normal nya bersamaan dengan tugasnya dalam memerangi kriminalitas sehingga melahirkan kebimbangan, di Far From Home sebaliknya, Peter Parker versi terbaru ini justru menghindari tanggung jawab nya sebagai Spider-Man dengan lebih memfokuskan pada kehidupan masa remaja nya. Ia merasa dunia tidak terlalu membutuhkan Spider-Man karena masih banyak superhero lainnya yang jauh lebih superior dibandingkan dirinya. 

Terdengar egois? Memang. Wajar saja jika Anda merasa karakter Peter disini cukup menyebalkan, namun harap diingat lagi, Peter masih berusia 16 tahun. Ia masih duduk di kursi SMA. Ditambah lagi dengan apa yang telah ia saksikan selama ia berkarir menjadi Spider-Man, mudah dimengerti bila semangat dan antusiasnya yang ia perlihatkan kala Tony merekrutnya bergabung menjadi Avengers kini mulai luntur dan ia merasa perlu rehat sejenak supaya bisa menikmati kehidupan normal nya. 

Dalam bimbangnya inilah, Peter selalu merindukan sosok Tony yang sudah menjadi father figure untuk dirinya. Tanpa Tony, ia mulai kehilangan arah dan tidak tahu keputusan apa yang harus ia ambil. Di tengah-tengah rasa kehilangan, muncul lah Quentin Beck (Jack Gyllenhaal) yang hadir kala menghadapi salah satu Elemental yang hadir di sungai Venise sekaligus membantu Peter menyelamatkan teman-teman satu sekolah nya. Dalam waktu singkat, kehadiran Quentin atau nantinya disebut sebagai Mysterio berhasil mengisi kekosongan seorang Tony dalam memberikan wejangan kepada Peter. Seperti yang Peter ungkapkan, ia begitu lega ada teman superhero yang bisa dijadikan tempat untuk cerita. 

Ceritanya berpotensi melahirkan kompleksitas, terlebih ada beberapa momen yang bila dieksplor sedikit lebih dalam, akan memberikan warna tersendiri akan sosok Peter Parker bahkan bisa berdampak atas hubungannya dengan MJ, namun penulis naskah Erik Sommers dan Chris McKenna memilih jalur aman dalam menggulirkan penceritaannya sehingga momen-momen tersebut terasa hanya menjadi pengisi durasi saja. Far From Home nyatanya memang masih terasa ringan walaupun tema nya yang bersentuhan pada proses pendewasaan diri dan tanggung jawab besar pada diri Peter Parker. Jokes ala MCU juga masih hadir, sedikit hit and miss, yang mana Ned (Jacob Batalon) dan Betty (Angourie Rice) berhasil menjadi spotlight berkat comedy timing mereka yang nyaris sempurna. Terkhusus untuk Ned, saya akhirnya berhasil menyukai karakter nya disini.  Juga,  untungnya jokes yang hadir tidak sampai mendistraksi cerita yang tengah berlangsung, kecuali ada satu adegan di akhir. Kalau boleh jujur, saya ingin Marvel atau Disney mengurangi kadar jokes nya sih, ya ga perlu harus hadir kala momen menegangkan tengah terjadi, terutama di menit-menit akhir. 

Cerita nya yang memang bergulir cukup biasa saja, berhasil ditutupi dengan adegan aksi nya yang luar biasa menghibur. Semenjak pertama kali Mysterio berhadapan dengan Elemental di sungai Venise, saya telah mematok ekspektasi yang tinggi untuk adegan-adegan aksi selanjutnya. Bangunan-bangunan yang runtuh berhasil menjadi arena bermain bagi pahlawan kita yang sering memanfaatkan celah-celah sempit untuk menyelamatkan diri, sedangkan Mysterio dengan kemampuannya yang misterius (sesuai nama julukannya) berhasil mengimbangi keliaran dari aksi Spider-Man lengkap dengan gas(?) berwarna hijau nya. Percayalah, sama sekali tidak ada adegan aksi yang mengecewakan. Namun jika harus memilih momen terbaik dari Far From Home, jawaban saya tentu saja adalah dream sequence yang hadir di pertengahan cerita kala twist nya telah terungkap. Momen ini wajib, sangat wajib, harus Anda saksikan di bioskop. Kreativitas nan kegilaan dari Jon Watts semuanya tertumpahkan di adegan ini, dibantu dengan special effect mengagumkan serta pergerakan kamera yang begitu dinamis, memaksa saya untuk takjub dan rasanya ingin segera memberikan standing ovation hanya untuk adegan itu saja. Sekali lagi, adegan ini harus Anda saksikan dalam layar bioskop. Trust me, you'll be glad  you did. 

Tom Holland pun semakin matang dalam memerankan the friendly neighborhood Spider-Man, dan ia pun juga membuktikan jika ia memiliki kharisma yang mudah disukai penonton. Memang karakter Peter cukup menyebalkan di awal-awal, tapi berkat kharisma Tom Holland, kita menjadi mudah memaafkan kesalahan yang dilakukan Peter. Terlebih, Holland pun mampu senantiasa memancarkan kesedihan hanya melalui tatapan mata. Aktor pendukung yang ada pun berhasil memerankan karakter masing-masing dengan sesuai porsi. Zendaya begitu manis dalam memerankan MJ yang gloomy, sarkastik untuk menyembunyikan rasa perduli nya. Jake Gyllenhaal berpotensi menjadi scene stealer, walau akhirnya tidak demikian, namun bukan berarti aktingnya buruk. Berbicara scene stealer, hal ini berhasil direbut oleh seseorang yang muncul di mid credit scene, yang memaksa saya teriak dalam bioskop. Oh, dan Marisa Tomei jelas masih cantik nan sexy walau usianya telah lebih dari setengah abad.


8/10

Sunday, 5 May 2019


"I thought I was stuck in the same day for some big, cosmic reason - facing my mom's death - but it had nothing to do with her. Turns out it was just some scientific fluke"- Tree

Plot

Untuk menutup lingkaran waktu akibat projek science yang diciptakan oleh Ryan (Phi Vu), Tree (Jessica Rothe) harus kembali mati berulang-ulang lagi untuk mendapatkan algoritma yang benar. Dirinya pun kali ini dihadapkan pilihan sulit yang melibatkan orang-orang yang dikasihinya.



Review

Dua tahun lalu, melalui Happy Death Day (2017), Christopher Landon berhasil menyajikan film horor slasher yang menghibur dengan menjadikan konsep time loop nya sebagai wadah pendewasaan diri pada karakter Tree. Seperti yang saya tulis di review, bila saya sama sekali tidak menyangka Happy Death Day mampu menyandingkan genre slasher nya bersama balutan komedi yang kental. Siapa yang bisa melupakan momen kala Tree harus dibunuh berulang kali demi mendapatkan petunjuk siapa pelaku yang mengincar nyawanya.

Pada sekuelnya, Landon yang kini juga menulis naskahnya, memasuki ranah Science fiction sebagai jawaban akan misteri yang terjadi pada Tree. Jawaban akan misteri tersebut memang lemah, jika tidak ingin dibilang presentasi nya kacau, namun hal ini bukan lah menjadi masalah besar karena, hei, Anda salah memilih tontonan jika ingin mendapatkan teori time loop yang cerdas nan rumit. Karena konsep fiksi ilmiah disini disediakan Landon demi membuka kembali perjalanan penuh kesialan Tree yang kini harus kembali rela mendapati dirinya mati berulang-ulang di hari yang sama. 

Hanya bedanya, di Happy Death Day 2U, kematian Tree menyebabkan dirinya harus terbangun di dimensi yang berbeda. Dengan narasi ini lah, narasinya melebarkan sayap karena kali ini, Tree tidak saja hanya mencari tahu siapa pelaku pembunuhan, tetapi juga dihadapkan pilihan sulit yang melibatkan orang terkasihnya. 

Pergerakan plot masih tetaplah sama, namun diberikan sentuhan berbeda. Seperti montasi kematian Tree, yang selalu berhasil menjadi highlight di seri ini, kali ini bukan disebabkan oleh pelaku, namun lebih sederhana dimana ia lebih memilih untuk membunuh dirinya sendiri. Dan seperti predesornya, disinilah sumber keseruan dan komedi dalam Happy Death Day 2U. Pemilihan cara bunuh diri yang dilakukan Tree menunjukkan kegilaan dan kreativitas Landon dalam mempertontonkan kematian yang tidak kelupaan senantiasa dibalut oleh nuansa komikal. Adegan terjun bebas dan truk penggiling sampah sukses meledakkan tawa saya.

Tidak lupa juga, Happy Death Day 2U menawarkan drama yang melibatkan hati. Seperti yang saya ungkap sebelumnya, Tree dihadapkan pilihan yang secara tidak langsung berimbas terhadap orang-orang terkasih. Setiap momen drama nya berjalan efektif, bahkan pada satu momen, saya tidak menduga jika saya hampir dibuat menangis akan interaksi emosi antar karakter yang terjadi di layar. Dan tidak seperti film pertama, momen emosi ini tidak lewat begitu saja dan berhasil menjadi konklusi sempurna untuk "petualangan" Tree, yang menjadikan sekuelnya ini sedikit lebih baik dibandingkan film pertama.

Permasalahan Happy Death Day 2U sendiri merupakan hal lumrah yang dijumpai setiap film sekuel, yaitu daya kejut nya jelas berkurang. Misteri mengenai siapa pelakunya pun tidak lah semenarik film pertama, karena tampak sekali jika perihal tersebut bukan menjadi fokus utama disini. Lalu, cerita pada menit-menit awal sebelum pusat narasi beralih ke Tree, sedikit membosankan dan bertele-tele. Meski karakter-karakter pendamping memiliki daya tarik sendiri, terutama Danielle (Rachel Matthews), namun semenjak film pertama, nyawa dan magnet terbesar untuk selalu bisa mencengkeram atnesi penonton jelas adalah Jessica Rothe sebagai Tree.

Pada sekuel ini, Rothe kembali berhasil menunjukkan betapa sudah lekatnya ia dengan karakter Tree yang ia lakoni. Ia tidak pernah gagal membuat kita tertawa baik dari ekspresi muka nya, kalimat sarkas hingga aksi over the top nya. Memang selalu menyenangkan sih melihat aktris cantik seperti Rothe seolah kehilangan urat malu nya untuk beraksi gila. Tidak hanya itu pula, Rothe juga berhasil menyuntikkan hati disetiap film bergerak narasinya ke ranah drama. Perhatikan ekspresinya kala ia melihat sosok terpenting di dalam hidupnya hadir di hadapannya. Susah untuk tidak jatuh cinta pada Tree dan semua itu berkat akting menawan dari Jessica Rothe.

7,25/10


Thursday, 2 May 2019


"I keep telling everybody they should move on and grow. Some do. But not us"- Captain "Steve Rogers" America

Review

Para Avengers yang tersisa, berusaha mencari cara dalam mengembalikan milyaran korban akibat dari jentikan jari Thanos (Josh Brolin).



Review

Jika Anda sama seperti saya yang merupakan fans dari Game of Thrones dan mengikuti film-film MCU, rasanya kita bisa sepakat bila dalam 1 minggu terakhir ini merupakan hal yang tidak mengenakkan untuk surfing di dunia internet. Serial Game of Thrones memasuki episode yang menampilkan sebuah perang yang dinantikan oleh penggemar, sedangkan MCU dengan Avengers: Endgame nya sendiri adalah film yang paling dinantikan tahun ini. Spoiler jelas bertebaran di internet, bahkan di tempat yang tidak terduga. Saya sendir menjadi korban spoiler disebabkan ada user bodoh yang seolah begitu bangga telah menyaksikan Endgame terlebih dahulu sehingga dengan begitu sombongnya meninggalkan jejak spoiler di kolom obrolan Live Stream sub count antara PewDiePie vs T-Series di kanal FlareTV. Untungnya spoiler yang tertulis tidak terlalu bisa dibilang mega spoiler juga. Karena itu, selain ingin menyaksikan bagaimana akhir pertempuran Avengers menghadapi Thanos, saya juga ingin segera tenang untuk berinternet ria kembali dan menginstall ulang aplikasi Instagram dan Twitter di Smartphone saya. 

Avengers: Endgame yang masih disutradarai oleh Russo Brothers (kembali) merupakan hasil dari buah kesabaran Marvel dalam membangun universe nya dalam 11 tahun terakhir dengan 22 film nya, dan aspek paling berhasil yang juga menjadi faktor terbesar mengapa MCU menjadi raksasa di industri perfilman dalam satu dekade terakhir adalah bagaimana mereka menangani karakter-karakter di dalamnya begitu memorable dan mudah untuk disukai. Saya yakin, dari penggemar sendiri memiliki masing-masing karakter favorit mereka, baik para karakter superhero nya atau pun sekedar pemeran pembantu. Kecuali Captain Marvel (yang bisa jadi adalah karakter paling poralizing sejauh ini, itupun dikarenakan aspek non teknis), rasanya tidak ada karakter yang begitu dibenci oleh penggemar. Buah kesabaran ini sudah berhasil tampil di Infinity War, bahkan standar yang telah dipasang begitu tinggi pada film itu. Namun Russo Brothers kembali menunjukkan kembali kualitas mereka sebagai sutradara dimana, walaupun bagi saya Infinity War sedikit lebih baik, Russo Brothers sukses memberikan pengalaman sinematik berkesan lewat Endgame ini melalui studi karakter serta balutan emosi yang senantiasa hadir di setiap menitnya. 

Sedari menit awal, Endgame telah kental akan aura depresif nya, ditambah gubahan soundtrack dari Alan Silvestri yang menambah mood keputus asaan yang ada. Russo Brothers yang bekerja sama dengan Christopher Markus dan Stephen McFeely dalam divisi naskah, mengambil setting tidak lama dari ending Infinity War terjadi. Ada karakter yang putus harapan, ada juga yang tetap tegar dan ingin tetap melangkah, serta ada juga yang kehilangan arah sehingga melepaskan beban dan tanggung jawab nya sebagai superhero. Sebagai film blockbuster terbesar di tahun ini, saya cukup kaget menerima kenyataan jika Endgame cukup didominasi oleh aspek drama berfokus pada pendalaman karakter nya. Endgame menyajikan kisah para pahlawan kita ini untuk bersikap dalam setelah kekalahan masif yang mereka terima dan menghadapi ujian terbesar mereka sejauh ini seraya tetap menegakkan kepala mereka. Seberapa besar pengorbanan yang akan mereka beri demi keselamatan galaksi. Sesuai dengan kalimat yang kerap diulang di trailer awal nya, whatever it takes, bahkan jika harus memberikan nyawa mereka. Karena itulah, bila di Infinity War, spotlight yang ada sepenuhnya diambil oleh Thanos, maka di Endgame, Thanos harus rela untuk menyingkir dan memberikan spotlight tersebut kepada member The Avengers, terutama anggota The Avengers pertama, yaitu Captain "Steve Rogers" America (Chris Evans), Iron "Tony Stark" Man (Robert Downey Jr.), Black "Natasha Romanoff" Widow (Scarlett Johansson), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Benner a.k.a Hulk (Mark Ruffalo) dan Clint "Hawkey" Barton (Jeremy Renner). Walau memang patut disayangkan karena dengan keputusan ini, karakter-karakter lainnya sedikit terlupakan. Namun hal ini patut dimaklumi, mengingat Endgame sendiri bagaikan sebuah tribute untuk member pertama The Avengers.

Melalui plot time travel nya juga, Endgame bagai kan sebuah perjalanan retrospective untuk mengenang kembali perjalanan mereka. Russo bros membagi karakter nya ke 4 tempat berbeda  Akan terdapat beberapa momen-momen yang hadir dari film sebelumnya, dengan tentu saja sentuhan improvisasi, dan dari sinilah roller coaster emosi dimainkan. Time Travel nya menjembatani beberapa momen-momen emosional yang memiliki esensi pada karakter masing-masing, serta memberikan ruang untuk penggemar kembali mengingat petualangan kita selama ini bersama The Avengers. Tidak hanya menawarkan dosis emosi, namun juga memberikan beberapa jokes segar yang mampu direspon tawa oleh penonton. Interaksi dialog pun seolah tidak pernah menemukan titik jenuh dan selalu menawarkan kesegaran, terutama untuk karkater yang berinteraksi pertama kali dengan karakter lainnya. 

Para aktor pun semakin lekat dengan karakter yang dilakoni masing-masing, tidak lupa juga mereka memberikan efek rasa emosi personal baik dari gestur bahkan hanya melalui tatapan mata. Semuanya bermain cemerlang, namun tidak akan ada yang menampik jika RDJ lah yang menjadi bintang utama nya. RDJ sempurna merefleksikan rasa putus asa dan kepedihan yang tergambar melalui ekspresi muka nya. Barisan dialog yang ia lontarkan kala film bergerak ke ranah drama selalu terdengar meyakinkan sehingga penonton ikut merasakan gejolak yang tengah ia derita. Lalu, tibalah kita pada bagian endingnya yang emosional. Kedekatan emosional yang telah tercipta antar penonton dan tiap karakter menjadi faktor utama akan betapa besar impact yang ditawarkan pada momen ending. Sulit rasanya untuk tidak meneteskan air mata melihat apa yang tampil di layar. Sebuah konklusi sempurna untuk menutup kisah bagi beberapa karakter.

Namun secaea keseluruhab tentu Endgame tidak luput akan kekurangan, karena untuk bagian action, terutama di final fight nya, saya lebih berkesan dengan yang disajikan oleh Infinity War. The Battle of Wakanda sendiri memang masih menjadi salah satu adegan pertempuran terbaik yang pernah disajikan oleh MCU. Meski final fight di Endgame melibatkan lebih banyak karakter dibanding predesornya, namun bagi saya, pertempuran berskala besar tersebut kurang menampilkan momen highlight nya. Tangkapan gambar maupun action sequence nya kurang spesial dan memorable, kecuali ketika para hero wanita nya bersatu dalam menghadapi pasukan yang dibawa Thanos. Malah saya lebih memilih adegan fight yang terjadi sebelumnya, dimana kita mendapatkan Thanos beraksi melawan para Avengers tanpa infinity gauntlet di tangannya. Lebih terasa akan aspek personal yang terlibat, serta juga mampu menampar keras bagi mereka yang meragukan betapa kuat nya Thanos. 

Apakah ini adalah film MCU terbaik? Saya menyerahkan jawabannya kepada Anda. Namun, untuk sebuah film penghormatan maupun surat cinta untuk para pahlawan MCU, jelas Endgame telah menjalankan fungsinya dengan sangat baik. Menarik dinantikan film-film MCU selanjutnya dengan pergerakan narasi yang baru. Good luck, Marvel, to topping this one on next film.

8,25/10




Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!