Tuesday, 12 March 2019


"I have nothing to prove to you"- Carol Danvers

Plot 

Kegagalannya dalam suatu misi penyelamatan sebagai Starforce dari planet Kree, Vers (Brie Larson) ditahan oleh kawanan Skrull yang dipimpin oleh Talos (Ben Mendelsohn). Vers berhasil kabur, namun upaya kaburnya tersebut malah membuat dirinya mendarat ke bumi. Penampilannya yang mencolok serta pendaratannya yang "unik" sukses membuat Vers menarik perhatian, tidak terkecuali para agen S.H.I.E.L.D yang salah satunya adalah Nick Fury (Samuel L. Jackson) dan Phil Coulson (Clark Gregg). Tidak hanya itu, Talos beserta anggota Skrull lainnya pun berhasil mengikuti Vers hingga ke bumi dan berupaya untuk menemukan Vers dengan kekuatan penyamaran mereka. Sementara itu, anggota Starforce lainnya yang dipimpin Yon-Rogg (Jude Law) berusaha menyelamatkan Vers. 




Review

Melalui tulisan saya sebelumnya, saya telah mengungkapkan akan keraguan saya akan kualitas akhir dari film ini. Keraguan saya didasari akan rumor agenda-agenda politiknya yang turut menjadi bahan marketing dari pihak Marvel atau Disney. Sudah bukan rahasia umum lagi jika penonton kurang menyukai unsur politik dicampur adukkan dalam sebuah film. Tengok saja backlash yang diterima The Ghostbuster hingga Star Wars: The Last Jedi. Tidak hanya itu, berbagai kontroversi pun ikut mengiringi film ke 21 dalam sejarah MCU ini seperti pernyataan tidak penting dari artis pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson hingga keputusan Rotten Tomatoes yang menghilangkan skor Want to See di website mereka. Walaupun begitu, semua drama ini sepertinya tidak menghentikan Captain Marvel untuk menorehkan kesuksesan dalam finansial. Sampai tulisan ini saya buat, angka box office dari Captain Marvel cukup fantastis. Lalu bagaimana dengan kualitas film nya itu sendiri?

Jujur, saya merupakan salah satu "fans" yang sedikit antipati dengan film ini sehingga saya pun memasuki studio 2 di Cinema 21 Palembang Square dengan ekspektasi serendah mungkin. Dan percaya atau tidak, berkat hal tersebut, ternyata mampu membuat saya cukup menikmati Captain Marvel, walau saya akui, Captain Marvel mungkin adalah salah satu film terlemah dari MCU.

Poin kelemahan Captain Marvel adalah di awal-awal durasi, dimana Vers masih menjalani tugasnya sebagai anggota dari Starforce. Disini saya mendapati narasinya kurang menarik atensi, ditambah lagi karena memang saya tidak terlalu paham dengan dunia atau universe Marvel itu sendiri. Kita mendapati jika Vers sudah memiliki kekuatan super, namun Vers masih kesulitan dalam mengendalikan kekuatan tersebut. Selain itu, ia juga kesulitan dalam mengendalikan emosinya sehingga berulang kali Yon-Rogg mengingatkan dirinya untuk bisa lebih tenang. Adegan aksi penyelamatannya pun cenderung biasa saja. Rasa bosan pun seketika menyerang saya, dan entah berapa kali saya harus menguap akibat rasa bosan tersebut.

Duo sutradara Anna Boden-Ryan Fleck pun mulai menemukan ritme penceritaan kala Vers menginjakkan kaki nya di planet Bumi. Apalagi dengan kehadiran sosok Samuel L. Jackson dengan balutan CGI di muka untuk membuatnya terlihat jauh lebih muda sontak mulai perlahan merebut atensi saya. Kawanan Skrull yang mampu menyamar secara sempurna pun turut menambah bumbu penceritaan, sehingga cerita Vers dalam memburu mereka terasa menarik. Di awal misi Vers di Bumi juga memberikan kita suguhan aksi baku hantam di kereta api yang jelas lebih baik dibandingkan di sekuen aksi di awal.

Unsur "buddy cop" antara Vers dan Fury juga begitu kental terasa saat mereka mulai bekerja sama dalam mencari Skrull. Untuk pertama kalinya dalam sejarah MCU, kita menyaksikan sosok Fury sebagai comic relief. Interaksi nya bersama kucing Goose, yang telah mencuri perhatian bahkan semenjak kemunculannya di trailer, berhasil menjadi highlight dalam film ini.

Hingga pada momen terungkapnya masa lalu Vers yang sebenarnya merupakan penduduk asli Bumi dengan nama Carol Danvers, akhirnya saya sepenuhnya benar-benar terikat dengan narasi Captain Marvel. Momen terungkapnya jati diri tersebut berhasil membangun jembatan emosi saya terhadap salah satu karakter yang terlibat. Dugaan berhasil dikelokkan, dari tidak menyukai berbalik mendukung berkat twist nya yang efektif. Lashana Lynch sebagai Maria berhasil menyuntikkan hati akan penceritaan. Hubungan persahabatan antara Carol dan Maria cukup sukses memberikan suatu momen emosional tersendiri. Interaksi antara Carol dan anak Maria, Monica (Akira Akbar) juga memberikan kita kesempatan untuk melihat sisi lembut dari Carol. Sayang memang hubungan Carol bersama anggota Starforce lainnya, terutama dengan Yon-Rogg yang merupakan partner terdekatnya tidak dieksplor lebih jauh.

Mengenai sekuen aksinya bisa dibilang tidak ada yang terlalu memorable walau masih ampuh untuk memanjakan mata, termasuk sekuen aksi terakhir yang terlampau singkat. Oh ya, mendekati akhir, duo Anna-Ryan berhasil "menipu" ekspektasi kita dengan menampilkan salah satu momen lumayan kocak yang sepertinya diniati sebagai tribute untuk Indiana Jones. Nuansa 90an juga ikut terasa berkat adanya soundtrack dari No Doubt dan Nirvana. Mengenai lagu Come As You Are nya Nirvana, saya sedikit merasa penempatan lagu nya sedikit keliru, tidak ngeblend dengan cerita yang sedang berlangsung. Yah, hanya komplain kecil saja sih.

Para "haters" Brie Larson tentu akan gigit jari melihat aktingnya sebagai Carol disini. Larson berhasil membuktikan jika dirinya piawai dalam mengekspresikan emosi, dari sorotan mata hingga pada sunggingan senyumnya. Dirinya pun bisa menjalin chemistry yang meyakinkan dengan karakter-karakter lainnya, terutama tentu saja dengan Fury dimana ia tampak begitu percaya diri dalam bertukar dialog dengan Samuel L. Jackson, sehingga untuk saya, tidak sulit untuk menyukainya. Samuel L. Jackson sendiri tidak perlu diragukan lagi talenta komedik nya yang selalu tepat sasaran. Namun, jika harus memilih yang terbaik, saya memilih Ben Mendelsohn.

Dalam Captain Marvel, ada suatu kilasan cerita mengenai kisah hidup Carol Danvers yang kerap kali jatuh bangun untuk bisa melakukan sesuatu. Namun, tidak perduli berapa kali ia terjatuh, Carol tidak pernah berhenti untuk bangkit dan mencoba kembali, seolah ia menyadari jika semuanya akan berakhir jika ita tetap terbaring di tanah. Momen tersebut pun diikuti dengan berhasilnya Carol menguasai sepenuhnya akan kekuatan. Momen ini juga seolah merefleksikan pada situasi tidak mengenakkan yang diterima film ini dalam masa mendekati perilisan. Tidak perduli dengan segala keraguan hingga cemoohan yang ada, Captain Marvel membuktikan dengan hasil akhir nya yang jauh dari kata mengecewakan. Bukan yang terbaik dalam MCU tentu saja, namun film ini berhasil menjalankan misinya untuk mengenalkan salah satu superhero terpenting di The Avengers: Endgame nanti dengan sosok Captain Marvel yang likeable, serta humanis. Tentu saya masih keberatan sih jika Captain Marvel yang menghentikan Thanos nantinya.

7,5/10



Thursday, 28 February 2019


Oh boy, what an interesting story we got here. Cerita yang begitu menarik sehingga mampu memaksa saya yang pemalas ini rela untuk membuat suatu tulisan untuk film yang bahkan belum dirilis. Kalau Anda mengikuti perkembangan dari film superhero wanita pertama dari MCU ini, Anda pasti telah mengetahui berbagai kontroversi yang mengitari Captain Marvel sehingga melahirkan backlash dari kalangan penggemar MCU sendiri. Dari trailer-trailer nya yang dinilai kurang meyakinkan, aroma propaganda SJW, fans yang menolak bila nanti Captain Marvel lah yang diisukan merupakan pahlawan yang menyelamatkan The Avengers dan mampu mengalahkan Thanos, hingga yang paling mengganggu fans adalah pernyataan kontroversi dari pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson. Dan yang terbaru adalah situs Rotten Tomatoes memutuskan untuk menghilangkan skor "Want to see" di website tersebut.


Saya merupakan tipe penonton  yang tidak terlalu mengandalkan sebuah trailer untuk mematok sebuah ekspektasi. Kecuali trailer Super Bowl dari Captain Marvel yang cringeworth tersebut, saya tidak terlalu mempermasalahkan trailer-trailer nya yang lain. Betul memang bila dari trailer tersebut kita belum bisa menebak sepenuhnya narasi dari Captain Marvel. Tetapi akan menjadi tindakan teledor pula menurut saya jika pihak Marvel memberikan clue yang banyak di dalam trailer nya. Saya masih ingat bagaimana geramnya saya atas kebodohan pihak Warner Bros atau DC yang menghadirkan sosok Wonder Woman pada trailer film Batman V Superman. Para fans juga mengkritik (atau lebih tepatnya khawatir) akan kapabilitas akting dari Brie Larson yang minim ekspresi pada trailer nya hingga ada yang membandingkan dirinya dengan karakter Bella Swan dari Twilight franchise. Dan disini saya juga kurang sependapat dan sepenuhnya masih mempercayai bila Brie Larson akan memberikan penampilan yang prima nantinya. Kapabilitas akting Brie Larson bagi saya cukup mumpuni, hell, she's already got an Oscar on her pocket. Lihatlah bagaimana meyakinkannya dia memerankan seorang ibu yang hopeless juga depresif pada film Room (2015).




Namun rasa optimis saya mulai memudar kala muncul rumor jika Captain Marvel akan dijadikan kampanye isu politik dari pihak SJW dan ingin menjadikan sosok Captain Marvel adalah ikon dari feminis. Dan isu inilah yang berhasil membuat saya mulai ragu apakah saya masih bisa menyukai film ini atau tidak nanti. Tampaknya pihak Disney masih belum belajar dari bagaimana para fans Star Wars yang sangat kecewa akan hasil akhir dari The Last Jedi maupun Solo. Pihak Disney masih juga belum menyadari jika para fans sama sekali tidak ingin franchise kesayangan mereka dilibatkan dalam politik SJW.

Franchise MCU memang tidaklah setua Star Wars, namun lebih dari satu dekade semenjak Iron Man dirilis, franchise ini berhasil melahirkan para fans yang loyal dan mencintai MCU. Para fans begitu perduli pada karakter-karakter nya, bahkan hingga karakter minor seperti Ned, Maria Hill dan tentunya Phil Coulson. Selain itu, Marvel juga berhasil menaikkan derajat superhero mereka seperti Ant-Man, Dr. Strange, dan The Guardians of the Galaxy. Bayangkan saja, sebuah franchise yang dibangun perlahan namun meyakinkan dengan karakter-karakter yang dicintai di dalamnya, harus tercoreng akibat kepentingan politik semata. Bayangkan rasa kesal nan kecewa yang harus dirasakan para penggemar MCU.


Kondisi yang sudah tidak mengenakkan ini, diperparah pula akan pernyataan-pernyataan tidak penting dari Brie Larson. Sudah bukan rahasia umum lagi bila Brie Larson adalah salah satu "agen" feminis layaknya Amy Schumer, tapi apakah begitu sulitnya untuk menahan pandangan idealisme pribadi terlebih dahulu setidaknya sampai filmnya benar-benar dirilis nanti? Bukan langkah yang bijak tentu saja mengeluarkan komentar berbau diskriminasi nan sexist sebelum film yang dibintangi bahkan belum menghiasi layar-layar bioskop. Tentu saja para penggemar semakin antipati akan sosok Brie Larson. Antipati yang dikhawatirkan akan menghasilkan ketidak sukaan juga terhadap karakter yang diperankan. Andai nanti hasil pendapatan Captain Marvel dibawah ekspektasi (I doubt it, though), maka tidak salah jika Brie Larson menjadi faktor utama.

Hingga yang menjadi perbincangan hangat dalam satu minggu terakhir adalah rating "Want to see" di website Rotten Tomatoes dihilangkan. Terakhir kali, sebelum pembaharuan, skor persentase Want to see untuk film Captain Marvel anjlok hingga 27%!!! "Loh, terus kenapa? Bukan masalah besar kan. Toh, film nya belum keluar. Gw yakin filmnya masih banyak ditonton. Skor "Want to see" mah gak terlalu penting." Benar, skor tersebut bukanlah patokan kuat apakah nanti film ini sukses atau tidak dari segi finansial. Namun, sekali lagi, Captain Marvel bukanlah film sembarangan. Film ini adalah bagian dari MCU, salah satu franchise tersukses dalam satu dekade belakangan. Film yang diharapkan menjadi simbol feminis bagi sebagian orang. Film ini diakuisisi oleh Disney, salah satu studio film terbesar sepanjang masa. Tentunya dengan kenyataan tersebut merupakan hal yang tidak diinginkan.

Penghapusan skor "Want to see" ini dianggap oleh sebagian kalangan penggemar merupakan sebuah langkah desperate untuk "menyelamatkan" citra film Captain Marvel. Tidak hanya itu, langkah ini semakin menguatkan dugaan jika situs Rotten Tomatoes selama ini menganak emaskan film-film keluaran MCU atau dari Disney. Sudah banyak yang mengkritik situs ini dalam pemberian rating nya yang selalu tinggi untuk film-film dari MCU. Kritikus dianggap terlalu jinak pada film-film MCU. Contoh terkuat silahkan lihat begitu tingginya rating yang diterima Thor Ragnarok dan Black Panther yang dirasa tidak terlalu spesial. Awalnya dugaan konspirasi ini terkesan membual dan sekilas hanyalah pernyataan butthurt dari pihak oposisi Marvel (Baca: Fans DCEU). Namun dengan adanya pengupdatean ini, mau tidak mau, dugaan tersebut menguat dan bisa jadi adalah kebenaran. Pihak MCU belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Semua film MCU sebelumnya begitu dinantikan, termasuk Captain Marvel bahkan. Maka ketika ada satu film yang untuk pertama kalinya mendapatkan backlash luar biasa seperti ini, terlihat sekali jika pihak Marvel atau Disney mencoba melakukan segala cara untuk mempertahankan reputasi MCU. Sebuah keputusan yang seolah menyiramkan bensin di tengah kobaran api.

Segala kejadian tidak mengenakkan yang mengitari Captain Marvel ini jelas sekali menjadi hembusan angin segar untuk DC. Bila DC mampu memanfaatkan situasi ini, bukan tidak mungkin film bertemakan superhero yang selama ini dikuasai oleh Marvel, berpindah tangan ke pihak DC. Terlebih film rilisan DC, Aquaman (2018), cukup mendapatkan tanggapan positif baik dari segi kualitas maupun finansial. Bukan tidak mungkin ini adalah awal dari runtuhnya kedigdayaan MCU. Lalu pertanyaannya, apakah saya tetap akan menonton film ini? Kemungkinan besar, iya. Karena harus diakui, film Captain Marvel memiliki poin penting untuk film The Avengers selanjutnya, Endgame. Saya hanya berharap, dengan adanya backlash seperti ini, mampu menyadarkan pihak Disney jika para penggemar sama sekali tidak perduli akan agenda politik yang mereka simpan, dan juga tidak rela jika franchise kesayangan mereka dijadikan sebagai wadah propaganda politik SJW.


Wednesday, 13 February 2019


"I do not stand by in the presence of evil!"- Alita

Plot

Setting cerita terjadi 300 tahun setelah peristiwa "The Fall", dimana bumi sudah bukan tempat yang nyaman lagi untuk dihuni. Satu-satunya tempat impian bagi mayoritas orang adalah Zalem, kota yang mengambang di langit, yang dipercayai merupakan kota yang dipenuhi kebahagiaan. Di suatu hari, Dr. Ido (Christoph Waltz) membawa pulang bagian inti bermukakan wanita muda di kumpulan barang bekas, tepat di bawah Zalem. Dengan kemampuannya dalam mereparasi, Ido pun memberikan tubuh baru kepada gadis tersebut yang sebenarnya ingin diberikan kepada putrinya. Gadis cyborg ini kelak diberi nama Alita (Rosa Salazar). Alita sendiri sebenarnya memiliki kehidupan sebelumnya, namun sayangnya Alita tidak mampu mengingatnya dengan jelas. Alita pun menjalani kehidupan baru nya bersama Ido, sembari perlahan waktu berjalan, kelak Alita akan menyadari masa lalu serta identitas diri sebenarnya.



Review

Astro Boy dengan bernarasikan Elysium. Hal ini seketika saja terlintas di benak saat Alita terbangun di pagi hari dengan tubuh barunya, serta saat Ido menceritakan mengenai kota mengapung, Zalem. Nuansa cyberpunk jelas begitu kental terasa dengan banyaknya orang yang bagian tubuhnya terdiri dari mesin ditambah kondisi dystopia nya. Organ tubuh mesin tersebut jelas bukan untuk sekedar gaya-gayaan, tetapi telah menjadi kebutuhan primer bagi mereka dalam bertahan hidup. Baik sebagai pekerja, tukang kebun, atau para kriminal. Tidak hanya itu terdapat pula dunia hiburan olahraga bernama Motorball, yang tampaknya dikhususkan untuk mereka, para cyborg, akibat dari permainannya yang brutal dan mempertaruhkan nyawa.

Dunia Battle Angel memang menyimpan banyak sekali layer yang bisa diceritakan. Namun sutradara, Robert Rodriguez, yang kini bekerja sama dengan James Cameron yang membantu dalam penulisan naskah juga produser, memilih untuk lebih memfokuskan cerita pada protagonist utama kita, Alita. Kita akan diajak untuk berkenalan dengan Alita yang seolah baru lahir kembali dengan tubuh barunya. Seraya menjalani hidup nya dengan Dr. Ido, Alita secara perlahan mencoba mengingat masa lalunya. Rodriguez-Cameron pun menceritakan hubungan Alita bersama Ido yang seketika saja menganggap Alita sebagai pengganti anaknya, serta Hugo (Keean Johnson) yang kelak akan menjadi kekasihnya. Bersamaan pula, ancaman mengintai Alita, dimana Vergo (Mahershala Ali), orang yang paling berpengaruh di kota Iron City, yang menganggap keberadaan Alita mulai mengancam. Lambat laun, Alita akan menyadari bila masa lalunya berkaitan erat dengan kota Zalem.

Battle Angel begitu ambisius untuk mengangkat semua isu tersebut, yang menyebabkan penceritaan kurang fokus dan semuanya terasa tanggung atau hambar. Hubungan Alita bersama Ido dan Hugo pun tidak berhasil hingga mampu membuat penonton perduli dan terikat emosi, walau sebenarnya kisah mereka memiliki potensi yang besar sekali untuk membuat penonton terhanyut ke dalam dramanya, terutama hubungan ayah-anak pada kisah Ido dan Alita. Hadirnya Alita diharapkan mampu menggantikan peran sebagai putrinya yang tewas akan suatu kejadian. Walau hanya sekedar "pengganti", namun Ido memberikan kasih sayang dan perhatian sepenuhnya kepada Alita. Bisa dimengerti, bila Ido tidak ingin mengalami kehilangan untuk kedua kalinya sehingga menciptakan sikap protektif terhadap Alita, walau secara subtil, Ido telah mengetahui siapa sebenarnya Alita. Tentu saja sikap protektif Ido tersebut tidak bisa menghentikan rasa ingin tahu Alita, apalagi kenangan masa lalu nya mulai merasuki sistem inti dari Alita. Narasi ayah-anak ini tentu bukan hal baru, tetapi masih lah efektif untuk menghadirkan cerita yang mengikat nan sentimentil. Bayangkan saja gejolak perasaan yang harus Ido tanggung setiap kali Alita menghadapi kondisi yang membahayakan dirinya. Saya begitu mengharapkan adanya momen-momen kedekatan mereka berdua sehingga membuat saya dan npenonton lainnya perduli akan hubungan mereka berdua. Sayang sekali, potensi drama ini tersia-siakan. Cameron yang dibantu oleh Laeta Kalogridis juga di kursi penulis naskah seolah enggan untuk memperdalam hubungan mereka berdua demi narasi-narasi lainnya. 

Praktis, keputusan ini pun mengorbankan pula karakter Dr. Ido yang seolah terlupakan ketika film mulai bergerak lebih dari setengah durasi. Minim letupan konflik atau adu mulut antara mereka berdua. Bentrokan rasa kasih sayang dari Ido yang menghadirkan sikap protektif dan jati diri sebenarnya Alita ini sebenarnya mampu memperkaya ceritanya, tetapi sekali lagi sayang, tidak ditampilkan. Bila kisah Ido-Alita saja tidak mampu mengikat saya, maka saya rasa tidak perlu diperjelas lagi bagaimana pendadapat saya akan kisah romansa Alita dan Hugo. Universe dalam kisah Alita memang belum dieksplor terlalu dalam oleh Rodriguez karena cerita ini tampaknya akan diceritakan kembali di sekuelnya. Maka dari itu, saya bisa mengerti jika penjelasan mengenai The Fall, kota Zalem, kondisi kehidupan sosial saat itu dan tetek bengek lainnya hanya diceritakan sekilas saja.

Karakter Alita disini sudah barang pasti akan membuat para feminisme orgasme. Walau dengan sosoknya yang kecil tersebut, Alita mampu mengajar musuh-musuhnya yang mungkin ukuran tubuhnya berkali-kali lipat dari dirinya. Dengan sejarah hidup Alita sebelumnya, mudah saja untuk memahami mengapa begitu luar biasa kemampuan bela dirinya. Rosa Salazar mungkin kurang mulus dalam memerankan Alita di porsi drama. Ekspresi dari Alita juga cukup mengganggu untuk saya, mungkin hal ini dipengaruhi pula oleh kenyataan bila muka dari Alita merupakan balutan dari CGI. Namun dalam memerankan adegan aksi, Rosa Salazar berhasil menjalankan tugasnya dengan brilian, yang seketika saja mengingatkan saya pada karakter Laura di film Logan. Rodriguez begitu paham dalam menerapkan sekuen aksi yang menghibur. Ambil contoh seperti debut Alita di arena Motorball, yang dilanjutkan ke adegan kejar-kejaran ala parkour. Minor complaint disini mungkin adalah minimnya ketegangan yang tercipta karena penonton merasa sangat yakin Alita lah yang akan muncul sebagai pemenang di setiap konflik pertarungan. Bahkan rasa terancam pun sama sekali tidak terasa ketika Alita beradu jotos dengan Grewishka (Jackie Earle Haley) yang konon merupakan anak buah terkuat Nova, pemimpin kota Zalem. SPOILER AHEAD!!!!*** Disini Alita begitu overpowered sehingga musuh-musuhnya terlihat begitu lemah sekali, bahkan Grewishka. Literally, Alita mampu menguasai kota Iron City dengan kekuatan dirinya sendiri, yang sekali lagi, mengurangi ketegangan setiap adegan laga nya. ***SPOILER END!!!! Tetapi dengan melihat hasil akhir disini, saya bisa bilang Rodriguez telah menciptakan adegan-adegan aksinya yang memanjakan mata. Hal ini tentu dibantu pula dengan penggunaan bijak akan CGI nya sehingga menampilkan kualitas special effect yang mengagumkan berkat budget nya yang "hanya" $ 200 juta.

Dunia dalam kisah Alita masih menyimpan banyak sekali kisah yang bisa diangkat. Dengan hal tersebut pula berimbas pada naskah nya yang mencoba mengangkat beberapa isu sekaligus, sehingga tidak fokusnya cerita begitu terasa. Hal ini mungkin menjadi kelemahan yang cukup mengganggu, namun untuk sajian film aksi yang dibingkai dengan kualitas special effect kelas wahid, Battle Angel tetaplah sajian yang menghibur. Potensi sekuel pun sudah pasti telah direncanakan dengan endingnya yang menggantung dengan menyimpan kisah pemberontakan atau revolusi di film selanjutnya. Tentu saja saya berharap di film selanjutnya, Nova serta kekuasaan atau kekuatannya merupakan lawan yang setara untuk Alita. 

7/10



Thursday, 7 February 2019


"Tell you what it is, Mr. Reid. Now, we're four misfits who don't belong together, we're playing for the other misfits. They're the outcasts, right at the back of the room. We're pretty sure they don't belong either. We belong to them."-Freddie Mercury

Plot

Menceritakan perjalanan karir dari seorang Freddie Mercury (Rami Malek) bersama band nya, Queen, beserta kehidupannya yang kontroversial.




Review

Kurang lebih sudah 4 bulan film nya turun dari layar bioskop Indonesia. Euforianya tentu telah lama berlalu dan here I am, dengan tanpa malunya baru menulis kesan menyaksikan drama kehidupan salah satu (jika bukan) vokalis band terbaik sepanjang masa, yaitu Freddie Mercury. Saya menyadari rasanya telah telat sekali membahas film satu ini yang diangkat dari judul lagu monumental milik Queen ini. Tetapi mau bagaimana lagi, perasaan berdosa rasanya akan menghantui saya jika saya lancang untuk tidak menggambarkan kesan saya akan film ini karena saya sangat mengagumi band Queen dengan semua hits nya yang sukar dilupakan, band yang berpengaruh besar dalam menjadikan saya mencintai dunia musik. Sama seperti sosok Freddie Mercury, Film Bohemian Rhapsody memang tidaklah sempurna, tetapi saya rasa film ini telah berhasil dalam "mempromosikan" kembali kepada penikmat musik, terutama untuk kaum milenial kelahiran tahun 2000-an jika di dunia ini, sempat terlahir band ikonik dan memorable yang begitu di cintai pada zamannya.

Bohemian Rhapsody dibuka dengan persiapan Freddie untuk menghadiri salah satu konser termegah yang pernah dilaksanakan, Live Aied. Apakah penampilan Freddie bersama band nya merupakan adegan opening film ini? Tentu tidak, karena film pun bergerak mundur sebelum Freddie menaiki panggung nya. Narasi mundur ke belakang, tepatnya pada tahun 1970, dimana sosok Freddie yang masih menyandang nama kelahirannya, Faroukh Bulsara. Freddie pun masih tinggal bersama keluarganya. Dari momen singkat, kita bisa melihat bila Freddie memiliki konflik dengan ayahnya, Bomi (Ace Bhatti). Tidak lama setelah itu, narasi mulai menceritakan bagaimana awal mula band Queen berdiri. Dari Freddie yang "mengaudisikan" dirinya sendiri di hadapan Brian May (Gwilyn Lee) dan Roger Taylor (Ben Hardy) yang baru saja ditinggalkan penyanyi bnd mereka, kemudian penampilan perdana Freddie hingga akhirnya memutuskan membuat album untuk Queen dan seterusnya. Hingga tirai panggung pertama dituutp dengan lahirnya sebuah lagu yang tidak akan pernah habis di makan zaman, apalagi kalau bukan Bohemian Rhapsody. Sebuah lagu yang kerap dinobatkan sebagai lagu terbaik sepanjang masa.

Penceritaan yang masih terpusat pada awal mula karir Queen ini jelas telah memikat perhatian saya. Naskah yang ditulis oleh duo Anthony McCarten dan Peter Morgan mengajak kita untuk melihat interaksi antar anggota band, juga tidak lupa cerita dibalik lagu BoRhap yang sempat mendapatkan kendala akibat pihak produser label yang merasa lagu tersebut terlalu aneh dan durasinya cukup lama untuk diputar di radio. FYI, di momen ini, duo McCarten-Morgan menyelipkan meta jokes yang melibatkan karakter Mike Myers. Konflik kecil seperti pemilihan lagu yang layak dimasukkan kedalam album pun tidak lupa di sisipkan, yang disajikan dengan cukup jenaka, terutama mengenai judul lagu "I'm In Love With My Car" hasil karya dari Taylor.

Harus diakui, untuk ukuran film biografi keluaran tahun 2018, Bohemian Rhapsody menggunakan formula yang cukup klasik. Apalagi sebelumnya kita telah menyaksikan film biografi yang jauh lebih berani macam Straight Outta Compton (2015). Hal ini cukup menjadi kontradiksi sendiri karena, hey, ini film tentang Queen, tentang Freddie Mercury, yang telah dikenal akan keberanian mereka dalam bereksperimen nya dalam musik. Bahkan, maha karya Bohemian Rhapsody pun terlahir dari keberanian Queen untuk melakukan gebrakan di dunia musik, seperti adanya unsur opera, istilah-istilah asing yang mungkin hanya Tuhan dan Freddie saja yang mengetahui mengapa dimasukkan dalam lagu tersebut, dan pastinya panjang durasinya. Bryan Singer (yang digantikan oleh Dexter Fletcher) seolah enggan untuk menampilkan kisah Freddie Mercury lebih berani.

Fokus penceritaan pun menjadi persoalan tersendiri, terutama kala film mulai memusatkan penceritaan kepada Freddie Mercury. Ada beberapa persoalan yang ingin diangkat, dari kehidupan pribadi, mulai retaknya hubungan Freddie bersama anggota Queen lainnya, orientasi seksual hingga pesta seks Freddie yang terpengaruh oleh Paul Prenter (Allen Leech) sehingga hubungannya bersama Mary (Lucy Boynton) mulai goyah, namun semuanya tidak terlalu dikulik lebih dalam. Bahkan kisah asmara Freddie-Mary pun urung mendapatkan momen personal sehingga tidak salah bila penonton sedikit melupakan hubungan mereka berdua. Konflik nya bersama mantan manajer John Reid (Aidan Gillen) dan Paul pun hanya sebatas lewat saja. Padahal konflik ini mampu menjembatani pandangan media terhadap orientasi seksual Freddie yang tentunya masih menjadi isu yang tabu pada periode 70-80an sehingga mampu memperkaya konfliknya. Penanganan akan momen reuni Freddie bersama Brian May, Roger Taylor dan John Deacon pun terasa terburu-buru, meski tidak ditampik ketika Freddie menyatakan kondisinya di depan mereka bertiga cukup emosional.

Namun lemahnya narasi di pertengahan sanggup dibayar tuntas oleh Singer di bagian penutupnya, ketika Queen akhirnya berhasil manggung di konser Live Aid. Mustahil rasanya untuk tidak emosional kala melihat sosok Freddie yang menumpahkan segala emosinya di setiap gerakan maupun mimik muka dalam penampilannya. Hal itu pun ikut dibantu pula akan penyutradaraan Singer yang menggerakkan kamera begitu dinamis yang mampu menangkap setiap detik penampilan Queen. Keputusan Singer yang tidak mencampur adukkan momen-momen flashback pada penampilan tersebut juga patut diapresiasi sehingga penonton pun mudah untuk memusatkan perhatian kepada aksi panggung Queen saja. Air mata saya pun terpaksa tumpah kala track ikonik milik Queen lainnya yaitu We Are The Champions mulai berkumandang. Semua pahitnya kehidupan yang telah dilalui Freddie tercurahkan dengan satu lagu tersebut berhasil memberikan dampak beberapa kali lipat kepada penontonnya yang telah ikut menjadi saksi kehidupan Freddie.

Keputusan pihak Academy Awards untuk menyertakan Bohemian Rhapsody di nominasi Best Picture tahun ini mungkin patut dipertanyakan, namun rasanya tidak ada yang protes dengan masuknya Rami Malek di nominasi Best Actor, bahkan dirinya berhasil menjadi unggulan utama untuk merebut piala Oscar. Walau dari tampilan muka Malek tidak terlalu mirip dengan Freddie, namun kekurangan tersebut berhasil ia tutupi dengan berusaha untuk bisa semirip mungkin dengan sosok mendiang Freddie dari gestur tubuh maupun mimik muka. Lihatlah bagaimana dengan secara meyakinkannya ia menghidupkan kembali seorang Freddie Mercury di atas panggung. Malek pun berhasil memerankan Freddie yang mudah dicintai ataupun dimaklumi, terlepas dari segala flaw nya sebagai manusia.

Bohemian Rhapsody memiliki potensi untuk menjadi film biografi yang jujur serta ikonik layaknya Freddie ataupun Queen, serta melihat lebih jauh akan sosok Freddie Mercury, sayang memang potensi tersebut tidak mampu di manfaatkan secara maksimal. Kelemahan narasi di pertengahan tentu tidak bisa diabaikan, namun rasanya mudah untuk memaafkan segala minus tersebut setelah third act nya yang luar biasa menghibur.

8/10 

Tuesday, 22 January 2019

"God bless white America"- Ron Stallworth

Plot

Sebagai polisi berkulit hitam di Colorado Police Department, Ron Stallworth (John David Washington) seolah ingin membuktikan dirinya sebagai polisi. Bosan ditugaskan di bagian kearsipan, Ron meminta kepada Chief Bridges (Robert John Burke) untuk ditempatkan dibagian intel. Bridges pun mengabulkan keinginan Ron dan memberikan kepada Ron sebuah tugas memata-matai pergerakan civil rights yang diketuai Kwame Ture (Corey Hawkins). Di tugas pertamanya itu pula ia bertemu dengan presiden Black Student Union, Patrice Dumas (Laura Harrier). Tidak cukup dengan itu, Ron memutuskan juga untuk mencoba masuk ke dalam organisasi Ku Klux Klan. Dibantu koleganya, Flip Zimmerman (Adam Driver) dan Jimmy Creek (Michael Buscemi), Ron mencoba menghentikan perseteruan antar kedua organisasi tersebut yang tinggal menunggu waktu saja untuk terjadi.




 Review

Polisi berkulit hitam yang mencoba memata-matai suatu organisasi yang notabenenya telah terkenal akan kebencian mereka terhadap warga berkulit hitam. Terdengar aneh, tidak masuk akal dan menarik? Yap, itulah fokus utama penceritaan Blackkklansman. Namun sesuai dengan tagline di awal nya, Dis joint is based upon some fo' real, fo' real shit. Spike Lee sengaja meyakinkan penontonnya dengan dua kali penekanan "fo' real, fo' real shit" karena saya yakin Lee pun menyadari bila kisah Ron Stallworth ini sulit untuk dipercaya, namun bukankah memang terkadang kisah di dunia nyata bisa seaneh dengan cerita di dunia fiksi?

Blackkklansman dibuka dengan pidato dari Dr. Kennebrew Beauregard (Alec Baldwin) dan dari pidato tersebut Lee ingin menggambarkan bagaimana film nya ini akan berjalan. Sebuah sajian yang mengangkat isu serius dan menyeramkan namun diselipi dengan kejenakaan yang bisa saja membuat penonton terpingkal, sama seperti pidato yang dibawakan Dr. Kennebrew. Keputusan Lee yang menyajikan film ini dengan selipan humor membuat Blackkklansman menjadi totnonan yang lebih ringan dan mudah untuk diikuti terlepas dari suguhan konflik perseteruan politik yang tengah terjadi. Humor nya efektif dan tidak mendistraksi penonton dari fokus utama penceritaan, seperti contoh nya ketika Ron mengajari Flip supaya bisa berbicara seperti dirinya untuk bisa meyakinkan anggota KKK bila Flip adalah Ron Stallworth sebenarnya. Dan misi mata-mata inilah yang merupakan faktor terkuat Blackkklansman.

Tensi ketegangan tidak pernah terasa turun kala karakter Adam Driver melakukan tugasnya, terutama setiap ia berkonfrontasi dengan Felix yang diperankan begitu intimidatif oleh Jasper Pääkkönen dengan kecurigaannya pada Flip. Dan jujur saja dengan penceritaan ini, karakter Flip terasa lebih menarik dibandingkan Ron sendiri. Awalnya Flip merupakan pemuda yahudi yang malah tidak terlalu memiliki keterikatan batin dengan identitasnya itu, tetapi seiring dengan berjalan waktu dalam menjalankan tugasnya dan mengetahui kebencian yang begitu mendalam dari tiap anggota KKK, muncul rasa yang aneh di dalam diri Flip dan lamban laun ia tidak bisa membohongi jika ia tetaplah memiliki darah Yahudi di dalamnya. Adam Driver kembali mengeluarkan akting primanya dan saya rasa ia layak dinominasikan sebagai aktor pendukung pria terbaik di gelaran Oscar nanti. John David Washington juga sebenarnya tidak bermain mengecewakan, namun harus saya akui, karakternya yang tidak diberikan pendalaman membuat dirinya sedikit tenggelam dibandingkan Driver ataupun Pääkkönen. 

Blackkklansman memiliki sedikit kelemahan pada elemen pacing dan juga durasinya yang cukup panjang. Ada beberapa adegan yang saya rasa bisa dipotong durasinya, salah satu contoh nya adalah adegan dimana dua pertemuan di tempat berbeda dari kelompok pergerakan revolusi kulit hitam dan KKK yang saya rasa cukup terasa dragging nya. Hubungan antara Ron-Patrice juga tidak terlalu engaging sehingga saya tidak terlalu memperdulikan hubungan spesial yang terjadi diantara mereka. 

7,75/10

Sunday, 13 January 2019



"Don't pee, don't zone out, don't sneeze. Just cover his phones and try not to exist."- Charlie

Plot

Bekerja lembur hingga tengah malam bukanlah hal yang asing untuk Charlie (Glen Powell) dan Harper (Zoey Deutch). Keduanya erprofesi sebagai asisten, dimana Charlie bekerja untuk businessman sukses, Rick Otis (Taye Diggs), sedangkan Harper menjadi tangan kanannya Kirsten Stevens (Lucy Liu), pemilik situs berita olahraga yang dulunya pernah menjadi reporter ESPN yang dikagumi. Aktivitas yang sangat sibuk dari keduanya berimbas juga kepada Charlie dan Harper karena sebagai asisten, mereka berdualah yang mengurusnya, bahkan Charlie dan Harper pun harus rela melakukan hal yang diluar aktivitas kantor seperti memesan makan malam, melakukan proyek sains bahkan melakukan olahraga rutin. Pekerjaan super sibuk tersebut memaksa Charlie dan Harper mengorbankan kehidupan pribadi mereka. Karena itulah, berawal dari pertemuan keduanya yang tidak disengaja, mereka pun berencana untuk menjodohkan Rick dan Kirsten supaya mereka bisa sibuk berasmara sehingga Charlie-Harper mendapatkan waktu luang untuk bisa memiliki waktu terhadap kehidupan pribadi mereka.




Review 

Nama Glen Powell dan Zoey Deutch mungkin masih asing di kalangan penggemar film. Keduanya cukup mengangkat nama kala membintangi film yang sama yaitu Everybody Wants Some!! (2016) buah karya dari Richard Linklater. Baik Glen maupun Zoey sukses memerankan karakter masing-masing dengan baik, terutama Glen Powell sebagai Finn-nya yang merupakan karakter favorit saya di film tersebut. Nama Glen Powell juga lah menjadi faktor terbesar saya untuk mencoba Set It Up, yang mana tanpa saya ketahui jika Set It Up adalah salah satu film keluaran Netflix yang berhasil mendapatkan Certified Fresh di situs Rotten Tomatoes tahun 2018.

Premis Set It Up mungkin akan mengingatkan Anda pada Horrible Boss (2011), namun tenang saja, Set It Up masih memiliki faktor pembeda nya. Dari adegan pembuka kita akan melihat bagaimana sibuknya Charlie-Harper meladeni permintaan segitu banyaknya dari bos mereka. Tidak hanya itu, Rick dan Kirsten juga menerapkan kepemimpinan diktator terhadap asisten nya masing-masing yang jelas menambah kesialan untuk asisten mereka. Jika asistennya tidak bisa memenuhi permintaan mereka, tidak perduli betapa anehnya permintaan tersebut, siap-siap saja kalimat "You're Fired!!" terlontar dari bibir mereka. Penderitaan tersebut lah yang menjadi sumber komedi dari Set It Up. Penonton pun terpaksa menertawakan setiap kesialan yang dialami Charlie-Harper berkat sajian komikal dari sang sutradara, Claire Scanlon. 

Bila ditilik dari kacamata orang luar, pekerjaan menjadi asisten salah satu orang yang berpengaruh tentunya bagaikan "dream job" untuk Charlie maupun Harper. Bahkan pada satu momen, salah satu alumnus Dartmouth menyatakan terhadap Harper bila Harper sangat beruntung bisa bekerja dengan Kirsten, tanpa menyadari rasa tertekan yang dimiliki Harper. Kisah Set It Up bisa menjadi cerita yang depresif, namun sekali lagi, Scanlon lebih memilih untuk menggulirkan narasinya dengan ringan dan hal tersebut merupakan keputusan yang tepat karena berkat hal tersebut, Set It Up begitu nyaman untuk diikuti. Secara subtil pula, Scanlon yang dibantu Katie Silberman di kursi penulis naskah melontarkan kritik terhadap bos semacam Rick dan Kirsten yang terlalu mengandalkan asisten-asistennya. 

Scanlon jeli dalam unsur comedy timing nya sehingga walaupun memang tidak semua komedinya tepat sasaran, tetapi hal tersebut berhasil menjadi aspek terkuat dalam Set It Up. Komedinya sering muncul tanpa bisa diduga, seperti contoh saat Rick tiba-tiba mengamuk saat Charlie mencoba "mangkir" sejenak dari pekerjaannya, KissCam di pertandingan Baseball, dan yang bagi saya terbaik adalah momen di toko cincin yang berhasil membuat saya terbahak di tengah malam. Kemunculan aspek komedinya semakin kental pada saat narasi mulai bergerak ke penceritaan usaha Charlie-Harper mencomblangkan bos mereka.

Komedinya memang merupakan keunggulan utama pada film ini, namun bukan berarti Scanlon melupakan pada aspek penceritaan karena Silberman menghadirkan pula character arc masing-masing pada Charlie-Harper dalam durasi 105 menit film ini. Silberman memberikan alasan kepada mereka mengapa begitu tahan bantingnya terhadap perlakuan tidak masuk akal bos mereka. Charlie ingin mendapatkan promosi jabatan dan mengundurkan diri jelas bukan keputusan yang mudah untuknya mengingat usianya telah menginjak 28 tahun. Sedangkan Harper yang diam-diam mengagumi sosok Kirsten ingin sekali saja tulisan darinya bisa dimuat dalam situs milik Kirsten. Singkatnya, Charlie dan Harper ingin mendapatkan pengakuan dari bos mereka. Dan tidak susah pula untuk menebak jika kebersamaan mereka pun akan menimbulkan benih-benih cinta antara mereka. Kedekatan antara Charlie dan Harper pun disajikan begitu natural, terbantu juga akan chemistry kuat yang diciptakan Glen dan Zoey. Bisa ditebak pula jika di akhir cerita nanti mereka akan bersatu dan menjalin sebuah hubungan. Klise, tetapi tidak masalah toh jika kita menyukai kedua karakternya.

Selain penceritaan yang menarik, faktor lainnya yang menjadikan Set It Up begitu enak diikuti adalah keberadaan Glen Powell dan Zoey Deutch. Mereka memiliki kemampuan yang mampu membawakan dialog-dialog mereka dengan menarik. Saya tentu tidak keberatan jika saya ada diruangan bersama mereka dan memperhatikan back and forth mereka. Mungkin sedikit kelemahan dari Set It Up terdapat pada bagian konklusinya yang terkesan digampangkan dan disajikan tidak terlalu elegan. Plot hole pun ikut terasa pada narasi pencombalangan antara Rick dan Kirsten, namun karena Set It Up merupakan film drama komedi, rasanya tidaklah terlalu bijak untuk terlalu memperhatikan detilnya. Terlepas dari kelemahan-kelemahan ini dan juga poster filmnya yang nggak banget, saya tidak menampik jika Set It Up adalah tontonan yang menyenangkan. 

7,75/10

Monday, 31 December 2018


"Listen to me, we're going on a trip now, it's going to be rough."- Malorie

Plot

Virus misterius yang menyerang seluruh dunia, termasuk negeri Amerika (tentu saja) mengakibatkan Malorie (Sandra Bullock) terjebak di dalam rumah, bersama orang-orang lainnya yang secara beruntung belum ikut terkena virus tersebut, salah satunya adalah Tom (Trevante Rhodes) yang menyelamatkan Malorie. Virus yang tersebar itu memberikan gejala ke siapapun yang terkena melalui kontak mata untuk melakukan tindakan membunuh dirinya sendiri. 




Review

Film yang diadaptasi dari novel Josh Malerman dengan judul yang sama ini segera saja menjadi sebuah pop culture tersendiri berkat berpuluh gambar meme yang tersebar di internet. Konsep cerita nya memang tidak sepenuhnya original karena di tahun yang sama kita telah dihadiri A Quiet Place yang sama-sama memiliki genre horror. Bila pada film John Krasinki tersebut ancaman akan hadir bila para karakternya mengeluarkan suara sekecil apapun, karakter-karakter yang terlibat dalam Bird Box harus dipaksa harus menutup mata mereka demi menghindari virus misterius yang mengancam mereka. Bird Box pun membuka narasinya dengan langsung menghadirkan tragedi chaos yang langsung saja menyita perhatian saya. Saya yang awalnya hanya ingin melihat sekitar 15 menit di awalnya saja, seketika berniat untuk langsung melahap habis film produksi Netflix ini. Kalau di adegan awal nya saja sudah menghadirkan keseruan gila seperti itu, tentu saya akan mendapatkan hal lebih gila lagi di menit-menit sisanya. Dan sayangnya, keinginan tersebut berakhir dengan rasa yang sedikit kecewa karena di sisa menitnya, karena film dari Susanne Bier ini sama sekali tidak ada letupan konflik yang mampu menyaingi adegan chaos tersebut. Jangankan menyaingi, mendekati saja pun tidak.

Bier menyajikan dua cerita timeline yang berbeda. Yang pertama adalah perjuangan Malorie melakukan perjalanan dengan kedua anaknya ke suatu tempat, lalu yang kedua adalah cerita 5 tahun sebelumnya menceritakan kisah bertahan hidup Malorie dan Tom dimana Malorie yang saat itu masih dalam kondisi mengandung. Narasi yang kedua tentu diniati Bier untuk mengeksplorasi karakter Malorie serta pertemuannya dengan Tom yang merupakan love interest dari Malorie. Namun disinilah yang merupakan faktor terlemah Bird Box. Sama seperti The Purge (2013), potensi yang luar biasa menarik pada Bird Box tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh Bier. 

Tempo film yang begitu tinggi di awal film tidak bisa dijaga oleh Bier. Praktis, setelah Malorie harus terjebak di dalam rumah yang dimiliki Greg (BD Wong), tensi film melambat tanpa adanya konflik yang berarti. Tidak ada perdebatan hebat yang terjadi antar penghuni yang bertahan hidup, tidak ada juga ancaman dari luar rumah yang membuat penonton menahan nafas. Ada satu momen yang sebenarnya bisa dimaksimalkan oleh Bier meletupkan konfliknya saat para karakter harus keluar dari rumah tersebut akibat persediaan makanan di dalam rumah telah menipis. Namun kembali, potensi tersebut dilewatkan saja. Andaikan saja Bird Box memiliki sutradara seperti Ari Aster yang memiliki visi luar biasa dalam menakut-nakuti penontonnya. Saya masih berharap bila di akhir film, Bird Box akan menghadirkan momen ending yang powerful layaknya Hereditary (my favorite movie this year), tetapi kembali, saya dikecewakan akan ending nya yang tampaknya diniati untuk membuka potensi sekuel film ini. Saya mencoba mencari tahu di internet apakah memang Bird Box versi novel memiliki akhir yang sama, dan kenyataannya versi novel dari Malerman memiliki ending yang lebih disturbing dibandingkan filmnya.

Naskah Bird Box yang ditulis oleh Eric Heisserer juga tidak memberikan ruang eksplorasi dalam terhadap karakter-karakternya sehingga saya tidak menyalahkan Anda jika Anda tidak terlalu perduli karakter selain Malorie dan Tom, bahkan untuk Tom sendiri masih kurang digali dengan dalam walau memang ada beberapa dialog didalamnya yang menceritakan tentang dirinya. Interaksi antar karakter minim sekali akan nuansa yang berwarna, seolah memang perbincangan yang terjadi tampak diniati sebagai pembunuh waktu. Satu-satunya faktor yang membuat saya cukup bertahan mengikuti Bird Box tidak lain tidak bukan adalah karena adanya John Malkovich yang memerankan Douglas berkat karakternya yang tidak bisa ditebak akan kelakuannya. Karakter Douglas juga terasa manusiawi dibandingkan karakter lainnya. Terdapat ambiguitas yang tersimpan, dan hal ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh baik oleh Heisserer.

Sandra Bullock jelas telah melakukan tugasnya dengan baik. Bullock adalah salah satu aktris yang memiliki kharisma likeable yang terpancar. Berkatnya, Malorie terlihat sebagai wanita yang tidak lemah walaupun memerankan karakter yang tengah mengandung. Bullock mampu menghidupkan setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Hal tersebut terlihat di bagian ending nya yang cukup emosional berkat delivery dari Bullock. Sayang memang, Bullock tidak dimodali dengan naskah yang brilian. Bird Box jelas memiliki semua potensi yang bisa memberikan teror yang tak terlupakan kepada penonton, namun sekali lagi, Bird Box hanya berakhir sebagai film penghasil ide untuk kreator meme. Tidak jelek, tetapi tentunya bisa berakhir jauh lebih memuaskan dengan semua potensi didalamnya.

7/10

Friday, 28 December 2018



"We are alone. No matter what they tell you, we women are always alone."- Sra. Sofia

Plot 

Menceritakan kehidupan seorang pembantu rumah tangga, Cleo (Yalitzia Aparicio) di Mexico City pada tahun 1970an.




Review

Bagus atau tidaknya film tentu adalah jawaban subjektifitas dari masing-masing penonton, tidak perduli sebegitu kerasnya sangkalan sebagian besar dari mereka. Bagi saya, film akan saya katakan bagus bila film tersebut mampu memberikan pengalaman yang menyenangkan kala menyaksikannya. Kemudian, akan menjadi istimewa jika film menuturkan kisah yang relatable, atau/serta memberikan kesan mendalam sehingga susah dilupakan. Intinya, saya tidak akan terlalu memperhatikan hal-hal teknis dalam film. Ketika saya telah menikmati filmnya, saya tidak akan malu bilang bila saya suka film tersebut, entah kritikus bicara berbeda atau tidak. Sejauh ini, film guilty pleasure yang muncul di benak adalah Transformers: Dark of the Moon (karena kebetulan memiliki kesempatan menontonnya di bioskop), lalu American Pie dan Machete. Mungkin saya telah beberapa kali memberikan pernyataan di blog ini jika saya cukup kesulitan menyukai atau menikmati film yang memiliki pergerakan tempo yang cukup lambat, apalagi film nya minim akan letupan konflik yang mampu menyita perhatian. Namun, bukan berarti juga saya secara otomatis tidak akan menyukai film sejenis. Buktinya, saya mengagungkan There Will be Blood atau juga Taxi Driver. Film-film tersebut memiliki letupan konflik yang berhasil menyita perhatian saya atau karakter didalamnya yang compelling. Bahkan saya pun menyukai film yang baru saya review, Leave No Trace. Sayangnya, Roma tidak memiliki ini.

Judul "Roma" sendiri diambil dari nama kawasan di Mexico City, dimana sang sutradara, Alfonso Cuaron, menghabiskan masa kecilnya. Film Roma sendiri memang jenis film semi autobiografi yang didedikasikan Cuaron untuk Libo Rodriguez, yang merupakan pengasuh Cuaron di masa kecilnya. Ibarat kata, Roma adalah surat cinta dari Cuaron teruntuk Libo, maka tidak heran jika Roma menjadi karya yang personal untuk Cuaron. Cuaron seolah ingin memperlihatkan jasa besar seorang pembantu rumah tangga (PRT) yang kerap terlupakan. Berdasarkan hal itu pula tampaknya menjadi alasan Cuaron memilih untuk menyajikan rutinitas sehari-hari Cleo di menit-menit awal. 

Dari opening credit nya, Roma seolah telah memberikan clue akan jadi seperti apa film ini. Tempo berjalan lambat dengan teknik long take yang telah menjadi ciri khas dari Cuaron. Letupan konflik pun sangat minim sekali, sehingga saya pun masih menerka-nerka sebenarnya apa yang menjadi pusat cerita dari Roma. Pendekatan Cuaron ini seketika mengingatkan saya akan film Paterson. Dan percayalah, kesabaran tingkat tinggi memang sangat diperlukan. Entah berapa kali saya memeriksa durasi film yang telah berjalan karena saya merasa film seolah telah berjalan 1 jam lebih. Lambannya tempo film ini merupakan faktor terkuat mengapa saya kesulitan menikmati Roma. 

Pendekatan Cuaron ini memang bertujuan untuk menghasilkan keterikatan penonton dengan sentral karakter dalam Roma, yaitu Cleo. Dari bermacam tugas yang ia kerjakan, seperti membersihkan kotoran anjing di koridor, menemani 4 anak dari dr. Antonio (Fernando Grediaga) dan Sra. Sofia (Marina de Tavira), menjemur pakaian hingga mematikan semua lampu di setiap sudut rumah. Tak terpungkiri memang, secara tanpa sadar, rasa perduli atau keterikatan emosional telah tercipta. Dan ini akan mempengaruhi reaksi Anda saat konfliknya memuncak kala durasi mendekati 30 menit terakhir dalam film. Sebelumnya, sekali lagi, harap Anda bersabar mengikuti adegan-adegan lambat nya. Pada puncak konflik, ada satu adegan shocking yang mengingatkan saya akan karya Cuaron sebelumnya, Children of Men. Bila di film tersebut Cuaron menyajikan proses, maka disini yang lebih dieksploitasi adalah aftermath nya. Reaksi Anda mungkin akan sama seperti Cleo pada adegan itu, terutama jika Anda adalah perempuan.

Disajikan dengan layar hitam putih untuk menambah kesan "jadul" nya, serta penggunaan bahasa Spanyol, turut menjadi andil mengapa Roma begitu segmented. Cuaron sadar akan hal ini, untuk itulah, Cuaron menunjukkan kepiawaiannya sebagai sutradara untuk menyiasati kebosanan penonton. Dengan long take dibantu dengan pengambilan gambar wide angle, Cuaron berhasil menyapu setiap sudut ruangan kala mengikuti Cleo melakukan aktivitasnya, sembari melakukan observasi terhadap karakter yang sedang berada di dekat Cleo. Penyajian ini tentu memiliki esensi dan tidak sekedar show off dari Cuaron yang juga duduk di kursi sinematografi. Fokus terhadap Cleo tidak akan terpecah, sembari pembangunan sub plot pada karakter sekitar, terutama hubungan pernikahan dr. Antonio dan Sra. Sofia, yang mengabitkan tidak stabilnya emosi Sra. Sofia. Terkadang ia begitu baik kepada Cleo, namun tidak jarang, bentakan keluar dari mulutnya, yang diterima Cleo tanpa adanya bantahan. Kedekatan Cleo dengan setiap anggota keluarga tersebut pun juga ikut tercipta, sehingga menambah kesan emosional yang terjadi di akhir adegan kala Cleo dipeluk oleh masing-masing anggota keluarga ditepi pantai, yang menunjukkan bila Cleo tanpa mereka sadari telah menjadi bagian pondasi penting dalam keluarga mereka. Sebuah adegan yang cukup emosional juga indah. Sebelumnya pun, Cuaron menunjukkan adegan yang memiliki makna tersendiri terhadap kehidupan Cleo saat Cleo menerjang ombak pantai walau kenyataannya ia tidak bisa berenang. 

Lalu, apakah Roma film yang layak ditonton? Jawabannya, IYA, dengan catatan Anda telah memiliki minat lebih terhadap dunia film atau setidaknya selera Anda adalah jenis slow burning drama. Tetapi bila Anda tidak termasuk di salah satu kategori tersebut, saya sarankan Anda tidak usah repot-repot mencoba menonton Roma. Saya sendiri pun bila saya tidak ada dorongan ingin mencoba film unggulan Oscar ini, mungkin saya tidak akan repot-repot menyaksikan film yang sangat segmented ini. 

7,5/10



Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!