Thursday, 23 February 2017



"Today her name is Jess. Tomorrow it could be Lisa or Amber - it all depends on the day. It depends on my mood. The truth is, I don't know her name."- Rachel

Plot

Gadis tersebut bernama Rachel, wanita penggemar minuman keras yang kerap menghilangkan kesadarannya sehingga menyebabkan ingatan nya sering kali samar. Rachel sendiri merupakan mantan istri dari Tom Watson (Justin Theroux) yang kini telah beristrikan Anna (Rebecca Ferguson). Akibat dirinya belum bisa melupakan Tom, Rachel menghabiskan hari-harinya dengan menaiki kereta yang melintas di depan rumah Tom untuk paling tidak mengamati keseharian Tom dan Anna dari jauh. Namun, tidak hanya mereka yang diperhatikan Rachel, tetangga Tom dan Anna pun juga tidak luput dari mata Rachel. Tetangga tersebut adalah Megan (Haley Bennett) yang memiliki pasangan Scott (Luke Evans). Tidak jarang juga Rachel memperhatikan kemesraan Megan dan Scott yang membuat Rachel iri. Suatu hari, Rachel tanpa ia sadari terlibat kasus hilangnya Megan. Sayangnya, walau Rachel berada di TKP, ingatan Rachel samar disebabkan pengaruh dari minuman keras yang ia teguk. 




Review

The Girl on the Train merupakan adaptasi novel berjudul sama karya dari Paula Hawkins. Novelnya sendiri memiliki setebal 325 halaman, yang tentu saja jumlah tersebut cukup banyak dan padat bila ditranslansikan ke dalam media film. Perlu ketelitian dan pemahaman lebih akan sumbernya demi mendapatkan hasil yang optimal dan mampu memuaskan penonton yang baik belum maupun yang telah membaca novelnya. Di atas kertas, The Girl on the Train yang memiliki genre psychological thriller tentu saja berpotensi menjadi sajian yang mendebarkan dan mengajak penonton untuk memutar otak memecahkan segala misterinya. The Girl on the Train pun digawangi oleh 3 aktris yang sedang dalam puncak karir. Ada Emily Blunt yang jarang mengecewakan, Haley Bannett yang sukses menjadi scene stealer di remake The Magnificent Seven, dan ada juga Rebecca Ferguson yang berhasil angkat nama berkat penampilan memikatnya di instalmen kelima Mission Impossible. Dengan segala potensi yang ada, bisa dimengerti bila ekspektasi penonton sedikit tinggi. Namun sayang, hasil akhir yang ada cukup mengecewakan walau memang tidak bisa disebut berantakan juga.

Mencoba setia pada novelnya, Sutradara Tate Taylor yang dibantu juga oleh screenplay garapan Erin Cressida Wilson membagi ceritanya berdasarkan 3 Point of View, yaitu Rachel, Anna dan Megan. Semua POV masing-masing karakter tersebut disebar dalam pergerakan narasi, dimana khusus cerita Megan, semuanya berasal dari flashback. Sebenarnya esensi membagi 3 point of view seperti ini adalah memberikan kedalaman karakterisasi supaya penonton pun bisa relate dan simpati kepada karakternya. Namun, tampaknya dengan durasi "hanya" 112 menit, Tate Taylor harus mengorbankan 2 karakter nya untuk menjadikan Rachel sebagai karakter sentral. Bukan pilihan yang salah karena memang dibanding karakter yang lain, Rachel adalah karakter yang begitu kompleks dengan segala problematika yang ia alami. Imbasnya, karakter yang lain pun menjadi korban dan jatuhnya mereka pun hanya sebagai penghias, bahkan Ana dan Megan. Khusus untuk Megan, sebenarnya ada usaha dari Wilson untuk memberikan pendalaman dengan tragedi hidupnya yang diungkapkan pada pertengahan cerita, tetapi sayang, penonton telah menginvestasikan kepedulian mereka kepada karakter Rachel sehingga karakter Megan hanya menjadi penghias layar belaka. Ana jauh lebih mengenaskan, dimana karakternya disini hanyalah diperlihatkan sebagai ibu rumah tangga yang memiliki kecurigaan akan tingkah suaminya. Praktis, film ini memang berpusat pada karakter Rachel saja.

Bagian terbaik The Girl on the Train adalah sebelum terungkapnya masalah utama, dimana kita diajak melihat kehidupan Rachel yang begitu berantakan. Atmosfir dingin pun senantiasa menemani kala perilaku Rachel yang seolah senantiasa meneror keluarga baru dari Tom. Intinya poin utama disini penonton diajak untuk mempercayai bahwa Rachel adalah karakter yang kacau serta memiliki sifat yang unpredictable berkat kecanduannya pada alkohol. Sehingga ketika cerita mulai memasuki bagian utamanya, timbul pertanyaan dari penonton setelah melihat semua kelakuan dari Rachel tadi. Nah, disini lah letak flaw terbesar dari Tate Taylor. Alangkah baiknya bila 3 chapter yang ada tidak dicampur leburkan menjadi kisah non linier, karena bukannya pilihan tersebut membuat penonton semakin menggelitik untuk memecahkan misterinya, sebaliknya karena kurang piawainya Wilson dalam bercerita dalam non linier. Akibatnya bisa jadi penonton malah hilang fokus atau rasa tertariknya dalam pertengahan cerita. Dalam esensi menyajikan cerita yang "berantakan" ini sebenarnya adalah tetap menjaga atensi penonton hingga menciptakan pertanyaan yang ada di benak "apa yang sebenarnya terjadi". Contoh terbaik bisa dilihat di ending Jackie Brown- nya Quentin Tarantino yang digarap begitu apik karena setiap narasi yang ada membuat penonton begitu candu untuk mengikutinya, dan ketika jawaban diungkapkan, ada rasa puas tertinggal dalam benak penonton. Hal itu yang kurang ada di dalam The Girl on the Train. Hanya twist pertengahan saja yang memang cukup memberikan rasa puas, namun selebihnya tidak terlalu begitu sukses karena Tate Taylor seolah-olah ingin bermain-main lebih lama lagi dengan penonton padahal jawaban yang ada sebenarnya telah dimiliki oleh penonton. Sebuah hal yang fatal bagi film yang bergenre Psychological Thriller. Jadi, jangan heran bila parade twist menjelang akhir tersebut justru tidak meninggalkan kesan. Apalagi mungkin karena perihal waktu yang singkat, begitu banyak momen yang sebenarnya dijelaskan namun dibuat praktis sehingga meninggalkan plot hole yang cukup mengganggu.

Namun, The Girl on the Train bukan tidak memiliki kelebihan. Dari segi teknis, seperti sound atau cinematography nya cukup berhasil dalam membangun nuansa atmosfir dingin nya. Dan tentu saja lakon dari pemain-pemainnya cukup cemerlang, terutama Emily Blunt dan Haley Bennett. Haley Bennett begitu meyakinkannya sebagai Megan yang rapuh namun juga memiliki sex appeall yang begitu menggoda nan seduktif sehingga bukan mustahil mampu membuat laki-laki manapun khilaf berada di dekatnya. Blunt jauh lebih hebat dimana ia mampu merepresentasikan kekacauan dari karakter Rachel. Blunt sangat meyakinkan menutupi wajah manisnya dengan muka depresif, lengkap dengan lingkaran hitam di matanya yang menunjukkan betapa kosongnya hidup Rachel. Sebenarnya susah untuk bersimpati akan karakter Rachel dengan plot atau background yang ada (meneror keluarga mantan suami?), namun berkat pendekatan dari Blunt, penonton pun mau tidak mau untuk memberikan simpati mereka kepada Rachel. Alasan utama saya untuk tetap menikmati film ini pun faktor utamanya adalah penampilan dari Blunt itu tersendiri. Semoga Blunt tetap pintar dalam memilih peran sehingga pihak Academy pun akan melirik kemampuannya. Sayangnya potensi Rebecca Ferguson yang kurang termaksimalkan disini. Bukan salah dari Rebecca nya juga, karena memang ruang yang diberikan cukup sempit bagi Rebecca untuk menunjukkan kapasitas aktingnya. Paling tidak lewat film ini, Rebecca menunjukkan bila ia pun piawai dalam berakting drama thriller seperti ini.

Berpotensi menjadi sajian thriller yang memikat, nyatanya Tate Taylor tampak kewalahan dalam menerjemahkan lembar demi lembar dari novel yang dijadikan sumber adaptasi. Begitu lemah dalam mencengkram atensi lewat penceritaan ataupun kejutannya yang diungkap menjelang akhir, The Girl on the Train sangat terselamatkan berkat penampilan meyakinkannya Emily Blunt dan Haley Bennett.

6,75/10




"If you wear a dress and have an animal sidekick, you're a princess."-Maui

Plot

Moana (Auli'i Cravalho), seorang gadis dari pulau Motunui, memiliki keinginan suatu hari nanti ia akan menjelajahi laut yang luas. Keinginan yang sedari kecil ia pendam harus ia kubur dalam-dalam karena sang ayah yang juga kepala desa di pulau tersebut, Chief Tui (Temuera Morrison), melarang keras akan keinginan Moana. Namun, kondisi pulau Motunui memburuk dari hari ke hari, seperti buah kelapa yang menghitam dan ikan yang menolak untuk mendekati pulau. Gramma Tala (Rachel House) menyadari bila hal itu terjadi karena kutukan dari Mother Island, Te Fiti, yang diambil jantungnya oleh Maui (Dwayne Johnson). Gramma Tala pun meminta Moana untuk segera mencari Maui dan bersama-sama mengembalikan jantung Te Fiti ke tempat semula. Gramma Tala yakin bila Moana telah dipilih oleh sang laut sendiri karena suatu kesempatan sang laut memberikan jantung Te Fiti kepada Moana sebagai bentuk kepercayaan.




Review

Rasa penasaran merupakan salah satu dari sekian banyak sikap natural yang menjadi kekuatan bagi manusia. Karena rasa penasaran, manusia memiliki kekuatan untuk mencoba mencari tahu sesuatu yang baginya asing namun memberikan segudang pertanyaan yang menggelitik untuk dieksplorasi. Apakah rasa penasaran itu sepadan untuk dicari jawabannya, bagaimana cara untuk mendapatkan jawabannya, dan masih banyak lagi. Rasa penasaran atau keingintahuan kita berada di puncaknya saat kita belum lah beranjak dewasa. Makanya, ketika kita belum mengetahui kejamnya kehidupan, kita bermimpi setinggi langit. Namun, berdasarkan alasan dimana begitu banyaknya lika-liku untuk mewujudkan mimpi itu, manusia menjadi realistis dan menurunkan standart mimpinya. Menjadikan jalan terjal menuju mimpi sebagai suatu alasan untuk pembenaran diri bahwa melangkah mundur adalah langkah yang tepat demi melanjutkan hidup. Moana, yang merupakan sajian kedua dari rumah studio animasi Walt Disney, mengingatkan kembali kepada penonton yang telah beranjak dewasa betapa indahnya hidup kala rasa penasaran atau mimpi masih begitu tingginya. Dan bagi penonton cilik, ini adalah sebuah film motivasi untuk mereka supaya tetap menjaga mimpi mereka walau nantinya akan begitu banyaknya halangan yang menghadang.

Sebelum mengulas lebih lanjut, i just wanna to put in here that I don’t really like a story about a “Chosen One” or something like that.  Bagi saya, cerita semacam itu telah usang dan begitu membosankan kala melihat karakter utama yang tidak ada angin tidak ada hujan dipilih oleh “takdir” untuk menjadi pahlawan bagi tanah airnya. Tidak sampai disitu saja karena saya juga bisa menebak akan ada beberapa momen Deus Ex Machinanya pula yang akan banyak dijumpai kala narasinya berjalan seolah ada plot armor tersendiri yang tersedia khusus untuk karakter utamanya yang merupakan “The Chosen One” itu sendiri. Moana sendiri bukanlah pengecualian karena Moana sendiri memang menceritakan seorang gadis belia yang harus menyelamatkan pulau nya dari ancaman binasa dengan melakukan perjalanan yang dirasa mustahil. Kenapa gadis tersebut rela mengarungi semua bahaya tersebut? Because she’s the Chosen One, Goddamnit!!
Namun, walau memang tema dasarnya sangatlah mainstream, John Musker dan Ron Clements tak membiarkan karakter heroine mereka menjadi karakter yang menyebalkan dengan segala plot armor yang ada. Dengan screenplay yang ditulis oleh Jared Bush, mereka membuat karakter Moana begitu likeable. Pendekatan akan karakter Moana memang tidak lah spesial, namun Musker dan Clements mengajak penonton untuk menjadi saksi perjalanan Moana yang dari awal tanpa pengalaman atau juga skill dalam menjelajahi lautan yang ganas, menjadikan petualangannya sebagai ruang untuk belajar hingga menjadi gadis yang dewasa dalam perjalanannya, sehingga ia pun menjadi gadis yang siap untuk menjadi penjelajah lautan sesuai dengan impiannya. Memang, durasi untuk memperlihatkan perjuangan solo Moana dalam menghadapi ganasnya laut kurang mendominasi, apalagi dengan segala tetek bengek akan bantuan air laut yang mungkin bagi sebagian besar penonton kurang relate dengan perjuangan Moana. Disitulah fungsi utama akan karakter side kick, sang demi-God yang turut pula menjadi guru bagi Moana, yaitu Maui. Maui sendiri memang diceritakan telah banyak menempuh perjalanan yang menjadikannya begitu berpengalaman dalam menghadapi kerasnya berlayar di atas laut. Sehingga dengan adanya Maui, fokus penceritaan tidak hanya berpusat pada usaha Moana untuk menyelamatkan pulau nya, namun juga menciptakan sub plot akan proses Moana dalam meyakinkan sang ayah yang kerap melarangnya pergi ke lautan dengan mendalami ilmu pelayaran dari Maui.

Keputusan ini sangatlah tepat, karena dengan demikian penonton pun akan dengan mudah menerima dengan segala kemampuan Moana dalam mengendalikan kapalnya di saat Moana harus tampil solo di layar. Tidak hanya itu, kala perkenalan pun kita telah menyaksikan bagaimana Moana begitu terampil dalam melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan bertahan hidup. Karakter Moana sendiri memang mengingatkan kita kembali akan karakter Judy Hopps di Zootopia yang diproduksi pula oleh Walt Disney, dan walau bagi saya karakter Judy jauh lebih likeable, tidak membuat Moana ini menjadi karakter yang datar dan tidak menciptakan sebuah ikatan kepada penonton, karena memang tidak ada alasan bagi penonton untuk tidak menyukai Moana dengan segala keingin tahuannya dalam mendapatkan pengetahuan dalam berlayar serta Moana bukanlah whinny bitch yang tentu saja akan menjadikannya karakter yang annoying. Tapi, walau memang Moana begitu mendominasi di layar, bagi saya sangatlah susah untuk Moana menyaingi pesona Maui yang di dubbing sangat baik oleh Dwayne “The Rock” Johnson. Awalnya, Maui adalah karakter anti-hero yang tidak memikirkan hal lain kecuali keselamatan dirinya sendiri. Namun susah untuk membenci Maui dengan segala kesombongannya dan juga interaksi kocaknya bersama gambar tato yang ada di dadanya. Keputusan tepat pula dengan memvisualisasikan karakter Maui ini begitu mirip dengan Johnson, seperti kebiasaan mengangkat alis sebelah mata, dan badan nya yang dipenuhi dengan tato. Auli’i Cravalho pun turut andil dalam menjadikan karakter Moana itu begitu loveable dan jangan lupa juga Auli’i Cravalho sangat piawai dalam bernyanyi.

Yang membuat Moana sedikit spesial dibandingkan film-film animasi Hollywood tahun 2016 adalah tentu saja sajian visualnya yang mengagumkan. Semenjak memasuki menit pertama saja, penonton telah disajikan bentangan laut biru yang indah, dilengkapi juga dengan hijaunya pulau Muntiti. Pameran visualnya semakin “kurang ajar” kala Moana melakukan perjalanan, seperti malam yang dipenuhi bintang dan juga tentu saat Moana bertemu dengan Te Ka di akhir film. Kudos untuk para staf animasi nya yang telah memanfaatkan budget $150 Million nya dengan sangat baik. Beruntunglah bagi mereka yang menyaksikan Moana di layar raksasa bioskop. Tidak ketinggalan juga track-track yang begitu catchy, melengkapi parade sajian visual dari Moana hingga lebih berkesan.

Sajian visualnya yang begitu luar biasa memang bisa saja membuat penonton menjadi bias dalam menilai Moana, karena seperti yang saya bilang di awal-awal, Moana hanya lah menceritakan perjuangan karakter chosen one yang telah ditakdirkan menjadi penyelamat tanah airnya. Maka bukan lagi mengejutkan bila banyak plot armor tersedia kala cerita berjalan. Tetapi berkat penggambaran karakter Moana yang menyenangkan, jadinya sedikit mudah memaafkan segala hal “kehebatan tak terduga” Moana dalam perjalanannya. Tidak spesial, namun tidak terpungkiri bila Moana merupakan sajian yang menyenangkan dengan visualnya yang indah dalam menemani pertualangan Moana.

7,75/10

Monday, 13 February 2017




I've been here a long time. Out of Cuba. A lot of black folks are Cuban. You wouldn't know from being here now. I was a wild little shortie, man. Just like you. Running around with no shoes on, the moon was out. This one time, I run by this old... this old lady. I was running, howling. Kinda of a fool, boy. This old lady, she stopped me. She said... "Running around, catching a lot of light". "In moonlight, black boys look blue". "You're blue". "That's what I'm gonna call you: 'Blue'."- Juan

Story

Menceritakan karakter Chiron yang dibagi dalam 3 fase usia, yaitu kala masih anak-anak (Alex R. Hibbert), remaja (Ashton Sanders) dan dewasa (Trevante Rhoses) yang mana ia telah menjadi kurir narkoba di Miami, mengikuti jejak Juan (Mahershala Ali) yang merupakan pria yang dianggap sebagai ayah bagi Chiron. Juan adalah orang yang menyelamatkan Chiron ketika Chiron dikejar oleh anak-anak lainnya yang berniat membully Chiron yang memiliki postur tubuh yang kecil kala itu. 





Review

Saya merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang sedikit sensitif mengenai topik bully. Bagi saya, bully membuat para pelaku nya menjadi sangat hina dan tidak ada sama sekali simpati bagi saya untuk para pelakunya. Saat Moonlight yang ditulis juga oleh sang sutradara, Barry Jenkins, mengangkat tema bully, saya telah memprediksi bahwa saya akan menyukai karya keduanya ini. Tidak hanya itu, Jenkins menjadikan karakter berkulit hitam sebagai karakter sentral. Seakan kurang untuk mengaduk-aduk emosi penonton nya, karakter utama ini GAY!! Telah terlihat jelas bila konflik yang ada begitu rumit karena bagi pria-pria berkulit hitam, mengenai perihal gay adalah sesuatu yang sangat tabu dan merupakan aib bagi siapa pun yang memilikinya.

Kesampingkan gimmick yang dilakukan Linklater pada Boyhood, mudah untuk menyamakan kisah Moonlight pada masterpiece-nya Linklater itu. Keduanya sama-sama membahas karakter sentralnya dari kanak-kanak hingga dewasa, dan selain itu juga fokus narasi ada pada pencarian jati diri sang main character. Namun, walau pun memang saya menyukai Boyhood, tapi perihal emosi harus diakui Boyhood terasa hambar dan cukup datar. Berbeda dengan Moonlight, karena memang persoalan yang diangkat begitu sentimentil nan pelik yang harus dihadapi oleh Chiron. Jenkins memang memasukkan beberapa adegan emosional yang penuh drama, namun Jenkins menyajikannya sesuai dengan takaran. Begitu pas sehingga tidak terasa berlebihan. Dan juga berkat keputusan Jenkins dalam mengambil tiap karakter nya dengan pengambilan teknik kamera close up ke muka tiap karakter, penonton bisa dengan senantiasa memperhatikan ekspresi yang penuh kegetiran dari Chiron. Sifat diam juga jarang berbicaranya itu menggambarkan secara tersirat betapa berat takdir yang harus ia tanggung. Perpaduan dari kisah pencarian jati diri, bertahan hidup, cinta membuat durasi 110 menit yang dimiliki Moonlight begitu padat dan Jenkins menyajikannya begitu pelahan namun pasti untuk mengajak penontonnya tenggelam dalam narasi yang diceritakan. Hibbert, Sanders dan Rhoses bahu membahu menyuntikkan emosi pada karakter Chiron, sehingga walau memang karakter Chiron diperankan oleh 3 orang yang berbeda, penonton tetap melihat Chiron adalah Chiron, sama sekali tidak ada yang berbeda. 

Bila harus memilih bagian cerita yang terbaik, saya memilih cerita "Black". Tidak hanya penampilan Rhoses begitu luar biasa dalam memperlihatkan ekspresi diamnya yang harus hidup dalam topeng sebagai pria berkulit hitam yang macho, dengan tatapan matanya yang sayu Rhoses mampu merepresentasikan karakter Chiron yang begitu tertekan akan semua kontradiksi kehidupan yang dialaminya. Dalam "Black" pun dipenuhi momen-momen sunyi namun terasa sekali akan pergolakan batin yang dialami tiap karakternya. Sebut saja obrolan Chiron dengan sang bunda, dan tentu yang pasti saat Chiron kembali bertemu dengan Kevin (Andre Holland) di restoran dimana Kevin berkerja. Dan Saya pun tidak bisa untuk tidak merasakan kegetiran ketika Chiron mengungkapkan sebuah kejujuran kepada sahabat lamanya, Kevin dirumah Kevin. Sebuah kejujuran yang begitu pahit dan sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana beratnya Chiron memendam itu semuanya dalam waktu sedemikian lama. Ketika Jenkins menutupnya dengan sebuah momen yang begitu hangat serta sunyi, saya pun tak ragu untuk memberikan tepuk tangan untuk karya hebat ini. Aura depresif memang senantiasa membingkai Moonlight setiap menitnya berlalu. Tapi entah kenapa dengan sebuah ending itu, saya merasakan sebuah rasa optimis.

Selain penampilan tiga aktor tersebut, Mahershala Ali dan Naomie Harris pun tidak bisa diremehkan. Walau memang saya sedikit menganggap dinominasikannya Mahershala Ali ke Oscar pada kategori Best Supporting Actor overrated, namun saya tidak menyangkal bila Ali selalu steal the show kala karakter Juan ada di layar. Harris lebih hebat karena begitu totalnya ia sebagai sang ibu Chiron, Paula, setiap meluapkan emosinya. Momen terbaiknya jelas saat ia bicara dengan Chiron. Tidak perlu teriakan berlebihan, percakapan itu begitu emosional berkat totalitas dari Harris. Dilengkapi pula dengan bagian teknis Moonlight baik dari sound atau juga penangkapan gambar nya semakin melengkapi yang mengukuhkan Moonlight menjadi salah satu film terbaik pada tahun 2016. Jujur, saya masih memiliki harapan bila Arrival lah yang akan membawa pulang piala Oscar pada kategori Best Picture yang dihelat 26 Februari nanti, namun saya sama lebih ikhlas bila piala itu "direbut" oleh Moonlight dibandingkan La La Land.

9/10

Friday, 10 February 2017


I said a lot of terrible things to you. My heart was broken, and I know yours is broken, too.- Randi

Story

Selepas kematian sang kakak, Joe Chandler (Kyle Chandler), Lee Chandler (Casey Affleck) terpaksa untuk pulang kembali ke kota Manchester by the Sea untuk mengurus segala hal mengenai pemakaman Joe. Tidak hanya itu, ia pun harus mengurus anak dari Joe, Patrick (Lucas Hedges). Kota Manchester by the Sea sendiri meninggalkan kenangan pahit bagi Lee yang lantas membuka luka-luka lama lagi setiap menit ia berada di sana.





Review

Banyak orang bijak yang berpendapat bila musuh terbesar kita adalah kita sendiri. Butuh sebuah kekuatan yang beda untuk menghadapi ego tersendiri. Saat batin mulai terdegradasi akibat persoalan yang berat seolah tak mampu kita melewatinya, saat itu pula merupakan momen yang sakral bagi kita untuk menemukan kembali semangat hidup juga mendapatkan hati sekeras baja. Manchester by the Sea, yang digerakkan begitu perlahan oleh Kenneth Lonergan, menceritakan momen tersebut dan perlahan-lahan dengan setiap kondisi yang terjadi dalam sekitarnya, ia mencoba untuk menemukan jalan keluar dari rasa depresifnya untuk kembali menatap masa depan dan tidak tertinggal di masa lalu.

Semua dari kita pasti pernah mengalami momen seperti Lee Chandler sehingga mudah untuk memberikan simpati besar kepadanya, terutama saat kita telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik suramnya ekspresi Lee Chandler, jauh berbeda dengan dirinya di masa lalu yang tampak begitu lancar-lancar saja. Lee menjadi pemuda yang murung, tertutup dengan orang yang disekitarnya, bahkan ia kesulitan mengontrol emosinya. Memang tujuan Lonergan menyebar momen masa lalu Lee bersama sang kakak di tengah-tengah kehidupan sehari-hari Lee untuk mengkomparasi karakter Lee itu. Terlihat jelas berbeda, dimana Lee kala bersama dengan keluarganya serta sang kakak, Joe, sangat menikmati kehidupannya, sehingga memberikan pertanyaan di benak penonton akan masa lalu dari Lee yang mengubah dirinya menjadi individu yang dingin. Saat penonton telah memiliki beberapa dugaan mengenai penyebab murungnya Lee, Lonergan pun memberikan jawabannya di pertengahan durasi film, sebuah jawaban yang saya yakini melebihi apa yang kita ekspektasikan. Momen itu sendiri disajikan berkelas oleh Lonergan, ditambah dengan scoring depresif dari Lesley Barber yang turut menambah kelamnya kejadian itu.

Kekuatan utama Manchester by the Sea terletak pada screenplay yang ditulis juga oleh Lonergan. Lonergan menjalankan narasinya dengan lambat, yang mengajak penonton untuk tenggelam dengan cerita yang begitu depresif ini. Rasa depresif juga ikut dibantu dengan cuaca dingin yang senantiasa menemani hingga durasi berhenti berjalan. Pacing yang lambat ini tidak akan berhasil, menurut saya, bila saja Lonergan tidak jeli untuk tidak menebar kepingan-kepingan masa lalu dari Lee. Satu dari sedikit flaw Manchester by the Sea juga adalah ketika cerita berfokus pada kebersamaan Lee dan Patrick yang menurut saya terlalu banyak memakan durasi. Adegan dimana Patrick meminta bantuan Lee supaya bisa berduaan dengan sang pacar juga bagi saya tidak terlalu perlu. Selain karakter Patrick yang menyebalkan, juga momen itu sama sekali tidak mempengaruhi pada pergerakan narasi, walaupun memang momen itu menjadi salah satu comic relief dalam film ini. Mengenai comic relief nya sendiri secara mengejutkan memang cukup ampuh untuk menyegarkan penonton yang telah terjebak akan kisah yang depresif ini. 

Penampilan memikat ditunjukkan oleh Casey Affleck dimana dengan begitu meyakinkannya ia mampu menampilkan seorang Lee Chandler yang begitu berbeda. Puncaknya kala emosinya di akhir cerita kala ia beradu akting dengan Michelle Williams. Tidak mengejutkan apabila nanti Casey akan mendapatkan Oscar pertamanya pada tahun ini dengan performa hebat seperti itu. Michelle Williams pun mampu memanfaatkan time screen nya yang terbatas secara maksimal dengan memberikan penampilan heartbreaking di momen tersebut. 


8,5/10



"I'm letting life hit me until it gets tired. Then I'll hit back. It's a classic rope-a-dope."- Sebastian

Story

Mia (Emma Stone), seorang barista cafe bermimpi menjadi artis. Namun sayang dari sekian banyak audisi, ia selalu gagal. Di lain sisi, Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis yang juga memiliki mimpi ia ingin menyelamatkan musik jazz dengan membuka cafe yang akan memainkan musik jazz kapanpun ia mau. Takdir mempertemukan mereka dan tidak butuh waktu lama mereka pun menjadi pasangan, dimana mereka saling bahu membahu untuk mewujudkan mimpi masing-masing





Review

Setelah karya debutnya, Whiplash, berhasil baik kritik maupun materil, tentu para penonton akan kembali menantikan karya selanjutnya dari Damien Chazelle (yang baru berusia 31 tahun). Butuh waktu 2-3 tahun penikmat film menantikan karya selanjutnya, dan percayalah penantian itu tidak sia-sia karena La La Land kembali menunjukkan visi luar biasa dari Chazelle dimana ia menyulap kisah yang begitu sederhana menjadi mewah, megah dan berkelas, seperti musik jazz itu sendiri yang Chazelle begitu cintai.

Ya, sederhana. La La Land hanyalah menceritakan dua insan yang berusaha mewujudkan mimpi, dan seperti yang kita duga jalan mereka tidak mulus, yang mana pasti akan ada halangan yang membuat mereka mempertanyakan apakah perlu untuk tetap mewujudkan mimpi serta idealisme yang mereka anut kala semua halangan begitu menggoda untuk memaksa menyerah. Apa yang membuat La La Land begitu beda dengan film-film yang menceritakan narasi utama yang sama adalah kehebatan dari Chazelle itu sendiri. Dengan begitu piawainya Chazelle membuat adegan-adegan yang watchable dengan memasukkan unsur musikal, juga tidak ketinggalan koreografi-koreografi yang bahkan bisa membuat saya tersenyum. Adegan Mia dan Sebastian bernyanyi bersama untuk pertama kalinya di pinggir jalan juga diterangi lampu taman itu sungguh membuat candu serta memanjakan mata. Tidak hanya karena lagu yang mereka dendangkan begitu memanjakan telinga hingga memaksa penonton nya (baca:saya) juga ikut menggoyangkan badan tanda menikmati musiknya, namun juga koreo yang dilakukan Emma Stone dan Ryan Gosling yang bersinergi dengan lagunya, membuat momen ini adalah momen favorit saya dalam film ini. Tentu saja selain momen itu, masih banyak momen musikalnya yang begitu menunjukkan bahwa Chazelle itu memiliki visi sutradara yang tidak bisa diremehkan. Disokong pula dengan visual memanjakan mata dari Linus Sandgren yang "show off" di adegan planetarium yang begitu indah itu. 

Namun, sebagus apapun film nya bila tidak memiliki ending yang kuat tetap juga akan menjadi hambar kualitasnya. Untungnya Chazelle memahami ini. Di karya sebelumnya pun, Whiplash, Chazelle telah menampilkan sebuah ending yang begitu dinamis. La La Land pun seperti itu, namun lewat kesan yang lebih lembut serta indah lewat momen "what if" nya, yang mengajak penonton bermelankolis ria akibat sebuah kenyataan pahit akan semua pengorbanan demi mewujudkan mimpi. Tentu momen itu akan sia-sia bila penonton tidak perduli dengan karakter Mia dan Sebastian. Disinilah fungsi dari Emma Stone dan Ryan Gosling berbicara. Emma Stone dan Ryan Gosling menurut saya memiliki satu kesamaan, yaitu mereka bisa mewujudkan chemistry yang meyakinkan dengan siapapun lawan main mereka. Dan jangan tanya lagi betapa meyakinkannya mereka menjadi pasangan kala mereka dipadukan dalam satu layar. Tidak hanya berhasil menjadi pasangan, namun setiap individu pun Stone dan Gosling juga berhasil. Siapa wanita yang tidak jatuh hati melihat Gosling bermain piano dengan lightning yang redup itu? Siapa pula pria yang tidak tersenyum manis melihat begitu luwesnya Stone kala ia menari juga bernyanyi? Kudos besar untuk Ryan Gosling yang rela untuk berlatih memainkan piano demi mendapatkan peran sebagai Sebastian.

Chazelle, yang juga menulis cerita La La Land sendiri, pula memasukkan unsur subjektifitas dari dirinya mengenai musik jazz yang kini seolah kehilangan penggemarnya serta sulit untuk memasuki dunia industri lewat karakter Sebastian. Karakter Sebastian adalah seperti kebanyakan musisi yang masih memperjuangkan semua idealisme nya yang tentu akan bertubrukan dengan dunia industri yang tidak sejalan dengan segala mimpi nya itu. Semua kecintaan Chazelle tidak ia tumpahkan semuanya lewat musiknya saja, namun juga dari setiap dialog yang dikeluarkan Sebastian kala ia menceritakan semua mimpinya. Sebuah surat cinta dari Chazelle terhadap musik jazz yang tampaknya pula akan kembali ia tumpahkan dalam karya-karya berikutnya.

Walau dengan segala kelebihan di atas, saya tidak memungkiri bila memang La La Land sedikit overrated dengan segala pujian-pujian serta jumlah nominasi Oscar yang film ini dapatkan. La La Land film yang bagus, namun mungkin bagi saya film ini tidak akan terlalu membekas nan terkenang hingga dalam waktu yang lama. La La Land sangat terbantu dengan tangan emas dari Chazelle yang sangat jeli dalam merangkai tiap momen-momennya yang menyulap La La Land menjadi sajian yang begitu berkelas dan membuai penontonnya akibat sajian visual dan musik-musik yang sukses memanjakan telinga.

8,25/10

Sunday, 5 February 2017


"When you love someone you have to be careful with it, you might never get it again."- Edward Sheffield
 

Story

Susan Morrow (Amy Adams) tiba-tiba saja mendapatkan kiriman dari sang mantan suami yang telah 19 tahun tidak saling berhubungan, Edward Sheffield (Jake Gyllenhaal) berupa draft novel yang akan segera dirilisnya yang berjudul Nocturnal Animals. Susan sendiri tengah berada dalam posisi dimana ia tidak begitu menikmati karir nya sebagai pemilik galeri seni, serta hubungannya dengan sang suami, Hutton Morrow (Armie Hammer), dalam kondisi dingin dimana Susan mempertanyakan apakah ia masih mencintai Hutton atau tidak. Novel yang ditulis Edward menceritakan kisah dendam karakter utama di dalamnya yang memiliki nama Tony Hastings (diperankan juga oleh Jake Gyllenhaal) atas dibunuhnya sang istri dan putrinya, Laura (Isla Fisher) dan India Hastings (Ellie Bamber). Susan pun terhanyut dalam penceritaan itu yang menemani malamnya dimana ia pun memiliki masalah susah tidur akibat masalah-masalah yang dialaminya.




 

Review

Saya bukanlah orang yang berkarya, namun karena saya sedang melakukan proses menuju kesana, saya bisa memahami bila karya bisa menjadi perwakilan subjektifitas dari sang kreator. Sebuah hasil karya juga bisa merupakan perwujudan escapism dari sang penikmat karya dari segala rutinitas atau pula problematika yang dialami dalam pekerjaan atau percintaan, atau untuk paling tidak menikmati waktu longgar dari segala kesibukan. Nocturnal Animals menceritakan kondisi tersebut, dimana sang penikmat yang kebetulan memiliki problema dalam rumah tangga nya yang menjadikan hasil sebuah tulisan sebagai pelarian dari masalahnya. Sebuah karya yang unik dari Tom Ford namun sayangnya kurang berhasil memuaskan saya.

Nocturnal Animals jelas bukanlah film yang buruk. Nocturnal Animals memulai narasi nya dengan kuat, dengan memperkenalkan penonton pada karakter Susan yang tengah mengalami permasalahan dengan sang suami, juga pada bidang profesi seni nya, ia pun terkendala momen dimana ia bosan dengan pekerjaan yang ia punya. Well, untuk penonton yang juga mungkin seumuran dengan karakter Susan bisa mengerti dengan kondisi yang dialami Susan. Dan ketika Susan menjadikan karya dari sang mantan suami sebagai pelarian dirinya dari segala masalah yang ada pun itu masih menjadi kisah yang bisa terkoneksi dengan penonton. Tom Ford pun membuat film ini unik ketika lembar demi lembar cerita yang dihasilkan sang mantan suami, Edward, divisualisasikan berdasarkan imaji dari Susan. Tentu pendekatan tersebut perlu diambil supaya penonton mampu memahami mengapa Susan bisa tenggelam begitu dalam saat membaca novel dari Edward tersebut. Tidak lupa juga ketika narasi bergerak dalam penceritaan novel itu, terselip juga beberapa momen masa lalu Susan kala berkenalan dengan Edward hingga pada saat ia memutuskan berpisah dengan Edward, demi menjaga fokus supaya penonton tidak melupakan karakter Susan dengan segala masalahnya. Ya, Tom Ford tampaknya sadar bila karakter Susan tetaplah menjadi karakter yang sentral disini, tidak perduli bagaimana menawannya ia memvisualisasikan cerita novel Edward, karakter Susan tidak boleh sampai terlupakan oleh penonton. Nah, pada titik ini, saya merasa Tom Ford sedikit gagal karena cerita novel nya Edward sangat lah mendominasi yang menyebabkan saya tidak lagi memikirkan Susan.

Hal ini menurut saya cukup fatal karena cerita Susan merupakan cerita “nyata” yang terjadi di dalam film ini, sedangkan visualisasi cerita Nocturnal Animals itu sendiri seharusnya dijadikan fondasi dalam mengeksplor lebih dalam semua masalah Susan. Namun, sangat sulit untuk membagi fokus yang adil karena cerita mengenai novel yang ditulis Edward digarap begitu cemerlang oleh Tom Ford. Tidak butuh lama ceritanya sendiri mengambil perhatian ketika Tom Ford menghadirkan salah satu momen menegangkan dalam film ini yang digarap begitu baik oleh Tom Ford. Dengan memanfaatkan suasana gelap nan tandus Texas, serta dilengkapi pula scoring yang sukses meningkatkan ketegangan, Tom Ford berhasil menghadirkan adegan yang mencekam di tengah kegelapan itu.
Seperti karya nya Edward, Nocturnal Animals menceritakan dendam. Bila Anda perhatikan baik-baik, kisah yang Edward tuangkan dalam novelnya bersinergi dengan maksud sebenarnya Edward saat mengirimkan draft novelnya kepada Susan. Maka, bisa dimengerti bila Susan begitu tenggelam dalam cerita novel itu yang membuat Susan pun kembali terkenang masa lalu nya bersama Edward. Rasa bersalah, juga penyesalannya ketika menyakiti Edward mulai mengganggu Susan, seolah memang Edward menuangkan segala perasaannya lewat tulisan demi tulisan yang sukses membuat Susan terganggu serta terbuka hati nya untuk kembali menjumpai Edward, yang tanpa sepengatahuan Susan bila melalui novelnya itu, Edward ingin menjalankan agenda nya tersendiri. Dari endingnya yang terbuka itu pun semakin menguatkan saya akan pendapat ini, terbantu pula dengan kepingan-kepingan masa lalu dari hubungan Susan bersama Edward, terutama pada momen yang mampu saya memahami bila Edward memiliki dendam terhadap Susan.

Mungkin semua yang telah menonton film ini akan menyanjung penampilan dari Michael Shannon. Tiada yang menyangkal bila Michael Shannon itu adalah aktor yang hebat. Shannon berhasil memancarkan aura mengerikannya sebagai Bobby Andes, seorang inspektur yang menangani kasus Tony, lewat pancaran matanya yang sangat mengerikan. Namun di sisi lain, ada sisi lembut juga perhatian dari seorang Bobby terhadap kisah hidup Tony yang tragis. Walau memang Shannon yang terbaik disini, tapi kejutan terbesar ada pada diri Aaron Tylor Johnson yang rela menghiasi wajah nya dengan kumis yang lebat. Sebagai karakter antagonis disini, Aaron yang sebagai Ray Marcus, berhasil menjadi karakter yang begitu menyebalkan lewat tindakan-tindakannya yang begitu bajingan sehingga tidak sulit untuk membenci karakternya. Sebuah lakon yang menurut saya merupakan breakthrough dari Aaron. Amy Adams pun tidak kalah cemerlangnya sebagai seorang istri yang tengah mengalami kegundahan lewat sorot mata nya yang sayu, yang memperlihatkan betapa tersiksa batinnya. Jake Gyllenhaal, yang sempat saya takuti akan susah "move on" dari Lou Bloom, juga membuktikan bila ia adalah aktor serba bisa. Setiap kali Jake menceritakan tragedinya kepada pelaku, setiap itu pula Jake berhasil merebut simpati saya. Ya, penampilan dari mereka ini lah yang cukup bisa membantu menutupi kekurangan dari Nocturnal Animals yang sebenarnya sangat berpotensi menjadi salah satu film terbaik pada tahun 2016.

7/10

Friday, 27 January 2017


"I've came here to spit on my father's face. Can't say it was a metaphor."- Michèle Leblanc

Story

Michele Leblanc (Isabelle Huppert), wanita berusia senja yang merupakan petinggi dalam perusahaan produksi video game, tiba-tiba saja menjadi korban pemerkosaan siang hari. Walau sempat shock dengan apa yang telah ia alami, Michele tetap tenang dan malah melanjutkan rutinitasnya seperti biasa, sambil sesekali menerima teror dari sang pemerkosa.




Review

Lewat Basic Instinct, sutradara berusia 78 tahun Paul Verhoeven, unsur erotisme pun tampak menjadi trademark sang sutradara. Namun yang saya suka dari Verhoeven, bagaimana ia piawainya mengkorelasikan unsur tersebut dengan fokus penceritaan, itulah yang membuat Basic Instinct itu jauh lebih dari sekedar adegan interogasinya saja (if you know what i mean). Elle, yang merupakan hasil adaptasi dari novel karya Phillipe Djian, ini terlihat memang bagai santapan empuk bagi Verhoeven. Menjadi berbeda kala kita mengetahui bila karakter yang menjadi pusat penceritaan adalah seorang wanita yang berusia 64 tahun. Menarik bagaimana Verhoeven tetap mempertahankan unsur erotik nya kala yang menjadi sentral cerita tidak lagi dalam usia prima nan seksi yang notabene nya merupakan senjata pamungkas untuk tetap mempertebal unsur seksi nya.

Sebelum membahas itu, mari kita lihat naskah yang dikerjakan oleh David Birke ini. Sesuai judulnya, film ini memang didominasi oleh karakter Michele sehingga tampaknya dari menit awal hingga akhir, layar akan selalu terpampang oleh kehadiran Michele. Kita diajak melihat kehidupan Michele dalam bekerja, kehidupan sosial nya yang lumayan tertutup dan tidak lupa juga hubungan nya bersama keluarga atau kerabat terdekatnya. Dari menit demi menit yang disajikan begitu sunyi oleh Verhoeven, persepsi penonton pun akan tumbuh dan juga akan timbul pertanyaan bagaimana seorang wanita yang tampak individualis ini begitu terlihat kuat dengan segala macam masalah yang mengitari nya. Michele bukanlah seperti perempuan pada umumnya. Dengan masa lalu nya yang mencekam, membuat dirinya tumbuh menjadi perempuan kuat yang juga tampak membuat perasaan peka nya juga mati. Pada beberapa momen pun setiap keputusan atau juga perlakuan Michele berhasil dengan sukses membuat saya menggeleng-geleng kepala (menceritakan pemerkosaannya di restoran mewah kala dinner??). Sosok Michele mungkin bukanlah karakter yang likable, terlebih lagi akan rahasianya yang susah dimaafkan, tapi simpati jelas mudah diberikan kepada Michele, terlebih dengan masa lalu nya yang baru terungkap pada pertengahan cerita atau juga ketika ia menjadi korban pemerkosaan. Sempat menjadi kekhawatiran saya ketika konflik kasus pemerkosaan itu akan kehilangan menjadi fokus penceritaan, karena praktis setelah Michele diperkosa, adegan demi adegan mengajak kita untuk melihat rutinitas Michele. Namun untungnya Verhoeven jeli dengan tetap menyelipkan teror demi teror dari pelaku kepada Michele serta menempatkan timing yang pas saat pemerkosaan kembali terjadi. 

Elle jelas bukanlah film untuk menjangkau semua demografis penonton. Elle berjalan sangat sunyi dan tidak ketinggalan dengan tempo yang pelan. Tidak bohong, saya sendiri pun sempat merasakan kebosanan, apalagi dengan bahasa Prancis nya yang kurang familiar bagi saya. Tetapi saya tetap bertahan dengan penceritaan Elle dikarenakan dua kata, Isabelle Huppert yang bermain luar biasa. Berkat performanya, karakter Michele begitu tampak elegan dengan usia senjanya. Setiap kali senyum yang ia pancarkan dan juga ketegasannya dalam setiap masalah yang ia hadapi, tidak membuat saya heran bagaimana seorang wanita berusia nenek-nenek ini tetap mampu menarik perhatian laki-laki, yang tidak langsung juga menjawab keraguan saya akan keputusan Verhoeven yang mendapuknya sebagai karakter sentral. Tidak hanya elegan, karakter Michele itu sungguh perempuan yang sangat tegar, lengkap pula dengan sisi arogansi nya yang melebur dengan kisah masa lalu nya yang pahit. Semua hal itu berhasil dipresentasikan Huppert lewat ekspresi muka juga dilengkapi dengan gestur tubuhnya. Sebuah hal yang pantas bila performanya diganjar dengan nominasi Oscar pertamanya pada tahun ini. 

Tidak lengkap bila tidak membahas unsur erotisnya dalam film Verhoeven. Kadar erotisnya untung bukan menjadi tempelan saja karena Verhoeven memang ahli dalam mencampurkan erotis nya dalam membangun penceritaan. Verhoeven pun juga terlihat "menghargai" Huppert dengan tidak membiarkan dia full naked dalam Elle. Eksplorasi akan penyakit seksual pun mengambang tatkala twist di pertengahan cerita terungkap yang membuka layer kembali dalam penceritaan. 

7,5/10


Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!