Monday, 17 December 2018

"I'm no leader. I came because I have no choice. I came to save my home, and the people I love"- Arthur a.k.a Aquaman

Plot

Terlahir dengan darah setengah darat dan setengah lautan, Arthur (Jason Momoa) terpaksa harus pulang ke kampung halamannya, Atlantis, untuk menghalangi rencana adik tirinya, King Orn (Patrick Wilson), yang merupakan Raja Atlantis. Untuk melancarkan misi tersebut, Arthur membutuhkan Trident of Atlan, yang konon merupakan senjata milik Raja Atlantis pertama. Ditemani oleh Mera (Amber Heard) yang terpaksa "mengkhianati" kaumnya sendiri demi membantu Arthur, Arthur pun melakukan pencarian senjata tersebut sembari menghindari kejaran dari King Orm bersama pasukan Atlantis nya.






Review

Setelah hancur leburnya Suicide Squad (2016) yang diharapkan memberikan kualitas mumpuni dalam DCEU, rasanya bisa dimengerti jika setiap film DCEU yang dirilis akan mengundang kegelisahan, terutama pastinya dari fans DCEU. Terlebih dengan hasil akhir dari Justice League (2017) yang juga berakhir mengecewakan, sikap skeptis semakin melambung dan film DCEU yang bisa dibanggakan hanyalah Wonder Woman (2017). James Wan dengan Aquamannya ini tentu kembali menghadirkan kecemasan apakah DCEU kembali menghasilkan karya yang bisa menjadi momentum kebangkitan DCEU. Dan, here's my verdict, Aquaman is surprisingly good and so much fun, though it still has a many flaws, too.

Mari kita membahas hal negatif nya terlebih dahulu. Cerita Aquaman bisa dikatakan sudah sering Anda temui di film-film hollywood mainstream kebanyakan, ambil salah satu contoh adalah film Avatar (2009). Tanpa diberi spoiler pun saya yakin Anda bisa menebak bagaimana Aquaman akan berakhir, terlepas Anda telah melihat trailer nya atau belum. Aquaman jua memiliki build up narasi yang cukup membosankan, setidaknya untuk saya. Setelah adegan pembuka dan menyaksikan aksi pertama si manusia Aqua dalam kapal selam, narasi bergerak perlahan untuk menanamkan motif terhadap Arthur. Walau telah diselingi dengan jokes yang cukup efektif mengundang tawa, serta adegan "tsunami" nya yang memanjakam mata, ditambah kemunculan Amber Heard dengan green swimsuit nya yang sexy, nyatanya belum cukup mampu untuk melepaskan kebosanan saya. Hal itu diperparah pula dengan dialog-dialog nya yang kurang inovatif. Untungnya penceritaan mulai menarik kala petualangan Arthur dimulai di dunia Atlantis, kampung halaman Arthur.

Genderang perang yang ingin ditabuh oleh Orm sebenarnya tersimpan kompleksitas tersendiri. Seperti yang Orm nyatakan, perusakan laut yang dilakukan manusia daratan seperti sering membuang sampah, membuang cairan limbah, juga pemburuan-pemburuan terhadap hewan laut demi keuntungan pribadi yang tanpa henti. Hal ini berpotensi sekali menjadi sebuah aspek yang bisa memberikan kedalam motif untuk Orm sehingga membantu dirinya menjadi karakter antagonist yang memiliki pendalaman dan tidak one dimensional seperti karakter villain pada umumnya. Sayang memang, narasi ini hanya dilewatkan begitu saja meski menyimpan potensi, sehingga jatuhnya Orm hanya terlihat sebagai raja yang haus kekuasaan serta punya rasa benci terhadap Arthur. Justru kesan kompleks nan intimidatif berhasil dipancarkan oleh second villain nya, yaitu Black Manta yang diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II.

Penceritaan Aquaman pun cukup sederhana, tapi apakah itu menjadi keputusan yang jelek? Bila ada pembelajaran dari film Batman V Superman (2014), maka hal itu adalah tidak semua film superhero harus memiliki pendekatan realistis dan kelam seperti The Dark Knight trilogy jika anda bukan Christopher Nolan. Wan memahami hal ini sehingga untuk menutupi penceritaan simple tersebut, Wan memberikan sajian spectacle yang mengagumkan dan fun melalui adegan action nya, parade visual yang telah menanti Anda di bawah laut, terutama ketika kita singgah ke dunia Atlantis yang diciptakan Wan, dibantu oleh Bill Brzeski di bangku production design serta Don Bugess sebagai sinematografer. Dunia Atlantis ini seketika mengingatkan kita akan dunia Pandora nya Avatar, yang tampaknya memang langkah intensional dari Wan dan kru nya. Tentu nya Wan sudah berhasil dengan baik dalam memanfaatkan budget nya yang menyentuh $ 200 juta, membuktikan bila Wan telah terbiasa dalam memanfaatkan mega budget dalam suatu film.

Action secquence menjadi aspek terfavorit saya dalam Aquaman. Wan paham betul dalam melakukan pengambilan gambar yang keren tanpa menghilangkan nilai substansi nya. Ambil contoh adegan kejar-kejaran serta fight scene di kota Sisilia, Italia, yang dijadikan Wan sebagai panggung "show off" nya sebagai sutradara. Sering kali adegan aksi yang melibatkan dua protagonist utama di dua lokasi berbeda akan dibagi dengan beberapa cut dari satu karakter ke karakter lainnya. Memang masih digunakan oleh Wan disini, tetapi menjadi suatu sajian wah saat Wan melakukan teknik long take lengkap dengan pergerakan dinamis kameranya yang seolah enggan untuk diam dalam memperlihatkan karakter-karakter nya melakukan aksi. And trust me, it's so freakin' awesome!! Wan tidak berhenti disitu saja. Dari aksi badass Aquaman di dalam kapal selam, battle antara Aquaman dan Orm, serta tentu serbuan ribuan makhluk buas bernama Trench yang mampu membuatmu menahan nafas sembari berdecak kagum. 


Parade adegan aksinya berjalan dengan sukses tersebut juga berguna untuk mendistraksi penonton dari kenyataan bila kisah perjalanan (juga jalinan asmara) Arthur dan Mera yang kurang menarik, setidaknya itu yang saya rasakan. Jelas ini bukan kesalahan Momoa atau Amber  karena keduanya telah terlihat berusaha maksimal untuk membangun chemistry yang meyakinkan, namun memang naskah yang diberikan kepada mereka tidak memberikan ruang eksplorasi pendalaman. Saya juga tidak memahami keputusan Wan yang memutuskan untuk menghadirkan adegan corny seperti tidak sengaja menggenggam tangan, atau bertatap-tatapan lama. Ini tahun 2018, adegan semacam ini harusnya tidak perlu hadir lagi dalam dunia film.

Rasa yang berbeda justru datang dari hubungan terlarang antara Tom Curry (Temuera Morrison) dan Atlanna (Nicole Kidman). Kehangatan yang natural dan pancaran cinta sejati berhasil saya rasakan dari  pasangan ini. Air mata saya pun hampir mengalir pada saaat adegan Arthur menceritakan "kondisi" ayahnya. Memang klise, tetapi perhatian dan emosi saya telah terinvestasi kepada hubungan ini.

Aquaman juga diusung dengan casts yang bermain optimal. Momoa kembali menunjukkan dirinya adalah pilihan tepat dalam memerankan sosok manusia setengah laut ini. Patrick Wilson pun sudah bermain semaksimal mungkin untuk menumbuhkan kesan intimidatif dalam diri Orm. Abdul-Mateen berhasil menjadi scene stealer setiap kemunculannya sebagai Black Manta yang tidak kalah badass nya seperti Aquaman. Dirinya pun cemerlang saat memerankan adegan emosional. Namun MVP dalam film ini tidak lain tidak bukan adalah aktris senior Nicole Kidman. Walau screentime nya bisa dibilang singkat, namun Kidman berhasil memaksimalkan setiap kemunculannya dengan menawarkan kharisma sebagai ratu ataupun juga seorang ibu lewat tatapan mata nya yang begitu hangat sehingga tidak salah rasanya jika Atlanna yang diperankannya merupakan sumber emosi yang hadir di dalam Aquaman.

Walau penceritaan Aquaman sederhana ditambah durasinya yang cukup lama, namun Aquaman merupakan sajian yang sangat menghibur seperti yang kita inginkan. Kalimat penutup saya ini mungkin akan memunculkan perdebatan, but this is far better than Black Panther (most overrated movie this year).

8/10

1 comment:

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!