Tuesday, 7 November 2017

Sebelum mencintai dunia perfilman, pelarian saya untuk menghibur diri adalah musik. Periode SMA, saya menggemari musik dari Padi yang sampai saya buat artikel disini. Melihat perkembangan industri musik di Indonesia sedikit menyedihkan, ditambah Padi masih vakum entah sampai kapan, saya sedikit melupakan musik. Walau memang sebagian besar personil Padi menciptakan mini project mereka dengan mendirikan Musikimia (saya suka Musikimia, tetapi tentu saja berbeda dengan Padi), juga Piyu yang bersolo karir dan bekerja sama dengan musisi-musisi muda, tetap saja saya merindukan mereka bersatu dan bermusik di bawah naungan nama panji besar Padi. Memasuki periode 2013-an, saya mulai tergila-gila dengan industri film, sampai tergerak untuk membuat blog pribadi yang membahas film-film yang telah saya tonton. Mendengar musik sedikit terlupakan, sampai saya mendengar kembali dua band yang seolah mengingatkan diri saya yang masih menempatkan musik menjadi hiburan nomor 1 saya, yaitu Radiohead dan Dream Theater. Karena artikel mengenai Radiohead telah saya tulis disini, saya pun merasa berdosa bila tidak menulis artikel khusus untuk Dream Theater pula. Maka dari itulah, artikel ini tercipta. Namun saya ingin isi artikel ini berbeda dengan apa yang saya tulis untuk Radiohead. Ide pun mencuat, mengingat Dream Theater masih begitu asing untuk Indonesia dan juga mungkin para pembaca blog saya yang setia (kalaupun ada ya), saya ingin artikel ini bagaikan step by step untuk kalian dalam mengenal Dream Theater.



Sedikit informasi mengenai Dream Theater, Dream Theater berdiri pada tahun 1985. Posisi saat ini adalah James LaBrie (vocalist), John Petrucci (Guitarist), John Myung (Bassist), Jordan Rudess (Keyboardist) dan Mike Mangini (Drummer) yang mengisi posisi yang sebelumnya diisi oleh salah satu pendiri band ini yaitu Mike Portnoy yang memutuskan untuk istirahat dahulu pada tahun 2010 lalu. Entah kapan Portnoy akan kembali, namun para penggemar Dream Theater tentu sangat merindukan tabuhan drum nya. Untungnya Mangini sejauh ini melakukan tugas nya dengan brilian. Hingga saat ini telah 13 album studio yang telah dirilis oleh Dream Theater dan menjadi salah satu band, jika bukan, terbaik yang pernah ada berkat perpaduan harmonisasi musik yang mereka ciptakan, juga skill-skill dari personil nya yang tidak sulit memukau penggemar musik.

Musik yang diproduksi Dream Theater tentu saja berbeda, dan juga rasanya tidak berlebihan bila saya berpendapat bila musik Dream Theater memang tidak untuk semua orang, tetapi saya yakin bila kalian meluangkan waktu kalian untuk memberikan kesempatan mendengar lagu-lagu Dream Theater, apalagi kalian menyukai musik, maka kalian akan berakhir seperti saya, yaitu menggemari karya-karya musik Dream Theater. Baiklah, berikut adalah langkah demi langkah untuk mencoba mendengarkan Dream Theater.

Beginner

Dream Theater cukup dikenal luas kala lagu mereka yaitu Pull Me Under terdapat di salah satu lagu game Guitar Hero 2 dalam konsol PlayStation 2. Tentu saja dengan alunan metal yang berbeda, serta solo guitar yang enak didengar, Pull Me Under berhasil merebut hati baik itu gamer ataupun penggemar musik kasual. Maka bukan lah langkah yang buruk untuk mengenal Dream Theater lewat lagu ini. Tetapi, sekedar info saja, dalam kalangan penggemar Dream Theater, lagu Pull Me Under ini cenderung biasa. Ibarat kata, Pull Me Under adalah Creep-nya Dream Theater. Kalo saya sendiri, lagu Dream Theater yang saya dengar pertama kali adalah The Spirit Carries On yang cenderung ballad untuk ukuran musik Progressive Metal, namun dari lagu ini lah saya mengenal Dream Theater dan mulai tertarik untuk mengikuti Dream Theater. The Spirit Carries On bagi saya tetaplah menjadi salah satu lagu favorit saya dari Dream Theater. Lagu ini sangat cocok untuk kalian yang lagi galau, baik dalam hal percintaan ataupun kehidupan, lagu yang cukup uplifting dan menyuntikkan kembali semangat hidup dalam diri. Bedanya dengan Pull Me Under, The Spirit Carries On sedikit underrated bila dibandingkan lagu-lagu Dream Theater lainnya. Bila kalian belum cukup terbiasa dengan lagu-lagu yang berdurasi panjang, mungkin ada baiknya kalian mendengar Another Day terlebih dahulu. Lagu ini tidak jauh berbeda dengan The Spirit Carries On. Nuansa ballad yang kental, makna lagu yang mengenai hidup yang begitu berdekatan dengan kematian, namun Another Day cukup berdurasi singkat, yaitu hanya 4 menit lebih saja. Dalam 4 menit tersebut, masih terdapat solo guitar dari Petrucci yang memukau. Isi liriknya pun begitu dalam, sehingga cukup berfungsi untuk kalian yang ingin update status di medsos kalian. Lewat tiga lagu yang saya sebut ini saja, saya yakin virus Dream Theater telah masuk ke dalam kalian, namun bila belum meyakinkan kalian, coba cek penampilan mereka di Budokan yang membawakan lagu Hollow Years. Trust me, you'll be glad if you did.



Intermediate

Nah, bila pada tahap awal ini, kalian mulai mendapatkan feel nya dan penasaran dengan lagu-lagu Dream Theater lainnya, kalian pun sudah cukup siap untuk mendengar lagu Dream Theater yang berdurasi 10 menit lebih. Tetapi jangan terlalu terburu-buru, lebih baik kalian mendengar lagu Metropolis Pt.1: The Miracle and The Sleeper dahulu. Yap, lagu ini cukup populer di kalangan penggemar Dream Theater. Tidak butuh waktu lama, hanya di bawah durasi 1 menit saja, lagu ini telah menunjukkan magis nya saat riff guitar John Petrucci mulai membahana, tidak ketinggalan begitu dinamisnya hentakan drum dari Mike Portnoy. Pegang kata-kata saya, Metropolis Pt. 1 tidak akan mengecewakanmu. Dalam hanya durasi 9 menit lebih, Dream Theater menunjukkan identitas musik mereka, skill bermusik dari tiap personil tampak dalam durasi 9 menit tersebut dan mungkin lewat lagu ini pula, kalian akan menyadari harmonisasi musik yang dimiliki Dream Theater yang luar biasa. Tidak percaya? Dengarkan saja bagian instrumennya di pertengahan. Selanjutnya, silahkan pilih beberapa opsi berikut:

The Glass Prison : Bisa dibilang ini adalah lagu Dream Theater yang paling "kasar" dan brutal. Saya bisa bilang begitu ya karena hentaman drum dari Portnoy yang seolah-olah ingin menghancurkan perangkat alat drum nya lewat tabuhan dua stik nya. Sebelumnya juga, The Glass Prison diisi oleh merdu nya permainan bass-nya John Myung, yang dilanjutkan oleh teriakan distorsi gitar dari Petrucci, yang diiringi pula hentakan drum penuh tenaga dari Portnoy, lalu tidak lupa permainan keyboard Jordan Rudess yang seakan tidak mau kalah. Lalu dimulailah sosok sebenarnya lagu The Glass Prison yang tampak "kacau" juga tidak beraturan. The Glass Prison menurut saya adalah lagu yang paling head banging dari Dream Theater. Oh, saya lupa, vokal dari James LaBrie pun tidak ketinggalan menyempurnakan lagu "curhatan" dari Portnoy yang menceritakan dirinya yang kesusahan untuk melepaskan ketergantungannya akan minuman keras.

Breaking All Illusion : Bila kalian memiliki kelemahan dengan melody yang dihasilkan dari 6 senar gitar, maka saya bisa jamin, kalian akan menyukai Breaking All Illsuions. Tidak usah berlama-lama karena di bagian intro saja, Petrucci telah menyuguhkan permainan gitar yang menawan. Sampai ke bagian pertengahan, kalian akan mendengar salah satu permainan solo terbaik dari Petrucci, yang juga menjadi bagian terbaik dari lagu berdurasi 13 menit lebih ini. What a beautiful melody. Tanpa mengenyampingkan keindahan yang turut disumbangkan oleh personil lain, permainan Petrucci memang mengambil peran besar dan juga salah satu alasan kuat mengapa Breaking All Illusions menjadi favorit bagi sebagian besar penggemar Dream Theater (termasuk saya). Lagu yang liriknya ditulis oleh John Myung ini juga bisa dibilang start yang baik untuk pengganti Portnoy di bagian drum, yaitu Mike Mangini.



The Shattered Fortress : Lagu head banging lainnya dari Dream Theater. Dari awal saja kita telah disuguhkan permainan riff yang begitu dinamis. Menurut informasi, The Shattered Fortress bagai kombinasi dari lagu-lagu ciptaan Portnoy sebelumnya, seperti The Root of All Evil atau juga This Dying Soul, tapi favorit saya setelah The Glass Prison adalah lagu ini dan saya rekomendasikan dengar lagu ini saja terlebih dahulu sebelum mendengar dua lagu yang saya tulis sebelumnya. Sebagai penutup, Dream Theater memasukkan intro dari The Glass Prison yang mampu membuat saya teriak kegirangan seperti anak kecil kala mendengar lagu ini untuk pertama kali. Penutup yang begitu sempurna untuk lagu yang kembali menceritakan usaha Portnoy yang terjebak dalam ketergantungan mengkonsumsi minuman beralkohol.

The Best of Times : Sebagai langkah akhir untuk mencapai tahapan selanjutnya, sebaiknya kalian mendengar lagu ballad lainnya dari Dream Theater yang kembali diciptakan oleh Portnoy, yaitu The Best of Times. Rasanya susah untuk kalian tidak mencintai lagu ini, apalagi bila telah mencapai tahapan ini. Intronya begitu mengena di hati, sehingga tidak heran bila merinding akan kalian rasakan saat alunan melankolis pada keyboard dan petikan gitar yang sendu, sebelum baru lah musik tipikal Dream Theater mulai mengudara. Dream Theater seolah memainkan emosi kita disini, setelah musik progressive nya menggema, seolah membawa kita kembali akan kenangan-kenangan indah masa lalu, kemudian mulai memasuki bagian sendu nya yang diawali oleh permainan keyboard Jordan Rudes yang begitu menyayat hati akan pedihnya kehilangan seseorang yang begitu kita sayangi. Dan dari sini lah, tepatnya di bagian akustik, kita merasakan begitu banyaknya waktu-waktu yang seharusnya kita manfaatkan sebaik-baiknya bersama dengan orang yang sangat berarti dalam hidup kita. Ditutup dengan solo gitar dari Petrucci yang berhasil menjadi fan favorite, lagu yang diciptakan Portnoy untuk almarhum ayah nya ini mungkin menjadi lagu yang bisa membuatmu beruraikan air mata, selain The Spirit Carries On.


Expert

Pada titik ini, saya telah bisa mengasumsikan bila kalian telah menyukai, bahkan mungkin mencintai Dream Theater dan telah terbiasa dengan musik yang mereka tawarkan. Maka dari itu, bila kalian telah mencapai titik ini, kalian pun telah bisa melahap lagu-lagu mereka yang memiliki durasi panjang. Tetapi percayalah, tidak akan ada semenitpun kalian merasakan kebosanan karena dalam lagu berdurasi panjang tersebut, kita akan mendengar salah satu keajaiban dalam dunia musik. Hingga saat ini, saya masih terheran-heran bagaimana mereka bisa membawakan lagu panjang seperti ini. Mempertahankan harmonisasi di tengah susahnya not-not yang mereka mainkan tentu bukan perkara yang mudah. Nah, untuk mencoba terbiasa dengan lagu berdurasi panjang Dream Theater, ada baiknya kalian mengawalinya dengan lagu berdurasi 19 menit lebih dari Dream Theater, yaitu The Count of Tuscany. Mengapa saya menyarankan lagu ini? Karena bagi saya, lagu ini mudah disukai oleh penikmat awal musik Dream Theater. Dari petikan gitar di pembuka nya saja, The Count of Tuscany telah berhasil merebut hati. Lalu beberapa menit kemudian, barulah suara lengkingan gitar dan instrumen lainnya menyapa kita, dan bersiaplah mendengarkan salah satu intro terbaik dari Dream Theater. Tanpa mendiskreditkan personil lainnya, namun suara yang dikeluarkan Jordan Rudess lewat keyboard nya di intro lah yang berpengaruh besar sehingga saya bisa menyatakan intro dari The Count of Tuscany merupakan salah satu yang terbaik yang dihasilkan oleh Dream Theater.

Namun lagu ini jelas tidak hanya memiliki intro yang dengan mudahnya mencuri perhatian, namun di paruh keduanya bisa dibilang bagian terbaik dari lagu ini. Dirasa cukup dengan musik progresif nya, The Count of Tuscany mulai memasuki ke bagian slow nya, dan transisi dari musik penuh speed ke musik yang lembut diisi dengan permainan kombinasi antara melodi gitar dari Petrucci dan suara efek keyboard dari Rudess yang panjang. Bagian inilah yang membuat The Count of Tuscany begitu indah, walau menawarkan atmosfir kelam dalam suara yang dihasilkan, namun di sisi lain terselip keindahan di dalamnya, sebelum suara gitar digenjreng sebagai penanda masuknya lagu ke bagian selanjutnya dan akhirnya suara James LaBrie mengisi lagu. The Count of Tuscany memiliki inti cerita akan rasa cemas manusia yang begitu dekat dengan kematian, dan bagian saat James LaBrie mulai bernyanyi setelah transisi yang panjang tadi ini lah yang mewakili inti cerita tersebut. Dari intro yang mudah merebut hati, musik progresif yang begitu tepat untuk pendengar yang tengah melakukan perjalanan jauh, kemudian transisi panjang nan sendu sebelum memasuki bagian slow dalam lagu yang menceritakan pengalaman dari John Petrucci ini, dan ditutup dengan musik closing yang mirip dengan intronya, The Count of Tuscany sangat lah tepat untuk kalian dalam mengawali petualangan kalian yang sedang ingin mencoba lagu-lagu berdurasi panjang milik Dream Theater. 

Tentu saja bukan hanya The Count of Tuscany lagu berdurasi panjang nya Dream Theater karena masih ada beberapa lagu yang bahkan menyentuh 20 menit lebih, seperti A Change of Seasons dan lagu underrated Dream Theater lainnya yaitu In the Presence of Enemies. In the Presence of Enemies sendiri terbagi menjadi dua bagian, dimana lagu ini menjadi pembuka sekaligus penutup di album Systematic Chaos, namun saya lebih memilih untuk menyatukan lagu ini. Saya kurang mengerti mengapa lagu ini sedikit terlupakan karena bagi saya, lagu ini tidak hanya memiliki instrumen sulit namun enak didengar seperti lagu Dream Theater lainnya, namun bagi saya lagu ini mampu menjadi perwakilan untuk orang yang memiliki kegelapan di dalamnya. Dan saya tanya, siapa yang tidak seperti itu? Kita semua pasti memiliki "dark master" di dalam diri kita, dan hal itu lah yang tersaji di Part 1, sebelum pada Part 2, tepatnya di akhir, Dream Theater mengajak kita kembali untuk memerangi "dark master" untuk kembali menerima sisi baik dalam diri kita dan kembali melanjutkan kehidupan.

Bila kalian belum teryakini untuk mendengarkan In the Presence of Enemies, maka saya sarankan untuk mendengar A Change of Seasons. Apa yang membuat kalian mencintai Dream Theater sebelumnya masih ada disini. Sebenarnya susah untuk mendefinisikan lagu masterpiece seperti ini, cukup dengarkan saja dan penilaian saya serahkan kepada kalian. A Change of Seasons, sama seperti kebanyakan lagu Dream Theater lainnya, mengajak kita untuk merenungi kehidupan. Terdapat satu-dua lirik yang begitu berkesan untuk saya yaitu "Cherish your life, while you still around". Yang pasti, sekali lagi, ini adalah salah satu masterpiece yang dihasilkan Dream Theater. Masterpiece lainnya? Octavarium.



Octavarium bagi saya berbeda, karena untuk pertama kalinya, saat mendengar pertama kali, Octavarium tidak lah terlalu meninggalkan kesan berarti untuk saya. Dengan pengalaman ini pula lah, saya menempatkan Octavarium sebagai lagu terakhir di bagian Expert ini, karena memang butuh beberapa kali untuk mendengar Octavarium sebelum kita mulai jatuh cinta dengan track yang satu ini. Selain itu, saya merasa Octavarium adalah lagu yang paling sulit dimengerti makna nya. Tetapi kembali lagi, ini adalah masterpiece dari Dream Theater, bahkan banyak yang menempatkannya sebagai lagu terbaik dari Dream Theater. Intinya, masterpiece among another masterpieces. Maka tidak ada ruginya bila kalian mendengar lagu ini hingga beberapa kali, saya sarankan mungkin cukup dengarkan lagu ini 3 kali. Saya jamin, sisi magis Octavarium akan segera kalian rasakan dan viola, kalian pun akhirnya akan bisa memahami mengapa Octavarium dicap sebagai lagu terbaik dari Dream Theater. 

"Trapped inside this octavarium, Trapped inside this octavarium, Trapped Inside this octavarium, Trapped inside this octavarium, Trapped inside this OCTAVARIUUUUUUMMMMM"

Dan, yah, pada akhirnya bila kalian telah mengikuti langkah-langkah di atas, saya percaya bila kalian telah masuk dan bergabung dengan saya sebagai penggemar Dream Theater. Dream Theater akan menemani hari-harimu, tidak akan merasakan kesepian lagi karena, hey, siapa yang membutuhkan teman bila kalian memiliki Dream Theater dalam playlist di mp3 mu? Dan tidak hanya itu, mendengar Dream Theater juga membuatmu merasa keren.



More great songs from Dream Theater you should listen too:
Endless Sacrifice
The Root of All Evil
Learning to Live
Home
Blind Faith
The Looking Glass
Illumination Theory
Panic Attack
In the Name of God

4 comments:

  1. Kalo ane malah hampir semua album major suka gan. Maklum ane suka dream theater sejak album fall into infinity. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Kalo lagu best of time itu masuk ke album mana ya gan? Dan ane udh nyari2 yg livenya lagu itu kaga ktmu2 gan :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. The Best of Times masuk album Black Clouds and Silver Linings. TBoT gak pernah dibawain live memang karena lagu itu diciptain oleh Portnoy dan Portnoy sendiri udah hengkang sekarang. Kalo ada Portnoy juga mungkin lagu itu bkal jarang dibawain live. Personal banget soalnya

      Delete

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!