Saturday, 11 March 2017


"I feel so tempted. I feel so tempted to despair- Father Sebastião Rodrigues

Plot

Dua pastor asal Portugal, Sebastião Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) melakukan perjalanan ke Jepang untuk menemukan sang mentor mereka, Ferreira (Liam Neeson) yang dikabarkan telah murtad dari agama Kristen. Negara Jepang sendiri pada masa itu tengah menjalankan program pelarangan akan menyebarnya agama Kristen sehingga bagi siapa saja yang tertangkap basah memiliki keyakinan akan agama tersebut, mereka akan dipaksa untuk segera murtad dengan berbagai siksaan akan terus menghampiri bila tidak segera mengikuti keinginan pemerintahan Jepang.






Review

Siapa yang berani menyangkal akan kehebatan seorang Martin Scorsese dalam penyutradaraan? Telah beberapa karya fantastis yang telah ia telurkan, sebut saja seperti Raging Bull, The Departed, The Wolf of Wall Street dan tentu saja salah satu film favorit saya yaitu Goodfellas. Beliau sangat paham bagaimana meracik sebuah karya yang tidak mudah terlupakan hingga jatuhnya dikenang sebagai karya yang masterpiece tanpa lekang oleh waktu. Dan tampaknya, karya terbarunya ini akan kembali meneruskan winning streak seorang kakek yang pada tahun ini akan menginjak usia 75 tahun. Tampaknya, dalam usia senja ini seorang Scorsese merasa perlu untuk kembali membuat film mengenai kristiani setelah terakhir ia melakukan hal yang sama hampir 2 dekade yang lalu, yaitu The Last Temptation of Christ. Walau Silence memang memusatkan penceritaan pada agama Kristiani, tapi saya berpendapat apapun agama yang Anda anut, film ini tetaplah layak untuk dikonsumsi.

Mari saya ucapkan dahulu sebelum lebih jauh bahwa film Silence sangatlah berat untuk diikuti. Bukan hanya karena Silence berjalan begitu lambat dan juga sangat sunyi (seperti judulnya), konten yang ada pada Silence juga bisa dikatakan disturbing. Tidak, saya tidak membicarakan mengenai grafis kekerasannya. Walau memang ada adegan kekerasan seperti kepala yang terpenggal, tapi itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan teror psikologis yang menghiasi dalam jalinan menit-menit dalam petualangan spiritual ini. Naskah yang Scorsese kerjakan bersama Jay Cocks mengajak kita ikut terlibat dalam perjalanan ini dengan direpresentasikan oleh pastor Rodrigues. Penonton seolah menjadi saksi bisu akan betapa menderitanya rakyat Jepang umat Kristiani yang harus hidup dalam naungan teror dari pemerintahan Jepang. Juga, tidak ketinggalan menyaksikan kuatnya iman mereka di tengah situasi yang tidak mendukung tersebut. Selain itu, pada setengah jam awal, dikarenakan oleh situasi yang serba tak tentu, Silence kental akan unsur misteriusnya, apakah mereka dapat dipercaya? siapa yang patut dipercaya? Berbagai pertanyaan otomatis akan timbul sembari memperlebar jangkauan penceritaan.

Jangkauan penceritaan yang saya maksud kembali adalah unsur teror psikologis yang ada, karena apa yang dilakukan Scorsese sebelumnya, ia tambah menjadi dua kali lipat dosis dengan menjadikan konflik yang dialami Rodrigues lebih personal. Nah disini lah penceritaan Silence sangat disturbing setidaknya bagi saya. Sangat lah berat bila diri ini layaknya berada di posisi Rodrigues, yang tidak hanya diserang akan ketidak pastian keimanan atau suara Tuhan, ia juga dikondisikan akan berbagai pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya sebagai manusia. Rasa keterikatan yang telah terjalin antara penonton dengan Rodrigues yang seolah tanpa sekat tentu ingin melihat Rodrigues lepas dari segala penderitaan, namun lama kelamaan harap tersebut musnah. Saya tidak ingin menceritakan lebih lanjut karena berpotensi akan spoiler yang besar, cukup tonton saja film ini. Serius.

Seperti judul yang diangkat, film ini bergerak begitu sunyi dimana Silence hampir absen bila berbicara mengenai scoring. Dengan keheningan itu pula tampaknya Scorsese ingin penontonnya merasakan betapa kompleksnya perihal yang terjadi di layar. Kompleks yang saya maksud tentunya berkaitan dengan beberapa pertanyaan yang akan ada di relung penonton. Salahkah bila menyerah? Bila tidak menyerah, apa yang akan didapat? Dimana keberadaan Tuhan? Apakah saya mampu tetap mempertahankan iman saya bila berada di posisi yang sama? Kondisi yang layak dibandingkan seperti apa yang dialami Rodrigues. Sempat lemah, namun di waktu selanjutnya, dirinya kembali tegar, sebelum adanya terjadi konflik kembali yang membuat keimanannya kembali lemah. Ya, seperti itulah rasanya menonton Silence. Disaat terjadi konflik batin muncul di hati penonton tersebut, disitu pula lah tujuan utama Scorsese menghadirkan maha karya nya ini berhasil terlaksana. 

Pada karakterisasi para karakter utama Scorsese tidak pernah mengecewakan. Seperti dua pastor yang menjadi narasi penggerak yaitu Rodrigues dan Garupe. Mereka berdua memang pastur, namun tidak sekalipun Scorsese membiarkan dua karakter ini tetap putih layaknya malaikat walau memang mereka berprofesi sebagai pastur. Mereka tetaplah manusia yang memiliki logika yang kerap kali berbenturan dengan iman yang menciptakan keraguan. Sering kali mereka merasa lemah, tergoda untuk menyerah sebelum akhirnya rasa rapuh tersebut memberikan kekuatan kepada mereka untuk kembali melanjutkan. misi mereka. Karakter Kichijiro pun layak diperbincangkan berkenaan dirinya yang tampak begitu lemah, namun disatu sisi terdapat keinginan untuk membela keyakinannya.

Membicarakan teknis, tentu aspek sinematografis paling menonjol. Rodrigo Prieto selalu berhasil dalam menangkap gambar yang tidak hanya indah, namun juga lengkap diselingi nuansa puitis yang berkorelasi dengan penceritaan. Kabut-kabut yang tidak jarang menghiasi layar nan diwarnai abu-abu seperti menggambarkan hati manusia itu sendiri karena manusia tidak ada sama sekali yang memiliki hati yang putih layaknya malaikat. Semua aktor yang terlibat disini bermain cemerlang, termasuk karakter numpang lewat namun terkenang seperti Yoshi Oida sebagai Ichizo dan tentu karakter Michiko yang diperankan menawan oleh Shin'ya Tsukamoto. Andrew Garfield kembali bermain brilian sebagai pastor yang rapuh, tertekan, namun masih berselimutkan ketegaran yang berapi-api terpancar dari sorot matanya. Sebuah prestasi tersendiri untuk Garfield yang telah berkolaborasi bersama David Fincher serta Martin Scorsese. Liam Neeson pun tidak mau kalah sebagai aktor yang memegang peranan penting pada masa paruh akhir cerita yang selalu berhasil mencuri perhatian. 

Apakah ini merupakan film terbaik Scorsese sepanjang karirnya? Saya tidak berani berpendapat sejauh itu, walau menurut pendapat produser yang kerap bekerja sama dengan Scorsese, Irwin Winkler, memiliki pendapat demikian. Tapi tidak terpungkiri bila Silence merupakan perjalanan spiritual yang kompleks, mampu mempengaruhi dan juga menciptakan konflik batin yang ada. Dengan kesunyiannya, Silence mengajak mempertanyakan keyakinan kita. Dengan segala konflik yang disajikan begitu sunyinya juga, Silence pula mengajak untuk berdoa semoga apa yang terjadi di layar takkan terjadi di masa yang akan datang. Dengan kesunyiannya pula, Scorsese menutup Silence dengan sebuah kedamaian dari perjalanan panjang yang penuh akan derita. A masterpiece (again) from Scorsese.

                                            8,75/10
Categories: , ,

1 comment:

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!