Tuesday, 27 December 2016




 "Look at you. Look at you. Sakit lo"- Bayu

Story

Nomura (Kazuki Kitamura) merupakan tipikal pria idaman para wanita. Dia eksekutif kaya, berkharisma dan juga pandai bergaul dengan wanita. Namun siapa yang menyangka bila ia memiliki hobi membunuh perempuan yang ia ajak ke rumahnya. Tidak hanya itu, setiap pembunuhan yang ia lakukan selalu ia unggah ke sebuah website. Salah satu penggemar Nomura adalah Bayu (Oka Antara), mantan jurnalis yang hancur karirnya akibat menulis artikel mengenai salah satu pejabat ternama, Dharma (Ray Sahetapy). Dampak akan dipecatnya Bayu berimbas akan ketidak harmonisan dengan sang istri, Dina (Luna Maya) sehingga mereka tinggal terpisah. Akibat suatu kejadian, Bayu terinspirasi akan "kegiatan" Nomura, dan mengeluarkan sisi gelap dalam dirinya.





Review


Bagaimana mendeskripsikan sebuah film yang bagus? Bila pertanyaan itu diajukan kepada saya, saya akan menjawab dengan sederhana, film yang mampu membuatmu tenggelam dalam ceritanya dan meninggalkan kesan ketika film berakhir. Dengan naskah cerita yang berkualitas, penonton pun akan merasa terikat sehingga tidak mempermasalahkan berbagai segi teknis lainnya, seperti sinematografi, CGI atau aspek lainnya. Walau durasi nya panjang pun, penonton tidak merasakan jenuh sedikitpun disebabkan bagaimana pintarnya sutradara merepresentasikan apa yang telah penulis naskah buat (Dwilogi The Godfather merupakan contoh yang bagus). Setelah naskah cerita yang jempolan, kesan yang akan didapatkan setelah menonton pun hampir pasti di dalam genggaman. Penonton akan mendiskusikannya, sehingga tidak jarang penonton rela menonton dua-tiga kali hanya ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Dan itu yang dimiliki Killers karya Mo Brothers yang brilian ini.
Sesuai dengan tag line di poster film, naskah yang ditulis Timo Tjahjanto dan Takuji Ushiyama ini mengajak penonton untuk melihat bahwa manusia pasti memiliki sisi buruk dalam dirinya, dan dalam film ini sisi buruk yang diangkat adalah keinginan untuk membunuh. Diperlihatkan juga kedua karakter utama dalam Killers memiliki motif berbeda dalam menjalankan “pekerjaan sampingan” mereka itu. Nomura memiliki masa lalu yang buruk sehingga ingin ia lampiaskan dengan membunuh setiap wanita yang ia ajak ke rumahnya. Rasa kesepian pun turut menyelimuti Nomura, dengan alasan itu pula ia sering meng-upload video membunuhnya untuk bisa menemukan seseorang yang sama atau bisa mengerti akan hobi nya tersebut. Berbeda dengan Bayu yang ingin menuntaskan dendam pribadinya sehingga ia bisa hidup tenang dengan keluarga kecilnya. Dalam menjalankan aksi membunuh pun kedua karakter begitu bertolak belakang. Nomura yang telah memiliki pengalaman sangat teliti ketika sebelum, saat atau pun sesudah membunuh korbannya. Bayu, yang sebelumnya hanya lah jurnalis biasa dan mulai melakukan aksi membunuh seperti Nomura karena suatu insiden, melakukan aksinya dengan natural dan selalu mengalami sebuah gangguan.
Sebagai film bergenre Psychological Thriller, tentu Mo Brothers tidak lupa untuk pula menyoroti keadaan psikis karakternya, dan dalam hal ini keadaan psikis Bayu yang disoroti lebih jauh. Aspek ini pula lah yang merupakan keunggulan utama Killers. Dihimpit oleh permasalahan keluarga, kerjaan dan ingin lepas dari pandangan sebelah mata dari ayahnya Dina, Bayu merasakan tekanan yang hebat hingga memaksa dirinya untuk mengambil jalan pintas demi keinginan yang selalu diidam-idamkan. Namun akibat pekerjaan barunya itu juga lah pikiran Bayu mulai terganggu yang membuatnya sering berhalusinasi dan kehidupannya pun mulai diambang kehancuran. Ketika semuanya telah berjalan terlalu jauh untuk kembali, orang-orang yang ada di sekitar Bayu pun ikut terseret akan apa yang telah Bayu perbuat. Third act yang ditampilkan Mo Brothers bisa jadi merupakan salah satu penutup terbaik yang dimiliki perfilman Indonesia. Susah dibayangkan bagaimana kondisi salah satu karakter setelah semuanya terjadi, dan hal itu pula yang cukup menghantui penonton kala black screen muncul di layar. Mengenai adegan thriller action nya, Mo Brothers juga tidak mengecewakan. Mo Brothers kembali membuktikan bila adegan mencekam dan mampu menggedor jantung penonton tidak perlu skala yang besar dan melibatkan budget tinggi. Terbukti hanya dengan memanfaatkan mobil taksi dan gedung tak terpakai ternyata telah lebih dari cukup untuk memperlihatkan sebuah sajian aksi yang berkelas, namun favorit saya adalah adegan on-foot chase scene yang terjadi dalam lorong hotel yang digarap dengan sederhana, namun begitu keren dan tentu nya menggedor jantung. Sangat Brilian. Semuanya semakin lengkap dengan musik hasil garapan Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi yang mampu menaikkan adrenalin dan juga menambah kesan ironi untuk adegan di akhir nya.
Yang cukup mengejutkan adalah bagaimana Mo Brothers masih sempat-sempatnya memasukkan kritik akan fenomena masyarakat yang begitu tak terpisahkannya dengan gadget. Isu yang diangkat ini begitu dekat dengan apa yang terjadi sekarang dimana orang jauh lebih memilih untuk mengabadikan suatu kejadian, ketimbang memanggil pihak berwajib untuk menangani kejadian itu. Hebatnya lagi, adegan yang ditampilkan tidak maksa dan masuk dalam penceritaan.
Killers bukan tanpa kekurangan. Kekurangan terbesar adalah begitu flat nya Kazuki Kitamura ketika harus memerankan akting dalam kadar drama. Percakapannya dengan Rin Takanashi begitu datar sehingga tidak salah bila penonton jauh lebih memilih apabila sub plot untuk karakter Nomura dihilangkan saja. Namun tidak masalah karena Kitamura membayar lunas akan akting datarnya tersebut kala karakter nya masuk ke dalam mode pembunuh psikopat. Sentuhan black comedy yang ada di Killers juga semuanya melibatkan karakter Nomura. Selain adegan menit terakhir, adegan saat Nomura diinterogasi oleh polisi setempat pun mampu memunculkan kelucuan tersendiri.
Mengenai akting, Oka Antara tentu saja yang terbaik. Boleh saja Reza Rahardian atau Abimana Setya saat ini dianggap sebagai aktor kelas atas saat ini, namun bila berbicara akting, Oka mungkin tidak kalah bila dibandingkan dengan mereka berdua. Sebagus-bagusnya Reza Rahardian, dia belum terlalu menonjol kala harus bermain dalam film bernuansa thriller. Oka Antara telah menerjuni dunia akting film berbagai genre. Percintaan? Ada Hari untuk Amanda dimana ia berakting sangat baik disitu (ada Reza Rahardian juga). Thriller? Oka menunjukkan totalitasnya. Ketika adegan aksi dia perankan dengan brilian, pun juga dengan adegan drama nya dimana Bayu yang mulai terganggu keadaan psikisnya mampu dipresentasikan oleh Oka Antara dengan sangat bagus. Momen terbaik nya tentu saja ketika semua karakter utama dipertemukan dalam gedung tak terpakai itu. Marah, kesedihan, penyesalan, serta ketakutan semua terangkum dalam ekspresi Oka, menunjukkan bahwa akting Oka Antara patut diperhitungkan.
Tidak banyak film Indonesia yang mampu membuat saya terdiam, merenung, sembari membatin “bagaimana nasib si A ya?” setelah menonton. Mungkin baru Laskar Pelangi yang mampu membuat saya merasakan sensasi itu, dan list pun bertambah dengan judul film Killers yang dengan briliannya mampu membuat saya terikat akan cerita serta karakternya yang menyebabkan saya tidak mampu menahan diri untuk memberikan rating tinggi dibawah ini.

8,5/10



Categories: , ,

0 komentar:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!