Monday, 24 April 2017


"I'm T.S... motherfuckin'-A. We handle shit. That's what we do. Consider this situation... fuckin' handled"-Rod Williams

Story

Seorang fotografer muda bernama Chris (Daniel Kaluuya) diundang sang pacar Rose Armitage (Allison Williams) untuk datang kerumahnya dan bertemu dengan keluarga. Chris yang awalnya sempat ragu menerima undangan Rose tersebut karena khawatir dengan perlakuan keluarga Rose setelah mengetahui bahwa dirinya berkulit hitam, malah diterima dengan hangat oleh ayah dan ibu Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy Armitage (Catherine Keener)), walau Chris sempat risih dengan sikap tidak mengenakkan yang datang dari dua pelayan keluarga Armitage yang juga berkulit hitam.






Review

Sulit memang membedakan genre film thriller dan horror karena pada dasarnya dua genre film tersebut menggunakan formula yang hampir sama, yaitu memberikan teror mencekam kepada para penonton sehingga mereka tidak merasakan rasa nyaman di kursi mereka. Jika membicarakan film favorit pada genre serupa, tampaknya Psycho tetaplah menjadi pilihan saya, karena susah sebenarnya terpuaskan dengan film yang kita telah tahu akhir kisahnya bagaimana, namun tetap terpuaskan berkat atmosfir horornya yang sangat kental dan tidak lupa ceritanya yang sederhana namun efektif guna menjadi fondasi. Tahun 2017 baru menyentuh di awal-awal tahun dan telah menghasilkan sebuah sajian thriller menyenangkan yang hebatnya juga terasa sangat orisinil bila membicarakan ide ceritanya.

Tidak menggunakan formula-formula dasar horror pada umumnya seperti rumah tua misterius ataupun penampakan-penampakan hantu, sang sutradara Jordan Peele menggunakan formula seperti Hitchock lakukan yaitu menggerakkan awal narasinya dengan begitu tenang, berjalan perlahan walau tetap masih ada beberapa momen yang mungkin sukses membuat jantung penontonnya sedikit berdetak dengan kencang. Namun bila dilihat secara garis besar, tidak ada teror yang berarti di awal-awal film. Peele tampaknya sengaja menyajikan ceritanya sedemikian rupa untuk memainkan pikiran ataupun persepsi penonton dengan menebak-nebak seperti apa yang dilakukan oleh Chris. Ya, posisi penonton dengan Chris sama, yaitu sama sekali tidak tahu menahu di tengah kondisi dan lingkungan yang asing sehingga hanya bisa menerka-nerka konflik utama apa yang ditawarkan oleh Peele guna memberikan keseruan bagi penontonnya. Disinilah letak keasyikkan Get Out, yang mengingatkan kembali film thriller indie tahun lalu yaitu The Invitation. Namun Get Out tetaplah berbeda, karena selain kental dengan nuansa thriller nya, Get Out juga mengangkat tema sensitif yaitu perbedaan ras kulit, yang mungkin saja ini adalah yang pertama kalinya diangkat ke media film dalam ranah thriller ataupun horror. Hal ini lah yang membuat Get Out sangat terasa orisinil, dengan membawa penontonnya seolah kembali ke periode Amerika lalu yang masih kental dengan diskriminasi perbedaan warna kulit.

Hingga pada durasi mendekati 1 jam film berjalan, barulah Peele mengungkapkan jawabannya yang jujur masih memberikan efek kejut kepada saya walaupun sebelum terungkapnya jawaban tersebut, saya telah memiliki jawaban yang sama persis seperti apa yang Peele sajikan. Hebatnya, untuk menyajikan twist nya tersebut, Peele telah mempersiapkan beberapa clue sekecil apapun sebelumnya yang bisa saja luput dari perhatian penonton, seperti ketika Rose menentang keras opsir polisi yang ingin melihat kartu identitas Chris. Selama 104 menit tidak ada rasanya momen-momen yang terjadi tanpa alasan. Semuanya memiliki motif yang jelas demi menghadirkan twist nya di pertengahan.

Peele pun juga telah menyiapkan parade berdarah di ujung penceritaan yang walau tidak terlalu terasa intens seperti The Invitation atau terlalu banjir darah, namun parade itu telah cukup untuk menjadi konklusi yang memuaskan dan menghilangkan rasa haus akan darah bagi para pecinta film gore yang mungkin merasakan durasi satu jam lebih sebelumnya terasa membosankan akibat pergerakan narasi yang cukup lambat disebabkan Peele ingin bermain-main dengan pikiran penontonnya. Saya sendiri merasakan intensnya penceritaan saat pesta yang diadakan keluarga Rose, dimana rasa tidak nyaman yang Chris rasakan juga mampu menular ke saya. Sebuah sajian menyenangkan dari Peele yang semoga saja diikuti oleh film-film horror lainnya di sisa tahun 2017.

8/10

Categories: , ,

2 comments:

  1. Ah.. samaan ya. Nonton ini mengingatkan dengan The Invitation. Both are great.

    ReplyDelete

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!