Tuesday, 28 November 2017

"Wolves don't kill unlucky deer. They kill the weak ones."- Cory Lambert

Plot

Agen muda FBI, Jane (Elizabeth Olson) ditugaskan untuk menangani kasus pembunuhan di wilayah Wyoming yang menimpa gadis remaja bernama Natalie (Kelsey Asbille). Bekerja sama dengan kepolisian setempat pula, ia turut dibantu oleh pria yang menemukan jasad Natalie pertama kali, Cory Lambert (Jeremy Renner) yang merupakan petugas United State Fish and Wildfire Service. Jane dan Cory memiliki motivasi yang berbeda namun tentu tujuan mereka sama, yaitu secepatnya menangkap pelaku yang bertanggung jawab akan kematian misterius Natalie.





Review

Mungkin nama Taylor Sheredian masih terdengar asing, namun dirinya adalah salah satu pihak dibalik layar yang bertanggung jawab akan cemerlangnya Sicario dan Hell or High Water. Ya, Taylor Sheredian adalah penulis naskah dari dua film tersebut, yang dua-duanya saya sukai akan hasil akhirnya. Tentu saja dengan hasil kerja Taylor di dua film itu pula lah, saya begitu ingin menyaksikan Wind River. Ditambah juga, di departemen aktingnya, ada nama Jeremy Renner yang selalu memuaskan aktingnya (setidaknya untuk saya), terutama di Hurt Locker, serta si cantik Elizabeth Olson yang tampaknya ingin membuktikan sekali lagi bila dirinya bukanlah aktris bermodalkan tampang semata. 

Sicario dan Hell or High Water memiliki satu kesamaan, yaitu pendekatan pada film tersebut dilakukan dengan perlahan, atau istilah ndesonya adalah slow burning sebelum pada adegan akhir nya, baru lah dihadirkan suatu adegan thrilling yang mampu memaksa mata kalian untuk tidak berpaling sedetik pun dari layar. Apa yang Taylor lakukan disini juga sama, bahkan bisa dibilang Taylor menggabungkan identitas dari Sicario dan Hell or High Water dalam film keduanya sebagai sutradara ini. Unsur slow burning thriller dari Sicario dimasukkan oleh Taylor, bahkan karakter utama perempuannya disini juga digambarkan hampir serupa seperti Kate di Sicario dimana mereka adalah perempuan yang masih begitu "hijau" dan naif dengan pekerjaannya, lengkap pula nuansa western dari Hell or High Water ikut terasa akibat penampilan-penampilan karakter nya disini dengan topi koboi nya. Berkat itu pula, Wind River bisa dibilang film yang bernafaskan neo noir crime. Telah bekerja sama dengan sutradara sekaliber Dennis Villeneuve, tentu sangat membantu bagi Taylor dalam menangani film yang bergerak perlahan tanpa sedikitpun mendatangkan kebosanan. 

Hal itu tidak terlepas dari penanganan Taylor yang memperhatikan detil cerita, serta pintar dalam menggerakkan plot nya yang kembali lagi harus diakui cukup perlahan. Tetapi karena penonton telah tertarik dengan kasus misterinya, penonton pun diajak oleh Taylor untuk sejenak menjadi detektif atau agen bagaikan Jane maupun Cory yang mengumpulkan kepingan-kepingan misteri nya demi mendapatkan jawaban. Kasus misteri di dalam Wind River memang tidak sepelik ataupun luas ruang lingkupnya seperti pada film Sicario, namun berkat itu pula lah yang membuat Wind River tidak terlalu berat untuk diikuti. Bahkan, Wind River memiliki sajian aksi yang sederhana, tetapi berkat pendekatan yang realis dan hadir dalam waktu yang tidak diduga-duga, adegan tersebut berhasil mengejutkan saya dan menjadi sajian aksi yang mendebarkan. Namun salah besar jika kalian menanggap Wind River hanyalah sebuah sajian crime pada umumnya, karena walaupun kisahnya berfokus pada pemecahan misteri pembunuhan, namun ada pula bumbu-bumbu akan diskriminasi ras serta perjuangan hidup yang menyertainya. Disinilah yang menjadikan Wind River sebagai film yang spesial serta powerful yang mungkin mampu membuatmu merasakan pergulatan batin saat menyaksikannya. 

Harus diakui memang, kebanyakan film crime ataupun misteri sejenisnya lebih memfokuskan pada pemecahan kasusnya, sehingga sering kali melupakan orang yang menjadi korban. Padahal, dengan adanya simpati dan keterikatan emosi yang tercipta dari penonton untuk korban, bisa menjadi salah satu faktor utama penonton untuk mengikuti menit demi menit dari film tersebut hingga tuntas. Hal itu lah yang dilakukan Taylor pada Wind River. Ada dua adegan yang mampu membuat saya begitu emosional dan ikut tenggelam, merasakan penderitaan serta perjuangan untuk hidup korban sebelum meregang nyawa. Pertama, percakapan Cory dan Jane di akhir, yang akan saya jelaskan nanti. Kedua, adegan ketika Jane dan Cory mengunjungi rumah orang tua korban merupakan salah satu adegan terbaik dalam film ini. Tidak ada dramatisasi berlebihan yang dilakukan Taylor, cukup dengan menangkap beberapa foto-foto Natalie dengan keluarganya, selagi Jane melakukan dialog dengan ayah Natalie, Martin (Gil Birmingham), sebelum kita diajak untuk menyaksikan adegan yang cukup menghenyak. Dari situlah penonton mulai merasakan kehilangan dari orang tua yang kehilangan putri semata wayang mereka. Kemampuan akting dari Gil Birmingham pun tidak bisa kita lupakan yang turut membantu betapa emosionalnya satu adegan tersebut. Singkat, namun berpengaruh juga dalam mengembangkan dua karakter utamanya, yaitu Jane dan Cory.

Treatment dari Taylor untuk Jane, sekali lagi, memang tidak bisa dijauhkan dari karakter Kate di Sicario. Dua-duanya terjun ke lapangan yang sangat lah asing untuk mereka dan masih memiliki semangat muda yang hanya ingin mencari pembenaran akan kasus yang mereka jalani, tanpa menyadari bila sebenarnya kasus tersebut jauh lebih kompleks dibandingkan apa yang mereka duga sebelumnya. Dalam Wind River, Jane melakukan tugasnya di daerah yang notabenenya diduduki oleh suku Native America, yang jelas memiliki sensitivitas tersendiri terhadap orang kulit putih Amerika. Secara tersirat, Taylor menghadirkan elemen itu tersendiri. Terlihat pada karakter Jane yang beberapa kali mendapatkan sambutan tidak ramah pada awalnya, termasuk dari Martin. Isu seksis pun turut menyeruak kala Jane yang merupakan agen perempuan dianggap tidak akan mampu bertahan lama di daerah bersalju Wyoming. Dua hal ini lah yang menjadi landasan mengapa Jane meminta bantuan Cory. Lihat, hal sepele begini saja diperhatikan oleh Taylor, yang membuktikan dirinya begitu detil dalam menyajikan penceritaan. Saya juga menyukai keputusan Taylor yang tidak menghadirkan kisah cinlok di Wind River, karena tentu saja itu akan merusak karakter family man yang ada pada diri Cory. 

Tanpa mendiskreditkan penampilan menawan dari Elizabeth Olson disini, terutama saat adegan terakhir lewat ekspresi kegetiran kala menyimak apa yang Cory sampaikan, dan kemudian tangisannya membuncah seraya mengucapkan kalimat "she ran six miles in the snow". She's really doing great, tapi susah untuk tidak terpukau apa yang diperlihatkan oleh Jeremy Renner sebagai Cory disini. Renner tentu saja tidak kesulitan dalam meyakinkan kita bila ia hebat dalam melakukan pekerjaannya sebagai agen pengawas habitat hewan, namun yang luar biasa disini adalah ekspresi nya yang sering kali menahan haru serta penyesalan akan apa yang terjadi pada Natalie. Setiap kalimat yang ia lontarkan yang memiliki keterkaitan dengan Natalie, terdengar meyakinkan serta terselip rasa pedih yang ia rasakan berkat ekspresi muda serta nada dari bicaranya. Kalimat sederhana seperti "That's warrior... That's warrior" begitu dalam makna nya berkat delivery dari Renner. Belum lagi pancaran mata kesedihan yang sering ia pancarkan, terutama kala ia menceritakan kronologis kematian sang putri. Percayalah, momen itu membuat kalian ingin berada di samping Cory seraya ingin menepuk pundak atau bahkan memeluknya. Sebuah sajian akting yang menurut saya layak untuk dihadiahi, minimal, nominasi Oscar. Chemistry yang ia jalin bersama Olson pun terlihat meyakinkan karena mereka juga telah bekerja sama dalam proyek besar MCU. Aktor-aktor figuran disini pun menghadirkan penampilan yang tidak bisa diremehkan. Setelah Gil Birmingham, ada juga Jon Bernthal yang walaupun hanya tampil singkat, namun sempat menjadi scene stealer ketika dirinya tampil di layar. Saya mungkin berlebihan, namun karakter seperti ini lah yang tampaknya sangat cocok untuk Jon Bernthal sehingga penampilannya disini telah menyaingi penampilan terbaiknya dalam film Snitch.

Lokasi Wyoming yang dipenuhi salju tidak hanya membantu Ben Richardson sebagai sinematografer untuk menghadirkan pemandangan-pemandangan bersalju yang menyegarkan mata, namun turut pula menebalkan atmosfir terasingnya sehingga penonton ikut merasakan keterasingan yang dirasakan oleh para petugas disini, terutama Jane. Tidak akan ada bantuan, mereka harus terpaksa menyelesaikan kasus pembunuhan tersebut dengan usaha mereka sendiri. Hal ini pula lah yang tampaknya menjadi kritikan tersendiri dari Taylor, ditambah juga sebuah tulisan narasi singkat di akhir nya, yang seolah meneriakkan bila pemerintah Amerika seakan tidak perduli dengan keberadaan penduduk yang sebenarnya adalah penduduk asli Amerika Serikat. 

Pada permukaan, mungkin Wind River hanyalah sebuah sajian crime mystery yang penceritaannya hanya berpusat pada pemecahan kasus, namun Taylor Sheredian mengambil cara yang berbeda dengan memilih untuk juga mengeksplor kondisi yang dialami korban. Baik kalian memiliki kelemahan hati terhadap kasus pemerkosaan ataupun tidak, sulit rasanya untuk tidak mendapatkan pengalaman emosional saat menonton Wind River, sehingga Wind River bagi saya adalah salah satu film terbaik yang ada pada tahun ini.

8,75/10

0 komentar:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!