Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Monday, 13 January 2020


 "Dia pikir perasaan manusia tuh bisa diatur pake tombol kali ya. Kayak robot"- Aurora

Plot

Sebagai seorang kepala keluarga, Narendra (Oka Antara/Donny Damara) berusaha sebisa mungkin untuk menjaga kebahagiaan istri nya, Ajeng (Niken Anjani/Susan Bachtiar) dan ketiga anak nya, Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara) dan Awan (Rachel Amanda). Terhadap anak-anak nya, Narendra memberikan perlakuan yang berbeda, dimana untuk Angkasa sebagai anak sulung, Narendra senantiasa mengingatkan kepada Angkasa bila ia bertanggung jawab sepenuhnya untuk melindungi kedua adik-adik nya. Perlakuan spesial yang ia berikan kepada Awan, si anak bungsu, secara tidak langsung mengakibatkan jarak antara Narendra dengan Aurora, yang kerap kali mengurung diri nya di studio seni miliknya.




Review

Sebagai penonton yang sama sekali buta perihal informasi akan film ini, saya sempat tertipu dengan poster film nya yang menampakkan para karakter utama tersenyum lebar, seolah menikmati kebersamaan di sore hari. Nyatanya, film yang diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Michael FP ini menawarkan drama konflik keluarga yang mampu menguras emosi berkat cerita nya yang relatable untuk sebagian besar, atau bahkan seluruh penonton. Sebagai anak, siapa yang tidak pernah cemburu atas perlakuan emas orang tua terhadap saudara kita sehingga kita terasa seperti anak tiri saja, atau juga mendapatkan treatment dari orang tua yang cukup tegas bagi anak sulung. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) menjelma bagaikan sajian sinema berupa refleksi atas permasalahan kehidupan keluarga pada umum nya, tidak terlepas juga saya. 

Angga Dwimas Sasongko yang duduk di kursi sutradara menyajikan NKCTHI dengan narasi non linear, dengan ceritanya melompat dari masa lalu dan sekarang sewaktu-waktu. Dengan pendekatan ini, terdapat usaha untuk semakin memperdalam konflik nya dengan pengadaan pada masa lalu nya. Penonton diajak untuk memahami akan setiap motif dari masing-masing karakter berdasarkan kejadian demi kejadian pada masa lalu, yang akan mempengaruhi sikap masing-masing karakter di periode present. Dari tersibak nya mengapa sang ayah overprotektif terhadap Awan, lalu perasaan bersalah serta beban tanggung jawab yang begitu terpatri di dalam relung Angkasa, hingga benih-benih lahirnya kesedihan Aurora atas perasaan terkucilkan yang selalu ia pendam. 

Dan pada periode masa kini nya, lahir dampak yang mempengaruhi sikap tiap karakter, terutama untuk ketiga anak. Angkasa merasakan tekanan yang kuat dari sang ayah sehingga dirinya selalu mengedepankan perihal keluarga, dibandingkan kebutuhan nya sendiri. Sikap Angkasa ini tanpa sadar mempengaruhi hubungannya dengan kekasihnya, Lika (Agla Artalidia) yang telah berjalan 4 tahun. Awan menjadi seorang anak yang sering membantah ayah nya atas dorongan keinginannya untuk bisa bebas dan memilih jalan nya sendiri. Sedangkan Aurora seolah menciptakan sekat sebagai pembatas antara dirinya dan keluarganya. 

NKCTHI berhasil membawa saya mengingat-ingat kembali bagaimana ayah dan ibu saya mendidik saya dan keempat saudara saya ketika masih kecil. Masih begitu lekat di dalam ingatan ketika saya menyaksikan bagaimana tegas dan keras nya ayah saya dalam mendidik kedua kakak saya, terutama kakak pertama, yang tidak jarang harus menerima kemarahan bahkan pukulan di muka ketika perintah nya tidak dijalankan. Entah beberapa kali saya memilih untuk masuk ke dalam kamar karena takut setiap kali ayah saya mulai memanggil nama kakak saya tersebut dengan nada tinggi nya. Momen-momen ini berhasil membuat saya melihat ayah saya itu bagaikan sosok monster, dan rasa takut terhadap beliau jelas hadir. Hubungan antara Narendra dan Angkasa disini tentu saja mengingatkan saya akan momen-momen tersebut, membuat saya memahami sepenuhnya bagaimana rasa tertekan Angkasa atas perlakuan sang ayah. Setiap kali Narendra mulai memarahi Angkasa, di situ juga saya seolah melihat sosok kakak saya pada karakter Angkasa. Dan ini hanya sebagian contoh saja, karena masih banyak momen-momen dalam film ini berhasil dengan brilian mengingatkan saya akan konflik dalam keluarga kami, yang merupakan bukti jika narasi NKCTHI begitu dekat dengan realita. Dan berkat elemen inilah, sangat mudah untuk tenggelam dalam pergulatan emosi di setiap menit kala konflik demi konflik dalam NKCTHI mulai bermuara.

Perihal komunikasi sering kali memang diremehkan esensi nya. Dengan minim nya komunikasi, akan hadir sebuah diskoneksi yang lambat laun menumpuk suatu permasalahan. Dalam NKCTHI, jarang sekali Narendra mau mendengarkan alasan mengapa keinginannya tidak terpenuhi oleh anak-anaknya. Kembali ke contoh Angkasa yang sering ia salahkan atas hal buruk yang terjadi pada kedua adik nya, terutama Awan, tanpa sedikitipun untuk membuka ruang diskusi bersama Angkasa.  Bahkan sikap membantah dari Awan pun ia salahkan sepenuhnya pada Angkasa. Perlakuan sikap nya tersebut adalah yang terbaik untuk nya dalam usaha melindungi anak-anaknya, namun bagaimana untuk anak-anak nya? Apakah mereka memiliki pemikiran yang sama? Hal ini pun terlihat kala di suatu momen mereka berkumpul setelah terjadi keributan yang cukup besar di hari penting Aurora, Narendra lebih memilih mengutarakan apa yang ia mau, ketimbang bertanya apa sebenarnya yang diinginkan oleh anak-anaknya. 

Mudah untuk menganggap karakter Narendra disini sebagai antagonist dalam cerita. Ia layaknya sumber perpecahan yang terjadi di dalam keluarga nya. Namun di satu sisi, saya dan bersama penonton lain bisa menangkap ada kasih sayang di setiap perlakuan "tidak mengenakkan" dari Narendra. Mungkin cara nya salah, tetapi sebagai orang tua, ia ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Saya telah mengantisipasi bila nantinya Angga yang juga menulis naskah bersama Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief akan memberikan sentuhan emosional di akhir untuk menampilkan sisi yang berbeda dari Narendra. Dan pada momen ini lah, pertahanan saya untuk tidak mengeluarkan air mata jebol juga, bersamaan luapan tangis dari Donny Damara. Bagaimana maskulinitas yang selalu ia tunjukkan demi menjaga kewibawaan atau juga menyembunyikan luka di masa lalu akhirnya luntur bersamaan dengan tangisan. Seketika menghadirkan pertanyaan menarik, disaat sang anak selalu ingin ayah mereka mengerti perasaaan mereka, namun mereka lupa juga bertanya bagaimana perasaan ayah mereka yang sebenarnya. Sentuhan yang terlihat adil sehingga tidak sepenuhnya mengantagoniskan karakter Narendra. Benar apa yang dikatakan Angkasa, mungkin Narendra pun merasakan capek seperti apa yang dirasakan mereka, namun perasaan ini mampu tertutupi dikarenakan kebahagiaan anak-anak nya. Ironi juga hadir kala Awan yang mulai beranjak untuk membangkang dan ingin menjalani hidupnya sesuai kemauan ia sendiri serta lebih memilih menghabiskan bersama orang yang baru ia kenal, namun berhasil membuat nya nyaman, malah disodorkan fakta dan pelajaran mengenai tanggung jawab. 

Jajaran aktor pemeran berhasil mempertunjukkan kapabilitas akting yang gemilang, dari Rachel Amanda yang likeable serta berhasil mempertontonkan sisi rebel dari Awan, Rio Dewanto yang mampu menyeimbangkan sosok Angkasa yang hangat serta menggambarkan beban besar di pundaknya melalui permainan ekspresi wajah, serta Donny Damara dengan gemilang menyajikan sosok Narendra yang keras, namun dibalik itu terdapat kerapuhan subtil yang kerap terpendam, hingga pecah di akhir. Favorit saya sendiri adalah Oka Antara dan Sheila Dara, dimana Oka senantiasa menggambarkan ketulusan dari sorot mata nya, meski di saat marah sekalipun, dan Sheila Dara membuat saya speechless atas suguhan akting sempurna nya dalam menggambarkan pergolakan batin luar biasa dalam sosok Aurora. Momen terbaiknya sendiri muncul pada setting tempat di galeri seni nya, dengan menampilkan ekspresi kaya makna walau minim kata-kata. Untuk karakter Ajeng sendiri pun memang baru diberikan kesempatan untuk bersinar kala film mulai bergerak menuju akhir, setelah sebelumnya, karakter Ajeng lebih banyak memilih diam dan menyaksikan konflik yang terjadi. Terkesan pasif, namun hal ini terbayar lunas kala nanti nya ia berhasil menjadi penghangat atau perekat di tengah permasalahan yang terjadi. Baik Susan Bachtiar atau Niken Anjani sukses menghadirkan kehangatan tersebut. Nayla Denny Purnama (Aurora remaja) dan Sinyo Riza (Angkasa remaja) pun patut diberi kredit lebih atas penampilan memukau mereka, terutama Nayla.

Minor complaint dari saya sendiri adalah terlalu sering nya lantunan instrumen latar di putar. Mungkin ada hampir tiap menit musik latar mengudara, sehingga ada terkesan Angga ingin lebih mudah penonton terbawa emosi nya. Padahal bila digunakan secukupnya, saya rasa jauh lebih baik. Pemilihan kata-kata pun sedikit terasa filosofis di beberapa kesempatan membuat saya merasa kalau sedikit sekali kemungkinan orang tetiba puitis kala mengobrol berdua saja di kedai kopi. Mengenai konklusi di akhir, walau saya telah terbawa emosi sepenuhnya pada flashback Narendra, tetapi saya merasakan jika di bagian ini kurang memuaskan. Saya sih lebih memilih jika konklusi nya tercipta ada perbincangan hati ke hati dari sang ayah kepada ketiga anaknya. Namun, kritik kecil ini tentu saja mudah tertutupi atas gelaran drama memuaskan yang telah hadir sebelumnya, yang menjadikan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah sajian sinema lokal terbaik sejauh ini, dan mungkin bertahan hingga akhir tahun nanti.


8,25/10

Friday, 25 October 2019



"Kamu....adalah kesalahan yang harus aku hapus"- Nyi Misni

Plot

Disebabkan faktor keuangan yang menipis, Maya (Tara Basro) pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Desa Harjosari, dengan niatan menjual rumah yang diyakini milik orang tua Maya.  Maya sendiri sama sekali tidak ada ingatan mengenai kedua orang tuanya karena semenjak ia kecil, Maya diasuh oleh bibi nya. Ditemani Dini (Marissa Anita), Maya rela melakukan perjalanan jauh ke desa tersebut, tanpa menyadari jika mereka berdua akan disambut dengan teror yang mengancam nyawa mereka.



Review

Nama Joko Anwar semakin dikenal luas berkat fenomena film remake nya 2 tahun lalu, Pengabdi Setan. Keberhasilan luar biasa film tersebut pun membuat penonton Indonesia mengantisipasi film-film Joko Anwar selanjutnya. Tentu saja sambutan penuh antusias dari penonton hadir ketika tersiar kabar Joko Anwar kembali akan merilis film horor lainnya berjudul Perempuan Tanah Jahanam pada tahun ini. 

Faktor mengapa Joko Anwar memiliki penggemar yang cukup besar dan sering diklaim sebagai sebagai salah satu sutradara Indonesia terbaik saat ini adalah visi nya sebagai sutradara maupun penulis naskah yang out of the box, cenderung berani serta terasa fresh sehingga terlihat berbeda dibandingkan film-film Indonesia lainnya. Ide dasar Joko Anwar memang selalu menarik, namun sayang, sering kali fondasi dasar tersebut juga tidak jarang tidak diimbangi dengan eksekusi yang memadai, seperti Kala dan Modus Anomali, yang terlihat sekali akan ambisiusnya Joko Anwar dalam memasukkan ide-ide liar miliknya. Menariknya, visi Joko Anwar selalu berhasil di dalam filmnya yang jauh lebih sederhana, seperti Janji Joni dan A Copy of Mind. Lalu, ada Pintu Terlarang yang masih menjadi film Joko Anwar terfavorit versi saya, yang menyeimbangkan ide gila serta eksekusi nya yang over the top namun berhasil. Lalu, bagaimana dengan Perempuan Tanah Jahanam sendiri?

Perempuan Tanah Jahanam (PTJ) masih menghadirkan ide liar dari sang sutradara. Saya cukup yakin sutradara Indonesia lain mungkin gak akan kepikiran untuk menghadirkan cerita horor berani seperti ini. Dengan setting film yang bertempat di dalam hutan belantara, PTJ begitu terasa atmosfir  mistis yang mencekam. Ditambah lagi Joko Anwar begitu pelit dalam menghadirkan cahaya terang di setiap menit PTJ bergulir. Rumah besar yang menjadi alasan utama mengapa Maya dan Dini rela mengunjungi desa Harjosari yang terpencil pun di garap Joko Anwar dengan teliti untuk menghadirkan kesan angker nya, seperti akar pohon yang menempel di dinding dan juga lukisan fotografi berukuran raksasa yang membuat saya berpikir betapa beraninya Maya dan Dini menatap lukisan tersebut dalam durasi yang cukup lama di tengah situasi rumah angker tersebut. 

Joko Anwar pun pintar dalam menghadirkan kisah misterius nya. Salah satu nya adalah apa yang terjadi di desa Harjosari. Semenjak Maya dan Dini menginjakkan kaki mereka di desa tersebut, penonton sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di desa itu. Ya, jika kota Palembang diserang dengan kabut asap, maka desa Harjosari memiliki kabut misterius yang sangat pekat. Selain itu, dari adegan pembuka pun Joko Anwar telah menebarkan pertanyaan mengenai identitas Maya, yang mendadak mendapatkan teror kala ia sedang melakukan tugasnya sebagai petugas karcis tol di malam hari. 

Menit-menit awal ketika Joko Anwar tengah membangun narasinya saat Maya dan Dini memulai kisah mereka di desa Harjosari memang sedikit cenderung monoton. Meski aura horor cukup kental, namun selain itu sama sekali tidak ada momen yang spesial. Joko Anwar tampaknya menyadari ini, sehingga ia pun menyiasati permasalahan ini dengan menyisipkan beberapa momen yang diniati untuk menakuti penonton. Namun untuk saya sendiri, yang memang sudah cukup berpengalaman dalam hal ditakuti dalam media bergenre horor, strategi ini pun mudah saya baca sehingga punchline nya sudah bisa saya tebak (dan sering kali benar). Untungnya saja misteri yang disimpan oleh Joko Anwar yang saya nyatakan sebelumnya telah berhasil merenggut atensi saya sehingga monotonnya pergerakan narasi di awal bisa saya maafkan. Ditambah adegan pembuka bersetting di gerbang tol sudah lebih dari cukup untuk mencengkeram atensi penonton, termasuk saya. Adegan ini pun juga berhasil menjadi favorit saya, karena luwesnya Joko Anwar dalam menghadirkan transisi momen santai, bahkan cenderung komedi, lalu seketika menjadi intens akibat hadirnya satu karakter.

Intensitas mulai memuncak di pertengahan film, ketika sesuatu terjadi pada satu karakter. Dari sini, kegilaan Joko Anwar mulai nampak. Seperti film-film Joko Anwar sebelumnya, ia sama sekali tidak malu dalam menampakkan adegan-adegan kekerasan, bahkan jika melibatkan karakter wanita sekalipun. Tidak tanggung-tanggung, Joko Anwar pun menjadikan tubuh manusia sebagai media  bermainnya dalam usaha menakuti penonton. Saya yakin, body horor yang dilakukan Joko Anwar disini merupakan salah satu yang terbaik dalam sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Tidak hanya disturbing, namun juga memberikan efek miris dan tak tega dari penonton akibat keberanian Joko Anwar.  By the way, kreativitas Joko Anwar juga terlihat saat ia begitu pintar nya dalam melibatkan seni pertunjukan asli Indonesia, yaitu wayang, untuk menjadi key point sebagai jawaban akan misterinya. Berkat ini pula saya yakin penonton akan merasakan hal yang berbeda kala melihat wayang selanjutnya.

Walau begitu, PTJ memiliki beberapa permasalahan yang membuat film ini bisa dikatakan adalah salah satu film terlemahnya Joko Anwar. Pertama adalah karakterisasi dari Maya yang terasa dangkal dan kurang menarik. Karakter Maya ini mudah sekali kita temukan di film-film horor lainnya. Tidak ada pendalaman karakter, tidak ada juga narasi yang kuat sebagai pembenaran mengapa Maya mengambil keputusan berani untuk mengunjungi desa kelahirannya. Saya rasa hanya karena kesulitan uang "saja" kurang cukup untuk mendorong seseorang mengambil keputusan yang seperti dilakukan Maya, apalagi tidak ada ikatan batin sama sekali yang tercipta pada diri Maya terhadap desa Harjosari, sehingga bagi saya keputusan Maya ini tidak hanya nekad, tetapi juga bodoh. Oh ya, kebodohan karakter utama dalam film horor untuk mengambil keputusan bukanlah suatu dosa, namun dikarenakan ini adalah film Joko Anwar, yang notabenenya dikenal sebagai sutradara yang out of the box, maka maaf saja, saya harus buat pengecualian. 

Kedua, dan bagi saya ini cukup fatal, adalah pilihan Joko Anwar dalam mengungkapkan jawaban sebenarnya akan kisah misteri yang menaungi desa Harjosari. Tidak hanya terlalu gamblang, namun juga merusak intensitas ketegangan yang tengah berlangsung akibat terlalu lama nya adegan ini berjalan. Padahal dalam Pintu Terlarang, Joko Anwar mampu memaparkan plot twist nya dengan cemerlang, karena Joko Anwar mau bersabar menunggu setelah intensitas yang terjadi sebelumnya telah berakhir. Kelemahan rutin milik Joko Anwar dalam menghadirkan beberapa baris dialog yang terdengar kaku pun juga masih hadir dalam PTJ.

Sebagai Maya, Tara Basro sudah berusaha seoptimal mungkin untuk menghidupkan karakter ini karena perihal naskah mengenai karakterisasi Maya yang cukup dangkal. Untung saja, Tara Basro cukup memiliki aura likeable sebagai protagonist utama. Lemahnya karakter Maya juga berhasil ditutupi oleh hadirnya Dini sebagai sahabatnya, yang berhasil menjadi scene stealer akibat penampilan memukau dari Marissa Anita. Ia berhasil menjadi comic relief utama dalam PTJ berkat paparan dialog nya yang seolah tanpa filter, dan juga memberikan ekspresi ketakutan meyakinkan sehingga membuat penonton perduli akan keselamatannya. Akting dari aktris senior, Christine Hakim pun tampak seolah ingin menasbihkan dirinya sebagai aktris terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. 

Meski memiliki beberapa permasalahan yang cukup mengganggu, namun tak terelakkan jika PTJ adalah bukanlah film horor yang sembarangan. Totalitas diberikan baik dari Joko Anwar dan kru nya yang harus berpindah kesana kemari untuk pengambilan gambar bersetting hutannya, juga dari barisan pemeran yang harus beradaptasi melakukan akting di medan yang cenderung sulit. PTJ pun ditutup dengan ending miris nan mencekam, yang membuat saya bersimpati banget sama penduduk Harjosari. 

7,5/10

Friday, 2 March 2018


Plot

Selain belajar di sekolah, rupanya Bayu (Bayu Skak) juga membantu usaha ibunya (Tri Yudiman) berdagang pecel dengan menjual dagangan sang ibu di sekolahan, sehingga Bayu mendapatkan julukan "Pecel Boy". Walau Bayu bukanlah seorang siswa yang memiliki popularitas karena minus dukungan fisik maupun prestasi, namun hal itu bukan halangan bagi Bayu untuk tetap berusaha mencari tambatan hati. Setelah dirinya dipermalukan setelah puisi nya yang ia kirim untuk salah satu taksirannya dibaca di depan teman-teman kelasnya, Bayu pun memindahkan targetnya ke salah satu perempuan paling populer di sekolahnya, Susan (Cut Meyriska). Segala usaha di lakukan Bayu, termasuk menggunakan uang tabungannya demi hanya untuk bertemu Susan. Hasilnya, Bayu kembali dipermalukan. Merasa cukup dan letih dengan segala penghinaan terhadap dirinya, Bayu ingin membuktikan diri bila ia bukanlah siswa biasa. Dengan teman terdekatnya, Doni (Joshua Suherman), Bayu memiliki ide untuk membentuk sebuah band. Mereka pun mengadakan audisi pencarian anggota band, yang pada akhirnya mempertemukan Bayu dan Doni kepada Yayan (Tutus Thomson) dan Nando (Brandon Salim) yang segera saja menjadi anggota serta teman baru untuk Bayu dan Dono. Dimulailah kisah band yang memiliki nama Yowis Ben ini (yang mereka dapatkan secara ketidaksengajaan) dalam usaha untuk pembuktian kepada teman-teman sekolah, dengan mengusung ambisi pribadi tiap anggota band ini.





Review

Tidak usah menunggu terlalu lama karena Yowis Ben telah tancap gas dengan humor yang mampu menggelakkan tawa penonton semenjak menit-menit pertama film berjalan. Lengkap pula dengan bahasa Jawa yang dilontarkan para karakternya, lelucon demi lelucon yang hadir di sepanjang durasi film debut Bayu Skak sebagai sutradara serta penulis naskah ini hampir tidak pernah untuk tidak berhasil dalam mengundang tawa dari penonton. Dua unsur inilah yang rasanya menjadi magnet terkuat dalam film Yowis Ben dalam usahanya untuk penonton tetap setia memantau Yowis Ben hingga akhir. Bila dua aspek ini dilucuti dalam film Yowis Ben, terutama dialek-dialek bahasa Jawanya, mungkin Yowis Ben jatuhnya menjadi film komedi remaja biasa yang tidak akan terlalu lekat menempel dalam benak penonton.

Hal itu dikarenakan Yowis Ben tidak disokong dengan penceritaan yang kuat serta minusnya akan suatu yang fresh. Coba saya tanya, telah berapa banyak film yang mengangkat penceritaan mengenai siswa yang merasa dirinya terpinggirkan dan berusaha untuk menonjolkan dirinya lewat sesuatu seperti karya? Tentu kita tidak bisa menghitungnya dengan sepuluh jari, bahkan di tambah sepuluh jari kaki. Mungkin karena faktor ini pula yang disadari oleh Bayu Skak yang dalam film ini ia dibantu oleh Fajar Nugros di kursi penyutradaraan dengan mengambil langkah yang cukup berani dengan memenuhi dialog-dialog film dengan bahasa Jawa. Plus memaksimalkan unsur komedi yang ada dalam film.

Usaha tersebut berhasil, dan membuktikan juga bila Bayu Skak memiliki kepekaan dalam berkomedi tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepertinya pengalaman sebagai Youtuber juga yang ikut membantu Bayu Skak begitu luwes dan pintar dalam menampilkan komedinya. Bayu Skak pun harus turut berterima kasih kepada jajaran aktor yang tampil minor dalam Yowis Ben karena mereka telah menunaikan tugas mereka dengan sangat baik. Begitu banyak karakter demi karakter yang tampil tidak lama dalam film ini jatuhnya berkesan untuk penonton, bahkan karakter seperti penjual bakso pun begitu lekat di ingatan akibat timing sempurna dan ketelitian Bayu Skak dalam menampilkan komedinya. Yang paling favorit mungkin adalah tik tok sempurna yang dilakukan oleh duo komedian senior asal Jawa, Cak Kartolo dan Cak Sapari. Tidak ketinggalan pula, beberapa isu hingga film Indonesia paling populer tahun lalu dijadikan Bayu Skak sebagai materi dalam komedinya, meski sayangnya memang isu tersebut bisa dijadikan sebagai kritik sosial, bukan hanya sekedar lelucon belaka.

Chemistry meyakinkan pun berhasil ditampilkan 4 karakter utamanya. Bayu Skak, Joshua, Brandon dan Tutus berhasil membuat penonton perduli akan persahabatan di antara mereka. Meski kala konflik menyeruak dan terjadi pertentangan antar mereka gagal menghadirkan sebuah ironi seperti yang saya rasakan ketika menyaksikan Jomblo-nya Hanung, namun tak ditampik, ketika mereka berada dalam satu screen, mereka tampak benar-benar telah kenal lama satu sama lain. Tidak ada kecanggungan yang tercipta, yang hanya gelontoran balas-balasan dialog yang kembali lagi kerap kali sukses menghadirkan ketawa. Brandon Salim harus diberikan kredit karena dirinya berhasil memberikan penampilan yang paling tidak membuat dirinya tetap terlihat diantara Bayu, Joshua dan Tutus. Namun tetap saja, diantara mereka berempat, favorit semua orang adalah Yayan yang diperankan begitu jenaka oleh Tutus. Saya tidak tahu apakah ini peran pertama bagi Tutus Thomson atau bukan, tetapi bila memang ini adalah debut dari Tutus, maka dirinya sangat berpeluang besar untuk meraih karir sebagai aktor yang sukses. Kehadirannya seolah tidak pernah gagal dalam memancing tawa, dan ketika ada aktor yang berhasil membuat lawakan yang bersinggungan akan agama tanpa harus menyinggung umat yang terkait (Hai, Joshua), berarti aktor tersebut telah melakukan pekerjaan yang sangat brilian. Tentu saja semua itu berkat campur tangan dari Bayu Skak yang juga duduk di penulis naskah. Sayang sekali memang, karakter Yayan hanya dijadikan sebagai mesin peledak tawa akibat karakterisasi Yayanyang sangat tipis dibandingkan Bayu, Doni dan Nando.. Doni dan Nando memiliki sub plot kecil yang menjadi motivasi masingj-masing untuk berkarya, namun Yayan? Apa yang membuat dirinya tertarik ingin menjadi drummer nya Yowis Ben, selain dirinya sering menggebuk bedug masjid? 

Semua atribut mengenai komedi serta dialek bahasa Jawa nya sangat membantu Yowis Ben untuk menutupi lubang besar nya, yaitu ketika film mulai bergerak dari gelaran penuh komedi ke arah drama yang inginnya sentimentil. Bayu Skak memang piawai dalam menyajikan komedinya, tetapi bila memang Bayu Skak ingin mantap berkarir di dunia perfilman sebagai sutradara maupun penulis naskah, maka sudah wajib hukumnya untuk Bayu segera belajar bagaimana menyajikan sebuah drama yang, paling tidak, membuat penonton perduli dengan hal tersebut. Ada dua inti sajian drama disini, yaitu hubungan antar member Yowis Ben itu sendiri dan kisah asmara Bayu-Susan. 

Yang menjadi masalah tentu adalah kisah asmara Bayu dan Susan. Awalnya ada kesan berbeda yang saya harapkan berkat dari karakterisasi Susan yang tidak terjebak pada formula cewek-paling-cakep-di-sekolahan-tapi-berhati-malaikat. Ketika dirinya terlibat langsung akan momen Bayu kembali dipermalukan, kesan beda tak pelak saya rasakan. Tetapi sayangnya potensi itu tidak dilanjutkan, bahkan pada akhirnya, Susan menjadi faktor utama kelemahan Yowis Ben berkat karakterisasinya yang begitu labil. Apakah memang hal tersebut bersifat intensional? Bisa jadi, mengingat karakter Susan adalah gadis yang masih duduk di bangku SMA, dan kita semua telah mengetahui jika para wanita memasuki momen paling labil sepanjang hidup mereka pada masa-masa ini. Kecanggungan paling menyeruak setiap kali Bayu Skak dan Cut Meyriska harus tampil layaknya pasangan. Teman saya adalah salah satu penggemarnya Bayu Skak dan ia pernah bercerita jika memang di kehidupan nyata, Bayu Skak memiliki kesulitan tersendiri dalam berhubungan dengan perempuan. Mungkin karena ini juga lah permasalahan tersebut ikut terbawa ke dalam film, terlebih Cut Meyriska belum memiliki kapabilitas sebagai aktris yang mampu menjalin chemistry dengan siapapun, seperti Emma Stone misalnya (Jauh banget yak perbandingannya, tapi sekedar contoh saja). Ditambah dengan minusnya fondasi yang kuat mendasari hubungan asmara mereka, sulit rasanya untuk penonton menginvestasikan rasa perduli akan pasangan ini. Bahkan, kata cringeworthy layak disematkan pada pasangan ini. Mungkin akan jauh lebih baik jika karakter Susan hanya dijadikan sebagai pemicu untuk Bayu dalam rangka pembuktiannya, serta menit-menit dalam film yang menampilkan kisah Bayu-Susan diganti dengan kisah sub plot milik Doni yang harus saya akui jauh lebih menarik.

Namun, karena ini adalah langkah debutnya sebagai sutradara, pemain utama, hingga penulis naskah, tentu saja Yowis Ben ini lebih dari cukup untuk seorang Bayu Skak menampilkan kreasi serta visinya sebagai kreator. Berkat komedi serta karakter-karakter pendukung yang luar biasa menghibur dan berhasil menjadi scene stealer di setiap kemunculan mereka, dan keberanian Bayu Skak yang menggunakan bahasa Jawa hampir 100% dalam tiap menit film berjalan. cukup berhasil untuk menutupi kekurangan terbesar film ini. Ditambah lagi akan lagu-lagu di film ini yang disajikan begitu berenergi, terutama lagu Gak Iso Turu yang berhasil mengejutkan saya akibat sebuah pengadeganan yang walau terbilang klise, namun tak ditampik, sangat enjoyable disaksikan. 



7,5/10

Wednesday, 5 April 2017



"Untung ya, kamu cuma anjing, Bagong. Anjing tidak pernah merasakan kesepian, karena hanya memberikan kesetiaan"- Jaya

Plot

Untuk menjalankan wasiat sang ibu demi mendapatkan hak sepenuhnya rumah yang diwariskan sang ibu kepadanya, Larasati (Julie Estelle) bersedia jauh-jauh terbang ke Praha. Wasiat dari ibunya hanya menginginkan satu hal kepada Laras, yaitu mengantarkan sebuah kotak kecil dan tanda tangan dari yang bersangkutan sebagai tanda terima. Namun siapa sangka, orang yang harusnya menerima kotak tersebut malah menolak mentah-mentah "hadiah" itu. Orang itu bernama Jaya (Tio Pakusadewo), pria yang telah termakan usia, memiliki profesi janitor di suatu opera besar di Praha. Karena telah jauh-jauh berangkat dari Indonesia, Laras pun tetap berusaha untuk mendapatkan tanda tangan dari Jaya, sembari mengisi hari-harinya di Praha untuk mencari jawaban siapa sebenarnya Jaya tersebut.




Review

Kala menyaksikan trailernya di bioskop dan mengetahui bila aktor Tio Pakusadewo menjadi pusat penceritaan, saya pun tidak berpikir panjang memasukkan Surat Dari Praha ke dalam film yang harus saya tonton karena dengan keberadaan Tio Pakusadewo berada di garda terdepan dalam menggerakkan cerita, itu saja telah menjadi jaminan bila Surat Dari Praha bukanlah sajian sembarangan. Walau memang sempat khawatir Surat Dari Praha hanya akan berakhir menjadi film yang terlalu mengeksploitasi keindahan-keindahan kota Praha saja, seperti film-film Indonesia lainnya yang menjadikan kota di luar negeri sebagai setting filmnya. Namun tampaknya saya terlalu meremehkan sosok sutradara Angga Dwimas Sasongko. Bukan seperti film lainnya yang hanya memanfaatkan nama kota luar negeri sebagai usaha untuk menyedot perhatian masyarakat Indonesia, Angga memilih kota Praha dikarenakan kebutuhan dari penceritaan, dengan mengaitkan pula akan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. 

Pekerjaan Angga sebenarnya tidak mudah. Bagaimana tidak, cerita yang ditulis M. Irfan Ramli memasukkan tema cinta, kerinduan, pengorbanan, sejarah, politik, dan juga idealisme ke dalam film yang hanya memiliki durasi yang lumayan singkat, hanya 91 menit. Bila tidak mempelajari naskah yang ada dengan baik, mudah saja Surat Dari Praha malah berakhir mengecewakan akibat penceritaan yang tumpah tindih serta kehilangan fokus. Tetapi sekali lagi Angga membuktikan dirinya merupakan salah satu sutradara terbaik di Indonesia generasi sekarang. Angga tahu betul kapan momen yang tepat untuk membahas cinta, begitu juga sejarah, dan seperti itu seterusnya tanpa sekalipun perpindahan yang terjadi terasa dipaksakan. Semuanya berjalan mulus dan tepat waktu. Sekali lagi, itu bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga cukup mengherankan kenapa sutradara satu ini tidak mendapatkan piala sutradara terbaik di ajang Indonesia Movie Awards tahun lalu. 

Surat Dari Praha memang dipenuhi berbagai macam topik, namun jelas yang mendominasi tetaplah cerita cintanya. Dan percayalah, Surat Dari Praha akan berhasil membuatmu terbawa perasaan kala menyaksikannya, apalagi untuk orang yang posisinya sama seperti Jaya, rasa cinta yang harus bertemu dengan hasil akhir yang pilu akibat keadaan yang tak memungkinkan, sehingga tak pelak menghasilkan rasa rindu. Surat Dari Praha mengajak kita ke dalam kisah cinta Jaya dan Sulastri baik lewat surat yang Jaya tulis, ataupun cerita dari Jaya sendiri, tanpa sekalipun diperlihatkan keduanya memadu kasih secara fisik. Hanya tersampaikan dengan kata-kata. Tetapi dengan dua pendekatan unik tersebut tampaknya telah lebih dari cukup untuk menciptakan imaji di benak penonton bagaimana besar nan indah cinta yang tumbuh dari mereka berdua. Sehingga saya pribadi mengutuk akan situasi yang menghalangi mereka untuk menyatukan perasaan mereka. Ya, lewat kisah cinta yang pahit namun manis ini, Angga tampaknya melontarkan kritik serta kemarahan pula pada pemerintahan kala itu yang mengambil langkah begitu ekstrim dengan mengusir setiap orang yang menolak rezim orde baru.

Surat Dari Praha berjalan begitu tenang, lembut bahkan dengan konflik yang terjadi sekalipun tidak pernah melunturkan kehangatan yang ada. Kentalnya perasaan rindu pun sontak membuncah setiap kali soundtracknya mengalun lembut melengkapi adegan yang terjadi di permukaan layar. Baik suara lembut Glenn Fredly, Julie Estelle maupun suara serak Tio Pakusadewo, semuanya berhasil membuat saya ikutan baper dengan cerita cintanya. Rasa nasionalis pun juga tidak ketinggalan bergelora kala lagu Indonesia Pusaka sukses meruntuhkan tembok pertahanan terakhir saya untuk tidak menjatuhkan air mata. 

Berbagai kelebihan di atas dilengkapi pula dengan performa kuat Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Chemistry yang mereka tampilkan hadir begitu natural, tanpa sedikitpun dipaksakan (terbantu juga akan naskah yang tidak mengharuskan mereka mengeluarkan dialog-dialog lebay). Namun walau Julie Estelle bermain bagus (and gorgeus like usual, of course), tetap susah memang tidak terpesona dengan kharisma serta penampilan memikat Tio Pakusadewo. Ekspresi yang ia keluarkan kebanyakan subtil, menahan gelora rasa cinta yang tidak pernah padam dan juga kerinduan yang tak terhalang. Disisi bersamaan ia juga memerankan sosok ayah yang sedang menemani putrinya mencari jawaban. Tidak semua aktor yang mampu mengucapkan kalimat cheesy seperti "saya akan mencintai dia, selama-lamanya" terdengar berkelas dan memiliki arti sesungguhnya seperti bung Tio lakukan. Semoga saja Tio akan sering bermain sebagai tokoh utama dibanding hanya pendukung di film-film yang ia bintangi selanjutnya.

Tidak mudah memang mendampingkan unsur sejarah atau politiknya dengan kisah cinta yang manis, dan telah banyak bukti yang gagal kala mencobanya (bahkan Habibie & Ainun terlalu melodrama buat saya), namun Angga membuktikan lewat Surat Dari Praha bahwa tidak perlu terlau mengeksploitasi nuansa cintanya demi mendapatkan hasil yang maksimal, karena dengan jalan penceritaan sederhana, tema cinta di dalam Surat Dari Praha masih terasa powerful, diiringi pula akan nilai sejarah dan politiknya yang melengkapi pilunya kisah cinta yang ada.

8,5/10

Friday, 17 March 2017

"Lo bukan seorang legenda, lo bukan seorang ayah. Tapi orang tua yang cuma beraninya sama anak kecil"- Ishmael

Plot

Pria tanpa nama terbangun dari masa koma nya dalam kurun waktu 2 bulan. Pria tersebut tidak memiliki ingatan alias amnesia. Disebabkan permasalahan tersebut, seorang wanita muda calon dokter yang selama dua bulan merawat dan memperhatikan pria itu bernama Ailin (Chelsea Islan)  memberikan nama Ishmael (Iko Uwais) kepada pria itu, terinspirasi dari bacaan buku Moby Dick nya. Ishmael sendiri ditemukan tak sadar diri di pantai oleh nelayan tua bernama Romli (Yayu Unru) dengan luka di kepalanya. Sebelum tersadar, Ishmael sempat terngiang di ingatannya mengenai masa lalu nya, yang dari jauh mengintai secara diam-diam mengancam ketenangan Ishmael.




Review

Melihat kesuksesan luar biasa dari karya-karya nya Gareth Evans seperti Merantau dan dwilogi The Raid yang mampu mencapai pasar internasional, tidak salah memang banyak sekali para sineas yang ingin mengekor keberhasilan Evans dengan mengikuti treatment yang serupa. Bahkan ada beberapa sinetron yang juga tidak ketinggalan untuk menyelingi ceritanya dengan adegan aksi layaknya film The Raid. Maka bisa dipahami bila sebelum menyaksikan karya terbaru dari Mo Brothers ini telah banyak yang mengecap bahwa Headshot hanya sebuah carbon copy dari The Raid dan hanya dibuat sebagai langkah pengeruk uang semata. Tidak sepenuhnya salah memang karena Headshot diisi dengan bintang-bintang yang turut menghiasi The Raid: Berandal juga ikut ambil peran disini seperti Jullie Estelle, Zack Lee,Very Tri Yulisman dan tidak ketinggalan Iko Uwais yang tetap didapuk sebagai peran utama. Tidak hanya itu, staf-staf di belakang layar pun juga dipercaya untuk berkontribusi dalam hal teknis Headshot. Namun, percayalah bila Headshot tetap berbeda dan masih menunjukkan identitas dari Mo Brothers. Bila memang ada kesamaan, itu hanya kebetulan dikarenakan visi antara Gareth Evans dan Mo Brothers tidaklah jauh berbeda.

Bagi siapa yang telah mengikuti jejak karir Mo Brothers, mereka pasti telah mengetahui bila dua saudara ini memang sinting dalam memerankan unsur kekerasan. Rumah Dara dan Killers bisa menjadi bukti shahih betapa sakit dan jelinya dua sutradara ini mengemas adegan yang berdarah-darah. Tetapi berbeda dalam Killers (pencapaian terbaik Mo Brothers bagi saya) yang menunjukkan kekerasan tersebut sebagai pondasi dalam bercerita, Rumah Dara dan Headshot justru sebaliknya yang menjadikan cerita hanya sebagai pondasi untuk menyajikan hal tersebut sebagai bentuk persembahan kepada para penonton yang menyukai darah yang bercipratan, kulit terkoyak, serta tulang patah di dalam medio film. Dan Mo Brothers seolah tidak pernah kehilangan ide bila membicarakan bagaimana membuat adegan kekerasan yang bermuncratan darah yang kali ini mereka selipkan di dalam pertempuran antar karakter. Mungkin memang kembali akan mengingatkan kita kepada koreografi pertempuran yang ada di The Raid, namun tampaknya Mo Brothers sadar akan hal ini sehingga mereka pun berusaha untuk menyajikannya dengan cara yang berbeda. Seperti misal menyelipi setiap pertempurannya dengan senjata, tidak sepenuhnya tangan kosong, lalu ada juga pertarungannya dihiasi dengan hide and seek, juga tidak jarang pula slow motion hadir di tengah serunya pertarungan seolah mempersilahkan penonton mengambil nafas dengan tenang sejenak. Memang, adegan demi adegan pertarungan yang tersaji di dalam Headshot belum ada yang mampu meninggalkan kesan memorable seperti dalam karya-karyanya Gareth Evans, tetapi paling tidak usaha yang telah dilakukan patut diapresiasi. Apalagi memang dalam hal koreo nya kali ini, Iko Uwais tidak dibantu oleh kehadiran partner in crime nya, Yayan Ruhian. Fights yang ada juga semuanya keren, terutama Rama Vs Rika yang tidak hanya cukup kental akan emosi, juga dilengkapi dengan pemandangan pantai yang memanjakan mata. Julie Estelle pun kembali membuktikan dirinya sebagai aktris yang serba bisa dan tidak hanya jual tampang saja.

Mungkin kelebihan yang ada di Headshot yang tidak dimiliki hasil garapan Gareth Evans adalah mengenai dialog-dialog yang dilontarkan tiap karakter di dalamnya yang memang lebih "Indonesia", tidak seperti dalam dwilogi The Raid yang terasa kaku serta "unik" yang seringkali membuat penonton dari ibu pertiwi sendiri malah bingung apa yang dimaksud.

Usaha Mo Brothers untuk menggali lebih dalam di aspek cerita pun patut diberi acungan jempol, seperti hubungan Ishmael dan para pemburu yang mengincar nyawanya dengan sedikit suntikan flashback-flashback yang membuat karakter Ishmael juga lebih tereksplor serta memberikan sedikit asupan emosi tidak hanya kepada Ishmael juga musuh-musuhnya. Saya pun juga menyukai adegan simbolis yang ada di akhir cerita, meski adegan tersebut memang telah banyak hadir di perfilman, tetapi Mo Brothers mengemasnya dengan baik dan tidak terlihat kacangan. 

Walau begitu, tidak dipungkiri memang Headshot masih meninggalkan begitu banyak lubang yang menganga tanpa penjelasan. Entah memang itu dibiarkan tersimpan untuk membuka peluang Headshot akan digarap sekuelnya, saya tidak tahu. Dalam aspek drama antara Ishmael dan Ailin pun sangatlah tipis, seperti apa yang membuat Ailin begitu perduli kepada Ishmael pun tidak dijelaskan secara detil, tersirat pun tidak. Yang terlihat hanya lah Ailin menganggap Ishmael beda dari pasien lain akibat luka-luka yang dideritanya. Bila memang itu telah cukup untuk membuat dokter muda berparas bidadari seperti Ailin tertarik kepada pasiennya, saya yakin banyak laki-laki sehabis nonton Headshot rela akan melukai tubuhnya sendiri dengan parah supaya mampu bernasib serupa seperti Ishmael. Mengenai Iko nya sendiri saya yakin, banyak yang membuat para lelaki kesepian seperti saya akan rela berlatih bela diri demi mendapatkan posisi Iko seperti sekarang.


*brb belajar bela diri dan bocorin kepala*


Karakter Ishmael ini sebenarnya lebih baik bila dibandingkan peran Iko Uwais sebelumnya yaitu Rama, tetapi memang tidak bisa terbantahkan dalam hal porsi drama, Iko perlu belajar lagi. Terlebih lagi ketika diharuskan bertukar dialog percintaan dengan Chelsea Islan yang cukup cringeworthy dan membuat tidak nyaman sehingga saya gatal untuk mempercepat adegan mereka berdua, terutama adegan dibawah rintik hujan tersebut. Bukannya iri, malah merusak romansa yang ada. Saya juga telah lelah melihat karakter superman Iko Uwais yang sendirian mengalahkan semua lawannya, mengingatkan saya akan Roman Reigns di WWE (Goddamnit, I hate that character so much). Saya angkat topi juga untuk Chelsea Islan yang berani menutupi muka cantiknya dengan muka lebam serta darah. Karakter-karakter antagonisnya yang memang memenuhi narasi untungnya kebanyakan memiliki karakterisasi yang menarik. Favorit saya adalah Tejo yang diperankan dingin oleh David Hendrawan dan Bondhi yang diperankan cemerlang oleh Ganindra Bimo yang sukses menjadi spotlight di tiap kehadirannya.

7,75/10




Tuesday, 27 December 2016




 "Look at you. Look at you. Sakit lo"- Bayu

Story

Nomura (Kazuki Kitamura) merupakan tipikal pria idaman para wanita. Dia eksekutif kaya, berkharisma dan juga pandai bergaul dengan wanita. Namun siapa yang menyangka bila ia memiliki hobi membunuh perempuan yang ia ajak ke rumahnya. Tidak hanya itu, setiap pembunuhan yang ia lakukan selalu ia unggah ke sebuah website. Salah satu penggemar Nomura adalah Bayu (Oka Antara), mantan jurnalis yang hancur karirnya akibat menulis artikel mengenai salah satu pejabat ternama, Dharma (Ray Sahetapy). Dampak akan dipecatnya Bayu berimbas akan ketidak harmonisan dengan sang istri, Dina (Luna Maya) sehingga mereka tinggal terpisah. Akibat suatu kejadian, Bayu terinspirasi akan "kegiatan" Nomura, dan mengeluarkan sisi gelap dalam dirinya.





Review


Bagaimana mendeskripsikan sebuah film yang bagus? Bila pertanyaan itu diajukan kepada saya, saya akan menjawab dengan sederhana, film yang mampu membuatmu tenggelam dalam ceritanya dan meninggalkan kesan ketika film berakhir. Dengan naskah cerita yang berkualitas, penonton pun akan merasa terikat sehingga tidak mempermasalahkan berbagai segi teknis lainnya, seperti sinematografi, CGI atau aspek lainnya. Walau durasi nya panjang pun, penonton tidak merasakan jenuh sedikitpun disebabkan bagaimana pintarnya sutradara merepresentasikan apa yang telah penulis naskah buat (Dwilogi The Godfather merupakan contoh yang bagus). Setelah naskah cerita yang jempolan, kesan yang akan didapatkan setelah menonton pun hampir pasti di dalam genggaman. Penonton akan mendiskusikannya, sehingga tidak jarang penonton rela menonton dua-tiga kali hanya ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Dan itu yang dimiliki Killers karya Mo Brothers yang brilian ini.

Sesuai dengan tag line di poster film, naskah yang ditulis Timo Tjahjanto dan Takuji Ushiyama ini mengajak penonton untuk melihat bahwa manusia pasti memiliki sisi buruk dalam dirinya, dan dalam film ini sisi buruk yang diangkat adalah keinginan untuk membunuh. Diperlihatkan juga kedua karakter utama dalam Killers memiliki motif berbeda dalam menjalankan “pekerjaan sampingan” mereka itu. Nomura memiliki masa lalu yang buruk sehingga ingin ia lampiaskan dengan membunuh setiap wanita yang ia ajak ke rumahnya. Rasa kesepian pun turut menyelimuti Nomura, dengan alasan itu pula ia sering meng-upload video membunuhnya untuk bisa menemukan seseorang yang sama atau bisa mengerti akan hobi nya tersebut. Berbeda dengan Bayu yang ingin menuntaskan dendam pribadinya sehingga ia bisa hidup tenang dengan keluarga kecilnya. Dalam menjalankan aksi membunuh pun kedua karakter begitu bertolak belakang. Nomura yang telah memiliki pengalaman sangat teliti ketika sebelum, saat atau pun sesudah membunuh korbannya. Bayu, yang sebelumnya hanya lah jurnalis biasa dan mulai melakukan aksi membunuh seperti Nomura karena suatu insiden, melakukan aksinya dengan natural dan selalu mengalami sebuah gangguan.

Sebagai film bergenre Psychological Thriller, tentu Mo Brothers tidak lupa untuk pula menyoroti keadaan psikis karakternya, dan dalam hal ini keadaan psikis Bayu yang disoroti lebih jauh. Aspek ini pula lah yang merupakan keunggulan utama Killers. Dihimpit oleh permasalahan keluarga, kerjaan dan ingin lepas dari pandangan sebelah mata dari ayahnya Dina, Bayu merasakan tekanan yang hebat hingga memaksa dirinya untuk mengambil jalan pintas demi keinginan yang selalu diidam-idamkan. Namun akibat pekerjaan barunya itu juga lah pikiran Bayu mulai terganggu yang membuatnya sering berhalusinasi dan kehidupannya pun mulai diambang kehancuran. Ketika semuanya telah berjalan terlalu jauh untuk kembali, orang-orang yang ada di sekitar Bayu pun ikut terseret akan apa yang telah Bayu perbuat. Third act yang ditampilkan Mo Brothers bisa jadi merupakan salah satu penutup terbaik yang dimiliki perfilman Indonesia. Susah dibayangkan bagaimana kondisi salah satu karakter setelah semuanya terjadi, dan hal itu pula yang cukup menghantui penonton kala black screen muncul di layar. Mengenai adegan thriller action nya, Mo Brothers juga tidak mengecewakan. Mo Brothers kembali membuktikan bila adegan mencekam dan mampu menggedor jantung penonton tidak perlu skala yang besar dan melibatkan budget tinggi. Terbukti hanya dengan memanfaatkan mobil taksi dan gedung tak terpakai ternyata telah lebih dari cukup untuk memperlihatkan sebuah sajian aksi yang berkelas, namun favorit saya adalah adegan on-foot chase scene yang terjadi dalam lorong hotel yang digarap dengan sederhana, namun begitu keren dan tentu nya menggedor jantung. Sangat Brilian. Semuanya semakin lengkap dengan musik hasil garapan Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi yang mampu menaikkan adrenalin dan juga menambah kesan ironi untuk adegan di akhir nya.

Yang cukup mengejutkan adalah bagaimana Mo Brothers masih sempat-sempatnya memasukkan kritik akan fenomena masyarakat yang begitu tak terpisahkannya dengan gadget. Isu yang diangkat ini begitu dekat dengan apa yang terjadi sekarang dimana orang jauh lebih memilih untuk mengabadikan suatu kejadian, ketimbang memanggil pihak berwajib untuk menangani kejadian itu. Hebatnya lagi, adegan yang ditampilkan tidak maksa dan masuk dalam penceritaan.
Killers bukan tanpa kekurangan. Kekurangan terbesar adalah begitu flat nya Kazuki Kitamura ketika harus memerankan akting dalam kadar drama. Percakapannya dengan Rin Takanashi begitu datar sehingga tidak salah bila penonton jauh lebih memilih apabila sub plot untuk karakter Nomura dihilangkan saja. Namun tidak masalah karena Kitamura membayar lunas akan akting datarnya tersebut kala karakter nya masuk ke dalam mode pembunuh psikopat. Sentuhan black comedy yang ada di Killers juga semuanya melibatkan karakter Nomura. Selain adegan menit terakhir, adegan saat Nomura diinterogasi oleh polisi setempat pun mampu memunculkan kelucuan tersendiri.

Mengenai akting, Oka Antara tentu saja yang terbaik. Boleh saja Reza Rahardian atau Abimana Setya saat ini dianggap sebagai aktor kelas atas saat ini, namun bila berbicara akting, Oka mungkin tidak kalah bila dibandingkan dengan mereka berdua. Sebagus-bagusnya Reza Rahardian, dia belum terlalu menonjol kala harus bermain dalam film bernuansa thriller. Oka Antara telah menerjuni dunia akting film berbagai genre. Percintaan? Ada Hari untuk Amanda dimana ia berakting sangat baik disitu (ada Reza Rahardian juga). Thriller? Oka menunjukkan totalitasnya. Ketika adegan aksi dia perankan dengan brilian, pun juga dengan adegan drama nya dimana Bayu yang mulai terganggu keadaan psikisnya mampu dipresentasikan oleh Oka Antara dengan sangat bagus. Momen terbaik nya tentu saja ketika semua karakter utama dipertemukan dalam gedung tak terpakai itu. Marah, kesedihan, penyesalan, serta ketakutan semua terangkum dalam ekspresi Oka, menunjukkan bahwa akting nya patut diperhitungkan.

Tidak banyak film Indonesia yang mampu membuat saya terdiam, merenung, sembari membatin “bagaimana nasib si A ya?” setelah menonton. Mungkin baru Laskar Pelangi yang mampu membuat saya merasakan sensasi itu, dan list pun bertambah dengan judul film Killers yang dengan briliannya mampu membuat saya terikat akan cerita serta karakternya yang menyebabkan saya tidak mampu menahan diri untuk memberikan rating tinggi dibawah ini.

8,5/10



Wednesday, 7 December 2016




"Impossible, we do. Miracle, we try- Bossman"

Plot


Suatu hari, Diana (Bunga Citra Lestari) mendapatkan panggilan kerja dari suatu perusahaan yang dipimpin oleh orang Indonesia, sama sepertinya. Kesempatan untuk bekerja ini sangat dinantikan oleh Diana yang mengaku bahwa dirinya sangat tidak menikmati hidup yang hanya berdiam di rumah saja dan hanya mengandalkan pendapatan suaminya, Dika (Alex Abbad) yang merupakan seorang konsultan minyak. Harapan diterima membumbung tinggi karena Diana berpendapat karena mereka sama-sama orang Indonesia yang tinggal di negeri tetangga yaitu Malaysia maka dirinya pasti akan diperlakukan sedikit spesial oleh sang boss.  Namun harapan tinggal harapan ketika dirinya pertama kali bertemu dengan sang boss atau lebih senang dipanggil Bossman (Reza Rahadian), di saat itu pula keputusan nya untuk bekerja dengan Bossman akan menjadi mimpi buruk.
 



Review


 “My Stupid Boss” merupakan salah satu film Indonesia yang paling saya nantikan pemutarannya. Penantian itu hadir kala saya melihat trailer nya pertama kali di bioskop. Siapa yang tidak tergiur ketika melihat sosok Reza Rahadian disulap menjadi seorang pria tambun, berkepala botak di bagian atas kepala, kumis yang memang menyerupai ikan lele, ditambah dengan perilaku nya yang menyebalkan namun lucu itu? Sontak trailer tersebut menjadi sajian highlight sendiri dan mendapatkan tawa serta ada penonton di depan saya kala itu bilang ke pasangan di sebelahnya, “Yang, kita harus nonton film ini nanti ya”. Sebuah kalimat yang saya tanamkan juga di dalam hati kala itu.
“My Stupid Boss” adalah film adaptasi dari buku laris berjudul sama karya dari Chaos@work yang memang merupakan sebuah cerita kesialan demi kesialan sang penulis kala bekerja dengan bos nya. Di komandani oleh Upi yang telah dikenal dengan karya-karya “nyeleneh” sebelumnya seperti Radit dan Jani serta my favorite Indonesia Movies of all time, Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll yang memperkenalkan saya dengan Vino G. Bastian, “My Stupid Boss” menjadi sajian komedi akan dunia kerja yang mampu mewakilkan keluh kesah para karyawan di luar sana yang mungkin pernah juga mengalami apa yang dirasakan oleh Diana.
Setelah karakter Bossman diperkenalkan, plot cerita memang berjalan cenderung ringan (ya namanya juga sajian komedi). Adegan demi adegan selanjutnya tidak lain tidak bukan hanyalah memperlihatkan betapa “ajaibnya” bossman kita yang satu ini yang berdampak akan kesialan demi kesialan yang dialami oleh Diana. Walau terkesan repetitif serta sedikit tidak masuk akal, tetapi siapa yang menolak akan sajian yang sangat menghibur tersebut? Sebagai sajian komedi, “My Stupid Boss” sangat sukses dalam hal mengocok perut ketika melihat raut muka kekesalan Diana serta keluh kesah yang dialami oleh karyawan-karyawan lainnya. Saking terhiburnya, saya tidak ingin ada cerita yang memperlihatkan Diana yang melancarkan serangan balasan ada di dalam cerita. Biarkan saja sketsa-sketsa sang bossman yang menyiksa karyawan-karyawannya terus menerus hadir hingga menuju akhir cerita.
Hal tersebut saya rasakan tidak lain tidak bukan karena performa yang sangat gemilang dari Reza Rahadian. Karakter yang ia perankan sangat berpotensi menjadi karakter yang menyebalkan sehingga memaksa para penonton akan melepas sepatu dan melemparnya ke layar bioskop, tetapi apa yang ditampilkan Reza berbeda. Aktingnya begitu natural tanpa ada terkesan untuk melucu, bahasa-bahasa “alien” yang dilontarkannya saja mampu menggelitik urat saraf geli kalian sehingga karakter ini walau diperlihatkan menyebalkan namun bagi penonton sendiri Bossman adalah protagonis sejati di film ini. Bunga Citra Lestari sebagai Diana juga sukses dalam mengimbangi akting kelas wahid dari Reza. Respon-respon yang ia perlihatkan tatkala menjadi korban akan ‘ajaibnya’ sang bossman mampu membuat kita menertawakan kesialannya. Pemeran-pemeran pendukung lainnya Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Barot Palara), Mr. Kho (Chew Kinwah), Azhari (Iskandar Zulkarnain) serta Bu Boss (Melissa Karin) memiliki momen-momen tersendiri yang tidak membuat karakter mereka terlupakan, terutama (bagi saya) karakter Sikin yang diperankan oleh Atikah Suhaime begitu manis dengan balutan kerudung panjang nya serta suara lembut nya yang begitu enak didengar. Dalam hal visual, “My Stupid Boss” juga unggul. Kombinasi-kombinasi warna cerah yang menghiasi kantor bossman, terutama rumah Diana dan Dika begitu memanjakan penonton yang membuktikan bahwa Upi merupakan sutradara yang memperhatikan ranah sinematografi. 
Nilai yang saya kasih untuk “My Stupid Boss” akan tinggi bila saja ending yang ditampilkan tidak memaksakan seperti itu. Tidak salah untuk menyuntikkan “hati” terhadap karakter bossman, terlebih memang hal itu cukup diperlukan supaya penonton tidak melihat karakter bossman ini hanyalah seorang pimpinan yang aneh, eksentrik dan “ajaib”, tetapi akan jauh lebih mengesankan apabila yang diperlihatkan kepada penonton untuk endingnya adalah proses sang bossman bisa sampai hingga ke titik kesuksesan. Bila itu yang ditampilkan Upi, mungkin saja “My Stupid Boss” mampu membuat para penonton semakin mencintai karakter bossman.
“My Stupid Boss” merupakan bukti bahwa film komedi bila digarap dengan serius, mengeluarkan amunisi-amunisi komedinya dengan timing yang tepat, akan berakhir dengan hasil yang maksimal. Dengan performa luar biasa dari Reza Rahadian, “My Stupid Boss” adalah sajian komedi yang memuaskan pada tahun ini. Tidak heran bila Reza Rahadian kembali mencicipi piala FFI pada tahun ini berkat perannya sebagai Bossman.

7,75/10
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!