Showing posts with label Asia. Show all posts
Showing posts with label Asia. Show all posts

Saturday, 23 November 2019

"When you have a secret, you're careful with the secrets of others"- Mitsuko

Plot

Izumi (Megumi Kagurazaka) merupakan istri dari penulis terkenal, Yukio Kikuchi (Kanji Tsuda). Mungkin publik menganggap kehidupan Izumi sangat bahagia karena memiliki suami sukses seperti Yukio, namun faktanya, Izumi harus menjalani kehidupan monoton sebagai istri dari Yukio. Kehidupannya senantiasa sama, dari menyuguhkan teh hingga merapikan sendal saat Yukio pergi maupun pulang. Semuanya selalu berjalan sama, hingga Izumi hapal betul aktivitas yang dilakukan Yukio. Sampai suatu hari, Izumi mendapatkan tawaran untuk menjadi model majalah dewasa. Disisi lain, detektif Kazuko (Miki Mizuno) tengah menangani kasus pembunuhan mutilasi yang terjadi di distrik Maruyama-cho, pusatnya hotel cinta di wilayah Shibuya, Tokyo.



Review

Guilty of Romance merupakan film ketiga dari trilogi Hate milik Sion Sono, sutradara asal Jepang yang memiliki reputasi dengan film-film nya yang disturbing akibat keberaniannya dalam menyajikan film nya dengan grafis kekerasan serta seksual tingkat tinggi, dipadu pula dengan tema film nya yang kelam.  Sono pun dengan santai juga menambahkan elemen-elemen tabu dalam menuturkan kisahnya. Dengan reputasi seperti ini, tidak heran jika Sion Sono memiliki pengikut setia  tersendiri yang selalu menantikan film-film karya dari nya. Bagi saya sendiri, walau telah sering mendengar citra sutradara satu ini, baru sekarang saya tergerak untuk mencoba karya filmnya. Dan Guilty of Romance merupakan film dari Sono yang pertama kali saya cicipi.

Dari menit awal film ini berjalan, atmosfir tidak nyaman sudah menghampiri, bahkan sebelum detektif Kazuko menginjakkan kaki nya di ranah tkp pembunuhan.  Di lokasi tkp nya sendiri, kita sudah disuguhkan sajian gambar demi gambar yang membuat bulu kuduk saya berdiri, terutama gambar dimana sosok manekin di atas. Tersibak pula fakta jika pembunuhan ini bukanlah kasus yang biasa. Terdapat bagian-bagian tubuh terpisah korban yang disambung dengan boneka. Iya, hanya dengan beberapa menit saja, saya bisa mengerti mengapa Sion Sono sering disebut sebagai sutradara yang gila. 

Setelah disajikan penampakan yang mencekam ini, Guilty of Romance mulai berjalan secara non linear. Sono membagi kisahnya dalam 5 chapter, dan pada chapter pertama adalah kita berkenalan dengan Izumi dan menyaksikan kisah hidupnya dalam menjalani peran nya sebagai istri. Pada chapter ini, Sono sengaja menjalankan narasinya dengan repetitif supaya penonton mampu merasakan betapa monotonnya keseharian dari Izumi. Bayangkan saja, Izumi harus melakukan kegiatan yang sama berulang kali di setiap hari, hingga hal terkecil seperti merapikan sendal supaya bisa langsung dipakai ketika sang suami pulang ke rumah. Entah berapa kali Sono memfokuskan gambar pada sendal tersebut, dan juga beberapa pembagian gambar pun disengaja dengan mengambil angle yang sama pula. Cara ini terbukti efektif supaya penonton ikut merasakan kebosanan yang sama seperti Izumi rasakan.

Ada hasrat dan keinginan yang besar dalam diri Izumi, yang ia curahkan dalam jurnal nya, namun harus terpenjara sebab perannya sebagai istri. Memang, sebagai istri, sudah menjadi kewajiban Izumi untuk melayani sang suami, namun disini kita bisa merasakan jika Izumi malah sama sekali tidak diperlakukan sebagai istri, yang ada malah jatuhnya Izumi bagaikan pembantu untuk suaminya. Dalam jurnal yang ia tulis, terungkap jika Izumi ingin sekali melakukan banyak hal, namun sekali lagi, harus terpendam sehingga ia harus menjalani hidup yang membosankan. 

Keinginan Izumi untuk melakukan sesuatu yang baru seolah mendapatkan angin segar kala tiba-tiba ia mendapatkan tawaran untuk menjadi model di majalah dewasa. Walau sempat enggan pada awalnya, namun Izumi pun akhirnya tertarik untuk mengambil tawaran tersebut. Lambat laun, pekerjaan baru nya ini menjadi lembar baru untuk Izumi. Kehidupan sehari-hari nya secara otomatis membuat Izumi menjadi kaku atau lebih tepatnya kurang ekspresif, namun dengan pekerjaan baru nya, lambat laut Izumi berhasil tampil lepas bagai burung lepas dari sangkarnya. Ia memiliki keberanian untuk melakukan apa yang ia inginkan.

Secara perlahan, Sono membangun kedekatan antara Izumi dengan penonton. Mudah untuk memahami motif dari Izumi setelah kita turut menyaksikan dari berbagai kilasan aktivitas sehari-hari nya. Ada rasa kasihan dan muak saat Izumi yang telah menjadi istri yang setia dan begitu penurut, malah eksistensi nya seolah dianggap tidak ada. Namun, saat Izumi mulai semakin menikmati kehidupan nya yang baru, ada pula rasa cemas apa yang akan terjadi pada Izumi nanti nya. Meski Izumi terlihat begitu menikmati, namun sebagai penonton, saya mengetahui kebahagiaan Izumi tidak akan bertahan lama. Tanpa sadar, rasa simpati saya telah tercipta untuk karakter ini.

Berawal dari suatu kejadian, Izumi pun akhirnya berjumpa dengan Mitsuko (Makoto Togashi) dan dari sini lah Izumi mulai merasakan gelapnya dunia yang tengah ia jalani. Cerita pun mulai mengalami transisi, dari kental nya aroma drama hingga perlahan atmosfir horror mulai mengambil alih. Dari sini, Guilty of Romance tidak mudah dinikmati berkat misteriusnya karakter Mitsuko. Meski tampak dari permukaan, Mitsuko tidak jauh berbeda seperti Izumi, namun Mitsuko terlihat manipulatif, lengkap dengan tingkah laku nya yang tidak bisa ditebak. Terlihat kabur apakah intensi nya ingin membantu Izumi atau malah sebaliknya.

Tampak jelas Sono ingin memperlihatkan jika setiap orang pasti memiliki sisi gelap nya masing-masing, namun sisi tersebut harus terpendam akibat benturan moral atau pun konsekuensi yang harus dihadapi. Contohnya saja disini kita diperlihatkan seorang istri yang normal-normal saja, namun dalam dirinya memiliki hasrat seks yang kuat juga liar. Seks menjadi pintu keluar dari rutinitas monoton yang ia jalani. Sono juga tanpa malu-malu menghadirkan adegan-adegan seks nya, sehingga bukan lah pilihan yang bijak jika Anda ingin menyaksikan film ini dengan keluarga Anda. Eksplorasi mengenai dunia PSK ikut pula menjadi sasaran Sono, dimana disini muncul "opini" menarik dari nya yang tersampaikan lewat barisan dialog dari Izumi ataupun Mitsuko.

Mendekati akhir, instensitas semakin meninggi, hingga nanti kita pun mendapati fakta yang miris dan menyakitkan, setidaknya untuk saya. Tidak sadar, rasa marah saya rasakan ketika mengetahui twist sehingga mendistraksi saya sepenuhnya jika twist ini sedikit terasa dipaksakan. Rasanya terlalu kebetulan jika adegan tersebut semuanya telah direncanakan. Guilty of Romance sebenarnya bisa menutup konklusi nya dengan powerful, meninggalkan kesan yang dalam karena cerita nya telah solid, namun Sono lebih memilih untuk sedikit pelit ketimbang menceritakan kejadian yang sesungguhnya.

SPOILER

Pada pertengahan cerita, telah terungkap jika mayat yang ditemukan oleh detektif Kazuko adalah Mitsuko. Dan Sono pun mengindikasikan bila Izumi adalah pelaku dari pembunuhan tersebut. Setelah mengetahui fakta bila suaminya, Yukio Kikuchi ternyata tidak lain hanyalah seorang pria brengsek yang sering "jajan" di luar dan wanita panggilan yang kerap menemani Yukio adalah tidak lain tidak bukan adalah Mitsuko, rasanya mudah dimengerti jika Izumi ingin sekali membunuh Mitsuko. Turtu dibantu juga oleh ibu Mitsuko, Shizu Ozawa (Hisako Okata) akibat dorongan rasa benci atas kelakuan putri semata wayangnya. Yang mengganggu adalah siapa yang melakukan mutilasi? Kenapa harus repot-repot melibatkan manekin untuk menyembunyikan tubuh Mitsuko? Tersibak fakta juga jika Mitsuko jatuh cinta pada ayahnya sendiri. Motif Mitsuko melakukan aktivitas menjual dirinya saja bagai sebuah pelarian dari rasa kesedihan atas kematian sang ayah.

Spoiler End

Sebagai Izumi, Megumi Kagurazaka bermain total dimana ia harus dituntut untuk melakukan adegan seks frontal serta sering beradegan telanjang. Ia beperan cukup baik dalam memerankan seorang istri yang setia, polos dan suci. Penonton mudah menyukai karakter nya karena pesona likeable nya. Momen terbaik nya kala ia berbicara sendiri di depan kaca (dengan total nudity), bertransformasi dari wanita yang kaku bagaikan robot hingga dirinya menjadi wanita yang lebih ekspresif. Makoto Togashi juga bermain cemerlang dalam memerankan Mitsuko yang bermuka dua serta manipulatif. Namun the show stealer jatuh pada aktris senior, Hisako Okata. Dengan screentime yang singkat, ia berhasil memberikan kesan mendalam akibat atmosfir horror yang ia pancarkan. Adegan perbincangan di meja makan menjadi momen terbaik dalam film ini sebagian besar berkat kuatnya akting nyonya Okata.

Guilty of Romance ditutup dengan cukup dragging, karena untuk saya, tidak perlu Sono menyajikan sebuah aftermath untuk satu karakter setelah momen menegangkan yang telah terjadi sebelumnya. Andai film ini ditutup tidak lama dari momen tersebut, rasanya Guilty of Romance jauh lebih baik. Secara keseluruhan, Guilty of Romance memang tidak terlalu spesial, namun berkat dasar cerita nya yang berani serta penyutradaraan Sono yang unik, tentu saja saya tertarik untuk mencoba film Sono lainnya.

7,75/10

Friday, 2 March 2018


Plot

Selain belajar di sekolah, rupanya Bayu (Bayu Skak) juga membantu usaha ibunya (Tri Yudiman) berdagang pecel dengan menjual dagangan sang ibu di sekolahan, sehingga Bayu mendapatkan julukan "Pecel Boy". Walau Bayu bukanlah seorang siswa yang memiliki popularitas karena minus dukungan fisik maupun prestasi, namun hal itu bukan halangan bagi Bayu untuk tetap berusaha mencari tambatan hati. Setelah dirinya dipermalukan setelah puisi nya yang ia kirim untuk salah satu taksirannya dibaca di depan teman-teman kelasnya, Bayu pun memindahkan targetnya ke salah satu perempuan paling populer di sekolahnya, Susan (Cut Meyriska). Segala usaha di lakukan Bayu, termasuk menggunakan uang tabungannya demi hanya untuk bertemu Susan. Hasilnya, Bayu kembali dipermalukan. Merasa cukup dan letih dengan segala penghinaan terhadap dirinya, Bayu ingin membuktikan diri bila ia bukanlah siswa biasa. Dengan teman terdekatnya, Doni (Joshua Suherman), Bayu memiliki ide untuk membentuk sebuah band. Mereka pun mengadakan audisi pencarian anggota band, yang pada akhirnya mempertemukan Bayu dan Doni kepada Yayan (Tutus Thomson) dan Nando (Brandon Salim) yang segera saja menjadi anggota serta teman baru untuk Bayu dan Dono. Dimulailah kisah band yang memiliki nama Yowis Ben ini (yang mereka dapatkan secara ketidaksengajaan) dalam usaha untuk pembuktian kepada teman-teman sekolah, dengan mengusung ambisi pribadi tiap anggota band ini.





Review

Tidak usah menunggu terlalu lama karena Yowis Ben telah tancap gas dengan humor yang mampu menggelakkan tawa penonton semenjak menit-menit pertama film berjalan. Lengkap pula dengan bahasa Jawa yang dilontarkan para karakternya, lelucon demi lelucon yang hadir di sepanjang durasi film debut Bayu Skak sebagai sutradara serta penulis naskah ini hampir tidak pernah untuk tidak berhasil dalam mengundang tawa dari penonton. Dua unsur inilah yang rasanya menjadi magnet terkuat dalam film Yowis Ben dalam usahanya untuk penonton tetap setia memantau Yowis Ben hingga akhir. Bila dua aspek ini dilucuti dalam film Yowis Ben, terutama dialek-dialek bahasa Jawanya, mungkin Yowis Ben jatuhnya menjadi film komedi remaja biasa yang tidak akan terlalu lekat menempel dalam benak penonton.

Hal itu dikarenakan Yowis Ben tidak disokong dengan penceritaan yang kuat serta minusnya akan suatu yang fresh. Coba saya tanya, telah berapa banyak film yang mengangkat penceritaan mengenai siswa yang merasa dirinya terpinggirkan dan berusaha untuk menonjolkan dirinya lewat sesuatu seperti karya? Tentu kita tidak bisa menghitungnya dengan sepuluh jari, bahkan di tambah sepuluh jari kaki. Mungkin karena faktor ini pula yang disadari oleh Bayu Skak yang dalam film ini ia dibantu oleh Fajar Nugros di kursi penyutradaraan dengan mengambil langkah yang cukup berani dengan memenuhi dialog-dialog film dengan bahasa Jawa. Plus memaksimalkan unsur komedi yang ada dalam film.

Usaha tersebut berhasil, dan membuktikan juga bila Bayu Skak memiliki kepekaan dalam berkomedi tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepertinya pengalaman sebagai Youtuber juga yang ikut membantu Bayu Skak begitu luwes dan pintar dalam menampilkan komedinya. Bayu Skak pun harus turut berterima kasih kepada jajaran aktor yang tampil minor dalam Yowis Ben karena mereka telah menunaikan tugas mereka dengan sangat baik. Begitu banyak karakter demi karakter yang tampil tidak lama dalam film ini jatuhnya berkesan untuk penonton, bahkan karakter seperti penjual bakso pun begitu lekat di ingatan akibat timing sempurna dan ketelitian Bayu Skak dalam menampilkan komedinya. Yang paling favorit mungkin adalah tik tok sempurna yang dilakukan oleh duo komedian senior asal Jawa, Cak Kartolo dan Cak Sapari. Tidak ketinggalan pula, beberapa isu hingga film Indonesia paling populer tahun lalu dijadikan Bayu Skak sebagai materi dalam komedinya, meski sayangnya memang isu tersebut bisa dijadikan sebagai kritik sosial, bukan hanya sekedar lelucon belaka.

Chemistry meyakinkan pun berhasil ditampilkan 4 karakter utamanya. Bayu Skak, Joshua, Brandon dan Tutus berhasil membuat penonton perduli akan persahabatan di antara mereka. Meski kala konflik menyeruak dan terjadi pertentangan antar mereka gagal menghadirkan sebuah ironi seperti yang saya rasakan ketika menyaksikan Jomblo-nya Hanung, namun tak ditampik, ketika mereka berada dalam satu screen, mereka tampak benar-benar telah kenal lama satu sama lain. Tidak ada kecanggungan yang tercipta, yang hanya gelontoran balas-balasan dialog yang kembali lagi kerap kali sukses menghadirkan ketawa. Brandon Salim harus diberikan kredit karena dirinya berhasil memberikan penampilan yang paling tidak membuat dirinya tetap terlihat diantara Bayu, Joshua dan Tutus. Namun tetap saja, diantara mereka berempat, favorit semua orang adalah Yayan yang diperankan begitu jenaka oleh Tutus. Saya tidak tahu apakah ini peran pertama bagi Tutus Thomson atau bukan, tetapi bila memang ini adalah debut dari Tutus, maka dirinya sangat berpeluang besar untuk meraih karir sebagai aktor yang sukses. Kehadirannya seolah tidak pernah gagal dalam memancing tawa, dan ketika ada aktor yang berhasil membuat lawakan yang bersinggungan akan agama tanpa harus menyinggung umat yang terkait (Hai, Joshua), berarti aktor tersebut telah melakukan pekerjaan yang sangat brilian. Tentu saja semua itu berkat campur tangan dari Bayu Skak yang juga duduk di penulis naskah. Sayang sekali memang, karakter Yayan hanya dijadikan sebagai mesin peledak tawa akibat karakterisasi Yayanyang sangat tipis dibandingkan Bayu, Doni dan Nando.. Doni dan Nando memiliki sub plot kecil yang menjadi motivasi masingj-masing untuk berkarya, namun Yayan? Apa yang membuat dirinya tertarik ingin menjadi drummer nya Yowis Ben, selain dirinya sering menggebuk bedug masjid? 

Semua atribut mengenai komedi serta dialek bahasa Jawa nya sangat membantu Yowis Ben untuk menutupi lubang besar nya, yaitu ketika film mulai bergerak dari gelaran penuh komedi ke arah drama yang inginnya sentimentil. Bayu Skak memang piawai dalam menyajikan komedinya, tetapi bila memang Bayu Skak ingin mantap berkarir di dunia perfilman sebagai sutradara maupun penulis naskah, maka sudah wajib hukumnya untuk Bayu segera belajar bagaimana menyajikan sebuah drama yang, paling tidak, membuat penonton perduli dengan hal tersebut. Ada dua inti sajian drama disini, yaitu hubungan antar member Yowis Ben itu sendiri dan kisah asmara Bayu-Susan. 

Yang menjadi masalah tentu adalah kisah asmara Bayu dan Susan. Awalnya ada kesan berbeda yang saya harapkan berkat dari karakterisasi Susan yang tidak terjebak pada formula cewek-paling-cakep-di-sekolahan-tapi-berhati-malaikat. Ketika dirinya terlibat langsung akan momen Bayu kembali dipermalukan, kesan beda tak pelak saya rasakan. Tetapi sayangnya potensi itu tidak dilanjutkan, bahkan pada akhirnya, Susan menjadi faktor utama kelemahan Yowis Ben berkat karakterisasinya yang begitu labil. Apakah memang hal tersebut bersifat intensional? Bisa jadi, mengingat karakter Susan adalah gadis yang masih duduk di bangku SMA, dan kita semua telah mengetahui jika para wanita memasuki momen paling labil sepanjang hidup mereka pada masa-masa ini. Kecanggungan paling menyeruak setiap kali Bayu Skak dan Cut Meyriska harus tampil layaknya pasangan. Teman saya adalah salah satu penggemarnya Bayu Skak dan ia pernah bercerita jika memang di kehidupan nyata, Bayu Skak memiliki kesulitan tersendiri dalam berhubungan dengan perempuan. Mungkin karena ini juga lah permasalahan tersebut ikut terbawa ke dalam film, terlebih Cut Meyriska belum memiliki kapabilitas sebagai aktris yang mampu menjalin chemistry dengan siapapun, seperti Emma Stone misalnya (Jauh banget yak perbandingannya, tapi sekedar contoh saja). Ditambah dengan minusnya fondasi yang kuat mendasari hubungan asmara mereka, sulit rasanya untuk penonton menginvestasikan rasa perduli akan pasangan ini. Bahkan, kata cringeworthy layak disematkan pada pasangan ini. Mungkin akan jauh lebih baik jika karakter Susan hanya dijadikan sebagai pemicu untuk Bayu dalam rangka pembuktiannya, serta menit-menit dalam film yang menampilkan kisah Bayu-Susan diganti dengan kisah sub plot milik Doni yang harus saya akui jauh lebih menarik.

Namun, karena ini adalah langkah debutnya sebagai sutradara, pemain utama, hingga penulis naskah, tentu saja Yowis Ben ini lebih dari cukup untuk seorang Bayu Skak menampilkan kreasi serta visinya sebagai kreator. Berkat komedi serta karakter-karakter pendukung yang luar biasa menghibur dan berhasil menjadi scene stealer di setiap kemunculan mereka, dan keberanian Bayu Skak yang menggunakan bahasa Jawa hampir 100% dalam tiap menit film berjalan. cukup berhasil untuk menutupi kekurangan terbesar film ini. Ditambah lagi akan lagu-lagu di film ini yang disajikan begitu berenergi, terutama lagu Gak Iso Turu yang berhasil mengejutkan saya akibat sebuah pengadeganan yang walau terbilang klise, namun tak ditampik, sangat enjoyable disaksikan. 



7,5/10

Monday, 30 November 2015


“My dear, the Law doesn’t understand such things, it says either you knew or you didn’t.”- Nader

Plot

Menceritakan suatu pasangan yaitu Nader (Peyman Moaadi) dan Simin (Leila Hatami) yang memutuskan untuk bercerai setelah 14 tahun menikah. Alasan perceraian mereka adalah karena Nader menolak ajakan Simin untuk meninggalkan negara Iran dan hidup di luar negeri. Simin menilai negara Iran tidak baik dan sudah tidak kondusif untuk perkembangan anak mereka yaitu Termeh (Sarina Farhadi) yang berumur 11 tahun. Di sisi lain, penolakan Nader berlandaskan pada kondisi Ayahnya yang menderita penyakit Alzheimer. Sebagai anak yang taat kepada orang tua, Nader tidak bisa meninggalkan ayahnya seorang diri. Dan siapa yang menyangka bahwa konflik di antara mereka ini bisa memunculkan suatu konflik yang begitu sulit untuk diselesaikan di kemudian hari.



Review

Fyi, A Separation adalah penerima piala Oscar untuk kategori Film Asing Terbaik. A Separation juga mendapatkan berbagai macam pujian dari para kritikus, bahkan di situs Rotten Tomatoes dan Metascore, yang terkenal akan kritisnya para kritikus dan pelit memberikan penilaian (terutama Metascore), A Separation mendapatkan penilaian yang hampir sempurna (99% di Rotten Tomatoes dan 95 di Metascore). Bukti untuk menganggap A Separation adalah salah satu film terbaik yang pernah di buat telah lebih dari cukup, lalu apa yang menahan gw untuk tidak menonton film ini hingga tahun 2014? Sederhana, faktor bahasa. Jujur, ini adalah film Iran yang pertama kali gw tonton. Dan cukup sulit untuk membangun mood menonton untuk film asing selain film berbahasa Inggris dan Jepang, namun berkat dorongan teman gw untuk segera menonton film ini supaya gw gak nyesel (cukup aneh karena temen gw dapat film ini dari gw), akhirnya pun film ini pun gw jamah di Harddisc gw. Hasilnya? LUAR BIASA, LUAR BIASA, LUAR BIASA.
Gw gak menyangka apabila film yang berjudul asli Jodaeiye Nader az Simin ini bisa begitu powerfull serta sebagus ini, bahkan bagi gw nilai yang diberi Metascore (yang notabenenya udah hampir sempurna) masih kurang. Film ini layak untuk mendapatkan nilai lebih dari 95. A Separation adalah salah satu bukti bahwa untuk membuat film yang luar biasa gak perlu grafis visual tingkat tinggi, pemandangan indah, special effect, atau berbagai macam teknis film lainnya. Satu-satunya faktor yang sangat dibutuhkan sebuah film untuk memberikan impact yang gak terlupakan tidak lain adalah cerita. Sang sutradara, Asghar Farhadi, hanya mengandalkan naskah yang kuat serta dibantu oleh dukungan artis-artis nya yang juga bekerja dengan sangat baik sehingga tidak perlu waktu yang lama untuk A Separation mengikat kita semua karena di adegan pembuka saja Asghar Farhadi telah memberikan kita sebuah santapan perdebatan yang begitu intens di dalam ruang pengadilan (salah satu adegan favorit gw). Perhatikan juga berbagai pertukaran dialog antar karakter yang begitu cerdasnya sehingga menciptakan pertentangan antar karakter sangat hidup dan sangat menarik pula untuk diikuti.Konflik yang diangkat oleh Asghar Farhadi sendiri memang begitu dekat dan nyata untuk masyarakat. Bagaimana dari sebuah konflik perceraian bisa berimbas luas ke berbagai pihak. Tidak hanya merusak kehidupan Nader dan Simin, tetapi juga kehidupan Razier (Sareh Bayat) dan Hojjat (Shahab Hosseini). Oh, jangan lupakan juga bahwa konflik ini mengganggu keadaan psikis anak mereka masing-masing. See, sangat dekat sekali bukan dengan masyarakat pada umumnya? Dan hebatnya Asghar Farhadi berhasil membingkai jalinan cerita yang pada dasarnya sederhana menjadi sangat complicated dan begitu nikmatnya untuk dinikmati bagi penonton (Baiklah, maafkan kami yang menikmati konflik suatu perceraian). Banyak sekali hal yang disinggung oleh sang sutradara yang kabarnya pernah dicekal oleh Iran ini dalam film yang berdusari 2 jam ini. Seperti agama, keberadaan hukum, kebaktian sang anak kepada sang orang tua, kebohongan demi kepentingan pihak pribadi, dan masih banyak lagi, (bahkan menurut gw, sang sutradara juga menyinggung mengenai kondisi Iran kala itu) semua terangkum dengan tensi yang terjaga stabil hingga akhir film. Asghar Farhadi menyajikan semua konflik yang ada dengan jujur tanpa adanya kesan dipaksakan. Lihatlah keributan yang terjadi di dalamnya, lihat juga begitu taatnya Razier terhadap agamanya, semuanya di tampilkan sangat jujur seolah-olah sang penulis naskah sedang menceritakan pengalamannya.
Lalu bagaimana dengan karakter-karakter nya? Sekali lagi Asghar Farhadi memperlihatkan sebuah karakter yang manusiawi. Ya, tidak ada karakter “Putih” dalam film ini. Semuanya dalam ruang lingkup “Abu-abu”. Mari kita selami satu per satu, Nader adalah pria keras kepala (lihat adegan tanya jawab dengan sang anak dan scene di Pom bensin), ego atau harga diri yang begitu besar, sangat kukuh dengan pendiriannya sehingga jangan heran apabila ada penonton yang gregetan melihat karakter Nader. Sedangkan calon mantan istrinya Simin adalah tipikal wanita modern yang tidak ingin terlalu dikekang oleh nilai agama maupun sang suami (bisa dilihat dari cara berpakaiannya), jadi tidak heran apabila keinginannya untuk pindah dari Iran begitu kuat. Lalu ada Razier yang memiliki ketaatan terhadap agama yang sedang mengalami masalah perekonomian dikarenakan sang suami menganggur sehingga memaksakan dirinya untuk bekerja yang sebenarnya bertentangan dengan keyakinannya. Dengan latar belakang karakter-karakter seperti itu lah yang membuat kita, penonton, kesulitan untuk menyangkal setiap keputusan yang diambil oleh mereka. Bahkan mungkin sebagian besar dari penonton akan mendukung setiap keputusan yang telah diambil, bahkan dalam keputusan untuk berbohong sekalipun. Disinilah kita kembali diajak oleh Asghar Farhadi apa dampak dari sebuah kebohongan. Gw sangat menyukai ketika Asghar Farhadi memperlihatkan kepada kita bahwa satu kebohongan mampu menimbulkan dampak psikologis yang luar biasa bagi yang belum ‘berpengalaman’.

Dengan bermodalkan naskah yang kuat, berbagai karakter yang begitu menarik, serta dukungan para artis yang bermain gemilang, A Separation adalah sebuah drama yang begitu powerfull dan mampu mengajak penontonnya merenung seusai menonton film ini. Tanpa dukungan sinematografi yang “W-O-W”, musik latar di setiap adegannya, A Separation layak disandangi gelar Salah Satu Film Terbaik di tahun 2011, hell, one of the best movie i’ve ever seen.


                                                                   9/10


 


Wednesday, 16 April 2014





Did you see his face?- Park Doo-Man

Plot


Adegan dibuka dimana Detective lokal Park Doo-Man (Song Kang-Ho) melihat mayat perempuan muda. Kejadian tersebut bukanlah untuk yang pertama kali di Gyeonggi Korea Selatan tersebut karena kejadian itu adalah bagian dari pembunuhan serta pemerkosaan berantai. Pada awalnya kasus ini akan diserahkan kepada Park Doo-Man serta asistennya yaitu Detective Cho Yong-koo (Kim Roe-Ha), namun sikap mereka yang brutal serta sering seenaknya membuat kasus berat tersebut malah menemukan jalan buntu. Hal tersebut membuat kepolisian merasa membutuhkan jasa detektif dari kota besar. Dipanggilah Detectif Seo Tae-yoon (Kim Sang-kyung) yang memiliki karakter berbeda dari Doo-Man. Seo Tae-Yoon lebih tenang dan lebih cerdas serta berpengalaman dibanding Doo-Man. Namun jasa Seo Tae-Yoon ternyata tidak membuat kasus rumit ini lebih cerah, malah kasus tersebut bertambah sulit dan menemukan jalan buntu karena sang pelaku pembunuhan berantai sangat lihai melakukan 'pekerjaannya' dan hampir tidak meninggalkan bukti ketika sedang beraksi. Yang dapat dibaca dari kejadian itu hanyalah korban memiliki kebiasaan membunuh ketika hujan, dan korban-korban memakai baju merah. Kehebatan pelaku inilah yang membuat para detektif kita semakin depresi dan cenderung frustasi.





Review


Film bergenre crime misteri merupakan salah satu genre film favorit gw. Ya, semenjak gw menonton The Bone Collector yang dibintangi Denzel Washington dan Angelina Jolie, gw menggilai film-film yang berbau misteri. Sampai saat ini film bergenre misteri yang mengambil pendekatan investigasi favorit gw adalah Se7en. Menurut gw, Se7en karya dari David Fincher merupakan contoh ideal bagaimana film bergenre crime misteri itu dibuat. Se7en menghadirkan cerita yang solid, serta misteri yang akan membuatmu penasaran setengah mati sehingga kalian akan tetap menancapkan pantat kalian untuk menikmati 'hidangan' yang ada sampai selesai.

Gw tertarik dengan Memories of Murder disebabkan banyak pihak yang mengatakan bahwa film ini merupakan film thriller terbaik di negeri ginseng Korea Selatan. Tentunya gw penasaran bagaimana bisa pihak tersebut mengatakan demikian? 

Memories of Murder (yang memiliki judul asli Sarinui Chueok) memiliki alur lambat pada awalnya untuk mengenalkan kita pada karakter-karakter utamanya. Tenang, hal tersebut tidak akan membuatmu bosan karena sang Sutradara Bong Joon-ho mampu membingkai alur lambat tersebut dengan jalinan misteri serta konfli yang benar-benar menarik dan enak diikuti, belum lagi Joon-Ho juga menyisipkan komedi yang banyak dikeluarkan dari karakter Park Doo-Man. Barulah ketika film telah menginjak durasi pertengahan, tensi pun meninggi dan kita pun sebagai penonton akan tambah penasaran dengan misteri yang ada. Oh, dan satu lagi, unsur yang biasa dan harus ada disajikan oleh drama misteri/thriller, yaitu twist berlapis yang akan siap mengejutkanmu.

Dari segi teknis juga Memories of Murder memiliki kualitas yang jempolan, baik dari segi sinematografi, serta kostum-kostumnya yang benar-benar menggambarkan tahun 80'an. Memories of Murder memang sedikit hening dan sunyi akan sound music, tapi hal tersebut akan dihadirkan pada saat yang tepat, seperti ketika ada adegan kejar-kejaran yang intens antara ketiga detektif kita dan tersangka dan jangan lupakan backsound ketika adegan genting di akhir cerita.

Dari departemen akting juga Memories of Murder sangat memuaskan, terutama dari karakter Park Doo-Man yang diperankan sangat cemerlang oleh Song Kang-Ho. Pada awalnya dia hanyalah detektif yang payah serta terkesan tidak mengambil pusing dengan kasus ini. Namun Park Doo-Man menjadi karakter yang serius serta bersungguh-sungguh akan pekerjaannya. Dan transformasi tersebut mampu diaplikasikan dengan cemerlang oleh Kang-Ho. Kang-Ho juga mampu memperlihatkan performa akting yang jempolan ketika dia harus memainkan peran komedi, dan juga peran depresif. Lihatlah ekspresi muka nya ketika dia depresif, jempolan!!

Kim Sang-kyung yang memerankan Seo Tae-yoon juga tidak kalah hebatnya. Awalnya dia adalah polisi yang tenang dan percaya akan prosedur polisi, tapi disebabkan oleh kasus yang semakin sulit karakter Tae-Yoon pun menjadi tidak sabaran dan cenderung frustrasi, perubahan karakter tersebut mampu diperankan dengan cemerlang oleh Sang-Kyung. Adegan akhir di rel kereta api pun menjadi memorable berkat aktingnya.

Pada akhirnya, gw setuju apabila Memories of Murder adalah film drama misteri yang memiliki kualitas yang jempolan dan salah satu yang terbaik di genrenya, namun tetap, bagi gw film Korea Selatan yang terbaik adalah Oldboy..:p

8,2/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!