Showing posts with label Lain-Lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-Lain. Show all posts

Saturday, 28 December 2019


Dua hal yang saya pelajari setelah dua tahun saya posting mengenai 10 lagu favorit dari Radiohead versi saya adalah, pertama, rasanya hampir mustahil untuk membuat daftar lagu favorit dari Radiohead dengan batasan hanya 10 lagu. Maka dari itu, untuk list terbaru ini, saya menambah 10 lagu lagi untuk bisa masuk ke dalam list, dan tetap saja, bukan pekerjaan yang mudah. Kedua, jangan terburu-buru untuk memilih lagu terfavorit, karena salah satu signature dari karya-karya Radiohead adalah it will grows on you. Pertama kali mendengar mungkin tidak terlalu berkesan, namun setelah ketiga, keempat kali Anda mendengar, bisa jadi lagu tersebut akan menjadi lagu favorit Anda dari Radiohead selanjutnya.

Jujur saja, akan banyak perubahan yang terjadi pada list terbaru ini. Banyak lagu yang baru menjadi favorit saya, dan tentu saja akan ada beberapa lagu yang terpaksa harus terlempar dari list favorit saya. Spoiler, lagu-lagu tersebut adalah Airbag, Idioteque, dan No Surprises. Bukan berarti saya tidak lagi mencintai lagu-lagu tersebut, namun jika dibandingkan dengan 20 lagu berikut yang nanti akan Anda ketahui, tiga lagu tersebut tidaklah terlalu sering saya dengar kembali. Dan bukankah lagu favorit merupakan lagu yang sering Anda dengar?

Baiklah, tidak perlu banyak kata lagi, berikut adalah 20 lagu favorit dari Radiohead versi saya.

20. Codex (The King of Limbs)

Man, The King of Limbs is such an underrated album from Radiohead. Entah kenapa cukup banyak yang menganggap album ini merupakan album terburuk dari Radiohead. Ya, lebih buruk dibandingkan Pablo Honey, dan tentu saja saya tidak setuju. Karena bagi saya, track listing dalam album ini cukup solid dan ada beberapa lagu yang boleh Anda coba, seperti Bloom, Separator dan tentu saja, Codex. Mendengar Codex bagaikan pengalaman spiritual sendiri, dengan sentuhan piano dari Thom Yorke, diimbangi dengan lirik puitis nya, memberikan rasa kedamaian sejenak dari segala permasalahan yang terjadi.
Recommended version: The studio version

19. 2 + 2 = 5 (Hail to the Thief)

Bila berbicara lagu pembuka terbaik di semua album Radiohead, saya tidak ragu untuk memilih lagu ini. Slow build up di menit-menit pertama telah memberikan pertanda bila 2+2=5 menyimpan momen ledakan di akhir, dan sesaat setelah teriakan "Because.." dari vokal Thom Yorke, bersiaplah mendengar sebuah "kekacauan" hasil kombinasi hard riff  dari Ed-Jonny serta tarikan suara penuh kemarahan dari Thom Yorke. Eargasm.
Recommended version: Live version from Glastonbury 2003

18. Videotape (In Rainbows)

Baris lirik "This is my way of saying goodbye" menghadirkan interpretasi jika lagu penutup dari In Rainbows ini bagaikan lagu bertemakan suicide atau paling tidak bernada perpisahan. Ditambah juga dengan kentalnya atmosfir kesedihan berkat dentingan piano dari Thom Yorke. Tidak perduli apakah Anda setuju atau tidak, namun tidak akan ada yang memungkiri keindahan yang Radiohead ciptakan melalui lagu ini. Untuk saya pribadi, Videotape adalah teman untuk saya di saat sedang merindukan seseorang.
Recommended version: Live from Basement

17. Present Tense (A Moon Shaped Pool)

Dengan track seperti Glass Eyes, Daydreaming, True Love Waits dan Present Tense, album A Moon Shaped Pool menjadi album tersedih dari Radiohead. Dan bagi saya, kesedihan serta kekecewaan dari Thom Yorke benar-benar tercurah dalam lagu ini. Tidak terlalu berkesan kala mendengar versi studio nya, Present Tense benar-benar merenggut hati saya di versi akustik nya.
Recommended version: of course, THIS version.


16. Where I End and You Begin (Hail to the Thief)

Salah satu alasan mengapa Radiohead begitu dihormati di dunia musik dan memiliki fans yang cukup militan (bahkan menjadi bahan meme di kalangan penggemar Radiohead sendiri) adalah keabstrakan lirik dari Radiohead yang menciptakan berbagai interpretasi. Tidak terkecuali untuk lagu ini, yang bila dilihat secara sederhana menceritakan relationship, dan jika ingin melihat lebih jauh, bisa juga ditangkap bila Radiohead tengah menceritakan point of view Tuhan melihat umat-Nya. Kekuatan dari Where I End and You Begin adalah groove yang dihasilkan sehingga terkesan lagu ini sedikit jazzy, serta irama bass dari Colin benar-benar menonjol di lagu ini. 
Recommended version: Live from Basement

15. Last Flowers (In Rainbows Disc 2)

Suara sendu, melankolis dari Thom Yorke jelas sangat cocok untuk lagu yang beratmosfir kelam nan depressing seperti ini. Last Flowers yang juga merupakan soundtrack dari film psychological thriller dari Jepang, Confession ini sayangnya cukup terlupakan. Padahal Last Flowers begitu sempurna dalam menangkap ketidak berdayaan manusia yang tengah putus asa akan kenyataan. 
Recommended version: Studio version


14. 'Nude' (In Rainbows)

"Don't get any big ideas. They're not gonna happen". Baris lirik pembuka ini begitu ampuh untuk saya supaya senantiasa berpijak di bumi dan tidak terbawa khayalan imaji yang tinggi. Mencoba untuk tetap realistis di dalam hidup serta tidak berlebihan untuk mengharapkan ekspektasi yang nanti kita dapatkan. Mungkin bagi Radiohead, itulah bentuk pendewasaan diri. Cukup pejamkan mata Anda, dan Radiohead akan membawa Anda ke dunia dimensi berbeda melalui lagu ini.
Recommended version: Studio version

13. Motion Picture Soundtrack (Kid A)

Sama seperti 'Nude', MPS menyuarakan bentuk acceptance seorang manusia jika hidup tidaklah seindah yang dilukiskan oleh media ("It's not like a movie, they fed us on little white lies"). Kombinasi organ dan petikan harpa bekerja sama dalam membentuk keindahan dalam lagu ini. Tidak heran jika banyak penggemar Radiohead ingin lagu ini di putar pada saat pemakaman mereka nanti.
Recommended version: Studio version

12. Creep (Pablo Honey)

Yes, I still love this song. Memang jika dibandingkan dengan lagu-lagu Radiohead periode setelah Pablo Honey, Creep terkesan biasa saja. Namun dengan kesederhanaannya lah, Creep mampu merebut hati pendengar kasual dan masih tetap menjadi simbol bagi para social outcast untuk menyuarakan suara hati mereka. Kepopuleran luar biasa dari Creep menimbulkan tekanan yang tak kalah besar bagi para personil Radiohead, terutama Thom Yorke. Dan mungkin berkat ini juga yang melahirkan momen bagi Radiohead untuk menciptakan maha karya Ok Computer. 
Recommended version: Acoustic version

11. I Might be Wrong (Amnesiac)

Saya tidak terlalu menyukai album Amnesiac, namun tak terpungkiri ada beberapa track yang membuat saya terpikat. Dan I Might be Wrong jelas menjadi favorit saya. Dengan riff yang badass sehingga cukup kental dengan aura western nya, berkolaborasi sempurna dengan video klip lagu satu ini dengan atmosfir noir nya. Repetitif iya, tapi dengan riff guitar seperti ini, mendengar hingga beberapa kali tetap tidak akan bosan. Sentuhan berbeda secara tiba-tiba di 1 menit terakhir berhasil menjadi kejutan yang manis.
Recommended version: Studio version


10. Fake Plastic Trees (The Bends)

Kata "Fake" pada judulnya menggambarkan sepenuhnya akan fungsi lagu ini. Entah dalam lingkungan kita, persahabatan, hubungan cinta bahkan diri sendiri, memiliki potensi akan bentuk kepalsuan yang dihadirkan. Lagu ini mengkritisi itu, meluapkan rasa kemarahan lewat vokal Thom Yorke dan distorsi gitar yang "berisik" pada momen lagu mencapai di klimaks pada bagian chorus. Dan di bagian akhir, kental akan bentuk ketidak berdayaan dan mengharapkan keadaan mampu memaklumi. Beautiful song.
Recommended version: Acoustic version

9. Exit Music (For Film) (Ok Computer)

Lagu yang original nya diciptakan sebagai pengisi soundtrack film Romeo + Juliet, namun seiring berjalan waktu, Exit Music mengalami perluasan makna dan sering dijadikan pengiring dalam film meskipun pada adegan tersebut sama sekali bertolak belakang dengan lirik yang ada (Black Mirror contohnya), namun hal ini tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah dari instrumen musik yang tercipta telah sempurna dalam membangun mood untuk menangkap adegan yang biasanya depressing. Bagi saya sendiri, Exit Music adalah lagu yang paling enak dinyanyikan berkat klimaks nya yang sangat sukses untuk meluapkan segala emosi dalam hati. Part dimana Phil mulai memukul tabuhan drum serta fuzzy bass dari Colin tetap akan menjadi salah satu bagian terbaik di lagu Radiohead.
Recommended version: Studio version

8. There There (Hail to the Thief)

Fan favorite dari album Hail to the Thief, dan setelah mendengarnya, Anda pasti bisa mengerti. Masih beraromakan depressing, namun tidak terlalu kelam dengan iringan nada nya yang terasa uplifting dan bertenaga. Ketika setiap instrumen bergabung di menit-menit akhir, sulit rasanya untuk tidak menggoyangkan kepala layaknya Thom Yorke. 
Recommended version: Studio version

7. Paranoid Android (Ok Computer)

Bila ditilik dari musikalitas, tentu saja Paranoid Android adalah pencapaian terbaik dari Radiohead. Lihat saja dari time signature nya yang kerap berubah-ubah, dan tentu bagian terbaik pada interlude nya yang menunjukkan skill bergitar dari Jonny Greenwood. Diawali dengan atmosfir surreal untuk membantu kesan paranoid, dan bagian favorit saya pada "Rain down" yang emosional berkat atmosfir melankolis nya, lalu ditutup dengan "kekacauan" instrumen kembali layaknya di pertengahan lagu. Paranoid Android, sekali lagi, merupakan bukti betapa kayanya musikalitas dari masing-masing anggota Radiohead serta menasbihkan Radiohead sebagai salah satu band terbaik di generasi sekarang.
Recommended version: Studio version

6. Climbing up the Walls (Ok Computer)

Melalui Climbing up the Walls, Radiohead mendeskripsikan mimpi buruk itu sendiri. Thom Yorke sendiri terinspirasi menciptakan lagu ini berdasarkan pengalamannya ketika bekerja di mental hospital. Atmosfir yang ditawarkan begitu berbeda dibandingkan dengan lagu Radiohead yang lain. Creepy, scary, nightmare, atau seperti yang dikatakan Thom Yorke, skull crushing. Lagu yang mengerikan, namun hal ini juga yang membuat Climbing up the Walls sangat spesial. Dilengkapi dengan teriakan Thom Yorke di akhir lagu yang menggambarkan penderitaan dan haus akan kebebasan.
Recommended version: Studio version


5. Weird Fishes/Arpeggi (In Rainbows)

Lagu terfavorit Radiohead versi Reddit user dan jujur saja saya cukup kaget karena bagi saya saat itu, tidak ada yang spesial sama sekali dengan lagu ini. Repetitif, musik yang terdengar senantiasa sama paling tidak dari 3/4 bagiannya. Cukup susah saya untuk memahami mengapa Weird Fishes itu spesial, setidaknya kala saya tidak sengaja kembali mendengar lagu ini di tengah perjalanan pulang dari aktivitas kerja. Salah satu pengalaman yang tak disangka-sangka mampu membantu saya untuk mulai mengapresiasi lagu ini. Mungkin kala itu, Weird Fishes mampu menangkap perasaan jenuh saya akan begitu repetitif nya kehidupan yang tengah saya jalani. Apalagi pada bagian lirik "Everybody leaves, if they get the chance. And this.... is my chance" yang ikut membantu interpretasi saya jika Weird Fishes mewakili seseorang yang mencari kebebasan dan segera mulai mengambil langkah. Lambat laun, lagu ini menjadi spesial untuk saya.
Recommended version: Live in Basement


4. Street Spirit (Fade Out) (The Bends)

Again, a dark song from Radiohead. I mean, really, really dark. Closing track dari The Bends ini sudah menyapa kita dengan petikan gitar akustik yang begitu depresif, dan tentu saja, dibantu dengan sendu nya tarikan vokal Thom Yorke. Lagu ini merupakan bukti bila Radiohead sangat piawai dalam membangun atmosfir untuk sebuah lagu. Terasa spesial karena begitu sempurna untuk kita yang sedang mengalami keterpurukan dan ingin kabur sejenak dari realita supaya tidak mampu merasakan apa-apa, hanya ingin terbang melayang layaknya Thom Yorke di akhir video klip nya.
Recommended version: Studio version



3. How to Disappear Completely (Kid A)

Bersama dengan Street Spirit (Fade Out), bagi saya How to Disappear Completely merupakan anthem untuk mereka yang merasakan depresi dalam hidup. Thom Yorke boleh saja tidak suka dengan anggapan bila lagu-lagu mereka terkesan depressing, namun untuk saya hal ini lah yang menjadikan satu dari banyak alasan mengapa kebanyakan lagu-lagu Radiohead terasa spesial. Contohnya lagu ini, yang begitu sempurna menangkap perasaan diskoneksi seseorang terhadap kehidupan sosial dan berharap menghilang serta sejenak ingin sendiri, lari dari keramaian. Konon, HtDC adalah ungkapan stress dari Thom Yorke setelah menjalani tur tanpa henti setelah sukses luar biasa akan album Ok Computer. Bagian lirik "I'm not here, this isn't happening" pun terinspirasi dari perbincangan Thom Yorke dengan lead vocal R.E.M, Michael Stipe. Dan bagian akhir nya kala Thom menghadirkan suara falsetto terbaik dari nya sungguh mampu membawa Anda ke dimensi lain dan mengajak Anda untuk "menikmati" sejenak perasaan negatif di dalam diri Anda.
Recommended version: Studio version


2. Reckoner (In Rainbows)

Berdasarkan kilas balik 2019 di Spotify, saya menghabiskan 28 jam untuk mendengarkan lagu ini sepanjang tahun 2019, menempatkan Reckoner adalah lagu yang paling saya dengar di aplikasi Spotify. Tentunya hal ini sudah cukup menggambarkan betapa saya sedang mencintai lagu ini. Tiada hari yang terlewati tanpa mendengar Reckoner. Baik kala bekerja, senggang atau bahkan sebelum tidur. Saya tentu tidak terlalu memahami makna apa yang ingin disampaikan Radiohead melalui lagu ini, namun kesan uplifting begitu kental lewat alunan instrumennya. Dan lewat Reckoner juga, kita bisa mempelajari jika tiap anggota Radiohead, terutama Ed, benar-benar menyampingkan ego mereka demi menciptakan musikalitas seperti ini. Reckoner bila ditilik dari teknik musik, cukup terlihat sederhana dan tidak ada yang benar-benar "wow", tetapi dengan kesederhanaan ini saja, Radiohead mampu menciptakan sebuah karya yang sangat indah, adiktif serta memberikan pengalaman spiritual. Pada bagian bridge nya benar-benar sukses membuat pendengar melayang di angkasa.
Recommended version: Studio version



1. Let Down (Ok Computer)

Sekedar saran, pasang headphone terbaik Anda dan nikmati lagu ini sembari melakukan perjalanan, terutama dengan jalan kaki. Percayalah, lagu ini tercipta untuk situasi tersebut. Menggambarkan jalannya kehidupan sehari-hari dan kita berada di tengah keramaian dengan perasaan ada yang terasa hilang di dalam diri. Rasa kekecewaan yang tak bisa terungkap, hanya mampu tersimpan dalam batin. "Tidak mengapa, nikmati rasa kecewa mu untuk sementara, karena akan ada suatu saat, kamu mampu bangkit dan terbang meninggalkan semua rasa kecewa dan kesedihan mu." Lagu ini seolah berkata begitu kepada saya, dan ya ampun, saya meneteskan air mata hanya mengetik seperti itu. Bagian mendekati ending tentu saja merupakan bagian terbaik nan emosional dalam lagu ini, atau bisa jadi salah satu yang terbaik dari semua lagu Radiohead. Menghadirkan sebuah harmonisasi yang luar biasa indah serta dual vocal dari Thom Yorke semakin menyempurnakan keindahan yang ada. Lagu ini selamanya akan spesial, menjadi bagian hidup, sembari menantikan momen ketika saya menumbuhkan sayap dan terbebas dari semua perasaan negatif selama ini.
Recommended version: Studio version


"ONE DAY, I AM GONNA GROW WINGS"



Tuesday, 29 October 2019

The Dark Knight will always remain my favorite movie of all time. Jika Anda ingin mengkritik film ini di depan saya, maka mohon pikir ulang jika Anda tidak ingin berdebat panjang dengan saya, because I love this movie 'till I die. Berkat The Dark Knight, tumbuh rasa cinta terhadap dunia film. Muncul keinginan untuk mempelajari lebih dalam mengenai dunia perfilman, dan meskipun saya gak punya keberanian untuk self proclaimed jika saya telah pintar menilai suatu film, namun setidaknya saya mampu untuk mengapresiasi lebih sebuah film sehingga bisa menangkap lebih teliti kala menonton nya. Karena itu lah, 6 tahun lalu, di bulan yang sama, saya tergerak untuk membuat blog pribadi sebagai wadah untuk sharing mengenai penilaian saya mengenai suatu film. Ya, awalnya sih dalam blog ini, saya hanya ingin mengulas ulang film saja, namun berpikir kembali jika saya punya ketertarikan lebih pada media hiburan lainnya, seperti musik juga anime atau manga. Dunia wrestling pun juga sebenarnya ingin saya ulas disini, tetapi karena tidak terlalu mengikuti secara rutin, saya pun mengurungkan niat ini, walaupun mungkin saja kedepannya, saya tergerak untuk membahas nya disini. Dan ditambah pula kalimat per kalimat dalam blog ini adalah pendapat subjektif saya, maka akhirnya saya menamakan blog ini My Style, My Words. Dengan tulisan pertama saya adalah The Dark Knight, dimulailah perjalanan saya untuk ngeblog di internet.


Jujur saja, menumpahkan semua pikiran dan pendapat ke dalam bentuk tulisan jelas bukanlah pekerjaan yang gampang. Terbukti, di awal-awal tulisan saya di blog ini, bisa Anda temukan betapa medioker nya saya dalam menyusun kalimat. Walau hingga saat ini saya masih merasa banyak kekurangan, namun saya cukup pede sih jika saya telah mengalami peningkatan dibanding di masa awal. Berikut salah satu kalimat yang saya susun dimana jika saya baca sekarang membuat saya malu setengah mati,

Film dibuka dengan sekelompok perampok yang akan merampok bank (ya iyalah,namanya jg perampok :D)
........
#cringeworthymoment

Yahhh, harap dimaklumin ya, namanya juga awal mula. Toh, untuk memulai sesuatu kita harus berani jelek terlebih dulu. Radiohead pun sebelum menghasilkan musikal jenius pada album Ok Computer atau Kid A juga harus mengawali debut mereka dengan album Pablo Honey, yang sering dianggap sebagai album terburuk dalam perjalanan karir musik Radiohead. 

Selama ngeblog, banyak yang saya pelajari. Selain kematangan dalam menulis, satu dari sekian banyak hal yang saya pelajari adalah pentingnya konsistensi, dan ini saya merasa masih kurang banget. Konsistensi bagi saya berkaitan erat dengan kerajinan, ketekunan dan tekad yang kuat untuk memulai. Penyakit saya adalah poin ketiga. Sering sekali saya setelah menonton film, ada keinginan untuk sharing di blog, tapi ketika sudah depan laptop, rasa malas muncul dan keinginan tinggal lah keinginan. Periode terparah saya ketika rasa malas benar-benar menguasai adalah tahun 2015. Terbukti dari sedikitnya postingan yang saya hasilkan pada tahun itu. Bahkan rasanya mungkin saya udah lupa tuh kalo saya punya blog pada tahun itu. Pertengahan 2016 pun juga saya sempat absen 4 bulan untuk kembali nulis disini, disebabkan rasa malas, juga mengenai perihal masalah dalam kehidupan pribadi yang benar-benar menguras tenaga serta emosi. Ah, tahun 2016. One of the worst year I ever had.

Tahun 2017 hingga tahun ini saya mencoba untuk kembali konsisten. Terutama tahun 2017, dimana menjadi tahun yang paling aktif saya ngeposting. Gak nyangka juga sih sampe bisa ngeposting lebih dari 70 tulisan. Relatif sih, tapi bagi saya pribadi, angka itu udah luar biasa. Memang di tahun 2018 dan tahun ini tulisan saya kembali sedikit karena disebabkan budget yang kembali menipis. Tapi semangat untuk ngeblog hingga sekarang masih belum padam, bahkan terus menambah. Semoga konsistensi ini bisa saya pertahankan ya. Mengingat di akhir tahun ini dan tahun depan, banyak film-film yang saya nantikan, terutama Bad Boys 3: For Life yang akan dirilis di awal tahun 2020.  

Ah, bicara soal budget, sebenarnya salah satu keinginan saya adalah saya bisa menghasilkan uang lewat blog ini. Ya, siapa tahu kan bisa gitu, untuk modal nonton film di bioskop aja lumayan. Ya masa cuma ngandelin download film bajakan terus, kan gak baik, lol. Tapi hingga saat ini, setiap kali melihat pendapatan di adsense rasanya miris dan sedih pengen nangis karena masih sedikitnya traffic yang ada. Lalu, kalo gak mendapatkan keuntungan sama sekali, kok masih pengen ngeblog sih?



Pembaca. Ya, terdengar klise sih memang, tetapi walaupun sedikit, namun ketika melihat ternyata ada saja visitor yang mau membaca, bahkan meninggalkan komentar, rasanya ada kebanggaan tersendiri. Postingan Berserk menjadi favorit saya karena saya gak nyangka jika tulisan tersebut bisa mengundang banyak pembaca dan komentar. Hingga sekarang, tulisan saya tersebut masih menjadi postingan saya yang paling populer dalam blog ini. Untuk Anda, siapa saja yang sering mengunjungi blog gak penting ini, saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Berkat Anda lah, semangat saya untuk terus menulis dalam blog ini terus terjaga. 1 pembaca sangat berarti untuk saya. Sekali lagi, terima kasih. 

Oh ya, dalam kesempatan ini, saya ingin shout out untuk dua blogger inspirasi saya. Yang pertama adalah Mbak Niken, blogger mengenai review film yang pertama kali saya kunjungi dan berhasil membuat saya betah akan kenyinyiran nya serta betapa lugas nya ketika mengulas film. Meski selera kami gak selalu sama (review nya mengenai film Joker berhasil bikin geram, lol), tetapi ada daya mistis sendiri di setiap kata-kata yang ia tulis sehingga walaupun postingannya panjang, tapi saya betah aja gitu untuk baca hingga akhir. Lalu, blogger kedua, dan ini secara tidak langsung udah saya jadiin mentor atau suhu, yaitu Bang Rasyid dengan blog nya Movfreak. Bang Rasyid ini bisa dibilang merupakan contoh yang baik dan ideal bagi siapa saja yang masih baru dalam dunia blogging. Konsisten atau produktivitas nya itu loh yang selalu bikin saya takjub. Dalam setiap ulasannya juga bang Rasyid begitu pintar dalam memilah kata serta mengangkat poin-point tertentu ketika mereview  film. Dua blogger ini awalnya saya ikuti karena ingin mendapatkan rekomendasi film, tetapi jatuhnya menjadi inspirasi yang mendorong saya untuk juga ikutan membuat blog. Terima kasih, Mbak Niken dan Bang Rasyid. God Bless you all.

Dalam menulis, yang paling sulit bagi saya adalah mengawali serta mengakhiri. Saya sendiri bingung sekarang untuk menutup tulisan saya yang gak penting ini bagaimana caranya. Hmm, mungkin terima kasih lagi untuk kalian, yang membaca? Lol. Tapi seriusan, terima kasih lagi loh untuk kalian. Kunjungan kalian benar-benar berpengaruh besar dalam menjaga semangat saya untuk senantiasa ngeblog disini. Dan semoga selalu begitu. 6 tahun, dan semoga akan terus berlanjut hingga ke tahun-tahun berikutnya. Ada amin?

Sunday, 20 October 2019


Satu aspek terhebat di dalam dunia fiksi, baik itu film, tv series, atau bahkan novel sekalipun, adalah kita mampu "dipaksa" untuk terikat dan perduli karakter yang diceritakan. Berbeda level lagi jika karakter tersebut mampu mempengaruhi hingga ke dalam kehidupan satu individu, misalnya lihat fenomena dari penggemar Game of Thrones yang telah memiliki anak, tidak sedikit serentak menamai putri mereka Khaleesi atau Daenerys sebagai bentuk cinta mereka terhadap karakter yang diperankan Emilia Clarke ini. Tidak jarang juga ada orang yang begitu nekad mengakhiri hidupnya ketika karakter yang dicintai dijemput kematian di dalam cerita. Atau contoh paling terkenal, nama Sherlock Holmes begitu dihormati di ranah Inggris seolah dirinya adalah sosok legenda, padahal ia "hanyalah" karakter rekaan dari pengarang Sir Conan Doyle. Begitulah hebatnya pengaruh suatu karakter, jika diberikan modal naskah dan narasi yang tepat, mampu mempengaruhi hingga dicintai oleh penonton/pembaca. 

Tentunya Anda memiliki karakter favorit tersendiri, dan sering kali memang karakter tersebut terlibat dalam kisah yang kita gemari pula. Setelah beberapa tahun lalu, saya menulis mengenai karakter favorit saya dalam media Anime/Manga, sudah saatnya saya juga ingin berbagi kepada Anda mengenai karakter favorit saya di dalam dunia film, yang saya ringkas hanya 15 saja. Dan percayalah, mungkin 15 bagi Anda sudah banyak, namun untuk saya, cukup sulit untuk menyaring karakter terfavorit hanya menjadi 15 saja. Ini saja selagi menulis, saya pun masih mengingat-ingat kembali apakah ada karakter yang terlupakan sembari membaca ulang list yang telah saya tulis di contekan kertas. 

Baiklah, supaya barokah waktu Anda, langsung saja inilah 15 karakter film favorit versi saya:

15. Mike Lowrey (played by Will Smith)

Movie: Bad Boys/Bad Boys II


Dwilogi Bad Boys bagi Anda mungkin tidaklah terlalu spesial, namun untuk saya pribadi, dua film ini sangat influental. Pertama kali yang saya tonton adalah Bad Boys II, ketika ditayangkan di salah satu siaran tv swasta Indonesia, dan tidak perlu waktu lama saya udah jatuh cinta sama film yang disutradarai oleh Michael Bay ini. Gak usah ditanyakan lagi begitu kocak dan gilanya interaksi antara  duo detektif Miami, Mike dan Marcus (Martin Lawrence). Bahkan menurut saya, Bad Boys bisa memiliki penggemar yang cukup banyak ya berkat dua karakter ini, karena jika dilihat pada aspek naskah, ataupun adegan aksi nya, bisa dibilang tidaklah terlalu spesial, meskipun harus diakui cukup seru, apalagi adegan car chase yang melibatkan puluhan mobil hingga kapal layar. Namun tak diragukan lagi, Mike dan Marcus lah yang menjadi faktor utama mengapa Bad Boys begitu enjoyable. Dan jika harus memilih, karakter Mike lah yang saya rasa patut masuk dalam list ini. Melalui karakter ini juga, saya mulai mengidolai Will Smith yang sukses memerankan sosok detektif yang berkharisma, terkadang konyol tanpa harus melunturkan kekerenannya.

14. Eames (played by Tom Hardy)

Movie: Inception


Karakter film yang memiliki aura badass atau tipe pendiam memang paling mudah untuk mencuri perhatian. Dan bagi saya, aktor Tom Hardy sangat cocok memerankan karakter bertipe ini. Memerankan Eames dalam Inception, Tom Hardy membuktikan bila ia tetap bisa mencuri perhatian penonton walaupun hanya memerankan karakter sampingan. Ia berhasil menjadi scene stealer di setiap kemunculannya, berkat perpaduan karakter nya yang cool, aksen British-Amrik nya yang tak pernah membosankan, dan kharisma sang aktor sendiri yang saya percayai mampu membuat pria normal bisa menjadi homo dengan hanya tatapan mata nya. 
...
..
Ahhh...shit.

13. Rupert Pupkin (played by Robert De Niro)

Movie: The King of Comedy


Film klasik namun terlupakan dari Martin Scorsese yang baru saya tonton, dan seketika saya pun langsung jatuh cinta pada filmnya, dan juga karakter utamanya, Rupert Pupkin. The King of Comedy sendiri memiliki pengaruh besar terhadap Joker-nya Todd Philips. Berbanding terbalik dengan dua karakter sebelumnya, saya menyukai karakter ini bukan karena karakter ini keren, tetapi murni betapa relatable nya karakter yang diciptakan oleh Scorsese ini. Mustahil sekali jika Anda tidak mengasihani atau setidaknya tidak bersimpati terhadap karakter satu ini. Karakter Rupert Pupkin ini bisa dideskripsikan dengan satu kalimat, the unrecognized talent. Ingin menjadi komedian terkenal, namun sayangnya Rupert dijauhi oleh nasib baik. Meski dengan kerja keras dan talenta nya yang tidak bisa dibilang buruk, namun apa daya kesempatan tak kunjung juga datang walaupun telah dikejar, hingga ia pun rela melakukan tindakan nekad, demi menggapai mimpinya. Akting Robert De Niro begitu luar biasa dalam memerankan Rupert Pupkin yang simpatik berkat tatapan serta gestur tubuhnya yang kaya akan rasa.


12. Daniel Plainview (played by Daniel Day Lewis)

Movie: There Will Be Blood


Tokoh satu ini bisa jadi merupakan salah satu karakter yang paling Anda benci berkat karakterisasi nya yang benar-benar mendefinisikan arti rakus itu sendiri. Daniel tidak perduli akan hal lain, asal tujuan dan keinginan yang ia miliki dapat tercapai, termasuk memanfaatkan anak angkat nya demi mendapatkan simpati calon rekan bisnis nya. Tapi mau bagaimana lagi, saya tidak mudah melupakan karakter yang diperankan brilian oleh Daniel Day Lewis ini. There Will Be Blood begitu adiktif tentu saja karena adanya Daniel Plainview, serta kisah rivalitas nya dengan Eli Sunday (Paul Dano). Dari tokoh ini pun kita belajar, rasa haus untuk mendapatkan semuanya tentu harus diganti dengan pengorbanan dan kehilangan yang besar. Sedikit demi sedikit menit bergulir, kita perlahan memahami pandangan Daniel terhadap hidup atau manusia di sekitarnya. Dan parahnya, saya pun bisa memahami pemikiran itu tercipta. Bukan menyetujui, tetapi tidak bisa menyalahi sepenuhnya.

11. Arthur Fleck/Joker (played by Joaquin Phoenix)

Movie: Joker


Yap, karakter yang masih diperbincangkan hangat ini begitu membekas di dalam benak sehingga tidak segan saya memasukkan nama ini dalam list tidak penting ini. Siapa sangka bila pilihan Todd Phillips untuk menyajikan background dari karakter supervillain legenda ini dengan realistis serta humanis dicintai oleh penonton. Namun, tidak perduli secerdas dan serealistis apapun naskahnya, semua aspek tersebut tidak akan berarti banyak jika aktor utama tidak memerankan Joker/Arthur dengan baik. Untungnya Joaquin Phoenix bukan aktor sembarangan. Berkatnya, mudah kita untuk bersimpati terhadap karakternya, tanpa melunturkan sisi kesadisan karakter nya sendiri. Saya sangat menyukai adegan setiap Arthur tertawa, terlihat begitu jelas akan penderitaannya, dan semua itu berkat luar biasanya penampilan Joaquin Phoenix. Jika Oscar tidak terlalu mendengarkan backlash dari media, maka rasanya hampir mustahil jika Phoenix, at least, tidak mendapatkan nominasi Oscar di kategori Best Actor.

10. Leonard Shelby (played by Guy Pearce)

Movie: Memento


Memento disanjung berkat naskah nya yang terasa orisinil dan misteri yang menyelimuti nya begitu captivating serta mampu mempermainkan daya ingat penonton dengan narasi non linear uniknya, sehingga bisa diprediksi jika penampilan para aktor yang terlibat sedikit terlupakan, terutama Guy Pearce yang memerankan protagonist utama. Memerankan Leonard Shelby, pengidap penyakit short term memory loss, Guy Pearce harus menyeimbangkan sisi cerdas Leonard dengan investigasi yang ia lakukan serta kebingungan luar biasa akibat penyakitnya, dan Pearce sukses berakting dengan menawan, tanpa harus membuat Leonard terlihat linglung dan bodoh karena daya ingat nya yang sebentar. Mudah untuk mendukung karakter ini dengan background nya yang tragis, meskipun di akhir nanti kita akan dibuat mempertanyakan moral Leonard berkat ambiguitas yang dihadirkan Nolan.

9. William James (played by Jeremy Renner)

Movie: The Hurt Locker


Jujur saja, The Hurt Locker sebenarnya jenis film yang bisa saja saya benci karena pendekatannya yang lamban seperti arthouse, minim deru tembakan atau ledakan untuk kadar film perang. Terbukti dengan pendekatan berbeda dari Kathryn Bigelow, saya cukup dilanda kebosanan di awal film berjalan, meskipun sudah disajikan dengan adegan pembuka yang cukup intens. Namun, semenjak muncul nya karakter ini di layar, seketika kebosanan saya semakin lama semakin tergerus. Faktor utama tidak lain tidak bukan adalah perbedaan signifikan pada karakterisasi James dibandingkan tentara lainnya. Bisa dibilang, James ini memiliki kepribadian yang sama sekali tidak cocok dengan kakunya birokrasi atau sistem dalam tugas tentara. Ia menjalani semuanya dengan peraturan yang ia miliki sendiri, cenderung sembrono bahkan bila dilihat kacamata tentara lain. He just doesn't give a fuck. Sebagian besar penonton pasti mudah menyukai karakter bertipe pemberontak, dan tidak terkecuali adalah William James.

8. "The Dude" Jeffrey Lebowski (played by Jeff Bridges)

Movie: The Big Lebowski


Jeff Bridges boleh saja mendapatkan Oscar pertamanya ketika memerankan Rooster Cogburn dalam True Grit, tetapi peran yang akan selalu melekat pada dirinya tidak lain adalah ketika ia memerankan karakter ini. Rambut gondrong, tanpa pekerjaan atau pasangan, hobi minum white russian serta main bowling dengan kedua temannya yang gak kalah aneh nya dalam mengisi harinya, bisa dibilang untuk pria berumur seperti The Dude ini adalah kehidupan yang kalo bisa kita hindari dalam kehidupan nyata. Tapi, toh, The Dude malah menikmati semua itu. Bahkan dengan segala kesialan atau permasalahan yang nanti ia hadapi pun tidak membuatnya untuk terlalu memikirkannya. Bagi saya sih karakter ini sempurna sekali sebagai bentuk escapism untuk beristirahat sejenak dari semua permasalahan hidup. Siapa juga yang gak pengen punya pandangan hidup seperti The Dude, yang bisa tetap menjalani hidup tanpa perlu ambisi untuk menggapai sesuatu. Tapi tentunya pandangan seperti ini hanya berlaku dalam film saja.

7. Michael Corleone (played by Al Pacino)

Movie: The Godfather Trilogy



Dalam karirnya sebagai aktor, Al Pacino memang begitu lekat dengan peran sebagai protagonist antihero bergenre drama kriminal. Serpico, Tony Montana, Carlito dan mungkin yang paling populer, Michael Corleone. Karakter-karakter yang ia perankan tersebut memiliki keunikan tersendiri, namun favorit saya adalah perannya sebagai Michael dalam trilogi abadi ini. Perjalanannya sebagai pahlawan perang yang sama sekali tidak ingin terlibat akan bisnis mafia dalam keluarganya, hingga nantinya ia malah menjadi pemimpin keluarga tersebut yang bertangan dingin dan lebih taktikal juga tanpa kenal ampun demi meloloskan rencana nya. Character arc dari Michael ini dipenuhi dengan tragedi, dimana ketika ia bisa meraih kemenangan, namun ia juga harus mengorbankan semua yang ia sayangi. Terutama penampilannya di Part II, Al Pacino menunjukkan akting luar biasa dengan memperlihatkan betapa menakutkannya sosok Michael melalui tatapan mata nya yang tajam, serta ketenangannya dalam menjalankan agenda Michael. Kekalahannya dalam ajang Academy Awards tahun 1975 sendiri bagi saya adalah salah satu kesalahan dari pihak Academy yang sukar dimaafkan.

6. Vito Corleone (played by Marlon Brando/Robert De Niro)

Movie: The Godfather Part I & II



Satu karakter yang diperankan dua aktor legendaris, dalam dua film yang sering dinobatkan sebagai film terbaik sepanjang masa, serta dua aktor pemeran berhasil mendapatkan masing-masing piala Oscar. Rasanya dengan penjabaran ini sudah cukup menggambarkan betapa karakter ini sangat ikonik  nan melegenda dalam sejarah perfilman. Dan lebih hebatnya lagi, baik di Part I maupun Part II, screentime milik Vito Corleone bisa dibilang cukup terbatas, tetapi sudah lebih dari cukup untuk membuat karakter satu ini begitu membekas untuk penonton. Jika peran Marlon Brando di Part pertama memperlihatkan begitu wibawa serta kharismatik sang Godfather dalam memerankan tugasnya sebagai kepala keluarga, di sekuel nya, Robert De Niro berhasil menjadi screen stealer berkat perjalanannya sebagai Vito muda yang awalnya hanya pria imigran biasa, namun nantinya malah berhasil menjadi salah satu orang berpengaruh dan dihormati dalam lingkungannya. De Niro pun secara jeli "mengimitasi" gestur-gestur ikonik dari Vito-nya Brando dengan brilian.

5. Tyler Durden (played by Brad Pitt)

Movie: Fight Club



Bisa dibilang karakter ini adalah impian banyak laki-laki. Ya, setelah nonton Fight Club untuk pertama kali, seketika terbersit dalam benak, "gokil juga nih kalo gw kayak Tyler". Bukan tanpa alasan, karena siapa yang gak pengen jadi cowok badass, keren, punya keberanian melawan sistem kapitalis, pihak berwajib serta orang-orang berdasi yang punya jabatan? Tyler Durden adalah contoh ideal bagaimana alpha male di dalam sebuah film. Tidak heran sih jika karakter ini berhasil membuat karir seorang Brad Pitt melejit dan digilai banyak wanita. Namun, terlepas dari penampilan fisiknya yang ikonik, saya sendiri menganggap pandangan atau filosofi nya terhadap sistem yang tengah berlaku di masyarakat jauh lebih menarik. Seperti ucapannya kepada si Narator (Edward Norton) di dalam bar jika masyarakat sekarang sudah menjadi budak nya merk-merk terkenal. Kita terus saja membeli barang, tanpa mempertanyakan apakah kita membutuhkan atau tidak, dan masih banyak pemikiran idealis lainnya seiring film bergulir. Pemikiran-pemikiran yang saya lewatkan saat menonton pertama kali, namun lama kelamaan merasuki jika kita menonton kembali.

4. Chris Gardner (played by Will Smith)

Movie: The Pursuit of Happyness



Keakuratan kisah yang diangkat oleh Gabriel Muccino dari pebisnis sukses Chris Gardner ini mungkin patut dipertanyakan, namun rasanya tidak ada yang mempertanyakan performa luar biasa dari Will Smith dalam menghidupkan karakter Chris Gardner. Setiap tumpahan emosi yang ia keluarkan begitu nyata, rasa putus asa dan kehilangan semangat akibat cobaan yang datang silih berganti mudah ikut menenggelamkan penonton di dalam kesedihan. Andai pun karakter ini hanyalah fiktif, tetap tidak menghentikan saya untuk menjadikan karakter ini merupakan karakter yang paling inspiratif yang pernah saya tonton. Puncaknya adalah ketika akhirnya nasib baik mulai datang kepadanya. Lihatlah ekspresi tangis bahagia yang ditampakkan oleh Will Smith, sebuah adegan yang setiap kali saya tonton entah harus berapa kali pun tetap saja saya juga ikut menangis bahagia seperti Chris Gardner. Luar biasa.

3. Bruce Wayne/Batman (played by Christian Bale)

Movie: The Dark Knight Trilogy



Bukan tanpa alasan mengapa Batman begitu disukai oleh penggemar, melebihi Superman sekalipun yang notabenenya merupakan wajah dari Justice League. Dan dalam trilogy The Dark Knight nya, Christopher Nolan kembali menumbuhkan cinta para penggemar terhadap karakter superhero tercinta mereka ini, setelah pesonanya sempat meredup akibat Batman & Robin. Nolan mengerti betul dalam menangani karakterisasi Batman/Bruce Wayne. Batman bukanlah superhero yang sempurna. Setiap aksi yang ia lakukan kerap kali melibatkan kerusakan bahkan mengancam nyawa orang yang terlibat, termasuk polisi. Namun begitu, ia tetap berpijak pada keadilan versi dirinya. Ia ingin membawa nilai kebaikan ke dalam kota Gotham. Bahwa peran Batman hanyalah sebagai bentuk simbol untuk menumbuhkan spirit pahlawan setiap individu. Akhir kisah dalam film The Dark Knight semakin memantapkan pesan tersebut, dimana pengorbanan harus diambil demi kebaikan. Batman terasa humanis karena ketidak sempurnaannya, dan dengan ketidak sempurnaannya itu pula menjadi alasan Batman adalah salah satu superhero terkeren dan paling disukai.

2. Tommy Riordan (played by Tom Hardy)

Movie: Warrior



Sebelum memerankan Bane dalam The Dark Knight Rises, Tom Hardy telah menunjukkan tease bagaimana sosok Bane yang nanti akan ia perankan. Tommy Riordan yang ia perankan begitu dingin, dipenuhi dengan kemarahan dan kecewa akibat masa lalu yang pahit. Tatapannya walaupun tajam penuh kebencian, namun terlintas kekosongan pada sorot mata nya. Tom Hardy seolah terlahir memerankan peran ini. Aura badass begitu kental yang membuat saya pasti akan bergidik ngeri jika saja terlibat masalah dengannya, dan tak perlu dipertanyakan lagi bagaimana Hardy memberikan sentuhan emosional pada karakternya, sehingga tidak menjadikan Tommy hanya sosok pria badass, tanpa sentuhan hati. Mau lihat salah satu man tears terbaik? Maka tonton lah Warrior, dan lihat lah akting Tom Hardy yang satu ini.

1. The Joker (played by Heath Ledger)

Movie: The Dark Knight



Saya selalu berpendapat jika salah satu karakter yang ditulis dengan baik adalah karakter diberikan sentuhan background yang jelas sehingga memiliki fondasi yang kuat. Tetapi karakter satu ini mematahkan pendapat saya tersebut, because I fuckin' love this character so much!! Walau ia merupakan supervillain, namun berkat pesona, dibantu juga akting menakjubkan dari Heath Ledger, Joker berhasil menjadi scene stealer dan penggemar selalu menantikan sosoknya hadir di layar. The Dark Knight adalah film yang hebat serta didukung dengan salah satu ensemble cast terbaik yang pernah ada, namun berkat adanya Joker lah, The Dark Knight menjadi sajian klasik dan begitu dicintai oleh penggemar. Akting monumental Heath Ledger sukses besar dalam menampar keras setiap penikmat film yang sebelumnya sempat meragukan, bahkan mengejek dirinya ketika Nolan mengumumkan jika Ledger yang akan memerankan Joker. Karakter Joker begitu melekat dalam diri Ledger sehingga saya tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa broke character ketika kamera tidak merekam. 

So, lemme ask you a question, who's your favorite movie character?

Thursday, 28 February 2019


Oh boy, what an interesting story we got here. Cerita yang begitu menarik sehingga mampu memaksa saya yang pemalas ini rela untuk membuat suatu tulisan untuk film yang bahkan belum dirilis. Kalau Anda mengikuti perkembangan dari film superhero wanita pertama dari MCU ini, Anda pasti telah mengetahui berbagai kontroversi yang mengitari Captain Marvel sehingga melahirkan backlash dari kalangan penggemar MCU sendiri. Dari trailer-trailer nya yang dinilai kurang meyakinkan, aroma propaganda SJW, fans yang menolak bila nanti Captain Marvel lah yang diisukan merupakan pahlawan yang menyelamatkan The Avengers dan mampu mengalahkan Thanos, hingga yang paling mengganggu fans adalah pernyataan kontroversi dari pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson. Dan yang terbaru adalah situs Rotten Tomatoes memutuskan untuk menghilangkan skor "Want to see" di website tersebut.


Saya merupakan tipe penonton  yang tidak terlalu mengandalkan sebuah trailer untuk mematok sebuah ekspektasi. Kecuali trailer Super Bowl dari Captain Marvel yang cringeworth tersebut, saya tidak terlalu mempermasalahkan trailer-trailer nya yang lain. Betul memang bila dari trailer tersebut kita belum bisa menebak sepenuhnya narasi dari Captain Marvel. Tetapi akan menjadi tindakan teledor pula menurut saya jika pihak Marvel memberikan clue yang banyak di dalam trailer nya. Saya masih ingat bagaimana geramnya saya atas kebodohan pihak Warner Bros atau DC yang menghadirkan sosok Wonder Woman pada trailer film Batman V Superman. Para fans juga mengkritik (atau lebih tepatnya khawatir) akan kapabilitas akting dari Brie Larson yang minim ekspresi pada trailer nya hingga ada yang membandingkan dirinya dengan karakter Bella Swan dari Twilight franchise. Dan disini saya juga kurang sependapat dan sepenuhnya masih mempercayai bila Brie Larson akan memberikan penampilan yang prima nantinya. Kapabilitas akting Brie Larson bagi saya cukup mumpuni, hell, she's already got an Oscar on her pocket. Lihatlah bagaimana meyakinkannya dia memerankan seorang ibu yang hopeless juga depresif pada film Room (2015).




Namun rasa optimis saya mulai memudar kala muncul rumor jika Captain Marvel akan dijadikan kampanye isu politik dari pihak SJW dan ingin menjadikan sosok Captain Marvel adalah ikon dari feminis. Dan isu inilah yang berhasil membuat saya mulai ragu apakah saya masih bisa menyukai film ini atau tidak nanti. Tampaknya pihak Disney masih belum belajar dari bagaimana para fans Star Wars yang sangat kecewa akan hasil akhir dari The Last Jedi maupun Solo. Pihak Disney masih juga belum menyadari jika para fans sama sekali tidak ingin franchise kesayangan mereka dilibatkan dalam politik SJW.

Franchise MCU memang tidaklah setua Star Wars, namun lebih dari satu dekade semenjak Iron Man dirilis, franchise ini berhasil melahirkan para fans yang loyal dan mencintai MCU. Para fans begitu perduli pada karakter-karakter nya, bahkan hingga karakter minor seperti Ned, Maria Hill dan tentunya Phil Coulson. Selain itu, Marvel juga berhasil menaikkan derajat superhero mereka seperti Ant-Man, Dr. Strange, dan The Guardians of the Galaxy. Bayangkan saja, sebuah franchise yang dibangun perlahan namun meyakinkan dengan karakter-karakter yang dicintai di dalamnya, harus tercoreng akibat kepentingan politik semata. Bayangkan rasa kesal nan kecewa yang harus dirasakan para penggemar MCU.


Kondisi yang sudah tidak mengenakkan ini, diperparah pula akan pernyataan-pernyataan tidak penting dari Brie Larson. Sudah bukan rahasia umum lagi bila Brie Larson adalah salah satu "agen" feminis layaknya Amy Schumer, tapi apakah begitu sulitnya untuk menahan pandangan idealisme pribadi terlebih dahulu setidaknya sampai filmnya benar-benar dirilis nanti? Bukan langkah yang bijak tentu saja mengeluarkan komentar berbau diskriminasi nan sexist sebelum film yang dibintangi bahkan belum menghiasi layar-layar bioskop. Tentu saja para penggemar semakin antipati akan sosok Brie Larson. Antipati yang dikhawatirkan akan menghasilkan ketidak sukaan juga terhadap karakter yang diperankan. Andai nanti hasil pendapatan Captain Marvel dibawah ekspektasi (I doubt it, though), maka tidak salah jika Brie Larson menjadi faktor utama.

Hingga yang menjadi perbincangan hangat dalam satu minggu terakhir adalah rating "Want to see" di website Rotten Tomatoes dihilangkan. Terakhir kali, sebelum pembaharuan, skor persentase Want to see untuk film Captain Marvel anjlok hingga 27%!!! "Loh, terus kenapa? Bukan masalah besar kan. Toh, film nya belum keluar. Gw yakin filmnya masih banyak ditonton. Skor "Want to see" mah gak terlalu penting." Benar, skor tersebut bukanlah patokan kuat apakah nanti film ini sukses atau tidak dari segi finansial. Namun, sekali lagi, Captain Marvel bukanlah film sembarangan. Film ini adalah bagian dari MCU, salah satu franchise tersukses dalam satu dekade belakangan. Film yang diharapkan menjadi simbol feminis bagi sebagian orang. Film ini diakuisisi oleh Disney, salah satu studio film terbesar sepanjang masa. Tentunya dengan kenyataan tersebut merupakan hal yang tidak diinginkan.

Penghapusan skor "Want to see" ini dianggap oleh sebagian kalangan penggemar merupakan sebuah langkah desperate untuk "menyelamatkan" citra film Captain Marvel. Tidak hanya itu, langkah ini semakin menguatkan dugaan jika situs Rotten Tomatoes selama ini menganak emaskan film-film keluaran MCU atau dari Disney. Sudah banyak yang mengkritik situs ini dalam pemberian rating nya yang selalu tinggi untuk film-film dari MCU. Kritikus dianggap terlalu jinak pada film-film MCU. Contoh terkuat silahkan lihat begitu tingginya rating yang diterima Thor Ragnarok dan Black Panther yang dirasa tidak terlalu spesial. Awalnya dugaan konspirasi ini terkesan membual dan sekilas hanyalah pernyataan butthurt dari pihak oposisi Marvel (Baca: Fans DCEU). Namun dengan adanya pengupdatean ini, mau tidak mau, dugaan tersebut menguat dan bisa jadi adalah kebenaran. Pihak MCU belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Semua film MCU sebelumnya begitu dinantikan, termasuk Captain Marvel bahkan. Maka ketika ada satu film yang untuk pertama kalinya mendapatkan backlash luar biasa seperti ini, terlihat sekali jika pihak Marvel atau Disney mencoba melakukan segala cara untuk mempertahankan reputasi MCU. Sebuah keputusan yang seolah menyiramkan bensin di tengah kobaran api.

Segala kejadian tidak mengenakkan yang mengitari Captain Marvel ini jelas sekali menjadi hembusan angin segar untuk DC. Bila DC mampu memanfaatkan situasi ini, bukan tidak mungkin film bertemakan superhero yang selama ini dikuasai oleh Marvel, berpindah tangan ke pihak DC. Terlebih film rilisan DC, Aquaman (2018), cukup mendapatkan tanggapan positif baik dari segi kualitas maupun finansial. Bukan tidak mungkin ini adalah awal dari runtuhnya kedigdayaan MCU. Lalu pertanyaannya, apakah saya tetap akan menonton film ini? Kemungkinan besar, iya. Karena harus diakui, film Captain Marvel memiliki poin penting untuk film The Avengers selanjutnya, Endgame. Saya hanya berharap, dengan adanya backlash seperti ini, mampu menyadarkan pihak Disney jika para penggemar sama sekali tidak perduli akan agenda politik yang mereka simpan, dan juga tidak rela jika franchise kesayangan mereka dijadikan sebagai wadah propaganda politik SJW.


Wednesday, 6 December 2017



Tidak usah berbasa-basi lagi, inilah 10 karakter pilihan saya dalam dunia Anime/Manga.


Honorable Mentions:


Okabe Rintarou (Steins; Gate)





Memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sering memanggil orang-orang terdekatnya dengan kode nama yang aneh, serta diisi suaranya oleh Mamoru Miyano. 3 alasan itu saja sebenarnya bisa menghantarkan Okabe masuk dalam 10 besar, tetapi tidak bisa dipungkiri, peran Mamoru Miyano begitu besar untuk membuat penonton menyukai Okabe. Siapa yang bisa melupakan tawa Okabe yang bisa dibilang sangat memorable itu. Jangan lupakan juga chemistry nya yang kuat dengan karakter-karakter lain. Okabe adalah satu-satunya alasan mengapa saya bisa bertahan menghadap 8 episode Steins; Gate yang harus diakui belum terlalu menarik dan cukup membosankan.

Edward Elric (Full Metal Alchemist: Brotherhood)





Full Metal Alchemist: Brotherhood itu adalah sebuah karya masterpiece. Perjalanan cerita yang telah melekat dari episode pertama, dialog-dialog cerdas bertebaran, kualitas animasi yang baik, dan yang terutama adalah hampir semua karakter-karakter di Full Metal Alchemist: Brotherhood sama sekali tidak ada yang menyebalkan, bahkan karakter-karakter villain-nya. Tetapi walaupun dikelilingi oleh karakter-karakter yang begitu hebat dalam hal karakterisasi, susah untuk tidak terpukau dengan karakter protagonist utamanya, si chi...ermm, maksudnya, si alkemis muda berbakat, Edward Elric. Walaupun ia arogan, memiliki ego yang begitu besar mengalahkan ukuran tinggi badannya, tetapi ia adalah tipe karakter yang selalu mementingkan kepentingan orang lain. Signaturenya yang selalu darah tinggi bila dibilang "pendek" juga berhasil menjadi salah satu alasan mengapa karakter ini dicintai oleh penggemar anime ini. Edward yang berdarah tinggi dan cenderung tidak sabaran inilah yang menjadi fungsi utama keberadaan sang adik yang terus menemani petualangannya, Alphonse Elric. Keduanya merupakan protagonist yang layak mendapatkan dukungan penonton, namun Edward, bagi saya, jelas memiliki kharisma lebih baik untuk karakter utama. Belum lagi, totalitas yang diberikan oleh Romi Park dalam menghidupkan karakter ini.

Oke, kedua karakter di atas memang hebat dan sangat layak sebenarnya masuk dalam 10 besar, namun bila ditanya alasan mengapa mereka berdua "hanya" ada di honorable mentions, hanya lah satu, dua karakter tersebut sangat terbantu oleh seiyuu (voice actor) nya masing-masing, sehingga saya cukup meragukan bila saya akan tetap menyukai mereka berdua bila tampil dalam bentuk manga ataupun light novel. Itulah yang membedakan dua karakter diatas dengan 10 karakter di bawah ini.


10. Joe Yabuki (Ashita No Joe)




Petinju muda yang berasal dari anak jalanan tanpa memiliki tujuan. Kehidupan keras yang dialami Joe berpengaruh besar pada karakter Joe yang kasar, egois, dan hanya mendengarkan pemikirannya sendiri. Tidak hanya itu saja, akibat tempaan kehidupannya, Joe memiliki daya tahan tubuh serta fisik yang luar biasa, sehingga dirinya pun akhirnya terjun dalam dunia tinju. Joe memang bukanlah karakter bagaikan malaikat. Dirinya memiliki banyak kekurangan, namun hal itu memiliki landasan dasar yang kuat. Satu hal yang membuat saya jatuh cinta pada karakter ini adalah tekad serta prinsipnya yang terus dipegangnya. Selain itu, Joe bagaikan sebuah karakter yang mewakili banyak pria-pria, akibat kebrutalannya dalam menghadapi masalah. Ya, sebagai pria, kita semua tentu ingin kan sesekali melayangkan tinju ke muka orang yang bagi kita menyebalkan. Nah, Joe sama sekali tidak ragu untuk menghajar seseorang bila orang tersebut baginya memang layak untuk dihajar.  Berbagai kekurangan yang dimiliki Joe membuat sosok Joe lebih humanis, relatable, yang membuat pembaca/penonton ingin sekali melihat Joe selalu menang dalam pertandingannya. Satu hal lagi yang saya sukai dari design character dari Joe adalah mata nya yang seolah selalu merefleksikan akan rekam jejak hidup Joe, yaitu kesepian. Entah ekspresi apa saja yang dikeluarkan oleh Joe, bahkan ketika ia marah sekalipun, matanya selalu memancarkan hal yang sama. Detil kecil yang diperhatikan oleh sang kreator, Ikki Kajiwara.



9. L a.k.a Ryuzaki (Death Note)




Death Note memiliki konsep yang bisa saya katakan sangat cerdas nan absurd. Konsep cerita yang seolah mewakili dark side tiap individu. Sebagai manusia, tentu kita memiliki orang yang kita benci hingga ingin sekali kita membunuhnya. Nah, Tsugumi Ohba "mengabulkan" hal itu dalam Death Note. Dengan menulis sebuah nama dalam buku Death Note, kita bisa membunuh seseorang, sesimpel itu. Sebuah konsep yang luar biasa, dan juga diisi oleh dua karakter yang menciptakan salah satu rivalry terbaik dalam dunia fiksi, yaitu Yagami Light dan seorang detektif misterius, L. Sulit untuk harus memilih salah satu diantara dua karakter unik ini, namun pilihan saya jatuh kepada L. Bukan hanya dirinya mewakili kebaikan dalam cerita Death Note, tetapi segala ciri khas nya yang dimiliki karakter ini pula yang menguatkan keyakinan saya kalau L lebih layak saya pilih untuk masuk list saya yang gak begitu penting ini. Tsugami Ohba begitu detil dalam menghadirkan berbagai ciri khas dalam karakter L, seperti ketika ia duduk, makan, dan yang terutama kegilaannya pada makanan-makanan manis.

                                          

Tidak hanya itu, ketelitian Ohba pun ditunjukkan pada desain karakternya, dari pakaian hingga detil kecil seperti mata panda nya L, yang membantu akan karakterisasi pada L yang selalu menghadapi kasus-kasus berat dan sangat serius ketika berusaha memecahkannya hingga dirinya kekurangan waktu tidur.  Semua ciri khas itu disempurnakan pula pada daya intelejensi L dan sisi humanis yang disuntikkan Ohba pada L (lihat kekonyolannya ketika pertama kali bertemu dengan Misa).

8. Johan Liebert (Monster)




Urasawa Naoki tidak terbantahkan lagi adalah seorang mangaka jenius dan berada di beberapa level diatas mangaka lainnya. Dua karya masterpiece nya, yaitu 20th Century Boys dan Monster, bagi saya harus lah kalian baca bila kalian merupakan penggemar komik. Naoki begitu pintar dalam mengeksplorasi tiap karakter dalam karyanya, yang membuat pembaca tidak terlalu kesulitan dalam memahami karakternya. Dalam Monster, Naoki pun menciptakan karakter villain yang banyak dianggap oleh penggemar manga/anime sebagai villain terbaik dan paling berbahaya yang pernah hadir dalam dunia animanga. Yap, tokoh itu adalah Johan Liebert. Apa yang membuat Johan Liebert begitu berbahaya? Johan tidak memiliki kemampuan super, ia pun juga tidak ditopang dengan kemampuan fisik di atas rata-rata, bahkan dirinya pun sering tidak membawa senjata dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, Johan memiliki senjata tak terlihat di tubuhnya, yaitu ia jenius dalam memahami sifat keburukan yang ada di dalam tiap manusia. Ia menyadari bila manusia pasti memiliki dark side nya masing-masing, dan Johan sangat ahli dalam memanfaatkan hal tersebut. Hal ini lah yang membuat Johan sangat berbahaya, belum lagi dirinya sangat kalkulatif dan didukung pula dengan kemampuan berbicaranya yang begitu pintar. Sebagai villain utama, bisa dikatakan Johan cukup minim hadir dalam manga. Bisa dikatakan, hanya di Munich arc saja dimana kehadiran Johan cukup konsisten. Tetapi berkat pengaruh besar nya, tanpa menampakkan wujudnya, pembaca telah merasakan kehadirannya, atau lebih tepatnya, ancaman yang ia telah tebar ke berbagai penjuru negara. Yang lebih menyeramkan lagi dari Johan adalah dirinya tidak memiliki tujuan yang pasti. Ia hanya ingin mengeksplor sisi kegelapan yang ada di dalam manusia sehingga susah sekali untuk menebak apa yang selanjutnya yang akan Johan lakukan. Sosok villain yang bagi saya mampu duduk sejajar dengan karakter villain seperti John Doe dan tentu saja, The Joker di The Dark Knight. He, truly is, the monster itself.




7. Kenshin Himura (Rurouni Kenshin/Samurai X)




Kenshin, sebagaimana karakter utama di animanga, menjunjung nilai keadilan, pecinta kedamaian dan juga ingin membela orang yang lemah dengan kemampuan pedangnya yang ditakuti. Bahkan, Kenshin menganut prinsip yang bertentangan untuk seorang samurai, yaitu tidak ingin membunuh. Hal itu tidak terlepas dari masa lalu nya yang ia habiskan untuk membunuh orang-orang yang dinilai membahayakan negara Jepang. Dirinya pun terkenal dengan julukan Hitokiri no Battousai (Kalau di SCTV dulu sering diterjemahkan dengan Battousai si Pembantai). Masa lalu Kenshin yang dipenuhi dengan darah inilah yang membedakan Kenshin dengan protagonis-protagonis berhati "malaikat" lainnya. Dengan masa lalunya ini pula, kita bisa mengerti mengapa Kenshin memilih untuk pensiun sebagai Battousa dan menjalani kehidupan jauh dari konflik. Kenshin memang tidak lagi sebuas kala era Bakumatsu, bahkan  ia memiliki pedang yang dinamakan Sakabato, tidak membahayakan nyawa orang lain karena sisi tajam pedangnya berada di punggung pedang, bukan di bagian depan. Karakter Kenshin digambarkan ramah, murah senyum, dan juga menyenangkan, bahkan kekonyolan juga sering ditampilkan oleh sosok Kenshin, sehingga bisa dimengerti mengapa orang-orang disekitar Kenshin juga penikmat karya dari Nobuhiro Watsuki ini begitu menghormati dan menyukai Kenshin.




Tetapi, Kenshin akan menjadi sosok yang benar-benar berbeda dalam pertarungan. Dalam pertarungan pun, sosok Kenshin sebagai pembantai di masa lalunya, terkadang muncul akibat emosi yang sulit ia kendalikan, apalagi kala orang yang disayanginya berada dalam kondisi terancam (saat melawan Jin-e dan Cho, salah satu member dari Juppongatana) dan musuh yang ia hadapi memiliki kekuatan yang merepotkan Kenshin (Hajime Saito).


6. Endo Kenji (20th Century Boys/21th Century Boys)



Satu lagi karakter memorable lagi yang diciptakan oleh Urusawa Naoki, yaitu Endo Kenji. Kenji digambarkan sebagai karakter pria baya seperti pada umumnya. Ia tidak memiliki wajah rupawan, hanya memiliki pekerjaan sebagai penjaga mini market, lajang, tidak memiliki harta juga kemampuan spesial, pokoknya ketika pertama kali diperkenalkan, tampak sekali kehadiran Kenji tidak memiliki dampak apapun terhadap dunia. Tentu saja hal itu tidak seperti yang ia bayangkan ketika masih kecil dan remaja, dimana ia memiliki ambisi untuk menjadi pahlawan penyelamat dunia dan ingin berkarir sebagai rocker yang bisa mengubah dunia lewat karya-karyanya. Semua keinginan tersebut tentu tidak bisa direalisasikan dengan mudah oleh Kenji, sehingga mimpi-mimpi tersebut harus ia kubur dalam-dalam seiring bertambahnya usia dan memilih untuk menjalani hidup sebagai pria dewasa biasa pada umumnya. Hingga ia pun terlibat akan konspirasi besar-besaran yang menurutnya mampu mengancam dunia. Apa yang membuat Kenji terseret akan konspirasi tersebut adalah sang pelaku utama yang memiliki panggilan Tomodachi melaksanakan konspirasi nya persis seperti apa yang direncanakan oleh Kenji dan teman-temannya kala masih kecil. Siapa yang menyangka bila rencana asal-asalan dari anak kecil itu ternyata mampu terealisasi dan mampu mengancam keberlangsungan hidup manusia. Mengetahui kenyataan bila Tomodachi adalah salah satu teman masa kecil nya, Kenji pun tergerak untuk menghentikan konspirasi yang dilakukan Tomodachi. Konsep cerita yang begitu orisinil dan juga diceritakan begitu brilian oleh Naoki, belum lagi dengan kejutan-kejutannya kala narasi bergerak yang tidak hanya mampu menghenyakkan pembaca, namun juga terkandung akan makna dan pesan yang emosional. Kenji menjadi salah satu karakter favorit saya ya karena itu tadi, dirinya hanyalah pria dewasa biasa yang dulunya memiliki ambisi untuk mengubah dunia. Mimpi yang mungkin sama-sama kita punyai pada saat masih polos dan penuh semangat, namun karena kehidupan tidak lah selancar yang kita bayangkan, mimpi-mimpi kita harus dikubur dan lebih memilih menerima kenyataan. Suatu hal yang menyedihkan, namun itulah realita yang terjadi. Faktor ini yang membuat Kenji terasa dekat dengan pembaca, sehingga mudah sekali untuk mendukung Kenji dalam usahanya menyelamatkan dunia. Kehadirannya selalu dinanti oleh pembaca dan meninggalkan kesan luar biasa saat dirinya menghilang di pertengahan cerita. Setiap namanya menyeruak dalam tiap dialog-dialog yang dilakukan karakter-karakter lain untuk mengenang Kenji, pembaca mau tidak mau merasakan kerinduan juga. Dan yang terbaik adalah saat lagu ciptaan Kenji dimainkan oleh keponakannnya, Kana, selagi menceritakan Kenji, yang memaksa air mata saya mengalir. Gutalala Sutalala.. Gutalala Sutalala



5. Hiruma Yoichi (Eyeshield 21)




Pemeran utama animanga Eyeshield 21 adalah Kobayakawa Sena, seorang remaja biasa yang kerap menjadi pesuruh untuk teman-temannya, malah terlibat akan dunia American Football. Bagi saya, Sena bukanlah protagonist yang buruk, bahkan saya cenderung menyukainya. Tetapi, tentu sulit bagi dirinya untuk bersaing dengan karakter paling memorable dalam seri Eyeshield 21, siapa lagi kalau bukan Hiruma Yoichi. Saya yakin, sebagian besar penikmat Eyeshield 21 memiliki pendapat yang sama seperti saya, bila Hiruma adalah karakter terbaik dalam seri ini. Dari awal kemunculannya saja, Hiruma telah meninggalkan kesan yang dalam. Sosoknya yang seperti setan, selalu bicara kasar, his "YA-HA", kebiasaannya membawa senjata kemana-mana, otaknya yang CERDIK (cerdas dan licik), pemilik buku ancaman yang didalamnya berisi semua aib orang-orang yang ia kenal dan... ah, terlalu banyak ciri khas dari Hiruma yang membuat saya jatuh cinta dengan karakter ini. Kehadirannya begitu dinantikan sehingga bila dirinya absen dalam satu chapter saja, saya merasakan kehilangan yang sangat besar. Hiruma memang digambarkan sebagai pria yang menyeramkan dan juga sangat ambisius akan kemenangan (baginya, kemenangan adalah nomor satu dalam American Football), tetapi dibalik itu semua, Hiruma memiliki perhatian yang besar terhadap rekan-rekannya. Hal itu kerap ditunjukkan oleh sang writer, Riichiro Inagaki, seperti saat ia membantu Yukimitsu dalam ujian fisik penerimaan anggota Devil Bats dan yang cukup berkesan kala ia mulai menganggap "3 Bersaudara Ha-Ha-Ha" sebagai anggota remsi Devil Bats. Memang, karakter ini cukup komikal dan susah untuk diterima secara logika bila karakter ini ada di dunia nyata, tetapi dengan segala signature yang ia miliki, rasanya susah juga untuk tidak jatuh cinta dengan Hiruma.



4. Roronoa Zoro (One Piece)




Roronoa Zoro memang hanyalah berperan sebagai side kick dari Monkey D. Luffy, tetapi sering kali keberadaan Zoro lebih mencuri perhatian ketimbang sang kapten sendiri. Hal tersebut tidak terlepas dari betapa likable nya karakter ini. Begitu banyak alasan mengapa saya dan sebagian besar pecinta animanga One Piece mencintai karakter ini. Seperti aura badass yang terpancar dari dirinya, dan prinsip laki-laki serta pengguna pedang yang selalu ia pegang. Zoro digambarkan sebagai pria dewasa yang tenang, dan tidak terlalu sering berbicara, bahkan dirinya jarang sekali tertawa lepas. Namun, bukan berarti Zoro tidak memiliki momen konyol nya sendiri. Kelemahannya dalam membaca arah merupakan signature nya yang selalu menghibur, kemudian dirinya juga sering sekali terlibat akan funny moment nya One Piece. Baik itu dalam bentuk manga, ataupun anime, semuanya sukses tepat sasaran berkat karakterisasi dari Zoro. Silahkan cari video nya di youtube dengan keyword "Zoro Funny Moment", dan bersiaplah untuk tertawa. Bila membahas dalam anime, kredit lebih telah seharusnya diberikan kepada Kazuya Nakai sebagai seiyuu nya Zoro.



Dengan alasan-alasan tersebut, rasanya telah cukup untuk jatuh cinta pada karakter ini, tetapi ada satu faktor lagi mengapa Zoro layak masuk top 5 dalam list ini, yaitu hubungan subtil yang ia jalin dengan kru-kru lainnya. Sering sekali, Zoro menunjukkan perhatian yang kecil, namun bermakna terhadap teman-temannya. Tidak perlu saya sebutkan, lihat saja salah satu momen pada arc Long Ring Island ini . Sayang sekali memang, setelah time skip, karakter Zoro sedikit menjadi membosankan dan bertransformasi hanya menjadi karakter badass yang generic pada genre Shounen. Padahal, kekonyolan serta interaksi dengan karakter lainnya adalah salah satu alasan mengapa Zoro begitu dicintai (lihat juga yang ini). Belum lagi beberapa momen ikonik yang terjadi di sebelum time skip yang makin memantapkan Zoro sebagai wakil kapten di Mugiwara Pirates, seperti saat ia mencegah Luffy, Nami dan Chopper menjemput Ussop dan tentunya momen ikonik dirinya dengan Kuma.



3. Hanamichi "Tensai" Sakuragi (Slam Dunk)




Tinggi, besar, memiliki muka yang menyeramkan, lengkap dengan rambut merah nya yang menjadi ciri khas utama. Namanya adalah Hanamichi Sakuragi, pria kelas 1 SMA yang memiliki rekor menyedihkan ketika SMP, yaitu ditolak cintanya hingga 50 kali. Terakhir kali, ia ditolak dengan alasan dari si gadis sedang menyukai salah satu cowok atlit basket di SMP nya. Pengalaman pahit ini membuat Sakuragi sangat membenci dengan olahraga basket. Siapa yang menyangka bila di periode SMA nya, Sakuragi malah terlibat jauh dengan olahraga tersebut. Slam Dunk memang merupakan salah satu animanga yang bisa dibilang legendaris serta influental. Gara-gara karyanya Takehiko Inoue ini, olahraga basket sempat populer di negara Jepang, bahkan pada film You are the Apple of My Eyes, animanga ini sempat disebutkan. Salah satu faktor mengapa Slam Dunk begitu sukses dan digilai oleh penggemarnya adalah sama seperti Full Metal Alchemist: Brotherhood, hampir semua karakter di dalamnya sangat likable, baik itu Akagi, Miyagi, Mitsui, bahkan Rukawa yang menjadi rival terbesar nya sang tokoh utama, Sakuragi.



Tetapi tetap, diantara karakter-karakter hebat didalamnya, Sakuragi tetaplah yang paling mencuri perhatian. Kekonyolan dan kebodohannya, narsis tingkat tinggi yang selalu ditunjukkan, serta pengembangan karakter nya yang dari awal tidak terlalu perduli dengan basket, sehingga pada akhirnya dirinya menjadi jatuh cinta akan olahraga ini, telah menjadi alasan yang sangat kuat mengapa saya mencintai karakter ini. Saking berkesannya karakter ini, design karakter Sakuragi ditiru oleh Hiroshi Takahashi lewat manga Crows nya. Lewat semua kekonyolan yang diperlihatkan Sakuragi, mulai benih-benih kedekatan penikmat Slam Dunk dengan karakter ini, sehingga dalam setiap pertandingan, kita begitu ngebet ingin melihat Sakuragi paling tidak bisa berpengaruh dalam membantu kemenangan Shohoku. Karena itulah, setiap Sakuragi berhasil melakukan Slam Dunk (saat melawan Shoyo adalah contoh yang terbaik), kita tidak bisa untuk tidak ikut berteriak. Dan saat Sakuragi mengalami kegagalan, kita pun ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Sakuragi. Saking cintanya saya dengan karakter ini, setiap nama profil di aplikasi chatting saya menggunakan nama "Tensai", julukan Sakuragi terhadap dirinya sendiri.



2. Naruto Uzumaki (Naruto)




Rasanya tidak perlu saya jelaskan lagi mengapa saya sangat mencintai karakter ini dan menganggap dirinya adalah salah satu karakter fiksi yang berhasil menginspirasi saya. Cukup baca artikel ini saja. Saya sebenarnya ingin menempatkan Naruto pada posisi pertama, namun rasanya ada yang lebih layak untuk menempati posisi pertama dalam list ini. Dan karakter tersebut adalah...


1. Guts (Berserk)




Saya tantang kalian, karakter animanga mana yang memiliki kisah sepahit dan setragis Guts? Sejauh saya menikmati dunia animanga, belum ada satupun karakter yang setidaknya hampir menyamai kisah pedih yang dialami oleh Guts. Lahir dari wanita yang telah menjadi mayat, sempat mengalami kekerasan dan hanya mengerti akan dunia perang pada masa kecil nya, menjadi korban pelecehan seksual dan dikhianati oleh orang yang telah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, yang memberikan luka yang sangat dalam untuk Guts sehingga ia memiliki permasalahan tersendiri dalam membangun kepercayaan dengan orang lain. Guts hanya mempercayai satu hal, yaitu pedang yang selalu menemaninya, baik ketika berperang bahkan kala tidur pun, Guts tidak pernah lepas dengan pedangnya. Kentaro Miura sangat teliti dalam menghadirkan cerita untuk karakter ini, bahkan kisah flashback nya pun dihadirkan dalam berpuluh-puluh chapter (Golden Age Arc) yang ditutupi dengan salah satu momen paling memorable serta what the fuck dalam sejarah animanga.




Namun, Miura menghadirkan momen gore serta berdarah-darah bukan tanpa tujuan berarti. Karena momen itulah, terjadi transisi cerita yang begitu besar pengaruhnya serta berdampak akan pengembangan karakter pada Guts. Berkat adanya momen yang berhasil hampir membuat saya kepikiran hingga satu minggu, penikmat Berserk akhirnya memahami mengapa Guts memiliki sifat yang kasar dan seolah antipati dengan keadaan sekitarnya. Pada Black Swordsman Arc, dimana hadir sebelum Golden Age Arc membuka tirainya, Guts bukanlah karakter yang menyenangkan. Ia begitu nikmat dalam membantai orang, bahkan dalam manganya, ia tidak begitu perduli dengan hidup seorang gadis kecil. Guts terlihat egois, kasar, dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Hingga kita diperlihatkan akan hal ini



Satu adegan yang membuat kita penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dengan Guts. Dan saat kita telah mengetahuinya, kita bisa memahami dan malah berbalik mendukung atau bahkan mencintai karakter Guts. Apa yang telah Guts tempuh sangat lah berat, bahkan dari kelahirannya saja seolah keberadaannya tidak diinginkan oleh dunia, tetapi Guts menolak untuk menyerah. Semangat hidup luar biasa nya telah ia tunjukkan dari semenjak lahir. Mungkin hanya Guts lah yang mampu membuat saya tidak begitu keberatan melihat manusia biasa mampu mengayunkan pedang raksasa dengan mudahnya, sehingga mampu mengalahkan beberapa monster oleh dirinya, sendirian. Hal ini lah yang membuat saya merasa Guts layak untuk menempati nomor 1 dalam list tidak penting ini. Guts sangat layak untuk dijadikan role model bagi kalian yang memiliki kisah kehidupan yang tidak terlalu menyenangkan. Guts adalah tipe protagonist yang jarang sekali muncul, karena tidak perduli seberapa menariknya karakter villain yang muncul dalam Berserk, tetap saja kita ingin yang berdiri paling akhir adalah Guts. Kita ingin sekali Guts akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang sangat layak ia dapatkan setelah semua kepahitan yang telah ia alami. Saat melihat sosok Guts, kita bagaikan melihat suatu karakter yang nyata, tepat berada disamping kita, bagaikan teman, kita ingin sekali membantunya melewati semua kesusahan yang ia alami. Dan this is my friends, the reason why I love this character so much. Saya juga yakin, saking kompleksnya karakter Guts, kita bisa membuat satu artikel panjang untuk dirinya seorang.





Akhirnya, selesai juga artikel yang saya buat dadakan ini. Mood menonton sedikit menghilang belakangan ini, namun rasanya sayang juga kalo saya tidak menulis apapun dalam blog, jadi ya inilah hasilnya. Semoga bisa memberikan hiburan bagi kalian yang membacanya. Untuk kalian yang penggemar animanga seperti saya, mari berdiskusi di kolom komentar, karakter animanga mana yang kalian paling sukai. Lumayan juga untuk saya mendapatkan referensi berbagai animanga dari kalian juga. Thanks for reading.





Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!