Showing posts with label Biography. Show all posts
Showing posts with label Biography. Show all posts

Wednesday, 29 January 2020


"Just 'cause millions of people aren't cheering when you do it, it doesn't mean it's not important"- Saraya

Plot 

Lahir dalam keluarga yang lekat dengan dunia gulat, Saraya (Florence Pugh) dan Zak (Jack Lowden) membantu promosi gulat independen kecil milik kedua orang tua mereka, Ricky (Nick Frost) dan Julia (Lena Headey) yang bernama World Association of Wrestling (WAW). Bersama Saraya, Zack juga ikut melatih anak-anak muda untuk bergulat di promosi tersebut, sembari tetap mengadakan event kecil-kecilan untuk menghasilkan uang. Keduanya ingin menggapai mimpi mereka untuk bisa tampil di event gulat terbesar di dunia, WWE (World Wrestling Entertainment). Rekaman bergulat Zak dan Saraya dikirimkan ke WWE, dan kesempatan tersebut datang ketika Hutch Morgan (Vince Vaughn), trainer yang bekerja untuk WWE, memanggil Zak dan Saraya untuk berpartisipasi di try out pada episode Smackdown di London.




Review

Dengan deretan film-film yang selama ini telah WWE produksi, setidaknya film seperti The Scorpion King dan Rundown yang cukup menghasilkan kesuksesan. Selebihnya, kebanyakan film-film tersebut harus dirilis langsung ke dalam bentuk DVD atau straight to video, bukti bila kebanyakan atau hampir semua film rilisan WWE berakhir dengan mengenaskan, entah itu karena pendapatan yang tidak balik modal atau ulasan "kejam" para kritikus yang bahkan mungkin malas untuk mereview film-film ini. Kendalanya adalah selama ini, WWE studios selalu memilih mengedepankan genre aksi yang disuntikkan kepada film-film mereka. Film seperti The Marines (yang gak tahu kenapa bisa sampai hingga sekuel ke 6), 12 Round, atau Vendetta, jelas sekali jika WWE Studios begitu mencintai film aksi. Hingga membuat mereka lupa jika sebenarnya ada kisah yang bisa lebih dieksplorasi pada perjalanan setiap wrestler yang mereka miliki. Diproduksi oleh legenda hidup dari WWE, Dwayne "The Rock" Johsnon, Fighting With My Family menceritakan perjalanan karir Saraya Knight, atau yang lebih populer kita kenali sebagai Paige, dalam meraih kesuksesan di dunia gulat bersama WWE dan nantinya berhasil menjadi salah satu pegulat wanita berpengaruh dalam memantik api membara dunia gulat wanita. 

Fighting With My Family mungkin formulaic. Ya, film ini bisa dibilang tidak terlalu mengambil langkah revolusioner dalam menceritakan kisah biografi nya. Ini bukan lah sajian biografi berani layaknya Straight Outta Compton, tetapi sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Stephen Merchant mengambil approach yang bijak dalam menggulirkan narasi nya. Merchant tampaknya meyakini jika Saraya/Paige akan berhasil menjadi top divas di WWE sudah diketahui atau bahkan ditebak oleh penonton kasual yang tidak mengikuti WWE. Ya film biografi mana yang pada akhir cerita nya tidak menampilkan momen klimaks atau keberhasilan tokoh yang diangkat? Maka dari itu, narasi nya benar-benar didominasi oleh perjuangan Saraya untuk bisa bertahan ketika harus berlatih fisik maupun mental di pengembangan karir yang dinamai NXT, dan yang pasti sesuai judulnya, konflik yang dialami Saraya dengan keluarganya, terutama dengan Zak. Justru untuk saya, kepingan-kepingan story arc milik Zak lah yang berhasil muncul menjadi pembeda di bagian narasi.

Dunia gulat memang tidak untuk semua orang, terutama di Indonesia. Walau sempat booming di periode awal 2000an, sajian wrestling cukup menjadi hal tabu ketika media di Indonesia menggembar-gemborkan korban-korban yang jatuh akibat mempraktekkan aksi-aksi gulat sehingga penayangan WWE (kala itu masih WWF) dihentikan sama sekali di tayangan televisi swasta. Wrestling gear para pegulat sendiri yang begitu menampilkan aurat juga sangat tidak cocok untuk Indonesia yang masih mengedepankan agama. Kondisi ini sih yang membuat saya secara sembunyi-sembunyi untuk mengikuti perkembangan dunia wrestling, apalagi kalau menonton pertarungan para pegulat wanita, udah deh, harus pintar-pintar mencari waktu dan kondisi. Ibarat kata, ketahuan menonton wrestling match sudah bisa disandingkan aib nya dengan menonton blue film.

Namun kecintaan saya yang telah tertanam di masa kecil susah untuk dihilangkan, tentu saja. Kenangan kala saya bermain gulat dengan dua kakak saya setelah menyaksikan Smackdown yang kala itu masih ditayangkan di R*TI terus terpatri di ingatan. Masih begitu lekat di ingatan ketika saya kecewa berat ketika The Rock gagal mengalahkan Triple H di event Judgement Day setelah berhasil comeback dalam pertarungan Iron Match nya. Mungkin dengan fakta ini lah, ikatan emosi telah terhubung dengan Zak dan Saraya kala di opening nya, kita menyaksikan Zak bersorak kala melihat wrestler idola nya meraih kemenangan, dan segera mempraktikkan salah satu move ke adiknya, Saraya.

Dengan berbagai momen sekilas, kita diajak Merchant untuk lebih mengenal keluarga Knight dalam mengelola bisnis gulat independen kecil milik mereka. Dari Zak yang menjadi pelatih untuk para pemuda berusia tanggung di kota Norwich, bahkan satu dari murid nya ada yang mengalami disabilitas, lalu Saraya, yang ternyata diambil dari nama panggung milik ibu nya kala berkarir di dunia gulat, juga ikut membantu Zak sebagai sparring partner baik ketika latihan atau di pertandingan resmi kecil-kecilan. Lalu tentunya ada Ricky dan Julia yang senantiasa membantu mereka berdua. Tidak ketinggalan Merchant membangun bumbu-bumbu konflik nya, seperti Saraya yang sempat dicemooh akibat penampilannya yang jauh dari kata feminim, Zak yang menanti kehadiran buah hati bersama pacarnya, Courtney (Hannah Rae) dan kesulitan finansial yang dialami keluarga Knight. Pembangunan konflik nya terasa straight to the point karena nanti kala film menginjak ke pertengahan durasi, semuanya menyatu dan memiliki pengaruh kala Fighting With My Family mulai menyentuh pada konflik utama nya, yaitu fakta dimana Zak harus menerima kenyataan jika ia tidak berhasil memenuhi kriteria standar yang dibutuhkan WWE. Dan lebih pahit nya lagi, adiknya sendiri ternyata merupakan satu-satunya kontestan yang direkrut oleh Hutch Morgan untuk bergabung dengan WWE dan mengikuti proses pengembangan bakat di NXT.

Bayangkan jika Anda di posisi Zak. Sebagai individu yang memiliki passion yang besar untuk dunia gulat, berlatih dari kecil hingga dewasa untuk meraih mimpi dan berharap akan tiba momen ribuan penonton menyerukan nama panggung Anda, harus menelan pil pahit kehidupan kala fakta tidak beriringan dengan harapan dan keinginan. Kesempatan satu kali seumur hidup gagal tercapai, ditambah harus menyaksikan adik nya sendiri yang tak disangka-sangka berhasil meraih kesempatan tersebut. Hal ini yang membuat Zak menjadi sympathetic character utama dalam kisah ini dan berhasil menjadi poin positif besar, setidaknya untuk saya. Walau cerita memang berfokus pada perjuangan kisah Saraya/Paige, namun saya senantiasa tidak sabar untuk melihat keadaan Zak. Ada rasa kekhawatiran jika ia akan mengambil langkah yang salah akibat kekecewaan yang mendalam dan menelantarkan keluarga nya, terutama Courtney dan anak nya yang baru lahir. Terlebih keluarga Knight sendiri mempunyai sejarah dengan dunia kriminal.

Untuk yang mengikuti dunia wrestling, pasti bisa memahami jika industri ini sangat lah kejam. Tidak semua orang bisa menjadi main event superstar. Kemampuan, bakat dan kerja keras tidak cukup, harus ada faktor X supaya seseorang berhasil menjadi seorang pegulat papan atas, terutama untuk perusahaan raksasa WWE. Banyak pegulat yang berbakat, namun tidak semuanya yang memiliki faktor X tersebut. Sang owner, Vince McMahon menyebutnya "brass ring", dan sekali lagi, tidak semua superstar yang memiliki itu. Bahkan top face dalam sejarah WWE seperti Stone Cold, The Rock hingga John Cena sebenarnya tidak lah memiliki skill bintang 5 jika berbicara pada aspek bergulat nya saja, namun nama-nama tersebut, di mata Vince McMahon, memiliki faktor X itu sehingga berhasil menjadi ikon dalam WWE. Hingga sekarang, WWE pun masih berusaha untuk mencari suksesor John Cena untuk menjadi top face besar layaknya dia. Naskah Merchant cukup berhasil menyinggung hal ini. Zak mungkin lebih memiliki teknik gulat lebih baik dibanding Saraya, namun bagi Hutch, Zak tidak memiliki faktor X yang bisa menghantarkannya menjadi bintang.

Berbanding terbalik dengan Saraya. Meskipun teknik nya biasa-biasa saja, tetapi Hutch melihat ada sesuatu dalam diri Saraya, yang membuatnya jauh lebih unik dibandingkan superstar wanita milik WWE lainnya. Sudah menjadi rahasia umum jika sebelum women's revolution dalam WWE, kebanyakan pegulat wanita milik WWE direkrut dari model yang diajarkan teknik-teknik bergulat, yang berfungsi untuk menjadi eye candy para penonton pria dewasa. Dari Sable, Torrie Wilson, Stacy Kiebler, divisi wanita didominasi dengan pegulat wanita yang pirang dan berbodi seksi. Bahkan living legend seperti Trish Stratus saja pada awal nya berkaris sebagai manajer seksi, sebelum akhirnya memiliki teknik wrestling yang memadai dan mendapatkan respect dari WWE Universe (sebutan WWE untuk para penggemar). Saraya berbeda karena dibanding wanita lainnya, teknik nya sudah di atas rata-rata karena telah berkarir di dalam dunia gulat semenjak dini. Mungkin karena ini lah, Hutch memilih Saraya tanpa ragu-ragu, karena ia meyakini, Saraya memiliki kapabilitas untuk menghadirkan sebuah gebrakan yang baru.

Konflik ini lah yang mengakibatkan kerenggangan akan hubungan antara Zak dan Saraya. Dari awal yang selalu berlatih bersama, mendadak hubungan antar keduanya mendingin. Terlebih Saraya harus berangkat ke negeri Amerika untuk mendapatkan pelatihan di developmental territory, NXT. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi mental keduanya. Zak kehilangan semangat untuk melatih anak didiknya di WAW karena terlalu berfokus untuk kembali mendapatkan kesempatan untuk try out untuk WWE. Sedangkan Saraya yang sebenarnya memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan teman-teman wanita nya di NXT yang kebanyakan mantan model, justru mendapatkan kesulitan akibat kehilangan daya juang. Bahkan ia tidak sengaja mempermalukan dirinya sendiri ketika ia sadar jika orang yang selama ini ia remehkan, justru memiliki fighting spirit jauh lebih besar ketimbang dirinya. Secara terpisah, keduanya berperang terhadap diri sendiri. Zak dengan rasa iri dan cemburunya, dan Saraya yang merasa tidak enakan dengan saudara nya tersebut. Hingga pada di suatu titik, keduanya bertemu kembali di dalam ring, yang awalnya mereka dipertemukan untuk menjalani rutinitas acara wrestling untuk WAW pada umumnya, menjadi panggung puncak atas drama konflik yang terjadi antara keduanya.

Mungkin adegan yang terjadi di ring tersebut tidak lah terlalu melahirkan sebuah ironi yang luar biasa, namun sudah cukup untuk membuat saya sebagai penonton menyayangkan atas situasi yang terjadi. Semua ini tentu saja berkat pondasi naskah yang solid nan kokoh dari Merchant. Kita dibuat perduli akan hubungan persaudaraan mereka, dan kita pun bingung untuk mendukung siapa karena keduanya memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yang lebih menarik bagi saya justru adu mulut yang terjadi antara Zak dan Saraya setelah turun dari ring. Kalimat dari Saraya begitu mengena untuk saya, bahwa kita telah memiliki peran ideal masing-masing. Mungkin peran tersebut tidak mendapatkan perhatian banyak orang, namun tidak melunturkan betapa penting nya peran tersebut. Tanpa Zak sadari jika ia sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan sebuah harapan untuk anak didiknya yang mungkin saja bisa terjun ke dunia kriminalitas bila tanpa bimbingannya. Jujur saja,momen ini berhasil menyentil saya

Cukup disayangkan karena perseteruan batin antara keduanya tidak memiliki konklusi yang memuaskan. Ada kesan terburu-buru untuk akhirnya dua karakter ini kembali menemukan pijakannya dan bangkit kembali. Pergerakan narasi redemption nya pun terasa generik dan bergerak biasa saja tanpa terlalu meninggalkan kesan. Di adegan akhir pun, Merchant sebenarnya cukup berlebihan dalam hal menyuntikkan elemen dramatisasinya. Untungnya minor ini tertutupi berkat performa apik para pemeran utama. Tahun 2019 tampaknya menjadi tahun dimana nama seorang Florence Pugh patut menjadi salah satu rising star yang tak bisa diremehkan. Semenjak Midsommar, Pugh telah menyajikan salah satu kekuatannya, yaitu permainan emosi yang tidak terkesan berlebihan dan hal ini ia tunjukkan di film ini. Lihatlah ekspresinya kala menahan tangisan di adegan bandara. Atau kebisuan penuh arti saat ia gagal melakukan "promo" untuk pertama kali di depan penonton. Jack Lowden bermain pada ekspresi subtil untuk menggambarkan perasaan Zak dan ia melakukannya dengan baik. Dwayne Johnson tetaplah Dwayne Johnson, berkharisma dan selalu mencuri perhatian di setiap kehadirannya. Salah satu momen terbaik film ini pun ketika ia secara tiba-tiba melakukan persona nya sebagai The Rock yang kental mengandung unsur nostalgia. Vince Vaughn juga kembali menghadirkan performa solid sebagai trainer yang tegas.

Apakah film ini hanya diperuntukkan bagi penggemar wrestling? Tentu saja tidak. Baik anda merupakan penggemar atau bukan, Anda bisa menikmati film ini karena elemen-elemen wrestling nya disuntikkan sesuai dengan porsi nya. Bahkan bila Anda pun merupakan termasuk pihak yang meremehkan industri ini, justru Anda wajib menonton nya supaya setidaknya Anda mulai bisa mengapresiasi para "pelakon" yang terlibat di dunia wrestling. Mereka yang terlibat dengan dunia ini, tidak hanya mempertaruhkan badan mereka, namun juga kehidupan, keluarga serta mimpi hanya untuk menghibur para penggemar. Saya harap, dengan keberhasilan film ini mampu membuka mata WWE Studios supaya selanjutnya bisa membuat film-film yang mengedepankan hati, ketimbang sajian aksi.

8/10

Thursday, 5 December 2019

"I prayed I'd never sin again if I could just get out of here. But then the fighting starts, and then you forget about everything. You're just trying to survive, stay alive"- Frank Sheeran

Plot

Berawal dari pertemuannya dengan Russel Bufalino (Joe Pesci), Frank Sheeran (Robert De Niro) yang awalnya hanyalah supir truk pengantar daging, semakin tenggelam dalam dunia mafia berkat pengaruh Russel yang merupakan salah satu orang paling berpengaruh di Pennsylvania. Kepercayaan yang Russel berikan kepada Frank membuat mereka berteman, dan pertemanan inilah yang mengantarkan Frank nantinya bisa bekerja menjadi pengawal pribadi Jimmy Hoffa (Al Pacino). Jimmy Hoffa sendiri adalah pemimpin serikat buruh di Amerika serta pendiri dari International Brotherhood of Teamsters.



Review

Dengan Goodfellas dan Casino, The Irishman bagaikan penutup trilogi film bertemakan mafia milik Martin Scorsese. Dua aktor yang juga terlibat di dua film tersebut ikut hadir, yaitu Robert De Niro dan Joe Pesci. The Irishman menandakan reuni panjang antara Scorsese bersama De Niro dan Pesci, dimana keduanya terakhir bekerja sama dengan Scorsese pada film Casino. Bagi Joe Pesci sendiri, ini adalah comeback nya setelah 9 tahun absen dalam dunia akting. 

Sebelumnya, saya ingin memberikan pujian kepada studio special effect Industrial Light and Magic yang bertanggung jawab "memudakan" para karakter di adegan flashback nya. Pekerjaan yang mereka lakukan nyaris sempurna, sehingga saya sering bertanya-tanya apakah proses syuting untuk bagian flashback ini dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Tentu bisa dimengerti jika budget dari film ini yang menyentuh angka 159 juta Dollar sebagian besar untuk membuat efek muda tiap karakter terlihat meyakinkan. Masih ada beberapa kekurangan pastinya, tetapi bagi saya masih bisa dimaklumi. 

The Irishman masih didominasi dengan segala tetek bengek kehidupan mafia yang mungkin telah Anda temui di film-fim mafia lainnya, seperti pengkhianatan, pengaruh mafia di dunia pemerintahan dan pastinya saling melenyapkan per individu yang dianggap bisa membahayakan organisasi. Namun yang membedakan The Irishman dengan film lainnya, termasuk Casino dan terutama Goodfellas, bagi saya adalah karakter Frank dan bagaimana Scorsese menyajikan ironi kehidupan dunia mafia nya. Biasanya protagonist utama dalam film mafia memiliki ambisi besar untuk bisa menguasai sesuatu, namun tidak untuk Frank. Disini Frank hanya lah sebagai "karyawan" yang mampu melakukan pekerjaannya dengan baik serta bisa dipercaya sehingga bos yang menyewa jasa nya pun mudah memberikan pekerjaan seberat apapun kepada Frank karena reputasinya. Tidak ada keinginan Frank untuk menjadi kepala pemimpin suatu organisasi. Tidak ada juga niat dari Frank untuk mengkhianati bos yang mempekerjakannya. Yah, setidaknya nanti kala ia harus menjalankan pekerjaan yang mungkin paling berat serta mempengaruhi kehidupannya.

Mengenai ironi yang saya sebut sebelumnya, bila pada Goodfellas serta Casino, Scorsese menyajikan glorifikasi dunia hitam mafia, dengan karakternya menghambur-hamburkan uang yang banyak, bermain wanita, dan sesuka hati bisa menghabisi seseorang dengan alasan apapun, tidak perduli apakah masuk akal atau tidak. Berkat itu juga Goodfellas dan Casino terasa menyenangkan, meskipun film nya sendiri begitu kental dengan dunia kriminalitas. Namun tidak untuk The Irishman. Bila dalam Goodfellas, tiap karakter diberikan kesempatan untuk memperlihatkan keberhasilan atas pekerjaan yang dilakukan, dalam The Irishman, Scorsese memperlihatkan akan busuknya kehidupan mafia yang kejam.  Lengkap pula dengan bagian aftermath yang terdapat dalam film ini, namun minus di dua film predesor. Ya, dengan aftermath yang tersaji, Scorsese menyajikan sebuah fakta pahit yang harus diterima satu karakter. Sebuah hasil memilukan yang tak terlepas dari semua pekerjaan kotor yang telah dilakukan. 

The Irishman terasa begitu padat berkat segala konspirasi serta konflik-konflik yang terjadi. Tidak hanya itu, begitu banyak karakter-karakter yang terlibat dan berpengaruh pada keberlangsungan narasi. Maka merupakan hal yang wajar jika penonton sedikit tersesat, merasa bingung siapa karakter ini dan kapan sebelumnya karakter ini diperkenalkan. Percayalah, Scorsese telah berusaha sebisa mungkin untuk membantu penonton untuk tidak merasakan kebingungan. Terlihat dimana Scorsese berbaik hati menyertakan nama masing-masing karakter pada saat diperkenalkan, lengkap pula dengan "berita" kematian masing-masing dari karakter.

Kenyataan bila naskah yang diadaptasi dari buku Charles Brandt terasa sangat padat, begitu banyak nya karakter serta durasinya yang bukan main panjangnya untuk saya merupakan hal positif serta negatif dari The Irishman. Negatifnya, tentu film ini kurang bisa mencengkeram penonton kasual yang belum pernah mencicipi film Scorsese sebelumnya. The Irishman bertumpu sepenuhnya dengan banter dialognya yang banyak, serta narasi yang disuarakan oleh De Niro sendiri. Melelahkan? Tentu saja, jika Anda, sekali lagi belum pernah menyentuh film-film Scorsese sama sekali. Dan sekali lagi, durasi 3 jam lebihnya benar-benar menuntut kesabaran penonton.

Namun jika Anda merupakan penggemar film, atau lebih tepatnya penggemar Scorsese, The Irishman jelas merupakan sajian mafia epic yang tidak cukup hanya ditonton sekali saja. Berbagai poin cerita mungkin terlupa dengan seiring durasi berjalan, namun itu tidak masalah karena The Irishman sudah berhasil mengikat dengan narasinya. Tentu untuk saya sendiri, The Irishman tidak cukup ditonton sekali saja. Ada perasaan ingin menonton kembali dari awal, karena selain kisahnya sendiri yang benar-benar menarik (kisah dunia underworld memang tak bisa disangkal selalu menarik untuk diikuti), namun juga berkat penyutradaraan dari Scorsese yang semakin menunjukkan tajinya walau telah berusia cukup uzur.

Identitas gaya penyutradaraan Scorsese tentu saja masih mudah terasa. Opening nya saja ia tampilkan dengan tracking shot ciri khas Scorsese, sebelum kita akhirnya melihat sosok Frank yang sedang duduk di kursi roda nya, dan seketika breaking the 4th wall pun sudah hadir, dimana Frank pun mulai menceritakan kisah nya sambil menatap ke kamera. Voice over mendominasi dalam jalannya menit-menit film berjalan untuk membantu penonton supaya tidak terlalu bingung dengan rumitnya penceritaan yang ada. 

Di atas kertas, film Scorsese yang ke 26 ini terlihat kelam, namun fakta di lapangan cukup berbeda, dimana Scorsese masih menyelipkan beberapa black comedy yang bisa membuat mu tertawa, setidaknya untuk saya. Dan mengejutkannya lagi, Al Pacino, yang baru pertama kali bekerja sama dengan Scorsese, merupakan penyumbang tawa terbanyak berkat karakternya yang keras kepala, kharismatik dan memiliki masalah pada short temper nya. Komentarnya mengenai nama "Tony" yang begitu mainstream untuk orang kelahiran Italia adalah satu dari sekian banyak nya Al Pacino mampu membuat saya tertawa di kala adegan yang sebenarnya bisa meningkatkan tensi ketegangan. Naskah dari Steven Zaillian begitu pintar dalam menyajikan humor nya yang pas akan timing serta berkelas. 

Akting yang begitu berenergi dari Al Pacino turut pula diimbangi dengan penampilan memuaskan dari Robert De Niro dan Joe Pesci. Pesci sendiri memerankan karakter yang begitu berbeda dibandingkan dengan dua peran sebelumnya di Goodfellas dan Casino. Disini ia tampil dengan lebih tenang, lebih mengandalkan baris dialog untuk menunjukkan kewibawaan tanpa menghilangkan atmosfir intimidatif dari karakternya. De Niro pun tampil luar biasa sebagai protagonist utama dalam menampilkan konflik batin dari Frank dengan memanfaatkan ekspresi muka yang subtil, kaya makna, serta tatapan mata nya yang sayu akibat dari kondisi yang tidak mengijinkannya untuk mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri. Tidak heran jika nantinya ketiga nama aktor veteran ini akan tampil di daftar nominasi aktor utama/pendukung terbaik di perhelatan Oscar tahun depan.

Momen terbaik The Irishman sendiri adalah ketika Frank dihadapkan pada dilema yang memaksanya harus menghadapi keputusan yang sangat sulit. Dari sini, Scorsese meminimalisir penggunaan soundtrack-soundtrack nya demi mengoptimalkan ketegangan di setiap adegan. Slow build yang dilakukan Scorsese kala Frank menginjakkan kaki di kota Detroit berhasil memaksa saya ikut merasakan kegelisahan serta dilematis yang dirasakan Frank. Apakah ia harus mengikuti perintah dari orang yang telah membesarkannya atau menyelamatkan salah satu teman terdekatnya. Yang mana pun nanti ia pilih, tentu tidak akan berdampak baik untuk Frank. Disinilah The Irishman menunjukkan betapa pahitnya dunia mafia yang Frank geluti. 

Begitu ironis kala Frank rela melakukan berbagai kejahatan tentunya untuk membuat keluarganya sejahtera dan hidup tenang. Frank begitu menyayangi keluarganya, bahkan ketika salah satu putrinya didorong oleh pemilik toko roti, Frank tanpa pikir panjang menghampiri dan menghajar pemilik tersebut. Namun pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan Frank tetaplah kejahatan dan semua benih kejahatan yang ia lakukan harus memaksanya untuk semakin menjauh dari keluarga, terutama anak-anaknya. Bisa saja Frank melakukan pekerjaannya sebagai hitman dengan brilian, namun bukan berarti ia juga berhasil menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. 

Setelah sebelumnya kita menyaksikan semua intrik serta konflik yang terjadi, 30 menit terakhir dalam The Irishman justru tampil dengan sunyi. Mengeksplorasi kehidupan tua dari satu karakter yang penuh dengan penyesalan, bersalah atas semua kesalahan yang telah dilakukan, tanpa seorang pun disisinya. Meninggalkan ia sendiri setelah yang terkasih, teman atau bahkan musuhnya telah berkunjung ke kehidupan selanjutnya terlebih dulu. Kehidupan masa tua nya ini seolah merupakan pembalasan atas masa lalu akibat penyakit yang diderita, rasa berdosa dan sesal, juga kesendirian yang harus ia tempuh. Sebuah aftermath yang cukup emosional dan sempurna untuk menutup kisah epik dari Scorsese ini. 

9/10

Sunday, 17 November 2019

"A king has no friends. Only followers and foe"- Sir John Falstaff

Plot

Hal (Timothee Chalamet), pangeran berjiwa bebas serta pewaris sah akan tahta kerajaan Inggris, harus segera mengisi kursi raja setelah wafatnya sang ayah, King Henry IV (Ben Mendelsohn), akibat penyakit. Didorong oleh rasa benci dan hubungan tidak baik dengan ayahnya, Hal berkeinginan untuk menjadi raja yang berkuasa atas idealisme nya sendiri, serta membuktikan jika ia adalah raja yang jauh lebih baik ketimbang ayahnya. Niat dari Hal ini bukan hal yang mudah dipertahankan mengingat kekacauan dan konflik yang ditinggalkan oleh sang ayah bersama kerajaan yang lain.




Review

Umurnya belum genap 24 tahun, namun aktor muda Timothy Chalamet telah memiliki pengalaman berakting yang tidak bisa diremehkan. Chalamet merupakan salah satu aktor muda saat ini yang diyakini akan memiliki masa depan yang cemerlang sebagai aktor. Sebelum 2 tahun lalu ia mengangkat nama lewat Call Me by Your Name, yang pula mengantarkan dirinya mendapatkan nominasi Oscar pertama untuknya, Chalamet telah mencuri perhatian melalui penampilan mengesankan di film Miss Stevens dan Lady Bird. Tidak berlebihan jika banyak menganggap dirinya adalah sebagai aktor muda terbaik saat ini dan digadang-gadang sebagai the next Leonardo Dicaprio.

Dalam The King, Chalamet kembali menunjukkan performa yang prima sebagai raja muda yang masih hijau dalam menangani seluk beluk mengenai kerajaan. Tentu bukan sembarang aktor untuk bisa memerankan seorang raja. Perlu kharisma dan kewibawaan tingkat tinggi untuk bisa meyakinkan penonton jika ia layak untuk menjadi seorang raja, dan Chalamet memiliki ini. Tanpa tahta menghiasi kepalanya, telah terpancar kharisma seorang pria yang patut disegani dari Chalamet. Terlihat kala dalam satu adegan ketika ia satu layar dengan adik dari Hal, Thomas (Dean-Charles Chapman), penonton sudah bisa merasakan jika Hal lebih layak menjadi raja ketimbang Thomas. Dalam menunjukkan kemampuan akting, tatapan mata senantiasa ia jadikan wadah untuk berbicara kepada penonton sebagai gambaran suasana hati yang sedang dirasakan karakter nya. 

Kematangan akting dari Chalamet berperan cukup besar untuk bisa membuat saya betah senantiasa mengikuti film keluaran dari Netflix ini. Jujur, film bertemakan kerajaan bukanlah selera saya. Apalagi The King memiliki tempo lambat dengan minim intensitas ketegangan, sebelum nantinya pasukan Inggris yang diketuai Hal sebagai King Henry V menginjakkan kaki di wilayah Prancis untuk berperang. Untungnya, naskah garapan Joel Edgerton dan David Michod, yang juga duduk di kursi sutradara, cukup solid.

Ada konflik yang tersaji di dalam kerajaan, dari isu siapa yang sebaiknya menjadi pengganti King Henry IV, serta tidak berpengalamannya Hal ketika ia telah menduduki kursi raja. Keinginan Hal sebenarnya hanya satu, yaitu ia tidak ingin mencontoh cara berkuasa sang ayah. Karena itu sebisa mungkin ia menjauhi konflik dan memprioritaskan kedamaian. Namun tentunya keinginan ini tidak bertahan lama ketika ia didesak oleh beberapa situasi yang mempertaruhkan harga diri kerajaan Inggris. Tidak hanya itu, kapabilitas Hal sebagai raja pun juga ikut dipertaruhkan. Setidaknya satu jam pertama, narasi cerita dipenuhi akan konflik apakah nantinya Hal tetap ingin menjadi raja sesuai keinginannya atau ia harus menunjukkan "kekejaman" layaknya raja sebelumnya untuk membuktikan jika ia pantas untuk menjadi raja.

Walau memang sekali lagi temponya berjalan lambat, tetapi narasi ini telah menjadi fondasi yang cukup kuat untuk menjembatani pada adegan perperangan yang menjadi klimaksnya. Perperangan yang terjadi sebenarnya tidak lah menunjukkan hal yang baru, bahkan bisa dibilang bagaikan copy paste dari Battle of Bastard nya Game of Thrones, dengan mengandalkan teror claustrophobic untuk membuat penonton menahan nafas. Glorifikasi dikesampingkan dimana Michod lebih memilih menyajikan perang nya serealistis mungkin lengkap dengan lumpur tanah yang menambah kesan sesak akibat ruang untuk bergerak begitu sempit. Pilihan yang patut diapresiasi karena mampu menggambarkan neraka akan perperangan. Namun perang antara Inggris dan Prancis ini cukup terasa menegangkan dikarenakan adanya narasi yang solid sebelumnya. Pada perang inilah terlihat apakah Hal layak menjadi raja atau tidak. Dari perang ini pula lah, keputusan Hal untuk mengangkat temannya sebelum menjadi raja yang merupakan mantan prajurit pemabuk dan hobi merampok, John Falstaff (Joel Edgerton) sebagai taktikal perang adalah keputusan yang keliru atau tidak. 

Joel Edgerton sendiri bermain memukau dengan memerankan seorang mentor sekaligus teman bagi Hal. Karakter nya senantiasa menjadi moral compass untuk tetap membimbing Hal supaya dirinya tidak kehilangan jati diri sebenarnya. Namun yang menjadi scene stealer sendiri adalah Robert Pattinson yang berperan sebagai pangeran Prancis eksentrik, Dauphin. Akting yang ia tampilkan disini semakin menambah keyakinan saya jika nanti ia tidak akan mengecewakan kala ia memerankan Bruce Wayne di film The Batman mendatang. 

Michod pun menutup kisah The King dengan menampilkan fakta menghenyak, yang semakin menguatkan jika Hal tidak akan bisa menjadi raja yang sesungguhnya jika ia tidak memiliki orang terpercaya di dekatnya. Walau keakuratan sejarah dari film ini patut dipertanyakan, namun tak tertampik jika The King merupakan sajian film historical drama yang cukup menghibur berkat narasinya yang solid serta penampilan memukau para aktor nya. Kredit lebih juga patut diberikan untuk sinematografer, Adam Arkapaw, dalam kemampuannya menghadirkan gambar demi gambar yang memanjakan mata.

7,75/10

Thursday, 7 February 2019


"Tell you what it is, Mr. Reid. Now, we're four misfits who don't belong together, we're playing for the other misfits. They're the outcasts, right at the back of the room. We're pretty sure they don't belong either. We belong to them."-Freddie Mercury

Plot

Menceritakan perjalanan karir dari seorang Freddie Mercury (Rami Malek) bersama band nya, Queen, beserta kehidupannya yang kontroversial.




Review

Kurang lebih sudah 4 bulan film nya turun dari layar bioskop Indonesia. Euforianya tentu telah lama berlalu dan here I am, dengan tanpa malunya baru menulis kesan menyaksikan drama kehidupan salah satu (jika bukan) vokalis band terbaik sepanjang masa, yaitu Freddie Mercury. Saya menyadari rasanya telah telat sekali membahas film satu ini yang diangkat dari judul lagu monumental milik Queen ini. Tetapi mau bagaimana lagi, perasaan berdosa rasanya akan menghantui saya jika saya lancang untuk tidak menggambarkan kesan saya akan film ini karena saya sangat mengagumi band Queen dengan semua hits nya yang sukar dilupakan, band yang berpengaruh besar dalam menjadikan saya mencintai dunia musik. Sama seperti sosok Freddie Mercury, Film Bohemian Rhapsody memang tidaklah sempurna, tetapi saya rasa film ini telah berhasil dalam "mempromosikan" kembali kepada penikmat musik, terutama untuk kaum milenial kelahiran tahun 2000-an jika di dunia ini, sempat terlahir band ikonik dan memorable yang begitu di cintai pada zamannya.

Bohemian Rhapsody dibuka dengan persiapan Freddie untuk menghadiri salah satu konser termegah yang pernah dilaksanakan, Live Aied. Apakah penampilan Freddie bersama band nya merupakan adegan opening film ini? Tentu tidak, karena film pun bergerak mundur sebelum Freddie menaiki panggung nya. Narasi mundur ke belakang, tepatnya pada tahun 1970, dimana sosok Freddie yang masih menyandang nama kelahirannya, Faroukh Bulsara. Freddie pun masih tinggal bersama keluarganya. Dari momen singkat, kita bisa melihat bila Freddie memiliki konflik dengan ayahnya, Bomi (Ace Bhatti). Tidak lama setelah itu, narasi mulai menceritakan bagaimana awal mula band Queen berdiri. Dari Freddie yang "mengaudisikan" dirinya sendiri di hadapan Brian May (Gwilyn Lee) dan Roger Taylor (Ben Hardy) yang baru saja ditinggalkan penyanyi bnd mereka, kemudian penampilan perdana Freddie hingga akhirnya memutuskan membuat album untuk Queen dan seterusnya. Hingga tirai panggung pertama dituutp dengan lahirnya sebuah lagu yang tidak akan pernah habis di makan zaman, apalagi kalau bukan Bohemian Rhapsody. Sebuah lagu yang kerap dinobatkan sebagai lagu terbaik sepanjang masa.

Penceritaan yang masih terpusat pada awal mula karir Queen ini jelas telah memikat perhatian saya. Naskah yang ditulis oleh duo Anthony McCarten dan Peter Morgan mengajak kita untuk melihat interaksi antar anggota band, juga tidak lupa cerita dibalik lagu BoRhap yang sempat mendapatkan kendala akibat pihak produser label yang merasa lagu tersebut terlalu aneh dan durasinya cukup lama untuk diputar di radio. FYI, di momen ini, duo McCarten-Morgan menyelipkan meta jokes yang melibatkan karakter Mike Myers. Konflik kecil seperti pemilihan lagu yang layak dimasukkan kedalam album pun tidak lupa di sisipkan, yang disajikan dengan cukup jenaka, terutama mengenai judul lagu "I'm In Love With My Car" hasil karya dari Taylor.

Harus diakui, untuk ukuran film biografi keluaran tahun 2018, Bohemian Rhapsody menggunakan formula yang cukup klasik. Apalagi sebelumnya kita telah menyaksikan film biografi yang jauh lebih berani macam Straight Outta Compton (2015). Hal ini cukup menjadi kontradiksi sendiri karena, hey, ini film tentang Queen, tentang Freddie Mercury, yang telah dikenal akan keberanian mereka dalam bereksperimen nya dalam musik. Bahkan, maha karya Bohemian Rhapsody pun terlahir dari keberanian Queen untuk melakukan gebrakan di dunia musik, seperti adanya unsur opera, istilah-istilah asing yang mungkin hanya Tuhan dan Freddie saja yang mengetahui mengapa dimasukkan dalam lagu tersebut, dan pastinya panjang durasinya. Bryan Singer (yang digantikan oleh Dexter Fletcher) seolah enggan untuk menampilkan kisah Freddie Mercury lebih berani.

Fokus penceritaan pun menjadi persoalan tersendiri, terutama kala film mulai memusatkan penceritaan kepada Freddie Mercury. Ada beberapa persoalan yang ingin diangkat, dari kehidupan pribadi, mulai retaknya hubungan Freddie bersama anggota Queen lainnya, orientasi seksual hingga pesta seks Freddie yang terpengaruh oleh Paul Prenter (Allen Leech) sehingga hubungannya bersama Mary (Lucy Boynton) mulai goyah, namun semuanya tidak terlalu dikulik lebih dalam. Bahkan kisah asmara Freddie-Mary pun urung mendapatkan momen personal sehingga tidak salah bila penonton sedikit melupakan hubungan mereka berdua. Konflik nya bersama mantan manajer John Reid (Aidan Gillen) dan Paul pun hanya sebatas lewat saja. Padahal konflik ini mampu menjembatani pandangan media terhadap orientasi seksual Freddie yang tentunya masih menjadi isu yang tabu pada periode 70-80an sehingga mampu memperkaya konfliknya. Penanganan akan momen reuni Freddie bersama Brian May, Roger Taylor dan John Deacon pun terasa terburu-buru, meski tidak ditampik ketika Freddie menyatakan kondisinya di depan mereka bertiga cukup emosional.

Namun lemahnya narasi di pertengahan sanggup dibayar tuntas oleh Singer di bagian penutupnya, ketika Queen akhirnya berhasil manggung di konser Live Aid. Mustahil rasanya untuk tidak emosional kala melihat sosok Freddie yang menumpahkan segala emosinya di setiap gerakan maupun mimik muka dalam penampilannya. Hal itu pun ikut dibantu pula akan penyutradaraan Singer yang menggerakkan kamera begitu dinamis yang mampu menangkap setiap detik penampilan Queen. Keputusan Singer yang tidak mencampur adukkan momen-momen flashback pada penampilan tersebut juga patut diapresiasi sehingga penonton pun mudah untuk memusatkan perhatian kepada aksi panggung Queen saja. Air mata saya pun terpaksa tumpah kala track ikonik milik Queen lainnya yaitu We Are The Champions mulai berkumandang. Semua pahitnya kehidupan yang telah dilalui Freddie tercurahkan dengan satu lagu tersebut berhasil memberikan dampak beberapa kali lipat kepada penontonnya yang telah ikut menjadi saksi kehidupan Freddie.

Keputusan pihak Academy Awards untuk menyertakan Bohemian Rhapsody di nominasi Best Picture tahun ini mungkin patut dipertanyakan, namun rasanya tidak ada yang protes dengan masuknya Rami Malek di nominasi Best Actor, bahkan dirinya berhasil menjadi unggulan utama untuk merebut piala Oscar. Walau dari tampilan muka Malek tidak terlalu mirip dengan Freddie, namun kekurangan tersebut berhasil ia tutupi dengan berusaha untuk bisa semirip mungkin dengan sosok mendiang Freddie dari gestur tubuh maupun mimik muka. Lihatlah bagaimana dengan secara meyakinkannya ia menghidupkan kembali seorang Freddie Mercury di atas panggung. Malek pun berhasil memerankan Freddie yang mudah dicintai ataupun dimaklumi, terlepas dari segala flaw nya sebagai manusia.

Bohemian Rhapsody memiliki potensi untuk menjadi film biografi yang jujur serta ikonik layaknya Freddie ataupun Queen, serta melihat lebih jauh akan sosok Freddie Mercury, sayang memang potensi tersebut tidak mampu di manfaatkan secara maksimal. Kelemahan narasi di pertengahan tentu tidak bisa diabaikan, namun rasanya mudah untuk memaafkan segala minus tersebut setelah third act nya yang luar biasa menghibur.

8/10 

Tuesday, 22 January 2019

"God bless white America"- Ron Stallworth

Plot

Sebagai polisi berkulit hitam di Colorado Police Department, Ron Stallworth (John David Washington) seolah ingin membuktikan dirinya sebagai polisi. Bosan ditugaskan di bagian kearsipan, Ron meminta kepada Chief Bridges (Robert John Burke) untuk ditempatkan dibagian intel. Bridges pun mengabulkan keinginan Ron dan memberikan kepada Ron sebuah tugas memata-matai pergerakan civil rights yang diketuai Kwame Ture (Corey Hawkins). Di tugas pertamanya itu pula ia bertemu dengan presiden Black Student Union, Patrice Dumas (Laura Harrier). Tidak cukup dengan itu, Ron memutuskan juga untuk mencoba masuk ke dalam organisasi Ku Klux Klan. Dibantu koleganya, Flip Zimmerman (Adam Driver) dan Jimmy Creek (Michael Buscemi), Ron mencoba menghentikan perseteruan antar kedua organisasi tersebut yang tinggal menunggu waktu saja untuk terjadi.




 Review

Polisi berkulit hitam yang mencoba memata-matai suatu organisasi yang notabenenya telah terkenal akan kebencian mereka terhadap warga berkulit hitam. Terdengar aneh, tidak masuk akal dan menarik? Yap, itulah fokus utama penceritaan Blackkklansman. Namun sesuai dengan tagline di awal nya, Dis joint is based upon some fo' real, fo' real shit. Spike Lee sengaja meyakinkan penontonnya dengan dua kali penekanan "fo' real, fo' real shit" karena saya yakin Lee pun menyadari bila kisah Ron Stallworth ini sulit untuk dipercaya, namun bukankah memang terkadang kisah di dunia nyata bisa seaneh dengan cerita di dunia fiksi?

Blackkklansman dibuka dengan pidato dari Dr. Kennebrew Beauregard (Alec Baldwin) dan dari pidato tersebut Lee ingin menggambarkan bagaimana film nya ini akan berjalan. Sebuah sajian yang mengangkat isu serius dan menyeramkan namun diselipi dengan kejenakaan yang bisa saja membuat penonton terpingkal, sama seperti pidato yang dibawakan Dr. Kennebrew. Keputusan Lee yang menyajikan film ini dengan selipan humor membuat Blackkklansman menjadi totnonan yang lebih ringan dan mudah untuk diikuti terlepas dari suguhan konflik perseteruan politik yang tengah terjadi. Humor nya efektif dan tidak mendistraksi penonton dari fokus utama penceritaan, seperti contoh nya ketika Ron mengajari Flip supaya bisa berbicara seperti dirinya untuk bisa meyakinkan anggota KKK bila Flip adalah Ron Stallworth sebenarnya. Dan misi mata-mata inilah yang merupakan faktor terkuat Blackkklansman.

Tensi ketegangan tidak pernah terasa turun kala karakter Adam Driver melakukan tugasnya, terutama setiap ia berkonfrontasi dengan Felix yang diperankan begitu intimidatif oleh Jasper Pääkkönen dengan kecurigaannya pada Flip. Dan jujur saja dengan penceritaan ini, karakter Flip terasa lebih menarik dibandingkan Ron sendiri. Awalnya Flip merupakan pemuda yahudi yang malah tidak terlalu memiliki keterikatan batin dengan identitasnya itu, tetapi seiring dengan berjalan waktu dalam menjalankan tugasnya dan mengetahui kebencian yang begitu mendalam dari tiap anggota KKK, muncul rasa yang aneh di dalam diri Flip dan lamban laun ia tidak bisa membohongi jika ia tetaplah memiliki darah Yahudi di dalamnya. Adam Driver kembali mengeluarkan akting primanya dan saya rasa ia layak dinominasikan sebagai aktor pendukung pria terbaik di gelaran Oscar nanti. John David Washington juga sebenarnya tidak bermain mengecewakan, namun harus saya akui, karakternya yang tidak diberikan pendalaman membuat dirinya sedikit tenggelam dibandingkan Driver ataupun Pääkkönen. 

Blackkklansman memiliki sedikit kelemahan pada elemen pacing dan juga durasinya yang cukup panjang. Ada beberapa adegan yang saya rasa bisa dipotong durasinya, salah satu contoh nya adalah adegan dimana dua pertemuan di tempat berbeda dari kelompok pergerakan revolusi kulit hitam dan KKK yang saya rasa cukup terasa dragging nya. Hubungan antara Ron-Patrice juga tidak terlalu engaging sehingga saya tidak terlalu memperdulikan hubungan spesial yang terjadi diantara mereka. 



7,75/10

Sunday, 18 March 2018

"Los Angeles. Everybody want to be star. All the pretty boys. They're lining up for the big shot"- Tommy Wiseau

Plot

Impian Greg (Dave Franco) untuk menjadi aktor besar harus terhalang akibat kekakuan nya dalam berakting. Kesulitan Greg mengeluarkan seluruh ekspresinya di atas panggung terus menerus terjadi, bahkan kala berlatih akting. Hal yang berbeda justru diperlihatkan oleh Tommy (James Franco) yang juga ikut kelas yang sama dengan Greg, dimana ia berhasil mengeluarkan seluruh ekspresi di atas panggung, walau cenderung berlebihan. Penampilan gila-gilaan dari Tommy sontak mencuri perhatian Greg, dan tidak lama setelah itu, mereka pun berteman dekat. Keduanya sama-sama memiliki impian untuk menjadi artis besar dan terkenal. Untuk mengejar impian tersebut, Tommy mengajak Greg pindah ke Los Angeles, yang tentu saja langsung diterima oleh Greg. Perjalanan mengejar mimpi mereka pun dimulai.




Review

Tidak semua aktor memiliki talenta luar biasa layaknya Marlon Brando, Robert De Niro, Al Pacino ataupun Daniel Day Lewis. Tidak juga semua sutradara selalu menelurkan karya masterpiece dan sukses layaknya Steven Spielberg, James Cameron, Martin Scorsese dan Christopher Nolan. Lalu, apakah dengah kenyataan tersebut kita berhenti untuk mengejar mimpi untuk berkarya di panggung sebesar Hollywood? Dunia Hollywood itu kejam dan keras, semua orang tahu akan kenyataan tersebut. Maka, tentu bukan sembarang orang yang berhasil berkarier begitu panjang di hingar bingar dunia tersebut.  Tidak cukup hanya mengandalkan talenta berakting ataupun faktor fisik yang menjual. Butuh dedikasi yang tinggi, pengorbanan yang tidak sedikit, serta tidak jarang faktor keberuntungan pun ikut mempengaruhi. Pertanyaannya, bagaimana jika ada orang yang minim akan bakat berakting, memiliki perawakan yang cenderung menyeramkan, namun tetap berusaha menggapai mimpinya untuk memiliki karir di dunia Hollywood?

Tommy Wiseau adalah orang tersebut, dan untuk kalian yang masih terdengar asing akan nama tersebut, saya bisa mengerti karena memang Tommy Wiseau tidak lah memiliki nama besar layaknya Tom Hanks, Johnny Depp atau Will Smith. Nama Tommy Wiseau terangkat berkat karya "one hit wonder" nya yaitu The Room, film keluaran 15 tahun lalu yang berhasil mendapatkan status cult classic dan melahirkan banyak penggemar akan film tersebut. Jika Anda juga belum pernah mendengar film tersebut apalagi menontonnya, lebih baik saya beritahu sekarang. The Room is  really, really, really, really terrible. Saking jeleknya, adegan yang diniati emosional dalam film tersebut menjadi terlihat konyol serta cringeworthy. Tapi tak disangka-sangka, film tersebut memiliki magis yang luar biasa, yang membuat para penonton terus menerus ingin membicarakannya dan mungkin juga ingin kembali menyaksikan film buruk tersebut. Dengan alasan ini lah, The Room menyandang status klasik di kategori film "it's so bad, it's so good". Mungkin tidak akan ada lagi film yang mampu menyaingi The Room dalam kategori ini. 

Setelah menyaksikan The Room untuk pertama kali, saya memiliki begitu banyak pertanyaan. Bagaimana Tommy Wiseau terpikir menciptakan film seperti ini? Bagaimana proses pembuatannya? Apa yang dipikirkan tiap aktor maupun para kru kala menjalankan proses syuting? Dan yang paling utama, Apa yang membuat Tommy Wiseau begitu pede nya dengan mendanai seluruh dana pembuatan untuk karya yang maaf saja sangat amburadul tersebut? Dari mana sumber biaya yang dimiliki Tommy Wiseau? Siapa sebenarnya Tommy Wiseau? James Franco pun mencoba memberikan jawaban nya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan mengadaptasi dari buku yang ditulis juga oleh sahabat Tommy Wiseau, Greg Sestero, yaitu "The Disaster Artist: My Life Inside the Room, The Greatest Bad Movie Ever Made", James Franco memperlihatkan bagaimana proses The Room dibuat. Namun sebelum kesana, kita diajak untuk berkenalan dulu dengan dua pihak yang paling bertanggung jawab akan lahirnya The Room, siapa lagi kalau bukan Tommy Wiseau dan Greg Sestero

Tommy dan Greg pada dasarnya tidak lah berbeda dengan para pemimpi lainnya yang mendapati jalan terjal untuk mendapatkan mimpi tersebut. Tommy dan Greg tidak memiliki bakat dalam berakting. Greg yang senantiasa kaku untuk berekspresi, dan Tommy yang selalu kesulitan menjalankan peran akibat aksen yang ia keluarkan terdengar begitu aneh. Pada akhirnya, keduanya pun menemukan jalan buntu dalam mengejar mimpi mereka. 

Dari sini lah kita diajak untuk mengenal sosok Tommy Wiseau. Kita memahami motivasi yang mendorongnya hingga akhirnya ia tergerak untuk membuat film sendiri. Tommy adalah korban dari orang yang hanya menilai dari penampilan. Tommy berpenampilan begitu eksentrik, dengan rambut panjang yang menjadi ciri khasnya, ditambah pula aksennya yang terdengar begitu asing dan aneh, kesan "villain" tentu mudah didapat dari sosok Tommy yang memang memancarkan akan kesan seperti itu. Hal itu lah yang hendak dilawan oleh Tommy dan ingin membuktikan jika ia bukanlah "villain". Dengan alasan itu pula, Tommy menolak memerankan karakter penjahat dalam suatu kesempatan. Ia ingin dunia mengenal nya sebagai sosok yang penuh kasih sayang, cinta damai, dan berharap publik tidak hanya menilainya dari penampilan. Alasan ini lah yang melatarbelakangi karakter Johhny yang ia perankan dalam film The Room.

Sentuhan yang diberikan James Franco terhadap karakter Tommy yang begitu manusiawi adalah poin unggulan dalam The Disaster Artist. Kita melihat sosok Tommy yang begitu berdedikasi tinggi untuk mendapatkan apa yang ia mau, tidak perduli berapa dana yang harus ia keluarkan. Sayang memang, tidak semua orang yang mengerti akan visi dari Tommy. Dirinya kesepian karena absennya seseorang yang mendampingi karena orang lain memandangnya hanyalah sebagai orang yang aneh dan terlalu narsis. Bahkan para kru atau artis yang bekerja dengannya tidak mempercayai Tommy, bahkan tidak menyukai Tommy. Proses syuting pun sering terhambat didasari akan keegoisan seorang Tommy. Tidak jarang ia memperlakukan para aktor maupun krunya dengan tidak manusiawi. Hal tersebut lah yang mendasari mengapa dirinya sedikit over protektive terhadap Greg. Baginya, Greg adalah teman pertamanya. Greg juga lah yang bisa mengerti akan keeksentrikan seorang Tommy. Untuk Greg sendiri, Tommy adalah sosok yang berhasil mengeluarkan segala kemampuan aktingnya. Berkat Tommy, Greg lebih mudah mendapatkan kepercayaan diri. Jalinan persahabatan ini terasa kuat berkat kesan saling mengisi satu sama lain, terlebih lagi chemistry meyakinkan dari Franco's brothers. Sebagai catatan, ini untuk pertama kalinya mereka bekerja sama dalam satu film.

James Franco kerap dikritik karena dirinya begitu fluktuatif dalam berakting. Kadang ia memberikan performa yang mengagumkan, namun tidak jarang juga ia tampil mengecewakan atau biasa-biasa saja. Namun di The Disaster Artist, James Franco memberikan penampilan terbaik nya sepanjang karirnya sebagai aktor. Tentu bukan pekerjaan mudah untuk meniru seseorang hingga ke detil-detil kecil, namun James Franco melakukan hal tersebut dalam film ini. Lihatlah bagaimana ia mereplika sosok Tommy Wiseau, dari tawa canggung, berjalan, berbicara dengan aksen yang aneh, bahkan detil kecil seperti mata lusuh seperti orang lagi mabuk, semuanya terlihat begitu mirip. Bahkan ketika gambar di ambil dari belakang karakter Tommy, kita benar-benar melihat sosok Tommy Wiseau. Sebuah pekerjaan brilian yang sayangnya tidak dilirik oleh pihak Academy Awards. Sebagai sutradara pun, James Franco juga melakukan pekerjaan yang mengagumkan, dengan mengusahakan setiap adegan pada film The Room terlihat persis sama dalam The Disaster Artist. Beberapa adegan "ikonik" dalam film The Room pun ikut ditampilkan disini. Tidak hanya itu, cerita dibalik setiap adegan tersebut juga diangkat oleh James Franco, yang juga menunjukkan bagaimana peliknya para aktor dan kru untuk bekerja dengan Tommy. Tentu saja merupakan hiburan tersendiri bagi penonton saat film berakhir, penonton diperlihatkan pada sebuah momen komparasi antara The Room dan The Disaster Artist. Lihatlah bagaimana James Franco telah melakukan pekerjaan yang begitu fantastis dan total kala mengusahakan adegannya terlihat semirip mungkin sesuai dengan original nya.

Momen terbaik The Disaster Artist tentu adalah ketika The Room diputar dalam gala premiere yang diadakan oleh Tommy sendiri. Ada perasaan tak menentu yang hadir kala melihat adegan ini. Sebagai penonton yang telah menikmati The Room, kita telah tahu bagaimana hasil akhirnya, dan tentu saja, atmosfir kecanggungan (in positive way) begitu kuat terasa ketika The Room akhirnya diputar dalam layar lebar. Setiap reaksi penonton akan setiap adegan berhasil beberapa kali membuat saya tertawa. Namun, kala kamera menyorot muka Tommy, tawa itu lenyap karena perasaan miris dan ironi yang hanya saya rasakan. Kesan tersebut hadir karena sebelumnya kita telah diajak bagaimana Tommy mengorbankan semuanya demi satu film ini. Seperti apa yang ia bilang, The Room adalah hidupnya. Tidak terbayang bagaimana rasa pedih yang dirasakan Tommy saat karya nya berakhir jauh dari harapan dan bahkan menjadi bahan tertawaan semua orang. 

Sebelum The Disaster Artist hadir, mungkin bagi kita, Tommy Wiseau hanyalah sosok lelucon akibat The Room. Namun, saya yakin, paska penonton melihat karya James Franco ini, kita melihat sosok Tommy Wiseau berbeda. Dedikasi dan tekadnya patut ditiru untuk kita para pemimpi. Tommy Wiseau jelas lebih dari sekedar becandaan, karena pada akhirnya, berkat kelapang dadaan Tommy dan menerima segala olokan dari penonton maupun kritikus terhadap filmnya, The Room mendapatkan status klasik dan masih tetap diperbincangkan oleh banyak orang hingga kini. Sebuah film biografi yang luar biasa menginspirasi.

8,75/10

Monday, 22 January 2018



"I'm not saying women are better. I've never said that. I'm saying we deserve some respect. More than Bobby Riggs or you are giving us." - Billy Jean King

Plot

Billy Jean King (Emma Stone) merupakan petenis perempuan yang mendominasi olahraga tersebut pada awal 70an. Tetapi baginya hal itu belumlah cukup, sebelum ia mendapatkan apa yang ia harapkan, yaitu persetaraan antara pria dan perempuan. Perjuangan itu pun tampaknya harus ia lakukan setelah Jack Kramer (Bill Pullman) mengadakan turnamen tenis dimana harga utama pria lebih tinggi 8 kali lipat dibandingkan perempuan. Jean memberontak, dan tidak bersedia untuk ikut turnamen tersebut. Ia lebih memilih untuk mengadakan turnamen dengan petenis-petenis perempuan lainnya, walaupun akhirnya ia harus menerima kenyataan jika ia dan kolega-kolega lainnya dikeluarkan dari organisasi tenis resmi yang diketuai oleh Jack. Namun, hal itu tetap tidak menghentikan Jean dalam memperjuangkan hak perempuan. Di tengah-tengah tur yang diadakan, Jean malah terlibat hubungan cinta terlarang antara dirinya dengan Marilyn (Andrea Riseborough). Hubungan ini tentu saja bisa mengancam karir, dan kehidupan keluarganya bersama sang suami, Larry (Austin Stowell). Di sisi lain, perjuangan Billy Jean menarik perhatian mantan petenis ternama, Bobby Riggs (Steve Carell) yang ingin segera menantang Billy Jean dalam permainan tenis dengan tujuan utama ingin membuktikan jika pria memang layak mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Review






Well, rasanya setelah menyaksikan film yang disutradarai oleh Jonathan Dayton dan Valerie Faries ini, tidak berlebihan jika saya menganggap Billy Jean King adalah Kartini-nya negara Amerika Serikat. Untuk generasi yang lahir di awal 90an, tentu saja nama Billy Jean King sangat asing untuk saya. Apalagi beliau merupakan atlit dari olahraga yang tidak terlalu saya ikuti. Sesuai judulnya, Battle of the Sexes mengambil plot utama dari perjuangan Billy Jean dalam mengupayakan hak perempuan supaya dapat disetarakan dengan kaum pria. Tetapi, Dayton-Valerie juga ikut memasukkan konflik-konflik kehidupan pula sebagai bumbu mengiringi perjuangan Billy Jean sebelum nanti di akhir film, ia akan berhadapan dengan Bobby Riggs dalam pertandingan yang diberi nama Battle of the Sexes. Disini, Billy Jean ditaruh sebagai protagonist utama berkat segala perjuangannya, namun sebagai seorang pria, jelas saja saya lebih memilih mendukung Billy Riggs. Apalagi kenyataannya sekarang, rasanya tuntutan untuk para perempuan dalam penyetaraan hak antara pria sudah sedikit berlebihan, dimana sekarang banyak sekali profesi-profesi pekerjaan yang diisi oleh perempuan.

Segala konflik yang menaungi kehidupan Billy Jean memang diperlukan untuk mengingatkan kepada penonton jika Billy Jean bukanlah sosok malaikat. Karena walaupun dirinya mungkin layak dianggap sebagai panutan dan pahlawan bagi para perempuan, dirinya tetaplah memiliki kekurangan akibat kelainan seks yang mengidap pada Billy Jean. Memanusiakan sosok Billy Jean inilah yang mungkin menjadi tujuan Dayton-Valerie sehingga mereka memfokuskan konflik ini pada 1 jam pertama, sebelum nanti 1 jam setelah nya, build up menuju pertandingan antara Jean vs Riggs mendominasi penceritaan. 

Sebenarnya hal ini tidak lah salah, bahkan hal itu memang harus ada dalam sebuah biografi yang memiliki durasi yang tidak singkat. Penonton, terutama bagi yang mengenal atau bahkan mengidolai Billy Jean maupun Bobby Riggs, bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda dan tentu juga lebih dalam lagi mengenal sosok Billy atau Bobby. Tetapi sayangnya, segala permasalahan pribadi Billy Jean kurang mampu mengikat untuk saya. Terbukti ketika film baru berdurasi 20 menit, saya merasakan film seolah telah berjalan 1 jam. Keinginan untuk menghentikan menonton film ini bisa saja saya lakukan apabila tidak ada adegan bercinta antara Billy dan Marilyn. Adegan yang dilakukan oleh dua aktris jelita tersebut pastinya sangat ampuh untuk menggoda saya untuk tetap menyaksikan film ini hingga akhir. 

Sosok Billy Jean sendiri tidak terlalu menarik untuk saya. Padahal dengan segala sikapnya yang baik, memiliki paras yang cantik (karena diperankan oleh Emma Stone, tentu saja) dan posisinya sebagai rebel woman, seharusnya mudah untuk saya mendukung Billy Jean. Namun rupanya dengan segala atribut tersebut, tidak cukup menjadi alasan untuk saya menyukai Billy Jean. Bahkan pada momen terakhirnya yang seharusnya menjadi momen emosional bagi penonton (terutama para perempuan), saya tidak merasakan apapun, bahkan ada sedikit kekecewaan yang timbul melihat itu.

Dan kalau boleh jujur, saya lebih tertarik untuk mengenal sosok Bobby Riggs yang katanya kontroversial itu. Ya, kepribadian Bobby jelas jauh lebih compelling dibandingkan Billy Jean. Bobby merupakan pria yang karismatik dengan kemampuan bicaranya yang memiliki magnet tersendiri, namun selain itu ia juga merupakan gamble addicted, dan memiliki hubungan yang tidak terlalu baik dengan sang istri, Priscilla (Elizabeth Shue) dan anaknya, Larry (Lewis Pullman). Bahkan pada kehidupan Bobby pun terjadi ironi tersendiri. Dirinya menentang keinginan Billy Jean supaya perempuan bisa equal dengan kaum pria, tetapi disisi lain, kehidupan Bobby Riggs malah didominasi secara tidak langsung oleh istrinya sendiri. Sub plot ini bagi saya bisa lebih mengikat andai saja Bobby Riggs menjadi main focus nya disini. Tetapi karena film ini menceritakan sosok Billy Jean, maka sub plot dari Bobby Riggs hanya tampil di permukaan saja karena tidak ada waktu untuk mengeksplorenya lebih lanjut.

Steve Carell patut diberikan apresiasi akibat penampilan memikatnya sebagai Bobby Riggs. Tidak hanya memiliki muka yang begitu mirip dengan Bobby Riggs yang asli, namun Carell berhasil membuat sosok Bobby Riggs mudah disukai dengan segala flaws yang Bobby miliki. Bahkan ada satu momen yang berhasil membuat hati saya tersentuh berkat ekspresi yang dimainkan oleh Carell. Emma Stone juga tidak kalah cemerlangnya dengan membuat sosok Billy Jean lebih mudah menuai simpati dengan segala problematika yang melingkarinya. Kredit lebih juga harus kita berikan kepada Stone dan Carell yang mampu memainkan permainan tenis dengan baik sehingga terlihat mereka memang atlet yang sesungguhnya.

Battle of the Sexes mengambil penceritaan pada medio awal 70-an, dan mungkin memang pada periode itu, penyetaraan gender masih terlihat mimpi untuk para perempuan sehingga andai saja film ini hadir lebih awal, seperti 10-15 tahun sebelumnya, film ini masih lah relevan. However, Fast forward to present day, well, everything is change. Untuk kalian yang sedang mencari pekerjaan, tentu kalian menyadari jika saat ini dunia kerja tengah sedikit didominasi oleh perempuan, baik dari low level hingga pada top level management. Bahkan pada lowongan kerja, banyak sekali lowongan untuk para perempuan sehingga membuat perempuan lebih tinggi persentase mereka untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan para pria. Saya tidaklah menentang penyetaraan gender, bahkan saya pun merasa pernyataan Bobby Riggs dalam film ini yang menyatakan jika perempuan hanya ahli di ranjang dan dapur itu sangat merendahkan nilai perempuan. Tetapi bukan berarti pula keinginan perempuan untuk tidak terus berada di bayang-bayang laki-laki malah berubah seolah mereka menjadi pemimpin saat ini. Kenyataan yang terjadi di periode sekarang lah yang membuat saya tidak terlalu mendukung segala perjuangan Billy Jean (apalagi pada narasi terakhrinya, Billy Jean juga merupakan tokoh perjuangan  pro LGBT. Well, Billy, how about no, please?). Dari segala kenyataan ini lah rasanya, film biografi yang sebenarnya berfungsi mengingatkan kita betapa pentingnya penyetaraan gender ini tidaklah terlalu relevan lagi, dan hal ini pula yang menjadi alasan mengapa saya tidak terlalu tersentuh ataupun merasa perlu mendukung sosok Billy Jean dalam film ini.

7/10

Wednesday, 27 December 2017


"I have my belief, and in all its simplicity that is the most powerful thing"- Bobby Sands

Plot

Memperlihatkan para pejuang aktivis kemerdekaan Irlandia yang ditahan di dalam Maze Prison akibat aksi pemberontakan yang mereka lakukan terhadap pemerintahan Inggris. Walau tengah mendekam di bui, ternyata tidak menyurutkan dan menghentikan perlawanan mereka. Dimulai pada tahun 1978, mereka menolak untuk dibersihkan (no wash protest) dan berpakaian (blanket protest). Tidak hanya itu, para pejuang kemerdekaan ini pun mengotori ruangan penjara mereka dengan kotoran, air kencing dan bekas-bekas makanan. Seolah tuntutan mereka tak didengar, dua aksi protes itu mereka hentikan dan beralih ke aksi mogok makan (hunger strike) yang diketuai oleh Bobby Sands (Michael Fassbender).




Review

Hunger yang dirilis pada tahun 2008 ini mungkin lebih dikenal akan penampilan total dan mengagumkan dari seorang aktor yang telah mencapai popularitasnya sekarang, yaitu Michael Fassbender. Totalitas ditunjukkan Fassbender dengan rela melakukan penurunan berat badan secara drastis supaya terlihat meyakinkan dalam memperlihatkan penderitaan Bobby Sands dalam melakukan aksi mogok makannya. Saya kurang tahu berapa berat badan yang harus diturunkan oleh Fassbender, namun hal itu telah cukup untuk dirinya terlihat bagaikan tengkorak hidup dalam film ini (seperti yang dilakukan Christian Bale dalam The Machinist 4 tahun sebelumnya). Dengan melakukan pengorbanan itu juga lah, menurut saya, sedikit banyak membantu Fassbender untuk mengeluarkan ekspresi deritanya dalam melakukan hunger strike. Bahkan kesakitan terpancar dari mukanya saat melakukan hal yang sangat sepele sekalipun, seperti menolehkan kepalanya. Dan kualitas aktingnya juga terlihat kala ia beradu akting dengan Liam Cunningham yang memerankan Priest Dominic dalam one continuous shot selama hampir 18 menit. Bukan hal yang mudah tentu saja untuk harus berakting dalam one take yang lama serta tetap mempertahankan peran yang sedang dimainkan. Hal itu pun terlihat dari persiapan antara Fassbender dan Cunningham yang melakukan latihan selama beberapa hari dan melakukan latihan adegan tersebut sebanyak 12-15 kali per hari (Terima kasih, IMDB).



Namun, adegan panjang tersebut tidak hanya mempertontonkan penampilan cemerlang dari Fassbender dan Cunningham (yang mengikuti Game of Thrones pasti segera tahu aktor ini memerankan siapa dalam serial tersebut), tetapi juga membuktikan jika Steve McQueen bukanlah sutradara yang hanya pintar berbicara lewat visual saja, namun cukup piawai dalam merangkai dialog panjang yang tidak membosankan. Inti pada adegan ini adalah pernyataan "perang" dari Bobby yang ia sampaikan pertama kali kepada Priest Dominic, namun alih-alih untuk langsung kepada poin utama, dua tokoh ini mengawalinya dengan berbasa-basi seperti Priest Dominic yang membicarakan adiknya yang memiliki profesi lebih baik dibandingkan dirinya, kebiasaan melinting Bobby dalam penjara, sedikit masa lalu keduanya, sebelum akhirnya pembicaraan menyentuh akan tujuan utama Bobby memanggil Priest Dominic. Transisi demi transisi dilalui tanpa terkesan dipaksa, dan juga berkat dialog itu pun memberikan pengembangan karakter pada Bobby, bahkan Priest Dominic, yang kehadirannya bagaikan mewakili penonton yang mungkin menganggap aksi yang dilakukan Bobby itu bodoh dan terlalu berlebihan. Ya bayangkan saja, melakukan aksi mogok makan dalam kurun waktu tak ditentukan? Jangankan manusia, setan aja gak bisa bertahan lama dalam kondisi lapar. Namun kita tidak mengalami apa yang dialami Bobby, sehingga benar apa kata Bobby, kita tidak bisa mengerti seutuhnya akan keputusan yang telah diambil Bobby. Dialog-dialog yang dikeluarkan Bobby pada adegan tersebut juga menunjukkan karakter pada diri Bobby yang rela berkorban demi kemerdekaan Irlandia dan begitu menjunjung tinggi akan prinsip dan keyakinan yang ia pegang.

Steve McQueen juga sedikit mengeksplor akan dampak konflik yang dinamai The Troubles ini. Selain para tahanan yang mengalami kekerasan di luar manusiawi dari penjaga penjara, konflik juga turut memberikan teror pada pihak polisi sendiri. Terlihat seperti salah satu penjaga penjara yang harus menghadapi konflik batin akibat pekerjaannya yang harus mengamankan tahanan dengan kekerasan, serta polisi muda yang belum kuat mental untuk melakukan kekerasan fisik pada tahanan yang melawan. Salah satu adegan favorit saya dalam film ini adalah ketika si polisi muda ini menangis dalam diam, dan di sisi lain terdapat Bobby Sands yang dihujani akan pukulan-pukulan dari pentungan keras belasan polisi. Sebuah adegan yang sangat ironi nan disturbing.

Hunger memang karya debut dari Steve McQueen, namun Hunger saya tonton setelah saya lebih dulu menyaksikan karya McQueen setelah Hunger yaitu Shame dan 12 Years a Slave (film yang menghantarkan McQueen mendapatkan piala Oscar pada kategori Best Picture). Keputusan yang keliru mungkin, namun berkat itu juga lah saya bisa beradaptasi dengan cepat akan gaya penyutradaraan McQueen yang tidak biasa, yang juga diaplikasikan McQueen dalam dua film tersebut, seperti long take yang panjang dan kekerasan yang sulit dipandang (dear God, adegan cambuk di 12 Years a Slave itu merupakan salah satu alasan kuat mengapa saya tidak berani lagi menyentuh film ini). Harus diakui, berkat itu Shame dan 12 Years a Slave juga bukan film yang mudah untuk diikuti, namun dua film tersebut memiliki tema yang kuat sehingga mudah untuk saya terikat dan mengikuti hingga akhir (terutama tema perbudakan dalam 12 Years a Slave). Di Hunger, Steve McQueen justru lebih "seenaknya" dalam menunjukkan gaya penyutradaraannya. Banyak long take, bahkan ada di antaranya kurang jelas apa maksudnya dan adegan-adegan bisu yang hanya memperlihatkan karakter nya melakukan peran. McQueen seolah ingin menyampaikan maksud lewat tampilan visual, dan puncaknya terlihat pada 20 menit terakhir. Minim sekali dialog dan hanya mengeksplor penderitaan dari Bobby Sands. 

Luka di sekujur tubuh, ekspresi kosong, dan daya tahan serta fisik tubuh lemah yang bahkan berdiri pun tidak sanggup tentu bukanlah sajian yang mudah untuk dilihat. Dari sini, tanpa adanya dramatisasi tidak perlu, penonton (setidaknya saya) mengagumi bahkan mengidolai karakter Bobby Sands yang sangat berpegang teguh dengan prinsipnya, tidak perduli akan fisik yang semakin lemah dan semakin dekat dengan kematian, tetapi itu tetap tidak menghentikannya untuk berjuang. Tidak heran jika aksi ini melahirkan pengaruh yang besar dalam konflik Irlandia Utara dimana aksi Bobby ini mendapatkan perhatian dari dunia dan memaksa pemerintah Inggris untuk menyetujui tuntutan dari Bobby. Hasil dari perjuangan mati-matian Bobby ini secara tidak langsung juga berdampak pada melejitnya Fassbender sebagai aktor. Tercatat, setelah film Hunger, Fassbender mendapatkan peran-peran besar seperti Magneto dalam franchise X-Man, bekerja sama dengan Quentin Tarantino dalam Inglourious Basterds hingga dirinya mendapatkan nominasi Oscar pertamanya dalam film 12 Years a Slave (yang banyak dinilai pihak harusnya ia dapatkan dalam film Shame, 3 tahun sebelumnya). 

Hunger jelas bukanlah film yang bisa dimakan oleh semua penikmat film. Grafis kekerasan yang keras, full nudity yang turut memperlihatkan totalitas nya para pemeran disini, terutama Fassbender, serta gaya sutradara McQueen dalam menghadirkan long take di setiap adegan sederhana, berisiko akan mendatangkan kebosanan pada penikmat film yang belum terbiasa akan pendekatan yang diambil oleh sutradara. Namun, jika kalian sedikit bersabar, maka Hunger akan menjadi sajian yang cukup berpengaruh. Dengan durasi 90 menit, Hunger memperlihatkan kekuatan niat dan pengorbanan besar dari seorang (atau beberapa) pria yang mempertaruhkan hidupnya demi kepentingan negara, yang membuatnya menjadi sajian yang tidak mudah terlupakan. Dan juga menjawab mengapa Fassbender sekarang adalah salah satu aktor terbaik pada generasi saat ini.

8,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!