Sunday, 8 December 2019


"You're the first person in this process who's spoken to me like a human"- Charlie

Plot

Pernikahan Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson) tengah berada di ujung tanduk sebab Nicole menggugat cerai Charlie. Awalnya, masing-masing ingin menyelesaikan secara damai. Namun perlahan, konflik antara mereka makin lama makin rumit sehingga keduanya melibatkan pengacara untuk mendapatkan jalan keluar. Permasalahan pun kian melebar, termasuk perebutan hak asuh Henry (Azhy Robertson), putra semata wayang Charlie dan Nicole. Nicole tentunya ingin Henry tinggal bersamanya di Los Angeles, namun masalahnya, Charlie pun memiliki keinginan yang sama dan ingin mengasuh Henry di New York. Charlie keberatan jika harus bolak balik New York-Los Angeles terus-terusan karena disamping banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, namun pekerjaannya sebagai sutradara teater pun ikut terganggu.



Review

Pada adegan pembuka, Marriage Story menyapa kita dengan voice over yang masing-masing merupakan testimoni dari Charlie dan Nicole. Diawali dengan Charlie menggambarkan sosok Nicole yang didominasi akan pujian nya terhadap Nicole, begitu pun sebaliknya. Nicole digambarkan oleh Charlie sebagai kepribadian yang mampu membuat orang nyaman di dekatnya, pendengar yang baik, aktris berbakat, tidak egois dan jago menari. Sedangkan Nicole menyukai Charlie yang berani untuk tidak mendengar pendapat orang lain demi cita-citanya, sangat menjaga kerapian, mandiri dan suka menjadi seorang ayah. Dari dua voice over yang terdengar, tampak bila Charlie dan Nicole seperti pasangan yang mencintai dan begitu mengenal satu sama lain, hingga ketika voice over selesai dan Noah Baumbach menghadirkan fakta kepada penonton jika keduanya tengah menghadapi proses perpisahan. Kurang dari 10 menit, Baumbach telah mengikat atensi saya untuk terus mengikuti kisahnya hingga akhir. 

Kita pun menangkap jika yang menginginkan perceraian adalah Nicole. Maka dari itu, narasi di awal akan bergerak dengan menelusuri motif dibalik keputusan Nicole tersebut dan sepenuhnya diambil dari sudut pandang Nicole. Namun sebelum menuju kesana, Baumbach memilih untuk membangun kedekatan penonton dengan Nicole. Kita diajak untuk mengenalnya, bagaimana interaksi antara dia dengan Charlie, Henry serta ibu dan adik nya, hingga ke pekerjaannya. Dari baris dialog, belum terlalu frontal karena Baumbach sengaja untuk menyebarkan keping-kepingnya terlebih dahulu sebelum kita akhirnya mendapatkan jawaban kala Nicole curhat dengan calon pengacara nya, Nora  Fanshaw (Laura Dern). Dan dari obrolan inilah, saya yang awalnya hanya berekspektasi Marriage Story sebagai film drama perceraian kebanyakan, mendapatkan suguhan adegan emosional yang mampu membuat saya terkesima. Dan percayalah, adegan seperti ini akan menyapamu berkali-kali dalam Marriage Story. 

Yang membuat Marriage Story begitu fantastis adalah kepekaan rasa dari Baumbach dalam membangun konfliknya serta keberhasilannya Baumbach untuk membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter. Baumbach tidak buru-buru dalam menjalankan narasinya. Pembagian screentime antara Charlie dan Nicole saya rasa juga sudah adil, karena Marriage Story sepenuhnya memang diambil dari POV dua karakter ini. Kita diajak untuk melihat perjalanan kedua karakter untuk mencoba menyelesaikan permasalahan diantara mereka, yang nantinya secara perlahan semakin melemahkan dan harapan untuk bisa kembali bersama juga ikut menipis. Dari Charlie dan Nicole sendiri menghadapi konflik ini dengan berbeda, dimana Nicole lebih terlihat fragile dan lemah, berbanding terbalik dengan Charlie yang lebih kalem serta santai. 

Namun dibalik terlihat lemahnya Nicole, nyatanya ia lebih bijak, fokus dan taktikal dalam mengurus perceraiannya. Dari baris dialog saja, kita mengetahui jika Nicole sudah beberapa kali mengunjungi kantor untuk mendapatkan pengacara, sebelum akhirnya ia menunjuk Nora sebagai pengacara resminya. Berkat ini pula Nicole sudah beberapa langkah di depan dibandingkan dengan Charlie yang tanpa sadar semakin ditekan oleh situasi. Minim pengetahuan tentang perceraian dan kenaifannya dalam menghadapi situasi mengakibatkan ia tertinggal jauh.

Iya, naif. Sebab Charlie masih menganggap Nicole tidak akan full power dalam melawannya. Charlie masih berpikir jika pintu untuk menyelesaikan permasalahan dengan calon mantan istri bisa dilakukan tanpa harus melibatkan pengacara. Fakta ini juga mengindikasikan jika Charlie belum kenal betul dengan istrinya, yang turut pula didukung dengan curhatan Nicole sebelumnya. Pada momen ini, rasanya mudah bagi penonton untuk mendukung Nicole. Terlebih lagi juga akan terkuak fakta baru bila Charlie juga bukanlah suami yang baik-baik amat karena satu dosa yang telah dilakukan.

Menit per menit durasi film berjalan, Baumbach akan menghadirkan beberapa fakta untuk mendukung narasi. Yang membuat Marriage Story hebat lagi adalah kenyataan jika film ini cukup informatif bagi penonton yang sama sekali tidak tahu bagaimana proses perceraian serta peliknya urusan dalam mengambil hak asuh anak. Sudah rahasia umum jika fakta bukanlah hal yang konkrit dalam peradilan, namun saya tidak menduga juga jika satu statement yang terucap, bahkan sudah terlupakan mungkin saja, bisa menjadi motif yang kuat untuk menekan lawan. Ketika Charlie berusaha untuk mendapatkan pengacara pun kita disuguhkan dengan fakta serta situasi yang menarik. Dan Baumbach  dengan cermatnya menghadirkan dialog-dialog seringan mungkin untuk meminimalisir tersesatnya penonton. Sering kali juga terdapat humor menggelitik yang terselip di tengah situasi serius, seperti momen di persidangan atau ucapan dari Nicole kala Nora memeluknya pertama kali. Hal ini yang membuat Marriage Story tidaklah terlalu depresif untuk diikuti seperti Revolutionary Road atau Blue Valentine. 

Kala Adam Driver hampir mendominasi jalan cerita di pertengahan, di saat itu juga penonton mulai menyaksikan karakter Charlie semakin terlihat kehabisan jalan. Karakternya yang pada awalnya tenang, mulai menunjukkan kekhawatiran, dan pada satu titik pun kita akhirnya melihat keputus asaan yang ia rasakan. Ingat ketika saya sebelumnya bilang bila Baumbach mampu membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter saja? Iya, pada momen inilah, kita bisa bersimpati pada karakter Charlie. Toh, terlepas dari kekurangannya, ia tetap adalah seorang ayah yang menyayangi putra nya. Dan melihat perjuangannya untuk mendapatkan hak asuh penuh, hingga nantinya bersedia keluar uang banyak demi mendapatkan pengacara yang mampu melawan Nora, Charlie berhasil menjadi lawan sepadan Nicole dalam hal merebut simpati penonton. 

Marriage Story secara mengejutkan berhasil mengaduk-aduk perasaan saya melihat konflik terjadi. Baumbach sukses memposisikan saya layaknya anak yang tengah menyaksikan ayah ibu nya bertengkar untuk mendapatkan saya. Kita ingin keduanya baik-baik saja, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menemani mereka kala dibutuhkan. Ada 2 atau 3 kali momen yang mampu membuat saya meneteskan air mata. Seperti tentu saja ketika Nicole akhirnya mengungkapkan alasan mengapa ia memutuskan untuk berpisah dengan Charlie. Ekspresi hopeless dari Adam Driver pun sering membuat saya trenyuh melihat nasib Charlie. Namun pertahanan saya untuk tidak menangis akhirnya jebol juga tepatnya pada saat Henry dan Charlie membaca sesuatu. Air mata yang menyayangkan kondisi sehingga membawa pasangan ini hingga ke titik itu. 

Baumbach juga begitu pintar untuk menyampaikan maksud tanpa harus ada dialog, hanya cukup dengan visual saja. Ambil contoh gambar di atas, dimana Nicole dan Charlie di dalam kereta, keduanya saling menatap dengan posisi berseberangan, dan terletak tiang pegangan kereta di tengah-tengah mereka. Mengindikasikan bila sebenarnya ada sekat di antara mereka berdua, namun sekat itu pula yang menghalangi mereka untuk membicarakan perasaan masing-masing. Situasi pun kembali dihadirkan oleh Baumbach ketika mereka berdua memutuskan untuk berbicara. Dengan pengambilan gambar yang sama, namun tanpa sekat. Dan pada momen ini lah kita mendapati penguras emosi terbesar yang mampu memaksa saya merasa miris dan sedih dalam diam. Brilian.

Adam Driver dan Scarlett Johansson jelas bermain fenomenal disini. Bagi saya, ini adalah peran paling emosional dari ScarJo, lengkap dengan ditanggalkannya kesan seksi yang selalu melekat pada dirinya sehingga penonton lebih terfokus pada aktingnya. Johansson mampu menampilkan kerapuhan Nicole tampak begitu nyata dan tidak mendramatisir, serta diimbanginya juga dengan kesan strong mother tanpa kehilangan kehangatan. Lihat saja momen ketika ia mengikat tali sepatu Charlie di suatu kesempatan. Driver pun juga tidak kalah fenomenal nya, dengan penampilannya sebagai Charlie yang perlahan semakin tidak tahu harus bagaimana lagi. Driver begitu piawai dalam berbicara secara subtil melalui mimik muka sehingga penonton ikut merasakan, meski tanpa iringan dialog atau ekspresi menangis dsb. Dengan meyakinkannya pula ia mempresentasikan kejatuhan seorang Charlie akibat kalah atas kondisi secara perlahan. Kala ia menyanyikan lagu "Being Alive", disitu pula puncaknya Driver membuncahkan semua rasa kesedihan dan pahit walau tanpa harus dengan air mata mengalir. Malah sepertinya penonton lah yang mampu ia buat menangis (saya hampir aja nangis lagi).

Marriage Story begitu merefleksikan pada kenyataan, dibantu dengan tiada hitam dan putih pada karakternya. Keduanya memiliki kelebihan, dan tak terlepas dengan kekurangan juga. Baumbach pun mengakhiri film nya dengan tone yang cukup hangat namun kental akan ironi berkat iringan musik dari Randy Newman. Pada akhirnya, kehidupan harus tetap berlangsung, dan kita pun kembali untuk beradaptasi dalam fase kehidupan yang baru. Marriage Story tentu memiliki kekurangan, dan yang paling jelas adalah durasinya yang cukup panjang yaitu 136 menit, namun dalam pengalaman menonton pertama saya tidak terlalu memikirkan kekurangan film ini. Yang saya tahu, Marriage Story adalah salah satu film tentang perceraian terbaik, bersama dengan Revolutionary Road atau Blue Valentine.



8,75/10

Saturday, 7 December 2019

"Motherhood is a mental illness"- Ramona

Plot

Sebagai stripper yang baru bekerja di club Moves, Destiny (Constance Wu) kesulitan untuk mendapatkan penghasilan yang memuaskan. Sadar jika kemampuannya dalam "menghibur" perlu ditingkatkan, Destiny pun mencoba mendekati Ramona (Jennifer Lopez), stripper kelas atas yang juga bekerja di tempat yang sama layaknya Destiny. Ramona dengan senang hati menerima Destiny sebagai muridnya, dan perlahan hubungan mereka pun semakin dekat sehingga mereka berdua pun berteman. 



Review

Diangkat dari artikel New York Magazine karya dari Jessica Pressler bulan Desember 2015, Hustlers bisa saja hanya menjadi film yang mengeksploitasi tubuh-tubuh indah para aktris yang terlibat dikarenakan tema film nya sendiri begitu kental dengan dunia malam serta pastinya, striptease itu sendiri. Namun di tangan Lorone Scafaria, Hustlers memiliki cerita yang lebih dari sekedar 4 stripper yang melakukan tindakan kriminal demi pendapatan lebih. Kental dengan unsur kekeluargaan, persahabatan serta usaha untuk bertahan hidup, Hustlers bisa saja menjadi film bertemakan kriminal yang emosional dan mampu memberikan perspektif lain untuk para pekerja malam yang sering mendapatkan stigma negatif ini. Ada usaha menuju kesana, namun sayangnya, Scafaria terlarut menyajikan hidup glamor dan perilaku foya-foya para karakter nya, ketimbang mengambil opsi untuk memperdalam interaksi, atau kehidupan intim para karakter kala tidak sedang beraksi di pole dance atau merayu para pria yang akan menjadi korban.

Scafaria menyajikan Hustlers dengan gaya non linear, dimana kala film berjalan sepuluh menit, kita sudah mendapati sosok Destiny tengah diwawancarai oleh jurnalis, Elizabeth (Julia Stiles). Meski Anda bukan penonton yang telah mengetahui kisah dari film ini diangkat, Anda sudah bisa menangkap dari obrolan antara Destiny dan Elizabeth jika nantinya Destiny dan Ramona akan melakukan tindakan di luar hukum. Serta dari obrolan ini juga lah, tertangkap jika akan ada konflik yang terjadi antara Destiny dan Ramona.

Penonton perlu merasakan kedekatan dengan Destiny serta pertemanannya dengan Ramona, sehingga ketika konflik mulai bermuara yang menyebabkan keretakan hubungan pertemanan antar keduanya, penonton akan menyayangkan kenyataan itu dan berharap sebisa mungkin keduanya tetap berteman, dan Scafaria jelas menyadari ini. Karena itu lah, ketimbang untuk menggerakkan Hustlers langsung masuk ke aspek kriminal nya, Scafaria lebih memilih untuk membangun kedekatan tersebut dengan menghadirkan hari-hari dimana Ramona mengajari Destiny bagaimana menari erotis di atas panggung serta menghibur para klien dengan lebih sensual. Tidak hanya itu, Destiny pun diperkenalkan dengan teman-teman Ramona serta memberikan informasi lebih dalam perihal Wall Street guys yang kerap kali menjadi pelanggan Moves. Bagaimana untuk setiap kelas nantinya mendapatkan perlakuan yang berbeda, dan untuk para bos-bos Wall Street jelas akan mendapatkan treatment khusus. Mereka dibiarkan bertindak sesuka hati tanpa harus khawatir akan konsekuensi selama uang terus dikeluarkan. 

Mungkin Anda sebagai perempuan akan merasakan ketidaknyamanan melihat bagaimana berkuasa nya para pria disini dengan kekuasaan yang dimiliki, namun jangan khawatir, karena malah sebaliknya, mayoritas disini para pria ditampilkan layaknya pria hidung belang yang bodoh dan mudah tertipu akibat akal mereka yang telah tergoda akan keindahan tubuh perempuan. Scafaria pun sempat menyinggung harga diri para laki-laki yang masih merasa malu untuk melaporkan kejahatan yang dilakukan Ramona dkk hanya karena tidak ingin dilihat lemah setelah menjadi korban para wanita. Iya, dengan filmnya yang kental akan pekerjaan yang bagi saya menjatuhkan harga diri wanita, disini Scafaria bermurah hati untuk memperlakukan para stripper terlihat lebih cerdas juga kuat.

Mengenai relasi Destiny-Ramona yang menjadi salah satu fokus utama, walau saya tidak terlalu terikat lebih dalam, namun setidaknya saya menyukai hubungan keduanya. Ramona terlihat bak seorang kakak bagi Destiny, yang notabenenya memiliki masa lalu menyedihkan yang erat dengan kesepian. Destiny sendiri hanya tinggal bersama nenek nya seorang diri, dan nantinya pula ia akan memiliki putri dari hubungan yang tidak bertahan lama. Di berbagai kesempatan, Destiny sering mengungkapkan jika ia ingin menghasilkan uang sebanyak-banyak nya untuk bisa mandiri tanpa harus bergantung dengan orang lain. Keinginan ini juga yang diharapkan Scafaria yang juga menulis naskah untuk film ini supaya penonton memahami kala Destiny lebih memilih untuk tidak menghubungi Ramona walaupun kondisi Destiny tengah menjalani masa yang sulit. 

Pada saat ini lah, Destiny akhirnya kembali bertemu dengan Ramona. Berkat akting kaya rasa serta kuatnya chemistry antara Wu-Lopez, saya merasakan kehangatan kala Destiny memeluk erat Ramona. Dengan bertemu nya mereka berdua, Hustlers pun memasuki babak baruk dan disinilah elemen kriminal nya begitu kental terasa. Dan siapa sangka juga, kala film mulai menghadirkan praktek terbaru yang dijalani oleh Ramona bersama Destiny, serta dua teman mereka lainnya, Annabelle (Lili Reinhart) dan Mercedez (Keke Palmer), Hustlers justru menghadirkan beberapa momen komedik yang efektif mengundang tawa. 

Sumber tawa tidak jauh dari reaksi karakter nya sebab para pria yang teler akibat minuman yang dimasukkan obat campuran ketamine dan ekstasi. Ambil contoh ketika mereka melakukan metode ini untuk pertama kali, dimana kepanikan terjadi di salah satu room karena sang korban tidak sadar diri. Serta yang terbaik tentu saja saat Destiny tengah berkendara ke rumah sakit untuk mengantarkan korban yang pingsan. Kepanikan-kepanikan yang terjadi ini bagaikan reminder untuk penonton bila Destiny dan lainnya sejatinya masih amatir untuk melakukan tindakan kriminal, menandakan jika mereka terpaksa untuk melakukan metode kriminal nya.

Hustlers terlihat menjanjikan sebelum nantinya film bergerak menuju akhir, setidaknya setelah  momen perayaan natal yang dirayakan bersama. Dari sini Hustlers malah bergerak sedikit terburu-buru dalam menyajikan tiap kepingan-kepingan kejadiannya. Perpindahan tiap momen pun kurang mulus serta yang paling terasa adalah metode yang dilakukan oleh mereka tiba-tiba saja menemui kendala. Aspek ini akan berpengaruh besar terhadap mulai retaknya hubungan persahabatan antara Destiny dan Ramona. Terlebih lagi ketika Ramona mulai membawa anggota-anggota baru untuk menjalani bisnis kotornya. Destiny pun tidak menyukai kedekatan Ramona dengan salah satu anggota baru nya. Entah rasa tidak suka tersebut didorong karena kekhawatiran Destiny akibat kecerobohan karakter tersebut, atau sederhana karena rasa cemberu melihat teman dekatnya menemukan teman yang lain. 

Dan pada third act nya ini juga, keputusan Scafaria yang sebelumnya lebih memilih memperlihatkan kehidupan glamor para karakter nya memberikan dampak yang tak diinginkan. Pendekatan ini mengakibatkan keempat karakter utama jatuhnya sedikit unlikeable. Maksud saya, bagaimana mungkin penonton bisa bersimpati kala mereka berempat saja sudah melakukan tindakan kriminal dan mereka lebih memilih melakukan pesta serta foya-foya atas hasil yang mereka dapati? Karenanya, ketika kesulitan hidup kembali menghampiri Destiny dan metode kriminal yang mereka ambil mulai mendapatkan perhatian dari pihak berwajib, saya kesulitan untuk bersimpati pada tiap karakternya, termasuk Destiny. Bahkan pada saat ia ditinggal pergi selamanya oleh satu karakter, saya hanya membatin "okay, that's sad". Hanya itu. Hal ini tidak lepas karena minim nya screen time yang dihabiskan para karakter dengan orang-orang terkasih mereka. Bahkan sebenarnya Scafaria bisa mengeksplor lebih jauh atas penyesalan Destiny atas kejadian tragis yang menimpa korban terakhir nya, ketimbang hanya disebabkan keduanya sempat bercerita tentang anak mereka masing-masing. 

Walau Hustlers mungkin tidak terlalu berkesan, namun yang jelas, Hustlers akan selalu diingat sebagai film yang akhirnya berhasil memanfaatkan sebaik-baiknya talenta dari Jennifer Lopez. Meskipun Constanze Wu bermain prima sebagai sumber hati akan film ini, namun jelas J-Lo adalah scene stealer. Kharisma primadona nya begitu bersinar, bahkan kala ia berpakaian casual saja, kharisma tersebut tidak lah luntur. Totalitas nya dalam menjalani latihan pole dance terlihat hasil nya kala ia memamerkannya di adegan paling seksi dalam film ini. Tidak hanya seksi, namun juga terlihat elegan serta berkelas. 

7,25/10

Thursday, 5 December 2019

"I prayed I'd never sin again if I could just get out of here. But then the fighting starts, and then you forget about everything. You're just trying to survive, stay alive"- Frank Sheeran

Plot

Berawal dari pertemuannya dengan Russel Bufalino (Joe Pesci), Frank Sheeran (Robert De Niro) yang awalnya hanyalah supir truk pengantar daging, semakin tenggelam dalam dunia mafia berkat pengaruh Russel yang merupakan salah satu orang paling berpengaruh di Pennsylvania. Kepercayaan yang Russel berikan kepada Frank membuat mereka berteman, dan pertemanan inilah yang mengantarkan Frank nantinya bisa bekerja menjadi pengawal pribadi Jimmy Hoffa (Al Pacino). Jimmy Hoffa sendiri adalah pemimpin serikat buruh di Amerika serta pendiri dari International Brotherhood of Teamsters.



Review

Dengan Goodfellas dan Casino, The Irishman bagaikan penutup trilogi film bertemakan mafia milik Martin Scorsese. Dua aktor yang juga terlibat di dua film tersebut ikut hadir, yaitu Robert De Niro dan Joe Pesci. The Irishman menandakan reuni panjang antara Scorsese bersama De Niro dan Pesci, dimana keduanya terakhir bekerja sama dengan Scorsese pada film Casino. Bagi Joe Pesci sendiri, ini adalah comeback nya setelah 9 tahun absen dalam dunia akting. 

Sebelumnya, saya ingin memberikan pujian kepada studio special effect Industrial Light and Magic yang bertanggung jawab "memudakan" para karakter di adegan flashback nya. Pekerjaan yang mereka lakukan nyaris sempurna, sehingga saya sering bertanya-tanya apakah proses syuting untuk bagian flashback ini dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Tentu bisa dimengerti jika budget dari film ini yang menyentuh angka 159 juta Dollar sebagian besar untuk membuat efek muda tiap karakter terlihat meyakinkan. Masih ada beberapa kekurangan pastinya, tetapi bagi saya masih bisa dimaklumi. 

The Irishman masih didominasi dengan segala tetek bengek kehidupan mafia yang mungkin telah Anda temui di film-fim mafia lainnya, seperti pengkhianatan, pengaruh mafia di dunia pemerintahan dan pastinya saling melenyapkan per individu yang dianggap bisa membahayakan organisasi. Namun yang membedakan The Irishman dengan film lainnya, termasuk Casino dan terutama Goodfellas, bagi saya adalah karakter Frank dan bagaimana Scorsese menyajikan ironi kehidupan dunia mafia nya. Biasanya protagonist utama dalam film mafia memiliki ambisi besar untuk bisa menguasai sesuatu, namun tidak untuk Frank. Disini Frank hanya lah sebagai "karyawan" yang mampu melakukan pekerjaannya dengan baik serta bisa dipercaya sehingga bos yang menyewa jasa nya pun mudah memberikan pekerjaan seberat apapun kepada Frank karena reputasinya. Tidak ada keinginan Frank untuk menjadi kepala pemimpin suatu organisasi. Tidak ada juga niat dari Frank untuk mengkhianati bos yang mempekerjakannya. Yah, setidaknya nanti kala ia harus menjalankan pekerjaan yang mungkin paling berat serta mempengaruhi kehidupannya.

Mengenai ironi yang saya sebut sebelumnya, bila pada Goodfellas serta Casino, Scorsese menyajikan glorifikasi dunia hitam mafia, dengan karakternya menghambur-hamburkan uang yang banyak, bermain wanita, dan sesuka hati bisa menghabisi seseorang dengan alasan apapun, tidak perduli apakah masuk akal atau tidak. Berkat itu juga Goodfellas dan Casino terasa menyenangkan, meskipun film nya sendiri begitu kental dengan dunia kriminalitas. Namun tidak untuk The Irishman. Bila dalam Goodfellas, tiap karakter diberikan kesempatan untuk memperlihatkan keberhasilan atas pekerjaan yang dilakukan, dalam The Irishman, Scorsese memperlihatkan akan busuknya kehidupan mafia yang kejam.  Lengkap pula dengan bagian aftermath yang terdapat dalam film ini, namun minus di dua film predesor. Ya, dengan aftermath yang tersaji, Scorsese menyajikan sebuah fakta pahit yang harus diterima satu karakter. Sebuah hasil memilukan yang tak terlepas dari semua pekerjaan kotor yang telah dilakukan. 

The Irishman terasa begitu padat berkat segala konspirasi serta konflik-konflik yang terjadi. Tidak hanya itu, begitu banyak karakter-karakter yang terlibat dan berpengaruh pada keberlangsungan narasi. Maka merupakan hal yang wajar jika penonton sedikit tersesat, merasa bingung siapa karakter ini dan kapan sebelumnya karakter ini diperkenalkan. Percayalah, Scorsese telah berusaha sebisa mungkin untuk membantu penonton untuk tidak merasakan kebingungan. Terlihat dimana Scorsese berbaik hati menyertakan nama masing-masing karakter pada saat diperkenalkan, lengkap pula dengan "berita" kematian masing-masing dari karakter.

Kenyataan bila naskah yang diadaptasi dari buku Charles Brandt terasa sangat padat, begitu banyak nya karakter serta durasinya yang bukan main panjangnya untuk saya merupakan hal positif serta negatif dari The Irishman. Negatifnya, tentu film ini kurang bisa mencengkeram penonton kasual yang belum pernah mencicipi film Scorsese sebelumnya. The Irishman bertumpu sepenuhnya dengan banter dialognya yang banyak, serta narasi yang disuarakan oleh De Niro sendiri. Melelahkan? Tentu saja, jika Anda, sekali lagi belum pernah menyentuh film-film Scorsese sama sekali. Dan sekali lagi, durasi 3 jam lebihnya benar-benar menuntut kesabaran penonton.

Namun jika Anda merupakan penggemar film, atau lebih tepatnya penggemar Scorsese, The Irishman jelas merupakan sajian mafia epic yang tidak cukup hanya ditonton sekali saja. Berbagai poin cerita mungkin terlupa dengan seiring durasi berjalan, namun itu tidak masalah karena The Irishman sudah berhasil mengikat dengan narasinya. Tentu untuk saya sendiri, The Irishman tidak cukup ditonton sekali saja. Ada perasaan ingin menonton kembali dari awal, karena selain kisahnya sendiri yang benar-benar menarik (kisah dunia underworld memang tak bisa disangkal selalu menarik untuk diikuti), namun juga berkat penyutradaraan dari Scorsese yang semakin menunjukkan tajinya walau telah berusia cukup uzur.

Identitas gaya penyutradaraan Scorsese tentu saja masih mudah terasa. Opening nya saja ia tampilkan dengan tracking shot ciri khas Scorsese, sebelum kita akhirnya melihat sosok Frank yang sedang duduk di kursi roda nya, dan seketika breaking the 4th wall pun sudah hadir, dimana Frank pun mulai menceritakan kisah nya sambil menatap ke kamera. Voice over mendominasi dalam jalannya menit-menit film berjalan untuk membantu penonton supaya tidak terlalu bingung dengan rumitnya penceritaan yang ada. 

Di atas kertas, film Scorsese yang ke 26 ini terlihat kelam, namun fakta di lapangan cukup berbeda, dimana Scorsese masih menyelipkan beberapa black comedy yang bisa membuat mu tertawa, setidaknya untuk saya. Dan mengejutkannya lagi, Al Pacino, yang baru pertama kali bekerja sama dengan Scorsese, merupakan penyumbang tawa terbanyak berkat karakternya yang keras kepala, kharismatik dan memiliki masalah pada short temper nya. Komentarnya mengenai nama "Tony" yang begitu mainstream untuk orang kelahiran Italia adalah satu dari sekian banyak nya Al Pacino mampu membuat saya tertawa di kala adegan yang sebenarnya bisa meningkatkan tensi ketegangan. Naskah dari Steven Zaillian begitu pintar dalam menyajikan humor nya yang pas akan timing serta berkelas. 

Akting yang begitu berenergi dari Al Pacino turut pula diimbangi dengan penampilan memuaskan dari Robert De Niro dan Joe Pesci. Pesci sendiri memerankan karakter yang begitu berbeda dibandingkan dengan dua peran sebelumnya di Goodfellas dan Casino. Disini ia tampil dengan lebih tenang, lebih mengandalkan baris dialog untuk menunjukkan kewibawaan tanpa menghilangkan atmosfir intimidatif dari karakternya. De Niro pun tampil luar biasa sebagai protagonist utama dalam menampilkan konflik batin dari Frank dengan memanfaatkan ekspresi muka yang subtil, kaya makna, serta tatapan mata nya yang sayu akibat dari kondisi yang tidak mengijinkannya untuk mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri. Tidak heran jika nantinya ketiga nama aktor veteran ini akan tampil di daftar nominasi aktor utama/pendukung terbaik di perhelatan Oscar tahun depan.

Momen terbaik The Irishman sendiri adalah ketika Frank dihadapkan pada dilema yang memaksanya harus menghadapi keputusan yang sangat sulit. Dari sini, Scorsese meminimalisir penggunaan soundtrack-soundtrack nya demi mengoptimalkan ketegangan di setiap adegan. Slow build yang dilakukan Scorsese kala Frank menginjakkan kaki di kota Detroit berhasil memaksa saya ikut merasakan kegelisahan serta dilematis yang dirasakan Frank. Apakah ia harus mengikuti perintah dari orang yang telah membesarkannya atau menyelamatkan salah satu teman terdekatnya. Yang mana pun nanti ia pilih, tentu tidak akan berdampak baik untuk Frank. Disinilah The Irishman menunjukkan betapa pahitnya dunia mafia yang Frank geluti. 

Begitu ironis kala Frank rela melakukan berbagai kejahatan tentunya untuk membuat keluarganya sejahtera dan hidup tenang. Frank begitu menyayangi keluarganya, bahkan ketika salah satu putrinya didorong oleh pemilik toko roti, Frank tanpa pikir panjang menghampiri dan menghajar pemilik tersebut. Namun pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan Frank tetaplah kejahatan dan semua benih kejahatan yang ia lakukan harus memaksanya untuk semakin menjauh dari keluarga, terutama anak-anaknya. Bisa saja Frank melakukan pekerjaannya sebagai hitman dengan brilian, namun bukan berarti ia juga berhasil menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. 

Setelah sebelumnya kita menyaksikan semua intrik serta konflik yang terjadi, 30 menit terakhir dalam The Irishman justru tampil dengan sunyi. Mengeksplorasi kehidupan tua dari satu karakter yang penuh dengan penyesalan, bersalah atas semua kesalahan yang telah dilakukan, tanpa seorang pun disisinya. Meninggalkan ia sendiri setelah yang terkasih, teman atau bahkan musuhnya telah berkunjung ke kehidupan selanjutnya terlebih dulu. Kehidupan masa tua nya ini seolah merupakan pembalasan atas masa lalu akibat penyakit yang diderita, rasa berdosa dan sesal, juga kesendirian yang harus ia tempuh. Sebuah aftermath yang cukup emosional dan sempurna untuk menutup kisah epik dari Scorsese ini. 

9/10

Wednesday, 27 November 2019

"This world is about the power of the sword and coin. If that sword can destroy humans, you could conquer the world with it. If you're the greatest thief in the world, you have to steal the world"

Plot

Bersetting pada era Sengoku, dimana peperangan merebut wilayah satu sama lain terjadi di berbagai wilayah Jepang, menyebabkan tersebarnya berbagai kesulitan di semua tempat. Tidak terkecuali Provinsi Kaga yang diserang kemiskinan akibat kekeringan, kelaparan dan terjangkit wabah penyakit yang mengakibatkan kematian. Karena itu, pemimpin provinsi Kaga, Daigo Kagemitsu melakukan kesepakatan dengan dua belas iblis. Daigo meminta kesejahteraan dan kekuasaan pada wilayahnya, dengan rela menyerahkan semua yang ia punya sebagai bayarannya. 

Pada saat bersamaan, istri Daigo, Nuinokata, sedang dalam proses melahirkan. Dan tidak lama setelah Daigo mengadakan kesepakatan dengan para iblis tersebut, anak pertama mereka pun hadir di dunia. Namun tragisnya, anak pertama mereka lahir dengan mengenaskan, dimana ia lahir tanpa organ tubuh seperti mata,  telinga, kulit, hidung, tangan dan kaki, namun ia tetap menghembuskan nafas. Ketika Daigo melihat sang anak, Daigo pun merasa yakin jika kesepakatannya dikabulkan oleh dua iblis dan memerintahkan dukun beranak yang membantu istrinya melahirkan untuk membunuh anak tersebut. Tentu Nuinokata menolak, namun Daigo tetap pada keputusannya.



Dikarenakan tidak tega, dukun beranak tersebut memilih membuang si anak di sungai ketimbang membunuhnya, dengan menyerahkan keberuntungan si anak sepenuhnya pada Buddha. Taktir pun mempertemukan nya dengan Jukai, mantan bawahan Raja Shiba yang kini berprofesi sebagai dokter ahli prostetik. Jukai merasa kasihan dengan kondisi yang dialami oleh anak tersebut sehingga memutuskan untuk merawatnya serta memberikan anggota tubuh prostetik padanya. Jukai pun memberikan nama untuknya Hyakkimaru. 

16 tahun kemudian, Hyakkimaru telah menjadi ronin dengan kemampuan di atas rata-rata berkat latihan yang diberikan oleh Jukai. Tujuan Hyakkimaru hanya satu, yaitu memburu para iblis atau siluman. Dalam perjalanannya, Hyakkimaru bertemu dengan pencuri cilik bernama Dororo, yang diselamatkan nya dari serangan siluman. Melihat kehebatan Hyakkimaru, Dororo pun memutuskan untuk menemani Hyakkimaru mengembara seraya mengharapkan keuntungan dari setiap siluman yang nantinya akan dibasmi oleh Hyakkimaru. 




Review

Melihat premisnya, seketika saya teringat film dari Joko Anwar terbaru, Perempuan Tanah Jahanam, yang memiliki sedikit kemiripan dari kutukan dan bayi yang lahir cacat. Apakah bang Joko terinspirasi dari Dororo, mengingat kisah Dororo hasil karya dari Osamu Tetzuka ini telah ada semenjak tahun 60an, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, dengan premis nya tersebut telah menanamkan rasa ketertarikan saya untuk mencoba mengikuti anime nya. 

Dengan 24 episode, Dororo didominasi akan cerita Hyakkimaru berusaha mengalahkan para siluman yang ia temui. Tersibak fakta pula jika ia mampu membasmi siluman tertentu, Hyakkimaru akan mendapatkan satu demi satu organ tubuhnya kembali. Pada saat menyelamatkan Dororo pertama kali saja, Hyakkimaru mendapatkan wajahnya kembali tidak lama setelah mengalahkan si siluman. Pada awal hingga pertengahan, kisah Dororo harus diakui cukup repetitif. Hyakkimaru dan Dororo berkunjung di suatu wilayah, dan akan bertarung dengan siluman yang mendiami di wilayah tersebut. Kisah pun hampir selalu berakhir dengan kemenangan Hyakkimaru, dan kita pun akan bertanya, bagian tubuh mana yang akan didapatkan oleh Hyakkimaru. Mudah beranggapan jika episode-episode tersebut terkesan filler, namun setelah mengakhiri 24 episode yang ada, saya akhirnya mengerti mengapa Dororo memiliki jalan kisah seperti ini. 

Perjalanan Hyakkimaru memang didominasi dengan pertarungannya dengan para siluman, namun bersamaan pula, Hyakkimaru sedang melakukan pertarungan dengan ayahnya sendiri, Daigo Kamitsu. Daigo merupakan orang paling bertanggung jawab yang menyebabkan Hyakkimaru harus menderita semenjak kecil. Akibat kesepakatan yang ia lakukan bersama dua belas iblis, Hyakkimaru harus menjadi tumbal. Dengan semakin banyak siluman yang ia kalahkan, semakin dekat pula Hyakkimaru mampu mengalahkan Daigo. Ya, ini adalah kisah seorang pria yang ingin merebut apa yang seharusnya ia miliki, dan dengan keinginan tersebut, Hyakkimaru bersedia melawan ayahnya sendiri, yang bekerja sama dengan para iblis. Kalimat sederhananya, Hyakkimaru sedang berperang melawan dunia.

Wilayah-wilayah yang dikunjungi, Hyakkimaru dan Dororo akan selalu mendapati suatu tempat yang menjadi korban dari situasi perang yang terjadi. Kemiskinan serta kelaparan mengakibatkan banyak jatuh korban yang meninggal, anak-anak menjadi yatim piatu dan masyarakat yang masih hidup harus mencari segala cara untuk tetap bertahan. Tidak hanya itu, penyakit pun tidak jarang menyerang di suatu tempat. Kondisi yang penuh akan keputusasaan ini lah yang menyebabkan suatu individu rela melakukan apapun. Daigo tidak sendiri, karena di berbagai wilayah lain, masih ada pemimpin yang tidak sungkan untuk melakukan pengorbanan demi kemakmuran wilayah nya.

Hyakkimaru dan Dororo akan sering berjumpa fakta sebuah tragedi naas yang terjadi. Selalu akan ada rahasia kelam yang tersimpan di suatu wilayah yang kelak akan mereka temui. Contohnya pada Moriko arc yang berhasil memberikan efek mendalam bagi Hyakkimaru dan Dororo. Tergambar jelas luka dalam akibat perang sehingga mampu memaksa seseorang harus mengorbankan apa yang paling berharga di dalam diri mereka.  Moriko arc sendiri ditutup dengan momen memorable yang berhasil membuat arc ini menjadi fan favorite dalam anime Dororo.

Membahas Dororo tidak akan bisa lepas dari motif para karakter, yang bagi saya merupakan aspek terkuat untuk anime ini. Masing-masing karakter memiliki motif sehingga rela melakukan tindakan seberat apapun demi keyakinan yang dimiliki. Ambil contoh Daigo. Mudah saja membenci tindakannya, karena pada kenyataannya, setiap konflik dan penderitaan yang dialami oleh karakter-karakter utama di Dororo tidak bisa dilepaskan karena keputusan dari Daigo. Namun, apa yang mendorong Daigo hingga nekad melakukan kesepakatan bersama iblis juga tidak bisa kita salahi sepenuhnya. Memang, niat utamanya adalah untuk menasbihkan dirinya menjadi penguasa, namun, kenyataannya dengan kesepakatan yang ia lakukan, wilayah yang ia kuasai ternyata menjadi salah satu sedikit wilayah yang makmur, kaya dan rakyatnya sejahtera.  Tentunya semua ini berkat pengorbanan yang dilakukan Daigo.

Namun yang menjadi masalah, apa yang telah dikorbankan Daigo, Hyakkimaru, masih hidup dan semakin hari semakin kuat untuk bisa mengambil kembali bagian tubuhnya. Terlebih, setiap kali Hyakkimaru mengalahkan siluman dan mendapatkan anggota tubuh, maka provinsi Kaga sedikit demi sedikit harus mengalami bencana kembali. Kekeringan dan wabah penyakit juga kembali melanda. Hyakkimaru pun memiliki alasannya tersendiri. Ya siapa coba yang bisa menerima kenyataan harus hidup minus organ-organ tubuh layaknya manusia normal? Tentu saja Hyakkimaru ingin melihat, berbicara, dan mengendus sesuatu seperti manusia lainnya. Ketika ia memiliki kesempatan untuk merebut kembali apa yang seharusnya ia miliki, tentu Hyakkimaru tidak akan tinggal diam.

Situasi inilah yang seketika memberikan pergelutan batin untuk penonton. Kita kesulitan untuk mendukung tindakan setiap karakter. Pada awalnya, gampang saja kita menaruh dukungan untuk Hyakkimaru dan berharap ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun berkembang dari episode ke episode, kita pun menyadari jika setiap kali Hyakkimaru menginjakkan kaki di suatu tempat, tidak jarang tempat tersebut akan diterpa kesialan. Eksistensi Hyakkimaru juga memberikan efek besar atas kesusahan yang dialami Provinsi Kaga. Ditambah lagi, semakin sering Hyakkimaru membantai siluman, jiwa kemanusiaannya juga ikutan terkikis sedikit demi sedikit. Dan berjalannya waktu pun Hyakkimaru harus terjebak dalam situasi dimana ia harus pula membunuh sesama manusia. Apakah kehadiran Hyakkimaru benar-benar memberikan kesialan dan sebaiknya ia "hilang" saja?

Hyakkimaru pun mendapatkan rival sepadan, Tahomaru, yang tidak lain tidak bukan adik kandungnya sendiri. Saya sempat menduga awalnya jika Tahomaru tidak lain hanya lah bocah egois layaknya antagonis pada umumnya. Namun ternyata tidak demikian. Malahan, Osamu Tetzuka memposisikan Tahomaru layaknya hero yang sebenarnya disini. Ia pangeran yang pengertian, perduli terhadap rakyatnya dan rela berjuang sendiri kala mereka kesulitan. Hubungan dekat dengan dua pengawal pribadi nya, Mutsu dan Hyogo juga memberikan pendalaman karakter untuk Tahomaru. Karakterisasi ini semakin membingungkan penonton untuk memberikan dukungan kepada siapa. Memang, ada momen dimana Tahomaru terlihat bak samurai kejam, namun itu hanya ia tunjukkan kepada Hyakkimaru. Setiap tindakannya memang murni untuk menjaga kesejahteraan rakyatnya. Berbeda dengan Hyakkimaru karena di pertengahan episode, Hyakkimaru bertransformasi menjadi anti hero setelah dalam suatu arc, ia benar-benar tidak perduli dengan apa yang terjadi pada suatu desa akibat tindakan yang ia lakukan. Secara perlahan, Hyakkimaru bisa saja menjadi iblis sepenuhnya.

Disinilah fungsi peran Dororo unjuk gigi. Pertama, Dororo menyuntikkan banyak energi positif untuk anime ini. Anime Dororo begitu kental akan atmosfir kelamnya, juga kepribadian Hyakkimaru terlalu gloomy serta keterbatasan bicara nya juga menambah kesan tersebut. Namun berkat Dororo, perjalanan Hyakkimaru menjadi tidak membosankan. Tetzuka pun juga memberikan pendalaman untuk Dororo, sehingga ia jatuhnya tidak menjadi side kick normal saja. Akan ada penggemar yang tidak menyukai Dororo karena terlalu seringnya berteriak "Aniki" dan tidak jarang menempatkan mereka berdua dalam situasi bahaya, namun keberadaan Dororo bagai pengingat untuk Hyakkimaru jika ia adalah manusia. Terkadang juga Dororo menampilkan kedewasaannya berkat pengalaman hidupnya yang pahit. Tercipta nuansa yang menarik akan hubungan Hyakkimaru-Dororo dan semakin jauh perjalanan mereka, semakin tersadar juga untuk mereka berdua jika mereka saling membutuhkan.

Saya sangat menyukai konflik yang terjadi dalam Dororo. Namun sayang, anime ini tidak terlepas dari kekurangan yang cukup mengganggu. Pertama, struktur "monster of the week" nya menyebabkan kental nya kesan filler. Misal pada satu episode, ada satu kejadian yang cukup monumental dan berpengaruh besar untuk Hyakkimaru dan Dororo, namun setelah nya, kejadian tersebut seolah tidak terjadi karena tidak diungkit kembali. Tidak jarang saya merasa apakah saya menonton episode yang benar atau tidak karena keanehan ini.

Pacing Dororo juga cukup parah. Saya sebenarnya bukanlah tipe penonton yang terlalu kritikal terhadap pacing, namun apa yang tersaji dalam Dororo memang susah untuk dinafikan. Transisi antar adegan ke adegan lain terasa kasar, sehingga banyak kejadian yang terasa menggantung. Belum sempat menonton untuk meresapi suatu kejadian, namun adegan nya telah berpindah ke situasi yang lain. Tentu saja ini cukup mengganggu bagi saya dalam mencoba untuk mendalami kisahnya. Untungnya permasalahan pacing ini hanya terasa di 10 episode awal, karena mendekati akhir, pacing yang ada tidak terlalu kenikmatan menonton saya.

Pertarungan yang terjadi dalam Dororo juga tidak memiliki koreografi yang mind blowing, namun bagi saya ini tidak menjadi masalah karena toh dengan narasi yang mendasarinya saja, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya perduli dengan adegan fight nya, terutama ketika Hyakkimaru dan Tahomaru harus beradu pedang.

Overall, Dororo mungkin tidak akan menjadi anime instant classic, namun berkat konflik cerita yang sangat menarik dan membuat saya tidak sabar untuk segera mengakhirinya, Dororo memberikan pengalaman menonton yang cukup berkesan. Untuk Anda yang menyukai anime bertemakan dark fantasy dengan sentuhan sejarah samurai Jepang, Dororo adalah tontonan yang wajib untuk Anda.

8/10

Sunday, 24 November 2019


Yap. Akhirnya niat saya untuk mereview pertunjukan wrestling terkabulkan juga. Belakangan, saya kembali mengikuti secara rutin bisnis ini, terima kasih atas hadirnya AEW yang sukses mengembalikan rasa cinta saya pada wrestling, setelah sekian lama minat saya sempat hilang setelah saya kecewa berat atas keputusan WWE dalam membunuh momentum hangat cerita dari the rise of Becky Lynch. Mungkin saya akan membahas di postingan lainnya, namun setelah Wrestlemania 35, saya memang tidak terlalu berminat lagi akan dunia wrestling. The rise of Becky Lynch merupakan faktor besar mengapa saya kembali tertarik menyaksikan WWE di pertengahan akhir tahun 2018. Setiap weekly show saya ikuti perkembangannya, apalagi feud antara Becky dengan salah satu WWE rookie terbaik sepanjang sejarah, mantan juara dunia UFC wanita, Ronda Rousey, yang berpotensi besar menjadi one of the best rivalry of the decade. Namun sayang, WWE kembali melakukan blunder akibat overproduced yang sering kali mereka lakukan, hingga akhirnya WWE memutuskan untuk melibatkan Charlotte Flair untuk ikutan "gabung" bersama Becky dan Ronda di main event wanita pertama di Wrestlemania. Dan hasilnya, match mereka pun terasa underwhelming, begitu juga kemenangan Becky yang terasa antiklimaks.

Kekecawaan saya pada WWE semakin bertambah setelah mereka kembali melakukan blunder atas hasil main event di Hell in a Cell pay-per-view yang sukses menjadi salah satu kontroversi terbesar di tahun ini. Tidak hanya Becky yang mereka bunuh momentum nya, namun juga top face WWE, Seth Rollins yang ikutan kena dampak atas keputusan bodoh WWE itu. Saya pun merasa cukup, meninggalkan WWE (lagi), dan mencoba untuk mengikuti AEW, perusahaan wrestling terbaru dengan di dalamnya ada beberapa mantan pro wrestler dari WWE, seperti Chris Jericho dan Jon Moxley. Moxley sendiri sempat menjadi perbincangan hangat setelah hadir dalam podcast Talk is Jericho dan blak-blakan menceritakan mengapa dirinya keluar dari WWE. Saat ini, Jon Moxley berhasil menjadi pro wrestler paling populer dalam AEW, dan AEW sendiri dengan weekly show mereka, AEW Dynamite dan Full Gear, pay-per-view pertama milik AEW setelah era Dynamite, berhasil memuaskan penggemar. Terutama match milik Jon Moxley vs Kenny Omega yang kontroversial itu akibat tingkat kebrutalan dan kekerasannya yang tinggi, sehingga memecah pendapat penggemar, apakah mencintai atau bahkan membenci match tersebut.

AEW Dynamite tayang di setiap malam Rabu, dimana dalam waktu bersamaan, developmental brand milik WWE, NXT, juga tayang, sehingga Wednesday Night War tercipta. Dan berkat ini juga, dunia wrestling kembali bergelora. Perang antara siapa brand yang terbaik pun selalu menjadi perdebatan. NXT sendiri boleh saja diperlakukan layaknya produk kelas 3 dalam WWE setelah Monday Night Raw dan Smackdown, namun NXT dalam beberapa tahun terakhir berhasil menjadi produk kesayangan penggemar WWE. Hal ini dibelakangi akan match quality dari NXT selalu berkualitas, para superstars nya yang menarik dan mudah dicintai. Dan yang paling penting, NXT memiliki niat untuk membuat penggemar senang, tidak seperti main roster yang malah sering kali membuat penggemar marah atas booking yang aneh dan tidak beralasan.

Sebenarnya saya sudah memiliki niat untuk menulis review wrestling pertama saya di blog ini pada Full Gear kemarin, namun dikarenakan saya berhalangan untuk menyaksikan pay-per-view tersebut, saya pun menunda kembali niat itu, dan akhirnya, viola, kehormatan jatuh pada pay-per-view dari NXT, yang berjudul NXT Takeover WarGames. 

NXT WarGames hanya diisi 4 match saja, namun semuanya sangat menjanjikan. Terlebih semenjak debut di 2 tahun lalu, WarGames belum pernah sekalipun mengecewakan, yah, sebenarnya semua Takeover tidak ada yang mengecewakan sih. Ekspektasi penggemar jelas meninggi, ditambah build up di beberapa minggu belakangan terasa seru dan menarik dengan tema invasi antar brand karena WarGames pun diadakan berdekatan dengan pay-per-view dari main roster, yaitu Survivor Series.

Women's WarGames: Team Ripley (Rhea Ripley, Dakota Kai, Tegan Nox & Candice LeRae vs Team Baszler (Shayna Baszler, Io Shirai, Bianca Belair & Kay Lee Ray


WWE tengah gencar menggenjot dunia wrestling wanitanya dengan sering kali mengadakan pertarungan bertajuk "the first ever.....". Setelah tahun ini women's wrestling menciptakan sejarah atas suksesnya mengisi slot main event di Wrestlemania, NXT pun tidak ketinggalan untuk menorehkan sejarah pula dengan mengadakan wargames untuk wanita pertama kali nya. 

Dengan nama-nama yang terlibat, rasanya hampir mustahil jika match ini berakhir tidak memuaskan. Ada Rhea Ripley yang dipercaya akan menjadi top female face (hero dalam dunia wrestling) di masa akan datang, ada juga Io Shirai, one of the best female wrestler right now, serta ada Kay Lee Ray, dan tentunya Shayna Baszler , the NXT Women's Champion, yang mendominasi di kelas nya dalam NXT. 

Setiap kontestan memiliki momen masing-masing, terkecuali mungkin Shayna, yang terlihat sekali harus menyimpan stamina nya karena ia harus berkompetisi lagi esoknya melawan Becky Lynch dan Bayley di Survivor Series. Ripley menjalankan perannya sebagai the powerhouse dengan baik, Bianca pun memiliki momennya sendiri seperti melakukan 450 Splash, dan bersama Kay Lee Ray, she often took a bump from another superstars. Candice LeRae juga menghadirkan top rope reverse rana yang cantik. Namun, favorit saya tentu nya adalah Io Shirai yang kembali membuktikan kehebatannya dalam bergulat. Momen puncaknya adalah ketika Io melakukan beautiful moonsault from the top of the cage. She's insane.


Namun, tidak perduli briliannya pertarungan ini, yang paling tertancap di benak penonton adalah momen turn heel (istilah villain dalam dunia wrestling) dari Dakota Kai yang menghajar secara brutal the poor Tegan Nox. Dalam waktu singkat, Dakota Kai berhasil menjadi heat magnet di NXT untuk kedepannya. Kritik kecil mungkin adalah seringnya NXT melakukan narasi yang sama. Setelah Io yang mengkhianati Candice, kini Dakota juga memiliki narasi yang serupa. Mungkin NXT ingin mengikuti kesuksesan rivalitas antara Gargano dan Ciampa. Selain itu, akibat penyerangan dari Dakota ini, Tegan Nox tidak bisa ikut tampil sehingga pertarungan ini tidak berimbang menjadi 2 vs 4. Narasi sederhana dimana para hero harus overcoming the odds. Hasilnya pun cukup mengejutkan dimana Team Ripley berhasil meraih kemenangan walau hanya berdua saja, mengakibatkan tiap anggota Team Braszley terlihat sedikit lemah. Minor complaint ini sedikit mempengaruhi rating saya pada match ini.

Rating: ****

Triple Threat: Pete Dunn vs Killian Dain vs Damian Priest (The Winner become No. 1 Contender for NXT Championship)


Jujur saja, saya masih asing dengan Damian Priest dan Killian Dain. Saya yakin pun kebanyakan penggemar NXT ikut merasakan hal yang serupa. Maka dari itu, bagi saya sendiri, match ini selain menentukan siapa penantang baru berikutnya untuk Adam Cole (BAY BAY!!), namun juga bertujuan untuk mengenalkan kepada kita akan kemampuan dari Killian Dain dan Damian Priest. Beruntungnya mereka berdua bekerja bersama Pete Dunn, yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi skill bergulat nya. Pete Dunn melakukan tugasnya dengan brilian untuk carry the match tanpa harus membayangi Killian dan Damian. Untuk saya sendiri, saya terkesan dengan Damian Priest. Priest memiliki kharisma, kemampuan nya pun berimbang atas power dan agility, dan juga Priest juga yang paling sering menerima serangan dari Dunn dan Killian, sehingga teknik selling nya pun ikutan bersinar. 

Walau tidak terlalu berkesan, namun triple threat ini masih memiliki memorable moment seperti momen trading punches and kicks antara Dunn-Killian-Damian, the Razor's Edge onto the announce table, drama near-falls nya berjalan meyakinkan. Good match, with a right winner.

Rating: ***3/4

Finn Balor vs Matt Riddle


Easily the worst match of the show, and actually it was not a bad match, it was good, though. Finn Balor yang kembali ke NXT setelah 4 tahun dengan menghadirkan salah satu momen paling mengejutkan di dunia wrestling tahun ini setelah melakukan Pele Kick pada Johnny Gargano, menandai akan turn heel nya Balor. Finn Balor memiliki momentum besar di tangannya, setelah karirnya menemui kebuntuan di main roster, maka sungguh sangat bijak dalam match nya dengan Matt Riddle ini, Balor wajib menggenggam kemenangan. Dibalik cerita sendiri, dalam WarGames ini Balor harusnya menghadapi Gargano, namun dikarenakan cedera, maka option B nya adalah Gargano digantikan Matt Riddle. Meski level Riddle belum setara Gargano, namun dalam beberapa kesempatan, Riddle telah membuktikan kemampuannya. Bahkan Riddle adalah salah satu babyface dalam dunia wrestling yang kredibilitas nya tidak akan rusak meskipun beberapa kali menelan kekalahan.

Narasi dalam match ini sederhana, Finn Balor ingin membuktikan jika dirinya belumlah habis dan ia pun menunjukkan nya disini, dimana ia mampu mengalahkan Riddle tanpa harus melakukan dirty tactics, strategi umum yang sering dilakukan oleh heel. Riddle juga tidak kalah bersinar dimana ia melakukan spear dan Jackhammer combo pada Balor secara meyakinkan.  Match yang cukup menghibur, namun sayang harus sedikit tenggelam akibat match-match lainnya yang memiliki stipulation.

Rating: ***1/2

Men's WarGames: Team Ciampa (Tomasso Ciampa, Keith Lee, Dominik Dijakovic & Mysterious Guest: Kevin Owens) vs Undisputed Era (Adam Cole, Roderick Strong, Kyle O'Reilly & Bobby Fish)


Masih meneruskan tradisi di setiap Takeover WarGames dengan main event nya selalu berhasil menjadi match of the night. Team Ciampa harus menerima fakta karena kekurangan orang dibandingkan Undisputed Era, sebelum nanti mereka mendapatkan kejutan besar dengan return nya Kevin Owens dan bergabung dengan Team Ciampa. Comeback ini pun bukan tanpa narasi karena ini adalah continuity dari build up yang dilakukan dalam beberapa minggu belakang. 

Seolah tidak ingin kalah dengan para wanita, disini semua delapan pegulat pria ini rela melakukan beberapa spot brutal yang mengejutkan dan mudah menjadi highlight di pertarungan ini. Salah satu yang terbaik adalah Panama Sunrise dari Adam Cole on the steel between the rings. That was sick and brutal!

Flow dalam match ini juga mengalir dengan baik, serta menampilkan apik nya kerja sama setiap anggota dari Undisputed Era. Dengan match ini juga, Undisputed Era semakin memperlihatkan jika mereka adalah stable terbaik saat ini di WWE. Tentunya saya berharap, Undisputed Era bisa meneruskan sepak terjang nya di main roster nanti. Siapa tahu, stable ini mampu mengikuti kesuksesan akan The Bullet Club dari NJPW. Dari Team Ciampa, walau Dijakovic masih harus berusaha lebih lagi untuk over di mata penonton, namun tidak untuk Keith Lee yang mencuri perhatian berkat agility nya yang mengagumkan meski dengan tubuh besarnya. 

Match ini diakhiri dengan holyshit spot, yaitu Ciampa melakukan Air Raid Crash from top of the cage and landing trhough two tables. OH. MY. GOD. What a way to ending this match. Dengan comeback mengejutkan dari Kevin Owens serta momen-momen WoW yang terjadi dalam match ini, tentu saja rating tinggi dari saya sudah bisa dipastikan.

Rating: ****1/2

Overall:

Hanya dengan 4 match, namun hampir semuanya memiliki kualitas baik, dengan dua WarGames match nya benar-benar mendefinisikan arti dari epic itu tersendiri. NXT Takeover senantiasa menghadirkan kualitas yang berkelas, dan tidak terkecuali untuk NXT Takeover satu ini.

What. a. war

NXT Takeover WarGames 2019: 8,5/10

Saturday, 23 November 2019

"When you have a secret, you're careful with the secrets of others"- Mitsuko

Plot

Izumi (Megumi Kagurazaka) merupakan istri dari penulis terkenal, Yukio Kikuchi (Kanji Tsuda). Mungkin publik menganggap kehidupan Izumi sangat bahagia karena memiliki suami sukses seperti Yukio, namun faktanya, Izumi harus menjalani kehidupan monoton sebagai istri dari Yukio. Kehidupannya senantiasa sama, dari menyuguhkan teh hingga merapikan sendal saat Yukio pergi maupun pulang. Semuanya selalu berjalan sama, hingga Izumi hapal betul aktivitas yang dilakukan Yukio. Sampai suatu hari, Izumi mendapatkan tawaran untuk menjadi model majalah dewasa. Disisi lain, detektif Kazuko (Miki Mizuno) tengah menangani kasus pembunuhan mutilasi yang terjadi di distrik Maruyama-cho, pusatnya hotel cinta di wilayah Shibuya, Tokyo.



Review

Guilty of Romance merupakan film ketiga dari trilogi Hate milik Sion Sono, sutradara asal Jepang yang memiliki reputasi dengan film-film nya yang disturbing akibat keberaniannya dalam menyajikan film nya dengan grafis kekerasan serta seksual tingkat tinggi, dipadu pula dengan tema film nya yang kelam.  Sono pun dengan santai juga menambahkan elemen-elemen tabu dalam menuturkan kisahnya. Dengan reputasi seperti ini, tidak heran jika Sion Sono memiliki pengikut setia  tersendiri yang selalu menantikan film-film karya dari nya. Bagi saya sendiri, walau telah sering mendengar citra sutradara satu ini, baru sekarang saya tergerak untuk mencoba karya filmnya. Dan Guilty of Romance merupakan film dari Sono yang pertama kali saya cicipi.

Dari menit awal film ini berjalan, atmosfir tidak nyaman sudah menghampiri, bahkan sebelum detektif Kazuko menginjakkan kaki nya di ranah tkp pembunuhan.  Di lokasi tkp nya sendiri, kita sudah disuguhkan sajian gambar demi gambar yang membuat bulu kuduk saya berdiri, terutama gambar dimana sosok manekin di atas. Tersibak pula fakta jika pembunuhan ini bukanlah kasus yang biasa. Terdapat bagian-bagian tubuh terpisah korban yang disambung dengan boneka. Iya, hanya dengan beberapa menit saja, saya bisa mengerti mengapa Sion Sono sering disebut sebagai sutradara yang gila. 

Setelah disajikan penampakan yang mencekam ini, Guilty of Romance mulai berjalan secara non linear. Sono membagi kisahnya dalam 5 chapter, dan pada chapter pertama adalah kita berkenalan dengan Izumi dan menyaksikan kisah hidupnya dalam menjalani peran nya sebagai istri. Pada chapter ini, Sono sengaja menjalankan narasinya dengan repetitif supaya penonton mampu merasakan betapa monotonnya keseharian dari Izumi. Bayangkan saja, Izumi harus melakukan kegiatan yang sama berulang kali di setiap hari, hingga hal terkecil seperti merapikan sendal supaya bisa langsung dipakai ketika sang suami pulang ke rumah. Entah berapa kali Sono memfokuskan gambar pada sendal tersebut, dan juga beberapa pembagian gambar pun disengaja dengan mengambil angle yang sama pula. Cara ini terbukti efektif supaya penonton ikut merasakan kebosanan yang sama seperti Izumi rasakan.

Ada hasrat dan keinginan yang besar dalam diri Izumi, yang ia curahkan dalam jurnal nya, namun harus terpenjara sebab perannya sebagai istri. Memang, sebagai istri, sudah menjadi kewajiban Izumi untuk melayani sang suami, namun disini kita bisa merasakan jika Izumi malah sama sekali tidak diperlakukan sebagai istri, yang ada malah jatuhnya Izumi bagaikan pembantu untuk suaminya. Dalam jurnal yang ia tulis, terungkap jika Izumi ingin sekali melakukan banyak hal, namun sekali lagi, harus terpendam sehingga ia harus menjalani hidup yang membosankan. 

Keinginan Izumi untuk melakukan sesuatu yang baru seolah mendapatkan angin segar kala tiba-tiba ia mendapatkan tawaran untuk menjadi model di majalah dewasa. Walau sempat enggan pada awalnya, namun Izumi pun akhirnya tertarik untuk mengambil tawaran tersebut. Lambat laun, pekerjaan baru nya ini menjadi lembar baru untuk Izumi. Kehidupan sehari-hari nya secara otomatis membuat Izumi menjadi kaku atau lebih tepatnya kurang ekspresif, namun dengan pekerjaan baru nya, lambat laut Izumi berhasil tampil lepas bagai burung lepas dari sangkarnya. Ia memiliki keberanian untuk melakukan apa yang ia inginkan.

Secara perlahan, Sono membangun kedekatan antara Izumi dengan penonton. Mudah untuk memahami motif dari Izumi setelah kita turut menyaksikan dari berbagai kilasan aktivitas sehari-hari nya. Ada rasa kasihan dan muak saat Izumi yang telah menjadi istri yang setia dan begitu penurut, malah eksistensi nya seolah dianggap tidak ada. Namun, saat Izumi mulai semakin menikmati kehidupan nya yang baru, ada pula rasa cemas apa yang akan terjadi pada Izumi nanti nya. Meski Izumi terlihat begitu menikmati, namun sebagai penonton, saya mengetahui kebahagiaan Izumi tidak akan bertahan lama. Tanpa sadar, rasa simpati saya telah tercipta untuk karakter ini.

Berawal dari suatu kejadian, Izumi pun akhirnya berjumpa dengan Mitsuko (Makoto Togashi) dan dari sini lah Izumi mulai merasakan gelapnya dunia yang tengah ia jalani. Cerita pun mulai mengalami transisi, dari kental nya aroma drama hingga perlahan atmosfir horror mulai mengambil alih. Dari sini, Guilty of Romance tidak mudah dinikmati berkat misteriusnya karakter Mitsuko. Meski tampak dari permukaan, Mitsuko tidak jauh berbeda seperti Izumi, namun Mitsuko terlihat manipulatif, lengkap dengan tingkah laku nya yang tidak bisa ditebak. Terlihat kabur apakah intensi nya ingin membantu Izumi atau malah sebaliknya.

Tampak jelas Sono ingin memperlihatkan jika setiap orang pasti memiliki sisi gelap nya masing-masing, namun sisi tersebut harus terpendam akibat benturan moral atau pun konsekuensi yang harus dihadapi. Contohnya saja disini kita diperlihatkan seorang istri yang normal-normal saja, namun dalam dirinya memiliki hasrat seks yang kuat juga liar. Seks menjadi pintu keluar dari rutinitas monoton yang ia jalani. Sono juga tanpa malu-malu menghadirkan adegan-adegan seks nya, sehingga bukan lah pilihan yang bijak jika Anda ingin menyaksikan film ini dengan keluarga Anda. Eksplorasi mengenai dunia PSK ikut pula menjadi sasaran Sono, dimana disini muncul "opini" menarik dari nya yang tersampaikan lewat barisan dialog dari Izumi ataupun Mitsuko.

Mendekati akhir, instensitas semakin meninggi, hingga nanti kita pun mendapati fakta yang miris dan menyakitkan, setidaknya untuk saya. Tidak sadar, rasa marah saya rasakan ketika mengetahui twist sehingga mendistraksi saya sepenuhnya jika twist ini sedikit terasa dipaksakan. Rasanya terlalu kebetulan jika adegan tersebut semuanya telah direncanakan. Guilty of Romance sebenarnya bisa menutup konklusi nya dengan powerful, meninggalkan kesan yang dalam karena cerita nya telah solid, namun Sono lebih memilih untuk sedikit pelit ketimbang menceritakan kejadian yang sesungguhnya.

SPOILER

Pada pertengahan cerita, telah terungkap jika mayat yang ditemukan oleh detektif Kazuko adalah Mitsuko. Dan Sono pun mengindikasikan bila Izumi adalah pelaku dari pembunuhan tersebut. Setelah mengetahui fakta bila suaminya, Yukio Kikuchi ternyata tidak lain hanyalah seorang pria brengsek yang sering "jajan" di luar dan wanita panggilan yang kerap menemani Yukio adalah tidak lain tidak bukan adalah Mitsuko, rasanya mudah dimengerti jika Izumi ingin sekali membunuh Mitsuko. Turtu dibantu juga oleh ibu Mitsuko, Shizu Ozawa (Hisako Okata) akibat dorongan rasa benci atas kelakuan putri semata wayangnya. Yang mengganggu adalah siapa yang melakukan mutilasi? Kenapa harus repot-repot melibatkan manekin untuk menyembunyikan tubuh Mitsuko? Tersibak fakta juga jika Mitsuko jatuh cinta pada ayahnya sendiri. Motif Mitsuko melakukan aktivitas menjual dirinya saja bagai sebuah pelarian dari rasa kesedihan atas kematian sang ayah.

Spoiler End

Sebagai Izumi, Megumi Kagurazaka bermain total dimana ia harus dituntut untuk melakukan adegan seks frontal serta sering beradegan telanjang. Ia beperan cukup baik dalam memerankan seorang istri yang setia, polos dan suci. Penonton mudah menyukai karakter nya karena pesona likeable nya. Momen terbaik nya kala ia berbicara sendiri di depan kaca (dengan total nudity), bertransformasi dari wanita yang kaku bagaikan robot hingga dirinya menjadi wanita yang lebih ekspresif. Makoto Togashi juga bermain cemerlang dalam memerankan Mitsuko yang bermuka dua serta manipulatif. Namun the show stealer jatuh pada aktris senior, Hisako Okata. Dengan screentime yang singkat, ia berhasil memberikan kesan mendalam akibat atmosfir horror yang ia pancarkan. Adegan perbincangan di meja makan menjadi momen terbaik dalam film ini sebagian besar berkat kuatnya akting nyonya Okata.

Guilty of Romance ditutup dengan cukup dragging, karena untuk saya, tidak perlu Sono menyajikan sebuah aftermath untuk satu karakter setelah momen menegangkan yang telah terjadi sebelumnya. Andai film ini ditutup tidak lama dari momen tersebut, rasanya Guilty of Romance jauh lebih baik. Secara keseluruhan, Guilty of Romance memang tidak terlalu spesial, namun berkat dasar cerita nya yang berani serta penyutradaraan Sono yang unik, tentu saja saya tertarik untuk mencoba film Sono lainnya.

7,75/10

Sunday, 17 November 2019

"A king has no friends. Only followers and foe"- Sir John Falstaff

Plot

Hal (Timothee Chalamet), pangeran berjiwa bebas serta pewaris sah akan tahta kerajaan Inggris, harus segera mengisi kursi raja setelah wafatnya sang ayah, King Henry IV (Ben Mendelsohn), akibat penyakit. Didorong oleh rasa benci dan hubungan tidak baik dengan ayahnya, Hal berkeinginan untuk menjadi raja yang berkuasa atas idealisme nya sendiri, serta membuktikan jika ia adalah raja yang jauh lebih baik ketimbang ayahnya. Niat dari Hal ini bukan hal yang mudah dipertahankan mengingat kekacauan dan konflik yang ditinggalkan oleh sang ayah bersama kerajaan yang lain.




Review

Umurnya belum genap 24 tahun, namun aktor muda Timothy Chalamet telah memiliki pengalaman berakting yang tidak bisa diremehkan. Chalamet merupakan salah satu aktor muda saat ini yang diyakini akan memiliki masa depan yang cemerlang sebagai aktor. Sebelum 2 tahun lalu ia mengangkat nama lewat Call Me by Your Name, yang pula mengantarkan dirinya mendapatkan nominasi Oscar pertama untuknya, Chalamet telah mencuri perhatian melalui penampilan mengesankan di film Miss Stevens dan Lady Bird. Tidak berlebihan jika banyak menganggap dirinya adalah sebagai aktor muda terbaik saat ini dan digadang-gadang sebagai the next Leonardo Dicaprio.

Dalam The King, Chalamet kembali menunjukkan performa yang prima sebagai raja muda yang masih hijau dalam menangani seluk beluk mengenai kerajaan. Tentu bukan sembarang aktor untuk bisa memerankan seorang raja. Perlu kharisma dan kewibawaan tingkat tinggi untuk bisa meyakinkan penonton jika ia layak untuk menjadi seorang raja, dan Chalamet memiliki ini. Tanpa tahta menghiasi kepalanya, telah terpancar kharisma seorang pria yang patut disegani dari Chalamet. Terlihat kala dalam satu adegan ketika ia satu layar dengan adik dari Hal, Thomas (Dean-Charles Chapman), penonton sudah bisa merasakan jika Hal lebih layak menjadi raja ketimbang Thomas. Dalam menunjukkan kemampuan akting, tatapan mata senantiasa ia jadikan wadah untuk berbicara kepada penonton sebagai gambaran suasana hati yang sedang dirasakan karakter nya. 

Kematangan akting dari Chalamet berperan cukup besar untuk bisa membuat saya betah senantiasa mengikuti film keluaran dari Netflix ini. Jujur, film bertemakan kerajaan bukanlah selera saya. Apalagi The King memiliki tempo lambat dengan minim intensitas ketegangan, sebelum nantinya pasukan Inggris yang diketuai Hal sebagai King Henry V menginjakkan kaki di wilayah Prancis untuk berperang. Untungnya, naskah garapan Joel Edgerton dan David Michod, yang juga duduk di kursi sutradara, cukup solid.

Ada konflik yang tersaji di dalam kerajaan, dari isu siapa yang sebaiknya menjadi pengganti King Henry IV, serta tidak berpengalamannya Hal ketika ia telah menduduki kursi raja. Keinginan Hal sebenarnya hanya satu, yaitu ia tidak ingin mencontoh cara berkuasa sang ayah. Karena itu sebisa mungkin ia menjauhi konflik dan memprioritaskan kedamaian. Namun tentunya keinginan ini tidak bertahan lama ketika ia didesak oleh beberapa situasi yang mempertaruhkan harga diri kerajaan Inggris. Tidak hanya itu, kapabilitas Hal sebagai raja pun juga ikut dipertaruhkan. Setidaknya satu jam pertama, narasi cerita dipenuhi akan konflik apakah nantinya Hal tetap ingin menjadi raja sesuai keinginannya atau ia harus menunjukkan "kekejaman" layaknya raja sebelumnya untuk membuktikan jika ia pantas untuk menjadi raja.

Walau memang sekali lagi temponya berjalan lambat, tetapi narasi ini telah menjadi fondasi yang cukup kuat untuk menjembatani pada adegan perperangan yang menjadi klimaksnya. Perperangan yang terjadi sebenarnya tidak lah menunjukkan hal yang baru, bahkan bisa dibilang bagaikan copy paste dari Battle of Bastard nya Game of Thrones, dengan mengandalkan teror claustrophobic untuk membuat penonton menahan nafas. Glorifikasi dikesampingkan dimana Michod lebih memilih menyajikan perang nya serealistis mungkin lengkap dengan lumpur tanah yang menambah kesan sesak akibat ruang untuk bergerak begitu sempit. Pilihan yang patut diapresiasi karena mampu menggambarkan neraka akan perperangan. Namun perang antara Inggris dan Prancis ini cukup terasa menegangkan dikarenakan adanya narasi yang solid sebelumnya. Pada perang inilah terlihat apakah Hal layak menjadi raja atau tidak. Dari perang ini pula lah, keputusan Hal untuk mengangkat temannya sebelum menjadi raja yang merupakan mantan prajurit pemabuk dan hobi merampok, John Falstaff (Joel Edgerton) sebagai taktikal perang adalah keputusan yang keliru atau tidak. 

Joel Edgerton sendiri bermain memukau dengan memerankan seorang mentor sekaligus teman bagi Hal. Karakter nya senantiasa menjadi moral compass untuk tetap membimbing Hal supaya dirinya tidak kehilangan jati diri sebenarnya. Namun yang menjadi scene stealer sendiri adalah Robert Pattinson yang berperan sebagai pangeran Prancis eksentrik, Dauphin. Akting yang ia tampilkan disini semakin menambah keyakinan saya jika nanti ia tidak akan mengecewakan kala ia memerankan Bruce Wayne di film The Batman mendatang. 

Michod pun menutup kisah The King dengan menampilkan fakta menghenyak, yang semakin menguatkan jika Hal tidak akan bisa menjadi raja yang sesungguhnya jika ia tidak memiliki orang terpercaya di dekatnya. Walau keakuratan sejarah dari film ini patut dipertanyakan, namun tak tertampik jika The King merupakan sajian film historical drama yang cukup menghibur berkat narasinya yang solid serta penampilan memukau para aktor nya. Kredit lebih juga patut diberikan untuk sinematografer, Adam Arkapaw, dalam kemampuannya menghadirkan gambar demi gambar yang memanjakan mata.

7,75/10

Saturday, 2 November 2019

"You may have changed the future. but you didn't change our fate"- Grace

Plot

Prajurit wanita setengah cyborg dari masa depan bernama Grace (Mackenzie Davis), memiliki tugas untuk menyelamatkan Dani Ramos (Natalia Reyes) dari buruan Legion, teknologi AI di masa depan yang akan membumi hanguskan umat manusia. Dari Legion sendiri mengirimkan terminator tipe Rev-9 (Gabriel Luna), terminator berteknologi super canggih yang memiliki kemampuan untuk memisahkan diri serta beregenerasi tanpa batas, demi membunuh Dani. Grace dan Dani nantinya akan bertemu dengan Sarah Connor (Linda Hamilton) yang memiliki tujuan berjaga-jaga mengantisipasi kebangkitan Skynet.



Review

Dengan menghadirkan dua aktor dari dua film klasik terdahulu nya, lalu mengajak kembali James Cameron yang kini duduk di kursi produser, serta keputusan untuk menganggap ketiga film sekuel setelah T2: Judgement Day seolah tidak ada, terlihat usaha dari pihak Paramount dan 20th Century Fox untuk menggembirakan hati penggemar franchise ini dengan menghadirkan film teranyar supaya bisa berakhir dengan kualitas yang bisa dibanggakan. Terlebih lagi dengan nama-nama ternama di bangku sutradara maupun naskah, yang kini diemban oleh Tim Miller (Deadpool 2) dan trio David S. Goyer (The Dark Knight trilogy), Justin Rhodes, dan Billy Ray (Hunger Games, Captain Phillips, Gemini Man). Di atas kertas, Dark Fate jelas sangat menjanjikan. Dan jangan salahkan bila ekspektasi penonton akan melambung tinggi.

Namun yang jelas, sehebat apapun pihak dibelakang layar Dark Fate, rasanya sulit untuk melakukan perubahan total pada dasar penceritaan. Maka pilihan yang rasional adalah tetap berpijak pada penceritaan klasik film-film Terminator awal dan melakukan perubahan seperlunya. Toh, bila harus belajar pada Terminator Genisys, mengubah cerita dasar secara signifikan juga tidak menjamin film berakhir dengan baik.

Dark Fate dibuka dengan adegan-adegan yang familiar ala Terminator jika Anda merupakan penikmat film yang mengikuti franchise ini dari awal, terutama dengan T2: Judgement Day. Dua karakter misterius yang mendadak muncul, lalu berusaha untuk mencari target utama dari misi masing-masing. Dan dalam setengah jam awal saja, Dark Fate telah menyajikan adegan aksi beradrenalin tinggi dengan melibatkan pertarungan beroktan tinggi, lalu dilanjutkan dengan car chase yang seketika, lagi, mengingatkan saya akan adegan car chase yang terjadi dalam T2: Judgement Day. Walau tidak terlalu memorable, namun ini sudah sangat efektif untuk mempertunjukkan kehebatan masing-masing dari Grace dan terutama Rev-9, sebelum nanti kita akan diperlihatkan kehadiran kembali Sarah Connor yang berhasil membuat saya ingin teriak kegirangan, ditambah dengan iringan soundtrack legendaris milik Brad Fiedel yang telah menjadi ciri khas franchise ini.

Setelah dibuka dengan cukup menjanjikan, Dark Fate mulai berjalan dengan intensitas yang cukup perlahan demi membangun narasi penceritaan. Selain karakter the chosen one nya yang beralih ke Dani Ramos, selebihnya memang Dark Fate tidak terlalu memiliki perbedaan yang signifikan, dan sekali lagi, saya mengerti akan pilihan ini. Oh, mengenai John Connor, penonton akan mendapatkan jawabannya, yang nantinya berkaitan erat akan secuil kisah hidup Sarah setelah berhasil menghentikan Skynet. Cukup kaget sih karena trio Goyer-Rhodes-Ray memilih mengungkapkan nya dengan minim efek dramatisasi, berlalu begitu saja. Padahal karakter John Connor merupakan karakter paling berpengaruh untuk franchise ini. Dan dari ketika Dark Fate mulai bergerak perlahan, membangun fondasi cerita, tersibak sedikit demi sedikit kelemahan dari film ini. Karena ketika adegan aksi absen di layar, disitu pula Dark Fate tidak memiliki magnet yang cukup kuat untuk tetap mencengkeram atensi penonton.

Pergerakan cerita cenderung monoton dan repetitif, tidak ada yang terlalu spesial, hingga nanti karakter Arnold Schwarzenegger, sang ikon dalam franchise ini, muncul di layar. Tidak bisa terpungkiri sih memang, sosok Arnold sangat efektif dalam menarik atensi penonton kembali. Tercipta juga hubungan "love hate relationship" antara Sarah dan sang terminator, yang kini memiliki nama yaitu Carl. Terdapat usaha untuk memodifikasi mengenai sosok Terminator, namun hingga akhir nanti, narasi ini hanya lewat saja tanpa menimbulkan kesan.

James Cameron merupakan the godfather dalam franchise ini, dan saya rasa beliau mengerti salah satu aspek terbesar mengapa dua film awal Terminator sangat dicintai oleh penikmat film hingga jatuhnya menjadi salah satu yang terbaik di genre aksi, terlepas dari visual effect atau ide ceritanya yang visioner, dan aspek tersebut adalah emosi atau hati. Jika di film pertama, kita disajikan hubungan romansa antara Sarah dan Kyle, pada sekuelnya, hubungan emosi berpusat pada John dan sang terminator, T-800. Terdapat momen-momen kehangatan yang tercipta. Salah satunya, siapa yang bisa melupakan momen ketika John bermain high five dengan T-800? Kehangatan seperti ini yang saya tidak temukan di film-film Terminator selanjutnya, dan sayangnya termasuk Dark Fate.

Sangat disayangkan karena Dark Fate memiliki kumpulan karakter yang memiliki sejarah masing-masing, seperti Grace dan Dani, atau Dani dengan Sarah yang memiliki kisah yang hampir sama, hingga Sarah dan Carl. Goyer and co. telah memiliki modal awal yang sangat baik, namun sayang sekali, kesempatan membangun hubungan emosional sangat minim tampil di layar. Interaksi yang terjadi berlingkup pada usaha menyelamatkan diri, atau strategi untuk bisa mengalahkan Rev-9. Kuantitasnya jauh lebih banyak dibandingkan obrolan yang menyentuh ke ranah pribadi dalam rangka usaha membangun relasi antar karakter. Akibatnya, tidak ada emosi yang terbangun, sehingga narasi sepenuhnya bertumpu pada pertanyaan, bagaimana Rev-9 di akhir nanti dikalahkan, bukan lagi apakah karakter-karakter utamanya bisa selamat, yah, mungkin pengecualian untuk Sarah dan Carl sih.

Saya cukup menyayangkan keputusan dari Goyer dan tim untuk malu-malu dalam mengungkapkan peran Dani di masa depan sehingga dirinya menjadi target utama bagi Legion, karena saya rasa sebagian besar penonton telah bisa menebak jawaban yang telah disiapkan. Saya sebenarnya masih berharap jika Goyer-Rhodes-Ray ingin menyiapkan kejutan, namun ternyata pun tidak ada. Jawaban yang telah disiapkan sama persis dengan apa yang dalam pikiran saya, dengan sedikit sentuhan emosional yang melibatkan relasi antara Grace dan Dani.

Untungnya, kelemahan pada narasi ditambah minimnya pendalaman relasi antar karakter sedikit ditutupi dengan gelaran adegan aksi nya yang harus diakui sangat menghibur. Dengan rating R, Tim Miller terlihat bebas dalam menggeber sajian aksinya. Darah bercipratan, lalu tubuh tercabik dengan memanfaatkan kekuatan dari Rev-9 yang benar-benar sukses besar dalam merepotkan Grace, Sarah, bahkan Carl. Baik di darat, udara atau pun dalam air, semuanya tidak masalah bagi Rev-9, walau sayangnya memang disini sosok Rev-9 mungkin tidak terlalu membekas karena fakta generiknya karakterisasi yang dimiliki. Mungkin disengaja ya, yah, namanya juga robot kan.



Linda Hamilton dan Arnold boleh saja menjadi scene stealer, namun hal yang paling mengejutkan adalah penampilan prima dari Mackenzie Davis yang tampaknya akan menjadi salah satu heroine terbaik pada tahun ini. Tidak hanya sexy, namun juga Mackenzie tampil begitu badass di setiap sajian aksi nya, terutama kala ia mengayunkan rantai yang mampu mencabik-cabik tubuh Rev-9. Dengan dikelilingi karakter-karakter keren di dekatnya, mudah untuk melupakan karakter Dani, terlebih memang sebelum mendekati third act, penonton belum memiliki alasan cukup kuat untuk terikat sepenuhnya dengan karakter ini.

7,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!