Showing posts with label Superhero. Show all posts
Showing posts with label Superhero. Show all posts

Wednesday, 2 October 2019


"I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it's a comedy"- Arthur Fleck

Plot

Mengisahkan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), pengidap pseudobulbar affect (penyakit dimana seseorang secara tiba-tiba menangis atau tertawa yang tak terkendali), yang harus menghadapi segala benturan-benturan realita hidup, dari karir yang tidak kunjung berkembang, sang ibu, Penny Fleck (Frances Conroy) terobsesi akan Thomas Wayne (Brett Cullen), serta berbagai kesialan yang seolah enggan menghindarinya.




Review

Perlukah film yang disutradarai oleh Todd Philips ini dibuat? Atau pertanyaan yang lebih tepatnya, perlukah memberikan pendalaman karakter dan sentuhan humanis diberikan pada salah satu musuh terbesar Batman ini? Pertanyaan demi pertanyaan, serta diselingi dengan keraguan kerap hadir kala Joker resmi diumumkan akan rilis pada tahun ini di beberapa tahun belakang. Saya mengakui, rasa cemas pecinta film bisa dimengerti. Walau dalam komik nya sendiri memang terdapat beberapa kisah origin dari Joker, namun tetap salah satu daya tarik dari Joker adalah kesan misteri nya. Terlebih pendekatan yang dilakukan oleh Christopher Nolan dalam The Dark Knight 11 tahun lalu terbukti berhasil. Dan berbicara The Dark Knight, pastinya penampilan monumental nan ikonik dari mendiang Heath Ledger telah memberikan standar yang begitu tinggi dalam memerankan si badut kriminal yang gak lucu ini. Beban berat tentu disandang oleh Joaquin Phoenix selaku aktor pemeran Joker, terlebih setelah kegagalan Jared Leto di Suicide Squad dalam memerankan karakter yang sama. 

Sebelum membahas penampilan Phoenix, mari kita fokus kepada penceritaan terlebih dahulu. Dibantu oleh Scott Silver di departemen penulisan naskah, Philips tampak telah paham betul dalam menghadirkan film origin yang benar. Ketimbang menitik beratkan narasi akan sajian aksi serta seru-seruan layaknya film beradaptasi dari comic book, Philips lebih mengedepankan pada pendalaman karakterisasi, mengembangkannya secara perlahan, serta mengajak penonton untuk menyelami lingkungan hidup sang karakter utama. Tidak ada hal luar biasa yang terdapat dalam diri Arthur Fleck. Ia tidak memiliki latar belakang militer, bukan juga pemilik kekuatan super dan latar belakang keluarganya pun cenderung biasa saja. Hanya saja, dengan mengidap mental illnes, Arthur terlihat berbeda dengan orang lainnya. Bahkan akibat perbedaan tersebut, Arthur harus menerima perlakuan tidak menyenangkan oleh orang sekitar nya. 

Terinspirasi dari film klasik Martin Scorsese, The King of Comedy, layaknya Rupert Pupkin, kehidupan Arthur bisa dibilang cukup menyedihkan dengan dekatnya ia akan nasib buruk dan seolah ditolak eksistensinya. Ia tinggal di apartemen sederhana dengan ibunya yang renta. Kehidupan pekerjaannya pun juga tidaklah lancar, ditambah keinginannya untuk menjadi stand up comedian pun terlihat mustahil. Berbagai permasalahan seolah enggan untuk menjauhi nya, terutama kala ia harus dipecat dari pekerjaannya sebagai badut penghibur. Lewat karya nya inilah, Philips dan Silver ingin memperlihatkan jika rentetan dari nasib buruk yang terjadi sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang berbuat nekad dalam berbuat jahat karena pada dasarnya, tidak ada seorang pun di dunia ini terlahir menjadi seorang penjahat. 

Film Joker sendiri adalah film kedua dari DC Comic yang menerima rating R setelah Watchmen akibat kandungan kekerasan serta tumpahan darah nya. Namun bagi saya sendiri pendekatan realistis akan kisah Arthur Fleck menjelma menjadi kriminalitas level atas dari Philips dan Silver yang lebih memikat, namun disturbing. Berkat kisah Arthur ini, muncul di benak jika apa yang terjadi pada Arthur sesungguhnya bisa terjadi kepada setiap orang pinggiran yang seolah tidak diterima eksistensi nya oleh masyarakat. Pandangan Arthur akan hidup, lengkap dengan make up badutnya yang ia ungkapkan pada acara bincang-bincang milik Murray Franklin (Robert De Niro, aktor yang sama memerankan Rupert Pupkin di The King of Comedy) pun walau terdengar gila, namun masuk akal dan mendekati apa yang terjadi pada realita kehidupan. Khalayak media menggembar-gemborkan akan kematian seseorang hanya karena memiliki relasi dengan tokoh berpengaruh, padahal warga seperti Arthur setiap hari nya mengalami penderitaan dan begitu dekat nya dengan peliknya kehidupan seolah jauh dari pemberitaan. Ditambah dengan pergerakan para badut yang terjadi dalam film ini lah yang membuat Joker begitu disturbing. Semoga saja tidak ada orang iseng yang ingin mengikuti dan menerapkan aksi serupa di dunia nyata. Namun tak bisa ditampik, apa yang Philips dan Silver sajikan disini bagaikan sebuah kritik keras terhadap kaum menengah ke atas.

Dengan fakta ini, serta penyakit psikis yang ia alami, rasanya hampir mustahil untuk tidak berempati terhadap Arthur Fleck. Tidak menjustifikasi apa yang ia lakukan nantinya adalah benar, namun setidaknya sebagai penonton, kita bisa mengerti mengapa Arthur nantinya menjelma menjadi pelaku kriminal. Ironis memang, kita mampu bersimpati kepada karakter yang malah tidak memiliki simpati sama sekali kepada orang lain. Meski demikian, saya sedikit kurang menyukai penanganan karakter Thomas Wayne (Brett Cullen) dalam film ini. Memang, kita mengenal karakter ini berdasarkan point of view dari Arthur sehingga wajar sosok Thomas Wayne disini terlihat orang kaya yang brengsek dan apatis, namun untuk penonton seperti saya yang hanya mengenal karakter ini dalam film Batman Begins, dan bagaimana influentalnya karakter ini pada pembentukan karakter Bruce Wayne di trilogy The Dark Knight, saya sedikit kurang menerima sih akan penggambaran karakter nya disini yang begitu berbeda. Lol. 

Pada saat kalimat "THE END" muncul di akhir, tak sadar saya sendirian bertepuk tangan cukup keras, yang seketika saya hentikan karena tak ingin menarik perhatian. Terdengar juga dari bisikan penonton di dekat saya yang berkomentar "kapan nonton film ini lagi? Bagus banget soalnya". And you know what? I agreed 100% with him/her. Saya rela merogoh kocek saya yang gak banyak untuk kembali menyaksikan sajian spesial dari Todd Philips ini. Saya terkesima berkat pendekatan realistisnya, betapa beraninya Philips dan Silver dalam menyajikan narasinya yang begitu dekat akan realita yang terjadi sekarang. Bukan berlebihan jika dalam beberapa tahun kedepan, film ini akan dianggap sebagai film klasik, juga akan memiliki penggemar militan yang sangat banyak. Bukan mustahil juga jika Anda akan menemui di jalanan ada orang yang mengimitasi tarian dari Arthur. Joker bukan lagi hanya sebagai karakter, namun telah menjadi simbol berkat film ini. Ya, jika dalam superhero kita memiliki Batman Begins sebagai film origin terbaik, maka tidak salah jika Joker adalah film origin terbaik mengenai supervillain.

Namun, tidak bermaksud untuk melupakan pekerjaan fantastis Philips dan Silver lakukan, apa yang membuat Joker terasa spesial adalah penampilan luar biasa dan Oscar worthy dari Joaquin Phoenix. Berbeda dengan Jared Leto, Phoenix merupakan salah satu aktor yang paling dihormati dalam dunia perfilman berkat talenta aktingnya. Ia pun termasuk underrated jika ditilik dari jumlah nominasi Oscar yang "baru" 3 kali saja dan sama sekali belum membawa patung emas tersebut. Namanya pun tidak sepopuler layaknya Leonardo DiCaprio ataupun Robert Downey Jr. Jika Anda pun baru pertama kali melihat akting dari Mr. Phoenix, well, anggap saja Anda sial. Hentikan membaca sekarang dan silahkan tonton akting dari beliau di film-film lainnya.

Joaquin Phoenix adalah aktor yang hebat, tidak ada yang berani menyangkal fakta ini, namun tetap saja, performanya sebagai pria yang broken, lengkap dengan health issue yang diidap karakter yang ia perankan, mampu ia sajikan dengan begitu total sehingga membuat saya terkesima. Phoenix berhasil menjadi magnet terbesar sehingga mata penonton tidak akan pernah lepas dari layar. Setiap menit sebenarnya karakter yang ia mainkan selalu  muncul, namun hingga film berakhir, saya masih merasa kurang dan ingin melihatnya kembali berakting sebagai Joker. Setiap gestur badan yang ia tampilkan seolah memiliki makna, dan walaupun tawa seorang Joker darinya tidak sememorable seperti yang Heath Ledger lakukan, namun tak seperti karakter-karakter Joker lainnya yang menggambarkan gila atau maniak nya karakter Joker melalui tawa, disini tiap tawa yang dihasilkan Phoenix malah terkesan rasa pedih dan derita akibat ketidak adilan hidup yang selalu ia terima. Sebagai contoh dengar saja tawanya tanpa henti kala ia ingin melakukan stand up comedy nya. Namun momen terbaik Phoenix hadir kala ia beradu akting dengan Robert De Niro saat film mendekati akhir. Adegan yang sebelumnya terkesan biasa, bahkan lucu, berubah menjadi intens, menegangkan dan ditutup dengan memberikan shock therapy untuk penonton. Dan pegang ucapan saya ini, pihak Academy akan kehilangan kredibilitas nya jika mereka berani untuk tidak mencantumkan nama Joaquin Phoenix dalam gelaran Oscar tahun depan. 

Anggap saya berlebihan dan overreacted, namun honestly speaking, you need to watch this movie. Tidak banyak film yang saya tonton pada tahun ini, namun saya berani menjamin, Joker adalah salah satu film terbaik keluaran tahun 2019. Dengan realistisnya Todd Philips memberikan pendekatan pada karakterisasi Arthur Fleck sebelum menjelma menjadi Joker, Atmosfir kelam dan gelap seolah tanpa kebahagiaan di kota Gotham versi Philips, dan tak lupa juga performa fantastis Joaquin Phoenix, Joker meludahi ekspektasi rendah saya sebelumnya dan menertawakan kepada setiap penikmat film yang meremehkan film ini. Dan ya, setelah trilogi The Dark Knight, DC boleh kembali bangga karena, sekali lagi, film keluaran mereka kali ini mampu membuat semua film beradptasi comic book dari kompetitor terlihat seperti film untuk anak-anak.

8,75/10

Thursday, 4 July 2019


"The world need the next Iron Man"- Peter Parker

Plot

Delapan bulan rupanya masih terlalu singkat untuk umat bumi melupakan perang besar yang telah terjadi. Kemenangan memang berhasil diraih, namun harus dibayar akan pengorbanan nyawa yang dilakukan Tony "Iron Man" Stark (Robert Downey Jr.), Natasha "Black Widow" Romanoff (Scarlett Johanson), Steve "Captain America" Rogers (Chris Evans) dan Vision (Paul Bettany). Publik pun bertanya-tanya siapa pengganti mereka, terutama Iron Man. Beban besar di sandang oleh para Avengers yang tersisa, termasuk Peter Parker (Tom Holland) sebagai Spider-Man, dalam meneruskan tugas Avengers. Namun, Peter merasa ia butuh rehat sejenak dari kesibukan nya sebagai Spider-Man. Peter memiliki rencana tersendiri yaitu memanfaatkan study tour sekolahnya untuk bisa berdekatan dengan MJ (Zendaya). Sebab itulah ia sebisa mungkin menghindari panggilan tugas dari Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang sebenarnya membutuhkan sosok Spider-Man untuk menghadapi makhluk-makhluk yang dinamakan Elemental yang kerap hadir di berbagai belahan dunia. 



Review

Pondasi ceritanya memiliki perbedaan yang kontras. Disatu sisi, ada kisah ancaman kehancuran dunia, lalu di sisi lain ada sesosok remaja yang bertekad untuk bisa menyatakan cintanya. Peter dipaksa harus menentukan pilihan apakah ia harus menjalankan tugasnya sebagai anggota Avengers atau lebih mengedepankan kisah asmaranya yang ingin ia bangun bersama MJ. Ada kisah kepahlawanan, lalu coming of age layaknya film romcom pada umumnya. Keduanya melebur menjadi satu, untuk menjembatani proses pendewasaan diri Peter Parker. Narasinya jelas mengingatkan kita akan film kedua dari Raimi's Spider-Man trilogy (Which is, still the best Spider-Man movie ever), yang membedakan adalah pada karakter Peter Parker itu sendiri.

Jika di Spider-Man 2, kita diperlihatkan Peter Parker kesulitan dalam mengimbangi kehidupan normal nya bersamaan dengan tugasnya dalam memerangi kriminalitas sehingga melahirkan kebimbangan, di Far From Home sebaliknya, Peter Parker versi terbaru ini justru menghindari tanggung jawab nya sebagai Spider-Man dengan lebih memfokuskan pada kehidupan masa remaja nya. Ia merasa dunia tidak terlalu membutuhkan Spider-Man karena masih banyak superhero lainnya yang jauh lebih superior dibandingkan dirinya. 

Terdengar egois? Memang. Wajar saja jika Anda merasa karakter Peter disini cukup menyebalkan, namun harap diingat lagi, Peter masih berusia 16 tahun. Ia masih duduk di kursi SMA. Ditambah lagi dengan apa yang telah ia saksikan selama ia berkarir menjadi Spider-Man, mudah dimengerti bila semangat dan antusiasnya yang ia perlihatkan kala Tony merekrutnya bergabung menjadi Avengers kini mulai luntur dan ia merasa perlu rehat sejenak supaya bisa menikmati kehidupan normal nya. 

Dalam bimbangnya inilah, Peter selalu merindukan sosok Tony yang sudah menjadi father figure untuk dirinya. Tanpa Tony, ia mulai kehilangan arah dan tidak tahu keputusan apa yang harus ia ambil. Di tengah-tengah rasa kehilangan, muncul lah Quentin Beck (Jack Gyllenhaal) yang hadir kala menghadapi salah satu Elemental yang hadir di sungai Venise sekaligus membantu Peter menyelamatkan teman-teman satu sekolah nya. Dalam waktu singkat, kehadiran Quentin atau nantinya disebut sebagai Mysterio berhasil mengisi kekosongan seorang Tony dalam memberikan wejangan kepada Peter. Seperti yang Peter ungkapkan, ia begitu lega ada teman superhero yang bisa dijadikan tempat untuk cerita. 

Ceritanya berpotensi melahirkan kompleksitas, terlebih ada beberapa momen yang bila dieksplor sedikit lebih dalam, akan memberikan warna tersendiri akan sosok Peter Parker bahkan bisa berdampak atas hubungannya dengan MJ, namun penulis naskah Erik Sommers dan Chris McKenna memilih jalur aman dalam menggulirkan penceritaannya sehingga momen-momen tersebut terasa hanya menjadi pengisi durasi saja. Far From Home nyatanya memang masih terasa ringan walaupun tema nya yang bersentuhan pada proses pendewasaan diri dan tanggung jawab besar pada diri Peter Parker. Jokes ala MCU juga masih hadir, sedikit hit and miss, yang mana Ned (Jacob Batalon) dan Betty (Angourie Rice) berhasil menjadi spotlight berkat comedy timing mereka yang nyaris sempurna. Terkhusus untuk Ned, saya akhirnya berhasil menyukai karakter nya disini.  Juga,  untungnya jokes yang hadir tidak sampai mendistraksi cerita yang tengah berlangsung, kecuali ada satu adegan di akhir. Kalau boleh jujur, saya ingin Marvel atau Disney mengurangi kadar jokes nya sih, ya ga perlu harus hadir kala momen menegangkan tengah terjadi, terutama di menit-menit akhir. 

Cerita nya yang memang bergulir cukup biasa saja, berhasil ditutupi dengan adegan aksi nya yang luar biasa menghibur. Semenjak pertama kali Mysterio berhadapan dengan Elemental di sungai Venise, saya telah mematok ekspektasi yang tinggi untuk adegan-adegan aksi selanjutnya. Bangunan-bangunan yang runtuh berhasil menjadi arena bermain bagi pahlawan kita yang sering memanfaatkan celah-celah sempit untuk menyelamatkan diri, sedangkan Mysterio dengan kemampuannya yang misterius (sesuai nama julukannya) berhasil mengimbangi keliaran dari aksi Spider-Man lengkap dengan gas(?) berwarna hijau nya. Percayalah, sama sekali tidak ada adegan aksi yang mengecewakan. Namun jika harus memilih momen terbaik dari Far From Home, jawaban saya tentu saja adalah dream sequence yang hadir di pertengahan cerita kala twist nya telah terungkap. Momen ini wajib, sangat wajib, harus Anda saksikan di bioskop. Kreativitas nan kegilaan dari Jon Watts semuanya tertumpahkan di adegan ini, dibantu dengan special effect mengagumkan serta pergerakan kamera yang begitu dinamis, memaksa saya untuk takjub dan rasanya ingin segera memberikan standing ovation hanya untuk adegan itu saja. Sekali lagi, adegan ini harus Anda saksikan dalam layar bioskop. Trust me, you'll be glad  you did. 

Tom Holland pun semakin matang dalam memerankan the friendly neighborhood Spider-Man, dan ia pun juga membuktikan jika ia memiliki kharisma yang mudah disukai penonton. Memang karakter Peter cukup menyebalkan di awal-awal, tapi berkat kharisma Tom Holland, kita menjadi mudah memaafkan kesalahan yang dilakukan Peter. Terlebih, Holland pun mampu senantiasa memancarkan kesedihan hanya melalui tatapan mata. Aktor pendukung yang ada pun berhasil memerankan karakter masing-masing dengan sesuai porsi. Zendaya begitu manis dalam memerankan MJ yang gloomy, sarkastik untuk menyembunyikan rasa perduli nya. Jake Gyllenhaal berpotensi menjadi scene stealer, walau akhirnya tidak demikian, namun bukan berarti aktingnya buruk. Berbicara scene stealer, hal ini berhasil direbut oleh seseorang yang muncul di mid credit scene, yang memaksa saya teriak dalam bioskop. Oh, dan Marisa Tomei jelas masih cantik nan sexy walau usianya telah lebih dari setengah abad.


8/10

Thursday, 2 May 2019


"I keep telling everybody they should move on and grow. Some do. But not us"- Captain "Steve Rogers" America

Plot

Para Avengers yang tersisa, berusaha mencari cara dalam mengembalikan milyaran korban akibat dari jentikan jari Thanos (Josh Brolin).



Review

Jika Anda sama seperti saya yang merupakan fans dari Game of Thrones dan mengikuti film-film MCU, rasanya kita bisa sepakat bila dalam 1 minggu terakhir ini merupakan hal yang tidak mengenakkan untuk surfing di dunia internet. Serial Game of Thrones memasuki episode yang menampilkan sebuah perang yang dinantikan oleh penggemar, sedangkan MCU dengan Avengers: Endgame nya sendiri adalah film yang paling dinantikan tahun ini. Spoiler jelas bertebaran di internet, bahkan di tempat yang tidak terduga. Saya sendir menjadi korban spoiler disebabkan ada user bodoh yang seolah begitu bangga telah menyaksikan Endgame terlebih dahulu sehingga dengan begitu sombongnya meninggalkan jejak spoiler di kolom obrolan Live Stream sub count antara PewDiePie vs T-Series di kanal FlareTV. Untungnya spoiler yang tertulis tidak terlalu bisa dibilang mega spoiler juga. Karena itu, selain ingin menyaksikan bagaimana akhir pertempuran Avengers menghadapi Thanos, saya juga ingin segera tenang untuk berinternet ria kembali dan menginstall ulang aplikasi Instagram dan Twitter di Smartphone saya. 

Avengers: Endgame yang masih disutradarai oleh Russo Brothers (kembali) merupakan hasil dari buah kesabaran Marvel dalam membangun universe nya dalam 11 tahun terakhir dengan 22 film nya, dan aspek paling berhasil yang juga menjadi faktor terbesar mengapa MCU menjadi raksasa di industri perfilman dalam satu dekade terakhir adalah bagaimana mereka menangani karakter-karakter di dalamnya begitu memorable dan mudah untuk disukai. Saya yakin, dari penggemar sendiri memiliki masing-masing karakter favorit mereka, baik para karakter superhero nya atau pun sekedar pemeran pembantu. Kecuali Captain Marvel (yang bisa jadi adalah karakter paling poralizing sejauh ini, itupun dikarenakan aspek non teknis), rasanya tidak ada karakter yang begitu dibenci oleh penggemar. Buah kesabaran ini sudah berhasil tampil di Infinity War, bahkan standar yang telah dipasang begitu tinggi pada film itu. Namun Russo Brothers kembali menunjukkan kembali kualitas mereka sebagai sutradara dimana, walaupun bagi saya Infinity War sedikit lebih baik, Russo Brothers sukses memberikan pengalaman sinematik berkesan lewat Endgame ini melalui studi karakter serta balutan emosi yang senantiasa hadir di setiap menitnya. 

Sedari menit awal, Endgame telah kental akan aura depresif nya, ditambah gubahan soundtrack dari Alan Silvestri yang menambah mood keputus asaan yang ada. Russo Brothers yang bekerja sama dengan Christopher Markus dan Stephen McFeely dalam divisi naskah, mengambil setting tidak lama dari ending Infinity War terjadi. Ada karakter yang putus harapan, ada juga yang tetap tegar dan ingin tetap melangkah, serta ada juga yang kehilangan arah sehingga melepaskan beban dan tanggung jawab nya sebagai superhero. Sebagai film blockbuster terbesar di tahun ini, saya cukup kaget menerima kenyataan jika Endgame cukup didominasi oleh aspek drama berfokus pada pendalaman karakter nya. Endgame menyajikan kisah para pahlawan kita ini untuk bersikap dalam setelah kekalahan masif yang mereka terima dan menghadapi ujian terbesar mereka sejauh ini seraya tetap menegakkan kepala mereka. Seberapa besar pengorbanan yang akan mereka beri demi keselamatan galaksi. Sesuai dengan kalimat yang kerap diulang di trailer awal nya, whatever it takes, bahkan jika harus memberikan nyawa mereka. Karena itulah, bila di Infinity War, spotlight yang ada sepenuhnya diambil oleh Thanos, maka di Endgame, Thanos harus rela untuk menyingkir dan memberikan spotlight tersebut kepada member The Avengers, terutama anggota The Avengers pertama, yaitu Captain "Steve Rogers" America (Chris Evans), Iron "Tony Stark" Man (Robert Downey Jr.), Black "Natasha Romanoff" Widow (Scarlett Johansson), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Benner a.k.a Hulk (Mark Ruffalo) dan Clint "Hawkey" Barton (Jeremy Renner). Walau memang patut disayangkan karena dengan keputusan ini, karakter-karakter lainnya sedikit terlupakan. Namun hal ini patut dimaklumi, mengingat Endgame sendiri bagaikan sebuah tribute untuk member pertama The Avengers.

Melalui plot time travel nya juga, Endgame bagai kan sebuah perjalanan retrospective untuk mengenang kembali perjalanan mereka. Russo bros membagi karakter nya ke 4 tempat berbeda  Akan terdapat beberapa momen-momen yang hadir dari film sebelumnya, dengan tentu saja sentuhan improvisasi, dan dari sinilah roller coaster emosi dimainkan. Time Travel nya menjembatani beberapa momen-momen emosional yang memiliki esensi pada karakter masing-masing, serta memberikan ruang untuk penggemar kembali mengingat petualangan kita selama ini bersama The Avengers. Tidak hanya menawarkan dosis emosi, namun juga memberikan beberapa jokes segar yang mampu direspon tawa oleh penonton. Interaksi dialog pun seolah tidak pernah menemukan titik jenuh dan selalu menawarkan kesegaran, terutama untuk karkater yang berinteraksi pertama kali dengan karakter lainnya. 

Para aktor pun semakin lekat dengan karakter yang dilakoni masing-masing, tidak lupa juga mereka memberikan efek rasa emosi personal baik dari gestur bahkan hanya melalui tatapan mata. Semuanya bermain cemerlang, namun tidak akan ada yang menampik jika RDJ lah yang menjadi bintang utama nya. RDJ sempurna merefleksikan rasa putus asa dan kepedihan yang tergambar melalui ekspresi muka nya. Barisan dialog yang ia lontarkan kala film bergerak ke ranah drama selalu terdengar meyakinkan sehingga penonton ikut merasakan gejolak yang tengah ia derita. Lalu, tibalah kita pada bagian endingnya yang emosional. Kedekatan emosional yang telah tercipta antar penonton dan tiap karakter menjadi faktor utama akan betapa besar impact yang ditawarkan pada momen ending. Sulit rasanya untuk tidak meneteskan air mata melihat apa yang tampil di layar. Sebuah konklusi sempurna untuk menutup kisah bagi beberapa karakter.

Namun secaea keseluruhab tentu Endgame tidak luput akan kekurangan, karena untuk bagian action, terutama di final fight nya, saya lebih berkesan dengan yang disajikan oleh Infinity War. The Battle of Wakanda sendiri memang masih menjadi salah satu adegan pertempuran terbaik yang pernah disajikan oleh MCU. Meski final fight di Endgame melibatkan lebih banyak karakter dibanding predesornya, namun bagi saya, pertempuran berskala besar tersebut kurang menampilkan momen highlight nya. Tangkapan gambar maupun action sequence nya kurang spesial dan memorable, kecuali ketika para hero wanita nya bersatu dalam menghadapi pasukan yang dibawa Thanos. Malah saya lebih memilih adegan fight yang terjadi sebelumnya, dimana kita mendapatkan Thanos beraksi melawan para Avengers tanpa infinity gauntlet di tangannya. Lebih terasa akan aspek personal yang terlibat, serta juga mampu menampar keras bagi mereka yang meragukan betapa kuat nya Thanos. 

Apakah ini adalah film MCU terbaik? Saya menyerahkan jawabannya kepada Anda. Namun, untuk sebuah film penghormatan maupun surat cinta untuk para pahlawan MCU, jelas Endgame telah menjalankan fungsinya dengan sangat baik. Menarik dinantikan film-film MCU selanjutnya dengan pergerakan narasi yang baru. Good luck, Marvel, to topping this one on next film.

8,25/10




Tuesday, 12 March 2019


"I have nothing to prove to you"- Carol Danvers

Plot 

Kegagalannya dalam suatu misi penyelamatan sebagai Starforce dari planet Kree, Vers (Brie Larson) ditahan oleh kawanan Skrull yang dipimpin oleh Talos (Ben Mendelsohn). Vers berhasil kabur, namun upaya kaburnya tersebut malah membuat dirinya mendarat ke bumi. Penampilannya yang mencolok serta pendaratannya yang "unik" sukses membuat Vers menarik perhatian, tidak terkecuali para agen S.H.I.E.L.D yang salah satunya adalah Nick Fury (Samuel L. Jackson) dan Phil Coulson (Clark Gregg). Tidak hanya itu, Talos beserta anggota Skrull lainnya pun berhasil mengikuti Vers hingga ke bumi dan berupaya untuk menemukan Vers dengan kekuatan penyamaran mereka. Sementara itu, anggota Starforce lainnya yang dipimpin Yon-Rogg (Jude Law) berusaha menyelamatkan Vers. 




Review

Melalui tulisan saya sebelumnya, saya telah mengungkapkan akan keraguan saya akan kualitas akhir dari film ini. Keraguan saya didasari akan rumor agenda-agenda politiknya yang turut menjadi bahan marketing dari pihak Marvel atau Disney. Sudah bukan rahasia umum lagi jika penonton kurang menyukai unsur politik dicampur adukkan dalam sebuah film. Tengok saja backlash yang diterima The Ghostbuster hingga Star Wars: The Last Jedi. Tidak hanya itu, berbagai kontroversi pun ikut mengiringi film ke 21 dalam sejarah MCU ini seperti pernyataan tidak penting dari artis pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson hingga keputusan Rotten Tomatoes yang menghilangkan skor Want to See di website mereka. Walaupun begitu, semua drama ini sepertinya tidak menghentikan Captain Marvel untuk menorehkan kesuksesan dalam finansial. Sampai tulisan ini saya buat, angka box office dari Captain Marvel cukup fantastis. Lalu bagaimana dengan kualitas film nya itu sendiri?

Jujur, saya merupakan salah satu "fans" yang sedikit antipati dengan film ini sehingga saya pun memasuki studio 2 di Cinema 21 Palembang Square dengan ekspektasi serendah mungkin. Dan percaya atau tidak, berkat hal tersebut, ternyata mampu membuat saya cukup menikmati Captain Marvel, walau saya akui, Captain Marvel mungkin adalah salah satu film terlemah dari MCU.

Poin kelemahan Captain Marvel adalah di awal-awal durasi, dimana Vers masih menjalani tugasnya sebagai anggota dari Starforce. Disini saya mendapati narasinya kurang menarik atensi, ditambah lagi karena memang saya tidak terlalu paham dengan dunia atau universe Marvel itu sendiri. Kita mendapati jika Vers sudah memiliki kekuatan super, namun Vers masih kesulitan dalam mengendalikan kekuatan tersebut. Selain itu, ia juga kesulitan dalam mengendalikan emosinya sehingga berulang kali Yon-Rogg mengingatkan dirinya untuk bisa lebih tenang. Adegan aksi penyelamatannya pun cenderung biasa saja. Rasa bosan pun seketika menyerang saya, dan entah berapa kali saya harus menguap akibat rasa bosan tersebut.

Duo sutradara Anna Boden-Ryan Fleck pun mulai menemukan ritme penceritaan kala Vers menginjakkan kaki nya di planet Bumi. Apalagi dengan kehadiran sosok Samuel L. Jackson dengan balutan CGI di muka untuk membuatnya terlihat jauh lebih muda sontak mulai perlahan merebut atensi saya. Kawanan Skrull yang mampu menyamar secara sempurna pun turut menambah bumbu penceritaan, sehingga cerita Vers dalam memburu mereka terasa menarik. Di awal misi Vers di Bumi juga memberikan kita suguhan aksi baku hantam di kereta api yang jelas lebih baik dibandingkan di sekuen aksi di awal.

Unsur "buddy cop" antara Vers dan Fury juga begitu kental terasa saat mereka mulai bekerja sama dalam mencari Skrull. Untuk pertama kalinya dalam sejarah MCU, kita menyaksikan sosok Fury sebagai comic relief. Interaksi nya bersama kucing Goose, yang telah mencuri perhatian bahkan semenjak kemunculannya di trailer, berhasil menjadi highlight dalam film ini.

Hingga pada momen terungkapnya masa lalu Vers yang sebenarnya merupakan penduduk asli Bumi dengan nama Carol Danvers, akhirnya saya sepenuhnya benar-benar terikat dengan narasi Captain Marvel. Momen terungkapnya jati diri tersebut berhasil membangun jembatan emosi saya terhadap salah satu karakter yang terlibat. Dugaan berhasil dikelokkan, dari tidak menyukai berbalik mendukung berkat twist nya yang efektif. Lashana Lynch sebagai Maria berhasil menyuntikkan hati akan penceritaan. Hubungan persahabatan antara Carol dan Maria cukup sukses memberikan suatu momen emosional tersendiri. Interaksi antara Carol dan anak Maria, Monica (Akira Akbar) juga memberikan kita kesempatan untuk melihat sisi lembut dari Carol. Sayang memang hubungan Carol bersama anggota Starforce lainnya, terutama dengan Yon-Rogg yang merupakan partner terdekatnya tidak dieksplor lebih jauh.

Mengenai sekuen aksinya bisa dibilang tidak ada yang terlalu memorable walau masih ampuh untuk memanjakan mata, termasuk sekuen aksi terakhir yang terlampau singkat. Oh ya, mendekati akhir, duo Anna-Ryan berhasil "menipu" ekspektasi kita dengan menampilkan salah satu momen lumayan kocak yang sepertinya diniati sebagai tribute untuk Indiana Jones. Nuansa 90an juga ikut terasa berkat adanya soundtrack dari No Doubt dan Nirvana. Mengenai lagu Come As You Are nya Nirvana, saya sedikit merasa penempatan lagu nya sedikit keliru, tidak ngeblend dengan cerita yang sedang berlangsung. Yah, hanya komplain kecil saja sih.

Para "haters" Brie Larson tentu akan gigit jari melihat aktingnya sebagai Carol disini. Larson berhasil membuktikan jika dirinya piawai dalam mengekspresikan emosi, dari sorotan mata hingga pada sunggingan senyumnya. Dirinya pun bisa menjalin chemistry yang meyakinkan dengan karakter-karakter lainnya, terutama tentu saja dengan Fury dimana ia tampak begitu percaya diri dalam bertukar dialog dengan Samuel L. Jackson, sehingga untuk saya, tidak sulit untuk menyukainya. Samuel L. Jackson sendiri tidak perlu diragukan lagi talenta komedik nya yang selalu tepat sasaran. Namun, jika harus memilih yang terbaik, saya memilih Ben Mendelsohn.

Dalam Captain Marvel, ada suatu kilasan cerita mengenai kisah hidup Carol Danvers yang kerap kali jatuh bangun untuk bisa melakukan sesuatu. Namun, tidak perduli berapa kali ia terjatuh, Carol tidak pernah berhenti untuk bangkit dan mencoba kembali, seolah ia menyadari jika semuanya akan berakhir jika ita tetap terbaring di tanah. Momen tersebut pun diikuti dengan berhasilnya Carol menguasai sepenuhnya akan kekuatan. Momen ini juga seolah merefleksikan pada situasi tidak mengenakkan yang diterima film ini dalam masa mendekati perilisan. Tidak perduli dengan segala keraguan hingga cemoohan yang ada, Captain Marvel membuktikan dengan hasil akhir nya yang jauh dari kata mengecewakan. Bukan yang terbaik dalam MCU tentu saja, namun film ini berhasil menjalankan misinya untuk mengenalkan salah satu superhero terpenting di The Avengers: Endgame nanti dengan sosok Captain Marvel yang likeable, serta humanis. Tentu saya masih keberatan sih jika Captain Marvel yang menghentikan Thanos nantinya.

7,5/10



Monday, 17 December 2018

"I'm no leader. I came because I have no choice. I came to save my home, and the people I love"- Arthur a.k.a Aquaman

Plot

Terlahir dengan darah setengah darat dan setengah lautan, Arthur (Jason Momoa) terpaksa harus pulang ke kampung halamannya, Atlantis, untuk menghalangi rencana adik tirinya, King Orn (Patrick Wilson), yang merupakan Raja Atlantis. Untuk melancarkan misi tersebut, Arthur membutuhkan Trident of Atlan, yang konon merupakan senjata milik Raja Atlantis pertama. Ditemani oleh Mera (Amber Heard) yang terpaksa "mengkhianati" kaumnya sendiri demi membantu Arthur, Arthur pun melakukan pencarian senjata tersebut sembari menghindari kejaran dari King Orm bersama pasukan Atlantis nya.






Review

Setelah hancur leburnya Suicide Squad (2016) yang diharapkan memberikan kualitas mumpuni dalam DCEU, rasanya bisa dimengerti jika setiap film DCEU yang dirilis akan mengundang kegelisahan, terutama pastinya dari fans DCEU. Terlebih dengan hasil akhir dari Justice League (2017) yang juga berakhir mengecewakan, sikap skeptis semakin melambung dan film DCEU yang bisa dibanggakan hanyalah Wonder Woman (2017). James Wan dengan Aquamannya ini tentu kembali menghadirkan kecemasan apakah DCEU kembali menghasilkan karya yang bisa menjadi momentum kebangkitan DCEU. Dan, here's my verdict, Aquaman is surprisingly good and so much fun, though it still has a many flaws, too.

Mari kita membahas hal negatif nya terlebih dahulu. Cerita Aquaman bisa dikatakan sudah sering Anda temui di film-film hollywood mainstream kebanyakan, ambil salah satu contoh adalah film Avatar (2009). Tanpa diberi spoiler pun saya yakin Anda bisa menebak bagaimana Aquaman akan berakhir, terlepas Anda telah melihat trailer nya atau belum. Aquaman jua memiliki build up narasi yang cukup membosankan, setidaknya untuk saya. Setelah adegan pembuka dan menyaksikan aksi pertama si manusia Aqua dalam kapal selam, narasi bergerak perlahan untuk menanamkan motif terhadap Arthur. Walau telah diselingi dengan jokes yang cukup efektif mengundang tawa, serta adegan "tsunami" nya yang memanjakam mata, ditambah kemunculan Amber Heard dengan green swimsuit nya yang sexy, nyatanya belum cukup mampu untuk melepaskan kebosanan saya. Hal itu diperparah pula dengan dialog-dialog nya yang kurang inovatif. Untungnya penceritaan mulai menarik kala petualangan Arthur dimulai di dunia Atlantis, kampung halaman Arthur.

Genderang perang yang ingin ditabuh oleh Orm sebenarnya tersimpan kompleksitas tersendiri. Seperti yang Orm nyatakan, perusakan laut yang dilakukan manusia daratan seperti sering membuang sampah, membuang cairan limbah, juga pemburuan-pemburuan terhadap hewan laut demi keuntungan pribadi yang tanpa henti. Hal ini berpotensi sekali menjadi sebuah aspek yang bisa memberikan kedalam motif untuk Orm sehingga membantu dirinya menjadi karakter antagonist yang memiliki pendalaman dan tidak one dimensional seperti karakter villain pada umumnya. Sayang memang, narasi ini hanya dilewatkan begitu saja meski menyimpan potensi, sehingga jatuhnya Orm hanya terlihat sebagai raja yang haus kekuasaan serta punya rasa benci terhadap Arthur. Justru kesan kompleks nan intimidatif berhasil dipancarkan oleh second villain nya, yaitu Black Manta yang diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II.

Penceritaan Aquaman pun cukup sederhana, tapi apakah itu menjadi keputusan yang jelek? Bila ada pembelajaran dari film Batman V Superman (2014), maka hal itu adalah tidak semua film superhero harus memiliki pendekatan realistis dan kelam seperti The Dark Knight trilogy jika anda bukan Christopher Nolan. Wan memahami hal ini sehingga untuk menutupi penceritaan simple tersebut, Wan memberikan sajian spectacle yang mengagumkan dan fun melalui adegan action nya, parade visual yang telah menanti Anda di bawah laut, terutama ketika kita singgah ke dunia Atlantis yang diciptakan Wan, dibantu oleh Bill Brzeski di bangku production design serta Don Bugess sebagai sinematografer. Dunia Atlantis ini seketika mengingatkan kita akan dunia Pandora nya Avatar, yang tampaknya memang langkah intensional dari Wan dan kru nya. Tentu nya Wan sudah berhasil dengan baik dalam memanfaatkan budget nya yang menyentuh $ 200 juta, membuktikan bila Wan telah terbiasa dalam memanfaatkan mega budget dalam suatu film.

Action secquence menjadi aspek terfavorit saya dalam Aquaman. Wan paham betul dalam melakukan pengambilan gambar yang keren tanpa menghilangkan nilai substansi nya. Ambil contoh adegan kejar-kejaran serta fight scene di kota Sisilia, Italia, yang dijadikan Wan sebagai panggung "show off" nya sebagai sutradara. Sering kali adegan aksi yang melibatkan dua protagonist utama di dua lokasi berbeda akan dibagi dengan beberapa cut dari satu karakter ke karakter lainnya. Memang masih digunakan oleh Wan disini, tetapi menjadi suatu sajian wah saat Wan melakukan teknik long take lengkap dengan pergerakan dinamis kameranya yang seolah enggan untuk diam dalam memperlihatkan karakter-karakter nya melakukan aksi. And trust me, it's so freakin' awesome!! Wan tidak berhenti disitu saja. Dari aksi badass Aquaman di dalam kapal selam, battle antara Aquaman dan Orm, serta tentu serbuan ribuan makhluk buas bernama Trench yang mampu membuatmu menahan nafas sembari berdecak kagum. 


Parade adegan aksinya berjalan dengan sukses tersebut juga berguna untuk mendistraksi penonton dari kenyataan bila kisah perjalanan (juga jalinan asmara) Arthur dan Mera yang kurang menarik, setidaknya itu yang saya rasakan. Jelas ini bukan kesalahan Momoa atau Amber  karena keduanya telah terlihat berusaha maksimal untuk membangun chemistry yang meyakinkan, namun memang naskah yang diberikan kepada mereka tidak memberikan ruang eksplorasi pendalaman. Saya juga tidak memahami keputusan Wan yang memutuskan untuk menghadirkan adegan corny seperti tidak sengaja menggenggam tangan, atau bertatap-tatapan lama. Ini tahun 2018, adegan semacam ini harusnya tidak perlu hadir lagi dalam dunia film.

Rasa yang berbeda justru datang dari hubungan terlarang antara Tom Curry (Temuera Morrison) dan Atlanna (Nicole Kidman). Kehangatan yang natural dan pancaran cinta sejati berhasil saya rasakan dari  pasangan ini. Air mata saya pun hampir mengalir pada saaat adegan Arthur menceritakan "kondisi" ayahnya. Memang klise, tetapi perhatian dan emosi saya telah terinvestasi kepada hubungan ini.

Aquaman juga diusung dengan casts yang bermain optimal. Momoa kembali menunjukkan dirinya adalah pilihan tepat dalam memerankan sosok manusia setengah laut ini. Patrick Wilson pun sudah bermain semaksimal mungkin untuk menumbuhkan kesan intimidatif dalam diri Orm. Abdul-Mateen berhasil menjadi scene stealer setiap kemunculannya sebagai Black Manta yang tidak kalah badass nya seperti Aquaman. Dirinya pun cemerlang saat memerankan adegan emosional. Namun MVP dalam film ini tidak lain tidak bukan adalah aktris senior Nicole Kidman. Walau screentime nya bisa dibilang singkat, namun Kidman berhasil memaksimalkan setiap kemunculannya dengan menawarkan kharisma sebagai ratu ataupun juga seorang ibu lewat tatapan mata nya yang begitu hangat sehingga tidak salah rasanya jika Atlanna yang diperankannya merupakan sumber emosi yang hadir di dalam Aquaman.

Walau penceritaan Aquaman sederhana ditambah durasinya yang cukup lama, namun Aquaman merupakan sajian yang sangat menghibur seperti yang kita inginkan. Kalimat penutup saya ini mungkin akan memunculkan perdebatan, but this is far better than Black Panther (most overrated movie this year).

8/10

Friday, 27 April 2018


"In time, you will know what it's like to lose. To feel so desperately that you're right. Yet to fail all the same. Dread it. Run from it. Destiny still arrives"- Thanos

Plot

Thanos (Josh Brolin) akhirnya mulai bergerak dan menginvasi planet demi planet untuk mendapatkan lima Infinity Stones. Kehadiran Thanos ke planet bumi tinggal menunggu waktu saja karena salah satu infinity stones ada pada di kepala Vision (Paul Bettany). The Avengers yang sebelumnya hiatus bertahun-tahun, harus beraksi kembali untuk menghentikan Thanos mendapatkan kelima infinity stones, karena bila Thanos memiliki kelima batu tersebut, maka keinginan Thanos untuk menghancurkan setengah populasi alam semesta bisa ia lakukan hanya dengan menjentikkan jari saja.



Review

18 film dalam kurun waktu lebih kurang 1 dekade. Build up yang panjang, dengan pengenalan masing-masing karakter, semuanya dilakukan demi film ini. Kesabaran dari pihak Marvel tersebut tentunya memberikan dampak yang luar biasa positif. Setiap penonton memiliki favorit superheronya masing-masing, atau bahkan karakter sampingan belaka, yang artinya telah tercipta ikatan batin yang dalam antara penonton dan karakter di layar. Saya yang bukanlah penggemar dari Marvel saja masih bisa merasakan rasa emosional kala menginjakkan kaki ke dalam teater bioskop. Ada rasa tidak percaya karena sesaat lagi saya akan menyaksikan salah satu film yang paling dinantikan sepanjang sejarah perfilman ini, apalagi ditambah soundtrack Time nya Hans Zimmer yang saya dengarkan saat memasuki bioskop, menjadikan momen memasuki teater bioskop tadi malam menjadi momen yang paling susah dilupakan untuk saya.

Sempat ada rasa khawatir saat mengetahui akan pernyataan dari Russo Brothers bila kadar humor yang ada Infinity War akan lebih kental dibandingkan Civil War ataupun Winter Soldier. Namun tampaknya, bila pun pernyataan itu benar keluar dari Russo Brothers, itu hanyalah salah satu dari strategi marketing dari pihak Marvel untuk menipu penontonnya, karena kekhawatiran itu seketika lenyap dari semenjak opening dibuka. Tidak hanya beratmosfirkan rasa keputusasaan yang kental akan pembantaian yang ada, namun juga Russo Brothers tidak segan-segan "menghilangkan" salah satu karakter paling disukai dalam MCU. Dan juga menjadi momen perkenalan yang sebenarnya akan sosok Thanos. Sebuah opening yang seolah-olah menegaskan jika film Infinity War akan kental dengan sebuah rasa depresi dan juga roller coaster emosi yang tidak akan kita temukan di film-film MCU sebelumnya. Masih ada humor ala Marvel, tapi tidak seperti yang dilakukan Taika Waititi, Russo Brothers sadar akan timing sehingga humornya tidak lah merusak tone akan filmnya.

Ada dua hal yang paling saya tunggu dari Infinity War. Yang pertama, ingin melihat bagaimana Russo brothers yang kini dibantu oleh Christopher Marcus dan Stephen McFeely di kursi penulis naskah membagi-bagi kisahnya diantara karakter yang begitu banyak. Bisa dibilang, Infinity War terbagi 4 sesi. Pertama, kelompok Iron Man yang menunggu di planet Titan, perjuangan di bumi yang dipimpin Captain America untuk menjaga Mind Stone atau lebih tepatnya Vision yang menjadi incaran Thanos. Kemudian kita pun melihat usaha Thor, Rocket dan Groot untuk menciptakan senjata demi melawan Thanos dan tentunya kita melihat perjalanan Thanos dalam menyebar teror kepada alam semesta dengan terus mencari 5 infinity stones. Bukan hal yang mudah memang membagi-bagi cerita dengan memiliki konflik masing-masing. Dragging pun cukup terasa kala film memasuki pertengahan, walau tidak terasa terlalu mengganggu. Untungnya, kembali lagi berkat penokohan yang telah kokoh buah hasil kesabaran selama 1 dekade, tidak ada rasa bosan sedikitpun mengikuti kisah masing-masing karakter. Sehingga kita menuju ke askep kedua yang paling saya nantikan, yaitu interaksi pertama kali antar karakter maupun reuni antar anggota The Avengers. Yang paling saya nantikan tentu saja pertemuan antara para The Guardians dengan tokoh-tokoh The Avengers lainnya, juga tidak lupa reuni antara Steve Rogers dan Tony Stark. Bila membicarakan favorit, mungkin interaksi antara Thor dan para Guardians lah yang paling memorable untuk saya. Dan berbicara tentang Thor, saya tidak menyangka akan tiba suatu hari saya akan menyukai karakter ini. Beginilah seharusnya Thor ditampilkan. Dengan semua kehilangan yang telah Thor rasakan, mudah sekali bila kita menganggap bila Thor memiliki penderitaan paling mendalam di antara para tokoh The Avengers lainnya. Namun Thor tetaplah Thor, dirinya tidak ingin terlihat menderita. Namun namanya juga manusia yang punya hati, rasa kehilangan yang telah begitu banyak yang ia alami akhirnya juga tak terbendung. Percakapan Thor dan Rocket merupakan momen yang hampir membuat saya meneteskan air mata. Terlebih lagi akting prima dari Chris Hemsworth yang membuktikan bila aktor satu ini semakin matang saja dalam berakting. Hasilnya, Thor berhasil menjadi karakter dari tim Avengers yang paling mencuri perhatian disini berkat pendekatan humanis yang diambil,sehingga ketika momen kebangkitannya yang telah begitu saya nantikan, mampu membuat saya tepuk tangan sendiri di dalam bioskop (sial, penonton-penonton tadi malam pada jaim semua!!). Dipenuhi banyak karakter tentu saja mengakibatkan porsi antar karakter tidak seimbang, seperti Captain America yang tidak terlalu berkesan kehadirannya, Black Panther yang kembali mengecewakan untuk saya, ataupun Black Widow yang kembali tenggelam. Namun jangan khawatir, mereka semua tetaplah memiliki momen-momen tersendiri. Seperti pertemuan pertama antara Groot dan Captain America yang berhasil meledakkan tawa setiap penonton.

Cerita Infinity War tidak lah spesial memang, namun rasanya itu bisa dimaafkan karena rasanya hanya sedikit yang berharap Infinity War memiliki cerita yang kompleks. Infinity War bagaikan selebrasi dari "perayaan" 10 tahun berjalannya MCU, jadi sudah selayaknya lah kita mengharapkan sebuah sajian aksi yang super menghibur. Dan itu lah yang persis kita dapatkan. Baik dari adegan aksi yang memiliki skala yang masif maupun minor sekalipun, disajikan dengan begitu luar biasa menghibur disini. Pertempuran di Wakanda terlihat spektakuler dimana kita mendapatkan pertempuran kolosal layaknya film The Lord of the Ring, kemudian pertarungan di planet Titan yang memperlihatkan kerja sama para superhero melawan Thanos. Susah rasanya untuk bilang tidak menghibur akan sajian semua itu, dan karena saya tidaklah pintar menjabarkan keunggulan mengenai suatu aksi berdasarkan kacamata dari teknis, saya hanya bisa menyatakan bila kalian cukup lihat saja dan buktikan sendiri.



Saya bukanlah pengikut komik superhero Amerika Serikat, sehingga saya tidak tahu bagaimana Thanos versi komik. Namun MCU memberikan contoh bagaimana seorang villain yang memiliki kekuatan yang overpowered. Sepanjang durasi film, saya bertanya-tanya bagaimana Thanos akan dikalahkan, dan MCU memberikan jawaban yang memberikan kepuasan luar biasa untuk saya (apalagi endingnya yang berhasil membuat saya menganga senang). Sering kali villain yang semacam ini memiliki akhir yang antiklimaks, dan X-Men Apocalypse merupakan bukti terbaik bagaimana buruknya mereka menangani supervillain mereka. Setiap kehadiran Thanos digambarkan bagaikan seorang legenda yang hanya ada di dalam mitos. Kesan spesial tidak pernah luntur setiap kali ia muncul di layar. Seperti Tony Stark, Thanos adalah mimpi buruk bagi para penonton karena tebaran ancaman setiap kali ia tampil. Terlebih lagi, Russo brothers masih sempat memberikan kedalaman terhadap Thanos. Kita diajak untuk mengetahui apa sebenarnya motivasi dasar dari Thanos ingin menghancurkan setengah alam semesta. Dan siapa yang menyangka, kita diberi kesempatan untuk melihat sisi sentimentil dari Thanos! Tidak salah jika kita menganggap jika Thanos adalah karakter utama dalam Infinity War, terlepas perannya sebagai antagonis.

Apakah ini adalah film superhero terbaik? Jelas tidak, karena bagi saya, Infinity War belumlah mencapai level klasik seperti Trilogy The Dark Knight. Namun saya lebih menganggap Infinity War adalah sebuah hasil sukses dari sebuah kesabaran yang begitu panjang. Mungkin tanpa itu semua, Infinity War tidaklah terlalu jauh berbeda dengan Justice League yang mengecewakan itu. Kedekatan penonton dengan antar karakter yang ada telah tercipta, sehingga kita perduli dengan keselamatan atau eksistensi mereka. Ditambah dengan kehadiran supervillain terbaik dalam sejarah MCU, serta adegan aksi demi aksi yang semuanya menghibur, Infinity War tentu adalah selebrasi 10 tahun akan perjalanan MCU yang menyenangkan dan spesial.

8,5/10

Saturday, 17 February 2018




"What happens now determines what happens to the rest of the world"- T'Challa

Plot

Paska kematian sang ayah, T'Challa (Chadwick Boseman) otomatis maju menggantikan posisi sang ayah nya sebagai raja. T'Challa pun kembali ke Wakanda untuk menghadiri acara pelantikan yang disaksikan oleh sang ibu, Ramonda (Angela Bassett) dan Shuri (Letitia Wright) yang merupakan adik dari T'Challa, serta diikuti pula oleh berbagai kepala suku, diantaranya adalah W'Kabi (Daniel Kaluuya) yang bertugas melindungi Wakanda dari perbatasan. Mendadak harus mengisi posisi tertinggi dalam suatu negara jelas bukan hal yang mudah untuk T'Challa, apalagi dengan pikiran serta prinsipnya yang masih terbilang naif untuk mengisi jabatan tersebut. Belum lagi, tanpa disadari T'Challa, ada ancaman besar yang akan menjadi salah satu ujian awal sekaligus mungkin terberat untuk T'Challa. Ancaman tersebut bernama Erik Killmonger (Michael B. Jordan), mantan penduduk Wakanda yang berkaitan erat dengan masa lalu dari raja pendahulu T'Challa. Konflik personal yang bisa mengancam eksistensi Wakanda.




Review

Rasanya menghadirkan Black Panther pada Captain America: Civil War dua tahun lalu merupakan salah satu strategi marketing pintar yang dilakukan oleh Marvel. Setidaknya, dengan hadirnya Black Panther di dalam film terbaik MCU sejauh ini tersebut memberikan alasan penonton untuk menyaksikan film stand alone dari Black Panther ini. Pintar karena proyek Black Panther menurut saya memiliki risiko yang cukup tinggi. Dengan setting yang mencerminkan negara di suatu pulau Afrika, belum lagi membicarakan mengenai elemen-elemen budaya yang kental akan Afrika nya, jelas tidak semua penonton kasual yang terbiasa akan hal tersebut, walaupun film itu termasuk dari MCU yang notabenenya adalah proyek universe terbaik dan tersukses saat ini. Ditambah dengan para aktor-aktor nya yang masih cukup asing buat penonton. Untungnya dengan pemilihan aktor yang tepat, juga penampilan debut Chadwick Boseman sebagai Black Panther di Civil War yang meninggalkan impresi positif untuk penonton, film stand alone ini pun cukup dinantikan oleh penonton. Terbukti dengan rekor-rekor pendapatan yang diraih setelah baru saja rilis di bioskop. Lalu, apakah memang Black Panther begitu spesial seperti apa yang didengungkan oleh para kritikus?

Best MCU movie so far. Saya membaca kalimat tersebut dari twit seseorang yang dipost dalam website WhatCulture. Mencari info, apalagi review di internet bagaikan dua mata pisau untuk saya. Di satu sisi, kita bisa setidaknya tahu sedikit mengenai film yang akan kita tonton sehingga kita bisa mengantisipasi seperti apa film yang akan kita saksikan, namun di sisi lain, akan lahir ekspektasi setelah membaca review yang ada, terlebih jika pujian demi pujian yang dilontarkan. Hal ini berbahaya dan berisiko. Tidak masalah jika filmnya memang memenuhi ekspektasi, namun akan menjadi bumerang jika malah film tersebut sedikit saja di bawah apa yang kita harapkan. Kekecewaan serta kata "overrated" secara otomatis terlontar dari mulut. Dan sayangnya, itulah yang saya alami setelah menyaksikan Black Panther. It's still a decent, but if someone said this is the best movie of MCU so far, well, I have to disagree.

Tidak ada rasa baru sebenarnya dari film yang disutradarai oleh Ryan Coogler ini. Bahkan, cerita dasar yang dimiliki Black Panther sedikit mirip dengan film MCU sebelumnya yaitu Thor: Ragnarok. Namun menjadi hal yang menarik karena jika dalam cerita Thor: Ragnarok murni hanyalah kisah pembalasan dendam, tetapi di Black Panther, terdapat isu-isu yang juga terjadi dalam dunia nyata, yang menjadikannya terasa realistis walaupun setting kejadiannya terjadi di negara fiksi. Dengan kondisi mengisolasikan diri dan seolah memutus hubungan dengan negara-negara lain pula memicu konflik pertanyaan di benak. Apakah yang telah dilakukan raja-raja Wakanda sebelumnya itu memang keputusan yang tepat? Bukankah dengan sumber daya alam yang begitu luar biasa tersebut bisa dijadikan hal yang sangat membantu untuk negara-negara miskin yang masih banyak di luar sana? Pertanyaan yang memiliki jawaban sederhana, jika kita tidak mengetahui bagaimana negara-negara adidaya (you know what country I mean) yang seenaknya saja menginvasi negara kaya pemilik sumber daya alam. Hal ini yang menurut saya salah satu kelebihan yang dimiliki Black Panther. 

Dari segi aksinya, Coogler terlihat piawai sekali dalam menanganinya. Tentu yang paling menonjol adalah keributan yang terjadi di suatu wilayah Korea Selatan. Pertarungan di dalam bar, dimana Coogler sempat membingkainya dengan long take yang cukup panjang, hingga berlanjut ke dalam car chase yang tidak hanya mendebarkan, tetapi juga luar biasa menghibur. Tradisi "challenge" nya sendiri pun tidak ada yang mengecewakan, terutama tentu saja fighting scene antara T'Challa dan Killmonger di pertengahan yang menegangkan karena kita sulit untuk mengetahui siapa yang akan memenangkan pertarungan adu jotos tersebut. Sayang memang, pada adegan aksi terakhirnya tidak bisa meninggalkan kesan yang sama, walaupun melibatkan ruang lingkup yang cukup besar dimana ada 3 adegan aksi yang terjadi bersamaan, namun tetap mampu menghibur penonton, setidaknya untuk saya.

Black Panther pun memiliki salah satu elemen yang cukup jarang kita temukan di MCU, yaitu villain yang meninggalkan kesan mendalam, dan ya,  Erik Killmonger adalah salah satu villain terbaik dalam MCU. Killmonger bukanlah "bad guy" yang motivasinya murni ingin merebut tahta dan menguasai Wakanda. Motivasinya jelas lebih dari itu, dan setelah mengetahui kisah hidupnya, susah bagi saya untuk menyalahkan Killmonger. Coogler menyuntikkan motivasi yang begitu humanis terhadap Killmonger. Sejatinya, dia tidak jauh berbeda dengan T'Challa. Ia ingin menciptakan dunia tanpa perperangan, namun lain halnya dengan T'Challa, Killmonger telah merasakan pahit dan kejamnya kehidupan dengan senantiasa turut serta di berbagai dunia perang, yang jelas saja turut mempengaruhi bagaimana ia memandang kehidupan. Belum lagi kita menyentuh ke ranah motivasi personal nya yang tragis.


Michael B. Jordan sempurna dalam menunaikan tugasnya sebagai Erik Killmonger. Kehadirannya jelas menciptakan atmosfir yang intimidatif, tetapi ia juga bisa memerankan adegan yang ikut mengikutsertakan emosi. Saking bagusnya penampilan Jordan, tidak jarang ia sedikit menenggelamkan kehadiran Chadwick Boseman ketika tampil satu layar. Padahal Boseman tidak lah bermain dengan buruk. Mungkin karena memang karakter Killmonger jauh lebih compelling dibandingkan T'Challa. 

Nah, mengenai T'Challa, saya sedikit kecewa bagaimana karakternya dihadirkan disini. Apa yang dihadirkan disini rasanya tidak jauh berbeda dengan pahlawan DC, siapa lagi kalau bukan Superman. Keduanya memiliki kenaifan dalam memandang dunia dan one dimensional, hanya berbeda dari sumber kekuatan mereka berdua (ditambah jelas, mereka diciptakan dari dua publisher komik yang berbeda). Lucu sekali jika ada yang mengkritik karakter Superman, tetapi membela Black Panther yang bagi saya tidaklah jauh berbeda jika ditilik dari prinsip mereka. Mengapa mengecewakan karena saat Black Panther melakukan debut di Civil War, dirinya berpotensi sekali menjadi pahlawan vigilante serta berbumbu antihero ala Batman, walau harus diakui, kesan badass Black Panther masih melekat dalam dirinya, tetapi itu pun berkat desain kostumnya serta karisma dari Boseman.

Drama yang hadir dalam Black Panther pun entah kenapa terasa flat. Terutama adegan "itu", sebuah adegan yang sebelumnya juga hadir dalam The Dark Knight Rises. Saya dibuat terdiam dan tak mampu melihat layar ketika adegan tersebut hadir dalam TDKR, namun hal tersebut tidak saya rasakan dalam Black Panther. Bahkan pada saat momen kebangkitan pun, tidak ada sorakan yang hadir. Adegan yang harusnya membuat penonton senang dan tidak sabar ingin melihat bagaimana Black Panther kembali beraksi, malah terasa hambar dan terkesan lewat saja. Mungkin hal ini terjadi karena penonton belum terlalu terikat dengan Black Panther, dan setelah melihat bagaimana karakternya sendiri dalam film ini, hal tersebut tidaklah terlalu mengejutkan.

Black Panther jelas memiliki potensi menjadi film terbaik dalam MCU, dengan isu politik di dalamnya, singgungan terhadap Amerika Serikat, serta hadirnya villain yang berkesan disertai motivasinya dalam membalas dendam. Black Panther juga didukung dengan adegan aksi yang menghibur, karakter-karakter yang cukup menarik (terutama Shuri) beserta jajaran aktor nya yang telah melakukan tugas dengan baik. Namun sayangnya, potensi tersebut sedikit tertahan dengan ceritanya yang minim improvisasi sehingga kita dengan mudah menebak apa yang telah dan akan terjadi, serta karakter T'Challa yang one dimensional dan dramanya yang terasa hambar, membuat saya harus mengakui jika Black Panther sedikit overrated dengan segala sanjungannya (mendapatkan 97% di Rotten Tomatoes?? WTF??). Bagus, tetapi tidak terlalu berkesan.

7,25/10

Friday, 1 September 2017


"He may have been your father, Quill, but he wasn't your daddy."- Yondu

Plot

Setelah berhasil menghentikan kejahatan Ronan, para anggota Guardians of the Galaxy yang terdiri dari Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Drax (Dave Bautista), Rocket (voice by Bradley Cooper) serta Groot (voice by Vin Diesel) yang kini dalam wujud kecil akibat pengorbanan yang ia lakukan sebelumnya untuk menyelamatkan teman-temannya, tetap melanjutkan tugas barunya dalam melindungi galaksi dengan cara menerima permintaan dari antar planet lain. Saat telah berhasil menjalani misi yang diberikan oleh ras yang dinamakan Sovereign, The Guardians mendapatkan masalah akibat ulah dari Rocket sehingga kini mereka menjadi buronan ras Sovereign. Dalam masa diburu itulah, muncul sosok bernama Ego (Kurt Russel) yang ditemani Mantis (Pom Klementieff) yang mengakui dirinya bila ia adalah ayah dari Peter. Di lain sisi, akibat kegagalan yang ia alami, Yondu (Michael Rooker) kini diasingkan oleh pihak Ravagers dan juga harus menghadapi akan krisis kepercayaan para anak buahnya. Ras Sovereign pun memanfaatkan kesempatan itu dan menawarkan pekerjaan kepada Yondu dan anak buahnya, yaitu apalagi selain menangkap The Guardians.





Review

Saya mencintai film Guardians of the Galaxy (GotG). Menurut saya, film tersebut jauh dari sekedar kejutan yang menyenangkan. Perpaduan antar interaksi karakter, humor-humor yang segar (saya tidak bisa untuk tidak tertawa saat melihat Rocket membodohi Peter yang melibatkan kaki palsu tersebut), pamer visual yang indah dan jangan lupakan juga soundtrack demi soundtrack nya yang tidak hanya sangat memanjakan telinga, namun juga bersinergi dengan adegan yang hadir di layar, semuanya menjadi satu untuk membuat GotG yang awalnya dianggap sebagai proyek judi dari Marvels menjelma menjadi salah satu film terbaik di tahun 2014. Tentu saja dengan hasil akhir yang memuaskan itu, sekuel selanjutnya diantisipasi oleh penggemar film, termasuk saya. Ekspektasi meninggi tidak bisa dihentikan, terutama kala James Gunn kembali duduk di sutradara. 

Telah menjadi tradisi saya bila untuk film-film yang saya niati untuk tonton, sebisa mungkin saya akan menjauhi trailer maupun artikel demi artikel yang membahas film tersebut untuk mendapatkan kepuasan yang maksimal. Maka ketika adegan awal di sekuelnya ini telah memperlihatkan sosok ayah dari Peter yang telah ketahui bersama bila Peter sangat penasaran dan terus mencari ayahnya dari semenjak ia diadopsi oleh Yondu. Dari sini saya memperkirakan akan terjadi petualangan yang melibatkan emosi personal di dalam diri Peter. Hanya satu yang saya takutkan, yaitu karakter Peter akan terlalu menonjol akan konflik kedepannya sehingga karakter-karakter lain akan dikorbankan screen time nya dan hanya menjadi pendamping saja. GotG pertama berhasil tidak bisa dilepaskan dari kebersamaan serta lemparan-lemparan dialog antar karakter, namun ketika karakter nya berjalan masing-masing, daya tarik menurun drastis. Untungnya James Gunn tidak terlalu menyingkirkan para karakter pendukungnya, karena baik Gamora, Rocket, Drax bahkan Baby Groot pun memiliki momen-momennya sendiri. Mereka tetaplah karakter yang sama seperti di prekuelnya (selain Baby Groot yang jelas jauh lebih imut dibandingkan versi raksasanya), namun tetap dibantu dengan humor-humor baru yang cerdas dari Gunn, seperti yang paling sederhana saat Rocket yang selalu salah saat mengirimkan kode candaan dengan mengedipkan sebelah matanya. Menjadi permasalahan ketika Gunn memutuskan untuk memisahkan mereka menjadi dua grup, yang tentu saja berisiko besar membuat Vol. 2 mengalami degradasi dalam hal sisi fun nya.

Risiko tersebut nyatanya memang terjadi, sehingga segala kesenangan saat melihat aksi melawan monster di opening serta usaha kabur The Guardians dari kejaran ras Sovereign, dilanjutkan dengan build up yang dilakukan demi third act nya. Pada saat ini lah, Vol. 2 cukup terasa membosankan dan tidak menarik sehingga durasi sedikit terasa berjalan lambat. Bila saja tidak ada subplot dari Rocket yang kembali bertemu dengan Yondu, mungkin saja saya akan ketiduran di tengah jalan. Ya, petualangan Rocket bersama Yondu berhasil menjadi plot yang lebih menarik ketimbang melihat interaksi antara Peter dan Ego di planet lain. Bukan hanya karena Yondu adalah karakter terfavorit saya di GotG, tetapi kisah mereka juga dibalut dengan sebuah aksi yang mungkin adalah aksi terbaik di Vol 2 ini. Belum lagi saya membicarakan momen kelucuan dimana Baby Groot berusaha membebaskan mereka berdua. Membosankannya petualangan Peter, Gamora dan Drax membuktikan bila daya tarik The Guardians tidak akan maksimal bila mereka terpisah satu sama lain. Subplot yang terjadi antara hubungan Gamora dan adiknya, Nebula (Karen Gillan) memiliki konklusi yang menurut saya cukup dipaksakan, apalagi melihat setiap perkelahian yang mereka lakukan. Koneksi antara Drax serta Mantis pun tampaknya hanya diperlukan sebagai comic relief saja. Untuk menjadi sebuah motivasi dalam diri Mantis supaya apa yang dilakukannya pada momen mendekati third act juga rasanya tidak terlalu kuat.

Seperti prekuelnya, kisah Vol. 2 sendiri tidaklah terlalu spesial. Saya yakin telah banyak yang menggunakan penceritaan yang sama seperti Vol. 2 ini sehingga saya cukup berani untuk bertaruh bila sebagian besar penggemar film akan bisa menebak third act nya akan seperti apa, tanpa harus membaca komiknya sekalipun. Dipisahnya para anggota The Guardians memang menurunkan dosis kesenangannya, namun susah juga untuk ditampik bila hal itu diperlukan demi third act nya yang akan mengaduk-aduk perasaan penonton (terutama saya). 

Kelemahan GotG Vol. 2 juga adalah motif supervillain nya yang bisa saya katakan cheesy seperti villain-villain superhero lainnya, yang menganut kepercayaan dunia akan lebih baik kala dunia akan dihancurkan lebih dulu. Tidak ada suntikan personal di motif tersebut, padahal bila saja motifnya bisa dikaitkan dengan masa lalu antar dua karakter, hal tersebut mampu menambah kebimbangan yang akan terjadi pada karakternya. Supervillain nya kembali lagi jatuh ke lubang yang sama yang ingin menguasai dunia dan itu membosankan, tentu saja. Mengapa Loki jauh lebih memorable dibandingkan keseluruhan villain di MCU? Karena motif Loki jauh lebih personal dengan hanya ingin mendapatkan pengakuan dari keluarganya dan ingin keluar dari bayang-bayang sang kakak, yaitu Thor. Hal itu memberikan keterikatan dengan penonton sehingga tidak jarang kita sebagai penonton seringkali lebih mendukung Loki dibandingkan Thor sendiri yang notabenenya sebagai karakter superhero.

"Pamer" visual yang saya sebutkan di atas yang merupakan salah satu elemen positif prekuelnya, kembali ditampilkan oleh Gunn disini. Budgetnya yang mencapai $200 juta begitu dimaksimalkan disini dengan memperlihatkan parade cahaya-cahaya cosmic di luar angkasa untuk menghiasi adegan-adegan aksinya, yang juga terasa lebih bombastis dibandingkan third act di prekuel, meski tidak sampai ke tahap yang bisa dikatakan spesial. Malah semua adegan-adegan bombastis tersebut menurut saya tidak ada apa-apanya dibandingkan aksi sederhana dari Yondu. Setiap track nya juga tetap bersinergi dengan adegan-adegannya, lihat saja di adegan openingnya. Oh, berbicara dua aspek ini, Gunn memaksimalkannya di adegan closing yang tidak hanya emosional (I was cried at this scene. And I don't feel embarassed) berkat bantuan track Father and Son- nya Cat Steven, serta indah akibat dari puluhan cahaya yang ada. Salah satu closing terbaik di MCU.

Guardians of the Galaxy Vol. 2 mungkin sedikit dibawah dibandingkan predesornya, namun itu disebabkan oleh keputusan Gunn untuk memisahkan antar karakter The Guardians, sehingga interaksi mengasyikkan antar karakter seperti di GotG pertama menghilang di pertengahan film, dan itu cukup berpengaruh bagi saya. Lihat saja, kala kelima karakternya kembali berinteraksi, di saat itu juga Guardians of the Galaxy kembali mendapatkan nafas kehidupan. Tetap menghibur, walau tidak terlalu berkesan. Andai saja tidak ada adegan penutupnya yang emosional tersebut, Guardians of the Galaxy Vol. 2 ini tidak akan meninggalkan kesan yang baik untuk saya.

7,5/10





Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!