Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Thursday, 30 January 2020



"I hoped today might be a good day. Hope is a dangerous thing."- Colonal Mackenzie

Plot

Lance Corporal Blake (Dean-Charles Hapman) dan Lance Corporal Schofield (George MacKay) ditugaskan Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk menyampaikan pesan pada Devonshire Regiment. Pesan tersebut adalah perintah untuk membatalkan penyerbuan terhadap pasukan Jerman yang diyakini telah meninggalkan wilayah perang. Namun berdasarkan pernyataan Jend. Erinmore, justru pasukan Jerman telah membangun strategi jebakan untuk menyerang balik pasukan Inggris. Blake dan Schofield harus berhasil menyampaikan pesan tersebut sebelum penyerangan dilakukan, atau 1.600 tentara Inggris harus kehilangan nyawa. Dan sial bagi Blake, karena satu dari 1.600 tentara tersebut terdapat saudara kandung Blake. 




Review

Saya tidak bisa memungkiri bila alasan utama saya begitu bersemangat hingga sampai meminjam uang teman supaya bisa menyaksikan film garapan Sam Mendez ini disebabkan 1917 adalah film yang digaung-gaungkan akan berhasil menyabet piala Oscar di kategori Best Picture. Hal ini disebabkan berbagai pujian yang didapatkan film ini, terutama dari segi teknis pengambilan gambar dari sinematografer Roger Deakins yang luar biasa. Desas desus ini tentu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat saya tidak sabar ingin menyaksikan 1917 di layar raksasa bioskop supaya bisa menikmati secara maksimal sentuhan masterpiece dari Deakins. 

Dewasa ini, para sutradara Hollywood mulai mengangkat kisah-kisah yang mungkin terlupakan untuk diangkat ke dalam film bergenre perang. Seperti Hacksaw Ridge yang memfokuskan sosok pemuda yang bergabung dalam tentara Amerika sebagai tenaga medis, narasi dalam 1917 sepenuhnya mengambil cerita dari sudut pandang dua tentara pembawa pesan, the messengers. Terlupakan karena sebab sejarah sering kali lebih mengangkat kisah-kisah perjuangan heroik dari individu yang terlibat langsung di medan perang. Bahkan kisah seperti pembawa pesan pun sama sekali tidak saya temukan di buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari ketika masih duduk di bangku sekolah. Padalah, sekecil apapun peran yang diemban, tentu memiliki esensi tersendiri yang juga mempertaruhkan nyawa mereka, terutama kala perang masih bergejolak. 

Blake dan Schofield pun harus rela menempuh jarak yang cukup jauh demi menghantarkan pesan. Tidak hanya berpacu dengan waktu, mereka berdua juga harus menapaki medan-medan yang sulit, seperti wilayah no man's land yang dipenuhi dengan dataran yang tidak rata akibat pertempuran yang sebelumnya terjadi, mayat-mayat bergelimpangan yang tidak sedikit telah bergabung dengan isi dalam bumi serta pagar kawat rusak yang harus memaksa mereka untuk lebih teliti dalam melangkah jika tidak ingin terkena kawat tersebut. Memasuki wilayah kawasan musuh, Blake dan Schofield juga melakukan perjudian apakah tempat tersebut memang telah ditelantarkan seperti apa yang diyakini oleh Jenderal mereka atau tanpa mereka ketahui, pasukan Jerman tengah menaruh rencana jebakan lainnya juga. 

Karena inilah pendekatan pengambilan gambar long take dimana kamera senantiasa tidak pernah putus dalam mengikuti petualangan Blake dan Schofield semenjak detik pertama, bahkan ketika mereka belum memulai perjalanan panjang dan melelahkan mereka. Dengan pendekatan ini, penonton diajak secara tidak langsung untuk menjadi pihak ketiga untuk menyaksikan dalam bisu kisah Blake dan Schofield. Rasa khawatir dan cemas akibat minim informasi melahirkan ketegangan tak menyenangkan setiap kita mengikuti kedua prajurit ini memasuki wilayah yang baru. Ambil contoh di adegan bawah tanah markas Jerman yang memiliki satu momen shocking kelas wahid. Dengan long take nya ini juga penonton diajak untuk menyaksikan kehidupan perang kala itu. Di saat Blake dan Schofield berjalan menyusuri parit perlindungan yang sempit, terdapat beberapa tentara lainnya yang tengah mengisi waktu luang mereka. Ada yang bersantai sambil merokok, tertidur, bahkan ada yang tengah dirawat lukanya. Pemandangan ini entah kenapa memberikan atmosfir horor tersendiri untuk saya. Terasa tidak ada sekat pemisah dan apa yang tengah saya saksikan bukan lah dari layar, namun sedang saya lihat secara langsung. Pengalaman menonton 1917 ini bagaikan kita seperti bermain video game, bedanya kita tidak memiliki kendali sepenuhnya. Hanya bisa diam, memperhatikan, dan ketika dua karakter mendatangi medan yang asing, kita hanya bisa was was, mengantisipasi serangan yang bisa datang kapan saja.

Selain "mengundang" penonton untuk terlibat langsung ke zona perang berkat long take nya, pendekatan seperti ini juga memberikan efek luar biasa ketika film memasuki adegan berintensitas tinggi. Admit it, bila Mendez lebih memilih pengambilan gambar ala konvensional, 1917 jatuhnya tidak akan menjadi sajian sinematik yang spesial, karena setiap adegan memacu adrenalin di sini sebenarnya tidak lah terlalu memiliki gebrakan baru. Namun karena dengan long take nya, setiap adegan tersebut berhasil menambah efek ketegangan berkali-lipat sehingga berhasil meninggalkan kesan spesial. Puncaknya di adegan aksi terakhir kala salah satu karakter berlari kencang di tengah letusan perang, berusaha untuk menemui satu tokoh. Susah untuk menggambarkan kekaguman saya atas apa yang telah saya saksikan. Entah butuh berapa lama latihan koreografi demi menciptakan momen luar biasa tersebut. Musik latar dari Thomas Newman ikut pula mengambil andil untuk membantu mood yang tersaji di layar baik kala film tengah membangun ketegangan, atau ketika momen dramatik nya yang kental mengandung sebuah harapan.

Saya rasa tidak perlu lagi untuk menjelaskan betapa menakjubkannya pekerjaan yang dilakukan oleh Roger Deakins. Hasil kerja nya disini saya rasa berhasil untuk membuat Emmanuel Lubezki merasa iri. Long take yang dilakukan Deakins benar-benar terlihat mulus sehingga saya cukup kesulitan untuk menebak kapan Deakins melakukan pemotongan gambar. Durasi satu jam penuh, gambar seolah terlihat tidak ada pemotongan, bahkan di lokasi-lokasi tersulit sekalipun. Pekerjaan teknikal seperti ini yang selalu berhasil memaksa saya untuk ingin menantikan proses di belakang layar sebuah film. Serius, kehebatan Deakins rasanya tidak cukup untuk digambarkan lewat kata-kata, karena Anda wajib untuk menyaksikannya secara langsung. 

Pertanyaannya, apakah penyutradaraan Mendez terlihat kering bila disandingkan dengan hasil kerja Deakins? Bisa iya, apabila Anda tidak terlalu menangkap terlalu detil atas totalitas yang dilakukan Mendez untuk menghidupkan atmosfir betapa mengerikannya dunia perang. Pembangunan atmosfir ini bisa melalui mayat bergelimpangan, bahkan hingga ke ternak seperti kuda, lalu dataran yang hancur akibat menjadi panggung pertempuran, dan yang terbaik ketika setting terjadi di desa Ecoust, salah satu desa yang menjadi korban serangan dari Jerman. Api yang menyelimuti salah satu bangunan tidak hanya berfungsi untuk menjadi pelita raksasa bagi karakter maupun penonton, namun juga menciptakan imajinasi menyeramkan dalam penonton serta ancaman karena karakter kita tengah memasuki area yang dikuasai oleh Jerman. Mendez melakukan pekerjaan memuaskan tersebut walau tanpa bantuan grafis kekerasan atau pamer bergalon-galon darah. 

1917 memang terlihat luar biasa dan spesial jika dilihat dari aspek teknikal, kecuali pada departemen naskah hasil tulisan dari Sam Mendez dan Krysty Wilson-Cairns. 1917 mampu menyita perhatian mu sepenuhnya kala film menunjukkan momen dramatis atau yang menegangkan, tetapi apabila momen tersebut absen di layar, penonton mungkin tidak akan terlalu memperhatikan apa yang terjadi karena baris dialog yang terlontar kurang karismatik untuk tetap menjaga atensi penonton. Namun cerita nya juga tidak kosong juga, karena terdapat character development secara subtil pada satu karakter. 

Kredit lebih juga harus diberikan pada dua pemeran utama, Dean Charles-Chapman dan George MacKay. Sempat khawatir jika 1917 tidak menghadirkan sebuah performa akting yang memikat, namun faktanya, kedua aktor ini berhasil memberikan pendekatan nyata dalam bentuk kelelahan seperti deruan nafas yang terengah-engah, kemudian rasa takut saat musuh mulai menangkap posisi mereka. Tidak sampai ke taraf yang spesial memang, tetapi patut diapresiasi. Terlebih dengan pendekatan long take seperti ini, konsistensi akting maksimal tentu menjadi tuntutan utama. 

8,5/10



Wednesday, 29 January 2020


"Just 'cause millions of people aren't cheering when you do it, it doesn't mean it's not important"- Saraya

Plot 

Lahir dalam keluarga yang lekat dengan dunia gulat, Saraya (Florence Pugh) dan Zak (Jack Lowden) membantu promosi gulat independen kecil milik kedua orang tua mereka, Ricky (Nick Frost) dan Julia (Lena Headey) yang bernama World Association of Wrestling (WAW). Bersama Saraya, Zack juga ikut melatih anak-anak muda untuk bergulat di promosi tersebut, sembari tetap mengadakan event kecil-kecilan untuk menghasilkan uang. Keduanya ingin menggapai mimpi mereka untuk bisa tampil di event gulat terbesar di dunia, WWE (World Wrestling Entertainment). Rekaman bergulat Zak dan Saraya dikirimkan ke WWE, dan kesempatan tersebut datang ketika Hutch Morgan (Vince Vaughn), trainer yang bekerja untuk WWE, memanggil Zak dan Saraya untuk berpartisipasi di try out pada episode Smackdown di London.




Review

Dengan deretan film-film yang selama ini telah WWE produksi, setidaknya film seperti The Scorpion King dan Rundown yang cukup menghasilkan kesuksesan. Selebihnya, kebanyakan film-film tersebut harus dirilis langsung ke dalam bentuk DVD atau straight to video, bukti bila kebanyakan atau hampir semua film rilisan WWE berakhir dengan mengenaskan, entah itu karena pendapatan yang tidak balik modal atau ulasan "kejam" para kritikus yang bahkan mungkin malas untuk mereview film-film ini. Kendalanya adalah selama ini, WWE studios selalu memilih mengedepankan genre aksi yang disuntikkan kepada film-film mereka. Film seperti The Marines (yang gak tahu kenapa bisa sampai hingga sekuel ke 6), 12 Round, atau Vendetta, jelas sekali jika WWE Studios begitu mencintai film aksi. Hingga membuat mereka lupa jika sebenarnya ada kisah yang bisa lebih dieksplorasi pada perjalanan setiap wrestler yang mereka miliki. Diproduksi oleh legenda hidup dari WWE, Dwayne "The Rock" Johsnon, Fighting With My Family menceritakan perjalanan karir Saraya Knight, atau yang lebih populer kita kenali sebagai Paige, dalam meraih kesuksesan di dunia gulat bersama WWE dan nantinya berhasil menjadi salah satu pegulat wanita berpengaruh dalam memantik api membara dunia gulat wanita. 

Fighting With My Family mungkin formulaic. Ya, film ini bisa dibilang tidak terlalu mengambil langkah revolusioner dalam menceritakan kisah biografi nya. Ini bukan lah sajian biografi berani layaknya Straight Outta Compton, tetapi sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Stephen Merchant mengambil approach yang bijak dalam menggulirkan narasi nya. Merchant tampaknya meyakini jika Saraya/Paige akan berhasil menjadi top divas di WWE sudah diketahui atau bahkan ditebak oleh penonton kasual yang tidak mengikuti WWE. Ya film biografi mana yang pada akhir cerita nya tidak menampilkan momen klimaks atau keberhasilan tokoh yang diangkat? Maka dari itu, narasi nya benar-benar didominasi oleh perjuangan Saraya untuk bisa bertahan ketika harus berlatih fisik maupun mental di pengembangan karir yang dinamai NXT, dan yang pasti sesuai judulnya, konflik yang dialami Saraya dengan keluarganya, terutama dengan Zak. Justru untuk saya, kepingan-kepingan story arc milik Zak lah yang berhasil muncul menjadi pembeda di bagian narasi.

Dunia gulat memang tidak untuk semua orang, terutama di Indonesia. Walau sempat booming di periode awal 2000an, sajian wrestling cukup menjadi hal tabu ketika media di Indonesia menggembar-gemborkan korban-korban yang jatuh akibat mempraktekkan aksi-aksi gulat sehingga penayangan WWE (kala itu masih WWF) dihentikan sama sekali di tayangan televisi swasta. Wrestling gear para pegulat sendiri yang begitu menampilkan aurat juga sangat tidak cocok untuk Indonesia yang masih mengedepankan agama. Kondisi ini sih yang membuat saya secara sembunyi-sembunyi untuk mengikuti perkembangan dunia wrestling, apalagi kalau menonton pertarungan para pegulat wanita, udah deh, harus pintar-pintar mencari waktu dan kondisi. Ibarat kata, ketahuan menonton wrestling match sudah bisa disandingkan aib nya dengan menonton blue film.

Namun kecintaan saya yang telah tertanam di masa kecil susah untuk dihilangkan, tentu saja. Kenangan kala saya bermain gulat dengan dua kakak saya setelah menyaksikan Smackdown yang kala itu masih ditayangkan di R*TI terus terpatri di ingatan. Masih begitu lekat di ingatan ketika saya kecewa berat ketika The Rock gagal mengalahkan Triple H di event Judgement Day setelah berhasil comeback dalam pertarungan Iron Match nya. Mungkin dengan fakta ini lah, ikatan emosi telah terhubung dengan Zak dan Saraya kala di opening nya, kita menyaksikan Zak bersorak kala melihat wrestler idola nya meraih kemenangan, dan segera mempraktikkan salah satu move ke adiknya, Saraya.

Dengan berbagai momen sekilas, kita diajak Merchant untuk lebih mengenal keluarga Knight dalam mengelola bisnis gulat independen kecil milik mereka. Dari Zak yang menjadi pelatih untuk para pemuda berusia tanggung di kota Norwich, bahkan satu dari murid nya ada yang mengalami disabilitas, lalu Saraya, yang ternyata diambil dari nama panggung milik ibu nya kala berkarir di dunia gulat, juga ikut membantu Zak sebagai sparring partner baik ketika latihan atau di pertandingan resmi kecil-kecilan. Lalu tentunya ada Ricky dan Julia yang senantiasa membantu mereka berdua. Tidak ketinggalan Merchant membangun bumbu-bumbu konflik nya, seperti Saraya yang sempat dicemooh akibat penampilannya yang jauh dari kata feminim, Zak yang menanti kehadiran buah hati bersama pacarnya, Courtney (Hannah Rae) dan kesulitan finansial yang dialami keluarga Knight. Pembangunan konflik nya terasa straight to the point karena nanti kala film menginjak ke pertengahan durasi, semuanya menyatu dan memiliki pengaruh kala Fighting With My Family mulai menyentuh pada konflik utama nya, yaitu fakta dimana Zak harus menerima kenyataan jika ia tidak berhasil memenuhi kriteria standar yang dibutuhkan WWE. Dan lebih pahit nya lagi, adiknya sendiri ternyata merupakan satu-satunya kontestan yang direkrut oleh Hutch Morgan untuk bergabung dengan WWE dan mengikuti proses pengembangan bakat di NXT.

Bayangkan jika Anda di posisi Zak. Sebagai individu yang memiliki passion yang besar untuk dunia gulat, berlatih dari kecil hingga dewasa untuk meraih mimpi dan berharap akan tiba momen ribuan penonton menyerukan nama panggung Anda, harus menelan pil pahit kehidupan kala fakta tidak beriringan dengan harapan dan keinginan. Kesempatan satu kali seumur hidup gagal tercapai, ditambah harus menyaksikan adik nya sendiri yang tak disangka-sangka berhasil meraih kesempatan tersebut. Hal ini yang membuat Zak menjadi sympathetic character utama dalam kisah ini dan berhasil menjadi poin positif besar, setidaknya untuk saya. Walau cerita memang berfokus pada perjuangan kisah Saraya/Paige, namun saya senantiasa tidak sabar untuk melihat keadaan Zak. Ada rasa kekhawatiran jika ia akan mengambil langkah yang salah akibat kekecewaan yang mendalam dan menelantarkan keluarga nya, terutama Courtney dan anak nya yang baru lahir. Terlebih keluarga Knight sendiri mempunyai sejarah dengan dunia kriminal.

Untuk yang mengikuti dunia wrestling, pasti bisa memahami jika industri ini sangat lah kejam. Tidak semua orang bisa menjadi main event superstar. Kemampuan, bakat dan kerja keras tidak cukup, harus ada faktor X supaya seseorang berhasil menjadi seorang pegulat papan atas, terutama untuk perusahaan raksasa WWE. Banyak pegulat yang berbakat, namun tidak semuanya yang memiliki faktor X tersebut. Sang owner, Vince McMahon menyebutnya "brass ring", dan sekali lagi, tidak semua superstar yang memiliki itu. Bahkan top face dalam sejarah WWE seperti Stone Cold, The Rock hingga John Cena sebenarnya tidak lah memiliki skill bintang 5 jika berbicara pada aspek bergulat nya saja, namun nama-nama tersebut, di mata Vince McMahon, memiliki faktor X itu sehingga berhasil menjadi ikon dalam WWE. Hingga sekarang, WWE pun masih berusaha untuk mencari suksesor John Cena untuk menjadi top face besar layaknya dia. Naskah Merchant cukup berhasil menyinggung hal ini. Zak mungkin lebih memiliki teknik gulat lebih baik dibanding Saraya, namun bagi Hutch, Zak tidak memiliki faktor X yang bisa menghantarkannya menjadi bintang.

Berbanding terbalik dengan Saraya. Meskipun teknik nya biasa-biasa saja, tetapi Hutch melihat ada sesuatu dalam diri Saraya, yang membuatnya jauh lebih unik dibandingkan superstar wanita milik WWE lainnya. Sudah menjadi rahasia umum jika sebelum women's revolution dalam WWE, kebanyakan pegulat wanita milik WWE direkrut dari model yang diajarkan teknik-teknik bergulat, yang berfungsi untuk menjadi eye candy para penonton pria dewasa. Dari Sable, Torrie Wilson, Stacy Kiebler, divisi wanita didominasi dengan pegulat wanita yang pirang dan berbodi seksi. Bahkan living legend seperti Trish Stratus saja pada awal nya berkaris sebagai manajer seksi, sebelum akhirnya memiliki teknik wrestling yang memadai dan mendapatkan respect dari WWE Universe (sebutan WWE untuk para penggemar). Saraya berbeda karena dibanding wanita lainnya, teknik nya sudah di atas rata-rata karena telah berkarir di dalam dunia gulat semenjak dini. Mungkin karena ini lah, Hutch memilih Saraya tanpa ragu-ragu, karena ia meyakini, Saraya memiliki kapabilitas untuk menghadirkan sebuah gebrakan yang baru.

Konflik ini lah yang mengakibatkan kerenggangan akan hubungan antara Zak dan Saraya. Dari awal yang selalu berlatih bersama, mendadak hubungan antar keduanya mendingin. Terlebih Saraya harus berangkat ke negeri Amerika untuk mendapatkan pelatihan di developmental territory, NXT. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi mental keduanya. Zak kehilangan semangat untuk melatih anak didiknya di WAW karena terlalu berfokus untuk kembali mendapatkan kesempatan untuk try out untuk WWE. Sedangkan Saraya yang sebenarnya memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan teman-teman wanita nya di NXT yang kebanyakan mantan model, justru mendapatkan kesulitan akibat kehilangan daya juang. Bahkan ia tidak sengaja mempermalukan dirinya sendiri ketika ia sadar jika orang yang selama ini ia remehkan, justru memiliki fighting spirit jauh lebih besar ketimbang dirinya. Secara terpisah, keduanya berperang terhadap diri sendiri. Zak dengan rasa iri dan cemburunya, dan Saraya yang merasa tidak enakan dengan saudara nya tersebut. Hingga pada di suatu titik, keduanya bertemu kembali di dalam ring, yang awalnya mereka dipertemukan untuk menjalani rutinitas acara wrestling untuk WAW pada umumnya, menjadi panggung puncak atas drama konflik yang terjadi antara keduanya.

Mungkin adegan yang terjadi di ring tersebut tidak lah terlalu melahirkan sebuah ironi yang luar biasa, namun sudah cukup untuk membuat saya sebagai penonton menyayangkan atas situasi yang terjadi. Semua ini tentu saja berkat pondasi naskah yang solid nan kokoh dari Merchant. Kita dibuat perduli akan hubungan persaudaraan mereka, dan kita pun bingung untuk mendukung siapa karena keduanya memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yang lebih menarik bagi saya justru adu mulut yang terjadi antara Zak dan Saraya setelah turun dari ring. Kalimat dari Saraya begitu mengena untuk saya, bahwa kita telah memiliki peran ideal masing-masing. Mungkin peran tersebut tidak mendapatkan perhatian banyak orang, namun tidak melunturkan betapa penting nya peran tersebut. Tanpa Zak sadari jika ia sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan sebuah harapan untuk anak didiknya yang mungkin saja bisa terjun ke dunia kriminalitas bila tanpa bimbingannya. Jujur saja,momen ini berhasil menyentil saya

Cukup disayangkan karena perseteruan batin antara keduanya tidak memiliki konklusi yang memuaskan. Ada kesan terburu-buru untuk akhirnya dua karakter ini kembali menemukan pijakannya dan bangkit kembali. Pergerakan narasi redemption nya pun terasa generik dan bergerak biasa saja tanpa terlalu meninggalkan kesan. Di adegan akhir pun, Merchant sebenarnya cukup berlebihan dalam hal menyuntikkan elemen dramatisasinya. Untungnya minor ini tertutupi berkat performa apik para pemeran utama. Tahun 2019 tampaknya menjadi tahun dimana nama seorang Florence Pugh patut menjadi salah satu rising star yang tak bisa diremehkan. Semenjak Midsommar, Pugh telah menyajikan salah satu kekuatannya, yaitu permainan emosi yang tidak terkesan berlebihan dan hal ini ia tunjukkan di film ini. Lihatlah ekspresinya kala menahan tangisan di adegan bandara. Atau kebisuan penuh arti saat ia gagal melakukan "promo" untuk pertama kali di depan penonton. Jack Lowden bermain pada ekspresi subtil untuk menggambarkan perasaan Zak dan ia melakukannya dengan baik. Dwayne Johnson tetaplah Dwayne Johnson, berkharisma dan selalu mencuri perhatian di setiap kehadirannya. Salah satu momen terbaik film ini pun ketika ia secara tiba-tiba melakukan persona nya sebagai The Rock yang kental mengandung unsur nostalgia. Vince Vaughn juga kembali menghadirkan performa solid sebagai trainer yang tegas.

Apakah film ini hanya diperuntukkan bagi penggemar wrestling? Tentu saja tidak. Baik anda merupakan penggemar atau bukan, Anda bisa menikmati film ini karena elemen-elemen wrestling nya disuntikkan sesuai dengan porsi nya. Bahkan bila Anda pun merupakan termasuk pihak yang meremehkan industri ini, justru Anda wajib menonton nya supaya setidaknya Anda mulai bisa mengapresiasi para "pelakon" yang terlibat di dunia wrestling. Mereka yang terlibat dengan dunia ini, tidak hanya mempertaruhkan badan mereka, namun juga kehidupan, keluarga serta mimpi hanya untuk menghibur para penggemar. Saya harap, dengan keberhasilan film ini mampu membuka mata WWE Studios supaya selanjutnya bisa membuat film-film yang mengedepankan hati, ketimbang sajian aksi.

8/10

Thursday, 23 January 2020




 "Do you want your legacy to be muscle shirts and body counts?" - Marcus Burnett

Plot

Atas kelahiran cucu pertama nya, Marcus Burnett (Martin Lawrence) kembali mempertimbangkan keinginannya untuk pensiun sebagai polisi. Niat nya ini tentu tidak terlalu diindahkan oleh partner in crime Marcus, Mike Lowrey (Will Smith) karena ia yakin keinginan partner nya tersebut tidak lah serius. Namun untuk kali ini, Marcus telah membulatkan niat nya. Ditambah lagi, tidak lama setelah perayaan pesta untuk kelahiran cucu nya, Mike diserang secara tiba-tiba oleh pengendara motor misterius. Pengendara tersebut adalah Armando (Jacob Scipio), putra dari Isabel Aretas (Kate Del Castillo) yang tampaknya memiliki dendam personal dengan Mike.




Review

Our Bad Boys are finally back!!!! Setelah kurang lebih 17 tahun Bad Boys 2 mengudara, akhirnya kisah dua polisi yang tidak pernah terlepas dari kekacauan setiap bertugas ini kembali beraksi dalam meringkus penjahat. Kembalinya Bad Boys jelas merupakan kabar bahagia untuk saya karena saya adalah salah satu dari penggemar dari dua film predesor nya. Favorit saya adalah Bad Boys 2 dan berkat itu juga, ada masa dimana saya menganggap Michael Bay adalah sutradara favorit saya. Masih lekat di ingatan bagaimana keseruan saya dan teman menghabiskan waktu istirahat kami dengan menceritakan kegilaan film tersebut di sekolah menengah sambil terbahak-bahak. This franchise was and still one of the biggest part of my life. Maka ketika Bad Boys For Life akhirnya remsi dirilis dan telah ditentukan jadwal tayang nya, saya pun bertekad untuk menonton film ketiga dalam franchise ini di bioskop. Telah terbayang bagaimana asyik nya nanti tertawa bersama dengan penonton yang lain.

Hal yang patut disayangkan untuk film ini adalah absennya Michael Bay yang tidak lagi duduk di kursi sutradara, dan hanya terlibat sebagai cameo sepintas saja. Say whatever you want about Mr. Bay, tapi franchise ini tidak akan berumur panjang tanpa sentuhannya. Selain duo Smith-Lawrence, Michael Bay adalah DNA terpenting di franchise Bad Boys. Bagaimana ia menyajikan sajian aksi beroktan tinggi, tidak ketinggalan dengan humor-humor dewasa nya yang absurd dan gila banget (ex. the video store scene), berhasil membuat saya menjadi penggemar. Sebuah pertanyaan besar apakah duo sutradara, Adil El Arbi dan Bilall Fallah mampu memenuhi ekspektasi dari penggemar yang telah begitu mengenal akan identitas dari Bad Boys. 

Pertanyaan tersebut langsung di jawab oleh Arbi-Fallah pada sajian adegan pembuka nya yang telah melibatkan car chase berdurasi singkat, dan juga diisi dengan interaksi jenaka antara Mike dan Marcus seperti biasa. Lalu, adegan selanjutnya berpindah ke setting penjara, dimana salah satu tahanan yang ada di dalamnya adalah Isabel, yang berlanjut ke sebuah adegan keributan yang melibatkan suatu adegan yang cukup sadis untuk ukuran franchise ini. Selain memperlihatkan jika dua karakter ini tetaplah sama seperti dua film sebelumnya (Mike masih lah polisi yang nekad dan sembrono serta Marcus sebagai polisi yang selalu mengkritik Mike dan tidak tahan dengan adanya mayat), tetapi juga Arbi-Fallah seolah ingin memberikan pernyataan jika mereka berdua memiliki kapabilitas dalam hal penyajian aksi yang tidak akan kalah seperti yang telah dilakukan oleh Michael Bay. Saya pun tersenyum lega, dan tidak sabar menantikan kesenangan yang akan saya dapatkan.

Namun, permasalahan muncul ketika naskah yang ditulis bertiga oleh Chris Bremner, Peter Craig dan Joe Carnahan harus memisahkan sementara duo Mike-Marcus dalam usaha untuk pembangunan konflik dan drama nya. Naskah nya mencoba untuk mengeksplorasi kehidupan berbeda dari Mike yang masih meneruskan pekerjaannya sebagai polisi dalam usaha mengusut tuntas siapa pelaku yang telah menyerang nya, dan Marcus yang kini telah pensiun sebagai polisi. Untuk mengisi kekosongan Marcus, Mike pun mendapat bantuan dari unit baru Miami PD, AMMO (Advance Miami Metro Operations) yang diketuai oleh Rita (Paola Nunez) dengan anggota nya yang relatif masih muda, yaitu Dorn (Alexander Ludwig), Kelly (Vanessa Hudgens) dan Rafe (Charles Melton). Penceritaan Bad Boys For Life pun untuk pertama kali nya terasa personal karena melibatkan dendam dari masa lalu, yang nantinya pun akan menguak sedikit masa lalu dari Mike. Gaya penceritaan ini membuat Bad Boys For Life cenderung cukup serius dibanding dua film terdahulu. Dan untuk pertama kali nya juga, sosok Mike sebagai polisi yang tangguh dan invincible di dua film terdahulu, memperlihatkan sisi rapuhnya kala mental dan fisiknya di uji. Hal ini pun memberikan ruang untuk Will Smith dalam menunjukkan kapabilitas akting nya dengan menyajikan kebimbangan serta kerapuhan pada sosok Mike. Senantiasa hal ini ia tunjukkan lewat ekspresi muka, terutama sorot mata nya. Perhatikan saja permainan ekspresi nya kala Mike memohon bantuan dari Marcus. 

Saya tidak mempermasalahkan atas pilihan ini, karena salah satu kekurangan dari dua film pendahulu adalah kurangnya "hati" pada naskah nya karena Michael Bay cenderung fokus ke set piece action nya sehingga sedikit melupakan aspek tersebut. Dalam film ini, tidak hanya hubungan partner antara Mike-Marcus dipertaruhkan, namun juga melibatkan isu dendam pribadi berasal dari masa lalu, dan juga tragedi atas kehilangan karakter yang cukup berpengaruh dalam franchise ini. Tentu hal ini mempengaruhi pada tone film yang sedikit lebih serius, bila tidak ingin dibilang kelam. Hal yang pertama saya temukan dalam franchise ini. Juga keberadaan villain dalam Bad Boys For Life tidak bisa diremehkan berkat pendekatan yang dilakukan Arbi-Fallah. Karakter Armando berhasil menyaingi, bahkan melebihi Mike baik dalam strategi maupun bertarung. Namun sayangnya, dengan pilihan ini, Arbi-Fallah harus mengorbankan satu elemen terpenting, yaitu kegilaan yang tercipta dari duet Mike-Marcus akibat character arc kedua tokoh ini yang terpisah. Saya mengapresiasi niat untuk membawa Bad Boys For Life ke ranah yang lebih memperdalam aspek cerita, namun this is Bad Boys. Film-Film Bad Boys bukanlah sajian film aksi yang mengedepankan pada aspek tersebut karena ceritanya cukup hanya menjadi landasan untuk setiap parade kekacauan serta banter humor dari duo Mike-Marcus. Dan sebaliknya, di film ketiga ini, hal tersebut malah seperti nya sedikit di rem dalam rangka untuk mengembangkan cerita nya. 

Keputusan ini jelas berdampak pada kadar humor yang benar-benar kurang nonjok nya kala keduanya tidak bersama dalam satu layar. Tak diragukan lagi, chemistry kuat jelas telah tercipta antara Will Smith dan Michael Lawrence. Walau memang masih ada momen kekonyolan Marcus ketika tengah menikmati masa pensiunnya, namun tentu saja hal tersebut tidak akan lengkap jika tanpa keberadaan Mike. Terbukti, setelah mereka berdua akhirnya beraksi bersama lagi, pada saat itu juga Bad Boys For Life kembali menunjukkan taring nya. Bila nanti memang akan ada sekuel keempat, maka saya berharap, screentime kedua nya berada di satu layar ditambah lagi.


Pada sekuen aksi, Arbi-Fallah sedikit menambahkan adegan bertarung jarak dekat sebagai penambah bumbu baru, selain kejar-kejaran yang kini tidak hanya melibatkan roda empat saja dan tentu dengan aksi tembak menembak nya yang benar-benar menjadi sajian utama pada adegan aksi penutup. Dosis kebrutalan maupun kekerasannya pun ikut meningkat untuk menambah warna, dan sedikit sentuhan berbeda pada momen kejar-kejaran pada malam hari, yang andaikan saja durasi nya ditambah, mungkin akan bisa menyaingi sajian car chase di Bad Boys 2 yang melibatkan puluhan mobil hingga kapal yang terbang. Usaha modernisasi juga mewarnai sajian aksinya dimana Bad Boys For Life cukup banyak melibatkan teknologi-teknologi baru, walau tidak sampai ke taraf super canggih.

Fokus serta porsi drama hampir mendominasi pada character arc milik Mike, sehingga mau tidak mau Will Smith harus menyingkir untuk berparitisipasi di adegan komedi nya. Untungnya Michael Lawrence bukan aktor sembarangan. Sempat absen di dunia perfilman selama 8 tahun, Lawrence membuktikan jika ia belum lah kehilangan sentuhan akting komedi nya. Ocehan-ocehan yang terlontar di tengah sajian aksi serta obrolan nya dengan Mike di pesawat sukses meledakkan tawa seluruh penonton. Walau fisiknya kini tidak mengijinkannya untuk melakukan adegan aksi yang over the top, namun hal ini berhasil ia tutupi dengan memaksimalkan setiap humor yang ada, sehingga ia dengan mudah berhasil menjadi scene stealer di film ini. Bad Boys For Life semakin lengkap dengan berbagai tribute sebagai ruang untuk bernostalgia bagi penggemar yang mengikuti film ini dari pertama, baik dari humor nya, sajian aksi, bahkan teknik pengambilan gambar seperti circle shot yang merupakan salah satu signature dari Michael Bay pun ikut hadir. 

Menghadirkan naskah yang cukup personal di instalmen ketiga telah cukup memberikan bukti jika dalam franchise ini masih ada beberapa hal yang patut dieksplorasi, sehingga saya pun tidak keberatan jika memang nantinya akan ada film lanjutan. Terlebih lagi dengan bertambahnya anggota baru yang tersaji di adegan akhir, membuat saya cukup yakin jika kita akan mendapatkan Bad Boys 4. Sempat membuat saya bosan ketika Mike-Marcus tidak berada di satu frame bersama di pertengahan awal, Bad Boys For Life mampu menghibur saya setelahnya dengan chemisty yang kuat antara Will Smith dan Martin Lawrence, humor yang bekerja cukup baik, dilengkapi pula dengan sajian aksi yang cukup menghibur. 

7,75/10



Wednesday, 15 January 2020


"Damn ye! Let Neptune strike ye dead, Winslow! Haaark!"- Thomas Wake

Plot

Pemuda bernama Ephraim Winslow (Robert Pattinson) ditugaskan untuk mengoperasikan mercusuar di pulau terpencil di New England. Disana, ia akan ditemani dan diawasi oleh Thomas Wake (Willem Defoe), pria tua yang tampaknya telah lama bekerja di tempat tersebut.




Review

Bayangkan jika Anda diperintahkan untuk bekerja di tempat terpencil, hanya ditemani satu orang saja, melakukan pekerjaan berat layaknya kuli, dan parahnya, tanpa adanya hiburan teknologi dari smartphone mu, televisi, radio dan lainnya. Silahkan tanya diri sendiri, berapa lama Anda akan bertahan? Situasi ini lah yang melandasi sajian horror kedua milik Robert Eggers, setelah karya pertamanya, The Witch (2015), yang menyeramkan itu. Bila di karya debut nya, Eggers bermain dengan kutukan dongeng sihir, pada The Lighthouse, Eggers menampilkan kepiawaiannya dalam ngetwist psikologi karakter-karakter di film nya dengan menempatkan mereka pada situasi terisolasi. Dan karena masih bekerja sama dengan rumah produksi A24, jauhi harapan Anda bila ini adalah film konservatif seperti film horor psikologi pada umumnya. Siap-siap untuk mengantisipasi pergerakan narasi yang cenderung lambat, dan juga yang pasti akan kaya makna tersembunyi di dalam nya. Tentu film ini menantang kejelian serta kesabaran.

Eggers telah menanam bibit-bibit aura horor nya dengan terlebih dahulu memperkenalkan setting tempat yang akan menjadi panggung narasi nya. Dari deburan ombak kencang yang tak pernah berhenti, rumah tempat tinggal sementara untuk Winslow dan Thomas yang ala kadarnya dan minim pencahayaan, suara "misterius" yang memekakkan telinga, telah lebih dari cukup untuk menebalkan kesan terisolir pulau tersebut dengan dunia luar. Ditambah dengan film yang ditampilkan dalam balutan hitam putih untuk menambah kesan jadul, atau horor nya. Unsettling, tapi entah kenapa, perhatian saya telah terenggut sepenuhnya. Turut diselingi dengan sambutan dari Wake kepada Winslow yang tidak terlalu berkesan. Malam pertama Winslow semakin lengkap kala ia mengalami mimpi aneh yang melibatkan sosok mitologi di lautan (perhatikan poster film di atas).

40-50 menit awal film bergerak cenderung lambat dengan menyaksikan keseharian kedua karakter di pulau tersebut. Bisa jadi melelahkan, namun untungnya |Eggers masih berbaik hati untuk membangun perlahan konflik melalui interaksi antara Winslow dan Wake yang akan menjadi pusat nya. Karakter Wake sendiri memang bukanlah seorang atasan yang menyenangkan bagi pemula seperti Winslow. Banyak bicara dan selalu memerintah, ditambah lagi pembagian kerja yang ia berikan kepada Winslow juga tidak berimbang. Bila Wake bertugas di malam hari untuk merawat lampu mercusuar, sebaliknya, Winslow harus bekerja di pagi hingga siang dengan diberikan tanggung jawab atas pekerjaan-pekerjaan berat, seperti mengambil batu bara, membersihkan mesin jam, hingga harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu atau mengepel. Cobaan Winslow tidak berhenti di situ, dimana burung camar pun ikut-ikutan mengganggu hari-hari nya. Momen-momen ini memiliki substansi supaya penonton mampu memahami betapa berat dan tidak mengenakkannya keseharian Winslow selama bekerja di pulau tersebut.

Sampai ketika Winslow bangun di pagi hari setelah menghabiskan malam bermabuk-mabukan bersama Wake untuk merayakan kepulangan mereka, disitulah Eggers menaikkan tensi nya dengan menyajikan drama psikologi horor kepada penontonnya. Sebagai editor, Louis Ford menunjukkan taji nya disini. Penonton akan dibuat kebingungan mana fakta atau ilusi berkat editing nya. Parahnya lagi, kita juga tidak tahu harus percaya dengan siapa antara Winslow dan Wake. Point of view sedari menit pertama diambil dari Winslow, sehingga kita pun sulit untuk memegang sepenuhnya setiap ucapan dari Wake yang sering kali bertolak belakang dengan apa yang kita saksikan. Mempercayai Winslow pun bukan lah kebijakan yang tepat disebabkan kewarasannya yang semakin tergerus atas faktor tertekan dan kesepian yang melanda. Ya, sosok Winslow semakin lama semakin dikuasai oleh pulau tersebut. 

Hubungan antara Winslow dan Wake pun keanehannya berhasil membuat saya menggaruk kepala saya. Terkadang mereka menghabiskan waktu dengan pesta bersama sembari bersenda gurau, namun di lain kesempatan, tidak jarang terjadi adu mulut antar keduanya, dan semakin mendekati akhir, konflik antara mereka sudah masuk ke level baku hantam. Efektif sekali untuk menambah dosis ketidak nyamanan kepada penonton.

The Lighthouse disokongi oleh penampilan memikat dari Willem Defoe dan Robert Pattinson. Sebagai Wake, Defoe sukses memerankan karakter nya yang keras bagaikan seorang kapten bajak laut. Tubuhnya terlihat telah termakan usia, namun sosoknya layaknya raksasa ketika melontarkan perintah sehingga membuat karakter Winslow mau tidak mau menuruti perintahnya. Namun performa Pattinson patut menjadi highlight dalam film ini. Saya tahu jika Pattinson telah membuktikan dirinya mampu berakting di film-film sebelumnya (kecuali perannya di Twilight franchise), namun saya tidak mengira jika ia memiliki kapabilitas akting seperti yang ia tunjukkan dalam film ini. Kegilaan seorang Winslow ditampilkannya secara total. Simpati mudah diberikan untuknya kala ia berteriak penuh keputus asaan, walau akal sehat nya patut dipertanyakan. Lihatlah ekspresi nya di akhir film yang menyeimbangkan rasa sakit juga kegilaan.

8/10

Monday, 13 January 2020


 "Dia pikir perasaan manusia tuh bisa diatur pake tombol kali ya. Kayak robot"- Aurora

Plot

Sebagai seorang kepala keluarga, Narendra (Oka Antara/Donny Damara) berusaha sebisa mungkin untuk menjaga kebahagiaan istri nya, Ajeng (Niken Anjani/Susan Bachtiar) dan ketiga anak nya, Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara) dan Awan (Rachel Amanda). Terhadap anak-anak nya, Narendra memberikan perlakuan yang berbeda, dimana untuk Angkasa sebagai anak sulung, Narendra senantiasa mengingatkan kepada Angkasa bila ia bertanggung jawab sepenuhnya untuk melindungi kedua adik-adik nya. Perlakuan spesial yang ia berikan kepada Awan, si anak bungsu, secara tidak langsung mengakibatkan jarak antara Narendra dengan Aurora, yang kerap kali mengurung diri nya di studio seni miliknya.




Review

Sebagai penonton yang sama sekali buta perihal informasi akan film ini, saya sempat tertipu dengan poster film nya yang menampakkan para karakter utama tersenyum lebar, seolah menikmati kebersamaan di sore hari. Nyatanya, film yang diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Michael FP ini menawarkan drama konflik keluarga yang mampu menguras emosi berkat cerita nya yang relatable untuk sebagian besar, atau bahkan seluruh penonton. Sebagai anak, siapa yang tidak pernah cemburu atas perlakuan emas orang tua terhadap saudara kita sehingga kita terasa seperti anak tiri saja, atau juga mendapatkan treatment dari orang tua yang cukup tegas bagi anak sulung. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) menjelma bagaikan sajian sinema berupa refleksi atas permasalahan kehidupan keluarga pada umum nya, tidak terlepas juga saya. 

Angga Dwimas Sasongko yang duduk di kursi sutradara menyajikan NKCTHI dengan narasi non linear, dengan ceritanya melompat dari masa lalu dan sekarang sewaktu-waktu. Dengan pendekatan ini, terdapat usaha untuk semakin memperdalam konflik nya dengan pengadaan pada masa lalu nya. Penonton diajak untuk memahami akan setiap motif dari masing-masing karakter berdasarkan kejadian demi kejadian pada masa lalu, yang akan mempengaruhi sikap masing-masing karakter di periode present. Dari tersibak nya mengapa sang ayah overprotektif terhadap Awan, lalu perasaan bersalah serta beban tanggung jawab yang begitu terpatri di dalam relung Angkasa, hingga benih-benih lahirnya kesedihan Aurora atas perasaan terkucilkan yang selalu ia pendam. 

Dan pada periode masa kini nya, lahir dampak yang mempengaruhi sikap tiap karakter, terutama untuk ketiga anak. Angkasa merasakan tekanan yang kuat dari sang ayah sehingga dirinya selalu mengedepankan perihal keluarga, dibandingkan kebutuhan nya sendiri. Sikap Angkasa ini tanpa sadar mempengaruhi hubungannya dengan kekasihnya, Lika (Agla Artalidia) yang telah berjalan 4 tahun. Awan menjadi seorang anak yang sering membantah ayah nya atas dorongan keinginannya untuk bisa bebas dan memilih jalan nya sendiri. Sedangkan Aurora seolah menciptakan sekat sebagai pembatas antara dirinya dan keluarganya. 

NKCTHI berhasil membawa saya mengingat-ingat kembali bagaimana ayah dan ibu saya mendidik saya dan keempat saudara saya ketika masih kecil. Masih begitu lekat di dalam ingatan ketika saya menyaksikan bagaimana tegas dan keras nya ayah saya dalam mendidik kedua kakak saya, terutama kakak pertama, yang tidak jarang harus menerima kemarahan bahkan pukulan di muka ketika perintah nya tidak dijalankan. Entah beberapa kali saya memilih untuk masuk ke dalam kamar karena takut setiap kali ayah saya mulai memanggil nama kakak saya tersebut dengan nada tinggi nya. Momen-momen ini berhasil membuat saya melihat ayah saya itu bagaikan sosok monster, dan rasa takut terhadap beliau jelas hadir. Hubungan antara Narendra dan Angkasa disini tentu saja mengingatkan saya akan momen-momen tersebut, membuat saya memahami sepenuhnya bagaimana rasa tertekan Angkasa atas perlakuan sang ayah. Setiap kali Narendra mulai memarahi Angkasa, di situ juga saya seolah melihat sosok kakak saya pada karakter Angkasa. Dan ini hanya sebagian contoh saja, karena masih banyak momen-momen dalam film ini berhasil dengan brilian mengingatkan saya akan konflik dalam keluarga kami, yang merupakan bukti jika narasi NKCTHI begitu dekat dengan realita. Dan berkat elemen inilah, sangat mudah untuk tenggelam dalam pergulatan emosi di setiap menit kala konflik demi konflik dalam NKCTHI mulai bermuara.

Perihal komunikasi sering kali memang diremehkan esensi nya. Dengan minim nya komunikasi, akan hadir sebuah diskoneksi yang lambat laun menumpuk suatu permasalahan. Dalam NKCTHI, jarang sekali Narendra mau mendengarkan alasan mengapa keinginannya tidak terpenuhi oleh anak-anaknya. Kembali ke contoh Angkasa yang sering ia salahkan atas hal buruk yang terjadi pada kedua adik nya, terutama Awan, tanpa sedikitipun untuk membuka ruang diskusi bersama Angkasa.  Bahkan sikap membantah dari Awan pun ia salahkan sepenuhnya pada Angkasa. Perlakuan sikap nya tersebut adalah yang terbaik untuk nya dalam usaha melindungi anak-anaknya, namun bagaimana untuk anak-anak nya? Apakah mereka memiliki pemikiran yang sama? Hal ini pun terlihat kala di suatu momen mereka berkumpul setelah terjadi keributan yang cukup besar di hari penting Aurora, Narendra lebih memilih mengutarakan apa yang ia mau, ketimbang bertanya apa sebenarnya yang diinginkan oleh anak-anaknya. 

Mudah untuk menganggap karakter Narendra disini sebagai antagonist dalam cerita. Ia layaknya sumber perpecahan yang terjadi di dalam keluarga nya. Namun di satu sisi, saya dan bersama penonton lain bisa menangkap ada kasih sayang di setiap perlakuan "tidak mengenakkan" dari Narendra. Mungkin cara nya salah, tetapi sebagai orang tua, ia ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Saya telah mengantisipasi bila nantinya Angga yang juga menulis naskah bersama Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief akan memberikan sentuhan emosional di akhir untuk menampilkan sisi yang berbeda dari Narendra. Dan pada momen ini lah, pertahanan saya untuk tidak mengeluarkan air mata jebol juga, bersamaan luapan tangis dari Donny Damara. Bagaimana maskulinitas yang selalu ia tunjukkan demi menjaga kewibawaan atau juga menyembunyikan luka di masa lalu akhirnya luntur bersamaan dengan tangisan. Seketika menghadirkan pertanyaan menarik, disaat sang anak selalu ingin ayah mereka mengerti perasaaan mereka, namun mereka lupa juga bertanya bagaimana perasaan ayah mereka yang sebenarnya. Sentuhan yang terlihat adil sehingga tidak sepenuhnya mengantagoniskan karakter Narendra. Benar apa yang dikatakan Angkasa, mungkin Narendra pun merasakan capek seperti apa yang dirasakan mereka, namun perasaan ini mampu tertutupi dikarenakan kebahagiaan anak-anak nya. Ironi juga hadir kala Awan yang mulai beranjak untuk membangkang dan ingin menjalani hidupnya sesuai kemauan ia sendiri serta lebih memilih menghabiskan bersama orang yang baru ia kenal, namun berhasil membuat nya nyaman, malah disodorkan fakta dan pelajaran mengenai tanggung jawab. 

Jajaran aktor pemeran berhasil mempertunjukkan kapabilitas akting yang gemilang, dari Rachel Amanda yang likeable serta berhasil mempertontonkan sisi rebel dari Awan, Rio Dewanto yang mampu menyeimbangkan sosok Angkasa yang hangat serta menggambarkan beban besar di pundaknya melalui permainan ekspresi wajah, serta Donny Damara dengan gemilang menyajikan sosok Narendra yang keras, namun dibalik itu terdapat kerapuhan subtil yang kerap terpendam, hingga pecah di akhir. Favorit saya sendiri adalah Oka Antara dan Sheila Dara, dimana Oka senantiasa menggambarkan ketulusan dari sorot mata nya, meski di saat marah sekalipun, dan Sheila Dara membuat saya speechless atas suguhan akting sempurna nya dalam menggambarkan pergolakan batin luar biasa dalam sosok Aurora. Momen terbaiknya sendiri muncul pada setting tempat di galeri seni nya, dengan menampilkan ekspresi kaya makna walau minim kata-kata. Untuk karakter Ajeng sendiri pun memang baru diberikan kesempatan untuk bersinar kala film mulai bergerak menuju akhir, setelah sebelumnya, karakter Ajeng lebih banyak memilih diam dan menyaksikan konflik yang terjadi. Terkesan pasif, namun hal ini terbayar lunas kala nanti nya ia berhasil menjadi penghangat atau perekat di tengah permasalahan yang terjadi. Baik Susan Bachtiar atau Niken Anjani sukses menghadirkan kehangatan tersebut. Nayla Denny Purnama (Aurora remaja) dan Sinyo Riza (Angkasa remaja) pun patut diberi kredit lebih atas penampilan memukau mereka, terutama Nayla.

Minor complaint dari saya sendiri adalah terlalu sering nya lantunan instrumen latar di putar. Mungkin ada hampir tiap menit musik latar mengudara, sehingga ada terkesan Angga ingin lebih mudah penonton terbawa emosi nya. Padahal bila digunakan secukupnya, saya rasa jauh lebih baik. Pemilihan kata-kata pun sedikit terasa filosofis di beberapa kesempatan membuat saya merasa kalau sedikit sekali kemungkinan orang tetiba puitis kala mengobrol berdua saja di kedai kopi. Mengenai konklusi di akhir, walau saya telah terbawa emosi sepenuhnya pada flashback Narendra, tetapi saya merasakan jika di bagian ini kurang memuaskan. Saya sih lebih memilih jika konklusi nya tercipta ada perbincangan hati ke hati dari sang ayah kepada ketiga anaknya. Namun, kritik kecil ini tentu saja mudah tertutupi atas gelaran drama memuaskan yang telah hadir sebelumnya, yang menjadikan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah sajian sinema lokal terbaik sejauh ini, dan mungkin bertahan hingga akhir tahun nanti.


8,25/10

Monday, 23 December 2019


"Sometimes there's no lesson. That's a lesson in itself"- Michael Stone

Plot

Michael Stone (disuarakan oleh David Thewlis) merupakan penulis spesialisasi dalam bidang Customer Service yang sukses. Suatu hari ia melakukan business trip untuk menjadi pembicara di kota Cincinatti. Michael sendiri tampak terserang penyakit psikologis, dimana ia tidak bisa membedakan rupa dan suara orang-orang yang ia lihat. Ditambah pula kenangan masa lalu yang menghantui nya, Michael sama sekali merasakan kehampaan hidup. Hingga nantinya ia bertemu dengan wanita bernama Lisa (disuarakan oleh Jennifer Jason Leigh), yang akan memberikan warna di kelamnya malam Michael.




Review

Mengutip kalimat dari salah satu tokoh animanga Naruto, Gaara, yang berbunyi "people can not win against their loneliness". Mungkin Anda, kita, dan saya, yang pernah merasakan kesepian di suatu periode kehidupan kita, mendadak menjadi denial garis keras dan menganggap kesepian adalah bentuk dari kekerenan itu sendiri. Namun lama kelamaan, sifat dasar manusia kita muncul. Manusia tercipta sebagai makhluk sosial, dan sama sekali tidak mungkin kita tidak membutuhkan orang lain. Disaat kita menyadari ini pula, kita yang telah tenggelam dalam kesepian, mulai menengadahkan pandangan ke atas, memikirkan hidup dan berharap ada orang di sisi kita untuk paling tidak menjadi teman bicara untuk sementara. Anomalisa, karya dari Charlie Kaufman, sutradara dan penulis naskah nyentrik yang menjadi otak di belakang film klasik, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, menceritakan kisah kesepian serta kekosongan yang dialami satu karakter, hingga derita tersebut tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, namun juga orang lain, terutama orang yang ia cintai.

Dibantu oleh Duke Johnson yang duduk di kursi penyutradaraan pada film pertama, Anomalisa masih memiliki DNA ciri khas milik Kaufman. Cerita yang unik, aneh, tidak jauh berpusat dari derita psikologis yang dialami oleh tokoh utama dan begitu kental akan atmosfir sureal nya. Memang, jika dibandingkan karya Kaufman sebelumnya, Anomalisa terkesan sederhana dan cukup mudah untuk diikuti berkat penceritaan yang tidak terlalu njelimet, serta film bergerak secara linear. Meski begitu, bukan berarti Kaufman tidak mengajak kita untuk berpikir dalam karya stop motion animated pertama nya ini. Setiap adegan memiliki makna, terutama mengenai "penyakit" yang dialami Michael, yang hadir sebagai representasi bila Michael telah mengalami diskoneksi akan kehidupan yang telah ia jalani. Suara Tom Noonan untuk tiap karakter dalam film ini, kecuali Michael dan Lisa, juga menggambarkan betapa monotonnya kehidupan Michael, setidaknya dari perspektif dirinya sendiri. Ya, sebagai penulis yang sukses, dikagumi oleh penggemar dan juga telah memiliki keluarga, mungkin bagi orang luar, kehidupan Michael sudah sempurna. Tidak ada yang perlu ia cari lagi. Namun, bagaimana bagi Michael sendiri? 

Dari menit awal, sebagai penonton, kita telah tenggelam dengan kebosanan yang dirasakan Michael. Tidak ada hal yang menarik baginya. Semuanya terlihat sama, rutinitas yang ia jalani tidak juga berbeda jauh seperti hari-hari sebelumnya. Michael pun berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlibat pembicaraan dengan orang lain. Datar nya dialog yang ada bersinergi dengan adegan yang berjalan ikut pula datar. Mungkin akan memberikan kebosanan bagi sebagian besar penonton, namun bagi saya sendiri, apa yang disajikan Kaufman disini tidak hanya untuk mengajak kita merasakan apa yang Michael alami, namun juga ikut untuk mengobservasi terhadap karakter Michael. Kembali di adegan awal nya yang datar ini, kita bisa berasumsi jika Michael sudah berulang kali melakukan aktivitas yang sama. Melakukan business trip untuk menjadi pembicara, berkunjung ke berbagai kota, menginap di hotel dan sebagainya. Karena itu lah, Michael sama sekali tidak antusias dalam menjalani nya. Bahkan ketika ada pasangan yang bertengkar pun, yang notabenenya bisa menarik perhatian khalayak umum, bagi Michael terkesan biasa saja. Memberikan indikasi yang cukup kuat jika ia pun sering mengalami hal yang sama terhadap pasangannya. Mau tahu apa yang berhasil mencuri perhatian Michael untuk pertama kali dalam film ini? Menyaksikan seseorang melakukan masturbasi di depan komputer. Ya, mungkin pula ini adalah pengalaman pertama bagi Michael menyaksikan orang lain melakukan kegiatan self pleasure seperti itu. 

Mungkin tidak separah apa yang Kaufman presentasikan disini dalam menggambarkan kekosongan melalui Michael, namun siapa yang tidak pernah merasakan apa yang Michael rasakan? Terutama bagi pekerja kantoran, yang setiap hari, setiap minggu nya terus melakukan aktivitas yang sama tanpa adanya variasi berarti, memaksa kita menjelma tidak berbeda jauh layaknya zombie. Umumnya, hal apa saja yang mampu menawarkan sedikit perbedaan saja, pasti akan kita apresiasi dan mencoba menikmati. Hal ini lah yang Michael rasakan kala ia mendengar suara Lisa yang untuk pertama kali nya, berbeda. Setelah mengalami perbincangan yang tidak menyenangkan yang berdampak akan timbulnya kegelisahan yang luar biasa, Michael mendengar suara Lisa, yang menghentikan cemas berlebihan Michael. 

Perbedaan yang ditawarkan Lisa pun mampu memberikan dampak positif bagi Michael. Untuk pertama kali ketika ia menginjakkan kota Cicinnati, ia merasakan semangat hidup. Ia ingin terus-terusan terlibat percakapan dengan Lisa, supaya bisa senantiasa mendengarkan suaranya. Kesan yang sama pun ikut saya rasakan, dimana ketika setengah jam lebih kita hanya melihat sosok Michael dan gambar rupa orang yang sama semuanya, sosok dan suara Lisa memang memberikan dampak yang signifikan. Suara dari Lisa sendiri mungkin biasa saja, begitu pula dengan sosoknya, bahkan dirinya sendiri tidak pede dan terkesan rendah diri terhadap penampilannya, namun saya sendiri melihat dan mendengarnya bagai sosok dewi. Saya pun ingin melihat Lisa lebih lama, ingin tetap mendengar suara nya. Sensasi ini jelas apa yang diharapkan Kaufman kepada penontonnya, berkat pendekatan absurd serta kental akan emptiness nya sebelum Lisa muncul di layar. Dalam waktu singkat pula, saya perduli dengan karakter Lisa, dan yang menyakitkan, tercium jika hubungan antara Michael dan Lisa tidak akan berjalan lama.

Ending yang hadir tidak hanya menghadirkan rasa pahit, namun juga kembali pada titik awal. Terdapat seorang yang tersakiti lagi, kebahagiaan yang didapat hanya sementara dan juga memakan korban. Bagi saya, akhir dari Anomalisa adalah satu dari sedikit film yang menawarkan rasa tanpa harapan dan membenci akan situasi yang ada. Anomalisa memang bukanlah sebuah perjalanan yang menyenangkan, namun merupakan visualisasi sempurna teruntuk mereka (juga saya) yang pernah atau sedang menjalani kekosongan di dalam hidup.

8,5/10 

Saturday, 14 December 2019


"This is a twisted web, and we are not finished untangling it, not yet."- Benoit Blanc

Plot

Penulis novel terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer), ditemukan tewas di pagi hari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke 85. Dugaan kuat bila Harlan tewas akibat bunuh diri, namun dugaan tersebut tidak menghentikan detektif swasta, Benoit Blanc (Daniel Craig), untuk melakukan investigasi serta mengumpulkan satu demi satu pernyataan dari tiap anggota keluarga, termasuk caretaker pribadi Harlan, Marta (Ana de Armas). 



Review

Tidak akan ada yang memungkiri bila Star Wars: The Last Jedi merupakan film paling divisive pada dekade ini. Kritikus boleh saja menyukai, namun tidak bagi para penggemar, dan hal ini bisa dilihat di situs Rotten Tomatoes dimana terlihat jelas perbedaan antara rating dari kritikus dan penggemar. Tak perlu ditanya juga bagaimana penggemar Star Wars begitu membenci film tersebut dan sering kali, salah satu kambing hitam yang sering disalahkan atau menjadi korban hujatan adalah Rian Johnson, yang tidak lain tidak bukan adalah sutradara dari The Last Jedi. Kredibilitas seorang Rian Johnson pun dipertanyakan, dan tidak jarang pula ia dianggap sebagai sutradara terburuk di generasi sekarang. Penilaian yang berlebihan menurut saya, karena terlepas bagus atau tidaknya The Last Jedi, resume dari Rian Johnson tidak lah sembarangan. Ia merupakan orang yang menyutradarai episode Breaking Bad, Ozymandias, yang masih menjadi satu-satunya episode tv series yang memegang rating sempurna di imdb. Dengan Looper, Johnson pun mampu menghadirkan kisah time travel yang menegangkan. Dan mengingat Knives Out adalah film pertama yang disutradarai juga ditulis oleh Johnson setelah The Last Jedi, saya menganggap jika ini adalah ajang pembuktian untuk Johnson jika penilaian buruk dari para penggemar Star Wars adalah salah besar.

Apabila Anda merupakan penggemar film bertipe drama kriminal ala detektif dengan sentuhan whodunit, maka Knives Out jelas film yang sangat tepat untuk Anda. Pada setengah jam awal saja, Rian Johnson telah menghadirkan momen interogasi intens yang melibatkan Blanc serta dua letnan polisi, Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) yang akan memberikan pertanyaan kepada tiap anggota keluarga yang ditinggalkan mengenai kejadian di saat pesta ulang tahun. Dari Linda (Jamie Lee Curtis), putri sulung Harlan bersama suaminya, Richard (Don Johnson), Walt (Michael Shannon), putra Harlan yang menjalankan penerbitan buku yang ditulis Harlan, hingga Joni (Toni Collette), semuanya memberikan pernyataan berdasarkan dari pertanyaan yang diajukan oleh Elliot. Dari permulaan, setiap kesaksian yang diberikan oleh mereka terlihat aman-aman saja, hingga kendali interogasi dipegang oleh Detektif Blanc, yang sontak akan membuka tabir baru sehingga penonton mempelajari jika terdapat konflik antara karakter yang terlibat dengan Harlan. Tampak juga jika hubungan antar anggota keluarga tidak lah sebaik yang diperkirakan.

Dari momen interogasi itu saja, saya telah yakin jika Rian Johnson paham betul bagaimana menghadirkan sebuah kisah misteri yang mampu mengikat erat penonton untuk senantiasa mengikuti hingga akhir. Gelontoran baris dialog yang ia tulis dihadirkan begitu dinamis dan tentunya berpotensi menyimpan kunci petunjuk jawaban sehingga bukan pilihan yang bijak jika Anda pangling sedikit saja dari layar.  Sebagai editor, Bob Ducsay menunjukkan kepiawainnya disini dengan editing yang dinamis dan menjadikan adegan demi adegan layaknya puzzle jigsaw. Selain itu, kasus yang ada tidak pernah gagal untuk menggelitik penonton supaya ikut terlibat dalam menduga-duga siapa tersangka yang paling mencurigakan untuk melakukan pembunuhan, apalagi ketika Johnson menghadirkan setiap konflik yang terjadi melalui flashback yang ada. Penonton secara sukarela memperhatikan alibi, motif bahkan sampai ke karakterisasi masing-masing karakter. Ya, Johnson seolah mengajak penonton untuk terlibat langsung laiknya detektif Blanc.

Tulisan naskah dari Johnson merupakan faktor utama mengapa Knives Out berjalan begitu menyenangkan dan tidak pernah membosankan. Tidak hanya Johnson teliti dalam menyebarkan kepingan-kepingan petunjuk melalui dialog, namun juga piawai dalam meminimalisir adanya plot hole yang mengganggu. Ditambah lagi, Knives Out tidak hanya berfokus untuk mencari jawaban siapa pelaku, namun senantiasa ada turning point dimana naskahnya melebarkan sayap dan menambah fokus penceritaan, sehingga membuat Knives Out seolah tidak pernah kehabisan bensin untuk senantiasa menjaga atensi penonton untuk tetap mengikuti kisahnya. Subverts expectations yang dilakukan Rian Johnson mungkin menjadi poin yang paling dikritisi pada The Last Jedi, namun untuk kisah orisinil seperti ini, tentu saja poin tersebut menjadi satu kekuatan, dan ini tidak terlepas dari ketelitian Johnson dalam membangun kasusnya. 

Knives Out memang tidak berakhir dengan tanpa cela. Yang paling mengganggu jelas saat filmnya mencoba menyentuh ke ranah aksi yang bagi saya sedikit out of place sehingga kalaupun tanpa adegan tersebut, rasanya Knives Out tidak lah kekurangan apapun, bahkan mungkin jauh lebih baik. Dan mengenai dialog nya, Johnson memang telah meminimalisir untuk meniadakan plot hole mengganggu untuk kasus nya, namun saya tak menampik ada beberapa poin yang patut dipertanyakan sehingga ada poin-poin itu seperti dipaksakan supaya mendukung plot nya. 

Pada beberapa kesempatan, terdapat sentuhan isu politik yang terpapar dari dialog nya. Yang paling kentara adalah fakta negara asal dari Marta yang sering kali berubah-ubah keterangannya dari masing-masing karakter. Kritik satir untuk penduduk Amerika? Saya tidak tahu. Namun yang pasti, ada maksud tersembunyi dari Johnson. 



Naskah dari Rian Johnson memang menjadi kekuatan utama, namun tentu saja film yang bagus memerlukan para pemeran yang bermain optimal. Bersama The Irishman, Knives Out adalah salah satu film yang memiliki ensemble cast yang brilian. Masing-masing aktor mampu menghidupkan karakter masing-masing sehingga walaupun tidak terlalu mendapatkan screentime yang banyak, namun penonton tidak melupakan kehadirannya. Namun bila saya harus memilih yang terbaik, akan ada 3 nama yang muncul, yaitu Daniel Craig yang tampil mencolok dengan aksen southern nya, serta piawai dalam menghadirkan sosok detektif Blanc yang pintar layaknya detektif dan juga tidak jarang komikal, lalu Chris Evans yang patut mendapatkan kredit lebih usai mampu menanggalkan sosok Captain America dalam dirinya dengan memerankan Ramson yang menyebalkan dan terakhir tentu saja ada Ana de Armas sebagai Marta yang menjadi sumber emosi setiap menit film berjalan serta mudah untuk mendapatkan dukungan dari penonton berkat kharisma likeable (serta cantik, tentu saja) dari Ana. Susah untuk menjelaskan lebih jauh karena berpotensi spoiler, namun yang jelas pada saat turning point nya muncul di layar, tetap tidak bisa melepaskan dukungan saya terhadap Marta.

Ditutup dengan iringan musik akustik lembut dari Nathan Johnson, Knives Out pun berakhir bagaikan kelegaan dari penonton setelah kita akhirnya mengetahui jawaban sebenarnya melalui sebuah adegan yang sangat intens dan juga menuntut daya ingat dari penonton mengenai petunjuk-petunjuk yang telah disebar oleh Johnson. Ditambah pula dengan sebuah shot gambar yang cukup memorable, Rian Johnson membuktikan kepada penonton kasual seperti saya bila ia tidaklah seburuk seperti penggemar Star Wars tuduhkan dengan menghadirkan sebuah film misteri yang susah terlupakan. Tidak heran bila beberapa tahun kedepan, label classic movie akan menempel erat untuk Knives Out. 

8,5/10

Sunday, 8 December 2019


"You're the first person in this process who's spoken to me like a human"- Charlie

Plot

Pernikahan Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson) tengah berada di ujung tanduk sebab Nicole menggugat cerai Charlie. Awalnya, masing-masing ingin menyelesaikan secara damai. Namun perlahan, konflik antara mereka makin lama makin rumit sehingga keduanya melibatkan pengacara untuk mendapatkan jalan keluar. Permasalahan pun kian melebar, termasuk perebutan hak asuh Henry (Azhy Robertson), putra semata wayang Charlie dan Nicole. Nicole tentunya ingin Henry tinggal bersamanya di Los Angeles, namun masalahnya, Charlie pun memiliki keinginan yang sama dan ingin mengasuh Henry di New York. Charlie keberatan jika harus bolak balik New York-Los Angeles terus-terusan karena disamping banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, namun pekerjaannya sebagai sutradara teater pun ikut terganggu.



Review

Pada adegan pembuka, Marriage Story menyapa kita dengan voice over yang masing-masing merupakan testimoni dari Charlie dan Nicole. Diawali dengan Charlie menggambarkan sosok Nicole yang didominasi akan pujian nya terhadap Nicole, begitu pun sebaliknya. Nicole digambarkan oleh Charlie sebagai kepribadian yang mampu membuat orang nyaman di dekatnya, pendengar yang baik, aktris berbakat, tidak egois dan jago menari. Sedangkan Nicole menyukai Charlie yang berani untuk tidak mendengar pendapat orang lain demi cita-citanya, sangat menjaga kerapian, mandiri dan suka menjadi seorang ayah. Dari dua voice over yang terdengar, tampak bila Charlie dan Nicole seperti pasangan yang mencintai dan begitu mengenal satu sama lain, hingga ketika voice over selesai dan Noah Baumbach menghadirkan fakta kepada penonton jika keduanya tengah menghadapi proses perpisahan. Kurang dari 10 menit, Baumbach telah mengikat atensi saya untuk terus mengikuti kisahnya hingga akhir. 

Kita pun menangkap jika yang menginginkan perceraian adalah Nicole. Maka dari itu, narasi di awal akan bergerak dengan menelusuri motif dibalik keputusan Nicole tersebut dan sepenuhnya diambil dari sudut pandang Nicole. Namun sebelum menuju kesana, Baumbach memilih untuk membangun kedekatan penonton dengan Nicole. Kita diajak untuk mengenalnya, bagaimana interaksi antara dia dengan Charlie, Henry serta ibu dan adik nya, hingga ke pekerjaannya. Dari baris dialog, belum terlalu frontal karena Baumbach sengaja untuk menyebarkan keping-kepingnya terlebih dahulu sebelum kita akhirnya mendapatkan jawaban kala Nicole curhat dengan calon pengacara nya, Nora  Fanshaw (Laura Dern). Dan dari obrolan inilah, saya yang awalnya hanya berekspektasi Marriage Story sebagai film drama perceraian kebanyakan, mendapatkan suguhan adegan emosional yang mampu membuat saya terkesima. Dan percayalah, adegan seperti ini akan menyapamu berkali-kali dalam Marriage Story. 

Yang membuat Marriage Story begitu fantastis adalah kepekaan rasa dari Baumbach dalam membangun konfliknya serta keberhasilannya Baumbach untuk membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter. Baumbach tidak buru-buru dalam menjalankan narasinya. Pembagian screentime antara Charlie dan Nicole saya rasa juga sudah adil, karena Marriage Story sepenuhnya memang diambil dari POV dua karakter ini. Kita diajak untuk melihat perjalanan kedua karakter untuk mencoba menyelesaikan permasalahan diantara mereka, yang nantinya secara perlahan semakin melemahkan dan harapan untuk bisa kembali bersama juga ikut menipis. Dari Charlie dan Nicole sendiri menghadapi konflik ini dengan berbeda, dimana Nicole lebih terlihat fragile dan lemah, berbanding terbalik dengan Charlie yang lebih kalem serta santai. 

Namun dibalik terlihat lemahnya Nicole, nyatanya ia lebih bijak, fokus dan taktikal dalam mengurus perceraiannya. Dari baris dialog saja, kita mengetahui jika Nicole sudah beberapa kali mengunjungi kantor untuk mendapatkan pengacara, sebelum akhirnya ia menunjuk Nora sebagai pengacara resminya. Berkat ini pula Nicole sudah beberapa langkah di depan dibandingkan dengan Charlie yang tanpa sadar semakin ditekan oleh situasi. Minim pengetahuan tentang perceraian dan kenaifannya dalam menghadapi situasi mengakibatkan ia tertinggal jauh.

Iya, naif. Sebab Charlie masih menganggap Nicole tidak akan full power dalam melawannya. Charlie masih berpikir jika pintu untuk menyelesaikan permasalahan dengan calon mantan istri bisa dilakukan tanpa harus melibatkan pengacara, serta tanpa harus berakhir dengan saling menyakiti. Fakta ini juga mengindikasikan jika Charlie belum kenal betul dengan istrinya, yang turut pula didukung dengan curhatan Nicole sebelumnya. Pada momen ini, rasanya mudah bagi penonton untuk mendukung Nicole. Terlebih lagi juga akan terkuak fakta baru bila Charlie juga bukanlah suami yang baik-baik amat karena satu dosa yang telah dilakukan.

Menit per menit durasi film berjalan, Baumbach akan menghadirkan beberapa fakta untuk mendukung narasi. Yang membuat Marriage Story hebat lagi adalah kenyataan jika film ini cukup informatif bagi penonton yang sama sekali tidak tahu bagaimana proses perceraian serta peliknya urusan dalam mengambil hak asuh anak. Sudah rahasia umum jika fakta bukanlah hal yang konkrit dalam peradilan, namun saya tidak menduga juga jika satu statement yang terucap, bahkan sudah terlupakan mungkin saja, bisa menjadi motif yang kuat untuk menekan lawan. Ketika Charlie berusaha untuk mendapatkan pengacara pun kita disuguhkan dengan fakta serta situasi yang menarik. Dan Baumbach  dengan cermatnya menghadirkan dialog-dialog seringan mungkin untuk meminimalisir tersesatnya penonton. Sering kali juga terdapat humor menggelitik yang terselip di tengah situasi serius, seperti momen di persidangan atau ucapan dari Nicole kala Nora memeluknya pertama kali. Hal ini yang membuat Marriage Story tidaklah terlalu depresif untuk diikuti seperti Revolutionary Road atau Blue Valentine. 

Kala Adam Driver hampir mendominasi jalan cerita di pertengahan, di saat itu juga penonton mulai menyaksikan karakter Charlie semakin terlihat kehabisan jalan. Karakternya yang pada awalnya tenang, mulai menunjukkan kekhawatiran, dan pada satu titik pun kita akhirnya melihat keputus asaan yang ia rasakan. Ingat ketika saya sebelumnya bilang bila Baumbach mampu membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter saja? Iya, pada momen inilah, kita bisa bersimpati pada karakter Charlie. Toh, terlepas dari kekurangannya, ia tetap adalah seorang ayah yang menyayangi putra nya. Dan melihat perjuangannya untuk mendapatkan hak asuh penuh, hingga nantinya bersedia keluar uang banyak demi mendapatkan pengacara yang mampu melawan Nora, Charlie berhasil menjadi lawan sepadan Nicole dalam hal merebut simpati penonton. 

Marriage Story secara mengejutkan berhasil mengaduk-aduk perasaan saya melihat konflik terjadi. Baumbach sukses memposisikan saya layaknya anak yang tengah menyaksikan ayah ibu nya bertengkar untuk mendapatkan saya. Kita ingin keduanya baik-baik saja, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menemani mereka kala dibutuhkan. Ada 2 atau 3 kali momen yang mampu membuat saya meneteskan air mata. Seperti tentu saja ketika Nicole akhirnya mengungkapkan alasan mengapa ia memutuskan untuk berpisah dengan Charlie. Ekspresi hopeless dari Adam Driver pun sering membuat saya trenyuh melihat nasib Charlie. Namun pertahanan saya untuk tidak menangis akhirnya jebol juga tepatnya pada saat Henry dan Charlie membaca sesuatu. Air mata yang menyayangkan kondisi sehingga membawa pasangan ini hingga ke titik itu. 

Baumbach juga begitu pintar untuk menyampaikan maksud tanpa harus ada dialog, hanya cukup dengan visual saja. Ambil contoh gambar di atas, dimana Nicole dan Charlie di dalam kereta, keduanya saling menatap dengan posisi berseberangan, dan terletak tiang pegangan kereta di tengah-tengah mereka. Mengindikasikan bila sebenarnya ada sekat di antara mereka berdua, namun sekat itu pula yang menghalangi mereka untuk membicarakan perasaan masing-masing. Situasi pun kembali dihadirkan oleh Baumbach ketika mereka berdua memutuskan untuk berbicara. Dengan pengambilan gambar yang sama, namun tanpa sekat. Dan pada momen ini lah kita mendapati momen penguras emosi terbesar yang mampu memaksa saya merasa miris dan sedih dalam diam, dimana Baumbach menelanjangi rasa terpendam masing-masing dari Nicole maupun Charlie. Brilian.

Adam Driver dan Scarlett Johansson jelas bermain fenomenal disini. Bagi saya, ini adalah peran paling emosional dari ScarJo, lengkap dengan ditanggalkannya kesan seksi yang selalu melekat pada dirinya sehingga penonton lebih terfokus pada aktingnya. Johansson mampu menampilkan kerapuhan Nicole tampak begitu nyata dan tidak mendramatisir, serta diimbanginya juga dengan kesan strong mother tanpa kehilangan kehangatan. Lihat saja momen ketika ia mengikat tali sepatu Charlie di suatu kesempatan. Driver pun juga tidak kalah fenomenal nya, dengan penampilannya sebagai Charlie yang perlahan semakin tidak tahu harus bagaimana lagi. Driver begitu piawai dalam berbicara secara subtil melalui mimik muka sehingga penonton ikut merasakan, meski tanpa iringan dialog atau ekspresi menangis dsb. Dengan meyakinkannya pula ia mempresentasikan kejatuhan seorang Charlie akibat kalah atas kondisi secara perlahan. Kala ia menyanyikan lagu "Being Alive", disitu pula puncaknya Driver membuncahkan semua rasa kesedihan dan pahit walau tanpa harus dengan air mata mengalir. Malah sepertinya penonton lah yang mampu ia buat menangis (saya hampir aja nangis lagi).

Marriage Story begitu merefleksikan pada kenyataan, dibantu dengan tiada hitam dan putih pada karakternya. Keduanya memiliki kelebihan, dan tak terlepas dengan kekurangan juga. Baumbach pun mengakhiri film nya dengan tone yang cukup hangat namun kental akan ironi berkat iringan musik dari Randy Newman. Pada akhirnya, kehidupan harus tetap berlangsung, dan kita pun kembali untuk beradaptasi dalam fase kehidupan yang baru. Marriage Story tentu memiliki kekurangan, dan yang paling jelas adalah durasinya yang cukup panjang yaitu 136 menit, namun dalam pengalaman menonton pertama saya tidak terlalu memikirkan kekurangan film ini. Yang saya tahu, Marriage Story adalah salah satu film tentang perceraian terbaik, bersama dengan Revolutionary Road atau Blue Valentine.



8,75/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!