Showing posts with label Leonardo DiCaprio. Show all posts
Showing posts with label Leonardo DiCaprio. Show all posts

Monday, 2 September 2019

"Don't cry in front of  the Mexicans"- Cliff  Booth

Plot 

Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) merupakan aktor Hollywood yang terkenal lewat perannya sebagai Jake Cahill dalam western tv series, Bounty Law. Dirinya sempat menjadi aktor kelas atas, namun memasuki periode 60'an akhir, namanya kian meredup. Rick hanya mendapatkan jatah pemeran penjahat yang harus rela dihajar dan kalah di akhir cerita. Karir meredup Rick ini secara langsung berdampak pada stuntman sekaligus teman Rick, Cliff Booth (Brad Pitt) yang juga sepi akan pekerjaan. Keseharian Cliff pun hanya menjadi asisten antar jemput Rick, dan sesekali membantu Rick perihal pekerjaan rumah. Rick sendiri tinggal tepat bersebelahan dengan sutradara yang tengah naik daun, Roman Polanski (Rafal Zawierucha) bersama istrinya, Sharon Tate (Margot Robbie), seorang aktris muda yang tengah menapak karir di Hollywood.




Apa yang anda harapkan dari film hasil sutradara sekaliber Quentin Tarantino? Tentu nya sajian kekerasan banjir darah bersanding dengan dialog-dialog "seenaknya" namun memorable di tiap menit yang tidak ketinggalan akan umpatan-umpatan layaknya film Martin Scorsese. Ya, bila Anda penikmat film, nama Tarantino jelas lebih dari sekedar nama. Tarantino adalah salah satu sutradara yang paling dihormati dalam dunia perfilman. Namanya seolah telah menjadi jaminan jika film yang disutradarai nya sudah hampir pasti akan berakhir memuaskan. Dari Reservoir Dogs, Pulp Fiction, dwilogi Kill Bill, hingga The Hateful Eight, tidak ada yang mengecewakan. Semuanya critical acclaim yang membuat Tarantino memiliki penggemar yang lumayan masif. Setelah "libur" sebagai sutradara dalam kurun waktu 4 tahun, karya kesembilan Tarantino pun lahir di tahun ini. Semua penikmat film menantikan, termasuk saya. Apalagi tersiar kabar jika ini adalah film terakhir dari Tarantino, dan apabila isu ini benar, sayang sekali, karena saya sedikit kecewa akan film ini. And dare I say it, this is the worst Tarantino's movie. Let me explain you why.

Berdasarkan judulnya, Tarantino seolah menulis surat cinta melalui Once Upon a Time in Hollywood (next, I'll call it OUATIH) ini akan perfilman Hollywood, tepatnya periode 50-60an. Lengkap dengan referensi film/tv series yang populer pada zaman itu, seperti The Great Escape, Batman, FBI dan sebagainya, lengkap pula penempatan beberapa film fiksi bergenre western movie yang tengah digandrungi kala itu, bahkan OUATIH ini begitu kental akan atmosfir western nya disebabkan dari gaya berpakaian Rick dan Cliff bagaikan koboi. Tidak ketinggalan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Bruce Lee (yang mengundang kontroversi akibat penggambaran karakter versi Tarantino yang almarhum miliki dalam film ini yang dianggap tidak menghormati Bruce Lee) dihadirkan atau paling tidak disinggung namanya. Musik latar berusia tua pun bertebaran di tiap adegan untuk penambah injeksi setiap momen. Dan jujur, untuk saya yang bisa dikategorikan penggemar film muda yang begitu buta akan situasi dunia Hollywood periode 50-60 an, tentu saja referensi yang bertebaran dalam OUATIH membuat saya tersesat. Saya tidak bisa membedakan mana adegan film/tv yang fiksi, ataupun yang nyata. Terlebih lagi, Tarantino masih menyuguhkan dialog nya yang lumayan cepat sehingga saya kesulitan untuk mengikuti, walau saya harus akui, jika dibandingkan film-film Tarantino sebelumnya, dialog-dialog dalam OUATIH jauh lebih "fokus", tidak terlalu ngalur ngidul sebelum ke inti suatu adegan. Namun entah kenapa, dialog dalam film ini tidak lah terlalu memorable

Fokus penceritaan pun terasa kurang fokus, dimana OUATIH menceritakan tiga karakter protagonist utama, yaitu Rick, Cliff dan Sharon. Story arc Rick dan Cliff tidak jauh berbeda. Keduanya tengah mengalami penurunan dalam karir mereka dalam dunia Hollywood. Yang membedakan adalah cara menyikapi fakta tersebut. Bila Rick kerap merasakan kecemasan berlebihan, bahkan sering menangis saat mengeluh bintang nya semakin pudar, beda hal dengan Cliff, yang justru lebih dewasa dan santai dalam menerima fakta. Cliff tetap menjalani kehidupan sehari-hari nya seperti biasa, bermain dengan anjing peliharannya yang setia, dan tetap setia dalam mengantar jemput Rick. Padahal jika dilihat dari kasat mata, Cliff harusnya lebih tepat untuk mengeluh. Terlihat kala Tarantino membandingkan kehidupan Cliff dan Rick yang seolah beda kasta. Cliff mendiami home trailer ditemani sereal murah dan tv kecil, berbalik dengan Rick yang mendiami rumah mewah dan kolam renang pribadi sembari menikmati minuman alkohol mahal nya kala menghapal naskah. Padahal, Cliff merupakan pahlawan perang yang mampu melakukan apa saja. Muncul dalam benak jika Cliff mungkin lebih layak berada di posisi Rick.

Di lain sisi, ada Sharon Tate, istri dari sutradara yang tengah booming, Roman Polanski, yang tengah menanjak karir nya berkat pesona nya sebagai aktris muda yang cantik dan seksi. Kita diajak untuk mengenal Sharon lewat kehidupan sehari-hari nya. Bercengkerama dengan teman-temannya, berpesta dan menonton film yang ia bintangi di bioskop biasa. Saat menonton film itulah, kita akhirnya mengenal sisi lain dari Sharon, yang tak lebih dari aktris muda yang girang kala penonton menikmati karakter yang ia perankan. 

Dalam durasi nya yang kurang lebih 2 jam dari keseluruhan 160 menit, tepatnya sebelum narasi bergerak ke akhir, Tarantino seolah menjadikan OUATIH sebagai media slice of life ketiga karakter utamanya. Saya pun harus mengakui cukup bingung dan tersesat apa sebenarnya yang ingin Tarantino sampaikan lewat film ini. Apakah ingin menceritakan seorang aktor yang tengah mengalami keterpurukan atau sebaliknya? Parahnya lagi di pertengahan, Tarantino menyajikan tiga narasi yang seolah tidak ada benang merahnya, dimana tiga karakter ini memiliki story arc nya masing-masing di tempat yang berbeda. Makin tersesat lah saya, sehingga tidak terpungkiri kebosanan mulai menghampiri, ditambah lagi bertebaran referensi film/tv series jadul tahun 50-60 an yang kebanyakan tidak saya ketahui. Maaf saja jika saya beranggapan Tarantino membuat film ini untuk mereka yang tahu seluk beluk dan memiliki wawasan luas dalam dunia Hollywood, terutama periode yang saya singgung sebelumnya, tanpa memikirkan apakah juga bisa dinikmati untuk penonton awam seperti saya.

Masih ada beberapa momen menghibur yang lumayan mampu mengusir kantuk, seperti penyutradaraan yang nyeleneh ala Tarantino ada. Penempatan flashback scene yang kerap muncul tiba-tiba juga menambah warna OUATIH. Terlepas dari benar atau tidak penggambaran karakter Bruce Lee disini, tetapi harus saya akui, ketika ia sparring dengan Cliff itu sangat menghibur untuk saya. Adegan kekerasan brutal yang hadir di penghujung film tentu saja sudah saya tunggu-tunggu kehadirannya (more on that later). Bukan film Tarantino banget jika minus adegan kekerasannya. 

Kelemahan di narasi cerita cukup mampu ditutupi akan eksplorasi tiga karakter utama serta kualitas yang membintanginya. Anxiety dari Rick digambarkan sempurna oleh Leonardo DiCaprio. DiCaprio mampu memerankan dualitas karakter Rick dimana Rick bisa menjadi laki-laki macho yang sudah terbiasa dengan baku tembak kala syuting berjalan, lalu bertransformasi menjadi Rick yang bahkan dengan mudah menangis akibat kecemasannya yang berlebihan. Bahkan ada suatu momen dimana DiCaprio begitu luwesnya memerankan dua versi Rick Dalton dalam waktu berdekatan. Adegan Rick meluapkan kekecewaan serta kemarahannya dalam trailer bagi saya adalah momen terbaik dalam OUATIH. Brad Pitt tentu saja tidak kesulitan memerankan Cliff sebagai karakter macho nan badass. Duet DiCaprio-Pitt menjadi elemen terkuat dalam OUATIH berkat chemisty meyakinkan mereka, sehingga saya cukup menyayangkan adegan mereka dalam satu layar cukup minim dalam film berdurasi dua jam lebih ini. Andai saja Tarantino lebih memilih mengeksplorasi hubungan persahabatan mereka. Margot Robbie memang cukup tenggelam dibanding dua aktor besar ini, tetapi ia masih bisa menunjukkan kebolehan aktingnya, terutama di adegan bioskop. Perhatikan ekspresi bahagia nya kala penonton menyukai karakter yang ia perankan, terasa genuine seolah menggambarkan perasaan Robbie sebenarnya, bukan Sharon.

Dalam membangun ketegangan, Tarantino masih ahli nya. Yang pertama adalah saat Cliff masuk ke "sarang" nya hippies. Lalu yang kedua sajian penuh kekerasan nan brutal di penghujung cerita. Yang saya sukai dari Tarantino adalah setiap adegan slow burning nya, Tarantino lebih memilih kesunyian dalam membangun intensitas, minus sound effect. Penonton dibuat tidak nyaman, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Glorifikasi kekerasan yang mengeksploitasi darah tersaji di adegan pertarungan pada akhir film, dihiasi call back dari Tarantino yang menjadikan beberapa momen yang terjadi sebelumnya memiliki esensi. 

Spoiler beware!!!!!

Kala judul film muncul tanda berakhirnya film, terlintas dalam benak, ada yang salah pada film ini. Tentu Tarantino memiliki maksud dan pesan sendiri yang ingin ia sampaikan melalui OUATIH. Diliputi kebingungan, saya pun mencoba gugling isu apa yang ingin diangkat Tarantino. Rupanya Tarantino mengangkat cerita dari tragedi penembakan Sharon Tate di 8 Agustus 1969, yang merenggut nyawa Tate dan teman-temannya. Tarantino pun menciptakan alternate reality layaknya Inglourious Basterds (2009) dimana dalam filmnya, Sharon Tate dan temannya justru selamat, karena para pelaku penembakan justru mengubah targetnya menjadi Rick Dalton akibat perilaku tidak menyenangkan Rick terhadap mereka. Para pelaku pun berakhir tragis karena kesalahan mereka memilih target, sehingga secara tidak langsung, jika kita mengetahui konteks nya, Rick dan Cliff (dan anjing peliharannya) telah menyelamatkan Sharon dan temannya. 

Karakter Rick dan Cliff sendiri adalah karakter fiksi. Penggambaran karakter Rick Dalton bagaikan kombinasi dari aktor kawakan periode 50-60 an seperti Steve McQueen (The Great Escape) dan Ty Hardin. Klimaks di akhir bagaikan kenyataan ideal bagi Tarantino. Andai ia bisa mengubah sejarah, ia berharap ada karakter seperti Rick dan Cliff sehingga mampu menghalangi tragedi yang terjadi. Dan sesungguhnya, pusat penceritaan OUATIH sebenarnya adalah Sharon Tate. Film ini seperti didedikasikan untuknya dari Tarantino. Dengan mengetahui konteks ini, saya pun mengerti jika Tarantino menganggap film teranyar nya ini adalah karya paling personal untuknya.

Spoiler End!

Seperti yang saya tulis sebelumnya jika film ini pasti mudah dinikmati oleh para penonton yang paham akan referensi atau paling tidak tahu konteks filmnya. Saya pun cukup yakin jika menonton film ini lagi, kepuasan saya akan bertambah beberapa kali lipat. Namun, untuk first viewing, pendapat saya tidaklah berubah. Susah untuk mengungkapkan saya puas dengan hasil akhir dari film ini jika saya sering dilanda kebosanan dan tersesat akan narasi cerita nya. Masih menghibur, terutama penggambaran karakter Rick dan Cliff dibantu performa mengagumkan DiCaprio (like usual) serta kuatnya chemistry nya bersama Brad Pitt, tetapi untuk film karya sutradara sekaliber Quentin Tarantino, of course I was expecting more than this.

7,5/10



Thursday, 4 February 2016

As long as you can still grab a breath, you fight.- Huge Glass

Plot

Huge Glass (Leonardo DiCaprio) adalah salah satu dari anggota ekspedisi berburu bulu hewan yang dikomandoi oleh Kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson). Sial bagi Glass, dalam perjalanan usaha menuju tempat aman setelah mendapatkan serangan dari suku Indian setempat, Glass secara brutal diserang oleh beruang Grizzly betina. Walau berhasil membunuh beruang tersebut, Glass menderita luka yang sangat parah sehingga tidak bisa meneruskan perjalanan dengan kakinya sendiri. Karena Glass adalah satu-satunya orang yang mengenal wilayah yang sedang diekspedisi, Kapten Henry meminta anggotanya untuk membawa Glass. Keputusan ini mendapatkan penolakan dari sebagian besar anggotanya, termasuk Fitzgerald (Tom Hardy) yang paling lantang menyuarakan penolakan. Namun pada akhirnya, Kapten Henry pun harus rela meninggalkan Glass dikarenakan semakin sulitnya medan yang harus ditempuh. Dengan diiringi rasa iba, Kapten Henry meminta 3 dari 10 anggotanya untuk menjaga Glass hingga Glass benar-benar tewas. Dengan diiming-imingi dengan uang, Fitzgerald bersedia menjaga Glass bersama Bridger (Will Poulter) dan anak Glass, Hawk (Forrest Goodluck). Fitzgerald sendiri tidak ada niat untuk merawat Glass karena dalam beberapa jam kemudian Fitzgerald dengan teganya membunuh Hawk didepan Glass dan mengubur hidup-hidup Glass.




Review

Setelah menggebrak dengan drama black comedy nya, Birdman, yang cukup sukses dalam ajang penghargaan Academy Awards tahun lalu, sang sutradara Alejandro Inarritu, yang juga terpilih menjadi best director,  kembali dengan sebuah film drama survival, The Revenant. The Revenant sendiri adalah kata dari bahasa Prancis yang berarti “Kembali” atau simplenya hidup kembali. Melihat apa yang telah dilakukan Inarritu pada Birdman yang sangat memuaskan itu (Kalo sempat, gw akan ngereviewnya), tidak berlebihan apabila pencinta film akan sedikit meninggikan ekspektasi mereka akan The Revenant. Apalagi The Revenant dibintangi oleh salah satu aktor terbaik saat ini, Leonardo DiCaprio serta aktor British favorit gw, Tom Hardy, yang juga tengah menanjak karirnya setelah baru-baru ini membintangi Mad Max: Fury Road. Tidak hanya itu, Inarritu juga kembali bekerja sama dengan rekannya di Birdman, siapa lagi kalau bukan Emmanuel Lubezki.
Lalu, apa yang disajikan oleh Inarritu ini? Kalau gw melihatnya, tema survival lebih dominan akan film ini karena mungkin dalam film yang berdurasi 156 menit ini, ada 60%-65% kita akan diperlihatkan bagaimana Huge Glass melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Apa yang dilakukan Huge Glass? Ekstrim. Cukup satu contoh yang gw sebut, tidur dalam badan bangkai Kuda. Dan Inarritu menyajikan setiap plot survival ini dengan sangat detil. Kita bahkan diperlihatkan bagaimana Glass mencabik-cabik perut kuda hanya untuk dijadikan tempat tidur yang hangat dalam badai salju yang kejam. Walau tidak diperlihatakan secara vulgar, tetap saja setiap gesekan pisau yang meyakinkan akan cukup mengganggu kalian bagi yang memiliki perut yang lemah. Ya, The Revenant bukanlah film yang cocok untuk mereka. Oh, don’t get me started with The Grizzly vs Huge Glass. One of the brutal scene i’ve ever seen. You have to watch it by yourselve. Intinya, Inarritu berhasil membuat plot survival nya begitu meyakinkan. Sehingga gw pun memaklumi kalau ada beberapa kru yang sempat mengundurkan diri sebelum atau sedang dalam proses syuting The Revenant.
Namun, apabila diambil dari perspektif lain, The Revenant bisa saja membosankan bagi mereka yang tidak sabar menunggu Glass membalaskan dendamnya. Mereka tidak salah, karena setelah plot survival dimulai, praktis sebagian besar kita diperlihatkan karakter Glass merintih, mengerang, mencoba bertahan hidup. Memang ada satu adegan aksi, tetapi tidak berlangsung lama sehingga gw tidak menyalahkan apabila ada penonton yang merasa sedikit bosen. Tapi disinilah kekuatan Emmanuel Lubezki tampak dan menonjol. Alam yang berada di Kanada serta Argentina tentu saja menjadi sajian empuk bagi Emmanuel Lubezki untuk menangkap gambar-gambar yang sangat memanjakan mata. Lubezki pun masih memasukkan trademark nya, apalagi kalau bukan long take nya yang dengan briliannya digunakan dalam setiap adegan yang mampu memacu detak jantung.  Dengan gambar-gambar yang memukau inilah bagi gw salah satu elemen yang membuat cerita Glass bertahan hidup tidak membosankan dan tetap menarik untuk diikuti. Tapi tetap, kekuatan utama gw sangat menikmati film adapatasi dari novel milik Michael Punke ini adalah Leonardo DiCaprio.
Sedikit berlebihan bagi mereka yang menyebutkan bahwa ini adalah akting terbaik dari Leo (IMO, perannya sebagai Howard Hughes di The Aviator tetap terbaik), namun gw sependapat apabila kans Leo untuk memenangkan Oscar pertamanya lewat aktingnya di film ini. Tidak hanya karena The Revenant memiliki materi Oscar, tetapi akting Leo benar-benar luar biasa. Gw mengikuti setiap film yang dimainkan Leo, namun baru kali ini Leo harus dituntut berakting dengan total. Gw tidak bisa menerangkan secara detil bagaimana epic nya penampilan Leo, cukup saksikan di bagian di mana Hawk dibunuh di depan matanya. Perhatikan ekspresinya. Kemarahan, kepedihan, serta penderitaan yang sedang dialaminya berhasil ia tampilkan dalam satu scene. Berat untuk tidak terpukau. Belum lagi scene-scene lain yang memaksa Leo untuk memberikan komitmen nya sebagai aktor kelas satu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi pengguna dunia maya apabila Leo kembali gagal meraih Patung Emas Pria Berkepala Botak lagi. Penampilan menawan Leo pun mendapat perlawanan yang cukup sepadan dari Tom Hardy. Sedikit berlebihan dengan mengatakan ini adalah penampilan terbaik dari “Bane”, karena penampilannya disini masih ada beberapa level di bawah perannya sebagai Charles Bronson ataupun Ivan Locke, tetapi memang Hardy berhasil menjadi sosok antagonis yang begitu kejam, berdarah dingin yang membuat penonton dengan mudah mencacinya. Bahkan hanya dengan tatapan mata saja Hardy sudah mampu memperlihatkan bahwa karakter Fitzgerald yang dibawakannya adalah sosok pria yang super egois nan keji, dan tentu saja kita berharap supaya sosok Fitzgerald ini berada sejauh mungkin dari lingkungan hidup kita. Cukup menyenangkan bahwa pihak Academy Awards akhirnya meliriknya dengan memasukkan Hardy dalam nominasi best supporting actor.
Apa ada yang menyatakan bahwa The Revenant merupakan film yang membosankan? Mungkin ada. Tetapi apabila kalian cukup bersabar dan memberikan waktu, maka kalian akan mendapatkan sebuah pengalaman cinematic yang memuaskan. Sebuah cerita dendam, dan juga bertahan hidup yang memukau. Ditambah penampilan level S dari seorang Leonardo DiCaprio, The Revenant adalah salah satu film terbaik di awal tahun ini. Dan ya, habis menonton film ini, gw sangat bersyukur bisa hidup dengan aman tanpa perlu berjuang hidup dan mati seperti Hugh Glass.

8,25/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!