Showing posts with label Marvel. Show all posts
Showing posts with label Marvel. Show all posts

Thursday, 2 May 2019


"I keep telling everybody they should move on and grow. Some do. But not us"- Captain "Steve Rogers" America

Plot

Para Avengers yang tersisa, berusaha mencari cara dalam mengembalikan milyaran korban akibat dari jentikan jari Thanos (Josh Brolin).



Review

Jika Anda sama seperti saya yang merupakan fans dari Game of Thrones dan mengikuti film-film MCU, rasanya kita bisa sepakat bila dalam 1 minggu terakhir ini merupakan hal yang tidak mengenakkan untuk surfing di dunia internet. Serial Game of Thrones memasuki episode yang menampilkan sebuah perang yang dinantikan oleh penggemar, sedangkan MCU dengan Avengers: Endgame nya sendiri adalah film yang paling dinantikan tahun ini. Spoiler jelas bertebaran di internet, bahkan di tempat yang tidak terduga. Saya sendir menjadi korban spoiler disebabkan ada user bodoh yang seolah begitu bangga telah menyaksikan Endgame terlebih dahulu sehingga dengan begitu sombongnya meninggalkan jejak spoiler di kolom obrolan Live Stream sub count antara PewDiePie vs T-Series di kanal FlareTV. Untungnya spoiler yang tertulis tidak terlalu bisa dibilang mega spoiler juga. Karena itu, selain ingin menyaksikan bagaimana akhir pertempuran Avengers menghadapi Thanos, saya juga ingin segera tenang untuk berinternet ria kembali dan menginstall ulang aplikasi Instagram dan Twitter di Smartphone saya. 

Avengers: Endgame yang masih disutradarai oleh Russo Brothers (kembali) merupakan hasil dari buah kesabaran Marvel dalam membangun universe nya dalam 11 tahun terakhir dengan 22 film nya, dan aspek paling berhasil yang juga menjadi faktor terbesar mengapa MCU menjadi raksasa di industri perfilman dalam satu dekade terakhir adalah bagaimana mereka menangani karakter-karakter di dalamnya begitu memorable dan mudah untuk disukai. Saya yakin, dari penggemar sendiri memiliki masing-masing karakter favorit mereka, baik para karakter superhero nya atau pun sekedar pemeran pembantu. Kecuali Captain Marvel (yang bisa jadi adalah karakter paling poralizing sejauh ini, itupun dikarenakan aspek non teknis), rasanya tidak ada karakter yang begitu dibenci oleh penggemar. Buah kesabaran ini sudah berhasil tampil di Infinity War, bahkan standar yang telah dipasang begitu tinggi pada film itu. Namun Russo Brothers kembali menunjukkan kembali kualitas mereka sebagai sutradara dimana, walaupun bagi saya Infinity War sedikit lebih baik, Russo Brothers sukses memberikan pengalaman sinematik berkesan lewat Endgame ini melalui studi karakter serta balutan emosi yang senantiasa hadir di setiap menitnya. 

Sedari menit awal, Endgame telah kental akan aura depresif nya, ditambah gubahan soundtrack dari Alan Silvestri yang menambah mood keputus asaan yang ada. Russo Brothers yang bekerja sama dengan Christopher Markus dan Stephen McFeely dalam divisi naskah, mengambil setting tidak lama dari ending Infinity War terjadi. Ada karakter yang putus harapan, ada juga yang tetap tegar dan ingin tetap melangkah, serta ada juga yang kehilangan arah sehingga melepaskan beban dan tanggung jawab nya sebagai superhero. Sebagai film blockbuster terbesar di tahun ini, saya cukup kaget menerima kenyataan jika Endgame cukup didominasi oleh aspek drama berfokus pada pendalaman karakter nya. Endgame menyajikan kisah para pahlawan kita ini untuk bersikap dalam setelah kekalahan masif yang mereka terima dan menghadapi ujian terbesar mereka sejauh ini seraya tetap menegakkan kepala mereka. Seberapa besar pengorbanan yang akan mereka beri demi keselamatan galaksi. Sesuai dengan kalimat yang kerap diulang di trailer awal nya, whatever it takes, bahkan jika harus memberikan nyawa mereka. Karena itulah, bila di Infinity War, spotlight yang ada sepenuhnya diambil oleh Thanos, maka di Endgame, Thanos harus rela untuk menyingkir dan memberikan spotlight tersebut kepada member The Avengers, terutama anggota The Avengers pertama, yaitu Captain "Steve Rogers" America (Chris Evans), Iron "Tony Stark" Man (Robert Downey Jr.), Black "Natasha Romanoff" Widow (Scarlett Johansson), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Benner a.k.a Hulk (Mark Ruffalo) dan Clint "Hawkey" Barton (Jeremy Renner). Walau memang patut disayangkan karena dengan keputusan ini, karakter-karakter lainnya sedikit terlupakan. Namun hal ini patut dimaklumi, mengingat Endgame sendiri bagaikan sebuah tribute untuk member pertama The Avengers.

Melalui plot time travel nya juga, Endgame bagai kan sebuah perjalanan retrospective untuk mengenang kembali perjalanan mereka. Russo bros membagi karakter nya ke 4 tempat berbeda  Akan terdapat beberapa momen-momen yang hadir dari film sebelumnya, dengan tentu saja sentuhan improvisasi, dan dari sinilah roller coaster emosi dimainkan. Time Travel nya menjembatani beberapa momen-momen emosional yang memiliki esensi pada karakter masing-masing, serta memberikan ruang untuk penggemar kembali mengingat petualangan kita selama ini bersama The Avengers. Tidak hanya menawarkan dosis emosi, namun juga memberikan beberapa jokes segar yang mampu direspon tawa oleh penonton. Interaksi dialog pun seolah tidak pernah menemukan titik jenuh dan selalu menawarkan kesegaran, terutama untuk karkater yang berinteraksi pertama kali dengan karakter lainnya. 

Para aktor pun semakin lekat dengan karakter yang dilakoni masing-masing, tidak lupa juga mereka memberikan efek rasa emosi personal baik dari gestur bahkan hanya melalui tatapan mata. Semuanya bermain cemerlang, namun tidak akan ada yang menampik jika RDJ lah yang menjadi bintang utama nya. RDJ sempurna merefleksikan rasa putus asa dan kepedihan yang tergambar melalui ekspresi muka nya. Barisan dialog yang ia lontarkan kala film bergerak ke ranah drama selalu terdengar meyakinkan sehingga penonton ikut merasakan gejolak yang tengah ia derita. Lalu, tibalah kita pada bagian endingnya yang emosional. Kedekatan emosional yang telah tercipta antar penonton dan tiap karakter menjadi faktor utama akan betapa besar impact yang ditawarkan pada momen ending. Sulit rasanya untuk tidak meneteskan air mata melihat apa yang tampil di layar. Sebuah konklusi sempurna untuk menutup kisah bagi beberapa karakter.

Namun secaea keseluruhab tentu Endgame tidak luput akan kekurangan, karena untuk bagian action, terutama di final fight nya, saya lebih berkesan dengan yang disajikan oleh Infinity War. The Battle of Wakanda sendiri memang masih menjadi salah satu adegan pertempuran terbaik yang pernah disajikan oleh MCU. Meski final fight di Endgame melibatkan lebih banyak karakter dibanding predesornya, namun bagi saya, pertempuran berskala besar tersebut kurang menampilkan momen highlight nya. Tangkapan gambar maupun action sequence nya kurang spesial dan memorable, kecuali ketika para hero wanita nya bersatu dalam menghadapi pasukan yang dibawa Thanos. Malah saya lebih memilih adegan fight yang terjadi sebelumnya, dimana kita mendapatkan Thanos beraksi melawan para Avengers tanpa infinity gauntlet di tangannya. Lebih terasa akan aspek personal yang terlibat, serta juga mampu menampar keras bagi mereka yang meragukan betapa kuat nya Thanos. 

Apakah ini adalah film MCU terbaik? Saya menyerahkan jawabannya kepada Anda. Namun, untuk sebuah film penghormatan maupun surat cinta untuk para pahlawan MCU, jelas Endgame telah menjalankan fungsinya dengan sangat baik. Menarik dinantikan film-film MCU selanjutnya dengan pergerakan narasi yang baru. Good luck, Marvel, to topping this one on next film.

8,25/10




Tuesday, 21 July 2015



"I am going to die surrounded by the biggest idiots in the galaxy."-Gamora


Plot

Peter Quill (Chris Pratt) atau menyebut dirinya Star-Lord adalah manusia keturunan Bumi yang “diculik” oleh sekelompok berandal yang bernama Ravagers di malam kematian sang ibu. 26 tahun kemudian, Peter singgah ke suatu planet bernama Morag untuk mengambil sebuah batu orb. Namun tidak lama setelah mendapatkan batu tersebut, Peter dihadang oleh bawahan Ronan (Lee Pace) yang diketuai oleh Korath (Djimon Honsou) yang juga mengincar batu yang sama, yang pada akhirnya Peter lolos. Ronan pun mengutus Gamora (Zoe Saldana) untuk merebut batu tersebut, sedangkan ketua Ravagers, Yondu (Michael Rooker), menetapkan harga buronan untuk Peter Quill.  Ketika Peter hendak menjual batu orb di ibu kota Nova Empire, Xandar, Peter di serang oleh Gamora dan Rocket (disuarakan oleh Bradley Cooper), rakun kecil hasil eksperimen serta temannya pohon manusia, Groot (disuarakan oleh Vin Diesel), yang ingin menangkap Peter Quill untuk mendapatkan uang buronan dari Peter Quill. Setelah terlibat perseteruan, mereka berempat ditangkap oleh Nova Corps dan ditahan di Kyln. Di dalam situlah mereka bertemu pria berperawakan besar yang bernama Drax (Dave Bautista) yang memiliki dendam mendalam terhadap Ronan yang telah membunuh keluarganya. Drax pun mencoba membunuh Gamora, namun, Peter Quill mencegah nya dan mengatakan bahwa Gamora bisa menjadi umpan yang bagus untuk Drax untuk memanggil Ronan dan membalaskan dendamnya. Peter Quill pun mengajak Gamora, Rocket, Drax dan Groot untuk bekerja sama dan kabur dari Kyln, tanpa menyadari bahwa mereka telah terlibat akan suatu permasalahan yang sangat besar.




Review

Guardians of the Galaxy merupakan film superhero adaptasi dari komik Marvel dan juga merupakan bagian dari Marvel Cinematic Universe yang terkenal itu. Dan jujur saja, diantara superhero-superhero Marvel yang lain seperti Spider-Man, X-Man, Hulk, bahkan Iron-Man, Guardians of the Galaxy (GOTG) jelas kalah kelas dalam hal popularitas. Dan tentunya dengan budget $ 170 Juta, GOTG menjadi seperti sebuah perjudian Marvel pada tahun 2014 kemarin.
Tentunya apabila membicarakan film-film superhero Marvel, Marvel memiliki trademark tersendiri, yaitu mampu membuat film nya sangat fun dan sangat asyik untuk diikuti tanpa kehilangan akan kualitas cerita dan story development. Spider-Man 2 dan Iron-Man merupakan contoh yang bagus akan apa yang telah gw ucapkan. Terutama Iron-Man yang menjadi sebuah kejutan pada tahun 2008. Bagaimana tidak, dengan satu film, Iron-Man mampu menjadi superhero kelas wahid, menyamai bahkan mengungguli kerabatnya yaitu Spider-Man, Captain America, Hulk dll. Bisa dilihat di poster The Avengers dimana Iron Man yang mendominasi poster tersebut. Tidak hanya itu, Iron-Man sukses dalam hal kritik serta pendapatan, dan tidak lupa, membuat peran Iron-Man menjadi iconic berkat akting luar biasa dari Robert Downey Jr. yang kembali membawanya menjadi aktor kelas wahid di ranah Hollywood. Nah apakah Marvel Studios kembali berhasil membuat Guardians of the Galaxy, yang notabene nya adalah superhero kelas C, sukses? Jawabannya: Yeah, Marvel did it again.
Tanpa ekspektasi yang tinggi, gw sangat terhibur dengan apa yang telah disajikan oleh James Gunn dkk. James Gunn berhasil membuat gw mengingat kembali betapa asyiknya menonton film superhero seperti sensasi pertama gw nonton Spider-Man di bioskop. James Gunn memanfaatkan trademark yang telah dibangun oleh Marvel yang gw sebutin tadi, ya, FUN. Sutradara yang pernah membuat Ellen Page menjadi Kick Ass KW ini pun memasukkan berbagai aspek yang membuat GOTG itu seperti tontonan yang sangat menghibur, seperti musik klasik tahun 70-80 an yang diputar sangat tepat sekali (gw masih ingat bagaimana gw tanpa sadar menggoyangkan kaki gw di bioskop ketika adegan Peter memutar lagu lewat headsetnya saat di planet Morag), lontaran-lontaran kalimat yang memiliki joke cerdas, serta tentunya karakter-karakter yang begitu mudahnya untuk kita sukai. Ya, berbicara karakternya, ini sangat menarik sekali. Guardians of the Galaxy adalah film superhero, tetapi 5 pemeran utamanya bisa dikatakan tidak memiliki jiwa tersebut pada awalnya. Peter Quill sendiri adalah seorang pencuri, Gamora merupakan bawahan dari Ronan serta anak angkat Thanos, Drax adalah seorang brandalan, sedangkan yang terakhir sang pencuri perhatian Rocket dan Groot adalah hasil eksperimen yang ingin mencari uang sebanyak-banyaknya. Namun lambat laun, mereka berlima menyadari bahwa keberadaan mereka dibutuhkan untuk mencegah rencana dari Ronan, dan kelima karakter utama ini berhasil mendapatkan perhatian dan simpati dari gw dan gw jelas sepenuhnya mendukung mereka. Dan kembali ke karakter, apabila diminta siapa karakter paling mencuri perhatian adalah Yondu yang diperankan sangat cemerlang oleh Michael Rooker. Karakter Yondu menurut gw adalah karakter antagonis yang sedikit bernuansa antihero. Mengapa? Walau pada suatu kesempatan seolah ingin menghabisi Peter Quill, tetapi ada suatu adegan dimana Yondu sedikit menaruh perhatian terhadap Peter yang telah diculiknya semenjak kecil. Ya, bisa dibilang Yondu mungkin memang memiliki rasa sayang terhadap Peter dan menganggapnya sebagai anaknya sendiri secara pribadi, terlihat di scene akhir nya. Itulah karakter Yondu sangat mencuri perhatian.


This man is pretty cool..!

James Gunn benar-benar layak menjadi kunci kesuksesan akan GOTG, walaupun naskahnya yang dia tulis bersama Nicole Perlman termasuk standar, tetapi mereka berdua meramunya dengan cara mengeluarkan dialog-dialog serta interaksi antar karakter luar biasa menarik untuk diikuti. James Gunn juga secara tepat menempatkan unsur komedinya sehingga jarang bahkan tidak ada komedi yang miss. Namun apalah artinya naskah yang baik apabila tanpa aktor dan aktris yang baik pula.
Untungnya  GOTG memiliki hal itu. Gw baru di film ini berkenalan dengan Chris Pratt, dan juga Zoe Saldana, tetapi mereka mengejutkan gw, terutama Chris Pratt. Jujur saja, sebelum menonton GOYG, diantara kelima karakter utama nya, karakter Peter Quill lah yang merupakan karakter menurut gw akan sulit untuk disukai. Mengapa? Karena Peter Quill adalah orang “normal” di antara keunikan karakter lainnya sehingga gw mengira karakter nya akan tenggelam, tetapi, BOOM!! Gw salah. Gw bahkan sangat menyukai karakter dari Peter Quill. Tentunya sangat mengasyikkan melihat aktor tampan, berkharisma, menghadirkan sisi yang gila dan juga sedikit bodoh di layar lebar (itulah mengapa gw sangat mengagumi dan respect terhadap Leonardo DiCaprio). Dengan ciri khas seperti itulah Peter Quill mampu mencuri perhatian gw semenjak pertama kali tampil. Tentunya keempat karakter yang lain juga memiliki ciri khas masing-masing, seperti Drax yang dari penampilan paling seram dan menakutkan, tetapi siapa sangka bila Drax orang yang polos serta sedikit bodoh. Merupakan suatu kejutan melihat Dave Bautista yang dikenal sebagai pegulat WWE itu mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Lalu siapa sangka juga bahwa sosok kecil seperti Rocket memiliki sikap seenaknya dan paling “kejam” dan tega di antara mereka yang berhasil disuarakan dengan gemilang oleh Bradley Cooper, dan pastinya Groot yang hampir sepanjang film hanya bisa bicara “I am Groot”, tapi jangan salah, justru Groot lah yang paling memiliki sifat manusiawi di antara mereka (damn you, James and Nicole!!) . Mungkin karakter Gamora lah yang sedikit normal, tetapi bukan berarti Gamora tidak memiliki momen tersendiri.
Lalu, apakah GOTG yang memiliki humor berkelas lalu kehilangan sentuhan akan unsur actionnya? Jelas saja tidak. James Gunn berhasil memanfaatkan luasnya akan galaksi sehingga kita bisa melihat akan pesawat luar angkasa yang saling kejar, indahnya langit galaksi juga kita bisa lihat disini, dan juga pertempuran antar pesawat luar angkasanya sehingga tidak usah meragukan aspek visualnya dan juga jalinan aksinya.
Apabila berbicara kekurangan, mungkin terletak pada villain nya yang entah mengapa sedikit kurang intimidatif dan seolah tenggelam apabila dibandingkan dengan karakter lainnya. Karakter Ronan dan Nebula tentu saja kalah telak apabila dibandingkan dengan karakter lainnya, termasuk karakter sedikit minor seperti Yondu. Itulah mengapa di setiap adegan actionnya gw sama sekali gak merasakan ketegangan sedikitpun. Bukan karena adegan actionnya tidak di garap dengan baik ataupun gw gak simpati terhadap karakter-karakter utamanya, melainkan karena itu tadi, villainnya sama sekali gak intimidatif. Tapi meski begitu, kekurangan minor tersebut tidak membuat GOTG menjadi film yang jelek tentu saja, karena kelebihan-kelebihan lainnya mampu menutup hal tersebut.
Akhir kata, Guardians of the Galaxy adalah sebuah kejutan yang sangat menyenangkan. Walau aneh dan sedikit standar dalam hal naskah, namun James Gunn mampu membingkai film ini dengan aspek-aspek lainnya yang membuat GOTG sangat menarik dan mengasyikkan untuk diikuti. And hell yeah, One of the best superhero movies of all time!!

8/10
(minor SPOILER)
Favorite Scene: Ketika Yondu beraksi untuk pertama kali.. Awesome!!

 
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!