Sunday, 2 October 2016


"El. Psy. Congroo"-Okabe Rintarou

Plot

Okabe Rintarou (self proclaimed HOUOUIN KYOUMA) menyewa sebuah kamar yang dijadikannya sebagai laboratorium pribadi miliknya. Dia tidak sendiri dalam tujuannya untuk menciptakan gadget yang berguna untuk di masa depan serta melawan organisasi SERN (pada awalnya ini hanya candaan dirinya saja). Dia dibantu oleh teman masa kecilnya, Shiina Mayuri dan Hashida "Daru" Itaru sebagai sang Hacker. Salah satu alat yang mereka ciptakan adalah "Ponsel Microwave". Ketika mengadakan eksperimen dimana Okabe dan Daru menjadikan satu pisang untuk dihangatkan dalam microwave tersebut, apa yang terjadi kemudian adalah pisang tersebut kembali ketempatnya dalam kondisi berubah menjadi pisang jeli. Hal ini disaksikan oleh Makise Kurisu, ilmuwan muda dari Amerika yang sedang berkunjung ke Jepang. Kejadian tersebut merupakan awal dari semua yang akan dialami oleh Okabe dalam 3 minggu ke depan yang akan menjadi sangat panjang baginya.






Review


Dalam beberapa waktu belakangan, gw lebih banyak menghabiskan waktu nonton anime dibandingkan film. Entah kenapa, niat menonton anime jauh lebih besar dibandingkan film. Dalam 2 bulan ini saja, gw udah menghabiskan 3 judul anime, dan semuanya insya Allah akan gw review. Dan yang pertama kali menerima kehormatan itu adalah anime keluaran tahun 2011, Steins; Gate.
Pertama kali gw tahu anime ini ketika banyak sekali para pecinta anime memasukkan anime ini dalam jajaran anime terbaik pada dekade sejauh ini. Ditambah dengan judulnya yang gw akui terdengar sangat keren, maka gw pun mencari tahu berapa banyak episode nya. Ternyata, Steins; Gate hanya memiliki 24 episode dan itu sudah tiba di akhir cerita, tanpa season 2 sebagai lanjutannya. Melihat fakta itu, semakin besarlah niat gw untuk menonton anime bergenre science fiction ini.

Membicarakan time travel tidak akan pernah habisnya. Apakah mungkin atau tidak mesin tersebut diciptakan akan selalu terjadi perdebatan. Perdebatan yang tidak pernah akan ada habisnya itu juga ikut terjadi dalam dunia film ataupun anime yang bergenre science fiction. Sudah banyak sekali film yang mengangkat tema time travel, di dunia anime sendiri tentunya ada Doraemon dengan laci mesin waktu nya yang ikonik itu. Dan kemudian pada tahun 2011, Steins; Gate pun muncul dengan cerita yang mengutamakan time travel sebagai penggerak ceritanya hingga akhir cerita.

Dalam review ini, gw gak akan terlalu menelusuri terlalu dalam mengenai teori time travel dalam dunia Steins; Gate. Yang pasti, teori yang dipaparkan pada awal-awal cerita cukup bisa diterima dan penjabarannya tidak terlalu sulit untuk diikuti. Mengenai butterfly effect, time paradoks, dan lain-lain semuanya dijelasin cukup jelas dan enak diikutin. Masalah animasi pun gw gak akan komentar karena gw gak terlalu meributkan masalah teknis selagi ceritanya  membuat gw betah. Gw lebih fokus pada penceritaannya. Anime yang mendapatkan rating 9,2 di website Myanimelist ini memulai ceritanya cukup lambat. Pada episode-episode awal harus diakui cukup membosankan dengan temponya yang lambat. Tidak hanya lambat, Steins; Gate belum bergerak ke plot utamanya, setidaknya sampai episode 8. Patut dicatat, episode 8. Butuh niat yang kuat untuk tetap tertarik dengan apa yang ditawarkan Steins; Gate. 

Tetapi, setelah Steins; Gate bergerak menuju plot utamanya, disinilah Steins;Gate menunjukkan taringnya. Permainan time travel nya semakin gila dan ketika semuanya telah terlalu jauh terjadi, penonton pun seolah dihipnotis untuk segera mungkin menyantap episode selanjutnya. Gw gak bisa bayangkan bagaimana para pecinta anime dulu yang harus menunggu anime ini satu episode per minggu karena gw pasti tidak akan bisa melakukan hal yang sama. Mau tidak mau setelah episode 9 berakhir, gw harus marathon hingga episode akhir karena misteri-misteri yang ditinggalkan tiap episode begitu menarik untuk dicari jawabannya. Turning point yang terjadi di episode 12 semakin menambah rasa penasaran setiap penonton. Oh, gak bisa dibayangkan bagaimana kalo gw harus menunggu satu minggu demi 1 episode Steins; Gate. 

Ya, episode 12 merupakan turning point yang luar biasa dari Steins; Gate. Melibatkan salah satu karakter paling likeable di dunia anime, mood Steins; Gate benar-benar berubah. Masih terdapat beberapa humor tetapi kadar dosisnya diminimalisir dan jauh kuantitasnya dibandingkan episode-episode awal. Atmosfer Steins;Gate berubah ke ranah sedikit kelam dengan mempermainkan nyawa seorang manusia. Dan tentunya Steins; Gate pun berubah menjadi sajian yang mempermainkan perasaan para penonton. Entah beberapa kali gw hampir netesin air mata ketika melihat kebahagian setiap karakter harus dikorbankan demi  seseorang. Steins; Gate memberikan pelajaran bahwa, dengan time travel pun, mengubah takdir seseorang bukanlah hal yang mudah, serta menjadi studi kasus bila manusia belum sanggup (mungkin hingga kiamat) untuk bermain-main dengan takdir serta kekuatan untuk menguasai waktu. 

Selain kedalaman cerita, poin keunggulan Steins; Gate lainnya adalah karakter dan pertukaran dialognya. Pertama, karakter-karakter di Steins; Gate hampir semuanya sangatlah likeable, terutama (menurut gw) Okabe Rintarou dan Mayuri Shiina. Kekuatan utama dari karakter Okabe adalah keunikannya. Seperti rasa percaya dirinya yang sangat tinggi, sering memberi julukan-julukan yang aneh ke setiap orang (kecuali Mayuri), dan sering di sela-sela waktu berbicara sendiri seolah-olah menelepon orang lain. Bukannya aneh, malah hal ini menjadi keunikan tersendiri terhadap karakter Okabe. Lalu karakter Mayuri sendiri sangatlah sempurna mendefinisikan manis dan imut itu sendiri. Walau kebanyakan orang akan jauh lebih menyukai sifat tsundere nya Makise Kurisu (karakter ini menjadi karakter terfavorit wanita di situs Myanimelist), tapi gw lebih menyukai karakter yang ada di dalam Mayuri. Mayuri merupakan hati dari pertunjukan Steins; Gate. Semua kebaikan seakan berada di dekatnya. Susah sebagai pria yang normal untuk tidak jatuh cinta terhadap karakter yang satu ini. Sehingga ketika sesuatu terjadi pada dirinya, penonton pun akan merasakan simpati yang besar kepada Mayuri. Lalu mengenai dialognya, pertukaran dialog antara Okabe Rintarou dan Makise Kurisu merupakan salah satu highlight terbesar disini. Karakter tsundere Kurisu sangat cocok bila mendapatkan “lawan” karakter seperti Okabe. Setiap perdebatan yang terjadi antara Okabe dan Kurisu merupakan hiburan utama di awal-awal episode yang cenderung datar. Okabe yang suka menggodanya di setiap kesempatan, sementara Kurisu dengan self defensive nya yang begitu besar menciptakan chemistry antara Okabe dan Kurisu susah untuk digambarkan kata-kata. Maka, walau gw lebih menyukai karakter Mayuri, tetapi gw tidak keberatan bila love interest dari Okabe adalah Kurisu.

Dengan tema time travelnya, Steins; Gate berhasil menyajikan sebuah cerita emosional yang mampu membuat para penonton terikat. Bagian pertengahan hingga akhir episode tentu saja merupakan bagian terbaik dari Steins;Gate. Tetapi untuk menuju kesana, kalian harus bersabar dahulu dengan build up yang memang harus diakui cukup lambat tempo nya pada awal-awal episode. Tetapi ketika mengakhiri kisah ini, gw jamin kalian akan mengulang ke episode pertama karena begitu banyak hint demi hint yang diberikan kepada penonton. Dipenuhi dengan karakter-karakter yang unik serta likeable, pertukaran dialog yang sangat menghibur dan sajian drama nya yang mampu menyentu sisi sensitifitas kalian, Steins;Gate menjadi sajian anime yang mampu membuat kalian tidak akan pernah berhenti untuk menonton episode-episode selanjutnya (tepatnya ketika episode 9 berakhir). 

P.S: Mamoru Miyano is Awesome,sunavabitch!!

8,25/10



 


"I don't like bullies"-Bob Stone

Plot

Robbie Wheirdicht (Dwayne Johnson) merupakan orang yang memiliki masa SMA yang tidak mengenakkan. Dengan fisik yang lebar, dia menjadi bahan bullian para teman-temannya. Puncaknya ketika ia dilempar dalam keadaan telanjang di tengah lapangan basket ketika Calvin Joyner (Kevin Hart) sedang berpidato.  Calvin sendiri adalah siswa yang menjadi kebanggan sekolah, Dia hebat dalam berbagai bidang seperti drama, dan olahraga. Calvin sendiri tidak tega melihat keadaan Robbie sehingga memberikan jaket nya ke Robbie. Fast forward 20 tahun mendatang, Calvin yang dijuluki "The Golden Jet" semasa SMA tidak mendapatkan kehidupan yang diimpikannya. Dia memiliki pekerjaan yang dibencinya, hubungan nya dengan istrinya, Maggie (Danielle Nicolet) cenderung datar dan juniornya dalam kantor mendapatkan promosi pekerjaan mendahuluinya. Dalam keadaan hampa tersebut, Robbie yang mengganti nama menjadi Bob Stone menghubungi Calvin dan mengajak Calvin ketemu. Dengan tampilan fisik yang berbeda, Calvin tentu sangat terkejut dengan perubahan yang dialambi Bob. Bob sendiri memiliki pekerjaan agen CIA dan tengah diburu oleh organisasi tersebut karena diduga telah membunuh rekan kerjanya, Phil (Aaron Paul). Masalah yang tengah dihadapi Bob tentu membuat Calvin ikut terseret dan tidak tahu mana yang ia harus percayai.





Review


Franchise Lethal Weapon, Trilogy Rush Hour serta dwilogi favorit gw yang membuat gw ngefans sama Will Smith, Bad Boys merupakan contoh buddy cop movie yang berhasil. Sebenarnya film berjenis seperti ini tidak harus memiliki naskah yang cerdas serta plot yang rumit. Cukup temukan dua aktor yang memiliki chemistry alami sehingga mampu menciptakan komedi yang mampu membuat tertawa, maka bagi gw film tersebut telah berhasil. Masalah teknis atau narasi, bisa gw maafkan karena pada dasarnya inti dari film buddy cop adalah komedi dan komedi menawarkan hiburan, bukan keseriusan. Maka, walau plot dari Central Intelligence sangat predictable serta adegan aksinya biasa saja, gw bisa memaafkan karena sebagian humor yang ditawarkan mampu membuat gw terhibur walau tidak terlalu memorable juga.

Kasus bully yang masih saja terjadi di berbagai negara tentu nya sangat meresahkan. Gw sendiri merupakan salah satu orang yang sangat concern sama tindakan bullying. Bagi gw, pelaku bullying itu sama nistanya dengan pemerkosa. Film yang disutradarai Rawson Marshall Turber ini mencoba mengangkat tema tersebut. Adegan awalnya saja kita diperlihatkan bagaimana karakter Robby yang gemuk (sulit percaya bila orang itu adalah Dwayne Johnson sendiri dengan bantuan fat suit) dipermalukan di hadapan orang banyak. Tawa yang keluar dari penonton ketika melihatnya dipermalukan itu sangat menyesakkan untuk dilihat. Karena itulah, keterikatan gw dengan karakter Robby pun telah terikat di adegan tersebut. Kebaikan yang ditunjukkan oleh Calvin walau kecil tapi telah menunjukkan bahwa karakter ini memiliki kebaikan hati.

Selain keunikan tema tersebut (untuk film buddy cop), keunikan film ini yang lainnya adalah kita diajak untuk menebak siapa sebenarnya karakter Bobby Stone ini. Apakah memang dirinya dijebak, atau memang yang dikatakan CIA benar, kita sebagai penonton tidak tahu dan berada di posisi yang sama dengan Calvin. Keputusan tepat untuk menyimpan twist ini di akhir film sehingga walau bisa diprediksi namun misteri tersebut cukup untuk membuat gw terikat dan tetap menarik untuk mengikuti. Masalah humornya cukup berhasil. Memang ada yang miss, tetapi gw cukup menikmati walau ada beberapa referensi yang tidak gw ketahui.  Humornya berhasil tentu saja merupakan hasil dari chemistry antara Dwayne Johnson dan Kevin Hart.

Dwayne Johnson berhasil menjadi bintangnya disini. Seperti biasa Johnson memerankan karakter yang charming, berkharisma dan jangan ragukan lagi ketika dia melakukan adegan aksi. Tetapi yang stand out dari penampilannya di film ini adalah bagaimana ia berhasil memerankan karakter Bob Stone yang memiliki masa remaja yang kelam. Walau dalam kondisi fisik ia telah terlihat kuat dan berotot, tetapi Bob tetaplah merupakan korban dari bullying dan itu terlihat setiap kali Bob berinteraksi dengan Calvin. Sebuah keputusan yang tepat untuk tidak membuat karakter Bob menjadi karakter yang totally badass dan telah melupakan masa lalunya. Kevin Hart sendiri sudah cukup berhasil menjadi karakter yang "ramai" setiap ada kejadian. Tidak mencapai level Will Smith dan Martin Lawrence, tetapi Johnson dan Hart berhasil melontarkan joke-joke nya ketika berinteraksi. 

Tetapi tetap saja Central Intelligence adalah sajian yang klise dan predictable. Tidak hanya itu, dalam narasinya terdapat beberapa plot yang cukup mengganggu bila kita perhatikan secara seksama. Namun, sekali lagi ini adalah sajian komedi, jadi jangan terlalu memperhatikan plot nya atau mempermasalahkan terlalu mendetil. Biarkan sang dua bintang utama menghiburmu dan kalian duduk saja tenang di tempat kalian.

Central Intelligence memang bukanlah film yang membuat kalian akan membicarakannya ketika filmnya selesai, tetapi sebagai hiburan, Centeral Intelligence cukup layak untuk dinikmati. Dengan sedikit mengangkat tema bully (dan cukup berhasil) serta misteri yang bergerak dalam ceritanya, Central Intelligence tetap lah sajian buddy cop yang menghibur walau memang harus diakui sangat predictable dan terdapat banyak lubang dalam narasinya. Oh, ada Mellisa McCarthy juga disini sebagai cameo.

7/10

Thursday, 29 September 2016

This job... we try to save as many people as we can. Sometimes that doesn't mean everybody. But if we can't find a way to live with that, next time... maybe nobody gets saved.- Steve Rogers

Plot


Akibat insiden yang terjadi di Sokovia yang memberikan kerusakan yang begitu besar, belum termasuk para korban jiwa, para pemimpin dunia pun mengambil keputusan untuk membatasi gerak gerik The Avengers. Keputusan tersebut makin diperkuat setelah apa yang terjadi di Lagos, Nigeria dimana korban kembali jatuh di tengah anggota Avengers beraksi. Namun, peraturan yang dinamakan Perjanjian Sovokia tersebut membelah pendapat yang terjadi di dalam tubuh The Avengers. Sang Captain America, Steve Rogers (Chris Evans) enggan untuk menyetujui perjanjian tersebut karena menurutnya dengan adanya perjanjian tersebut, Steve Rogers takut apabila kekuatan The Avengers hanya akan dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh pemerintah. Di sisi lain, Tony "Stank" (Robert Downey Jr.) merasa perjanjian tersebut adalah keputusan terbaik sebagai bayaran atas tindakan mereka selama ini yang harus diakui menelan banyak korban dan juga menimbulkan kerusakan. Hubungan mereka semakin parah ketika sahabat Steve, Bucky "The Winter Soldier" Barnes (Sebastian Stan) dituduh sebagai dalang utama dari bom yang terjadi di Vienna, Austria. Tanpa mengetahui bahwa dalang semua yang terjadi adalah akibat dari tindakan Baron Zemo (Daniel Bruhl) yang memiliki misi rahasia tersendiri.





Review


Semenjak kursi persutradaraan serial Captain America diambil alih oleh Anthony dan Joe Russo pada tahun 2014, kualitas penceritaan dari Captain America meningkat drastis. Mereka memberikan nafas baru di kesempatan pertama mereka pada Winter Soldier 2 tahun lalu. Dan hasilnya, sangat memuaskan. Sedikit memberikan nafas kelam, kedua sutradara tersebut berhasil memanfaatkan karakter dan kekuatan Captain America untuk menunjang penceritaan film itu. Banyak yang berpendapat bahwa film tersebut merupakan yang terbaik dalam Marvel Cinematic Universe (MCU).  Ekspektasi tentunya membumbung tinggi kala mereka kembali dipercayakan untuk menahkodai film Captain America selanjutnya. Tetapi, tantangan terbaru untuk mereka tersebut tentu tidak mudah. Tidak seperti Winter Soldier, dalam tantangan terbaru mereka yang berlabel kan Civil War ini banyak sekali karakter-karakter yang akan dilibatkan. Bahkan bisa dibilang, ini adalah film The Avengers itu sendiri. Tidak hanya melibatkan karakter yang telah ada, tetapi Civil War juga memiliki tugas untuk memperkenalkan dua karakter superhero baru di dalamnya. Tugas yang sangat sulit ditambah ekspektasi yang dibebankan kepada dua sutradara tersebut. Namun, tampaknya Anthony dan Joe Russo juga telah mempelajari dengan baik screenplay yang diajukan oleh Christopher Markus dan Stephen Mcfeely sehingga tidak hanya Civil War mampu mengungguli kualitas predesornya yaitu Winter Soldier, tetapi Civil War adalah film terbaik dari Marvel hingga saat ini. Hell, Civil War is one of the best (superhero) movie i’ve ever seen. Period.
Civil War sendiri merupakan kisah pertama setelah The Avengers: Age of Ultron yang sedikit mengecewakan tersebut. Keberhasilan pertama Captain America: Civil War adalah dalam segi penceritaan. Dasar penceritaan Civil War adalah bagaimana pertempuran yang melibatkan para anggota The Avengers selain memberikan kedamaian, tetapi di balik itu pula terdapat berbagai kerugian baik materil maupun nyawa-nyawa yang terlibat di dalamnya. Apakah kehadiran The Avengers benar-benar memberikan keuntungan atau malah sebaliknya, kerugian? Apakah The Avengers masih dibutuhkan? Hal itu di angkat dalam Civil War sebagai penggerak cerita. Konflik yang terjadi di antara para anggota The Avengers pun bisa dipahami mengingat mereka memiliki pendapat dan tentu ego nya masing-masing. Menurut gw, setelah Iron Man, tema yang diangkat Civil War adalah yang paling dewasa dibandingkan film-film keluaran MCU lainnya.  Tetapi, hey, ini adalah film keluaran Marvel, bukan DC. Harus tetap ada sisi enjoyable di filmnya. Untungnya, kedua Sutradara masih mengerti akan hal itu dan mampu menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Masih ada pertukaran dialog yang mampu menggelitik, terutama dari sang bintang dalam film ini, siapa lagi kalau bukan Spider-Man. Percakapan nya dengan Tony Stark merupakan salah satu highlight tersendiri dari film ini.
Screenplay yang ditawarkan Christopher Markus dan Stephen Mcfeely mampu membuat penonton memahami motif dari Steve Rogers serta Tony Stark. Mungkin banyak bagi para penonton menghakimi bila keputusan Steve Rogers untuk menentang sebagian anggota The Avengers “hanya” demi menyelamatkan sahabat lamanya yaitu Bucky dari buruan pemerintah setelah ditetapkan menjadi tersangka utama dalam kasus bom di Vienna, berlebihan. Tetapi, dialog yang dilontarkan nya di pemakaman Margareth “Peggy” Carter adalah alasan yang memang harus diakui cukup kuat. Setelah kematian Peggy, Bucky adalah satu-satunya sisa sejarah yang dimiliki oleh Steve Rogers. Sehingga ketika sang Captain America berani mengambil risiko besar dengan menentang pemerintah dan anggota The Avengers yang berlawanan pendapatnya, hal itu cukup dimaklumi. Alasan Steve Rogers menolak untuk mendukung perjanjian Sovokia bisa dimengerti mengingat karakter Captain America yang sedari awal memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Di sisi lain, alasan Tony Stark mendukung keputusan PBB untuk  mengawasi dan mengendalikan The Avengers juga tidak bisa disalahkan. Berbagai kerusakan yang telah diciptakan oleh aksi The Avengers serta kedatangan langsung “tamu” seorang ibu dari salah satu korban tentu memberikan dampak psikis bagi Tony Stark sehingga dia tidak ingin aksi The Avengers kembali menelan banyak korban. Problema dilematis inilah yang membuat penonton atau bahkan para penggemar komiknya pun sulit untuk mendukung pihak mana yang benar.
Satu hal yang jarang dilakukan oleh studio Marvel adalah keputusan mereka untuk casting pemeran karakter untuk film mereka. Dalam Civil War, terdapat dua karakter superhero baru, yaitu Black Panther yang diperankan oleh Chadwick Boseman dan Tom Holland memerankan karakter superhero favorit banyak orang, yaitu Spider-Man. Mereka berdua memberikan first impression yang baik untuk penonton. Black Panther yang badass dalam tiap aksinya, serta Spider-Man yang seperti yang kita ketahui banyak berkomentar dalam pertempuran (disinggung oleh Tony serta Sam). Lalu di pihak villain yang sebenarnya dalam Civil War, yaitu Daniel Bruhl sebagai Helmut Zemo yang merupakan otak dari perpecahan antara sang Kapten dan sang Billioner. Pada awalnya, gw khawatir bila karakter ini akan jatuh seperti Lex Luthor di Batman V Superman: Dawn of Justice, tetapi motif sebenarnya yang ia ungkapkan pada penghujung cerita malah membuat penonton sedikit bersimpati dan memahami agendanya tersebut. Ya, kembali aksi sang The Avengers menimbulkan sosok dendam yang menguasai karakter Zemo. Ditambah lagi akting dari seorang Daniel Bruhl yang tidak perlu diragukan lagi berhasil menyelamatkan Zemo dari gempuran-gempuran karakter lainnya yang tentu memiliki keunikan jauh lebih menarik darinya sehingga setiap menit Zemo muncul di layar, penonton tetap tertarik untuk mengikutinya. Apakah masih ada yang terlupa? Oh ya, kehadiran Aunt May (Marisa Tomei) yang jauh lebih....ngg...muda itu memberikan sebuah hiburan tersendiri, ditambah Tony Stark yang selalu menyinggung nya dalam dialognya dengan Peter Parker.
Action secquence nya? Sedari awal ketika Captain America dkk. beraksi untuk menghentikan Crossbones (Frank Grillo), kita telah disuguhkan menawannya kombinasi antara Captain America, Falcon, Black Widow dan (still, one of my favorite) Scarlet Witch. Dari hand to hand combat, kejar-kejaran dan juga menawannya sang Falcon menggunakan alatnya untuk terbang menghajar musuhnya. Dan setelah itu, adegan aksi nya sama sekali tidak ada yang mengecewakan dan puncaknya tentu saja pertempuran di bandara yang akan selalu dikenang sebagai momen mimpi basah para penggila komik superhero. Melihat sang “Spider-Ling” berayun kesana kemari, betapa badass nya Black Panther dan aksi-aksi superhero lainnya yang mampu mencuri perhatian dengan kelebihannya masing-masing, bahkan Hawk Eye pun memilik highlight nya sendiri. Dialog antara dirinya dengan Black Panther itu masih mengundang tawa bagi gw. Walau harus diakui, sosok Vision masih kurang menarik, paling nggak bagi gw. Oh, tidak ketinggalan, di adegan terakhir di bandara tersebut penonton masih diberikan sebuah kejutan.
Setelah momen bersejarah tersebut, gw sempat khawatir kalau Civil War akan sedikit menurun tempo nya dan diakhiri dengan anti klimaks, ditambah momen dimana Tony Stark menyusul Captain America karena telah sadar akan kesalahpahaman nya itu menurut gw sangatlah klise, namun ternyata gw terlalu meremehkan sang sutradara dan screenwriter nya. Third act nya, walaupun skala pertempurannya tidak besar, hanya mengandalkan hand to hand combat sebagai sajian utama, tetapi akuilah adegan akhir Civil War adalah momen yang paling emosional di dunia MCU. Sejak kapan kita melihat sang manusia besi bertempur dengan intens serta penuh emosi itu? Gw hanya mampu menyaksikannya dengan terperangah, ada rasa kagum serta ironis. Dipadu dengan scoring garapan Henry Jackman, momen threesome tersebut menjadi sangat menyedihkan, terlebih bagi mereka yang mencintai karakter Iron Man dan Captain America. Sangat dinantikan apakah The Avengers akan tetap beraksi tetap dengan sang kapten atau tidak.
Gw berada di pendukung DC Comic. Semenjak keberhasilan trilogy The Dark Knight, gw sangat berharap film-film yang dihasilkan DC akan sukses, dalam segi kualitas dan komersil. Tetapi harus diakui, film keluaran Marvel telah terlalu jauh unggul dari DC. Civil War merupakan sajian superhero blockbuster yang mampu memuaskan kalian, tidak perduli apakah kalian mengikuti kisahnya dalam bentuk gambar atau hanya visual, atau keduanya, kalian tetap akan merasakan kepuasan yang luar biasa. One of the best superhero movies. Period.

8,25/10

Monday, 8 August 2016


You should enjoy the little detours to the fullest. Because that's where you'll find the things more important than what you want.



Walau terhitung cukup lawas, tetapi gw rasa belum lah terlambat untuk mengulas ulang salah satu anime terbaik ini. Yap, Hunter x Hunter, yang menceritakan seorang anak muda berusia 12 tahun. Siapa yang menyangka kalau anime ini akan menjadi anime yang akan selalu dibicarakan dan selalu dinantikan kehadirannya kembali (HxH tamat di episode 148, dengan meninggalkan sejumlah misteri yang membuat penasaran).

Sinopsis

Gon Freecs bercita-cita untuk menjadi hunter, dengan tujuan utamanya yaitu untuk menemukan ayahnya, Ging Freecs yang meninggalkan Gon sedari kecil. Keinginan Gon ini sempat ditolak oleh Mitou, bibi Gon, karena menganggap menjadi seorang hunter sangatlah berbahaya untuk Gon. Tetapi Gon berhasil meyakinkan Mitou dan segera pergi dari Pulau Paus, tempat Gon tinggal, untuk mengikuti ujian menjadi hunter. Dari ujian hunter itulah, Gon bertemu dengan Kurapika, Leorio dan Killua, yang kelak akan menjadi sahabat terdekatnya.


Review

Harus diakui, cukup sulit untuk tenggelam begitu saja ketika baru memasuki episode-episode awal dari HxH.  Ceritanya belum begitu mengikat, sampai pada ketika karakter Hisoka muncul, baru lah gw mulai sedikit tertarik dengan HxH. Hunter Exam sendiri memang bukan arc favorit gw di HxH, tetapi sebagai landasan untuk menuju cerita ke selanjutnya, Hunter Exam sudah menjadi pondasi yang cukup baik. Sang writer seolah ingin memberitahu bahwa HxH memang bukan animanga yang berpusat akan pertempuran, tetapi strategi dalam setiap masalah.  Yang menjadi sorotan utama tentu saja hubungan antar 4 karakter utama, yaitu Gon, Killua, Leorio serta Kurapika. Penonton diajak mengetahui tujuan setiap masing-masing karakter. Tapi karakter Hisoka lah yang berhasil menjadi magnet terbesar HxH sedari karakternya muncul. Penuh misteri baik tujuan utama serta motivasinya, Hisoka sukses menjadi karakter terbaik di HxH.
Selepas Hunter Exam arc, bisa dibilang cerita dari HxH mengalami peningkatan dalam kadar kedewasaan serta memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri dalam setiap arc. Setiap arc memiliki momen-momen tersendiri yang bisa menjadi trademarck dalam tiap arc, sebagai contoh di Heaven’s Arena Arc dimana momen Gon berhasil menghantam muka Hisoka berhasil menjadi highlight tersendiri dan sangat berkesan.



Karakter-karakter baru yang muncul juga memiliki ciri khas masing-masing, terutama para anggota Gennei Ryodan yang muncul di Yorkshin arc. Dalam arc ini, Kurapika lah yang menjadi tokoh utama. Perkembangan karakter Kurapika sendiri tidak mengecewakan, dimana sisi gelap dari Kurapika ditampilkan disini dan membuat Kurapika tidak jatuh menjadi sosok protagonis dua dimensi saja. Tidak dapat dipungkiri, anggota Gennei Ryodan inilah yang membuat Yorkshin arc begitu dicintai oleh sebagian besar pecinta HxH. Togashi begitu detil menyematkan setiap ciri khas dari setiap anggota. Favorit gw tentu saja Feitan dan Lucifer. Sayangnya arc ini memiliki dua minus terbesar, yang pertama klimaksnya yang kurang mengena dan tidak memorable, dan kedua karakter Gon, Killua serta Leorio tampak hanya sebagai sidekick saja.



Apabila membicarakan HxH, tentu saja Chimera Ant arc harus ikut dalam pembahasan. Arc yang dianggap kontroversial dan cukup polarising ini memang sangat berpengaruh dalam peningkatan cerita dari HxH. Begitu banyak momen-momen yang memorable dari arc ini sehingga tidak heran banyak yang menganggap Chimera Ant arc adalah arc terbaik dalam sejarah HxH, atau bahkan dalam sejarah dunia anime. Karakter Gon yang pada awalnya kita kenal adalah karakter happy-go-lucky semakin terkikis di sini dan kita diperlihatkan sisi dark dari Gon. Dalam kualitas cerita, tentu Chimera Ant memiliki cerita yang jauh lebih kompleks dibandingkan arc yang lainnya. Ini bukan lah cerita standar Good guy vs Bad Guy, tidak, arc ini mencakup lebih luas dari itu. Arc ini mengajak kita untuk bercermin serta mempertanyakan diri sendiri apakah layak kita menganggap para semut chimera tersebut sebagai spesies yang jahat, apakah spesies manusia semakin hari semakin kehilangan rasa kemanusiaannya dengan mengatas namakan perdamaian, serta beberapa pertanyaan lainnya. Tidak hanya itu, motivasi para karakter utama disini untuk melawan semut chimera juga tidak luput dari fokus kita. Ambil contoh Gon dan Netero. Pada awalnya Gon memang ingin melindungi umat manusia dalam memerangi semut chimera, namun ketika Kite tertangkap dan jiwanya dalam kendali musuh, Gon lupa tujuan awalnya dan isi kepalanya hanyalah untuk menyelamatkan Kite, tanpa memedulikan resiko yang dihadapinya. Di sisi lain Netero hanya mengikuti perintah atasan dan terbujuk akan egonya yang ingin mencoba kekuatan dari sang raja. Yang menarik lagi adalah momen sebelum Netero duel dengan raja dari semut chimera, yaitu Meruem. Susah untuk mendukung Netero ketika kita melihat sang raja menunjukkan perubahan dari sosok monster menjadi lebih manusia. Duel antara Meruem vs Netero sendiri disajikan begitu berkelas, the definition of epicness.


Karakter Meruem sendiri merupakan salah satu aspek terbaik dari Chimera Ant arc. Pada awalnya, Meruem tidak lebih dari sosok monster yang tidak memiliki belas kasihan sama sekali, bahkan Meruem tidak segan membunuh para semut chimera lainnya, bahkan pengawal kerajaan pun tidak luput dari kekejaman Meruem. Tetapi karakter ini dari episode ke episode mengalami perubahan dari sosok monster ke sosok yang lebih manusia. Transformasi ini tidak dipaksakan dan mengalir meyakinkan.
Namun terlepas dari kelebihan-kelebihan di atas, gw pun memahami apabila ada beberapa penggemar HxH yang tidak menyukai Chimera Ant arc, bahkan cenderung membencinya. Memang sebelum kemunculan Neferpitou dan Meruem, Chimera Ant arc dimulai dengan cukup lambat dan karakter-karakter dari semut chimera sendiri tidak banyak yang menarik perhatian dan tidak meninggalkan kesan yang mendalam, sehingga cukup susah karakter-karakter tersebut untuk dinikmati sepak terjangnya. Praktis, hanya karakter Colt yang memiliki kedalaman karakter dan berbeda dibanding semut chimera yang lainnya. Kecuali Morel, pada karakter asosiasi hunter sendiri juga tidak terlalu menarik pada awalnya, sebelum memasuki penyerangan ke kerajaan. Pada plot menginvasi kerajaan tersebut, barulah karakter seperti Knuckle dan Knov sedikit mengalami peningkatan dan menarik untuk diikuti. Sub plot dalam Chimera Ant arc juga tidak bisa dibilang sedikit karena hampir semua karakter utamanya memiliki tujuan masing-masing. Chimera Ant arc sendiri memiliki lebih dari 70 episode, yang berarti Chimera Ant arc adalah arc HunterXHunter terpanjang. Gw sendiri cukup merasakan kebosanan ketika Gon dan Killua berlatih untuk memasuki wilayah NGL (wilayah yang dikuasai oleh semut chimera). Namun tidak dapat dipungkiri, arc inilah yang akan selalu diperbincangkan dan menjadi trademark tersendiri dari HxH.
Bila gw ditanya, mana yang terbaik antara Yorkshin dan Chimera Ant, gw lebih memilih Chimera Ant. Satu-satunya aspek yang membuat Yorkshin lebih unggul hanyalah karakter-karakter yang ditampilkan memang jauh lebih memorable (Gennei Ryodan Member). Namun dari segi kualitas cerita, yang jauh lebih melekat dalam pikiran, gw secara lantang memilih Chimera Ant yang lebih unggul.
Selain cerita, salah satu kekuatan besar dari HxH yang lainnya adalah chemistry antara Gon dan Killua. Mungkin memang sedikit berlebihan melihat kedekatan mereka, ditambah ada kalimat-kalimat yang sedikit mengarah ke gayness, tetapi pertukaran dialog, momen komedinya, setiap kerja sama yang mereka lakukan, semuanya hampir sempurna, dan ketika melihat momen di episode 147, penonton mau tidak mau merasakan keharuan menyaksikannya yang telah terlanjur tenggelam akan bromance kuat antara Gon dan Killua.
Kesimpulannya, untuk anime berjenis shounen, HxH cukup memberikan perbedaan dibandingkan anime-anime shounen yang lain. HxH lebih mengedepankan strategi daripada pertarungan. HxH juga memiliki karakter-karakter yang sangat menarik, terutama dari sisi antagonisnya. Salah satu anime terbaik dalam dua dekade terakhir.

Karakter

Seperti yang gw sebutkan diatas bahwa HxH dipenuhi dengan karakter-karakter yang sangat menarik dan memiliki ciri khas tersendiri.  Berikut 10 karakter terbaik HxH versi gw:

10. Pouf


Bisa dibilang, Pouf adalah satu-satunya dari 3 pengawal kerajaan yang tidak menunjukkan sisi kemanusiaan nya sama sekali. He’s pure evil, sehingga tidak sulit untuk membencinya. Tetapi disitulah daya tariknya, kesetiaannya yang begitu besar terhadap Raja membuatnya berani melakukan apapun untuk memenuhi obsesinya sendiri, yaitu membantu Raja untuk menguasai dunia. Bisa dibilang, Pouf merupakan pengawal kerajaan yang paling pintar diantara Pitou dan Youpi.

9. Ging Freecs


Dalam dunia anime, sudah hal yang lumrah apabila sosok ayah dari karakter utama memiliki suatu aspek yang khusus yang membedakan dirinya dari karakter lainnya. Ayah dari Naruto yaitu Minato adalah Hokage termuda serta pahlawan bagi desa Konoha. Ayah dari Luffy, Monkey D Dragon adalah sosok penjahat yang menggerakkan revolusi dari setiap kerajaan sehingga pemerintah menetapkan dirinya sebagai penjahat paling dicari dalam dunia One Piece. Masing-masing dari mereka memiliki kharisma yang sulit untuk tidak terpesona. Tetapi sosok Ging berbeda. Memang Ging digambarkan merupakan hunter terkuat, tetapi di episode-episode terakhir, gw terkejut melihat karakter Ging yang biasa saja, sama sekali tidak memiliki kewibaan yang membuatnya dibenci oleh hunter lainnya (scene dimana Ging bilang sibuk ke Gon buktinya XD). Hal ini membuatnya membedakan dengan karakter ayah dari anime sejenis. Keunikan ini lah yang membuat gw memasukkan Ging sebagai salah satu karakter terbaik di HxH.

8. Neferpitou


Pengawal terkuat dibandingkan Pouf dan Youpi. Nen nya sendiri mampu Gon, Killua, serta yang lainnya tidak berkutik, dan berkat nen nya juga lah kerajaan yang dikuasai oleh Raja tidak berani diusik oleh Gon dkk. Merupakan musuh yang tepat untuk Gon, dimana Gon harus memaksakan dirinya untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga terancam tidak bisa menggunakan nen lagi seumur hidupnya.

7. Gon


Tidak dipungkiri, karakter Gon memang seperti karakter-karakter anime shounen sejenisnya. Semangat, memilki pemikiran everything-is-gonna-be-alright nya yang membuat karakter ini sedikit tenggelam bila disandingkan dengan karakter-karakter yang jauh lebih menarik. Tetapi, memasuki pertengahan Chimera Ant arc, Gon mengalami perubahan yang cukup signifikan. Karakter Gon mengalami degradasi dalam hal pikiran positifnya dan tenggelam ke dalam sisi kegelapannya, yang justru membuat karakter ini jadi lebih keren dan layak masuk list ini.

6. Chrollo Lucifer


Pemimpin dari organisasi Gennei Ryodan. Lucifer memiliki buku yang mampu menyimpan data setiap jurus dari musuhnya. Kemampuan Lucifer digambarkan sangat hebat sehingga Hisoka pun sangat penasaran ingin bertarung dengan dirinya. Sayangnya karakter ini belum terlalu ditunjukkan kekuatan maksimalnya, dimana nen nya disegel oleh Kurapika yang membuat Yorkshin arc berakhir datar atau anti klimaks.

5. Feitan


Tidak sulit untuk jatuh hati dengan karakter ini. Feitan memiliki sifat yang kalem, tenang serta memiliki kekuatan yang hampir setara dengan Lucifer. Selain itu, Feitan adalah anggota Gennei Ryodan yang memiliki penampilan yang paling menarik, menambah sisi misteriusnya karakter yang menjadi sangat kuat bila dalam keadaan terdesak.

4. Kurapika


Kurapika sebenarnya berpotensi menjadi karakter terbaik nomor dua setelah Hisoka, namun screen time Kurapika yang terbilang cukup minim yang membuatnya harus rela berada di posisi ke 4. Bisa dibilang diantara 4 karakter utamanya, Kurapika lah yang paling dewasa serta paling tenang, terutama setelah menguasai nen. Kekuatan Kurapika sendiri yang paling mengerikan di antara keempat orang tersebut. Gw selalu menyukai momen dimana mata Kurapika menjadi merah dan, yah, shit happens when he’s eyes turns to red.

3. Meruem


Seperti yang gw bilang diatas, salah satu aspek terbaik di Chimera Ant arc adalah character development dari Meruem, one of the most overpowered characters in anime. Siapa yang menyangka bila karakter yang benar-benar pure monster ketika muncul pertama kali ini, menjadi karakter yang memiliki momen kematian paling menyentuh di seri HxH. Mungkin ini baru pertama kali gw netesin air mata untuk kematian villain dalam sejarah anime.

2. Killua


Susah untuk tidak jatuh cinta terhadap karakter Killua. Karakternya bisa dibilang berbanding terbalik dengan Gon, namun justru disitulah letak menariknya karakter yang merupakan salah satu dari keluarga Zoldyck ini. Beda dengan Gon, Killua mendapatkan pengembangan karakter yang mengesankan dari setiap arc, dimana pada awalnya Killua terlihat kaku dan kurang bisa bersosialisasi, hingga menjadi individu yang memiliki rasa persahabatan yang kuat dan mau berkorban untuk orang yang berarti untuk dirinya.

1. Hisoka


Tidak perlu banyak penjelasan, Hisoka adalah karakter terbaik di HxH. Setiap kemunculannya memiliki daya magis tersendiri. Tujuan utama Hisoka sendiri adalah mencari lawan yang kuat yang mampu memuaskan dirinya. Hisoka bergabung dengan Gennei Ryodan hanyalah untuk bisa bertarung dengan ketua Gennei Ryodan, yaitu Lucifer. Hisoka penuh dengan misteri, yang membuat keputusan atau langkah berikutnya susah untuk ditebak. Itulah yang menjadi alasan kuat mengapa Hisoka merupakan karakter favorit gw. 


Top 5 Memorable Moment

Honorable Mentions

Netero vs Meruem
Kurapika kills Uvogin
Leorio and Ging, that punch
The Conversation between Father and Son
The birth of the King


5. Gon hits Hisoka

Merasa memiliki hutang pukulan dengan Hisoka, Gon pun berlatih untuk mampu menguasai nen. Gon pun memiliki kesempatan dimana dia bertarung dengan Hisoka dalam Heaven’s Arena. Dengan kecerdikan akan strateginya, Gon pun berhasil ‘melunasi’ hutangnya terhadap Hisoka.



4. Requiem by Gennei Ryodan



Salah satu invasi terkeren yang pernah gw saksiin. Dengan Lucifer sebagai maestronya, setiap anggota Gennei Ryodan menyerang setiap musuh mereka di Yorkshin City.

3. Meruem and Komugi’s death


“Oyasuminasai, Meruem”. Kematian seorang villain terbaik dalam sejarah anime. Meruem yang sadar waktunya tidak lama lagi, memilih untuk menghabiskan waktu terakhirnya bermain Gungi bersama Komugi, manusia yang berhasil menyuntikkan sisi humanis ke Meruem.  Kematian Meruem yang berada di pangkuan Komugi sendiri terlihat bagaikan sosok anak yang meninggal di hadapan ibunya. What a brilliant way to ending the epic story.

2. Gon’s Transformations


 
Gon benar-benar kehilangan kendali ketika mengetahui fakta bahwa Kite, orang yang sangat dihormatinya, telah tewas. Neferpitou, yang telah membunuh Kite, menyatakan akan membunuh Gon. Gon yang telah dikuasai akan dendam nya kepada Pitou, melepaskan semua nen nya dan bertransformasi menjadi sosok Gon dewasa, yang menurut Pitou, memiliki kekuatan yang setara akan Raja. Detik-detik Gon bertransformasi benar-benar digarap dengan baik oleh Madhouse sehingga momen tersebut jauh lebih memorable dibandingkan pertempuran Gon vs Pitou.

1. A Separation between Gon and Killua



Mungkin lebih ratusan episode kita mengikuti pertualangan Gon dan Killua sehingga kita telah terbiasa dengan kebersamaan mereka berdua. Jadi, ketika momen Gon dan Killua berpisah dan mulai menjalani perjalanan mereka masing-masing, mau tidak mau kita merasakan kehilangan begitu besar. Persahabatan Gon dan Killua adalah jiwa dari HxH. Flashback antara mereka berdua yang ditampilkan saat roll credit berjalan, menambah haru yang memaksa air mata ini mengalir.

Hunter Exam Arc = 7/10
Zoldyck Family Arc = 7,75/10
Heaven’s Arena Arc = 8/10
Yorkshin Arc = 8,75/10
Greed Island Arc = 7,5/10
Chimera Ant Arc = 9,25/10
Election Arc = 7,5/10

Final Score

8/10 + 1 (untuk karakter-karakternya yang sangat memorable, terutama karakter villainnya)

9/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!