Friday, 27 January 2017

2014 merupakan tahun yang menyenangkan untuk dunia perfilman, setidaknya bagi saya. Selain disebabkan rilisnya Interstellar, 2014 juga diisi dengan beberapa film yang bisa bergabung dalam list film terbaik dalam dekade ini. 2 film yang sangat diperbincangkan pada tahun tersebut adalah Gone Girl dan Nightcrawler. Dua film itu sukses menarik perhatian pecinta film dan menjadi diskusi banyak orang. Selain karena cerita, karakter yang terlibat dalam dua film itu pula yang mencari perhatian. Maka dari itu, saya akan mereview dua film terbaik pada tahun 2014 ini. Juga, rasanya berdosa sekali bila tidak mengulas ulang kedua film ini. Tidak usah panjang lebar lagi, inilah hasil review saya.

Gone Girl (2014)







"When I think of my wife, I always think of the back of her head. I picture cracking her lovely skull, unspooling her brain, trying to get answers. The primal questions of a marriage: What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?"- Nick Dunne

Story

Tepat pada hari jadi pernikahan Nick (Ben Affleck) dan Amy Dunne (Rosamund Pike), sang istri tiba-tiba menghilang pada pagi hari. Dengan bantuan detektif Rhonda Boney (Kim Dickens) serta para relawan, Nick mencoba untuk mencari jawaban dimana sebenarnya keberadaan Amy. 





Review



Percayalah, film ini jauh lebih dalam dibanding hanya menceritakan pencarian orang hilang. Hey, ini film David Fincher!! Semua yang mengikuti karya Fincher bergenre misteri pasti akan mengakui bila kehebatan Fincher dalam menerapkan proses investigasinya ke dalam film tidak diragukan lagi. Hal itulah yang membuat Se7en dan Zodiac (though i don’t love Zodiac so much) merupakan karya unggulan dari Fincher. Fincher sangat piawai bagaimana menyimpan misterinya untuk tetap menjaga atensi dari penonton, dan juga tidak ketinggalan bagaimana Fincher membuka satu per satu jawaban dari misteri nya dengan timing yang sangat tepat. Semenjak logo 20th Century Fox tampil di layar yang diselingi dengan scoring dingin dari Trent Reznor dan Atticus Ross, penonton seolah telah diberi petunjuk bila film terbaru Fincher ini akan pula beratmosfir dingin nan twisted. Hampir paruh pertama Gone Girl didominasi pencarian akan jawaban apa yang sebenarnya yang terjadi dengan Amy, juga keping demi keping flashback lewat voice over dari Amy sambil menulis buku diarynya. Bagian ini lah yang merupakan bagian terbaik dari Gone Girl. Memang, semua kajian dari investigasi yang berjalan dari menit ke menit seolah mengajak penonton untuk mendapatkan sebuah jawaban yang pasti, namun di sisi lain juga penonton tidak merasa yakin dengan jawaban yang seolah telah absolut itu.
Dan ketika terungkap jawabannya, BOOM!! Sebuah twist yang sebenarnya layak untuk ditempatkan di akhir film walau memang durasinya masih pendek. Setelah pertengahan awal yang memukau, saya akui durasi sisanya tidak mampu menyaingi kehebatan bagian awal, walau tidak sampai ke level buruk memang, still fun ride, but it’s absolutely a downfall. Bagian ini didominasi akan pertarungan tidak langsung dari Nick Vs Amy. Bukan dalam hal mencari kebenaran, because it doesn’t matter anymore, namun siapa yang lebih ahli mengambil hati masyarakat melalui kekuatan media. Pendekatan yang memang benar-benar terjadi dalam dunia nyata. Dan kembali lagi asumsi penonton dimainkan Fincher dengan brilian karena walau jawaban sebenarnya telah terungkap, namun sebagian penonton saya yakin tidak akan langsung memberikan penilaian jahat kepada sang mastermind setelah keping masa lalu yang telah tersebar di paruh awal. Fincher serta Gillian Flynn sang penulis naskah (juga penulis novel Gone Girl) tahu benar dalam hal bermain dengan persepsi penonton sehingga tidak jarang akan ada beberapa momen yang membuat penonton berubah-ubah dalam hal menempatkan dukungan mereka.
Selain piawai dalam mempermainkan anggapan penonton, Fincher juga berhasil membungkam bagi mereka yang mengkritik akan pemilihan cast nya. Bisa dimengerti mengingat Affleck serta Pike, terutama Pike, belumlah terlalu cemerlang dalam hal menjadi lead actor/actrees. Selain itu juga, pemilihan Tyler Perry dan Neil Patrick Harris juga sedikit membuat penikmat film mengernyitkan dahi dan mempertanyakan keputusan Fincher. Namun, seperti yang saya ungkap sebelumnya, Fincher terbukti masih pintar dalam hal memilih cast untuk filmnya. Affleck kembali membuktikan bila kali ini dia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Afflect terlihat meyakinkan mempresentasikan Nick yang sesekali tampak bodoh, asshole-husband tapi di sisi lain ada pula aspek yang membuat Nick susah untuk dibenci. Tyler Perry mengesankan sebagai pengacara pembela Nick, dan yang lebih mengejutkan lagi NPH yang tampil begitu dingin sebagai Desi Collings. Dua aktris yang bagi saya masih asing, yaitu Kim Dickens serta Carrie Coon (sebagai Margo Dunne), tampil memukau. Dickens mempesona sebagai detektif yang memiliki segudang pertanyaan dalam pikirannya dan juga ketenangannya dalam menangani kasus. Carrie Coon juga tidak mau kalah dalam film layar lebar pertamanya ini. Sebagai Margo, dia sukses memperlihatkan rasa sayangnya terhadap Nick, saudaranya, baik ketika dia marah atau dalam momen subtil saat dia cemburu nya akan hubungan Nick dan Amy. Rosamund Pike? Well, you know she was amazing when i'll describe her acts in one full paragraph.
Melihat karakter Amy disini, jelas ada kemiripan dengan Catherine Tramell dalam Basic Instinct. Keduanya membuktikan bila wanita merupakan makhluk yang lebih mengerikan dibandingkan pria. Letak kelebihan Pike disini adalah bagaimana Pike berhasil menipu penonton dengan ekspresi muka lusuhnya yang pastinya mudah merebut hati penonton. Dan ketika karakternya mengharuskan ia berakting sebagai pembunuh dingin, Pike juga sukses. Lihat bagaimana ekspresi matanya yang seolah kosong nan dingin tapi dipenuhi akan aura kejahatan di matanya. Pike juga brilian menunjukkan Amy yang tampak begitu likeable dengan kelembutannya kala berbicara sehingga tidak mengherankan bila mudah untuk memaafkan kesalahannya (selain dosa nya yang terakhir tentu).
Gone Girl jelas merupakan jenis film yang asik untuk diulas sambil didiskusikan. Menawan dalam hal investigasi serta twisted characters, Gone Girl jelas bukan pilihan terbaik untuk ditonton bersama pasangan menikah Anda.

8,5/10


Nightcrawler (2014)






"I feel like grabbing you by your ears right now and screaming, "I'm not fucking interested!""- Lou Bloom

Story

Memperlihatkan sepak terjang Lou Bloom (Jake Gyllenhaal) dalam mendalami karirnya sebagai jurnalis freelance yang juga memperlihatkan sisi gelap dalam profesi jurnalis.




Review

Saya memiliki keresahan tersendiri melihat fenomena masyarakat yang tampaknya jauh lebih tertarik dengan sebuah berita yang mencekam nan penuh akan drama. Lihatlah bagaimana kontes menyanyi menjadi melodrama seketika tatkala presenter mengulik kehidupan berat sang kontestan, perhatikan pula sidang kasus Jessica yang selalu menjadi sorotan disebabkan antusias penonton akan drama yang seringkali menghiasi sidangnya. Persoalan ini pula yang menyebabkan banyak sekali akan kelebihan negeri Indonesia tertutupi oleh akan banyaknya keburukan yang jelas jauh lebih dicari oleh para jurnalis guna mendapatkan rating yang tinggi. Aspek ini lah yang membuat Nightcrawler terasa begitu dekat dengan kehidupan sekarang, dan melalui pernyataannya, Dan Gilroy memang ingin menyematkan kritik kepada kita juga profesi jurnalis.
Sebuah ironi jelas tergambar kala kita diperlihatkan bagaimana para jurnalis ini bekerja. Musibah yang ada bagaikan ladang uang bagi mereka. Hal ini tampak jelas kala kita melihat petualangan Lou Bloom, yang sebelumnya hanyalah pencuri barang untuk dijual, memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis lepas yang menjual video hasil rekamannya ke studio yang membutuhkan hasil "karya" nya.  Dan sayangnya, akibat sebuah "arahan" dari customer nya yaitu Nina (Rene Russo), Lou menjadi semakin ambisius dan mulai menghalalkan segala cara supaya video nya terlihat lebih "menjual".
Memang, selain isu yang diangkat oleh Gilroy dalam film debutnya ini (!), karakter Lou yang diperankan sangat brilian oleh Jake Gyllenhaal ini jelas menjadi sorotan. Di satu sisi, penonton tidak bisa membenarkan apa yang telah ia buat ketika bekerja, namun Lou tidak serta merta mendapatkan kebencian dari penonton. Semua itu jelas dari karakterisasi dari Lou yang merupakan pekerja keras dan ambisius dalam pekerjaannya. Bagaimana dia terlihat begitu termotivasi untuk belajar untuk profesi terbarunya itu, ia begitu pintar memanfaatkan waktu kosong yang ia punya untuk belajar hingga ia menjadi ahli dalam bidangnya. Lou juga memiliki sikap yang tenang kala ia berbicara, bahkan ketika ia mengancam seseorang, yang membuatnya lebih mencekam. Dan jujur, sangat susah membenci karakter anti hero terbaik pada tahun 2014 ini. Selain penggambaran karakternya, tentu kontribusi seorang Jake Gyllenhaal dalam menghidupkan peran Lou Bloom tidak bisa dilupakan. Sebuah hal yang memalukan untuk Academy Awards ketika mereka begitu lancangnya tidak memberikan nominasi best actor pada Gyllenhaal. Gylenhaal terlihat begitu meyakinkan dengan segala sorot matanya yang dingin, senyum manipulatifnya juga tidak ketinggalan bagaimana tenangnya ia kala berbicara namun begitu mengerikan kala membiarkan emosinya meluap.
Dan Gilroy juga terlihat fokus dalam penceritaan dengan menempatkan Lou serta dunia jurnalis dalam pusat naskahnya. Namun, aspek teknisnya juga secara mengejutkan tidak mengecewakan. Dengan bantuan Robert Elswit, Nightcrawler tampak mempesona dengan dunia malamnya. Ketika film bergerak ke action sequence, kembali Dan Gilroy memukau penontonnya. Car chase yang ada pada Nightcrawler bisa dibilang merupakan salah satu car chase yang memukau dalam perfilman, walau memang terkesan berlebihan setelah dengan realisme yang ada.
Seperti apa yang Gilroy katakan, seorang Lou Bloom tercipta disebabkan oleh permintaan dari masyarakat. Dengan segala isu satir didalamnya dan jelas karakter Lou Bloom itu tersendiri, Nightcrawler menjadi salah satu film yang sulit untuk dihapus oleh waktu.

8,5/10



Sunday, 22 January 2017



Mengutip pernyataan dari kritikus terkenal, Roger Ebert, yang dimana beliau bilang “Every great film should seem new every time you see it,” saya pun juga memiliki beberapa film yang setiap kali saya menontonnya, saya tidak pernah dilanda akan kebosanan. Saya pun tergerak untuk membuat list ini. Dan juga, saya membuat list ini sebagai “pelarian” akan kekecewaan saya yang gagal menonton Arrival di bioskop. Hal yang kelak akan saya sesali seumur hidup. Patut diingat, list film dibawah ini murni berdasarkan subjektifitas saya, jadi mungkin kalian akan menemukan film yang mungkin menerima kritik yang buruk atau bahkan sampah. Ini bukanlah list film terbaik, tetapi list ini adalah film yang mau ditonton berapa kali pun, tidak akan menawarkan suatu kebosanan untuk saya. Ibarat buah, film-film ini bagaikan buah semangka bagi saya (yes, i love watermelon so much). Tidak perlu basa-basi lagi, inilah daftar film-film favorit saya. Catatan, saya merupakan salah satu penggemar Christopher Nolan, maka bila dalam list ini, film beliau paling sering muncul, mohon di harap maklum.
 
20. The Wrestler


Mungkin saya adalah kaum minoritas dimana saya masih memiliki minat tersendiri akan dunia wrestling. Saya masih mengikuti WWE, ROH atau Lucha Underground dan mungkin suatu saat saya akan memulai untuk mereview pay per view yang diadakan oleh WWE. Ketika masih kecil, saya menganggap apa yang terjadi dalam dunia gulat merupakan suatu cerita yang asli, sebelum saya menonton film ini pada tahun 2010an. Mata saya terbuka akan bagaimana para pegulat ini berkorban segitu banyaknya demi “menipu” supaya mampu menghibur penonton, yang membuat saya bukannya malah merasa tertipu, namun meningkatkan rasa respect saya terhadap para pegulat ini. Dengan penceritaan berfokus pada karakter Randy “Ram” Robinson yang diperankan luar biasa oleh Mickey Rourke, film ini sangat cocok bagi orang yang selalu meremehkan akan dunia wrestling.

19. The Hurt Locker


Saya bukanlah pecinta film arthouse, maka saya sendiri terkejut ketika saya begitu mencintai film garapan Kaithryn Bigelow ini dimana bagi saya, untuk film yang bertemakan perang, The Hurt Locker sangatlah minim akan adegan perang seperti kebanyakan film bertema yang sama. Pendekatan yang berbeda di ambil Bigelow dengan lebih memilih untuk mengobservasi kehidupan para tentara saat perang, dimana pekerjaan “mulia” mereka tersebut turut mengganggu keadaan mental serta pola pikir mereka. Bisa dilihat bagaimana William yang diperankan cemerlang oleh Jeremy Renner yang merasakan dunia perang merupakan “rumah” baginya. Well, the war is drugs for him.

18. Titanic


Mungkin kebanyakan pria akan merasa malu bila mereka mengaku menyukai film yang begitu terkenal akan percintaan yang begitu melodrama ini. Saya kurang sependapat. Untuk siapapun yang telah menonton Titanic, mereka pasti sependapat bila Titanic itu memiliki suatu magis tersendiri yang membuat penonton nya merasa ingin kembali dan kembali menonton ulang film nya James Cameron ini. Lagi pula, kisah percintaan si kaya dan si miskin akan terus diminati oleh pecinta drama asmara bukan? Dan ya, saya selalu merasa merinding kala intro My Heart Will Go On mengudara di pertengahan narasi berjalan.

17. Warrior



Siapa yang menyangka bila drama seorang ayah yang telah tua renta bersama dua anaknya yang menggeluti dunia gulat begitu powerfull hingga mampu membuat para penonton ikut merasakan betapa peliknya problem yang ada? Mungkin baru Warrior lah yang mampu memaksa saya untuk mengeluarkan air mata kala adegan gulat dua saudara ini di akhir film. Oh, lupa juga dimana sebelumnya saya juga turut menangis haru kala melihat ekspresi Nick Nolte di kasino. Dan tidak lupa juga bagaimana Tom Hardy begitu keren dimata saya sebagai Tommy Riordan.

16. The Big Lebowski


Reaksi awal saya kala mengakhiri “petualangan” saya bersama The Dude di The Big Lebowski adalah “What the fuck did i just watch!!?” Serius, saya sama sekali tidak mengerti apa maksud sebenarnya Coen Brothers membuat film ini? Selama menonton The Big Lebowski pertama kali, saya sama sekali tidak merasakan kelucuan yang ada, muka yang saya pasang selama durasi itu face palm (silahkan buka google images bila tidak mengerti). Namun, tampaknya saat menonton pertama kali, virus The Dudenism telah menyebar di seluruh pembuluh darah sehingga saya ingin menonton ulang sekali lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan setiap menonton ulang, rasa bosan sama sekali tidak menghinggapi dan mungkin bila menonton sekarang, pada detik ini juga, saya masih bisa tertawa lepas saat melihat kesialan demi kesialan yang dialami The Dude akibat kesotoyan Walter. Classic cult movie.

15. Whiplash


Dalam dunia musik, saya terbuka akan berbagai genre yang ada. Dalam tiap genre pun saya memiliki idola masing-masing. Genre Rock, saya memiliki Queen dan Radiohead, di dunia Metal saya mengagumi dan mencintai karya demi karya dari Dream Theater, dan begitu seterusnya. Namun, maaf untuk pecinta Jazz, saya belum memiliki penggemar di genre Jazz. Sampai ketika saya menonton kisah penggebuk drum di Whiplash yang tersiksa akibat kerasnya pelatihan yang diberikan oleh sang mentor.  Walau kalian belum merasakan akan kerasnya dunia musik atau pun belum, tidak ada yang bisa memungkiri bila Whiplash merupakan karya debut cemerlang dari Damien Chazelle. Siapa yang bisa melupakan performa hebat dari J.K Simmons yang mampu membuat penonton muak akan kehadirannya, namun kala ia menghilang dari layar, penonton juga merasakan kerinduan pada setiap makiannya.

14. Bad Boys 2

Bad Boys 2 gave me so much fun!!! Selain memperkenalkan saya pada Will Smith (one of my favorite actors ever), Bad Boys 2 juga masih mampu menawarkan setiap adegan-adegan komedi gila berkat perpaduan sempurna antara Will Smith dan Martin Lawrence yang selalu berhasil meledakkan tawa saya. Adegan di ruang mayat, car chase yang melibatkan kapal boat besar, tembakan yang mengenai kulit pantat, komentar Marcus kala melihat dua tikus sedang bersenggama di saat mereka sedang mengintai, wow, saya masih bisa mengingatnya!! Berikut sepenggal dialog yang tidak pernah gagal meledakkan tawa:
Mike   : You ever made love to a man?
Reggie:  No, sir. 
Mike   : Do you want too?
Reggie : No, sir

We ride together, we die together. Bad boys for life..! Hell, yeah!!

13. The Social Network

Bukan hanya kritikus yang begitu mencintai film ini, but i’m too!!!!! Berkat film ini, saya memiliki idola pada penulis naskah, yap, Aaron Sorkin. Semua yang mencintai The Social Network tidak akan ada yang bisa memungkiri bila pengaruh penulisan Sorkin lumayan dominan sehingga membuat dialog demi dialog yang diucapkan karakter dalam film begitu dinamis nan cerdas. Tidak lupa juga performa cemerlang dari Jesse Eisenberg dan Andrew Garfield yang menambah poin plus akan film ini.

12. Se7en


Dari sinopsis nya saja Se7en telah memiliki modal awal untuk menjadi film yang memorable. Tinggal bagaimana seorang sutradara menggarapnya untuk mencapai tujuan ke sana. Dan untungnya, kisah dua detektif berbeda karakter dalam pencarian pelaku pembunuhan berantai berdasarkan 7 dosa besar manusia ini jatuh di tangan David Fincher dimana David Fincher berhasil memberikan atmosfir mencekam di tiap menitnya seolah sang pelaku selalu mengintai di layar walau keberadaannya tak tertangkap mata. Serta, berkat keberhasilan film Se7en juga lah yang membuat Fincher kembali pede untuk menekuni profesinya sebagai sutradara setelah hasil akhir dari Aliens 3 tidak memuaskan. And yeah, “what’s in the box” scene will always stuck in my mind.

11. Goodfellas


Goodfellas itu bagaikan versi “fun” nya dari The Godfather. “Fun” yang saya maksud disini bukan berarti Goodfellas itu dipenuhi akan lelucon. Tetapi, saya merasakan “fun” itu berkat penyutradaraan berkelas dari Martin Scorscese dalam memperlihatkan kehidupan mafia yang sebenarnya penuh dengan intrik serta kejahatan, tapi di sisi lain juga ada kekeluargaan yang begitu hangat dan kuat dalam dunia kejahatan itu. Walau memang rasa keluarga yang telah tercipta akan hancur akibat satu kata. Traitor.
 
10. Casino Royale



The Bourne Identity itu pelopor dalam hal film spy atau agen rahasia. Pengaruh Bourne itu juga langsung berdampak franchise agen rahasia Inggris ini. Tidak ada lagi Bond yang rapi atau pun flamboyan, kini jamannya Bond yang brutal serta badass tanpa ampun demi mencapai tujuannya. Walau sempat mendapatkan kontroversi akan penunjukan dirinya sebagai James Bond, Daniel Craig membuktikan bila karakter Bond yang baru ini benar-benar cocok dengannya. Bahkan menurut saya, Daniel Craig adalah James Bond terbaik. Dan pada era Craig, favorit saya adalah Casino Royale. Begitu banyak adegan yang memorable di Casino Royale. Dari opening scene nya yang menunjukkan dua kepiawaian Bond baik kala bertarung atau pun mengintimidasi korbannya, berlanjut ke adegan kejar-kejaran ala parkour yang mampu membuat saya menahan nafas sambil kagum, pertarungan kartu di atas meja poker yang bertensi tinggi dan siapa juga yang melupakan betapa lembutnya Bond menenangkan Vesper di shower. Oh, mengenai Bond Girlnya, saya menyukai treatment dari Martin Campbell kepada Vesper Lynd yang diperankan brilian oleh Eva Green. Tidak heran bila James Bond mampu bertekuk lutut akan wanita ini.

09. Oldboy


“Sakit nian film ini vi!”, well, setidaknya begitulah komentar yang dilontarkan teman saya saat saya mengajak dia menonton film terbaik dari Korea Selatan ini. Film yang kabarnya mampu membuat Quentin Tarantino standing ovation ini memang mengambil tema yang begitu sensitif dan juga kekerasan tingkat tinggi di dalamnya. Namun, Park Chan-Wook membungkusnya sedemikian rupa bukan tanpa esensi. Chan-Wook ingin memperlihatkan bagaimana mengerikannya bila manusia telah diliputi akan rasa dendam. Tidak ketinggalan juga dengan twist nya yang sanggup mengganggu jiwa penontonnya. Percayalah, walau Oldboy diisi dengan beberapa adegan kekerasan yang mampu membuat ngilu, tetap saja ada sihir yang membuat penonton ingin menontonnya lebih dari sekali.

08. Memento


Mungkin kalian akan menganggap saya sok pintar ketika melihat film ini ada di dalam list film favorit saya, tapi mau bagaimana lagi? Rangkaian misteri yang ditawarkan Nolan brothers di Memento begitu membuat ketagihan, apalagi dengan format non linier nya serta hitam-putih dan warna di dalam filmnya yang membuat penonton pun merasakan bagaimana menderitanya mengidap penyakit yang sama seperti Leonard. Memento memang menceritakan dendam, namun Nolan membuka layer yang baru ketika twist nya terungkap di akhir.

07. Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll


Bila ditonton sekarang mungkin film karya Upi ini tidak lah terlalu spektakuler. Namun untungnya saya menonton ini pada saat masih SMP, yang tentu membuat keterikatan tersendiri dengan kisah kenakalan remajanya atau juga pencarian jati diri. Kenakalan yang dilakukan Vino dan Junot disini tampak begitu keren dimata saya dan sedikit membangkitkan keinginan untuk rebel tersendiri di dalam darah saya.
06. The Godfather Part I & II



I know i’m cheating, but i can’t help myself choose to between them. Andai seri ketiga nya tidak terlalu jauh menurun kualitasnya, mungkin tidak akan ada yang menyangkal bila Trilogi The Godfather adalah trilogi terbaik. The Godfather Part I & II merupakan contoh sempurna bagaimana walau dengan durasi yang panjang (Part II bahkan durasinya menyentuh 3 jam lebih), dengan penceritaan yang kuat dan juga karakter yang sama sekali tidak ada yang flat atau terasa annoying keberadaannya, penonton akan tetap setia mengikuti kisah keluarga Corleone ini.  

5. Pulp Fiction



Pengalaman menonton pertama kali film ini tidak jauh berbeda dengan pengalaman saya saat menonton The Big Lebowski. Dipenuhi dengan ocehan-ocehan para karakter nya, tentu saya tidak langsung menyukai Pulp Fiction. Tetapi ada rasa kangen yang terus menerus untuk kembali menyantap masterpiece dari Quentin Tarantino ini. Dan semakin saya sering menonton Pulp Fiction, saya akhirnya menyadari mengapa Pulp Fiction selalu dianggap sebagai salah satu film yang paling berpengaruh yang disebabkan keberanian Tarantino melawan segala hal mainstream yang dilakukan Hollywood.

4. Inception


Ada dua jenis penonton Inception yang rela menonton karya ambisius dari Nolan ini hingga beberapa kali. Pertama, penonton yang ingin mencari jawaban dan kedua adalah penonton yang memang mencintai Inception. Saya termasuk tipe yang kedua. Saya masih ingat betapa kagumnya saya bagaimana Nolan menggarap sebuah action secquence yang sebenarnya biasa saja namun dengan racikan yang berbeda, mampu terlihat begitu berkelas. Nolan juga tahu bagaimana menciptakan karakter-karakter yang keren tanpa perlu backstory. Beruntunglah mereka yang menikmati mahakarya Nolan ini di dalam bioskop. Terbayang bagaimana riuhnya kekesalan penonton saat blank screen muncul di layar pada momen akhir itu, yang memunculkan perdebatan panjang tanpa berkesudahan.
 
3. Terminator 2: Judgement Day


Percaya tidak percaya, film ini lah yang memperkenalkan saya akan film-film Hollywood, karena ini adalah film hollywood pertama yang saya cicipi. Masih terbayang bagaimana saya diliputi akan kengerian serta kekesalan akan betapa hebatnya T-1000 itu. Juga masih terekam jelas bagaimana saya menahan nafas melihat car chase yang digarap begitu keren oleh James Cameron. Dan masih teringat juga saya dimarahi ayah saya karena ingin menonton film ini diam-diam pada malam hari (masih jamannya VCD). Thumbs up di akhir film itu juga terlihat sangat keren dan begitu fenomenal di sekolah saya pada saat itu. Entah sampai kapanpun, film ini akan selalu memiliki tempat di hati saya. 

2. The Pursuit of Happyness


Tidak perduli akan keakuratan film ini dengan kisah asli nya Chris Gardner, The Pursuit of Happyness tetaplah film motivasi terbaik bagi saya. Ketika saya mengalami kegagalan, The Pursuit of Happyness merupakan obat penawarnya. Ekspresi Will Smith kala mendekap anaknya yang sedang tidur sembari menahan pintu toilet dengan kakinya supaya tidak terbuka itu selalu sukses membuat saya berlinang air mata.

1. The Dark Knight



Tidak hanya influental bagi perfilman, terutama superhero, The Dark Knight juga sangat berpengaruh bagi saya. Mengulas segala hal positif dalam The Dark Knight itu sama halnya ketika menjelaskan betapa luar biasa nya Lionel Messi di lapangan, tidak akan ada habisnya. Memiliki opening yang hebat, perjalanan cerita yang membuat candu, serta ditutup pula dengan ending yang merupakan bagi saya tetaplah ending terbaik dalam sejarah perfilman, The Dark Knight tidak dipungkiri merupakan film yang paling stand out dalam trilogy Dark Knight (padahal Batman Begins dan The Dark Knight Rises saja merupakan dua film yang hebat). The Dark Knight mengajak saya untuk mempelajari sebuah film yang berkualitas itu seperti apa, bahkan juga berkat The Dark Knight pula yang menciptakan minat saya akan film. Mau tahu telah berapa kali saya menonton film ini? 20 kali lebih!! Tanpa merasakan kebosanan sedetik pun. Selain Inception, The Dark Knight adalah penyesalan terbesar saya karena tidak menonton film ini di layar lebar bioskop. Karya yang begitu luar biasanya sampai kebanyakan sutradara-sutradara terkenal ingin mencontek akan bagaimana hebatnya Nolan menyuntikkan atmosfir realisnya dalam film. Dan The Joker-nya Heath Ledger akan tetap dikenang sebagai salah satu, jika bukan, karakter antagonist terbaik yang pernah ada di dalam dunia perfilman.


Monday, 16 January 2017




"Black Phillip, I conjure thee to speak to me. Speak as thou dost speak to Jonas and Mercy. Dost thou understand my English tongue? Answer me.- Thomasin

Plot

Mengambil setting pada tahun 1630 di New England, Michael (Ralph Ineson) beserta istri, Katherine (Kate Dickie) harus menerima kenyataan bila keluarga nya harus diusir dari wilayah perkebunan akibat keteguhannya akan ilmu agama yang ia pegang. Mereka harus hidup di pondok kecil yang dikelilingi akan hutan yang lebat. Keputusan tersebut harus dibayar mahal karena tidak lama setelah mereka menempati tempat tinggal baru itu, kejadian aneh nan memilukan dimana sang bungsu, Samuel, hilang kala bermain dengan Thomasin (Anya Taylor-Joy). Peristiwa demi peristiwa tragis yang menerpa keluarga tersebut mulai memberikan dampak akan psikis serta keyakinan mereka yang selalu diyakini.








Review

The VVitch (well, the title of this movie is written like that for real and i dunno what that means), berdasarkan penjelasan di awal film, adalah dongeng yang berasal dari New England, dan setelah menonton film ini, percayalah, kisah dongeng ini tidak akan pernah Anda biarkan diceritakan oleh siapapun kepada anak Anda. Bisa jadi, The VVitch merupakan The Excorcist-nya film horor pada dekade ini.
Dari setting tahun serta tempatnya saja sebenarnya telah sangat membantu nuansa horor yang mencekam. Rumah pondok yang dikelilingi akan hutan belantara serta masih kuatnya akan rasa percaya penduduk setempat pada legenda penyihir dalam hutan, semuanya membantu membangun atmosfir horor yang sangat kuat. Belum lagi scoring memekakkan telinga yang digarap Mark Korven yang selalu berhasil memberikan teror kepada saya, terutama kala scoring tersebut menghentak di menit-menit akhir yang berhasil membuat saya kaget. Yang menjadi masalah kecil, mungkin bila ditonton pada periode sekarang, penjelasan-penjelasan yang dilontarkan oleh tiap karakter yang terlibat mungkin terdengar absurd serta menggelitik logika. Saya saja sempat ingin tertawa mendengar Thomasin melontarkan penjelasan yang tidak masuk akal kepada ayahnya pada salah satu momen menegangkan di pertengahan film. Maka hal yang cukup penting untuk penonton supaya bisa menempatkan persepsi penonton pada setting yang dipakai.
The VVitch tidak perlu menunggu waktu lama dalam menunjukkan taring horornya. Belum beranjak sepuluh menit saja, penonton telah disajikan akan momen yang memberikan petunjuk bila The VVitch tidak setengah-setengah dalam menebarkan terornya. Ya, siapa saja bisa menjadi korban kesadisan si penyihir. Setelah momen itu, barulah pergerakan naskah yang ditulis juga oleh sang sutradara, Robert Eggers, mengajak kita untuk ‘berkenalan’ dengan keluarga yang mengalami kesialan ini. Bagaimana ayah mereka yang begitu taat, juga sosok ibu yang rapuh ketika peristiwa pertama terjadi, juga karakter sentral kita yaitu Thomasin yang begitu dewasa serta penyabar. Walau tempo nya cukup lambat, tetapi saya sama sekali tidak merasakan kebosanan karena Robert Eggers tidak lupa untuk memberikan letupan-letupan konflik kecil pada perkenalan itu. Tentu juga rasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga tersebut yang membuat penonton untuk bersabar untuk menemukan jawabannya. Dan dari menit ke menit pula lah, transformasi akan degradasi kepercayaan tiap karakter mulai nampak dan hal itu terjadi begitu meyakinkan tanpa adanya paksaan. Saya juga menyukai setiap konflik yang terjadi memiliki sebab-akibat yang jelas, walau memang kehadiran kelinci hitam di awal-awal film masih menjadi misteri buat saya. Bahkan salah satu momen paling menegangkan akan film ini disebabkan oleh suatu candaan yang bahkan menurut saya pada awalnya tidak akan menjadi penunjang plot. Bukti bila Robert Eggers begitu jeli dalam merangkai ceritanya.
The VVitch itu menyeramkan, itu sudah pasti, namun hebatnya setelah menyaksikan "kesialan" yang menimpa keluarga Michael selama 93 menit, penonton juga merasakan rasa terganggu akan psikis pula. Hal itu tidak terlepas dari atensi penonton yang telah terebut dimana penonton telah merasakan simpati kepada keluarga yang sebenarnya tidak layak menerima segala teror yang ada. Bukan tidak mungkin apabila ada penonton yang terganggu keyakinannya setelah menyaksikan pagelaran horor ini.
Saya belum pernah mendengar nama Anya Taylor-Joy, namun melihat apa yang ia tampilkan di film ini, tampaknya karir Anya sangat cemerlang ke depannya. Seperti yang saya bilang di awal, Thomasin adalah gadis yang begitu dewasa nan penyabar. Namun, akibat semua masalah yang seolah disebabkan oleh kehadirannya, tentu Thomasin merasakan tekanan yang berat dan Anya mampu memberikan performa yang gemilang dalam menampilkan itu semua. Ekspresi muka nya di menit-menit akhir pun membuat saya tidak bisa untuk tidak memberikan tepuk tangan untuk aktris muda ini.
Didukung dengan production design yang meyakinkan, scoring yang menghantui juga begitu telitinya sang sutradara dalam menjahit setiap narasi, The VVitch berhasil menjadi film horor yang mungkin paling mencekam pada tahun 2016. Lupakan segala hal yang mungkin menurut kita menggelikan akan penjelasan yang ada pada film ini serta sinopsis yang terasa familiar, The VVitch bukanlah pilihan yang tepat untuk menonton pada malam hari.

8,5/10


Tuesday, 10 January 2017


"I've been poor my whole life, like a disease passing from generation to generation. But not my boys, not anymore."- Toby Howard

Plot

Berniat menghentikan rantai kemiskinan, dua kakak beradik Toby (Chris Pine) dan Tanner Howard (Ben Foster) menjalankan aksi merampok bank dengan bermodalkan taktik cerdas dari Toby serta pengalaman Tanner yang merupakan mantan kriminal. Aksi kakak beradik ini tentu menarik perhatian duo ranger Marcus Hamilton (Jeff Bridges) dan rekannya berdarah indian Alberto Parker (Gil Birmingham).







Review

Patut diingat, Hell or High Water bernafaskan kental akan western nya. Maka, persiapkan ekspektasi kalian akan nuansa slow burning nya yang mungkin akan membosankan bagi sebagian penonton, terutama para pecinta action. Tetapi bila kalian telah terbiasa dengan pendekatan ini, maka Hell or High Water akan menjadi pengalaman menonton yang menyenangkan dan begitu berkelas. Sedikit mengingatkan saya akan karya klasik Coen Brothers, No Country for Old Men, Hell or High Water adalah film yang mampu memberikan kerinduan kalian pada saudara atau rekan kalian dengan pendekatan tema heist serta crime nya.

Ya, tema keluarga begitu lekat pada film garapan Dave Mackenzie ini. Praktis setelah pembukaan dua aksi kakak beradik kala merampok bank, selanjutnya kita diperlihatkan drama akan kedekatan keduanya. Dari adegan perampokan pula kita bisa menilai bila sang kakak, Tanner, memiliki pengalaman dalam melakukan aksinya. Begitu pula Toby yang walau dalam pengalaman hidupnya tidak pernah melakukan aksi kriminal sehingga tidak jarang melakukan blunder saat beraksi, namun memiliki otak yang cerdas nan taktikal dalam melakukan perampokan. Terlihat kala ia begitu emosional ketika sang kakak cenderung ceroboh dalam merusak rencana perampokan yang telah dirancang. Namun, walau Toby sering terlihat emosi dengan kakak nya yang urak-urakan itu, tak lantas penonton beranggapan bahwa Toby tidak perhatian dengan Tanner. Sebaliknya, momen-momen percakapan antar mereka berdua juga tindakan Toby di gas station saat melihat Tanner terlibat keributan, kita bisa menangkap betapa dekat serta sayangnya Toby dengan Tanner. Adegan kecil ketika diperlihatkan mereka bermain berdua pun mampu menyunggingkan senyuman saya kala melihatnya. Naskah garapan Taylor Sheridan pun juga mengajak motif dua pria koboi ini untuk menjalankan perampokan, yang kemudian diperkuat pula oleh sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh karakter Toby saat adegan akhir yang diucapkan begitu brilian oleh Chris Pine.

Tidak hanya berfokus pada Toby atau Tanner, pergerakan plot pun juga mengajak kita akan kedekatan yang unik dari hubungan kerja antara Marcus serta Alberto. Marcus yang memiliki darah Texas yang kental, sering menggoda Alberto yang notabene nya berdarah Indian dengan ejekan-ejekan narsisnya. Dari awal kalimat Marcus kepada Alberto saja telah menggambarkan akan hal itu, yang mampu mengundang ketawa saya. Hubungan ini anehnya juga tidak kalah kuatnya dibandingkan hubungan persaudaraan Toby dan Tanner. Fakta bahwa Marcus juga memiliki kemampuan menyelidik yang tidak bisa diremehkan pula merupakan "lawan" yang tepat akan Toby sehingga memaksa penonton berharap bila kedua karakter ini akan bertemu dan face to face pada akhir nya. Adegan aksinya juga tidak bisa diremehkan. Memang, dua aksi perampokan pada sajian pembuka tidak terlalu spesial, namun sajian akhir aksinya berhasil menyajikan keseruan nan hening yang berhasil menaikkan kadar suspensenya sendiri, terlepas dari kita yang telah terikat akan 3 karakter yang terlibat. Adegan razia sendiri juga sanggup memberikan ketegangan tersendiri, bukti bila penceritaan akan pendekatan karakter sebelumnya sukses karena kita telah terikat dengan semua 4 karakter.

Dan tibalah, momen yang saya anggap salah satu momen dalam film terbaik pada tahun 2016, dimana Toby dan Marcus akhirnya bertemu. Masih disajikan dengan hening, momen tersebut tidak kalah menegangkannya dengan sajian akhir pada aksinya. Kuatnya akting yang dikeluarkan oleh Chris Pine dan Jeff Bridges merupakan faktor utama mengapa momen tersebut begitu emosional, setelah build up yang juga mempesona yang memberikan penonton mengerti mengapa nuansa kebencian begitu terasa antar ke duanya.

Seperti yang saya tulis pada awal paragraf, film ini bukanlah film yang bisa dikonsumsi oleh semua lapisan penonton, seperti kebanyakan film western kebanyakan. Namun, untuk para pecinta film yang telah menjelajahi semua genre, Hell or High Water tentu adalah film yang memuaskan berkat studi karakter serta kuatnya akting 4 karakter utamanya, terutama Chris Pine.

8,25/10



Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!