Monday, 16 January 2017




"Black Phillip, I conjure thee to speak to me. Speak as thou dost speak to Jonas and Mercy. Dost thou understand my English tongue? Answer me.- Thomasin

Plot

Mengambil setting pada tahun 1630 di New England, Michael (Ralph Ineson) beserta istri, Katherine (Kate Dickie) harus menerima kenyataan bila keluarga nya harus diusir dari wilayah perkebunan akibat keteguhannya akan ilmu agama yang ia pegang. Mereka harus hidup di pondok kecil yang dikelilingi akan hutan yang lebat. Keputusan tersebut harus dibayar mahal karena tidak lama setelah mereka menempati tempat tinggal baru itu, kejadian aneh nan memilukan dimana sang bungsu, Samuel, hilang kala bermain dengan Thomasin (Anya Taylor-Joy). Peristiwa demi peristiwa tragis yang menerpa keluarga tersebut mulai memberikan dampak akan psikis serta keyakinan mereka yang selalu diyakini.








Review

The VVith (well, the title of this movie is written like that for real and i dunno what that means), berdasarkan penjelasan di awal film, adalah dongeng yang berasal dari New England, dan setelah menonton film ini, percayalah, kisah dongeng ini tidak akan pernah Anda biarkan diceritakan oleh siapapun kepada anak Anda. Bisa jadi, The VVith merupakan The Excorcist-nya film horor pada dekade ini.
Dari setting tahun serta tempatnya saja sebenarnya telah sangat membantu nuansa horor yang mencekam. Rumah pondok yang dikelilingi akan hutan belantara serta masih kuatnya akan rasa percaya penduduk setempat pada legenda penyihir dalam hutan, semuanya membantu membangun atmosfir horor yang sangat kuat. Belum lagi scoring memekakkan telinga yang digarap Mark Korven yang selalu berhasil memberikan teror kepada saya, terutama kala scoring tersebut menghentak di menit-menit akhir yang berhasil membuat saya kaget. Yang menjadi masalah kecil, mungkin bila ditonton pada periode sekarang, penjelasan-penjelasan yang dilontarkan oleh tiap karakter yang terlibat mungkin terdengar absurd serta menggelitik logika. Saya saja sempat ingin tertawa mendengar Thomasin melontarkan penjelasan yang tidak masuk akal kepada ayahnya pada salah satu momen menegangkan di pertengahan film. Maka hal yang cukup penting untuk penonton supaya bisa menempatkan persepsi penonton pada setting yang dipakai.
The VVitch tidak perlu menunggu waktu lama dalam menunjukkan taring horornya. Belum beranjak sepuluh menit saja, penonton telah disajikan akan momen yang memberikan petunjuk bila The VVitch tidak setengah-setengah dalam menebarkan terornya. Ya, siapa saja bisa menjadi korban kesadisan si penyihir. Setelah momen itu, barulah pergerakan naskah yang ditulis juga oleh sang sutradara, Robert Eggers, mengajak kita untuk ‘berkenalan’ dengan keluarga yang mengalami kesialan ini. Bagaimana ayah mereka yang begitu taat, juga sosok ibu yang rapuh ketika peristiwa pertama terjadi, juga karakter sentral kita yaitu Thomasin yang begitu dewasa serta penyabar. Walau tempo nya cukup lambat, tetapi saya sama sekali tidak merasakan kebosanan karena Robert Eggers tidak lupa untuk memberikan letupan-letupan konflik kecil pada perkenalan itu. Tentu juga rasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga tersebut yang membuat penonton untuk bersabar untuk menemukan jawabannya. Dan dari menit ke menit pula lah, transformasi akan degradasi kepercayaan tiap karakter mulai nampak dan hal itu terjadi begitu meyakinkan tanpa adanya paksaan. Saya juga menyukai setiap konflik yang terjadi memiliki sebab-akibat yang jelas, walau memang kehadiran kelinci hitam di awal-awal film masih menjadi misteri buat saya. Bahkan salah satu momen paling menegangkan akan film ini disebabkan oleh suatu candaan yang bahkan menurut saya pada awalnya tidak akan menjadi penunjang plot. Bukti bila Robert Eggers begitu jeli dalam merangkai ceritanya.
The VVitch itu menyeramkan, itu sudah pasti, namun hebatnya setelah menyaksikan "kesialan" yang menimpa keluarga Michael selama 93 menit, penonton juga merasakan rasa terganggu akan psikis pula. Hal itu tidak terlepas dari atensi penonton yang telah terebut dimana penonton telah merasakan simpati kepada keluarga yang sebenarnya tidak layak menerima segala teror yang ada. Bukan tidak mungkin apabila ada penonton yang terganggu keyakinannya setelah menyaksikan pagelaran horor ini.
Saya belum pernah mendengar nama Anya Taylor-Joy, namun melihat apa yang ia tampilkan di film ini, tampaknya karir Anya sangat cemerlang ke depannya. Seperti yang saya bilang di awal, Thomasin adalah gadis yang begitu dewasa nan penyabar. Namun, akibat semua masalah yang seolah disebabkan oleh kehadirannya, tentu Thomasin merasakan tekanan yang berat dan Anya mampu memberikan performa yang gemilang dalam menampilkan itu semua. Ekspresi muka nya di menit-menit akhir pun membuat saya tidak bisa untuk tidak memberikan tepuk tangan untuk aktris muda ini.
Didukung dengan production design yang meyakinkan, scoring yang menghantui juga begitu telitinya sang sutradara dalam menjahit setiap narasi, The VVitch berhasil menjadi film horor yang mungkin paling mencekam pada tahun 2016. Lupakan segala hal yang mungkin menurut kita menggelikan akan penjelasan yang ada pada film ini serta sinopsis yang terasa familiar, The VVitch bukanlah pilihan yang tepat untuk menonton pada malam hari.

8/10


Categories: , ,

0 komentar:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!