Wednesday, 14 June 2017


"I used to want to save the world, this beautiful place. But the closer you get, the more you see the great darkness simmering within. I learnt this the hard way, a long, long time ago."- Diana Prince

Plot

Thermyscira merupakan pulau yang penghuninya semuanya adalah wanita. Salah satunya adalah perempuan bernama Diana (Gal Gadot), seorang putri dari ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Diana semenjak kecil telah tertarik untuk bisa bela diri seperti pasukan Amazon yang diketuai oleh adik Hippolyta, Antiope (Robin Wright). Walau pada awalnya sang ibu tidak setuju Diana belajar bela diri, namun berkat desakan Antiope, Diana pun memiliki kemampuan yang hampir sebanding dengan Antiope yang merupakan hasil latihannya dengan Antiope. Suatu hari kala Diana selesai berlatih, pulau Thermyscira kedatangan tamu yaitu Steve Trevor (Chris Pine), seorang mata-mata Amerika yang menyusup ke tentara Jerman. Pesawat yang dikemudikan Steve mengalami kerusakan sehingga pesawat tersebut menghujam lautan yang berdekatan dengan pulau Thermyscira. Diana yang menyaksikan kejadian tersebut langsung menyelamatkan Steve. Pertemuan keduanya inilah merupakan awal petualangan Diana dan meninggalkan pulau Thermyscira demi menyelamatkan manusia yang kala itu sedang mengalami perang dunia.




Review

Masihkah perlu Warner Bros merealisasikan mega proyek mereka mendatang, Justice League, setelah semua film yang merupakan kepingan bagian dari proyek tersebut hampir semua berujung bencana? Setelah hancurnya Suicide Squad yang sebenarnya film yang diharapkan mampu membangkitkan secercah harapan karena memiliki modal yang menjanjiakn, jelas pesimis dirasakan penonton, baik mereka yang mengaku penggemar superhero keluaran DC atau kasual. Beban berat pun berada di pundak Patty Jenkins karena film yang disutradarai nya, Wonder Woman, bagaikan harapan terakhir dari Warner Bros untuk tetap menjaga kepercayaan pecinta film bila proyek Justice League akan berakhir memuaskan. 

Cerita origin Wonder Woman bisa saya katakan hampir sama dengan kisah Captain America. Keduanya hidup di masa dunia sedang dilanda perang dunia, dan juga keduanya terlibat di tengah perang tersebut. Hanya bedanya, Steve Rogers besar di lingkungan manusia sehingga mudah baginya mengerti akan bagaimana kejamnya peperangan, sedangkan Diana Prince tumbuh besar di pulau asing yang susah dijamah manusia dan untuk pertama kalinya menghadapi serta mempelajari mengenai manusia. Saya tidak tahu apakah kisahnya setia dengan apa yang ada di komik sebab saya lumayan awam mengenai kisah Diana, namun yang jelas saya menyukai cerita asal mula Diana ini. 

Apa yang ia dapati dari pulau tempat ia tinggal adalah menghentikan perang untuk melindungi mereka yang tidak bersalah. Ya, Wonder Woman berpusat pada pengembangan karakter seorang Diana Prince hingga pada akhirnya dirinya bersedia terlibat dengan kehidupan manusia dan membantu mereka, walau harus mendapatkan tentangan dari sang ibu. Aspek ini yang merupakan berhasil dicapai oleh Patty Jenkins dalam Wonder Woman nya. Dibantu dengan screenplay dari Allan Heinberg, Jenkins menjadikan lahan perang sebagai media belajar untuk Diana dan di dalam prosesnya, suntikan elemen humanis tertancap di dalam diri Diana, bahwa perang bukanlah hal simpel yang dipelajari Diana selama ini, karena perang jauh lebih kompleks dari itu. Membunuh orang yang dipercaya merupakan otak dari segala peperangan tidak akan secara otomatis menghentikan perang saat itu juga. Ceritanya mungkin sederhana, tetapi tidak menjadi masalah kala momen transformasi Diana menjadi lebih humanis disajikan dengan tidak terburu-buru. Maka bisa dimengerti bila film ini menyentuh durasi hingga 141 menit. 

Kisah Diana ini secara mengejutkan mampu menginspirasi penonton, terutama jelas dari kaum hawa. Dari pendapat saya sendiri, Wonder Woman bisa memberikan impact itu berkat karakterisasi pada Diana nya sendiri. Memang Diana memiliki hati patriotik dengan berjuang untuk menyelamatkan innocent people, tetapi Diana bergerak sesuai hati nuraninya. Saat apa yang disaksikannya berlainan dengan apa yang ia yakini, Diana diambang keraguan. Awamnya Diana akan dunia manusia seolah mewakili mereka yang juga mengalami transisi dari remaja menuju ke dewasa. Hal ini yang mungkin membuat kisah Wonder Woman mampu menyentuh bagi sebagian penontonnya.

Selain kedalaman pada kisah Diana, terselip juga hubungan romansanya dengan Steve Trevor. Mungkin romansanya tidak sampai ke taraf spesial antara Tony Stark dan Pepper, namun ikatan di antara mereka dibangun secara perlahan dan tidak tergesa-gesa. Ada kecanggungan antara Steve yang notabenenya seorang pria dewasa dan Diana yang masih begitu polos, sebuah hubungan kombinasi antara kakak dan adik serta sepasang kekasih. Maksud saya, lihat saja kala mereka satu perahu ketika meninggalkan pulau Thermyscira. Mengenai kecanggungan Diana sendiri disajikan dengan tidak berlebihan oleh Jenkins. Oke, Diana masih asing dengan dunia manusia pada umumnya, namun segala kekonyolan nya bukan terlihat membodohi karakter Diana, namun malah memberikan humor tersendiri sehingga lengkaplah alasan penonton untuk mencintai karakter Diana. Gal Gadot membuktikan di film solo perdananya sebagai superhero ini bahwa ia pilihan tepat untuk memerankan Diana. Gadot adalah jenis perempuan yang dari tampilan luar jelas menawan serta anggun (Gadot with glasses? Hell yeah), namun di saat bersamaan dengan tatapan mata tajam tercermin ketegaran seorang perempuan, sehingga mungkin saja tanpa kedalaman karakter pada Diana pun, penonton tetap mudah menyukai Diana. Gadot juga ikut terbantu dengan peran kharismatik dari Chris Pine yang sama seperti Gadot, Pine juga merupakan aktor yang mudah untuk disukai.

Mengenai action nya sendiri, Jenkins tidak mengecewakan. Jenkins tahu bagaimana menangkap aksi-aksi dengan kameranya sehingga terlihat keren juga berkelas. Contohnya saja saat memperlihatkan aksi pertama Wonder Woman di medan perang, terutama kala dirinya beraksi di gedung-gedung.  Turut juga dibantu dentuman musik dari Rupert Gregson-Williams yang membantu setiap aksinya lebih terasa bombastis. Tetapi mengenai fight scene  di akhir tampaknya Jenkins terlalu menjadikan pertempuran terakhir di Batman V Superman sebagai inspirasi. Terlalu banyak melibatkan ledakan, ditambah lagi CGI nya yang terasa kasar yang tentu tidak enak disaksikan yang membuat saya berasumsi Jenkins sepertinya lebih piawai dalam menangani aksi yang sederhana. Tidak hanya di fight scene nya, tetapi juga di berbagai action secquence nya, terutama kala sang Wonder Woman mengeluarkan kecepatan supernya. 

Namun, Wonder Woman masih memiliki permasalahan yang mungkin juga dialami film-film superhero lainnya, yaitu menciptakan villain yang memorable. Tiga villain yang ada di film ini semuanya hilang tanpa ada satupun yang memberikan kesan. Kecewa terbesar jelas God Ares yang dari awal cerita tampak begitu digdaya namun pada akhirnya? Walau memang masih ada sosok Dr. Maru yang kelak bisa saja menjadi musuh bebuyutan Diana, namun tetap saja akan sia-sia bila sang kreator masih terjebak dengan menciptakan villain dengan motif hampir sama dengan villain pada umumnya, yaitu mengubah dunia dengan menghancurkannya lebih dahulu. 

Well, pada akhirnya Wonder Woman karya Patty Jenkins ini berhasil menghentikan rentetan catatan buruk DCEU, terbukti juga dari penilaian penonton atau pula kritikus cukup mencintai Wonder Woman. Tentu bukan karena terdistraksi akan penampilan Gadot dengan kostum Wonder Womannya yang seksi itu, tetapi berkat kedalaman cerita, sosok Wonder Woman a.k.a Diana dan Steve yang mudah disukai, juga selipan nilai akan manusia, menjadikan film ini seperti Wonder Woman nya itu sendiri, sebuah harapan. Ya, harapan awal untuk DCEU untuk film-film selanjutnya supaya berakhir sama baiknya seperti Wonder Woman

7,75/10

Tuesday, 13 June 2017


"I'm finished. I'm not a writer, I'm a middle school English teacher. Well, the world doesn't give a shit what I have to say. I'm unnecessary. Ha! I'm so insignificant I can't even kill myself."- Miles

Plot

Miles (Paul Giamatti) dan Jack (Thomas Haden Church) melakukan perjalanan ke California dengan mengunjungi berbagai perkebunan anggur dan sekaligus mencicipi wine disana.  Perjalanan ini juga merupakan rangka menenangkan diri untuk Miles yang sedang merasa bosan dengan profesinya dan Jack yang ingin bersenang-senang sebelum dirinya menikah.




Review

Ada daya tarik tersendiri kala menyaksikan sebuah film yang memusatkan narasinya pada studi karakter di dalam nya. Memang, umumnya film bertemakan seperti ini cenderung datar karena hanya mengandalkan sebuah kejadian yang tidak terlalu di dramatisir, dan dialog-dialog apa adanya sehingga butuh sedikit kesabaran untuk melewatinya, namun berkat itu juga ceritanya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah penonton mengerti apa yang sedang dialami para tokohnya. Film seperti ini memang bukan diniati untuk sebuah hiburan ala film superhero, tetapi bisa digunakan untuk mewakili sebagian besar penonton yang mungkin pernah mengalami kejadian yang sama seperti pada karakter yang terlibat. Dan inilah Sideways, hasil direksi dari Alexander Payne yang mengadaptasi dari novel bikinan Rex Pickett, mengajak kita untuk mengikuti perjalanan dua sahabat dalam rangka liburan sebelum kembali dihadapi dengan rutinitas sehari-hari.

Liburan ini jelas memiliki motif yang lebih dari itu. Jack ingin bersenang-senang sebelum di sabtu mendatang dirinya akan menikah, dan Miles mencoba menenangkan dirinya yang tengah mengalami kejenuhan dalam bekerja, seraya mencoba menghilangkan bayang-bayang mantan istrinya.  Miles merupakan pusat penceritaan dan merupakan perwakilan bagi kita yang tengah mengalami kebosanan di usia tanggung dan juga untuk kita yang belum move on dari sang mantan. Saya yakin, hampir sebagian besar penonton pernah mengalami apa yang tengah dihadapi Miles, sehingga inilah daya tarik utama Sideways, yaitu begitu sedikit celah yang diantara Miles dan penonton. Kita seperti menjadi orang ketiga yang juga ikut dalam liburan Miles dan Jack. 

Miles sendiri merupakan pria depresif akibat perceraiannya dengan sang istri, yang mengakibatkan dirinya menjadi pesimistis terhadap apapun yang dihadapinya, bahkan ia sulit untuk mengambil kesempatan yang sebenarnya kesempatan tersebut bisa ia raih dengan mudah. Seperti rencana penerbitan novelnya, dan terutama hubungannya dengan Maya. Walau Maya merupakan wanita yang bisa dibilang memenuhi kriteria Miles akan wanita serta Maya menunjukkan ketertarikan yang lebih dengan Miles, tetapi Miles tetap waspada dan cenderung menjaga jarak dengan Maya, sebelum Miles benar-benar tertarik dengan Maya. Salah satu momen favorit saya adalah kala Miles dan Maya bercengkerama di malam hari. Ada atmosfir yang intim dari tatapan mereka berdua, meski arah pembicaraan sama sekali tidak mengarah kesana, namun penonton merasakan itu. Saya pribadi lumayan gemes melihat Miles yang memperlihatkan sikap mau tapi malu untuk mengambil kesempatan yang ada di depan matanya. Pada momen itu juga Maya bermonolog mengenai wine, yang ironisnya seolah menyinggung kehidupan yang sedang dialami Miles, atau juga mungkin Maya sedang menyinggung dirinya sendiri. Brilian.

Miles juga mewakili bagi mereka yang memiliki antusias terhadap sesuatu namun tidak bisa dibawa ke ranah yang bisa menghasilkan uang. Lihat Miles, memiliki ketertarikan dan bahkan bisa dibilang ahli mengenai wine, tetapi malah berprofesi sebagai seorang guru biasa. Kala dirinya diajak Jack untuk membuka bisnis wine, Miles tidak telalu serius menganggap ajakan tesebut. Menyedihkan bukan, bila suatu passion yang sebenanya sangat bepotensi untuk mendulang keuntungan, namun jatuhnya hanya menjadi sebuah passion. Untungnya di kala fase kehidupannya yang sedang menurun, Miles memiliki teman seperti Jack yang sangat mengerti mengenai diinya. Oke, Jack mungkin brengsek bila bekaitan dengan peempuan, tetapi Jack merupakan teman yang dibutuhkan oleh Miles. Jack merupakan pria yang easy going, mampu menjadi pendengar yang baik dan selalu mencoba mengangkat Miles dari jurang keputusasaannya. Dan serius, tidak ada yang lebih menenangkan saat melihat Jack selalu mengajak Miles untuk melihat sisi positif nya di setiap kesialan menghampiri.
Saya tidak terlalu mengikuti hasil karya Payne. The Descendants adalah satu-satunya film Payne yang pernah saya cicipi. Tetapi setelah usai menonton Sideways, tampaknya saya mulai mengerti kekuatan Payne, yaitu menyelipkan adegan yang menyentuh di dalam kesederhanaan. Seperti misal di durasi akhir saat Miles bersedia membantu Jack. Miles yang sebelumnya tidak terlalu menggubris keliaran Jack dalam urusan perempuan, untuk perrtama kalinya dalam perjalanan, Miles bersedia membantu Jack. Dan supaya momen-momen tersebut berhasil di praktekkan, Payne jelas membutuhkan kekuatan akting dari artisnya. Giamatti dan Thomas Haden Church yang mendominasi di tiap menit film, sukses memperlihatkan sebuah hubungan bromance yang indah dan juga saling mengisi. Tidak ada sama sekali lontaran-lontaran dialog diantara mereka yang membosankan. Giamatti yang sering mengisi peran pendukung, membuktikan bila dirinya memiliki kualitas aktor yang bisa ditaruh sebagai aktor utama. Tidak sulit memang bagi Giamatti dalam memerankan Miles yang gloomy, namun tetap saja apa yang ditampilkannya sangat menawan disini, terutama kala Giamatti memainkan mimik muka kala bercengkerama dengan mantan istrirnya. Saya pribadi menyukai setiap kali Giamatti menanggapi dengan raut muka tidak senang atau juga tidak tenang saat Jack atau karakter lainnya menyinggung novel tulisannya yang belum jelas akan diterbitkan atau tidak. Sulit dipercaya dengan kualitas akting seperti ini, Giamatti tidak mendapatkan nominasi aktor terbaik di ajang Academy Awards saat itu. Haden Church yang malah mendapatkan nominasi di kategori aktor pendukung, mampu mengimbangi Giamatti dengan keluwesannya serta kharisma yang ia pancarkan yang mudah saja bagi penonton mengerti mengapa Jack bisa menggaet wanita dengan mudahnya. Bahkan tampaknya berkat penampilan Haden Church jugalah, Sideways begitu enak dinikmati dan durasi 126 menit tidak menjemukan. Haden Church pun juga brilian saat beradegan emosional. Adegan yang awalnya begitu lucu berkat kesialannya, bertransformasi menjadi sedikit heartbreaking melihat Jack yang memohon-mohon untuk meminta bantuan Miles. Kejutan menyenangkan juga melihat performa Virginia Madsen yang berhasil memerankan Maya sebagai sosok wanita dewasa yang menyenangkan dan penuh pengertian. Wajar saja seorang Miles bisa jatuh hati dengan Maya.

Sayangnya Sideways bukanlah sajian yang akan dengan mudahnya menggaet penonton kasual. Sideways berjalan dengan sunyi dan memang berfokus pada tiap karakternya sehingga mungkin akan terdengar membosankan. Sayang karena Sideways merupakan film yang mampu mewakili sebagian besar orang yang pastinya pernah mengalami fase kehidupan seperti Miles. Tidak semua orang bisa menulis, menghasilkan karya seperti film untuk mewakili apa yang mereka rasakan, dan karena itulah bagi saya, Sideways adalah salah satu film yang harus ditonton. Dan bukti saya mencintai film ini adalah dengan menulis review sesegera mungkin supaya sensasi menyenangkan saat menonton Sideways masih melekat.

8,75/10

Thursday, 8 June 2017


"You're the reason I wake up at 4 in the morning and pump-irons until my chest is positively sick."- Batman

Plot

Dibantu penjahat-penjahat lainnya yang juga bermasalah dengan Batman (Will Arnett), The Joker (Zach Galifianakis) kembali mengancam keselamatan penduduk kota Gotham. Dan seperti biasa pula, Batman berhasil menggagalkan rencana The Joker. The Joker yang selama ini menganggap dirinya merupakan musuh terbesar Batman, harus menerima kenyataan bahwa Batman tidak berpikir hal yang sama, sehingga The Joker memikirkan sebuah rencana lainnya untuk mendapatkan pengakuan Batman.





Review

Memang telah banyak berbagai film animasi yang diadaptasi dari permainan Lego ini, namun keberhasilan The Lego Movie baik dari segi finansial maupun kritikus pada tahun 2014 lah yang menjadi awal sempurna bagi film beradaptasikan Lego untuk menangkap penonton jauh lebih besar. Dan tak terpungkiri, salah satu faktor mengapa The Lego Movie begitu menyenangkan berkat kehadiran sang vigilante kesayangan semua orang, Batman. Maka tidak heran bila kisah Batman pun akan dihadirkan kembali dalam bentuk lego.

Seluruh aspek yang menjadikan The Lego Movie sangat menyenangkan masih dihadirkan oleh sang sutradara, Chris Mckay yang tidak lain tidak bukan merupakan animation supervisor pada film tersebut. Humor yang efektif dan sadar akan timing, dipenuhi tokoh-tokoh yang hampir semuanya likeable, interaksi antar tokoh yang menghibur dan tidak ketinggalan homage yang bertebaran di setiap menitnya, terutama pada film-film Batman tentunya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, The Lego Batman telah tancap gas di awal-awal durasi dimana perpaduan antara humor, aksi yang menghibur serta tampilan visual lego nya yang kali ini didominasi warna hitam. Dari perbincangan The Joker dengan pilot, hingga sajian aksi Batman yang diiringi track "Let's Get Nuts", semuanya berhasil disajikan Mckay dengan sangat menghibur. Namun semua perpaduan tadi bukanlah faktor utama mengapa saya menobatkan The Lego Batman Movie sebagai salah satu film favorit saya tahun ini. Yang menjadi kunci keberhasilan The Lego Batman adalah naskah yang ditulis Seth Grahame Smith dan Chris McKenna.

Semua pecinta komik atau film pasti mengetahui bahwa Batman merupakan karakter superhero yang paling kompleks. Yes, he's a hero, but he's not a white knight. Batman atau Bruce Wayne memiliki trauma akibat pengalaman pahit di masa kecilnya, yang membuat Bruce menutup dirinya. Dia lebih memilih kesepian daripada harus kembali memiliki kerabat dekat dan beresiko untuk kembali merasakan kehilangan. Hal ini yang menyebabkan Batman jauh lebih memilih kekerasan dalam tiap aksinya, sehingga tidak jarang penduduk kota menanyakan berpihak di sisi mana sebenarnya Batman, kejahatan atau kebaikan. Aspek ini juga yang membuat Batman lebih dicintai ketimbang Superman. Smith dan McKenna menyadari ini, dan membawa isu tersebut kedalam The Lego Batman. Sesaat setelah menyelamatkan kota saja, Smith dan McKenna telah menghadirkan suatu ironi tersendiri dalam kehidupan Batman, dimana dia begitu disanjung dan dikelilingi para pendukungnya, namun kala dirinya kembali dirumah dan memasuki kehidupan sebagai Bruce Wayne, kesepian yang menyelimutinya, hanya Alfred dan komputer yang menemani Bruce. Rasa trauma dan takut kehilangan membuat kepribadian Bruce atau pun Batman menjadi arogan, keras dan mempercayai bahwa dirinya hanya membutuhkan dirinya sendiri. Disinilah Smith-McKenna membuktikan walau The Lego Batman Movie adalah sajian komedi, namun tetap tidak melupakan hati pada penceritaan. Tidak jarang juga sifat arogan yang dimiliki Batman membuatnya tidak sadar telah melontarkan kalimat yang mungkin menyakiti hati orang yang menyayanginya. Contoh terbaik adalah pernyataannya kepada Alfred kala berdebat mengenai Dick Grayson.

Tidak hanya berhenti di situ, Smith-McKenna juga mengangkat hubungan love-hate relationship antara Batman dan The Joker. Sebagian besar penggemar Batman akan menjawab The Joker bila ditanya siapa musuh terbaik Batman, bahkan di film ini, The Joker nya pun telah merasa dirinya adalah musuh yang paling merepotkan Batman, namun bagaimana jika Batman sendiri tidak mengakui anggapan tersebut? 

Dengan adanya ide tersebut, tidak hanya film selalu berhasil bila mengambil momen komedi, juga membuat The Lego Batman menjadi berbeda. Berbeda karena kali ini alasan utama The Joker melakukan aksinya adalah untuk mendapatkan pengakuan Batman. The Joker ingin Batman membenci dirinya dan ingin mendengarkan kalimat "I hate you" terucap dari bibir Batman. Dan juga siapa yang bisa menahan tawa saat Batman "menolak" The Joker di awal-awal film? Hubungan Batman dan The Joker ini dibantu pula dengan sokongan berbagai dialog-dialog juga interaksi antar dubber yang berhasil membuat saya tertawa, atau paling tidak menyunggingkan senyum.

Homage dan juga ejekan berkenaan pop culture pun tetap ada pada film ini, terutama yang berkenaan dengan DC Universe. Film-film terdahulu Batman pun tidak lepas dari sasaran, namun tetap yang terbaik adalah kode password yang dimiliki Batman dan sindirannya pada ide yang mengumpulkan para penjahat untuk melawan penjahat pula. That's always kills me every time I hear it. Semua humor nya bekerja tentu tidak terlepas dari pekerjaan apik dari para pengisi suara. Tetapi baik Zach Galifianakis, Rosario Dawson ataupun Michael Cera tetap tidak ada yang menandingi betapa saya jatuh cintanya dengan suara Will Arnett. Berkatnya, semua one liner yang diucapkan Batman tidak hanya semuanya terdengar lucu, namun menjadi memorable. Arnett juga brilian kala mengucapkan dialog yang penuh makna dan sentimentil hingga tidak terdengar klise sama sekali.

The Lego Batman Movie bukan tanpa celah. Humornya mungkin hanya bekerja bagi yang telah menyaksikan The Lego Movie karena mereka sama-sama bergerak dengan cepat dan kental akan sarkas. Pada pertengahan film pun, The Lego Batman terasa sedikit kehabisan bensin. Mungkin hal itu terjadi saat Batman sedikit menghilang di layar karena sesaat Batman kembali mendominasi, The Lego Batman kembali mendapatkan nafas kehidupan. Akhir permasalahan yang terjadi pun sedikit mengganggu, bahkan untuk ukuran film komedi, setidaknya bagi saya. Tetapi segala permasalahan tersebut tidak menghentikan saya untuk menobatkan The Lego Batman Movie merupakan salah satu sajian yang paling menyenangkan tahun ini, dan juga mungkin salah satu yang terbaik.

8,25/10

Thursday, 1 June 2017


"First, there's an opportunity. Then... there's a betrayal."- Spud

Plot

Setelah 20 tahun berpisah membawa kabur uang dari hasil menjual heroin, Mark Renton (Ewan McGregor) memutuskan kembali ke Skotlandia untuk bertemu lagi dengan teman-temannya yang sempat ia khianati, yaitu Simon "Sick Boy" (Johnny Lee Miller) dan Spud (Ewan Bremner). Kecuali tentu saja Frank "Begbie" (Robert Carlyle) yang sangat membenci Mark atas pengkhianatannya. Frank sendiri merupakan narapidana yang dihukum 20 tahun dan berhasil melarikan diri dari penjara untuk mencari Mark.




Review

Danny Boyle melakukan debut penyutradaraan pada tahun 1994, dan dalam kurun waktu 23 tahun berkarir sebagai sutradara, Boyle telah melahirkan beberapa karya hebat seperti Steve Jobs, 127 Hours, dan Slumdog Millionaire yang menghantarkan dirinya merengkuh Piala Oscar pertama untuk dirinya sebagai sutradara terbaik. Namun, di antara karya-karya nya tersebut, tetap Trainspotting yang merupakan film kedua beliau lah yang selalu dianggap pencapaian terbaik bagi Boyle. Tidak hanya film tersebut mengangkat namanya, Trainspotting juga memiliki basis penggemar yang masif dan tidak berlebihan bila Trainspotting adalah "the lovable ones" bagi para pecinta film dari British. Penonton mencintai serta perduli dengan karakternya, penonton menyukai cerita mengenai kecanduan akan drugs nya, dan tentunya penonton juga mencintai semua black comedy yang berada di dalamnya, yang merupakan salah satu aspek mengapa Trainspotting begitu menyenangkan untuk diikuti. Tidak terpungkiri, Trainspotting adalah satu dari sekian banyak film yang melengkapi betapa periode 90an adalah golden age-nya dunia perfilman. Tidak heran bila Boyle memutuskan untuk membuat sekuel filmnya yang 20 tahun kemudian sebagai bentuk terima kasih, sekaligus surat cinta bagi penggemar film ini.

Seperti yang tertulis di sinopsisnya, T2 Trainspotting menceritakan kehidupan 4 karakter utamanya selang 20 tahun. Dari Spud yang telah mencoba keras untuk tidak kembali ketagihan akan drugs, namun kehidupannya yang berantakan memaksa kembali dirinya untuk mencoba kembali. Simon masih tidak bisa lepas akan ketergantungannya pada kokain, sembari mencari calon korban yang bisa diperas dan membuka pub tua milik bibinya. Mark Renton yang notabenenya pelaku utama dalam menyengsarakan kehidupan tiga temannya, memiliki pekerjaan dan keluarga di Amsterdam berkat uang yang ia bawa lari. Mark pun mencoba untuk berbaikan dengan dua temannya, yaitu Simon dan Spud, tanpa menyadari Frank siap hadir sebagai mimpi buruknya. T2 Trainspotting masih memiliki segala DNA dari prekuelnya, seperti karakternya yang memakai drugs, editing dari Boyle yang tampaknya telah menjadi signature dari sutradara satu ini, dan pastinya black comedy yang walau tidak terlalu kental digunakan, namun cukup efektif untuk tidak membuat T2 Trainspotting kehilangan identitas. Kisahnya jauh lebih luas, dimana T2 Trainspotting seolah bagaikan aftermath panjang bagi tiap karakter. Saya pribadi menyukai kisah Spud yang benar-benar diperlihatkan berjuang melepaskan kecanduannya. Andai saja kisahnya menjadi plot utama dibandingkan kisah Mark dan Renton yang berusaha untuk membuka usaha mereka.

Naskah dari John Hodge tidak lagi berkutat akan lepas dari candu saja, well setidaknya bukanlah fokus utama, melainkan memperlihatkan karakter-karakternya menemukan tujuan yang baru. Jelas T2 tampak lebih dewasa, walau disayangkan hal itu juga mengorbankan salah satu aspek yang membuat sang prekuel begitu dicintai, yaitu kegilaan karakter yang ada kala dikuasai obat-obatan. Siapa yang bisa melupakan Mark yang mengaduk-aduk isi toilet demi mendapatkan pil heroinnya di film pertama? Atau dream secquence-nya Mark saat dirinya tengah sakaw? Hal semacam ini yang kehilangan di film T2, tidak ada energi dari karakternya yang pada film pertama tersalurkan berkat kegilaan mereka. Akibatnya, T2 Trainspotting hampir sama sekali tidak ada adegan yang begitu membekas di kepala, kecuali mungkin bagi saya momen reuni antara Mark dan Frank. Sebagai penghormatan, Boyle pun menyempilkan beberapa adegan yang terjadi di prekuel. Tentu diniati untuk mengajak penonton nya bernostalgia (terutama adegan Mark dkk berlarian yang merupakan opening di Trainspotting, memaksa saya menyunggingkan senyum), tetapi untungnya ada beberapa kepingan flashback yang memang dibutuhkan dalam penceritaan, walau memang tidak banyak. 

Lalu pertanyaan terbesar adalah, apa poin dari sekuel ini, mengingat sebenarnya ending yang terjadi pada Trainspotting telah sempurna menutup kisah para drugs addicted ini? Boyle memang tidak menjawab secara gamblang. Daripada menjelaskan, Boyle lebih tertarik menanggapi akan berbagai halangan dalam pembuatan sekuel ini. Mungkin juga Boyle tidak perlu menjawab karena kita telah memiliki jawabannya, yaitu T2 Trainspotting dibuat untuk sebagai lahan nostalgia bagi para penggemar prekuelnya, terutama bagi mereka yang tumbuh dewasa dengan Trainspotting. Saya menyaksikan Trainspotting cukup telat (ya kali umur 3 tahun nonton beginian), tetapi rasa senang melihat Mark, Spud, Frank dan Simon kembali serta bereuni tentu saya rasakan. Setiap Mark bertemu kembali dengan teman-teman lamanya, tidak pernah saya tidak menyunggingkan senyum, apalagi kala melihat Mark dan Simon bertengkar, dan juga Frank yang mengejar Mark setengah mati. Bayangkan saja bagaimana rasa nostalgia yang dirasakan oleh mereka yang tumbuh dengan Trainspotting. Apalagi tentu tidak ada perubahan yang signifikan pada karakternya, kecuali tentu dengan usia yang lebih tua.

Memang, T2 Trainspotting bila disimak hanyalah sekedar sekuel yang sebenarnya tidaklah perlu dibuat. Sedikit berlubang pada penceritaan, terutama mengenai karakter Veronika (Anjela Nedyalkova), juga ceritanya tidak terlalu mengikat akibat kehilangan energi seperti yang ada di Trainspotting, tetapi untuk yang telah menonton prekuelnya, T2 Trainspotting tetaplah sajian yang menyenangkan.

7,25/10

 




Sunday, 28 May 2017



"I'll tell you what. How about... you and I... go in there right now and show her who's running the show?"- John White

Plot

Vicki (Ashleigh Cummings) memiliki hubungan yang buruk dengan sang ibu, Maggie (Susie Porter) yang memilih untuk pergi dari rumah dan berpisah dengan suaminya, Trevor (Damian de Montemas). Pada malam natal, Maggie melarang Vicki untuk pergi ke pesta akibat masalahnya di sekolah. Tidak menggubris perkataan sang ibu, Vicki pergi diam-diam dan di tengah jalan, dirinya bertemu dengan pasangan kekasih Evelyn (Emma Both) dan John White (Stephen Curry). Evelyn dan John White menawarkan tumpangan kepada Vicki, tanpa mengetahui bila pasangan tersebut memiliki "pekerjaan" sampingan yaitu menculik dan membunuh para gadis remaja.







Review

Apa yang Anda pikirkan pertama kali saat melihat poster Hounds of Love diatas? Drama berbumbu seksual (a.k.a film semi)? Percintaan? Apapun perkiraan kalian, yang jelas poster tersebut terlihat sedikit artistik dan juga seperti menggambarkan film-film surreal berkat warna ungu tua nya (itu ungu kan?). Tidak terpikirkan bila film ini adalah sebenarnya film thriller penculikan yang cukup kental dengan grafis kekerasannya, dan sang sutradara Ben Young dalam karya debutnya ini menyelipkan kisah disfungsional pada pasangan Evelyn dan Ben.

Belum cukup dengan hal itu, Young pun menambahkannya dengan beberapa sub plot seperti masa lalu Evelyn, dan hubungan buruk pada pasangan Trevor dan Maggie. Sayangnya Ben Young masih perlu dalam merangkai narasinya ketika diaplikasikan ke dalam layar perfilman. Dosa Young adalah meninggalkan beberapa pertanyaan pada penonton kala Hounds of Love berakhir. Seperti misal apa alasan Maggie meninggalkan Trevor, di saat bersamaan penonton menyaksikan sosok Trevor sebagai ayah yang bertanggung jawab dan menghormati Maggie. Masa lalu Evelyn pun hanya terucap lewat dialog-dialog yang dilontarkan oleh dirinya dan John. Dan pertanyaan terbesar adalah apa tujuan John dan Evelyn dalam melakukan penculikan dan pembunuhan? Mengapa korban-korbannya adalah gadis-gadis remaja? Begitu banyak pertanyaan yang ditinggalkan Young sehingga ketika Hounds of Love berakhir ada ketidakpuasan dalam diri saya dan hal itu cukup mengganggu. 

Berbagai subplot yang dibiarkan tak terjawab itu cukup berpengaruh dengan karakterisasi para tokoh di dalam film yang berasal dari Australia ini. Contohnya sosok Maggie hanya terlihat ibu yang egois yang memaksakan kehendaknya kepada Vicki, yang membuat penonton tidak turut merasakan kesedihan atas kehilangan yang dialami Vicki karena bila saya ada di posisi Vicki mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Apa yang patut dibanggakan dari seorang ibu yang kabur dari suaminya yang jelas memiliki banyak aspek positif yang dimilikinya. Kompleksitas yang dimiliki oleh Evelyn pun diniati supaya tokoh ini tidak jatuh ke dalam tipe stereotip karakter antagonist satu dimensi. Sesungguhnya tidak masalah akan niat ini, tetapi bila semua backstory mengenai dirinya tidak diceritakan dengan gamblang, tentu susah untuk penonton bersimpati terhadap karakter ini.

Mungkin Ben Young masih kesusahan dalam penulisan naskah, tetapi dalam menyajikan adegan beraromakan thriller mencekam, Ben Young menunjukkan kebolehannya. Dirinya tidak pelit-pelit dengan adegan kekerasan, bahkan walaupun tidak terlalu frontal diperlihatkan, ada adegan kekerasan terhadap binatang disini. Keuntungan dari kompleksitas yang dimiliki Evelyn pun cukup mengganggu akan pikiran penonton yang bertanya mengenai apa yang akan dilakukan Evelyn selanjutnya setelah setiap apa yang dilakukan Vickie dalam usahanya melarikan diri. Secquence terakhir pun cukup mendebarkan kala nyawa Vickie berada di ujung tanduk di saat segala keadaan telah benar-benar tidak mendukungnya untuk bisa bebas. Musik yang digarap Dan Luscombe juga turut andil dalam membangun suasana horor. Memang Hounds of Love tidak memiliki kedalaman naskah yang mumpuni, tetapi bila dilihat dari sisi thriller, Hounds of Love bukanlah pilihan yang buruk untuk kalian yang menyukai genre sejenis.

7/10

Saturday, 27 May 2017



Tepat pada tanggal 26 Mei 1997 , Radiohead merilis album ketiga mereka yaitu OK Computer, dimana album tersebut digadang sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa di dunia industri musik dan membawa nama Radiohead ke puncak straposfer. Untuk memperingati ulang tahun yang ke 20 album tersebut, saya akan berbagi kepada kalian 10 lagu favorit saya dari salah satu band favorit saya sepanjang masa ini. 



Sedikit mengenai Radiohead, Radiohead berasal dari Abingdon, Oxfordshire yang dibentuk pada tahun 1985 yang memiliki personil Thom Yorke (Vocalist), Johnny Greenwood dan Ed O'brien di posisi gitarist dan instrumen lainnya, Collin Greenwood (Bassist) dan Phil Selway (Drummer). Selang 7 tahun kemudian, Radiohead meluncurkan single pertama mereka yang juga berkontribusi sangat besar dalam memperkenalkan Radiohead ke seluruh penjuru dunia, yaitu Creep. Lagu Creep sangat populer, bahkan lirik "I'm a Creep, I'm a Weirdo" menjadi suatu quote yang terkenal pada saat itu. 1 tahun setelah meluncurkan Creep, barulah Radiohead meluncurkan album pertama mereka yang mereka beri nama Pablo Honey yang memperkenalkan beberapa single yang walau tidak mampu menyaingi kepopuleran Creep, tetapi cukup membuktikan bila Radiohead bukanlah band one hit wonder. Single tersebut yaitu Anyone Can Play Guitar dan Stop Whispering. Walau telah menunjukkan kematangan mereka dalam bermusik, tetap saja bayang-bayang Creep masih mengganggu para personil, sehingga butuh 2 tahun untuk Radiohead menelurkan album lagi yaitu The Bends. Menurut saya, pada The Bends lah merupakan titik turning point awal bagi band Radiohead. Semua itu berkat track-track yang menunjukkan ciri khas Radiohead seperti lirik yang maknanya abstrak dan sentuhan musik yang beraroma depresif. Track-track seperti Fake Plastic Trees, High and Dry, dan terutama Street Spirit (Fade Out), makin mengukuhkan nama Radiohead sebagai the next big thing dalam musik Rock. Hingga pada tahun 1997 yang menjadi tahun bersejarah bagi Radiohead saat mereka meluncurkan album Ok Computer yang membawa Radiohead ke level ketenaran universal. Dengan lagu-lagu seperti Paranoid Android, No Surprises, Lucky dan Airbag, Radiohead mendapatkan berbagai penghargaan dan dicap sebagai salah satu band Rock terbaik pada saat itu.


Keberhasilan global akan Ok Computer tidak lantas menghentikan Radiohead dalam berkarya. Bahkan, mereka mengambil keputusan yang cenderung berani saat merilis album Kid A pada tahun 2000. Dalam Kid A, Radiohead mengganti seluruh DNA musik yang ada di OK Computer dengan musik elektro seperti drum machines, brass instruments, dan synthesisers. Perubahan radikal ini kontan saja mengejutkan para penggemar maupun kritikus yang mengharapkan musik rock biasanya dari Radiohead. Walau memang ada yang tidak puas dengan keputusan Radiohead ini, Kid A tetap mendapatkan tanggapan yang positif dan juga mendapatkan penghasilan yang memuaskan dimana Kid A berhasil menjual jutaan kopi di seluruh dunia (majalah Time bahkan menyebut Kid A adalah album teraneh yang menjual jutaan kopi). Setelah Kid A, tercatat Radiohead merilis 4 album, yaitu Hail to the Thief, In Rainbows, The King of Limbs, dan A Moon Shaped Pool.


Saya pribadi awalnya tidak terlalu menaruh perhatian lebih terhadap Radiohead. Bahkan saya saja lebih mengenai Creep-nya mereka ketimbang Radiohead. Hingga saat iseng melihat-lihat list album terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone, saya melihat albumnya Radiohead berada di posisi 162. Saya yang penasaran pun tertarik mencoba mendengarkan beberapa single nya seperti Paranoid Android dan No Surprises. Reaksi awal saya hanya menyukai No Surprises dan masih asing dengan musikalitasnya Radiohead di lagu Paranoid Android. Namun hal itu tidak menghentikan saya untuk kembali mencari lagu-lagu Radiohead, hingga singkatnya tidak butuh waktu lama saya mulai tertarik dan malah jatuh cinta dengan band ini. Saya pun telah mendengar seluruh lagu Radiohead di tiap album mereka, terkecuali A Moon Shaped Pool yang belum saya coba. Berikut adalah list lagu Radiohead favorit saya, yang tentu bukanlah pekerjaan mudah dengan menyaring hanya 10 lagu saja mengingat begitu banyaknya lagu Radiohead yang membuat saya jatuh cinta. Ingat, list ini hanyalah berdasarkan dari subjektifitas saya, maka bila kalian merasa lagu favorit kalian tidak masuk dalam list ini, kalian boleh berkomentar di bawah :)

Honorable Mentions: High and Dry, Reckoner, Exit Music (For Film), Karma Police, Weird Fishes, Jigsaw Falling into Place, Optimistic

10. Airbag (Ok Computer)

Lagu Radiohead yang saya sukai baru-baru ini. Intronya di dominasi dengan riff guitar yang seperti biasa cukup aneh dan belum bisa ditebak jenis lagu seperti apa Airbag tersebut. Lagu ini kabarnya menceritakan pengalaman dan rasa bersyukur dari Thom Yorke yang selamat dari kecelakaan mobil pada tahun 1987. Airbag mungkin tidak memiliki lirik yang abstrak seperti lagu-lagu Radiohead kebanyakan, namun tetap sebuah pilihan yang ideal dalam menemani kalian dalam perjalanan.
Most favorite part:
In an Interstellar burst
Scrolling up and down, I am born again 


09. Creep (Pablo Honey)

Lagu pertama dari Radiohead yang pertama kali saya dengar. Sebuah lagu yang berhasil membuat tiap personil Radiohead merasakan tertekan akibat terlalu populernya lagu ini di penikmat musik dunia. Simple, tanpa diiringi musik-musik yang aneh, dan memiliki signature akan suara distorsi gitar di bagian reff, Creep adalah lagu anthem bagi mereka yang merasa dirinya aneh atau introvert dalam kehidupan sosial.
Most favorite part:
Whatever makes you happy
Whatever you want
You so fucking special, I wish I was special


08. No Surprises (Ok Computer)

Satu dari sedikit lagu Radiohead yang saya sukai dari pertama kali dengar. Bahkan kala mendengar intronya saja, saya telah yakin bahwa saya akan menyukai lagu ini. Suara sendu Thom Yorke berpengaruh besar dalam membangun suasana kelam nan depresif akan lagu No Surprises. Cerita di balik Music video nya yang hanya memperlihatkan Thom Yorke yang menggunakan helm astronot yang diisi oleh air sedikit demi sedikit itu sendiri pun juga turut membantu kepopuleran lagu ini.
Most favorite part:
The intro

07. Last Flowers (In Rainbows)

Lagu yang menjadi soundtrack pada film keluaran Jepang, Confessions/Kohaku (if you are the movie freak, you should watch this movie). Aura depresif telah tercium di sentuhan piano di awal, dan seperti biasa suara parau dan sendu Thom Yorke juga ikut membantu membangun mood kelam lagu ini.

Most favorite part:
Too much, too bright, too powerful (repeat)

06. Fake Plastic Trees (Ok Computer)

Lagu Radiohead yang juga saya cintai saat pertama kali mendengar. Lagu ini kabarnya terinspirasi akan bangunan Canary Wharf yang berada di London timur yang memiliki beberapa tanaman buatan yang indah. Entah apa yang relasinya dengan lirik-liriknya seperti "If I could be who you wanted" yang terdengar seperti lirik dalam lagu cinta, namun hal itu tidak menghentikan saya untuk mencintai lagu ini. Sepertinya lewat Fake Plastic Trees, Radiohead mengkritik akan dunia sekarang yang dipenuhi dengan kepalsuan.
Most favorite part:
She looks like a real thing
She tastes like a real thing

05. Idioteque (Kid A)

Reaksi awal saya kala mendengar lagu-lagu di album Kid A (terutama Everything In Its Right Place) sama seperti sebagian besar penggemar Radiohead. Penuh dengan keheranan dan pertanyaan "ini beneran Radiohead nih?" terlintas di benak. DNA Radiohead yang saya sukai di album-album sebelumnya musnah dan sempat terpikir untuk tidak menyukai album ini. Namun berkat lagu ini lah saya memberikan kesempatan untuk seluruh lagu di Kid A dan menganggap Radiohead adalah kumpulan musisi yang jenius, yang berani mengubah identitas mereka sebelumnya namun tetap bernafaskan Radiohead dengan isi-isi lagunya. Dan juga mungkin hanya Radiohead yang mengkritik akan situasi pemanasan global dengan suasana musik "menyenangkan", memaksa badan bergoyang.
Most favorite part:
Mobile squearking, mobiles chirping
Take the money run, take the money run, take the money..

04. How to Dissapear Completely (Kid A)

Sekali lagi Radiohead menciptakan lagu untuk orang yang mungkin merasa terasing di kehidupan sosial dan berpikir keberadaannya tak diinginkan, mencoba mencari tempat yang bisa menerimanya namun hingga dicoba beberapa kali hasil yang didapatkan nihil hingga ingin diri menghilang dari lingkungan. Membuktikan kembali bila Radiohead begitu ahli dalam membawa para pendengar ke dunia depresif dengan alunan musik dan liriknya yang, ya depresif.
Most favorite part:
Stobe lights and blown speakers
Fireworks and hurricanes
I'm not here, I'm not here
This isn't happening
I'm not here, I'm not here

03. Paranoid Android (Ok Computer)

Well, you already know this one will coming, right? Tidak ada list lagu Radiohead terbaik atau favorit tanpa menyelipkan track yang tidak sedikit penggemar Radiohead menganggap Paranoid Android adalah lagu terbaik dari Radiohead, bahkan Paranoid Android ini sempat dibandingkan dengan salah satu lagu terbaik sepanjang masa, Bohemian Rhapsody-nya Queen, akibat memiliki part-part yang terbagi hampir sama seperti Bohemian Rhapsody. Jujur saja, hingga saat ini saya tidak sepenuhnya atau bahkan seutuhnya sama sekali tidak mengerti maksud dari lagu ini. Namun, tidak disangkal lagi, berkat komposisi musiknya yang begitu kaya, memiliki signature yang kuat dengan riff gitarnya, Paranoid Android is everyone's favorite.
Most favorite part:
Ambition makes you look pretty ugly
Kicking, squealing Gucci litle piggy
You don't remember
You don't remember
Why don't you remember my name?
Off with his head, man
Off with his head, man
Why don't you remember my name? I guess he does

02. Street Spirit (the bends)

Sama seperti Paranoid Android, lagu yang merupakan salah satu track yang ada di album the bends ini adalah favorit semua orang. Beda dengan Paranoid Android yang begitu rumit dan kaya dalam instrumen, Street Spirit (Fade Out) terkesan sederhana dengan didominasi oleh gitar akustik. Petikan gitar di awal intro seakan telah membangun mood kesedihan yang akan segera menular ke pendengar. Nikmati sejenak segala rasa emosi negatif yang kalian miliki dengan lagu ini, believe me, you'll be glad if you did it.
Most favorite part:
Immerse your soul in love..
Immerse your soul in love..

01. Let Down (Ok Computer)

Most beautiful song Radiohead ever produce. Dan juga tampaknya lagu dari Radiohead yang paling underrated and deserves more recognition. Dari judulnya saja telah terbaca bila lagu ini menceritakan kekecewaan, namun di satu sisi terselip rasa optimis dan keberanian untuk menghadapi semuanya. Saat telah jatuh cinta dengan lagu ini, tidak pernah sekalipun saya mendengar lagu ini tidak merasakan rasa emosional. Dan di bagian klimaksnya, tidak jarang menjatuhkan air mata saya.
Most favorite part:
You know, you know where you are with
You know where you are with
Floor collapsing, floating
Bouncing back and one day, I am gonna grow wings
A chemical reaction (You know where you are)
Hysterical and useless (you know where you are)
Hysterical and (you know where you are)
Let down and hanging around
Crushed like a bug in the ground
Let down and hanging around

Finally, that's my list about my favorite songs from Radiohead. Dan seperti yang telah saya tulis di atas, list ini sangat subjektif dan bila ada lagu Radiohead favorit kalian yang tidak masuk dalam list ini, silahkan komentar di bawah. Selain itu, telah kita ketahui bersama bila makna pada tiap lagu Radiohead itu luas, sehingga saya yakin penjelasan saya tidak cukup mumpuni. Maka, sekali lagi, bila ada interpretasi dari kalian yang menurut kalian perlu dibagikan, silahkan komentar di bawah.



Monday, 8 May 2017


 "Not all opinions are equal. And some things happened, just like we say they do. Slavery happened, the Black Death happened. The Earth is round, the ice caps are melting, and Elvis is not alive"- Deborah Lipstadt

Plot

Deborah Lipstadt (Rachel Weisz) adalah seorang sejarawan yang pula merangkap sebagai penulis yang kerap mengisikan bukunya fakta-fakta berkenaan sejarah holocaust yang juga diiringi dengan pendapat-pendapatnya mengenai  beberapa pihak yang menyangkal akan terjadinya peristiwa kelam tersebut. Salah satu orang yang kena sasaran kritiknya adalah David Irving (Timothy Spall) yang tidak hanya menyangkal dengan keras akan peristiwa holocaust, namun juga menjadikan holocaust sebagai bahan candaannya di setiap pidatonya. Irving yang tidak terima dengan tulisan dari Deborah pun menuntut Deborah dan membawa kasus tersebut ke pengadilan tinggi Inggris.




Review

Kebanyakan film yang mengangkat isu holocaust akan menampilkan kekejaman pihak Jerman dalam membunuh tiap orang yang menganut keyakinan Yahudi, dan biasanya film-film seperti ini tidak jarang berhasil menarik perhatian para kritikus, tidak terkecuali para juri Academy Awards. Life is Beautiful, The Schindler's List hingga The Pianist merupakan contoh kuat bagaimana film bertemakan holocaust memudahkan jalan untuk cukup mendominasi dalam ajang penghargaan perfilman. Maka saya cukup terkejut saat film Denial ini tidak terlalu menyeruak ke permukaan, dan jangankan membicarakan peruntungan film ini mengenai piala penghargaan, Denial pun cukup mengenaskan apabila menyinggung pendapatan nya. Kita bisa berpendapat bila Denial tidak memiliki aktor yang memiliki nama besar di dalamnya (Rachel Weisz sedikit terlupakan pada dekade ini), tetapi kalau menilik ke belakang, topik berkenaan holocaust selalu menarik perhatian, apalagi dengan embel-embelnya yang mengangkat cerita film ini berdasarkan kisah nyata yang benar-benar dialami oleh Deborah Lipstadt dimana Deborah menuangkan pengalamannya melawan David Irving lewat buku nya yang berjudul History on Trial: My Day in Court with "Holocaust Denier". Dan ini murni pendapat saya sendiri, film yang disutradarai Mick Jackson ini adalah film bertopik holocaust yang saya butuhkan. 

Saya bukannya menampik dan menyangkal keras seperti apa yang dilakukan David Irving lakukan baik di film ini maupun di dunia nyata, tetapi saya rasa pertanyaan dasar seperti "is the holocaust really happened?" patut ada di benak kita, karena harus diakui fakta-fakta yang merujuk akan kebenaran peristiwa tragedi kemanusiaan tersebut sangat minim sehingga tidak sedikit yang menyusun-menyusun teori dan mencoba membuktikan bila holocaust hanyalah kebohongan besar yang dirajut oleh kaum Yahudi (dan maaf ketidaktahuan saya, ternyata menyangkal kebenaran peristiwa holocaust langsung di cap anti-semit loh). Perdebatan yang tak kunjung usai inilah yang membuat Denial pada awalnya merupakan alternatif yang cukup tepat dalam hal membuka pandangan yang baru lewat fakta-fakta yang mungkin akan diungkapkan dalam pergerakan narasi, yang jelas memancing rasa antusias saya semenjak dari menit pertama. Well, pada awalnya.

Denial jelas film bertipe courtroom dan tidak disangkal memang di dalam adu argumen di ruang sidang pada film ini terungkap beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada di benak kalian selama ini, seperti konsep ruang penjara Auschwitz yang diyakini tempat pembunuhan massal yang dilakukan prajurit Jerman terhadap umat Yahudi. Ada juga permainan logika dengan mengulik pernyataan-pernyataan dari David Irving. Namun sayangnya adegan courtroom yang ada tidak terlalu dominan dalam durasi film 110 menit ini karena Mick Jackson lebih memilih mengisi kebanyakan durasi film Denial dengan pendekatan strategi dari pihak advokat yang membela Deborah. Memang, pembicaraan strategi tersebut menghantarkan penonton untuk melihat pendalaman sosok dari Deborah yang kerap kali kontra dengan strategi dari pembela nya, terutama dengan dua pemimpin pihak kuasa hukum tersebut yaitu Anthony Julius (Andrew Scott) dan Richard Rampton (Tom Wilkinson) yang melarang Deborah melakukan testimoni di pengadilan. Tetapi jujur saja fakta-fakta yang diungkapkan dalam film ini belum cukup memuaskan rasa dahaga saya karena masih banyak misteri-misteri yang menyelimuti peristiwa holocaust. Adegan courtroom terakhir sebelum pembacaan keputusan akhir pun cukup membingungkan dengan memperlihatkan twist halusnya.

Tetapi flaws di atas jangan langsung menggoda kalian untuk menyematkan film buruk pada Denial karena sebenarnya Denial adalah film yang bagus, bahkan saya cukup menyukainya. Hal ini dikarenakan Denial didukung dengan penulisan naskah yang baik dari David Hare serta penampilan prima dari tiga pelakon utamanya. Naskah David Hare mungkin tidaklah secerdas naskah Aron Sorkin yang menjadikan tiap dialog sangat adiktif kala mendengarnya, namun Hare jelas telah mempelajari dengan baik buku yang ditulis Deborah. Hare membuat strategi-strategi persiapan menghadapi sidang yang sebenarnya cukup rumit, menjadi terlihat lebih mudah dan bisa diikuti hanya dengan bermodalkan atensi yang cukup dari kita. Dialog-dialog yang ada baik kala karakter-karakternya berinteraksi di kehidupan hari-hari ataupun saat karakternya beradu mulut di persidangan sangat efektif  danbisa dikatakan sederhana dengan minus analogi atau istilah-istilah rumit lainnya. Di kursi penyutradaraan, Mick Jackson terlihat apik menjaga pacing cerita di tengah adu mulut yang terjadi, walau harus diakui cukup mengganggu di bagian konklusi karena adanya editing yang sebenarnya tidak terlalu perlu.

Tiga aktor utamanya juga memiliki andil dalam menjadikan Denial terasa enak untuk diikuti. Timothy Spall sukses membuat karakter David Irving terlihat menyebalkan, namun sesaat kemudian kala dirinya terdesak akan pernyataan Richard, ada rasa simpati yang bisa saya berikan untuknya berkat ekspresi tercekatnya. Cukup disayangkan screen time nya terbilang minim. Rachel Weisz pun seolah membuktikan bila dirinya belum kehilangan sentuhan dalam berakting, bahkan mungkin bisa dibilang ini adalah akting terbaiknya semenjak ia mendapatkan piala Oscar di film The Constant Gardener. Lihatlah ekspresi kegelisahannya saat setiap kali David Irving mengeluarkan pernyataannya, atau kelegaannya setiap kali Irving terpojok. Ekspresi maupun gestur subtil yang ia keluarkan berhasil menjaga perhatian penonton tetap tertuju kepada Deborah walau karakter Deborah sama sekali tidak mampu mengeluarkan pernyataan di dalam medan perang sidang. Weisz pun brilian dalam memperlihatkan seorang Deborah Lipstadt yang cukup kera kepala namun di sisi bersamaan terlihat rapuh dan tertekan akan kasus yang bagi dirinya sangat personal ini. Saat Deborah diam demi kemenangan inilah karakter Richard Rampton bersinar yang terbantu pula dengan penampilan memukau dari aktor senior Tom Wilkinson. Richard Rampton terlihat begitu wibawa berkat nada suara Wilkinson yang tenang namun pasti dan tajam menusuk dalam melontarkan pernyataan-pernyataannya.

Sayang memang film yang sebenarnya berbeda dari tipikal film bertemakan holocaust ini tidak terlalu menarik perhatian para pecinta film. Walau memang fakta yang diangkat tidak terlalu banyak, namun dengan adanya Denial, mata penonton bisa terbuka bila di luar sana masih banyak pihak-pihak yang meragukan kejadian holocaust, bahkan neo-Nazi pendukung Hitler pun jumlahnya masih banyak. Belum mampu begitu meyakinkan saya akan peristiwa Holocaust, namun dengan naskah serta penyutradaraan yang baik dan tidak ketinggalan performa hebat dari tiga lead actors nya, Denial deserves more recognition.

7,75/10



Monday, 1 May 2017


"We are what we believe we are"- The Beast

Plot

Pemuda pengidap penyakit berkepribadian ganda (James McAvoy) menculik tiga gadis muda yaitu Casey (Anna Taylor Joy), Claire (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) tanpa adanya alasan yang jelas. Di waktu senggangnya, pria tersebut sering berkunjung ke ahli psikologi bernama Dr. Karren Fletcher (Betty Buckley) untuk berkonsultasi atau sekedar mengobrol.




Review

Setelah mencoba meninggalkan dunia thriller yang sebenarnya merupakan ladang bermainnya dan berakhir dengan mengenaskan, akhirnya M. Night Shyamalan sadar diri dan kembali ke ladang bermain sang sutradara supaya tidak segera ditinggalkan oleh penggemar setianya. The Visit yang rilis dua tahun lalu merupakan langkah pertama dari sutradara sebagai tanda dari comeback panjang yang telah dinanti-nanti oleh penggemarnya. Walau tanggapan dari kritikus mengenai film tersebut tidak terlalu memuaskan, tetapi paling tidak dengan film tersebut menunjukkan kembali kalau Shyamalan belum kehilangan sentuhan lama nya. Maka ketika rencana pembuatan film Split mulai terendus, apalagi terdengar kabar bila film terbarunya ini melibatkan karakter yang memiliki 23 kepribadian di tubuh satu orang, secara otomatis Split sangat dinantikan oleh para penggemar film sembari menebak-nebak twist apa yang akan terjadi di dalam Split.

Sebenarnya film mengenai karakter yang mengidap penyakit kepribadian ganda bukanlah inovasi yang baru karena 14 tahun lalu ada Identity yang mengambil cerita mengenai tokoh yang memiliki 10 kepribadian. Sempat terpikir memang twist yang ada di Split bakalan tidak akan jauh dari twist yang ditawarkan oleh James Mangold di Identity tersebut. Namun tampaknya saya terlalu meremehkan Shyamalan karena Split cukup berbeda dengan Identity. Bila ada yang sama, selain cerita tokoh pengidap DID (Dissociative Identity Disorder), yaitu cara Shyamalan menggedor narasi Split dengan menunjukkan kejar-kejaran antar pelaku dengan tiga korbannya.  Tetapi jangan salah, Shyamalan tetaplah Shyamalan ketika membicarakan mengenai bagaimana ia menggulirkan plot nya. Shyamalan tetap menggulirkan plot filmnya dengan perlahan seperti film-film yang ia sutradarai dengan genre sejenis sebelumnya, malah cenderung terlalu perlahan bahkan, yang jujur seringkali membuat saya kebosanan saat menontonnya.  Padahal kala mengetahui sinopsisnya berdekatan dengan ilmu psikologi, saya telah memasang ekspektasi saya akan sajian film yang berat narasinya.  Tetapi dialog-dialog berbau ilmu psikologi tersebut, ditambah jalan ceritanya yang begitu lambat sering menggoda saya untuk menyerah menonton film ini.

Di dalam Split juga memiliki 3 narasi yang seolah berdiri-diri sendiri, terutama cerita masa kecil Casey, yang akhirnya akan bertemu di akhir cerita. Dalam 117 menit, ada cerita usaha dari 3 gadis untuk kabur dari jeratan penculik, pertemuan antar dokter-pasien dan itu tadi, masa kecil Casey yang ternyata memiliki misi tersembunyi dari Shyamalan untuk mengakhiri kisahnya. Dalam perjalanan narasinya itu, sedikit demi sedikit kita mempelajari mengenai penyakit yang diidap oleh karakter yang diperankan secara brilian oleh McAvoy tersebut, bersamaan juga dengan motifnya dalam menculik tiga gadis belia tersebut. Nuansa horor tetap mencekam, suasana klaustrofobik pun juga terasa saat Shyamalan memindahkan narasinya ke usaha tiga gadis itu mencoba kabur, walau memang keseruannya tidak terlalu mampu mencengkram atensi saya.  Hingga kala Split mulai mendekati akhir kisahnya, barulah keseruan cukup terasa dengan adegan kejar-kejarannya. Shyamalan juga membalut adegan kejar-kejaran itu dengan menggabungkan beberapa elemen, seperti klaustrofobik, gelapnya pencahayaan untuk meningkatkan kengerian yang ada, hingga keputusan Shyamalan yang secara mengejutkan tidak terlalu pelit dengan darah. Oh, tidak lupa juga Shyamalan mengungkapkan fakta berkenaan dengan cerita masa lalu pemuda tersebut. Split pun ditutup dengan mengejutkan, yang mengundang beberapa spekulasi berkenaan dengan film-film Shyamalan selanjutnya.

Dibebani dengan pekerjaan berat, rupanya malah memberikan kesempatan bagi James McAvoy menunjukkan kemampuan aktingnya. Bukanlah perihal mudah dalam memerankan beberapa kepribadian yang berbeda. Yang paling memorable mungkin adalah saat ia memerankan karakter Hedwig yang childish, lengkap juga dengan jaket kuningnya yang membuat Hedwig sangat nempel di benak saya. Kehebatan McAvoy terlihat saat dia memperlihatkan beberapa kepribadian sekaligus dalam durasi yang singkat. Perhatikan transformasinya dari kepribadian A ke B dengan sangat halus. Tidak hanya McAvoy, aktris muda Anna Taylor Joy (she's really hot here, btw) pun kembali membuat saya kagum dengan bakat aktingnya yang tidak bisa diremehkan. Bukan tidak mungkin dirinya akan mengikuti karir bagaikan Jennifer Lawrence dengan mendapatkan piala Oscar di usia yang cukup muda bila Anna tetap membintangi film yang memiliki naskah yang kuat.

Split jelas langkah comeback sempurna dari Shyamalan dan merupakan hadiah penantian yang indah dari dirinya untuk para penggemarnya yang tetap setia dan percaya dengan kemampuan Shyamalan. Dengan penampilan kuat dari McAvoy dan Anna Taylor Joy, serta penceritaan yang cukup rapi dari Shyamalan, lengkap dengan atmosfir horor nya yang cukup kental, Shyamalan berhasil memperbaiki nama nya yang sempat tercoreng beberapa tahun lamanya dan saya pribadi sangat menantikan rencana besar Shyamalan yang ia ungkapkan di detik-detik akhir dalam film ini.

7,75/10

Lanjutkan membaca bila kalian telah menonton film ini dan tidak mengerti mengenai shocking revealed yang dilakukan Shyamalan mengakhiri kisah Split

Apabila kalian memang tidak mengerti apa maksud dari ending nya yang berhasil membuat saya teriak "HOLY SHIT!", saya sarankan tontonlah film Shyamalan berjudul Unbreakable yang dirilis tahun 2000. Genre nya sedikit mengenai superhero tetapi dengan rasa yang berbeda. Saya sangat menantikan bagaimana Shyamalan menyatukan kisah dua film ini, dan jangan tanya lagi antisipasi saya mengenai bertemunya karakter David Dunn dan Kevin. Tertarik juga karakter pengaruh Mr. Glass dan Casey di sekuelnya nanti.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!