Thursday, 29 September 2016

This job... we try to save as many people as we can. Sometimes that doesn't mean everybody. But if we can't find a way to live with that, next time... maybe nobody gets saved.- Steve Rogers

Plot


Akibat insiden yang terjadi di Sokovia yang memberikan kerusakan yang begitu besar, belum termasuk para korban jiwa, para pemimpin dunia pun mengambil keputusan untuk membatasi gerak gerik The Avengers. Keputusan tersebut makin diperkuat setelah apa yang terjadi di Lagos, Nigeria dimana korban kembali jatuh di tengah anggota Avengers beraksi. Namun, peraturan yang dinamakan Perjanjian Sovokia tersebut membelah pendapat yang terjadi di dalam tubuh The Avengers. Sang Captain America, Steve Rogers (Chris Evans) enggan untuk menyetujui perjanjian tersebut karena menurutnya dengan adanya perjanjian tersebut, Steve Rogers takut apabila kekuatan The Avengers hanya akan dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh pemerintah. Di sisi lain, Tony "Stank" (Robert Downey Jr.) merasa perjanjian tersebut adalah keputusan terbaik sebagai bayaran atas tindakan mereka selama ini yang harus diakui menelan banyak korban dan juga menimbulkan kerusakan. Hubungan mereka semakin parah ketika sahabat Steve, Bucky "The Winter Soldier" Barnes (Sebastian Stan) dituduh sebagai dalang utama dari bom yang terjadi di Vienna, Austria. Tanpa mengetahui bahwa dalang semua yang terjadi adalah akibat dari tindakan Baron Zemo (Daniel Bruhl) yang memiliki misi rahasia tersendiri.





Review


Semenjak kursi persutradaraan serial Captain America diambil alih oleh Anthony dan Joe Russo pada tahun 2014, kualitas penceritaan dari Captain America meningkat drastis. Mereka memberikan nafas baru di kesempatan pertama mereka pada Winter Soldier 2 tahun lalu. Dan hasilnya, sangat memuaskan. Sedikit memberikan nafas kelam, kedua sutradara tersebut berhasil memanfaatkan karakter dan kekuatan Captain America untuk menunjang penceritaan film itu. Banyak yang berpendapat bahwa film tersebut merupakan yang terbaik dalam Marvel Cinematic Universe (MCU).  Ekspektasi tentunya membumbung tinggi kala mereka kembali dipercayakan untuk menahkodai film Captain America selanjutnya. Tetapi, tantangan terbaru untuk mereka tersebut tentu tidak mudah. Tidak seperti Winter Soldier, dalam tantangan terbaru mereka yang berlabel kan Civil War ini banyak sekali karakter-karakter yang akan dilibatkan. Bahkan bisa dibilang, ini adalah film The Avengers itu sendiri. Tidak hanya melibatkan karakter yang telah ada, tetapi Civil War juga memiliki tugas untuk memperkenalkan dua karakter superhero baru di dalamnya. Tugas yang sangat sulit ditambah ekspektasi yang dibebankan kepada dua sutradara tersebut. Namun, tampaknya Anthony dan Joe Russo juga telah mempelajari dengan baik screenplay yang diajukan oleh Christopher Markus dan Stephen Mcfeely sehingga tidak hanya Civil War mampu mengungguli kualitas predesornya yaitu Winter Soldier, tetapi Civil War adalah film terbaik dari Marvel hingga saat ini. Hell, Civil War is one of the best (superhero) movie i’ve ever seen. Period.
Civil War sendiri merupakan kisah pertama setelah The Avengers: Age of Ultron yang sedikit mengecewakan tersebut. Keberhasilan pertama Captain America: Civil War adalah dalam segi penceritaan. Dasar penceritaan Civil War adalah bagaimana pertempuran yang melibatkan para anggota The Avengers selain memberikan kedamaian, tetapi di balik itu pula terdapat berbagai kerugian baik materil maupun nyawa-nyawa yang terlibat di dalamnya. Apakah kehadiran The Avengers benar-benar memberikan keuntungan atau malah sebaliknya, kerugian? Apakah The Avengers masih dibutuhkan? Hal itu di angkat dalam Civil War sebagai penggerak cerita. Konflik yang terjadi di antara para anggota The Avengers pun bisa dipahami mengingat mereka memiliki pendapat dan tentu ego nya masing-masing. Menurut gw, setelah Iron Man, tema yang diangkat Civil War adalah yang paling dewasa dibandingkan film-film keluaran MCU lainnya.  Tetapi, hey, ini adalah film keluaran Marvel, bukan DC. Harus tetap ada sisi enjoyable di filmnya. Untungnya, kedua Sutradara masih mengerti akan hal itu dan mampu menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Masih ada pertukaran dialog yang mampu menggelitik, terutama dari sang bintang dalam film ini, siapa lagi kalau bukan Spider-Man. Percakapan nya dengan Tony Stark merupakan salah satu highlight tersendiri dari film ini.
Screenplay yang ditawarkan Christopher Markus dan Stephen Mcfeely mampu membuat penonton memahami motif dari Steve Rogers serta Tony Stark. Mungkin banyak bagi para penonton menghakimi bila keputusan Steve Rogers untuk menentang sebagian anggota The Avengers “hanya” demi menyelamatkan sahabat lamanya yaitu Bucky dari buruan pemerintah setelah ditetapkan menjadi tersangka utama dalam kasus bom di Vienna, berlebihan. Tetapi, dialog yang dilontarkan nya di pemakaman Margareth “Peggy” Carter adalah alasan yang memang harus diakui cukup kuat. Setelah kematian Peggy, Bucky adalah satu-satunya sisa sejarah yang dimiliki oleh Steve Rogers. Sehingga ketika sang Captain America berani mengambil risiko besar dengan menentang pemerintah dan anggota The Avengers yang berlawanan pendapatnya, hal itu cukup dimaklumi. Alasan Steve Rogers menolak untuk mendukung perjanjian Sovokia bisa dimengerti mengingat karakter Captain America yang sedari awal memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Di sisi lain, alasan Tony Stark mendukung keputusan PBB untuk  mengawasi dan mengendalikan The Avengers juga tidak bisa disalahkan. Berbagai kerusakan yang telah diciptakan oleh aksi The Avengers serta kedatangan langsung “tamu” seorang ibu dari salah satu korban tentu memberikan dampak psikis bagi Tony Stark sehingga dia tidak ingin aksi The Avengers kembali menelan banyak korban. Problema dilematis inilah yang membuat penonton atau bahkan para penggemar komiknya pun sulit untuk mendukung pihak mana yang benar.
Satu hal yang jarang dilakukan oleh studio Marvel adalah keputusan mereka untuk casting pemeran karakter untuk film mereka. Dalam Civil War, terdapat dua karakter superhero baru, yaitu Black Panther yang diperankan oleh Chadwick Boseman dan Tom Holland memerankan karakter superhero favorit banyak orang, yaitu Spider-Man. Mereka berdua memberikan first impression yang baik untuk penonton. Black Panther yang badass dalam tiap aksinya, serta Spider-Man yang seperti yang kita ketahui banyak berkomentar dalam pertempuran (disinggung oleh Tony serta Sam). Lalu di pihak villain yang sebenarnya dalam Civil War, yaitu Daniel Bruhl sebagai Helmut Zemo yang merupakan otak dari perpecahan antara sang Kapten dan sang Billioner. Pada awalnya, gw khawatir bila karakter ini akan jatuh seperti Lex Luthor di Batman V Superman: Dawn of Justice, tetapi motif sebenarnya yang ia ungkapkan pada penghujung cerita malah membuat penonton sedikit bersimpati dan memahami agendanya tersebut. Ya, kembali aksi sang The Avengers menimbulkan sosok dendam yang menguasai karakter Zemo. Ditambah lagi akting dari seorang Daniel Bruhl yang tidak perlu diragukan lagi berhasil menyelamatkan Zemo dari gempuran-gempuran karakter lainnya yang tentu memiliki keunikan jauh lebih menarik darinya sehingga setiap menit Zemo muncul di layar, penonton tetap tertarik untuk mengikutinya. Apakah masih ada yang terlupa? Oh ya, kehadiran Aunt May (Marisa Tomei) yang jauh lebih....ngg...muda itu memberikan sebuah hiburan tersendiri, ditambah Tony Stark yang selalu menyinggung nya dalam dialognya dengan Peter Parker.
Action secquence nya? Sedari awal ketika Captain America dkk. beraksi untuk menghentikan Crossbones (Frank Grillo), kita telah disuguhkan menawannya kombinasi antara Captain America, Falcon, Black Widow dan (still, one of my favorite) Scarlet Witch. Dari hand to hand combat, kejar-kejaran dan juga menawannya sang Falcon menggunakan alatnya untuk terbang menghajar musuhnya. Dan setelah itu, adegan aksi nya sama sekali tidak ada yang mengecewakan dan puncaknya tentu saja pertempuran di bandara yang akan selalu dikenang sebagai momen mimpi basah para penggila komik superhero. Melihat sang “Spider-Ling” berayun kesana kemari, betapa badass nya Black Panther dan aksi-aksi superhero lainnya yang mampu mencuri perhatian dengan kelebihannya masing-masing, bahkan Hawk Eye pun memilik highlight nya sendiri. Dialog antara dirinya dengan Black Panther itu masih mengundang tawa bagi gw. Walau harus diakui, sosok Vision masih kurang menarik, paling nggak bagi gw. Oh, tidak ketinggalan, di adegan terakhir di bandara tersebut penonton masih diberikan sebuah kejutan.
Setelah momen bersejarah tersebut, gw sempat khawatir kalau Civil War akan sedikit menurun tempo nya dan diakhiri dengan anti klimaks, ditambah momen dimana Tony Stark menyusul Captain America karena telah sadar akan kesalahpahaman nya itu menurut gw sangatlah klise, namun ternyata gw terlalu meremehkan sang sutradara dan screenwriter nya. Third act nya, walaupun skala pertempurannya tidak besar, hanya mengandalkan hand to hand combat sebagai sajian utama, tetapi akuilah adegan akhir Civil War adalah momen yang paling emosional di dunia MCU. Sejak kapan kita melihat sang manusia besi bertempur dengan intens serta penuh emosi itu? Gw hanya mampu menyaksikannya dengan terperangah, ada rasa kagum serta ironis. Dipadu dengan scoring garapan Henry Jackman, momen threesome tersebut menjadi sangat menyedihkan, terlebih bagi mereka yang mencintai karakter Iron Man dan Captain America. Sangat dinantikan apakah The Avengers akan tetap beraksi tetap dengan sang kapten atau tidak.
Gw berada di pendukung DC Comic. Semenjak keberhasilan trilogy The Dark Knight, gw sangat berharap film-film yang dihasilkan DC akan sukses, dalam segi kualitas dan komersil. Tetapi harus diakui, film keluaran Marvel telah terlalu jauh unggul dari DC. Civil War merupakan sajian superhero blockbuster yang mampu memuaskan kalian, tidak perduli apakah kalian mengikuti kisahnya dalam bentuk gambar atau hanya visual, atau keduanya, kalian tetap akan merasakan kepuasan yang luar biasa. One of the best superhero movies. Period.

8,25/10

Monday, 8 August 2016


You should enjoy the little detours to the fullest. Because that's where you'll find the things more important than what you want.



Walau terhitung cukup lawas, tetapi gw rasa belum lah terlambat untuk mengulas ulang salah satu anime terbaik ini. Yap, Hunter x Hunter, yang menceritakan seorang anak muda berusia 12 tahun. Siapa yang menyangka kalau anime ini akan menjadi anime yang akan selalu dibicarakan dan selalu dinantikan kehadirannya kembali (HxH tamat di episode 148, dengan meninggalkan sejumlah misteri yang membuat penasaran).

Sinopsis

Gon Freecs bercita-cita untuk menjadi hunter, dengan tujuan utamanya yaitu untuk menemukan ayahnya, Ging Freecs yang meninggalkan Gon sedari kecil. Keinginan Gon ini sempat ditolak oleh Mitou, bibi Gon, karena menganggap menjadi seorang hunter sangatlah berbahaya untuk Gon. Tetapi Gon berhasil meyakinkan Mitou dan segera pergi dari Pulau Paus, tempat Gon tinggal, untuk mengikuti ujian menjadi hunter. Dari ujian hunter itulah, Gon bertemu dengan Kurapika, Leorio dan Killua, yang kelak akan menjadi sahabat terdekatnya.


Review

Harus diakui, cukup sulit untuk tenggelam begitu saja ketika baru memasuki episode-episode awal dari HxH.  Ceritanya belum begitu mengikat, sampai pada ketika karakter Hisoka muncul, baru lah gw mulai sedikit tertarik dengan HxH. Hunter Exam sendiri memang bukan arc favorit gw di HxH, tetapi sebagai landasan untuk menuju cerita ke selanjutnya, Hunter Exam sudah menjadi pondasi yang cukup baik. Sang writer seolah ingin memberitahu bahwa HxH memang bukan animanga yang berpusat akan pertempuran, tetapi strategi dalam setiap masalah.  Yang menjadi sorotan utama tentu saja hubungan antar 4 karakter utama, yaitu Gon, Killua, Leorio serta Kurapika. Penonton diajak mengetahui tujuan setiap masing-masing karakter. Tapi karakter Hisoka lah yang berhasil menjadi magnet terbesar HxH sedari karakternya muncul. Penuh misteri baik tujuan utama serta motivasinya, Hisoka sukses menjadi karakter terbaik di HxH.
Selepas Hunter Exam arc, bisa dibilang cerita dari HxH mengalami peningkatan dalam kadar kedewasaan serta memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri dalam setiap arc. Setiap arc memiliki momen-momen tersendiri yang bisa menjadi trademarck dalam tiap arc, sebagai contoh di Heaven’s Arena Arc dimana momen Gon berhasil menghantam muka Hisoka berhasil menjadi highlight tersendiri dan sangat berkesan.



Karakter-karakter baru yang muncul juga memiliki ciri khas masing-masing, terutama para anggota Gennei Ryodan yang muncul di Yorkshin arc. Dalam arc ini, Kurapika lah yang menjadi tokoh utama. Perkembangan karakter Kurapika sendiri tidak mengecewakan, dimana sisi gelap dari Kurapika ditampilkan disini dan membuat Kurapika tidak jatuh menjadi sosok protagonis dua dimensi saja. Tidak dapat dipungkiri, anggota Gennei Ryodan inilah yang membuat Yorkshin arc begitu dicintai oleh sebagian besar pecinta HxH. Togashi begitu detil menyematkan setiap ciri khas dari setiap anggota. Favorit gw tentu saja Feitan dan Lucifer. Sayangnya arc ini memiliki dua minus terbesar, yang pertama klimaksnya yang kurang mengena dan tidak memorable, dan kedua karakter Gon, Killua serta Leorio tampak hanya sebagai sidekick saja.



Apabila membicarakan HxH, tentu saja Chimera Ant arc harus ikut dalam pembahasan. Arc yang dianggap kontroversial dan cukup polarising ini memang sangat berpengaruh dalam peningkatan cerita dari HxH. Begitu banyak momen-momen yang memorable dari arc ini sehingga tidak heran banyak yang menganggap Chimera Ant arc adalah arc terbaik dalam sejarah HxH, atau bahkan dalam sejarah dunia anime. Karakter Gon yang pada awalnya kita kenal adalah karakter happy-go-lucky semakin terkikis di sini dan kita diperlihatkan sisi dark dari Gon. Dalam kualitas cerita, tentu Chimera Ant memiliki cerita yang jauh lebih kompleks dibandingkan arc yang lainnya. Ini bukan lah cerita standar Good guy vs Bad Guy, tidak, arc ini mencakup lebih luas dari itu. Arc ini mengajak kita untuk bercermin serta mempertanyakan diri sendiri apakah layak kita menganggap para semut chimera tersebut sebagai spesies yang jahat, apakah spesies manusia semakin hari semakin kehilangan rasa kemanusiaannya dengan mengatas namakan perdamaian, serta beberapa pertanyaan lainnya. Tidak hanya itu, motivasi para karakter utama disini untuk melawan semut chimera juga tidak luput dari fokus kita. Ambil contoh Gon dan Netero. Pada awalnya Gon memang ingin melindungi umat manusia dalam memerangi semut chimera, namun ketika Kite tertangkap dan jiwanya dalam kendali musuh, Gon lupa tujuan awalnya dan isi kepalanya hanyalah untuk menyelamatkan Kite, tanpa memedulikan resiko yang dihadapinya. Di sisi lain Netero hanya mengikuti perintah atasan dan terbujuk akan egonya yang ingin mencoba kekuatan dari sang raja. Yang menarik lagi adalah momen sebelum Netero duel dengan raja dari semut chimera, yaitu Meruem. Susah untuk mendukung Netero ketika kita melihat sang raja menunjukkan perubahan dari sosok monster menjadi lebih manusia. Duel antara Meruem vs Netero sendiri disajikan begitu berkelas, the definition of epicness.


Karakter Meruem sendiri merupakan salah satu aspek terbaik dari Chimera Ant arc. Pada awalnya, Meruem tidak lebih dari sosok monster yang tidak memiliki belas kasihan sama sekali, bahkan Meruem tidak segan membunuh para semut chimera lainnya, bahkan pengawal kerajaan pun tidak luput dari kekejaman Meruem. Tetapi karakter ini dari episode ke episode mengalami perubahan dari sosok monster ke sosok yang lebih manusia. Transformasi ini tidak dipaksakan dan mengalir meyakinkan.
Namun terlepas dari kelebihan-kelebihan di atas, gw pun memahami apabila ada beberapa penggemar HxH yang tidak menyukai Chimera Ant arc, bahkan cenderung membencinya. Memang sebelum kemunculan Neferpitou dan Meruem, Chimera Ant arc dimulai dengan cukup lambat dan karakter-karakter dari semut chimera sendiri tidak banyak yang menarik perhatian dan tidak meninggalkan kesan yang mendalam, sehingga cukup susah karakter-karakter tersebut untuk dinikmati sepak terjangnya. Praktis, hanya karakter Colt yang memiliki kedalaman karakter dan berbeda dibanding semut chimera yang lainnya. Kecuali Morel, pada karakter asosiasi hunter sendiri juga tidak terlalu menarik pada awalnya, sebelum memasuki penyerangan ke kerajaan. Pada plot menginvasi kerajaan tersebut, barulah karakter seperti Knuckle dan Knov sedikit mengalami peningkatan dan menarik untuk diikuti. Sub plot dalam Chimera Ant arc juga tidak bisa dibilang sedikit karena hampir semua karakter utamanya memiliki tujuan masing-masing. Chimera Ant arc sendiri memiliki lebih dari 70 episode, yang berarti Chimera Ant arc adalah arc HunterXHunter terpanjang. Gw sendiri cukup merasakan kebosanan ketika Gon dan Killua berlatih untuk memasuki wilayah NGL (wilayah yang dikuasai oleh semut chimera). Namun tidak dapat dipungkiri, arc inilah yang akan selalu diperbincangkan dan menjadi trademark tersendiri dari HxH.
Bila gw ditanya, mana yang terbaik antara Yorkshin dan Chimera Ant, gw lebih memilih Chimera Ant. Satu-satunya aspek yang membuat Yorkshin lebih unggul hanyalah karakter-karakter yang ditampilkan memang jauh lebih memorable (Gennei Ryodan Member). Namun dari segi kualitas cerita, yang jauh lebih melekat dalam pikiran, gw secara lantang memilih Chimera Ant yang lebih unggul.
Selain cerita, salah satu kekuatan besar dari HxH yang lainnya adalah chemistry antara Gon dan Killua. Mungkin memang sedikit berlebihan melihat kedekatan mereka, ditambah ada kalimat-kalimat yang sedikit mengarah ke gayness, tetapi pertukaran dialog, momen komedinya, setiap kerja sama yang mereka lakukan, semuanya hampir sempurna, dan ketika melihat momen di episode 147, penonton mau tidak mau merasakan keharuan menyaksikannya yang telah terlanjur tenggelam akan bromance kuat antara Gon dan Killua.
Kesimpulannya, untuk anime berjenis shounen, HxH cukup memberikan perbedaan dibandingkan anime-anime shounen yang lain. HxH lebih mengedepankan strategi daripada pertarungan. HxH juga memiliki karakter-karakter yang sangat menarik, terutama dari sisi antagonisnya. Salah satu anime terbaik dalam dua dekade terakhir.

Karakter

Seperti yang gw sebutkan diatas bahwa HxH dipenuhi dengan karakter-karakter yang sangat menarik dan memiliki ciri khas tersendiri.  Berikut 10 karakter terbaik HxH versi gw:

10. Pouf


Bisa dibilang, Pouf adalah satu-satunya dari 3 pengawal kerajaan yang tidak menunjukkan sisi kemanusiaan nya sama sekali. He’s pure evil, sehingga tidak sulit untuk membencinya. Tetapi disitulah daya tariknya, kesetiaannya yang begitu besar terhadap Raja membuatnya berani melakukan apapun untuk memenuhi obsesinya sendiri, yaitu membantu Raja untuk menguasai dunia. Bisa dibilang, Pouf merupakan pengawal kerajaan yang paling pintar diantara Pitou dan Youpi.

9. Ging Freecs


Dalam dunia anime, sudah hal yang lumrah apabila sosok ayah dari karakter utama memiliki suatu aspek yang khusus yang membedakan dirinya dari karakter lainnya. Ayah dari Naruto yaitu Minato adalah Hokage termuda serta pahlawan bagi desa Konoha. Ayah dari Luffy, Monkey D Dragon adalah sosok penjahat yang menggerakkan revolusi dari setiap kerajaan sehingga pemerintah menetapkan dirinya sebagai penjahat paling dicari dalam dunia One Piece. Masing-masing dari mereka memiliki kharisma yang sulit untuk tidak terpesona. Tetapi sosok Ging berbeda. Memang Ging digambarkan merupakan hunter terkuat, tetapi di episode-episode terakhir, gw terkejut melihat karakter Ging yang biasa saja, sama sekali tidak memiliki kewibaan yang membuatnya dibenci oleh hunter lainnya (scene dimana Ging bilang sibuk ke Gon buktinya XD). Hal ini membuatnya membedakan dengan karakter ayah dari anime sejenis. Keunikan ini lah yang membuat gw memasukkan Ging sebagai salah satu karakter terbaik di HxH.

8. Neferpitou


Pengawal terkuat dibandingkan Pouf dan Youpi. Nen nya sendiri mampu Gon, Killua, serta yang lainnya tidak berkutik, dan berkat nen nya juga lah kerajaan yang dikuasai oleh Raja tidak berani diusik oleh Gon dkk. Merupakan musuh yang tepat untuk Gon, dimana Gon harus memaksakan dirinya untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga terancam tidak bisa menggunakan nen lagi seumur hidupnya.

7. Gon


Tidak dipungkiri, karakter Gon memang seperti karakter-karakter anime shounen sejenisnya. Semangat, memilki pemikiran everything-is-gonna-be-alright nya yang membuat karakter ini sedikit tenggelam bila disandingkan dengan karakter-karakter yang jauh lebih menarik. Tetapi, memasuki pertengahan Chimera Ant arc, Gon mengalami perubahan yang cukup signifikan. Karakter Gon mengalami degradasi dalam hal pikiran positifnya dan tenggelam ke dalam sisi kegelapannya, yang justru membuat karakter ini jadi lebih keren dan layak masuk list ini.

6. Chrollo Lucifer


Pemimpin dari organisasi Gennei Ryodan. Lucifer memiliki buku yang mampu menyimpan data setiap jurus dari musuhnya. Kemampuan Lucifer digambarkan sangat hebat sehingga Hisoka pun sangat penasaran ingin bertarung dengan dirinya. Sayangnya karakter ini belum terlalu ditunjukkan kekuatan maksimalnya, dimana nen nya disegel oleh Kurapika yang membuat Yorkshin arc berakhir datar atau anti klimaks.

5. Feitan


Tidak sulit untuk jatuh hati dengan karakter ini. Feitan memiliki sifat yang kalem, tenang serta memiliki kekuatan yang hampir setara dengan Lucifer. Selain itu, Feitan adalah anggota Gennei Ryodan yang memiliki penampilan yang paling menarik, menambah sisi misteriusnya karakter yang menjadi sangat kuat bila dalam keadaan terdesak.

4. Kurapika


Kurapika sebenarnya berpotensi menjadi karakter terbaik nomor dua setelah Hisoka, namun screen time Kurapika yang terbilang cukup minim yang membuatnya harus rela berada di posisi ke 4. Bisa dibilang diantara 4 karakter utamanya, Kurapika lah yang paling dewasa serta paling tenang, terutama setelah menguasai nen. Kekuatan Kurapika sendiri yang paling mengerikan di antara keempat orang tersebut. Gw selalu menyukai momen dimana mata Kurapika menjadi merah dan, yah, shit happens when he’s eyes turns to red.

3. Meruem


Seperti yang gw bilang diatas, salah satu aspek terbaik di Chimera Ant arc adalah character development dari Meruem, one of the most overpowered characters in anime. Siapa yang menyangka bila karakter yang benar-benar pure monster ketika muncul pertama kali ini, menjadi karakter yang memiliki momen kematian paling menyentuh di seri HxH. Mungkin ini baru pertama kali gw netesin air mata untuk kematian villain dalam sejarah anime.

2. Killua


Susah untuk tidak jatuh cinta terhadap karakter Killua. Karakternya bisa dibilang berbanding terbalik dengan Gon, namun justru disitulah letak menariknya karakter yang merupakan salah satu dari keluarga Zoldyck ini. Beda dengan Gon, Killua mendapatkan pengembangan karakter yang mengesankan dari setiap arc, dimana pada awalnya Killua terlihat kaku dan kurang bisa bersosialisasi, hingga menjadi individu yang memiliki rasa persahabatan yang kuat dan mau berkorban untuk orang yang berarti untuk dirinya.

1. Hisoka


Tidak perlu banyak penjelasan, Hisoka adalah karakter terbaik di HxH. Setiap kemunculannya memiliki daya magis tersendiri. Tujuan utama Hisoka sendiri adalah mencari lawan yang kuat yang mampu memuaskan dirinya. Hisoka bergabung dengan Gennei Ryodan hanyalah untuk bisa bertarung dengan ketua Gennei Ryodan, yaitu Lucifer. Hisoka penuh dengan misteri, yang membuat keputusan atau langkah berikutnya susah untuk ditebak. Itulah yang menjadi alasan kuat mengapa Hisoka merupakan karakter favorit gw. 


Top 5 Memorable Moment

Honorable Mentions

Netero vs Meruem
Kurapika kills Uvogin
Leorio and Ging, that punch
The Conversation between Father and Son
The birth of the King


5. Gon hits Hisoka

Merasa memiliki hutang pukulan dengan Hisoka, Gon pun berlatih untuk mampu menguasai nen. Gon pun memiliki kesempatan dimana dia bertarung dengan Hisoka dalam Heaven’s Arena. Dengan kecerdikan akan strateginya, Gon pun berhasil ‘melunasi’ hutangnya terhadap Hisoka.



4. Requiem by Gennei Ryodan



Salah satu invasi terkeren yang pernah gw saksiin. Dengan Lucifer sebagai maestronya, setiap anggota Gennei Ryodan menyerang setiap musuh mereka di Yorkshin City.

3. Meruem and Komugi’s death


“Oyasuminasai, Meruem”. Kematian seorang villain terbaik dalam sejarah anime. Meruem yang sadar waktunya tidak lama lagi, memilih untuk menghabiskan waktu terakhirnya bermain Gungi bersama Komugi, manusia yang berhasil menyuntikkan sisi humanis ke Meruem.  Kematian Meruem yang berada di pangkuan Komugi sendiri terlihat bagaikan sosok anak yang meninggal di hadapan ibunya. What a brilliant way to ending the epic story.

2. Gon’s Transformations


 
Gon benar-benar kehilangan kendali ketika mengetahui fakta bahwa Kite, orang yang sangat dihormatinya, telah tewas. Neferpitou, yang telah membunuh Kite, menyatakan akan membunuh Gon. Gon yang telah dikuasai akan dendam nya kepada Pitou, melepaskan semua nen nya dan bertransformasi menjadi sosok Gon dewasa, yang menurut Pitou, memiliki kekuatan yang setara akan Raja. Detik-detik Gon bertransformasi benar-benar digarap dengan baik oleh Madhouse sehingga momen tersebut jauh lebih memorable dibandingkan pertempuran Gon vs Pitou.

1. A Separation between Gon and Killua



Mungkin lebih ratusan episode kita mengikuti pertualangan Gon dan Killua sehingga kita telah terbiasa dengan kebersamaan mereka berdua. Jadi, ketika momen Gon dan Killua berpisah dan mulai menjalani perjalanan mereka masing-masing, mau tidak mau kita merasakan kehilangan begitu besar. Persahabatan Gon dan Killua adalah jiwa dari HxH. Flashback antara mereka berdua yang ditampilkan saat roll credit berjalan, menambah haru yang memaksa air mata ini mengalir.

Hunter Exam Arc = 7/10
Zoldyck Family Arc = 7,75/10
Heaven’s Arena Arc = 8/10
Yorkshin Arc = 8,75/10
Greed Island Arc = 7,5/10
Chimera Ant Arc = 9,25/10
Election Arc = 7,5/10

Final Score

8/10 + 1 (untuk karakter-karakternya yang sangat memorable, terutama karakter villainnya)

9/10

Tuesday, 29 March 2016


"We know better now, don't we? Devils don't come from hell beneath us. They come from the sky"- Lex Luthor

Plot

Pertempuran masif antara Superman (Henry Cavill) melawan General Zod (Michael Shannon) menyisakan sebuah luka besar bagi kota Metropolis. Banyak korban berjatuhan dan juga pastinya banyak kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat pertarungan antar dewa tersebut. Salah satu yang terkena dampaknya adalah Bruce Wayne (Ben Affleck) dimana dia harus rela akan kehilangan gedung perusahaannya serta menjadi saksi beberapa korban yang diakibatkan akan pertarungan tersebut. Semenjak itulah Bruce menganggap bahwa keberadaan Superman merupakan ancaman bagi dunia dengan kekuatannya yang tidak tertandingi tersebut. Untuk itu dengan identitas lainnya sebagai Batman, Bruce mencari cara supaya mampu menghentikan langkah Superman. Disisi lain, ada Lex Luthor (Jesse Eissenberg) yang secara diam-diam memanfaatkan momen pertikaian antara Superman dan Batman tersebut.





Review

Okay, here it is.. The most talking movie for recently years, the most anticipated movies of this year, dan berbagai kalimat hiperbolis lainnya yang memang layak disandang film yang disutradarai oleh Zack Snyder ini. Mungkin mempertemukan para superhero bukanlah ide yang baru lagi mengingat The Avengers yang tidak diragukan menjadi pionir akan hal tersebut, namun siapa yang tidak tergiur melihat dua pahlawan yang telah memiliki nama besar baik di dalam dunia film maupun dunia komik ini bersatu dalam satu frame? Siapa yang tidak tergiur melihat dua pahlawan masa kecil ini berkerja sama dalam melawan musuh mereka dalam dunia film, bukan lewat yang media nya lebih kecil seperti kartun? Semua hal yang menjanjikan ini sendiri bagai dua mata pedang bagi Zack Snyder. Di satu sisi, film ini dijamin hampir 100% akan mendulang sukses, namun di sisi lain beban yang diemban oleh Zack tentunya sangat besar. Terbukti berbagai komentar-komentar miring telah didaratkan oleh para pecinta film, baik mengenai trailernya yang kurang menjanjikan ataupun terlalu banyak menebarkan berbagai petunjuk-petunjuk penting (yang paling disayangkan adalah terungkapnya Wonder Woman yang hadir dalam film ini), maupun pemilihan cast yang sedikit menuai kontroversi, seperti contoh utama adalah Ben Affleck yang dipercaya untuk menjadi salah satu superhero kesayangan kita, yaitu Batman. Ya, Ben dipaksa harus menerima berbagai komentar-komentar miring akan keputusan tersebut walaupun sebenarnya Ben telah menunjukkan kapasitas aktingnya lewat Argo dan juga Gone Girl. Kapasitas sutradara Zack pun juga kembali dipertanyakan setelah karya nya yang paling anyar yaitu Man of Steel kurang mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus. Buruknya lagi, dari pihak rival, keberhasilan Marvel Cinematic Universe juga telah mematok standar yang tinggi bagaimana film bersatunya superhero itu dibuat sehingga banyak yang meragukan akan kualitas film pembuka akan Justice League ini. Lalu, apakah keraguan mereka terbukti?

Mari kita buka dengan berbagai hal positif dahulu. Batman vs Superman: Dawn of Justice (selanjutnya akan gw singkat BvS) didanai dengan nominal yang tidak main-main, yaitu kurang lebih $250 juta. Dan Zack Snyder memang telah terbukti sebagai sutradara yang mampu mengoptimalkan dana yang telah diberikan tersebut. Lihatlah berbagai efek visual yang mengagumkan dalam film ini. Tidak perlu menunggu lama, opening nya saja telah memperlihatkan indahnya pengambilan gambar. Gw menyukai momen dimana Bruce (secara absurd) terbang dengan beratus-ratus, atau bahkan ribuan, kelelawar yang mengelilinginya. Adegan slow motion ketika kedua orang tua Bruce terbunuh pun cukup memanjakan mata, mengingatkan gw akan opening Watchmen yang brutal serta indah dengan lagu Bob Dylannya itu (one of my favorite opening movie). Tidak hanya dalam aspek visual, keahlian Zack lainnya adalah mampu mengemas action secquence baik dalam skala minor maupun masif.  Pertempuran yang kita semua nantikan antara Batman dan Superman di garap dengan maksimal oleh Zack. Zack tahu benar akan kelebihan masing-masing dari kedua superhero tersebut. Batman dengan gadget-gadget canggih serta kepintarannya, Superman dengan kekuatan fisiknya yang tidak perlu dijelaskan lagi dahsyatnya. Pertarungan antar superhero melawan Doomsday di third act pun tidak mengecewakan, dengan momen di mana munculnya Wonder Woman yang digarap dengan ikonik oleh Zack Snyder dengan bantuan iringan musik dari Hans Zhimmer yang memang tidak pernah mengecewakan. Percakapan antara Batman dan Superman setelah kehadiran Wonder Woman itu pun menambah betapa memorable scene tersebut. Sontak momen tersebut berhasil membuat reaksi “Wow” dari para penonton. Ah, andai saja pihak Warner Bros tidak teledor dan mengubah keputusan mereka supaya status Wonder Woman tetap rahasia dan tidak dihadirkan dalam trailer mereka, mungkin Bvs mampu mendapatkan rating yang lebih tinggi dari gw. Lalu mari kita bicarakan aspek akting. Pertama-tama, mari ucapkan selamat kepada Ben Affleck yang mampu mematahkan omongan-omongan merendahkan terhadap dirinya yang menjadi “the next Batman”. Ya, para haters tersebut mau tidak mau harus menelan ludah mereka karena Ben sanggup menghadirkan Batman yang tidak kalah brutalnya dengan Batman versi Christian Bale, dan juga mampu menjadi sosok Batman yang intimidatif dimana hal itu membuat sosok Batman bagaikan sosok mitos dan legenda yang bahkan melebihi sosok Superman. Ketika menjadi Bruce Wayne pun Ben tidak mengecewakan. Ben sukses menggambarkan sosok Bruce yang menyimpan kegetiran akan masa lalu dan berkharisma dalam waktu yang sama. Yap, pembuktian yang sekali lagi berhasil dari Ben Affleck setelah sebelumnya ia lakukan di film Gone Girl. Kemudian Henry Cavill juga masih terlihat meyakinkan lewat sosoknya sebagai Superman, walau memang harus diakui Henry Cavill masih belum terlihat menonjol ketika harus bermain dalam momen yang emosional. Oh tidak lupa juga Gal Gadot sebagai Wonder Woman yang sukses menjadi scene stealer dalam setiap penampilannya. Terutama ketika berkostum Wonder Woman yang digambarkan sedikit ada unsur badass di dalamnya. Jeremy Irons sebagai Alfred pun juga tampil memuaskan walau belum sampai di tingkatan Michael Caine.

Dan mari kita bahas aspek negatifnya yang memang harus diakui cukup mengganggu. Pertama-tama, silahkan teriakkan bahwa Jesse Eissenberg merupakan contoh villain yang buruk sebagai Lex Luthor. Mungkin maksud dari Zack memilih Jesse untuk peran ikonik seperti Lex adalah berharap supaya penonton akan dengan mudahnya untuk membenci karakter Lex yang memang unlikeable dalam konteks karakternya yang memang annoying. Tetapi dalam kasus Jesse, tidak hanya karakter nya yang annoying tetapi juga aktingnya yang, maaf, membuat penonton jengah melihat sosoknya tampil di screen. Ditambah dengan sosoknya yang terlalu cerewet untuk karakter Lex serta kurang berhasilnya Jesse menggambarkan kegilaan dari sosok Lex. Kegagalan demi kegagalan tersebut membuat para penonton tidak susah untuk memberikan label bahwa Jesse gagal sebagai Lex Luthor. Tampaknya bukanlah keputusan yang tepat untuk menyuntikkan dosis elemen "Mark Zuckerberg-ism" ke dalam karakter Lex Luthor.
Tetapi dosa Jesse ini tidaklah sebesar dosa para writer serta Zack Snyder sebagai sutradara. Ya, salah satu masalah terbesar BvS  dan juga menjadi sasaran para kritikus adalah alur serta plot nya yang berantakan. Let’s honest, Zack Snyder memang bukan story teller sehebat Christopher Nolan yang mampu menggarap cerita dengan rapi walau dengan plot-plot yang bertumpuk. Kemampuan tersebut belum ada di dalam Zack Snyder. Walau telah dibantu oleh David S. Goyer yang merupakan salah satu penulis dari The Dark Knight trilogy serta Chris Terrio yang menjadi orang dibalik layar akan luar biasanya Argo, Zack juga masih kurang mampu membuat pergerakan plot BvS rapi. Hasilnya, BvS tertatih semenjak dari film mulai ke narasi awal. Ketika ada salah satu penonton yang bergumam “ini film ceritanya apa ya?” maka kalian tahu bahwa ada yang tidak beres dengan alurnya. Buruknya lagi, Zack membiarkan beberapa plot utama maupun subplot nya dibiarkan tanpa jawaban. Begitu banyak pertanyaan gw setelah menonton film ini. Serius, kalian akan juga merasakan hal yang sama seperti gw. Salah satu contoh utama nya adalah, apa motivasi Lex Luthor? Serta berbagai, yang bisa dibilang, plot hole bertebaran dalam Bvs. Apakah perlu mengajak Jonathan Nolan untuk menjadi screen writer juga?
Sayang sekali, tatanan premis yang awalnya tentu saja menjanjikan ini harus berakhir dengan cukup mengenaskan dalam hal penceritaan. Kuat dalam segi visual serta momen-momen pertempurannya, namun dalam penceritaan BvS menderita berbagai luka yang cukup parah untuk disembuhkan. Bukanlah awal yang baik tentunya bagi kisah Justice League untuk kedepannya.

6,5/10



Saturday, 19 March 2016


"Yo Dre. I got to something to say"- Ice Cube

Plot

Didasari dengan kondisi ekonomi yang seakan tidak membaik, Andre "Dr. Dre" Young (Corey Hawkins) mencetuskan sebuah ide untuk membentuk sebuah grup hip hop yang mengusung genre so-called-reality-rap. Dengan mengajak temannya yang juga pengedar narkoba, Eric "Eazy-E" Wright (Jason Mitchell) untuk membangun sebuah label bernamakan "Ruthless", lahir lah N.W.A (Niggaz With Attitude) yang langsung mencuri perhatian berkat lirik bikinan O'shea "Ice Cube" Jackson (O'shea Jackson Jr.) yang mengandung  begitu banyak swear words dimana kala itu cukup sulit untuk diterima oleh kalangan umum. Lagu-lagu mereka sendiri memiliki tema akan sebuah kejujuran betapa keras dan sulitnya perjalanan hidup mereka, serta mengekspresikan kebencian mereka terhadap para polisi yang sering bersikap rasis terhadap mereka.





Review

N.W.A mulai populer pada medio akhir tahun 1980an, dan karena gw bahkan belum lahir pada masa itu tentunya grup yang mempopulerkan Dr. Dre serta Ice Cube ini sangat lah asing untuk gw, terlebih gw sendiri bukanlah penggemar musik yang bergenre hip hop dan semacamnya. Jadi yang gw harapkan dari karya debut F. Gary Gray ini tidak lah lebih dari sekedar perkenalan lebih dalam dengan N.W.A. Menurut gw, sebagian besar penikmat film yang telah menikmati Straight Outta Compton pasti sepakat bahwa paruh pertama atau bagian dimana N.W.A mulai menapakkan karirnya adalah bagian terbaik dari film ini. Semuanya ditampilkan begitu jujur dan narasinya begitu rapi. Gw katakan jujur karena apa yang ditampilkan oleh F. Gary Gray bukanlah film biografi musikal seperti pada umumnya, melainkan seperti film gangster yang kebetulan adalah kisah nyata dari kisah lahirnya N.W.A. Dekatnya mereka dengan kriminal, drugs, serta kehidupan bebas ditampilkan begitu berani oleh sang sutradara.
Fokus masih tertuju terhadap N.W.A dengan Dr. Dre, Ice Cube, serta Eazy-E sebagai fokus utama. Para pemeran utama pun mampu menjaga chemistry nya sehingga kita pun ikut terbawa dengan kedekatan mereka serta juga menyayangkan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Singkat kata, paruh pertama ini membuat penonton terikat dengan grup N.W.A. Ada satu momen dimana salah satu anggota N.W.A mendapat kabar duka, dan disana lah kita bisa melihat betapa baiknya para aktor menciptakan sebuah chemistry yang tidak palsu serta tidak klise. Kalimat klise seperti "We'll always going to be brothers" yang dikeluarkan oleh Eazy-E bisa saja jatuhnya hanyalah kalimat klise biasa pada umumnya, tetapi sekali lagi berkat chemistry yang ada, kalimat tersebut menjadi kalimat yang memiliki makna yang dalam dan tidak lewat begitu saja. Oh, tidak lupa juga dengan konflik antara N.W.A dengan polisi setempat yang menginspirasi Ice Cube untuk menciptakan lagu yang (mungkin) paling populer serta juga kontroversial dalam perjalanan karir N.W.A. Ya, momen dimana polisi "mengganggu" mereka di pinggir jalan tersebut tentu saja membuat penonton geram serta tidak ragu untuk ikut meneriakkan "Fuck Tha Police" dengan lantang.
Namun sayangnya ketika perpecahan mulai terjadi, film pun mulai sedikit demi sedikit kehilangan daya tariknya dan disinilah mulai tampak apa yang masih harus dibenahi oleh sang sutradara debutan bila ingin menelurkan film-film yang berkualitas, yaitu bagaimana untuk membagi fokus cerita sehingga tetap rapi serta mempertahankan daya tarik film yang memiliki durasi yang panjang (SOC yang gw tonton adalah versi umum yang memiliki durasi 146 menit). Di paruh kedua cerita mulai bergerak ke arah perpecahan internal terjadi khususnya antara Cube, Dre serta Eazy yang juga merembet ke perseteruan antar penggemar mereka. Ada yang hilang di paruh kedua ini, padahal konflik-konflik yang coba diangkat oleh Gary Gray seharusnya mampu membuat cerita jauh lebih menarik untuk diikuti. Ya mungkin kekuatan utama film ini adalah hubungan antara para anggota grup yang begitu hangat yang ditampilkan pada paruh pertama, dan ketika terjadi perpecahan, daya tarik utama tersebut juga hilang. Tidak salah kalo ada di antara kalian mulai gelisah dan mengepoi jam di tangan kalian. Lebih buruk lagi, banyak momen-momen yang dibiarkan tidak dijawab (entah sengaja atau tidak) seperti apa kabar keluarga dari Dr. Dre? Bagaimana suatu kejadian tersebut sebenarnya terjadi? Semuanya menggantung. Untungnya pemeran-pemeran utama memiliki kemampuan akting yang memuaskan. O'shea Jackson Jr. tidak sia-sia mendalami peran ini selama 2 tahun (Ice Cube sendiri yang  meminta hal ini kepada anaknya supaya isu nepotisme mampu ditepis). Corey Hawkins juga tampil begitu baik sebagai Dr. Dre, tapi yang paling memuaskan bagi gw adalah Jason Mitchell sebagai Eazy E.
Tapi film musikal tetaplah musikal, tidak perduli betapa bagusnya sang sutradara menjalin cerita, tidak perduli para aktor nya bermain dengan baik namun apabila dalam musikal nya dinilai kurang tetap saja film tersebut berakhir mengecewakan. Untungnya F. Gary Gray menyadari hal ini. Sang sutradara menghadirkan beberapa momen-momen konser yang disajikan dengan meyakinkan. Kita pun diperlihatkan bagaimana hebat nya N.W.A mampu menghidupkan suasana konser baik dengan lagu ataupun hanya melalui speech dari salah satu anggota. Yang paling memorable pastinya konser di Detroit yang berakhir dengan kericuhan tersebut.
Sedikit keteteran di bagian akhir, tidak membuat film ini berakhir dengan mengecewakan. Sebuah biografi yang disajikan dengan jujur serta brutal dan tentunya sebuah karya debut yang tidak mengecewakan. Tidak mengherankan bila film ini akan menjadi cult suatu saat. This movie is still dope for me.


8/10


Saturday, 20 February 2016



"When I was small, I only knew small things. But now I'm five, I know everything!"- Jack

Plot

Menceritakan kehidupan seorang wanita (Brie Larson) serta anaknya yang telah menginjak umur 5 tahun, Jack (Jacob Tremblay) yang tinggal dalam ruangan berukuran kecil.




Review

Setelah membaca sinopsis dasar Room untuk pertama kali, gw praktis menobatkan Room adalah salah satu film yang harus gw tonton. Plot dasarnya sangat mirip dengan Oldboy (one of my favorite movies all time) yaitu mengenai manusia yang terkurung dalam ruangan kecil selama bertahun-tahun. Dan saat gw menyadari kisah nya berpusat akan hubungan ibu dan anak, gw telah mengantisipasi film yang diadaptasi dari novel karya Emma Donoghue ini sebagai sajian yang penuh akan pergulatan emosi.
Bila Oldboy menceritakan seorang pria yang ingin membalaskan dendamnya, Room jauh lebih sederhana. Ini hanyalah sebuah film dimana seorang wanita serta anaknya berusaha untuk mendapatkan kembali kebebasannya. Namun sebelum menuju kesana, kita pun akan diperlihatkan bagaimana kehidupan dari ibu-anak ini di dalam ruangan yang layak untuk disebut penjara tersebut. Dalam ruangan isolasi tersebut dipenuhi dengan interaksi yang tidak mudah terbaca dari Ma serta Jack. Terkadang mereka akrab, tapi satu menit kemudian ada sedikit letupan konflik di antara mereka. Sebuah hubungan yang malah aneh nya sangat menarik dan tidak biasa. Dan dari sana lah ikatan antara penonton dengan ibu-anak ini mulai terjalin hingga tentunya mudah mencapai ke tahap bersimpati akan keadaan mereka, apalagi ketika Ma (panggilan Jack terhadap Ibunya) menceritakan kepada Jack bagaimana mereka bisa hidup dalam ruangan kecil tersebut. Sulit membayangkan bagaimana kita, terutama untuk para perempuan.  berada di posisi Ma.
Memainkan emosi para penonton ini lah yang merupakan faktor utama Room menjadi sebuah sajian drama dengan bumbu thriller yang cukup melekat dalam benak penonton. Tentunya ini tidak lepas dari andil sang sutradara Lenny Abrahamson yang sukses dalam menangkap penampakan emosi dari para karakter nya. Lenny juga berhasil menggarap sebuah momen kecil tapi substansial dalam menggerakkan narasi. Sang sutradara jelas telah mempelajari dengan baik akan naskah yang ditulis juga oleh penulis novel nya sendiri, Emma Donoghue.
Film yang masuk dalam nominasi Best Picture Academy Awards ini tidak hanya menceritakan bagaimana perjuangan mendapatkan kebebasan. Room juga memperlihatkan bagaimana sewenang-wenang nya suatu penguasa sehingga gw berpikir Room bisa merefleksikan sebuah kelompok masyarakat atau negara yang di pimpin oleh penguasa yang terlalu memaksakan kehendaknya (ini kenapa jadi serius gila gini ya?). Setelah paruh awal berjalan, penonton kembali dihadapkan dengan beberapa pertanyaan dimana salah satu nya adalah mengenai arti serta makna dari kebebasan itu sendiri. Sehingga kita yang pertama berpikir film akan segera berakhir, namun mulai menyadari bahwa masih ada konflik yang harus dijalani oleh Ma dan Jack.
Chemistry antara ibu dan anak jelas merupakan kunci dari Room, dan Brie Larson serta Jacob Tremblay berhasil dalam menjalankan misi tersebut. Komunikasi antar mereka berdua sama sekali tanpa ada rasa kaku, semuanya mengalir apa adanya sehingga apa yang ditampilkan ini bukanlah komunikasi antara senior yang mempelajari sang junior berakting, tapi komunikasi antara ibu dan anak. Tetapi bukan berarti ketika mereka dituntut untuk berakting stand alone Room malah hilang daya tarik. Brie Larson sebagai Ma berhasil dalam memainkan karakter yang memiliki emosi yang sedikit tidak stabil. Karakter Ma mungkin terlihat tangguh di awal, tetapi lama kelamaan kita menyadari, ada bom waktu yang terdapat di dalam diri Ma yang bisa meledak kapan saja. Semua itu berhasil di visualisasikan oleh Brie Larson baik lewat tatapan mata nya maupun ekspresi muka nya. Sangat menyenangkan Brie Larson mampu menjawab tantangan ini setelah sebelum-sebelumnya aktris yang juga membintangi 21 Jump Street ini hanya mendapatkan peran-peran yang tidak menuntut kehebatan berakting. Namun kejutan terbesar pastinya ada pada sosok Jacob Tremblay.

Dari voice over yang muncul ketika film bergerak di awal saja sudah timbul keyakinan dalam gw kalau Jacob akan memberikan stand out performance. Dari berbagai permainan emosi yang ia keluarkan hampir semuanya begitu meyakinkan, baik berupa tangisan ataupun teriakan. Tidak hanya berhasil ketika beradu akting dengan Ma atau yang lainnya, tetapi Jacob juga mampu menampilkan akting yang memukau ketika ia harus dituntut untuk tampil di layar kaca seorang diri. Bagian terbaik Jack merupakan film mulai memasuki “chapter kedua”. Lihatlah ekspresi ketakutannya, kecanggungannya akan kehidupan baru nya, semuanya berhasil diperankan dengan sempurna oleh Jacob. Sungguh sebuah penampilan berkelas untuk bocah yang belum genap 10 tahun ini. Patut disayangkan dirinya gagal dalam mendapatkan nominasi Oscar.
Mungkin akan sedikit mengecewakan bagi penonton yang salah mengartikan “thriller” pada genre Room, karena Room pada dasarnya adalah sebuah drama yang menceritakan sebuah kebebasan itu tersendiri. Dengan permainan emosi yang berhasil di tampilkan baik dari para sutradara beserta kru ataupun pemeran nya, Room tidak hanya menjadi sebuah drama yang powerfull tidak mudah terlupakan, tetapi juga menjadi salah satu film terbaik di tahun 2015.
 

8,75/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!