Showing posts with label A24. Show all posts
Showing posts with label A24. Show all posts

Sunday, 9 February 2020

"This is me, all right? I'm not a fuckin' athlete. This is MY fuckin' way. This is how I win. All right?"

Plot

Memiliki usaha berlian sendiri, tidak membuat kehidupan seorang Howard Ratner (Adam Sandler) jauh dari kesulitan. Ia terbelit hutang dengan saudara ipar nya sendiri, Arno (Eric Bogosian) sebesar $ 100 ribu. Perihal tersebut semakin pelik kala Arno menyewa kolektor berperangai kasar, Phil (Keith Williams) dan Nico (Tommy Kominik) yang akan berbuat apapun demi mendapatkan uang pembayar hutang dari Howard. Howard bukannya tanpa usaha, dimana ia berharap berlian opal temuannya dari negara Ethiopia mampu terjual di harga kisaran $ 1 juta pada acara suatu lelang. Namun, niat Howard tersebut pun harus berbentur pula dengan keinginan atlit bintang bola basket dari Boston Celtic, Kevin Garnett (diperankan oleh Kevin Garnett yang asli) untuk membeli opal tersebut. Polemik Howard semakin dilengkapi dengan kehidupan keluarga nya yang sedang tidak baik-baik saja. Howard harus berpisah dengan istrinya, Dinah Ratner (Idina Menzel) yang menggugat cerai Howard akibat perselingkuhan Howard dengan Julia (Julia Fox) yang juga merupakan karyawan di toko berlian Howard.




Plot

Berdasarkan sinopsis yang saya tulis di atas, Anda mampu sedikit menangkap seperti apa film yang sudah tersedia di Netflix ini. Uncut Gems mengisahkan usaha dari suatu karakter untuk menyelesaikan masalah yang sedang menghimpit nya. Pergerakan narasi hampir semuanya berpusat pada Howard, sehingga layar akan didominasi oleh sosok nya. Berita buruk jika Anda merupakan haters dari Adam Sandler. Lagian jika Anda merupakan haters, ngapain juga untuk ikutan menyaksikan film ini. Anyway, duo Safdie (Benny-Josh) enggan untuk membagi permasalahan demi permasalahan Howard layaknya pembagian chapter dan lebih memilih untuk langsung menggabungkannya di setiap pergerakan narasi. Dibantu dengan pergerakan kamera yang cukup dinamis, lahir lah sebuah ketidak nyamanan akan sesak nafas akibat dari setiap keributan yang hadir di layar. Seriusan, hampir tiap menit dalam Uncut Gems itu kita harus melihat setidaknya satu karakter harus berteriak dalam pengucapan dialog, terutama tentu saja si Howard. Kalau bisa saya ingin kasih Adam Sandler seteguk gelas air minum untuk sekedar istirahat sebentar dari teriakan-teriakannya. Kalau Anda cukup teliti, Anda bisa menangkap jika suara Adam Sandler sendiri terdengar serak di beberapa adegan.

Uncut Gems memiliki dasar cerita sederhana memang, namun penyuntingan dari Safdie Brothers yang benar-benar menjadi pembeda. Berkat penyutradaraan mereka, adegan pintu tidak bisa dibuka saja tersaji dengan sangat intens, melebihi adegan dari film thriller di tahun yang sama. Itu hanya satu contoh saja, karena Uncut Gems dipenuhi dengan adegan serupa. Dan percaya atau tidak, Uncut Gems adalah film pertama keluaran dari A24 yang pergerakan narasi nya begitu cepat seperti ini yang saya tonton. Biasanya, film-film dari A24, seperti yang kita ketahui, pergerakan nya cukup lambat layaknya film indie atau film festival. Dengan fakta ini bagi saya memberikan kejutan menyenangkan juga. Membuktikan bila A24 juga mampu memproduksi film semacam ini. Percayalah, Uncut Gems akan memberikan sebuah sajian drama roller coaster yang berlaju kencang seolah tiada akhir. Masih ada beberapa momen "mengambil nafas" atau boleh saya sebut sebagai check point, sebelum nanti kita kembali ditempatkan pada sirkuit laju yang kencang. Yang lebih parah, kebanyakan momen intens dalam film ini bersettingkan di tempat yang sempit, seperti di dalam mobil dan toko kecil milik Howard. Tidak heran jika para pengidap claustrophobia akan tidak nyaman saat sedang menonton film ini.

Balik lagi ke cerita, poin dari Uncut Gems adalah untuk mengajak kita bagaimana seorang pria berusaha untuk memperbaiki semua masalah nya yang ada. Yang bikin gregetan adalah cara yang diambil oleh Howard untuk keluar dari permasalahannya. Bagaimana tidak gregetan jika ia masih saja mau mengambil risiko baru lagi sesaat setelah pintu cahaya untuk menuju jalan keluar hadir di depan matamya. Naskah yang mereka kerjakan bersama Ronald Bronstein ini ingin memperlihatkan jika kerakusan hanya akan menghadirkan persoalan yang baru lagi. Dan siapa tahu, jika Howard mungkin tidak akan bisa lari dari permasalahannya, tidak perduli seberapapun keras nya perjuangan yang telah ia lakukan. 

Harusnya dengan penggambaran karakter seperti ini, karakterisasi Howard berpotensi menjadi protagonist yang unlikeable. Namun fakta di lapangan justru sebaliknya. Memang, Howard jauh dari kata orang yang baik. Ia berselingkuh, hobi berjudi, pembual dan kasar, namun ia tetap adalah seorang family man yang mau berusaha sebaik mungkin untuk perduli dengan keluarganya, terutama anak-anaknya. Kita boleh menyayangkan setiap keputusannya, namun tidak berarti penonton bisa dengan mudah membenci nya. Untuk saya, selalu ada harapan jika usaha Howard setidaknya ada satu saja yang membuahkan hasil, setelah Howard senantiasa diterpa oleh konflik beruntun dalam hidup nya. Faktor akting Adam Sandler sendiri juga ikut berperan untuk penonton mudah mendukungnya. 

Sandler berhasil menggambarkan kecemasan dalam diri Howard, baik melalui amarah bahkan ketika menyetir mobil dalam diam sekalipun. Secara perlahan juga tersirat gambaran putus asa melalui ekspresinya, hingga nanti pada puncaknya tangisan pun akhirnya keluar dari Howard. Susah rasanya untuk tidak merasa kasihan saat dirinya tengah berada di posisi terpuruk seperti itu. Sandler kembali membuktikan jika ia merupakan aktor bertalenta. Meski saya juga kurang sependapat jika ini adalah penampilan yang groundbreaking karena menurut saya, kita memuji akting Sandler disini tidak terlepas juga akibat penampilan-penampilan buruk dari Sandler sebelumnya. 

Tidak hanya Sandler, penampilan dari supporting cast pun tidak boleh diremehkan. Julia Fox yang menjalani debut nya disini, tidak berakhir hanya menjadi eye candy saja berkat penampilan menawannya. Juga yang menjadi scene stealer adalah Keith Williams sebagai Phil, bodyguard kasar yang senantiasa memberikan teriakan-teriakan intimidatif untuk menakuti Howard. Kevin Garnett pun tidak mengecewakan dalam menjalani debutnya. 

8/10

Wednesday, 15 January 2020


"Damn ye! Let Neptune strike ye dead, Winslow! Haaark!"- Thomas Wake

Plot

Pemuda bernama Ephraim Winslow (Robert Pattinson) ditugaskan untuk mengoperasikan mercusuar di pulau terpencil di New England. Disana, ia akan ditemani dan diawasi oleh Thomas Wake (Willem Defoe), pria tua yang tampaknya telah lama bekerja di tempat tersebut.




Review

Bayangkan jika Anda diperintahkan untuk bekerja di tempat terpencil, hanya ditemani satu orang saja, melakukan pekerjaan berat layaknya kuli, dan parahnya, tanpa adanya hiburan teknologi dari smartphone mu, televisi, radio dan lainnya. Silahkan tanya diri sendiri, berapa lama Anda akan bertahan? Situasi ini lah yang melandasi sajian horror kedua milik Robert Eggers, setelah karya pertamanya, The Witch (2015), yang menyeramkan itu. Bila di karya debut nya, Eggers bermain dengan kutukan dongeng sihir, pada The Lighthouse, Eggers menampilkan kepiawaiannya dalam ngetwist psikologi karakter-karakter di film nya dengan menempatkan mereka pada situasi terisolasi. Dan karena masih bekerja sama dengan rumah produksi A24, jauhi harapan Anda bila ini adalah film konservatif seperti film horor psikologi pada umumnya. Siap-siap untuk mengantisipasi pergerakan narasi yang cenderung lambat, dan juga yang pasti akan kaya makna tersembunyi di dalam nya. Tentu film ini menantang kejelian serta kesabaran.

Eggers telah menanam bibit-bibit aura horor nya dengan terlebih dahulu memperkenalkan setting tempat yang akan menjadi panggung narasi nya. Dari deburan ombak kencang yang tak pernah berhenti, rumah tempat tinggal sementara untuk Winslow dan Thomas yang ala kadarnya dan minim pencahayaan, suara "misterius" yang memekakkan telinga, telah lebih dari cukup untuk menebalkan kesan terisolir pulau tersebut dengan dunia luar. Ditambah dengan film yang ditampilkan dalam balutan hitam putih untuk menambah kesan jadul, atau horor nya. Unsettling, tapi entah kenapa, perhatian saya telah terenggut sepenuhnya. Turut diselingi dengan sambutan dari Wake kepada Winslow yang tidak terlalu berkesan. Malam pertama Winslow semakin lengkap kala ia mengalami mimpi aneh yang melibatkan sosok mitologi di lautan (perhatikan poster film di atas).

40-50 menit awal film bergerak cenderung lambat dengan menyaksikan keseharian kedua karakter di pulau tersebut. Bisa jadi melelahkan, namun untungnya |Eggers masih berbaik hati untuk membangun perlahan konflik melalui interaksi antara Winslow dan Wake yang akan menjadi pusat nya. Karakter Wake sendiri memang bukanlah seorang atasan yang menyenangkan bagi pemula seperti Winslow. Banyak bicara dan selalu memerintah, ditambah lagi pembagian kerja yang ia berikan kepada Winslow juga tidak berimbang. Bila Wake bertugas di malam hari untuk merawat lampu mercusuar, sebaliknya, Winslow harus bekerja di pagi hingga siang dengan diberikan tanggung jawab atas pekerjaan-pekerjaan berat, seperti mengambil batu bara, membersihkan mesin jam, hingga harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu atau mengepel. Cobaan Winslow tidak berhenti di situ, dimana burung camar pun ikut-ikutan mengganggu hari-hari nya. Momen-momen ini memiliki substansi supaya penonton mampu memahami betapa berat dan tidak mengenakkannya keseharian Winslow selama bekerja di pulau tersebut.

Sampai ketika Winslow bangun di pagi hari setelah menghabiskan malam bermabuk-mabukan bersama Wake untuk merayakan kepulangan mereka, disitulah Eggers menaikkan tensi nya dengan menyajikan drama psikologi horor kepada penontonnya. Sebagai editor, Louis Ford menunjukkan taji nya disini. Penonton akan dibuat kebingungan mana fakta atau ilusi berkat editing nya. Parahnya lagi, kita juga tidak tahu harus percaya dengan siapa antara Winslow dan Wake. Point of view sedari menit pertama diambil dari Winslow, sehingga kita pun sulit untuk memegang sepenuhnya setiap ucapan dari Wake yang sering kali bertolak belakang dengan apa yang kita saksikan. Mempercayai Winslow pun bukan lah kebijakan yang tepat disebabkan kewarasannya yang semakin tergerus atas faktor tertekan dan kesepian yang melanda. Ya, sosok Winslow semakin lama semakin dikuasai oleh pulau tersebut. 

Hubungan antara Winslow dan Wake pun keanehannya berhasil membuat saya menggaruk kepala saya. Terkadang mereka menghabiskan waktu dengan pesta bersama sembari bersenda gurau, namun di lain kesempatan, tidak jarang terjadi adu mulut antar keduanya, dan semakin mendekati akhir, konflik antara mereka sudah masuk ke level baku hantam. Efektif sekali untuk menambah dosis ketidak nyamanan kepada penonton.

The Lighthouse disokongi oleh penampilan memikat dari Willem Defoe dan Robert Pattinson. Sebagai Wake, Defoe sukses memerankan karakter nya yang keras bagaikan seorang kapten bajak laut. Tubuhnya terlihat telah termakan usia, namun sosoknya layaknya raksasa ketika melontarkan perintah sehingga membuat karakter Winslow mau tidak mau menuruti perintahnya. Namun performa Pattinson patut menjadi highlight dalam film ini. Saya tahu jika Pattinson telah membuktikan dirinya mampu berakting di film-film sebelumnya (kecuali perannya di Twilight franchise), namun saya tidak mengira jika ia memiliki kapabilitas akting seperti yang ia tunjukkan dalam film ini. Kegilaan seorang Winslow ditampilkannya secara total. Simpati mudah diberikan untuknya kala ia berteriak penuh keputus asaan, walau akal sehat nya patut dipertanyakan. Lihatlah ekspresi nya di akhir film yang menyeimbangkan rasa sakit juga kegilaan.

8/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!