Showing posts with label Jennifer Lawrence. Show all posts
Showing posts with label Jennifer Lawrence. Show all posts

Wednesday, 13 December 2017




"What hurts me the most is that I wasn't enough"- The Mother

Plot

Pasangan suami istri (yang diperankan Jennifer Lawrence dan Javier Bardem) kedatangan seorang tamu tak diundang (diperankan Ed Harris) yang mengaku sebagai seorang dokter. Sang suami (next, I'll call him "the writer") secara sukarela menawarkan tamu tersebut untuk menginap di rumah nya yang tampak belum selesai dipugar. Sang istri (i'll call her "the mother" next) tidak sepenuhnya sependapat akan tawaran suaminya, namun dia akhirnya mau menerima tamu tersebut. Tanpa disangka bila kedatangan tamu itu akan menghadirkan kejadian yang tidak mengenakkan untuk mereka.




Review

Finally, I just watched the movie that everyone talked about. Yeah, not Justice League, but Mother!. Semua penikmat film di internet ramai membicarakan film ini, bahkan saat saya mengetikkan keyword Mother!, tanpa embel-embel apapun, page pertama yang ada di Google dipenuhi akan teori-teori penjelasan sebenarnya mengenai film yang disutradarai dan ditulis oleh Darren Aronofsky ini. Sebenarnya, nama Aronofsky saja telah lebih dari cukup untuk saya mengapa saya begitu ingin menyaksikan karya terbarunya ini, tetapi dorongan itu semakin kuat kala melihat fakta bila Mother! menjadi salah satu film yang paling ramai didiskusikan pada tahun ini. Dan setelah baru pertengahan film berjalan, saya telah menyadari mengapa hal tersebut dapat terjadi. Because this movie really really, REALLY fucked up. History saya dalam menyaksikan film memang tidak sebanyak penggemar-penggemar film lainnya, terutama film yang bisa dikategorikan disturbing, tetapi rasanya saya tidaklah hiperbolis jika saya menyatakan bila film ini adalah film yang memberikan pengalaman paling tidak mengenakkan untuk saya kala menyaksikannya. Percayalah, sekali lagi, saya tidak mencoba untuk berlebihan.  Awalnya saya yang hanya menyiapkan diri akan sajian konflik pada rumah tangga, malah diberikan akan sebuah pengalaman menonton yang, well, sangat disturbing.

Dari awal saja ketika film bergulir, penonton telah disajikan akan sajian gambar muka perempuan dengan mata terbuka, dibakar habis oleh kobaran api, sebelum menutup matanya, diiringi dengan tetes air mata yang mengalir di pelupuk pipi, sebelum judul film terpampang dilayar. Setelah pembukaan yang telah mengundang pertanyaan sebenarnya jenis film apa yang akan kita saksikan ini, Aronofsky memperlihatkan the writer meletakkan batu berlian di tempat khusus, yang kemudian disusul dengan penampakan rumah yang awalnya tampak habis hangus terbakar, mulai merekonstruksi ulang hingga tampak normal kembali. Hingga kita akan diperkenalkan dengan seorang perempuan yang baru terbangun dari tidurnya. Tentunya adegan yang memakan waktu tidak sampai 1 menit itu telah membuat saya penasaran apa makna dibalik kejadian itu. Disitulah sebenarnya Aronofsky telah memberikan satu bukti penting secara tersirat yang tentu saja hanya bisa dimengerti oleh bagi mereka yang selesai menonton karyanya ini. Berfungsi juga untuk memberikan alasan kepada penonton yang telah dihinggapi penasaran supaya berkenan menikmati filmnya hingga usai demi mendapatkan jawaban. 

Untuk pertama kalinya dalam berkomentar mengenai film, disin saya akan mengulasnya dengan mengambil dua sudut pandang, yaitu sudut pandang sebelum dan setelah mendapatkan jawaban yang saya dapatkan dari beberapa artikel di internet.

SEBELUM

Aronofsky telah menebarkan berbagai keanehan-keanehan dalam filmnya bahkan di awal-awal. Selain adegan 1 menit yang saya jelaskan di atas, keanehan-keanehan kembali menghinggapi terutama setelah pasangan yang menjadi pusat cerita kedatangan tamu. Dari keputusan the writer yang mengijinkan si tamu untuk menginap saja di rumahnya saja telah mengundang pertanyaan yang besar. Belum lagi tingkah pola tak biasa baik dari the writer juga si tamu. Penonton, yang hanya bisa menangkap segala kejadian berdasarkan sudut pandang dari the mother, tentu sama sekali tidak mengetahui arti dibalik itu semua. The mother tampak hanya bisa pasrah dengan segala keputusan yang diambil oleh sang suami, bahkan yang paling aneh sekalipun. Belum cukup keanehan akan kedua karakter itu, Aronofsky juga menyebarkan keping misteri nya dari sosok the mother sendiri yang sering mengalami kesakitan dan pusing mendadak. Nuansa horor begitu menyeruak disini yang diakibatkan oleh kegelisahan serta ketidak tahuan dari sosok the mother. Apa yang dirasakan oleh the mother tertular pula kepada penonton, yang membuat saya mengerti mengapa Aronofsky berulang kali mengambil gaya point of view yang hanya terpusat dari apa yang disaksikan oleh satu karakter utama. 

Atmosfir horor begitu kental terasa. Pada bagian ini, Mother! mengingatkan saya akan film indie tahun lalu, yaitu The Invitation. Bedanya, bila yang merasakan kegelisahan pada The Invitation adalah sang tamu, disini yang mengalami rasa itu adalah dari sosok tuan rumah, yaitu the mother.  Rasa tidak nyaman the mother kian bertambah kala rumah yang mereka tempati semakin ramai. Di momen ini pula, selain kepingan-kepingan misteri, penonton seolah tidak diberikan kesempatan untuk bernafas dengan nyaman berkat ketegangan-ketegangan yang terjadi. Belum sempat rasa tidak nyaman akan kedatangan tamu asing yang bertingkah begitu misterius dan memberikan kesan tidak menyenangkan, the mother juga harus terlibat kejadian demi kejadian yang mampu membuatmu sesak dan sekali lagi, sulit untuk bernafas. Editing dari Andrew Weisblum tentu berperan besar untuk membantu suasana tersebut. Memang terkesan rushing akibat pacing nya yang begitu cepat, dari satu adegan lalu ke adegan yang lain, tetapi hal itu sangat berpengaruh dalam mewujudkan atmosfir tidak mengenakkan itu.  

Bila membicarakan hasil karya Aronofsky, rasanya kurang lengkap bila tidak menyentuh ranah disturbing nya, dan atmosfir itu kita dapatkan di paruh kedua film berjalan. Percayalah, segala hal yang terjadi di paruh pertama tadi, ditingkatkan dosisnya beberapa kali lipat oleh Aronofsky. It's just extremely chaos, if I have to say to you. Rasa disturbing yang saya rasakan kala melihat Requiem for a Dream seolah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di paruh kedua ini. Saya tidak ingin mengganggu sensasi kalian yang ingin menonton, jadi bila kalian telah cukup penasaran, hentikan membaca dan segera tontonlah film ini. Kalian akan mendapatkan jawabannya sendiri bila saya tidak mencoba untuk berlebih-lebihan disini. 

Aronofsky juga terkenal dengan sutradara yang mampu memaksa aktor/aktris yang bermain dalam filmnya mampu mengeluarkan semua kualitas akting terbaik yang mereka punya. Setelah Ellen Burstyn, Mickey Rourke dan Natalie Portman, kali ini sang kekasih sutradara sendiri (atau udah jadi mantan ya?), Jennifer Lawrence yang menjadi "korban" nya. Saya menyukai Lawrence, tetapi saya juga terkadang menganggap para kritikus atau penggemar-penggemar film lainnya terlalu berlebihan dalam memuji performa Lawrence di film-film sebelumnya (aktingnya di American Hustle bagi saya cukup overrated). Namun tidak untuk disini, karena saya berani bilang, jika Lawrence, paling tidak, tidak masuk dalam nominasi Oscar kategori Best Actrees tahun depan, maka itu akan menjadi salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan oleh pihak Academy. Bahkan, akting nya disini saya rasa telah lebih dari cukup untuk Lawrence mendapatkan piala Oscar nya yang kedua. Disini, Lawrence bisa saya katakan keluar dari zona nyamannya. Dia tidak dimodali dengan dialog-dialog yang banyak, karena akting yang ia tonjolkan disini adalah lewat ekspresi mukanya. Dari ekspresinya, Lawrence memperlihatkan kegelisahan, ketidak nyamanan, hingga ketakutan dari apa yang dialami nya. Dibantu pula teknik pergerakan kamera yang senantiasa mengikuti dirinya kemanapun, hingga zoom kamera ke mukanya, ikatan antara penonton dengan the mother tercipta. Kita perduli akan dirinya, dan merasakan simpati mendalam kala dirinya seolah tidak dinilai keberadannya, bahkan untuk pertama kalinya, saya sampai trenyuh melihat karakternya disini. Penampilan Lawrence begitu totalitas disini (kayaknya dalam film, untuk pertama kalinya, Lawrence bersedia memperlihatkan payudaranya), dan menurut saya, inilah pencapaian terbaiknya dalam berakting. Aktor pendukungnya juga tidak kalah cemerlangnya. Javier Bardem tentu pintar dalam memerankan karakter yang misterius. Sebenarnya tidak salah jika kalian menganggap karakter the writer cukup mengesalkan disini (terutama mungkin untuk para perempuan), namun disisi lain kita juga merasakan kehangatan yang dipancarkan Bardem pada suatu adegan yang membuat saya cukup bingung apakah tepat untuk membencinya atau tidak, karena kita tahu, karakter Bardem lah yang memiliki kunci jawaban akan setiap peristiwa aneh yang terjadi di rumahnya. Ed Harris dan Michelle Pfeiffer pun juga tidak mau kalah, dengan selalu memancarkan atmosfir misterius dengan keberadaanya, terutama Pfeiffer.

Setelah dibuat sesak, tidak nyaman, juga rasa penasaran berlipat yang telah bertumpuk dari awal, saya mengharapkan jawaban dari Aronofsky. Dan ternyata, Aronofsky cukup pelit karena hingga film berakhir, bukannya jawaban, penonton malah disuguhkan oleh ending yang malah menggiring penonton kembali dihadang oleh pernyataan. Untuk itulah, setelah menyaksikan Mother!, tidak butuh waktu lama, saya membuka artikel demi artikel untuk mencari jawaban. Dan saya akan membahasnya sedikit dalam paragraf selanjutnya. Tentu saja pada bagian ini akan dipenuhi oleh spoiler.


SETELAH

Sekitar 2-3 website saya kunjungi yang menghadirkan teori berkenaan penjelasan apa maksud sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Aronofsky dalam Mother!. Dan dari website-website tersebut, jawaban yang paling memuaskan (bukan yang benar ya, karena sebagai penonton kita hanya bisa berintepretasi dengan segala kepingan-kepingan puzzle yang diberikan sang sutradara) adalah website ini. Buat yang telah menonton, silahkan menuju kesana, tetapi bila kalian cukup malas untuk mengklik link tersebut, mari saya jelaskan ulang sedikit disini mengenai penjelasan yang telah dipaparkan dan juga digabung dengan asumsi saya sendiri setelah membaca penjelasan tersebut.

Aronofsky ternyata bermain alegori disini, dimana ia menempatkan karakter the writer sebagai Tuhan dan the mother adalah hasil karya nya, yaitu Bumi. Kemudian, dijelaskan juga bila karakter-karakter seperti si tamu dan istrinya adalah representatif dari manusia pertama, Adam dan istrinya, Hawa. Kala membaca ini, saya rasanya bisa sependapat karena kisah keluarga mereka memang begitu mirip dengan kisah Adam dan Hawa. Bahkan konflik yang terjadi pada keluarga tersebut juga menghasilkan pembunuhan, yang berkaitan dengan kisah Qabil dan Habil. Lalu tulisan yang dibuat oleh the writer bagaikan kitab, yang kemudian melahirkan pendukung-pendukung (atau umat beragama) yang memuja the writer. Konflik luar biasa yang terjadi di rumah the writer dan the mother sendiri bagaikan menangkap sikap manusia yang doyan akan menciptakan keributan serta merusak apa yang telah dibangun oleh the writer, padahal the writer sendiri telah mengijinkan mereka untuk mengambil apapun yang mereka mau dari rumah tersebut. Namun, ternyata itu tidak cukup, hingga pada kejadian ini pula tampak Aronofsky ingin memperlihatkan ketamakan manusia. Di momen ini pula, kita melihat karakter the mother yang kehadirannya tidak dianggap oleh manusia, yang berakibat the mother tidak bisa apa-apa kecuali menyaksikan kekacauan yang diciptakan oleh manusia. Dari sini lah bagi saya tampak "keangkuhan" dari sang sutradara yang notabenenya adalah penganut atheis, yang mana ia berpendapat bila hadirnya suatu kepercayaan, hanya akan mengakibatkan keributan dimana-mana, seperti yang terlihat dalam film ini. Tidak hanya keributan tetapi juga akan fanatisme berlebihan yang berdampak akan kegilaan pada tiap individu melakukan seperti apa yang mereka percayai. Sebagai umat beragama, tentu saya tidak sependapat dengan apa yang ingin Aronofsky sampaikan disini, tetapi mari lah untuk tidak berlebihan dan anggap saja ini hanyalah film. Segala penjelasan tersebut memang cukup masuk akal dan memiliki korelasi nya dengan film, tetapi penjelasan ini juga tidak menjawab beberapa hal misterius yang terjadi dalam film ini, seperti apa poin keberadaan bayi disini? Apakah hal tersebut merepresentasikan tumbuhan yang lahir dari perut bumi? Lalu, apa cairan kuning yang kerap diminum the mother saat ia mengalami kesakitan? 

Mother! memang menawarkan banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang akan timbul dari setiap menit nya berjalan. Tetapi itu juga bagi saya merupakan poin positif terbesarnya. Belum lagi gabungan atmosfir horor, thriller juga kesan disturbing yang kental di paruh kedua, menjadikan film ini tidak mudah untuk terlupakan. Bukan karya terbaik dari Aronofsky, tetapi bisa jadi, inilah film Aronofsky yang akan terus diperbincangkan dalam kurun waktu yang cukup lama kedepannya. One of the most disturbing movie of the year.


8,25/10

Monday, 30 November 2015







“Ladies and gentlemen, welcome to the 78th Hunger Games”-Finnick Odair

Plot

Melanjutkan kisah Mockingjay Part 1, Para Pemberontak yang dipimpin oleh Presiden Coin (Julianne Moore, damn, she’s still really gorgeous) berniat untuk mengambil alih Distrik 13. Dengan bantuan sang Mockingjay, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence), sang presiden yakin apabila Distrik 13 bisa direbut maka tujuan utama melakukan kudeta terhadap Presiden Snow (Donald Sutherland) akan jauh lebih mudah. Tapi kondisi mental Katniss sendiri sedang tidak baik ketika melihat Peeta (Josh Hutcherson) malah berbalik memusuhinya akibat brainwash yang dilakukan Presiden Snow dan antek-antek Capitol nya




Review

Perlu gw tekankan, gw adalah salah satu penonton yang sangat menikmati dua film awal The Hunger Games, bahkan, sekuelnya yaitu The Catching Fire adalah salah satu film terbaik untuk film beradaptasi novel. Dalam  film tersebut, ketegangan yang didapatkan benar-benar intens, konflik politik dan segala tetek bengek akan propagandanya semakin dalam dan mudah dinikmati, karakter baru yang muncul begitu unik serta menarik dan tentu masih ada seorang Katniss dengan pidato yang penuh semangat dan bermakna yang berhasil membuat gw merinding (adegan ketika Katniss berpidato dan ada kakek tua yang berani mengangkat tangannya sambil menunjukkan simbol Mockingjay dengan jari nya itu adalah adegan terfavorit gw sepanjang franchise ini). Tetapi ketika pihak Lionsgate memutuskan untuk memisah sekuel terakhir dengan 2 bagian, di saat itu juga gw ragu apakah The Hunger Games akan mendapatkan penutup yang layak. Dan keraguan gw benar-benar terjadi, bukan saja Part 2 ini bukan penutup yang layak untuk franchise sebesar The Hunger Games, tetapi film ini juga menjadi film paling lemah di banding yang lainnya (yah, beda tipislah dengan Part 1).
Pada Part 1 pun telah terlihat jelas bahwa sang sutradara mengulur-ulur durasi dalam suatu adegan dan juga memasukkan adegan yang tidak penting (syuting Katniss, everyone?) tapi gw cukup menyukai drama politiknya. Karena Part 1 kebanyakan drama dan jalan menuju sebuah ‘ledakan’ pemberontakan, gw sebagai penonton awam yang hanya mengikuti franchise ini lewat sajian visual, gw pun mengharapkan kalau di Part 2 ini lah segala konflik yang ada disajikan dengan intensitas tinggi dan bermakna. Tetapi sayangnya semua harapan tinggallah harapan. Keraguan gw telah muncul ketika film telah memasuki setengah jam pertama. Begitu lambat dan tidak ada pertukaran dialog yang berhasil menarik perhatian, bahkan adegan ketika Katniss mengajak simpatisan Distrik 13 untuk melawan Snow pun begitu garing dan berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan kesan apapun. Gw tidak menyangka pidato sang Mockingjay bisa berakhir seperti itu. Untungnya setiap adegan aksi, Francis Lawrence berhasil menggedor adrenaline kita sebagai penonton. Adegan ketika para pemberontak dikejar dengan banjir oli atau lumpur hitam yang berbahaya, penyusupan ke Captiol dengan melewati bawah tanah hingga pertempuran dengan mutan, dan usaha diam-diam Katniss memasuki kerajaan Snow, semuanya berhasil ditampilkan F-Law dengan intensitas tinggi. Karakter-karakter yang ‘hilang’ di dalam adegan aksi itu pun tidak dibuat hanya berlalu begitu saja, dan sayangnya hanya itu nilai positif film ini. Ketika tidak ada adegan aksi nya dan hanya mengandalkan porsi drama, di saat itu pula Mockingjay Part 2 kehilangan greget nya dan sangat tidak menarik untuk diikuti. Jadi jangan heran apabila penonton di bioskop ada yang rela meninggalkan ruangan bioskop di pertengahan film. Bahkan ketika film telah bergerak menuju konflik akhir, tidak ada pergolakan emosi yang hadir dari para pemberontak, penduduk Panem, atau bahkan Katniss sehingga scene klimaks tersebut hanya berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan apapun. Lalu bagaimana dengan cinta segitiganya? Satu kata yang mampu mewakili setiap menit ketika film ini beranjak ke ranah percintaannya, Awkward. Gw sama sekali gak merasakan romansa di antara Peeta-Katniss-Gale. Antara Katniss-Gale pun hampir tidak ada chemistry  dan koneksinya  hampir kosong sehingga tidak tampak apabila mereka adalah sahabat dari kecil. Gw yang selalu bersimpati dengan cowok yang di friendzone malah gak ada rasa simpati atau kasian sama sekali ke Gale. Peeta-Katniss pun juga tidak jauh berbeda, ditambah dengan karakter annoying Peeta yang membuat gw berharap karakter ini ditiadakan (maaf, Mbak Niken :P). Dan juga gw gak menyangka apabila di film ini akan muncul sebuah adegan ciuman ketika situasi sedang genting, i mean, c’mon, is it really important to kiss someone when you are on live or die conditions??Fucking cliche.
Mengenai karakter, ada satu karakter yang semenjak kemunculannya sangat menarik perhatian dan pastinya mudah disukai, yaitu Finnick (Sam Claflin). Walau di dalam film ini perannya tidak terlalu menonjol, tetapi Sam Claflin berhasil membuat karakter Finnick menjadi scene stealer dan aktingnya tidak membuat para pria muak melihatnya.Ya, karakter-karakter side kick  The Hunger Games masih memuaskan seperti Haymitch (Woody Harrelson), President Snow (yang ditampilkan sedikit manusiawi) dan tentunya Plutarch yang diperankan alm. Philip Seymour Hoffman yang telah menjadi salah satu karakter terbaik ketika pertama kali muncul di Catching Fire. Bahkan komandan Boggs (Mahershala Ali) juga memberikan kekuatan performa maksimal di setiap kemunculannya. Poin utamanya, para karakter side kick berhasil menutupi kekurangan yang dihasilkan oleh 3 karakter utama dalam film ini. Jennifer Lawrence seperti biasa tidak mengecewakan, tapi tentunya karakter Katniss yang sangat loveable semenjak film pertama, mengalami degradasi kharismanya sehingga tidak terlalu banyak yang bisa J-Law lakukan selain berakting dengan maksimal (adegan meluapkan emosi di akhir film telah cukup membuktikan bahwa bukanlah sebuah kebetulan J-Law adalah pemenang Oscar serta Lionsgate beruntung Katniss diperankan oleh aktris berbakat seperti J-Law) dan fortunately, J-Law didn’t make Katniss to be the next Bella Swan.
Pada akhirnya, The Hunger Games: Mockingjay Part 2 tidak berhasil menjadi sajian penutup untuk sebuah franchise sebesar The Hunger Games. Kuat dalam action secquence, tetapi lemah dalam porsi drama serta pastinya percintaan, sehingga kok gw malah pengen ada part 3 nya?

                                                           6/10

 

 

Tuesday, 26 August 2014



The only way you can beat my crazy was by doing something crazy yourself. Thank you. I love you. I knew it the minute I met you. I'm sorry it took so long for me to catch up. I just got stuck.- Pat Jr.


Plot

Patrick Solitano Jr. (Bradley Cooper) mengidap penyakit bipolar, yaitu gangguan atas jiwanya yang terkesan tidak stabil, terkadang tenang namun dalam semenit kemudian bisa saja menjadi tidak terkendali walau hanya dengan hal sepele pun. Hal itu lah yang membuatnya harus menjalani rehabilitasi di suatu rumah sakit jiwa yang berlokasi di Baltimore. Tidak hanya itu, sebelum harus menghuni rumah sakit jiwa, Pat juga mengalami suatu konflik dimana dia harus menyaksikan istrinya Nikki (Brea Bee) sedang berselingkuh dengan pria yang memiliki satu profesi dengannya. Melihat hal itu, Pat menghajar pria itu hingga hampir kehilangan nyawanya. Maka dari itulah, ketika bebas dari rumah sakit jiwa, Pat berencana untuk menemui Nikki dan berniat untuk meminta maaf serta berusaha membina rumah tangga mereka kembali. Hal yang sungguh sulit melihat kenyataan bahwa suasana hati Pat yang sering berubah, ditambah dengan hukuman dari pihak kepolisian untuk menjauhi Nikki untuk sementara waktu. Pat yang telah kehilangan pekerjaan akibat penyakitnya itu pun kini diasuh oleh kedua orangtuanya, yaitu Patrik Solitano Sr. (Robert De Niro) dan sang ibu yang selalu sabar akan tingkah Pat Jr. Yaitu Dolores (Jacki Weaver). Sang Ayah sendiri merupakan pengidap OCD yang membuatnya sangat mempercayai takhayul, dan juga sang Ayah sangat menggemari baseball. Ditengah rencana serta usaha Pat untuk memperbaiki hubungannya dengan Nikki, muncullah wanita yang sama persis dengan Pat yang bernama Tiffany (Jennifer Lawrence). Tiffany baru saja ditinggal pergi oleh suaminya untuk selamanya. Keadaan itu membuatnya depresi sehingga dirinya melakukan seks dengan siapa saja, bahkan perempuan.




Review

Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama garapan Matthew Quick. Film yang disutradarai oleh David O. Russel ini berhasil masuk dalam 7 nominasi Academy Awards dimana keempat pemain utamanya Bradley Cooper, Robert De Niro, Jacki Weaver serta Jennifer Lawrence berhasil masuk di jajaran nominasi aktor/aktris terbaik. Tidak hanya itu, Silver Linings Playbook (SLP) juga masuk di kategori Best Picture. Lalu, apakah memang film ini istimewa?
Bila dilihat dari sinopsisnya, tidak ada yang spesial dengan film ini, bila tidak ingin dibilang standar. Orang yang mengalami kelainan, memiliki masa lalu kelam, mencoba memperbaiki semuanya, lalu bertemu dengan someone yang akan membuatnya menjadi lebih baik dan akan menjalin cinta dengan someone tersebut, ya, telah banyak film yang mengambil jalan cerita yang seperti itu. Hal itu lah yang pada awalnya membuat gw skeptis dengan film ini. Ditambah dengan nominasi Oscar yang banyak di dapat membuat gw menilai film ini overrated (dan ya, fakta bahwa SLP mendapatkan nominasi Best Picture juga sedikit gak bisa gw terima, masih trauma dan jengkel soalnya The Dark Knight gak masuk di nominasi itu).
Telah membaca sinopsisnya kan? Apa yang bisa kalian simpulkan dari karakter-karakter utamanya? Ya, sebagian besar karakter utamanya memiliki gangguan kejiwaan. Dari hal itulah yang membuat film ini cukup menarik untuk gw ikutin sehingga film yang sesungguhnya tidak terlalu spesial ini cukup berbeda dengan film-film komedi romantis lainnya. Karena akan banyak beberapa adegan yang cukup menyentuh karena karakter yang memiliki kelainan tersebut. Dan tidak jarang pula akan ada adegan yang lucu terjadi, disinilah salah satu keberhasilan dari David O. Russel. Dia mampu menyajikan setiap adegan nya dengan maksimal serta sedikit membingungkan, tapi tetap tidak kehilangan kualitasnya. Iya, membingungkan karena konflik lucu yang gw maksud itu adalah konflik itu seharusnya tidak harus terjadi namun karena karakternya memiliki semacam kelainan maka kita menganggap wajar konflik itu bisa terjadi, seperti adegan dimana Pat Sr. Mengamuk karena tim kesayangannya kalah dan menyalahkan kedua anaknya yang tidak mengikuti permainan sampai akhir karena terlibat kerusuhan, dan konflik makin hancur (dan lucu pastinya) ketika Tiffany masuk ke dalam keributan tersebut. Gw gak bisa menahan senyuman gw ketika adegan itu, disatu sisi gw khawatir akan terjadi keributan yang parah, di satu sisi hati gw berbisik ‘astaga, gak penting banget deh’.
Dan salah satu kelebihan lain dari David O. Russel adalah mampu mengarahkan setiap pemainnya untuk menampilkan akting terbaiknya. Lihatlah Bradley Cooper yang mampu menampilkan performa terbaiknya di dalam film ini. Bradley Cooper berhasil menampilkan seorang pria dewasa yang benar-benar terganggu jiwanya sehingga membuat dirinya tidak nyaman akan gangguan tersebut yang bisa datang kapan saja. Sungguh menyakinkan dimana ada suatu adegan dimana dia pada awalnya sedikit marah lalu semenit kemudian karakternya menjadi riang serta kembali seperti semula, suatu hal yang sulit dilakukan apabila bukan ditampilkan oleh aktor yang biasa saja. Chemistry yang ia jalin bersama karakter lain pun sangat baik, baik itu dengan Robert De Niro, Chris Tucker, dan tentunya dengan Jennifer Lawrence. Jennifer Lawrence, yang mampu menggondol piala Oscar di kategori Best Actrees, ini juga menampilkan akting terbaiknya, yang memang selalu bagus penampilannya. JL dengan meyakinkannya menampilkan karakter yang begitu kompleks seperti Tiffany, JL juga berhasil menjalin chemistry yang unik dengan Bradley Cooper, yang merupakan sebuah kekuatan dari film ini. Namun bagi gw adegan yang benar-benar membuat gw yakin bahwa JL adalah salah satu aktris terbaik saat ini adalah ketika dia menjadi highlight sendiri ketika adegan dimana Pat Sr. Mengamuk dan begitu hebatnya mampu menjadi scene stealer di adegan tersebut, JL juga dengan hebatnya mampu berinteraksi dengan sempurna dengan Robert De Niro dengan mulutnya yang cerewet cenderung kurang ajar itu. Dan ingat, JL masih berumur sangat muda kala itu!(dan jangan paksa gw untuk membahas adegan yang melibatkan JL setiap dansa). Hal yang cukup wajar apabila JL mampu mendapatkan gelar Best Actrees kala itu. Dan jangan lupakan pula akting dari Robert De Niro yang selalu mempesona. Walau pada akhirnya mindset gw terhadap film ini sedikit overrated tidak berubah, namun gw gak menyangkal bahwa Silver Linings Playbook merupakan film yang manis dan enak untuk diikuti. Dengan penampilan karakter-karakter utamanya yang sangat bagus, serta cerita yang berbeda dengan romcom biasanya, Silver Linings Playbook mampu memesonamu dan kalian pun mampu memetik pelajaran dari film ini bahwa sedikit rutinitas dan teman yang mampu mengerti dirimu, akan mampu mengobati kelainan yang ada di jiwamu.


Best Scene: Dinner Pat-Tiffany

7,5/10 

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!