Showing posts with label Joaquin Phoenix. Show all posts
Showing posts with label Joaquin Phoenix. Show all posts

Wednesday, 2 October 2019


"I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it's a comedy"- Arthur Fleck

Plot

Mengisahkan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), pengidap pseudobulbar affect (penyakit dimana seseorang secara tiba-tiba menangis atau tertawa yang tak terkendali), yang harus menghadapi segala benturan-benturan realita hidup, dari karir yang tidak kunjung berkembang, sang ibu, Penny Fleck (Frances Conroy) terobsesi akan Thomas Wayne (Brett Cullen), serta berbagai kesialan yang seolah enggan menghindarinya.




Review

Perlukah film yang disutradarai oleh Todd Philips ini dibuat? Atau pertanyaan yang lebih tepatnya, perlukah memberikan pendalaman karakter dan sentuhan humanis diberikan pada salah satu musuh terbesar Batman ini? Pertanyaan demi pertanyaan, serta diselingi dengan keraguan kerap hadir kala Joker resmi diumumkan akan rilis pada tahun ini di beberapa tahun belakang. Saya mengakui, rasa cemas pecinta film bisa dimengerti. Walau dalam komik nya sendiri memang terdapat beberapa kisah origin dari Joker, namun tetap salah satu daya tarik dari Joker adalah kesan misteri nya. Terlebih pendekatan yang dilakukan oleh Christopher Nolan dalam The Dark Knight 11 tahun lalu terbukti berhasil. Dan berbicara The Dark Knight, pastinya penampilan monumental nan ikonik dari mendiang Heath Ledger telah memberikan standar yang begitu tinggi dalam memerankan si badut kriminal yang gak lucu ini. Beban berat tentu disandang oleh Joaquin Phoenix selaku aktor pemeran Joker, terlebih setelah kegagalan Jared Leto di Suicide Squad dalam memerankan karakter yang sama. 

Sebelum membahas penampilan Phoenix, mari kita fokus kepada penceritaan terlebih dahulu. Dibantu oleh Scott Silver di departemen penulisan naskah, Philips tampak telah paham betul dalam menghadirkan film origin yang benar. Ketimbang menitik beratkan narasi akan sajian aksi serta seru-seruan layaknya film beradaptasi dari comic book, Philips lebih mengedepankan pada pendalaman karakterisasi, mengembangkannya secara perlahan, serta mengajak penonton untuk menyelami lingkungan hidup sang karakter utama. Tidak ada hal luar biasa yang terdapat dalam diri Arthur Fleck. Ia tidak memiliki latar belakang militer, bukan juga pemilik kekuatan super dan latar belakang keluarganya pun cenderung biasa saja. Hanya saja, dengan mengidap mental illnes, Arthur terlihat berbeda dengan orang lainnya. Bahkan akibat perbedaan tersebut, Arthur harus menerima perlakuan tidak menyenangkan oleh orang sekitar nya. 

Terinspirasi dari film klasik Martin Scorsese, The King of Comedy, layaknya Rupert Pupkin, kehidupan Arthur bisa dibilang cukup menyedihkan dengan dekatnya ia akan nasib buruk dan seolah ditolak eksistensinya. Ia tinggal di apartemen sederhana dengan ibunya yang renta. Kehidupan pekerjaannya pun juga tidaklah lancar, ditambah keinginannya untuk menjadi stand up comedian pun terlihat mustahil. Berbagai permasalahan seolah enggan untuk menjauhi nya, terutama kala ia harus dipecat dari pekerjaannya sebagai badut penghibur. Lewat karya nya inilah, Philips dan Silver ingin memperlihatkan jika rentetan dari nasib buruk yang terjadi sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang berbuat nekad dalam berbuat jahat karena pada dasarnya, tidak ada seorang pun di dunia ini terlahir menjadi seorang penjahat. 

Film Joker sendiri adalah film kedua dari DC Comic yang menerima rating R setelah Watchmen akibat kandungan kekerasan serta tumpahan darah nya. Namun bagi saya sendiri pendekatan realistis akan kisah Arthur Fleck menjelma menjadi kriminalitas level atas dari Philips dan Silver yang lebih memikat, namun disturbing. Berkat kisah Arthur ini, muncul di benak jika apa yang terjadi pada Arthur sesungguhnya bisa terjadi kepada setiap orang pinggiran yang seolah tidak diterima eksistensi nya oleh masyarakat. Pandangan Arthur akan hidup, lengkap dengan make up badutnya yang ia ungkapkan pada acara bincang-bincang milik Murray Franklin (Robert De Niro, aktor yang sama memerankan Rupert Pupkin di The King of Comedy) pun walau terdengar gila, namun masuk akal dan mendekati apa yang terjadi pada realita kehidupan. Khalayak media menggembar-gemborkan akan kematian seseorang hanya karena memiliki relasi dengan tokoh berpengaruh, padahal warga seperti Arthur setiap hari nya mengalami penderitaan dan begitu dekat nya dengan peliknya kehidupan seolah jauh dari pemberitaan. Ditambah dengan pergerakan para badut yang terjadi dalam film ini lah yang membuat Joker begitu disturbing. Semoga saja tidak ada orang iseng yang ingin mengikuti dan menerapkan aksi serupa di dunia nyata. Namun tak bisa ditampik, apa yang Philips dan Silver sajikan disini bagaikan sebuah kritik keras terhadap kaum menengah ke atas.

Dengan fakta ini, serta penyakit psikis yang ia alami, rasanya hampir mustahil untuk tidak berempati terhadap Arthur Fleck. Tidak menjustifikasi apa yang ia lakukan nantinya adalah benar, namun setidaknya sebagai penonton, kita bisa mengerti mengapa Arthur nantinya menjelma menjadi pelaku kriminal. Ironis memang, kita mampu bersimpati kepada karakter yang malah tidak memiliki simpati sama sekali kepada orang lain. Meski demikian, saya sedikit kurang menyukai penanganan karakter Thomas Wayne (Brett Cullen) dalam film ini. Memang, kita mengenal karakter ini berdasarkan point of view dari Arthur sehingga wajar sosok Thomas Wayne disini terlihat orang kaya yang brengsek dan apatis, namun untuk penonton seperti saya yang hanya mengenal karakter ini dalam film Batman Begins, dan bagaimana influentalnya karakter ini pada pembentukan karakter Bruce Wayne di trilogy The Dark Knight, saya sedikit kurang menerima sih akan penggambaran karakter nya disini yang begitu berbeda. Lol. 

Pada saat kalimat "THE END" muncul di akhir, tak sadar saya sendirian bertepuk tangan cukup keras, yang seketika saya hentikan karena tak ingin menarik perhatian. Terdengar juga dari bisikan penonton di dekat saya yang berkomentar "kapan nonton film ini lagi? Bagus banget soalnya". And you know what? I agreed 100% with him/her. Saya rela merogoh kocek saya yang gak banyak untuk kembali menyaksikan sajian spesial dari Todd Philips ini. Saya terkesima berkat pendekatan realistisnya, betapa beraninya Philips dan Silver dalam menyajikan narasinya yang begitu dekat akan realita yang terjadi sekarang. Bukan berlebihan jika dalam beberapa tahun kedepan, film ini akan dianggap sebagai film klasik, juga akan memiliki penggemar militan yang sangat banyak. Bukan mustahil juga jika Anda akan menemui di jalanan ada orang yang mengimitasi tarian dari Arthur. Joker bukan lagi hanya sebagai karakter, namun telah menjadi simbol berkat film ini. Ya, jika dalam superhero kita memiliki Batman Begins sebagai film origin terbaik, maka tidak salah jika Joker adalah film origin terbaik mengenai supervillain.

Namun, tidak bermaksud untuk melupakan pekerjaan fantastis Philips dan Silver lakukan, apa yang membuat Joker terasa spesial adalah penampilan luar biasa dan Oscar worthy dari Joaquin Phoenix. Berbeda dengan Jared Leto, Phoenix merupakan salah satu aktor yang paling dihormati dalam dunia perfilman berkat talenta aktingnya. Ia pun termasuk underrated jika ditilik dari jumlah nominasi Oscar yang "baru" 3 kali saja dan sama sekali belum membawa patung emas tersebut. Namanya pun tidak sepopuler layaknya Leonardo DiCaprio ataupun Robert Downey Jr. Jika Anda pun baru pertama kali melihat akting dari Mr. Phoenix, well, anggap saja Anda sial. Hentikan membaca sekarang dan silahkan tonton akting dari beliau di film-film lainnya.

Joaquin Phoenix adalah aktor yang hebat, tidak ada yang berani menyangkal fakta ini, namun tetap saja, performanya sebagai pria yang broken, lengkap dengan health issue yang diidap karakter yang ia perankan, mampu ia sajikan dengan begitu total sehingga membuat saya terkesima. Phoenix berhasil menjadi magnet terbesar sehingga mata penonton tidak akan pernah lepas dari layar. Setiap menit sebenarnya karakter yang ia mainkan selalu  muncul, namun hingga film berakhir, saya masih merasa kurang dan ingin melihatnya kembali berakting sebagai Joker. Setiap gestur badan yang ia tampilkan seolah memiliki makna, dan walaupun tawa seorang Joker darinya tidak sememorable seperti yang Heath Ledger lakukan, namun tak seperti karakter-karakter Joker lainnya yang menggambarkan gila atau maniak nya karakter Joker melalui tawa, disini tiap tawa yang dihasilkan Phoenix malah terkesan rasa pedih dan derita akibat ketidak adilan hidup yang selalu ia terima. Sebagai contoh dengar saja tawanya tanpa henti kala ia ingin melakukan stand up comedy nya. Namun momen terbaik Phoenix hadir kala ia beradu akting dengan Robert De Niro saat film mendekati akhir. Adegan yang sebelumnya terkesan biasa, bahkan lucu, berubah menjadi intens, menegangkan dan ditutup dengan memberikan shock therapy untuk penonton. Dan pegang ucapan saya ini, pihak Academy akan kehilangan kredibilitas nya jika mereka berani untuk tidak mencantumkan nama Joaquin Phoenix dalam gelaran Oscar tahun depan. 

Anggap saya berlebihan dan overreacted, namun honestly speaking, you need to watch this movie. Tidak banyak film yang saya tonton pada tahun ini, namun saya berani menjamin, Joker adalah salah satu film terbaik keluaran tahun 2019. Dengan realistisnya Todd Philips memberikan pendekatan pada karakterisasi Arthur Fleck sebelum menjelma menjadi Joker, Atmosfir kelam dan gelap seolah tanpa kebahagiaan di kota Gotham versi Philips, dan tak lupa juga performa fantastis Joaquin Phoenix, Joker meludahi ekspektasi rendah saya sebelumnya dan menertawakan kepada setiap penikmat film yang meremehkan film ini. Dan ya, setelah trilogi The Dark Knight, DC boleh kembali bangga karena, sekali lagi, film keluaran mereka kali ini mampu membuat semua film beradptasi comic book dari kompetitor terlihat seperti film untuk anak-anak.

8,75/10

Friday, 7 December 2018


"If she's there, I'll get her back"- Joe

Plot

Joe (Joaquin Phoenix) diberikan tugas oleh senator Albert Votto (Alex Manette) untuk menyelamatkan putrinya, Nina Votto (Ekaterina Samsoniov) dari jeratan kasus pelacuran anak di bawah umur.



Review

Biasanya, film yang menceritakan seorang hitman tentu memiliki genre action didalamnya. Namun, silahkan cek di situs imdb, bila You Were Never Really Here sama sekali tidak tercantum label "action" pada bagian genre nya. Cukup aneh nan menarik karena bukan rahasia umum untuk film sejenis ini, action adalah sajian utama yang mampu menggaet penonton, sebut saja salah satunya adalah John Wick. Lalu, sebenarnya apa yang ditawarkan oleh Lynne Ramsay dalam karya keempatnya ini?

Serupa dengan karya Ramsay yang paling populer juga kontroversial tujuh tahun lalu, apa lagi kalau bukan We Need to Talk About Kevin, You Were Never Really Here (YWNRH) adalah sajian psychological thriller dengan mengeksplorasi karakterisasi sang tokoh utama, yaitu si Hitman itu sendiri, Joe. Joe memiliki trauma dari perlakuan abusif sang ayah di masa kecil. Dengan kilasan masa lalu yang kerap hadir tiba-tiba, jelas sekali Joe belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalu kelamnya tersebut. Ditambah pengalamannya sebagai veteran perang, praktis psikologi Joe mengalami ketidakstabilan. Hal tersebut membuat Joe menjadi seorang yang memiliki adiksi sendiri untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan, di adegan pembuka saja kita telah diperlihatkan sosok Joe dengan kantong plastik yang ia gunakan untuk menutup mukanya. Kondisi traumatis pada diri Joe tersebut seolah merupakan jembatan bagi penonton untuk mampu memahami mengapa Joe begitu ingin menyelamatkan Nina. Bagi Joe, perintah dari senator Albert Votto bukanlah hal utama, namun telah menjadi misi yang personal untuknya.

Ramsay memilih melakukan pergerakan narasi film nya dengan cukup perlahan. Di menit-menit awal pun alih-alih kita diperlihatkan Joe melakukan suatu pekerjaannya, tetapi lebih memperlihatkan kehidupan sehari-hari Joe. Bagaimana ia merawat ibunya yang telah tua renta (diperankan oleh Judith Roberts), bertemu dengan kolega nya, dan yang pasti kebiasaannya dalam usaha untuk bunuh diri. Saya menyukai keputusan Ramsay untuk memperlihatkan kedekatan Joe bersama ibunya yang terasa begitu hangat. Iya, siapa yang menyangka dibalik dirinya yang begitu dingin dalam menjalani hari-harinya serta sering mengeluarkan aura intimidatif tersebut sangat perhatian dalam mengurus seorang ibu. Bahkan momen paling hangat dalam YWNRH terjadi di meja makan. Narasi ini berpengsruh besar untuk memberikan nilai appealing tersendiri dalam karakter Joe. Sehingga tidak sadar penonton pun menginvestasikan rasa perduli mereka kepada Joe.

Tensi film sedikit meninggi ketika film menyentuh durasi pertengahan, dimana terjadi sedikit twist cerita yang disediakan Ramsay untuk melontarkan kritik sosial di film ini. Saya yang jujur sedikit mengalami kebosanan di pertengahan durasi akibat dari lambannya pergerakan menit ke menit di film ini, harus dipaksa kembali untuk memfokuskan perhatian kepada film. Saya dibuat penasaran bagaimana Joe bisa selamat dari ancaman yang datang dari sosok yang lebih memiliki sumber daya jauh lebih besar dibandingkan Joe yang hanya bekerja seorang diri. Dari sini lah film tidak mengendurkan tensi nya, walau memang pergerakan narasi masih bisa dibilang cenderung lambat. Tidak hanya itu, YWNRH juga cukup minim akan dialog. Mungkin hal ini lah yang membuat YWNRH menjadi tontonan yang cukup segmented.

Seperti yang saya nyatakan sebelumnya, saya sedikit mengalami kebosanan akibat lambannya penceritaan bergerak, lalu faktor apa yang kemudian membuat saya berhasil mengakhiri YWNRH? Tidak lain tidak bukan jawabannya adalah Joaquin Phoenix. Tentu bagi Phoenix bukanlah hal yang sukar dalam memerankan Joe, karena Phoenix adalah salah satu aktor di Hollywood yang bisa memerankan karakter jenis apapun. Phoenix berhasil mengeluarkan aura intimidatif di setiap kehadirannya. Sosoknya bagaikan monster raksasa yang mampu memberikan tekanan kepada siapapun hanya dengan menatap matanya (terlepas dari karakternya yang memiliki jenggot yang lebat). Karakternya yang jarang berbicara pun menambah kesan menyeramkan pada sosok Joe. Selain itu, Phoenix juga berhasil mengaplikasikan sempurna akan kerapuhan Joe, serta kompleksitas pada diri Joe pun membuat penonton penasaran apa yang akan diperbuat selanjutnya. Entah bagaimana hasil akhir pada film Joker nanti, namun yang pasti tidak salah rasanya pilihan disematkan kepada Phoenix untuk memerankan the prince of crime tersebut.

YWNRH memiliki ending yang membuka interpretasi dari penonton sendiri, setelah Ramsay memberikan juga sebuah adegan yang cukup disturbing bila ditilik dari konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya. Pada paruh akhir nya pun, tampak Ramsay menjabarkan secara subtil mengapa ia memilih judul You Were Never Really Here. Masalah dalam film YWNRH tentu adalah pendekatan non konvensional yang dilakukan Ramsay. Narasi yang bergerak begitu perlahan, miskin dialog dan juga sangat minim akan adegan action. Segmented, tapi YWNRH jelas jauh dari mengecewakan.

7,75/10





Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!