Showing posts with label MCU. Show all posts
Showing posts with label MCU. Show all posts

Thursday, 2 May 2019


"I keep telling everybody they should move on and grow. Some do. But not us"- Captain "Steve Rogers" America

Plot

Para Avengers yang tersisa, berusaha mencari cara dalam mengembalikan milyaran korban akibat dari jentikan jari Thanos (Josh Brolin).



Review

Jika Anda sama seperti saya yang merupakan fans dari Game of Thrones dan mengikuti film-film MCU, rasanya kita bisa sepakat bila dalam 1 minggu terakhir ini merupakan hal yang tidak mengenakkan untuk surfing di dunia internet. Serial Game of Thrones memasuki episode yang menampilkan sebuah perang yang dinantikan oleh penggemar, sedangkan MCU dengan Avengers: Endgame nya sendiri adalah film yang paling dinantikan tahun ini. Spoiler jelas bertebaran di internet, bahkan di tempat yang tidak terduga. Saya sendir menjadi korban spoiler disebabkan ada user bodoh yang seolah begitu bangga telah menyaksikan Endgame terlebih dahulu sehingga dengan begitu sombongnya meninggalkan jejak spoiler di kolom obrolan Live Stream sub count antara PewDiePie vs T-Series di kanal FlareTV. Untungnya spoiler yang tertulis tidak terlalu bisa dibilang mega spoiler juga. Karena itu, selain ingin menyaksikan bagaimana akhir pertempuran Avengers menghadapi Thanos, saya juga ingin segera tenang untuk berinternet ria kembali dan menginstall ulang aplikasi Instagram dan Twitter di Smartphone saya. 

Avengers: Endgame yang masih disutradarai oleh Russo Brothers (kembali) merupakan hasil dari buah kesabaran Marvel dalam membangun universe nya dalam 11 tahun terakhir dengan 22 film nya, dan aspek paling berhasil yang juga menjadi faktor terbesar mengapa MCU menjadi raksasa di industri perfilman dalam satu dekade terakhir adalah bagaimana mereka menangani karakter-karakter di dalamnya begitu memorable dan mudah untuk disukai. Saya yakin, dari penggemar sendiri memiliki masing-masing karakter favorit mereka, baik para karakter superhero nya atau pun sekedar pemeran pembantu. Kecuali Captain Marvel (yang bisa jadi adalah karakter paling poralizing sejauh ini, itupun dikarenakan aspek non teknis), rasanya tidak ada karakter yang begitu dibenci oleh penggemar. Buah kesabaran ini sudah berhasil tampil di Infinity War, bahkan standar yang telah dipasang begitu tinggi pada film itu. Namun Russo Brothers kembali menunjukkan kembali kualitas mereka sebagai sutradara dimana, walaupun bagi saya Infinity War sedikit lebih baik, Russo Brothers sukses memberikan pengalaman sinematik berkesan lewat Endgame ini melalui studi karakter serta balutan emosi yang senantiasa hadir di setiap menitnya. 

Sedari menit awal, Endgame telah kental akan aura depresif nya, ditambah gubahan soundtrack dari Alan Silvestri yang menambah mood keputus asaan yang ada. Russo Brothers yang bekerja sama dengan Christopher Markus dan Stephen McFeely dalam divisi naskah, mengambil setting tidak lama dari ending Infinity War terjadi. Ada karakter yang putus harapan, ada juga yang tetap tegar dan ingin tetap melangkah, serta ada juga yang kehilangan arah sehingga melepaskan beban dan tanggung jawab nya sebagai superhero. Sebagai film blockbuster terbesar di tahun ini, saya cukup kaget menerima kenyataan jika Endgame cukup didominasi oleh aspek drama berfokus pada pendalaman karakter nya. Endgame menyajikan kisah para pahlawan kita ini untuk bersikap dalam setelah kekalahan masif yang mereka terima dan menghadapi ujian terbesar mereka sejauh ini seraya tetap menegakkan kepala mereka. Seberapa besar pengorbanan yang akan mereka beri demi keselamatan galaksi. Sesuai dengan kalimat yang kerap diulang di trailer awal nya, whatever it takes, bahkan jika harus memberikan nyawa mereka. Karena itulah, bila di Infinity War, spotlight yang ada sepenuhnya diambil oleh Thanos, maka di Endgame, Thanos harus rela untuk menyingkir dan memberikan spotlight tersebut kepada member The Avengers, terutama anggota The Avengers pertama, yaitu Captain "Steve Rogers" America (Chris Evans), Iron "Tony Stark" Man (Robert Downey Jr.), Black "Natasha Romanoff" Widow (Scarlett Johansson), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Benner a.k.a Hulk (Mark Ruffalo) dan Clint "Hawkey" Barton (Jeremy Renner). Walau memang patut disayangkan karena dengan keputusan ini, karakter-karakter lainnya sedikit terlupakan. Namun hal ini patut dimaklumi, mengingat Endgame sendiri bagaikan sebuah tribute untuk member pertama The Avengers.

Melalui plot time travel nya juga, Endgame bagai kan sebuah perjalanan retrospective untuk mengenang kembali perjalanan mereka. Russo bros membagi karakter nya ke 4 tempat berbeda  Akan terdapat beberapa momen-momen yang hadir dari film sebelumnya, dengan tentu saja sentuhan improvisasi, dan dari sinilah roller coaster emosi dimainkan. Time Travel nya menjembatani beberapa momen-momen emosional yang memiliki esensi pada karakter masing-masing, serta memberikan ruang untuk penggemar kembali mengingat petualangan kita selama ini bersama The Avengers. Tidak hanya menawarkan dosis emosi, namun juga memberikan beberapa jokes segar yang mampu direspon tawa oleh penonton. Interaksi dialog pun seolah tidak pernah menemukan titik jenuh dan selalu menawarkan kesegaran, terutama untuk karkater yang berinteraksi pertama kali dengan karakter lainnya. 

Para aktor pun semakin lekat dengan karakter yang dilakoni masing-masing, tidak lupa juga mereka memberikan efek rasa emosi personal baik dari gestur bahkan hanya melalui tatapan mata. Semuanya bermain cemerlang, namun tidak akan ada yang menampik jika RDJ lah yang menjadi bintang utama nya. RDJ sempurna merefleksikan rasa putus asa dan kepedihan yang tergambar melalui ekspresi muka nya. Barisan dialog yang ia lontarkan kala film bergerak ke ranah drama selalu terdengar meyakinkan sehingga penonton ikut merasakan gejolak yang tengah ia derita. Lalu, tibalah kita pada bagian endingnya yang emosional. Kedekatan emosional yang telah tercipta antar penonton dan tiap karakter menjadi faktor utama akan betapa besar impact yang ditawarkan pada momen ending. Sulit rasanya untuk tidak meneteskan air mata melihat apa yang tampil di layar. Sebuah konklusi sempurna untuk menutup kisah bagi beberapa karakter.

Namun secaea keseluruhab tentu Endgame tidak luput akan kekurangan, karena untuk bagian action, terutama di final fight nya, saya lebih berkesan dengan yang disajikan oleh Infinity War. The Battle of Wakanda sendiri memang masih menjadi salah satu adegan pertempuran terbaik yang pernah disajikan oleh MCU. Meski final fight di Endgame melibatkan lebih banyak karakter dibanding predesornya, namun bagi saya, pertempuran berskala besar tersebut kurang menampilkan momen highlight nya. Tangkapan gambar maupun action sequence nya kurang spesial dan memorable, kecuali ketika para hero wanita nya bersatu dalam menghadapi pasukan yang dibawa Thanos. Malah saya lebih memilih adegan fight yang terjadi sebelumnya, dimana kita mendapatkan Thanos beraksi melawan para Avengers tanpa infinity gauntlet di tangannya. Lebih terasa akan aspek personal yang terlibat, serta juga mampu menampar keras bagi mereka yang meragukan betapa kuat nya Thanos. 

Apakah ini adalah film MCU terbaik? Saya menyerahkan jawabannya kepada Anda. Namun, untuk sebuah film penghormatan maupun surat cinta untuk para pahlawan MCU, jelas Endgame telah menjalankan fungsinya dengan sangat baik. Menarik dinantikan film-film MCU selanjutnya dengan pergerakan narasi yang baru. Good luck, Marvel, to topping this one on next film.

8,25/10




Tuesday, 12 March 2019


"I have nothing to prove to you"- Carol Danvers

Plot 

Kegagalannya dalam suatu misi penyelamatan sebagai Starforce dari planet Kree, Vers (Brie Larson) ditahan oleh kawanan Skrull yang dipimpin oleh Talos (Ben Mendelsohn). Vers berhasil kabur, namun upaya kaburnya tersebut malah membuat dirinya mendarat ke bumi. Penampilannya yang mencolok serta pendaratannya yang "unik" sukses membuat Vers menarik perhatian, tidak terkecuali para agen S.H.I.E.L.D yang salah satunya adalah Nick Fury (Samuel L. Jackson) dan Phil Coulson (Clark Gregg). Tidak hanya itu, Talos beserta anggota Skrull lainnya pun berhasil mengikuti Vers hingga ke bumi dan berupaya untuk menemukan Vers dengan kekuatan penyamaran mereka. Sementara itu, anggota Starforce lainnya yang dipimpin Yon-Rogg (Jude Law) berusaha menyelamatkan Vers. 




Review

Melalui tulisan saya sebelumnya, saya telah mengungkapkan akan keraguan saya akan kualitas akhir dari film ini. Keraguan saya didasari akan rumor agenda-agenda politiknya yang turut menjadi bahan marketing dari pihak Marvel atau Disney. Sudah bukan rahasia umum lagi jika penonton kurang menyukai unsur politik dicampur adukkan dalam sebuah film. Tengok saja backlash yang diterima The Ghostbuster hingga Star Wars: The Last Jedi. Tidak hanya itu, berbagai kontroversi pun ikut mengiringi film ke 21 dalam sejarah MCU ini seperti pernyataan tidak penting dari artis pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson hingga keputusan Rotten Tomatoes yang menghilangkan skor Want to See di website mereka. Walaupun begitu, semua drama ini sepertinya tidak menghentikan Captain Marvel untuk menorehkan kesuksesan dalam finansial. Sampai tulisan ini saya buat, angka box office dari Captain Marvel cukup fantastis. Lalu bagaimana dengan kualitas film nya itu sendiri?

Jujur, saya merupakan salah satu "fans" yang sedikit antipati dengan film ini sehingga saya pun memasuki studio 2 di Cinema 21 Palembang Square dengan ekspektasi serendah mungkin. Dan percaya atau tidak, berkat hal tersebut, ternyata mampu membuat saya cukup menikmati Captain Marvel, walau saya akui, Captain Marvel mungkin adalah salah satu film terlemah dari MCU.

Poin kelemahan Captain Marvel adalah di awal-awal durasi, dimana Vers masih menjalani tugasnya sebagai anggota dari Starforce. Disini saya mendapati narasinya kurang menarik atensi, ditambah lagi karena memang saya tidak terlalu paham dengan dunia atau universe Marvel itu sendiri. Kita mendapati jika Vers sudah memiliki kekuatan super, namun Vers masih kesulitan dalam mengendalikan kekuatan tersebut. Selain itu, ia juga kesulitan dalam mengendalikan emosinya sehingga berulang kali Yon-Rogg mengingatkan dirinya untuk bisa lebih tenang. Adegan aksi penyelamatannya pun cenderung biasa saja. Rasa bosan pun seketika menyerang saya, dan entah berapa kali saya harus menguap akibat rasa bosan tersebut.

Duo sutradara Anna Boden-Ryan Fleck pun mulai menemukan ritme penceritaan kala Vers menginjakkan kaki nya di planet Bumi. Apalagi dengan kehadiran sosok Samuel L. Jackson dengan balutan CGI di muka untuk membuatnya terlihat jauh lebih muda sontak mulai perlahan merebut atensi saya. Kawanan Skrull yang mampu menyamar secara sempurna pun turut menambah bumbu penceritaan, sehingga cerita Vers dalam memburu mereka terasa menarik. Di awal misi Vers di Bumi juga memberikan kita suguhan aksi baku hantam di kereta api yang jelas lebih baik dibandingkan di sekuen aksi di awal.

Unsur "buddy cop" antara Vers dan Fury juga begitu kental terasa saat mereka mulai bekerja sama dalam mencari Skrull. Untuk pertama kalinya dalam sejarah MCU, kita menyaksikan sosok Fury sebagai comic relief. Interaksi nya bersama kucing Goose, yang telah mencuri perhatian bahkan semenjak kemunculannya di trailer, berhasil menjadi highlight dalam film ini.

Hingga pada momen terungkapnya masa lalu Vers yang sebenarnya merupakan penduduk asli Bumi dengan nama Carol Danvers, akhirnya saya sepenuhnya benar-benar terikat dengan narasi Captain Marvel. Momen terungkapnya jati diri tersebut berhasil membangun jembatan emosi saya terhadap salah satu karakter yang terlibat. Dugaan berhasil dikelokkan, dari tidak menyukai berbalik mendukung berkat twist nya yang efektif. Lashana Lynch sebagai Maria berhasil menyuntikkan hati akan penceritaan. Hubungan persahabatan antara Carol dan Maria cukup sukses memberikan suatu momen emosional tersendiri. Interaksi antara Carol dan anak Maria, Monica (Akira Akbar) juga memberikan kita kesempatan untuk melihat sisi lembut dari Carol. Sayang memang hubungan Carol bersama anggota Starforce lainnya, terutama dengan Yon-Rogg yang merupakan partner terdekatnya tidak dieksplor lebih jauh.

Mengenai sekuen aksinya bisa dibilang tidak ada yang terlalu memorable walau masih ampuh untuk memanjakan mata, termasuk sekuen aksi terakhir yang terlampau singkat. Oh ya, mendekati akhir, duo Anna-Ryan berhasil "menipu" ekspektasi kita dengan menampilkan salah satu momen lumayan kocak yang sepertinya diniati sebagai tribute untuk Indiana Jones. Nuansa 90an juga ikut terasa berkat adanya soundtrack dari No Doubt dan Nirvana. Mengenai lagu Come As You Are nya Nirvana, saya sedikit merasa penempatan lagu nya sedikit keliru, tidak ngeblend dengan cerita yang sedang berlangsung. Yah, hanya komplain kecil saja sih.

Para "haters" Brie Larson tentu akan gigit jari melihat aktingnya sebagai Carol disini. Larson berhasil membuktikan jika dirinya piawai dalam mengekspresikan emosi, dari sorotan mata hingga pada sunggingan senyumnya. Dirinya pun bisa menjalin chemistry yang meyakinkan dengan karakter-karakter lainnya, terutama tentu saja dengan Fury dimana ia tampak begitu percaya diri dalam bertukar dialog dengan Samuel L. Jackson, sehingga untuk saya, tidak sulit untuk menyukainya. Samuel L. Jackson sendiri tidak perlu diragukan lagi talenta komedik nya yang selalu tepat sasaran. Namun, jika harus memilih yang terbaik, saya memilih Ben Mendelsohn.

Dalam Captain Marvel, ada suatu kilasan cerita mengenai kisah hidup Carol Danvers yang kerap kali jatuh bangun untuk bisa melakukan sesuatu. Namun, tidak perduli berapa kali ia terjatuh, Carol tidak pernah berhenti untuk bangkit dan mencoba kembali, seolah ia menyadari jika semuanya akan berakhir jika ita tetap terbaring di tanah. Momen tersebut pun diikuti dengan berhasilnya Carol menguasai sepenuhnya akan kekuatan. Momen ini juga seolah merefleksikan pada situasi tidak mengenakkan yang diterima film ini dalam masa mendekati perilisan. Tidak perduli dengan segala keraguan hingga cemoohan yang ada, Captain Marvel membuktikan dengan hasil akhir nya yang jauh dari kata mengecewakan. Bukan yang terbaik dalam MCU tentu saja, namun film ini berhasil menjalankan misinya untuk mengenalkan salah satu superhero terpenting di The Avengers: Endgame nanti dengan sosok Captain Marvel yang likeable, serta humanis. Tentu saya masih keberatan sih jika Captain Marvel yang menghentikan Thanos nantinya.

7,5/10



Thursday, 28 February 2019


Oh boy, what an interesting story we got here. Cerita yang begitu menarik sehingga mampu memaksa saya yang pemalas ini rela untuk membuat suatu tulisan untuk film yang bahkan belum dirilis. Kalau Anda mengikuti perkembangan dari film superhero wanita pertama dari MCU ini, Anda pasti telah mengetahui berbagai kontroversi yang mengitari Captain Marvel sehingga melahirkan backlash dari kalangan penggemar MCU sendiri. Dari trailer-trailer nya yang dinilai kurang meyakinkan, aroma propaganda SJW, fans yang menolak bila nanti Captain Marvel lah yang diisukan merupakan pahlawan yang menyelamatkan The Avengers dan mampu mengalahkan Thanos, hingga yang paling mengganggu fans adalah pernyataan kontroversi dari pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson. Dan yang terbaru adalah situs Rotten Tomatoes memutuskan untuk menghilangkan skor "Want to see" di website tersebut.


Saya merupakan tipe penonton  yang tidak terlalu mengandalkan sebuah trailer untuk mematok sebuah ekspektasi. Kecuali trailer Super Bowl dari Captain Marvel yang cringeworth tersebut, saya tidak terlalu mempermasalahkan trailer-trailer nya yang lain. Betul memang bila dari trailer tersebut kita belum bisa menebak sepenuhnya narasi dari Captain Marvel. Tetapi akan menjadi tindakan teledor pula menurut saya jika pihak Marvel memberikan clue yang banyak di dalam trailer nya. Saya masih ingat bagaimana geramnya saya atas kebodohan pihak Warner Bros atau DC yang menghadirkan sosok Wonder Woman pada trailer film Batman V Superman. Para fans juga mengkritik (atau lebih tepatnya khawatir) akan kapabilitas akting dari Brie Larson yang minim ekspresi pada trailer nya hingga ada yang membandingkan dirinya dengan karakter Bella Swan dari Twilight franchise. Dan disini saya juga kurang sependapat dan sepenuhnya masih mempercayai bila Brie Larson akan memberikan penampilan yang prima nantinya. Kapabilitas akting Brie Larson bagi saya cukup mumpuni, hell, she's already got an Oscar on her pocket. Lihatlah bagaimana meyakinkannya dia memerankan seorang ibu yang hopeless juga depresif pada film Room (2015).




Namun rasa optimis saya mulai memudar kala muncul rumor jika Captain Marvel akan dijadikan kampanye isu politik dari pihak SJW dan ingin menjadikan sosok Captain Marvel adalah ikon dari feminis. Dan isu inilah yang berhasil membuat saya mulai ragu apakah saya masih bisa menyukai film ini atau tidak nanti. Tampaknya pihak Disney masih belum belajar dari bagaimana para fans Star Wars yang sangat kecewa akan hasil akhir dari The Last Jedi maupun Solo. Pihak Disney masih juga belum menyadari jika para fans sama sekali tidak ingin franchise kesayangan mereka dilibatkan dalam politik SJW.

Franchise MCU memang tidaklah setua Star Wars, namun lebih dari satu dekade semenjak Iron Man dirilis, franchise ini berhasil melahirkan para fans yang loyal dan mencintai MCU. Para fans begitu perduli pada karakter-karakter nya, bahkan hingga karakter minor seperti Ned, Maria Hill dan tentunya Phil Coulson. Selain itu, Marvel juga berhasil menaikkan derajat superhero mereka seperti Ant-Man, Dr. Strange, dan The Guardians of the Galaxy. Bayangkan saja, sebuah franchise yang dibangun perlahan namun meyakinkan dengan karakter-karakter yang dicintai di dalamnya, harus tercoreng akibat kepentingan politik semata. Bayangkan rasa kesal nan kecewa yang harus dirasakan para penggemar MCU.


Kondisi yang sudah tidak mengenakkan ini, diperparah pula akan pernyataan-pernyataan tidak penting dari Brie Larson. Sudah bukan rahasia umum lagi bila Brie Larson adalah salah satu "agen" feminis layaknya Amy Schumer, tapi apakah begitu sulitnya untuk menahan pandangan idealisme pribadi terlebih dahulu setidaknya sampai filmnya benar-benar dirilis nanti? Bukan langkah yang bijak tentu saja mengeluarkan komentar berbau diskriminasi nan sexist sebelum film yang dibintangi bahkan belum menghiasi layar-layar bioskop. Tentu saja para penggemar semakin antipati akan sosok Brie Larson. Antipati yang dikhawatirkan akan menghasilkan ketidak sukaan juga terhadap karakter yang diperankan. Andai nanti hasil pendapatan Captain Marvel dibawah ekspektasi (I doubt it, though), maka tidak salah jika Brie Larson menjadi faktor utama.

Hingga yang menjadi perbincangan hangat dalam satu minggu terakhir adalah rating "Want to see" di website Rotten Tomatoes dihilangkan. Terakhir kali, sebelum pembaharuan, skor persentase Want to see untuk film Captain Marvel anjlok hingga 27%!!! "Loh, terus kenapa? Bukan masalah besar kan. Toh, film nya belum keluar. Gw yakin filmnya masih banyak ditonton. Skor "Want to see" mah gak terlalu penting." Benar, skor tersebut bukanlah patokan kuat apakah nanti film ini sukses atau tidak dari segi finansial. Namun, sekali lagi, Captain Marvel bukanlah film sembarangan. Film ini adalah bagian dari MCU, salah satu franchise tersukses dalam satu dekade belakangan. Film yang diharapkan menjadi simbol feminis bagi sebagian orang. Film ini diakuisisi oleh Disney, salah satu studio film terbesar sepanjang masa. Tentunya dengan kenyataan tersebut merupakan hal yang tidak diinginkan.

Penghapusan skor "Want to see" ini dianggap oleh sebagian kalangan penggemar merupakan sebuah langkah desperate untuk "menyelamatkan" citra film Captain Marvel. Tidak hanya itu, langkah ini semakin menguatkan dugaan jika situs Rotten Tomatoes selama ini menganak emaskan film-film keluaran MCU atau dari Disney. Sudah banyak yang mengkritik situs ini dalam pemberian rating nya yang selalu tinggi untuk film-film dari MCU. Kritikus dianggap terlalu jinak pada film-film MCU. Contoh terkuat silahkan lihat begitu tingginya rating yang diterima Thor Ragnarok dan Black Panther yang dirasa tidak terlalu spesial. Awalnya dugaan konspirasi ini terkesan membual dan sekilas hanyalah pernyataan butthurt dari pihak oposisi Marvel (Baca: Fans DCEU). Namun dengan adanya pengupdatean ini, mau tidak mau, dugaan tersebut menguat dan bisa jadi adalah kebenaran. Pihak MCU belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Semua film MCU sebelumnya begitu dinantikan, termasuk Captain Marvel bahkan. Maka ketika ada satu film yang untuk pertama kalinya mendapatkan backlash luar biasa seperti ini, terlihat sekali jika pihak Marvel atau Disney mencoba melakukan segala cara untuk mempertahankan reputasi MCU. Sebuah keputusan yang seolah menyiramkan bensin di tengah kobaran api.

Segala kejadian tidak mengenakkan yang mengitari Captain Marvel ini jelas sekali menjadi hembusan angin segar untuk DC. Bila DC mampu memanfaatkan situasi ini, bukan tidak mungkin film bertemakan superhero yang selama ini dikuasai oleh Marvel, berpindah tangan ke pihak DC. Terlebih film rilisan DC, Aquaman (2018), cukup mendapatkan tanggapan positif baik dari segi kualitas maupun finansial. Bukan tidak mungkin ini adalah awal dari runtuhnya kedigdayaan MCU. Lalu pertanyaannya, apakah saya tetap akan menonton film ini? Kemungkinan besar, iya. Karena harus diakui, film Captain Marvel memiliki poin penting untuk film The Avengers selanjutnya, Endgame. Saya hanya berharap, dengan adanya backlash seperti ini, mampu menyadarkan pihak Disney jika para penggemar sama sekali tidak perduli akan agenda politik yang mereka simpan, dan juga tidak rela jika franchise kesayangan mereka dijadikan sebagai wadah propaganda politik SJW.


Friday, 27 April 2018


"In time, you will know what it's like to lose. To feel so desperately that you're right. Yet to fail all the same. Dread it. Run from it. Destiny still arrives"- Thanos

Plot

Thanos (Josh Brolin) akhirnya mulai bergerak dan menginvasi planet demi planet untuk mendapatkan lima Infinity Stones. Kehadiran Thanos ke planet bumi tinggal menunggu waktu saja karena salah satu infinity stones ada pada di kepala Vision (Paul Bettany). The Avengers yang sebelumnya hiatus bertahun-tahun, harus beraksi kembali untuk menghentikan Thanos mendapatkan kelima infinity stones, karena bila Thanos memiliki kelima batu tersebut, maka keinginan Thanos untuk menghancurkan setengah populasi alam semesta bisa ia lakukan hanya dengan menjentikkan jari saja.



Review

18 film dalam kurun waktu lebih kurang 1 dekade. Build up yang panjang, dengan pengenalan masing-masing karakter, semuanya dilakukan demi film ini. Kesabaran dari pihak Marvel tersebut tentunya memberikan dampak yang luar biasa positif. Setiap penonton memiliki favorit superheronya masing-masing, atau bahkan karakter sampingan belaka, yang artinya telah tercipta ikatan batin yang dalam antara penonton dan karakter di layar. Saya yang bukanlah penggemar dari Marvel saja masih bisa merasakan rasa emosional kala menginjakkan kaki ke dalam teater bioskop. Ada rasa tidak percaya karena sesaat lagi saya akan menyaksikan salah satu film yang paling dinantikan sepanjang sejarah perfilman ini, apalagi ditambah soundtrack Time nya Hans Zimmer yang saya dengarkan saat memasuki bioskop, menjadikan momen memasuki teater bioskop tadi malam menjadi momen yang paling susah dilupakan untuk saya.

Sempat ada rasa khawatir saat mengetahui akan pernyataan dari Russo Brothers bila kadar humor yang ada Infinity War akan lebih kental dibandingkan Civil War ataupun Winter Soldier. Namun tampaknya, bila pun pernyataan itu benar keluar dari Russo Brothers, itu hanyalah salah satu dari strategi marketing dari pihak Marvel untuk menipu penontonnya, karena kekhawatiran itu seketika lenyap dari semenjak opening dibuka. Tidak hanya beratmosfirkan rasa keputusasaan yang kental akan pembantaian yang ada, namun juga Russo Brothers tidak segan-segan "menghilangkan" salah satu karakter paling disukai dalam MCU. Dan juga menjadi momen perkenalan yang sebenarnya akan sosok Thanos. Sebuah opening yang seolah-olah menegaskan jika film Infinity War akan kental dengan sebuah rasa depresi dan juga roller coaster emosi yang tidak akan kita temukan di film-film MCU sebelumnya. Masih ada humor ala Marvel, tapi tidak seperti yang dilakukan Taika Waititi, Russo Brothers sadar akan timing sehingga humornya tidak lah merusak tone akan filmnya.

Ada dua hal yang paling saya tunggu dari Infinity War. Yang pertama, ingin melihat bagaimana Russo brothers yang kini dibantu oleh Christopher Marcus dan Stephen McFeely di kursi penulis naskah membagi-bagi kisahnya diantara karakter yang begitu banyak. Bisa dibilang, Infinity War terbagi 4 sesi. Pertama, kelompok Iron Man yang menunggu di planet Titan, perjuangan di bumi yang dipimpin Captain America untuk menjaga Mind Stone atau lebih tepatnya Vision yang menjadi incaran Thanos. Kemudian kita pun melihat usaha Thor, Rocket dan Groot untuk menciptakan senjata demi melawan Thanos dan tentunya kita melihat perjalanan Thanos dalam menyebar teror kepada alam semesta dengan terus mencari 5 infinity stones. Bukan hal yang mudah memang membagi-bagi cerita dengan memiliki konflik masing-masing. Dragging pun cukup terasa kala film memasuki pertengahan, walau tidak terasa terlalu mengganggu. Untungnya, kembali lagi berkat penokohan yang telah kokoh buah hasil kesabaran selama 1 dekade, tidak ada rasa bosan sedikitpun mengikuti kisah masing-masing karakter. Sehingga kita menuju ke askep kedua yang paling saya nantikan, yaitu interaksi pertama kali antar karakter maupun reuni antar anggota The Avengers. Yang paling saya nantikan tentu saja pertemuan antara para The Guardians dengan tokoh-tokoh The Avengers lainnya, juga tidak lupa reuni antara Steve Rogers dan Tony Stark. Bila membicarakan favorit, mungkin interaksi antara Thor dan para Guardians lah yang paling memorable untuk saya. Dan berbicara tentang Thor, saya tidak menyangka akan tiba suatu hari saya akan menyukai karakter ini. Beginilah seharusnya Thor ditampilkan. Dengan semua kehilangan yang telah Thor rasakan, mudah sekali bila kita menganggap bila Thor memiliki penderitaan paling mendalam di antara para tokoh The Avengers lainnya. Namun Thor tetaplah Thor, dirinya tidak ingin terlihat menderita. Namun namanya juga manusia yang punya hati, rasa kehilangan yang telah begitu banyak yang ia alami akhirnya juga tak terbendung. Percakapan Thor dan Rocket merupakan momen yang hampir membuat saya meneteskan air mata. Terlebih lagi akting prima dari Chris Hemsworth yang membuktikan bila aktor satu ini semakin matang saja dalam berakting. Hasilnya, Thor berhasil menjadi karakter dari tim Avengers yang paling mencuri perhatian disini berkat pendekatan humanis yang diambil,sehingga ketika momen kebangkitannya yang telah begitu saya nantikan, mampu membuat saya tepuk tangan sendiri di dalam bioskop (sial, penonton-penonton tadi malam pada jaim semua!!). Dipenuhi banyak karakter tentu saja mengakibatkan porsi antar karakter tidak seimbang, seperti Captain America yang tidak terlalu berkesan kehadirannya, Black Panther yang kembali mengecewakan untuk saya, ataupun Black Widow yang kembali tenggelam. Namun jangan khawatir, mereka semua tetaplah memiliki momen-momen tersendiri. Seperti pertemuan pertama antara Groot dan Captain America yang berhasil meledakkan tawa setiap penonton.

Cerita Infinity War tidak lah spesial memang, namun rasanya itu bisa dimaafkan karena rasanya hanya sedikit yang berharap Infinity War memiliki cerita yang kompleks. Infinity War bagaikan selebrasi dari "perayaan" 10 tahun berjalannya MCU, jadi sudah selayaknya lah kita mengharapkan sebuah sajian aksi yang super menghibur. Dan itu lah yang persis kita dapatkan. Baik dari adegan aksi yang memiliki skala yang masif maupun minor sekalipun, disajikan dengan begitu luar biasa menghibur disini. Pertempuran di Wakanda terlihat spektakuler dimana kita mendapatkan pertempuran kolosal layaknya film The Lord of the Ring, kemudian pertarungan di planet Titan yang memperlihatkan kerja sama para superhero melawan Thanos. Susah rasanya untuk bilang tidak menghibur akan sajian semua itu, dan karena saya tidaklah pintar menjabarkan keunggulan mengenai suatu aksi berdasarkan kacamata dari teknis, saya hanya bisa menyatakan bila kalian cukup lihat saja dan buktikan sendiri.



Saya bukanlah pengikut komik superhero Amerika Serikat, sehingga saya tidak tahu bagaimana Thanos versi komik. Namun MCU memberikan contoh bagaimana seorang villain yang memiliki kekuatan yang overpowered. Sepanjang durasi film, saya bertanya-tanya bagaimana Thanos akan dikalahkan, dan MCU memberikan jawaban yang memberikan kepuasan luar biasa untuk saya (apalagi endingnya yang berhasil membuat saya menganga senang). Sering kali villain yang semacam ini memiliki akhir yang antiklimaks, dan X-Men Apocalypse merupakan bukti terbaik bagaimana buruknya mereka menangani supervillain mereka. Setiap kehadiran Thanos digambarkan bagaikan seorang legenda yang hanya ada di dalam mitos. Kesan spesial tidak pernah luntur setiap kali ia muncul di layar. Seperti Tony Stark, Thanos adalah mimpi buruk bagi para penonton karena tebaran ancaman setiap kali ia tampil. Terlebih lagi, Russo brothers masih sempat memberikan kedalaman terhadap Thanos. Kita diajak untuk mengetahui apa sebenarnya motivasi dasar dari Thanos ingin menghancurkan setengah alam semesta. Dan siapa yang menyangka, kita diberi kesempatan untuk melihat sisi sentimentil dari Thanos! Tidak salah jika kita menganggap jika Thanos adalah karakter utama dalam Infinity War, terlepas perannya sebagai antagonis.

Apakah ini adalah film superhero terbaik? Jelas tidak, karena bagi saya, Infinity War belumlah mencapai level klasik seperti Trilogy The Dark Knight. Namun saya lebih menganggap Infinity War adalah sebuah hasil sukses dari sebuah kesabaran yang begitu panjang. Mungkin tanpa itu semua, Infinity War tidaklah terlalu jauh berbeda dengan Justice League yang mengecewakan itu. Kedekatan penonton dengan antar karakter yang ada telah tercipta, sehingga kita perduli dengan keselamatan atau eksistensi mereka. Ditambah dengan kehadiran supervillain terbaik dalam sejarah MCU, serta adegan aksi demi aksi yang semuanya menghibur, Infinity War tentu adalah selebrasi 10 tahun akan perjalanan MCU yang menyenangkan dan spesial.

8,5/10

Saturday, 17 February 2018




"What happens now determines what happens to the rest of the world"- T'Challa

Plot

Paska kematian sang ayah, T'Challa (Chadwick Boseman) otomatis maju menggantikan posisi sang ayah nya sebagai raja. T'Challa pun kembali ke Wakanda untuk menghadiri acara pelantikan yang disaksikan oleh sang ibu, Ramonda (Angela Bassett) dan Shuri (Letitia Wright) yang merupakan adik dari T'Challa, serta diikuti pula oleh berbagai kepala suku, diantaranya adalah W'Kabi (Daniel Kaluuya) yang bertugas melindungi Wakanda dari perbatasan. Mendadak harus mengisi posisi tertinggi dalam suatu negara jelas bukan hal yang mudah untuk T'Challa, apalagi dengan pikiran serta prinsipnya yang masih terbilang naif untuk mengisi jabatan tersebut. Belum lagi, tanpa disadari T'Challa, ada ancaman besar yang akan menjadi salah satu ujian awal sekaligus mungkin terberat untuk T'Challa. Ancaman tersebut bernama Erik Killmonger (Michael B. Jordan), mantan penduduk Wakanda yang berkaitan erat dengan masa lalu dari raja pendahulu T'Challa. Konflik personal yang bisa mengancam eksistensi Wakanda.




Review

Rasanya menghadirkan Black Panther pada Captain America: Civil War dua tahun lalu merupakan salah satu strategi marketing pintar yang dilakukan oleh Marvel. Setidaknya, dengan hadirnya Black Panther di dalam film terbaik MCU sejauh ini tersebut memberikan alasan penonton untuk menyaksikan film stand alone dari Black Panther ini. Pintar karena proyek Black Panther menurut saya memiliki risiko yang cukup tinggi. Dengan setting yang mencerminkan negara di suatu pulau Afrika, belum lagi membicarakan mengenai elemen-elemen budaya yang kental akan Afrika nya, jelas tidak semua penonton kasual yang terbiasa akan hal tersebut, walaupun film itu termasuk dari MCU yang notabenenya adalah proyek universe terbaik dan tersukses saat ini. Ditambah dengan para aktor-aktor nya yang masih cukup asing buat penonton. Untungnya dengan pemilihan aktor yang tepat, juga penampilan debut Chadwick Boseman sebagai Black Panther di Civil War yang meninggalkan impresi positif untuk penonton, film stand alone ini pun cukup dinantikan oleh penonton. Terbukti dengan rekor-rekor pendapatan yang diraih setelah baru saja rilis di bioskop. Lalu, apakah memang Black Panther begitu spesial seperti apa yang didengungkan oleh para kritikus?

Best MCU movie so far. Saya membaca kalimat tersebut dari twit seseorang yang dipost dalam website WhatCulture. Mencari info, apalagi review di internet bagaikan dua mata pisau untuk saya. Di satu sisi, kita bisa setidaknya tahu sedikit mengenai film yang akan kita tonton sehingga kita bisa mengantisipasi seperti apa film yang akan kita saksikan, namun di sisi lain, akan lahir ekspektasi setelah membaca review yang ada, terlebih jika pujian demi pujian yang dilontarkan. Hal ini berbahaya dan berisiko. Tidak masalah jika filmnya memang memenuhi ekspektasi, namun akan menjadi bumerang jika malah film tersebut sedikit saja di bawah apa yang kita harapkan. Kekecewaan serta kata "overrated" secara otomatis terlontar dari mulut. Dan sayangnya, itulah yang saya alami setelah menyaksikan Black Panther. It's still a decent, but if someone said this is the best movie of MCU so far, well, I have to disagree.

Tidak ada rasa baru sebenarnya dari film yang disutradarai oleh Ryan Coogler ini. Bahkan, cerita dasar yang dimiliki Black Panther sedikit mirip dengan film MCU sebelumnya yaitu Thor: Ragnarok. Namun menjadi hal yang menarik karena jika dalam cerita Thor: Ragnarok murni hanyalah kisah pembalasan dendam, tetapi di Black Panther, terdapat isu-isu yang juga terjadi dalam dunia nyata, yang menjadikannya terasa realistis walaupun setting kejadiannya terjadi di negara fiksi. Dengan kondisi mengisolasikan diri dan seolah memutus hubungan dengan negara-negara lain pula memicu konflik pertanyaan di benak. Apakah yang telah dilakukan raja-raja Wakanda sebelumnya itu memang keputusan yang tepat? Bukankah dengan sumber daya alam yang begitu luar biasa tersebut bisa dijadikan hal yang sangat membantu untuk negara-negara miskin yang masih banyak di luar sana? Pertanyaan yang memiliki jawaban sederhana, jika kita tidak mengetahui bagaimana negara-negara adidaya (you know what country I mean) yang seenaknya saja menginvasi negara kaya pemilik sumber daya alam. Hal ini yang menurut saya salah satu kelebihan yang dimiliki Black Panther. 

Dari segi aksinya, Coogler terlihat piawai sekali dalam menanganinya. Tentu yang paling menonjol adalah keributan yang terjadi di suatu wilayah Korea Selatan. Pertarungan di dalam bar, dimana Coogler sempat membingkainya dengan long take yang cukup panjang, hingga berlanjut ke dalam car chase yang tidak hanya mendebarkan, tetapi juga luar biasa menghibur. Tradisi "challenge" nya sendiri pun tidak ada yang mengecewakan, terutama tentu saja fighting scene antara T'Challa dan Killmonger di pertengahan yang menegangkan karena kita sulit untuk mengetahui siapa yang akan memenangkan pertarungan adu jotos tersebut. Sayang memang, pada adegan aksi terakhirnya tidak bisa meninggalkan kesan yang sama, walaupun melibatkan ruang lingkup yang cukup besar dimana ada 3 adegan aksi yang terjadi bersamaan, namun tetap mampu menghibur penonton, setidaknya untuk saya.

Black Panther pun memiliki salah satu elemen yang cukup jarang kita temukan di MCU, yaitu villain yang meninggalkan kesan mendalam, dan ya,  Erik Killmonger adalah salah satu villain terbaik dalam MCU. Killmonger bukanlah "bad guy" yang motivasinya murni ingin merebut tahta dan menguasai Wakanda. Motivasinya jelas lebih dari itu, dan setelah mengetahui kisah hidupnya, susah bagi saya untuk menyalahkan Killmonger. Coogler menyuntikkan motivasi yang begitu humanis terhadap Killmonger. Sejatinya, dia tidak jauh berbeda dengan T'Challa. Ia ingin menciptakan dunia tanpa perperangan, namun lain halnya dengan T'Challa, Killmonger telah merasakan pahit dan kejamnya kehidupan dengan senantiasa turut serta di berbagai dunia perang, yang jelas saja turut mempengaruhi bagaimana ia memandang kehidupan. Belum lagi kita menyentuh ke ranah motivasi personal nya yang tragis.


Michael B. Jordan sempurna dalam menunaikan tugasnya sebagai Erik Killmonger. Kehadirannya jelas menciptakan atmosfir yang intimidatif, tetapi ia juga bisa memerankan adegan yang ikut mengikutsertakan emosi. Saking bagusnya penampilan Jordan, tidak jarang ia sedikit menenggelamkan kehadiran Chadwick Boseman ketika tampil satu layar. Padahal Boseman tidak lah bermain dengan buruk. Mungkin karena memang karakter Killmonger jauh lebih compelling dibandingkan T'Challa. 

Nah, mengenai T'Challa, saya sedikit kecewa bagaimana karakternya dihadirkan disini. Apa yang dihadirkan disini rasanya tidak jauh berbeda dengan pahlawan DC, siapa lagi kalau bukan Superman. Keduanya memiliki kenaifan dalam memandang dunia dan one dimensional, hanya berbeda dari sumber kekuatan mereka berdua (ditambah jelas, mereka diciptakan dari dua publisher komik yang berbeda). Lucu sekali jika ada yang mengkritik karakter Superman, tetapi membela Black Panther yang bagi saya tidaklah jauh berbeda jika ditilik dari prinsip mereka. Mengapa mengecewakan karena saat Black Panther melakukan debut di Civil War, dirinya berpotensi sekali menjadi pahlawan vigilante serta berbumbu antihero ala Batman, walau harus diakui, kesan badass Black Panther masih melekat dalam dirinya, tetapi itu pun berkat desain kostumnya serta karisma dari Boseman.

Drama yang hadir dalam Black Panther pun entah kenapa terasa flat. Terutama adegan "itu", sebuah adegan yang sebelumnya juga hadir dalam The Dark Knight Rises. Saya dibuat terdiam dan tak mampu melihat layar ketika adegan tersebut hadir dalam TDKR, namun hal tersebut tidak saya rasakan dalam Black Panther. Bahkan pada saat momen kebangkitan pun, tidak ada sorakan yang hadir. Adegan yang harusnya membuat penonton senang dan tidak sabar ingin melihat bagaimana Black Panther kembali beraksi, malah terasa hambar dan terkesan lewat saja. Mungkin hal ini terjadi karena penonton belum terlalu terikat dengan Black Panther, dan setelah melihat bagaimana karakternya sendiri dalam film ini, hal tersebut tidaklah terlalu mengejutkan.

Black Panther jelas memiliki potensi menjadi film terbaik dalam MCU, dengan isu politik di dalamnya, singgungan terhadap Amerika Serikat, serta hadirnya villain yang berkesan disertai motivasinya dalam membalas dendam. Black Panther juga didukung dengan adegan aksi yang menghibur, karakter-karakter yang cukup menarik (terutama Shuri) beserta jajaran aktor nya yang telah melakukan tugas dengan baik. Namun sayangnya, potensi tersebut sedikit tertahan dengan ceritanya yang minim improvisasi sehingga kita dengan mudah menebak apa yang telah dan akan terjadi, serta karakter T'Challa yang one dimensional dan dramanya yang terasa hambar, membuat saya harus mengakui jika Black Panther sedikit overrated dengan segala sanjungannya (mendapatkan 97% di Rotten Tomatoes?? WTF??). Bagus, tetapi tidak terlalu berkesan.

7,25/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!