Showing posts with label WWE. Show all posts
Showing posts with label WWE. Show all posts

Wednesday, 29 January 2020


"Just 'cause millions of people aren't cheering when you do it, it doesn't mean it's not important"- Saraya

Plot 

Lahir dalam keluarga yang lekat dengan dunia gulat, Saraya (Florence Pugh) dan Zak (Jack Lowden) membantu promosi gulat independen kecil milik kedua orang tua mereka, Ricky (Nick Frost) dan Julia (Lena Headey) yang bernama World Association of Wrestling (WAW). Bersama Saraya, Zack juga ikut melatih anak-anak muda untuk bergulat di promosi tersebut, sembari tetap mengadakan event kecil-kecilan untuk menghasilkan uang. Keduanya ingin menggapai mimpi mereka untuk bisa tampil di event gulat terbesar di dunia, WWE (World Wrestling Entertainment). Rekaman bergulat Zak dan Saraya dikirimkan ke WWE, dan kesempatan tersebut datang ketika Hutch Morgan (Vince Vaughn), trainer yang bekerja untuk WWE, memanggil Zak dan Saraya untuk berpartisipasi di try out pada episode Smackdown di London.




Review

Dengan deretan film-film yang selama ini telah WWE produksi, setidaknya film seperti The Scorpion King dan Rundown yang cukup menghasilkan kesuksesan. Selebihnya, kebanyakan film-film tersebut harus dirilis langsung ke dalam bentuk DVD atau straight to video, bukti bila kebanyakan atau hampir semua film rilisan WWE berakhir dengan mengenaskan, entah itu karena pendapatan yang tidak balik modal atau ulasan "kejam" para kritikus yang bahkan mungkin malas untuk mereview film-film ini. Kendalanya adalah selama ini, WWE studios selalu memilih mengedepankan genre aksi yang disuntikkan kepada film-film mereka. Film seperti The Marines (yang gak tahu kenapa bisa sampai hingga sekuel ke 6), 12 Round, atau Vendetta, jelas sekali jika WWE Studios begitu mencintai film aksi. Hingga membuat mereka lupa jika sebenarnya ada kisah yang bisa lebih dieksplorasi pada perjalanan setiap wrestler yang mereka miliki. Diproduksi oleh legenda hidup dari WWE, Dwayne "The Rock" Johsnon, Fighting With My Family menceritakan perjalanan karir Saraya Knight, atau yang lebih populer kita kenali sebagai Paige, dalam meraih kesuksesan di dunia gulat bersama WWE dan nantinya berhasil menjadi salah satu pegulat wanita berpengaruh dalam memantik api membara dunia gulat wanita. 

Fighting With My Family mungkin formulaic. Ya, film ini bisa dibilang tidak terlalu mengambil langkah revolusioner dalam menceritakan kisah biografi nya. Ini bukan lah sajian biografi berani layaknya Straight Outta Compton, tetapi sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Stephen Merchant mengambil approach yang bijak dalam menggulirkan narasi nya. Merchant tampaknya meyakini jika Saraya/Paige akan berhasil menjadi top divas di WWE sudah diketahui atau bahkan ditebak oleh penonton kasual yang tidak mengikuti WWE. Ya film biografi mana yang pada akhir cerita nya tidak menampilkan momen klimaks atau keberhasilan tokoh yang diangkat? Maka dari itu, narasi nya benar-benar didominasi oleh perjuangan Saraya untuk bisa bertahan ketika harus berlatih fisik maupun mental di pengembangan karir yang dinamai NXT, dan yang pasti sesuai judulnya, konflik yang dialami Saraya dengan keluarganya, terutama dengan Zak. Justru untuk saya, kepingan-kepingan story arc milik Zak lah yang berhasil muncul menjadi pembeda di bagian narasi.

Dunia gulat memang tidak untuk semua orang, terutama di Indonesia. Walau sempat booming di periode awal 2000an, sajian wrestling cukup menjadi hal tabu ketika media di Indonesia menggembar-gemborkan korban-korban yang jatuh akibat mempraktekkan aksi-aksi gulat sehingga penayangan WWE (kala itu masih WWF) dihentikan sama sekali di tayangan televisi swasta. Wrestling gear para pegulat sendiri yang begitu menampilkan aurat juga sangat tidak cocok untuk Indonesia yang masih mengedepankan agama. Kondisi ini sih yang membuat saya secara sembunyi-sembunyi untuk mengikuti perkembangan dunia wrestling, apalagi kalau menonton pertarungan para pegulat wanita, udah deh, harus pintar-pintar mencari waktu dan kondisi. Ibarat kata, ketahuan menonton wrestling match sudah bisa disandingkan aib nya dengan menonton blue film.

Namun kecintaan saya yang telah tertanam di masa kecil susah untuk dihilangkan, tentu saja. Kenangan kala saya bermain gulat dengan dua kakak saya setelah menyaksikan Smackdown yang kala itu masih ditayangkan di R*TI terus terpatri di ingatan. Masih begitu lekat di ingatan ketika saya kecewa berat ketika The Rock gagal mengalahkan Triple H di event Judgement Day setelah berhasil comeback dalam pertarungan Iron Match nya. Mungkin dengan fakta ini lah, ikatan emosi telah terhubung dengan Zak dan Saraya kala di opening nya, kita menyaksikan Zak bersorak kala melihat wrestler idola nya meraih kemenangan, dan segera mempraktikkan salah satu move ke adiknya, Saraya.

Dengan berbagai momen sekilas, kita diajak Merchant untuk lebih mengenal keluarga Knight dalam mengelola bisnis gulat independen kecil milik mereka. Dari Zak yang menjadi pelatih untuk para pemuda berusia tanggung di kota Norwich, bahkan satu dari murid nya ada yang mengalami disabilitas, lalu Saraya, yang ternyata diambil dari nama panggung milik ibu nya kala berkarir di dunia gulat, juga ikut membantu Zak sebagai sparring partner baik ketika latihan atau di pertandingan resmi kecil-kecilan. Lalu tentunya ada Ricky dan Julia yang senantiasa membantu mereka berdua. Tidak ketinggalan Merchant membangun bumbu-bumbu konflik nya, seperti Saraya yang sempat dicemooh akibat penampilannya yang jauh dari kata feminim, Zak yang menanti kehadiran buah hati bersama pacarnya, Courtney (Hannah Rae) dan kesulitan finansial yang dialami keluarga Knight. Pembangunan konflik nya terasa straight to the point karena nanti kala film menginjak ke pertengahan durasi, semuanya menyatu dan memiliki pengaruh kala Fighting With My Family mulai menyentuh pada konflik utama nya, yaitu fakta dimana Zak harus menerima kenyataan jika ia tidak berhasil memenuhi kriteria standar yang dibutuhkan WWE. Dan lebih pahit nya lagi, adiknya sendiri ternyata merupakan satu-satunya kontestan yang direkrut oleh Hutch Morgan untuk bergabung dengan WWE dan mengikuti proses pengembangan bakat di NXT.

Bayangkan jika Anda di posisi Zak. Sebagai individu yang memiliki passion yang besar untuk dunia gulat, berlatih dari kecil hingga dewasa untuk meraih mimpi dan berharap akan tiba momen ribuan penonton menyerukan nama panggung Anda, harus menelan pil pahit kehidupan kala fakta tidak beriringan dengan harapan dan keinginan. Kesempatan satu kali seumur hidup gagal tercapai, ditambah harus menyaksikan adik nya sendiri yang tak disangka-sangka berhasil meraih kesempatan tersebut. Hal ini yang membuat Zak menjadi sympathetic character utama dalam kisah ini dan berhasil menjadi poin positif besar, setidaknya untuk saya. Walau cerita memang berfokus pada perjuangan kisah Saraya/Paige, namun saya senantiasa tidak sabar untuk melihat keadaan Zak. Ada rasa kekhawatiran jika ia akan mengambil langkah yang salah akibat kekecewaan yang mendalam dan menelantarkan keluarga nya, terutama Courtney dan anak nya yang baru lahir. Terlebih keluarga Knight sendiri mempunyai sejarah dengan dunia kriminal.

Untuk yang mengikuti dunia wrestling, pasti bisa memahami jika industri ini sangat lah kejam. Tidak semua orang bisa menjadi main event superstar. Kemampuan, bakat dan kerja keras tidak cukup, harus ada faktor X supaya seseorang berhasil menjadi seorang pegulat papan atas, terutama untuk perusahaan raksasa WWE. Banyak pegulat yang berbakat, namun tidak semuanya yang memiliki faktor X tersebut. Sang owner, Vince McMahon menyebutnya "brass ring", dan sekali lagi, tidak semua superstar yang memiliki itu. Bahkan top face dalam sejarah WWE seperti Stone Cold, The Rock hingga John Cena sebenarnya tidak lah memiliki skill bintang 5 jika berbicara pada aspek bergulat nya saja, namun nama-nama tersebut, di mata Vince McMahon, memiliki faktor X itu sehingga berhasil menjadi ikon dalam WWE. Hingga sekarang, WWE pun masih berusaha untuk mencari suksesor John Cena untuk menjadi top face besar layaknya dia. Naskah Merchant cukup berhasil menyinggung hal ini. Zak mungkin lebih memiliki teknik gulat lebih baik dibanding Saraya, namun bagi Hutch, Zak tidak memiliki faktor X yang bisa menghantarkannya menjadi bintang.

Berbanding terbalik dengan Saraya. Meskipun teknik nya biasa-biasa saja, tetapi Hutch melihat ada sesuatu dalam diri Saraya, yang membuatnya jauh lebih unik dibandingkan superstar wanita milik WWE lainnya. Sudah menjadi rahasia umum jika sebelum women's revolution dalam WWE, kebanyakan pegulat wanita milik WWE direkrut dari model yang diajarkan teknik-teknik bergulat, yang berfungsi untuk menjadi eye candy para penonton pria dewasa. Dari Sable, Torrie Wilson, Stacy Kiebler, divisi wanita didominasi dengan pegulat wanita yang pirang dan berbodi seksi. Bahkan living legend seperti Trish Stratus saja pada awal nya berkaris sebagai manajer seksi, sebelum akhirnya memiliki teknik wrestling yang memadai dan mendapatkan respect dari WWE Universe (sebutan WWE untuk para penggemar). Saraya berbeda karena dibanding wanita lainnya, teknik nya sudah di atas rata-rata karena telah berkarir di dalam dunia gulat semenjak dini. Mungkin karena ini lah, Hutch memilih Saraya tanpa ragu-ragu, karena ia meyakini, Saraya memiliki kapabilitas untuk menghadirkan sebuah gebrakan yang baru.

Konflik ini lah yang mengakibatkan kerenggangan akan hubungan antara Zak dan Saraya. Dari awal yang selalu berlatih bersama, mendadak hubungan antar keduanya mendingin. Terlebih Saraya harus berangkat ke negeri Amerika untuk mendapatkan pelatihan di developmental territory, NXT. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi mental keduanya. Zak kehilangan semangat untuk melatih anak didiknya di WAW karena terlalu berfokus untuk kembali mendapatkan kesempatan untuk try out untuk WWE. Sedangkan Saraya yang sebenarnya memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan teman-teman wanita nya di NXT yang kebanyakan mantan model, justru mendapatkan kesulitan akibat kehilangan daya juang. Bahkan ia tidak sengaja mempermalukan dirinya sendiri ketika ia sadar jika orang yang selama ini ia remehkan, justru memiliki fighting spirit jauh lebih besar ketimbang dirinya. Secara terpisah, keduanya berperang terhadap diri sendiri. Zak dengan rasa iri dan cemburunya, dan Saraya yang merasa tidak enakan dengan saudara nya tersebut. Hingga pada di suatu titik, keduanya bertemu kembali di dalam ring, yang awalnya mereka dipertemukan untuk menjalani rutinitas acara wrestling untuk WAW pada umumnya, menjadi panggung puncak atas drama konflik yang terjadi antara keduanya.

Mungkin adegan yang terjadi di ring tersebut tidak lah terlalu melahirkan sebuah ironi yang luar biasa, namun sudah cukup untuk membuat saya sebagai penonton menyayangkan atas situasi yang terjadi. Semua ini tentu saja berkat pondasi naskah yang solid nan kokoh dari Merchant. Kita dibuat perduli akan hubungan persaudaraan mereka, dan kita pun bingung untuk mendukung siapa karena keduanya memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yang lebih menarik bagi saya justru adu mulut yang terjadi antara Zak dan Saraya setelah turun dari ring. Kalimat dari Saraya begitu mengena untuk saya, bahwa kita telah memiliki peran ideal masing-masing. Mungkin peran tersebut tidak mendapatkan perhatian banyak orang, namun tidak melunturkan betapa penting nya peran tersebut. Tanpa Zak sadari jika ia sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan sebuah harapan untuk anak didiknya yang mungkin saja bisa terjun ke dunia kriminalitas bila tanpa bimbingannya. Jujur saja,momen ini berhasil menyentil saya

Cukup disayangkan karena perseteruan batin antara keduanya tidak memiliki konklusi yang memuaskan. Ada kesan terburu-buru untuk akhirnya dua karakter ini kembali menemukan pijakannya dan bangkit kembali. Pergerakan narasi redemption nya pun terasa generik dan bergerak biasa saja tanpa terlalu meninggalkan kesan. Di adegan akhir pun, Merchant sebenarnya cukup berlebihan dalam hal menyuntikkan elemen dramatisasinya. Untungnya minor ini tertutupi berkat performa apik para pemeran utama. Tahun 2019 tampaknya menjadi tahun dimana nama seorang Florence Pugh patut menjadi salah satu rising star yang tak bisa diremehkan. Semenjak Midsommar, Pugh telah menyajikan salah satu kekuatannya, yaitu permainan emosi yang tidak terkesan berlebihan dan hal ini ia tunjukkan di film ini. Lihatlah ekspresinya kala menahan tangisan di adegan bandara. Atau kebisuan penuh arti saat ia gagal melakukan "promo" untuk pertama kali di depan penonton. Jack Lowden bermain pada ekspresi subtil untuk menggambarkan perasaan Zak dan ia melakukannya dengan baik. Dwayne Johnson tetaplah Dwayne Johnson, berkharisma dan selalu mencuri perhatian di setiap kehadirannya. Salah satu momen terbaik film ini pun ketika ia secara tiba-tiba melakukan persona nya sebagai The Rock yang kental mengandung unsur nostalgia. Vince Vaughn juga kembali menghadirkan performa solid sebagai trainer yang tegas.

Apakah film ini hanya diperuntukkan bagi penggemar wrestling? Tentu saja tidak. Baik anda merupakan penggemar atau bukan, Anda bisa menikmati film ini karena elemen-elemen wrestling nya disuntikkan sesuai dengan porsi nya. Bahkan bila Anda pun merupakan termasuk pihak yang meremehkan industri ini, justru Anda wajib menonton nya supaya setidaknya Anda mulai bisa mengapresiasi para "pelakon" yang terlibat di dunia wrestling. Mereka yang terlibat dengan dunia ini, tidak hanya mempertaruhkan badan mereka, namun juga kehidupan, keluarga serta mimpi hanya untuk menghibur para penggemar. Saya harap, dengan keberhasilan film ini mampu membuka mata WWE Studios supaya selanjutnya bisa membuat film-film yang mengedepankan hati, ketimbang sajian aksi.

8/10

Sunday, 24 November 2019


Yap. Akhirnya niat saya untuk mereview pertunjukan wrestling terkabulkan juga. Belakangan, saya kembali mengikuti secara rutin bisnis ini, terima kasih atas hadirnya AEW yang sukses mengembalikan rasa cinta saya pada wrestling, setelah sekian lama minat saya sempat hilang setelah saya kecewa berat atas keputusan WWE dalam membunuh momentum hangat cerita dari the rise of Becky Lynch. Mungkin saya akan membahas di postingan lainnya, namun setelah Wrestlemania 35, saya memang tidak terlalu berminat lagi akan dunia wrestling. The rise of Becky Lynch merupakan faktor besar mengapa saya kembali tertarik menyaksikan WWE di pertengahan akhir tahun 2018. Setiap weekly show saya ikuti perkembangannya, apalagi feud antara Becky dengan salah satu WWE rookie terbaik sepanjang sejarah, mantan juara dunia UFC wanita, Ronda Rousey, yang berpotensi besar menjadi one of the best rivalry of the decade. Namun sayang, WWE kembali melakukan blunder akibat overproduced yang sering kali mereka lakukan, hingga akhirnya WWE memutuskan untuk melibatkan Charlotte Flair untuk ikutan "gabung" bersama Becky dan Ronda di main event wanita pertama di Wrestlemania. Dan hasilnya, match mereka pun terasa underwhelming, begitu juga kemenangan Becky yang terasa antiklimaks.

Kekecawaan saya pada WWE semakin bertambah setelah mereka kembali melakukan blunder atas hasil main event di Hell in a Cell pay-per-view yang sukses menjadi salah satu kontroversi terbesar di tahun ini. Tidak hanya Becky yang mereka bunuh momentum nya, namun juga top face WWE, Seth Rollins yang ikutan kena dampak atas keputusan bodoh WWE itu. Saya pun merasa cukup, meninggalkan WWE (lagi), dan mencoba untuk mengikuti AEW, perusahaan wrestling terbaru dengan di dalamnya ada beberapa mantan pro wrestler dari WWE, seperti Chris Jericho dan Jon Moxley. Moxley sendiri sempat menjadi perbincangan hangat setelah hadir dalam podcast Talk is Jericho dan blak-blakan menceritakan mengapa dirinya keluar dari WWE. Saat ini, Jon Moxley berhasil menjadi pro wrestler paling populer dalam AEW, dan AEW sendiri dengan weekly show mereka, AEW Dynamite dan Full Gear, pay-per-view pertama milik AEW setelah era Dynamite, berhasil memuaskan penggemar. Terutama match milik Jon Moxley vs Kenny Omega yang kontroversial itu akibat tingkat kebrutalan dan kekerasannya yang tinggi, sehingga memecah pendapat penggemar, apakah mencintai atau bahkan membenci match tersebut.

AEW Dynamite tayang di setiap malam Rabu, dimana dalam waktu bersamaan, developmental brand milik WWE, NXT, juga tayang, sehingga Wednesday Night War tercipta. Dan berkat ini juga, dunia wrestling kembali bergelora. Perang antara siapa brand yang terbaik pun selalu menjadi perdebatan. NXT sendiri boleh saja diperlakukan layaknya produk kelas 3 dalam WWE setelah Monday Night Raw dan Smackdown, namun NXT dalam beberapa tahun terakhir berhasil menjadi produk kesayangan penggemar WWE. Hal ini dibelakangi akan match quality dari NXT selalu berkualitas, para superstars nya yang menarik dan mudah dicintai. Dan yang paling penting, NXT memiliki niat untuk membuat penggemar senang, tidak seperti main roster yang malah sering kali membuat penggemar marah atas booking yang aneh dan tidak beralasan.

Sebenarnya saya sudah memiliki niat untuk menulis review wrestling pertama saya di blog ini pada Full Gear kemarin, namun dikarenakan saya berhalangan untuk menyaksikan pay-per-view tersebut, saya pun menunda kembali niat itu, dan akhirnya, viola, kehormatan jatuh pada pay-per-view dari NXT, yang berjudul NXT Takeover WarGames. 

NXT WarGames hanya diisi 4 match saja, namun semuanya sangat menjanjikan. Terlebih semenjak debut di 2 tahun lalu, WarGames belum pernah sekalipun mengecewakan, yah, sebenarnya semua Takeover tidak ada yang mengecewakan sih. Ekspektasi penggemar jelas meninggi, ditambah build up di beberapa minggu belakangan terasa seru dan menarik dengan tema invasi antar brand karena WarGames pun diadakan berdekatan dengan pay-per-view dari main roster, yaitu Survivor Series.

Women's WarGames: Team Ripley (Rhea Ripley, Dakota Kai, Tegan Nox & Candice LeRae vs Team Baszler (Shayna Baszler, Io Shirai, Bianca Belair & Kay Lee Ray


WWE tengah gencar menggenjot dunia wrestling wanitanya dengan sering kali mengadakan pertarungan bertajuk "the first ever.....". Setelah tahun ini women's wrestling menciptakan sejarah atas suksesnya mengisi slot main event di Wrestlemania, NXT pun tidak ketinggalan untuk menorehkan sejarah pula dengan mengadakan wargames untuk wanita pertama kali nya. 

Dengan nama-nama yang terlibat, rasanya hampir mustahil jika match ini berakhir tidak memuaskan. Ada Rhea Ripley yang dipercaya akan menjadi top female face (hero dalam dunia wrestling) di masa akan datang, ada juga Io Shirai, one of the best female wrestler right now, serta ada Kay Lee Ray, dan tentunya Shayna Baszler , the NXT Women's Champion, yang mendominasi di kelas nya dalam NXT. 

Setiap kontestan memiliki momen masing-masing, terkecuali mungkin Shayna, yang terlihat sekali harus menyimpan stamina nya karena ia harus berkompetisi lagi esoknya melawan Becky Lynch dan Bayley di Survivor Series. Ripley menjalankan perannya sebagai the powerhouse dengan baik, Bianca pun memiliki momennya sendiri seperti melakukan 450 Splash, dan bersama Kay Lee Ray, she often took a bump from another superstars. Candice LeRae juga menghadirkan top rope reverse rana yang cantik. Namun, favorit saya tentu nya adalah Io Shirai yang kembali membuktikan kehebatannya dalam bergulat. Momen puncaknya adalah ketika Io melakukan beautiful moonsault from the top of the cage. She's insane.


Namun, tidak perduli briliannya pertarungan ini, yang paling tertancap di benak penonton adalah momen turn heel (istilah villain dalam dunia wrestling) dari Dakota Kai yang menghajar secara brutal the poor Tegan Nox. Dalam waktu singkat, Dakota Kai berhasil menjadi heat magnet di NXT untuk kedepannya. Kritik kecil mungkin adalah seringnya NXT melakukan narasi yang sama. Setelah Io yang mengkhianati Candice, kini Dakota juga memiliki narasi yang serupa. Mungkin NXT ingin mengikuti kesuksesan rivalitas antara Gargano dan Ciampa. Selain itu, akibat penyerangan dari Dakota ini, Tegan Nox tidak bisa ikut tampil sehingga pertarungan ini tidak berimbang menjadi 2 vs 4. Narasi sederhana dimana para hero harus overcoming the odds. Hasilnya pun cukup mengejutkan dimana Team Ripley berhasil meraih kemenangan walau hanya berdua saja, mengakibatkan tiap anggota Team Braszley terlihat sedikit lemah. Minor complaint ini sedikit mempengaruhi rating saya pada match ini.

Rating: ****

Triple Threat: Pete Dunn vs Killian Dain vs Damian Priest (The Winner become No. 1 Contender for NXT Championship)


Jujur saja, saya masih asing dengan Damian Priest dan Killian Dain. Saya yakin pun kebanyakan penggemar NXT ikut merasakan hal yang serupa. Maka dari itu, bagi saya sendiri, match ini selain menentukan siapa penantang baru berikutnya untuk Adam Cole (BAY BAY!!), namun juga bertujuan untuk mengenalkan kepada kita akan kemampuan dari Killian Dain dan Damian Priest. Beruntungnya mereka berdua bekerja bersama Pete Dunn, yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi skill bergulat nya. Pete Dunn melakukan tugasnya dengan brilian untuk carry the match tanpa harus membayangi Killian dan Damian. Untuk saya sendiri, saya terkesan dengan Damian Priest. Priest memiliki kharisma, kemampuan nya pun berimbang atas power dan agility, dan juga Priest juga yang paling sering menerima serangan dari Dunn dan Killian, sehingga teknik selling nya pun ikutan bersinar. 

Walau tidak terlalu berkesan, namun triple threat ini masih memiliki memorable moment seperti momen trading punches and kicks antara Dunn-Killian-Damian, the Razor's Edge onto the announce table, drama near-falls nya berjalan meyakinkan. Good match, with a right winner.

Rating: ***3/4

Finn Balor vs Matt Riddle


Easily the worst match of the show, and actually it was not a bad match, it was good, though. Finn Balor yang kembali ke NXT setelah 4 tahun dengan menghadirkan salah satu momen paling mengejutkan di dunia wrestling tahun ini setelah melakukan Pele Kick pada Johnny Gargano, menandai akan turn heel nya Balor. Finn Balor memiliki momentum besar di tangannya, setelah karirnya menemui kebuntuan di main roster, maka sungguh sangat bijak dalam match nya dengan Matt Riddle ini, Balor wajib menggenggam kemenangan. Dibalik cerita sendiri, dalam WarGames ini Balor harusnya menghadapi Gargano, namun dikarenakan cedera, maka option B nya adalah Gargano digantikan Matt Riddle. Meski level Riddle belum setara Gargano, namun dalam beberapa kesempatan, Riddle telah membuktikan kemampuannya. Bahkan Riddle adalah salah satu babyface dalam dunia wrestling yang kredibilitas nya tidak akan rusak meskipun beberapa kali menelan kekalahan.

Narasi dalam match ini sederhana, Finn Balor ingin membuktikan jika dirinya belumlah habis dan ia pun menunjukkan nya disini, dimana ia mampu mengalahkan Riddle tanpa harus melakukan dirty tactics, strategi umum yang sering dilakukan oleh heel. Riddle juga tidak kalah bersinar dimana ia melakukan spear dan Jackhammer combo pada Balor secara meyakinkan.  Match yang cukup menghibur, namun sayang harus sedikit tenggelam akibat match-match lainnya yang memiliki stipulation.

Rating: ***1/2

Men's WarGames: Team Ciampa (Tomasso Ciampa, Keith Lee, Dominik Dijakovic & Mysterious Guest: Kevin Owens) vs Undisputed Era (Adam Cole, Roderick Strong, Kyle O'Reilly & Bobby Fish)


Masih meneruskan tradisi di setiap Takeover WarGames dengan main event nya selalu berhasil menjadi match of the night. Team Ciampa harus menerima fakta karena kekurangan orang dibandingkan Undisputed Era, sebelum nanti mereka mendapatkan kejutan besar dengan return nya Kevin Owens dan bergabung dengan Team Ciampa. Comeback ini pun bukan tanpa narasi karena ini adalah continuity dari build up yang dilakukan dalam beberapa minggu belakang. 

Seolah tidak ingin kalah dengan para wanita, disini semua delapan pegulat pria ini rela melakukan beberapa spot brutal yang mengejutkan dan mudah menjadi highlight di pertarungan ini. Salah satu yang terbaik adalah Panama Sunrise dari Adam Cole on the steel between the rings. That was sick and brutal!

Flow dalam match ini juga mengalir dengan baik, serta menampilkan apik nya kerja sama setiap anggota dari Undisputed Era. Dengan match ini juga, Undisputed Era semakin memperlihatkan jika mereka adalah stable terbaik saat ini di WWE. Tentunya saya berharap, Undisputed Era bisa meneruskan sepak terjang nya di main roster nanti. Siapa tahu, stable ini mampu mengikuti kesuksesan akan The Bullet Club dari NJPW. Dari Team Ciampa, walau Dijakovic masih harus berusaha lebih lagi untuk over di mata penonton, namun tidak untuk Keith Lee yang mencuri perhatian berkat agility nya yang mengagumkan meski dengan tubuh besarnya. 

Match ini diakhiri dengan holyshit spot, yaitu Ciampa melakukan Air Raid Crash from top of the cage and landing trhough two tables. OH. MY. GOD. What a way to ending this match. Dengan comeback mengejutkan dari Kevin Owens serta momen-momen WoW yang terjadi dalam match ini, tentu saja rating tinggi dari saya sudah bisa dipastikan.

Rating: ****1/2

Overall:

Hanya dengan 4 match, namun hampir semuanya memiliki kualitas baik, dengan dua WarGames match nya benar-benar mendefinisikan arti dari epic itu tersendiri. NXT Takeover senantiasa menghadirkan kualitas yang berkelas, dan tidak terkecuali untuk NXT Takeover satu ini.

What. a. war

NXT Takeover WarGames 2019: 8,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!