Sunday, 9 February 2014



 

The Hangover hadir di dunia  industri film Hollywood pada tahun 2009, dengan mengambil genre komedi dewasa rate R dan disutradarai oleh Todd Philips, siapa yang menyangka film ini mampu mendulang kesuksesan yang luar biasa. Dari budget yang dikeluarkan hanya $35juta, The Hangover mampu meraup keuntungan berlipat-lipat yaitu $459 juta lebih! Tidak hanya itu, The Hangove juga mendapatkan pujian dari para khalayak, termasuk para kritikus film dimana film komedi seperti ini cukup jarang mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus. Film The Hangover yang pertama pun juga mampu memenangkan piala Golden Globe ke-67 dalam kategori Musikal Komedi Terbaik, menyisihkan film favorit gw, 500 Days of Summer..! Dengan kesuksesan luar binasa tersebut, sangat bisa ditebak bahwa akan lahirnya sekuel dari film tersebut, dan sampai akhirnya membentuk sebuah trilogy dari film ini. Maka dari itu, gw akan mengulas satu per satu film dari franchise ini. Here they are!

Review The Hangover (2009)


Hey, you guys ready to let the dogs out? - Alan Garner


Plot
Berceritakan tentang Doug (Justin Bartha) yang akan melangsungkan pernikahan dengan Tracy (Sasha Barrese), adik dari Alan (Zach Galifianakis). Namun seperti ritual pada umumnya di negara Amerika dimana akan ada bachelor party untuk sang pengantin pria, Doug pun akan mengadakan bachelor party tersebut bersama dengan Alan, Phil (Bradley Cooper) dan Stuart (Ed Helms) di Las Vegas. Setelah sampai di Vegas dan menyewa hotel mewah di sana, mereka pun menaiki atap hotel tersebut dan mengadakan toast setelah diisi dengan kalimat penyambutan dari Stu dan Alan. Toast pun dilakukan dan viola, petualangan gila pun dimulai..
Adegan pun beralih ke kamar mereka, dimana suasana dan keadaan di dalam kamar tersebut sungguh berantakan. Tidak hanya itu, ketiga dari mereka yaitu Alan, Phil dan Stu sedang dalam keadaan tidak sadar diri akibat mabuk berat. Setelah mereka bangun satu per satu, alangkah terkejutnya mereka dengan kondisi di kamar tersebut. Tidak hanya itu, di dalam kamar tersebut terdapat Harimau buas, seorang bayi kecil, ditambah dengan lepasnya gigi taring dari Stu, dan sialnya lagi, mereka tidak dapat menemukan Doug! Anehnya, mereka tidak ingat apapun tentang kejadian yang mereka alami pada malam sebelumnya. Mulailah mereka mengumpulkan satu per satu petunjuk untuk mencari jawaban dan tentunya menemukan Doug. Mereka juga harus berpacu dengan waktu, karena esok harinya Doug harus menikah dengan Tracy. 




Review

The Hangover memang menawarkan cerita yang segar, cukup sedikit film komedi yang diselingi dengan cerita misteri didalamnya. The Hangover melakukan itu. Para penonton pun pasti penasaran apa yang terjadi dengan mereka dan berada di mana sebenarnya Doug. Namun tenang, ini film bergenre Komedi, jadi, terungkapnya misteri tersebut pun akan diselingi dengan kejadian-kejadian yang menggelitik dan cukup gila. Disitulah letak hiburannya, kejutan-kejutan yang telah dipersiapkan sangat mampu memberikan efek kepuasan tersendiri dan penonton pun pastinya merasakan kesan mendalam dengan kejutan itu sendiri. Memang pada awal film, The Hangover sedikit berjalan flat atau datar, dimana film bermaksud memperkenalkan kita pada setiap karakter, namun tenang, semua kegilaan dan humor maksimalnya telah menanti kalian ketika mereka mulai mencari petunjuk-petunjuknya satu per satu dengan berlatar belakang glamornya kota Vegas. Kita pun cukup menantikan twist apa yang akan muncul selanjutnya. Dan lebih menyenangkannya lagi, Todd Philips pun telah mempersiapkan cameo-cameo yang menarik dan tentu saja akan memberikan efek kejut yang menyenangkan.
Dari departemen akting sendiri, ketiga aktor utamanya yaitu Bradley Cooper, Ed Helms dan Zach Galifianakis menunjukkan kolaborasi yang cemerlang. Dari Bradley sebagai Phil yang macho namun memiliki karakter  yang sarkasme serta sedikit konyol dan gila, kemudian Ed sebagai Stuart Price yang berprofesi sebagai dokter gigi yang memiliki karakter paling was-was diantara mereka serta sumber kegilaan yaitu Alan yang diperankan Zach. Ya, Alan inilah faktor kegilaan utama yang dimiliki The Hangover. Dengan janggut lebat serta muka yang sedikit seram, Alan menjadi karakter paling memorable dalam The Hangover.

Kesimpulannya, The Hangover memang layak mendapatkan segala kesuksesan yang telah didapatnya. Dan gw pun mengakui kekalahan 500 DoS dalam Golden Globe. Dengan kegilaan serta misteri didalamnya serta kejutan-kejutan yang telah menanti, The Hangover adalah salah satu film terbaik pada tahun 2009..
My rate 8/10

The Hangover II (2011)

  It happened again, we lost Teddy.-Phil Wenneck

Plot

Setelah putus hubungan dengan Mellisa di prekuelnya, Stu (Ed Helms) menjalin hubungan dengan wanita Thailand bernama Lauren (Jamie Chung) dua tahun kemudian, dan memutuskan untuk menikahinya di tanah kelahiran Lauren. Stu pun mengundang orang-orang terdekatnya, termasuk Phil (Bradley Cooper) dan Doug (Justin Bartha) beserta kedua istri mereka. Namun Stu tidak mengundang satu anggota ‘wolfpack’ lainnya, siapa lagi kalau bukan Alan (Zach Galifianakis). Alasannya simpel, Stu tak ingin kejadian di Las Vegas dua tahun lalu terulang kembali dan merusak pernikahannya. Namun dengan desakan dari Phil dan Doug, Stu pun dengan berat hati akhirnya mengundang Alan ke Thailand. Mereka pun berangkat ke Thailand dengan diiringi oleh adik Lauren yaitu Teddy (Mason Lee). Sesampainya di Thailand pun semuanya berjalan lancar, sampai ketika semua anggota Wolfpack ditambah Teddy sedang berbincang di tepi pantai serta ditemani dengan marshmallow dan sedikit bir yang masih disegel. Iya, kejadian yang terjadi di Las Vegas terulang kembali. Namun yang hilang disini bukanlah Doug, melainkan Teddy. Dengan deadline waktu pernikahan yang semakin mendekat, anggota wolfpack pun berusaha untuk mencari keberadaan Teddy.




Review

‘Phil, i think it’s happened again..’ Ya, begitulah kalimat yang keluar dari mulut Alan ketika mereka terbangun di hotel murah dan keadaan kamar yang berantakan. Dan sayangnya itulah kesalahan fatal dari film kedua dari franchise The Hangover ini. Kalo di film pertama gw masih baca-baca di internet tentang film The Hangover serta membaca review-review yang beredar di blog-blog yang sering gw kunjungin, tidak untuk film kedua ini. Kenapa? Karena gw ingin dikejutkan seperti gw dikejutkan di film pertamanya. Dalam pikiran gw, kalo di film pertama aja ketika gw masih nyari-nyari info tentang film tersebut tapi masih bisa dikejutkan dengan misteri-misteri yang ada, pasti kadar terkejutnya gw bisa bertambah dua kali lipat bila gw gak mengetahui apapun dari sekuel keduanya ini. Namun apa yang terjadi, sekuel kedua ini malah bagaikan copy paste dari film pertama.  Sehingga kadar terkejutnya gw pun sangat berkurang drastis, karena unsur kejutannya pun gak jauh beda seperti film pertama. Sangat disayangkan sebenarnya, karena menurut gw gak masalah kok kalau fondasi awal ceritanya sama kayak di film pertama karena hal tersebut merupakan ciri khas dari franchise ini. Tapi gak harus ke detil-detil kecilnya juga kali. Kalo membicarakan humornya, humornya masih mampu membuat gw tertawa. Gw masih ngakak ketika scene dimana anggota wolfpack minus Doug menanyai salah satu stripper di bar, tapi hanya tertawa saja, gak ada unsur amazed seperti di film pertamanya. Konten vulgar di film ini juga sedikit lebih tinggi dibanding yang pertama. Walau kualitasnya sangat menurun, The Hangover part II berhasil mengeruk keuntungan komersial dengan mendapatkan $500 juta lebih,melebihi pendapatan kotor dari prekuelnya, yah walaupun film ini tidak berhasil mendapatkan respon positif dari kritikus maupun dari para penikmat The Hangover dari awal.
Yang berbeda di sini adalah porsi dari Ken Jeong sebagai Leslie Chow ditambah disini. Memang karakter ini sungguh memorable di film pertama sehingga wajar saja bila porsi nya ditambah untuk menambah kadar humor itu sendiri. Namun, satu hal kenapa karakter nya sungguh memorable adalah Ken Jeong mampu memaksimalkan porsi kecilnya di film tersebut, dia mampu menarik perhatian dengan humor serta kalimat one liner nya sangat memancing tawa. Tapi di film kedua ini, Ken Jeong tampaknya sedikit mengalami penurunan kualitas bila dibanding penampilannya di film pertama. Memang masih bisa menjadi scene stealer di beberapa scene, tetapi tidak sedikit juga humor yang dia lontarkan tidak lucu dan berakhir garing. Porsi dari Alan yang diperankan Zach Galifianakis juga ditambah. Karakter ini sungguh menyebalkan semenjak muncul di film ini. Dan hal itu bertambah ketika kita mengetahui bahwa ternyata dia juga yang menjadi dalangnya. Namun tidak dipungkiri memang sumber tawa dari franchise ini adalah dari dia. Sedangkan Bradley Cooper dan Ed Helms cukup mampu mengimbangi kegilaan dari kedua karakter diatas, terutama Ed Helms. Ekspresi nya ketika telah mengetahui ‘sesuatu’ yang tragis menimpanya di malam ketika mereka di bar itu sangat priceless..!
Pada akhirnya, sekuel ini bukanlah film yang buruk tapi tentu saja merupakan penurunan kualitas bila dibanding yang pertama. Dengan unsur cerita yang hampir sama, kadar terkejutnya penonton pun sudah bisa ditebak akan sangat berkurang. Namun, film ini tetap patut untuk ditonton kok untuk mengisi waktu luang kalian..

My rate 7/10


The Hangover III (2013)

We can't be friends anymore. When we get together, bad things happen and people get hurt.- Alan Garner

 

Plot

Alan (Zach Galifianakis) kembali berulah. Setelah menjadi ‘mastermind’ atas kekacauan di Las Vegas serta Bangkok, kini dia kembali membuat sebuah ulah yang cukup misterius. Alan tidak sengaja membunuh jerapah yang baru dibelinya. Kepala jerapah tersebut menabrak jalan layang yang rendah sehingga mengakibatkan kepalanya lepas, tidak hanya itu kejadian tersebut juga mengakibatkan kekacauan lalu lintas. Sid (Jeffrey Tambor),ayah Alan, pun tak tahan lagi dengan perilaku Alan yang masih saja kekanakan di usianya yang telah 42 tahun! Akibatnya, Sid pun mengalami serangan jantung dan meninggal dunia. Tragedi tersebut membuat kondisi jiwa Alan menurun drastis. Untuk itulah, anggota Wolfpack lainnya yaitu Phil (Bradley Cooper), Stu (Ed Helms) serta Doug (Justin Bartha) berencana untuk membawa Alan ke Arizona untuk di rehabilitasi. Meski sempat menolak, Alan pun bersedia dan menerima tawaran tersebut.
Namun di tengah perjalanan mereka ke Arizona, mobil mereka ditabrak dari belakang oleh truk besar serta memaksa mereka untuk menepi. Tak disangka-sangka, pemilik mobil tersebut adalah Marshall (John Goodman), bos dari Black Doug (Mike Epps). Marshall memaksa mereka untuk mencari Leslie Chow (Ken Jeong) yang telah mencuri sekumpulan emas yang berharga 21 Juta Dollar. Marshall pun membawa Doug sebagai sandera dan memberikan waktu 3 hari untuk anggota wolfpack yang lainnya untuk menemukan Chow.




Review

Gw cukup memiliki ikatan dengan trilogy The Hangover. Karena film pertama nya sangat berkesan bagi gw. Iya, gw menonton film tersebut ketika gw menerima kenyataan bahwa nilai mid semester gw cukup buruk dan gw cukup sedih akan hal itu, nah ketika gw buka laptop dan mencoba mencari hiburan untuk mengobati kesedihan gw, gw menemukan file The Hangover ini. Dan ajaib, ketika gw menonton film tersebut, gw sedikit terobati. Iya, gw sangat terhibur dengan film tersebut. Maka dari itu, gw sampe gak baca-baca sinopsis atau review di internet tentang film The Hangover part II, yang sangat disayangkan membuat gw sedikit kecewa. Nah, ini adalah film penutup dari sebuah franchise yang cukup memiliki kesan buat gw sehingga tentunya gw berharap franchise ini bisa ditutup dengan sebuah film yang baik dan menjadi peningkatan dari prekuelnya. So, how ‘bout this movie?
Anyway, sedikit nasihat dari gw kalo mau nonton film yang tipenya seperti ini. Jangan terlalu berekspektasi tinggi, jangan terlalu serius apalagi mencari plot hole yang gak penting, dan juga jangan dengarkan kata kritikus. Karena apabila kalian telah menetapkan sebagai penonton yang siap menerima apa adanya dari film ini, maka kalian akan merasakan kesenangan dalam durasi 100 menit film ini. Iya, film ini bagi gw merupakan peningkatan dari prekuelnya, terutama dari efek kejutannya dan juga humornya. Todd Philips membawa film ini ke arah tone yang sedikit serius, dimana ada adegan pencuriannya, bahkan ada pembunuhannya juga.. Tapi bukan serial The Hangover pastinya bila semua hal serius tersebut dibingkai dengan aksi yang konyol dan juga gila. Adegan-adegan tersebut cukup berhasil bagi gw untuk mengundang tawa. Peduli amat sama yang bilang kalau adegan tersebut tidak berhasil karena bagi gw hal tersebut sangat membuat gw sejenak melupakan permasalahan yang ada. Adegan ketika Phil dan Alan mencoba menyelinap ke kamar Chow itu sangat kocak..
The Hangover III juga memiliki karakter-karakter terdahulu yang sempat menghiasi franchise ini, sebut saja Mike Epps yang sungguh mampu berhasil menjadi scene stealer setiap dia tampil, dan juga Heather Graham. Dan jangan lupakan juga karakter bayi yang menjadi ciri khas di The Hangover pertama juga muncul disini, siapa lagi kalau bukan Tyler atau Carlos yang telah mengalami pertumbuhan di film ini. Scene dimana Alan terlibat nostalgia dengan Carlos pun bagi gw cukup berhasil untuk membuat kita yang menikmati The Hangover dari sekuel pertama merasakan nostalgia dan surprisingly nya, Zach mampu mengeluarkan sisi emosional dari Alan dalam scene tersebut sehingga membuat gw cukup terbawa akan rasa rindunya terhadap Carlos.
Dan oh ya, tidak lengkap bila kita tidak membicarakan akting dari pemeran-pemeran utamanya. Karena film ini adalah film ketiga, maka tidak mengherankan bila chemistry yang tercipta dari Phil, Stu, Alan terlihat bagus. Phil dan Stu merupakan karakter yang mengimbangi dari kegilaan Alan, bahkan Chow. Dan menurut gw Bradley Cooper dan Ed Helms mampu membawakan peran tersebut dengan baik. Zach Galifianakis sebagai Alan jangan ditanyakan lagi. Sejak dari film pertama, Zach telah terlahir untuk karakter ini. Gw gak terkejut lagi bila di film ketiga ini Alan masih annoying, tapi cukup mengejutkan bagi gw adalah Alan memiliki screen time dimana dia terlihat dewasa dan membuat gw perduli akan dirinya. Namun tidak bagi karakter Chow. Entah kenapa gw sama sekali gak terhibur dengan humor-humor nya disini yang bagi gw cukup banyak humor yang terlalu vulgar darinya.
Kesimpulannya, film ini tidaklah buruk seperti yang para kritikus bilang. Film ini masih mampu kok untuk mengundang tawa kita dan tertarik akan misteri yang telah disediakan. Masalah plot hole? C’mon man, bahkan film jenius seperti Memento memiliki plot hole yang cukup mengganggu. Lupakan masalah plot hole sejenak karena film ini murni untuk kita mengisi waktu. Singkat kata, bagi gw film ini cukup berhasil sebagai penutup dari franchise ini. Terima kasih untuk Todd Phillips beserta kru yang telah menciptakan film komedi gila ini. Terima kasih untuk Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, Ken Jeong, Justin Bartha dll. I love this franchise...

My rate 7,5/10

My rate for this franchise 7,5

Monday, 3 February 2014









Plot

‘Kali ini, gw mau cerita tentang rumah’. Iya, begitulah kalimat yang keluar dari Dika (Raditya Dika) pertama kali ketika film ini mulai. Mama Dika (Dewi Irawan) dan Papa Dika (Bucek Dep) memiliki rencana untuk pindah ke rumah yang lebih tenang dan lebih minimalis serta mencari suasana yang lebih baru. Dika jelas kurang sependapat dengan rencana orang tuanya  ini. Namun, untuk membuat sang mama senang, Dika pun memutuskan untuk menemani sang mama untuk mencari rumah yang cocok untuk ditempati mereka. Selain itu, Dika juga memiliki masalah yang lain, seperti naskahnya yang tidak kunjung-kunjung kelar dan dikejar deadline, percintaannya yang baru saja kandas dengan Jessica (Eriska Rein), sopir baru berbau ketek Sugiman (Insan Nur Akbar), dan lain-lain.
Dika kesulitan untuk move on dari Jessica karena rasa cinta Dika terhadap Jessica telah terpatri sangat dalam di relungnya. Maka dari itu, Dika memutuskan untuk ‘vakum’ dulu untuk mencari pacar. Sampai suatu ketika, saat Dika baru saja bermain futsal, Dika tertarik dengan seorang wanita. Namun keinginan tsb dipendamnya karena perbedaan tinggi mereka yang cukup jomplang. Namun, Atas desakan temannya, Dika pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan sang wanita tsb. Lewat perkenalan yang sedikit absurd, ternyata sang wanita yang bernama Patricia (Kimberly Ryder) adalah teman SMP nya Dika. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, hubungan mereka pun semakin erat dan mereka satu sama lain pun memiliki kecocokan. Tapi disisi lain, bayangan Jessica terus muncul dalam diri Dika. Dika juga dipusingkan dengan permintaan papanya untuk meluangkan waktu lebih banyak bersama dirinya, mengingat usianya yang semakin tua.









Review

Gw itu sangat menyukai stand up comedy. Karena Stand up comedy menawarkan dan memberikan nafas lelucon yang berbeda, fresh sehingga berbeda dengan lelucon-lelucon selama ini yang mengandalkan ejekan fisik terhadap lawan main. Dan salah satu tokoh yang membuat SUC berkembang pesat seperti sekarang adalah Raditya Dika. Raditya Dika membuat SUC lebih terkenal dan lebih bisa diterima oleh berbagai kalangan, terutama kalangan remaja. Coba deh kalian tanya siapa komik (sebutan untuk para stand up comedian) yang mereka kenal? Gw jamin, jawaban yang akan keluar dari mulut para remaja adalah Raditya Dika. Radit juga tidak hanya sebagai komik, namun Radit juga seorang penulis novel. Nah novel-novel tersebut juga memberikan jalan untuk dirinya menjadi sutradara film. Radit pun telah menelurkan 3 film yang diadaptasi dari novel karangan nya sendiri. Diawali dengan Kambing Jantan yang sayangnya memberikan debut yang mengecewakan untuk Radit, kemudian Cinta Brontosaurus, dan Manusia Setengah Salmon. Total Radit telah merilis 4 film, ditambah Cinta Dalam Kardus. 3 film diantaranya dirilis pada tahun 2013 kemarin. Iya, Raditya Dika cukup produktif pada saat itu. Namun, tidak seperti novel-novelnya yang kebanyakan penikmat novel suka dan memuaskan, kualitas film-film Radit tidak semuanya yang memuaskan. Contohnya aja Kambing Jantan yang dinilai sangat mengecewakan, jauh dari kualitas novelnya. Nah, bagaimana film ini?
Manusia Setengah Salmon meneruskan cerita dari Cinta Brontosaurus. Maka tidak heran bila masih ada karakter-karakter yang sama, bedanya adalah cerita yang ditawarkan MSS lebih padat dan kompleks. Bila di film CB Kita melihat keputusasaan Dika dalam hal asmara, serta masalah novelnya, disini kita ditawarkan cerita yang lebih dari itu. Dan surprisingnya, cerita itu mampu di paparkan oleh sang sutradara Herdanius Larobu dan Raditya Dika dengan gaya yang lebih berisi, tidak dangkal seperti  prekuelnya, dan juga menarik untuk diikuti. Iya, mereka tidak membuat film ini hanya untuk komedi saja. Gw suka analogi Radit, bahwa perpindahan rumah yang dialami nya sama dengan masalah-masalah yang dialaminya kali ini. Dan itu mampu dieksekusi oleh Herdanius dan Radit dengan baik. Memang tidak semuanya mulus, tapi mampu membuat gw ikut mengikuti dan betah untuk menontonnya. Serta mampu melibatkan sisi emosional gw ke dalam cerita, seperti Dika yang ingin memberhentikan sopirnya, hubungan ayah dan anak, serta perpindahan rumah Dika.
Komedinya juga gak memaksakan seperti CB, komedinya mampu mengundang ketawa gw. Entah beberapa kali gw ngakak akan komedi yang ditawarkan oleh film ini, seperti adegan cosplay Edgar dan Dika di awal film, kepolosan Sugiman, Ceplosan-ceplosan yang terkesan ngelantur dari sang papa, dan masih banyak lagi. Intinya, gw cukup terpuaskanlah dengan nuansa komedinya. Walau ada komedi yang menurut gw cukup garing, seperti adegan wawancara dengan hantu, kemunculan tiba-tiba Mosidik di akhir cerita, tapi ya gapaplah, bisa gw maafkan.
Dan tidak luput dari perhatian adalah penampilan-penampilan dari jajaran castnya. Radit sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, peran seperti ini sudah sangat melekat dengan dirinya sehingga Radit tidak memiliki problem terhadap peran Dika. Yah, semoga kalau Radit ingin membuat film lagi dan melibatkan drinya dalam role, gw pengen dia berperan yang berbeda dari ini. Namun, gw lebih tertarik akan chemistry nya dengan lawan mainnya di film ini. Chemistry yang Dika tunjukkan sangat natural, seperti tiada kesan kalau mereka sedang berakting, terutama dengan sang mama. Kimberly juga tampil cukup memuaskan. Bila dibanding dengan Erika dalam film CB, Kimberly memiliki kualitas setingkat di atasnya,yah termasuk dalam hal kecantikan dan keanggunan. Kimberly juga mampu menampilkan sosok Patricia yang menyenangkan, dewasa, serta menunjukkan bahwa Patricia adalah cewek yang patut diperjuangkan oleh Dika. Namun seperti CB, scene stealer dari MSS adalah keluarga Dika, terutama sang mama,papa dan Edgar yang diperankan oleh Griff Pradapa. Dewi Irawan dan Bucek Dep mampu memerankan sosok orang tua yang kocak, namun juga sangat memperhatikan anak-anaknya, sedangkan Griff selalu berhasil membuat ketawa gw dengan tingkahnya yang polos, bandel namun cerdas. Scene dimana dia mencontek di dalam kelas itu benar-benar lucu. 
Mesti ngapain gw untuk bisa dapatin cewek secakep ini

Film ini merupakan peningkatan kualitas untuk Dika. Membuat gw sangat menantikan karya-karya nya kedepan..Kesimpulannya, MSS merupakan peningkatan kualitas dari prekuelnya. Dengan cerita yang lebih padat dan berisi serta eksekusinya yang baik, komedi yang benar-benar lucu dan tidak terkesan memaksa, serta chemistry yang hadir dalam setiap tokohnya membuat gw yakin bahwa suatu saat Raditya Dika bisa saja mengikuti kesuksesan idola juga inspirasinya, yaitu Woody Allen.. Good job Radit!!

7,25/10

Friday, 31 January 2014




 "A wise man can learn more from his enemies than a fool from his friends. "- Niki Lauda



Plot
James Hunt (Chris Hemsworth) merupakan pembalap playboy yang berasal dari Inggris. Ia merintis karirnya dari bawah yaitu Formula Three.  Seperti telah ditakdirkan, pada suatu event balap Formula Three, James bertemu dengan pembalap arogan dan disiplin dari Austria yaitu Niki Lauda (Daniel Bruhl), yang akan menjadi pesaing beratnya yang akan datang. Dalam event tersebut, James berhasil menang, namun Niki menilai akselerasi yang dilakukan James terhadap dirinya ketika mendekati akhir balapan merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, yang bisa saja mengancam nyawa mereka andai Niki tidak mengalah. Dari situlah, hubungan yang tidak harmonis, persaingan yang sengit diantara mereka dimulai.  Dan persaingan mereka pun berlanjut ke ajang yang lebih bergengsi dan merupakan ajang impian bagi semua pebalap yang sedang merintis karir, apalagi kalau bukan Formula 1. Awalnya Niki Lauda bergabung dengan tim BRM, yang kemudian membuat James juga tidak mau kalah dan membentuk tim Hesket Racing. Perlahan tapi pasti, karir mereka berada di puncaknya, Niki berhasil bergabung dengan tim (yang membesarkan nama Michael Schumacher) Ferrari, dan James,yang frustasi akan kekalahannya atas Niki Lauda pada musim persaingan pertama mereka dengan susah payah mampu bergabung dengan tim F1 yang tidak kalah popularnya yaitu Mcclaren. Dimulailah musim balapan F1 tahun 1976 yang menegangkan dimana event tersebut hanya berpusat kepada James Hunt dan Niki Lauda











Review
Entah kapan terakhir kali gw mampu terpesona dengan film yang mengambil tema racing atau balapan. Hampir sama dengan romcom, kebanyakan film yang mengambil tema seperti ini sangat mudah ditebak, formula from zero to hero nya itu loh yang banyak banget dipakai dalam film yang tema seperti ini. Gak salah sih, tapi kebanyakan film racing dengan formula tersebut ceritanya mudah banget ditebak, makanya gw jarang terpesona dengan film bertema sport, termasuk balapan. Dan pada akhirnya, ketika gw iseng-iseng ngecek top 250 di imdb.com, gw terkejut ketika melihat film yang dirilis pada tahun kemarin ini mampu menyodok di posisi #130 dengan rating 8,3 dari hampir  100,000 voters, tentunya gw penasaran dong, apa yang membuat film seperti ini mampu meraih rating setinggi itu?
Dengan dibawah kemudi Ron Howard (A Beautiful Mind, film drama yang luar biasa, suatu saat akan gw review), Rush mampu mempesona gw selama hampir 120 menit. Film ini bukan film sport racing biasa, ada banyak unsur yang di masukkan Howard dalam Rush, seperti kehidupan sehari-hari si pembalap,persaingan yang sehat, dedikasi, ambisi, percintaan dan masih banyak lagi. Dan, Rush juga memiliki pesan kehidupan yang di aplikasikan dengan sangat asyik oleh Ron sehingga membuat Rush sangat enak diikuti walau film ini sendiri dibalut dengan tensi yang lumayan tinggi dan juga membuat para penonton nya ikut-ikutan tegang sebagaimana tegangnya Marlenne (Alexandra Maria Lara) melihat Niki, suaminya mengikuti olahraga yang memiliki resiko tinggi ini. Adegan balapannya? Jangan ditanya, udah gw sebutin di atas kalo sesuatu yang membuat kita tegang tersebut ya adegan balapannya. Dengan gaya sedikit dokumenter, Ron mampu mengolah adegan tersebut dengan baik bahkan terkesan indah, suara deru mobilnya juga berhasil membuat penonton menahan nafas seolah mereka berada langsung di dalam sirkuit.
Namun kekuatan utama dalam film ini adalah pengembangan karakternya yang dimainkan oleh Daniel Bruhl dan Chris Hemsworth. Untuk film sport, merupakan hal yang lumrah bahwa akan ada satu protagonis yang membuat kita mendukungnya untuk meraih kesuksesan setelah perjuangan yang diambil tidak lah mudah, namun, film ini merupakan pengecualian. Kedua karakter utama tidak ada yang sepenuhnya protagonis, namun juga sulit untuk mengatakan mereka antagonis. Hal ini juga gw temukan dalam film The Prestige. Walaupun sosok James Hunt merupakan pebalap yang bandel, playboy, dan kurang disiplin, namun dia tetap berdedikasi akan hal yang digelutinya. Dia tetap memberikan yang terbaik, tampil dengan 110% ketika memegan setir mobilnya, dan siap menghadapi resiko yang telah menunggunya. Sosoknya begitu mudah untuk kita sukai, dan itu berhasil diaplikasikan dengan cemerlang oleh Chris Hemsworth. Menurut gw, dengan film ini, Chris mampu membuktikan bahwa dia bukanlah aktor yang hanya menjual fisik (no offense Taylor Lutner), namun dia adalah aktor yang bisa berakting dengan meyakinkan, dan logat Inggrisnya itu loh yang membuat gw bertanya-tanya “do’i british ya??”.
Namun, tidak bermaksud mengecilkan peran Chris Hemsworth, penampilan terbaik ada pada Daniel Bruhl. Sejak awal, Daniel Bruhl dengan Niki Lauda-nya lah yang membuat gw menikmati dengan film ini, padahal karakternya kurang likeable loh, namun entah kenapa gw sangat bersimpati dengan karakter ini. Disiplin, terkesan ambisius, susah diajak berteman, semua itu berhasil diperankan oleh Daniel dengan brilian. Ya, Daniel berhasil mencuri perhatian gw, dialah scene stealer dalam film ini. Dia mampu membuat karakter yang terkadang tidak bisa kita sukai ini menjadi karakter yang mampu mengundang simpati, dan turut lebih mendukungnya ketimbang James Hunt (padahal James Hunt merupakan karakter utama *lol*). Momen terbaik Daniel ada pada paruh pertengahan film. Liat aja sendiri.
Oh ya, satu hal lagi yang membuat film ini begitu berkesan bagi gw, apalagi kalau bukan musiknya. Inilah salah satu faktor utama kenapa adegan balapannya begitu menegangkan. Buktikan sendiri, gw sampe beberapa kali bergumam ‘wow’ akan musik dalam film ini. Sehingga gw penasaran, siapa orang yang dibalik kehebatan musik dalam film Rush. Dan ternyata orangnya adalah orang yang sama di balik kemegahan musik trilogy The Dark Knight, Inception dan Man of Steel, yap, siapa lagi kalo bukan Hans Zimmer. Semakin mempertegas bahwa orang ini benar-benar seakan menjadi senjata utama juga dalam sebuah film. You never make me dissapoint, Hans!!
Jujur, gw bukanlah penggemar olahraga jet darat ini. Gw hanya tahu pembalap-pembalap F1 generasi sekerang, seperti Lewis Hamilton, Fernando Alonso, kalaupun ada pembalap tua yang gw kenal itupun hanya Michael Shumacher dan Mikka Hakinnen. Makanya gw sama sekali gak tahu tentang Niki Lauda dan James Hunt. Ketika memasuki epilog, kita akan diperlihatkan rupa mereka yang asli, dan gw takjub, bahwa Daniel Bruhl dan Chris Hemsworth sangat mirip dengan kedua legenda F1 itu, terutama Daniel Bruhl.. Tentunya hal itu merupakan nilai tambah untuk film ini sendiri. Adegan epilognya di narasikan oleh Niki Lauda yang asli, dengan ditampakkan cuplikan-cuplikan dari kedua legenda itu. Adegan yang memancing haru dan nostalgia bagi penggemar berat F1 yang mengetahui rivalitas keduanya. Gw aja yang gak tahu apa-apa masih bisa merasakan merinding kok.
 Lihat, mirip banget kan??
Kesimpulannya, Rush adalah salah satu film terbaik di tahun 2013. Inspiratif, cerdas, menawan, dan..ah.. terlalu banyak akan kehebatan film ini. Kekurangannya mungkin banyak adegan yang BB 18+, gak, bukan gw munafik, tapi gara-gara itu gw gak bisa nonton film ini dengan pacar gw (eh, tunggu, emang gw punya pacar *galau mode on). Dengan akting yang brilian dari Daniel Bruhl dan Chris Hemsworth (terutama Daniel), beserta jajaran supporting actor/actrees yang tidak mengecawakan, gambar yang apik, dan musik yang mempertebal ketegangan kita ketika adegan balapnya, Rush membuat tolak ukur, standar yang begitu tinggi untuk film-film sport racing. Sama seperti The Dark Knight yang merupakan film superhero terbaik sepanjang masa (atau salah satu film terbaik sepanjang masa) saat ini, Rush juga merupakan film sport racing yang terbaik yang pernah gw tonton..
8,5/10
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!