Wednesday, 14 December 2016




Plot

Mantan polisi yang beralih profesi menjadi germo, Eom Joong-Ho (Kim Yoon-Seok) tengah melakukan penyelidikan akan hilangnya wanita-wanita panggilan yang ia kerjakan. Penyelidikannya itu mengarah ke satu nomor telepon yang sama yang selalu memanggil wanita-wanita yang hilang. Pemilik nomor tersebut adalah Je Yeong-Min (Ha Jung-Woo). Celakanya, Joong-Ho telah memerintahkan salah satu wanita panggilannya, yaitu Kim Mi-Jin (Seo Yeong-Hie) untuk memenuhi panggilang dari Yeong-Min.







Review




Oldboy tentunya menjadi film yang influental bagi saya sehingga saya tidak lagi meremehkan film-film yang berasal dari negeri Korea. Saya tidak menyangka bila sinema Korea Selatan begitu eksplisit dalam menyajikan berbagai adegan kekerasan serta seksual nya, hingga saya pun mencoba membuka hati saya kepada film-film Korsel lainnya. Salah satu nya adalah film yang disutradarai oleh Na Hong Jin ini. Sama seperti film Korsel bertema thriller lainnya, The Chaser juga menyajikan berbagai adegan kekerasan yang cukup mengganggu, namun tidak segila I Saw The Devil (yang banyak dibandingkan dengan The Chaser).
Hal yang membedakan The Chaser dengan I Saw The Devil adalah dimana pelaku utama dalam The Chaser telah ditangkap. Lalu dimana keseruannya? Melihat perjuangan karakter Joong Ho mencari bukti kuat supaya Je Yeong Min (yang mengaku gila) bisa dituntut dan dihukum sesuai dengan kejahatannya.Karakter Joong Ho yang memiliki perawakan kasar, gigolo, serta memiliki riwayat dikeluarkan dari kepolisian justru membantu pergerakan cerita dimana elemen-elemen itu memberikan kesulitan tersendiri bagi nya dalam mencari bukti, ditambah dengan fakta Joong Ho harus berpacu dengan waktu bila tidak ingin Je Yeong Min dibebaskan dalam waktu 24 jam karena kurang nya bukti untuk menuntut Yeong Min (saya juga tidak mengerti hukum Korea Selatan), membuat penonton yang telah mengetahui bila Yeong Min lah pelakunya dirundung dengan rasa cemas dan ikut mendukung Joong Ho supaya cepat menyelesaikan misinya. The Chaser juga seolah menyampaikan kritik kepada hukum Korea Selatan yang begitu banyak kekurangan dan anggota-anggota kepolisian yang terlalu memikirkan pencitraan akan masyarakat, dimana mereka sangat tertekan dikarenakan masalah yang dialami walikota, sehingga memaksa mereka menghalalkan segala cara untuk menangkap Je Yeong Min. Dan juga tampaknya Na Hong Jin ingin beropini bila polisi berperangai kasar itu cukup diperlukan demi menangkap pelaku kejahatan.
Sentuhan hati juga tidak dilupakan Na Hong Jin dengan memberikannya akan hubungan Joong Ho dan putri dari Kim Mi-Jin dimana Joong Ho mulai memberikan perhatian kepada nya sehingga pencarian Mi-Jin yang pada awalnya hanya lah mengatas namakan bisnis semata, berubah menjadi personal dan murni ingin menyelamatkan Mi-Jin yang merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki putri nya tersebut. Performa juara ditampilkan oleh duo Kim Yoon-Seok dan Ha Jung-Woo. Kim Yoon-Seok tampil dengan transformasi meyakinkan dari laki-laki kasar, suka sumpah serapah dan hanya memikirkan bisnis, berubah menjadi pria yang lebih tenang dan sebenarnya cukup mumpuni dalam hal mencari-cari bukti ala detektif. Ha Jung-Woo pun tampil dingin dengan karakter psikopat nya. Seo Yeong-Hee tampil bagus dengan memperlihatkan perjuangan karakter Kim Mi-Jin berusaha untuk bebas. Perjuangan ini tentu memiliki esensi tersendiri dalam menumbuhkan rasa simpati penonton terhadap karakter Mi-Jin, hingga tiba suatu momen yang akan membuat penonton seolah kehilangan nafas. Kelebihan lainnya adalah dimana Na Hong Jin lebih memilih memenuhi aksinya dengan kejar mengejar tiap karakter. Kejar-kejaran di blok-blok rumah yang sempit, lari di jalanan yang memperlihatkan ekspresi kecapekan karakternya memberikan sensasi adrenalin yang mengingatkan saya akan Parkour scene di Casino Royale nya James Bond.
Sedikit minor dari The Chaser adalah banyaknya berbagai kejadian yang seperti kebetulan hanya untuk menggerakkan plot tanpa penjelasan yang cukup jelas. Berbagai kebetulan ini bila diperhatikan secara baik tentu cukup mengganggu, namun hal itu bisa saya dimaafkan karena berbagai kelebihan-kelebihan yang saya jabarkan di atas. Ya, The Chaser adalah sajian thriller kriminal yang memberikan sensasi kayak kalian mengikuti rasa capek yang dirasakan Joong Ho dalam mencari bukti, sajian berkelas dari Na Hong Jin. Dan saya merupakan kaum minoritas dimana saya lebih menyukai The Chaser dibandingkan Memories of Murder.

8,25/10

Thursday, 8 December 2016



"Huh? What was that? I should kill everyone and escape? Sorry. The voices. Ahaha, I'm kidding! Jeez! That's not what they really said."- Harley Quinn

Plot


Selepas kematian Superman, Amanda Waller (Viola Davis) mengajukan sebuah proposal atau rencana gila dimana ia ingin membentuk sebuah tim yang berisikan penuh dengan penjahat kelas atas dengan kemampuan masing-masing yang luar biasa. Hal ini diajukan oleh Amanda supaya pemerintah mampu mengantisipasi akan datangnya sosok seperti Superman yang mungkin akan mengancam keberadaan sebuah negara. Misi yang diberi nama Task Force X ini sengaja dibentuk dengan anggota-anggota begundal hebat dikarenakan selain kemampuan tiap anggota, namun juga betapa mudahnya pemerintah akan mencuci tangan apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh tiap anggota Task Force X atau selanjutnya dipanggil Suicide Squad. Anggota Suicide Squad terdiri dari Floyd Lawton atau Deadshot (Will Smith) yang memiliki kemampuan menembak luar biasa sehingga kemampuannya itu sering digunakan untuk membunuh sesuai dengan permintaan. Harley Quinn (Margot Robbie) yang merupakan mantan psikiater yang mulai terganggu kejiwaannya akibat rasa cinta nya yang dimanfaatkan oleh Joker (Jared Leto), Boomerang (Jai Courtney) perampok sadis yang mengandalkan senjata boomerang di setiap aksinya, lalu ada juga El Diablo (Jay Hernandes) pemuda penuh tato yang memiliki kemampuan pyrokinesis yang hebat, arwah Enchantress (Cara Delevingne) yang merasuki arkeologis June Moone yang memiliki kemampuan ilmu hitam membahayakan, dan terakhir Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje). Diketuai oleh Rick Flag (Joel Kinnaman) dan pasukannya serta seorang wanita samurai yang bernama Katana (Karen Fukuhara) yang bertugas untuk melindungi Flag apabila ada salah satu anggota Suicide Squad yang membelot. Tidak hanya itu, masing-masing anggota juga telah ditanamkan chip di kepala mereka yang mampu meledakkan isi kepala.








Review


Selaku sutradara serta penulis naskah, David Ayer tentu menanggung beban berat di pundaknya akan karya nya yang terbaru ini.  Tidak hanya Suicide Squad dipenuhi dengan karakter villain yang memiliki penggemarnya tersendiri, fakta bahwa film yang dipayungi oleh DC lainnya pada tahun ini juga yaitu Batman V Superman: Dawn of Justice berakhir mengecewakan juga membuat antisipasi akan Suicide Squad semakin tinggi serta diharapkan mampu memberikan angin segar terhadap universe yang telah dirancang oleh Warner Bros untuk superhero keluaran DC Comic, dimana sejauh ini film-film yang merupakan bagian dari universe tersebut belum lah memuaskan para kritikus film.  Tentunya apabila Suicide Squad setidaknya cukup memuaskan, maka Warner Bros tentu boleh sedikit beroptimis akan rencana Justice League mereka. Namun sayangnya proses produksi yang cukup berantakan dimana Warner Bros hampir merombak ulang hasil Suicide Squad yang membuat David Ayer kecapekan level maksimal tampak merupakan sebuah tease bahwa karya sutradara yang turut menggawangi Fury itu akan berakhir kegagalan. Dan hasilnya cercaan demi cercaan kembali menghampiri karya terbaru mereka yang satu ini. Ya, Suicide Squad meneruskan tongkat estafet hasil presentasi yang buruk dari Man of Steel serta Batman V Superman: Dawn of Justice.
Harapan penonton seperti saya pada umumnya hanya lah ingin melihat bagaimana para berandalan kelas kakap ini beraksi ketika didapuk sebuah misi yang menyelamatkan dunia, yang notabenenya sangat berlawanan dengan apa yang mereka lakukan sebagai penjahat. Di atas kertas konsep yang diusung Suicide Squad ini sangat brilian dan mungkin saja kesuksesan Marvel dengan Deadpool nya akan juga dinikmati oleh Suicide Squad. Namun sayang, harapan tinggal harapan. Masalah utama yang terdapat di Suicide Squad adalah tampaknya David Ayer kurang memahami setiap karakter-karakter yang ada di Suicide Squad sehingga ketika David Ayer dengan “lancang” nya menyuntikkan dosis moral ala superhero kepada para kriminal-kriminal ini, hal ini menurut saya cukup fatal imbasnya sehingga penonton yang mengharapkan perbedaan dari film yang lain mengingat para karakter utama nya adalah penjahat-penjahat yang menakutkan malah mendapatkan sajian good guy vs bad guy pada umumnya. Terdapat berbagai kebingungan dari sang sutradara dalam meng-handle karakter-karakter dalam film ini. Akibatnya hanya Deadshot serta Harley Quinn yang mampu mencuri atensi dari penonton.  Walau mendapatkan sedikit suntikan backstory, namun karakter Diablo dan Katana belum cukup mampu untuk membuat para penonton antusias akan kehadiran mereka, meski Diablo mendapatkan highlight nya tersendiri di third act. Boomerang dan Croc? Mereka hanya penghias layar kaca saja.  Terutama untuk karakter Boomerang, hal ini cukup disayangkan mengingat ketika trailer kedua Suicide Squad mengudara di Youtube, Boomerang menjadi karakter yang cukup dinantikan kehadirannya. Chemistry antar tiap anggota juga kosong sehingga saya hanya kebingungan ketika El Diablo menganggap Suicide Squad merupakan rumah baginya dan para anggotanya adalah teman-teman mereka, dikarenakan menit-menit sebelumnya kita tidak diperlihatkan kedekatan El Diablo dengan tiap anggota.
Will Smith dan Harley Quinn jelas menjadi angin segar di Suicide Squad.  Sebagai Deadshot, Will Smith tanpa kesulitan membawakan peran penjahat namun likeable berkat kharismanya yang luar biasa.  Tidak kesulitan juga ketika ia memainkan porsi drama serta adegan action yang berimbang.  Adegan ketika Deadshot menembakkan peluru demi peluru ke musuh di aksi pertama nya merupakan adegan favorit saya di film ini.  Margot Robbie pun jelas mudah menarik perhatian dari penonton, terutama para penonton pria.  Namun jelas salah bila kalian mengira Margot Robbie hanya menampilkan kemolekan tubuhnya saja untuk karakter Harley Quinn.  Penuh dengan ucapan sarkastik serta eksentrik, kehadiran Harley Quinn selalu memberikan warna di setiap penampilannya. Cast yang lainnya juga tidak mengecewakan seperti Joel Kinnaman dan Jay Hernandez.
Adegan aksi yang ada di Suicide Squad pun tampak biasa saja.  Hal yang cukup mengejutkan dimana David Ayer mampu membuat saya deg-degan kala menyaksikan End of Watch yang juga merupakan karyanya (saya belum menyaksikan Fury).  Adegan aksi yang terakhir pun cukup mengecewakan dimana main villain yang tampak begitu powerfull di awal-awal hingga mendekati akhir malah terlihat sangat lemah dan tampak bodoh.  Tidak ada sama sekali momen yang membuat saya merasa hopeless dan mengira kalau para “pahlawan” ini akan mengalami kekalahan.
Apakah Suicide Squad sama sekali tidak memiliki nilai positif? Tentunya ada. Satu jam pertama dimana para karakter diperkenalkan merupakan bagian terbaik dari Suicide Squad.  Tidak hanya mampu menjadi awal yang menjanjikan, Suicide Squad juga menghadirkan dua karakter pahlawan Justice League yaitu Batman serta The Flash yang tentu hal ini menjadi sub plot yang akan penting di film-film DC lainnya.  Di bagian terbaik ini, tentu juga diimbangi dengan sosok intimidatif dari Amanda Waller yang diperankan dengan cemerlang oleh Viola Davis.
Apakah ada yang terlupa? Ya, ya, i know, “how about The Joker?”, right? Saya tidak bilang peran Joker yang diemban oleh Jared Leto buruk, namun tentunya untuk karakter ikonik seperti Joker, apa yang dipresentasikan oleh Jared Leto hanya jatuh sebagai penjahat biasa saja.  Ya, kita telah melihat penjahat lainnya di dalam diri Joker-nya Leto. #TeamLeto bisa saja berdalih bila screentime yang dimiliki Joker hanya beberapa menit saja, tetapi ingatkah kalian ketika keraguan banyak penonton dimana Heath Ledger memerankan The Joker di The Dark Knight (2008) seketika sirna kala adegan pengucapan dialog “I believe, whatever doesn’t kill you simply makes you, stranger” dan melepaskan topeng di awal film? Ya paling tidak dengan kegagalan Jared Leto sebagai Joker ini setidaknya mampu membungkam fanboy-fanboy Heath Ledger yang berpendapat bila karakter The Joker yang ia perankan menjadi ikonik seperti sekarang hanya berkat Ledger.  Screenplay serta pengarahan dari sang sutradara jelas turut membantu setiap karakter yang diperankan. Well, you got a lesson now.
Walau penilaian-penilaian dari kritikus bagi saya sedikit berlebihan, namun memang harus diakui hasil akhir Suicide Squad merupakan satu lagi contoh bila ekspektasi yang tinggi akan mengakibatkan sebuah kekecewaan yang tinggi pula dalam dunia perfilman. Bagi saya, Suicide Squad tetaplah sajian yang asik dan menghibur, walau memang harapan saya akan perbedaan dimana karakter penjahat kelas kakap diberikan tugas menyelamatkan dunia tidak saya dapatkan.  Terlalu generik untuk film yang unik.

6,5/10

Wednesday, 7 December 2016




"Impossible, we do. Miracle, we try- Bossman"

Plot


Suatu hari, Diana (Bunga Citra Lestari) mendapatkan panggilan kerja dari suatu perusahaan yang dipimpin oleh orang Indonesia, sama sepertinya. Kesempatan untuk bekerja ini sangat dinantikan oleh Diana yang mengaku bahwa dirinya sangat tidak menikmati hidup yang hanya berdiam di rumah saja dan hanya mengandalkan pendapatan suaminya, Dika (Alex Abbad) yang merupakan seorang konsultan minyak. Harapan diterima membumbung tinggi karena Diana berpendapat karena mereka sama-sama orang Indonesia yang tinggal di negeri tetangga yaitu Malaysia maka dirinya pasti akan diperlakukan sedikit spesial oleh sang boss.  Namun harapan tinggal harapan ketika dirinya pertama kali bertemu dengan sang boss atau lebih senang dipanggil Bossman (Reza Rahadian), di saat itu pula keputusan nya untuk bekerja dengan Bossman akan menjadi mimpi buruk.
 



Review


 “My Stupid Boss” merupakan salah satu film Indonesia yang paling saya nantikan pemutarannya. Penantian itu hadir kala saya melihat trailer nya pertama kali di bioskop. Siapa yang tidak tergiur ketika melihat sosok Reza Rahadian disulap menjadi seorang pria tambun, berkepala botak di bagian atas kepala, kumis yang memang menyerupai ikan lele, ditambah dengan perilaku nya yang menyebalkan namun lucu itu? Sontak trailer tersebut menjadi sajian highlight sendiri dan mendapatkan tawa serta ada penonton di depan saya kala itu bilang ke pasangan di sebelahnya, “Yang, kita harus nonton film ini nanti ya”. Sebuah kalimat yang saya tanamkan juga di dalam hati kala itu.
“My Stupid Boss” adalah film adaptasi dari buku laris berjudul sama karya dari Chaos@work yang memang merupakan sebuah cerita kesialan demi kesialan sang penulis kala bekerja dengan bos nya. Di komandani oleh Upi yang telah dikenal dengan karya-karya “nyeleneh” sebelumnya seperti Radit dan Jani serta my favorite Indonesia Movies of all time, Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll yang memperkenalkan saya dengan Vino G. Bastian, “My Stupid Boss” menjadi sajian komedi akan dunia kerja yang mampu mewakilkan keluh kesah para karyawan di luar sana yang mungkin pernah juga mengalami apa yang dirasakan oleh Diana.
Setelah karakter Bossman diperkenalkan, plot cerita memang berjalan cenderung ringan (ya namanya juga sajian komedi). Adegan demi adegan selanjutnya tidak lain tidak bukan hanyalah memperlihatkan betapa “ajaibnya” bossman kita yang satu ini yang berdampak akan kesialan demi kesialan yang dialami oleh Diana. Walau terkesan repetitif serta sedikit tidak masuk akal, tetapi siapa yang menolak akan sajian yang sangat menghibur tersebut? Sebagai sajian komedi, “My Stupid Boss” sangat sukses dalam hal mengocok perut ketika melihat raut muka kekesalan Diana serta keluh kesah yang dialami oleh karyawan-karyawan lainnya. Saking terhiburnya, saya tidak ingin ada cerita yang memperlihatkan Diana yang melancarkan serangan balasan ada di dalam cerita. Biarkan saja sketsa-sketsa sang bossman yang menyiksa karyawan-karyawannya terus menerus hadir hingga menuju akhir cerita.
Hal tersebut saya rasakan tidak lain tidak bukan karena performa yang sangat gemilang dari Reza Rahadian. Karakter yang ia perankan sangat berpotensi menjadi karakter yang menyebalkan sehingga memaksa para penonton akan melepas sepatu dan melemparnya ke layar bioskop, tetapi apa yang ditampilkan Reza berbeda. Aktingnya begitu natural tanpa ada terkesan untuk melucu, bahasa-bahasa “alien” yang dilontarkannya saja mampu menggelitik urat saraf geli kalian sehingga karakter ini walau diperlihatkan menyebalkan namun bagi penonton sendiri Bossman adalah protagonis sejati di film ini. Bunga Citra Lestari sebagai Diana juga sukses dalam mengimbangi akting kelas wahid dari Reza. Respon-respon yang ia perlihatkan tatkala menjadi korban akan ‘ajaibnya’ sang bossman mampu membuat kita menertawakan kesialannya. Pemeran-pemeran pendukung lainnya Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Barot Palara), Mr. Kho (Chew Kinwah), Azhari (Iskandar Zulkarnain) serta Bu Boss (Melissa Karin) memiliki momen-momen tersendiri yang tidak membuat karakter mereka terlupakan, terutama (bagi saya) karakter Sikin yang diperankan oleh Atikah Suhaime begitu manis dengan balutan kerudung panjang nya serta suara lembut nya yang begitu enak didengar. Dalam hal visual, “My Stupid Boss” juga unggul. Kombinasi-kombinasi warna cerah yang menghiasi kantor bossman, terutama rumah Diana dan Dika begitu memanjakan penonton yang membuktikan bahwa Upi merupakan sutradara yang memperhatikan ranah sinematografi. 
Nilai yang saya kasih untuk “My Stupid Boss” akan tinggi bila saja ending yang ditampilkan tidak memaksakan seperti itu. Tidak salah untuk menyuntikkan “hati” terhadap karakter bossman, terlebih memang hal itu cukup diperlukan supaya penonton tidak melihat karakter bossman ini hanyalah seorang pimpinan yang aneh, eksentrik dan “ajaib”, tetapi akan jauh lebih mengesankan apabila yang diperlihatkan kepada penonton untuk endingnya adalah proses sang bossman bisa sampai hingga ke titik kesuksesan. Bila itu yang ditampilkan Upi, mungkin saja “My Stupid Boss” mampu membuat para penonton semakin mencintai karakter bossman.
“My Stupid Boss” merupakan bukti bahwa film komedi bila digarap dengan serius, mengeluarkan amunisi-amunisi komedinya dengan timing yang tepat, akan berakhir dengan hasil yang maksimal. Dengan performa luar biasa dari Reza Rahadian, “My Stupid Boss” adalah sajian komedi yang memuaskan pada tahun ini. Tidak heran bila Reza Rahadian kembali mencicipi piala FFI pada tahun ini berkat perannya sebagai Bossman.

7,75/10

Thursday, 3 November 2016








Plot

Masih dirundung duka akan kepergian ibunya, Nancy Adams (Blake Lively) mencoba untuk menghibur batin nya dengan mendatangi sebuah pantai-tanpa-nama di Meksiko yang juga pernah dikunjungi ibunya. Nancy sendiri merupakan mahasiswa yang menekuni bidang medis. Namun terungkap dalam percakapannya melalui video chat dengan sang adik, Chloe (Sedona Legge) dan ayahnya (Brett Cullen)  bahwa Nancy memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya tersebut dikarenakan trauma akan kematian ibunya yang tidak mampu ia selamatkan. Niatnya yang hanya ingin menikmati pemandangan serta ombak yang indah akan pantai tersebut, berubah menjadi pengalaman hidup yang tidak akan pernah Nancy lupakan dalam jangka waktu yang lama.



Review

Oh my God, another shark movie?? YAWN. Reaksi tersebut sudah lumrah diekspresikan oleh sebagian besar pecinta film. Entah telah berapa banyak film yang ingin mengekor kesuksesan sang pionir, Jaws, dengan mengikuti formula yang persis sama sehingga film yang mengambil tema serupa kini telah kehilangan daya magis serta efek kejutnya. Maka, ketika tahun ini kembali ranah layar perak akan kembali disuguhkan film yang mengambil tema hiu, bisa dipastikan film yang berjudul The Shallows ini diperkirakan akan gagal dalam hal kualitas. Ekspektasi yang rendah tersebut lah mungkin yang membuat film The Shallows ternyata menjadi sebuah kejutan yang manis.
Menonton tanpa membaca sedikitpun mengetahui cerita atau sinopsis film merupakan hal yang sangat beresiko. Bila film tersebut memuaskan, dosis nya akan bertambah dua kali lipat, dan sebaliknya bila tidak memuaskan, jangankan merasakan ketidak puasan, untuk mengakhiri film tersebut pun akan sulit. Gw menonton The Shallows tanpa mengetahui sinopsisnya. Gw menonton film ini pun berdasarkan hasil dari rekomendasi seorang teman. Dan teman gw pun menyarankan untuk langsung menonton tanpa sedikitpun mengetahui jalan atau tema cerita yang diangkat. Syukurlah gw pun mengikuti saran teman gw, dan, yah, film ini kembali membangkitkan kepercayaan kepada insan dunia perfilman bahwa film bertemakan ancaman dari binatang buas, terutama hiu, belum lah punah, bila mampu dieksekusi dengan baik serta tidak mengikuti formula “shark movie” secara sepenuhnya. Pada awalnya pun gw tidak mengetahui bila The Shallows adalah film bertemakan hiu, maka ketika ancaman hiu merebak untuk pertama kali, hal itu pun gw rasa seperti twist tersendiri.
Yang membuat Jaws mampu menghantui ataupun membuat paranoid penonton jika mengunjungi pantai tidak hanya karena fakta bahwa Jaws adalah shark movie pertama, namun juga begitu pintarnya Steven Spielberg memanfaatkan sosok monster berjenis hiu tersebut. Hal tersebut yang dilakukan oleh sang sutradara Jaume Collet-Serra. Lewat film keenamnya ini, Jaume berhasil menebarkan teror dari hiu tersebut dengan memanksimalkann setiap penampilan atau kemunculan dari sang monster. Mungkin setelah film beranjak setengah jam, penonton baru diperlihatkan sosok hiu, setelah beberapa serangan yang ia lancarkan sebelumnya. Penampakan pertama hiu itu cukup mampu memberikan momen memorable tersendiri. Dengan slow motion, kita dipaksa untuk diingat kembali betapa buas serta menyeramkannya kehadiran sang monster. Namun bukan itu saja yang mampu membuat The Shallow memuaskan, tetapi aspek survival nya lah yang jauh lebih stands out.
Momen dimana Nancy terdampar di batu karang itu sendiri merupakan momen di mana The Shallows benar-benar menarik atensi dari gw. Memang sebelumnya kita diperlihatkan serangan pertama sang hiu terhadap Nancy yang berhasil menggedor detak jantung, tetapi momen demi momen Nancy berusaha bertahan di karang tersebut adalah momen terbaik dari The Shallows. Setiap benturan serta hantaman yang dialami Nancy disajikan begitu real sehingga penonton pun ikut merasakan betapa menderitanya Nancy. Tidak hanya itu, kita diperlihatkan juga berbagai adegan yang mampu membuat penonton ngilu melihatnya. Favorit gw tentu saja ketika Nancy menjahit lukanya. Tidak sampai pada level Mark Whallberg yang mencoba mengambil sisa peluru di badannya dengan hanya bermodalkan sendok memang, tetapi dengan ekspresi Nancy yang kesakitan serta visual yang lumayan grafis, adegan tersebut berhasil membuat penonton yang lemah akan memalingkan pandangan mukanya dari layar. Jaume juga mengambil keputusan tepat dengan menyuntikkan sedikit back story dari Nancy yang merupakan seorang mahasisiwi jurusan medis sehingga ketika kita melihatnya begitu lihai dalam mengobati luka, penonton pun tidak merasa dibohongi. Tidak lupa juga dengan bantuan Flavio Labiano sebagai sinematografer yang sukses menangkap pesona keindahan pantai tanpa nama itu.

Spoiler alert!!!!!



Sayangnya, gw kurang puas dengan cara Nancy selamat dari teror sang hiu. Gw akan jauh lebih memuaskan bila sang hiu tetap bertahan hidup, dan Nancy hanya berusaha untuk berhasil kabur dari sang hiu. Maka dari itu, walau third act nya sangat seru, gw kurang merasa terpuaskan ketika melihat akhir dari sequence tersebut.

Spoiler end

Dengan kesederhanaannya, The Shallows mengembalikan kepercayaan kepada insan dunia perfilman bahwa film bertemakan sajian serangan monster hiu masih mampu meneror penonton. Dengan gaya penceritaan seperti Cast Away serta beberapa momen yang mampu membuat penonton yang lemah tidak sanggup menyaksikannya, The Shallows menjadi film yang paling mengejutkan pada tahun ini.

7,5/10


Sunday, 2 October 2016


"El. Psy. Congroo"-Okabe Rintarou

Plot

Okabe Rintarou (self proclaimed HOUOUIN KYOUMA) menyewa sebuah kamar yang dijadikannya sebagai laboratorium pribadi miliknya. Dia tidak sendiri dalam tujuannya untuk menciptakan gadget yang berguna untuk di masa depan serta melawan organisasi SERN (pada awalnya ini hanya candaan dirinya saja). Dia dibantu oleh teman masa kecilnya, Shiina Mayuri dan Hashida "Daru" Itaru sebagai sang Hacker. Salah satu alat yang mereka ciptakan adalah "Ponsel Microwave". Ketika mengadakan eksperimen dimana Okabe dan Daru menjadikan satu pisang untuk dihangatkan dalam microwave tersebut, apa yang terjadi kemudian adalah pisang tersebut kembali ketempatnya dalam kondisi berubah menjadi pisang jeli. Hal ini disaksikan oleh Makise Kurisu, ilmuwan muda dari Amerika yang sedang berkunjung ke Jepang. Kejadian tersebut merupakan awal dari semua yang akan dialami oleh Okabe dalam 3 minggu ke depan yang akan menjadi sangat panjang baginya.






Review


Dalam beberapa waktu belakangan, gw lebih banyak menghabiskan waktu nonton anime dibandingkan film. Entah kenapa, niat menonton anime jauh lebih besar dibandingkan film. Dalam 2 bulan ini saja, gw udah menghabiskan 3 judul anime, dan semuanya insya Allah akan gw review. Dan yang pertama kali menerima kehormatan itu adalah anime keluaran tahun 2011, Steins; Gate.
Pertama kali gw tahu anime ini ketika banyak sekali para pecinta anime memasukkan anime ini dalam jajaran anime terbaik pada dekade sejauh ini. Ditambah dengan judulnya yang gw akui terdengar sangat keren, maka gw pun mencari tahu berapa banyak episode nya. Ternyata, Steins; Gate hanya memiliki 24 episode dan itu sudah tiba di akhir cerita, tanpa season 2 sebagai lanjutannya. Melihat fakta itu, semakin besarlah niat gw untuk menonton anime bergenre science fiction ini.

Membicarakan time travel tidak akan pernah habisnya. Apakah mungkin atau tidak mesin tersebut diciptakan akan selalu terjadi perdebatan. Perdebatan yang tidak pernah akan ada habisnya itu juga ikut terjadi dalam dunia film ataupun anime yang bergenre science fiction. Sudah banyak sekali film yang mengangkat tema time travel, di dunia anime sendiri tentunya ada Doraemon dengan laci mesin waktu nya yang ikonik itu. Dan kemudian pada tahun 2011, Steins; Gate pun muncul dengan cerita yang mengutamakan time travel sebagai penggerak ceritanya hingga akhir cerita.

Dalam review ini, gw gak akan terlalu menelusuri terlalu dalam mengenai teori time travel dalam dunia Steins; Gate. Yang pasti, teori yang dipaparkan pada awal-awal cerita cukup bisa diterima dan penjabarannya tidak terlalu sulit untuk diikuti. Mengenai butterfly effect, time paradoks, dan lain-lain semuanya dijelasin cukup jelas dan enak diikutin. Masalah animasi pun gw gak akan komentar karena gw gak terlalu meributkan masalah teknis selagi ceritanya  membuat gw betah. Gw lebih fokus pada penceritaannya. Anime yang mendapatkan rating 9,2 di website Myanimelist ini memulai ceritanya cukup lambat. Pada episode-episode awal harus diakui cukup membosankan dengan temponya yang lambat. Tidak hanya lambat, Steins; Gate belum bergerak ke plot utamanya, setidaknya sampai episode 8. Patut dicatat, episode 8. Butuh niat yang kuat untuk tetap tertarik dengan apa yang ditawarkan Steins; Gate. 

Tetapi, setelah Steins; Gate bergerak menuju plot utamanya, disinilah Steins;Gate menunjukkan taringnya. Permainan time travel nya semakin gila dan ketika semuanya telah terlalu jauh terjadi, penonton pun seolah dihipnotis untuk segera mungkin menyantap episode selanjutnya. Gw gak bisa bayangkan bagaimana para pecinta anime dulu yang harus menunggu anime ini satu episode per minggu karena gw pasti tidak akan bisa melakukan hal yang sama. Mau tidak mau setelah episode 9 berakhir, gw harus marathon hingga episode akhir karena misteri-misteri yang ditinggalkan tiap episode begitu menarik untuk dicari jawabannya. Turning point yang terjadi di episode 12 semakin menambah rasa penasaran setiap penonton. Oh, gak bisa dibayangkan bagaimana kalo gw harus menunggu satu minggu demi 1 episode Steins; Gate. 

Ya, episode 12 merupakan turning point yang luar biasa dari Steins; Gate. Melibatkan salah satu karakter paling likeable di dunia anime, mood Steins; Gate benar-benar berubah. Masih terdapat beberapa humor tetapi kadar dosisnya diminimalisir dan jauh kuantitasnya dibandingkan episode-episode awal. Atmosfer Steins;Gate berubah ke ranah sedikit kelam dengan mempermainkan nyawa seorang manusia. Dan tentunya Steins; Gate pun berubah menjadi sajian yang mempermainkan perasaan para penonton. Entah beberapa kali gw hampir netesin air mata ketika melihat kebahagian setiap karakter harus dikorbankan demi  seseorang. Steins; Gate memberikan pelajaran bahwa, dengan time travel pun, mengubah takdir seseorang bukanlah hal yang mudah, serta menjadi studi kasus bila manusia belum sanggup (mungkin hingga kiamat) untuk bermain-main dengan takdir serta kekuatan untuk menguasai waktu. 

Selain kedalaman cerita, poin keunggulan Steins; Gate lainnya adalah karakter dan pertukaran dialognya. Pertama, karakter-karakter di Steins; Gate hampir semuanya sangatlah likeable, terutama (menurut gw) Okabe Rintarou dan Mayuri Shiina. Kekuatan utama dari karakter Okabe adalah keunikannya. Seperti rasa percaya dirinya yang sangat tinggi, sering memberi julukan-julukan yang aneh ke setiap orang (kecuali Mayuri), dan sering di sela-sela waktu berbicara sendiri seolah-olah menelepon orang lain. Bukannya aneh, malah hal ini menjadi keunikan tersendiri terhadap karakter Okabe. Lalu karakter Mayuri sendiri sangatlah sempurna mendefinisikan manis dan imut itu sendiri. Walau kebanyakan orang akan jauh lebih menyukai sifat tsundere nya Makise Kurisu (karakter ini menjadi karakter terfavorit wanita di situs Myanimelist), tapi gw lebih menyukai karakter yang ada di dalam Mayuri. Mayuri merupakan hati dari pertunjukan Steins; Gate. Semua kebaikan seakan berada di dekatnya. Susah sebagai pria yang normal untuk tidak jatuh cinta terhadap karakter yang satu ini. Sehingga ketika sesuatu terjadi pada dirinya, penonton pun akan merasakan simpati yang besar kepada Mayuri. Lalu mengenai dialognya, pertukaran dialog antara Okabe Rintarou dan Makise Kurisu merupakan salah satu highlight terbesar disini. Karakter tsundere Kurisu sangat cocok bila mendapatkan “lawan” karakter seperti Okabe. Setiap perdebatan yang terjadi antara Okabe dan Kurisu merupakan hiburan utama di awal-awal episode yang cenderung datar. Okabe yang suka menggodanya di setiap kesempatan, sementara Kurisu dengan self defensive nya yang begitu besar menciptakan chemistry antara Okabe dan Kurisu susah untuk digambarkan kata-kata. Maka, walau gw lebih menyukai karakter Mayuri, tetapi gw tidak keberatan bila love interest dari Okabe adalah Kurisu.

Dengan tema time travelnya, Steins; Gate berhasil menyajikan sebuah cerita emosional yang mampu membuat para penonton terikat. Bagian pertengahan hingga akhir episode tentu saja merupakan bagian terbaik dari Steins;Gate. Tetapi untuk menuju kesana, kalian harus bersabar dahulu dengan build up yang memang harus diakui cukup lambat tempo nya pada awal-awal episode. Tetapi ketika mengakhiri kisah ini, gw jamin kalian akan mengulang ke episode pertama karena begitu banyak hint demi hint yang diberikan kepada penonton. Dipenuhi dengan karakter-karakter yang unik serta likeable, pertukaran dialog yang sangat menghibur dan sajian drama nya yang mampu menyentu sisi sensitifitas kalian, Steins;Gate menjadi sajian anime yang mampu membuat kalian tidak akan pernah berhenti untuk menonton episode-episode selanjutnya (tepatnya ketika episode 9 berakhir). 

P.S: Mamoru Miyano is Awesome,sunavabitch!!

8,25/10



 


"I don't like bullies"-Bob Stone

Plot

Robbie Wheirdicht (Dwayne Johnson) merupakan orang yang memiliki masa SMA yang tidak mengenakkan. Dengan fisik yang lebar, dia menjadi bahan bullian para teman-temannya. Puncaknya ketika ia dilempar dalam keadaan telanjang di tengah lapangan basket ketika Calvin Joyner (Kevin Hart) sedang berpidato.  Calvin sendiri adalah siswa yang menjadi kebanggan sekolah, Dia hebat dalam berbagai bidang seperti drama, dan olahraga. Calvin sendiri tidak tega melihat keadaan Robbie sehingga memberikan jaket nya ke Robbie. Fast forward 20 tahun mendatang, Calvin yang dijuluki "The Golden Jet" semasa SMA tidak mendapatkan kehidupan yang diimpikannya. Dia memiliki pekerjaan yang dibencinya, hubungan nya dengan istrinya, Maggie (Danielle Nicolet) cenderung datar dan juniornya dalam kantor mendapatkan promosi pekerjaan mendahuluinya. Dalam keadaan hampa tersebut, Robbie yang mengganti nama menjadi Bob Stone menghubungi Calvin dan mengajak Calvin ketemu. Dengan tampilan fisik yang berbeda, Calvin tentu sangat terkejut dengan perubahan yang dialambi Bob. Bob sendiri memiliki pekerjaan agen CIA dan tengah diburu oleh organisasi tersebut karena diduga telah membunuh rekan kerjanya, Phil (Aaron Paul). Masalah yang tengah dihadapi Bob tentu membuat Calvin ikut terseret dan tidak tahu mana yang ia harus percayai.





Review


Franchise Lethal Weapon, Trilogy Rush Hour serta dwilogi favorit gw yang membuat gw ngefans sama Will Smith, Bad Boys merupakan contoh buddy cop movie yang berhasil. Sebenarnya film berjenis seperti ini tidak harus memiliki naskah yang cerdas serta plot yang rumit. Cukup temukan dua aktor yang memiliki chemistry alami sehingga mampu menciptakan komedi yang mampu membuat tertawa, maka bagi gw film tersebut telah berhasil. Masalah teknis atau narasi, bisa gw maafkan karena pada dasarnya inti dari film buddy cop adalah komedi dan komedi menawarkan hiburan, bukan keseriusan. Maka, walau plot dari Central Intelligence sangat predictable serta adegan aksinya biasa saja, gw bisa memaafkan karena sebagian humor yang ditawarkan mampu membuat gw terhibur walau tidak terlalu memorable juga.

Kasus bully yang masih saja terjadi di berbagai negara tentu nya sangat meresahkan. Gw sendiri merupakan salah satu orang yang sangat concern sama tindakan bullying. Bagi gw, pelaku bullying itu sama nistanya dengan pemerkosa. Film yang disutradarai Rawson Marshall Turber ini mencoba mengangkat tema tersebut. Adegan awalnya saja kita diperlihatkan bagaimana karakter Robby yang gemuk (sulit percaya bila orang itu adalah Dwayne Johnson sendiri dengan bantuan fat suit) dipermalukan di hadapan orang banyak. Tawa yang keluar dari penonton ketika melihatnya dipermalukan itu sangat menyesakkan untuk dilihat. Karena itulah, keterikatan gw dengan karakter Robby pun telah terikat di adegan tersebut. Kebaikan yang ditunjukkan oleh Calvin walau kecil tapi telah menunjukkan bahwa karakter ini memiliki kebaikan hati.

Selain keunikan tema tersebut (untuk film buddy cop), keunikan film ini yang lainnya adalah kita diajak untuk menebak siapa sebenarnya karakter Bobby Stone ini. Apakah memang dirinya dijebak, atau memang yang dikatakan CIA benar, kita sebagai penonton tidak tahu dan berada di posisi yang sama dengan Calvin. Keputusan tepat untuk menyimpan twist ini di akhir film sehingga walau bisa diprediksi namun misteri tersebut cukup untuk membuat gw terikat dan tetap menarik untuk mengikuti. Masalah humornya cukup berhasil. Memang ada yang miss, tetapi gw cukup menikmati walau ada beberapa referensi yang tidak gw ketahui.  Humornya berhasil tentu saja merupakan hasil dari chemistry antara Dwayne Johnson dan Kevin Hart.

Dwayne Johnson berhasil menjadi bintangnya disini. Seperti biasa Johnson memerankan karakter yang charming, berkharisma dan jangan ragukan lagi ketika dia melakukan adegan aksi. Tetapi yang stand out dari penampilannya di film ini adalah bagaimana ia berhasil memerankan karakter Bob Stone yang memiliki masa remaja yang kelam. Walau dalam kondisi fisik ia telah terlihat kuat dan berotot, tetapi Bob tetaplah merupakan korban dari bullying dan itu terlihat setiap kali Bob berinteraksi dengan Calvin. Sebuah keputusan yang tepat untuk tidak membuat karakter Bob menjadi karakter yang totally badass dan telah melupakan masa lalunya. Kevin Hart sendiri sudah cukup berhasil menjadi karakter yang "ramai" setiap ada kejadian. Tidak mencapai level Will Smith dan Martin Lawrence, tetapi Johnson dan Hart berhasil melontarkan joke-joke nya ketika berinteraksi. 

Tetapi tetap saja Central Intelligence adalah sajian yang klise dan predictable. Tidak hanya itu, dalam narasinya terdapat beberapa plot yang cukup mengganggu bila kita perhatikan secara seksama. Namun, sekali lagi ini adalah sajian komedi, jadi jangan terlalu memperhatikan plot nya atau mempermasalahkan terlalu mendetil. Biarkan sang dua bintang utama menghiburmu dan kalian duduk saja tenang di tempat kalian.

Central Intelligence memang bukanlah film yang membuat kalian akan membicarakannya ketika filmnya selesai, tetapi sebagai hiburan, Centeral Intelligence cukup layak untuk dinikmati. Dengan sedikit mengangkat tema bully (dan cukup berhasil) serta misteri yang bergerak dalam ceritanya, Central Intelligence tetap lah sajian buddy cop yang menghibur walau memang harus diakui sangat predictable dan terdapat banyak lubang dalam narasinya. Oh, ada Mellisa McCarthy juga disini sebagai cameo.

7/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!