Thursday, 13 March 2014




Kids forgive, they don't judge, they turn the other cheek, and what do they get for it?- Remy Bressant


 

 

Plot

Dibuka dengan narasi dari Patrick Kenzie (Casey Affleck) tentang kota Boston yang telah dihuninya beberapa tahun belakangan. Patrick merupakan detektif pribadi yang bekerja bersama pacarnya yaitu Angie Gennaro (Michelle Monaghan). Suatu hari mereka mendapatkan pekerjaan tentang kasus penculikan(well, awalnya kasus ini hanya tentang kehilangan saja) yang menimpa putri dari Helen McCready (Amy Ryan) yaitu Amanda. Permintaan tersebut datang dari Lionel (Titus Welliver) dan Bea McCready yang merasa kurang mempercayai investigasi kepolisian yang terkesan mengulur-ulur waktu. Dengan dibantu Sersan Remy Bressant (Ed Harris), Patrick dan Angie pun berlomba dengan waktu untuk menemukan Amanda.









Review

Familiar dengan Ben Affleck? Ya, dia adalah seorang aktor yang terkenal dengan perannya di film-film blockbuster macam Armagedon, Pearl Harbor dan Daredevil. Sayangnya walaupun dia adalah aktor kelas A, namun banyak orang yang mengkritiki aktingnya yang buruk dan standar. Terbukti dengan beberapa nominasi Razzie Awards sebagai worst actor yang telah dikantonginya. Gw hanya pernah melihat aktingnya di film Armagedon dan Daredevil, dan memang benar, aktingnya tidak ada yang spesial. Lalu bagaimana dengan profesinya sebagai sutradara? Apakah kariernya sebagai sutradara akan setali tiga uang ketika dia menjadi aktor? Fyi, Ben Affleck pernah mendapatkan piala Oscar untuk Best Original Screenplay dalam film Good Will Hunting (1997) bersama Matt Damon. Seharusnya ini telah menjadi jaminan kita bahwa kariernya di balik layar akan berada di arah sebaliknya dengan kariernya menjadi aktor..
Tuhan memang telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan, ada pria dan wanita, langit dan daratan, dan tentunya baik dan jahat, tapi kita renungkan kembali, baik dan jahat? Jangan salah, dalam kehidupan ada juga yang dinamakan sifat abu-abu. Tindakan yang tak bisa dibilang baik namun juga sulit untuk dibilang jahat. Karakter abu-abu favorit dalam film bagi gw adalah Batmannya Nolan yang diperankan Christian Bale. Nah sifat atau tindakan abu-abu itulah yang seringkali menimbulkan dilema dalam diri kita ketika menontonnya. Patutkah kita mendukung perbuatannya? Atau patutkah kita mencela tindakannya? Sulit untuk dijawab dan sayangnya disitulah letak menariknya film yang mengangkat tema abu-abu ini.
Dan kalian pun akan mendapatkan hal itu di film debut nya Ben Affleck menjadi sutradara ini. Kalian akan dibingungkan dengan pertanyaan siapa yang jahat dan baik. Dan itu merupakan kelebihan film ini. Pertanyaan itu akan tetap tertutup dan akan dibuka ketika film mendekati paruh akhir dan kita pun akan sangat puas dengan jawabannya. Affleck pun seperti gw bilang tadi tidak mau bertele-tele dengan film ini. Affleck tetap fokus dengan main plot nya sehingga setiap adegan pun tidak ada yang terkesan sia-sia atau seperti hanya mengulur-ulur durasi, tidak. Setiap scene memiliki andil tersendiri dan memiliki hubungan dengan main plotnya.
Gw juga suka dengan keputusan Affleck yang lebih memilih mengembangkan karakter-karakter utamanya ketimbang memperpanjang adegan-adegan yang tidak perlu. Semuanya mendapatkan perkembangan karakter yang menarik, baik itu Patrick, Angie, Remy bahkan karakter minor seperti Helen dan Lionel. Lihat saja karakter Helen yang begitu ‘loser’ ketika masih di awal film, ketika film mulai memasuki paruh pertengahan, karakter Helen berubah dan mulai bisa untuk mendapatkan simpati dari kita. Ya, walau attitudenya tidak layak sebagai seorang ibu, itu hanya lah attitudenya, ibu tetaplah ibu yang menyayangi darah daging yang telah ia lahirkan dengan pertaruhan nyawa, sehingga Helen yang terkesan cuek tetap saja mengkhawatirkan putrinya dan itu kita bisa lihat di pertengahan film. Karakter Helen pun mampu diperankan dengan cemerlang oleh Amy Ryan. Dan salut untuk Affleck dimana dia tidak menaruh peran Angie hanya sebatas pemanis saja. Soalnya gw sempat mengira begitu, tapi untungnya tidak, dimana karakter Angie yang awalnya tidak ingin terlibat dengan kasus ini bahkan terkesan menolak tawaran ini malah terikat batin dengan korban dan sangat perduli dengan korban. Oh ya, jangan lupakan juga karakter Jack Doyle yang diperankan oleh Morgan Freeman karena karakter inilah yang paling mencuri perhatian bagi gw, ingat, sekali lagi gak ada tokoh yang useless disini, termasuk karakter yang diperankan Morgan Freeman tersebut.
Gw juga menyukai pilihan Affleck menjadikan Boston sebagai latar tempat film terjadi, karena Boston sendiri merupakan salah satu kota yang terkenal dengan angka kriminilatisnya tinggi. Dan Affleck berhasil menjadikan kota Boston sangar di film ini. Lihat saja dimana warga nya seolah menyimpan senjata api dengan mudahnya, juga warganya yang terlihat tidak ramah, semua hal itu membuat film ini cukup tegang.
Dan pada akhirnya kita memasuki bagian yang paling emosional, yaitu endingnya. Gimana nggak? Ending film ini memberikan kita sebuah pilihan yang sangat sulit bila kita menjadi Patrick. Kalo gw sendiri menjadi Patrick gak tau deh gw bakal pilih yang mana. Dan pada akhirnya Ben Affleck memberikan kita ending yang cukup terbuka apakah keputusan yang diambil Patrick benar atau salah. Yang jelas Patrick telah mengikuti kata hati dan keadilannya dengan mengorbankan sesuatu yang besar pula. Sungguh, Gone Baby Gone menawarkan ending yang cukup powerful bagi gw.
Singkat kata, Gone Baby Gone merupakan sebuah bukti dari Ben Affleck bahwa dirinya memiliki bakat dalam suatu industri film ini. Mungkin bakat tersebut bukan menjadi aktor, namun menjadi Sutradara? Hell yeah, profesinya sebagai sutradara sepertinya cocok untuk Affleck. Dan gw udah gak sabar untuk menonton karyanya yang fenomenal yaitu Argo. Sampai saat ini file nya masih duduk tenang di harddisk gw. Semoga gw juga suka ama film tersebut.


8/10

Sunday, 2 March 2014







If they had told me it was going to be fifteen years, would it have been easier to endure?- Oh Dae-Su



Director:

Park Chan-Wook

Writers:

Garon Tsuchiya (story), Nobuaki Minegishi (comic),

Cast

Choi Min-Sik, Yu Ji-Tae, Kang Hye-Jeong



Plot


Kita akan melihat sosok Oh Dae-Su (Choi Min-Sik) berada di pos polisi dalam keadaan mabuk berat. Karena mabuk, Oh Dae-Su pun membuat sedikit keributan di pos polisi. Menggoda kekasih orang, ingin pipis di pos tersebut dll sehingga polisi sedikit kewalahan dengan tingkahnya. Dan pada akhirnya Oh Dae-Su pun dijemput sahabatnya. Karena pulang kemalaman, Oh Dae-Su pun menelepon anak serta istrinya untuk memberikan kabar, tanpa mengetahui bahwa akan ada peristiwa besar yang akan menimpanya. Ya, Oh Dae-Su diculik dan dikurung di suatu tempat yang seperti apartemen khusus untuk menahan seseorang. Tidak tanggung-tanggung, Oh Dae-Su dikurung di tempat tersebut selama 15 tahun lamanya! Tentu saja hal itu sangat berat untuk dilalui Dae-Su sehingga kondisi kejiwaannya sedikit terganggu di sana. Dae-Su juga shock akan kabar yang didapat dari TV dalam ruangan tersebut dimana kabar tersebut adalah kabar meninggalnya istri Dae-Su dan polisi beranggapan Dae-Su lah yang membunuh sehingga Dae-Su pun menjadi buronan.

Dae-Su tidak tinggal diam, dia pun berusaha untuk kabur dari tempat tersebut walau harus memakan waktu yang tidak singkat. Namun, dalam usahanya untuk kabur, tidak disangka-sangka Dae-Su dibebaskan tanpa alasan. Dae-Su dimasukkan dalam koper dan telah berada di puncak apartemen. Dengan kondisi psikis yang telah rusak, Dae-Su pun menjadi pribadi yang dingin dan hanya memiliki satu tujuan, membalaskan dendam terhadap orang yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan bantuan Mido (Kang Hye-Jeong), juru masak restoran yang menjadi teman Dae-Su, akhirnya Dae-Su pun menemukan pelaku utamanya yaitu Lee Woo-Jin (Yu Ji-Tae). Bukannya merasakan ketakutan, Woo-Jin tampak senang dengan keberhasilan Dae-Su menemukan dirinya. Woo-Jin pun tahu apa yang dibutuhkan Dae-Su, namun informasi yang diinginkan Dae-Su tidak gratis karena Dae-Su harus mencari itu sendiri dalam waktu 5 hari. Kalau Dae-Su gagal, maka Mido lah yang akan terenggut nyawanya. Dan dari sinilah fakta-fakta yang mencengangkan sekaligus tragis mulai terkuak.





Review


Oldboy merupakan film yang diadaptasi dari manga Jepang yang berjudul sama. Oldboy sendiri merupakan film kedua dari trilogi Vengeance milik Park Chan Wook yang legendaris itu, dan Oldboy lah yang mampu menjadi film yang paling lantang berbicara di dunia internasional diantara film-film dari trilogi tersebut. Oldboy bahkan disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa dengan twist ending yang juga sangat melegenda, mungkin hampir sama dengan twist yang dimiliki Psycho, Ussual Suspect, dan The Prestige. Ketika Oldboy dirilis pada tahun 2003, Oldboy sempat menjadi fenomena tersendiri dan meraih pujian-pujian di Festival Cannes, serta meraih Gran Jury Prize,dan penghargaan-penghargaan internasional lainnya, Oldboy pun memilik pengikut-pengikut setia sehingga status cult untuk film ini sangat wajar. Bahkan sutradara sekaliber Quentin Tarantino pun memberikan standing ovation untuk film ini..!

Gw sendiri mulai memperhitungkan keberadaan film-film Korea Selatan setelah menonton film ini. Ya, film ini membuka mata gw bahwa film-film dari Negeri Ginseng tersebut tidak hanya diisi dengan genre melodrama yang digandrungi kaum hawa remaja, tapi juga diisi dengan film thriller berdarah seperti Oldboy ini. Dan kualitasnya juga sangat mengagumkan, seperti I Saw the Devil, No Mercy dan lain-lain sehingga kualitas akan film thriller buatan Korsel sudah menjadi jaminan tersendiri bahwa film tersebut bukanlah film kacangan.

Oldboy sendiri tidak hanya menceritakan tentang pembalasan dendam saja, karena dendam hanya lah sebuah fondasi dasar cerita dalam film ini. Ketika kita mulai memasuki menit demi menit, kita akan menemukan juga unsur-unsur sosial yang mungkin sensitif bila dimasukkan dalam film, unsur yang sedikit sulit untuk diterima oleh para penonton awam. Makanya, Oldboy bukanlah film yang cocok untuk ditonton oleh kalangan manapun. Film ini hanya bisa diterima oleh penikmat film yang pemikirannya terbuka dan mampu melahap setiap isi yang ditawarkan film ini. Selain unsur sosial nya yang sensitif, Oldboy juga dibingkai dengan kekerasan tingkat tinggi selayaknay film-film dendam lainnya, namun kekerasan tersebut tidak hanya menjadi ‘pemanis’ saja, karena adegan kekerasan dalam Oldboy bagi gw sendiri merupakan suatu hal yang dibutuhkan untuk menguatkan jalinan cerita yang ada. Adegan-adegan kekerasan tersebut juga bisa dibalut oleh sang Sutradara dengan keren serta meyakinkan sehingga cukup berbeda dengan film-film bertemakan dendam lainnya. Tidak hanya kekerasan, adegan sex yang vulgar juga dapat kita temukan dalam film ini yang sialnya tidak bisa kita lewatkan karena lagi-lagi hal tersebut ternyata menjadi bagian penting dalam cerita Oldboy. Cukup jarang bukan adegan sex menjadi suatu bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah film?

Jalinan-jalinan misteri yang ditawarkan film ini juga tentunya sangat menarik untuk kita ikuti. Siapa sih yang tidak penasaran dengan alasan di balik sang pelaku yang begitu teganya mengurung Dae-Su selama 15 tahun lamanya? Dan kenapa juga Dae-Su dibebaskan begitu saja? Semua itu akan terjawab kita mengikuti petualangan Dae-Su ditemani dengan Mido, walau menurut gw disitulah satu kekurangan dalam film ini dimana perjalanan Dae-Su untuk memecahkan misteri serta rasa penasarannya tersebut cukup membingungkan dan kurang mendetil di jabarkan karena Park Chan
Wook memilih untuk mengemasnya dengan pacing yang cepat. Tapi bukan berarti pemecahannya menjadi terkesan tidak masuk akal, karena apabila kita renungkan kembali hal tersebut bisa saja terjadi karena sang pelaku juga ‘ikut’ membantu penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh Dae-Su.

Oldboy juga memiliki kelebihan yang masih sedikit dimiliki oleh film-film Asia yaitu Sinematografi. Jarang-jarang gw membahas film untuk membahas sinematografi namun untuk Oldboy gw buat pengecualian karena suatu hal yang menakjubkan bila film Asia memiliki sinematografi level wahid. Dari adegan awal saja kita telah disuguhkan sebuah scene hujan di malam hari yang begitu memanjakan mata, setiap sudut kamar tempat Oh Dae-Su dikurung pun juga unik dan artistik dimana dalam kamar tersebut juga ada sebuah lukisan yang aslinya dibuat oleh pelukis asal Belgia, dan masih banyak lagi adegan-adegan yang diimbangi dengan sinematografi yang sangat indah.

Namun, kelebihan Oldboy juga tidak hanya di bidang sinematografi, melainkan lantunan-lantunan musik di Oldboy juga memberikan nilai plus untuk film ini. Ya, musik-musik yang melantun dalam Oldboy ini juga membantu untuk membuat scene demi scene di Oldboy terasa mengena dan sangat sulit untuk dilupakan sehingga sedikit banyak dari scene tersebut menjadikan scene itu ikonik dan begitu melekat di hati penikmat film. Ambil contoh perkelahian Dae-Su vs Puluhan orang di sebuah lorong. Scene tersebut sangat terasa intens nya tidak hanya karena pertarungan tersebut realistis tapi juga karena melantunnya scoring yang ikut membantu suasana yang menegangkan tersebut sehingga scene pertarungan tersebut tidak hanya menjadi ikonik namun menjadi favorit bagi setiap orang,  termasuk gw. Puncaknya adalah ketika twist nya muncul di permukaan. Scoring yang diputarkan ketika adegan reveal tersebut sangat sangat sangat cocok dengan situasi yang ada sehingga menambah kesan tragis serta ‘sakit’ nya twist tersebut. Mungkin banyak twist ending film yang lebih baik dari Oldboy, tapi bagi gw twist ending yang dimiliki Oldboy sangatlah berkesan. Karena apa? Tidak hanya karena twistnya yang memang mengejutkan tapi cara Park Chan Wook mengungkapkan twist tersebut dengan memainkan scoring tersebut lah yang membuat gw yakin bahwa Oldboy adalah film dengan ending paling berkesan menurut gw.

Tapi segala kelebihan-kelebihan tersebut akan hambar rasanya bila Oldboy tidak diselingi dengan akting-akting yang menakjubkan. Ya, sekali lagi, Oldboy memiliki hal tersebut. Beruntunglah Oldboy memiliki jajaran cast sehebat Choi Min-Sik, karena apabila bukan beliau yang main, mungkin film Oldboy tidak akan sefenomenal sekarang. Akting total dari Choi Min-Sik yang memerankan Oh Dae-Su jelaslah patut diapresiasi. Transformasi karakter yang dialami oleh Dae-Su secara (hampir) sempurna diperankan oleh Min-Sik. Kita sebut satu per satu, dari ekspresi pria paruh baya yang mabuk, ketakutan, pemarah, muka dingin penuh dendam, dan tentunya ekspresi ketika film beranjak mau berakhir lah yang paling memorable, semuanya mampu diperankan oleh nya dengan (hampir) sempurna sehingga apa yang ditampilkan oleh beliau seolah nyata untuk kita yang menyaksikan. Sungguh, Min-Sik seolah menyatu dengan karakter Dae-Su itu sendiri. Karakter Dae-Su juga sangat mengundang simpati walau Dae-Su bukanlah sosok yang sebenarnya mudah untuk disenangi, namun walau karakter Dae-Su bukanlah sosok protagonis yang benar-benar putih, kita pun mau tak mau menaruh simpati akan karakter Dae-Su dan itu juga berkat dukungan akting yang memukau dari Dae-Su. Dengan akting yang hebat itu pulalah, begitu banyak adegan yang sangat ikonik dalam film ini, seperti memakan gurita hidup-hidup, transformasi kegilaannya dalam kamar kurungannya, perkelahian dalam lorong, dan lain-lain. Akting nya yang total inilah yang membuat aktor ini begitu dikagumi di Korea Selatan, bahkan dunia! Min-Sik juga mendapatkan lawan akting yang setimpal dari aktor juniornya yaitu Yu Ji-Tae. Sosok Lee Woo-Jin yang terkesan misterius, kompleks serta tenang dan dingin juga berhasil diinterpretasikan oleh Ji-Tae dengan cemerlang.

Akhir kata, Oldboy adalah sebuah film yang WAJIB kalian tonton buat yang mengaku sebagai pecinta film, karena Oldboy adalah sebuah keharusan yang tidak boleh dilewatkan. Percayalah, Oldboy akan memberikan kalian pengalaman menonton yang sangat berkesan sehingga sulit untuk dilupakan. Dengan tema dendam serta unsur-unsur sensitif di dalamnya yang membuat film ini gila serta kelam, grafis atau konten kekerasan yang dibalut secara tidak biasa dan tentunya twist ending yang siap menghenyakkanmu, Oldboy adalah salah satu contoh sempurna sebagai film bertemakan dendam yang sanggup mengikatmu sampai akhir, dan percayalah, kalian tidak akan mudah untuk melupakan film ini.



9/10

Monday, 17 February 2014


God, it's been a long time since anybody asked me that... I'm great.- Lester Burnham


Plot


Lester Burnham (Kevin Spacey) merupakan seorang kepala rumah tangga yang merasa seperti ada yang hilang dalam hidupnya beberapa tahun belakang. Dia memiliki istri bernama Catherine (Annette Bening) dan seorang putri berusia remaja bernama Jane Burnham (Thora Birch). Catherine sendiri merupakan wanita karir yang ambisius, sedangkan Jane hanyalah gadis remaja seperti umumnya. Namun seperti suami serta ayah mereka, Catherine dan Jane merasakan sesuatu yang hilang juga terhadap diri mereka masing-masing. Catherine tidak menganggap Lester seperti suami pada umumnya, dan terlalu sibuk akan pekerjaannya, sedangkan Jane malah tidak menyukai kedua orang tuanya dan bahkan cenderung membenci mereka. Hingga suatu hari, mereka masing-masing seolah menemukan seseorang yang dapat memenuhi apa yang mereka butuhkan. Lester tertarik dengan sahabat putrinya yaitu Angela (Mena Suvari), Catherine mengagumi rekan seprofesinya yaitu Buddy Kane (Peter Gallagher), dan Jane menjalin hubungan dengan tetangga barunya yaitu Ricky Fitts (Wes Bentley).




Review

 

Ketika seseorang memutuskan untuk berkeluarga, tentunya seseorang tersebut telah mengerti akan resiko yang akan ia hadapi pada suatu hari ketika ia telah berkeluarga. Entah itu masalah keuangan, keharmonisan, atau bahkan bosan dengan keluarga yang ia telah bangun sekian lama. Semua itu tentunya akan kita hadapi dalam suatu keluarga. Namun satu hal yang patut kita sadari adalah, bila kita telah berkeluarga, beban kehidupan tidaklah lagi kita tanggung sendirian. Beban tersebut dengan sendirinya akan terbagi masing-masing anggota keluarga tersebut. Maka dari itu, gw sangat setuju dengan kutipan yang gw dapat dari film Korea Selatan yaitu Hello Ghost yang berbunyi, Memang memiliki keluarga akan sulit, namun tidak ada yang akan selalu mendukungmu sehari-hari kecuali keluarga. Ya, itulah fungsi utama dari sebuah keluarga. Sehingga kita pun mengetahui bahwa keluarga yang dikepalai Lester Burnham ini sedang mengalami masalah atau lebih kerennya kita sebut dalam kondisi yang disfungsional. 

Debut dari sutradara Sam Mendez ini mampu sukses baik dari segi komersil maupun kritik.. Pada perhelatan Oscar yang diadakan pada tahun 2000 American Beauty mampu mendapatkan 8 Nominasi dan mampu meraih 5 piala dari nominasi-nominasi tersebut, termasuk Best Picture dan Best Actor yang diraih Kevin Spacey yang memang bermain hampir sempurna disini. American Beauty juga memiliki pemasukan yang melewati angka $350juta dari budgetnya yang 'hanya' $15 juta.. Apa yang membuat American Beauty mampu meraih pencapaian yang luar biasa itu?

Well, jangan tertipu dengan judulnya yang menaruh kata 'beauty' didalamnya, karena isi film ini hampir sama sekali tidak mampu mendeskripsikan kata 'beauty' itu tersendiri. Kita akan melihat bagaimana sebuah keluarga yang sama sekali tidak harmonis. Tidak hanya satu namun dua keluarga. Film ini memang depresif tapi entah kenapa dari menit awal gw gak terlalu tenggelam ke dalam aura depresif yang di tawarkan oleh film ini. Bukan karena aura depresifnya setengah-setengah tapi menurut gw mungkin karena Sam Mendez menyelipkan beberapa humor di setiap adegan sehingga gw gak terlalu depresif menontonnya, gak kayak ketika gw nonton Requiem for a Dream yang kental banget dengan aura depresifnya. 

Dan juga kontradiksi dengan aura depresifnya, Sam Mendez juga membuat sinematografi dalam American Beauty ini sangat enak dipandang. Lihatlah desain rumah dari Keluarga Burnham tersebut. Sumpah cantik banget. Serta scene ikonik dimana Angela yang dikelilingi ribuan mawar merah menyala itu juga sangat indah. Sungguh hal yang wajar bila American Beauty mampu memenangkan piala Oscar dalam kategori Best Cinematography. Semua hal yang gw ungkapin sebelumnya itulah yang mungkin membuat American Beauty masih enak untuk diikuti meskipun film ini depresif dan juga sedikit ironis dan menyedihkan.. Menyedihkan karena sebuah keluarga yang seharusnya memberikan kita ketenangan, memberikan kita perlindungan dari dunia yang terkadang tidak ramah terhadap para manusia, disini malah keluarga adalah sumber dari malapetaka dan ketidakbahagiaan. Dan ironisnya kita malah merasa bahagia dengan seseorang yang baru memasuki kehidupan kita. Padahal mungkin saja bila Lester, Charoline dan Jane mampu berbicara tenang dari hati ke hati, mungkin saja mereka mampu mencari jalan keluar sama-sama dan meraih keharmonisan yang sempat mereka miliki beberapa tahun sebelum mereka kehilangan arti keluarga yang sebenarnya.

Mungkin hal itulah yang coba diutarakan Sam Mendez dalam debutnya ini. Sam Mendez ingin menunjukkan bahwa bila kita terus memendam permasalahan dalam keluarga maka hal tersebut malah membuat kita semakin merasa jauh terhadap masing-masing anggota keluarga yang kita miliki sehingga tidak ada lagi rasa percaya, tidak ada lagi keharmonisan. Dan Sam Mendez berhasil menginterpretasikan hal tersebut dalam film ini. Mengenai kepercayaan, ada adegan dalam film ini yang menunjukkan kesalahpahaman yang terjadi dalam anggota keluarga. Kesalahpahaman yang tentunya lucu untuk kita yang mengetahui hal yang sebenarnya, namun tidak bagi pihak yang salah paham. Nah, disitulah Sam Mendez ingin mengingatkan bahwa rasa percaya diantara anggota keluarga itu penting. Kalo hal tersebut hilang, maka akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, seperti film ini.

Mengenai akting, mungkin semua orang yang telah melihat film ini akan setuju bila Kevin Spacey dan Annette Bening bermain dengan luar biasa, terutama Kevin Spacey. Fyi, pada awalnya beberapa aktor terkenal seperti Kevin Costner, Woody Harrelson, John Travolta and Bruce Willis yang akan memerani sosok Lester Burnham. Gw mengenal Kevin Spacey ketika dia bermain cemerlang dalam film Se7en dan The Ussual Suspect. Dan disini gw harus menyatakan kekaguman gw terhadap beliau. Beliau begitu mendalami peran Lester Burnham disini. Lihatlah transformasi ekspresinya ketika memerani sosok Lester yang loser hingga Lester yang akhirnya memiliki rasa keberanian kembali. Serius, gw seperti melihat dua orang yang berbeda dalam satu karakter. Adegan yang tak terlupakan adalah ketika adegan dinner dimana Kevin Spacey melakukan improvisasi akting. Sedikit spoiler, dalam adegan itu seharusnya Kevin Spacey melempar piring yang diisi dengan asparagus ke lantai, namun Kevin Spacey melakukan improvisasi dengan melempar piring tersebut ke dinding. Dan apa yang terjadi? Ekspresi yang dikeluarkan Annette Bening dan Thora Birch yang sebagai Jane pun natural karena mereka sama sekali tak mengira akan improvisasi yang dilakukan Kevin Spacey..! Tidak kalah Annette Bening yang memerankan seorang istri juga ibu yang depresif, dan juga hampir putus asa dengan kehidupan keluarganya. Momen terbaiknya adalah ketika dia menangis setelah gagal menjual rumah. Para supporting role nya juga cukup bermain bagus, walau sedikit tenggelam dengan akting Kevin Spacey dan Annette Bening yang memang istimewa.

Sayangnya gw kurang suka dengan endingnya. Kenapa? Karena gw udah mengira endingnya akan begitu, sehingga gw merasa endingnya biasa aja. Gw berharap endingnya berbeda dengan ending yang ada dalam perkiraan gw. Karena ending yang begitu sangat nggak gw sukai.

Akhir kata, American Beauty bagi gw adalah film yang memberikan kita pelajaran apa yang seharusnya terdapat dalam keluarga. Keluarga haruslah dibingkai dengan kasih sayang, kepercayaan, keterbukaan satu sama lain dan dukungan. Dan film ini bisa menjadi pilihan untuk siapa saja yang merasa telah siap untuk berkeluarga tapi masih ada kebimbangan dalam hati. Dengan dukungan akting yang mumpuni, dan cerita yang berbeda, American Beauty adalah sebuah film yang harus anda tonton bila kalian mengaku sebagai pecinta film..

8,4/10

Sunday, 16 February 2014


The closer you think you are, the less you'll actually see.- Daniel Atlas



Plot

Film dibuka dengan pengenalan kepada 4 pesulap amatir namun memiliki potensi yang besar untuk menjadi pesulap kelas atas, yaitu Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Henley Reeves (Isla Fisher, btw doi cakep banget disini gan!! Ehem, bakc to the topic), Merrit Mckinney (Woody Harrelson) dan Jack Wilder (Dave Franco). Mereka masing-masing diundang lewat kartu misterius. Pada akhirnya pun mereka memenuhi undangan tersebut. Awalnya mereka merasa tertipu, namun mereka pun segera mau tak mau percaya ketika setelah memecahkan puzzle yang terdapat dalam kamar di sebuah apartemen yang notabene nya adalah tempat di mana mereka dikumpulkan, mereka pun dihadapkan pada suatu rencana besar yang mengaitkan dengan pencurian dan tentu saja keahlian mereka masing-masing yaitu sulap dan tipu muslihat.
Setahun berselang, mereka pun bersatu dalam sebuah nama yaitu Four Horsemen dan mengadakan pertunjukan yang diadakan di Las Vegas. Pertunjukan yang didanai oleh Arthur Tessler (Michael Caine) tersebut ternyata bukanlah pertunjukan biasa. Karena Four Horsemen mengadakan pencurian terhadap suatu bank di Paris dengan cara meneloportasikan salah satu audience dan membawanya kembali dengan jutaan uang dari bank tersebut.
Aksi mereka tersebut tentunya membuat mereka populer dan FBI pun menaruh perhatian terhadap mereka, salah satu agennya yaitu Dylan Rhodes (Mark Ruffalo). Dengan bantuan dari agen Interpol Prancis Alma Dray (Melanie Laurent), Dylan pun mencoba memecahkan misteri bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan sebisa mungkin menangkap mereka. Tidak hanya FBI, mantan pesulap Thaddeus Bradley pun tertarik dengan Four Horsemen dan meyakini bahwa Four Horsemen memiliki sebuah rencana.



Review

Film ini menggabungkan heist dan magic sebagai sajian utama. Ya, bayangkan saja bila Trilogy Ocean Eleven digabungkan dengan The Prestige nya Chrisopher Nolan, maka film inilah hasilnya. Gw menyukai sajian yang ada di film Trilogy Ocean Eleven, walau gw kurang menikmati dengan Ocean Twelve nya, sedangkan The Prestige sendiri gw anggap sebagai film bertemakan sulap terbaik sampai saat ini. Nah bagaimana dengan film ini?
Dari awal film ini telah menggebrak dengan cukup cepat seolah tidak membiarkan para penontonnya untuk menangkap secara mendetil apa yang disajikan. Kalimat-kalimat yang dilontarkan pun juga tidak langsung to the point sehingga gw jamin bila kalian lengah sedikit saja kalian pun akan kesulitan untuk menangkap alurnya dan kebingungan di tengah jalan. Mungkin itulah yang diinginkan sang Sutradara Louis Leterrier karena memang apabila kita mencoba untuk mendetil menangkap cerita film ini maka akan cukup banyak lubang yang mengganggu kita. Gw gak bohong, karena gw sendiri cukup menikmati ketika film ini mulai berjalan dan mencoba menerima apapun yang disajikan film ini, namun ketika mendekati paruh akhir pun gw merasakan ada keanehan dengan plot yang ditawarkan, dan ketika gw mencoba untuk mengulangi film ini dari detik awal, kecurigaan gw pun benar. Mungkin gw sudah terpana dengan sajian sulap yang disajikan dan membuat gw seperti penonton yang hadir di setiap pertunjukan Four Horsemen, gw telah tertipu dengan plot ceritanya. Tapi gw gak bisa memungkiri bila gw cukup menikmati film ini, yah terlepas dengan plot hole nya yah.
Dan bila kalian berharap masing-masing anggota dari Four Horsemen bakal memilik pengembangan karakter maka kalian harus mengubur keinginan tersebut karena ketika memasuki paruh pertengahan, fokus cerita beralih ke sisi FBI dan mencoba mengembangkan karakter dari Dylan Rhodes dan Alma Dray. Sesungguhnya keputusan ini tidaklah salah, karena akan menjadi keunikan tersendiri bila film berbentuk heist atau caper movie atau apalah istilahnya menilik lebih dalam ke sisi pihak pengejar. Namun apa yang dipilih oleh Louis Leterrier adalah memberikan fokus cerita seutuhnya kepada Dylan dan Alma. Memang tidak sepenuhnya, namun porsi yang diberikan kepada mereka bisa gw bilang membuat porsi dari anggota-anggota Four Horsemen sedikit tenggelam sehingga gw yang awalnya mendukung aksi mereka, malah menginginkan sajian-sajian sulap mereka gagal dan berhasil ditangkap oleh pihak FBI.
Mengenai ensemble castnya, masing-masing karakter yang menjadi anggota Four Horsemen yaitu Jesse Eisenberg, Dave Franco, Isla Fischer dan Woody Harrelson cukup baik memerankan seorang pesulap yang cerdas dan memiliki ribuan misteri dengan langkah yang mereka ambil. Dave Franco sebenarnya memiliki porsi yang paling kecil, namun itu tidak membuat aktingnya menjadi tenggelam kok. Di jajaran cast seniornya yaitu Morgan Freeman dan Michael Caine juga gak pernah mengecewakan gw, namun bila boleh jujur karakter yang diperankan Michael Caine disini kurang cocok untuk beliau. Tidak, tidak, Michael Caine bermain bagus, tapi peran yang dimainkannya ini sedikit antagonis sehingga gak sinkron aja dengan mukanya yang wise banget dan bijak gitu.
Tapi tentunya scene stealer film ini milik Mark Ruffalo. Ya, aktingnya benar-benar menonjol disini. Dia mampu memerankan agen FBI yang kebingungan tapi tidak terkesan oon. ‘Seperti’ memiliki dedikasi terhadap pekerjaannya sehingga kita tidak menyadari bahwa dia memiliki rahasia juga. Paruh pertengahan sampai akhir merupakan miliknya, percaya ama gw.
Yah pada akhirnya Now You See Me masih mampu menjadi sajian yang cukup berkualitas lah untuk dinikmati dalam waktu luang. Memang memiliki plot hole yang cukup mengganggu namun dengan dasar cerita yang menarik serta eksekusi yang bagus Now You See Me membuat plot hole tersebut akan kalian lewatkan bila kalian telah menikmati sepenuhnya dari awal. Now You See Me juga memiliki cast yang cemerlang, terutama Mark Ruffalo. Jangan bandingkan film ini dengan Ocean Eleven dan The Prestige karena film ini bahkan tidak mampu menyentuh bayangan kedua film tersebut..

7,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!