Thursday, 29 November 2018

"It's heartening to see so many strange, new faces here today. I know my mom would be very touched, and probably little suspicious."- Annie

Plot

Keluarga Graham yang terdiri dari Steve (Gabriel Byrne), Annie (Toni Collette) beserta kedua anak mereka yaitu Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Saphiro) tengah dirundung duka atas kematian ibu dari Annie yang sebelumnya tinggal bersama mereka. Satu hal yang mereka tidak ketahui adalah bahwa kematian tersebut merupakan tirai dari beberapa hal aneh dan mencekam yang akan terjadi selanjutnya.





Review

Setelah saya menonton Hereditary, saya seketika menyesali keputusan saya mengapa memilih waktu malam hari untuk menyaksikan Hereditary. Dipastikan, harapan untuk bisa tertidur nyenyak setelah menonton film ini tentu saja hilang. Entah karena tidak mengantuk, namun bisa dipastikan, semua momen menyeramkan yang ada di film ini seolah di rewind secara otomatis dalam benak. Sensasi menonton seperti ini tentu tidak selalu saya dapatkan dari film horor. Praktis, film-film bergenre serupa yang mampu memberikan sensasi yang sama adalah Rosemary's Baby (sang sutradara, Ari Aster, sepertinya mencintai film klasik tersebut karena atmosfir yang dibangun sekilas hampir sama seperti film karya dari Roman Polanski itu), The Witch, The Blair Witch Project, atau yang paling memorable adalah film Suzanna: Bernafas dalam Kubur. Just kidding, maksud saya adalah film mendiang Suzanna yang mana ada adegan kepala Suzanna gemetar, lengkap dengan mata melototnya yang ikonik saat paku ditancapkan di ubun-ubun kepalanya. Ada yang masih ingat? Percayalah adegan tersebut masih menghantui saya hingga saat ini.

Hereditary akan memberikan kesan tidak mengenakkan yang akan menepel pada diri Anda dalam kurun waktu yang cukup lama. Saya sendiri, di usia 25 tahun ini, bahkan tidak berani menatap plafon kamar saya sendiri setelah menyaksikan sajian film debut dari Ari Aster ini. Dan seperti The VVitch (yang juga diproduksi oleh A24), Hereditary juga menyerang aspek psikologis Anda yang diakibatkan dari berbagai momen-momen disturbing dalam film ini.

Momen-momen tersebut bekerja tentunya dikarenakan Hereditary memiliki fondasi cerita yang kuat. Mental illnes dan keluarga disfungsional menjadi dasar penceritaan Hereditary. Penonton sudah bisa merasakan ada yang tidak beres pada keluarga Graham, terutama Annie dan Charlie. Annie sendiri sama sekali tidak merasakan kesedihan atas meninggalnya sang ibu, bahkan pada saat ia berpidato pada acara pemakaman yang ia sampaikan pun sedikit banyak didominasi Annie menceritakan keburukan sifat yang dimiliki oleh mendiang ibunya dibanding dengan kebaikannya. Sedangkan Charlie merupakan gadis pre-teen tidak biasa, dengan sifatnya pendiam, bahkan cenderung ke arah freak. Bayangkan saja, dikala gadis seusianya bermain sosial media ataupun tik tok, Charlie lebih asik memutilasi kepala bangkai burung. Bahkan, lewat dialog yang disampaikan Annie, dari ketika ia dilahirkan, Charlie sama sekali tidak pernah menangis! Goks gak tuh? Hubungan antara anggota keluarga pun terlihat renggang.

Ari Aster mencoba membangun konflik demi konflik di awal dengan penceritaan yang cukup sunyi dan pergerakan narasi yang bisa dibilang cukup lambat, setidaknya di awal 30-40 menit nya. Saya berasumsi, selain untuk pembangunan karakter, Ari Aster menyajikan pergerakan narasi sedemikian rupa untuk mengajak penonton lebih memiliki waktu optimal untuk memperhatikan kepingan-kepingan puzzle yang disebarkan oleh Aster. Aster pun juga tidak pelit untuk menghadirkan tease yang cukup memacu adrenalin dalam setiap pergerakan lambat narasinya. Barulah setelah film beranjak ke durasi selanjutnya, Aster menaikkan tensi cerita. Penonton langsung diberikan momen shocking yang berhasil memaksa saya berteriak mengeluarkan kata sumpah serapah di tengah malam. Aster tidak sungkan-sungkan melakukan suatu hal tabu dalam dunia perfilman bergenre horor. Momen tersebut dan aftermath nya bisa dibilang merupakan adegan terbaik dalam tahun 2018. Perpaduan sempurna antara cemerlangnya penyutradaraan dari Aster, serta scoring dari Colin Stetson yang memberikan atmosfir dingin dan mencekam, juga penampilan dari Toni Collette dan Alex Wolff (we'll talk about it later). Ditutup pula dengan pemandangan yang diberikan Aster yang saya jamin mampu membuatmu tidak nyaman di tempat duduk Anda.

Usaha Aster dengan memberikan kesempatan pendekatan pada karakter di awal-awal durasi hingga pertengahan melahirkan hasil yang sesuai diharapkan Aster. Penonton memiliki keterikatan terhadap keluarga Graham, berharap segala tragedi yang dialami mereka segera berakhir dan akhirnya mereka bisa melalui semuanya tanpa mengalami kerugian apapun. Tema mental illness yang diangkat Aster pun melahirkan sebuah ambiguitas tersendiri karena penonton seolah diajak untuk membuat asumsi apakah setiap kejadian yang menimpa keluarga Graham murni akibat dari spirit yang menghantui keluarga Graham, atau tanpa sengaja dilakukan oleh salah satu anggota keluarga tersebut. Terlebih memang, di dalam narasinya terdapat satu karakter yang memiliki kebiasaan sleepwalking dimana pada saat sleepwalking tersebut, karakter itu bisa melakukan hal yang tak terduga, bahkan mampu menyakiti anggota keluarga lainnya. Apakah hal tersebut memang dilakukan tanpa sengaja atau ketidaksengajaan tersebut terlahir akibat kegelapan yang dimiliki karakter tersebut.

Hereditary adalah jenis film yang bisa menguras emosi. Untungnya Hereditary memiliki jajaran cast yang brilian. Alex Wolff berhasil secara meyakinkan memerankan karakter yang dilanda rasa traumatis serta bersalah. Tak jarang, Aster sering memberikan fokus pada ekspresi Wolff, sehingga penonton pun ikut tertular perasaan yang sedang dirasakan oleh karakter Wolff. Gabriel Byrne sendiri memang cukup jarang untuk mengeluarkan emosi nya disini, namun hal itu ditutupi dengan gestur subtil nya disini. Kredit lebih juga selayaknya diberikan kepada Milly Saphiro yang selalu berhasil memberikan atmosfir misterius nan creepy di setiap kehadirannya. Namun tentunya penampilan terbaik jatuh kepada Toni Collette. Saya sempat beranggapan bahwa Julianne Moore adalah aktris Hollywood terbaik dalam memperlihatkan akting yang histeris nan emosional tanpa ada kesan berlebihan, namun melihat penampilan Toni Collette disini, rasanya Moore memiliki pesaing yang sulit. Collette benar-benar mencurahkan segala kemampuan terbaiknya dalam film ini. Dari ekspresi kegelisahan maupun ketakutan seolah ia baru saja mengalami mimpi terburuknya, lalu tangisan parau nya yang mampu mencabik-cabik hati Anda, diiringi juga tatapan mata kosongnya yang sering ia perlihatkan, rasanya sebuah kejahatan atau kriminalitas sendiri dari pihak Academy bila Toni Collette setidaknya tidak mendapatkan nominasi Best Actress di pegelaran Oscar tahun depan.

Mengenai minor Hereditary sendiri saya hanya merasa bila Hereditary sedikit lambat di awal-awal filmnya bergerak. Tentu nya penonton yang sering menonton film horror seperti The Conjuring ataupun Insidious, pendekatan seperti ini membutuhkan kesabaran. Namun percayalah, kesabaran tersebut akan berbuah "manis". Editing yang dilakukan oleh Lucian Johnston dan Jennifer Lame pun terasa sedikit kasar di beberapa adegan. Kemudian mengenai endingnya pun sedikit bertele-tele dengan penjabaran monolog di akhir yang disampaikan oleh salah satu karakternya. Tidak masalah rasanya bila Aster sedikit pelit untuk membiarkan endingnya diakhiri tanpa adanya monolog tersebut. Yap, hanya itu saja kekurangan yang saya rasakan dari film yang berdurasi 127 menit ini. Hereditary berhasil memberikan sebuah showcase teror itu sendiri dengan kisah tragedi nan mencekam yang rasanya susah untuk dilupakan. Tidak berlebihan bila menurut saya, Hereditary adalah salah satu film terbaik yang dirilis pada tahun 2018.

9/10

Thursday, 22 November 2018


"What's the law on what ya can and can't say on a billboard? I assume it's ya can't say nothing defamatory, and ya can't say, 'Fuck' 'Piss' or 'Cunt'. That right?:- Mildred

Plot

Merasa kasus pemerkosaan serta pembunuhan terhadap putrinya tidak jua menemukan pelakunya, sang ibu, Mildred (Frances McDormand), akhirnya melakukan perbuatan nekad dengan menyewa jasa pemasangan billboard untuk menanyakan seraya memberikan kritik keras kepada kepolisian setempat, yang dipimpin oleh Chief Willoughby (Woody Harelson). Tidak tanggung-tanggung, 3 billboard yang disewa oleh Mildred dengan masing-masing bertuliskan "How Come, Chief Willoughby, Raped While Dying, And Still No Arrests"

Review





Adegan awal telah dibuka dengan sosok Mildred dengan penampilannya yang eksentrik, dengan muka tanpa ekspresi, mendatangi tempat penyedia jasa billboard dan meminta Red Welby (Caleb Landry Jones). Dari adegan awal tersebut saja, penonton telah mampu mempelajari bagaimana karakter Mildred tersebut. Ucapan kasar mudah terucap dari mulutnya, sosoknya yang begitu intimidatif walau dia hanyalah seorang perempuan berusia senja, penonton akan sadar bila pada film ini kita akan diberikan sosok protagonist yang tidak biasa.

Suatu film secara umumnya memiliki sebuah konflik utama dalam menggerakkan narasi. Dalam Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, tentu konfliknya adalah berpusat pada tindakan nekad dari Mildred untuk mengningatkan kepada penduduk setempat kota Ebbing, terutama kepolisisan setempat yang pernah terjadi di kota kecil tersebut. Sang sutradara, Martin McDonagh menjadikan konflik tersebut rupanya menjadikan konflik tersebut sebagai eksplorasi karakter yang ada pada film ini. Mungkin penonton mengharapkan bila narasi mengenai "siapa pelaku sebenarnya" adalah fokus utama narasi, yang mana nyatanya tidak sepenuhnya terjadi. Kenyataannya, McDonagh memperlihatkan bagaimana reaksi dari karakter-karakter yang terlibat, terutama tentu Mildred, Willoughby dan polisi kasar nan seenaknya saja yang memiliki reputasi sering melakukan tindakan kasar kepada orang berkulit hitam, Dixon (Sam Rockwell). 

Mildred seolah membuang semua nuraninya sebagai manusia (setidaknya di awal-awal penceritaan) demi mendapatkan keadilan untuk putri tercintanya. Ia sudah tidak perduli lagi dengan norma yang ada, bagaimana pandangan penduduk setempat yang kini berbalik memusuhinya, serta menganggap orang yang tidak menyetujui tindakan nya adalah sosok musuh. Pada awalnya, mudah untuk menjustifikasi tindakan Mildred. Ibu mana yang tidak terpukul serta murka akan tragedi yang ditimpa putrinya, sehingga bisa dimengerti ia akan mengambil cara apapun untuk mendapatkan apa yang ia cari. Menjadi masalah adalah orang yang "diserang" Mildred adalah sosok polisi bertanggung jawab, memiliki citra baik di pandangan penduduk, serta memiliki keluarga yang harmonis. McDonagh pun mengekspos bagaimana penilaian publik bisa berubah 180 derajat akibat suatu kejadian. Awalnya, penduduk kota Ebbing memberikan simpati sepenuhnya kepada Mildred, namun simpati tersebut seketika memudar setelah apa yang Mildred perbuat. Simpati tersebut berpindah kepada sasaran utama yang disuarakan Mildred, yaitu Willoughby. Terlebih Willoughby sendiri tengah mengalami kondisi tertentu.

Pada awal cerita, saya berasumsi jika Chief Willoughby tidak lebih dari polisi korup tak bertanggung jawab yang menyalahkan jabatan yang diembankan kepadanya. Tetapi anggapan tersebut patah ketika kita diperlihatkan bagaimana Willoughby adalah seorang family man yang begitu menyayangi keluarganya. Dirinya pun diperlihatkan begitu dihormati oleh rekan polisi lainnya, termasuk Dixon. Dixon sendiri memiliki reputasi buruk sebagai seorang polisi. Selain dirinya adalah polisi rasis, sosoknya pun seolah sebagai polisi yang memiliki masalah akan kecanduan pada minuman alkohol. Dirinya adalah orang yang tepat dalam menghadapi Mildred karena memiliki persamaan pada attitude mereka. McDonagh memberikan treatment yang begitu manusiawi terhadap 3 karakter utama tersebut. Tidak ada sosok protagonist putih seutuhnya, semuanya memasuki dalam lingkaran karakter abu-abu. Memang beginilah asyiknya ketika sutradara seolah menghapus konsep protagonist-antagonist seutuhnya dalam film. Anda ingin memberikan dukungan kepada siapa, itu sepenuhnya keputusan Anda sendiri, dan percayalah hal tersebut tidaklah mudah. Three Billboards mungkin memiliki dasar cerita yang kelam, namun McDonagh menolak untuk menjadikan karya nya ini kelam seutuhnya, karena selipan dark comedy bertebaran di sini, baik itu merupakan dialog yang diucapkan maupun perilaku karakternya yang tidak jarang memberikan kekonyolan sendiri. 

Mudah untuk langsung jatuh hati pada film ini karena di pertengahan durasi awal, McDonagh menggulirkan konflik demi konflik cerita dengan cepat. Ditambah soundtrack-soundtrack country nya yang catchy sangat membantu atmosfir western nya. Cukup disayangkan memang pada pertengahan durasi akhir, tepatnya ketika film memasuki third act nya, Three Billboards seolah kehabisan bensin. Atmosfir tegang di awal cukup hilang dimana McDonagh memilih untuk menyajikan di durasi akhir-akhir filmnya dengan atmosfir yang cukup sendu serta lamban. Saya sendiri sekali dua kali memeriksa durasi filmnya berjalan, menunjukkan kebosanan telah menghampiri. Untungnya, McDonagh dibantu 3 aktor pengalaman yang menunaikan tugasnya dengan sangat brilian.

Tidak salah jika pihak Academy memberikan Oscar masing-masing untuk McDormand dan Sam Rockwell. Entah ini berlebihan atau tidak, namun saya cukup yakin, dua karakter yang diperankan mereka berdua menjadi karakter yang memorable. McDormand begitu sempurna dalam memerankan karakter Mildred yang terlihat begitu kacau, dingin tapi di dalamnya terdapat sebuah kemarahan yang begitu besar akan tragedi serta ketidak adilan yang dialaminya serta kerapuhan yang memberikan kesan bila Mildred masih memiliki hati yang tersisa di dalam dirinya. Rockwell juga berhasil memerankan Dixon yang tampak begitu bengis, kasar serta slengean. Pada awalnya mungkin sosok Dixon sangat dibenci penonton, tetapi saat narasi nya bergerak kepada transformasi karakter kepada Dixon, sungguh mudah untuk mengubah benci tersebut menjadi simpati dan perduli terhadap karakter Dixon. Karakter ini juga menjadi favorit saya di dalam film ini. Harrelson juga mengesankan dalam menghidupi karakter Willoughby, walau memang bila dibanding dengan karakter Mildred dan Dixon, sosok Willoughby cukup tenggelam. Walau memang sedikit melambat dan sendu di paruh akhir, serta endingnya yang cukup mengundang pertanyaan, Three Billboards tetaplah film yang memuaskan dan tidak sulit untuk menobatkan bila Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah salah satu film terbaik di tahun lalu.

8,25/10




Friday, 27 April 2018


"In time, you will know what it's like to lose. To feel so desperately that you're right. Yet to fail all the same. Dread it. Run from it. Destiny still arrives"- Thanos

Plot

Thanos (Josh Brolin) akhirnya mulai bergerak dan menginvasi planet demi planet untuk mendapatkan lima Infinity Stones. Kehadiran Thanos ke planet bumi tinggal menunggu waktu saja karena salah satu infinity stones ada pada di kepala Vision (Paul Bettany). The Avengers yang sebelumnya hiatus bertahun-tahun, harus beraksi kembali untuk menghentikan Thanos mendapatkan kelima infinity stones, karena bila Thanos memiliki kelima batu tersebut, maka keinginan Thanos untuk menghancurkan setengah populasi alam semesta bisa ia lakukan hanya dengan menjentikkan jari saja.



Review

18 film dalam kurun waktu lebih kurang 1 dekade. Build up yang panjang, dengan pengenalan masing-masing karakter, semuanya dilakukan demi film ini. Kesabaran dari pihak Marvel tersebut tentunya memberikan dampak yang luar biasa positif. Setiap penonton memiliki favorit superheronya masing-masing, atau bahkan karakter sampingan belaka, yang artinya telah tercipta ikatan batin yang dalam antara penonton dan karakter di layar. Saya yang bukanlah penggemar dari Marvel saja masih bisa merasakan rasa emosional kala menginjakkan kaki ke dalam teater bioskop. Ada rasa tidak percaya karena sesaat lagi saya akan menyaksikan salah satu film yang paling dinantikan sepanjang sejarah perfilman ini, apalagi ditambah soundtrack Time nya Hans Zimmer yang saya dengarkan saat memasuki bioskop, menjadikan momen memasuki teater bioskop tadi malam menjadi momen yang paling susah dilupakan untuk saya.

Sempat ada rasa khawatir saat mengetahui akan pernyataan dari Russo Brothers bila kadar humor yang ada Infinity War akan lebih kental dibandingkan Civil War ataupun Winter Soldier. Namun tampaknya, bila pun pernyataan itu benar keluar dari Russo Brothers, itu hanyalah salah satu dari strategi marketing dari pihak Marvel untuk menipu penontonnya, karena kekhawatiran itu seketika lenyap dari semenjak opening dibuka. Tidak hanya beratmosfirkan rasa keputusasaan yang kental akan pembantaian yang ada, namun juga Russo Brothers tidak segan-segan "menghilangkan" salah satu karakter paling disukai dalam MCU. Dan juga menjadi momen perkenalan yang sebenarnya akan sosok Thanos. Sebuah opening yang seolah-olah menegaskan jika film Infinity War akan kental dengan sebuah rasa depresi dan juga roller coaster emosi yang tidak akan kita temukan di film-film MCU sebelumnya. Masih ada humor ala Marvel, tapi tidak seperti yang dilakukan Taika Waititi, Russo Brothers sadar akan timing sehingga humornya tidak lah merusak tone akan filmnya.

Ada dua hal yang paling saya tunggu dari Infinity War. Yang pertama, ingin melihat bagaimana Russo brothers yang kini dibantu oleh Christopher Marcus dan Stephen McFeely di kursi penulis naskah membagi-bagi kisahnya diantara karakter yang begitu banyak. Bisa dibilang, Infinity War terbagi 4 sesi. Pertama, kelompok Iron Man yang menunggu di planet Titan, perjuangan di bumi yang dipimpin Captain America untuk menjaga Mind Stone atau lebih tepatnya Vision yang menjadi incaran Thanos. Kemudian kita pun melihat usaha Thor, Rocket dan Groot untuk menciptakan senjata demi melawan Thanos dan tentunya kita melihat perjalanan Thanos dalam menyebar teror kepada alam semesta dengan terus mencari 5 infinity stones. Bukan hal yang mudah memang membagi-bagi cerita dengan memiliki konflik masing-masing. Dragging pun cukup terasa kala film memasuki pertengahan, walau tidak terasa terlalu mengganggu. Untungnya, kembali lagi berkat penokohan yang telah kokoh buah hasil kesabaran selama 1 dekade, tidak ada rasa bosan sedikitpun mengikuti kisah masing-masing karakter. Sehingga kita menuju ke askep kedua yang paling saya nantikan, yaitu interaksi pertama kali antar karakter maupun reuni antar anggota The Avengers. Yang paling saya nantikan tentu saja pertemuan antara para The Guardians dengan tokoh-tokoh The Avengers lainnya, juga tidak lupa reuni antara Steve Rogers dan Tony Stark. Bila membicarakan favorit, mungkin interaksi antara Thor dan para Guardians lah yang paling memorable untuk saya. Dan berbicara tentang Thor, saya tidak menyangka akan tiba suatu hari saya akan menyukai karakter ini. Beginilah seharusnya Thor ditampilkan. Dengan semua kehilangan yang telah Thor rasakan, mudah sekali bila kita menganggap bila Thor memiliki penderitaan paling mendalam di antara para tokoh The Avengers lainnya. Namun Thor tetaplah Thor, dirinya tidak ingin terlihat menderita. Namun namanya juga manusia yang punya hati, rasa kehilangan yang telah begitu banyak yang ia alami akhirnya juga tak terbendung. Percakapan Thor dan Rocket merupakan momen yang hampir membuat saya meneteskan air mata. Terlebih lagi akting prima dari Chris Hemsworth yang membuktikan bila aktor satu ini semakin matang saja dalam berakting. Hasilnya, Thor berhasil menjadi karakter dari tim Avengers yang paling mencuri perhatian disini berkat pendekatan humanis yang diambil,sehingga ketika momen kebangkitannya yang telah begitu saya nantikan, mampu membuat saya tepuk tangan sendiri di dalam bioskop (sial, penonton-penonton tadi malam pada jaim semua!!). Dipenuhi banyak karakter tentu saja mengakibatkan porsi antar karakter tidak seimbang, seperti Captain America yang tidak terlalu berkesan kehadirannya, Black Panther yang kembali mengecewakan untuk saya, ataupun Black Widow yang kembali tenggelam. Namun jangan khawatir, mereka semua tetaplah memiliki momen-momen tersendiri. Seperti pertemuan pertama antara Groot dan Captain America yang berhasil meledakkan tawa setiap penonton.

Cerita Infinity War tidak lah spesial memang, namun rasanya itu bisa dimaafkan karena rasanya hanya sedikit yang berharap Infinity War memiliki cerita yang kompleks. Infinity War bagaikan selebrasi dari "perayaan" 10 tahun berjalannya MCU, jadi sudah selayaknya lah kita mengharapkan sebuah sajian aksi yang super menghibur. Dan itu lah yang persis kita dapatkan. Baik dari adegan aksi yang memiliki skala yang masif maupun minor sekalipun, disajikan dengan begitu luar biasa menghibur disini. Pertempuran di Wakanda terlihat spektakuler dimana kita mendapatkan pertempuran kolosal layaknya film The Lord of the Ring, kemudian pertarungan di planet Titan yang memperlihatkan kerja sama para superhero melawan Thanos. Susah rasanya untuk bilang tidak menghibur akan sajian semua itu, dan karena saya tidaklah pintar menjabarkan keunggulan mengenai suatu aksi berdasarkan kacamata dari teknis, saya hanya bisa menyatakan bila kalian cukup lihat saja dan buktikan sendiri.



Saya bukanlah pengikut komik superhero Amerika Serikat, sehingga saya tidak tahu bagaimana Thanos versi komik. Namun MCU memberikan contoh bagaimana seorang villain yang memiliki kekuatan yang overpowered. Sepanjang durasi film, saya bertanya-tanya bagaimana Thanos akan dikalahkan, dan MCU memberikan jawaban yang memberikan kepuasan luar biasa untuk saya (apalagi endingnya yang berhasil membuat saya menganga senang). Sering kali villain yang semacam ini memiliki akhir yang antiklimaks, dan X-Men Apocalypse merupakan bukti terbaik bagaimana buruknya mereka menangani supervillain mereka. Setiap kehadiran Thanos digambarkan bagaikan seorang legenda yang hanya ada di dalam mitos. Kesan spesial tidak pernah luntur setiap kali ia muncul di layar. Seperti Tony Stark, Thanos adalah mimpi buruk bagi para penonton karena tebaran ancaman setiap kali ia tampil. Terlebih lagi, Russo brothers masih sempat memberikan kedalaman terhadap Thanos. Kita diajak untuk mengetahui apa sebenarnya motivasi dasar dari Thanos ingin menghancurkan setengah alam semesta. Dan siapa yang menyangka, kita diberi kesempatan untuk melihat sisi sentimentil dari Thanos! Tidak salah jika kita menganggap jika Thanos adalah karakter utama dalam Infinity War, terlepas perannya sebagai antagonis.

Apakah ini adalah film superhero terbaik? Jelas tidak, karena bagi saya, Infinity War belumlah mencapai level klasik seperti Trilogy The Dark Knight. Namun saya lebih menganggap Infinity War adalah sebuah hasil sukses dari sebuah kesabaran yang begitu panjang. Mungkin tanpa itu semua, Infinity War tidaklah terlalu jauh berbeda dengan Justice League yang mengecewakan itu. Kedekatan penonton dengan antar karakter yang ada telah tercipta, sehingga kita perduli dengan keselamatan atau eksistensi mereka. Ditambah dengan kehadiran supervillain terbaik dalam sejarah MCU, serta adegan aksi demi aksi yang semuanya menghibur, Infinity War tentu adalah selebrasi 10 tahun akan perjalanan MCU yang menyenangkan dan spesial.

8,5/10

Sunday, 18 March 2018

"Los Angeles. Everybody want to be star. All the pretty boys. They're lining up for the big shot"- Tommy Wiseau

Plot

Impian Greg (Dave Franco) untuk menjadi aktor besar harus terhalang akibat kekakuan nya dalam berakting. Kesulitan Greg mengeluarkan seluruh ekspresinya di atas panggung terus menerus terjadi, bahkan kala berlatih akting. Hal yang berbeda justru diperlihatkan oleh Tommy (James Franco) yang juga ikut kelas yang sama dengan Greg, dimana ia berhasil mengeluarkan seluruh ekspresi di atas panggung, walau cenderung berlebihan. Penampilan gila-gilaan dari Tommy sontak mencuri perhatian Greg, dan tidak lama setelah itu, mereka pun berteman dekat. Keduanya sama-sama memiliki impian untuk menjadi artis besar dan terkenal. Untuk mengejar impian tersebut, Tommy mengajak Greg pindah ke Los Angeles, yang tentu saja langsung diterima oleh Greg. Perjalanan mengejar mimpi mereka pun dimulai.




Review

Tidak semua aktor memiliki talenta luar biasa layaknya Marlon Brando, Robert De Niro, Al Pacino ataupun Daniel Day Lewis. Tidak juga semua sutradara selalu menelurkan karya masterpiece dan sukses layaknya Steven Spielberg, James Cameron, Martin Scorsese dan Christopher Nolan. Lalu, apakah dengah kenyataan tersebut kita berhenti untuk mengejar mimpi untuk berkarya di panggung sebesar Hollywood? Dunia Hollywood itu kejam dan keras, semua orang tahu akan kenyataan tersebut. Maka, tentu bukan sembarang orang yang berhasil berkarier begitu panjang di hingar bingar dunia tersebut.  Tidak cukup hanya mengandalkan talenta berakting ataupun faktor fisik yang menjual. Butuh dedikasi yang tinggi, pengorbanan yang tidak sedikit, serta tidak jarang faktor keberuntungan pun ikut mempengaruhi. Pertanyaannya, bagaimana jika ada orang yang minim akan bakat berakting, memiliki perawakan yang cenderung menyeramkan, namun tetap berusaha menggapai mimpinya untuk memiliki karir di dunia Hollywood?

Tommy Wiseau adalah orang tersebut, dan untuk kalian yang masih terdengar asing akan nama tersebut, saya bisa mengerti karena memang Tommy Wiseau tidak lah memiliki nama besar layaknya Tom Hanks, Johnny Depp atau Will Smith. Nama Tommy Wiseau terangkat berkat karya "one hit wonder" nya yaitu The Room, film keluaran 15 tahun lalu yang berhasil mendapatkan status cult classic dan melahirkan banyak penggemar akan film tersebut. Jika Anda juga belum pernah mendengar film tersebut apalagi menontonnya, lebih baik saya beritahu sekarang. The Room is  really, really, really, really terrible. Saking jeleknya, adegan yang diniati emosional dalam film tersebut menjadi terlihat konyol serta cringeworthy. Tapi tak disangka-sangka, film tersebut memiliki magis yang luar biasa, yang membuat para penonton terus menerus ingin membicarakannya dan mungkin juga ingin kembali menyaksikan film buruk tersebut. Dengan alasan ini lah, The Room menyandang status klasik di kategori film "it's so bad, it's so good". Mungkin tidak akan ada lagi film yang mampu menyaingi The Room dalam kategori ini. 

Setelah menyaksikan The Room untuk pertama kali, saya memiliki begitu banyak pertanyaan. Bagaimana Tommy Wiseau terpikir menciptakan film seperti ini? Bagaimana proses pembuatannya? Apa yang dipikirkan tiap aktor maupun para kru kala menjalankan proses syuting? Dan yang paling utama, Apa yang membuat Tommy Wiseau begitu pede nya dengan mendanai seluruh dana pembuatan untuk karya yang maaf saja sangat amburadul tersebut? Dari mana sumber biaya yang dimiliki Tommy Wiseau? Siapa sebenarnya Tommy Wiseau? James Franco pun mencoba memberikan jawaban nya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan mengadaptasi dari buku yang ditulis juga oleh sahabat Tommy Wiseau, Greg Sestero, yaitu "The Disaster Artist: My Life Inside the Room, The Greatest Bad Movie Ever Made", James Franco memperlihatkan bagaimana proses The Room dibuat. Namun sebelum kesana, kita diajak untuk berkenalan dulu dengan dua pihak yang paling bertanggung jawab akan lahirnya The Room, siapa lagi kalau bukan Tommy Wiseau dan Greg Sestero

Tommy dan Greg pada dasarnya tidak lah berbeda dengan para pemimpi lainnya yang mendapati jalan terjal untuk mendapatkan mimpi tersebut. Tommy dan Greg tidak memiliki bakat dalam berakting. Greg yang senantiasa kaku untuk berekspresi, dan Tommy yang selalu kesulitan menjalankan peran akibat aksen yang ia keluarkan terdengar begitu aneh. Pada akhirnya, keduanya pun menemukan jalan buntu dalam mengejar mimpi mereka. 

Dari sini lah kita diajak untuk mengenal sosok Tommy Wiseau. Kita memahami motivasi yang mendorongnya hingga akhirnya ia tergerak untuk membuat film sendiri. Tommy adalah korban dari orang yang hanya menilai dari penampilan. Tommy berpenampilan begitu eksentrik, dengan rambut panjang yang menjadi ciri khasnya, ditambah pula aksennya yang terdengar begitu asing dan aneh, kesan "villain" tentu mudah didapat dari sosok Tommy yang memang memancarkan akan kesan seperti itu. Hal itu lah yang hendak dilawan oleh Tommy dan ingin membuktikan jika ia bukanlah "villain". Dengan alasan itu pula, Tommy menolak memerankan karakter penjahat dalam suatu kesempatan. Ia ingin dunia mengenal nya sebagai sosok yang penuh kasih sayang, cinta damai, dan berharap publik tidak hanya menilainya dari penampilan. Alasan ini lah yang melatarbelakangi karakter Johhny yang ia perankan dalam film The Room.

Sentuhan yang diberikan James Franco terhadap karakter Tommy yang begitu manusiawi adalah poin unggulan dalam The Disaster Artist. Kita melihat sosok Tommy yang begitu berdedikasi tinggi untuk mendapatkan apa yang ia mau, tidak perduli berapa dana yang harus ia keluarkan. Sayang memang, tidak semua orang yang mengerti akan visi dari Tommy. Dirinya kesepian karena absennya seseorang yang mendampingi karena orang lain memandangnya hanyalah sebagai orang yang aneh dan terlalu narsis. Bahkan para kru atau artis yang bekerja dengannya tidak mempercayai Tommy, bahkan tidak menyukai Tommy. Proses syuting pun sering terhambat didasari akan keegoisan seorang Tommy. Tidak jarang ia memperlakukan para aktor maupun krunya dengan tidak manusiawi. Hal tersebut lah yang mendasari mengapa dirinya sedikit over protektive terhadap Greg. Baginya, Greg adalah teman pertamanya. Greg juga lah yang bisa mengerti akan keeksentrikan seorang Tommy. Untuk Greg sendiri, Tommy adalah sosok yang berhasil mengeluarkan segala kemampuan aktingnya. Berkat Tommy, Greg lebih mudah mendapatkan kepercayaan diri. Jalinan persahabatan ini terasa kuat berkat kesan saling mengisi satu sama lain, terlebih lagi chemistry meyakinkan dari Franco's brothers. Sebagai catatan, ini untuk pertama kalinya mereka bekerja sama dalam satu film.

James Franco kerap dikritik karena dirinya begitu fluktuatif dalam berakting. Kadang ia memberikan performa yang mengagumkan, namun tidak jarang juga ia tampil mengecewakan atau biasa-biasa saja. Namun di The Disaster Artist, James Franco memberikan penampilan terbaik nya sepanjang karirnya sebagai aktor. Tentu bukan pekerjaan mudah untuk meniru seseorang hingga ke detil-detil kecil, namun James Franco melakukan hal tersebut dalam film ini. Lihatlah bagaimana ia mereplika sosok Tommy Wiseau, dari tawa canggung, berjalan, berbicara dengan aksen yang aneh, bahkan detil kecil seperti mata lusuh seperti orang lagi mabuk, semuanya terlihat begitu mirip. Bahkan ketika gambar di ambil dari belakang karakter Tommy, kita benar-benar melihat sosok Tommy Wiseau. Sebuah pekerjaan brilian yang sayangnya tidak dilirik oleh pihak Academy Awards. Sebagai sutradara pun, James Franco juga melakukan pekerjaan yang mengagumkan, dengan mengusahakan setiap adegan pada film The Room terlihat persis sama dalam The Disaster Artist. Beberapa adegan "ikonik" dalam film The Room pun ikut ditampilkan disini. Tidak hanya itu, cerita dibalik setiap adegan tersebut juga diangkat oleh James Franco, yang juga menunjukkan bagaimana peliknya para aktor dan kru untuk bekerja dengan Tommy. Tentu saja merupakan hiburan tersendiri bagi penonton saat film berakhir, penonton diperlihatkan pada sebuah momen komparasi antara The Room dan The Disaster Artist. Lihatlah bagaimana James Franco telah melakukan pekerjaan yang begitu fantastis dan total kala mengusahakan adegannya terlihat semirip mungkin sesuai dengan original nya.

Momen terbaik The Disaster Artist tentu adalah ketika The Room diputar dalam gala premiere yang diadakan oleh Tommy sendiri. Ada perasaan tak menentu yang hadir kala melihat adegan ini. Sebagai penonton yang telah menikmati The Room, kita telah tahu bagaimana hasil akhirnya, dan tentu saja, atmosfir kecanggungan (in positive way) begitu kuat terasa ketika The Room akhirnya diputar dalam layar lebar. Setiap reaksi penonton akan setiap adegan berhasil beberapa kali membuat saya tertawa. Namun, kala kamera menyorot muka Tommy, tawa itu lenyap karena perasaan miris dan ironi yang hanya saya rasakan. Kesan tersebut hadir karena sebelumnya kita telah diajak bagaimana Tommy mengorbankan semuanya demi satu film ini. Seperti apa yang ia bilang, The Room adalah hidupnya. Tidak terbayang bagaimana rasa pedih yang dirasakan Tommy saat karya nya berakhir jauh dari harapan dan bahkan menjadi bahan tertawaan semua orang. 

Sebelum The Disaster Artist hadir, mungkin bagi kita, Tommy Wiseau hanyalah sosok lelucon akibat The Room. Namun, saya yakin, paska penonton melihat karya James Franco ini, kita melihat sosok Tommy Wiseau berbeda. Dedikasi dan tekadnya patut ditiru untuk kita para pemimpi. Tommy Wiseau jelas lebih dari sekedar becandaan, karena pada akhirnya, berkat kelapang dadaan Tommy dan menerima segala olokan dari penonton maupun kritikus terhadap filmnya, The Room mendapatkan status klasik dan masih tetap diperbincangkan oleh banyak orang hingga kini. Sebuah film biografi yang luar biasa menginspirasi.

8,75/10

Friday, 2 March 2018


Plot

Selain belajar di sekolah, rupanya Bayu (Bayu Skak) juga membantu usaha ibunya (Tri Yudiman) berdagang pecel dengan menjual dagangan sang ibu di sekolahan, sehingga Bayu mendapatkan julukan "Pecel Boy". Walau Bayu bukanlah seorang siswa yang memiliki popularitas karena minus dukungan fisik maupun prestasi, namun hal itu bukan halangan bagi Bayu untuk tetap berusaha mencari tambatan hati. Setelah dirinya dipermalukan setelah puisi nya yang ia kirim untuk salah satu taksirannya dibaca di depan teman-teman kelasnya, Bayu pun memindahkan targetnya ke salah satu perempuan paling populer di sekolahnya, Susan (Cut Meyriska). Segala usaha di lakukan Bayu, termasuk menggunakan uang tabungannya demi hanya untuk bertemu Susan. Hasilnya, Bayu kembali dipermalukan. Merasa cukup dan letih dengan segala penghinaan terhadap dirinya, Bayu ingin membuktikan diri bila ia bukanlah siswa biasa. Dengan teman terdekatnya, Doni (Joshua Suherman), Bayu memiliki ide untuk membentuk sebuah band. Mereka pun mengadakan audisi pencarian anggota band, yang pada akhirnya mempertemukan Bayu dan Doni kepada Yayan (Tutus Thomson) dan Nando (Brandon Salim) yang segera saja menjadi anggota serta teman baru untuk Bayu dan Dono. Dimulailah kisah band yang memiliki nama Yowis Ben ini (yang mereka dapatkan secara ketidaksengajaan) dalam usaha untuk pembuktian kepada teman-teman sekolah, dengan mengusung ambisi pribadi tiap anggota band ini.





Review

Tidak usah menunggu terlalu lama karena Yowis Ben telah tancap gas dengan humor yang mampu menggelakkan tawa penonton semenjak menit-menit pertama film berjalan. Lengkap pula dengan bahasa Jawa yang dilontarkan para karakternya, lelucon demi lelucon yang hadir di sepanjang durasi film debut Bayu Skak sebagai sutradara serta penulis naskah ini hampir tidak pernah untuk tidak berhasil dalam mengundang tawa dari penonton. Dua unsur inilah yang rasanya menjadi magnet terkuat dalam film Yowis Ben dalam usahanya untuk penonton tetap setia memantau Yowis Ben hingga akhir. Bila dua aspek ini dilucuti dalam film Yowis Ben, terutama dialek-dialek bahasa Jawanya, mungkin Yowis Ben jatuhnya menjadi film komedi remaja biasa yang tidak akan terlalu lekat menempel dalam benak penonton.

Hal itu dikarenakan Yowis Ben tidak disokong dengan penceritaan yang kuat serta minusnya akan suatu yang fresh. Coba saya tanya, telah berapa banyak film yang mengangkat penceritaan mengenai siswa yang merasa dirinya terpinggirkan dan berusaha untuk menonjolkan dirinya lewat sesuatu seperti karya? Tentu kita tidak bisa menghitungnya dengan sepuluh jari, bahkan di tambah sepuluh jari kaki. Mungkin karena faktor ini pula yang disadari oleh Bayu Skak yang dalam film ini ia dibantu oleh Fajar Nugros di kursi penyutradaraan dengan mengambil langkah yang cukup berani dengan memenuhi dialog-dialog film dengan bahasa Jawa. Plus memaksimalkan unsur komedi yang ada dalam film.

Usaha tersebut berhasil, dan membuktikan juga bila Bayu Skak memiliki kepekaan dalam berkomedi tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepertinya pengalaman sebagai Youtuber juga yang ikut membantu Bayu Skak begitu luwes dan pintar dalam menampilkan komedinya. Bayu Skak pun harus turut berterima kasih kepada jajaran aktor yang tampil minor dalam Yowis Ben karena mereka telah menunaikan tugas mereka dengan sangat baik. Begitu banyak karakter demi karakter yang tampil tidak lama dalam film ini jatuhnya berkesan untuk penonton, bahkan karakter seperti penjual bakso pun begitu lekat di ingatan akibat timing sempurna dan ketelitian Bayu Skak dalam menampilkan komedinya. Yang paling favorit mungkin adalah tik tok sempurna yang dilakukan oleh duo komedian senior asal Jawa, Cak Kartolo dan Cak Sapari. Tidak ketinggalan pula, beberapa isu hingga film Indonesia paling populer tahun lalu dijadikan Bayu Skak sebagai materi dalam komedinya, meski sayangnya memang isu tersebut bisa dijadikan sebagai kritik sosial, bukan hanya sekedar lelucon belaka.

Chemistry meyakinkan pun berhasil ditampilkan 4 karakter utamanya. Bayu Skak, Joshua, Brandon dan Tutus berhasil membuat penonton perduli akan persahabatan di antara mereka. Meski kala konflik menyeruak dan terjadi pertentangan antar mereka gagal menghadirkan sebuah ironi seperti yang saya rasakan ketika menyaksikan Jomblo-nya Hanung, namun tak ditampik, ketika mereka berada dalam satu screen, mereka tampak benar-benar telah kenal lama satu sama lain. Tidak ada kecanggungan yang tercipta, yang hanya gelontoran balas-balasan dialog yang kembali lagi kerap kali sukses menghadirkan ketawa. Brandon Salim harus diberikan kredit karena dirinya berhasil memberikan penampilan yang paling tidak membuat dirinya tetap terlihat diantara Bayu, Joshua dan Tutus. Namun tetap saja, diantara mereka berempat, favorit semua orang adalah Yayan yang diperankan begitu jenaka oleh Tutus. Saya tidak tahu apakah ini peran pertama bagi Tutus Thomson atau bukan, tetapi bila memang ini adalah debut dari Tutus, maka dirinya sangat berpeluang besar untuk meraih karir sebagai aktor yang sukses. Kehadirannya seolah tidak pernah gagal dalam memancing tawa, dan ketika ada aktor yang berhasil membuat lawakan yang bersinggungan akan agama tanpa harus menyinggung umat yang terkait (Hai, Joshua), berarti aktor tersebut telah melakukan pekerjaan yang sangat brilian. Tentu saja semua itu berkat campur tangan dari Bayu Skak yang juga duduk di penulis naskah. Sayang sekali memang, karakter Yayan hanya dijadikan sebagai mesin peledak tawa akibat karakterisasi Yayanyang sangat tipis dibandingkan Bayu, Doni dan Nando.. Doni dan Nando memiliki sub plot kecil yang menjadi motivasi masingj-masing untuk berkarya, namun Yayan? Apa yang membuat dirinya tertarik ingin menjadi drummer nya Yowis Ben, selain dirinya sering menggebuk bedug masjid? 

Semua atribut mengenai komedi serta dialek bahasa Jawa nya sangat membantu Yowis Ben untuk menutupi lubang besar nya, yaitu ketika film mulai bergerak dari gelaran penuh komedi ke arah drama yang inginnya sentimentil. Bayu Skak memang piawai dalam menyajikan komedinya, tetapi bila memang Bayu Skak ingin mantap berkarir di dunia perfilman sebagai sutradara maupun penulis naskah, maka sudah wajib hukumnya untuk Bayu segera belajar bagaimana menyajikan sebuah drama yang, paling tidak, membuat penonton perduli dengan hal tersebut. Ada dua inti sajian drama disini, yaitu hubungan antar member Yowis Ben itu sendiri dan kisah asmara Bayu-Susan. 

Yang menjadi masalah tentu adalah kisah asmara Bayu dan Susan. Awalnya ada kesan berbeda yang saya harapkan berkat dari karakterisasi Susan yang tidak terjebak pada formula cewek-paling-cakep-di-sekolahan-tapi-berhati-malaikat. Ketika dirinya terlibat langsung akan momen Bayu kembali dipermalukan, kesan beda tak pelak saya rasakan. Tetapi sayangnya potensi itu tidak dilanjutkan, bahkan pada akhirnya, Susan menjadi faktor utama kelemahan Yowis Ben berkat karakterisasinya yang begitu labil. Apakah memang hal tersebut bersifat intensional? Bisa jadi, mengingat karakter Susan adalah gadis yang masih duduk di bangku SMA, dan kita semua telah mengetahui jika para wanita memasuki momen paling labil sepanjang hidup mereka pada masa-masa ini. Kecanggungan paling menyeruak setiap kali Bayu Skak dan Cut Meyriska harus tampil layaknya pasangan. Teman saya adalah salah satu penggemarnya Bayu Skak dan ia pernah bercerita jika memang di kehidupan nyata, Bayu Skak memiliki kesulitan tersendiri dalam berhubungan dengan perempuan. Mungkin karena ini juga lah permasalahan tersebut ikut terbawa ke dalam film, terlebih Cut Meyriska belum memiliki kapabilitas sebagai aktris yang mampu menjalin chemistry dengan siapapun, seperti Emma Stone misalnya (Jauh banget yak perbandingannya, tapi sekedar contoh saja). Ditambah dengan minusnya fondasi yang kuat mendasari hubungan asmara mereka, sulit rasanya untuk penonton menginvestasikan rasa perduli akan pasangan ini. Bahkan, kata cringeworthy layak disematkan pada pasangan ini. Mungkin akan jauh lebih baik jika karakter Susan hanya dijadikan sebagai pemicu untuk Bayu dalam rangka pembuktiannya, serta menit-menit dalam film yang menampilkan kisah Bayu-Susan diganti dengan kisah sub plot milik Doni yang harus saya akui jauh lebih menarik.

Namun, karena ini adalah langkah debutnya sebagai sutradara, pemain utama, hingga penulis naskah, tentu saja Yowis Ben ini lebih dari cukup untuk seorang Bayu Skak menampilkan kreasi serta visinya sebagai kreator. Berkat komedi serta karakter-karakter pendukung yang luar biasa menghibur dan berhasil menjadi scene stealer di setiap kemunculan mereka, dan keberanian Bayu Skak yang menggunakan bahasa Jawa hampir 100% dalam tiap menit film berjalan. cukup berhasil untuk menutupi kekurangan terbesar film ini. Ditambah lagi akan lagu-lagu di film ini yang disajikan begitu berenergi, terutama lagu Gak Iso Turu yang berhasil mengejutkan saya akibat sebuah pengadeganan yang walau terbilang klise, namun tak ditampik, sangat enjoyable disaksikan. 



7,5/10

Friday, 23 February 2018



"Sucess doesn't come for free, Miguel. You have to be willing to do whatever it takes to.. seize your moment. I know you understand."- Ernesto de la Cruz

Plot

Miguel memimpikan menjadi musisi sehebat idolanya, Ernesto de la Cruz. Namun, akibat dari sejarah turun temurun keluarganya, Miguel hidup dalam keluarga yang sangat membenci musik dikarenakan nenek moyang sekaligus pendiri bisnis sepatu yang kini tetap diteruskan oleh keluarga besar Miguel, Mama Imelda membenci sang suami yang meninggalkannya dan anak semata wayang mereka, Coco, demi mengejar impian menjadi musisi yang mengakibatkan pula rasa benci itu menular pula kebenciannya terhadap musik. Meski dilarang keras, terutama oleh sang nenek, Abuelita, Miguel terus mengejar impiannya. Dan ia merasakan jika kompetisi musik Dia de Muertos adalah momentum untuk dirinya dalam rangka pembuktian kepada seluruh keluarganya bila ia memang ditakdirkan untuk menjadi musisi.



Review

Dengan proyek seperti The Incredibles 2 yang akan hadir tahun ini serta Toy Story 4 yang masih sebatas rumor kemunculannya, Pixar memang seolah terkesan akan minim kreasi. Tetapi anggapan itu seketika musnah kala Inside Out muncul 2 tahun lalu.  Hadirnya film yang berhasil membuat saya beberapa kali meneteskan air mata tersebut benar-benar menjadi bukti jika para kreator yang bekerja di Pixar masih tetap memiliki kapabilitas dalam mempermainkan emosi para penontonnya, termasuk pria dewasa yang harus bernasib seperti saya kala mereka pun turut dipaksa untuk menyapu air mata di pipi. Pixar sepertinya ingin menjaga momentum tersebut sampai The Incredibles 2 akan rilis nanti dengan menghadirkan kisah seorang bocah berusia 12 tahun mengejar mimpinya untuk hidup dalam dunia musik dalam balutan judul film bernama Coco.

Jika dalam Inside Out kita dibawa kembali untuk mengingat kepingan-kepingan kenangan indah pada masa kecil, Coco membawakan tajuk yang tidak terlalu jauh sebenarnya dari topik tersebut karena masih bersinggungan dengan keluarga, dengan membawakan pertanyaan bagaimana bila kita benar-benar dilupakan setelah roh tidak lagi berada di dalam raga ini. Ide cerita itu belum terlalu menyeruak karena di awal-awal film berjalan, sang sutradara sekaligus penulis naskah, Lee Unkrich, mengajak penonton untuk mengenal lebih dekat mengenai Miguel dan keluarga nya yang sangat membenci musik. 

Pada momen ini, Coco menawarkan formula seperti film Up yang terasa begitu realistik dengan kehidupan nyata untuk takaran film animasi, dengan meniadakan elemen-elemen imaji seperti mainan yang bisa bergerak sekaligus berbicara, ataupun dunia emosi yang terdapat dalam tubuh manusia, Walaupun begitu, atensi saya telah terengkuh karena satu kata saja, dan satu kata tersebut adalah musik. Karakter utamanya bagaikan mewakili sebagian besar anak-anak kecil yang memimpikan hal yang sama seperti Miguel, untuk menjadi musisi yang hebat dan mampu diidolai serta dicintai oleh para penggemarnya. Hal itu tentu saja didasari oleh faktor untuk mengikuti jejak langkah sang idola. Saya begitu mengagumi John Lennon dan Kurt Cobain (I wish I meet them at afterlife) sehingga mimpi saya yang masih terpendam hingga saat ini adalah menjadi musisi sehebat mereka, dan hal itu pula yang ingin diwujudkan oleh Miguel. Namun, hidup dengan keluarga yang justru bertentangan dengan impiannya tersebut, tentu tidak mudah untuk Miguel mewujudkannya.  Apakah impian tersebut sangat berharga jika kita harus bertentangan dengan keluarga? Bukankah Keluarga adalah segala-galanya? Pertanyaan ini terus menghinggapi di benak saya sehingga saya meyakini petualangan yang disajikan oleh Unkrich dalam Coco akan penuh dengan petualangan yang emosional.

Dirasakan cukup untuk panggung "real world" nya, Unkrich pun menyimpan kejutan untuk para penonton yang tidak menyaksikan trailer ataupun tidak mengetahui materi promosi maupun marketing film Coco. Unkrich serta para kreator Pixar telah menyiapkan panggugn yang sebenarnya yaitu dunia yang bernama The Land of Dead. Nama tersebut memang tidak indah di dengar, namun  pikiran itu hadir jika kita belum melihat bagaimana Unkrich dkk. sebenarnya menciptakan sebuah dunia yang begitu indahnya dengan segala pameran warna yang sangat memanjakan mata. Bahkan, jembatan yang ditaburi jutaan kelopak bunga Mexican Marigold saja ditampilkan sedemikian indahnya, dan mungkin jembatan ini menjadi salah satu elemen favorit saya akan film ini. Visualisasi yang tidak hanya megah namun juga membuktikan jika para kreator Pixar memiliki imajinasi yang luar biasa.

Kehebatan Pixar lainnya adalah bagaimana menyajikan sebuah cerita mengenai coming of age yang terasa dewasa, menyentuh, dan juga dekat dengan penonton, walaupun melibatkan berbagai hal yang tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata. Coco pun memiliki hal-hal tersebut, dimana pertanyaan mengenai kapan sebenarnya manusia akan merasakan kematian yang sebenarnya di bawa ke permukaan. Jika kalian penggemar animanga One Piece, pasti kalian masih mengingat dialog yang di ungkapkan oleh Doctor Hiluluk.
When do you think people die? When they are shot through the heart by the bullet of a pistol? No. When they are ravaged by an incurable disease? No. When they drink a soup made from a poisonous mushroom!? No! It’s when... they are forgotten.
Pedih sekali rasanya jika tidak ada seseorang pun mengingat akan eksistensi kita. Sedih sekali rasanya jika keluarga kita pun tidak pernah menyebutkan nama kita dalam perbincangan di tengah keluarga. Di balik indahnya The Land of Death, terdapat sekumpulan "orang" yang terasing akibat foto mereka tidak dipajang dimanapun, salah satunya adalah Hector yang nantinya memiliki pengaruh besar dalam pencarian jawaban yang tengah dilakukan oleh Miguel. Dan bagi mereka yang juga hilang dalam ingatan orang yang masih hidup di dunia, arwah mereka pun akan hilang dari The Land of Death, yang berarti mereka telah merasakan kematian yang sesungguhnya.  Scene "the final death" yang hadir di pertengahan cerita itu saja telah menunjukkan piawainya Unkrich meramu sebuah adegan yang memiliki gabungan unsur seperti ketenangan, keindahan dan kesedihan yang tidak saya duga-duga akan datang. Dan air mata saya hampir menetes untuk karakter yang hanya hadir untuk 5 menit saja! Dan masih sempatnya pula Unkrich mampu menghadirkan momen penggelak tawa di tengah adegan yang cukup emosional tersebut.

Fondasi cerita Coco begitu kuat, sehingga twist yang hadir saat film telah menyentuh 1 jam pun tidak hanya mengejutkan dan membelokkan cerita, namun juga memiliki sebuah jawaban yang ironi. Ya, ironi karena apa yang kita harapkan dan impi-impikan dari sang idola maupun panutan tidak selamanya berjalan selaras dengan kenyataan (dan Kevin Smith memiliki pengalaman tersebut). Unkrich memperlihatkan bagaimana kejamnya dunia hiburan yang lekat dengan unsur plagiarism nya yang turut berpengaruh besar pada eksistensi seorang individu. 

Mungkin Coco tidak memiliki kisah petualangan yang hebat seperti trilogi Toy Story, Up maupun Inside Out. Tetapi petualangan mencari jati diri milik Miguel dibingkai dengan aspek emosional yang rasanya mustahil untuk tidak ikut terbawa dalam mengikuti sepak terjang Miguel. Pixar pun secara konsisten menghadirkan karakter demi karakter yang menarik, dengan Miguel sebagai penggerak roda cerita dan tentunya Hector yang menjadi favorit saya disini. Love-hate relationship hadir singkat setelah momen twistnya disertai dengan karakter tsundere dari Mama Imelda pun begitu efektif dalam memicu gelak tawa dan gemas penonton. Dilengkapi dengan lagu emosional "Remember Me", rasanya cukup mustahil pula untuk para kompetitor menyaingi kedigdayaan Coco di Academy Awards dalam kategori Best Animated Feature.


8,5/10

Sunday, 18 February 2018


"But when I think of her, of Elisa, the only thing comes to mind is a poem, whispered by someone in love, hundreds of years ago:"Unable to perceive the shape of you, I find you all around me. Your presence fills my eyes with your love, it humbles my heart, for you are everywhere"-Giles

Plot

Bangun dari tidur, merebus telur, mandi (sembari masturbasi), menyiapkan diri untuk bekerja lalu bercengkerama dengan tetangga sekaligus sahabatnya, Giles (Richard Jenkins), dan akhirnya naik bus untuk tiba di tempat kerja. Begitulah setiap hari seorang Elisa Esposito (Sally Hawkins), wanita bisu yang tinggal sendiri di apartement di atas bioskop sepi, menjalani hari-harinya. Selain Giles, Elisa juga memiliki teman dekat bernama Zelda (Octavia Spencer) yang pula merupakan rekan kerja Elisa sebagai janitor di laboratorium rahasia milik Amerika Serikat. Walaupun hanya memiliki dua orang teman, namun Elisa sangat beruntung karena Giles dan Zelda begitu perhatian dan menyayangi Elisa. Bahkan Zelda senantiasa setia menanti Elisa hanya untuk sekedar mencetak absen sebelum bekerja. Hari-hari biasa Elisa mendadak berubah ketika laboratorium tempat ia bekerja kedatangan Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon). Strickland tidak sendiri, karena ia membawa serta makhluk misterius yang ia tangkap di salah satu sungai South American.




Review

Sekedar informasi tidak penting, sebelum menyaksikan film terbaru dari Guillermo Del Toro ini, saya telah menyiapkan diri dan bersiap menerima sajian film berat ala film unggulan pihak Academy. Untuk yang belum tahu, The Shape of Water adalah film yang paling banyak menerima nominasi Oscar tahun ini dengan 13 nominasi, termasuk Best Picture, Best Director, Best Actress, hingga Best Original Screenplay. Tentu saja, The Shape of Water memiliki faktor X yang menjadikannya sebagai favorit juga untuk meraih gelar Best Picture pada perhelatan Oscar nanti. Tipikal film Oscar, tentu saja bukan selera kebanyakan orang. Segmentasi penikmat nya pun tentu terbatas, dan untuk itu pula lah saya merasa perlu untuk menyiapkan diri dan tidak berharap akan tontonan yang ringan, ringan seperti film peraih nominasi terbanyak tahun lalu, La La Land. Untungnya saya memiliki modal berarti karena sebelumnya, saya telah menyaksikan film fantasi drama milik Del Toro lainnya, yaitu Pan's Labyrinth.

The Shape of Water memang memiliki berbagai kesamaan dengan Pan's Labyrinth, seperti settingnya yang diambil pada saat perang terjadi (The Shape of Water mengambil setting dimana Amerika dan Uni Soviet masih menjalani perang dingin) dan tentu saja, kisahnya yang seperti dongeng. Bedanya, Pan's Labyrinth terasa sekali akan dark nya, walau pemeran utamanya adalah gadis kecil, sementara The Shape of Water terasa lebih ringan, mudah diikuti. 

The Shape of Water telah menyapa kita dengan sajian visual yang begitu cantik dari detik pertama, sebelum kita diajak untuk mengenal Elisa beserta dua teman terdekatnya. Seperti apa yang saya tulis di atas bila Elisa beruntung sekali mendapatkan teman sebaik Giles dan Zelda, di tengah kondisinya yang mungkin saja mendapatkan pandangan sebelah mata dari orang lain (bahkan ada satu teman kerja Elisa memanggil Elisa dengan panggilan "dummy"). Mungkin juga Giles dan Zelda mampu menerima Elisa apa adanya sebagai balasan karena Elisa pun menerima mereka tanpa memusingkan identitas mereka. Giles adalah seniman yang seolah tak dihargai. Tidak hanya itu, ia pun dilanda akan kesepian disebabkan oleh kelainan seksual yang ia miliki dan sangat ia tutupi. Sebaliknya, Zelda adalah wanita berkulit hitam yang tentu saja masih berpotensi mendapatkan perlakuan rasis, apalagi di masa perang dingin. Hubungan pertemanan ini pun menjelma menjadi satu faktor mengapa The Shape of Water lebih terasa hangat untuk dinikmati. Tak ditampik pula, ada pesan mengenai kesetaraan yang ingin disuarakan oleh Del Toro. Dan sebagai penguatnya adalah kisah Elisa lainnya yang mana ia terlibat hubungan dekat bersama makhluk yang berbeda spesiesnya dengan Elisa sendiri.

Apa yang akan Anda lakukan ketika tengah mengalami jatuh cinta? Elisa memiliki jawabannya, dengan berusaha melakukan yang terbaik demi keselamatan makhluk yang telah ia investasikan rasa sayang, bahkan cintanya. Di tengah kesederhanaan dan kekurangan yang ia miliki, ternyata terdapat kenekatan dan juga keberanian yang tersimpan di dalam diri Elisa. Dan semua itu tentu didasari oleh rasa cinta yang begitu kuat dari Elisa. Mungkin yang menjadi flaw disini adalah kurangnya fondasi ikatan yang terjalin antara Elisa dan si Amphibian Man (imdb menyebut nama makhluk tersebut dengan nama ini, diperankan oleh Doug Jones). Apa yang menjadi dasar perkenalan mereka mungkin tidak lah terlalu berkesan, apalagi menyentuh jika dilihat dari segi drama. Tetapi saya mencoba memposisikan diri seperti Elisa. Menemukan orang yang mampu menerima Anda apa adanya,  sedangkan Anda adalah seorang tuna wicara, apalagi dalam tempo waktu yang begitu singkat, tentu saja Anda akan menganggap orang tersebut adalah salah satu orang yang paling berarti dalam hidup Anda, dan Anda pun pasti akan bersedia melakukan apapun demi keselamatan orang ini. Dan itu tampaknya yang terjadi pada Elisa. Elisa tidak perduli tampilan luar The Amphibian Man, dan Elisa juga tidak perduli dengan kenyataan dimana mereka terpisah akan faktor spesies. Yang menjadi concern dari Elisa hanyalah dia telah memiliki alasan untuk menyelamatkan The Amphibian Man. Fisik tidaklah penting untuk Elisa, satu-satunya hal terpenting baginya adalah perasaannya yang ingin menolong spesies langka tersebut. Sebuah pesan kembali yang ingin disampaikan oleh Del Toro.

Sayang memang, Del Toro yang ikut dibantu Vanessa Tylor dalam menulis naskah film ini meniadakan sedikit saja mengenai kisah masa lalu Elisa. Padahal, dengan sedikit suntikan backstory, hal itu pasti sangat membantu membuat penonton mudah mengerti akan tindakan yang diambil oleh Elisa. Dan juga saya sangat penasaran mengenai luka yang ada di leher Elisa. Pastinya Del Toro pun memiliki alasan mengenai adanya luka di leher Elisa tersebut, tetapi Del Toro memilih untuk membiarkan misteri tersebut tidak terjawab hingga film berakhir. Mungkin saja ada jawabannya, namun subtil dan tidak tertangkap oleh saya. 

Setelah melihat penampilan Sally Hawkins sebagai Elisa, mudah mengerti mengapa Del Toro hanya menginginkan Hawkins untuk memerankan Elisa. Lihatlah bagaimana Hawkins mampu membuat sosok Elisa begitu anggun dengan absennya aksesoris ataupun atribut mewah yang ia kenakan. Hanya pakaian normal seorang janitor atau pakaian biasa saja, Hawkins mampu menyulap seorang Elisa benar-benar tampak seorang putri. Del Toro menginginkan sosok Elisa menjadi "cantik" dengan cara tersendiri, dan Hawkins tentu saja telah mewujudkan keinginan Del Toro tersebut. Memerankan satu karakter tuna wicara sudah barang pasti bukanlah pekerjaan yang mudah untuk seorang aktor. Tetapi Hawkins juga bukanlah aktris kemarin sore. Dengan kebisuannya, kita bisa merasakan berbagai rasa yang dialami Elisa, seperti kala ia senang saat menyaksikan acara di tv, kecemasan yang melanda, ataupun rasa marah yang tertahan di dalam hati dan hanya bisa ia ungkapkan dengan bahasa isyarat (salah satu momen terbaik dalam film ini). Muka innocent yang setiap kali Hawkins pancarkan pun rasanya membuat kemungkinan penonton mendekati 0% untuk tidak mendukung setiap tindakan Elisa, walaupun sesekali ada-ada saja kelakuan "iseng" dari Elisa yang mampu membuat saya tersenyum. Richard Jenkins dan Octavia Spencer mampu mengimbangi akting dari Hawkins dengan baik karena mereka sama sekali tidak tenggelam kala harus bersanding dengan Hawkins. Terutama Spencer yang senantiasa menawarkan aroma ceria di setiap kemunculannya berkat kharisma yang hangat darinya, sehingga saya cukup menantikan kehadirannya. Momen kala ia mengomentari akan "kejadian" yang dialami Elisa saja rasanya telah cukup menjadi alasan yang kuat mengapa ia mendapatkan nominasi Oscar di kategori Best Supporting Actress.

The Shape of Water pun memiliki berbagai adegan yang cukup memicu adrenalin. Terutama setengah jam mendekati akhir. Jujur saja, ketegangan yang ada di dalam The Shape of Water tidak ada yang spesial, bahkan tidak ada yang bisa mencapai titik optimal, atau mengganggu kenyamanan penonton. Dan disitulah fungsi kehadiran Michale Shannon sebagai villain yang intimidatif dalam film ini. Bukan sesuatu hal yang baru untuk Shannon, tetapi jelas apa yang ditampilkannya disini telah lebih dari cukup dan adegan saat ia mengancam di menit-menit akhir benar-benar menjadi showcase Shannon dalam menunjukkan dirinya sebagai pemeran antagonis.

Sayangnya, The Shape of Water jelas bukanlah film yang mampu menjangkau segmentasi penonton dengan luas. Pada menit-menit awal harus saya akui, The Shape of Water belum lah terlalu mengikat, walau pun tidak sampai hingga ke taraf yang membosankan. Dialog-dialog yang terlontar dari karakter pun tidak ada yang terlalu berkesan, walau memang tampaknya Del Toro memfokuskan pada kekuatan bernarasi lewat visualnya, bukan lewat bertutur kata. Barulah ketika film mulai jelas arah konfliknya akan seperti apa, The Shape of Water mulai menunjukkan taringnya, dan itu tetap terjaga hingga durasi menyentuh detik akhir. Oh, mengenai sinematografinya, rasanya tidak perlu saya jelaskan karena pada detik-detik awal saja, Dan Laustsen telah membuat Anda terpana dengan begitu detil dan indahnya akan dunia "bawah air" yang tampak di layar. Apalagi shot terakhir yang tampaknya hampir pasti Laustsen akan mendapatkan Oscar pada Maret mendatang di kategori Best Cinematography.

8/10

Saturday, 17 February 2018




"What happens now determines what happens to the rest of the world"- T'Challa

Plot

Paska kematian sang ayah, T'Challa (Chadwick Boseman) otomatis maju menggantikan posisi sang ayah nya sebagai raja. T'Challa pun kembali ke Wakanda untuk menghadiri acara pelantikan yang disaksikan oleh sang ibu, Ramonda (Angela Bassett) dan Shuri (Letitia Wright) yang merupakan adik dari T'Challa, serta diikuti pula oleh berbagai kepala suku, diantaranya adalah W'Kabi (Daniel Kaluuya) yang bertugas melindungi Wakanda dari perbatasan. Mendadak harus mengisi posisi tertinggi dalam suatu negara jelas bukan hal yang mudah untuk T'Challa, apalagi dengan pikiran serta prinsipnya yang masih terbilang naif untuk mengisi jabatan tersebut. Belum lagi, tanpa disadari T'Challa, ada ancaman besar yang akan menjadi salah satu ujian awal sekaligus mungkin terberat untuk T'Challa. Ancaman tersebut bernama Erik Killmonger (Michael B. Jordan), mantan penduduk Wakanda yang berkaitan erat dengan masa lalu dari raja pendahulu T'Challa. Konflik personal yang bisa mengancam eksistensi Wakanda.




Review

Rasanya menghadirkan Black Panther pada Captain America: Civil War dua tahun lalu merupakan salah satu strategi marketing pintar yang dilakukan oleh Marvel. Setidaknya, dengan hadirnya Black Panther di dalam film terbaik MCU sejauh ini tersebut memberikan alasan penonton untuk menyaksikan film stand alone dari Black Panther ini. Pintar karena proyek Black Panther menurut saya memiliki risiko yang cukup tinggi. Dengan setting yang mencerminkan negara di suatu pulau Afrika, belum lagi membicarakan mengenai elemen-elemen budaya yang kental akan Afrika nya, jelas tidak semua penonton kasual yang terbiasa akan hal tersebut, walaupun film itu termasuk dari MCU yang notabenenya adalah proyek universe terbaik dan tersukses saat ini. Ditambah dengan para aktor-aktor nya yang masih cukup asing buat penonton. Untungnya dengan pemilihan aktor yang tepat, juga penampilan debut Chadwick Boseman sebagai Black Panther di Civil War yang meninggalkan impresi positif untuk penonton, film stand alone ini pun cukup dinantikan oleh penonton. Terbukti dengan rekor-rekor pendapatan yang diraih setelah baru saja rilis di bioskop. Lalu, apakah memang Black Panther begitu spesial seperti apa yang didengungkan oleh para kritikus?

Best MCU movie so far. Saya membaca kalimat tersebut dari twit seseorang yang dipost dalam website WhatCulture. Mencari info, apalagi review di internet bagaikan dua mata pisau untuk saya. Di satu sisi, kita bisa setidaknya tahu sedikit mengenai film yang akan kita tonton sehingga kita bisa mengantisipasi seperti apa film yang akan kita saksikan, namun di sisi lain, akan lahir ekspektasi setelah membaca review yang ada, terlebih jika pujian demi pujian yang dilontarkan. Hal ini berbahaya dan berisiko. Tidak masalah jika filmnya memang memenuhi ekspektasi, namun akan menjadi bumerang jika malah film tersebut sedikit saja di bawah apa yang kita harapkan. Kekecewaan serta kata "overrated" secara otomatis terlontar dari mulut. Dan sayangnya, itulah yang saya alami setelah menyaksikan Black Panther. It's still a decent, but if someone said this is the best movie of MCU so far, well, I have to disagree.

Tidak ada rasa baru sebenarnya dari film yang disutradarai oleh Ryan Coogler ini. Bahkan, cerita dasar yang dimiliki Black Panther sedikit mirip dengan film MCU sebelumnya yaitu Thor: Ragnarok. Namun menjadi hal yang menarik karena jika dalam cerita Thor: Ragnarok murni hanyalah kisah pembalasan dendam, tetapi di Black Panther, terdapat isu-isu yang juga terjadi dalam dunia nyata, yang menjadikannya terasa realistis walaupun setting kejadiannya terjadi di negara fiksi. Dengan kondisi mengisolasikan diri dan seolah memutus hubungan dengan negara-negara lain pula memicu konflik pertanyaan di benak. Apakah yang telah dilakukan raja-raja Wakanda sebelumnya itu memang keputusan yang tepat? Bukankah dengan sumber daya alam yang begitu luar biasa tersebut bisa dijadikan hal yang sangat membantu untuk negara-negara miskin yang masih banyak di luar sana? Pertanyaan yang memiliki jawaban sederhana, jika kita tidak mengetahui bagaimana negara-negara adidaya (you know what country I mean) yang seenaknya saja menginvasi negara kaya pemilik sumber daya alam. Hal ini yang menurut saya salah satu kelebihan yang dimiliki Black Panther. 

Dari segi aksinya, Coogler terlihat piawai sekali dalam menanganinya. Tentu yang paling menonjol adalah keributan yang terjadi di suatu wilayah Korea Selatan. Pertarungan di dalam bar, dimana Coogler sempat membingkainya dengan long take yang cukup panjang, hingga berlanjut ke dalam car chase yang tidak hanya mendebarkan, tetapi juga luar biasa menghibur. Tradisi "challenge" nya sendiri pun tidak ada yang mengecewakan, terutama tentu saja fighting scene antara T'Challa dan Killmonger di pertengahan yang menegangkan karena kita sulit untuk mengetahui siapa yang akan memenangkan pertarungan adu jotos tersebut. Sayang memang, pada adegan aksi terakhirnya tidak bisa meninggalkan kesan yang sama, walaupun melibatkan ruang lingkup yang cukup besar dimana ada 3 adegan aksi yang terjadi bersamaan, namun tetap mampu menghibur penonton, setidaknya untuk saya.

Black Panther pun memiliki salah satu elemen yang cukup jarang kita temukan di MCU, yaitu villain yang meninggalkan kesan mendalam, dan ya,  Erik Killmonger adalah salah satu villain terbaik dalam MCU. Killmonger bukanlah "bad guy" yang motivasinya murni ingin merebut tahta dan menguasai Wakanda. Motivasinya jelas lebih dari itu, dan setelah mengetahui kisah hidupnya, susah bagi saya untuk menyalahkan Killmonger. Coogler menyuntikkan motivasi yang begitu humanis terhadap Killmonger. Sejatinya, dia tidak jauh berbeda dengan T'Challa. Ia ingin menciptakan dunia tanpa perperangan, namun lain halnya dengan T'Challa, Killmonger telah merasakan pahit dan kejamnya kehidupan dengan senantiasa turut serta di berbagai dunia perang, yang jelas saja turut mempengaruhi bagaimana ia memandang kehidupan. Belum lagi kita menyentuh ke ranah motivasi personal nya yang tragis.


Michael B. Jordan sempurna dalam menunaikan tugasnya sebagai Erik Killmonger. Kehadirannya jelas menciptakan atmosfir yang intimidatif, tetapi ia juga bisa memerankan adegan yang ikut mengikutsertakan emosi. Saking bagusnya penampilan Jordan, tidak jarang ia sedikit menenggelamkan kehadiran Chadwick Boseman ketika tampil satu layar. Padahal Boseman tidak lah bermain dengan buruk. Mungkin karena memang karakter Killmonger jauh lebih compelling dibandingkan T'Challa. 

Nah, mengenai T'Challa, saya sedikit kecewa bagaimana karakternya dihadirkan disini. Apa yang dihadirkan disini rasanya tidak jauh berbeda dengan pahlawan DC, siapa lagi kalau bukan Superman. Keduanya memiliki kenaifan dalam memandang dunia dan one dimensional, hanya berbeda dari sumber kekuatan mereka berdua (ditambah jelas, mereka diciptakan dari dua publisher komik yang berbeda). Lucu sekali jika ada yang mengkritik karakter Superman, tetapi membela Black Panther yang bagi saya tidaklah jauh berbeda jika ditilik dari prinsip mereka. Mengapa mengecewakan karena saat Black Panther melakukan debut di Civil War, dirinya berpotensi sekali menjadi pahlawan vigilante serta berbumbu antihero ala Batman, walau harus diakui, kesan badass Black Panther masih melekat dalam dirinya, tetapi itu pun berkat desain kostumnya serta karisma dari Boseman.

Drama yang hadir dalam Black Panther pun entah kenapa terasa flat. Terutama adegan "itu", sebuah adegan yang sebelumnya juga hadir dalam The Dark Knight Rises. Saya dibuat terdiam dan tak mampu melihat layar ketika adegan tersebut hadir dalam TDKR, namun hal tersebut tidak saya rasakan dalam Black Panther. Bahkan pada saat momen kebangkitan pun, tidak ada sorakan yang hadir. Adegan yang harusnya membuat penonton senang dan tidak sabar ingin melihat bagaimana Black Panther kembali beraksi, malah terasa hambar dan terkesan lewat saja. Mungkin hal ini terjadi karena penonton belum terlalu terikat dengan Black Panther, dan setelah melihat bagaimana karakternya sendiri dalam film ini, hal tersebut tidaklah terlalu mengejutkan.

Black Panther jelas memiliki potensi menjadi film terbaik dalam MCU, dengan isu politik di dalamnya, singgungan terhadap Amerika Serikat, serta hadirnya villain yang berkesan disertai motivasinya dalam membalas dendam. Black Panther juga didukung dengan adegan aksi yang menghibur, karakter-karakter yang cukup menarik (terutama Shuri) beserta jajaran aktor nya yang telah melakukan tugas dengan baik. Namun sayangnya, potensi tersebut sedikit tertahan dengan ceritanya yang minim improvisasi sehingga kita dengan mudah menebak apa yang telah dan akan terjadi, serta karakter T'Challa yang one dimensional dan dramanya yang terasa hambar, membuat saya harus mengakui jika Black Panther sedikit overrated dengan segala sanjungannya (mendapatkan 97% di Rotten Tomatoes?? WTF??). Bagus, tetapi tidak terlalu berkesan.

7,25/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!