Wednesday, 14 December 2016







“Someone dear to me that I shouldn’t forget. I don’t want to forget!”- Miyamizu Mitsuha

Plot

Seorang gadis bernama Miyamizu Mitsuha yang tinggal di sebuah desa bernama Itomori bersama dengan adik serta neneknya memiliki keinginan untuk pindah dari desa tersebut dan memimpikan memiliki kehidupan di kota besar yaitu Tokyo.  Hal ini dilatarbelakangi dengan dirinya yang bosan akan kehidupannya yang tanpa perubahan serta secara tersirat ingin hidupnya jauh dari ayahnya yang juga merupakan seorang walikota setempat. Dalam beberapa hari, Mitsuha mengalami sebuah peristiwa yang aneh dimana ia merasa dalam mimpinya ia menjalani kehidupan seseorang.  Mimpi itu ia rasakan sangat nyata hingga ia akhirnya sadar bahwa peristiwa tersebut bukanlah mimpi belaka.  Dirinya memang benar-benar bertukar jiwa dengan seorang laki-laki yang bernama Taki.  Taki yang merupakan siswa SMA pada umumnya juga mengalami kejadian serupa.  Ketika mereka menyadari hal ini, mereka pun melakukan berbagai cara untuk bisa berkomunikasi satu sama lain, seperti menuliskan tinta spidol di pipi atau tangan mereka, membuat catatan di handphone serta memberitahu larangan-larangan yang harus mereka patuhi satu sama lain. Hal ini mereka lakukan karena jiwa mereka bisa mereka kembali ke diri masing-masing suatu saat ketika mereka bangun tidur. Kejadian unik nan ajaib ini tentunya memberikan perubahan tersendiri dalam kehidupan mereka. Mitsuha yang pada umumnya hanyalah seorang gadis pemalu dan terkesan pasif, berubah menjadi Mitsuha yang pandai berolahraga, jauh lebih jantan dan mudah bergaul sehingga Mitsuha mendapatkan penggemar baik dari wanita ataupun pria. Di sisi lain, Taki yang dirasuki oleh Mitsuha yang pada awalnya seperti laki-laki remaja pada umumnya berubah menjadi sedikit feminim dan lebih mudah berhubungan dengan wanita yang membuat salah satu idola di tempat kerja part time nya yaitu Okudera-senpai tertarik dengan Taki. Kejadian unik nan ajaib ini pun memberikan sebuah ikatan tersendiri antara Mitsuha serta Taki yang memaksa keinginan mereka untuk bertemu semakin kuat.  Di sisi lain, fenomena komet asing yang melintasi bumi akan segera tampak di negara Jepang. Fenomena ini lah yang akan menjadi “tersangka” utama dalam kisah dua anak manusia yang tidak saling mengenal satu sama lain ini menjadi sebuah kisah cinta yang indah serta penuh dengan ironi.
 








Review


Kimi No Na Wa merupakan karya terbaru dari Makoto Shinkai bersama dengan rumah studio CoMix Wave Films. Ya, dua pihak yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan film anime sebelumnya di tahun 2007 yang cukup sukses, yaitu Byousoku 5 Centimeter a.k.a 5 Centimeters Per Second). Banyak yang mengatakan apabila film tersebut sangat mampu membuatmu patah hati dan tenggelam ke dalam narasi ceritanya, namun saya tidak sependapat. Bagi saya 5 Centimeters Per Second sangat lah overrated dengan berbagai review yang begitu menyanjungnya, terlepas dari permainan visual serta pemilihan soundtrack yang menurut saya kelebihan utama dari film tersebut, tetapi apalah artinya sebuah visual yang indah atau soundtrack yang catchy apabila kita tidak tenggelam dan ikut merasakan cerita yang ditawarkan? Pengalaman inilah yang membuat saya takutnya kembali tidak mampu untuk menyukai karya terbaru Shinkai ini. Apakah Kimi No Na Wa kembali mengikuti jejak 5 Centimeters Per Second (di mata saya) atau memang kualitas Kimi No Na Wa seperti yang dipuja-puja oleh banyak pihak?
Saya sarankan, untuk jauh lebih menikmati film yang mampu menggeser serial anime Gintama dan Full Metal Alchemist: Brotherhood (one of my favorite anime of all time) di puncak singgasana Top Anime website MyAnimeList (imdb-nya dunia anime) ini, sebaiknya kalian jangan terlalu mencari tahu lebih detil mengenai ceritanya sehingga dampak atau impact feel yang akan kalian rasakan ketika film berakhir akan lebih maksimal. Serius, apabila kalian belum menonton nya kala membaca tulisan ini, maka sebaiknya hentikan sekarang karena cukup susah untuk mengulas ulang film ini tanpa menyentuh spoiler sedikitpun dan saya tidak ingin merusak kenikmatan kalian dalam menonton film ini.
Film yang mengambil jalan cerita pertukaran jiwa serta kisah cinta yang berbeda tempat atau timeline mungkin bukanlah cerita yang baru ataupun revolusioner. Telah banyak film, terutama dari Hollywood, yang mengambil jalan cerita yang serupa. Tetapi apabila boleh berpendapat, Kimi No Na Wa (mungkin) adalah karya terbaik yang memakai kisah tersebut. Kimi No Na Wa seperti diceritakan dalam dua babak. Babak pertama penonton diajak bagaimana kehidupan Mitsuha serta Taki yang harus dipaksa untuk menjalani kehidupan orang lain. Berbagai kelucuan terjadi di narasi ini seperti Taki (di dalam tubuh Mitsuha) yang selalu meremas payudara Mitsuha setiap kali bangun, feminimitas yang ditonjolkan Mitsuha (di dalam tubuh Taki) serta kepolosan Mitsuha yang harus menjalani kehidupan di kota yang tentunya jauh lebih besar dibandingkan desa tempat ia menjalani kehidupan. Berbagai momen ini ditampilkan oleh Shinkai tentu memiliki esensi. Penonton akan merasakan chemistry yang tidak biasa di antara Mitsuha dan Taki sehingga mereka seolah larut dalam kisah mereka. Maka ketika salah satu karakter memutuskan untuk bertemu, penonton dapat memakluminya.
Hingga ketika momen prolog untuk memasuki babak kedua pula lah yang seolah menghantam hati penonton yang telah tenggelam. Dari twist ini pun tone film yang pada awalnya sedikit ringan dan ceria, berubah ke ranah yang lebih serius dan pikiran penonton pun diajak untuk terlibat supaya mampu menikmati narasi yang berjalan. Walau muncul berbagai keanehan di babak keduanya ini (yang menurut saya adalah flaw dalam Kimi No Na Wa), tetapi bila kalian tidak terlalu memikirkannya maka praktis kalian pun kembali larut dalam perjuangan Mitsuha dan Taki di babak kedua ini. Tidak lupa juga berbagai suntikan backstory dari masing-masing karakter (terutama Mitsuha) yang membantu pergerakan cerita. Ada beberapa momen yang berhasil membuat saya ikut jatuh dalam perasaan akan kisah mereka berdua. Berbagai momen yang mampu membuat kita ikut “baper” itu tidak lepas dari keputusah Makoto Shinkai untuk memasukkan elemen soundtrack-soundtrack nya yang mampu membuat momen tersebut jauh lebih powerful.
Visual nya tentu saja tidak mengecewakan. Perpaduan warna komet, keindahan alam di Desa Itomori, suasana metropolitan kota Tokyo, semuanya berhasil divisualisasikan dengan sangat baik, terutama momen dimana detik-detik menuju epilog yang sangat indah itu.
Untuk pertama kalinya, Makoto Shinkai berhasil memenuhi ekspektasi saya. Setelah 5 Centimeters Per Second yang cukup biasa untuk saya, Makoto Shinkai seolah membuktikan kepada saya bila saya juga bisa ikut bergalau ria dengan karya terbarunya ini. Dibuka dengan indah serta ditutup dengan salah satu happy ending terbaik dalam dunia anime, Kimi No Na Wa jelas karya terbaik dari Makoto Shinkai. Apakah layak menduduki Top Anime MyAnimeList? Tidak tahu, tapi satu hal yang pasti, Kimi No Na Wa is one of the best anime i’ve ever seen.

8,25/10


"Love. A conman like you knows what love is?"- Hideko

Plot

Count Fujiwara (Ha Jung-Woo) memiliki rencana untuk menipu perempuan tajir bernama Hideko (Kim Min-Hee)  yang tinggal bersama paman nya (Cho Jin-Woong) dengan cara membuat Hideko jatuh cinta kepadanya dan menikahinya. Setelah menikahi Hideko, Fujiwara hendak memasukkan Hideko ke dalam Rumah sakit jiwa supaya mampu menguasai harta yang dimiliki Hideko. Untuk melancarkan agenda nya tersebut, Fujiwara menyewa jasa mantan pecopet bernama Sook-Hee (Kim Tae-Ri) untuk berpura-pura menjadi pembantu pribadi untuk Hideko.







Review


Semenjak menyaksikan karya klasik Park Chan-Wook, Oldboy (2003), bagi saya Park Chan-Wook telah berada di dalam daftar list sutradara yang mampu menjadi sebuah jaminan bila film yang mereka sutradarai akan berakhir memuaskan, bersanding bersama dengan Martin Scorsese, Stanley Kubrick, David Fincher , Paul Thomas Anderson dan Christopher Nolan. Selain Oldboy, sejauh ini saya telah menyaksikan 2 karya Chan-Wook lainnya, yaitu Symphathy for Lady Vengeance dan Stoker. Walau kedua karya nya tersebut berakhir cukup memuaskan (Stoker sangatlah underrated), namun saya yakin Chan-Wook mampu melakukan hal yang lebih. Hingga pertengahan tahun 2016 saya baru mengetahui bila pada tahun ini Chan-Wook akan merilis film teranyar nya yang berjudul The Handmaiden (atau Agassi dalam bahasa Korea nya). Dan tentu saja, film tersebut masuk menjadi salah satu film yang wajib saya tonton. Hasilnya, pengalaman menonton Oldboy pun kembali terulang. Peringatan, lebih baik kalian sedikit mengetahui film ini, karena, hey, ini film nya Chan-Wook, akan pasti banyak twist di dalamnya.
The Handmaiden merupakan adaptasi dari novel Fingersmith buah karya Sarah Waters. The Handmaiden sedikit mirip dengan Sympathy for Lady Vengeance dimana fokus utama narasi merupakan sosok perempuan. Walau memang Ha Jung-woo sempat mendominasi layar di narasi akhir cerita, tetapi tetap karakter Hideko dan Sook-Hee merupakan karakter sentral. Chan-Wook tampaknya ingin memperlihatkan bagaimana ketidakberdayaan perempuan dalam masa penjajahan. Dalam karya teranyarnya ini, trademark dari Chan-Wook tetap ada. Jalinan cerita yang dipenuhi akan twist demi twist yang walau tidak terlalu gila seperti Oldboy tetapi cukup bagus dalam membangun narasi, sinematografi yang bersinergi dengan jalannya cerita dan penceritaan yang kompleks. Oh, jangan lupakan juga kadar kekerasan dan seksualitas nya yang lumayan mendominasi.

Ya, kompleks. Bila dilihat sekilas, kisah penipuan dengan cara menikahi seorang wanita kaya bukanlah cerita yang luar biasa. Tapi sekali lagi, ini adalah film Chan-Wook. Chan-Wook menjalin rangkaian cerita-cerita nya dengan berbagai layer serta misteri yang membuatnya sama sekali tidak pernah terasa membosankan. Chan-Wook membagi nya dalam 3 sudut pandang dari karakter utama, dimana di masing-masing sudut pandang masing-masing karakter kita diajak untuk melihat lebih dalam siapa diri mereka sebenarnya dan motivasi masing-masing. Kemudian perlahan-lahan Chan-Wook pun mengeluarkan twist mautnya, out of nowhere, sehingga mampu memberikan efek kejut bagi penonton yang belum siap dan mungkin baru pertama kalinya menikmati karya Chan-Wook. Hebatnya lagi, setiap twist sama sekali tidak ada yang maksa, padahal masing-masing twist tersebut akan berkorelasi dengan babak selanjutnya. Disaat penonton mengira A, namun kenyataannya B, yang membuat The Handmaiden menjadi sajian yang menyenangkan. Tentunya dengan penyutradaraan Chan-Wook serta editing yang baik dari Jae-Bum Kim dan Sang-beom Kim membuat penonton tidak merasakan kebingungan dengan alur yang non linier ini. Tidak hanya itu, untuk membangun suasana adegan-adegan penting, musik garapan turut membingkai adegan tersebut sehingga efek yang terasa akan lebih powerful (oh my, twist sakit Oldboy dengan dibantu musik menyayat hati itu masih saya rasakan sensasinya hingga sekarang).  Visual di The Handmaiden juga turut memantapkan bila Chan-Wook merupakan sutradara yang begitu memperhatikan aspek ini.Dibantu dengan Chung-hoon Chung, dari rumah besar ala Eropa milik Hideko dengan interior-interior memukau, ruang perpustakaan, serta turut pula dibantu dengan suasana pemandangan pedesaan dan tanaman-tanaman hijau, ditambah pula seringnya penangkapan gambar diambil dengan teknik wide angle, semuanya tampak bagaikan lukisan yang sangat memanjakan mata. Begitu pula dengan pakaian-pakaian yang dipakai, terutama Hideko, yang begitu menawan serta elegan.
Tidak lengkap bila menceritakan karya Park Chan-Wook tidak menyinggung aspek kekerasan dan seksualitas nya. Kekerasan dalam The Handmaiden sama seperti karya-karyanya yang sebelumnya, penonton diajak untuk ikut merasakan kekerasan tersebut melalui imaji, tidak secara gamblang diperlihatkan dengan frontal. Contohnya kembali seperti pemotongan jari yang ada di film. Walau tidak diperlihatkan proses pemotongan, tetapi penonton tetap merasakan nya melalui imaji yang tercipta. Dan mengenai kadar seksual nya, mungkin The Handmaiden adalah film yang paling banyak memiliki hal tersebut. Aspek seksualnya dijabarkan dengan banyak cara (tentu ada adegan sex scene juga), salah satu nya yang paling berkesan adalah bagaimana gesture sensual yang terjadi melalui tatap mata, juga berbagai adegan seperti di bathtub atau melepas kancing gaun secara perlahan. Hal ini jauh lebih terasa esensi nya dibandingkan sex scene frontal yang mengingatkan saya akan Blue is Warmest Color. Chemistry yang baik ditampilkan pula oleh Kim Tae-Ri dan Kim Min-Hee dimana kedekatan mereka hingga akhirnya Sook-Hee serta Hideko terlibat perasaan satu sama lain tidak berakhir memaksakan.
Dengan pergerakan narasi yang kompleks tentu juga harus disokong dengan artis yang berperan total untuk menjadi roda gigi penggerak, dan seperti biasa Chan-Wook tidak pernah gagal dalam mengarahkan para artis yang bekerja sama dengannya untuk mengeluarkan akting terbaik mereka. Ha Jung-Woo seperti biasa tidak pernah kesulitan dalam membawakan peran sebagai pria berkharisma namun memiliki agenda tersendiri. Semoga kedepannya dia akan kembali bekerja sama dengan Chan-Wook sebagai protagonist utama. Kemudian ada Kim Tae-Ri yang melakukan debut secara cemerlang dengan berperan total. Sebagai Sook-Hee, ia mampu memperlihatkan kepolosan atau juga kekikukan yang menimbulkan momen lucu tersendiri. Gelora cinta yang ia pancarkan lewat gestur atau ekspresi muka nya pun jempolan. Namun, bintang di The Handmaiden tentu saja adalah Kim Min-Hee. Karakter Hideko di sini merupakan karakter yang paling kompleks. Dengan ekspresi mukanya saja, begitu banyak layer atau dimensi yang membuat penonton penasaran di pihak siapa Hideko sebenarnya. Kepolosan yang ia pancarkan diikuti pula dengan atmosfir dingin yang ia keluarkan. Hideko merupakan karakter yang anggun namun terdapat sisi lain di dalam dirinya yang ingin memberontak akan segala paksaan dan ingin merasakan kebebasan, sehingga walaupun Hideko menyimpan misteri awalnya dan terkesan dingin, penonton tak bisa untuk tidak bersimpati kepadanya. Pesona yang ia pancarkan kala berbicara atau tatapan hasrat cintanya melalui gesture badan atau tatapan matanya di perankan dengan sangat baik oleh Kim Min-Hee.  Belum lagi kala karakter yang ia perankan sedang bercerita, di saat itu pula saya kagum dengan pembawaan dari Kim Min-Hee yang mampu menenggelamkan penonton dalam imaji yang tinggi. Andai saja pihak Academy mau membuka matanya terhadap perfilman Asia lebih jauh, saya rasa Kim Min-Hee layak untuk setidaknya masuk nominasi Oscar sebagai Best Actrees (yah, walau memang mendekati 0% kemungkinannya, mengingat akting luar biasa dari Choi Min-Sik dan fenomena Oldboy sendiri saja tidak mampu membuka mata para pihak Academy).
The Handmaiden merupakan sebuah film yang membela kaum perempuan ketika masa penjajahan kolonial Jepang terhadap Korea yang diceritakan begitu kompleks oleh Chan-Wook. Seduktif, gaya penceritaan yang tidak pernah terasa terburu-buru hingga nyaman untuk dinikmati walau pergerakannya cenderung lambat, diimbangi dengan aspek teknis jempolan serta akting kelas wahid yang ditampilkan oleh para artisnya, The Handmaiden membuktikan sekali lagi bahwa Park Chan-Wook merupakan sutradara jempolan dan layak mendapatkan apresiasi tinggi dari pecinta perfilman. Semoga saja Chan-Wook tidak kapok untuk terjun kembali ke dunia Hollywood.

8,5/10

P.s: Poster film The Handmaiden ternyata memiliki makna yang dalam setelah menyaksikan filmnya. Lihatlah tangan tiap satu per satu karakter, yang menyiratkan karakter A menguasai karakter B, dan tangan kedua karakter perempuannya menggenggam tangan satu sama lain yang maknanya akan kalian temukan jawabannya setelah menontonnya.





Plot

Mantan polisi yang beralih profesi menjadi germo, Eom Joong-Ho (Kim Yoon-Seok) tengah melakukan penyelidikan akan hilangnya wanita-wanita panggilan yang ia kerjakan. Penyelidikannya itu mengarah ke satu nomor telepon yang sama yang selalu memanggil wanita-wanita yang hilang. Pemilik nomor tersebut adalah Je Yeong-Min (Ha Jung-Woo). Celakanya, Joong-Ho telah memerintahkan salah satu wanita panggilannya, yaitu Kim Mi-Jin (Seo Yeong-Hie) untuk memenuhi panggilang dari Yeong-Min.







Review




Oldboy tentunya menjadi film yang influental bagi saya sehingga saya tidak lagi meremehkan film-film yang berasal dari negeri Korea. Saya tidak menyangka bila sinema Korea Selatan begitu eksplisit dalam menyajikan berbagai adegan kekerasan serta seksual nya, hingga saya pun mencoba membuka hati saya kepada film-film Korsel lainnya. Salah satu nya adalah film yang disutradarai oleh Na Hong Jin ini. Sama seperti film Korsel bertema thriller lainnya, The Chaser juga menyajikan berbagai adegan kekerasan yang cukup mengganggu, namun tidak segila I Saw The Devil (yang banyak dibandingkan dengan The Chaser).
Hal yang membedakan The Chaser dengan I Saw The Devil adalah dimana pelaku utama dalam The Chaser telah ditangkap. Lalu dimana keseruannya? Melihat perjuangan karakter Joong Ho mencari bukti kuat supaya Je Yeong Min (yang mengaku gila) bisa dituntut dan dihukum sesuai dengan kejahatannya.Karakter Joong Ho yang memiliki perawakan kasar, gigolo, serta memiliki riwayat dikeluarkan dari kepolisian justru membantu pergerakan cerita dimana elemen-elemen itu memberikan kesulitan tersendiri bagi nya dalam mencari bukti, ditambah dengan fakta Joong Ho harus berpacu dengan waktu bila tidak ingin Je Yeong Min dibebaskan dalam waktu 24 jam karena kurang nya bukti untuk menuntut Yeong Min (saya juga tidak mengerti hukum Korea Selatan), membuat penonton yang telah mengetahui bila Yeong Min lah pelakunya dirundung dengan rasa cemas dan ikut mendukung Joong Ho supaya cepat menyelesaikan misinya. The Chaser juga seolah menyampaikan kritik kepada hukum Korea Selatan yang begitu banyak kekurangan dan anggota-anggota kepolisian yang terlalu memikirkan pencitraan akan masyarakat, dimana mereka sangat tertekan dikarenakan masalah yang dialami walikota, sehingga memaksa mereka menghalalkan segala cara untuk menangkap Je Yeong Min. Dan juga tampaknya Na Hong Jin ingin beropini bila polisi berperangai kasar itu cukup diperlukan demi menangkap pelaku kejahatan.
Sentuhan hati juga tidak dilupakan Na Hong Jin dengan memberikannya akan hubungan Joong Ho dan putri dari Kim Mi-Jin dimana Joong Ho mulai memberikan perhatian kepada nya sehingga pencarian Mi-Jin yang pada awalnya hanya lah mengatas namakan bisnis semata, berubah menjadi personal dan murni ingin menyelamatkan Mi-Jin yang merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki putri nya tersebut. Performa juara ditampilkan oleh duo Kim Yoon-Seok dan Ha Jung-Woo. Kim Yoon-Seok tampil dengan transformasi meyakinkan dari laki-laki kasar, suka sumpah serapah dan hanya memikirkan bisnis, berubah menjadi pria yang lebih tenang dan sebenarnya cukup mumpuni dalam hal mencari-cari bukti ala detektif. Ha Jung-Woo pun tampil dingin dengan karakter psikopat nya. Seo Yeong-Hee tampil bagus dengan memperlihatkan perjuangan karakter Kim Mi-Jin berusaha untuk bebas. Perjuangan ini tentu memiliki esensi tersendiri dalam menumbuhkan rasa simpati penonton terhadap karakter Mi-Jin, hingga tiba suatu momen yang akan membuat penonton seolah kehilangan nafas. Kelebihan lainnya adalah dimana Na Hong Jin lebih memilih memenuhi aksinya dengan kejar mengejar tiap karakter. Kejar-kejaran di blok-blok rumah yang sempit, lari di jalanan yang memperlihatkan ekspresi kecapekan karakternya memberikan sensasi adrenalin yang mengingatkan saya akan Parkour scene di Casino Royale nya James Bond.
Sedikit minor dari The Chaser adalah banyaknya berbagai kejadian yang seperti kebetulan hanya untuk menggerakkan plot tanpa penjelasan yang cukup jelas. Berbagai kebetulan ini bila diperhatikan secara baik tentu cukup mengganggu, namun hal itu bisa saya dimaafkan karena berbagai kelebihan-kelebihan yang saya jabarkan di atas. Ya, The Chaser adalah sajian thriller kriminal yang memberikan sensasi kayak kalian mengikuti rasa capek yang dirasakan Joong Ho dalam mencari bukti, sajian berkelas dari Na Hong Jin. Dan saya merupakan kaum minoritas dimana saya lebih menyukai The Chaser dibandingkan Memories of Murder.

8,25/10

Thursday, 8 December 2016



"Huh? What was that? I should kill everyone and escape? Sorry. The voices. Ahaha, I'm kidding! Jeez! That's not what they really said."- Harley Quinn

Plot


Selepas kematian Superman, Amanda Waller (Viola Davis) mengajukan sebuah proposal atau rencana gila dimana ia ingin membentuk sebuah tim yang berisikan penuh dengan penjahat kelas atas dengan kemampuan masing-masing yang luar biasa. Hal ini diajukan oleh Amanda supaya pemerintah mampu mengantisipasi akan datangnya sosok seperti Superman yang mungkin akan mengancam keberadaan sebuah negara. Misi yang diberi nama Task Force X ini sengaja dibentuk dengan anggota-anggota begundal hebat dikarenakan selain kemampuan tiap anggota, namun juga betapa mudahnya pemerintah akan mencuci tangan apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh tiap anggota Task Force X atau selanjutnya dipanggil Suicide Squad. Anggota Suicide Squad terdiri dari Floyd Lawton atau Deadshot (Will Smith) yang memiliki kemampuan menembak luar biasa sehingga kemampuannya itu sering digunakan untuk membunuh sesuai dengan permintaan. Harley Quinn (Margot Robbie) yang merupakan mantan psikiater yang mulai terganggu kejiwaannya akibat rasa cinta nya yang dimanfaatkan oleh Joker (Jared Leto), Boomerang (Jai Courtney) perampok sadis yang mengandalkan senjata boomerang di setiap aksinya, lalu ada juga El Diablo (Jay Hernandes) pemuda penuh tato yang memiliki kemampuan pyrokinesis yang hebat, arwah Enchantress (Cara Delevingne) yang merasuki arkeologis June Moone yang memiliki kemampuan ilmu hitam membahayakan, dan terakhir Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje). Diketuai oleh Rick Flag (Joel Kinnaman) dan pasukannya serta seorang wanita samurai yang bernama Katana (Karen Fukuhara) yang bertugas untuk melindungi Flag apabila ada salah satu anggota Suicide Squad yang membelot. Tidak hanya itu, masing-masing anggota juga telah ditanamkan chip di kepala mereka yang mampu meledakkan isi kepala.








Review


Selaku sutradara serta penulis naskah, David Ayer tentu menanggung beban berat di pundaknya akan karya nya yang terbaru ini.  Tidak hanya Suicide Squad dipenuhi dengan karakter villain yang memiliki penggemarnya tersendiri, fakta bahwa film yang dipayungi oleh DC lainnya pada tahun ini juga yaitu Batman V Superman: Dawn of Justice berakhir mengecewakan juga membuat antisipasi akan Suicide Squad semakin tinggi serta diharapkan mampu memberikan angin segar terhadap universe yang telah dirancang oleh Warner Bros untuk superhero keluaran DC Comic, dimana sejauh ini film-film yang merupakan bagian dari universe tersebut belum lah memuaskan para kritikus film.  Tentunya apabila Suicide Squad setidaknya cukup memuaskan, maka Warner Bros tentu boleh sedikit beroptimis akan rencana Justice League mereka. Namun sayangnya proses produksi yang cukup berantakan dimana Warner Bros hampir merombak ulang hasil Suicide Squad yang membuat David Ayer kecapekan level maksimal tampak merupakan sebuah tease bahwa karya sutradara yang turut menggawangi Fury itu akan berakhir kegagalan. Dan hasilnya cercaan demi cercaan kembali menghampiri karya terbaru mereka yang satu ini. Ya, Suicide Squad meneruskan tongkat estafet hasil presentasi yang buruk dari Man of Steel serta Batman V Superman: Dawn of Justice.
Harapan penonton seperti saya pada umumnya hanya lah ingin melihat bagaimana para berandalan kelas kakap ini beraksi ketika didapuk sebuah misi yang menyelamatkan dunia, yang notabenenya sangat berlawanan dengan apa yang mereka lakukan sebagai penjahat. Di atas kertas konsep yang diusung Suicide Squad ini sangat brilian dan mungkin saja kesuksesan Marvel dengan Deadpool nya akan juga dinikmati oleh Suicide Squad. Namun sayang, harapan tinggal harapan. Masalah utama yang terdapat di Suicide Squad adalah tampaknya David Ayer kurang memahami setiap karakter-karakter yang ada di Suicide Squad sehingga ketika David Ayer dengan “lancang” nya menyuntikkan dosis moral ala superhero kepada para kriminal-kriminal ini, hal ini menurut saya cukup fatal imbasnya sehingga penonton yang mengharapkan perbedaan dari film yang lain mengingat para karakter utama nya adalah penjahat-penjahat yang menakutkan malah mendapatkan sajian good guy vs bad guy pada umumnya. Terdapat berbagai kebingungan dari sang sutradara dalam meng-handle karakter-karakter dalam film ini. Akibatnya hanya Deadshot serta Harley Quinn yang mampu mencuri atensi dari penonton.  Walau mendapatkan sedikit suntikan backstory, namun karakter Diablo dan Katana belum cukup mampu untuk membuat para penonton antusias akan kehadiran mereka, meski Diablo mendapatkan highlight nya tersendiri di third act. Boomerang dan Croc? Mereka hanya penghias layar kaca saja.  Terutama untuk karakter Boomerang, hal ini cukup disayangkan mengingat ketika trailer kedua Suicide Squad mengudara di Youtube, Boomerang menjadi karakter yang cukup dinantikan kehadirannya. Chemistry antar tiap anggota juga kosong sehingga saya hanya kebingungan ketika El Diablo menganggap Suicide Squad merupakan rumah baginya dan para anggotanya adalah teman-teman mereka, dikarenakan menit-menit sebelumnya kita tidak diperlihatkan kedekatan El Diablo dengan tiap anggota.
Will Smith dan Harley Quinn jelas menjadi angin segar di Suicide Squad.  Sebagai Deadshot, Will Smith tanpa kesulitan membawakan peran penjahat namun likeable berkat kharismanya yang luar biasa.  Tidak kesulitan juga ketika ia memainkan porsi drama serta adegan action yang berimbang.  Adegan ketika Deadshot menembakkan peluru demi peluru ke musuh di aksi pertama nya merupakan adegan favorit saya di film ini.  Margot Robbie pun jelas mudah menarik perhatian dari penonton, terutama para penonton pria.  Namun jelas salah bila kalian mengira Margot Robbie hanya menampilkan kemolekan tubuhnya saja untuk karakter Harley Quinn.  Penuh dengan ucapan sarkastik serta eksentrik, kehadiran Harley Quinn selalu memberikan warna di setiap penampilannya. Cast yang lainnya juga tidak mengecewakan seperti Joel Kinnaman dan Jay Hernandez.
Adegan aksi yang ada di Suicide Squad pun tampak biasa saja.  Hal yang cukup mengejutkan dimana David Ayer mampu membuat saya deg-degan kala menyaksikan End of Watch yang juga merupakan karyanya (saya belum menyaksikan Fury).  Adegan aksi yang terakhir pun cukup mengecewakan dimana main villain yang tampak begitu powerfull di awal-awal hingga mendekati akhir malah terlihat sangat lemah dan tampak bodoh.  Tidak ada sama sekali momen yang membuat saya merasa hopeless dan mengira kalau para “pahlawan” ini akan mengalami kekalahan.
Apakah Suicide Squad sama sekali tidak memiliki nilai positif? Tentunya ada. Satu jam pertama dimana para karakter diperkenalkan merupakan bagian terbaik dari Suicide Squad.  Tidak hanya mampu menjadi awal yang menjanjikan, Suicide Squad juga menghadirkan dua karakter pahlawan Justice League yaitu Batman serta The Flash yang tentu hal ini menjadi sub plot yang akan penting di film-film DC lainnya.  Di bagian terbaik ini, tentu juga diimbangi dengan sosok intimidatif dari Amanda Waller yang diperankan dengan cemerlang oleh Viola Davis.
Apakah ada yang terlupa? Ya, ya, i know, “how about The Joker?”, right? Saya tidak bilang peran Joker yang diemban oleh Jared Leto buruk, namun tentunya untuk karakter ikonik seperti Joker, apa yang dipresentasikan oleh Jared Leto hanya jatuh sebagai penjahat biasa saja.  Ya, kita telah melihat penjahat lainnya di dalam diri Joker-nya Leto. #TeamLeto bisa saja berdalih bila screentime yang dimiliki Joker hanya beberapa menit saja, tetapi ingatkah kalian ketika keraguan banyak penonton dimana Heath Ledger memerankan The Joker di The Dark Knight (2008) seketika sirna kala adegan pengucapan dialog “I believe, whatever doesn’t kill you simply makes you, stranger” dan melepaskan topeng di awal film? Ya paling tidak dengan kegagalan Jared Leto sebagai Joker ini setidaknya mampu membungkam fanboy-fanboy Heath Ledger yang berpendapat bila karakter The Joker yang ia perankan menjadi ikonik seperti sekarang hanya berkat Ledger.  Screenplay serta pengarahan dari sang sutradara jelas turut membantu setiap karakter yang diperankan. Well, you got a lesson now.
Walau penilaian-penilaian dari kritikus bagi saya sedikit berlebihan, namun memang harus diakui hasil akhir Suicide Squad merupakan satu lagi contoh bila ekspektasi yang tinggi akan mengakibatkan sebuah kekecewaan yang tinggi pula dalam dunia perfilman. Bagi saya, Suicide Squad tetaplah sajian yang asik dan menghibur, walau memang harapan saya akan perbedaan dimana karakter penjahat kelas kakap diberikan tugas menyelamatkan dunia tidak saya dapatkan.  Terlalu generik untuk film yang unik.

6,5/10

Wednesday, 7 December 2016




"Impossible, we do. Miracle, we try- Bossman"

Plot


Suatu hari, Diana (Bunga Citra Lestari) mendapatkan panggilan kerja dari suatu perusahaan yang dipimpin oleh orang Indonesia, sama sepertinya. Kesempatan untuk bekerja ini sangat dinantikan oleh Diana yang mengaku bahwa dirinya sangat tidak menikmati hidup yang hanya berdiam di rumah saja dan hanya mengandalkan pendapatan suaminya, Dika (Alex Abbad) yang merupakan seorang konsultan minyak. Harapan diterima membumbung tinggi karena Diana berpendapat karena mereka sama-sama orang Indonesia yang tinggal di negeri tetangga yaitu Malaysia maka dirinya pasti akan diperlakukan sedikit spesial oleh sang boss.  Namun harapan tinggal harapan ketika dirinya pertama kali bertemu dengan sang boss atau lebih senang dipanggil Bossman (Reza Rahadian), di saat itu pula keputusan nya untuk bekerja dengan Bossman akan menjadi mimpi buruk.
 



Review


 “My Stupid Boss” merupakan salah satu film Indonesia yang paling saya nantikan pemutarannya. Penantian itu hadir kala saya melihat trailer nya pertama kali di bioskop. Siapa yang tidak tergiur ketika melihat sosok Reza Rahadian disulap menjadi seorang pria tambun, berkepala botak di bagian atas kepala, kumis yang memang menyerupai ikan lele, ditambah dengan perilaku nya yang menyebalkan namun lucu itu? Sontak trailer tersebut menjadi sajian highlight sendiri dan mendapatkan tawa serta ada penonton di depan saya kala itu bilang ke pasangan di sebelahnya, “Yang, kita harus nonton film ini nanti ya”. Sebuah kalimat yang saya tanamkan juga di dalam hati kala itu.
“My Stupid Boss” adalah film adaptasi dari buku laris berjudul sama karya dari Chaos@work yang memang merupakan sebuah cerita kesialan demi kesialan sang penulis kala bekerja dengan bos nya. Di komandani oleh Upi yang telah dikenal dengan karya-karya “nyeleneh” sebelumnya seperti Radit dan Jani serta my favorite Indonesia Movies of all time, Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll yang memperkenalkan saya dengan Vino G. Bastian, “My Stupid Boss” menjadi sajian komedi akan dunia kerja yang mampu mewakilkan keluh kesah para karyawan di luar sana yang mungkin pernah juga mengalami apa yang dirasakan oleh Diana.
Setelah karakter Bossman diperkenalkan, plot cerita memang berjalan cenderung ringan (ya namanya juga sajian komedi). Adegan demi adegan selanjutnya tidak lain tidak bukan hanyalah memperlihatkan betapa “ajaibnya” bossman kita yang satu ini yang berdampak akan kesialan demi kesialan yang dialami oleh Diana. Walau terkesan repetitif serta sedikit tidak masuk akal, tetapi siapa yang menolak akan sajian yang sangat menghibur tersebut? Sebagai sajian komedi, “My Stupid Boss” sangat sukses dalam hal mengocok perut ketika melihat raut muka kekesalan Diana serta keluh kesah yang dialami oleh karyawan-karyawan lainnya. Saking terhiburnya, saya tidak ingin ada cerita yang memperlihatkan Diana yang melancarkan serangan balasan ada di dalam cerita. Biarkan saja sketsa-sketsa sang bossman yang menyiksa karyawan-karyawannya terus menerus hadir hingga menuju akhir cerita.
Hal tersebut saya rasakan tidak lain tidak bukan karena performa yang sangat gemilang dari Reza Rahadian. Karakter yang ia perankan sangat berpotensi menjadi karakter yang menyebalkan sehingga memaksa para penonton akan melepas sepatu dan melemparnya ke layar bioskop, tetapi apa yang ditampilkan Reza berbeda. Aktingnya begitu natural tanpa ada terkesan untuk melucu, bahasa-bahasa “alien” yang dilontarkannya saja mampu menggelitik urat saraf geli kalian sehingga karakter ini walau diperlihatkan menyebalkan namun bagi penonton sendiri Bossman adalah protagonis sejati di film ini. Bunga Citra Lestari sebagai Diana juga sukses dalam mengimbangi akting kelas wahid dari Reza. Respon-respon yang ia perlihatkan tatkala menjadi korban akan ‘ajaibnya’ sang bossman mampu membuat kita menertawakan kesialannya. Pemeran-pemeran pendukung lainnya Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Barot Palara), Mr. Kho (Chew Kinwah), Azhari (Iskandar Zulkarnain) serta Bu Boss (Melissa Karin) memiliki momen-momen tersendiri yang tidak membuat karakter mereka terlupakan, terutama (bagi saya) karakter Sikin yang diperankan oleh Atikah Suhaime begitu manis dengan balutan kerudung panjang nya serta suara lembut nya yang begitu enak didengar. Dalam hal visual, “My Stupid Boss” juga unggul. Kombinasi-kombinasi warna cerah yang menghiasi kantor bossman, terutama rumah Diana dan Dika begitu memanjakan penonton yang membuktikan bahwa Upi merupakan sutradara yang memperhatikan ranah sinematografi. 
Nilai yang saya kasih untuk “My Stupid Boss” akan tinggi bila saja ending yang ditampilkan tidak memaksakan seperti itu. Tidak salah untuk menyuntikkan “hati” terhadap karakter bossman, terlebih memang hal itu cukup diperlukan supaya penonton tidak melihat karakter bossman ini hanyalah seorang pimpinan yang aneh, eksentrik dan “ajaib”, tetapi akan jauh lebih mengesankan apabila yang diperlihatkan kepada penonton untuk endingnya adalah proses sang bossman bisa sampai hingga ke titik kesuksesan. Bila itu yang ditampilkan Upi, mungkin saja “My Stupid Boss” mampu membuat para penonton semakin mencintai karakter bossman.
“My Stupid Boss” merupakan bukti bahwa film komedi bila digarap dengan serius, mengeluarkan amunisi-amunisi komedinya dengan timing yang tepat, akan berakhir dengan hasil yang maksimal. Dengan performa luar biasa dari Reza Rahadian, “My Stupid Boss” adalah sajian komedi yang memuaskan pada tahun ini. Tidak heran bila Reza Rahadian kembali mencicipi piala FFI pada tahun ini berkat perannya sebagai Bossman.

7,75/10
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!