Wednesday, 14 December 2016







“Someone dear to me that I shouldn’t forget. I don’t want to forget!”- Miyamizu Mitsuha

Plot

Seorang gadis bernama Miyamizu Mitsuha yang tinggal di sebuah desa bernama Itomori bersama dengan adik serta neneknya memiliki keinginan untuk pindah dari desa tersebut dan memimpikan memiliki kehidupan di kota besar yaitu Tokyo.  Hal ini dilatarbelakangi dengan dirinya yang bosan akan kehidupannya yang tanpa perubahan serta secara tersirat ingin hidupnya jauh dari ayahnya yang juga merupakan seorang walikota setempat. Dalam beberapa hari, Mitsuha mengalami sebuah peristiwa yang aneh dimana ia merasa dalam mimpinya ia menjalani kehidupan seseorang.  Mimpi itu ia rasakan sangat nyata hingga ia akhirnya sadar bahwa peristiwa tersebut bukanlah mimpi belaka.  Dirinya memang benar-benar bertukar jiwa dengan seorang laki-laki yang bernama Taki.  Taki yang merupakan siswa SMA pada umumnya juga mengalami kejadian serupa.  Ketika mereka menyadari hal ini, mereka pun melakukan berbagai cara untuk bisa berkomunikasi satu sama lain, seperti menuliskan tinta spidol di pipi atau tangan mereka, membuat catatan di handphone serta memberitahu larangan-larangan yang harus mereka patuhi satu sama lain. Hal ini mereka lakukan karena jiwa mereka bisa mereka kembali ke diri masing-masing suatu saat ketika mereka bangun tidur. Kejadian unik nan ajaib ini tentunya memberikan perubahan tersendiri dalam kehidupan mereka. Mitsuha yang pada umumnya hanyalah seorang gadis pemalu dan terkesan pasif, berubah menjadi Mitsuha yang pandai berolahraga, jauh lebih jantan dan mudah bergaul sehingga Mitsuha mendapatkan penggemar baik dari wanita ataupun pria. Di sisi lain, Taki yang dirasuki oleh Mitsuha yang pada awalnya seperti laki-laki remaja pada umumnya berubah menjadi sedikit feminim dan lebih mudah berhubungan dengan wanita yang membuat salah satu idola di tempat kerja part time nya yaitu Okudera-senpai tertarik dengan Taki. Kejadian unik nan ajaib ini pun memberikan sebuah ikatan tersendiri antara Mitsuha serta Taki yang memaksa keinginan mereka untuk bertemu semakin kuat.  Di sisi lain, fenomena komet asing yang melintasi bumi akan segera tampak di negara Jepang. Fenomena ini lah yang akan menjadi “tersangka” utama dalam kisah dua anak manusia yang tidak saling mengenal satu sama lain ini menjadi sebuah kisah cinta yang indah serta penuh dengan ironi.
 








Review


Kimi No Na Wa merupakan karya terbaru dari Makoto Shinkai bersama dengan rumah studio CoMix Wave Films. Ya, dua pihak yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan film anime sebelumnya di tahun 2007 yang cukup sukses, yaitu Byousoku 5 Centimeter a.k.a 5 Centimeters Per Second). Banyak yang mengatakan apabila film tersebut sangat mampu membuatmu patah hati dan tenggelam ke dalam narasi ceritanya, namun saya tidak sependapat. Bagi saya 5 Centimeters Per Second sangat lah overrated dengan berbagai review yang begitu menyanjungnya, terlepas dari permainan visual serta pemilihan soundtrack yang menurut saya kelebihan utama dari film tersebut, tetapi apalah artinya sebuah visual yang indah atau soundtrack yang catchy apabila kita tidak tenggelam dan ikut merasakan cerita yang ditawarkan? Pengalaman inilah yang membuat saya takutnya kembali tidak mampu untuk menyukai karya terbaru Shinkai ini. Apakah Kimi No Na Wa kembali mengikuti jejak 5 Centimeters Per Second (di mata saya) atau memang kualitas Kimi No Na Wa seperti yang dipuja-puja oleh banyak pihak?
Saya sarankan, untuk jauh lebih menikmati film yang mampu menggeser serial anime Gintama dan Full Metal Alchemist: Brotherhood (one of my favorite anime of all time) di puncak singgasana Top Anime website MyAnimeList (imdb-nya dunia anime) ini, sebaiknya kalian jangan terlalu mencari tahu lebih detil mengenai ceritanya sehingga dampak atau impact feel yang akan kalian rasakan ketika film berakhir akan lebih maksimal. Serius, apabila kalian belum menonton nya kala membaca tulisan ini, maka sebaiknya hentikan sekarang karena cukup susah untuk mengulas ulang film ini tanpa menyentuh spoiler sedikitpun dan saya tidak ingin merusak kenikmatan kalian dalam menonton film ini.
Film yang mengambil jalan cerita pertukaran jiwa serta kisah cinta yang berbeda tempat atau timeline mungkin bukanlah cerita yang baru ataupun revolusioner. Telah banyak film, terutama dari Hollywood, yang mengambil jalan cerita yang serupa. Tetapi apabila boleh berpendapat, Kimi No Na Wa (mungkin) adalah karya terbaik yang memakai kisah tersebut. Kimi No Na Wa seperti diceritakan dalam dua babak. Babak pertama penonton diajak bagaimana kehidupan Mitsuha serta Taki yang harus dipaksa untuk menjalani kehidupan orang lain. Berbagai kelucuan terjadi di narasi ini seperti Taki (di dalam tubuh Mitsuha) yang selalu meremas payudara Mitsuha setiap kali bangun, feminimitas yang ditonjolkan Mitsuha (di dalam tubuh Taki) serta kepolosan Mitsuha yang harus menjalani kehidupan di kota yang tentunya jauh lebih besar dibandingkan desa tempat ia menjalani kehidupan. Berbagai momen ini ditampilkan oleh Shinkai tentu memiliki esensi. Penonton akan merasakan chemistry yang tidak biasa di antara Mitsuha dan Taki sehingga mereka seolah larut dalam kisah mereka. Maka ketika salah satu karakter memutuskan untuk bertemu, penonton dapat memakluminya.
Hingga ketika momen prolog untuk memasuki babak kedua pula lah yang seolah menghantam hati penonton yang telah tenggelam. Dari twist ini pun tone film yang pada awalnya sedikit ringan dan ceria, berubah ke ranah yang lebih serius dan pikiran penonton pun diajak untuk terlibat supaya mampu menikmati narasi yang berjalan. Walau muncul berbagai keanehan di babak keduanya ini (yang menurut saya adalah flaw dalam Kimi No Na Wa), tetapi bila kalian tidak terlalu memikirkannya maka praktis kalian pun kembali larut dalam perjuangan Mitsuha dan Taki di babak kedua ini. Tidak lupa juga berbagai suntikan backstory dari masing-masing karakter (terutama Mitsuha) yang membantu pergerakan cerita. Ada beberapa momen yang berhasil membuat saya ikut jatuh dalam perasaan akan kisah mereka berdua. Berbagai momen yang mampu membuat kita ikut “baper” itu tidak lepas dari keputusah Makoto Shinkai untuk memasukkan elemen soundtrack-soundtrack nya yang mampu membuat momen tersebut jauh lebih powerful.
Visual nya tentu saja tidak mengecewakan. Perpaduan warna komet, keindahan alam di Desa Itomori, suasana metropolitan kota Tokyo, semuanya berhasil divisualisasikan dengan sangat baik, terutama momen dimana detik-detik menuju epilog yang sangat indah itu.
Untuk pertama kalinya, Makoto Shinkai berhasil memenuhi ekspektasi saya. Setelah 5 Centimeters Per Second yang cukup biasa untuk saya, Makoto Shinkai seolah membuktikan kepada saya bila saya juga bisa ikut bergalau ria dengan karya terbarunya ini. Dibuka dengan indah serta ditutup dengan salah satu happy ending terbaik dalam dunia anime, Kimi No Na Wa jelas karya terbaik dari Makoto Shinkai. Apakah layak menduduki Top Anime MyAnimeList? Tidak tahu, tapi satu hal yang pasti, Kimi No Na Wa is one of the best anime i’ve ever seen.

8,25/10

Categories: , , ,

0 komentar:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!