Tuesday, 29 March 2016


"We know better now, don't we? Devils don't come from hell beneath us. They come from the sky"- Lex Luthor

Plot

Pertempuran masif antara Superman (Henry Cavill) melawan General Zod (Michael Shannon) menyisakan sebuah luka besar bagi kota Metropolis. Banyak korban berjatuhan dan juga pastinya banyak kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat pertarungan antar dewa tersebut. Salah satu yang terkena dampaknya adalah Bruce Wayne (Ben Affleck) dimana dia harus rela akan kehilangan gedung perusahaannya serta menjadi saksi beberapa korban yang diakibatkan akan pertarungan tersebut. Semenjak itulah Bruce menganggap bahwa keberadaan Superman merupakan ancaman bagi dunia dengan kekuatannya yang tidak tertandingi tersebut. Untuk itu dengan identitas lainnya sebagai Batman, Bruce mencari cara supaya mampu menghentikan langkah Superman. Disisi lain, ada Lex Luthor (Jesse Eissenberg) yang secara diam-diam memanfaatkan momen pertikaian antara Superman dan Batman tersebut.





Review

Okay, here it is.. The most talking movie for recently years, the most anticipated movies of this year, dan berbagai kalimat hiperbolis lainnya yang memang layak disandang film yang disutradarai oleh Zack Snyder ini. Mungkin mempertemukan para superhero bukanlah ide yang baru lagi mengingat The Avengers yang tidak diragukan menjadi pionir akan hal tersebut, namun siapa yang tidak tergiur melihat dua pahlawan yang telah memiliki nama besar baik di dalam dunia film maupun dunia komik ini bersatu dalam satu frame? Siapa yang tidak tergiur melihat dua pahlawan masa kecil ini berkerja sama dalam melawan musuh mereka dalam dunia film, bukan lewat yang media nya lebih kecil seperti kartun? Semua hal yang menjanjikan ini sendiri bagai dua mata pedang bagi Zack Snyder. Di satu sisi, film ini dijamin hampir 100% akan mendulang sukses, namun di sisi lain beban yang diemban oleh Zack tentunya sangat besar. Terbukti berbagai komentar-komentar miring telah didaratkan oleh para pecinta film, baik mengenai trailernya yang kurang menjanjikan ataupun terlalu banyak menebarkan berbagai petunjuk-petunjuk penting (yang paling disayangkan adalah terungkapnya Wonder Woman yang hadir dalam film ini), maupun pemilihan cast yang sedikit menuai kontroversi, seperti contoh utama adalah Ben Affleck yang dipercaya untuk menjadi salah satu superhero kesayangan kita, yaitu Batman. Ya, Ben dipaksa harus menerima berbagai komentar-komentar miring akan keputusan tersebut walaupun sebenarnya Ben telah menunjukkan kapasitas aktingnya lewat Argo dan juga Gone Girl. Kapasitas sutradara Zack pun juga kembali dipertanyakan setelah karya nya yang paling anyar yaitu Man of Steel kurang mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus. Buruknya lagi, dari pihak rival, keberhasilan Marvel Cinematic Universe juga telah mematok standar yang tinggi bagaimana film bersatunya superhero itu dibuat sehingga banyak yang meragukan akan kualitas film pembuka akan Justice League ini. Lalu, apakah keraguan mereka terbukti?

Mari kita buka dengan berbagai hal positif dahulu. Batman vs Superman: Dawn of Justice (selanjutnya akan gw singkat BvS) didanai dengan nominal yang tidak main-main, yaitu kurang lebih $250 juta. Dan Zack Snyder memang telah terbukti sebagai sutradara yang mampu mengoptimalkan dana yang telah diberikan tersebut. Lihatlah berbagai efek visual yang mengagumkan dalam film ini. Tidak perlu menunggu lama, opening nya saja telah memperlihatkan indahnya pengambilan gambar. Gw menyukai momen dimana Bruce (secara absurd) terbang dengan beratus-ratus, atau bahkan ribuan, kelelawar yang mengelilinginya. Adegan slow motion ketika kedua orang tua Bruce terbunuh pun cukup memanjakan mata, mengingatkan gw akan opening Watchmen yang brutal serta indah dengan lagu Bob Dylannya itu (one of my favorite opening movie). Tidak hanya dalam aspek visual, keahlian Zack lainnya adalah mampu mengemas action secquence baik dalam skala minor maupun masif.  Pertempuran yang kita semua nantikan antara Batman dan Superman di garap dengan maksimal oleh Zack. Zack tahu benar akan kelebihan masing-masing dari kedua superhero tersebut. Batman dengan gadget-gadget canggih serta kepintarannya, Superman dengan kekuatan fisiknya yang tidak perlu dijelaskan lagi dahsyatnya. Pertarungan antar superhero melawan Doomsday di third act pun tidak mengecewakan, dengan momen di mana munculnya Wonder Woman yang digarap dengan ikonik oleh Zack Snyder dengan bantuan iringan musik dari Hans Zhimmer yang memang tidak pernah mengecewakan. Percakapan antara Batman dan Superman setelah kehadiran Wonder Woman itu pun menambah betapa memorable scene tersebut. Sontak momen tersebut berhasil membuat reaksi “Wow” dari para penonton. Ah, andai saja pihak Warner Bros tidak teledor dan mengubah keputusan mereka supaya status Wonder Woman tetap rahasia dan tidak dihadirkan dalam trailer mereka, mungkin Bvs mampu mendapatkan rating yang lebih tinggi dari gw. Lalu mari kita bicarakan aspek akting. Pertama-tama, mari ucapkan selamat kepada Ben Affleck yang mampu mematahkan omongan-omongan merendahkan terhadap dirinya yang menjadi “the next Batman”. Ya, para haters tersebut mau tidak mau harus menelan ludah mereka karena Ben sanggup menghadirkan Batman yang tidak kalah brutalnya dengan Batman versi Christian Bale, dan juga mampu menjadi sosok Batman yang intimidatif dimana hal itu membuat sosok Batman bagaikan sosok mitos dan legenda yang bahkan melebihi sosok Superman. Ketika menjadi Bruce Wayne pun Ben tidak mengecewakan. Ben sukses menggambarkan sosok Bruce yang menyimpan kegetiran akan masa lalu dan berkharisma dalam waktu yang sama. Yap, pembuktian yang sekali lagi berhasil dari Ben Affleck setelah sebelumnya ia lakukan di film Gone Girl. Kemudian Henry Cavill juga masih terlihat meyakinkan lewat sosoknya sebagai Superman, walau memang harus diakui Henry Cavill masih belum terlihat menonjol ketika harus bermain dalam momen yang emosional. Oh tidak lupa juga Gal Gadot sebagai Wonder Woman yang sukses menjadi scene stealer dalam setiap penampilannya. Terutama ketika berkostum Wonder Woman yang digambarkan sedikit ada unsur badass di dalamnya. Jeremy Irons sebagai Alfred pun juga tampil memuaskan walau belum sampai di tingkatan Michael Caine.

Dan mari kita bahas aspek negatifnya yang memang harus diakui cukup mengganggu. Pertama-tama, silahkan teriakkan bahwa Jesse Eissenberg merupakan contoh villain yang buruk sebagai Lex Luthor. Mungkin maksud dari Zack memilih Jesse untuk peran ikonik seperti Lex adalah berharap supaya penonton akan dengan mudahnya untuk membenci karakter Lex yang memang unlikeable dalam konteks karakternya yang memang annoying. Tetapi dalam kasus Jesse, tidak hanya karakter nya yang annoying tetapi juga aktingnya yang, maaf, membuat penonton jengah melihat sosoknya tampil di screen. Ditambah dengan sosoknya yang terlalu cerewet untuk karakter Lex serta kurang berhasilnya Jesse menggambarkan kegilaan dari sosok Lex. Kegagalan demi kegagalan tersebut membuat para penonton tidak susah untuk memberikan label bahwa Jesse gagal sebagai Lex Luthor. Tampaknya bukanlah keputusan yang tepat untuk menyuntikkan dosis elemen "Mark Zuckerberg-ism" ke dalam karakter Lex Luthor.
Tetapi dosa Jesse ini tidaklah sebesar dosa para writer serta Zack Snyder sebagai sutradara. Ya, salah satu masalah terbesar BvS  dan juga menjadi sasaran para kritikus adalah alur serta plot nya yang berantakan. Let’s honest, Zack Snyder memang bukan story teller sehebat Christopher Nolan yang mampu menggarap cerita dengan rapi walau dengan plot-plot yang bertumpuk. Kemampuan tersebut belum ada di dalam Zack Snyder. Walau telah dibantu oleh David S. Goyer yang merupakan salah satu penulis dari The Dark Knight trilogy serta Chris Terrio yang menjadi orang dibalik layar akan luar biasanya Argo, Zack juga masih kurang mampu membuat pergerakan plot BvS rapi. Hasilnya, BvS tertatih semenjak dari film mulai ke narasi awal. Ketika ada salah satu penonton yang bergumam “ini film ceritanya apa ya?” maka kalian tahu bahwa ada yang tidak beres dengan alurnya. Buruknya lagi, Zack membiarkan beberapa plot utama maupun subplot nya dibiarkan tanpa jawaban. Begitu banyak pertanyaan gw setelah menonton film ini. Serius, kalian akan juga merasakan hal yang sama seperti gw. Salah satu contoh utama nya adalah, apa motivasi Lex Luthor? Serta berbagai, yang bisa dibilang, plot hole bertebaran dalam Bvs. Apakah perlu mengajak Jonathan Nolan untuk menjadi screen writer juga?
Sayang sekali, tatanan premis yang awalnya tentu saja menjanjikan ini harus berakhir dengan cukup mengenaskan dalam hal penceritaan. Kuat dalam segi visual serta momen-momen pertempurannya, namun dalam penceritaan BvS menderita berbagai luka yang cukup parah untuk disembuhkan. Bukanlah awal yang baik tentunya bagi kisah Justice League untuk kedepannya.

6,5/10



Saturday, 19 March 2016


"Yo Dre. I got to something to say"- Ice Cube

Plot

Didasari dengan kondisi ekonomi yang seakan tidak membaik, Andre "Dr. Dre" Young (Corey Hawkins) mencetuskan sebuah ide untuk membentuk sebuah grup hip hop yang mengusung genre so-called-reality-rap. Dengan mengajak temannya yang juga pengedar narkoba, Eric "Eazy-E" Wright (Jason Mitchell) untuk membangun sebuah label bernamakan "Ruthless", lahir lah N.W.A (Niggaz With Attitude) yang langsung mencuri perhatian berkat lirik bikinan O'shea "Ice Cube" Jackson (O'shea Jackson Jr.) yang mengandung  begitu banyak swear words dimana kala itu cukup sulit untuk diterima oleh kalangan umum. Lagu-lagu mereka sendiri memiliki tema akan sebuah kejujuran betapa keras dan sulitnya perjalanan hidup mereka, serta mengekspresikan kebencian mereka terhadap para polisi yang sering bersikap rasis terhadap mereka.





Review

N.W.A mulai populer pada medio akhir tahun 1980an, dan karena gw bahkan belum lahir pada masa itu tentunya grup yang mempopulerkan Dr. Dre serta Ice Cube ini sangat lah asing untuk gw, terlebih gw sendiri bukanlah penggemar musik yang bergenre hip hop dan semacamnya. Jadi yang gw harapkan dari karya debut F. Gary Gray ini tidak lah lebih dari sekedar perkenalan lebih dalam dengan N.W.A. Menurut gw, sebagian besar penikmat film yang telah menikmati Straight Outta Compton pasti sepakat bahwa paruh pertama atau bagian dimana N.W.A mulai menapakkan karirnya adalah bagian terbaik dari film ini. Semuanya ditampilkan begitu jujur dan narasinya begitu rapi. Gw katakan jujur karena apa yang ditampilkan oleh F. Gary Gray bukanlah film biografi musikal seperti pada umumnya, melainkan seperti film gangster yang kebetulan adalah kisah nyata dari kisah lahirnya N.W.A. Dekatnya mereka dengan kriminal, drugs, serta kehidupan bebas ditampilkan begitu berani oleh sang sutradara.
Fokus masih tertuju terhadap N.W.A dengan Dr. Dre, Ice Cube, serta Eazy-E sebagai fokus utama. Para pemeran utama pun mampu menjaga chemistry nya sehingga kita pun ikut terbawa dengan kedekatan mereka serta juga menyayangkan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Singkat kata, paruh pertama ini membuat penonton terikat dengan grup N.W.A. Ada satu momen dimana salah satu anggota N.W.A mendapat kabar duka, dan disana lah kita bisa melihat betapa baiknya para aktor menciptakan sebuah chemistry yang tidak palsu serta tidak klise. Kalimat klise seperti "We'll always going to be brothers" yang dikeluarkan oleh Eazy-E bisa saja jatuhnya hanyalah kalimat klise biasa pada umumnya, tetapi sekali lagi berkat chemistry yang ada, kalimat tersebut menjadi kalimat yang memiliki makna yang dalam dan tidak lewat begitu saja. Oh, tidak lupa juga dengan konflik antara N.W.A dengan polisi setempat yang menginspirasi Ice Cube untuk menciptakan lagu yang (mungkin) paling populer serta juga kontroversial dalam perjalanan karir N.W.A. Ya, momen dimana polisi "mengganggu" mereka di pinggir jalan tersebut tentu saja membuat penonton geram serta tidak ragu untuk ikut meneriakkan "Fuck Tha Police" dengan lantang.
Namun sayangnya ketika perpecahan mulai terjadi, film pun mulai sedikit demi sedikit kehilangan daya tariknya dan disinilah mulai tampak apa yang masih harus dibenahi oleh sang sutradara debutan bila ingin menelurkan film-film yang berkualitas, yaitu bagaimana untuk membagi fokus cerita sehingga tetap rapi serta mempertahankan daya tarik film yang memiliki durasi yang panjang (SOC yang gw tonton adalah versi umum yang memiliki durasi 146 menit). Di paruh kedua cerita mulai bergerak ke arah perpecahan internal terjadi khususnya antara Cube, Dre serta Eazy yang juga merembet ke perseteruan antar penggemar mereka. Ada yang hilang di paruh kedua ini, padahal konflik-konflik yang coba diangkat oleh Gary Gray seharusnya mampu membuat cerita jauh lebih menarik untuk diikuti. Ya mungkin kekuatan utama film ini adalah hubungan antara para anggota grup yang begitu hangat yang ditampilkan pada paruh pertama, dan ketika terjadi perpecahan, daya tarik utama tersebut juga hilang. Tidak salah kalo ada di antara kalian mulai gelisah dan mengepoi jam di tangan kalian. Lebih buruk lagi, banyak momen-momen yang dibiarkan tidak dijawab (entah sengaja atau tidak) seperti apa kabar keluarga dari Dr. Dre? Bagaimana suatu kejadian tersebut sebenarnya terjadi? Semuanya menggantung. Untungnya pemeran-pemeran utama memiliki kemampuan akting yang memuaskan. O'shea Jackson Jr. tidak sia-sia mendalami peran ini selama 2 tahun (Ice Cube sendiri yang  meminta hal ini kepada anaknya supaya isu nepotisme mampu ditepis). Corey Hawkins juga tampil begitu baik sebagai Dr. Dre, tapi yang paling memuaskan bagi gw adalah Jason Mitchell sebagai Eazy E.
Tapi film musikal tetaplah musikal, tidak perduli betapa bagusnya sang sutradara menjalin cerita, tidak perduli para aktor nya bermain dengan baik namun apabila dalam musikal nya dinilai kurang tetap saja film tersebut berakhir mengecewakan. Untungnya F. Gary Gray menyadari hal ini. Sang sutradara menghadirkan beberapa momen-momen konser yang disajikan dengan meyakinkan. Kita pun diperlihatkan bagaimana hebat nya N.W.A mampu menghidupkan suasana konser baik dengan lagu ataupun hanya melalui speech dari salah satu anggota. Yang paling memorable pastinya konser di Detroit yang berakhir dengan kericuhan tersebut.
Sedikit keteteran di bagian akhir, tidak membuat film ini berakhir dengan mengecewakan. Sebuah biografi yang disajikan dengan jujur serta brutal dan tentunya sebuah karya debut yang tidak mengecewakan. Tidak mengherankan bila film ini akan menjadi cult suatu saat. This movie is still dope for me.


8/10


Saturday, 20 February 2016



"When I was small, I only knew small things. But now I'm five, I know everything!"- Jack

Plot

Menceritakan kehidupan seorang wanita (Brie Larson) serta anaknya yang telah menginjak umur 5 tahun, Jack (Jacob Tremblay) yang tinggal dalam ruangan berukuran kecil.




Review

Setelah membaca sinopsis dasar Room untuk pertama kali, gw praktis menobatkan Room adalah salah satu film yang harus gw tonton. Plot dasarnya sangat mirip dengan Oldboy (one of my favorite movies all time) yaitu mengenai manusia yang terkurung dalam ruangan kecil selama bertahun-tahun. Dan saat gw menyadari kisah nya berpusat akan hubungan ibu dan anak, gw telah mengantisipasi film yang diadaptasi dari novel karya Emma Donoghue ini sebagai sajian yang penuh akan pergulatan emosi.
Bila Oldboy menceritakan seorang pria yang ingin membalaskan dendamnya, Room jauh lebih sederhana. Ini hanyalah sebuah film dimana seorang wanita serta anaknya berusaha untuk mendapatkan kembali kebebasannya. Namun sebelum menuju kesana, kita pun akan diperlihatkan bagaimana kehidupan dari ibu-anak ini di dalam ruangan yang layak untuk disebut penjara tersebut. Dalam ruangan isolasi tersebut dipenuhi dengan interaksi yang tidak mudah terbaca dari Ma serta Jack. Terkadang mereka akrab, tapi satu menit kemudian ada sedikit letupan konflik di antara mereka. Sebuah hubungan yang malah aneh nya sangat menarik dan tidak biasa. Dan dari sana lah ikatan antara penonton dengan ibu-anak ini mulai terjalin hingga tentunya mudah mencapai ke tahap bersimpati akan keadaan mereka, apalagi ketika Ma (panggilan Jack terhadap Ibunya) menceritakan kepada Jack bagaimana mereka bisa hidup dalam ruangan kecil tersebut. Sulit membayangkan bagaimana kita, terutama untuk para perempuan.  berada di posisi Ma.
Memainkan emosi para penonton ini lah yang merupakan faktor utama Room menjadi sebuah sajian drama dengan bumbu thriller yang cukup melekat dalam benak penonton. Tentunya ini tidak lepas dari andil sang sutradara Lenny Abrahamson yang sukses dalam menangkap penampakan emosi dari para karakter nya. Lenny juga berhasil menggarap sebuah momen kecil tapi substansial dalam menggerakkan narasi. Sang sutradara jelas telah mempelajari dengan baik akan naskah yang ditulis juga oleh penulis novel nya sendiri, Emma Donoghue.
Film yang masuk dalam nominasi Best Picture Academy Awards ini tidak hanya menceritakan bagaimana perjuangan mendapatkan kebebasan. Room juga memperlihatkan bagaimana sewenang-wenang nya suatu penguasa sehingga gw berpikir Room bisa merefleksikan sebuah kelompok masyarakat atau negara yang di pimpin oleh penguasa yang terlalu memaksakan kehendaknya (ini kenapa jadi serius gila gini ya?). Setelah paruh awal berjalan, penonton kembali dihadapkan dengan beberapa pertanyaan dimana salah satu nya adalah mengenai arti serta makna dari kebebasan itu sendiri. Sehingga kita yang pertama berpikir film akan segera berakhir, namun mulai menyadari bahwa masih ada konflik yang harus dijalani oleh Ma dan Jack.
Chemistry antara ibu dan anak jelas merupakan kunci dari Room, dan Brie Larson serta Jacob Tremblay berhasil dalam menjalankan misi tersebut. Komunikasi antar mereka berdua sama sekali tanpa ada rasa kaku, semuanya mengalir apa adanya sehingga apa yang ditampilkan ini bukanlah komunikasi antara senior yang mempelajari sang junior berakting, tapi komunikasi antara ibu dan anak. Tetapi bukan berarti ketika mereka dituntut untuk berakting stand alone Room malah hilang daya tarik. Brie Larson sebagai Ma berhasil dalam memainkan karakter yang memiliki emosi yang sedikit tidak stabil. Karakter Ma mungkin terlihat tangguh di awal, tetapi lama kelamaan kita menyadari, ada bom waktu yang terdapat di dalam diri Ma yang bisa meledak kapan saja. Semua itu berhasil di visualisasikan oleh Brie Larson baik lewat tatapan mata nya maupun ekspresi muka nya. Sangat menyenangkan Brie Larson mampu menjawab tantangan ini setelah sebelum-sebelumnya aktris yang juga membintangi 21 Jump Street ini hanya mendapatkan peran-peran yang tidak menuntut kehebatan berakting. Namun kejutan terbesar pastinya ada pada sosok Jacob Tremblay.

Dari voice over yang muncul ketika film bergerak di awal saja sudah timbul keyakinan dalam gw kalau Jacob akan memberikan stand out performance. Dari berbagai permainan emosi yang ia keluarkan hampir semuanya begitu meyakinkan, baik berupa tangisan ataupun teriakan. Tidak hanya berhasil ketika beradu akting dengan Ma atau yang lainnya, tetapi Jacob juga mampu menampilkan akting yang memukau ketika ia harus dituntut untuk tampil di layar kaca seorang diri. Bagian terbaik Jack merupakan film mulai memasuki “chapter kedua”. Lihatlah ekspresi ketakutannya, kecanggungannya akan kehidupan baru nya, semuanya berhasil diperankan dengan sempurna oleh Jacob. Sungguh sebuah penampilan berkelas untuk bocah yang belum genap 10 tahun ini. Patut disayangkan dirinya gagal dalam mendapatkan nominasi Oscar.
Mungkin akan sedikit mengecewakan bagi penonton yang salah mengartikan “thriller” pada genre Room, karena Room pada dasarnya adalah sebuah drama yang menceritakan sebuah kebebasan itu tersendiri. Dengan permainan emosi yang berhasil di tampilkan baik dari para sutradara beserta kru ataupun pemeran nya, Room tidak hanya menjadi sebuah drama yang powerfull tidak mudah terlupakan, tetapi juga menjadi salah satu film terbaik di tahun 2015.
 

8,75/10

Thursday, 18 February 2016

 "Crying help me slow down and obsess over the weight of life's problems"- Sadness

Plot

Memperlihatkan bagaimana kinerja lima emosi yang berada di kepala Riley (Kaitlyn Dias) dalam usia nya yang 11 tahun. Kelima emosi tersebut adalah Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Anger (Lewis Black), Disgust (Mindy Kaling) dan Fear (Bill Hader)




Review

Setelah menyaksikan karya teranyar dari Pixar ini, gw bisa mengerti mengapa salah satu komika favorit gw Pandji Pragiwaksono begitu mencintai rumah studio untuk film animasi ini. Pertama-tama, perlu diketahui bahwa beberapa karya Pixar belakangan ini tidak terlalu menggembirakan. Setelah Toy Story 3, praktis film-film seperti Monster University, dan terutama Cars 2 bukanlah karya terbaik dari Pixar sehingga banyak orang yang menilai sentuhan magis Pixar mulai memudar. Hingga Pixar mengumumkan akan merilis Inside Out di tahun 2015. Menurut gw, semua penikmat film akan setuju satu faktor dimana Pixar selalu berhasil adalah keahlian mereka dalam ranah emosi, dan ketika kita mengetahui Inside Out bermain-main dalam ranah tersebut, viola, Inside Out menjadi salah satu film yang begitu dinantikan di tahun kemarin.
Selama gw mengikuti jejak filmography Pixar, gw menilai Wall-E (2008) yang disutradarai dan di tulis oleh Andrew Stanton tersebut tetaplah yang terbaik. Cerita akan sebuah robot pengumpul sampah sampai mengkritisi kehidupan manusia yang terlalu tergantung akan teknologi merupakan cerita yang jenius sampai gw berpikir Pixar tidak akan bisa membuat karya yang brilian seperti ini lagi. Dan kemudian Pete Docter mencetuskan sebuah ide yang mendasari terciptanya Inside Out. ”Do you ever look at someone and wonder, “What is going on inside their head?”” Ya, menurut gw kalimat tersebut (yang juga diucapkan oleh karakter Joy di film ini) adalah kalimat pertama Pete Docter ketika mengutarakan ide nya kepada para petinggi Pixar. Sebuah kalimat yang sederhana dan kemudian di kembangkan oleh Pete Docter dengan menciptakan lima emosi yang berada di dalam kepala manusia. Pete pun menciptakan sebuah universe tersendiri dalam kepala Riley, seperti headquarters, long term memory, dan beberapa pulau emosi yang berkesan dalam kehidupan Riley. Sangat kreatif dan sama sekali tidak terpikirkan, itulah reaksi pertama gw ketika membaca plot dasar Inside Out. Sekilas akan tampak membingungkan apabila dilihat dari tulisan (terutama untuk anak-anak), tetapi ini adalah film keluaran Pixar sehingga plot yang sedikit membingungkan tersebut pun di kemas dengan sederhana dan begitu menyenangkan untuk diikuti.
Dalam 8 menit pertama, kita diperlihatkan bagaimana Joy, Sadness, Anger, Fear dan Disgust bekerja sama dalam headquarters untuk mengendalikan emosi dari Riley. Setiap karakter akan merespon dan menentukan emosi apa yang harus dikeluarkan Riley dari kejadian demi kejadian yang dialami Riley dengan Joy sebagai ketuanya. Dalam cerita pembuka juga kita akan ikut tertawa melihat momen-momen yang di alami Riley. Sebuah pemanasan yang hebat sebelum memasuki cerita utamanya. Karena setelah itu Pete Docter pun mulai bermain dengan konflik utama nya. Konflik dimana seorang anak harus beradaptasi di lingkungan baru mungkin sudah usang karena entah sudah beberapa film yang mengangkat konflik tersebut, tetapi disitu lah letak kelebihannya juga karena mungkin sebagian besar dari kita juga ikut pernah merasakan konflik yang dihadapi oleh Riley sehingga kita pun dengan mudah terikat dengan karakter ini. Dan juga disini Pete Docter mengemasnya dengan brilian. Sebuah konflik sederhana tersebut disulap menjadi sebuah petualangan yang mendebarkan dan juga mengikut sertakan emosi para penonton setiap menit demi menit berjalan. Entah ada berapa momen yang mampu memecahkan air mata karena membuat gw seolah dipaksa mengingat kembali masa kecil gw, namun tetap adegan yang melibatkan teman imajinasi Bing Bong adalah klimaksnya di mana air mata gw tidak mampu gw tahan lagi. Sebuah adegan hearbreaking terbaik yang pernah di ciptakan Pixar, mungkin hanya mampu bersaing dengan ending dari Toy Story 3. Setiap momen yang mampu meletupkan emosi turut pula dibantu scoring yang digarap oleh Michael Giacchino
Interaksi antar karakter juga tercipta dengan dinamis, terutama interaksi antara lima emosi tersebut dimana Joy dan Sadness menjadi kunci sentral nya. Walaupun begitu tidak berarti Anger, Fear dan Disgust tidak kebagian spotlight. Celetukan-celetukan mereka lah yang paling dominan dalam memunculkan humor di sini sehingga karakter mereka tidak akan mudah dilupakan. Tentunya ini tidak lepas dari pekerjaan yang gemilang dari para pengisi suara tiap karakter, terutama tetap favorit gw Phyllis Smith yang mengisi suara Sadness. Desain karakter lima emosi ini juga di buat dengan menarik dan lucu supaya mampu menggaet penonton anak-anak (gw pribadi lebih menyukai desain karakter dari Sadness yang membuat gw susah menganggap dia sebagai karakter yang menyebalkan).
Gw meyakini satu hal yang mampu dengan mudahnya membuat seseorang larut dalam emosi nya adalah ketika dia diajak untuk kembali mengingat berbagai rekaman masa lalu nya. Dan itu lah yang dilakukan Pixar lewat Inside Out ini. Lewat Inside Out, Pixar berhasil menciptakan sebuah petualangan yang melibatkan emosi dan kenangan-kenangan masa lalu kalian sehingga membuat Inside Out menjadi sajian terbaik Pixar sejauh ini (setelah Wall-E).

                                                            8,75/10


Monday, 15 February 2016





"Nothing will make sense to your American ears, and you will doubt everything that we do, but in the end you will understand."- Alejandro

Plot


    Setelah penemuan mengerikan dalam misi penggerebekan sebuah rumah yang dicurigai milik salah satu pemimpin kartel narkoba, Kate Macer (Emily Blunt) ditugaskan pergi ke Mexico untuk menangkap orang yang bertanggung jawab akan kasus tersebut. Bersama dengan penasihat CIA (Josh Brolin) serta salah satu agen misterius Alejandro (Benicio Del Toro), Kate pun berangkat ke berangkat ke dalam sebuah misi yang mungkin saja tidak pernah ia bayangkan.



Review


Sudah menjadi hal yang lumrah bila semakin kita mengetahui dunia yang sebenarnya, semakin sulit pula untuk kita mempertahankan sebuah idealisme dalam suatu pekerjaan. Dunia yang penuh intrik, konspirasi, dan segala macam hal yang membuat kita berpikir, dunia yang kita tempati ini secara tidak langsung telah menganut hukum rimba. Yang lemah akan tertindas, serta yang kuat akan semakin digdaya. Sicario, sebuah drama slow burning thriller menceritakan hal tersebut. Setelah menonton film yang berdurasi lebih kurang 121 menit ini gw menangkap ada sedikit kemiripan Sicario dengan film keluaran tahun 2011 The Ides of March yang disutradarai oleh George Clooney. Protagonis utamanya memiliki kemiripan, yaitu karakter yang masih ‘hijau’ serta naif dalam profesinya. Bedanya, Dennis Villeneuve mengambil tema narkoba sebagai ladang bermainnya.

Satu keahlian yang mungkin juga menjadi trademark dari seorang Dennis Villeneuve adalah bagaimana dia mampu meracik sebuah film yang faktanya bergerak perlahan namun tetap memiliki daya tarik untuk tetap diikuti tanpa sedikitpun kebosanan menghampiri. Tidak percaya? Silahkan lihat Incendies (tetap masih pencapaian terbaik dari sang sutradara) dan Prisoners. Kedua film tersebut memiliki durasi dua jam lebih, namun anehnya penonton (khususnya gw) sama sekali tidak merasa jenuh dengan apa yang ditampilkan oleh Villeneuve. Apa rahasianya? Bumbu utama yang menjadi faktor mengapa film Villeneuve begitu nikmat untuk disantap walau bertempo lambat adalah kepiawaian sang sutradara dalam menyembunyikan misteri yang ada di dalamnya. Ya, Villeneuve memanjakan penontonnya dengan menutup misteri rapat-rapat di awal, lalu seiring dengan bergeraknya narasi Villeneuve tidak segan-segan untuk menebarkan beberapa clue dan hingga akhirnya misterinya terkuak di menit terakhir. Dan itu pula yang Villeneuve lakukan dalam karya terbarunya ini. Berhasilkah? Absolutely fucking yes.

Dari drama pencarian orang tua dan saudara yang penuh akan kegetiran, drama penculikan, lalu hingga misteri dopphelganger yang mind blowing, misteri apa lagi yang ditawarkan sang sutradara dalam Sicario? Pertama, tentu saja misi yang diemban oleh Kate Macer itu sendiri. Kita berada dalam posisi yang sama dengan Kate, sama sekali tidak mengetahui tujuan misi tersebut kecuali penggerebekan gembong kartel narkoba. Tetapi menit demi menit narasinya berjalan, satu per satu Dennis memberikan beberapa jawaban dan kita pun sadar bahwa misi ini tidak sesederhana itu. Namun beberapa penonton yang mengharapkan sajian penuh action mungkin akan tertipu, apabila bagi mereka yang belum pernah menikmati karya-karya Dennis sebelumnya. Setelah opening yang cukup mendebarkan, praktis hanya ada dua action secquence. Tetapi action nya sendiri di sajikan dengan cara yang berkelas dan tidak kosong. Dengan bantuan dari Roger Deakins sebagai sinematografer, Dennis pun menangkap berbagai sudut-sudut kota Juarez yang tidak bersahabat. Momen yang paling keren adalah momen setelah Alejandro mengucapkan “welcome to Juarez”. Dennis pun cukup memperhatikan hal-hal kecil dalam menggambarkan betapa berbahayanya kota Juarez dengan menangkap beberapa gambar dimana penduduk kota terlihat biasa saja dengan kekerasan, polisi yang ramai berpatroli di jalan ataupun suara desingan peluru yang ada. Dan misteri selanjutnya serta yang paling mengganggu pikiran para penonton adalah, who the hell Alejandro is??

Karakter Alejandro sendiri digambarkan pria yang pelit bicara, intimidatif sehingga gw mengerti bila Kate cukup tidak tenang bila ada sosok Alejandro di dekatnya. Dan Benicio Del Toro berhasil dengan gemilang dalam memerankan sosok Alejandro. Gw akui masih sedikit mengikuti filmography Del Toro, tetapi gw yakin ini adalah salah satu peran terbaiknya. Praktis, Del Toro dengan Alejandro-nya cukup menenggelamkan Emily Blunt serta Josh Brolin yang juga bermain bagus. Emily Blunt sendiri adalah pilihan yang tepat memerankan sosok Kate Macer, sebuah agen wanita yang terlihat tangguh walaupun berada dalam kumpulan para pria, dan lewat tatapan matanya, Emily Blunt mampu menggambarkan sosok rapuh dari Kate setelah mengetahui berbagai kejadian-kejadian yang membuat keyakinannya selama ini goyah. Josh Brolin juga tidak bisa diremehkan dengan perannya sebagai analis CIA Matt Graver yang seenaknya serta oportunis.

8/10


Plot


Demi sebuah bisnis wedding expo dengan keuntungan besar, Bagas (Vino G. Bastian) dan Risa (Laudya Chyntia Bella), yang awalnya telah bercerai, diharuskan untuk rujuk kembali karena bisnis tersebut merupakan hasil ide dari mereka berdua. Masalahnya, Bagas telah menjatuhkan talak 3 kepada Risa tanpa mengetahui konsekuensinya dimana Risa harus menikah terlebih dahulu dengan pria lain supaya bisa kembali lagi dengan Bagas. Segala cara pun berusaha ditempuh oleh mereka berdua supaya dapat rujuk kembali.




Review


Terlepas dari desain poster nya yang, maaf, sedikit norak, Talak 3 harus diakui memiliki amunisi yang tidak main-main. Dari pemeran utama, Talak 3 memiliki dua aktor terbaik Indonesia, Vino G. Bastian dan Reza Rahardian, juga aktris yang tidak bisa diremehkan aktingnya yaitu Laudya Chyntia Bella. Ditambah dengan duet sutradara yang telah terbukti kualitasnya yaitu Hanung Bramantyo serta Ismail Basbeth yang unjuk gigi dengan Mencari Hilal tahun lalu (sayangnya gw belum nonton).

Talak 3 terdiri dari dua fase. Fase pertama kita akan disuguhkan dengan perjalanan usaha dari Bagas dan Risa untuk mengakali hukum dari Talak 3 itu sendiri. Nah, dalam cerita perjuangan mereka berdua ini lah penonton disuguhkan dengan beberapa momen yang berhasil meletupkan tawa. Tidak semuanya berhasil, tetapi hampir sebagian besar momen komedi tersebut sukses menggelitik kontak tertawa penonton. Apalagi setiap momen yang melibatkan kepala KUA Pak Hasmi (Hasmi Gundala), serta Jonur (Gareng Rakasiwi) dan juga tidak lupa pegawai KUA baru yang telah dimutasi 70 kali akibat ambisinya untuk menangkap pejabat sipil yang nakal, Basuki (Dodit Mulyanto). Walau penuh dengan tawa, jelas sekali disini Hanung (gw yakin Hanung paling bertanggung jawab dalam mengkoordinir fase pertama ini) menyentil akan pejabat-pejabat sipil yang suka bermain politik uang. Tidak hanya mereka bertiga, Vino G. Bastian (yang memang telah terbukti mampu memainkan akting komedi) seakan tidak mau kalah dalam menggelitik para penonton. Fase pertama ini seakan memberikan sebuah pemanasan untuk penonton sebelum memasuki fase kedua.

Fase kedua sendiri adalah dimana (tampaknya) Ismail Basbeth yang mengambil alih kemudi. Fase kedua berisikan sebuah kisah cinta segitiga antara Bagas, Risa dan Bimo (Reza Rahardian). Bedanya, cerita cinta segitiga ini digarap dengan atmosfer yang kental akan drama bahkan melankolis. Keputusan ini mau tidak mau memberikan sebuah dampak positif dan negatif. Positifnya, Talak 3 bisa menjadi tontonan emosional. Penuh dengan komedi di fase pertama, drama yang ada di fase kedua berpotensi besar mampu mempermainkan emosi penonton. Negatifnya, bagi penonton yang tidak siap dan hanya mencari sebuah tontonan yang menghibur dikarenakan trailer nya, mereka akan merasa tertipu dan bukan tidak mungkin mereka tidak puas dengan fase kedua ini.

Lalu, bagaimana dengan gw? Semenjak melihat trailernya dan menyadari Reza Rahardian ada di barisan pemeran utama, gw telah tahu film ini tidak akan berisikan komedi saja. Yang tidak gw ketahui adalah pembagian dua fase tadi. Jujur saja, gw adalah salah satu penonton yang sedikit tidak siap ketika film memasuki ke momen melodramanya. Gw mengakui fase kedua tidak lah buruk, bahkan mungkin bagi sebagian besar penonton terlarut akan dramanya, tetapi bagi gw dramanya sedikit klise, ditambah kalimat-kalimat cheesy juga ikut terlontar dari mulut para pemain nya. Mungkin saja gw bisa berpendapat seperti ini karena fase pertama tadi yang sangat penuh semangat dan bisa dibilang, sangat fun.  Dan minus terbesarnya adalah, Hanung dan Ismail membuat karakter Bagas kurang likeable sehingga para penonton pun tidak sulit untuk mendukung Risa bersatu dengan Bimo. Di fase kedua juga ada sebuah narasi yang menurut gw tidak terlalu penting. Andai saja cerita tersebut diganti dengan proses-proses CLBK antara Bagas dan Risa ketika mengerjakan proyek bersama, menurut gw Talak 3 bisa menjadi drama yang lebih powerful dimana penonton pun bingung akan mendukung siapa.

Untungnya, Talak 3 diisi dengan cast yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Laudya Chyntia Bella mungkin sedikit tenggelam ketiga satu scene dengan Vino dan Reza, tetapi ketika dituntut berakting emosional, Bella berhasil. Vino G. Bastian mungkin menjadi aktor yang serba bisa disini. Vino berhasil menjadi pemicu tawa disaat film bergerak dalam ranah komedi, dan Vino juga mampu memanfaatkan akting drama nya ketika momen yang mengharuskannya untuk meluapkan emosi nya. Reza Rahardian juga tidak mau kalah. Sedikit terabaikan di fase pertama, Reza unjuk gigi di fase kedua dengan mengeluarkan akting kelas wahidnya. Momen terbaiknya adalah ketika perseteruannya dengan Bagas di rumah kontrakannya.

Ringkasnya, mungkin akan jauh lebih baik apabila Hanung dan Ismail tidak membagi film ini menjadi 2 fase, tetapi Talak 3 tetap mampu menjadi film yang menghibur dan layak untuk ditonton. Pesan saya untuk yang belum menonton film ini, jangan tertipu dengan trailernya.

7,25/10






   "What if I could put him in front of you? The man that ruined your life. If I could guarantee that you'd get away with it, would you kill him?"- Temporal Agent

Plot


Predestination dibuka dengan adegan dimana seorang pria yang ingin menghentikan bom telat untuk menjinakannya. Bom yang dirancang oleh teroris yang dikenal dengan Fizzle Bomber itu meledak dan mencederai nya, terutama bagian muka yang sangat parah. Setelah menjalani operasi pergantian wajah, pria yang sebenarnya adalah Temporal Agent (Ethan Hawke) kembali melanjutkan misinya menangkap Fizzle Bomber dengan menyamar menjadi seorang bartender. Pada suatu malam, Temporal Agent bertemu dengan seorang pria misterius yang menjuluki dirinya “The Unmarried Mother” (Sarah Snook), yang kemudian menceritakan kisah kelam yang ia alami. Apa sebenarnya relasi dari cerita tersebut dengan misi yang sedang diemban oleh sang agent?





Review



Tema time travel seolah tidak bisa dilepaskan dari sebuah film, terutama genre film science fiction. Entah udah berapa film bergenre scifi yang mengangkat tema tersebut. Inti cerita dari kebanyakan film time travel sendiri adalah memperbaiki sebuah kesalahan di masa lalu untuk merubah masa depan yang dihadapi atau juga untuk mengetahui sebuah rahasia besar yang terjadi di masa lalu. Predestination sendiri masih mengangkat inti cerita yang pertama sebagai sub plot nya. Namun masalah terbesar dalam film tema travel sendiri adalah film tersebut berpotensi akan meninggalkan sebuah lubang yang cukup mengganggu apabila tidak digarap dengan teliti.
Film yang diadaptasi dari cerita pendek milik Robert A. Heinlein yang berjudul “All You Zombies” ini sendiri gw perkirakan akan menjadi sebuah sajian yang dipenuhi oleh adegan aksi. Predestination sendiri dibuka dengan sebuah action secquence yang makin menguatkan dugaan gw. Maka alangkah terkejutnya gw setelah mengetahui fakta bahwa hampir satu jam durasi awal nya kita malah diperlihatkan sebuah cerita “luar biasa” dari The Unmarried Mother dan yang tidak diperkirakan lagi adalah malah cerita ini lah yang menjadi aspek terbaik dari karya Spierig Brothers ini.
Flashback demi flashback akan ditampilkan, dengan diiringi oleh suara parau dari Sarah Snook yang semakin mempertebal kesan bahwa betapa berat hidup yang harus dijalani oleh The Unmarried Mother sehingga sulit untuk tidak terikat dengan karakter ini.  Walau disajikan dengan alur lambat, tetapi Spierig Brothers berhasil membuat cerita flashback ini menarik diikuti berkat cermatnya mereka membangun sebuah karakter. Sebuah sajian flashback ini tentunya menjadi sebuah fondasi utama dalam menyambut sisa durasi yang ada. Dan tentunya juga paruh awal ini juga duo sutradara ini menebarkan clue demi clue yang tidak diperlihatkan secara gamblang untuk menantang ketelitian penonton.
Namun sayangnya ketika cerita flashback telah berakhir, disinilah kelemahan Predestination tampak. Spierig Brothers seolah terlalu asik bermain dengan tema time travel nya. Akibatnya permasalahan utama dari tema time travel pun tampak disini, yaitu terciptanya beberapa plot hole yang harus diakui cukup mengganggu. Jujur saja permasalahan ini sedikit mengendurkan atensi gw terhadap cerita Predestination. Sampai pada konklusi yang “seharusnya” mengejutkan, Predestination sedikit meninggalkan kekecewaan. Namun ada satu faktor yang berperan besar untuk terus mengikuti film dari Australia ini. Ya, faktor tersebut adalah Sarah Snook yang bermain luar biasa. (Sarah Snook mirip banget sama Emma Stone)

 mirip banget kan?

Seperti yang gw paparkan sebelumnya, bagian terbaik dari Predestination adalah ketika bagian The Unmarried Mother menceritakan masa lalunya. Dan penampilan Sarah Snook yang hampir mendominasi bagian pertama ini berperan sebagai kuncinya. Permainan emosi yang ia tampilkan begitu mudah untuk menarik simpati dari penonton (terutama gw). Ada beberapa momen terbaik dari Snook, salah satu nya scene “It’s lovely day.” Andai Predestination di produksi oleh sebuah rumah produksi besar dari Amerika Serikat, gw yakin, aktris yang juga membintangi Jessabelle ini mampu masuk dalam nominasi Academy Awards. Tanpa menyampingkan penampilan Ethan Hawke yang baik, Sarah Snook lah yang berhasil mencuri perhatian. Oh ya, jajaran kru make up juga patut diberi kredit poin dengan pekerjaannya yang gemilang.

Sedikit melemah ketika narasi bergerak menuju akhir, Predestination tetaplah sebuah film yang layak untuk kalian saksikan dalam waktu senggang. Sebuah drama pencarian arti kehidupan yang bila diresapi cukup kejam dan tragis, ditambah dengan penampilan gemilang dari Sarah Snook. What a breakthrough performance!!

7,25/10


Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!