Sunday, 5 May 2019


"I thought I was stuck in the same day for some big, cosmic reason - facing my mom's death - but it had nothing to do with her. Turns out it was just some scientific fluke"- Tree

Plot

Untuk menutup lingkaran waktu akibat projek science yang diciptakan oleh Ryan (Phi Vu), Tree (Jessica Rothe) harus kembali mati berulang-ulang lagi untuk mendapatkan algoritma yang benar. Dirinya pun kali ini dihadapkan pilihan sulit yang melibatkan orang-orang yang dikasihinya.



Review

Dua tahun lalu, melalui Happy Death Day (2017), Christopher Landon berhasil menyajikan film horor slasher yang menghibur dengan menjadikan konsep time loop nya sebagai wadah pendewasaan diri pada karakter Tree. Seperti yang saya tulis di review, bila saya sama sekali tidak menyangka Happy Death Day mampu menyandingkan genre slasher nya bersama balutan komedi yang kental. Siapa yang bisa melupakan momen kala Tree harus dibunuh berulang kali demi mendapatkan petunjuk siapa pelaku yang mengincar nyawanya.

Pada sekuelnya, Landon yang kini juga menulis naskahnya, memasuki ranah Science fiction sebagai jawaban akan misteri yang terjadi pada Tree. Jawaban akan misteri tersebut memang lemah, jika tidak ingin dibilang presentasi nya kacau, namun hal ini bukan lah menjadi masalah besar karena, hei, Anda salah memilih tontonan jika ingin mendapatkan teori time loop yang cerdas nan rumit. Karena konsep fiksi ilmiah disini disediakan Landon demi membuka kembali perjalanan penuh kesialan Tree yang kini harus kembali rela mendapati dirinya mati berulang-ulang di hari yang sama. 

Hanya bedanya, di Happy Death Day 2U, kematian Tree menyebabkan dirinya harus terbangun di dimensi yang berbeda. Dengan narasi ini lah, narasinya melebarkan sayap karena kali ini, Tree tidak saja hanya mencari tahu siapa pelaku pembunuhan, tetapi juga dihadapkan pilihan sulit yang melibatkan orang terkasihnya. 

Pergerakan plot masih tetaplah sama, namun diberikan sentuhan berbeda. Seperti montasi kematian Tree, yang selalu berhasil menjadi highlight di seri ini, kali ini bukan disebabkan oleh pelaku, namun lebih sederhana dimana ia lebih memilih untuk membunuh dirinya sendiri. Dan seperti predesornya, disinilah sumber keseruan dan komedi dalam Happy Death Day 2U. Pemilihan cara bunuh diri yang dilakukan Tree menunjukkan kegilaan dan kreativitas Landon dalam mempertontonkan kematian yang tidak kelupaan senantiasa dibalut oleh nuansa komikal. Adegan terjun bebas dan truk penggiling sampah sukses meledakkan tawa saya.

Tidak lupa juga, Happy Death Day 2U menawarkan drama yang melibatkan hati. Seperti yang saya ungkap sebelumnya, Tree dihadapkan pilihan yang secara tidak langsung berimbas terhadap orang-orang terkasih. Setiap momen drama nya berjalan efektif, bahkan pada satu momen, saya tidak menduga jika saya hampir dibuat menangis akan interaksi emosi antar karakter yang terjadi di layar. Dan tidak seperti film pertama, momen emosi ini tidak lewat begitu saja dan berhasil menjadi konklusi sempurna untuk "petualangan" Tree, yang menjadikan sekuelnya ini sedikit lebih baik dibandingkan film pertama.

Permasalahan Happy Death Day 2U sendiri merupakan hal lumrah yang dijumpai setiap film sekuel, yaitu daya kejut nya jelas berkurang. Misteri mengenai siapa pelakunya pun tidak lah semenarik film pertama, karena tampak sekali jika perihal tersebut bukan menjadi fokus utama disini. Lalu, cerita pada menit-menit awal sebelum pusat narasi beralih ke Tree, sedikit membosankan dan bertele-tele. Meski karakter-karakter pendamping memiliki daya tarik sendiri, terutama Danielle (Rachel Matthews), namun semenjak film pertama, nyawa dan magnet terbesar untuk selalu bisa mencengkeram atnesi penonton jelas adalah Jessica Rothe sebagai Tree.

Pada sekuel ini, Rothe kembali berhasil menunjukkan betapa sudah lekatnya ia dengan karakter Tree yang ia lakoni. Ia tidak pernah gagal membuat kita tertawa baik dari ekspresi muka nya, kalimat sarkas hingga aksi over the top nya. Memang selalu menyenangkan sih melihat aktris cantik seperti Rothe seolah kehilangan urat malu nya untuk beraksi gila. Tidak hanya itu pula, Rothe juga berhasil menyuntikkan hati disetiap film bergerak narasinya ke ranah drama. Perhatikan ekspresinya kala ia melihat sosok terpenting di dalam hidupnya hadir di hadapannya. Susah untuk tidak jatuh cinta pada Tree dan semua itu berkat akting menawan dari Jessica Rothe.

7,25/10


Thursday, 2 May 2019


"I keep telling everybody they should move on and grow. Some do. But not us"- Captain "Steve Rogers" America

Plot

Para Avengers yang tersisa, berusaha mencari cara dalam mengembalikan milyaran korban akibat dari jentikan jari Thanos (Josh Brolin).



Review

Jika Anda sama seperti saya yang merupakan fans dari Game of Thrones dan mengikuti film-film MCU, rasanya kita bisa sepakat bila dalam 1 minggu terakhir ini merupakan hal yang tidak mengenakkan untuk surfing di dunia internet. Serial Game of Thrones memasuki episode yang menampilkan sebuah perang yang dinantikan oleh penggemar, sedangkan MCU dengan Avengers: Endgame nya sendiri adalah film yang paling dinantikan tahun ini. Spoiler jelas bertebaran di internet, bahkan di tempat yang tidak terduga. Saya sendir menjadi korban spoiler disebabkan ada user bodoh yang seolah begitu bangga telah menyaksikan Endgame terlebih dahulu sehingga dengan begitu sombongnya meninggalkan jejak spoiler di kolom obrolan Live Stream sub count antara PewDiePie vs T-Series di kanal FlareTV. Untungnya spoiler yang tertulis tidak terlalu bisa dibilang mega spoiler juga. Karena itu, selain ingin menyaksikan bagaimana akhir pertempuran Avengers menghadapi Thanos, saya juga ingin segera tenang untuk berinternet ria kembali dan menginstall ulang aplikasi Instagram dan Twitter di Smartphone saya. 

Avengers: Endgame yang masih disutradarai oleh Russo Brothers (kembali) merupakan hasil dari buah kesabaran Marvel dalam membangun universe nya dalam 11 tahun terakhir dengan 22 film nya, dan aspek paling berhasil yang juga menjadi faktor terbesar mengapa MCU menjadi raksasa di industri perfilman dalam satu dekade terakhir adalah bagaimana mereka menangani karakter-karakter di dalamnya begitu memorable dan mudah untuk disukai. Saya yakin, dari penggemar sendiri memiliki masing-masing karakter favorit mereka, baik para karakter superhero nya atau pun sekedar pemeran pembantu. Kecuali Captain Marvel (yang bisa jadi adalah karakter paling poralizing sejauh ini, itupun dikarenakan aspek non teknis), rasanya tidak ada karakter yang begitu dibenci oleh penggemar. Buah kesabaran ini sudah berhasil tampil di Infinity War, bahkan standar yang telah dipasang begitu tinggi pada film itu. Namun Russo Brothers kembali menunjukkan kembali kualitas mereka sebagai sutradara dimana, walaupun bagi saya Infinity War sedikit lebih baik, Russo Brothers sukses memberikan pengalaman sinematik berkesan lewat Endgame ini melalui studi karakter serta balutan emosi yang senantiasa hadir di setiap menitnya. 

Sedari menit awal, Endgame telah kental akan aura depresif nya, ditambah gubahan soundtrack dari Alan Silvestri yang menambah mood keputus asaan yang ada. Russo Brothers yang bekerja sama dengan Christopher Markus dan Stephen McFeely dalam divisi naskah, mengambil setting tidak lama dari ending Infinity War terjadi. Ada karakter yang putus harapan, ada juga yang tetap tegar dan ingin tetap melangkah, serta ada juga yang kehilangan arah sehingga melepaskan beban dan tanggung jawab nya sebagai superhero. Sebagai film blockbuster terbesar di tahun ini, saya cukup kaget menerima kenyataan jika Endgame cukup didominasi oleh aspek drama berfokus pada pendalaman karakter nya. Endgame menyajikan kisah para pahlawan kita ini untuk bersikap dalam setelah kekalahan masif yang mereka terima dan menghadapi ujian terbesar mereka sejauh ini seraya tetap menegakkan kepala mereka. Seberapa besar pengorbanan yang akan mereka beri demi keselamatan galaksi. Sesuai dengan kalimat yang kerap diulang di trailer awal nya, whatever it takes, bahkan jika harus memberikan nyawa mereka. Karena itulah, bila di Infinity War, spotlight yang ada sepenuhnya diambil oleh Thanos, maka di Endgame, Thanos harus rela untuk menyingkir dan memberikan spotlight tersebut kepada member The Avengers, terutama anggota The Avengers pertama, yaitu Captain "Steve Rogers" America (Chris Evans), Iron "Tony Stark" Man (Robert Downey Jr.), Black "Natasha Romanoff" Widow (Scarlett Johansson), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Benner a.k.a Hulk (Mark Ruffalo) dan Clint "Hawkey" Barton (Jeremy Renner). Walau memang patut disayangkan karena dengan keputusan ini, karakter-karakter lainnya sedikit terlupakan. Namun hal ini patut dimaklumi, mengingat Endgame sendiri bagaikan sebuah tribute untuk member pertama The Avengers.

Melalui plot time travel nya juga, Endgame bagai kan sebuah perjalanan retrospective untuk mengenang kembali perjalanan mereka. Russo bros membagi karakter nya ke 4 tempat berbeda  Akan terdapat beberapa momen-momen yang hadir dari film sebelumnya, dengan tentu saja sentuhan improvisasi, dan dari sinilah roller coaster emosi dimainkan. Time Travel nya menjembatani beberapa momen-momen emosional yang memiliki esensi pada karakter masing-masing, serta memberikan ruang untuk penggemar kembali mengingat petualangan kita selama ini bersama The Avengers. Tidak hanya menawarkan dosis emosi, namun juga memberikan beberapa jokes segar yang mampu direspon tawa oleh penonton. Interaksi dialog pun seolah tidak pernah menemukan titik jenuh dan selalu menawarkan kesegaran, terutama untuk karkater yang berinteraksi pertama kali dengan karakter lainnya. 

Para aktor pun semakin lekat dengan karakter yang dilakoni masing-masing, tidak lupa juga mereka memberikan efek rasa emosi personal baik dari gestur bahkan hanya melalui tatapan mata. Semuanya bermain cemerlang, namun tidak akan ada yang menampik jika RDJ lah yang menjadi bintang utama nya. RDJ sempurna merefleksikan rasa putus asa dan kepedihan yang tergambar melalui ekspresi muka nya. Barisan dialog yang ia lontarkan kala film bergerak ke ranah drama selalu terdengar meyakinkan sehingga penonton ikut merasakan gejolak yang tengah ia derita. Lalu, tibalah kita pada bagian endingnya yang emosional. Kedekatan emosional yang telah tercipta antar penonton dan tiap karakter menjadi faktor utama akan betapa besar impact yang ditawarkan pada momen ending. Sulit rasanya untuk tidak meneteskan air mata melihat apa yang tampil di layar. Sebuah konklusi sempurna untuk menutup kisah bagi beberapa karakter.

Namun secaea keseluruhab tentu Endgame tidak luput akan kekurangan, karena untuk bagian action, terutama di final fight nya, saya lebih berkesan dengan yang disajikan oleh Infinity War. The Battle of Wakanda sendiri memang masih menjadi salah satu adegan pertempuran terbaik yang pernah disajikan oleh MCU. Meski final fight di Endgame melibatkan lebih banyak karakter dibanding predesornya, namun bagi saya, pertempuran berskala besar tersebut kurang menampilkan momen highlight nya. Tangkapan gambar maupun action sequence nya kurang spesial dan memorable, kecuali ketika para hero wanita nya bersatu dalam menghadapi pasukan yang dibawa Thanos. Malah saya lebih memilih adegan fight yang terjadi sebelumnya, dimana kita mendapatkan Thanos beraksi melawan para Avengers tanpa infinity gauntlet di tangannya. Lebih terasa akan aspek personal yang terlibat, serta juga mampu menampar keras bagi mereka yang meragukan betapa kuat nya Thanos. 

Apakah ini adalah film MCU terbaik? Saya menyerahkan jawabannya kepada Anda. Namun, untuk sebuah film penghormatan maupun surat cinta untuk para pahlawan MCU, jelas Endgame telah menjalankan fungsinya dengan sangat baik. Menarik dinantikan film-film MCU selanjutnya dengan pergerakan narasi yang baru. Good luck, Marvel, to topping this one on next film.

8,25/10




Thursday, 18 April 2019


The winter is finally here. Setelah hampir 8 tahun mengudara, akhirnya Game of Thrones akan menutup kisahnya di season 8 ini. Penggemar tentunya ingin menyaksikan bagaimana akhir dari salah satu serial terpopuler di dunia saat ini. Saya sendiri memulai petualangan bersama serial ini pada pertengahan 2016 dan tidak butuh waktu lama, 6 season berhasil saya lahap dan tidak usah ditebak, saya jatuh cinta pada serial ini. Sebenarnya saya ingin menulis review serial ini di season 7, namun dikarenakan keadaan, keinginan tersebut tertunda. Untuk itulah, saya bertekad untuk rutin menulis review episode demi episode di season 8 ini. Dan here we are, grab your Valyrian Sword and let's enjoy the ride.

Eps. 1: Winterfell (Review)

Directed by: David Nutter
Written by: Dave Hill


Seperti layaknya episode pertama di setiap season, episode ini pun didominasi akan build up untuk konflik yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai bonus, kita juga disuguhkan oleh setiap reuni dari beberapa karakter, sembari tetap menggulirkan plot nya. Bagaimana kenaifan Jon Snow (Kit Harington) sebagai ksatria menghalangi dirinya untuk tampil wibawa dan diplomatis di hadapan penduduk Utara, yang sebelumnya telah mendeklarasikan Jon Snow sebagai The King of The North. Namun, dikarenakan keinginan Jon Snow untuk menjalin aliansi untuk penduduk Westeros lainnya karena ancaman dari The Army of Dead, Jon Snow meletakkan tahta nya dan memberikan nya kepada adik tirinya, Sansa Stark (Sophie Turner) yang otomatis menjadi The Lady of Winterfell. Jon Snow pun berhasil menjalin aliansi dengan Daenerys Targaryen (Emilia Clarke) serta mengajak nya ke Winterfell. Hadirnya Daenerys tersebut tidak terlalu disambut baik oleh penduduk setempat, termasuk Sansa Stark. Tentunya romansa Jon Snow dan Daenerys juga dihadirkan, yang secara otomatis menjadi pasangan yang disukai penonton berkat kuatnya dua karakter ini serta chemistry meyakinkan yang dijalin antara Kit Harington dan Emilia Clarke. Menarik dinanti apakah keduanya tetap menjadi pasangan disebabkan Jon Snow akhirnya mengetahui jati diri sebenarnya.

Dua naga beserta pasukan Dothraki yang dibawa Daenerys pun menghadirkan permasalahan tersendiri perihal pangan yang tersedia seadanya akibat musim dingin yang melanda. Selain kondisi di Winterfell, kita juga diajak untuk melihat kondisi Cersei Lannister (Lena Headey) yang tengah disibukkan oleh Euron Greyjoy (Pilou Asbaek), kemudian Theon (Alfie Allen) yang mulai melakukan pergerakan untuk mengawali kebangkitannya. Sub plot bercabang ini memang sudah menjadi ciri khas dalam Game of Thrones, dan harus diakui di episode 1 ini berjalan cukup lambat dengan minim konflik yang terjadi, setidaknya hingga film menyentuh durasi akhir. Saya pribadi masih kesulitan untuk menyukai Sansa dan Bran Stark (Isaac Hempstead Wright). Keduanya seolah kehilangan hati semenjak kembali ke Winterfell, berbeda dengan Arya Stark (Maisie Williams) yang kerap menghadirkan kehangatan di setiap kehadirannya. 5 menit terakhir pada episode ini merupakan momen terbaik dengan menghadirkan adegan jumpscare cerdas serta "reuni" yang hadir di detik-detik akhir. Jelas cliffhanger ini menjadi penutup yang pintar sehingga penonton dibuat untuk tidak sabar untuk menantikan episode selanjutnya.

7,75/10

Eps. 2: A Knight of Seven Kingdoms (Review)

Directed by: David Nutter
Written by: Bryan Cogman




Istilah The calm before the storm layak disematkan pada episode 2 ini. Perang menghadapi The Army of Dead sudah didepan mata, dan fokus penceritaan sepenuhnya memperlihatkan para karakter utama yang berkumpul di Winterfell menghabiskan malam tenang yang bisa saja menjadi malam terakhir untuk mereka. Dari Daenerys yang mencoba menjalin pertemanan dengan Sansa, persiapan penduduk Winterfell dalam menghadapi serangan The Army of Dead, hingga konfrontasi antara Jaime Lannister (Nikolaj Coster-Waldau), yang sebelumnya harus menghadapi penghakiman terlebih dahulu didepan orang-orang yang memiliki masa lalu tidak menyenangkan di masa lalu akibat dirinya, dengan Brandon yang telah kita nantikan bersama. Walaupun memang lambannya pergerakan narasi tidak terlalu jauh berbeda dari episode sebelumnya, namun bisa saya katakan episode ini merupakan sebuah peningkatan. Interaksi antar karakter jauh lebih menarik, ditambah ada beberapa momen yang berhasil menjadi highlight tersendiri, seperti gathering di depan perapian yang menjadi momen favorit saya. Oh, tidak lupa juga Tormund (Kristofer Hifju) yang berhasil menjadi scene stealer berkat obsesi nya terhadap Brienne (Gwendolin Christie) yang tidak pernah gagal untuk memancing tawa dari penonton. 

Tetapi A Knight of Seven Kingdoms sepenuhnya dimiliki oleh Jaime. Bagi saya, Jaime adalah salah satu karakter yang memiliki perkembangan terbaik sepanjang seri Game of Thrones. Momen penghakiman di awal sendiri bagaikan throwback bagaimana di awal Jaime merupakan karakter yang sulit disukai berkat beberapa keputusan egoisnya yang mengakibatkan luka terhadap orang lain. Saya sendiri sedari awal tidak menyukai karakter ini, tetapi berkat transformasi karakternya pada season sebelumnya mengubah dirinya yang kini menjadi seorang pria yang memiliki kasih sayang dan lebih perduli akan orang yang disekitarnya, sehingga tidak ragu saya menetapkan Jaime sebagai karakter terfavorit saya di Game of Thrones, bersama Tyrion dan Arya Stark. Oh, mengenai Arya, pada episode ini, Arya semakin memantapkan dirinya sebagai wanita yang sudah dewasa (How lucky you are Gendry, you son of a gun).  

Serial Game of Thrones sendiri telah lekat akan keberaniannya dalam menewaskan karakter penting dalam cerita, dan bisa diprediksi, pada perang yang terjadi nanti, terdapat beberapa karakter yang telah menjadi fan favorite, akan tewas nantinya. Sebab itulah, dengan atmosfir kehangatan yang ditawarkan pada episode ini akan meningkatkan efek kehilangan penonton pada karakter bersangkutan. Saya sendiri akan senang hati bereuni kembali dengan episode ini setelah season 8 berakhir sebagai obat rasa kehilangan. 

8,25/10

Eps. 3: The Long Night

Directed by: Miguel Sapochnik
Written by: David Benioff & D.B Weiss


Perang puncak menahan invasi The Army of Dead yang diketuai The Night King akhirnya terjadi. Apakah umat manusia mampu bertahan atau tidak, semuanya ditentukan pada perang tersebut. Penduduk Winterfell bersama bala bantuan lainnya telah menyiapkan diri untuk menyambut "tamu" mereka di malam yang panjang nan mencekam. Mungkin ini terdengar berlebihan, namun saya yang telah mengantisipasi akan pertempuran ini membutuhkan waktu setidaknya 20 menit untuk bisa bernafas dengan normal kembali setelah menyaksikan episode 3 dari Game of Thrones ini. Terakhir kali, seingat saya, saya mendapatkan pengalaman sinematik seperti ini adalah ketika saya menyaksikan The Dark Knight Rises (2012) melalui laptop Toshiba saya yang kini sudah "tewas" (R.I.P).

Dalam durasinya yang menyentuh 81 menit (CMIIW, tapi sepertinya ini adalah episode Game of Thrones dengan durasi terlama dalam sejarah Game of Thrones) mengudara), penggemar disajikan pertempuran kolosal non stop berintensitas tinggi layaknya Battle of Helms Deep empunya The Lord of The Rings: The Two Towers. Serbuan tanpa henti dari The Army of Dead, ancaman The Night King bersama naga nya, memaksa saya untuk kesulitan bernafas. Kekhawatiran saya akan keselamatan para karakter utama juga senantiasa hadir. Iya, selain sajian pertempuran epik nya yang sendirinya telah menjadi sebuah pencapaian spektakuler dalam sejarah pertelevisian, ikatan emosi yang telah terjalin antara penonton dengan karakter favorit mereka dari season ke season juga menjadi salah satu faktor utama dibalik kesuksesan penyajian perang nya. 

Seperti yang saya ungkap di review episode 2, Game of Thrones telah lekat dengan keberanian serial ini untuk menewaskan karakter-karakter penting di dalamnya, dan sudah bisa ditebak, akan terdapat beberapa karakter yang harus mengucapkan selamat tinggal pada serial ini. Namun jangan khawatir, karakter-karakter yang tewas sendiri mendapatkan momen kematian yang layak dan tidak lewat begitu saja, bahkan setidaknya ada 2-3 karaktee yang mendapatkan momen badass yang takkan terlupakan. Selain itu, beberapa karakter lainnya juga dapat spotlight nya masing-masing, termasuk Daenerys yang dengan keberaniannya terjun langsung dalam pertempuran bersama anak nya.

Miguel Sapochnik, yang juga menyutradarai episode The Battle of Bastards, paham betul dalam menyajikan pertempuran berskala besar nan epik. Baik itu pertempuran di langit yang memperlihatkan para naga bertarung, di wilayah darat terdapat para The Army of Dead yang menyerang tanpa kenal lelah menyebarkan ancaman sehingga mampu menyudutkan para ksatria Winterfell, hingga di dalam benteng Winterfell yang berhasil memberikan atmosfir klaustrofobik. Sapochnik juga cerdas dalam menyajikan momen-momen keren, seperti ketika Melisandre (Carice Van Houten) menyalakan api membara di pedang Dothrakis juga saat ia berhasil mengobarkan api untuk membakar parit untuk menghalangi para white walkers, shot menawan di langit bersama bulan beserta awan yang layak dijadikan wallpaper di hp dan lainnya. Susah rasanya untuk tidak merasakan kepuasan melihat hasil kerja Sapochnik disini. Tidak lupa soundtrack-soundtrack gubahan Rawin Djawaldi yang memorable, terutama track A Night King yang membahana di menit-menit akhir, sangat mampu menggambarkan suasana despair yang tengah dialami masing-masing karakter. 

Namun, episode 3 ini tidak lepas dari beberapa kekurangan. Setting nya yang terjadi di malam hari pun menjadi kritik terbesar dan menjadi bahan meme dari penggemar, sehingga penonton kesulitan untuk menangkap apa yang sedang terjadi di medan perang. Strategi perang yang diperlihatkan serta keputusan-keputusan "aneh" untuk sebagian karakter juga menjadi sorotan. Kemudian, benar jika sebagian besar dari setiap karakter yang terlibat dalam perang mendapatkan momen cemerlang nya masing-masing, namun tidak untuk karakter yang berada di ruang bawah tanah. Seperti Tyrion (My favorite GoT's character) sama sekali tidak mendapatkan ruang untuk bersinar, begitu pula dengan Sansa Stark. Selain itu, Brandon Stark pun berhasil menjadi titik kelemahan terbesar di episode 3 dengan keberadaannya yang sama sekali tidak terlihat akan fungsinya, sehingga dirinya menjadi karakter paling tidak saya sukai hingga saat ini di episode 3. Beberapa kekurangan yang harus diakui cukup mengganggu ini lah yang menghalangi The Battle of Winterfell ini untuk menjadi pertempuran terbaik dalam serial Game of Thrones, yang kini masih disandang oleh The Battle of Bastards yang bagi saya hampir flawless. Namun untuk saya, episode 3 ini sudah berhasil memenuhi ekspektasi saya yang cukup tinggi sehingga saya tidak ragu untuk menobatkan episode ini adalah salah satu episode terbaik dalam sejarah Game of Thrones.

9/10

Episode 4: The Last Stark

Directed by: David Nutter
Written by: David Beniof & D.B Weiss



Episode ini diawali dengan "epilog" setelah perang besar melawan The Army of Dead. Penghormatan dilakukan, Daenerys dan Sansa mengucapkan salam perpisahan terakhir untuk Jorah dan Theon. Kemudian narasi bergerak ke malam perayaan. Pembukaan ini memang seperti filler, pengisi waktu saja, namun saya menyukai pilihan ini, apalagi setelah episode sebelumnya yang seolah tidak mengijinkan penonton untuk bernafas sedikit saja, maka pembukaan ini mencoba untuk mengajak penonton rehat sejenak dengan menyaksikan para karakter saling berinteraksi, walau tetap menggulirkan plot nya. 

Fokus utama di episode ini berpusat pada Daenerys, yang mulai terganggu dan bimbang atas rahasia identitas dari Jon Snow. Tampak jelas betapa bergejolak batin dalam diri Daenerys kala ia melihat begitu banyak mencintai Jon Snow berkat andil dan pencapaiannya selama ini, sedangkan Daenerys? Ia seolah terasingkan di daerah Utara. Bahkan jasa Daenerys yang sangat besar untuk membantu umat manusia bisa menang melawan The Night King & co. seolah dianggap angin lalu. Gejolak ini diperparah pula oleh Sansa yang masih saja tidak berkurang ketidak sukaan nya pada Daenerys. Mengenai Sansa, dia berhasil menduduki puncak teratas bersama Bran dalam gelar karakter paling saya benci di season ini. 

Kelemahan penulisan yang selama ini menjadi bahan kritik terbesar terhadap David Beniof & D.B Weiss mulai saya rasakan disini. Memang kelemahan ini telah disuarakan dari awal season, tetapi pada episode 4 ini lah saya mulai merasakan nya. Di episode 3 yang banyak juga menerima keluhan selain setting malam hari nya, tidak terlalu saya rasakan pada menonton pertama kali karena distraksi aksi spectacle nya yang saya harus akui memang sangat menghibur. Namun, dengan lambannya perguliran narasi, tidak ditampik bila saya pun ikut merasakan hal yang dirasakan oleh penggemar lainnya. D&D seolah mendadak amnesia akan karakterisasi pada beberapa karakter, terutama mengenai Daenerys. Mungkin pada episode The Last Stark inilah pertama kali saya tidak menyukai Daenerys semenjak season pertama! Daenerys mengalami degradasi karakter terparah sepanjang Game of Thrones mengudara. Character arc Daenerys pun akan menjadi jembatan pada kejadian besar yang akan terjadi di episode selanjutnya. 

Perubahan sikap dari Daenerys ini berdampak juga akan kebimbangan yang dialami oleh dua penasihat Daenerys, Tyrion dan Varys. Sedangkan Jon tetap yakin jika Daenerys adalah penguasa Iron Thorne yang tepat. Pada menit-menit akhir, David Nutter dan D&D kembali mengulangi kesalahan pada episode 4. Banyak sekali momen-momen mengganggu logika dan berbeda di episode 4 yang tidak terlalu saya perdulikan berkat sajian perang nya yang memiliki fast pacing, adegan aksi disini berjalan cukup lamban sehingga saya yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikan hal detil, menanyakan bagaimana Euron dkk. bisa merepotkan Daenerys beserta kedua naga nya. 

Kematian satu karakter di ending harus saya akui merupakan cliffhanger ending yang cerdas nan efektif. Momen kematian di akhir memang tidak pernah gagal untuk memaksa penonton untuk diliputi rasa penasaran akan tindakan apa yang akan dilakukan akibat kematian tersebut. Walau begitu, saya sedikit merasa dikecewakan akan episode ini dikarenakan penulisan karakter Daenerys. Bukan episode yang buruk, namun tentunya D&D bisa menulis naskahnya jauh lebih baik dari ini.

7,5/10

Episode 5: The Bells

Directed by: Miguel Sapochnik
Written by: David Benioff & D. B. Weiss


SPOILER ALERT!!
Perang perebutan tahta Iron Thorne akhirnya pecah. Daenerys bersama pasukannya tidak ragu-ragu lagi untuk menyerang King's Landing demi melengserkan Cersei Lannister dari puncak kekuasaan. Tidak ingin King's Landing berubah menjadi lautan mayat jutaan manusia, Tyrion pun memiliki rencana sendiri dan meminta kepada Daenerys untuk segera menghentikan serangan jika bel di King's Landing berbunyi, bukti jika pasukan King's Landing telah menyerah.

Singkirkan harapan kalian yang ingin mengharapkan pertarungan sengit layaknya The Battle of Winterfell atau bahkan The Battle of Bastards, karena apa yang terjadi di layar adalah sebuah pembantaian tanpa ampun yang dilakukan oleh Daenerys. Iron Fleet dengan Scorpion mereka yang sempat membunuh Rhaegal dan memaksa The Unsullied kehilangan kapal mereka, seolah kehilangan magis nya di episode ini. Bahkan The Golden Company sama sekali tidak memiliki momen cemerlang, yang membuat saya bertanya untuk apa sebenarnya tujuan eksistensi mereka pada serial Game of Thrones. 

Kepiawaian Miguel Sapochnik dalam menyajikan sekuen aksi menawan dan menegangkan sudah tidak perlu diragukan lagi. Tanpa adanya pertempuran yang sengit pun, Sapochnik masih mampu menyebarkan efek despair ataupun putus asa dengan menangkap sudut-sudut kecil setiap pelosok King's Landing. Dan juga seperti biasa, Sapochnik masih mengandalkan long take pada satu karakter untuk meningkatkan intensitas nya. Dibantu dengan soundtrack Ramin Djawadi yang tidak pernah mengecewakan penonton, susah untuk tidak merasa terpana dengan sajian dalam layar. Andai saja D&D tidak merusak total karakter Daenerys di episode 5 ini, bisa jadi episode ini adalah peningkatan dibanding episode sebelumnya.

Melalui episode 5, D&D seolah mengacungkan jari tengah terhadap pengembangan karakter Daenerys dari season pertama hingga ketujuh. Tidak pernah terbesit di benak saya jika akan ada datangnya hari saya bisa membenci Daenerys, cukup dengan dua episode!! Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan saya, namun character arc dari Daenerys merupakan salah satu faktor utama mengapa saya masih mengikuti Game of Thrones hingga sekarang. Saya ingin sekali melihatnya berkuasa di Iron Thorne, setelah perjuangan luar biasa nya dari East dalam membangun suatu pasukan aliansi terkuat di Westeros, membebaskan para budak dan memerdekakan mereka, termasuk The Unsullied. Memang bukan pertama kali Daenerys menyuruh anak-anaknya dalam membakar manusia, namun tindakan tersebut didukung oleh motif yang mampu dipahami dan penonton pun tidak menyalahkan dirinya sepenuhnya, terutama pada kasus Tarly's. Daenerys meminta mereka untuk bend the knee, namun keduanya menolak hingga Daenerys akhirnya membakar mereka berdua.

Namun, saat Daenerys mulai membakar, literally, semuanya di King's Landing, termasuk jutaan penduduk di kota tersebut. Saya hanya bisa bertanya, bagaimana bisa? Karakter yang dikembangkan secara perlahan, hati-hati hingga ia berhasil menjadi kandidat terkuat untuk menduduki Iron Thorne, berhasil menjadi the most hated/dissapointed character akibat transformasi nya menjadi The Mad Queen. Apakah demi sajian spectacle nya, pihak D&D seolah melupakan tanggung jawabnya sebagai penulis sehingga rela mengorbankan karakterisasi Daenerys? Lalu juga, Kenapa Arya masih bisa bertahan hidup di King's Landing atas serangan-serangan luar biasa dari Daenerys.

Meski episode ini mengecewakan hingga membuat saya "berserk"", setidaknya kita masih diberikan kesempatan untuk final stand off antar saudara, Sandor Clegsne (Roy McCann) vs Mountain (Hafþór Júlíus Björnsson) yang berhasil membuat saya bersorak dan Clegane pun akhirnya mendapatkan akhir yang layak untuk character arc nya. Tyrion pun mendapatkan momennya, terutama tik tok nya dengan Jaime yang hampir membuat saya menitikkan air mata. 

6.75/10

Episode 6: The Iron Throne

Directed & Written by: David Benioff & D. B. Weiss


Saya tidak pernah menyangka akan ada hari dimana saya bisa tidak perduli terhadap episode Game of Thrones. Dan ironis nya lagi, perasaan ini datang kala episode terakhir pada season terakhir pula dari TV series favorit saya. Ternyata, cukup dengan dua episode yang super mengecewakan saja yang memaksa perasaan kosong ini datang. Cukup dengan dua episode, saya benar-benar dibuat tidak perduli akan akhir kisah dari para karakter Game of Thrones, terbukti saya baru punya mood untuk menulis review episode terakhir ini setelah mengudara kurang lebih 1 minggu lewat. Saya dibuat tidak perduli apakah  akhirnya Daenerys berhasil atau tidak untuk duduk di singgasana Tahta \Besi di King's Landing, saya dibuat tidak perduli akan akhir kisah The Starks, termasuk Arya, dan lebih menyedihkannya lagi, saya dibuat tidak perduli juga akan nasib Tyrion freakin' Lannister, which is my favorite and beloved character in Game of Thrones!! 

Saya cukup menyukai adegan opening nya yang dibuka dengan cukup sunyi. Kita melihat dari sudut pandang Jon Snow maupun Tyrion hasil dari pembantaian Daenerys bersama anaknya, Drogon, pada King's Landing. Rasa sedih cukup saya rasakan ketika tangisan Tyrion membuncah ketika ia menyaksikan mayat dua saudara nya yang tertimpa runtuhan bangunan Red Keep. Meski karakter nya mengalami degradasi semenjak season 5, Peter Dinklage masih menawarkan penampilan yang mengagumkan, dan ini terbukti pada adegan tersebut. Dan percayalah, momen berduka Tyrion ini pula mengakhiri elemen positif pada episode ini, karena di menit-menit selanjutnya, sulit untuk tidak merasakan kecewa atas konklusi nya terhadap karakter-karakter utama. Padahal ekspektasi sudah saya pasang serendah mungkin, namun saya masih merasakan kekecewaan. Oh God, what went wrong...

Paling mengecewakan jelas adalah konklusi siapa yang pada akhirnya menduduki singgasana The Iron Throne, dan jawabannya adalah karakter yang paling saya benci di season ini, yaitu Brandon Stark!!!! Karakter yang dari episode awal hingga sekarang di season ini sama sekali tidak melakukan apapun. Dirinya hanya hadir dengan tatapan kosong, dialog yang dilontarkan tidak ada sama sekali yang melekat dan jangan tanya juga kontribusinya yang bisa dibilang nihil hingga sekarang. Dan dirinya terpilih menjadi Raja dari 7, oh sori, 6 kerajaan??? You've gotta be kidding me!!! Konklusi ini pun menjadikan narasi identitas sebenarnya dari Jon Snow semakin tidak ada artinya. Oh, mengenai Jon Snow, dirinya kembali dikirim bertugas menjadi The Night's Watch sebagai hukuman dari keputusannya membunuh Daenerys (Ga perlu di spoiler lah ya, udah seminggu lebih juga). Character arc dari Daenerys mungkin salah satu hal paling mengecewakan dari season 8. Karakter yang begitu menginspirasi sebagian besar penonton berkat perjuangannya mendapatkan kekuatan yang begitu besar sehingga dirinya menjadi kandidat terkuat untuk bisa merebut singgasana Iron Thorne, mendapatkan konklusi yang datar. Tidak ada kesan bittersweet kala Jon Snow menghujamkan pisau tajam ke dada nya. Hanya ada rasa kecewa lagi mengingat betapa banyak kerusakan narasi yang dilakukan oleh D&D terhadap salah satu karakter favorit saya ini. 

Udah sih ya, saya tidak perlu menulis panjang-panjang karena intinya, saya begitu kecewa akan akhir episode ini. Sedih rasanya dua tahun penantian berakhir dengan mengecewakan seperti ini. Mungkin beginilah hasil dari penulisan yang terburu-buru, mengorbankan character development sepanjang 7 season, hanya mementingkan sajian visual effect serta adegan spectacle tanpa memperhatikan detil penulisan. I still love this series, I still love Game of Thrones, but it's hard to not feel dissapointed.

6/10

Overall Season 8 rating: 8/10

Minus 2 for Bad Writing and Decision
6/10

Thursday, 28 March 2019


"Talk. Talk. Talk. No more talk"- Payu

Plot

Misi dendam diusung Jaka (Iko Uwais) saat istrinya tewas akibat dari serangan gerombolan bersenjata laiknya para tentara. Dua diantara gerombolan tersebut adalah Payu (Tony Jaa) dan Long Fei (Tiger Hu Chen) yang rupanya mendapati diri mereka ditipu dengan iming-iming misi kemanusiaan. Tujuan utama dari gerombolan tersebut tidak lain tidak bukan adalah demi membebaskan Collins (Scott Adkins). Di sisi lain, gadis kaya, Xian (Celina Jade), ingin menginvestasikan kekayaannya di kota Maha Jaya untuk mengurangi angka kriminalitas di kota tersebut. Namun, niatnya tersebut malah membuat dirinya harus menjadi incaran Collins dkk.



Review

Sesaat setelah menyaksikan Triple Threat yang disutradarai oleh Jesse V. Johnson ini, saya seketika kembali mengingat Half Time Show di Super Bowl tahun ini. Pertunjukan tersebut berpotensi menjadi acara yang ikonik berkat adanya petisi supaya lagu Sweet Victory yang dipopulerkan oleh Spongebob Squarepants itu dibawa pada pertunjukan tersebut. Harapan fans tersebut seolah didengar oleh pihak NFL dengan menyajikan klip dari Spongebob, namun kekecewaan harus diterima oleh para fans karena alih-alih track Sweet Victory yang diputar, malah lagu Sicko Mode yang mengudara. Rasa kecewa yang besar tentu saja tidak bisa dielakkan, dan hal tersebut terbukti dengan jumlah dislike pada video pertunjukan itu di kanal Youtube resmi milik NFL. Mengapa saya membahas ini? Karena situasi tersebut sedikit banyak memiliki kemiripan dengan film ini.

Materi yang dimiliki sudah lebih dari cukup, dimana Triple Threat dibintangi oleh para aktor laga Asia yang telah memiliki nama. Ada Tony Jaa, Tiger Hu Chen dan tentunya Iko freakin' Uwais! Bayangan mereka bertiga beradu kelihaian bela diri dalam layar secara otomatis muncul dalam benak. Siapa tahu, penonton mampu mendapatkan sajian threesome ikonik dari Yuda & Andi vs Mad Dog dalam The Raid kembali. Namun, sayang beribu sayang, potensi besar tersebut seolah dibuang percuma oleh Johnson. Tidak hanya penonton tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan, namun Johnson juga tidak mampu menyajikan sajian adegan aksi yang melekat di dalam ingatan.

Adegan pembuka Triple Threat sebenarnya cukup memuaskan. Setelah pengenalan sosok Xian, adegan beralih ke penyerangan tiba-tiba pada suatu pemukiman di dalam pedalaman hutan. Adegan invasi mendadak nya memang tidak spesial, namun kita sempat menyaksikan momen face to face antara Iko Uwais dan Tony Jaa. Duel tersebut memang berlangsung cukup singkat, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat saya menantikan duel ulang mereka lagi di dalam film. Tidak lama dari itu, kita juga diberikan duel antara Iko dengan Tiger Hu Chen. Namun rupanya, momen ketika duel tersebut berakhir, disitu juga lah kesenangan penonton berakhir. Karena hingga akhir film, kita sama sekali tidak diperlihatkan mereka kembali beradu jotos di sebabkan mereka bertiga berdiri di pihak yang sama. 

Saya mencoba berpikiran positif. Mungkin saja Johnson ingin mereka bertiga beradu masing-masing satu lawan satu dengan pihak antagonist disini. Selain Iko, Tony dan Tiger, ada juga Michael Jai White, Scott Adkins, Michael Bisping dan Jeeja Yanin yang telah memiliki nama pula dalam film laga. Dan memang itulah yang kita dapatkan di klimaks nanti, namun dari cara penyajian Johnson di adegan klimaks tentunya sangat berlawanan dari yang kita semua inginkan. Memang masih ada sajian martial arts nya, namun tempo nya sangat singkat. Selain itu pula diiringi adegan baku tembak standar ala film action tanpa ada nya ketegangan serta adrenalin yang terlibat. 

Kekecewaan tidak hanya berhenti dari situ saja, karena sebagai penonton dari Indonesia, sudah pasti saya mengharapkan Iko Uwais mampu mendapatkan treatment yang layak sesuai dengan bakat bela dirinya, setidaknya seperti apa yang dilakukan Peter Berg di Miles 22 nya. Namun beribu sayang kembali, Johsnon tampak kebingungan dalam memanfaatkan bakat yang dimiliki Iko. Sama sekali tidak ada spotlight yang didapatkan Iko dalam film ini karena Johnson membuat karakter Jaka terlihat begitu lemah. Seringkali ketika ia beradegan adu jotos, Iko mendapatkan keberuntungan sesaat atau dibantu oleh partner nya dalam menumbangkan musuhnya. Tidak cukup hanya itu, Johnson pun membuat karakter yang diperankan Iko terlihat bodoh dengan segala rencana balas dendam nya yang bisa dibilang ngalur ngidul.

Jika sajian-sajian aksi nya saja tidak mampu menyelamatkan film ini, apalagi dengan naskahnya. Naskah dari Joey O'bryan dan Fangjin Song layaknya film action kelas B dengan ceritanya yang tipis, aneh dan lumayan tidak masuk akal. Mau contoh? Ada adegan dimana Jaka menelepon pihak Kedutaan Cina untuk melaporkan keberadaan Xian. Adegan tersebut normal saja, jika Iko menghubungi Kedutaan Cina dengan bahasa Inggris. Ya, Iko melaporkan kondisi Xian dengan bahasa Indonesia dengan EYD yang sempurna! Bukti jika O'Bryan dan Song sama sekali tidak menutupi jika naskahnya memang aneh dan (maaf) bodoh. 

Kelemahan di divisi naskah bisa saja dimaafkan andai saja sekuen aksi nya bisa disajikan dengan benar dan mampu memanfaatkan masing-masing bakat seni bela diri setiap lakon. Nihilnya adegan aksi yang mampu membuat penonton pecinta laga berorgasme ria membuat Triple Threat jatuhnya hanya menjadi film aksi biasa yang dibintangi aktor laga yang tidak biasa.

6,5/10



Wednesday, 20 March 2019


"There are no military targets here. It is a complete and utter lie"-Marie Colvin

Plot

Mengisahkan perjuangan jurnalis ternama, Marie Colvin (Rosamund Pike), dalam melakukan tugasnya di medan konflik.




Review

Rosamund Pike kembali memberikan performa Oscar-Worthy dalam memerankan reporter ternama, Marie Colvin. Selain menampilkan sosok Marie yang seolah tidak kenal takut ketika menjalankan tugasnya sebagai jurnalis, Pike turut pula menampilkan sisi lain dari Marie yang rapuh dan terkena efek trauma atas segala hal yang ia saksikan di wilayah konflik. Baik dari tatapan mata nya, ataupun gestur lengannya yang gemetar kala menghisap puntungan rokok, penonton mampu menangkap kesedihan juga kemarahan atas apa yang Marie saksikan. 

A Private War yang diadaptasi dari tulisan Marie Colvin berjudul "Marie Colvin's Private War" ini sukses memposisikan penonton seolah kita adalah rekan kerja Marie yang pula turut menjadi saksi akan kejamnya realita konflik yang tengah terjadi. Teror berhasil terasa dengan adanya berondongan peluru, dentuman suara RPG atau bom yang tidak bisa diprediksi kapan akan menyerang. Selain itu, sang sutradara, Matthew Heineman tidak sungkan juga memperlihatkan para korban yang terluka. Tidak terlalu disturbing memang, tetapi cukup untuk penonton yang mengidap hemophobia memalingkan mata. Seperti Marie juga, kita sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan konflik yang tengah berlangsung sehingga menjadikan A Private War bergulir secara realistis. 

Naskah yang ditulis Marie Brenner serta Arash Amel sepenuhnya memfokuskan penceritaan pada sosok Marie. Dari setiap peristiwa yang terjadi di medan konflik yang ditangkap melalui sudut pandang Marie, diikuti juga akan dampak yang harus diterima oleh Marie. Seperti apa yang diungkapkan oleh Paul Conroy (Jamie Dornan), pahitnya pengalaman yang dialami Marie lebih buruk dibandingkan tentara militer sekalipun.  Tidak hanya kehidupan pribadi nya yang seolah tidak terurus, Marie harus kehilangan mata di kala bertugas, dihantui oleh mimpi buruk yang seolah tidak bosan menghinggapi Marie, serta mengidap PTSD sehingga memaksa Marie harus menjalani perawatan. Namun semua hal tersebut tidak menghentikan Marie untuk tetap menjalankan tugas nya untuk memberikan kabar berita yang harus diketahui oleh dunia. 

Jalannya narasi memang sedikit terasa repetitif. Cerita senantiasa bergulir dari sebelum, ketika, dan sesudah Marie bertugas hingga nanti puncaknya Marie melaksanakan tugas terakhir nya di daerah Syria. Sedikit kekurangan film ini adalah transisi penceritaan tersebut kurang terasa menjembatani narasinya. Maksud saya, setiap motif Marie sehingga rela menempatkan nyawanya dalam bahaya untuk bisa melaporkan kejadian tak terungkap di daerah konflik kurang tereksplor. Mungkin secara subtil, Heineman telah memberikan jawaban yang terlewatkan oleh saya. Namun hingga film berakhir, saya kurang mampu memahami alasan Marie untuk senantiasa tetap menerima tugas yang sangat bahaya tersebut. Satu-satunya jawaban saya adalah sosok Marie bagaikan William James di film The Hurt Locker, dimana keduanya telah kecanduan dan menemukan kesempurnaan hidup kala mereka melakukan pekerjaannya. Bukan berarti Marie menikmatinya, namun seperti candunya pada rokok atau minuman keras, Marie tidak bisa berhenti untuk tetap terus menjalankan profesinya, walau pun kembali, profesi tersebut berpotensi besar dapat mengakhiri hidupnya. Terlepas dari apa yang mendorong Marie, A Private War sudah menjalankan tugas nya dengan baik dalam menangkap bagaimana bahaya nya pekerjaan jurnalis di medan perang demi menyampaikan sebuah berita yang mungkin tidak akan terungkap jika tanpa mereka serta begitu banyak yang mereka pertaruhkan.

8/10





Tuesday, 12 March 2019


"I have nothing to prove to you"- Carol Danvers

Plot 

Kegagalannya dalam suatu misi penyelamatan sebagai Starforce dari planet Kree, Vers (Brie Larson) ditahan oleh kawanan Skrull yang dipimpin oleh Talos (Ben Mendelsohn). Vers berhasil kabur, namun upaya kaburnya tersebut malah membuat dirinya mendarat ke bumi. Penampilannya yang mencolok serta pendaratannya yang "unik" sukses membuat Vers menarik perhatian, tidak terkecuali para agen S.H.I.E.L.D yang salah satunya adalah Nick Fury (Samuel L. Jackson) dan Phil Coulson (Clark Gregg). Tidak hanya itu, Talos beserta anggota Skrull lainnya pun berhasil mengikuti Vers hingga ke bumi dan berupaya untuk menemukan Vers dengan kekuatan penyamaran mereka. Sementara itu, anggota Starforce lainnya yang dipimpin Yon-Rogg (Jude Law) berusaha menyelamatkan Vers. 




Review

Melalui tulisan saya sebelumnya, saya telah mengungkapkan akan keraguan saya akan kualitas akhir dari film ini. Keraguan saya didasari akan rumor agenda-agenda politiknya yang turut menjadi bahan marketing dari pihak Marvel atau Disney. Sudah bukan rahasia umum lagi jika penonton kurang menyukai unsur politik dicampur adukkan dalam sebuah film. Tengok saja backlash yang diterima The Ghostbuster hingga Star Wars: The Last Jedi. Tidak hanya itu, berbagai kontroversi pun ikut mengiringi film ke 21 dalam sejarah MCU ini seperti pernyataan tidak penting dari artis pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson hingga keputusan Rotten Tomatoes yang menghilangkan skor Want to See di website mereka. Walaupun begitu, semua drama ini sepertinya tidak menghentikan Captain Marvel untuk menorehkan kesuksesan dalam finansial. Sampai tulisan ini saya buat, angka box office dari Captain Marvel cukup fantastis. Lalu bagaimana dengan kualitas film nya itu sendiri?

Jujur, saya merupakan salah satu "fans" yang sedikit antipati dengan film ini sehingga saya pun memasuki studio 2 di Cinema 21 Palembang Square dengan ekspektasi serendah mungkin. Dan percaya atau tidak, berkat hal tersebut, ternyata mampu membuat saya cukup menikmati Captain Marvel, walau saya akui, Captain Marvel mungkin adalah salah satu film terlemah dari MCU.

Poin kelemahan Captain Marvel adalah di awal-awal durasi, dimana Vers masih menjalani tugasnya sebagai anggota dari Starforce. Disini saya mendapati narasinya kurang menarik atensi, ditambah lagi karena memang saya tidak terlalu paham dengan dunia atau universe Marvel itu sendiri. Kita mendapati jika Vers sudah memiliki kekuatan super, namun Vers masih kesulitan dalam mengendalikan kekuatan tersebut. Selain itu, ia juga kesulitan dalam mengendalikan emosinya sehingga berulang kali Yon-Rogg mengingatkan dirinya untuk bisa lebih tenang. Adegan aksi penyelamatannya pun cenderung biasa saja. Rasa bosan pun seketika menyerang saya, dan entah berapa kali saya harus menguap akibat rasa bosan tersebut.

Duo sutradara Anna Boden-Ryan Fleck pun mulai menemukan ritme penceritaan kala Vers menginjakkan kaki nya di planet Bumi. Apalagi dengan kehadiran sosok Samuel L. Jackson dengan balutan CGI di muka untuk membuatnya terlihat jauh lebih muda sontak mulai perlahan merebut atensi saya. Kawanan Skrull yang mampu menyamar secara sempurna pun turut menambah bumbu penceritaan, sehingga cerita Vers dalam memburu mereka terasa menarik. Di awal misi Vers di Bumi juga memberikan kita suguhan aksi baku hantam di kereta api yang jelas lebih baik dibandingkan di sekuen aksi di awal.

Unsur "buddy cop" antara Vers dan Fury juga begitu kental terasa saat mereka mulai bekerja sama dalam mencari Skrull. Untuk pertama kalinya dalam sejarah MCU, kita menyaksikan sosok Fury sebagai comic relief. Interaksi nya bersama kucing Goose, yang telah mencuri perhatian bahkan semenjak kemunculannya di trailer, berhasil menjadi highlight dalam film ini.

Hingga pada momen terungkapnya masa lalu Vers yang sebenarnya merupakan penduduk asli Bumi dengan nama Carol Danvers, akhirnya saya sepenuhnya benar-benar terikat dengan narasi Captain Marvel. Momen terungkapnya jati diri tersebut berhasil membangun jembatan emosi saya terhadap salah satu karakter yang terlibat. Dugaan berhasil dikelokkan, dari tidak menyukai berbalik mendukung berkat twist nya yang efektif. Lashana Lynch sebagai Maria berhasil menyuntikkan hati akan penceritaan. Hubungan persahabatan antara Carol dan Maria cukup sukses memberikan suatu momen emosional tersendiri. Interaksi antara Carol dan anak Maria, Monica (Akira Akbar) juga memberikan kita kesempatan untuk melihat sisi lembut dari Carol. Sayang memang hubungan Carol bersama anggota Starforce lainnya, terutama dengan Yon-Rogg yang merupakan partner terdekatnya tidak dieksplor lebih jauh.

Mengenai sekuen aksinya bisa dibilang tidak ada yang terlalu memorable walau masih ampuh untuk memanjakan mata, termasuk sekuen aksi terakhir yang terlampau singkat. Oh ya, mendekati akhir, duo Anna-Ryan berhasil "menipu" ekspektasi kita dengan menampilkan salah satu momen lumayan kocak yang sepertinya diniati sebagai tribute untuk Indiana Jones. Nuansa 90an juga ikut terasa berkat adanya soundtrack dari No Doubt dan Nirvana. Mengenai lagu Come As You Are nya Nirvana, saya sedikit merasa penempatan lagu nya sedikit keliru, tidak ngeblend dengan cerita yang sedang berlangsung. Yah, hanya komplain kecil saja sih.

Para "haters" Brie Larson tentu akan gigit jari melihat aktingnya sebagai Carol disini. Larson berhasil membuktikan jika dirinya piawai dalam mengekspresikan emosi, dari sorotan mata hingga pada sunggingan senyumnya. Dirinya pun bisa menjalin chemistry yang meyakinkan dengan karakter-karakter lainnya, terutama tentu saja dengan Fury dimana ia tampak begitu percaya diri dalam bertukar dialog dengan Samuel L. Jackson, sehingga untuk saya, tidak sulit untuk menyukainya. Samuel L. Jackson sendiri tidak perlu diragukan lagi talenta komedik nya yang selalu tepat sasaran. Namun, jika harus memilih yang terbaik, saya memilih Ben Mendelsohn.

Dalam Captain Marvel, ada suatu kilasan cerita mengenai kisah hidup Carol Danvers yang kerap kali jatuh bangun untuk bisa melakukan sesuatu. Namun, tidak perduli berapa kali ia terjatuh, Carol tidak pernah berhenti untuk bangkit dan mencoba kembali, seolah ia menyadari jika semuanya akan berakhir jika ita tetap terbaring di tanah. Momen tersebut pun diikuti dengan berhasilnya Carol menguasai sepenuhnya akan kekuatan. Momen ini juga seolah merefleksikan pada situasi tidak mengenakkan yang diterima film ini dalam masa mendekati perilisan. Tidak perduli dengan segala keraguan hingga cemoohan yang ada, Captain Marvel membuktikan dengan hasil akhir nya yang jauh dari kata mengecewakan. Bukan yang terbaik dalam MCU tentu saja, namun film ini berhasil menjalankan misinya untuk mengenalkan salah satu superhero terpenting di The Avengers: Endgame nanti dengan sosok Captain Marvel yang likeable, serta humanis. Tentu saya masih keberatan sih jika Captain Marvel yang menghentikan Thanos nantinya.

7,5/10



Thursday, 28 February 2019


Oh boy, what an interesting story we got here. Cerita yang begitu menarik sehingga mampu memaksa saya yang pemalas ini rela untuk membuat suatu tulisan untuk film yang bahkan belum dirilis. Kalau Anda mengikuti perkembangan dari film superhero wanita pertama dari MCU ini, Anda pasti telah mengetahui berbagai kontroversi yang mengitari Captain Marvel sehingga melahirkan backlash dari kalangan penggemar MCU sendiri. Dari trailer-trailer nya yang dinilai kurang meyakinkan, aroma propaganda SJW, fans yang menolak bila nanti Captain Marvel lah yang diisukan merupakan pahlawan yang menyelamatkan The Avengers dan mampu mengalahkan Thanos, hingga yang paling mengganggu fans adalah pernyataan kontroversi dari pemeran Captain Marvel itu sendiri, Brie Larson. Dan yang terbaru adalah situs Rotten Tomatoes memutuskan untuk menghilangkan skor "Want to see" di website tersebut.


Saya merupakan tipe penonton  yang tidak terlalu mengandalkan sebuah trailer untuk mematok sebuah ekspektasi. Kecuali trailer Super Bowl dari Captain Marvel yang cringeworth tersebut, saya tidak terlalu mempermasalahkan trailer-trailer nya yang lain. Betul memang bila dari trailer tersebut kita belum bisa menebak sepenuhnya narasi dari Captain Marvel. Tetapi akan menjadi tindakan teledor pula menurut saya jika pihak Marvel memberikan clue yang banyak di dalam trailer nya. Saya masih ingat bagaimana geramnya saya atas kebodohan pihak Warner Bros atau DC yang menghadirkan sosok Wonder Woman pada trailer film Batman V Superman. Para fans juga mengkritik (atau lebih tepatnya khawatir) akan kapabilitas akting dari Brie Larson yang minim ekspresi pada trailer nya hingga ada yang membandingkan dirinya dengan karakter Bella Swan dari Twilight franchise. Dan disini saya juga kurang sependapat dan sepenuhnya masih mempercayai bila Brie Larson akan memberikan penampilan yang prima nantinya. Kapabilitas akting Brie Larson bagi saya cukup mumpuni, hell, she's already got an Oscar on her pocket. Lihatlah bagaimana meyakinkannya dia memerankan seorang ibu yang hopeless juga depresif pada film Room (2015).




Namun rasa optimis saya mulai memudar kala muncul rumor jika Captain Marvel akan dijadikan kampanye isu politik dari pihak SJW dan ingin menjadikan sosok Captain Marvel adalah ikon dari feminis. Dan isu inilah yang berhasil membuat saya mulai ragu apakah saya masih bisa menyukai film ini atau tidak nanti. Tampaknya pihak Disney masih belum belajar dari bagaimana para fans Star Wars yang sangat kecewa akan hasil akhir dari The Last Jedi maupun Solo. Pihak Disney masih juga belum menyadari jika para fans sama sekali tidak ingin franchise kesayangan mereka dilibatkan dalam politik SJW.

Franchise MCU memang tidaklah setua Star Wars, namun lebih dari satu dekade semenjak Iron Man dirilis, franchise ini berhasil melahirkan para fans yang loyal dan mencintai MCU. Para fans begitu perduli pada karakter-karakter nya, bahkan hingga karakter minor seperti Ned, Maria Hill dan tentunya Phil Coulson. Selain itu, Marvel juga berhasil menaikkan derajat superhero mereka seperti Ant-Man, Dr. Strange, dan The Guardians of the Galaxy. Bayangkan saja, sebuah franchise yang dibangun perlahan namun meyakinkan dengan karakter-karakter yang dicintai di dalamnya, harus tercoreng akibat kepentingan politik semata. Bayangkan rasa kesal nan kecewa yang harus dirasakan para penggemar MCU.


Kondisi yang sudah tidak mengenakkan ini, diperparah pula akan pernyataan-pernyataan tidak penting dari Brie Larson. Sudah bukan rahasia umum lagi bila Brie Larson adalah salah satu "agen" feminis layaknya Amy Schumer, tapi apakah begitu sulitnya untuk menahan pandangan idealisme pribadi terlebih dahulu setidaknya sampai filmnya benar-benar dirilis nanti? Bukan langkah yang bijak tentu saja mengeluarkan komentar berbau diskriminasi nan sexist sebelum film yang dibintangi bahkan belum menghiasi layar-layar bioskop. Tentu saja para penggemar semakin antipati akan sosok Brie Larson. Antipati yang dikhawatirkan akan menghasilkan ketidak sukaan juga terhadap karakter yang diperankan. Andai nanti hasil pendapatan Captain Marvel dibawah ekspektasi (I doubt it, though), maka tidak salah jika Brie Larson menjadi faktor utama.

Hingga yang menjadi perbincangan hangat dalam satu minggu terakhir adalah rating "Want to see" di website Rotten Tomatoes dihilangkan. Terakhir kali, sebelum pembaharuan, skor persentase Want to see untuk film Captain Marvel anjlok hingga 27%!!! "Loh, terus kenapa? Bukan masalah besar kan. Toh, film nya belum keluar. Gw yakin filmnya masih banyak ditonton. Skor "Want to see" mah gak terlalu penting." Benar, skor tersebut bukanlah patokan kuat apakah nanti film ini sukses atau tidak dari segi finansial. Namun, sekali lagi, Captain Marvel bukanlah film sembarangan. Film ini adalah bagian dari MCU, salah satu franchise tersukses dalam satu dekade belakangan. Film yang diharapkan menjadi simbol feminis bagi sebagian orang. Film ini diakuisisi oleh Disney, salah satu studio film terbesar sepanjang masa. Tentunya dengan kenyataan tersebut merupakan hal yang tidak diinginkan.

Penghapusan skor "Want to see" ini dianggap oleh sebagian kalangan penggemar merupakan sebuah langkah desperate untuk "menyelamatkan" citra film Captain Marvel. Tidak hanya itu, langkah ini semakin menguatkan dugaan jika situs Rotten Tomatoes selama ini menganak emaskan film-film keluaran MCU atau dari Disney. Sudah banyak yang mengkritik situs ini dalam pemberian rating nya yang selalu tinggi untuk film-film dari MCU. Kritikus dianggap terlalu jinak pada film-film MCU. Contoh terkuat silahkan lihat begitu tingginya rating yang diterima Thor Ragnarok dan Black Panther yang dirasa tidak terlalu spesial. Awalnya dugaan konspirasi ini terkesan membual dan sekilas hanyalah pernyataan butthurt dari pihak oposisi Marvel (Baca: Fans DCEU). Namun dengan adanya pengupdatean ini, mau tidak mau, dugaan tersebut menguat dan bisa jadi adalah kebenaran. Pihak MCU belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Semua film MCU sebelumnya begitu dinantikan, termasuk Captain Marvel bahkan. Maka ketika ada satu film yang untuk pertama kalinya mendapatkan backlash luar biasa seperti ini, terlihat sekali jika pihak Marvel atau Disney mencoba melakukan segala cara untuk mempertahankan reputasi MCU. Sebuah keputusan yang seolah menyiramkan bensin di tengah kobaran api.

Segala kejadian tidak mengenakkan yang mengitari Captain Marvel ini jelas sekali menjadi hembusan angin segar untuk DC. Bila DC mampu memanfaatkan situasi ini, bukan tidak mungkin film bertemakan superhero yang selama ini dikuasai oleh Marvel, berpindah tangan ke pihak DC. Terlebih film rilisan DC, Aquaman (2018), cukup mendapatkan tanggapan positif baik dari segi kualitas maupun finansial. Bukan tidak mungkin ini adalah awal dari runtuhnya kedigdayaan MCU. Lalu pertanyaannya, apakah saya tetap akan menonton film ini? Kemungkinan besar, iya. Karena harus diakui, film Captain Marvel memiliki poin penting untuk film The Avengers selanjutnya, Endgame. Saya hanya berharap, dengan adanya backlash seperti ini, mampu menyadarkan pihak Disney jika para penggemar sama sekali tidak perduli akan agenda politik yang mereka simpan, dan juga tidak rela jika franchise kesayangan mereka dijadikan sebagai wadah propaganda politik SJW.


Wednesday, 13 February 2019


"I do not stand by in the presence of evil!"- Alita

Plot

Setting cerita terjadi 300 tahun setelah peristiwa "The Fall", dimana bumi sudah bukan tempat yang nyaman lagi untuk dihuni. Satu-satunya tempat impian bagi mayoritas orang adalah Zalem, kota yang mengambang di langit, yang dipercayai merupakan kota yang dipenuhi kebahagiaan. Di suatu hari, Dr. Ido (Christoph Waltz) membawa pulang bagian inti bermukakan wanita muda di kumpulan barang bekas, tepat di bawah Zalem. Dengan kemampuannya dalam mereparasi, Ido pun memberikan tubuh baru kepada gadis tersebut yang sebenarnya ingin diberikan kepada putrinya. Gadis cyborg ini kelak diberi nama Alita (Rosa Salazar). Alita sendiri sebenarnya memiliki kehidupan sebelumnya, namun sayangnya Alita tidak mampu mengingatnya dengan jelas. Alita pun menjalani kehidupan baru nya bersama Ido, sembari perlahan waktu berjalan, kelak Alita akan menyadari masa lalu serta identitas diri sebenarnya.



Review

Astro Boy dengan bernarasikan Elysium. Hal ini seketika saja terlintas di benak saat Alita terbangun di pagi hari dengan tubuh barunya, serta saat Ido menceritakan mengenai kota mengapung, Zalem. Nuansa cyberpunk jelas begitu kental terasa dengan banyaknya orang yang bagian tubuhnya terdiri dari mesin ditambah kondisi dystopia nya. Organ tubuh mesin tersebut jelas bukan untuk sekedar gaya-gayaan, tetapi telah menjadi kebutuhan primer bagi mereka dalam bertahan hidup. Baik sebagai pekerja, tukang kebun, atau para kriminal. Tidak hanya itu terdapat pula dunia hiburan olahraga bernama Motorball, yang tampaknya dikhususkan untuk mereka, para cyborg, akibat dari permainannya yang brutal dan mempertaruhkan nyawa.

Dunia Battle Angel memang menyimpan banyak sekali layer yang bisa diceritakan. Namun sutradara, Robert Rodriguez, yang kini bekerja sama dengan James Cameron yang membantu dalam penulisan naskah juga produser, memilih untuk lebih memfokuskan cerita pada protagonist utama kita, Alita. Kita akan diajak untuk berkenalan dengan Alita yang seolah baru lahir kembali dengan tubuh barunya. Seraya menjalani hidup nya dengan Dr. Ido, Alita secara perlahan mencoba mengingat masa lalunya. Rodriguez-Cameron pun menceritakan hubungan Alita bersama Ido yang seketika saja menganggap Alita sebagai pengganti anaknya, serta Hugo (Keean Johnson) yang kelak akan menjadi kekasihnya. Bersamaan pula, ancaman mengintai Alita, dimana Vergo (Mahershala Ali), orang yang paling berpengaruh di kota Iron City, yang menganggap keberadaan Alita mulai mengancam. Lambat laun, Alita akan menyadari bila masa lalunya berkaitan erat dengan kota Zalem.

Battle Angel begitu ambisius untuk mengangkat semua isu tersebut, yang menyebabkan penceritaan kurang fokus dan semuanya terasa tanggung atau hambar. Hubungan Alita bersama Ido dan Hugo pun tidak berhasil hingga mampu membuat penonton perduli dan terikat emosi, walau sebenarnya kisah mereka memiliki potensi yang besar sekali untuk membuat penonton terhanyut ke dalam dramanya, terutama hubungan ayah-anak pada kisah Ido dan Alita. Hadirnya Alita diharapkan mampu menggantikan peran sebagai putrinya yang tewas akan suatu kejadian. Walau hanya sekedar "pengganti", namun Ido memberikan kasih sayang dan perhatian sepenuhnya kepada Alita. Bisa dimengerti, bila Ido tidak ingin mengalami kehilangan untuk kedua kalinya sehingga menciptakan sikap protektif terhadap Alita, walau secara subtil, Ido telah mengetahui siapa sebenarnya Alita. Tentu saja sikap protektif Ido tersebut tidak bisa menghentikan rasa ingin tahu Alita, apalagi kenangan masa lalu nya mulai merasuki sistem inti dari Alita. Narasi ayah-anak ini tentu bukan hal baru, tetapi masih lah efektif untuk menghadirkan cerita yang mengikat nan sentimentil. Bayangkan saja gejolak perasaan yang harus Ido tanggung setiap kali Alita menghadapi kondisi yang membahayakan dirinya. Saya begitu mengharapkan adanya momen-momen kedekatan mereka berdua sehingga membuat saya dan npenonton lainnya perduli akan hubungan mereka berdua. Sayang sekali, potensi drama ini tersia-siakan. Cameron yang dibantu oleh Laeta Kalogridis juga di kursi penulis naskah seolah enggan untuk memperdalam hubungan mereka berdua demi narasi-narasi lainnya. 

Praktis, keputusan ini pun mengorbankan pula karakter Dr. Ido yang seolah terlupakan ketika film mulai bergerak lebih dari setengah durasi. Minim letupan konflik atau adu mulut antara mereka berdua. Bentrokan rasa kasih sayang dari Ido yang menghadirkan sikap protektif dan jati diri sebenarnya Alita ini sebenarnya mampu memperkaya ceritanya, tetapi sekali lagi sayang, tidak ditampilkan. Bila kisah Ido-Alita saja tidak mampu mengikat saya, maka saya rasa tidak perlu diperjelas lagi bagaimana pendadapat saya akan kisah romansa Alita dan Hugo. Universe dalam kisah Alita memang belum dieksplor terlalu dalam oleh Rodriguez karena cerita ini tampaknya akan diceritakan kembali di sekuelnya. Maka dari itu, saya bisa mengerti jika penjelasan mengenai The Fall, kota Zalem, kondisi kehidupan sosial saat itu dan tetek bengek lainnya hanya diceritakan sekilas saja.

Karakter Alita disini sudah barang pasti akan membuat para feminisme orgasme. Walau dengan sosoknya yang kecil tersebut, Alita mampu mengajar musuh-musuhnya yang mungkin ukuran tubuhnya berkali-kali lipat dari dirinya. Dengan sejarah hidup Alita sebelumnya, mudah saja untuk memahami mengapa begitu luar biasa kemampuan bela dirinya. Rosa Salazar mungkin kurang mulus dalam memerankan Alita di porsi drama. Ekspresi dari Alita juga cukup mengganggu untuk saya, mungkin hal ini dipengaruhi pula oleh kenyataan bila muka dari Alita merupakan balutan dari CGI. Namun dalam memerankan adegan aksi, Rosa Salazar berhasil menjalankan tugasnya dengan brilian, yang seketika saja mengingatkan saya pada karakter Laura di film Logan. Rodriguez begitu paham dalam menerapkan sekuen aksi yang menghibur. Ambil contoh seperti debut Alita di arena Motorball, yang dilanjutkan ke adegan kejar-kejaran ala parkour. Minor complaint disini mungkin adalah minimnya ketegangan yang tercipta karena penonton merasa sangat yakin Alita lah yang akan muncul sebagai pemenang di setiap konflik pertarungan. Bahkan rasa terancam pun sama sekali tidak terasa ketika Alita beradu jotos dengan Grewishka (Jackie Earle Haley) yang konon merupakan anak buah terkuat Nova, pemimpin kota Zalem. SPOILER AHEAD!!!!*** Disini Alita begitu overpowered sehingga musuh-musuhnya terlihat begitu lemah sekali, bahkan Grewishka. Literally, Alita mampu menguasai kota Iron City dengan kekuatan dirinya sendiri, yang sekali lagi, mengurangi ketegangan setiap adegan laga nya. ***SPOILER END!!!! Tetapi dengan melihat hasil akhir disini, saya bisa bilang Rodriguez telah menciptakan adegan-adegan aksinya yang memanjakan mata. Hal ini tentu dibantu pula dengan penggunaan bijak akan CGI nya sehingga menampilkan kualitas special effect yang mengagumkan berkat budget nya yang "hanya" $ 200 juta.

Dunia dalam kisah Alita masih menyimpan banyak sekali kisah yang bisa diangkat. Dengan hal tersebut pula berimbas pada naskah nya yang mencoba mengangkat beberapa isu sekaligus, sehingga tidak fokusnya cerita begitu terasa. Hal ini mungkin menjadi kelemahan yang cukup mengganggu, namun untuk sajian film aksi yang dibingkai dengan kualitas special effect kelas wahid, Battle Angel tetaplah sajian yang menghibur. Potensi sekuel pun sudah pasti telah direncanakan dengan endingnya yang menggantung dengan menyimpan kisah pemberontakan atau revolusi di film selanjutnya. Tentu saja saya berharap di film selanjutnya, Nova serta kekuasaan atau kekuatannya merupakan lawan yang setara untuk Alita. 

7/10



Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!