Showing posts with label Comedy. Show all posts
Showing posts with label Comedy. Show all posts

Wednesday, 29 January 2020


"Just 'cause millions of people aren't cheering when you do it, it doesn't mean it's not important"- Saraya

Plot 

Lahir dalam keluarga yang lekat dengan dunia gulat, Saraya (Florence Pugh) dan Zak (Jack Lowden) membantu promosi gulat independen kecil milik kedua orang tua mereka, Ricky (Nick Frost) dan Julia (Lena Headey) yang bernama World Association of Wrestling (WAW). Bersama Saraya, Zack juga ikut melatih anak-anak muda untuk bergulat di promosi tersebut, sembari tetap mengadakan event kecil-kecilan untuk menghasilkan uang. Keduanya ingin menggapai mimpi mereka untuk bisa tampil di event gulat terbesar di dunia, WWE (World Wrestling Entertainment). Rekaman bergulat Zak dan Saraya dikirimkan ke WWE, dan kesempatan tersebut datang ketika Hutch Morgan (Vince Vaughn), trainer yang bekerja untuk WWE, memanggil Zak dan Saraya untuk berpartisipasi di try out pada episode Smackdown di London.




Review

Dengan deretan film-film yang selama ini telah WWE produksi, setidaknya film seperti The Scorpion King dan Rundown yang cukup menghasilkan kesuksesan. Selebihnya, kebanyakan film-film tersebut harus dirilis langsung ke dalam bentuk DVD atau straight to video, bukti bila kebanyakan atau hampir semua film rilisan WWE berakhir dengan mengenaskan, entah itu karena pendapatan yang tidak balik modal atau ulasan "kejam" para kritikus yang bahkan mungkin malas untuk mereview film-film ini. Kendalanya adalah selama ini, WWE studios selalu memilih mengedepankan genre aksi yang disuntikkan kepada film-film mereka. Film seperti The Marines (yang gak tahu kenapa bisa sampai hingga sekuel ke 6), 12 Round, atau Vendetta, jelas sekali jika WWE Studios begitu mencintai film aksi. Hingga membuat mereka lupa jika sebenarnya ada kisah yang bisa lebih dieksplorasi pada perjalanan setiap wrestler yang mereka miliki. Diproduksi oleh legenda hidup dari WWE, Dwayne "The Rock" Johsnon, Fighting With My Family menceritakan perjalanan karir Saraya Knight, atau yang lebih populer kita kenali sebagai Paige, dalam meraih kesuksesan di dunia gulat bersama WWE dan nantinya berhasil menjadi salah satu pegulat wanita berpengaruh dalam memantik api membara dunia gulat wanita. 

Fighting With My Family mungkin formulaic. Ya, film ini bisa dibilang tidak terlalu mengambil langkah revolusioner dalam menceritakan kisah biografi nya. Ini bukan lah sajian biografi berani layaknya Straight Outta Compton, tetapi sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Stephen Merchant mengambil approach yang bijak dalam menggulirkan narasi nya. Merchant tampaknya meyakini jika Saraya/Paige akan berhasil menjadi top divas di WWE sudah diketahui atau bahkan ditebak oleh penonton kasual yang tidak mengikuti WWE. Ya film biografi mana yang pada akhir cerita nya tidak menampilkan momen klimaks atau keberhasilan tokoh yang diangkat? Maka dari itu, narasi nya benar-benar didominasi oleh perjuangan Saraya untuk bisa bertahan ketika harus berlatih fisik maupun mental di pengembangan karir yang dinamai NXT, dan yang pasti sesuai judulnya, konflik yang dialami Saraya dengan keluarganya, terutama dengan Zak. Justru untuk saya, kepingan-kepingan story arc milik Zak lah yang berhasil muncul menjadi pembeda di bagian narasi.

Dunia gulat memang tidak untuk semua orang, terutama di Indonesia. Walau sempat booming di periode awal 2000an, sajian wrestling cukup menjadi hal tabu ketika media di Indonesia menggembar-gemborkan korban-korban yang jatuh akibat mempraktekkan aksi-aksi gulat sehingga penayangan WWE (kala itu masih WWF) dihentikan sama sekali di tayangan televisi swasta. Wrestling gear para pegulat sendiri yang begitu menampilkan aurat juga sangat tidak cocok untuk Indonesia yang masih mengedepankan agama. Kondisi ini sih yang membuat saya secara sembunyi-sembunyi untuk mengikuti perkembangan dunia wrestling, apalagi kalau menonton pertarungan para pegulat wanita, udah deh, harus pintar-pintar mencari waktu dan kondisi. Ibarat kata, ketahuan menonton wrestling match sudah bisa disandingkan aib nya dengan menonton blue film.

Namun kecintaan saya yang telah tertanam di masa kecil susah untuk dihilangkan, tentu saja. Kenangan kala saya bermain gulat dengan dua kakak saya setelah menyaksikan Smackdown yang kala itu masih ditayangkan di R*TI terus terpatri di ingatan. Masih begitu lekat di ingatan ketika saya kecewa berat ketika The Rock gagal mengalahkan Triple H di event Judgement Day setelah berhasil comeback dalam pertarungan Iron Match nya. Mungkin dengan fakta ini lah, ikatan emosi telah terhubung dengan Zak dan Saraya kala di opening nya, kita menyaksikan Zak bersorak kala melihat wrestler idola nya meraih kemenangan, dan segera mempraktikkan salah satu move ke adiknya, Saraya.

Dengan berbagai momen sekilas, kita diajak Merchant untuk lebih mengenal keluarga Knight dalam mengelola bisnis gulat independen kecil milik mereka. Dari Zak yang menjadi pelatih untuk para pemuda berusia tanggung di kota Norwich, bahkan satu dari murid nya ada yang mengalami disabilitas, lalu Saraya, yang ternyata diambil dari nama panggung milik ibu nya kala berkarir di dunia gulat, juga ikut membantu Zak sebagai sparring partner baik ketika latihan atau di pertandingan resmi kecil-kecilan. Lalu tentunya ada Ricky dan Julia yang senantiasa membantu mereka berdua. Tidak ketinggalan Merchant membangun bumbu-bumbu konflik nya, seperti Saraya yang sempat dicemooh akibat penampilannya yang jauh dari kata feminim, Zak yang menanti kehadiran buah hati bersama pacarnya, Courtney (Hannah Rae) dan kesulitan finansial yang dialami keluarga Knight. Pembangunan konflik nya terasa straight to the point karena nanti kala film menginjak ke pertengahan durasi, semuanya menyatu dan memiliki pengaruh kala Fighting With My Family mulai menyentuh pada konflik utama nya, yaitu fakta dimana Zak harus menerima kenyataan jika ia tidak berhasil memenuhi kriteria standar yang dibutuhkan WWE. Dan lebih pahit nya lagi, adiknya sendiri ternyata merupakan satu-satunya kontestan yang direkrut oleh Hutch Morgan untuk bergabung dengan WWE dan mengikuti proses pengembangan bakat di NXT.

Bayangkan jika Anda di posisi Zak. Sebagai individu yang memiliki passion yang besar untuk dunia gulat, berlatih dari kecil hingga dewasa untuk meraih mimpi dan berharap akan tiba momen ribuan penonton menyerukan nama panggung Anda, harus menelan pil pahit kehidupan kala fakta tidak beriringan dengan harapan dan keinginan. Kesempatan satu kali seumur hidup gagal tercapai, ditambah harus menyaksikan adik nya sendiri yang tak disangka-sangka berhasil meraih kesempatan tersebut. Hal ini yang membuat Zak menjadi sympathetic character utama dalam kisah ini dan berhasil menjadi poin positif besar, setidaknya untuk saya. Walau cerita memang berfokus pada perjuangan kisah Saraya/Paige, namun saya senantiasa tidak sabar untuk melihat keadaan Zak. Ada rasa kekhawatiran jika ia akan mengambil langkah yang salah akibat kekecewaan yang mendalam dan menelantarkan keluarga nya, terutama Courtney dan anak nya yang baru lahir. Terlebih keluarga Knight sendiri mempunyai sejarah dengan dunia kriminal.

Untuk yang mengikuti dunia wrestling, pasti bisa memahami jika industri ini sangat lah kejam. Tidak semua orang bisa menjadi main event superstar. Kemampuan, bakat dan kerja keras tidak cukup, harus ada faktor X supaya seseorang berhasil menjadi seorang pegulat papan atas, terutama untuk perusahaan raksasa WWE. Banyak pegulat yang berbakat, namun tidak semuanya yang memiliki faktor X tersebut. Sang owner, Vince McMahon menyebutnya "brass ring", dan sekali lagi, tidak semua superstar yang memiliki itu. Bahkan top face dalam sejarah WWE seperti Stone Cold, The Rock hingga John Cena sebenarnya tidak lah memiliki skill bintang 5 jika berbicara pada aspek bergulat nya saja, namun nama-nama tersebut, di mata Vince McMahon, memiliki faktor X itu sehingga berhasil menjadi ikon dalam WWE. Hingga sekarang, WWE pun masih berusaha untuk mencari suksesor John Cena untuk menjadi top face besar layaknya dia. Naskah Merchant cukup berhasil menyinggung hal ini. Zak mungkin lebih memiliki teknik gulat lebih baik dibanding Saraya, namun bagi Hutch, Zak tidak memiliki faktor X yang bisa menghantarkannya menjadi bintang.

Berbanding terbalik dengan Saraya. Meskipun teknik nya biasa-biasa saja, tetapi Hutch melihat ada sesuatu dalam diri Saraya, yang membuatnya jauh lebih unik dibandingkan superstar wanita milik WWE lainnya. Sudah menjadi rahasia umum jika sebelum women's revolution dalam WWE, kebanyakan pegulat wanita milik WWE direkrut dari model yang diajarkan teknik-teknik bergulat, yang berfungsi untuk menjadi eye candy para penonton pria dewasa. Dari Sable, Torrie Wilson, Stacy Kiebler, divisi wanita didominasi dengan pegulat wanita yang pirang dan berbodi seksi. Bahkan living legend seperti Trish Stratus saja pada awal nya berkaris sebagai manajer seksi, sebelum akhirnya memiliki teknik wrestling yang memadai dan mendapatkan respect dari WWE Universe (sebutan WWE untuk para penggemar). Saraya berbeda karena dibanding wanita lainnya, teknik nya sudah di atas rata-rata karena telah berkarir di dalam dunia gulat semenjak dini. Mungkin karena ini lah, Hutch memilih Saraya tanpa ragu-ragu, karena ia meyakini, Saraya memiliki kapabilitas untuk menghadirkan sebuah gebrakan yang baru.

Konflik ini lah yang mengakibatkan kerenggangan akan hubungan antara Zak dan Saraya. Dari awal yang selalu berlatih bersama, mendadak hubungan antar keduanya mendingin. Terlebih Saraya harus berangkat ke negeri Amerika untuk mendapatkan pelatihan di developmental territory, NXT. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi mental keduanya. Zak kehilangan semangat untuk melatih anak didiknya di WAW karena terlalu berfokus untuk kembali mendapatkan kesempatan untuk try out untuk WWE. Sedangkan Saraya yang sebenarnya memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan teman-teman wanita nya di NXT yang kebanyakan mantan model, justru mendapatkan kesulitan akibat kehilangan daya juang. Bahkan ia tidak sengaja mempermalukan dirinya sendiri ketika ia sadar jika orang yang selama ini ia remehkan, justru memiliki fighting spirit jauh lebih besar ketimbang dirinya. Secara terpisah, keduanya berperang terhadap diri sendiri. Zak dengan rasa iri dan cemburunya, dan Saraya yang merasa tidak enakan dengan saudara nya tersebut. Hingga pada di suatu titik, keduanya bertemu kembali di dalam ring, yang awalnya mereka dipertemukan untuk menjalani rutinitas acara wrestling untuk WAW pada umumnya, menjadi panggung puncak atas drama konflik yang terjadi antara keduanya.

Mungkin adegan yang terjadi di ring tersebut tidak lah terlalu melahirkan sebuah ironi yang luar biasa, namun sudah cukup untuk membuat saya sebagai penonton menyayangkan atas situasi yang terjadi. Semua ini tentu saja berkat pondasi naskah yang solid nan kokoh dari Merchant. Kita dibuat perduli akan hubungan persaudaraan mereka, dan kita pun bingung untuk mendukung siapa karena keduanya memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yang lebih menarik bagi saya justru adu mulut yang terjadi antara Zak dan Saraya setelah turun dari ring. Kalimat dari Saraya begitu mengena untuk saya, bahwa kita telah memiliki peran ideal masing-masing. Mungkin peran tersebut tidak mendapatkan perhatian banyak orang, namun tidak melunturkan betapa penting nya peran tersebut. Tanpa Zak sadari jika ia sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan sebuah harapan untuk anak didiknya yang mungkin saja bisa terjun ke dunia kriminalitas bila tanpa bimbingannya. Jujur saja,momen ini berhasil menyentil saya

Cukup disayangkan karena perseteruan batin antara keduanya tidak memiliki konklusi yang memuaskan. Ada kesan terburu-buru untuk akhirnya dua karakter ini kembali menemukan pijakannya dan bangkit kembali. Pergerakan narasi redemption nya pun terasa generik dan bergerak biasa saja tanpa terlalu meninggalkan kesan. Di adegan akhir pun, Merchant sebenarnya cukup berlebihan dalam hal menyuntikkan elemen dramatisasinya. Untungnya minor ini tertutupi berkat performa apik para pemeran utama. Tahun 2019 tampaknya menjadi tahun dimana nama seorang Florence Pugh patut menjadi salah satu rising star yang tak bisa diremehkan. Semenjak Midsommar, Pugh telah menyajikan salah satu kekuatannya, yaitu permainan emosi yang tidak terkesan berlebihan dan hal ini ia tunjukkan di film ini. Lihatlah ekspresinya kala menahan tangisan di adegan bandara. Atau kebisuan penuh arti saat ia gagal melakukan "promo" untuk pertama kali di depan penonton. Jack Lowden bermain pada ekspresi subtil untuk menggambarkan perasaan Zak dan ia melakukannya dengan baik. Dwayne Johnson tetaplah Dwayne Johnson, berkharisma dan selalu mencuri perhatian di setiap kehadirannya. Salah satu momen terbaik film ini pun ketika ia secara tiba-tiba melakukan persona nya sebagai The Rock yang kental mengandung unsur nostalgia. Vince Vaughn juga kembali menghadirkan performa solid sebagai trainer yang tegas.

Apakah film ini hanya diperuntukkan bagi penggemar wrestling? Tentu saja tidak. Baik anda merupakan penggemar atau bukan, Anda bisa menikmati film ini karena elemen-elemen wrestling nya disuntikkan sesuai dengan porsi nya. Bahkan bila Anda pun merupakan termasuk pihak yang meremehkan industri ini, justru Anda wajib menonton nya supaya setidaknya Anda mulai bisa mengapresiasi para "pelakon" yang terlibat di dunia wrestling. Mereka yang terlibat dengan dunia ini, tidak hanya mempertaruhkan badan mereka, namun juga kehidupan, keluarga serta mimpi hanya untuk menghibur para penggemar. Saya harap, dengan keberhasilan film ini mampu membuka mata WWE Studios supaya selanjutnya bisa membuat film-film yang mengedepankan hati, ketimbang sajian aksi.

8/10

Thursday, 23 January 2020




 "Do you want your legacy to be muscle shirts and body counts?" - Marcus Burnett

Plot

Atas kelahiran cucu pertama nya, Marcus Burnett (Martin Lawrence) kembali mempertimbangkan keinginannya untuk pensiun sebagai polisi. Niat nya ini tentu tidak terlalu diindahkan oleh partner in crime Marcus, Mike Lowrey (Will Smith) karena ia yakin keinginan partner nya tersebut tidak lah serius. Namun untuk kali ini, Marcus telah membulatkan niat nya. Ditambah lagi, tidak lama setelah perayaan pesta untuk kelahiran cucu nya, Mike diserang secara tiba-tiba oleh pengendara motor misterius. Pengendara tersebut adalah Armando (Jacob Scipio), putra dari Isabel Aretas (Kate Del Castillo) yang tampaknya memiliki dendam personal dengan Mike.




Review

Our Bad Boys are finally back!!!! Setelah kurang lebih 17 tahun Bad Boys 2 mengudara, akhirnya kisah dua polisi yang tidak pernah terlepas dari kekacauan setiap bertugas ini kembali beraksi dalam meringkus penjahat. Kembalinya Bad Boys jelas merupakan kabar bahagia untuk saya karena saya adalah salah satu dari penggemar dari dua film predesor nya. Favorit saya adalah Bad Boys 2 dan berkat itu juga, ada masa dimana saya menganggap Michael Bay adalah sutradara favorit saya. Masih lekat di ingatan bagaimana keseruan saya dan teman menghabiskan waktu istirahat kami dengan menceritakan kegilaan film tersebut di sekolah menengah sambil terbahak-bahak. This franchise was and still one of the biggest part of my life. Maka ketika Bad Boys For Life akhirnya remsi dirilis dan telah ditentukan jadwal tayang nya, saya pun bertekad untuk menonton film ketiga dalam franchise ini di bioskop. Telah terbayang bagaimana asyik nya nanti tertawa bersama dengan penonton yang lain.

Hal yang patut disayangkan untuk film ini adalah absennya Michael Bay yang tidak lagi duduk di kursi sutradara, dan hanya terlibat sebagai cameo sepintas saja. Say whatever you want about Mr. Bay, tapi franchise ini tidak akan berumur panjang tanpa sentuhannya. Selain duo Smith-Lawrence, Michael Bay adalah DNA terpenting di franchise Bad Boys. Bagaimana ia menyajikan sajian aksi beroktan tinggi, tidak ketinggalan dengan humor-humor dewasa nya yang absurd dan gila banget (ex. the video store scene), berhasil membuat saya menjadi penggemar. Sebuah pertanyaan besar apakah duo sutradara, Adil El Arbi dan Bilall Fallah mampu memenuhi ekspektasi dari penggemar yang telah begitu mengenal akan identitas dari Bad Boys. 

Pertanyaan tersebut langsung di jawab oleh Arbi-Fallah pada sajian adegan pembuka nya yang telah melibatkan car chase berdurasi singkat, dan juga diisi dengan interaksi jenaka antara Mike dan Marcus seperti biasa. Lalu, adegan selanjutnya berpindah ke setting penjara, dimana salah satu tahanan yang ada di dalamnya adalah Isabel, yang berlanjut ke sebuah adegan keributan yang melibatkan suatu adegan yang cukup sadis untuk ukuran franchise ini. Selain memperlihatkan jika dua karakter ini tetaplah sama seperti dua film sebelumnya (Mike masih lah polisi yang nekad dan sembrono serta Marcus sebagai polisi yang selalu mengkritik Mike dan tidak tahan dengan adanya mayat), tetapi juga Arbi-Fallah seolah ingin memberikan pernyataan jika mereka berdua memiliki kapabilitas dalam hal penyajian aksi yang tidak akan kalah seperti yang telah dilakukan oleh Michael Bay. Saya pun tersenyum lega, dan tidak sabar menantikan kesenangan yang akan saya dapatkan.

Namun, permasalahan muncul ketika naskah yang ditulis bertiga oleh Chris Bremner, Peter Craig dan Joe Carnahan harus memisahkan sementara duo Mike-Marcus dalam usaha untuk pembangunan konflik dan drama nya. Naskah nya mencoba untuk mengeksplorasi kehidupan berbeda dari Mike yang masih meneruskan pekerjaannya sebagai polisi dalam usaha mengusut tuntas siapa pelaku yang telah menyerang nya, dan Marcus yang kini telah pensiun sebagai polisi. Untuk mengisi kekosongan Marcus, Mike pun mendapat bantuan dari unit baru Miami PD, AMMO (Advance Miami Metro Operations) yang diketuai oleh Rita (Paola Nunez) dengan anggota nya yang relatif masih muda, yaitu Dorn (Alexander Ludwig), Kelly (Vanessa Hudgens) dan Rafe (Charles Melton). Penceritaan Bad Boys For Life pun untuk pertama kali nya terasa personal karena melibatkan dendam dari masa lalu, yang nantinya pun akan menguak sedikit masa lalu dari Mike. Gaya penceritaan ini membuat Bad Boys For Life cenderung cukup serius dibanding dua film terdahulu. Dan untuk pertama kali nya juga, sosok Mike sebagai polisi yang tangguh dan invincible di dua film terdahulu, memperlihatkan sisi rapuhnya kala mental dan fisiknya di uji. Hal ini pun memberikan ruang untuk Will Smith dalam menunjukkan kapabilitas akting nya dengan menyajikan kebimbangan serta kerapuhan pada sosok Mike. Senantiasa hal ini ia tunjukkan lewat ekspresi muka, terutama sorot mata nya. Perhatikan saja permainan ekspresi nya kala Mike memohon bantuan dari Marcus. 

Saya tidak mempermasalahkan atas pilihan ini, karena salah satu kekurangan dari dua film pendahulu adalah kurangnya "hati" pada naskah nya karena Michael Bay cenderung fokus ke set piece action nya sehingga sedikit melupakan aspek tersebut. Dalam film ini, tidak hanya hubungan partner antara Mike-Marcus dipertaruhkan, namun juga melibatkan isu dendam pribadi berasal dari masa lalu, dan juga tragedi atas kehilangan karakter yang cukup berpengaruh dalam franchise ini. Tentu hal ini mempengaruhi pada tone film yang sedikit lebih serius, bila tidak ingin dibilang kelam. Hal yang pertama saya temukan dalam franchise ini. Juga keberadaan villain dalam Bad Boys For Life tidak bisa diremehkan berkat pendekatan yang dilakukan Arbi-Fallah. Karakter Armando berhasil menyaingi, bahkan melebihi Mike baik dalam strategi maupun bertarung. Namun sayangnya, dengan pilihan ini, Arbi-Fallah harus mengorbankan satu elemen terpenting, yaitu kegilaan yang tercipta dari duet Mike-Marcus akibat character arc kedua tokoh ini yang terpisah. Saya mengapresiasi niat untuk membawa Bad Boys For Life ke ranah yang lebih memperdalam aspek cerita, namun this is Bad Boys. Film-Film Bad Boys bukanlah sajian film aksi yang mengedepankan pada aspek tersebut karena ceritanya cukup hanya menjadi landasan untuk setiap parade kekacauan serta banter humor dari duo Mike-Marcus. Dan sebaliknya, di film ketiga ini, hal tersebut malah seperti nya sedikit di rem dalam rangka untuk mengembangkan cerita nya. 

Keputusan ini jelas berdampak pada kadar humor yang benar-benar kurang nonjok nya kala keduanya tidak bersama dalam satu layar. Tak diragukan lagi, chemistry kuat jelas telah tercipta antara Will Smith dan Michael Lawrence. Walau memang masih ada momen kekonyolan Marcus ketika tengah menikmati masa pensiunnya, namun tentu saja hal tersebut tidak akan lengkap jika tanpa keberadaan Mike. Terbukti, setelah mereka berdua akhirnya beraksi bersama lagi, pada saat itu juga Bad Boys For Life kembali menunjukkan taring nya. Bila nanti memang akan ada sekuel keempat, maka saya berharap, screentime kedua nya berada di satu layar ditambah lagi.


Pada sekuen aksi, Arbi-Fallah sedikit menambahkan adegan bertarung jarak dekat sebagai penambah bumbu baru, selain kejar-kejaran yang kini tidak hanya melibatkan roda empat saja dan tentu dengan aksi tembak menembak nya yang benar-benar menjadi sajian utama pada adegan aksi penutup. Dosis kebrutalan maupun kekerasannya pun ikut meningkat untuk menambah warna, dan sedikit sentuhan berbeda pada momen kejar-kejaran pada malam hari, yang andaikan saja durasi nya ditambah, mungkin akan bisa menyaingi sajian car chase di Bad Boys 2 yang melibatkan puluhan mobil hingga kapal yang terbang. Usaha modernisasi juga mewarnai sajian aksinya dimana Bad Boys For Life cukup banyak melibatkan teknologi-teknologi baru, walau tidak sampai ke taraf super canggih.

Fokus serta porsi drama hampir mendominasi pada character arc milik Mike, sehingga mau tidak mau Will Smith harus menyingkir untuk berparitisipasi di adegan komedi nya. Untungnya Michael Lawrence bukan aktor sembarangan. Sempat absen di dunia perfilman selama 8 tahun, Lawrence membuktikan jika ia belum lah kehilangan sentuhan akting komedi nya. Ocehan-ocehan yang terlontar di tengah sajian aksi serta obrolan nya dengan Mike di pesawat sukses meledakkan tawa seluruh penonton. Walau fisiknya kini tidak mengijinkannya untuk melakukan adegan aksi yang over the top, namun hal ini berhasil ia tutupi dengan memaksimalkan setiap humor yang ada, sehingga ia dengan mudah berhasil menjadi scene stealer di film ini. Bad Boys For Life semakin lengkap dengan berbagai tribute sebagai ruang untuk bernostalgia bagi penggemar yang mengikuti film ini dari pertama, baik dari humor nya, sajian aksi, bahkan teknik pengambilan gambar seperti circle shot yang merupakan salah satu signature dari Michael Bay pun ikut hadir. 

Menghadirkan naskah yang cukup personal di instalmen ketiga telah cukup memberikan bukti jika dalam franchise ini masih ada beberapa hal yang patut dieksplorasi, sehingga saya pun tidak keberatan jika memang nantinya akan ada film lanjutan. Terlebih lagi dengan bertambahnya anggota baru yang tersaji di adegan akhir, membuat saya cukup yakin jika kita akan mendapatkan Bad Boys 4. Sempat membuat saya bosan ketika Mike-Marcus tidak berada di satu frame bersama di pertengahan awal, Bad Boys For Life mampu menghibur saya setelahnya dengan chemisty yang kuat antara Will Smith dan Martin Lawrence, humor yang bekerja cukup baik, dilengkapi pula dengan sajian aksi yang cukup menghibur. 

7,75/10



Monday, 23 December 2019


"Sometimes there's no lesson. That's a lesson in itself"- Michael Stone

Plot

Michael Stone (disuarakan oleh David Thewlis) merupakan penulis spesialisasi dalam bidang Customer Service yang sukses. Suatu hari ia melakukan business trip untuk menjadi pembicara di kota Cincinatti. Michael sendiri tampak terserang penyakit psikologis, dimana ia tidak bisa membedakan rupa dan suara orang-orang yang ia lihat. Ditambah pula kenangan masa lalu yang menghantui nya, Michael sama sekali merasakan kehampaan hidup. Hingga nantinya ia bertemu dengan wanita bernama Lisa (disuarakan oleh Jennifer Jason Leigh), yang akan memberikan warna di kelamnya malam Michael.




Review

Mengutip kalimat dari salah satu tokoh animanga Naruto, Gaara, yang berbunyi "people can not win against their loneliness". Mungkin Anda, kita, dan saya, yang pernah merasakan kesepian di suatu periode kehidupan kita, mendadak menjadi denial garis keras dan menganggap kesepian adalah bentuk dari kekerenan itu sendiri. Namun lama kelamaan, sifat dasar manusia kita muncul. Manusia tercipta sebagai makhluk sosial, dan sama sekali tidak mungkin kita tidak membutuhkan orang lain. Disaat kita menyadari ini pula, kita yang telah tenggelam dalam kesepian, mulai menengadahkan pandangan ke atas, memikirkan hidup dan berharap ada orang di sisi kita untuk paling tidak menjadi teman bicara untuk sementara. Anomalisa, karya dari Charlie Kaufman, sutradara dan penulis naskah nyentrik yang menjadi otak di belakang film klasik, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, menceritakan kisah kesepian serta kekosongan yang dialami satu karakter, hingga derita tersebut tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, namun juga orang lain, terutama orang yang ia cintai.

Dibantu oleh Duke Johnson yang duduk di kursi penyutradaraan pada film pertama, Anomalisa masih memiliki DNA ciri khas milik Kaufman. Cerita yang unik, aneh, tidak jauh berpusat dari derita psikologis yang dialami oleh tokoh utama dan begitu kental akan atmosfir sureal nya. Memang, jika dibandingkan karya Kaufman sebelumnya, Anomalisa terkesan sederhana dan cukup mudah untuk diikuti berkat penceritaan yang tidak terlalu njelimet, serta film bergerak secara linear. Meski begitu, bukan berarti Kaufman tidak mengajak kita untuk berpikir dalam karya stop motion animated pertama nya ini. Setiap adegan memiliki makna, terutama mengenai "penyakit" yang dialami Michael, yang hadir sebagai representasi bila Michael telah mengalami diskoneksi akan kehidupan yang telah ia jalani. Suara Tom Noonan untuk tiap karakter dalam film ini, kecuali Michael dan Lisa, juga menggambarkan betapa monotonnya kehidupan Michael, setidaknya dari perspektif dirinya sendiri. Ya, sebagai penulis yang sukses, dikagumi oleh penggemar dan juga telah memiliki keluarga, mungkin bagi orang luar, kehidupan Michael sudah sempurna. Tidak ada yang perlu ia cari lagi. Namun, bagaimana bagi Michael sendiri? 

Dari menit awal, sebagai penonton, kita telah tenggelam dengan kebosanan yang dirasakan Michael. Tidak ada hal yang menarik baginya. Semuanya terlihat sama, rutinitas yang ia jalani tidak juga berbeda jauh seperti hari-hari sebelumnya. Michael pun berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlibat pembicaraan dengan orang lain. Datar nya dialog yang ada bersinergi dengan adegan yang berjalan ikut pula datar. Mungkin akan memberikan kebosanan bagi sebagian besar penonton, namun bagi saya sendiri, apa yang disajikan Kaufman disini tidak hanya untuk mengajak kita merasakan apa yang Michael alami, namun juga ikut untuk mengobservasi terhadap karakter Michael. Kembali di adegan awal nya yang datar ini, kita bisa berasumsi jika Michael sudah berulang kali melakukan aktivitas yang sama. Melakukan business trip untuk menjadi pembicara, berkunjung ke berbagai kota, menginap di hotel dan sebagainya. Karena itu lah, Michael sama sekali tidak antusias dalam menjalani nya. Bahkan ketika ada pasangan yang bertengkar pun, yang notabenenya bisa menarik perhatian khalayak umum, bagi Michael terkesan biasa saja. Memberikan indikasi yang cukup kuat jika ia pun sering mengalami hal yang sama terhadap pasangannya. Mau tahu apa yang berhasil mencuri perhatian Michael untuk pertama kali dalam film ini? Menyaksikan seseorang melakukan masturbasi di depan komputer. Ya, mungkin pula ini adalah pengalaman pertama bagi Michael menyaksikan orang lain melakukan kegiatan self pleasure seperti itu. 

Mungkin tidak separah apa yang Kaufman presentasikan disini dalam menggambarkan kekosongan melalui Michael, namun siapa yang tidak pernah merasakan apa yang Michael rasakan? Terutama bagi pekerja kantoran, yang setiap hari, setiap minggu nya terus melakukan aktivitas yang sama tanpa adanya variasi berarti, memaksa kita menjelma tidak berbeda jauh layaknya zombie. Umumnya, hal apa saja yang mampu menawarkan sedikit perbedaan saja, pasti akan kita apresiasi dan mencoba menikmati. Hal ini lah yang Michael rasakan kala ia mendengar suara Lisa yang untuk pertama kali nya, berbeda. Setelah mengalami perbincangan yang tidak menyenangkan yang berdampak akan timbulnya kegelisahan yang luar biasa, Michael mendengar suara Lisa, yang menghentikan cemas berlebihan Michael. 

Perbedaan yang ditawarkan Lisa pun mampu memberikan dampak positif bagi Michael. Untuk pertama kali ketika ia menginjakkan kota Cicinnati, ia merasakan semangat hidup. Ia ingin terus-terusan terlibat percakapan dengan Lisa, supaya bisa senantiasa mendengarkan suaranya. Kesan yang sama pun ikut saya rasakan, dimana ketika setengah jam lebih kita hanya melihat sosok Michael dan gambar rupa orang yang sama semuanya, sosok dan suara Lisa memang memberikan dampak yang signifikan. Suara dari Lisa sendiri mungkin biasa saja, begitu pula dengan sosoknya, bahkan dirinya sendiri tidak pede dan terkesan rendah diri terhadap penampilannya, namun saya sendiri melihat dan mendengarnya bagai sosok dewi. Saya pun ingin melihat Lisa lebih lama, ingin tetap mendengar suara nya. Sensasi ini jelas apa yang diharapkan Kaufman kepada penontonnya, berkat pendekatan absurd serta kental akan emptiness nya sebelum Lisa muncul di layar. Dalam waktu singkat pula, saya perduli dengan karakter Lisa, dan yang menyakitkan, tercium jika hubungan antara Michael dan Lisa tidak akan berjalan lama.

Ending yang hadir tidak hanya menghadirkan rasa pahit, namun juga kembali pada titik awal. Terdapat seorang yang tersakiti lagi, kebahagiaan yang didapat hanya sementara dan juga memakan korban. Bagi saya, akhir dari Anomalisa adalah satu dari sedikit film yang menawarkan rasa tanpa harapan dan membenci akan situasi yang ada. Anomalisa memang bukanlah sebuah perjalanan yang menyenangkan, namun merupakan visualisasi sempurna teruntuk mereka (juga saya) yang pernah atau sedang menjalani kekosongan di dalam hidup.

8,5/10 

Saturday, 14 December 2019


"This is a twisted web, and we are not finished untangling it, not yet."- Benoit Blanc

Plot

Penulis novel terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer), ditemukan tewas di pagi hari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke 85. Dugaan kuat bila Harlan tewas akibat bunuh diri, namun dugaan tersebut tidak menghentikan detektif swasta, Benoit Blanc (Daniel Craig), untuk melakukan investigasi serta mengumpulkan satu demi satu pernyataan dari tiap anggota keluarga, termasuk caretaker pribadi Harlan, Marta (Ana de Armas). 



Review

Tidak akan ada yang memungkiri bila Star Wars: The Last Jedi merupakan film paling divisive pada dekade ini. Kritikus boleh saja menyukai, namun tidak bagi para penggemar, dan hal ini bisa dilihat di situs Rotten Tomatoes dimana terlihat jelas perbedaan antara rating dari kritikus dan penggemar. Tak perlu ditanya juga bagaimana penggemar Star Wars begitu membenci film tersebut dan sering kali, salah satu kambing hitam yang sering disalahkan atau menjadi korban hujatan adalah Rian Johnson, yang tidak lain tidak bukan adalah sutradara dari The Last Jedi. Kredibilitas seorang Rian Johnson pun dipertanyakan, dan tidak jarang pula ia dianggap sebagai sutradara terburuk di generasi sekarang. Penilaian yang berlebihan menurut saya, karena terlepas bagus atau tidaknya The Last Jedi, resume dari Rian Johnson tidak lah sembarangan. Ia merupakan orang yang menyutradarai episode Breaking Bad, Ozymandias, yang masih menjadi satu-satunya episode tv series yang memegang rating sempurna di imdb. Dengan Looper, Johnson pun mampu menghadirkan kisah time travel yang menegangkan. Dan mengingat Knives Out adalah film pertama yang disutradarai juga ditulis oleh Johnson setelah The Last Jedi, saya menganggap jika ini adalah ajang pembuktian untuk Johnson jika penilaian buruk dari para penggemar Star Wars adalah salah besar.

Apabila Anda merupakan penggemar film bertipe drama kriminal ala detektif dengan sentuhan whodunit, maka Knives Out jelas film yang sangat tepat untuk Anda. Pada setengah jam awal saja, Rian Johnson telah menghadirkan momen interogasi intens yang melibatkan Blanc serta dua letnan polisi, Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) yang akan memberikan pertanyaan kepada tiap anggota keluarga yang ditinggalkan mengenai kejadian di saat pesta ulang tahun. Dari Linda (Jamie Lee Curtis), putri sulung Harlan bersama suaminya, Richard (Don Johnson), Walt (Michael Shannon), putra Harlan yang menjalankan penerbitan buku yang ditulis Harlan, hingga Joni (Toni Collette), semuanya memberikan pernyataan berdasarkan dari pertanyaan yang diajukan oleh Elliot. Dari permulaan, setiap kesaksian yang diberikan oleh mereka terlihat aman-aman saja, hingga kendali interogasi dipegang oleh Detektif Blanc, yang sontak akan membuka tabir baru sehingga penonton mempelajari jika terdapat konflik antara karakter yang terlibat dengan Harlan. Tampak juga jika hubungan antar anggota keluarga tidak lah sebaik yang diperkirakan.

Dari momen interogasi itu saja, saya telah yakin jika Rian Johnson paham betul bagaimana menghadirkan sebuah kisah misteri yang mampu mengikat erat penonton untuk senantiasa mengikuti hingga akhir. Gelontoran baris dialog yang ia tulis dihadirkan begitu dinamis dan tentunya berpotensi menyimpan kunci petunjuk jawaban sehingga bukan pilihan yang bijak jika Anda pangling sedikit saja dari layar.  Sebagai editor, Bob Ducsay menunjukkan kepiawainnya disini dengan editing yang dinamis dan menjadikan adegan demi adegan layaknya puzzle jigsaw. Selain itu, kasus yang ada tidak pernah gagal untuk menggelitik penonton supaya ikut terlibat dalam menduga-duga siapa tersangka yang paling mencurigakan untuk melakukan pembunuhan, apalagi ketika Johnson menghadirkan setiap konflik yang terjadi melalui flashback yang ada. Penonton secara sukarela memperhatikan alibi, motif bahkan sampai ke karakterisasi masing-masing karakter. Ya, Johnson seolah mengajak penonton untuk terlibat langsung laiknya detektif Blanc.

Tulisan naskah dari Johnson merupakan faktor utama mengapa Knives Out berjalan begitu menyenangkan dan tidak pernah membosankan. Tidak hanya Johnson teliti dalam menyebarkan kepingan-kepingan petunjuk melalui dialog, namun juga piawai dalam meminimalisir adanya plot hole yang mengganggu. Ditambah lagi, Knives Out tidak hanya berfokus untuk mencari jawaban siapa pelaku, namun senantiasa ada turning point dimana naskahnya melebarkan sayap dan menambah fokus penceritaan, sehingga membuat Knives Out seolah tidak pernah kehabisan bensin untuk senantiasa menjaga atensi penonton untuk tetap mengikuti kisahnya. Subverts expectations yang dilakukan Rian Johnson mungkin menjadi poin yang paling dikritisi pada The Last Jedi, namun untuk kisah orisinil seperti ini, tentu saja poin tersebut menjadi satu kekuatan, dan ini tidak terlepas dari ketelitian Johnson dalam membangun kasusnya. 

Knives Out memang tidak berakhir dengan tanpa cela. Yang paling mengganggu jelas saat filmnya mencoba menyentuh ke ranah aksi yang bagi saya sedikit out of place sehingga kalaupun tanpa adegan tersebut, rasanya Knives Out tidak lah kekurangan apapun, bahkan mungkin jauh lebih baik. Dan mengenai dialog nya, Johnson memang telah meminimalisir untuk meniadakan plot hole mengganggu untuk kasus nya, namun saya tak menampik ada beberapa poin yang patut dipertanyakan sehingga ada poin-poin itu seperti dipaksakan supaya mendukung plot nya. 

Pada beberapa kesempatan, terdapat sentuhan isu politik yang terpapar dari dialog nya. Yang paling kentara adalah fakta negara asal dari Marta yang sering kali berubah-ubah keterangannya dari masing-masing karakter. Kritik satir untuk penduduk Amerika? Saya tidak tahu. Namun yang pasti, ada maksud tersembunyi dari Johnson. 



Naskah dari Rian Johnson memang menjadi kekuatan utama, namun tentu saja film yang bagus memerlukan para pemeran yang bermain optimal. Bersama The Irishman, Knives Out adalah salah satu film yang memiliki ensemble cast yang brilian. Masing-masing aktor mampu menghidupkan karakter masing-masing sehingga walaupun tidak terlalu mendapatkan screentime yang banyak, namun penonton tidak melupakan kehadirannya. Namun bila saya harus memilih yang terbaik, akan ada 3 nama yang muncul, yaitu Daniel Craig yang tampil mencolok dengan aksen southern nya, serta piawai dalam menghadirkan sosok detektif Blanc yang pintar layaknya detektif dan juga tidak jarang komikal, lalu Chris Evans yang patut mendapatkan kredit lebih usai mampu menanggalkan sosok Captain America dalam dirinya dengan memerankan Ramson yang menyebalkan dan terakhir tentu saja ada Ana de Armas sebagai Marta yang menjadi sumber emosi setiap menit film berjalan serta mudah untuk mendapatkan dukungan dari penonton berkat kharisma likeable (serta cantik, tentu saja) dari Ana. Susah untuk menjelaskan lebih jauh karena berpotensi spoiler, namun yang jelas pada saat turning point nya muncul di layar, tetap tidak bisa melepaskan dukungan saya terhadap Marta.

Ditutup dengan iringan musik akustik lembut dari Nathan Johnson, Knives Out pun berakhir bagaikan kelegaan dari penonton setelah kita akhirnya mengetahui jawaban sebenarnya melalui sebuah adegan yang sangat intens dan juga menuntut daya ingat dari penonton mengenai petunjuk-petunjuk yang telah disebar oleh Johnson. Ditambah pula dengan sebuah shot gambar yang cukup memorable, Rian Johnson membuktikan kepada penonton kasual seperti saya bila ia tidaklah seburuk seperti penggemar Star Wars tuduhkan dengan menghadirkan sebuah film misteri yang susah terlupakan. Tidak heran bila beberapa tahun kedepan, label classic movie akan menempel erat untuk Knives Out. 

8,5/10

Sunday, 8 December 2019


"You're the first person in this process who's spoken to me like a human"- Charlie

Plot

Pernikahan Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson) tengah berada di ujung tanduk sebab Nicole menggugat cerai Charlie. Awalnya, masing-masing ingin menyelesaikan secara damai. Namun perlahan, konflik antara mereka makin lama makin rumit sehingga keduanya melibatkan pengacara untuk mendapatkan jalan keluar. Permasalahan pun kian melebar, termasuk perebutan hak asuh Henry (Azhy Robertson), putra semata wayang Charlie dan Nicole. Nicole tentunya ingin Henry tinggal bersamanya di Los Angeles, namun masalahnya, Charlie pun memiliki keinginan yang sama dan ingin mengasuh Henry di New York. Charlie keberatan jika harus bolak balik New York-Los Angeles terus-terusan karena disamping banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, namun pekerjaannya sebagai sutradara teater pun ikut terganggu.



Review

Pada adegan pembuka, Marriage Story menyapa kita dengan voice over yang masing-masing merupakan testimoni dari Charlie dan Nicole. Diawali dengan Charlie menggambarkan sosok Nicole yang didominasi akan pujian nya terhadap Nicole, begitu pun sebaliknya. Nicole digambarkan oleh Charlie sebagai kepribadian yang mampu membuat orang nyaman di dekatnya, pendengar yang baik, aktris berbakat, tidak egois dan jago menari. Sedangkan Nicole menyukai Charlie yang berani untuk tidak mendengar pendapat orang lain demi cita-citanya, sangat menjaga kerapian, mandiri dan suka menjadi seorang ayah. Dari dua voice over yang terdengar, tampak bila Charlie dan Nicole seperti pasangan yang mencintai dan begitu mengenal satu sama lain, hingga ketika voice over selesai dan Noah Baumbach menghadirkan fakta kepada penonton jika keduanya tengah menghadapi proses perpisahan. Kurang dari 10 menit, Baumbach telah mengikat atensi saya untuk terus mengikuti kisahnya hingga akhir. 

Kita pun menangkap jika yang menginginkan perceraian adalah Nicole. Maka dari itu, narasi di awal akan bergerak dengan menelusuri motif dibalik keputusan Nicole tersebut dan sepenuhnya diambil dari sudut pandang Nicole. Namun sebelum menuju kesana, Baumbach memilih untuk membangun kedekatan penonton dengan Nicole. Kita diajak untuk mengenalnya, bagaimana interaksi antara dia dengan Charlie, Henry serta ibu dan adik nya, hingga ke pekerjaannya. Dari baris dialog, belum terlalu frontal karena Baumbach sengaja untuk menyebarkan keping-kepingnya terlebih dahulu sebelum kita akhirnya mendapatkan jawaban kala Nicole curhat dengan calon pengacara nya, Nora  Fanshaw (Laura Dern). Dan dari obrolan inilah, saya yang awalnya hanya berekspektasi Marriage Story sebagai film drama perceraian kebanyakan, mendapatkan suguhan adegan emosional yang mampu membuat saya terkesima. Dan percayalah, adegan seperti ini akan menyapamu berkali-kali dalam Marriage Story. 

Yang membuat Marriage Story begitu fantastis adalah kepekaan rasa dari Baumbach dalam membangun konfliknya serta keberhasilannya Baumbach untuk membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter. Baumbach tidak buru-buru dalam menjalankan narasinya. Pembagian screentime antara Charlie dan Nicole saya rasa juga sudah adil, karena Marriage Story sepenuhnya memang diambil dari POV dua karakter ini. Kita diajak untuk melihat perjalanan kedua karakter untuk mencoba menyelesaikan permasalahan diantara mereka, yang nantinya secara perlahan semakin melemahkan dan harapan untuk bisa kembali bersama juga ikut menipis. Dari Charlie dan Nicole sendiri menghadapi konflik ini dengan berbeda, dimana Nicole lebih terlihat fragile dan lemah, berbanding terbalik dengan Charlie yang lebih kalem serta santai. 

Namun dibalik terlihat lemahnya Nicole, nyatanya ia lebih bijak, fokus dan taktikal dalam mengurus perceraiannya. Dari baris dialog saja, kita mengetahui jika Nicole sudah beberapa kali mengunjungi kantor untuk mendapatkan pengacara, sebelum akhirnya ia menunjuk Nora sebagai pengacara resminya. Berkat ini pula Nicole sudah beberapa langkah di depan dibandingkan dengan Charlie yang tanpa sadar semakin ditekan oleh situasi. Minim pengetahuan tentang perceraian dan kenaifannya dalam menghadapi situasi mengakibatkan ia tertinggal jauh.

Iya, naif. Sebab Charlie masih menganggap Nicole tidak akan full power dalam melawannya. Charlie masih berpikir jika pintu untuk menyelesaikan permasalahan dengan calon mantan istri bisa dilakukan tanpa harus melibatkan pengacara, serta tanpa harus berakhir dengan saling menyakiti. Fakta ini juga mengindikasikan jika Charlie belum kenal betul dengan istrinya, yang turut pula didukung dengan curhatan Nicole sebelumnya. Pada momen ini, rasanya mudah bagi penonton untuk mendukung Nicole. Terlebih lagi juga akan terkuak fakta baru bila Charlie juga bukanlah suami yang baik-baik amat karena satu dosa yang telah dilakukan.

Menit per menit durasi film berjalan, Baumbach akan menghadirkan beberapa fakta untuk mendukung narasi. Yang membuat Marriage Story hebat lagi adalah kenyataan jika film ini cukup informatif bagi penonton yang sama sekali tidak tahu bagaimana proses perceraian serta peliknya urusan dalam mengambil hak asuh anak. Sudah rahasia umum jika fakta bukanlah hal yang konkrit dalam peradilan, namun saya tidak menduga juga jika satu statement yang terucap, bahkan sudah terlupakan mungkin saja, bisa menjadi motif yang kuat untuk menekan lawan. Ketika Charlie berusaha untuk mendapatkan pengacara pun kita disuguhkan dengan fakta serta situasi yang menarik. Dan Baumbach  dengan cermatnya menghadirkan dialog-dialog seringan mungkin untuk meminimalisir tersesatnya penonton. Sering kali juga terdapat humor menggelitik yang terselip di tengah situasi serius, seperti momen di persidangan atau ucapan dari Nicole kala Nora memeluknya pertama kali. Hal ini yang membuat Marriage Story tidaklah terlalu depresif untuk diikuti seperti Revolutionary Road atau Blue Valentine. 

Kala Adam Driver hampir mendominasi jalan cerita di pertengahan, di saat itu juga penonton mulai menyaksikan karakter Charlie semakin terlihat kehabisan jalan. Karakternya yang pada awalnya tenang, mulai menunjukkan kekhawatiran, dan pada satu titik pun kita akhirnya melihat keputus asaan yang ia rasakan. Ingat ketika saya sebelumnya bilang bila Baumbach mampu membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter saja? Iya, pada momen inilah, kita bisa bersimpati pada karakter Charlie. Toh, terlepas dari kekurangannya, ia tetap adalah seorang ayah yang menyayangi putra nya. Dan melihat perjuangannya untuk mendapatkan hak asuh penuh, hingga nantinya bersedia keluar uang banyak demi mendapatkan pengacara yang mampu melawan Nora, Charlie berhasil menjadi lawan sepadan Nicole dalam hal merebut simpati penonton. 

Marriage Story secara mengejutkan berhasil mengaduk-aduk perasaan saya melihat konflik terjadi. Baumbach sukses memposisikan saya layaknya anak yang tengah menyaksikan ayah ibu nya bertengkar untuk mendapatkan saya. Kita ingin keduanya baik-baik saja, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menemani mereka kala dibutuhkan. Ada 2 atau 3 kali momen yang mampu membuat saya meneteskan air mata. Seperti tentu saja ketika Nicole akhirnya mengungkapkan alasan mengapa ia memutuskan untuk berpisah dengan Charlie. Ekspresi hopeless dari Adam Driver pun sering membuat saya trenyuh melihat nasib Charlie. Namun pertahanan saya untuk tidak menangis akhirnya jebol juga tepatnya pada saat Henry dan Charlie membaca sesuatu. Air mata yang menyayangkan kondisi sehingga membawa pasangan ini hingga ke titik itu. 

Baumbach juga begitu pintar untuk menyampaikan maksud tanpa harus ada dialog, hanya cukup dengan visual saja. Ambil contoh gambar di atas, dimana Nicole dan Charlie di dalam kereta, keduanya saling menatap dengan posisi berseberangan, dan terletak tiang pegangan kereta di tengah-tengah mereka. Mengindikasikan bila sebenarnya ada sekat di antara mereka berdua, namun sekat itu pula yang menghalangi mereka untuk membicarakan perasaan masing-masing. Situasi pun kembali dihadirkan oleh Baumbach ketika mereka berdua memutuskan untuk berbicara. Dengan pengambilan gambar yang sama, namun tanpa sekat. Dan pada momen ini lah kita mendapati momen penguras emosi terbesar yang mampu memaksa saya merasa miris dan sedih dalam diam, dimana Baumbach menelanjangi rasa terpendam masing-masing dari Nicole maupun Charlie. Brilian.

Adam Driver dan Scarlett Johansson jelas bermain fenomenal disini. Bagi saya, ini adalah peran paling emosional dari ScarJo, lengkap dengan ditanggalkannya kesan seksi yang selalu melekat pada dirinya sehingga penonton lebih terfokus pada aktingnya. Johansson mampu menampilkan kerapuhan Nicole tampak begitu nyata dan tidak mendramatisir, serta diimbanginya juga dengan kesan strong mother tanpa kehilangan kehangatan. Lihat saja momen ketika ia mengikat tali sepatu Charlie di suatu kesempatan. Driver pun juga tidak kalah fenomenal nya, dengan penampilannya sebagai Charlie yang perlahan semakin tidak tahu harus bagaimana lagi. Driver begitu piawai dalam berbicara secara subtil melalui mimik muka sehingga penonton ikut merasakan, meski tanpa iringan dialog atau ekspresi menangis dsb. Dengan meyakinkannya pula ia mempresentasikan kejatuhan seorang Charlie akibat kalah atas kondisi secara perlahan. Kala ia menyanyikan lagu "Being Alive", disitu pula puncaknya Driver membuncahkan semua rasa kesedihan dan pahit walau tanpa harus dengan air mata mengalir. Malah sepertinya penonton lah yang mampu ia buat menangis (saya hampir aja nangis lagi).

Marriage Story begitu merefleksikan pada kenyataan, dibantu dengan tiada hitam dan putih pada karakternya. Keduanya memiliki kelebihan, dan tak terlepas dengan kekurangan juga. Baumbach pun mengakhiri film nya dengan tone yang cukup hangat namun kental akan ironi berkat iringan musik dari Randy Newman. Pada akhirnya, kehidupan harus tetap berlangsung, dan kita pun kembali untuk beradaptasi dalam fase kehidupan yang baru. Marriage Story tentu memiliki kekurangan, dan yang paling jelas adalah durasinya yang cukup panjang yaitu 136 menit, namun dalam pengalaman menonton pertama saya tidak terlalu memikirkan kekurangan film ini. Yang saya tahu, Marriage Story adalah salah satu film tentang perceraian terbaik, bersama dengan Revolutionary Road atau Blue Valentine.



8,75/10

Saturday, 7 December 2019

"Motherhood is a mental illness"- Ramona

Plot

Sebagai stripper yang baru bekerja di club Moves, Destiny (Constance Wu) kesulitan untuk mendapatkan penghasilan yang memuaskan. Sadar jika kemampuannya dalam "menghibur" perlu ditingkatkan, Destiny pun mencoba mendekati Ramona (Jennifer Lopez), stripper kelas atas yang juga bekerja di tempat yang sama layaknya Destiny. Ramona dengan senang hati menerima Destiny sebagai muridnya, dan perlahan hubungan mereka pun semakin dekat sehingga mereka berdua pun berteman. 



Review

Diangkat dari artikel New York Magazine karya dari Jessica Pressler bulan Desember 2015, Hustlers bisa saja hanya menjadi film yang mengeksploitasi tubuh-tubuh indah para aktris yang terlibat dikarenakan tema film nya sendiri begitu kental dengan dunia malam serta pastinya, striptease itu sendiri. Namun di tangan Lorone Scafaria, Hustlers memiliki cerita yang lebih dari sekedar 4 stripper yang melakukan tindakan kriminal demi pendapatan lebih. Kental dengan unsur kekeluargaan, persahabatan serta usaha untuk bertahan hidup, Hustlers bisa saja menjadi film bertemakan kriminal yang emosional dan mampu memberikan perspektif lain untuk para pekerja malam yang sering mendapatkan stigma negatif ini. Ada usaha menuju kesana, namun sayangnya, Scafaria terlarut menyajikan hidup glamor dan perilaku foya-foya para karakter nya, ketimbang mengambil opsi untuk memperdalam interaksi, atau kehidupan intim para karakter kala tidak sedang beraksi di pole dance atau merayu para pria yang akan menjadi korban.

Scafaria menyajikan Hustlers dengan gaya non linear, dimana kala film berjalan sepuluh menit, kita sudah mendapati sosok Destiny tengah diwawancarai oleh jurnalis, Elizabeth (Julia Stiles). Meski Anda bukan penonton yang telah mengetahui kisah dari film ini diangkat, Anda sudah bisa menangkap dari obrolan antara Destiny dan Elizabeth jika nantinya Destiny dan Ramona akan melakukan tindakan di luar hukum. Serta dari obrolan ini juga lah, tertangkap jika akan ada konflik yang terjadi antara Destiny dan Ramona.

Penonton perlu merasakan kedekatan dengan Destiny serta pertemanannya dengan Ramona, sehingga ketika konflik mulai bermuara yang menyebabkan keretakan hubungan pertemanan antar keduanya, penonton akan menyayangkan kenyataan itu dan berharap sebisa mungkin keduanya tetap berteman, dan Scafaria jelas menyadari ini. Karena itu lah, ketimbang untuk menggerakkan Hustlers langsung masuk ke aspek kriminal nya, Scafaria lebih memilih untuk membangun kedekatan tersebut dengan menghadirkan hari-hari dimana Ramona mengajari Destiny bagaimana menari erotis di atas panggung serta menghibur para klien dengan lebih sensual. Tidak hanya itu, Destiny pun diperkenalkan dengan teman-teman Ramona serta memberikan informasi lebih dalam perihal Wall Street guys yang kerap kali menjadi pelanggan Moves. Bagaimana untuk setiap kelas nantinya mendapatkan perlakuan yang berbeda, dan untuk para bos-bos Wall Street jelas akan mendapatkan treatment khusus. Mereka dibiarkan bertindak sesuka hati tanpa harus khawatir akan konsekuensi selama uang terus dikeluarkan. 

Mungkin Anda sebagai perempuan akan merasakan ketidaknyamanan melihat bagaimana berkuasa nya para pria disini dengan kekuasaan yang dimiliki, namun jangan khawatir, karena malah sebaliknya, mayoritas disini para pria ditampilkan layaknya pria hidung belang yang bodoh dan mudah tertipu akibat akal mereka yang telah tergoda akan keindahan tubuh perempuan. Scafaria pun sempat menyinggung harga diri para laki-laki yang masih merasa malu untuk melaporkan kejahatan yang dilakukan Ramona dkk hanya karena tidak ingin dilihat lemah setelah menjadi korban para wanita. Iya, dengan filmnya yang kental akan pekerjaan yang bagi saya menjatuhkan harga diri wanita, disini Scafaria bermurah hati untuk memperlakukan para stripper terlihat lebih cerdas juga kuat.

Mengenai relasi Destiny-Ramona yang menjadi salah satu fokus utama, walau saya tidak terlalu terikat lebih dalam, namun setidaknya saya menyukai hubungan keduanya. Ramona terlihat bak seorang kakak bagi Destiny, yang notabenenya memiliki masa lalu menyedihkan yang erat dengan kesepian. Destiny sendiri hanya tinggal bersama nenek nya seorang diri, dan nantinya pula ia akan memiliki putri dari hubungan yang tidak bertahan lama. Di berbagai kesempatan, Destiny sering mengungkapkan jika ia ingin menghasilkan uang sebanyak-banyak nya untuk bisa mandiri tanpa harus bergantung dengan orang lain. Keinginan ini juga yang diharapkan Scafaria yang juga menulis naskah untuk film ini supaya penonton memahami kala Destiny lebih memilih untuk tidak menghubungi Ramona walaupun kondisi Destiny tengah menjalani masa yang sulit. 

Pada saat ini lah, Destiny akhirnya kembali bertemu dengan Ramona. Berkat akting kaya rasa serta kuatnya chemistry antara Wu-Lopez, saya merasakan kehangatan kala Destiny memeluk erat Ramona. Dengan bertemu nya mereka berdua, Hustlers pun memasuki babak baruk dan disinilah elemen kriminal nya begitu kental terasa. Dan siapa sangka juga, kala film mulai menghadirkan praktek terbaru yang dijalani oleh Ramona bersama Destiny, serta dua teman mereka lainnya, Annabelle (Lili Reinhart) dan Mercedez (Keke Palmer), Hustlers justru menghadirkan beberapa momen komedik yang efektif mengundang tawa. 

Sumber tawa tidak jauh dari reaksi karakter nya sebab para pria yang teler akibat minuman yang dimasukkan obat campuran ketamine dan ekstasi. Ambil contoh ketika mereka melakukan metode ini untuk pertama kali, dimana kepanikan terjadi di salah satu room karena sang korban tidak sadar diri. Serta yang terbaik tentu saja saat Destiny tengah berkendara ke rumah sakit untuk mengantarkan korban yang pingsan. Kepanikan-kepanikan yang terjadi ini bagaikan reminder untuk penonton bila Destiny dan lainnya sejatinya masih amatir untuk melakukan tindakan kriminal, menandakan jika mereka terpaksa untuk melakukan metode kriminal nya.

Hustlers terlihat menjanjikan sebelum nantinya film bergerak menuju akhir, setidaknya setelah  momen perayaan natal yang dirayakan bersama. Dari sini Hustlers malah bergerak sedikit terburu-buru dalam menyajikan tiap kepingan-kepingan kejadiannya. Perpindahan tiap momen pun kurang mulus serta yang paling terasa adalah metode yang dilakukan oleh mereka tiba-tiba saja menemui kendala. Aspek ini akan berpengaruh besar terhadap mulai retaknya hubungan persahabatan antara Destiny dan Ramona. Terlebih lagi ketika Ramona mulai membawa anggota-anggota baru untuk menjalani bisnis kotornya. Destiny pun tidak menyukai kedekatan Ramona dengan salah satu anggota baru nya. Entah rasa tidak suka tersebut didorong karena kekhawatiran Destiny akibat kecerobohan karakter tersebut, atau sederhana karena rasa cemberu melihat teman dekatnya menemukan teman yang lain. 

Dan pada third act nya ini juga, keputusan Scafaria yang sebelumnya lebih memilih memperlihatkan kehidupan glamor para karakter nya memberikan dampak yang tak diinginkan. Pendekatan ini mengakibatkan keempat karakter utama jatuhnya sedikit unlikeable. Maksud saya, bagaimana mungkin penonton bisa bersimpati kala mereka berempat saja sudah melakukan tindakan kriminal dan mereka lebih memilih melakukan pesta serta foya-foya atas hasil yang mereka dapati? Karenanya, ketika kesulitan hidup kembali menghampiri Destiny dan metode kriminal yang mereka ambil mulai mendapatkan perhatian dari pihak berwajib, saya kesulitan untuk bersimpati pada tiap karakternya, termasuk Destiny. Bahkan pada saat ia ditinggal pergi selamanya oleh satu karakter, saya hanya membatin "okay, that's sad". Hanya itu. Hal ini tidak lepas karena minim nya screen time yang dihabiskan para karakter dengan orang-orang terkasih mereka. Bahkan sebenarnya Scafaria bisa mengeksplor lebih jauh atas penyesalan Destiny atas kejadian tragis yang menimpa korban terakhir nya, ketimbang hanya disebabkan keduanya sempat bercerita tentang anak mereka masing-masing. 

Walau Hustlers mungkin tidak terlalu berkesan, namun yang jelas, Hustlers akan selalu diingat sebagai film yang akhirnya berhasil memanfaatkan sebaik-baiknya talenta dari Jennifer Lopez. Meskipun Constanze Wu bermain prima sebagai sumber hati akan film ini, namun jelas J-Lo adalah scene stealer. Kharisma primadona nya begitu bersinar, bahkan kala ia berpakaian casual saja, kharisma tersebut tidak lah luntur. Totalitas nya dalam menjalani latihan pole dance terlihat hasil nya kala ia memamerkannya di adegan paling seksi dalam film ini. Tidak hanya seksi, namun juga terlihat elegan serta berkelas. 

7,25/10

Saturday, 21 September 2019


"Better to be king for a night than schmuck for a lifetime."- Rupert Pupkin

Plot

Meski telah berusia 30an, nyatanya Rupert Pupkin (Robert De Niro) masih memiliki mimpi untuk menjadi komedian terkenal. Kesempatan untuk menggapai mimpi itu seolah menemukan jalan, kala di suatu malam, Rupert berhasil memanfaatkan kesempatan di tengah keriuhan puluhan penggemar dari host talk show terkenal, Jerry Langford (Jerry Lewis), yang  ingin meminta tanda tangan idola nya. Rupert sendiri sukses menyelinap masuk ke dalam mobil Jerry dan tanpa basa basi, mengutarakan niatnya untuk bisa hadir di acara talk show dari Jerry. 




Review

Sebenarnya saya udah lama memendam keinginan untuk segera menonton film kolaborasi  kelima antara Scorsese dan De Niro ini, tapi beneran deh, susah sekali nyari versi downlodan nya. Sempat terlupakan, baru-baru ini tetiba saja saya mendapatkan rekomendasi dari teman jika film ini bagai hidden gems dari Scorsese. Semangat untuk menyaksikan The King of Comedy pun akhirnya kembali hadir. Setelah berusaha cukup lama, saya akhirnya mendapatkan downloadan nya. Dan siapa yang menyangka, meski memiliki kata "Comedy" di judul nya, namun film ini didominasi akan tamparan ironi realita bagi pemimpi layaknya Rupert Pupkins. Anggap saja saya berlebihan, namun karena kisahnya begitu relatable, The King of Comedy adalah film yang paling tidak mudah dinikmati dari Scorsese setelah Silence.

Kisah berpusat pada karakter Rupert Pupkins. Ia pria lajang, berumur 34 tahun dan masih tinggal dengan ibunya di apartemen sederhana. Memiliki impian untuk menjadi komedian besar, Rupert sering berlatih bermonolog di dalam kamar nya, yang sering pula mengganggu ketenangan ibu nya. Melalui perspektif penonton, kita bisa mengetahui jika Rupert bukanlah pria tanpa bakat. Setidaknya bagi saya, Rupert sadar akan bakatnya tersebut dan tidak salah jika ia bermimpi untuk menjadi komedian. Menjadi permasalahan adalah Rupert kesulitan untuk mendapatkan kesempatan, sehingga talenta komedinya tersebut sama sekali tidak mampu menghantarkan dirinya kepada kesuksesan. Maka ketika akhirnya ia menemukan setitik harapan cerah supaya bisa berkarir di dunia komedi saat ia berhasil berbincang dengan Jerry, disitulah ia rela melakukan apa saja untuk menggapai mimpinya. I mean, literally, apa saja.

Lebih dari itu, Rupert adalah seseorang yang naif nan polos. Dirinya bagai anak kecil yang masih dipenuhi api semangat membara demi mengejar impiannya yang terjebak dalam tubuh pria dewasa. Di kala kebanyakan pria dewasa seperti dirinya untuk lebih memilih realistis dan mengubur impiannya, Rupert menolak. Dengan cara apapun, ia akan mengabulkan mimpinya. Pada akhirnya, ia ingin kelihaian komedinya disadari dan dinikmati oleh banyak orang. Namun, asumsi saya, yang terpenting untuk Rupert adalah ia mampu membuktikan kepada orang sekitarnya jika ia bukanlah omong kosong dan bodoh seperti anggapan orang banyak. Penggambaran karakter Rupert ini lah yang senantiasa memberikan kesan tidak nyaman untuk saya sebagai penonton.

Melihat sosok Rupert yang begitu optimis di tengah kondisi minim harapan, tak ketinggalan sering kali senyum yang ia lontarkan, tentu saja memberikan kesan pedih dan miris. Ditambah lagi Rupert adalah sosok yang berdedikasi, dimana ia terus berlatih dan berlatih di apartemen sederhananya, tidak perduli jika latihannya tersebut rupanya mengganggu ketenangan ibu nya yang tinggal bersama dirinya. Terpenting bagi Rupert, ia akan selalu berlatih sembari menanti kesempatan akhirnya datang kepadanya. Rasanya tidak mungkin Anda tidak bersimpati pada karakter ini setelah melihat berbagai usahanya untuk menjemput kesempatan tersebut. Saya jujur hampir meneteskan air mata pada adegan "laugh scene", dimana Rupert berlatih monolog di depan gambar penonton yang tertempel di dinding, kamera menyorot dari belakang Rupert, sambil bergerak perlahan menjauhi Rupert, untuk menangkap kesepian dan betapa ironis nya kehidupan yang dijalani Rupert. Pada adegan ini pula kita bisa merasakan sensitivitas rasa dari Scorsese. 

Kritik terhadap dunia hiburan pun tidak ketinggalan disuarakan oleh Scorsese. Dan disinilah fungsi karakter Jerry Langford. Jerry boleh saja merupakan entertainer yang sukses, namun kesuksesan tersebut malah memberikan tekanan pada Jerry. Tidak hanya itu, Jerry pun juga harus pandai dalam menghadapi penggemarnya yang banyak, terutama bagaimana ia harus menghadapi penggemar militan layaknya Masha (Sandra Bernhard). Bukannya memberikan kebahagiaan, kesuksesan yang ada justru menghadirkan kehampaan dalam diri Jerry. Tak dieksplor terlalu dalam memang, namun apa yang dihadirkan Scorsese disini sudah cukup efektif. Penonton, seperti saya, memang sering kali seenak jidat menilai kepribadian para aktor/entertainer seperti Jerry, padahal apa yang kita lihat hanya lah dari layar, tanpa memikirkan bagaimana kehidupan mereka ini kala layar kamera tidak menyorot mereka. 

Meski sudah berumur lebih dari 3 dekade, nyatanya The King of Comedy masih memiliki tingkat relevansi yang tinggi jika ditonton pada zaman sekarang. Hal ini tidak terlepas dari fakta bagaimana industri hiburan zaman dahulu hingga sekarang bekerja tidak lah terlalu jauh berbeda. Talenta dan integritas bukan menjadi faktor utama dari kesuksesan, melainkan aspek non teknis seperti skandal, riwayat buruk dari entertainer lah yang malah menjadi sorotan sehingga lebih berpengaruh besar dalam mendongkrak nama dari artis itu sendiri. Lihat saja sekarang, banyak sekali talenta-talenta berbakat namun seolah tenggelam dengan mereka yang lebih mengandalkan kontroversi maupun konflik demi mendapatkan jatah spotlight. Scorsese seolah menampar keras sistem ini melalui ending gelap yang hadir pada film ini. Kala akhirnya nama Rupert Pupkin menjadi headline di seluruh wilayah, namun harus dibayar mahal akibat kenekadannya.

Sudah begitu banyak film-film hebat yang tercipta dari kolaborasi Scorsese dan De Niro, seperti Casino, Raging Bull dan tentu saja Goodfellas. De Niro pun senantiasa bermain cemerlang di bawah arahan Scorsese, namun bagi Scorsese, penampilan terbaik De Niro selama bekerja sama dengannya adalah pada film ini, dan saya sepertinya sepakat dengan Scorsese. Patut diingat, De Niro sebelumnya telah memerankan karakter anti hero berkharisma yang dekat dengan kriminal seperti Vito Corleone , Travis Bickle dan Jake Lamotta. Namun, sosok De Niro yang selalu memerankan pria karismatik sepenuhnya hilang disini. De Niro bermain luar biasa dalam memberikan performanya sebagai Rupert yang polos, naif, always thinking "everything is gonna be fine", clumsy, terkesan bodoh dan mudah ditipu. Seperti yang saya tulis sebelumnya bila Rupert bagaikan anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa, dan De Niro berhasil merepresentasikannya dengan brilian. Dengarkan saja teriakan "Maaaaaa!!!" setiap kali ia dibentak oleh sang ibu. Jika Anda ingin melihat betapa luasnya range akting dari De Niro, maka The King of Comedy adalah pilihan yang tepat. Puncaknya kala De Niro melakukan stand up comedy di akhir. Kaya akan gestur tubuh, ekspresi muka yang tepat sasaran, dan kejutannya, stand up yang ia lakukan benar-benar lucu secara alami. Ya, kelucuan yang hadir tanpa kita sadari adalah sebagai distraksi bila sebenarnya bit demi bit yang dibawakan oleh Rupert adalah pengalaman hidupnya sendiri. Bravo!

Sayang memang, film ini tenggelam jika dibandingkan film-film masterpiece Scorsese lainnya. Mungkin karena pada saat itu, The King of Comedy tidak berhasil meraih kesuksesan jika ditilik dari pendapatan uang, bahkan bisa dibilang cukup gagal besar, walau para kritikus menyukai nya. Padahal bila dilihat dari kualitas, The King of Comedy jelas bisa disandingkan dengan Goodfellas, Raging Bull atau Taxi Driver sekalipun, lewat performa luar biasa dari De Niro (yang secara mengejutkan tidak mendapatkan nominasi aktor terbaik versi Oscar!!) serta begitu dekatnya kisah yang diangkat oleh Scorsese. Masterpiece tersembunyi dari Scorsese berkat tamparan realita dunia hiburan yang begitu penuh ironi, dibalut komedi hitam yang tidak akan membuat mu tertawa, melainkan malah trenyuh dan hati tercabik kala melihat perjalanan sosok Rupert Pupkin.

8,75/10

Friday, 13 September 2019


"That's all"- Miranda Pristley

Plot

Lulusan anyar jurusan jurnalis yang seketika mendapatkan pekerjaan yang diklaim beberapa orang merupakan pekerjaan yang membuat sejuta wanita rela untuk membunuh siapapun, itulah Andy Sachs (Anne Hathaway) yang secara mengejutkan mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten kedua Miranda Priestly (Meryl Streep), pemimpin redaksi majalah fashion, Runway. Miranda sendiri telah dianggap sebagai the living legend dalam dunia modeling serta dihormati oleh banyak orang, namun selain itu, dirinya pula dikenal sebagai wanita bertangan dingin dan tak kenal ampun jika telah berkaitan dengan pekerjaan. 



Review

Anda dan saya pasti pernah mendapatkan satu bos kejam tanpa ampun dalam suatu pekerjaan, dan jika memang salah satu dari Anda belum pernah merasakan, well, I will congratulate but feel a pity to you. Berada di bawah pimpinan yang kejam tanpa hati memang terdengar seperti kiamat dan kalau bisa dihindari, tetapi bila dipikir lebih dalam lagi, sebenarnya kita telah mendapatkan suatu pengalaman yang sulit untuk dilupakan, serta sering kali, pimpinan kita yang kejam tersebut malah menjadi salah satu bos yang mungkin pula sulit kita gerus dalam ingatan. Pengalaman seperti inilah yang akan didapatkan Andy, seorang gadis muda yang baru saja menyelesaikan studi kuliah nya di jurusan jurnalis, hidup di salah satu kota tersibuk di dunia, New York, harus menerima kenyataan jika dirinya akan segera mendapatkan bos kejam yang kelak akan memberikan pelajaran paling berharga sepanjang hidupnya.

"Million girls would kill for that job", statement yang tiap kali Andy dengar untuk posisi yang kini ia tempati. Memang, bukan sembarang orang yang memiliki kesempatan untuk bisa menjadi asisten pribadi seseorang yang dianggap begitu powerful dan berpengaruh. Pada awalnya pun, Andy sama sekali buta akan dunia fashion, bahkan ia tidak pernah membaca majalah Runway sehingga ia tidak mengenal siapa itu Miranda Pristley dan mengapa sosoknya begitu ditakuti, yang kelak ia akan ketahui dalam hitungan menit kala Andy menginjakkan kakinya di gedung kantor majalah tersebut untuk memenuhi panggilan interview.

Penonton pun juga tidak perlu menunggu lama karena saat film baru berjalan 2 menit saja, kita telah diajak berkenalan dengan sosok Miranda. Entrance dari Miranda sendiri diracik begitu apik oleh David Frankel, sang sutradara. Dengan memperlihatkan para pegawai bekerja, berlari kesana kemari melakukan tugasnya masing-masing, termasuk Emily (Emily Blunt), asisten pribadi pertama Miranda, lalu diperlihatkan pula Miranda yang perlahan menuju ke meja kantor nya. Kesan akan betapa ditakutinya Miranda oleh bawahannya telah sukses didapatkan penonton, dan saat lift elevator dibuka, kita pun akhirnya melihat sosok Miranda. Tidak butuh waktu lama, Meryl Streep langsung saja melakukan monolog, memberikan komando perintah pada Emily dan bawahan lainnya agenda apa saja yang harus dikerjakan, hingga ia tiba di meja kantor, melihat sekilas Andrea dan siap melakukan interview untuknya. Dan dalam durasi kurang lebih 1 menit itu pula, penonton telah terpana dan terkesima akan karakter ini.

Judul film ini tentu saja merujuk pada karakter Miranda. Kata "Devil" pun telah menggambarkan dirinya merupakan seorang pimpinan yang kalau bisa kita hindari, bahkan untuk hadir dalam mimpi pun jangan. Namun, dengan performa memikat dari Meryl Streep, saya justru selalu menantikan kehadirannya di setiap menit dalam film. Setiap gestur yang ia lakukan sangat mempesona dan anggun (ditambah lagi kecantikan abadi dari Meryl Streep), terlihat meyakinkan jika dirinya memang adalah sosok bos yang layak dihormati dalam dunia mode, ditambah dengan busana yang ia kenakan semakin menambah dosis keanggunannya. Saya pribadi suka sekali setiap kali Miranda menopangkan dagu di salah satu tangannya.


Sayang memang penampilan spesial dari Meryl Streep tidak diimbangi dengan penulisan cerita yang bisa dibilang sangat klise. Walau fondasi cerita nya cukup rapi, namun kisahnya sendiri bisa dibilang predictable. Penonton sudah bisa menebak jika karakter Andy akan mengalami kesulitan beradaptasi dalam pekerjaan terbaru nya, kemudian saat telah menemui titik terendah, ia akan bangkit dan berhasil memberikan pelayanan kerja yang baik sehingga bisa membuat Miranda kagum dan mulai menganggap dirinya. Konflik pun tercipta sesuai dengan tebakan saya, yaitu dengan keberhasilan Andy melakukan pekerjaan nya, ia justru semakin melupakan kehidupan pribadinya. Sebagai penulis naskah, Aline Brosh McKenna, memang seolah menolak untuk melakukan perbedaan. Konklusi dari konflik yang tercipta pun terkesan menggampangkan dan masih meninggalkan beberapa pertanyaan di benak. Saya pribadi cukup menyayangkan minus nya karakter Nigel (Stanley Tucci) di bagian akhir. Padahal karakter Nigel merupakan karakter yang paling suportif dan berpengaruh akan tahan banting nya Andy selama bekerja di Runway.

Beruntung The Devil Wears Prada memiliki protagonist utama sekaliber Anne Hathaway. Penampilannya bukan lah yang terbaik, namun ia cukup berhasil menggambarkan konflik batin yang dirasakan Andy. Anne pun juga memiliki pesona likeable sehingga tidak sulit penonton untuk memberikan simpati terhadap karakternya.

Ceritanya memang klise dan ringan, namun justru karena itu film ini mudah untuk diikuti. Ditambah lagi elemen komedinya ditangani dengan baik oleh David Frankel yang sadar akan timing. Tentu pusat komedinya adalah sulitnya Andy dalam memenuhi banyaknya permintaan dari Miranda yang sudah pasti tidak akan memaafkan kesalahan sekecil apapun, tidak perduli juga betapa mustahil nya order dari nya, yang hanya ingin ia ketahui adalah permintaannya terpenuhi atau tidak. Cocok sekali untuk dinikmati dalam waktu senggang, seraya bagi yang pernah berada di posisi Andy, bisa jadi The Devil Wears Prada menjadi wadah untuk penonton bernostalgia sembari menertawakan kesialan demi kesialan Andy, dan mengingat kembali hari-hari neraka ketika masih menjadi bawahan dari bos mengerikan tanpa kenal ampun.

7,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!