Showing posts with label Fantasy. Show all posts
Showing posts with label Fantasy. Show all posts

Wednesday, 15 January 2020


"Damn ye! Let Neptune strike ye dead, Winslow! Haaark!"- Thomas Wake

Plot

Pemuda bernama Ephraim Winslow (Robert Pattinson) ditugaskan untuk mengoperasikan mercusuar di pulau terpencil di New England. Disana, ia akan ditemani dan diawasi oleh Thomas Wake (Willem Defoe), pria tua yang tampaknya telah lama bekerja di tempat tersebut.




Review

Bayangkan jika Anda diperintahkan untuk bekerja di tempat terpencil, hanya ditemani satu orang saja, melakukan pekerjaan berat layaknya kuli, dan parahnya, tanpa adanya hiburan teknologi dari smartphone mu, televisi, radio dan lainnya. Silahkan tanya diri sendiri, berapa lama Anda akan bertahan? Situasi ini lah yang melandasi sajian horror kedua milik Robert Eggers, setelah karya pertamanya, The Witch (2015), yang menyeramkan itu. Bila di karya debut nya, Eggers bermain dengan kutukan dongeng sihir, pada The Lighthouse, Eggers menampilkan kepiawaiannya dalam ngetwist psikologi karakter-karakter di film nya dengan menempatkan mereka pada situasi terisolasi. Dan karena masih bekerja sama dengan rumah produksi A24, jauhi harapan Anda bila ini adalah film konservatif seperti film horor psikologi pada umumnya. Siap-siap untuk mengantisipasi pergerakan narasi yang cenderung lambat, dan juga yang pasti akan kaya makna tersembunyi di dalam nya. Tentu film ini menantang kejelian serta kesabaran.

Eggers telah menanam bibit-bibit aura horor nya dengan terlebih dahulu memperkenalkan setting tempat yang akan menjadi panggung narasi nya. Dari deburan ombak kencang yang tak pernah berhenti, rumah tempat tinggal sementara untuk Winslow dan Thomas yang ala kadarnya dan minim pencahayaan, suara "misterius" yang memekakkan telinga, telah lebih dari cukup untuk menebalkan kesan terisolir pulau tersebut dengan dunia luar. Ditambah dengan film yang ditampilkan dalam balutan hitam putih untuk menambah kesan jadul, atau horor nya. Unsettling, tapi entah kenapa, perhatian saya telah terenggut sepenuhnya. Turut diselingi dengan sambutan dari Wake kepada Winslow yang tidak terlalu berkesan. Malam pertama Winslow semakin lengkap kala ia mengalami mimpi aneh yang melibatkan sosok mitologi di lautan (perhatikan poster film di atas).

40-50 menit awal film bergerak cenderung lambat dengan menyaksikan keseharian kedua karakter di pulau tersebut. Bisa jadi melelahkan, namun untungnya |Eggers masih berbaik hati untuk membangun perlahan konflik melalui interaksi antara Winslow dan Wake yang akan menjadi pusat nya. Karakter Wake sendiri memang bukanlah seorang atasan yang menyenangkan bagi pemula seperti Winslow. Banyak bicara dan selalu memerintah, ditambah lagi pembagian kerja yang ia berikan kepada Winslow juga tidak berimbang. Bila Wake bertugas di malam hari untuk merawat lampu mercusuar, sebaliknya, Winslow harus bekerja di pagi hingga siang dengan diberikan tanggung jawab atas pekerjaan-pekerjaan berat, seperti mengambil batu bara, membersihkan mesin jam, hingga harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu atau mengepel. Cobaan Winslow tidak berhenti di situ, dimana burung camar pun ikut-ikutan mengganggu hari-hari nya. Momen-momen ini memiliki substansi supaya penonton mampu memahami betapa berat dan tidak mengenakkannya keseharian Winslow selama bekerja di pulau tersebut.

Sampai ketika Winslow bangun di pagi hari setelah menghabiskan malam bermabuk-mabukan bersama Wake untuk merayakan kepulangan mereka, disitulah Eggers menaikkan tensi nya dengan menyajikan drama psikologi horor kepada penontonnya. Sebagai editor, Louis Ford menunjukkan taji nya disini. Penonton akan dibuat kebingungan mana fakta atau ilusi berkat editing nya. Parahnya lagi, kita juga tidak tahu harus percaya dengan siapa antara Winslow dan Wake. Point of view sedari menit pertama diambil dari Winslow, sehingga kita pun sulit untuk memegang sepenuhnya setiap ucapan dari Wake yang sering kali bertolak belakang dengan apa yang kita saksikan. Mempercayai Winslow pun bukan lah kebijakan yang tepat disebabkan kewarasannya yang semakin tergerus atas faktor tertekan dan kesepian yang melanda. Ya, sosok Winslow semakin lama semakin dikuasai oleh pulau tersebut. 

Hubungan antara Winslow dan Wake pun keanehannya berhasil membuat saya menggaruk kepala saya. Terkadang mereka menghabiskan waktu dengan pesta bersama sembari bersenda gurau, namun di lain kesempatan, tidak jarang terjadi adu mulut antar keduanya, dan semakin mendekati akhir, konflik antara mereka sudah masuk ke level baku hantam. Efektif sekali untuk menambah dosis ketidak nyamanan kepada penonton.

The Lighthouse disokongi oleh penampilan memikat dari Willem Defoe dan Robert Pattinson. Sebagai Wake, Defoe sukses memerankan karakter nya yang keras bagaikan seorang kapten bajak laut. Tubuhnya terlihat telah termakan usia, namun sosoknya layaknya raksasa ketika melontarkan perintah sehingga membuat karakter Winslow mau tidak mau menuruti perintahnya. Namun performa Pattinson patut menjadi highlight dalam film ini. Saya tahu jika Pattinson telah membuktikan dirinya mampu berakting di film-film sebelumnya (kecuali perannya di Twilight franchise), namun saya tidak mengira jika ia memiliki kapabilitas akting seperti yang ia tunjukkan dalam film ini. Kegilaan seorang Winslow ditampilkannya secara total. Simpati mudah diberikan untuknya kala ia berteriak penuh keputus asaan, walau akal sehat nya patut dipertanyakan. Lihatlah ekspresi nya di akhir film yang menyeimbangkan rasa sakit juga kegilaan.

8/10

Wednesday, 27 November 2019

"This world is about the power of the sword and coin. If that sword can destroy humans, you could conquer the world with it. If you're the greatest thief in the world, you have to steal the world"

Plot

Bersetting pada era Sengoku, dimana peperangan merebut wilayah satu sama lain terjadi di berbagai wilayah Jepang, menyebabkan tersebarnya berbagai kesulitan di semua tempat. Tidak terkecuali Provinsi Kaga yang diserang kemiskinan akibat kekeringan, kelaparan dan terjangkit wabah penyakit yang mengakibatkan kematian. Karena itu, pemimpin provinsi Kaga, Daigo Kagemitsu melakukan kesepakatan dengan dua belas iblis. Daigo meminta kesejahteraan dan kekuasaan pada wilayahnya, dengan rela menyerahkan semua yang ia punya sebagai bayarannya. 

Pada saat bersamaan, istri Daigo, Nuinokata, sedang dalam proses melahirkan. Dan tidak lama setelah Daigo mengadakan kesepakatan dengan para iblis tersebut, anak pertama mereka pun hadir di dunia. Namun tragisnya, anak pertama mereka lahir dengan mengenaskan, dimana ia lahir tanpa organ tubuh seperti mata,  telinga, kulit, hidung, tangan dan kaki, namun ia tetap menghembuskan nafas. Ketika Daigo melihat sang anak, Daigo pun merasa yakin jika kesepakatannya dikabulkan oleh dua iblis dan memerintahkan dukun beranak yang membantu istrinya melahirkan untuk membunuh anak tersebut. Tentu Nuinokata menolak, namun Daigo tetap pada keputusannya.



Dikarenakan tidak tega, dukun beranak tersebut memilih membuang si anak di sungai ketimbang membunuhnya, dengan menyerahkan keberuntungan si anak sepenuhnya pada Buddha. Taktir pun mempertemukan nya dengan Jukai, mantan bawahan Raja Shiba yang kini berprofesi sebagai dokter ahli prostetik. Jukai merasa kasihan dengan kondisi yang dialami oleh anak tersebut sehingga memutuskan untuk merawatnya serta memberikan anggota tubuh prostetik padanya. Jukai pun memberikan nama untuknya Hyakkimaru. 

16 tahun kemudian, Hyakkimaru telah menjadi ronin dengan kemampuan di atas rata-rata berkat latihan yang diberikan oleh Jukai. Tujuan Hyakkimaru hanya satu, yaitu memburu para iblis atau siluman. Dalam perjalanannya, Hyakkimaru bertemu dengan pencuri cilik bernama Dororo, yang diselamatkan nya dari serangan siluman. Melihat kehebatan Hyakkimaru, Dororo pun memutuskan untuk menemani Hyakkimaru mengembara seraya mengharapkan keuntungan dari setiap siluman yang nantinya akan dibasmi oleh Hyakkimaru. 




Review

Melihat premisnya, seketika saya teringat film dari Joko Anwar terbaru, Perempuan Tanah Jahanam, yang memiliki sedikit kemiripan dari kutukan dan bayi yang lahir cacat. Apakah bang Joko terinspirasi dari Dororo, mengingat kisah Dororo hasil karya dari Osamu Tetzuka ini telah ada semenjak tahun 60an, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, dengan premis nya tersebut telah menanamkan rasa ketertarikan saya untuk mencoba mengikuti anime nya. 

Dengan 24 episode, Dororo didominasi akan cerita Hyakkimaru berusaha mengalahkan para siluman yang ia temui. Tersibak fakta pula jika ia mampu membasmi siluman tertentu, Hyakkimaru akan mendapatkan satu demi satu organ tubuhnya kembali. Pada saat menyelamatkan Dororo pertama kali saja, Hyakkimaru mendapatkan wajahnya kembali tidak lama setelah mengalahkan si siluman. Pada awal hingga pertengahan, kisah Dororo harus diakui cukup repetitif. Hyakkimaru dan Dororo berkunjung di suatu wilayah, dan akan bertarung dengan siluman yang mendiami di wilayah tersebut. Kisah pun hampir selalu berakhir dengan kemenangan Hyakkimaru, dan kita pun akan bertanya, bagian tubuh mana yang akan didapatkan oleh Hyakkimaru. Mudah beranggapan jika episode-episode tersebut terkesan filler, namun setelah mengakhiri 24 episode yang ada, saya akhirnya mengerti mengapa Dororo memiliki jalan kisah seperti ini. 

Perjalanan Hyakkimaru memang didominasi dengan pertarungannya dengan para siluman, namun bersamaan pula, Hyakkimaru sedang melakukan pertarungan dengan ayahnya sendiri, Daigo Kamitsu. Daigo merupakan orang paling bertanggung jawab yang menyebabkan Hyakkimaru harus menderita semenjak kecil. Akibat kesepakatan yang ia lakukan bersama dua belas iblis, Hyakkimaru harus menjadi tumbal. Dengan semakin banyak siluman yang ia kalahkan, semakin dekat pula Hyakkimaru mampu mengalahkan Daigo. Ya, ini adalah kisah seorang pria yang ingin merebut apa yang seharusnya ia miliki, dan dengan keinginan tersebut, Hyakkimaru bersedia melawan ayahnya sendiri, yang bekerja sama dengan para iblis. Kalimat sederhananya, Hyakkimaru sedang berperang melawan dunia.

Wilayah-wilayah yang dikunjungi, Hyakkimaru dan Dororo akan selalu mendapati suatu tempat yang menjadi korban dari situasi perang yang terjadi. Kemiskinan serta kelaparan mengakibatkan banyak jatuh korban yang meninggal, anak-anak menjadi yatim piatu dan masyarakat yang masih hidup harus mencari segala cara untuk tetap bertahan. Tidak hanya itu, penyakit pun tidak jarang menyerang di suatu tempat. Kondisi yang penuh akan keputusasaan ini lah yang menyebabkan suatu individu rela melakukan apapun. Daigo tidak sendiri, karena di berbagai wilayah lain, masih ada pemimpin yang tidak sungkan untuk melakukan pengorbanan demi kemakmuran wilayah nya.

Hyakkimaru dan Dororo akan sering berjumpa fakta sebuah tragedi naas yang terjadi. Selalu akan ada rahasia kelam yang tersimpan di suatu wilayah yang kelak akan mereka temui. Contohnya pada Moriko arc yang berhasil memberikan efek mendalam bagi Hyakkimaru dan Dororo. Tergambar jelas luka dalam akibat perang sehingga mampu memaksa seseorang harus mengorbankan apa yang paling berharga di dalam diri mereka.  Moriko arc sendiri ditutup dengan momen memorable yang berhasil membuat arc ini menjadi fan favorite dalam anime Dororo.

Membahas Dororo tidak akan bisa lepas dari motif para karakter, yang bagi saya merupakan aspek terkuat untuk anime ini. Masing-masing karakter memiliki motif sehingga rela melakukan tindakan seberat apapun demi keyakinan yang dimiliki. Ambil contoh Daigo. Mudah saja membenci tindakannya, karena pada kenyataannya, setiap konflik dan penderitaan yang dialami oleh karakter-karakter utama di Dororo tidak bisa dilepaskan karena keputusan dari Daigo. Namun, apa yang mendorong Daigo hingga nekad melakukan kesepakatan bersama iblis juga tidak bisa kita salahi sepenuhnya. Memang, niat utamanya adalah untuk menasbihkan dirinya menjadi penguasa, namun, kenyataannya dengan kesepakatan yang ia lakukan, wilayah yang ia kuasai ternyata menjadi salah satu sedikit wilayah yang makmur, kaya dan rakyatnya sejahtera.  Tentunya semua ini berkat pengorbanan yang dilakukan Daigo.

Namun yang menjadi masalah, apa yang telah dikorbankan Daigo, Hyakkimaru, masih hidup dan semakin hari semakin kuat untuk bisa mengambil kembali bagian tubuhnya. Terlebih, setiap kali Hyakkimaru mengalahkan siluman dan mendapatkan anggota tubuh, maka provinsi Kaga sedikit demi sedikit harus mengalami bencana kembali. Kekeringan dan wabah penyakit juga kembali melanda. Hyakkimaru pun memiliki alasannya tersendiri. Ya siapa coba yang bisa menerima kenyataan harus hidup minus organ-organ tubuh layaknya manusia normal? Tentu saja Hyakkimaru ingin melihat, berbicara, dan mengendus sesuatu seperti manusia lainnya. Ketika ia memiliki kesempatan untuk merebut kembali apa yang seharusnya ia miliki, tentu Hyakkimaru tidak akan tinggal diam.

Situasi inilah yang seketika memberikan pergelutan batin untuk penonton. Kita kesulitan untuk mendukung tindakan setiap karakter. Pada awalnya, gampang saja kita menaruh dukungan untuk Hyakkimaru dan berharap ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun berkembang dari episode ke episode, kita pun menyadari jika setiap kali Hyakkimaru menginjakkan kaki di suatu tempat, tidak jarang tempat tersebut akan diterpa kesialan. Eksistensi Hyakkimaru juga memberikan efek besar atas kesusahan yang dialami Provinsi Kaga. Ditambah lagi, semakin sering Hyakkimaru membantai siluman, jiwa kemanusiaannya juga ikutan terkikis sedikit demi sedikit. Dan berjalannya waktu pun Hyakkimaru harus terjebak dalam situasi dimana ia harus pula membunuh sesama manusia. Apakah kehadiran Hyakkimaru benar-benar memberikan kesialan dan sebaiknya ia "hilang" saja?

Hyakkimaru pun mendapatkan rival sepadan, Tahomaru, yang tidak lain tidak bukan adik kandungnya sendiri. Saya sempat menduga awalnya jika Tahomaru tidak lain hanya lah bocah egois layaknya antagonis pada umumnya. Namun ternyata tidak demikian. Malahan, Osamu Tetzuka memposisikan Tahomaru layaknya hero yang sebenarnya disini. Ia pangeran yang pengertian, perduli terhadap rakyatnya dan rela berjuang sendiri kala mereka kesulitan. Hubungan dekat dengan dua pengawal pribadi nya, Mutsu dan Hyogo juga memberikan pendalaman karakter untuk Tahomaru. Karakterisasi ini semakin membingungkan penonton untuk memberikan dukungan kepada siapa. Memang, ada momen dimana Tahomaru terlihat bak samurai kejam, namun itu hanya ia tunjukkan kepada Hyakkimaru. Setiap tindakannya memang murni untuk menjaga kesejahteraan rakyatnya. Berbeda dengan Hyakkimaru karena di pertengahan episode, Hyakkimaru bertransformasi menjadi anti hero setelah dalam suatu arc, ia benar-benar tidak perduli dengan apa yang terjadi pada suatu desa akibat tindakan yang ia lakukan. Secara perlahan, Hyakkimaru bisa saja menjadi iblis sepenuhnya.

Disinilah fungsi peran Dororo unjuk gigi. Pertama, Dororo menyuntikkan banyak energi positif untuk anime ini. Anime Dororo begitu kental akan atmosfir kelamnya, juga kepribadian Hyakkimaru terlalu gloomy serta keterbatasan bicara nya juga menambah kesan tersebut. Namun berkat Dororo, perjalanan Hyakkimaru menjadi tidak membosankan. Tetzuka pun juga memberikan pendalaman untuk Dororo, sehingga ia jatuhnya tidak menjadi side kick normal saja. Akan ada penggemar yang tidak menyukai Dororo karena terlalu seringnya berteriak "Aniki" dan tidak jarang menempatkan mereka berdua dalam situasi bahaya, namun keberadaan Dororo bagai pengingat untuk Hyakkimaru jika ia adalah manusia. Terkadang juga Dororo menampilkan kedewasaannya berkat pengalaman hidupnya yang pahit. Tercipta nuansa yang menarik akan hubungan Hyakkimaru-Dororo dan semakin jauh perjalanan mereka, semakin tersadar juga untuk mereka berdua jika mereka saling membutuhkan.

Saya sangat menyukai konflik yang terjadi dalam Dororo. Namun sayang, anime ini tidak terlepas dari kekurangan yang cukup mengganggu. Pertama, struktur "monster of the week" nya menyebabkan kental nya kesan filler. Misal pada satu episode, ada satu kejadian yang cukup monumental dan berpengaruh besar untuk Hyakkimaru dan Dororo, namun setelah nya, kejadian tersebut seolah tidak terjadi karena tidak diungkit kembali. Tidak jarang saya merasa apakah saya menonton episode yang benar atau tidak karena keanehan ini.

Pacing Dororo juga cukup parah. Saya sebenarnya bukanlah tipe penonton yang terlalu kritikal terhadap pacing, namun apa yang tersaji dalam Dororo memang susah untuk dinafikan. Transisi antar adegan ke adegan lain terasa kasar, sehingga banyak kejadian yang terasa menggantung. Belum sempat menonton untuk meresapi suatu kejadian, namun adegan nya telah berpindah ke situasi yang lain. Tentu saja ini cukup mengganggu bagi saya dalam mencoba untuk mendalami kisahnya. Untungnya permasalahan pacing ini hanya terasa di 10 episode awal, karena mendekati akhir, pacing yang ada tidak terlalu kenikmatan menonton saya.

Pertarungan yang terjadi dalam Dororo juga tidak memiliki koreografi yang mind blowing, namun bagi saya ini tidak menjadi masalah karena toh dengan narasi yang mendasarinya saja, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya perduli dengan adegan fight nya, terutama ketika Hyakkimaru dan Tahomaru harus beradu pedang.

Overall, Dororo mungkin tidak akan menjadi anime instant classic, namun berkat konflik cerita yang sangat menarik dan membuat saya tidak sabar untuk segera mengakhirinya, Dororo memberikan pengalaman menonton yang cukup berkesan. Untuk Anda yang menyukai anime bertemakan dark fantasy dengan sentuhan sejarah samurai Jepang, Dororo adalah tontonan yang wajib untuk Anda.

8/10

Sunday, 18 February 2018


"But when I think of her, of Elisa, the only thing comes to mind is a poem, whispered by someone in love, hundreds of years ago:"Unable to perceive the shape of you, I find you all around me. Your presence fills my eyes with your love, it humbles my heart, for you are everywhere"-Giles

Plot

Bangun dari tidur, merebus telur, mandi (sembari masturbasi), menyiapkan diri untuk bekerja lalu bercengkerama dengan tetangga sekaligus sahabatnya, Giles (Richard Jenkins), dan akhirnya naik bus untuk tiba di tempat kerja. Begitulah setiap hari seorang Elisa Esposito (Sally Hawkins), wanita bisu yang tinggal sendiri di apartement di atas bioskop sepi, menjalani hari-harinya. Selain Giles, Elisa juga memiliki teman dekat bernama Zelda (Octavia Spencer) yang pula merupakan rekan kerja Elisa sebagai janitor di laboratorium rahasia milik Amerika Serikat. Walaupun hanya memiliki dua orang teman, namun Elisa sangat beruntung karena Giles dan Zelda begitu perhatian dan menyayangi Elisa. Bahkan Zelda senantiasa setia menanti Elisa hanya untuk sekedar mencetak absen sebelum bekerja. Hari-hari biasa Elisa mendadak berubah ketika laboratorium tempat ia bekerja kedatangan Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon). Strickland tidak sendiri, karena ia membawa serta makhluk misterius yang ia tangkap di salah satu sungai South American.




Review

Sekedar informasi tidak penting, sebelum menyaksikan film terbaru dari Guillermo Del Toro ini, saya telah menyiapkan diri dan bersiap menerima sajian film berat ala film unggulan pihak Academy. Untuk yang belum tahu, The Shape of Water adalah film yang paling banyak menerima nominasi Oscar tahun ini dengan 13 nominasi, termasuk Best Picture, Best Director, Best Actress, hingga Best Original Screenplay. Tentu saja, The Shape of Water memiliki faktor X yang menjadikannya sebagai favorit juga untuk meraih gelar Best Picture pada perhelatan Oscar nanti. Tipikal film Oscar, tentu saja bukan selera kebanyakan orang. Segmentasi penikmat nya pun tentu terbatas, dan untuk itu pula lah saya merasa perlu untuk menyiapkan diri dan tidak berharap akan tontonan yang ringan, ringan seperti film peraih nominasi terbanyak tahun lalu, La La Land. Untungnya saya memiliki modal berarti karena sebelumnya, saya telah menyaksikan film fantasi drama milik Del Toro lainnya, yaitu Pan's Labyrinth.

The Shape of Water memang memiliki berbagai kesamaan dengan Pan's Labyrinth, seperti settingnya yang diambil pada saat perang terjadi (The Shape of Water mengambil setting dimana Amerika dan Uni Soviet masih menjalani perang dingin) dan tentu saja, kisahnya yang seperti dongeng. Bedanya, Pan's Labyrinth terasa sekali akan dark nya, walau pemeran utamanya adalah gadis kecil, sementara The Shape of Water terasa lebih ringan, mudah diikuti. 

The Shape of Water telah menyapa kita dengan sajian visual yang begitu cantik dari detik pertama, sebelum kita diajak untuk mengenal Elisa beserta dua teman terdekatnya. Seperti apa yang saya tulis di atas bila Elisa beruntung sekali mendapatkan teman sebaik Giles dan Zelda, di tengah kondisinya yang mungkin saja mendapatkan pandangan sebelah mata dari orang lain (bahkan ada satu teman kerja Elisa memanggil Elisa dengan panggilan "dummy"). Mungkin juga Giles dan Zelda mampu menerima Elisa apa adanya sebagai balasan karena Elisa pun menerima mereka tanpa memusingkan identitas mereka. Giles adalah seniman yang seolah tak dihargai. Tidak hanya itu, ia pun dilanda akan kesepian disebabkan oleh kelainan seksual yang ia miliki dan sangat ia tutupi. Sebaliknya, Zelda adalah wanita berkulit hitam yang tentu saja masih berpotensi mendapatkan perlakuan rasis, apalagi di masa perang dingin. Hubungan pertemanan ini pun menjelma menjadi satu faktor mengapa The Shape of Water lebih terasa hangat untuk dinikmati. Tak ditampik pula, ada pesan mengenai kesetaraan yang ingin disuarakan oleh Del Toro. Dan sebagai penguatnya adalah kisah Elisa lainnya yang mana ia terlibat hubungan dekat bersama makhluk yang berbeda spesiesnya dengan Elisa sendiri.

Apa yang akan Anda lakukan ketika tengah mengalami jatuh cinta? Elisa memiliki jawabannya, dengan berusaha melakukan yang terbaik demi keselamatan makhluk yang telah ia investasikan rasa sayang, bahkan cintanya. Di tengah kesederhanaan dan kekurangan yang ia miliki, ternyata terdapat kenekatan dan juga keberanian yang tersimpan di dalam diri Elisa. Dan semua itu tentu didasari oleh rasa cinta yang begitu kuat dari Elisa. Mungkin yang menjadi flaw disini adalah kurangnya fondasi ikatan yang terjalin antara Elisa dan si Amphibian Man (imdb menyebut nama makhluk tersebut dengan nama ini, diperankan oleh Doug Jones). Apa yang menjadi dasar perkenalan mereka mungkin tidak lah terlalu berkesan, apalagi menyentuh jika dilihat dari segi drama. Tetapi saya mencoba memposisikan diri seperti Elisa. Menemukan orang yang mampu menerima Anda apa adanya,  sedangkan Anda adalah seorang tuna wicara, apalagi dalam tempo waktu yang begitu singkat, tentu saja Anda akan menganggap orang tersebut adalah salah satu orang yang paling berarti dalam hidup Anda, dan Anda pun pasti akan bersedia melakukan apapun demi keselamatan orang ini. Dan itu tampaknya yang terjadi pada Elisa. Elisa tidak perduli tampilan luar The Amphibian Man, dan Elisa juga tidak perduli dengan kenyataan dimana mereka terpisah akan faktor spesies. Yang menjadi concern dari Elisa hanyalah dia telah memiliki alasan untuk menyelamatkan The Amphibian Man. Fisik tidaklah penting untuk Elisa, satu-satunya hal terpenting baginya adalah perasaannya yang ingin menolong spesies langka tersebut. Sebuah pesan kembali yang ingin disampaikan oleh Del Toro.

Sayang memang, Del Toro yang ikut dibantu Vanessa Tylor dalam menulis naskah film ini meniadakan sedikit saja mengenai kisah masa lalu Elisa. Padahal, dengan sedikit suntikan backstory, hal itu pasti sangat membantu membuat penonton mudah mengerti akan tindakan yang diambil oleh Elisa. Dan juga saya sangat penasaran mengenai luka yang ada di leher Elisa. Pastinya Del Toro pun memiliki alasan mengenai adanya luka di leher Elisa tersebut, tetapi Del Toro memilih untuk membiarkan misteri tersebut tidak terjawab hingga film berakhir. Mungkin saja ada jawabannya, namun subtil dan tidak tertangkap oleh saya. 

Setelah melihat penampilan Sally Hawkins sebagai Elisa, mudah mengerti mengapa Del Toro hanya menginginkan Hawkins untuk memerankan Elisa. Lihatlah bagaimana Hawkins mampu membuat sosok Elisa begitu anggun dengan absennya aksesoris ataupun atribut mewah yang ia kenakan. Hanya pakaian normal seorang janitor atau pakaian biasa saja, Hawkins mampu menyulap seorang Elisa benar-benar tampak seorang putri. Del Toro menginginkan sosok Elisa menjadi "cantik" dengan cara tersendiri, dan Hawkins tentu saja telah mewujudkan keinginan Del Toro tersebut. Memerankan satu karakter tuna wicara sudah barang pasti bukanlah pekerjaan yang mudah untuk seorang aktor. Tetapi Hawkins juga bukanlah aktris kemarin sore. Dengan kebisuannya, kita bisa merasakan berbagai rasa yang dialami Elisa, seperti kala ia senang saat menyaksikan acara di tv, kecemasan yang melanda, ataupun rasa marah yang tertahan di dalam hati dan hanya bisa ia ungkapkan dengan bahasa isyarat (salah satu momen terbaik dalam film ini). Muka innocent yang setiap kali Hawkins pancarkan pun rasanya membuat kemungkinan penonton mendekati 0% untuk tidak mendukung setiap tindakan Elisa, walaupun sesekali ada-ada saja kelakuan "iseng" dari Elisa yang mampu membuat saya tersenyum. Richard Jenkins dan Octavia Spencer mampu mengimbangi akting dari Hawkins dengan baik karena mereka sama sekali tidak tenggelam kala harus bersanding dengan Hawkins. Terutama Spencer yang senantiasa menawarkan aroma ceria di setiap kemunculannya berkat kharisma yang hangat darinya, sehingga saya cukup menantikan kehadirannya. Momen kala ia mengomentari akan "kejadian" yang dialami Elisa saja rasanya telah cukup menjadi alasan yang kuat mengapa ia mendapatkan nominasi Oscar di kategori Best Supporting Actress.

The Shape of Water pun memiliki berbagai adegan yang cukup memicu adrenalin. Terutama setengah jam mendekati akhir. Jujur saja, ketegangan yang ada di dalam The Shape of Water tidak ada yang spesial, bahkan tidak ada yang bisa mencapai titik optimal, atau mengganggu kenyamanan penonton. Dan disitulah fungsi kehadiran Michale Shannon sebagai villain yang intimidatif dalam film ini. Bukan sesuatu hal yang baru untuk Shannon, tetapi jelas apa yang ditampilkannya disini telah lebih dari cukup dan adegan saat ia mengancam di menit-menit akhir benar-benar menjadi showcase Shannon dalam menunjukkan dirinya sebagai pemeran antagonis.

Sayangnya, The Shape of Water jelas bukanlah film yang mampu menjangkau segmentasi penonton dengan luas. Pada menit-menit awal harus saya akui, The Shape of Water belum lah terlalu mengikat, walau pun tidak sampai hingga ke taraf yang membosankan. Dialog-dialog yang terlontar dari karakter pun tidak ada yang terlalu berkesan, walau memang tampaknya Del Toro memfokuskan pada kekuatan bernarasi lewat visualnya, bukan lewat bertutur kata. Barulah ketika film mulai jelas arah konfliknya akan seperti apa, The Shape of Water mulai menunjukkan taringnya, dan itu tetap terjaga hingga durasi menyentuh detik akhir. Oh, mengenai sinematografinya, rasanya tidak perlu saya jelaskan karena pada detik-detik awal saja, Dan Laustsen telah membuat Anda terpana dengan begitu detil dan indahnya akan dunia "bawah air" yang tampak di layar. Apalagi shot terakhir yang tampaknya hampir pasti Laustsen akan mendapatkan Oscar pada Maret mendatang di kategori Best Cinematography.

8/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!