Showing posts with label Thriller. Show all posts
Showing posts with label Thriller. Show all posts

Sunday, 9 February 2020

"This is me, all right? I'm not a fuckin' athlete. This is MY fuckin' way. This is how I win. All right?"

Plot

Memiliki usaha berlian sendiri, tidak membuat kehidupan seorang Howard Ratner (Adam Sandler) jauh dari kesulitan. Ia terbelit hutang dengan saudara ipar nya sendiri, Arno (Eric Bogosian) sebesar $ 100 ribu. Perihal tersebut semakin pelik kala Arno menyewa kolektor berperangai kasar, Phil (Keith Williams) dan Nico (Tommy Kominik) yang akan berbuat apapun demi mendapatkan uang pembayar hutang dari Howard. Howard bukannya tanpa usaha, dimana ia berharap berlian opal temuannya dari negara Ethiopia mampu terjual di harga kisaran $ 1 juta pada acara suatu lelang. Namun, niat Howard tersebut pun harus berbentur pula dengan keinginan atlit bintang bola basket dari Boston Celtic, Kevin Garnett (diperankan oleh Kevin Garnett yang asli) untuk membeli opal tersebut. Polemik Howard semakin dilengkapi dengan kehidupan keluarga nya yang sedang tidak baik-baik saja. Howard harus berpisah dengan istrinya, Dinah Ratner (Idina Menzel) yang menggugat cerai Howard akibat perselingkuhan Howard dengan Julia (Julia Fox) yang juga merupakan karyawan di toko berlian Howard.




Plot

Berdasarkan sinopsis yang saya tulis di atas, Anda mampu sedikit menangkap seperti apa film yang sudah tersedia di Netflix ini. Uncut Gems mengisahkan usaha dari suatu karakter untuk menyelesaikan masalah yang sedang menghimpit nya. Pergerakan narasi hampir semuanya berpusat pada Howard, sehingga layar akan didominasi oleh sosok nya. Berita buruk jika Anda merupakan haters dari Adam Sandler. Lagian jika Anda merupakan haters, ngapain juga untuk ikutan menyaksikan film ini. Anyway, duo Safdie (Benny-Josh) enggan untuk membagi permasalahan demi permasalahan Howard layaknya pembagian chapter dan lebih memilih untuk langsung menggabungkannya di setiap pergerakan narasi. Dibantu dengan pergerakan kamera yang cukup dinamis, lahir lah sebuah ketidak nyamanan akan sesak nafas akibat dari setiap keributan yang hadir di layar. Seriusan, hampir tiap menit dalam Uncut Gems itu kita harus melihat setidaknya satu karakter harus berteriak dalam pengucapan dialog, terutama tentu saja si Howard. Kalau bisa saya ingin kasih Adam Sandler seteguk gelas air minum untuk sekedar istirahat sebentar dari teriakan-teriakannya. Kalau Anda cukup teliti, Anda bisa menangkap jika suara Adam Sandler sendiri terdengar serak di beberapa adegan.

Uncut Gems memiliki dasar cerita sederhana memang, namun penyuntingan dari Safdie Brothers yang benar-benar menjadi pembeda. Berkat penyutradaraan mereka, adegan pintu tidak bisa dibuka saja tersaji dengan sangat intens, melebihi adegan dari film thriller di tahun yang sama. Itu hanya satu contoh saja, karena Uncut Gems dipenuhi dengan adegan serupa. Dan percaya atau tidak, Uncut Gems adalah film pertama keluaran dari A24 yang pergerakan narasi nya begitu cepat seperti ini yang saya tonton. Biasanya, film-film dari A24, seperti yang kita ketahui, pergerakan nya cukup lambat layaknya film indie atau film festival. Dengan fakta ini bagi saya memberikan kejutan menyenangkan juga. Membuktikan bila A24 juga mampu memproduksi film semacam ini. Percayalah, Uncut Gems akan memberikan sebuah sajian drama roller coaster yang berlaju kencang seolah tiada akhir. Masih ada beberapa momen "mengambil nafas" atau boleh saya sebut sebagai check point, sebelum nanti kita kembali ditempatkan pada sirkuit laju yang kencang. Yang lebih parah, kebanyakan momen intens dalam film ini bersettingkan di tempat yang sempit, seperti di dalam mobil dan toko kecil milik Howard. Tidak heran jika para pengidap claustrophobia akan tidak nyaman saat sedang menonton film ini.

Balik lagi ke cerita, poin dari Uncut Gems adalah untuk mengajak kita bagaimana seorang pria berusaha untuk memperbaiki semua masalah nya yang ada. Yang bikin gregetan adalah cara yang diambil oleh Howard untuk keluar dari permasalahannya. Bagaimana tidak gregetan jika ia masih saja mau mengambil risiko baru lagi sesaat setelah pintu cahaya untuk menuju jalan keluar hadir di depan matamya. Naskah yang mereka kerjakan bersama Ronald Bronstein ini ingin memperlihatkan jika kerakusan hanya akan menghadirkan persoalan yang baru lagi. Dan siapa tahu, jika Howard mungkin tidak akan bisa lari dari permasalahannya, tidak perduli seberapapun keras nya perjuangan yang telah ia lakukan. 

Harusnya dengan penggambaran karakter seperti ini, karakterisasi Howard berpotensi menjadi protagonist yang unlikeable. Namun fakta di lapangan justru sebaliknya. Memang, Howard jauh dari kata orang yang baik. Ia berselingkuh, hobi berjudi, pembual dan kasar, namun ia tetap adalah seorang family man yang mau berusaha sebaik mungkin untuk perduli dengan keluarganya, terutama anak-anaknya. Kita boleh menyayangkan setiap keputusannya, namun tidak berarti penonton bisa dengan mudah membenci nya. Untuk saya, selalu ada harapan jika usaha Howard setidaknya ada satu saja yang membuahkan hasil, setelah Howard senantiasa diterpa oleh konflik beruntun dalam hidup nya. Faktor akting Adam Sandler sendiri juga ikut berperan untuk penonton mudah mendukungnya. 

Sandler berhasil menggambarkan kecemasan dalam diri Howard, baik melalui amarah bahkan ketika menyetir mobil dalam diam sekalipun. Secara perlahan juga tersirat gambaran putus asa melalui ekspresinya, hingga nanti pada puncaknya tangisan pun akhirnya keluar dari Howard. Susah rasanya untuk tidak merasa kasihan saat dirinya tengah berada di posisi terpuruk seperti itu. Sandler kembali membuktikan jika ia merupakan aktor bertalenta. Meski saya juga kurang sependapat jika ini adalah penampilan yang groundbreaking karena menurut saya, kita memuji akting Sandler disini tidak terlepas juga akibat penampilan-penampilan buruk dari Sandler sebelumnya. 

Tidak hanya Sandler, penampilan dari supporting cast pun tidak boleh diremehkan. Julia Fox yang menjalani debut nya disini, tidak berakhir hanya menjadi eye candy saja berkat penampilan menawannya. Juga yang menjadi scene stealer adalah Keith Williams sebagai Phil, bodyguard kasar yang senantiasa memberikan teriakan-teriakan intimidatif untuk menakuti Howard. Kevin Garnett pun tidak mengecewakan dalam menjalani debutnya. 

8/10

Wednesday, 2 October 2019


"I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it's a comedy"- Arthur Fleck

Plot

Mengisahkan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), pengidap pseudobulbar affect (penyakit dimana seseorang secara tiba-tiba menangis atau tertawa yang tak terkendali), yang harus menghadapi segala benturan-benturan realita hidup, dari karir yang tidak kunjung berkembang, sang ibu, Penny Fleck (Frances Conroy) terobsesi akan Thomas Wayne (Brett Cullen), serta berbagai kesialan yang seolah enggan menghindarinya.




Review

Perlukah film yang disutradarai oleh Todd Philips ini dibuat? Atau pertanyaan yang lebih tepatnya, perlukah memberikan pendalaman karakter dan sentuhan humanis diberikan pada salah satu musuh terbesar Batman ini? Pertanyaan demi pertanyaan, serta diselingi dengan keraguan kerap hadir kala Joker resmi diumumkan akan rilis pada tahun ini di beberapa tahun belakang. Saya mengakui, rasa cemas pecinta film bisa dimengerti. Walau dalam komik nya sendiri memang terdapat beberapa kisah origin dari Joker, namun tetap salah satu daya tarik dari Joker adalah kesan misteri nya. Terlebih pendekatan yang dilakukan oleh Christopher Nolan dalam The Dark Knight 11 tahun lalu terbukti berhasil. Dan berbicara The Dark Knight, pastinya penampilan monumental nan ikonik dari mendiang Heath Ledger telah memberikan standar yang begitu tinggi dalam memerankan si badut kriminal yang gak lucu ini. Beban berat tentu disandang oleh Joaquin Phoenix selaku aktor pemeran Joker, terlebih setelah kegagalan Jared Leto di Suicide Squad dalam memerankan karakter yang sama. 

Sebelum membahas penampilan Phoenix, mari kita fokus kepada penceritaan terlebih dahulu. Dibantu oleh Scott Silver di departemen penulisan naskah, Philips tampak telah paham betul dalam menghadirkan film origin yang benar. Ketimbang menitik beratkan narasi akan sajian aksi serta seru-seruan layaknya film beradaptasi dari comic book, Philips lebih mengedepankan pada pendalaman karakterisasi, mengembangkannya secara perlahan, serta mengajak penonton untuk menyelami lingkungan hidup sang karakter utama. Tidak ada hal luar biasa yang terdapat dalam diri Arthur Fleck. Ia tidak memiliki latar belakang militer, bukan juga pemilik kekuatan super dan latar belakang keluarganya pun cenderung biasa saja. Hanya saja, dengan mengidap mental illnes, Arthur terlihat berbeda dengan orang lainnya. Bahkan akibat perbedaan tersebut, Arthur harus menerima perlakuan tidak menyenangkan oleh orang sekitar nya. 

Terinspirasi dari film klasik Martin Scorsese, The King of Comedy, layaknya Rupert Pupkin, kehidupan Arthur bisa dibilang cukup menyedihkan dengan dekatnya ia akan nasib buruk dan seolah ditolak eksistensinya. Ia tinggal di apartemen sederhana dengan ibunya yang renta. Kehidupan pekerjaannya pun juga tidaklah lancar, ditambah keinginannya untuk menjadi stand up comedian pun terlihat mustahil. Berbagai permasalahan seolah enggan untuk menjauhi nya, terutama kala ia harus dipecat dari pekerjaannya sebagai badut penghibur. Lewat karya nya inilah, Philips dan Silver ingin memperlihatkan jika rentetan dari nasib buruk yang terjadi sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang berbuat nekad dalam berbuat jahat karena pada dasarnya, tidak ada seorang pun di dunia ini terlahir menjadi seorang penjahat. 

Film Joker sendiri adalah film kedua dari DC Comic yang menerima rating R setelah Watchmen akibat kandungan kekerasan serta tumpahan darah nya. Namun bagi saya sendiri pendekatan realistis akan kisah Arthur Fleck menjelma menjadi kriminalitas level atas dari Philips dan Silver yang lebih memikat, namun disturbing. Berkat kisah Arthur ini, muncul di benak jika apa yang terjadi pada Arthur sesungguhnya bisa terjadi kepada setiap orang pinggiran yang seolah tidak diterima eksistensi nya oleh masyarakat. Pandangan Arthur akan hidup, lengkap dengan make up badutnya yang ia ungkapkan pada acara bincang-bincang milik Murray Franklin (Robert De Niro, aktor yang sama memerankan Rupert Pupkin di The King of Comedy) pun walau terdengar gila, namun masuk akal dan mendekati apa yang terjadi pada realita kehidupan. Khalayak media menggembar-gemborkan akan kematian seseorang hanya karena memiliki relasi dengan tokoh berpengaruh, padahal warga seperti Arthur setiap hari nya mengalami penderitaan dan begitu dekat nya dengan peliknya kehidupan seolah jauh dari pemberitaan. Ditambah dengan pergerakan para badut yang terjadi dalam film ini lah yang membuat Joker begitu disturbing. Semoga saja tidak ada orang iseng yang ingin mengikuti dan menerapkan aksi serupa di dunia nyata. Namun tak bisa ditampik, apa yang Philips dan Silver sajikan disini bagaikan sebuah kritik keras terhadap kaum menengah ke atas.

Dengan fakta ini, serta penyakit psikis yang ia alami, rasanya hampir mustahil untuk tidak berempati terhadap Arthur Fleck. Tidak menjustifikasi apa yang ia lakukan nantinya adalah benar, namun setidaknya sebagai penonton, kita bisa mengerti mengapa Arthur nantinya menjelma menjadi pelaku kriminal. Ironis memang, kita mampu bersimpati kepada karakter yang malah tidak memiliki simpati sama sekali kepada orang lain. Meski demikian, saya sedikit kurang menyukai penanganan karakter Thomas Wayne (Brett Cullen) dalam film ini. Memang, kita mengenal karakter ini berdasarkan point of view dari Arthur sehingga wajar sosok Thomas Wayne disini terlihat orang kaya yang brengsek dan apatis, namun untuk penonton seperti saya yang hanya mengenal karakter ini dalam film Batman Begins, dan bagaimana influentalnya karakter ini pada pembentukan karakter Bruce Wayne di trilogy The Dark Knight, saya sedikit kurang menerima sih akan penggambaran karakter nya disini yang begitu berbeda. Lol. 

Pada saat kalimat "THE END" muncul di akhir, tak sadar saya sendirian bertepuk tangan cukup keras, yang seketika saya hentikan karena tak ingin menarik perhatian. Terdengar juga dari bisikan penonton di dekat saya yang berkomentar "kapan nonton film ini lagi? Bagus banget soalnya". And you know what? I agreed 100% with him/her. Saya rela merogoh kocek saya yang gak banyak untuk kembali menyaksikan sajian spesial dari Todd Philips ini. Saya terkesima berkat pendekatan realistisnya, betapa beraninya Philips dan Silver dalam menyajikan narasinya yang begitu dekat akan realita yang terjadi sekarang. Bukan berlebihan jika dalam beberapa tahun kedepan, film ini akan dianggap sebagai film klasik, juga akan memiliki penggemar militan yang sangat banyak. Bukan mustahil juga jika Anda akan menemui di jalanan ada orang yang mengimitasi tarian dari Arthur. Joker bukan lagi hanya sebagai karakter, namun telah menjadi simbol berkat film ini. Ya, jika dalam superhero kita memiliki Batman Begins sebagai film origin terbaik, maka tidak salah jika Joker adalah film origin terbaik mengenai supervillain.

Namun, tidak bermaksud untuk melupakan pekerjaan fantastis Philips dan Silver lakukan, apa yang membuat Joker terasa spesial adalah penampilan luar biasa dan Oscar worthy dari Joaquin Phoenix. Berbeda dengan Jared Leto, Phoenix merupakan salah satu aktor yang paling dihormati dalam dunia perfilman berkat talenta aktingnya. Ia pun termasuk underrated jika ditilik dari jumlah nominasi Oscar yang "baru" 3 kali saja dan sama sekali belum membawa patung emas tersebut. Namanya pun tidak sepopuler layaknya Leonardo DiCaprio ataupun Robert Downey Jr. Jika Anda pun baru pertama kali melihat akting dari Mr. Phoenix, well, anggap saja Anda sial. Hentikan membaca sekarang dan silahkan tonton akting dari beliau di film-film lainnya.

Joaquin Phoenix adalah aktor yang hebat, tidak ada yang berani menyangkal fakta ini, namun tetap saja, performanya sebagai pria yang broken, lengkap dengan health issue yang diidap karakter yang ia perankan, mampu ia sajikan dengan begitu total sehingga membuat saya terkesima. Phoenix berhasil menjadi magnet terbesar sehingga mata penonton tidak akan pernah lepas dari layar. Setiap menit sebenarnya karakter yang ia mainkan selalu  muncul, namun hingga film berakhir, saya masih merasa kurang dan ingin melihatnya kembali berakting sebagai Joker. Setiap gestur badan yang ia tampilkan seolah memiliki makna, dan walaupun tawa seorang Joker darinya tidak sememorable seperti yang Heath Ledger lakukan, namun tak seperti karakter-karakter Joker lainnya yang menggambarkan gila atau maniak nya karakter Joker melalui tawa, disini tiap tawa yang dihasilkan Phoenix malah terkesan rasa pedih dan derita akibat ketidak adilan hidup yang selalu ia terima. Sebagai contoh dengar saja tawanya tanpa henti kala ia ingin melakukan stand up comedy nya. Namun momen terbaik Phoenix hadir kala ia beradu akting dengan Robert De Niro saat film mendekati akhir. Adegan yang sebelumnya terkesan biasa, bahkan lucu, berubah menjadi intens, menegangkan dan ditutup dengan memberikan shock therapy untuk penonton. Dan pegang ucapan saya ini, pihak Academy akan kehilangan kredibilitas nya jika mereka berani untuk tidak mencantumkan nama Joaquin Phoenix dalam gelaran Oscar tahun depan. 

Anggap saya berlebihan dan overreacted, namun honestly speaking, you need to watch this movie. Tidak banyak film yang saya tonton pada tahun ini, namun saya berani menjamin, Joker adalah salah satu film terbaik keluaran tahun 2019. Dengan realistisnya Todd Philips memberikan pendekatan pada karakterisasi Arthur Fleck sebelum menjelma menjadi Joker, Atmosfir kelam dan gelap seolah tanpa kebahagiaan di kota Gotham versi Philips, dan tak lupa juga performa fantastis Joaquin Phoenix, Joker meludahi ekspektasi rendah saya sebelumnya dan menertawakan kepada setiap penikmat film yang meremehkan film ini. Dan ya, setelah trilogi The Dark Knight, DC boleh kembali bangga karena, sekali lagi, film keluaran mereka kali ini mampu membuat semua film beradptasi comic book dari kompetitor terlihat seperti film untuk anak-anak.

8,75/10

Thursday, 26 September 2019


"As a species we're fundamentally insane. Put more than two of us in a room, we pick sides and start dreaming up reasons to kill one another. Why do you think we invented politics and religion?"- Ollie

Plot

Kota kecil, Maine Town, secara tiba-tiba saja diserang kabut misterius. David Drayton (Thomas Jane) beserta putranya terjebak di dalam mall beserta penduduk lainnya. Pada suatu kejadian, David mengetahui jika didalam kabut tersebut, mereka ikut kedatangan tamu yang siap memangsa mereka.




Review

The Mist yang disutradarai oleh Frank Darabont ini, mungkin lebih dikenal disebabkan oleh endingnya. Walau memang endingnya merupakan aspek utama yang akan membuat The Mist susah terlupakan, namun secara keseluruhan, The Mist memiliki berbagai aspek positif yang mengantarkan film ini sebagai salah satu film alien invasion terbaik yang pernah saya saksikan.

Aspek terkuat yang membuat film yang diadaptasi dari novel Stephen King ini cukup spesial di mata saya adalah karena realistisnya Darabont dalam menggambarkan ketakutan-ketakutan dari warga Maine Town. Darabont menunjukkan jika karakter manusia yang sebenarnya akan terlihat kala berada dalam situasi yang mengancam nyawa mereka. Diperlihatkan disini penduduk yang terkurung dalam grocery store terbagi menjadi tiga yang diwakili oleh satu karakter masing-masing. Ada hardcore denial yang diketuai oleh Brent Norton (Andre Braugher), lalu David yang memilih berusaha sebisa mungkin untuk mencoba menyelamatkan diri, dan terakhir ada Mrs. Carmody (Marcia Gay Harden) yang berpendapat jika tragedi ini adalah hasil dari campur tangan Tuhan. Tinggal nantinya warga lainnya memilih berdiri di pihak mana, sesuai dengan apa yang mereka yakini demi bertahan hidup. Disinilah, bagi saya, pusat konflik dan sumber utama yang menyebarkan horor yang mengancam penduduk Maine Town yang terjebak.

Di tengah kesulitan yang menempatkan diri dalam posisi ujung tanduk, manusia akan menunjukkan diri sebenarnya demi bertahan hidup. Hal ini yang tampaknya ingin dieksplorasi oleh Darabont. Peristiwa kabut dan monster misterius yang terselubung di dalamnya, rupanya menjembatani akan tergerusnya kesabaran penduduk Maine Town yang terperangkap. Apapun dilakukan supaya bisa tetap menghembuskan nafas, tidak memperdulikan lagi nilai-nilai moral. Elemen ini jelas menimbulkan pertanyaan, siapa monster yang sesungguhnya?

Thomas Jane cukup baik dalam memerankan karakter alpha male, namun scene stealer dan paling membekas dalam benak penonton adalah karakter Mrs. Carmody yang diperankan secara menakjubkan oleh Marcia Gay Harden. Siapa yang sangka jika karakter ini nantinya lebih mampu memberikan ancaman bagi David dan kerabatnya. Penggambaran karakter nya pun cukup membantu, dimana ia cerewet, lalu tiap kata keluar dari mulutnya tidak jauh dari "konspirasi" agama. Yap, mudah sekali penonton untuk membencinya. Dengan ini juga membuktikan jika Gay Harden telah menunaikan tugasnya dengan brilian.

Oke, mari bicara tentang ending nya. Mungkin Stephen King menyukai ending yang diberikan Darabont. Tetapi saya pribadi, saya cukup kontra dan merasa ending nya hanya diniati Darabont supaya memberikan efek shocking, tanpa didukung dengan build up meyakinkan. Sehingga saya cukup mempertanyakan bagaimana mungkin si A tega melakukan "itu", meskipun bahaya mendekat. Ada janji yang terucapkan, namun apakah hal itu telah cukup kuat untuk melakukan tindakan nekat itu?

Terlepas dari kritik sebelumnya, saya tak bisa memungkiri jika Darabont menyajikan ending nya dengan apik sehingga meninggalkan bekas yang dalam di dalam pikiran penonton. Kita sebagai penonton, mungkin merasakan campur aduk dan bingung harus bereaksi seperti apa. Kesal? Kecewa? Merasakan kasihan setelah melihat raungan penyesalan dari David? Entahlah. Yang pasti, Darabont sukses menghadirkan sebuah adegan penuh ironis dan putus asa mendalam, dibantu lantunan The Host of Seraphim yang mengentalkan atmosfir tragis nya. Bukan salah Anda jika ending dari The Mist ini akan terpatri dalam di pikiran dan susah terlupakan.

7,75/10






"Painful memory is far more agonizing than pain in the heart"- Lee Sung-ho

Plot

Ahli patologi, Dr. Kang Min-ho (Kyung-gu Sol), diminta untuk melakukan autopsi terhadap gadis korban mutilasi yang ditemukan di daerah laut. Penyelidikan yang dilakukan oleh detektif Min Seo-Young (Hye-jin Han) pun berakhir dengan satu tersangka bernama Lee Sung-ho (Seung-bum Ryoo), seorang aktivis pembela lingkungan yang mengidap penyakit polio semenjak masih kecil yang memaksa dirinya harus berjalan dengan tongkat. Tanpa disadari oleh detektif Min, Lee Sung-ho memiliki rencana yang jauh lebih besar yang melibatkan Dr. Kang.



Review

Suatu kesalahan masa lalu bisa saja dilupakan, namun tidak ada jaminan apakah kita bisa terlepas sepenuhnya dari kesalahan tersebut. Dan kita juga tidak bisa menjamin balasan seperti apa yang akan diterima akibat dosa yang telah dilakukan. Sebagai pelaku, mungkin melupakan bukanlah hal yang sulit, namun bagaimana dengan pihak korban? Kim Hyeong-joon dengan film thriller nya yang sakit ini kemungkinan besar mampu membuat Anda untuk lebih berhati-hati lagi dalam melakukan suatu keputusan. Sebuah drama tragedi pembalasan dendam yang mengeksplorasi sisi gelap dalam diri manusia yang mampu membuat manusia bertransformasi menjadi sosok monster.

Di awal, No Mercy seolah mengarahkan bila kasus yang terjadi tidak lebih dari adalah aksi kriminal "biasa". Namun tidak butuh waktu lama, penonton akan sadar bila hal tersebut hanya sekedar kamuflase, karena seperti yang dibilang Inspektur Yoon (Ji-ru Sung), motif yang sebenarnya tidak lain tidak bukan adalah murni dendam. Tidak salah memang bila penonton akan teringat pada film fenomenal yang juga dari Korea Selatan, Oldboy (2003). Fokus utama sama-sama berpusat akan dendam, dan tentunya pula twist ending nya yang mampu membuat kita bersumpah serapah. Dan kisah investigasi nya pun mengingatkan saya akan film The Chaser. Namun, bila dalam film tersebut tokoh utama nya telah berhasil menangkap satu tersangka, hanya tinggal mencari bukti kuat. Pada No Mercy, kita diberikan narasi sebaliknya. Di setengah jam awal, kita telah mengetahui siapa pelaku sebenarnya, yaitu Lee Sung-ho, bahkan detektif Min telah memiliki bukti yang cukup kuat untuk menjebloskan Lee Sung-ho ke jeruji besi. Lalu, apa yang membuat No Mercy menarik dan beda? Jawabannya ada pada story Dr. Kang. Disini Dr Kang malah dipaksa untuk sebisa mungkin mencari cara supaya pelaku utama tidak mendekam di penjara dengan cara mengaburkan segala bukti kuat yang telah ditemukan supaya Lee Sung-ho tidak ditangkap.  

Narasi inilah yang merupakan daya tarik utama No Mercy. Menyaksikan bagaimana Dr. Kang mati-matian mensabotase bukti-bukti yang telah didapatkan tentu saja memberikan sajian thriller yang sangat menghibur. Narasi ini disajikan dengan tempo yang intens, diselingi pula dengan investigasi yang dilakukan oleh pihak polisi yang kebanyakan dilakukan oleh detektif junior, Min Seo-Young, yang sebaliknya ingin secepatnya menjebloskan Lee Sung-ho ke jeruji penjara. Rasa dilematis dari penonton pun ikut terbawa. Sulit membenarkan tindakan Dr. Kang, namun Dr. Kang pun berada di posisi yang tidak memiliki pilihan. Konflik batin pun semakin kental kala penonton akhirnya mengetahui alasan dibalik tindakan yang dilakukan Lee Sung-ho. Sehingga kita yang dari awal sepenuhnya mendukung Dr. Kang atau Detektif Min, berbalik memaklumi atas perbuatan Lee Sung-ho.

Twist ending nya pun semakin melengkapi tragedi dendam berdarah ini. Bagaimana rasa dendam yang telah mengakar begitu dalam mampu mematikan rasa manusiawi seseorang, sehingga mendorong untuk memberikan penghakiman sendiri yang dirasa setimpal. Entah terisnpirasi dari mana Hyeong-Joon bisa kepikiran untuk mengakhiri film nya ini dengan ending yang sakit seperti itu. Oh ya, untuk kalian yang memang memiliki kelemahan tersendiri dalam melihat darah, saya sarankan untuk tidak mencoba film ini karena seperti film-film thriller dari Korea Selatan lainnya, Hyeong-joon pun tidak sungkan-sungkan untuk menampilkan adegan-adegan berdarahnya. Bahkan adegan kala Dr. Kang melakukan autopsi pada mayat pun diperlihatkan terang-terangan oleh Hyeong-joon sehingga bukanlah keputusan yang bijak untuk menikmati film ini dengan menyantap makanan.

Hyeong-joon tentu telah melakukan pekerjaan yang brilian dalam mempresentasikan kisah pembalasan dendam ini. Walau memang masih ada beberapa hal yang bisa diperbaiki seperti cara menggulirkan narasinya yang kurang memperhatikan hal-hal detil sehingga menghasilkan beberapa pertanyaan yang sedikit mengganggu. Namun hal tersebut saya rasa bisa tertutupi oleh betapa menegangkannya jalinan cerita serta karakterisasi yang menarik pada masing-masing karakter. Dibantu pula dengan penampilan maksimal oleh pemeran-pemeran utamanya, terutama Kyung-go Sol yang secara meyakinkan memerankan Dr. Kang. Lihatlah transformasi nya dari Dr. Kang yang terlihat tenang diawal, menjadi orang yang seolah baru saja mengalami mimpi buruk. Rasa frustrasi nan putus asa begitu tergambar jelas dari ekspresi mukanya. Tentu juga twist ending nya yang susah dilupakan, membuat saya bertanya mengapa No Mercy seolah dibawah radar jika membicarakan film thriller terbaik dari negeri ginseng.

8,5/10

Monday, 9 September 2019

"He's my good friend, and I like him, but, Dani, do you feel held by him? Does he feel like home to you?"- Pele

Plot 

Dani (Florence Pugh) dan Christian (Jack Reynor) sama-sama mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan mereka. Jika Dani merasa tertekan karena beranggapan dirinya terlalu membebani Christian, di sisi lain, Christian juga merasa terpenjara atas kecemasan berlebihan dari Dani. Namun, niat putus dari keduanya harus tertunda akibat tragedi yang menimpa Dani, dimana ia harus menerima fakta adiknya yang bunuh diri dan "mengajak" kedua orang tua nya untuk ikut bersama. Di tengah rasa duka, Dani pun mendapat kabar pula jika Christian hendak mengunjungi Swedia demi mengerjakan tesisnya bersama teman-temannya, yaitu Mark (Will Poulter), Josh (William Jackson Harper) dan Pelle (Vilhelm Blomgren). Tak tega meninggalkan sang kekasih sendirian yang tengah bersedih, Christian akhirnya mengajak Dani juga untuk ikut bersamanya dengan harapan, wisata yang mereka lakukan mampu menggerus rasa kehilangan Dani.




Review

Melalui teror mencekam yang saya saksikan dari Hereditary (2018), yang merupakan film panjang pertama dari Ari Aster, telah cukup bagi saya untuk memperhitungkan nama sutradara satu ini dan tentunya menantikan karya-karya Aster selanjutnya. Hereditary jelas merupakan sajian film yang spesial untuk saya, dimana hanya Hereditary yang berhasil memaksa saya untuk tidak berani beranjak dari kasur tidur saya untuk sekedar ke kamar mandi. Hereditary pula yang sukses membuat saya paranoid dengan plafon rumah sehingga saya tak memiliki keberanian untuk menatapnya. Tidak ragu saya menobatkan Hereditary adalah film terbaik tahun 2018 versi saya. Maka ketika mendapatkan berita jika Aster, kembali dengan naungan rumah produksi A24, merilis film bergenre horor lagi di tahun 2019, jelas saya tidak sabar untuk menyaksikannya.

Elemen-elemen dari Hereditary masih kita temui di film terbaru Aster ini, seperti hubungan disfungsional, rasa duka atas kehilangan, dan tidak lupa ritual. Jika pada Hereditary kita menyaksikan drama disfungional keluarga, dalam Midsommar, kita diajak untuk melihat retaknya hubungan asmara Dani dan Christian. Memang terdengar sepele, namun permasalahan generik kaum remaja ini seketika berubah menjadi tragedi mencekam sesaat unsur ritual keagamaan warga setempat turut mengambil peranan. Kala Dani beserta Christian dan teman-temannya berkenalan dengan komunitas Harga di Halsingland, perlahan namun pasti kita pun akan menangkap ada yang tidak beres dengan komunitas ini. Hingga pada puncaknya ritual Attestupa dijalankan (one of the most haunting moment in the film), para karakter utama kita pun menyadari jika mereka tengah "terperangkap" dalam komunitas yang fucked up.

Jujur, Midsommar bukan film yang mudah dinikmati jika mengambil dari perspektif penonton yang belum terbiasa akan film keluaran A24. Seperti film dari A24 lainnya, Midsommar menggulirkan narasi nya dengan tempo yang cenderung lambat. Tidak jarang Aster menyajikan suatu adegan yang seolah akan di akhiri dengan momen shocking berkat pengambilan gambar melalui long take nya, namun nyatanya adegan tersebut terasa menggantung seperti lewat begitu saja. Momen hening tanpa terjadinya apa-apa juga tidak sedikit. Bukan berarti adegan-adegan seperti ini tidak memiliki esensi sendiri karena ketika film berakhir, saya pun menyadari terdapat banyak foreshadowing atau petunjuk yang diberikan oleh Aster. Namun bagi mereka yang belum familiar akan pendekatan slow burning ini, pendekatan Aster akan memberikan kebosanan serta tidak bisa menangkap apa yang diniati oleh Aster. Sekali lagi, dan mungkin Anda bosan mendengarnya, film-film keluaran dari A24 memiliki pendekatan non konvensional dan untungnya saya sudah mulai terbiasa style seperti ini.

Jika berbicara mengenai permasalahan Midsommar, secara pribadi saya cukup kesulitan untuk mengikuti ritual keagamaan yang dilakukan oleh komunitas Harga. Lebih ke arah gak ngerti dan awkward gitu karena terkesan konyol. Secara tidak sadar, saya serasa diajak menjadi remaja kurang ajar layaknya Mark yang tidak menghormati tradisi kepercayaan agama atau komunitas ini. Pengenalan tradisi demi tradisi dalam komunitas Harga pun bagi saya cukup kelamaan. Saya rasa jika disingkat pun tidak terlalu masalah

Namun memang, dengan pendekatan perlahan pada proses pengenalan ini, Midsommar berhasil menebarkan aura creepy di tiap menitnya, terutama setiap kali komunitas Harga melakukan kegiatan ritual nya. Sensasi halusinasi yang dialami tiap karakter nya pada suatu kegiatan ritual memberikan efek mencekam nan melelahkan seolah kita ikut menjadi bagian pada ritual tersebut. Salah satu kekuatan penyutradaraan Aster ya itu tadi, pendekatan perlahan serta realistis. Gaya penyutradaraan Aster dalam menebar horor nya itu layaknya Anda sedang naik gojek untuk diantar ke suatu tempat, namun driver membawa anda melewati jalan yang asing untuk Anda. Dihinggapi rasa cemas, Anda pun memiliki banyak pertanyaan, hingga bahkan ingin segera diturunkan. Meski pun secara aman Anda tiba di tujuan, saya jamin sensasi perjalanan yang telah Anda lalui susah dilupakan akibat rasa cemas. Yap, analogi nya ngaco, tetapi contoh ini saya rasa tepat menggambarkan pendekatan yang dilakukan Aster dalam menebarkan terornya. Dalam Midsommar, teror dari Aster kali ini diimbangi pula oleh scoring indah namun mencekam juga dari Bobby Krlic/The Haxan Cloak. 

Pada opening scene, keduanya telah menunjukkan kolaborasi nya dimana Aster menyajikan adegan panjang percakapan melalui telpon antara Dani dan Christian untuk memberikan kita konteks akan kegelisahan Dani, sebelum kita nanti akan diberikan sebuah pemandangan tragis. Kamera bergerak lambat, diiringi perasaan penonton tersayat berkat tangisan parau dari Dani, dan tak lupa scoring dari Bobby untuk memberikan atmosfir kelam dan horornya. Viola, salah satu adegan pembuka film tahun 2019 terbaik tengah anda saksikan. Saya sendiri kala melihat adegan pembuka ini, hanya bisa teriak "HOLY SHIT" dalam diam seraya menantikan tragedi-tragedi apa lagi yang disuap Aster untuk saya. Dengan pendekatan realis ini pula, Aster tidak terlalu bergantung dengan visual gelap minim pencahayaan layaknya Hereditary untuk memberikan sensasi tidak nyaman untuk penonton.

Saya rasa disini Aster cukup sadar jika lambat nya plot narasi bergulir akan memberikan masalah bagi penonton yang telah terbiasa akan film horor mainstream. Untuk itu, ia menyiasati nya dengan memberikan gambar-gambar visual pemandangan indah layaknya lukisan daerah Halsingland. Sebagai Sinematografer, Pawel Pogorzelski jelas telah melakukan pekerjaan brilian dalam menangkap seluruh gambar-gambar indah memanjakan mata. Setidaknya dengan visual indah ini, cukup bisa mengobati rasa suntuk yang mungkin menghinggapi penonton.

Disfungsional antara Dani dan Christian pun bagi saya menarik karena di antara keduanya, masing-masing tidak berada di zona putih sepenuhnya. Pada awalnya, saya dan mungkin sebagian besar penonton mudah saja menaruh simpati pada Dani. Tragedi yang menimpanya menjadi faktor terbesar mengapa penonton berharap Dani akan baik-baik saja, setidaknya hingga credit roll di akhir nanti. Sebaliknya, rasa tidak suka mulai menghinggapi penonton terhadap Christian semenjak ia mengutarakan keinginan putus di awal film. Namun seiring berjalannya film, kita pun mempelajari sebenarnya Christian bukanlah pria brengsek sepenuhnya. Ok, dia memang terasa cuek dan tidak terlalu perduli pada Dani, bahkan melupakan momen terpenting bagi Dani, namun selebih itu, he's fine. At least, saya merasa ia tidak layak mendapatkan apa yang kelak nanti menimpanya.

Performa mengagumkan diberikan Florence Pugh. Aster kerap memfokuskan kamera dengan teknik long take terhadap muka Pugh demi menangkap apa yang Dani rasakan. Tentu harus memiliki teknik akting memadai dimana seorang aktor harus senantiasa mengeluarkan akting pergulatan emosi kala kamera tepat dihadapan Anda. Namun sedari awal kala Dani terlibat percakapan di telpon dengan Christian, saya telah dibuat terpana akan luwesnya Pugh dalam mengekspresikan rasa cemas pada karakter Dani.  Dari obrolan biasa, bahkan sempat ceria, bertransformasi menuju kegelisahan, rasa sedih terpendam, diakhiri dengan rasa sedikit kecewa. Semuanya ditampilkan meyakinkan oleh Pugh, dan ingat, ini baru beberapa menit Midsommar berjalan. Sebelum nantinya kita menyaksikan tangisan memilukan dari Dani, yang tidak kalah pedih nya seperti yang dilakukan Toni Collette dalam Hereditary. Menit demi menit berlangsung, performa Pugh senantiasa stabil dan tidak pernah mengecewakan. Paling berkesan tentu saja setiap Pugh menampilkan sisi emosional dari Dani, seperti setiap kali ia menahan tangis yang mana ia terlihat sekali tersiksanya.

Dari total durasi original 147 menit (versi Director's Cut malah 171 menit), akhirnya Midsommar masuk ke bioskop Indonesia dengan total durasi 138 menit. Tentunya pemotongan durasi 9 menit cukup banyak, dan hal ini cukup terasa di berbagai adegan, seperti contoh utama ya di tradisi ritual Attestupa, yang saya cukup sayangkan karena momen kesadisan yang ada sebenarnya bisa menjadi momen shocking supaya penonton bisa lebih terpaku untuk menikmati Midsommar hingga akhir. Namun setelah momen ini, LSF telah bekerja cukup baik untuk meminimalisir terganggunya penonton akan sensor yang ada. Palingan pada adegan sex scene saja kembali sensor begitu terasa, tetapi bagi saya, cukup mengetahui konteksnya, saya tidak terlalu keberatan atas peniadaan adegan ini. Yang jelas, saya jauh lebih bersyukur Midsommar akhirnya bisa rilis di Indonesia, setelah tersiar kabar jika film ini batal tayang di bulan Agustus lalu, sehingga saya pun memiliki kesempatan untuk menikmati sajian teror mencekam dari Ari Aster, yang melalui karya teranyar nya ini, semakin menegaskan jika ia adalah sineas horor yang patut diperhitungkan di era perfilman generasi saat ini.

8/10

Friday, 12 July 2019


Plot

Kehidupan apa adanya keluarga Ki-Taek (Kang-ho Song) mengalami perubahan kala anak laki-lakinya, Ki-woo (Woo-sik Choi), menjadi tutor pribadi Da Hye (Hyun Seung-min), putri dari Mr. Park (Sun-kyun Lee) dan Yeon-Kyo (Yeo-Jeong Jo).




BEWARE!! MINOR SPOILER BELOW

Review

Menyenangkan sekali rasanya di kala gempuran film superhero dari DC atau Marvel serta minim kreasi akan Hollywood, terdapat film berkualitas dari benua Asia mewarnai layar bioskop Indonesia. Bila tahun lalu ada Searching yang berhasil menarik perhatian para penonton kasual Indonesia, tahun ini juga dari negeri Ginseng, tampaknya Parasite sukses memberikan kesan yang sama. Terbukti, walau sudah 2 minggu tayang di CGV PTC Palembang, kursi bioskop untuk pemutaran Parasite masih dipenuhi oleh para penonton.  Parasite, yang memiliki judul Asia Gisaengchung ini, disutradarai oleh sutradara legenda, Bong Joon-ho. Bong Joon-ho mungkin dikenal luas melalui karyanya Snowpiercer 5 tahun lalu, namun jauh sebelum film tersebut, tepatnya di tahun 2003, Bong Joon-ho telah menarik perhatian para kritikus film lewat film thriller detektif Memories of Murder yang dianggap sebagai salah satu, jika bukan, film Korea Selatan terbaik. Memories of Murder pun juga menjadi inspirasi bagi David Fincher dalam menyutradarai film Zodiac. Lalu ada juga The Host yang merupakan salah satu film Korsel tersukses sepanjang masa. Tentunya nama Bong Joon-ho ini menjadi daya tarik utama bagi saya untuk sebisa mungkin menikmati karyanya terbaru ini di layar bioskop, terlebih setelah membaca sekali lewat review-review di internet, sang sutradara masih membawa signature nya, dengan plot twist dengan black comedy nya yang kental. 

Saya sengaja untuk sama sekali tidak mencari tahu cerita apa yang diangkat oleh Joon-ho dalam Parasite. Saya ingin dikejutkan oleh Joon-ho, saya ingin dibuat terpana akan twist yang telah disiapkan. Saya yang mengekspektasikan sebuah kisah crime thriller, cukup terkejut ketika di menit-menit awal film cukup beratmosfir cerah, dimana kita diajak untuk berkenalan dengan keluarga Ki-Taek yang tinggal di rumah yang sangat sederhana. Tidak hanya terasa family friendly, namun komedi juga sangat kental. Rasanya mustahil untuk tidak tertawa melihat Ki-woo dan Ki-jung (So-dam Park) harus rela duduk di wastafel toilet demi mendapatkan sinyal wifi. Secara singkat, kesan hangat berhasil saya rasakan melihat kehidupan sehari-hari dari keluarga ini. Meski hidup pas-pasan, namun setiap anggota keluarga terlihat begitu akrab. Mereka masih menikmati hidangan makanan bersama dengan memandang pemandangan melalui jendela yang menghadap langsung ke jalan, hingga menonton video di kanal youtube pun mereka lakukan bersama. Dengan pengenalan singkat ini, susah rasanya untuk tidak menyukai keluarga ini. Mengenai komedinya sendiri, Joon-ho begitu apik dalam memperhatikan comedy timing nya. Contohnya saja dengan gestur membungkuk badan dari anak kecil sukses meledakkan tawa seluruh penonton dalam bioskop berkat konteks yang ia berikan sebelumnya. 

Pendekatan yang efektif ini berguna bagi penonton untuk membangun kedekatan dengan mereka, sehingga ketika nanti keluarga ini mulai melakukan penipuan terhadap keluarga kaya raya Mr. Park, kita tidak serta merta langsung membenci mereka. Oke, yang mereka lakukan adalah perbuatan kriminal, namun dengan fakta mencari pekerjaan yang sangat sulit, saya bisa memahami akan pilihan yang mereka ambil. Ditambah lagi, bukannya nepotisme dalam kehidupan nyata bukanlah hal yang baru? Bukankah perusahaan-perusahaan besar juga menerapkan sistem perekrutan kerja yang serupa? Terlebih, ketika setiap anggota keluarga Ki-Taek berhasil diterima bekerja, mereka tetap melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Tidak ada usaha untuk melakukan tindakan kriminal seperti pencurian barang berharga yang mereka lakukan. Dengan fakta inilah, saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya atas keputusan yang mereka ambil, sebaliknya, saya justru ingin mereka tetap bisa bekerja dengan keluarga Mr. Park. Di sisi lain, dari keluarga Mr. Park pun bukanlah digambarkan sebagai keluarga kaya yang seenaknya. Baik Mr. Park, istri serta kedua anaknya, mereka menghormati para pekerja mereka. Bahkan di pertengahan film pun di ungkapkan jika Mr. Park keberatan dengan bau badan dari salah satu karakter. Meski begitu, hal ini ia simpan dan hanya ia ceritakan bersama istrinya. Oh, by the way, bau badan ini akan menjadi elemen yang penting di akhir cerita. 

Paruh awal didominasi narasi bagaimana keluarga Ki-Taek mengelabui Mr. Park dan keluarganya. Atmosfir nya masih terasa ringan, tidak lupa bumbu komedi yang masih kental. Hingga kala rencana yang dilakukan berjalan lancar, pada suatu malam dengan bel rumah berbunyi, mimpi buruk untuk keluarga ini dimulai. Dan dari sini pula, pergerakan cerita berbelok menjadi thriller yang menegangkan. Untuk penonton yang tidak mengantisipasi, tentu saja kelokan narasi ini akan memberikan efek ketegangan luar biasa. Sebenarnya Joon-ho telah memberikan tease sebelumnya lewat momen perangkap yang dirancang oleh Ki-woo dan Ki-jung, namun memang kelokan ini seolah menghapus sebagian besar unsur "keasikan" di paruh awal. Masih ada memang black comedy yang ada, tetapi unsur tersebut tenggelam di tengah kental nya momen mencekam serta atmosfir kelam yang hadir di tiap menit nya. Dibantu pula dengan setting nya yang terjadi di malam hari serta hujan yang lebat. Saya sendiri berhasil dibuat Joon-ho kesulitan bernafas berkat keapikannya menangani momen-momen thriller nya. Dibantu juga dengan garapan soundtrack yang cukup gloomy dari Jaeil-Jung

Film yang berhasil memenangkan Palm d'Or di festival Cannes ini begitu kental akan isu mengenai kasta kehidupan. Dari dialog saja sering kali menyinggung akan hal ini, salah satu contoh saat sang ibu, Chung-sook (Hye-jin Jang) mengungkapkan bila mudah saja untuk orang kaya memilih untuk menjadi orang baik. Tentu keluarga mereka tidak perlu repot-repot untuk melakukan penipuan bila saja mereka hidup berkecukupan. Bagi yang kaya, segalanya tampak mudah. Berbanding terbalik dengan si miskin yang mana untuk mendapatkan pemandangan yang layak ketika menikmati sarapan saja harganya begitu mahal bagi mereka. Puncaknya kala momen kegilaan di akhir cerita, memperlihatkan kenekadan yang (mungkin) lahir dari rasa lelah menerima kenyataan.

Para aktor bermain dengan baik, namun jika ditanya yang terbaik, pilihan saya jatuh pada So-dam Park dan, tentu saja, Kang-ho Song yang telah menjadi aktor langganan Joon-ho. So-dam Park begitu piawai dalam memerankan Ki-jung yang manipulatif, tenang nan cerdas. Kang-ho Song pun tidak perlu ditanya lagi akan kapabilitas nya dalam menyeimbangkan momen komedik dan serius untuk karakter nya. 

Kelemahan Parasite yang cukup mengganggu bagi saya terletak pada endingnya yang cukup dragging atau kelamaan. Saya rasa Parasite jauh lebih baik jika ditutup narasinya dengan kesan ambigu, tanpa harus dijelaskan secara mendetil. Piawainya keluarga Ki-Taek dalam melakukan penipuan juga patut dipertanyakan dari mana asalnya karena Joon-ho tidak mengeksplornya lebih dalam. Setali tiga uang dengan Mr. Park dan istrinya yang tampak mudah dikecoh, yang membuat saya bertanya-tanya bagaimana Mr. Park bisa menjadi pengusaha sukses jika dirinya saja bisa mudah dikelabui oleh keluarga Ki-taek yang notabenenya bukanlah penipu kelas atas. Namun rasanya tidak mungkin untuk tidak puas terhadap hasil akhir Parasite berkat penggambaran ironi kehidupan yang apik dari Joon-ho serta gabungan antara komedi dan thriller di setiap menit nya, menjadikan Parasite sebagai salah satu film terbaik pada tahun ini. Tidak mengejutkan jika beberapa tahun kedepan, Hollywood akan meremake karya Joon-ho ini.

8,5/10



Monday, 31 December 2018


"Listen to me, we're going on a trip now, it's going to be rough."- Malorie

Plot

Virus misterius yang menyerang seluruh dunia, termasuk negeri Amerika (tentu saja) mengakibatkan Malorie (Sandra Bullock) terjebak di dalam rumah, bersama orang-orang lainnya yang secara beruntung belum ikut terkena virus tersebut, salah satunya adalah Tom (Trevante Rhodes) yang menyelamatkan Malorie. Virus yang tersebar itu memberikan gejala ke siapapun yang terkena melalui kontak mata untuk melakukan tindakan membunuh dirinya sendiri. 




Review

Film yang diadaptasi dari novel Josh Malerman dengan judul yang sama ini segera saja menjadi sebuah pop culture tersendiri berkat berpuluh gambar meme yang tersebar di internet. Konsep cerita nya memang tidak sepenuhnya original karena di tahun yang sama kita telah dihadiri A Quiet Place yang sama-sama memiliki genre horror. Bila pada film John Krasinki tersebut ancaman akan hadir bila para karakternya mengeluarkan suara sekecil apapun, karakter-karakter yang terlibat dalam Bird Box harus dipaksa harus menutup mata mereka demi menghindari virus misterius yang mengancam mereka. Bird Box pun membuka narasinya dengan langsung menghadirkan tragedi chaos yang langsung saja menyita perhatian saya. Saya yang awalnya hanya ingin melihat sekitar 15 menit di awalnya saja, seketika berniat untuk langsung melahap habis film produksi Netflix ini. Kalau di adegan awal nya saja sudah menghadirkan keseruan gila seperti itu, tentu saya akan mendapatkan hal lebih gila lagi di menit-menit sisanya. Dan sayangnya, keinginan tersebut berakhir dengan rasa yang sedikit kecewa karena di sisa menitnya, karena film dari Susanne Bier ini sama sekali tidak ada letupan konflik yang mampu menyaingi adegan chaos tersebut. Jangankan menyaingi, mendekati saja pun tidak.

Bier menyajikan dua cerita timeline yang berbeda. Yang pertama adalah perjuangan Malorie melakukan perjalanan dengan kedua anaknya ke suatu tempat, lalu yang kedua adalah cerita 5 tahun sebelumnya menceritakan kisah bertahan hidup Malorie dan Tom dimana Malorie yang saat itu masih dalam kondisi mengandung. Narasi yang kedua tentu diniati Bier untuk mengeksplorasi karakter Malorie serta pertemuannya dengan Tom yang merupakan love interest dari Malorie. Namun disinilah yang merupakan faktor terlemah Bird Box. Sama seperti The Purge (2013), potensi yang luar biasa menarik pada Bird Box tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh Bier. 

Tempo film yang begitu tinggi di awal film tidak bisa dijaga oleh Bier. Praktis, setelah Malorie harus terjebak di dalam rumah yang dimiliki Greg (BD Wong), tensi film melambat tanpa adanya konflik yang berarti. Tidak ada perdebatan hebat yang terjadi antar penghuni yang bertahan hidup, tidak ada juga ancaman dari luar rumah yang membuat penonton menahan nafas. Ada satu momen yang sebenarnya bisa dimaksimalkan oleh Bier meletupkan konfliknya saat para karakter harus keluar dari rumah tersebut akibat persediaan makanan di dalam rumah telah menipis. Namun kembali, potensi tersebut dilewatkan saja. Andaikan saja Bird Box memiliki sutradara seperti Ari Aster yang memiliki visi luar biasa dalam menakut-nakuti penontonnya. Saya masih berharap bila di akhir film, Bird Box akan menghadirkan momen ending yang powerful layaknya Hereditary (my favorite movie this year), tetapi kembali, saya dikecewakan akan ending nya yang tampaknya diniati untuk membuka potensi sekuel film ini. Saya mencoba mencari tahu di internet apakah memang Bird Box versi novel memiliki akhir yang sama, dan kenyataannya versi novel dari Malerman memiliki ending yang lebih disturbing dibandingkan filmnya.

Naskah Bird Box yang ditulis oleh Eric Heisserer juga tidak memberikan ruang eksplorasi dalam terhadap karakter-karakternya sehingga saya tidak menyalahkan Anda jika Anda tidak terlalu perduli karakter selain Malorie dan Tom, bahkan untuk Tom sendiri masih kurang digali dengan dalam walau memang ada beberapa dialog didalamnya yang menceritakan tentang dirinya. Interaksi antar karakter minim sekali akan nuansa yang berwarna, seolah memang perbincangan yang terjadi tampak diniati sebagai pembunuh waktu. Satu-satunya faktor yang membuat saya cukup bertahan mengikuti Bird Box tidak lain tidak bukan adalah karena adanya John Malkovich yang memerankan Douglas berkat karakternya yang tidak bisa ditebak akan kelakuannya. Karakter Douglas juga terasa manusiawi dibandingkan karakter lainnya. Terdapat ambiguitas yang tersimpan, dan hal ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh baik oleh Heisserer.

Sandra Bullock jelas telah melakukan tugasnya dengan baik. Bullock adalah salah satu aktris yang memiliki kharisma likeable yang terpancar. Berkatnya, Malorie terlihat sebagai wanita yang tidak lemah walaupun memerankan karakter yang tengah mengandung. Bullock mampu menghidupkan setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Hal tersebut terlihat di bagian ending nya yang cukup emosional berkat delivery dari Bullock. Sayang memang, Bullock tidak dimodali dengan naskah yang brilian. Bird Box jelas memiliki semua potensi yang bisa memberikan teror yang tak terlupakan kepada penonton, namun sekali lagi, Bird Box hanya berakhir sebagai film penghasil ide untuk kreator meme. Tidak jelek, tetapi tentunya bisa berakhir jauh lebih memuaskan dengan semua potensi didalamnya.

7/10

Friday, 7 December 2018


"If she's there, I'll get her back"- Joe

Plot

Joe (Joaquin Phoenix) diberikan tugas oleh senator Albert Votto (Alex Manette) untuk menyelamatkan putrinya, Nina Votto (Ekaterina Samsoniov) dari jeratan kasus pelacuran anak di bawah umur.



Review

Biasanya, film yang menceritakan seorang hitman tentu memiliki genre action didalamnya. Namun, silahkan cek di situs imdb, bila You Were Never Really Here sama sekali tidak tercantum label "action" pada bagian genre nya. Cukup aneh nan menarik karena bukan rahasia umum untuk film sejenis ini, action adalah sajian utama yang mampu menggaet penonton, sebut saja salah satunya adalah John Wick. Lalu, sebenarnya apa yang ditawarkan oleh Lynne Ramsay dalam karya keempatnya ini?

Serupa dengan karya Ramsay yang paling populer juga kontroversial tujuh tahun lalu, apa lagi kalau bukan We Need to Talk About Kevin, You Were Never Really Here (YWNRH) adalah sajian psychological thriller dengan mengeksplorasi karakterisasi sang tokoh utama, yaitu si Hitman itu sendiri, Joe. Joe memiliki trauma dari perlakuan abusif sang ayah di masa kecil. Dengan kilasan masa lalu yang kerap hadir tiba-tiba, jelas sekali Joe belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalu kelamnya tersebut. Ditambah pengalamannya sebagai veteran perang, praktis psikologi Joe mengalami ketidakstabilan. Hal tersebut membuat Joe menjadi seorang yang memiliki adiksi sendiri untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan, di adegan pembuka saja kita telah diperlihatkan sosok Joe dengan kantong plastik yang ia gunakan untuk menutup mukanya. Kondisi traumatis pada diri Joe tersebut seolah merupakan jembatan bagi penonton untuk mampu memahami mengapa Joe begitu ingin menyelamatkan Nina. Bagi Joe, perintah dari senator Albert Votto bukanlah hal utama, namun telah menjadi misi yang personal untuknya.

Ramsay memilih melakukan pergerakan narasi film nya dengan cukup perlahan. Di menit-menit awal pun alih-alih kita diperlihatkan Joe melakukan suatu pekerjaannya, tetapi lebih memperlihatkan kehidupan sehari-hari Joe. Bagaimana ia merawat ibunya yang telah tua renta (diperankan oleh Judith Roberts), bertemu dengan kolega nya, dan yang pasti kebiasaannya dalam usaha untuk bunuh diri. Saya menyukai keputusan Ramsay untuk memperlihatkan kedekatan Joe bersama ibunya yang terasa begitu hangat. Iya, siapa yang menyangka dibalik dirinya yang begitu dingin dalam menjalani hari-harinya serta sering mengeluarkan aura intimidatif tersebut sangat perhatian dalam mengurus seorang ibu. Bahkan momen paling hangat dalam YWNRH terjadi di meja makan. Narasi ini berpengsruh besar untuk memberikan nilai appealing tersendiri dalam karakter Joe. Sehingga tidak sadar penonton pun menginvestasikan rasa perduli mereka kepada Joe.

Tensi film sedikit meninggi ketika film menyentuh durasi pertengahan, dimana terjadi sedikit twist cerita yang disediakan Ramsay untuk melontarkan kritik sosial di film ini. Saya yang jujur sedikit mengalami kebosanan di pertengahan durasi akibat dari lambannya pergerakan menit ke menit di film ini, harus dipaksa kembali untuk memfokuskan perhatian kepada film. Saya dibuat penasaran bagaimana Joe bisa selamat dari ancaman yang datang dari sosok yang lebih memiliki sumber daya jauh lebih besar dibandingkan Joe yang hanya bekerja seorang diri. Dari sini lah film tidak mengendurkan tensi nya, walau memang pergerakan narasi masih bisa dibilang cenderung lambat. Tidak hanya itu, YWNRH juga cukup minim akan dialog. Mungkin hal ini lah yang membuat YWNRH menjadi tontonan yang cukup segmented.

Seperti yang saya nyatakan sebelumnya, saya sedikit mengalami kebosanan akibat lambannya penceritaan bergerak, lalu faktor apa yang kemudian membuat saya berhasil mengakhiri YWNRH? Tidak lain tidak bukan jawabannya adalah Joaquin Phoenix. Tentu bagi Phoenix bukanlah hal yang sukar dalam memerankan Joe, karena Phoenix adalah salah satu aktor di Hollywood yang bisa memerankan karakter jenis apapun. Phoenix berhasil mengeluarkan aura intimidatif di setiap kehadirannya. Sosoknya bagaikan monster raksasa yang mampu memberikan tekanan kepada siapapun hanya dengan menatap matanya (terlepas dari karakternya yang memiliki jenggot yang lebat). Karakternya yang jarang berbicara pun menambah kesan menyeramkan pada sosok Joe. Selain itu, Phoenix juga berhasil mengaplikasikan sempurna akan kerapuhan Joe, serta kompleksitas pada diri Joe pun membuat penonton penasaran apa yang akan diperbuat selanjutnya. Entah bagaimana hasil akhir pada film Joker nanti, namun yang pasti tidak salah rasanya pilihan disematkan kepada Phoenix untuk memerankan the prince of crime tersebut.

YWNRH memiliki ending yang membuka interpretasi dari penonton sendiri, setelah Ramsay memberikan juga sebuah adegan yang cukup disturbing bila ditilik dari konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya. Pada paruh akhir nya pun, tampak Ramsay menjabarkan secara subtil mengapa ia memilih judul You Were Never Really Here. Masalah dalam film YWNRH tentu adalah pendekatan non konvensional yang dilakukan Ramsay. Narasi yang bergerak begitu perlahan, miskin dialog dan juga sangat minim akan adegan action. Segmented, tapi YWNRH jelas jauh dari mengecewakan.

7,75/10





Thursday, 29 November 2018

"It's heartening to see so many strange, new faces here today. I know my mom would be very touched, and probably little suspicious."- Annie

Plot

Keluarga Graham yang terdiri dari Steve (Gabriel Byrne), Annie (Toni Collette) beserta kedua anak mereka yaitu Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Saphiro) tengah dirundung duka atas kematian ibu dari Annie yang sebelumnya tinggal bersama mereka. Satu hal yang mereka tidak ketahui adalah bahwa kematian tersebut merupakan tirai dari beberapa hal aneh dan mencekam yang akan terjadi selanjutnya.





Review

Setelah saya menonton Hereditary, saya seketika menyesali keputusan saya mengapa memilih waktu malam hari untuk menyaksikan Hereditary. Dipastikan, harapan untuk bisa tertidur nyenyak setelah menonton film ini tentu saja hilang. Entah karena tidak mengantuk, namun bisa dipastikan, semua momen menyeramkan yang ada di film ini seolah di rewind secara otomatis dalam benak. Sensasi menonton seperti ini tentu tidak selalu saya dapatkan dari film horor. Praktis, film-film bergenre serupa yang mampu memberikan sensasi yang sama adalah Rosemary's Baby (sang sutradara, Ari Aster, sepertinya mencintai film klasik tersebut karena atmosfir yang dibangun sekilas hampir sama seperti film karya dari Roman Polanski itu), The Witch, The Blair Witch Project, atau yang paling memorable adalah film Suzanna: Bernafas dalam Kubur. Just kidding, maksud saya adalah film mendiang Suzanna yang mana ada adegan kepala Suzanna gemetar, lengkap dengan mata melototnya yang ikonik saat paku ditancapkan di ubun-ubun kepalanya. Ada yang masih ingat? Percayalah adegan tersebut masih menghantui saya hingga saat ini.

Hereditary akan memberikan kesan tidak mengenakkan yang akan menepel pada diri Anda dalam kurun waktu yang cukup lama. Saya sendiri, di usia 25 tahun ini, bahkan tidak berani menatap plafon kamar saya sendiri setelah menyaksikan sajian film debut dari Ari Aster ini. Dan seperti The VVitch (yang juga diproduksi oleh A24), Hereditary juga menyerang aspek psikologis Anda yang diakibatkan dari berbagai momen-momen disturbing dalam film ini.

Momen-momen tersebut bekerja tentunya dikarenakan Hereditary memiliki fondasi cerita yang kuat. Mental illnes dan keluarga disfungsional menjadi dasar penceritaan Hereditary. Penonton sudah bisa merasakan ada yang tidak beres pada keluarga Graham, terutama Annie dan Charlie. Annie sendiri sama sekali tidak merasakan kesedihan atas meninggalnya sang ibu, bahkan pada saat ia berpidato pada acara pemakaman yang ia sampaikan pun sedikit banyak didominasi Annie menceritakan keburukan sifat yang dimiliki oleh mendiang ibunya dibanding dengan kebaikannya. Sedangkan Charlie merupakan gadis pre-teen tidak biasa, dengan sifatnya pendiam, bahkan cenderung ke arah freak. Bayangkan saja, dikala gadis seusianya bermain sosial media ataupun tik tok, Charlie lebih asik memutilasi kepala bangkai burung. Bahkan, lewat dialog yang disampaikan Annie, dari ketika ia dilahirkan, Charlie sama sekali tidak pernah menangis! Goks gak tuh? Hubungan antara anggota keluarga pun terlihat renggang.

Ari Aster mencoba membangun konflik demi konflik di awal dengan penceritaan yang cukup sunyi dan pergerakan narasi yang bisa dibilang cukup lambat, setidaknya di awal 30-40 menit nya. Saya berasumsi, selain untuk pembangunan karakter, Ari Aster menyajikan pergerakan narasi sedemikian rupa untuk mengajak penonton lebih memiliki waktu optimal untuk memperhatikan kepingan-kepingan puzzle yang disebarkan oleh Aster. Aster pun juga tidak pelit untuk menghadirkan tease yang cukup memacu adrenalin dalam setiap pergerakan lambat narasinya. Barulah setelah film beranjak ke durasi selanjutnya, Aster menaikkan tensi cerita. Penonton langsung diberikan momen shocking yang berhasil memaksa saya berteriak mengeluarkan kata sumpah serapah di tengah malam. Aster tidak sungkan-sungkan melakukan suatu hal tabu dalam dunia perfilman bergenre horor. Momen tersebut dan aftermath nya bisa dibilang merupakan adegan terbaik dalam tahun 2018. Perpaduan sempurna antara cemerlangnya penyutradaraan dari Aster, serta scoring dari Colin Stetson yang memberikan atmosfir dingin dan mencekam, juga penampilan dari Toni Collette dan Alex Wolff (we'll talk about it later). Ditutup pula dengan pemandangan yang diberikan Aster yang saya jamin mampu membuatmu tidak nyaman di tempat duduk Anda.

Usaha Aster dengan memberikan kesempatan pendekatan pada karakter di awal-awal durasi hingga pertengahan melahirkan hasil yang sesuai diharapkan Aster. Penonton memiliki keterikatan terhadap keluarga Graham, berharap segala tragedi yang dialami mereka segera berakhir dan akhirnya mereka bisa melalui semuanya tanpa mengalami kerugian apapun. Tema mental illness yang diangkat Aster pun melahirkan sebuah ambiguitas tersendiri karena penonton seolah diajak untuk membuat asumsi apakah setiap kejadian yang menimpa keluarga Graham murni akibat dari spirit yang menghantui keluarga Graham, atau tanpa sengaja dilakukan oleh salah satu anggota keluarga tersebut. Terlebih memang, di dalam narasinya terdapat satu karakter yang memiliki kebiasaan sleepwalking dimana pada saat sleepwalking tersebut, karakter itu bisa melakukan hal yang tak terduga, bahkan mampu menyakiti anggota keluarga lainnya. Apakah hal tersebut memang dilakukan tanpa sengaja atau ketidaksengajaan tersebut terlahir akibat kegelapan yang dimiliki karakter tersebut.

Hereditary adalah jenis film yang bisa menguras emosi. Untungnya Hereditary memiliki jajaran cast yang brilian. Alex Wolff berhasil secara meyakinkan memerankan karakter yang dilanda rasa traumatis serta bersalah. Tak jarang, Aster sering memberikan fokus pada ekspresi Wolff, sehingga penonton pun ikut tertular perasaan yang sedang dirasakan oleh karakter Wolff. Gabriel Byrne sendiri memang cukup jarang untuk mengeluarkan emosi nya disini, namun hal itu ditutupi dengan gestur subtil nya disini. Kredit lebih juga selayaknya diberikan kepada Milly Saphiro yang selalu berhasil memberikan atmosfir misterius nan creepy di setiap kehadirannya. Namun tentunya penampilan terbaik jatuh kepada Toni Collette. Saya sempat beranggapan bahwa Julianne Moore adalah aktris Hollywood terbaik dalam memperlihatkan akting yang histeris nan emosional tanpa ada kesan berlebihan, namun melihat penampilan Toni Collette disini, rasanya Moore memiliki pesaing yang sulit. Collette benar-benar mencurahkan segala kemampuan terbaiknya dalam film ini. Dari ekspresi kegelisahan maupun ketakutan seolah ia baru saja mengalami mimpi terburuknya, lalu tangisan parau nya yang mampu mencabik-cabik hati Anda, diiringi juga tatapan mata kosongnya yang sering ia perlihatkan, rasanya sebuah kejahatan atau kriminalitas sendiri dari pihak Academy bila Toni Collette setidaknya tidak mendapatkan nominasi Best Actress di pegelaran Oscar tahun depan.

Mengenai minor Hereditary sendiri saya hanya merasa bila Hereditary sedikit lambat di awal-awal filmnya bergerak. Tentu nya penonton yang sering menonton film horror seperti The Conjuring ataupun Insidious, pendekatan seperti ini membutuhkan kesabaran. Namun percayalah, kesabaran tersebut akan berbuah "manis". Editing yang dilakukan oleh Lucian Johnston dan Jennifer Lame pun terasa sedikit kasar di beberapa adegan. Kemudian mengenai endingnya pun sedikit bertele-tele dengan penjabaran monolog di akhir yang disampaikan oleh salah satu karakternya. Tidak masalah rasanya bila Aster sedikit pelit untuk membiarkan endingnya diakhiri tanpa adanya monolog tersebut. Yap, hanya itu saja kekurangan yang saya rasakan dari film yang berdurasi 127 menit ini. Hereditary berhasil memberikan sebuah showcase teror itu sendiri dengan kisah tragedi nan mencekam yang rasanya susah untuk dilupakan. Tidak berlebihan bila menurut saya, Hereditary adalah salah satu film terbaik yang dirilis pada tahun 2018.

9/10

Saturday, 13 January 2018

"To end this evil, I need to go deeper into the Further"- Elis Rainier

Plot

Memiliki kemampuan supernatural semenjak kecil ternyata malah memberikan pengalaman masa kecil tidak menyenangkan untuk Elis (Lin Shaye/Ava Kolker). Akibat kemampuannya tersebut, Elis harus menerima hukuman demi hukuman dari ayahnya yang abusif, Gerald Rainier, yang juga merupakan salah satu mantan tentara Nazi. Puncaknya adalah ketika salah satu roh "menerima" undangan Elis membunuh sang ibu, Audrey Rainier, yang tentunya menambah kebencian sang ayah terhadap Elis. Pengalaman pahit tersebut ternyata harus kembali dihadapi oleh Ellis karena orang yang kini menempati tempat tinggal masa kecilnya tersebut, Ted Garza (Kirk Avacedo), memohon bantuan Elis untuk mengusir roh jahat yang kerap mengganggunya.




Review

Mungkin sedikit yang menyangka bila proyek "kecil-kecilan" James Wan dan Leigh Whanell (dua orang yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan film horor klasik, SAW, 18 tahun lalu) yaitu Insidious di tahun 2011, mampu menjadi film yang meraup untung besar sehingga Insidious bisa menelurkan film hingga ke instalmen keempat. Bahkan menurut saya, Wan dan Whanell sendiri tidak menduganya sedikitpun. Hanya dengan budget tidak sampai $ 2 Juta, Insidious sanggup meraih keuntungan berkali-kali lipat hingga sampai hampir menyentuh angka $ 100 Juta.  Tidak hanya meraih kesuksesan masif, Insidious pun juga mendapatkan beberapa penggemarnya tersendiri. Terbukti, saat sahabat saya yang niat awalnya ingin menonton Jumanji: Welcome to the Jungle bersama adik nya, harus mengubur keinginan tersebut karena sang adik ternyata tanpa berpikir panjang langsung menjatuhkan pilihan untuk menonton Insidious: The Last Key setelah mengetahui film tersebut telah hadir di bioskop.

Raihan kesuksesan masif yang didapat Insidious 8 tahun lalu bisa saya mengerti. Dengan atmosfir horor yang kental, diikuti pula cerita sederhana yaitu memperlihatkan usaha satu keluarga untuk menyelamatkan roh anak yang tersesat di dunia lain yang dibalut pula akan elemen supernaturalnya, Insidious memang cukup mudah untuk bisa membuat penonton jatuh cinta. Belum lagi performa mengikat dari Rose Byrne dan Patrick Wilson serta masih efektifnya James Wan dalam menakuti penontonnya (jumpscare di tengah perbincangan Josh dan Lorraine masih lah yang terbaik dalam franchise ini). Tentu bukan pekerjaan mudah dalam menghadirkan sekuel demi sekuel yang kualitasnya bisa duduk sejajar dengan film original. Sekuel kedua yang hadir 3 tahun setelah Insidious yang pertama memang tidak terlalu jauh mengalami pemunduran karena James Wan masih duduk di kursi sutradara. Namun, setelah Wan meninggalkan proyek Insidious, franchise ini pun mulai kehilangan arah dan seolah kehabisan bensin, walaupun sang penulis naskah, Leigh Whanell masih bertahan di franchise ini. Insidious: Chapter 3 mulai terbaca alur nya dan meninggalkan ketidakpuasan mendalam bagi yang telah mengikuti franchise ini dari film pertama. Dan sayangnya, hal ini ikut terulang kembali di sekuel keempat.

Insidious: The Last Key sebenarnya diawali dengan start yang meyakinkan. Cerita masa lalu Elis yang tragis cukup bisa mengikat penonton dan rasanya mudah sekali untuk bisa memberikan simpati terhadap Elis, yang kini menjadi fokus utama penceritaan. Siapa yang tidak trenyuh kala melihat Elis yang masih kecil harus menerima pukulan keras dari sang ayah dengan tongkatnya. Diiringi juga dengan teriakan serta tangisan parau dari Ava Kolker yang memerankan Elis kecil, Insidious: The Last Key berhasil merenggut atensi saya yang sebelumnya sedikit kecewa karena kembali gagal dalam usaha untuk menyaksikan Jumanji. Narasi nya yang masih ditulis Whanell pun berpotensi menjadi kisah yang emosional karena mengikuti perjuangan Elis yang kini tidak hanya berjuang untuk mengusir roh jahat, namun juga harus memaksa dirinya berperang dengan kisah masa lalunya.

Seperti pendahulu-pendahulunya, Insidious: The Last Key pun memiliki berbagai twist yang tidak terduga. Yang bagi saya terbaik adalah ketika Elis akhirnya mendapatkan jawaban di ruangan rahasia yang tidak berhasil ia buka saat masih kecil dahulu. Sebuah adegan yang memutar balik persepsi penonton dengan cara yang cukup cerdas, bersamaan dengan rasa cemas dari penonton akibat tensi yang telah menaik. Namun twist brilian itu menyimpan risiko dan disinilah untuk saya, Insidious: The Last Key menampakkan kelemahannya karena Whanell memutuskan untuk menghadirkan satu kembali sub plot yang tidak diiringi dengan pondasi sebelumnya.

Sub plot ini sangat terasa hadir dengan dipaksakan dan terkesan hanya ingin untuk memperpanjang durasi filmnya. Baik dari selipan dialog ataupun kejadian, tidak ada yang menunjukkan jika twist ini memiliki benang merah dengan dasar cerita. Bila hanya ingin menunjukkan sisi kebencian atau kejahatan dari manusia rasanya itu juga tidak perlu, karena dengan melihat bagaimana ayah dari Elis yang selalu menghukum Elis saja itu pun telah lebih dari cukup. Ah, mengenai kebencian Gerald terhadap kemampuan Elis pun disini tidak disebutkan apa alasan yang mendasari mengapa Gerald begitu anti dengan kemampuan supernatural Elis. Dibandingkan untuk memperpanjang permasalahan dengan sebuah plot baru yang tidak memiliki benang merah, mungkin akan lebih baik jika cerita ini saja yang dihadirkan. Kekecewaan kembali diperparah dengan bagaimana kisah ini ditutup. Saya yang telah mencoba memberikan kesempatan dan mengharapkan sebuah jawaban yang memiliki benang merah dengan Elis di akhir, malah harus mendapatkan kekecewaan akibat karena sekali lagi, semuanya tidak ada kaitannya sama sekali dengan Elis. Otomatis, segala ketegangan yang hadir di akhir cerita tampak kosong tanpa arti di mata saya.

Jumpscare tentu menjadi salah satu elemen yang begitu dinantikan untuk para penonton yang berniat untuk ditakuti. Dan dari sini terlihat jelas bagaimana pengaruh James Wan begitu kuat dalam franchise ini karena sang sutradara, Adam Robitel, bisa dibilang meniru Wan untuk menghadirkan jumpscare nya. Jumpscare terbaik pada adegan interogasi di dalam film ini pun bagaikan hanya hasil copas dari Wan. Robitel juga entah kenapa merasa perlu untuk menyelipkan berbagai lelucon di setiap menitnya. Bukanlah keputusan yang baik rasanya menghadirkan suatu kelucuan saat di tengah momen menegangkan karena itu jelas merusak tensi mencekamnya. Untung saja Robitel cukup memiliki kapabilitas dalam hal menghadirkan atmosfir horor yang tidak kalah kentalnya seperti apa yang dilakukan oleh Wan sebelumnya.

Walau cukup dicederai dengan narasi yang hadir di pertengahan cerita, namun untungnya Robitel memiliki cast yang tampil dengan cemerlang. Lin Shaye jelas harus mendapatkan pujian pertama karena telah berhasil melakukan tugasnya dengan baik sebagai protagonist utama dalam Insidious: The Last Key. Perfilman horor biasanya menggunakan wanita muda nan cantik sebagai motor utama, namun tidak dalam film ini karena protagonist utamanya adalah nenek-nenek berusia lebih dari setengah abad. Tidak ada hal lain yang bisa ditawarkan oleh Shaye kecuali performa aktingnya dan Shaye bermain dengan memuaskan. Emosi yang ia tampilkan meyakinkan, ditambah juga kehadirannya sangat mudah disukai berkat halusnya pengucapan yang ia keluarkan tanpa harus melucuti ketegaran seorang perempuan berusia senja. Ava Kolker juga layak mendapatkan sorotan lewat aktingnya sebagai Elis kecil mampu mengingatkan saya akan sensasi menonton Arie Hanggara ketika kecil. Cast lainnya juga bermain tidak mengecewakan seperti Josh Stewart yang berhasil menghadirkan aura jahat di setiap penampilannya dan Angus Sampson menunaikan tugasnya dengan baik sebagai comic relief.

6,75/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!