Showing posts with label Tv Series. Show all posts
Showing posts with label Tv Series. Show all posts

Wednesday, 27 November 2019

"This world is about the power of the sword and coin. If that sword can destroy humans, you could conquer the world with it. If you're the greatest thief in the world, you have to steal the world"

Plot

Bersetting pada era Sengoku, dimana peperangan merebut wilayah satu sama lain terjadi di berbagai wilayah Jepang, menyebabkan tersebarnya berbagai kesulitan di semua tempat. Tidak terkecuali Provinsi Kaga yang diserang kemiskinan akibat kekeringan, kelaparan dan terjangkit wabah penyakit yang mengakibatkan kematian. Karena itu, pemimpin provinsi Kaga, Daigo Kagemitsu melakukan kesepakatan dengan dua belas iblis. Daigo meminta kesejahteraan dan kekuasaan pada wilayahnya, dengan rela menyerahkan semua yang ia punya sebagai bayarannya. 

Pada saat bersamaan, istri Daigo, Nuinokata, sedang dalam proses melahirkan. Dan tidak lama setelah Daigo mengadakan kesepakatan dengan para iblis tersebut, anak pertama mereka pun hadir di dunia. Namun tragisnya, anak pertama mereka lahir dengan mengenaskan, dimana ia lahir tanpa organ tubuh seperti mata,  telinga, kulit, hidung, tangan dan kaki, namun ia tetap menghembuskan nafas. Ketika Daigo melihat sang anak, Daigo pun merasa yakin jika kesepakatannya dikabulkan oleh dua iblis dan memerintahkan dukun beranak yang membantu istrinya melahirkan untuk membunuh anak tersebut. Tentu Nuinokata menolak, namun Daigo tetap pada keputusannya.



Dikarenakan tidak tega, dukun beranak tersebut memilih membuang si anak di sungai ketimbang membunuhnya, dengan menyerahkan keberuntungan si anak sepenuhnya pada Buddha. Taktir pun mempertemukan nya dengan Jukai, mantan bawahan Raja Shiba yang kini berprofesi sebagai dokter ahli prostetik. Jukai merasa kasihan dengan kondisi yang dialami oleh anak tersebut sehingga memutuskan untuk merawatnya serta memberikan anggota tubuh prostetik padanya. Jukai pun memberikan nama untuknya Hyakkimaru. 

16 tahun kemudian, Hyakkimaru telah menjadi ronin dengan kemampuan di atas rata-rata berkat latihan yang diberikan oleh Jukai. Tujuan Hyakkimaru hanya satu, yaitu memburu para iblis atau siluman. Dalam perjalanannya, Hyakkimaru bertemu dengan pencuri cilik bernama Dororo, yang diselamatkan nya dari serangan siluman. Melihat kehebatan Hyakkimaru, Dororo pun memutuskan untuk menemani Hyakkimaru mengembara seraya mengharapkan keuntungan dari setiap siluman yang nantinya akan dibasmi oleh Hyakkimaru. 




Review

Melihat premisnya, seketika saya teringat film dari Joko Anwar terbaru, Perempuan Tanah Jahanam, yang memiliki sedikit kemiripan dari kutukan dan bayi yang lahir cacat. Apakah bang Joko terinspirasi dari Dororo, mengingat kisah Dororo hasil karya dari Osamu Tetzuka ini telah ada semenjak tahun 60an, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, dengan premis nya tersebut telah menanamkan rasa ketertarikan saya untuk mencoba mengikuti anime nya. 

Dengan 24 episode, Dororo didominasi akan cerita Hyakkimaru berusaha mengalahkan para siluman yang ia temui. Tersibak fakta pula jika ia mampu membasmi siluman tertentu, Hyakkimaru akan mendapatkan satu demi satu organ tubuhnya kembali. Pada saat menyelamatkan Dororo pertama kali saja, Hyakkimaru mendapatkan wajahnya kembali tidak lama setelah mengalahkan si siluman. Pada awal hingga pertengahan, kisah Dororo harus diakui cukup repetitif. Hyakkimaru dan Dororo berkunjung di suatu wilayah, dan akan bertarung dengan siluman yang mendiami di wilayah tersebut. Kisah pun hampir selalu berakhir dengan kemenangan Hyakkimaru, dan kita pun akan bertanya, bagian tubuh mana yang akan didapatkan oleh Hyakkimaru. Mudah beranggapan jika episode-episode tersebut terkesan filler, namun setelah mengakhiri 24 episode yang ada, saya akhirnya mengerti mengapa Dororo memiliki jalan kisah seperti ini. 

Perjalanan Hyakkimaru memang didominasi dengan pertarungannya dengan para siluman, namun bersamaan pula, Hyakkimaru sedang melakukan pertarungan dengan ayahnya sendiri, Daigo Kamitsu. Daigo merupakan orang paling bertanggung jawab yang menyebabkan Hyakkimaru harus menderita semenjak kecil. Akibat kesepakatan yang ia lakukan bersama dua belas iblis, Hyakkimaru harus menjadi tumbal. Dengan semakin banyak siluman yang ia kalahkan, semakin dekat pula Hyakkimaru mampu mengalahkan Daigo. Ya, ini adalah kisah seorang pria yang ingin merebut apa yang seharusnya ia miliki, dan dengan keinginan tersebut, Hyakkimaru bersedia melawan ayahnya sendiri, yang bekerja sama dengan para iblis. Kalimat sederhananya, Hyakkimaru sedang berperang melawan dunia.

Wilayah-wilayah yang dikunjungi, Hyakkimaru dan Dororo akan selalu mendapati suatu tempat yang menjadi korban dari situasi perang yang terjadi. Kemiskinan serta kelaparan mengakibatkan banyak jatuh korban yang meninggal, anak-anak menjadi yatim piatu dan masyarakat yang masih hidup harus mencari segala cara untuk tetap bertahan. Tidak hanya itu, penyakit pun tidak jarang menyerang di suatu tempat. Kondisi yang penuh akan keputusasaan ini lah yang menyebabkan suatu individu rela melakukan apapun. Daigo tidak sendiri, karena di berbagai wilayah lain, masih ada pemimpin yang tidak sungkan untuk melakukan pengorbanan demi kemakmuran wilayah nya.

Hyakkimaru dan Dororo akan sering berjumpa fakta sebuah tragedi naas yang terjadi. Selalu akan ada rahasia kelam yang tersimpan di suatu wilayah yang kelak akan mereka temui. Contohnya pada Moriko arc yang berhasil memberikan efek mendalam bagi Hyakkimaru dan Dororo. Tergambar jelas luka dalam akibat perang sehingga mampu memaksa seseorang harus mengorbankan apa yang paling berharga di dalam diri mereka.  Moriko arc sendiri ditutup dengan momen memorable yang berhasil membuat arc ini menjadi fan favorite dalam anime Dororo.

Membahas Dororo tidak akan bisa lepas dari motif para karakter, yang bagi saya merupakan aspek terkuat untuk anime ini. Masing-masing karakter memiliki motif sehingga rela melakukan tindakan seberat apapun demi keyakinan yang dimiliki. Ambil contoh Daigo. Mudah saja membenci tindakannya, karena pada kenyataannya, setiap konflik dan penderitaan yang dialami oleh karakter-karakter utama di Dororo tidak bisa dilepaskan karena keputusan dari Daigo. Namun, apa yang mendorong Daigo hingga nekad melakukan kesepakatan bersama iblis juga tidak bisa kita salahi sepenuhnya. Memang, niat utamanya adalah untuk menasbihkan dirinya menjadi penguasa, namun, kenyataannya dengan kesepakatan yang ia lakukan, wilayah yang ia kuasai ternyata menjadi salah satu sedikit wilayah yang makmur, kaya dan rakyatnya sejahtera.  Tentunya semua ini berkat pengorbanan yang dilakukan Daigo.

Namun yang menjadi masalah, apa yang telah dikorbankan Daigo, Hyakkimaru, masih hidup dan semakin hari semakin kuat untuk bisa mengambil kembali bagian tubuhnya. Terlebih, setiap kali Hyakkimaru mengalahkan siluman dan mendapatkan anggota tubuh, maka provinsi Kaga sedikit demi sedikit harus mengalami bencana kembali. Kekeringan dan wabah penyakit juga kembali melanda. Hyakkimaru pun memiliki alasannya tersendiri. Ya siapa coba yang bisa menerima kenyataan harus hidup minus organ-organ tubuh layaknya manusia normal? Tentu saja Hyakkimaru ingin melihat, berbicara, dan mengendus sesuatu seperti manusia lainnya. Ketika ia memiliki kesempatan untuk merebut kembali apa yang seharusnya ia miliki, tentu Hyakkimaru tidak akan tinggal diam.

Situasi inilah yang seketika memberikan pergelutan batin untuk penonton. Kita kesulitan untuk mendukung tindakan setiap karakter. Pada awalnya, gampang saja kita menaruh dukungan untuk Hyakkimaru dan berharap ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun berkembang dari episode ke episode, kita pun menyadari jika setiap kali Hyakkimaru menginjakkan kaki di suatu tempat, tidak jarang tempat tersebut akan diterpa kesialan. Eksistensi Hyakkimaru juga memberikan efek besar atas kesusahan yang dialami Provinsi Kaga. Ditambah lagi, semakin sering Hyakkimaru membantai siluman, jiwa kemanusiaannya juga ikutan terkikis sedikit demi sedikit. Dan berjalannya waktu pun Hyakkimaru harus terjebak dalam situasi dimana ia harus pula membunuh sesama manusia. Apakah kehadiran Hyakkimaru benar-benar memberikan kesialan dan sebaiknya ia "hilang" saja?

Hyakkimaru pun mendapatkan rival sepadan, Tahomaru, yang tidak lain tidak bukan adik kandungnya sendiri. Saya sempat menduga awalnya jika Tahomaru tidak lain hanya lah bocah egois layaknya antagonis pada umumnya. Namun ternyata tidak demikian. Malahan, Osamu Tetzuka memposisikan Tahomaru layaknya hero yang sebenarnya disini. Ia pangeran yang pengertian, perduli terhadap rakyatnya dan rela berjuang sendiri kala mereka kesulitan. Hubungan dekat dengan dua pengawal pribadi nya, Mutsu dan Hyogo juga memberikan pendalaman karakter untuk Tahomaru. Karakterisasi ini semakin membingungkan penonton untuk memberikan dukungan kepada siapa. Memang, ada momen dimana Tahomaru terlihat bak samurai kejam, namun itu hanya ia tunjukkan kepada Hyakkimaru. Setiap tindakannya memang murni untuk menjaga kesejahteraan rakyatnya. Berbeda dengan Hyakkimaru karena di pertengahan episode, Hyakkimaru bertransformasi menjadi anti hero setelah dalam suatu arc, ia benar-benar tidak perduli dengan apa yang terjadi pada suatu desa akibat tindakan yang ia lakukan. Secara perlahan, Hyakkimaru bisa saja menjadi iblis sepenuhnya.

Disinilah fungsi peran Dororo unjuk gigi. Pertama, Dororo menyuntikkan banyak energi positif untuk anime ini. Anime Dororo begitu kental akan atmosfir kelamnya, juga kepribadian Hyakkimaru terlalu gloomy serta keterbatasan bicara nya juga menambah kesan tersebut. Namun berkat Dororo, perjalanan Hyakkimaru menjadi tidak membosankan. Tetzuka pun juga memberikan pendalaman untuk Dororo, sehingga ia jatuhnya tidak menjadi side kick normal saja. Akan ada penggemar yang tidak menyukai Dororo karena terlalu seringnya berteriak "Aniki" dan tidak jarang menempatkan mereka berdua dalam situasi bahaya, namun keberadaan Dororo bagai pengingat untuk Hyakkimaru jika ia adalah manusia. Terkadang juga Dororo menampilkan kedewasaannya berkat pengalaman hidupnya yang pahit. Tercipta nuansa yang menarik akan hubungan Hyakkimaru-Dororo dan semakin jauh perjalanan mereka, semakin tersadar juga untuk mereka berdua jika mereka saling membutuhkan.

Saya sangat menyukai konflik yang terjadi dalam Dororo. Namun sayang, anime ini tidak terlepas dari kekurangan yang cukup mengganggu. Pertama, struktur "monster of the week" nya menyebabkan kental nya kesan filler. Misal pada satu episode, ada satu kejadian yang cukup monumental dan berpengaruh besar untuk Hyakkimaru dan Dororo, namun setelah nya, kejadian tersebut seolah tidak terjadi karena tidak diungkit kembali. Tidak jarang saya merasa apakah saya menonton episode yang benar atau tidak karena keanehan ini.

Pacing Dororo juga cukup parah. Saya sebenarnya bukanlah tipe penonton yang terlalu kritikal terhadap pacing, namun apa yang tersaji dalam Dororo memang susah untuk dinafikan. Transisi antar adegan ke adegan lain terasa kasar, sehingga banyak kejadian yang terasa menggantung. Belum sempat menonton untuk meresapi suatu kejadian, namun adegan nya telah berpindah ke situasi yang lain. Tentu saja ini cukup mengganggu bagi saya dalam mencoba untuk mendalami kisahnya. Untungnya permasalahan pacing ini hanya terasa di 10 episode awal, karena mendekati akhir, pacing yang ada tidak terlalu kenikmatan menonton saya.

Pertarungan yang terjadi dalam Dororo juga tidak memiliki koreografi yang mind blowing, namun bagi saya ini tidak menjadi masalah karena toh dengan narasi yang mendasarinya saja, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya perduli dengan adegan fight nya, terutama ketika Hyakkimaru dan Tahomaru harus beradu pedang.

Overall, Dororo mungkin tidak akan menjadi anime instant classic, namun berkat konflik cerita yang sangat menarik dan membuat saya tidak sabar untuk segera mengakhirinya, Dororo memberikan pengalaman menonton yang cukup berkesan. Untuk Anda yang menyukai anime bertemakan dark fantasy dengan sentuhan sejarah samurai Jepang, Dororo adalah tontonan yang wajib untuk Anda.

8/10

Friday, 6 September 2019

"I did it for me. I liked it. I was good at it. And I was really... I was alive."
Salah satu moto saya setiap kali ingin mencoba film yang memiliki usia cukup "tua" namun mendapatkan predikat critical acclaim adalah tidak ada kata untuk terlambat. Saya ingin mengetahui seberapa bagus nya film yang kerap dipuji. Saya ingin mendapatkan pengalaman menyenangkan dari apa yang saya nikmati. Dan terakhir, saya ingin mempelajari bagaimana sebuah film mampu memuaskan berbagai pihak dan dianggap spesial oleh kalangan penikmat film. Sedikit cerita, dalam bulan-bulan belakangan, minat saya menonton film ataupun anime baru berkurang drastis. Bisa dilihat dari postingan saya di blog ini yang jumlahnya dari bulan ke bulan semakin berkurang. Kerap kali untuk mengisi waktu luang, saya lebih memilih film yang sudah saya tonton sebelumnya dan mayoritas adalah film yang saya sukai. Hingga pada awal bulan Juli, ketika saya mendapatkan salah satu cobaan yang paling berat dalam hidup saya, saya membutuhkan media hiburan sebagai bentuk escapism saya akan kenyataan. Dan pilihan saya pun jatuh pada TV Series, Breaking Bad, yang kerap kali dicap sebagai salah satu, jika bukan, serial tv paling berpengaruh dan terbaik yang pernah ada. 


Jelas salah satu faktor mengapa saya tergerak untuk mencoba Breaking Bad karena pujian setinggi langit dari kritikus maupun penonton. Selain itu juga mungkin faktor selanjutnya adalah betapa mengecewakannya hasil akhir dari season terakhir Game of Thrones, tv series paling populer setelah Breaking Bad, yang juga sering disebut mampu menjadi tv series terbaik, namun harus banyak yang menjilat ludah akibat season 8 nya yang berantakan. Tapi untuk saya, faktor utama dan paling pertama adalah fakta bila Breaking Bad memiliki protagonist utama anti hero tidak biasa, yaitu Walter White (Bryan Cranston). Genre yang diambil pun merupakan salah satu favorit saya, yaitu crime drama

Plot


Breaking Bad mengambil cerita seorang guru kimia SMA bernama Walter White, yang didiagnosa mengidap stage 3 lung cancer. Membutuhkan biaya lebih untuk perawatan kanker ditambah pula kebutuhan hidup sehari-hari, Walter nekad terjun ke drugs world, dimana ia memproduksi serta menjual narkoba jenis methamphetamine (serius, susah banget namanya). Dibantu oleh mantan muridnya, Jesse Pinkman (Aaron Paul), Walter perlahan-lahan semakin dalam terlibat dalam dunia kriminal. Terlebih, hasil "memasak" meth karya nya dianggap terbaik yang pernah ada, sehingga permintaan dari para junkie semakin besar. 

Tinggal di Albuquerque, New Mexico, Walter memiliki seorang istri yang tengah hamil, Skyler White (Anna Gunn) dan anak laki-laki, Walter Jr. (RJ Mitte), yang mengidap cerebral palsy. Selain itu, Walter pun memiliki adik ipar, Marie (Betsy Brandt) dan suaminya yang merupakan agen DEA, Hank Schrader (Dean Norris). Hank sendiri tengah gencar melakukan penyelidikan atas semakin maraknya penggunaan meth di lingkungan Albuquerque.



Breaking Bad, yang dibuat oleh Vince Gilligan ini terdiri dari 5 season, dan percayalah dari season ke season nya, semakin menebarkan atmosfir kelam, depresif, serta tragic yang hadir per episode. Saya sendiri cukup kaget betapa dark nya cerita Breaking Bad berkembang, terutama dari pertengahan season 3 hingga season 5. Padahal di awal-awal season, atmosfir yang ditawarkanBreaking Bad terasa family friendly sekali. Harmonisnya keluarga Walter, eratnya hubungan mereka dengan Marie dan Hank, serta dunia kriminal yang belum terlalu menjamah kehidupan Walter, terutama di season 1, Breaking Bad masih mudah untuk dilahap, dan terlihat normal untuk ditonton bersama dengan keluarga. Namun, seiring dekatnya dan familiar nya Walter berhubungan dengan kehidupan kriminal, tone penceritaan mulai cenderung depresif, intense, dan tragic sehingga memberikan kesan tidak nyaman setiap menontonnya. 

Saya sangat menyukai pendekatan para kreator Breaking Bad, diketuai Vince Gilligan, yang perlahan namun pasti. Memanfaatkan format episode nya, penonton diajak untuk mengenal lebih dalam masing-masing karakternya. Seperti Walter yang sangat mencintai keluarganya dan rela melakukan apapun demi kebahagiaan mereka, bahkan harus melakukan tindakan kriminal. Jesse yang terlihat dari luar hanya lah berandal junkie pembuat onar, namun di dalamnya terdapat hati mulia yang menyukai dan menyayangi anak-anak. Lambat laun, pekerjaan mereka sebagai penyuplai meth ini akan mempengaruhi kehidupan orang-orang terdekat Walter dan Jesse, dan semakin sering pula mereka harus memutar otak untuk bisa menjamin keselamatan kerabat mereka dari tokoh-tokoh kriminal yang berbahaya. Dengan 5 season, total 62 episode nya, jelas Gilligan & co. memiliki durasi jauh lebih dari cukup untuk mengeksplorasi para karakter nya. Tidak hanya Walter dan Jesse, kita pun melihat pendalaman berbagai karakter yang melingkari mereka, sehingga para karakter ini jatuhnya tidak hanya sekedar lewat saja. 


Bagi saya, penulisan karakter-karakter dalam Breaking Bad ini merupakan aspek terkuat serial tv ini. Untuk karakter Walter White sendiri, percayalah, saya bisa menulis satu artikel panjang untuk karakter anti hero terbaik yang pernah saya tonton dalam media serial tv/film ini. You know I freakin' love this character if I said so. Awal mula, Walter adalah pria berkeluarga normal dengan pekerjaan yang normal pula. Dari permukaan, mudah sekali untuk menilai jika ia adalah pria baik-baik. Dibantu pula kharisma likeable dari Bryan Cranston. Namun, dengan kondisi yang semakin menyulitkan, ia berani mengambil jalan 180 derajat dengan tenggelam dalam dunia kriminal. Seiring waktu, sosok Walter White yang baik kita kenal di awal semakin tergerus, dan tidak jarang kita membenci atau paling tidak menyayangkan keputusan amoral yang sering ia ambil, sehingga melahirkan sosok alter ego Walter, sekaligus "nama kriminal" nya, Heisenberg.


Demi melancarkan segala urusannya, Walter tidak segan-segan dalam mengambil keputusan, bahkan jika keputusan tersebut harus melayangkan nyawa orang lain. Dari kriminal kelas teri yang bahkan sering melakukan kecerobohan mendasar, menjelma menjadi mastermind dalam menjalankan agenda nya. Transformasi Walter White ini dikerjakan begitu mendetil oleh Gilligan. Dari motif, karakterisasi, hingga narasi masa lalu, Gilligan begitu memperhatikan hal-hal tersebut. Walter sendiri sebelum ia menjelma menjadi seorang raja dalam dunia narkotika, ia hanyalah pria berusia senja normal, bahkan cenderung menyedihkan. Ia didiagnosa mengidap kanker paru-paru meskipun ia sama sekali tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Sebagai guru pun ia tidak dihormati, bahkan ada satu momen, Walter dipermalukan oleh salah satu muridny yang sebelumnya sempat ia marahi. Dalam keluarga pun, Walter seolah powerless. Sebagai pemimpin rumah tangga, terlihat sekali ia terlalu "diarahkan" oleh sang istri, Skyler. Hank, adik iparnya, tidak jarang meremehkan atau bahkan menjadikan Walter sebagai bahan candaan. From the start, Walter already got my sympathy. 

Maka, saat Walter keluar dari "sangkar" dan melakukan tindakan diluar comfort zone nya, meskipun ilegal dan berbahaya, saya merasakan ada motif utama selain uang yang mendorong Walter memulai petualangannya sebagai kriminal. Perhatikan dialog berikut ini di season 1.

Jesse: Some straight like you, giant stick up his ass, age-what, 60? He's just gonna break bad? It's weird is all, okay? It doesn't compute. Listen, if you've gone crazy or something. I mean, if you've... if you've gone crazy or depressed, I'm just saying...that's something I need to know about. Okay? I mean, that affects me. 
Walter: I am awake.. 
See? Kerap kali, kita selalu mendengar Walter beralasan jika ia menyebrangi jalan penuh mara bahaya, masuk ke dunia kriminal demi mendapatkan uang adalah untuk keluarga. I did this for family, bla bla bla, tapi dari awal kita bisa menduga, Walter melakukan semua ini adalah berdasarkan keinginannya sendiri, dan di episode akhir, akhirnya Walter mengakui tersebut. Dia merasakan hidup, seolah terlepas beban yang selama ini menahannya. Ada kepuasan melihat dirinya di akhir, ia terang-terangan mengakui itu. Pada akhirnya, ada satu hal yang mana bisa memuaskan ego terpendamnya. Ia bisa mendapatkan respect dari orang yang mengetahui potensi sebenarnya, keberadaannya memiliki impact besar. Dan secara tidak langsung pun, ia memegang kontrol penuh dan bisa mengelabui Hank, yang notabenenya kerap meremehkan dirinya.



Bryan Cranston memberikan performa monumental sebagai Walter White. Tak berlebihan rasanya jika mengklaim Walter White adalah salah satu karakter terbaik yang pernah ada dalam sejarah serial tv, dan selain faktor penulisan karakter, penampilan Bryan Cranston juga memiliki andil besar. Bukan hal mudah memerankan dualitas pada satu karakter, dan Cranston mampu menyeimbangkan sosok Walter yang likeable, clumsy, innocent, namun disisi berseberangan, ia juga briliannya sukses menampilkan sosok Heisenberg yang sociopath, berhati dingin sehingga bisa memberikan order untuk mencabut nyawa seseorang. Terdapat banyak adegan yang membuat saya speechless berkat akting luar biasa Cranston, seperti pada adegan "I am the danger", monolog pada episode Fly, saya dipaksa untuk terharu bahkan menangis akibat aktingnya di the telephone scene dalam episode Ozymandias, namun favorit saya adalah di akhir adegan episode Crawl Space, dan oh boy, saya dibuat terpana, takjub akan totalitas yang diberikan Cranston. What a phenomenal job.

Selain memperdalam karakterisasi, Gilligan mengajak kita untuk melihat interaksi antar karakter.  Kita mempelajari hubungan yang terjalin, apakah itu sayang, perduli, hormat atau bahkan benci. Namun, tetap yang paling stood out adalah duet Walter-Jesse. Seiring berjalan episode demi episode, hubungan keduanya mengalami pasang surut. Tidak jarang mereka berdebat bahkan bertengkar akibat pendapat berseberangan, namun juga sering pula mengemuka hubungan hangat ala ayah dan anak pada dua karakter ini.



Barisan para antagonist nya pun tidak mau kalah. Ada Tuco (Raymond Cruz) yang memiliki masalah dalam mengatur temper nya, Jack Welker (Michael Bowen) yang hadir di season akhir, duo the cousins, Leonel dan Marco Salamanca (Daniel dan Luis Moncada) yang miskin bicara namun setia memberikan ancaman di setiap kehadirannya. Gilligan & co. juga membuktikan kepada penonton jika untuk menghadirkan villain yang berbahaya, tidak selalu perlu sosok pria/wanita tangguh dengan fisik menyeramkan. Hector Salamanca (Mark Margolis) masih mampu menebarkan teror dengan tatapan penuh kebencian walau dirinya hanya duduk di kursi roda. Oh, tidak lupa juga dengan lonceng di kursi roda nya yang mampu membuatmu tidak nyaman. Dan ada juga Lydia Rodarte-Quayle (Laura Fraser), wanita high profile (terlihat dari namanya yang.....ribet -_-) terlihat lemah dan mudah cemas, tetapi di dalam nya ternyata tidak terlalu jauh busuknya dengan para kriminal lainnya. Tetapi tentu saja yang paling memorable adalah Gustavo Fring yang diperankan brilian oleh Giancarlo Esposito. Berdosa sekali rasanya jika tidak membahas karakter satu ini.

Ekspresi di periode awal masa kerja.

 2 bulan selanjutnya.
Gustavo atau Gus sebenarnya tidak jauh berbeda layaknya Walter White. Dirinya harus menjalani kehidupan ganda demi menutupi kedok mereka dalam keterlibatan di dunia kriminal. Keduanya sama-sama kalkulatif, cerdas, dan ahli dalam melakukan pekerjaan mereka. Namun bedanya, Gus memiliki pengalaman yang jauh di atas Walter sehingga Gus lebih tenang dan acap kali mendahului Walter di setiap kesempatan. Kondisi inilah yang juga harus memaksa Walter senantiasa memutar otak untuk mengalahkan Gus, bahkan harus melakukan apapun supaya nyawanya terselamatkan. Percayalah, ancaman yang dihadirkan oleh Gus jauh berlipat-lipat dosis nya dibanding antagonist lainnya. Gus merupakan pria kalem, tenang, mampu memberikan kesan nyaman kepada setiap orang didekatnya, namun dibalik itu, ia adalah sosiopat penuh perhitungan yang membuat Anda berharap untuk tidak melihat dirinya yang sebenarnya. Tatapan mata tajamnya nya saja saya rasa sudah lebih dari cukup untuk membuat saya kencing di celana. Rivalitas antara Walter vs Gus inilah yang semakin menobatkan Breaking Bad sebagai tontonan yang keren dan susah dilupakan.



Ada alasan tersendiri mengapa Breaking Bad menjadi sajian yang memorable, dan itu tidak terlepas dari suntikan realis dari Gilligan & co. Breaking Bad bukanlah kehidupan layaknya dalam film The Godfather trilogy dimana Walter hidup dalam dunia keluarga mafia. Setting Breaking Bad tidak diambil layaknya perang kerajaan ala Game of Thrones, melainkan kisah Breaking Bad hanyalah diambil dari kehidupan pria normal dengan lingkungannya yang normal pula, begitu jauh dari lingkungan kriminal. Dengan pendekatan realis inilah, setiap Breaking Bad memiliki momen yang mencekam, intense, yang melibatkan karakter utamanya dalam bahaya, penonton pun merasakan ketidak nyamanan. Susah dilukiskan bagaimana jantung saya berdetak begitu tidak normalnya setiap Walter dan Jesse dihimpit masalah besar yang bisa saja mempengaruhi kehidupan sekitar mereka.

Ambiguitas moral terasa kental saat mengingat, tokoh-tokoh utama dalam Breaking Bad sebenarnya tidak ada yang bisa dikatakan benar-benar putih (mungkin pengecualian adalah Walter Jr.) sehingga terasa humanis. Masing-masing memiliki flaws nya, termasuk Hank sebagai agen DEA yang di akhir memperlihatkan jika ia rela melakukan apa saja demi bisa menangkap Heisenberg. Namun dengan fakta ini malah membuat saya menyukai hampir semua karakter nya, termasuk Skyler yang kerap dicap sebagai karakter paling menyebalkan dalam seri ini. Saya sendiri menyayangkan penilaian ini sih karena bagi saya, Skyler bukanlah karakter one dimensional. Oke, di awal-awal season saya bisa memahami pemikiran ini, namun sama seperti karakter lainnya, karakter Skyler pun ikut berkembang, sehingga ia nantinya menjadi salah satu faktor mengapa Walter bisa meneruskan karir underground nya. Ia tidaklah sempurna, bahkan melakukan kesalahan fatal yang disayangkan, tetapi pada akhirnya saya pun tidak bisa menyalahkan sepenuhnya atas tindakan Skyler.

Di tengah pusaran kisah drama kriminal yang semakin mengental dan berintensitas tinggi, Gilligan & co. tidak lupa juga sering menyelipkan komedi gelap nya yang kerap datang secara tak diduga dan di situasi yang tidak tepat (in positive way). Minimnya pengalaman Walter di awal karir kriminal nya dimanfaatkan Gilligan untuk menjadi sumber black comedy nya, begitu pula dari duet Walter-Jesse yang kerap kali berdebat hingga sesekali mereka adu jotos. Perkelahian pertama mereka di toilet selalu berhasil membuat saya tertawa tiap kali saya menontonnya. Setidaknya sentuhan komedi hitam ini sedikit memberikan warna cerah tersendiri di tengah semakin kelamnya penceritaan. Karakter  comic relief seperti Saul Goodman (Bob Odenkirk) atau bahkan si bodyguard pendiam favorit penggemar, Huell (Lavell Crawford) tentu dibutuhkan untuk meningkatkan dosis komedinya.




Permasalahan Breaking Bad sendiri bagi saya adalah pacing nya yang sering begitu lambat. Tidak jarang Gilligan & co. menghabiskan menit demi menit dalam episode nya dengan memusatkan pada dialog atau cengkerama antar karakter tanpa ada nya momen pelecut adrenalin, terutama di season 1. Hal ini menjadi alasan tidak terbantahkan mengapa Breaking Bad cukup susah untuk dinikmati bagi mereka yang ingin memulai petualangan mereka bersama Breaking Bad. Saya sendiri yang biasanya bisa menonton 5-6 episode serial tv, membutuhkan waktu 1 bulan untuk melahap habis season 1. But, it's worth it, yo! Pengalaman menonton Breaking Bad ini tidak jauh berbeda kala saya menikmati Hunter X Hunter, dimana di awal-awal terlihat biasa saja, cenderung membosankan bahkan. Namun, lama kelamaan, saya ikut tenggelam dengan ceritanya yang semakin jauh dari kata family friendly. Terbukti, jika di season 1 saya cukup membutuhkan waktu lama supaya menonton semua episodenya, di season 3 hingga 5, saya hanya membutuhkan waktu satu minggu saja untuk mengakhiri perjalanan saya dengan tv series ini. Meski bisa dibilang minim adegan aksi, namun percayalah, berkat pendekatan slow burning inilah, semua momen mencekam dalam Breaking Bad begitu nendang.

Cukup disayangkan bila banyak para newbie yang ingin mencoba Breaking Bad segera menyerah di season pertama karena memang dengan pacing yang lambat panas ini memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan kepada penonton supaya tenggelam dengan kisah para karakter yang terlibat, hingga tercipta koneksi antara kita dengan karakter nya.  Saya sarankan untuk Anda yang telah memiliki niat untuk mencoba Breaking Bad, bersabarlah. Tidak perlu terburu-buru, nikmati kisahnya secara perlahan, karena percayalah, Anda akan mendapatkan pengalaman menonton luar biasa di setiap seasonnya. Terutama di season 3 hingga akhir. Tentunya saya pun sangat menantikan El Camino yang akan dihadirkan Netflix nantinya.

"Yeah, BITCH!!"

Season 1: 8/10
Season 2: 8,5/10
Season 3: 9/10
Season 4: 9,5/10
Season 5: 10/10

Overall: 9/10





Thursday, 18 April 2019


The winter is finally here. Setelah hampir 8 tahun mengudara, akhirnya Game of Thrones akan menutup kisahnya di season 8 ini. Penggemar tentunya ingin menyaksikan bagaimana akhir dari salah satu serial terpopuler di dunia saat ini. Saya sendiri memulai petualangan bersama serial ini pada pertengahan 2016 dan tidak butuh waktu lama, 6 season berhasil saya lahap dan tidak usah ditebak, saya jatuh cinta pada serial ini. Sebenarnya saya ingin menulis review serial ini di season 7, namun dikarenakan keadaan, keinginan tersebut tertunda. Untuk itulah, saya bertekad untuk rutin menulis review episode demi episode di season 8 ini. Dan here we are, grab your Valyrian Sword and let's enjoy the ride.

Eps. 1: Winterfell (Review)

Directed by: David Nutter
Written by: Dave Hill


Seperti layaknya episode pertama di setiap season, episode ini pun didominasi akan build up untuk konflik yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai bonus, kita juga disuguhkan oleh setiap reuni dari beberapa karakter, sembari tetap menggulirkan plot nya. Bagaimana kenaifan Jon Snow (Kit Harington) sebagai ksatria menghalangi dirinya untuk tampil wibawa dan diplomatis di hadapan penduduk Utara, yang sebelumnya telah mendeklarasikan Jon Snow sebagai The King of The North. Namun, dikarenakan keinginan Jon Snow untuk menjalin aliansi untuk penduduk Westeros lainnya karena ancaman dari The Army of Dead, Jon Snow meletakkan tahta nya dan memberikan nya kepada adik tirinya, Sansa Stark (Sophie Turner) yang otomatis menjadi The Lady of Winterfell. Jon Snow pun berhasil menjalin aliansi dengan Daenerys Targaryen (Emilia Clarke) serta mengajak nya ke Winterfell. Hadirnya Daenerys tersebut tidak terlalu disambut baik oleh penduduk setempat, termasuk Sansa Stark. Tentunya romansa Jon Snow dan Daenerys juga dihadirkan, yang secara otomatis menjadi pasangan yang disukai penonton berkat kuatnya dua karakter ini serta chemistry meyakinkan yang dijalin antara Kit Harington dan Emilia Clarke. Menarik dinanti apakah keduanya tetap menjadi pasangan disebabkan Jon Snow akhirnya mengetahui jati diri sebenarnya.

Dua naga beserta pasukan Dothraki yang dibawa Daenerys pun menghadirkan permasalahan tersendiri perihal pangan yang tersedia seadanya akibat musim dingin yang melanda. Selain kondisi di Winterfell, kita juga diajak untuk melihat kondisi Cersei Lannister (Lena Headey) yang tengah disibukkan oleh Euron Greyjoy (Pilou Asbaek), kemudian Theon (Alfie Allen) yang mulai melakukan pergerakan untuk mengawali kebangkitannya. Sub plot bercabang ini memang sudah menjadi ciri khas dalam Game of Thrones, dan harus diakui di episode 1 ini berjalan cukup lambat dengan minim konflik yang terjadi, setidaknya hingga film menyentuh durasi akhir. Saya pribadi masih kesulitan untuk menyukai Sansa dan Bran Stark (Isaac Hempstead Wright). Keduanya seolah kehilangan hati semenjak kembali ke Winterfell, berbeda dengan Arya Stark (Maisie Williams) yang kerap menghadirkan kehangatan di setiap kehadirannya. 5 menit terakhir pada episode ini merupakan momen terbaik dengan menghadirkan adegan jumpscare cerdas serta "reuni" yang hadir di detik-detik akhir. Jelas cliffhanger ini menjadi penutup yang pintar sehingga penonton dibuat untuk tidak sabar untuk menantikan episode selanjutnya.

7,75/10

Eps. 2: A Knight of Seven Kingdoms (Review)

Directed by: David Nutter
Written by: Bryan Cogman




Istilah The calm before the storm layak disematkan pada episode 2 ini. Perang menghadapi The Army of Dead sudah didepan mata, dan fokus penceritaan sepenuhnya memperlihatkan para karakter utama yang berkumpul di Winterfell menghabiskan malam tenang yang bisa saja menjadi malam terakhir untuk mereka. Dari Daenerys yang mencoba menjalin pertemanan dengan Sansa, persiapan penduduk Winterfell dalam menghadapi serangan The Army of Dead, hingga konfrontasi antara Jaime Lannister (Nikolaj Coster-Waldau), yang sebelumnya harus menghadapi penghakiman terlebih dahulu didepan orang-orang yang memiliki masa lalu tidak menyenangkan di masa lalu akibat dirinya, dengan Brandon yang telah kita nantikan bersama. Walaupun memang lambannya pergerakan narasi tidak terlalu jauh berbeda dari episode sebelumnya, namun bisa saya katakan episode ini merupakan sebuah peningkatan. Interaksi antar karakter jauh lebih menarik, ditambah ada beberapa momen yang berhasil menjadi highlight tersendiri, seperti gathering di depan perapian yang menjadi momen favorit saya. Oh, tidak lupa juga Tormund (Kristofer Hifju) yang berhasil menjadi scene stealer berkat obsesi nya terhadap Brienne (Gwendolin Christie) yang tidak pernah gagal untuk memancing tawa dari penonton. 

Tetapi A Knight of Seven Kingdoms sepenuhnya dimiliki oleh Jaime. Bagi saya, Jaime adalah salah satu karakter yang memiliki perkembangan terbaik sepanjang seri Game of Thrones. Momen penghakiman di awal sendiri bagaikan throwback bagaimana di awal Jaime merupakan karakter yang sulit disukai berkat beberapa keputusan egoisnya yang mengakibatkan luka terhadap orang lain. Saya sendiri sedari awal tidak menyukai karakter ini, tetapi berkat transformasi karakternya pada season sebelumnya mengubah dirinya yang kini menjadi seorang pria yang memiliki kasih sayang dan lebih perduli akan orang yang disekitarnya, sehingga tidak ragu saya menetapkan Jaime sebagai karakter terfavorit saya di Game of Thrones, bersama Tyrion dan Arya Stark. Oh, mengenai Arya, pada episode ini, Arya semakin memantapkan dirinya sebagai wanita yang sudah dewasa (How lucky you are Gendry, you son of a gun).  

Serial Game of Thrones sendiri telah lekat akan keberaniannya dalam menewaskan karakter penting dalam cerita, dan bisa diprediksi, pada perang yang terjadi nanti, terdapat beberapa karakter yang telah menjadi fan favorite, akan tewas nantinya. Sebab itulah, dengan atmosfir kehangatan yang ditawarkan pada episode ini akan meningkatkan efek kehilangan penonton pada karakter bersangkutan. Saya sendiri akan senang hati bereuni kembali dengan episode ini setelah season 8 berakhir sebagai obat rasa kehilangan. 

8,25/10

Eps. 3: The Long Night

Directed by: Miguel Sapochnik
Written by: David Benioff & D.B Weiss


Perang puncak menahan invasi The Army of Dead yang diketuai The Night King akhirnya terjadi. Apakah umat manusia mampu bertahan atau tidak, semuanya ditentukan pada perang tersebut. Penduduk Winterfell bersama bala bantuan lainnya telah menyiapkan diri untuk menyambut "tamu" mereka di malam yang panjang nan mencekam. Mungkin ini terdengar berlebihan, namun saya yang telah mengantisipasi akan pertempuran ini membutuhkan waktu setidaknya 20 menit untuk bisa bernafas dengan normal kembali setelah menyaksikan episode 3 dari Game of Thrones ini. Terakhir kali, seingat saya, saya mendapatkan pengalaman sinematik seperti ini adalah ketika saya menyaksikan The Dark Knight Rises (2012) melalui laptop Toshiba saya yang kini sudah "tewas" (R.I.P).

Dalam durasinya yang menyentuh 81 menit (CMIIW, tapi sepertinya ini adalah episode Game of Thrones dengan durasi terlama dalam sejarah Game of Thrones) mengudara), penggemar disajikan pertempuran kolosal non stop berintensitas tinggi layaknya Battle of Helms Deep empunya The Lord of The Rings: The Two Towers. Serbuan tanpa henti dari The Army of Dead, ancaman The Night King bersama naga nya, memaksa saya untuk kesulitan bernafas. Kekhawatiran saya akan keselamatan para karakter utama juga senantiasa hadir. Iya, selain sajian pertempuran epik nya yang sendirinya telah menjadi sebuah pencapaian spektakuler dalam sejarah pertelevisian, ikatan emosi yang telah terjalin antara penonton dengan karakter favorit mereka dari season ke season juga menjadi salah satu faktor utama dibalik kesuksesan penyajian perang nya. 

Seperti yang saya ungkap di review episode 2, Game of Thrones telah lekat dengan keberanian serial ini untuk menewaskan karakter-karakter penting di dalamnya, dan sudah bisa ditebak, akan terdapat beberapa karakter yang harus mengucapkan selamat tinggal pada serial ini. Namun jangan khawatir, karakter-karakter yang tewas sendiri mendapatkan momen kematian yang layak dan tidak lewat begitu saja, bahkan setidaknya ada 2-3 karaktee yang mendapatkan momen badass yang takkan terlupakan. Selain itu, beberapa karakter lainnya juga dapat spotlight nya masing-masing, termasuk Daenerys yang dengan keberaniannya terjun langsung dalam pertempuran bersama anak nya.

Miguel Sapochnik, yang juga menyutradarai episode The Battle of Bastards, paham betul dalam menyajikan pertempuran berskala besar nan epik. Baik itu pertempuran di langit yang memperlihatkan para naga bertarung, di wilayah darat terdapat para The Army of Dead yang menyerang tanpa kenal lelah menyebarkan ancaman sehingga mampu menyudutkan para ksatria Winterfell, hingga di dalam benteng Winterfell yang berhasil memberikan atmosfir klaustrofobik. Sapochnik juga cerdas dalam menyajikan momen-momen keren, seperti ketika Melisandre (Carice Van Houten) menyalakan api membara di pedang Dothrakis juga saat ia berhasil mengobarkan api untuk membakar parit untuk menghalangi para white walkers, shot menawan di langit bersama bulan beserta awan yang layak dijadikan wallpaper di hp dan lainnya. Susah rasanya untuk tidak merasakan kepuasan melihat hasil kerja Sapochnik disini. Tidak lupa soundtrack-soundtrack gubahan Rawin Djawaldi yang memorable, terutama track A Night King yang membahana di menit-menit akhir, sangat mampu menggambarkan suasana despair yang tengah dialami masing-masing karakter. 

Namun, episode 3 ini tidak lepas dari beberapa kekurangan. Setting nya yang terjadi di malam hari pun menjadi kritik terbesar dan menjadi bahan meme dari penggemar, sehingga penonton kesulitan untuk menangkap apa yang sedang terjadi di medan perang. Strategi perang yang diperlihatkan serta keputusan-keputusan "aneh" untuk sebagian karakter juga menjadi sorotan. Kemudian, benar jika sebagian besar dari setiap karakter yang terlibat dalam perang mendapatkan momen cemerlang nya masing-masing, namun tidak untuk karakter yang berada di ruang bawah tanah. Seperti Tyrion (My favorite GoT's character) sama sekali tidak mendapatkan ruang untuk bersinar, begitu pula dengan Sansa Stark. Selain itu, Brandon Stark pun berhasil menjadi titik kelemahan terbesar di episode 3 dengan keberadaannya yang sama sekali tidak terlihat akan fungsinya, sehingga dirinya menjadi karakter paling tidak saya sukai hingga saat ini di episode 3. Beberapa kekurangan yang harus diakui cukup mengganggu ini lah yang menghalangi The Battle of Winterfell ini untuk menjadi pertempuran terbaik dalam serial Game of Thrones, yang kini masih disandang oleh The Battle of Bastards yang bagi saya hampir flawless. Namun untuk saya, episode 3 ini sudah berhasil memenuhi ekspektasi saya yang cukup tinggi sehingga saya tidak ragu untuk menobatkan episode ini adalah salah satu episode terbaik dalam sejarah Game of Thrones.

9/10

Episode 4: The Last Stark

Directed by: David Nutter
Written by: David Beniof & D.B Weiss



Episode ini diawali dengan "epilog" setelah perang besar melawan The Army of Dead. Penghormatan dilakukan, Daenerys dan Sansa mengucapkan salam perpisahan terakhir untuk Jorah dan Theon. Kemudian narasi bergerak ke malam perayaan. Pembukaan ini memang seperti filler, pengisi waktu saja, namun saya menyukai pilihan ini, apalagi setelah episode sebelumnya yang seolah tidak mengijinkan penonton untuk bernafas sedikit saja, maka pembukaan ini mencoba untuk mengajak penonton rehat sejenak dengan menyaksikan para karakter saling berinteraksi, walau tetap menggulirkan plot nya. 

Fokus utama di episode ini berpusat pada Daenerys, yang mulai terganggu dan bimbang atas rahasia identitas dari Jon Snow. Tampak jelas betapa bergejolak batin dalam diri Daenerys kala ia melihat begitu banyak mencintai Jon Snow berkat andil dan pencapaiannya selama ini, sedangkan Daenerys? Ia seolah terasingkan di daerah Utara. Bahkan jasa Daenerys yang sangat besar untuk membantu umat manusia bisa menang melawan The Night King & co. seolah dianggap angin lalu. Gejolak ini diperparah pula oleh Sansa yang masih saja tidak berkurang ketidak sukaan nya pada Daenerys. Mengenai Sansa, dia berhasil menduduki puncak teratas bersama Bran dalam gelar karakter paling saya benci di season ini. 

Kelemahan penulisan yang selama ini menjadi bahan kritik terbesar terhadap David Beniof & D.B Weiss mulai saya rasakan disini. Memang kelemahan ini telah disuarakan dari awal season, tetapi pada episode 4 ini lah saya mulai merasakan nya. Di episode 3 yang banyak juga menerima keluhan selain setting malam hari nya, tidak terlalu saya rasakan pada menonton pertama kali karena distraksi aksi spectacle nya yang saya harus akui memang sangat menghibur. Namun, dengan lambannya perguliran narasi, tidak ditampik bila saya pun ikut merasakan hal yang dirasakan oleh penggemar lainnya. D&D seolah mendadak amnesia akan karakterisasi pada beberapa karakter, terutama mengenai Daenerys. Mungkin pada episode The Last Stark inilah pertama kali saya tidak menyukai Daenerys semenjak season pertama! Daenerys mengalami degradasi karakter terparah sepanjang Game of Thrones mengudara. Character arc Daenerys pun akan menjadi jembatan pada kejadian besar yang akan terjadi di episode selanjutnya. 

Perubahan sikap dari Daenerys ini berdampak juga akan kebimbangan yang dialami oleh dua penasihat Daenerys, Tyrion dan Varys. Sedangkan Jon tetap yakin jika Daenerys adalah penguasa Iron Thorne yang tepat. Pada menit-menit akhir, David Nutter dan D&D kembali mengulangi kesalahan pada episode 4. Banyak sekali momen-momen mengganggu logika dan berbeda di episode 4 yang tidak terlalu saya perdulikan berkat sajian perang nya yang memiliki fast pacing, adegan aksi disini berjalan cukup lamban sehingga saya yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikan hal detil, menanyakan bagaimana Euron dkk. bisa merepotkan Daenerys beserta kedua naga nya. 

Kematian satu karakter di ending harus saya akui merupakan cliffhanger ending yang cerdas nan efektif. Momen kematian di akhir memang tidak pernah gagal untuk memaksa penonton untuk diliputi rasa penasaran akan tindakan apa yang akan dilakukan akibat kematian tersebut. Walau begitu, saya sedikit merasa dikecewakan akan episode ini dikarenakan penulisan karakter Daenerys. Bukan episode yang buruk, namun tentunya D&D bisa menulis naskahnya jauh lebih baik dari ini.

7,5/10

Episode 5: The Bells

Directed by: Miguel Sapochnik
Written by: David Benioff & D. B. Weiss


SPOILER ALERT!!
Perang perebutan tahta Iron Thorne akhirnya pecah. Daenerys bersama pasukannya tidak ragu-ragu lagi untuk menyerang King's Landing demi melengserkan Cersei Lannister dari puncak kekuasaan. Tidak ingin King's Landing berubah menjadi lautan mayat jutaan manusia, Tyrion pun memiliki rencana sendiri dan meminta kepada Daenerys untuk segera menghentikan serangan jika bel di King's Landing berbunyi, bukti jika pasukan King's Landing telah menyerah.

Singkirkan harapan kalian yang ingin mengharapkan pertarungan sengit layaknya The Battle of Winterfell atau bahkan The Battle of Bastards, karena apa yang terjadi di layar adalah sebuah pembantaian tanpa ampun yang dilakukan oleh Daenerys. Iron Fleet dengan Scorpion mereka yang sempat membunuh Rhaegal dan memaksa The Unsullied kehilangan kapal mereka, seolah kehilangan magis nya di episode ini. Bahkan The Golden Company sama sekali tidak memiliki momen cemerlang, yang membuat saya bertanya untuk apa sebenarnya tujuan eksistensi mereka pada serial Game of Thrones. 

Kepiawaian Miguel Sapochnik dalam menyajikan sekuen aksi menawan dan menegangkan sudah tidak perlu diragukan lagi. Tanpa adanya pertempuran yang sengit pun, Sapochnik masih mampu menyebarkan efek despair ataupun putus asa dengan menangkap sudut-sudut kecil setiap pelosok King's Landing. Dan juga seperti biasa, Sapochnik masih mengandalkan long take pada satu karakter untuk meningkatkan intensitas nya. Dibantu dengan soundtrack Ramin Djawadi yang tidak pernah mengecewakan penonton, susah untuk tidak merasa terpana dengan sajian dalam layar. Andai saja D&D tidak merusak total karakter Daenerys di episode 5 ini, bisa jadi episode ini adalah peningkatan dibanding episode sebelumnya.

Melalui episode 5, D&D seolah mengacungkan jari tengah terhadap pengembangan karakter Daenerys dari season pertama hingga ketujuh. Tidak pernah terbesit di benak saya jika akan ada datangnya hari saya bisa membenci Daenerys, cukup dengan dua episode!! Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan saya, namun character arc dari Daenerys merupakan salah satu faktor utama mengapa saya masih mengikuti Game of Thrones hingga sekarang. Saya ingin sekali melihatnya berkuasa di Iron Thorne, setelah perjuangan luar biasa nya dari East dalam membangun suatu pasukan aliansi terkuat di Westeros, membebaskan para budak dan memerdekakan mereka, termasuk The Unsullied. Memang bukan pertama kali Daenerys menyuruh anak-anaknya dalam membakar manusia, namun tindakan tersebut didukung oleh motif yang mampu dipahami dan penonton pun tidak menyalahkan dirinya sepenuhnya, terutama pada kasus Tarly's. Daenerys meminta mereka untuk bend the knee, namun keduanya menolak hingga Daenerys akhirnya membakar mereka berdua.

Namun, saat Daenerys mulai membakar, literally, semuanya di King's Landing, termasuk jutaan penduduk di kota tersebut. Saya hanya bisa bertanya, bagaimana bisa? Karakter yang dikembangkan secara perlahan, hati-hati hingga ia berhasil menjadi kandidat terkuat untuk menduduki Iron Thorne, berhasil menjadi the most hated/dissapointed character akibat transformasi nya menjadi The Mad Queen. Apakah demi sajian spectacle nya, pihak D&D seolah melupakan tanggung jawabnya sebagai penulis sehingga rela mengorbankan karakterisasi Daenerys? Lalu juga, Kenapa Arya masih bisa bertahan hidup di King's Landing atas serangan-serangan luar biasa dari Daenerys.

Meski episode ini mengecewakan hingga membuat saya "berserk"", setidaknya kita masih diberikan kesempatan untuk final stand off antar saudara, Sandor Clegsne (Roy McCann) vs Mountain (Hafþór Júlíus Björnsson) yang berhasil membuat saya bersorak dan Clegane pun akhirnya mendapatkan akhir yang layak untuk character arc nya. Tyrion pun mendapatkan momennya, terutama tik tok nya dengan Jaime yang hampir membuat saya menitikkan air mata. 

6.75/10

Episode 6: The Iron Throne

Directed & Written by: David Benioff & D. B. Weiss


Saya tidak pernah menyangka akan ada hari dimana saya bisa tidak perduli terhadap episode Game of Thrones. Dan ironis nya lagi, perasaan ini datang kala episode terakhir pada season terakhir pula dari TV series favorit saya. Ternyata, cukup dengan dua episode yang super mengecewakan saja yang memaksa perasaan kosong ini datang. Cukup dengan dua episode, saya benar-benar dibuat tidak perduli akan akhir kisah dari para karakter Game of Thrones, terbukti saya baru punya mood untuk menulis review episode terakhir ini setelah mengudara kurang lebih 1 minggu lewat. Saya dibuat tidak perduli apakah  akhirnya Daenerys berhasil atau tidak untuk duduk di singgasana Tahta \Besi di King's Landing, saya dibuat tidak perduli akan akhir kisah The Starks, termasuk Arya, dan lebih menyedihkannya lagi, saya dibuat tidak perduli juga akan nasib Tyrion freakin' Lannister, which is my favorite and beloved character in Game of Thrones!! 

Saya cukup menyukai adegan opening nya yang dibuka dengan cukup sunyi. Kita melihat dari sudut pandang Jon Snow maupun Tyrion hasil dari pembantaian Daenerys bersama anaknya, Drogon, pada King's Landing. Rasa sedih cukup saya rasakan ketika tangisan Tyrion membuncah ketika ia menyaksikan mayat dua saudara nya yang tertimpa runtuhan bangunan Red Keep. Meski karakter nya mengalami degradasi semenjak season 5, Peter Dinklage masih menawarkan penampilan yang mengagumkan, dan ini terbukti pada adegan tersebut. Dan percayalah, momen berduka Tyrion ini pula mengakhiri elemen positif pada episode ini, karena di menit-menit selanjutnya, sulit untuk tidak merasakan kecewa atas konklusi nya terhadap karakter-karakter utama. Padahal ekspektasi sudah saya pasang serendah mungkin, namun saya masih merasakan kekecewaan. Oh God, what went wrong...

Paling mengecewakan jelas adalah konklusi siapa yang pada akhirnya menduduki singgasana The Iron Throne, dan jawabannya adalah karakter yang paling saya benci di season ini, yaitu Brandon Stark!!!! Karakter yang dari episode awal hingga sekarang di season ini sama sekali tidak melakukan apapun. Dirinya hanya hadir dengan tatapan kosong, dialog yang dilontarkan tidak ada sama sekali yang melekat dan jangan tanya juga kontribusinya yang bisa dibilang nihil hingga sekarang. Dan dirinya terpilih menjadi Raja dari 7, oh sori, 6 kerajaan??? You've gotta be kidding me!!! Konklusi ini pun menjadikan narasi identitas sebenarnya dari Jon Snow semakin tidak ada artinya. Oh, mengenai Jon Snow, dirinya kembali dikirim bertugas menjadi The Night's Watch sebagai hukuman dari keputusannya membunuh Daenerys (Ga perlu di spoiler lah ya, udah seminggu lebih juga). Character arc dari Daenerys mungkin salah satu hal paling mengecewakan dari season 8. Karakter yang begitu menginspirasi sebagian besar penonton berkat perjuangannya mendapatkan kekuatan yang begitu besar sehingga dirinya menjadi kandidat terkuat untuk bisa merebut singgasana Iron Thorne, mendapatkan konklusi yang datar. Tidak ada kesan bittersweet kala Jon Snow menghujamkan pisau tajam ke dada nya. Hanya ada rasa kecewa lagi mengingat betapa banyak kerusakan narasi yang dilakukan oleh D&D terhadap salah satu karakter favorit saya ini. 

Udah sih ya, saya tidak perlu menulis panjang-panjang karena intinya, saya begitu kecewa akan akhir episode ini. Sedih rasanya dua tahun penantian berakhir dengan mengecewakan seperti ini. Mungkin beginilah hasil dari penulisan yang terburu-buru, mengorbankan character development sepanjang 7 season, hanya mementingkan sajian visual effect serta adegan spectacle tanpa memperhatikan detil penulisan. I still love this series, I still love Game of Thrones, but it's hard to not feel dissapointed.

6/10

Overall Season 8 rating: 8/10

Minus 2 for Bad Writing and Decision
6/10
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!