Showing posts with label Netflix. Show all posts
Showing posts with label Netflix. Show all posts

Sunday, 9 February 2020

"This is me, all right? I'm not a fuckin' athlete. This is MY fuckin' way. This is how I win. All right?"

Plot

Memiliki usaha berlian sendiri, tidak membuat kehidupan seorang Howard Ratner (Adam Sandler) jauh dari kesulitan. Ia terbelit hutang dengan saudara ipar nya sendiri, Arno (Eric Bogosian) sebesar $ 100 ribu. Perihal tersebut semakin pelik kala Arno menyewa kolektor berperangai kasar, Phil (Keith Williams) dan Nico (Tommy Kominik) yang akan berbuat apapun demi mendapatkan uang pembayar hutang dari Howard. Howard bukannya tanpa usaha, dimana ia berharap berlian opal temuannya dari negara Ethiopia mampu terjual di harga kisaran $ 1 juta pada acara suatu lelang. Namun, niat Howard tersebut pun harus berbentur pula dengan keinginan atlit bintang bola basket dari Boston Celtic, Kevin Garnett (diperankan oleh Kevin Garnett yang asli) untuk membeli opal tersebut. Polemik Howard semakin dilengkapi dengan kehidupan keluarga nya yang sedang tidak baik-baik saja. Howard harus berpisah dengan istrinya, Dinah Ratner (Idina Menzel) yang menggugat cerai Howard akibat perselingkuhan Howard dengan Julia (Julia Fox) yang juga merupakan karyawan di toko berlian Howard.




Plot

Berdasarkan sinopsis yang saya tulis di atas, Anda mampu sedikit menangkap seperti apa film yang sudah tersedia di Netflix ini. Uncut Gems mengisahkan usaha dari suatu karakter untuk menyelesaikan masalah yang sedang menghimpit nya. Pergerakan narasi hampir semuanya berpusat pada Howard, sehingga layar akan didominasi oleh sosok nya. Berita buruk jika Anda merupakan haters dari Adam Sandler. Lagian jika Anda merupakan haters, ngapain juga untuk ikutan menyaksikan film ini. Anyway, duo Safdie (Benny-Josh) enggan untuk membagi permasalahan demi permasalahan Howard layaknya pembagian chapter dan lebih memilih untuk langsung menggabungkannya di setiap pergerakan narasi. Dibantu dengan pergerakan kamera yang cukup dinamis, lahir lah sebuah ketidak nyamanan akan sesak nafas akibat dari setiap keributan yang hadir di layar. Seriusan, hampir tiap menit dalam Uncut Gems itu kita harus melihat setidaknya satu karakter harus berteriak dalam pengucapan dialog, terutama tentu saja si Howard. Kalau bisa saya ingin kasih Adam Sandler seteguk gelas air minum untuk sekedar istirahat sebentar dari teriakan-teriakannya. Kalau Anda cukup teliti, Anda bisa menangkap jika suara Adam Sandler sendiri terdengar serak di beberapa adegan.

Uncut Gems memiliki dasar cerita sederhana memang, namun penyuntingan dari Safdie Brothers yang benar-benar menjadi pembeda. Berkat penyutradaraan mereka, adegan pintu tidak bisa dibuka saja tersaji dengan sangat intens, melebihi adegan dari film thriller di tahun yang sama. Itu hanya satu contoh saja, karena Uncut Gems dipenuhi dengan adegan serupa. Dan percaya atau tidak, Uncut Gems adalah film pertama keluaran dari A24 yang pergerakan narasi nya begitu cepat seperti ini yang saya tonton. Biasanya, film-film dari A24, seperti yang kita ketahui, pergerakan nya cukup lambat layaknya film indie atau film festival. Dengan fakta ini bagi saya memberikan kejutan menyenangkan juga. Membuktikan bila A24 juga mampu memproduksi film semacam ini. Percayalah, Uncut Gems akan memberikan sebuah sajian drama roller coaster yang berlaju kencang seolah tiada akhir. Masih ada beberapa momen "mengambil nafas" atau boleh saya sebut sebagai check point, sebelum nanti kita kembali ditempatkan pada sirkuit laju yang kencang. Yang lebih parah, kebanyakan momen intens dalam film ini bersettingkan di tempat yang sempit, seperti di dalam mobil dan toko kecil milik Howard. Tidak heran jika para pengidap claustrophobia akan tidak nyaman saat sedang menonton film ini.

Balik lagi ke cerita, poin dari Uncut Gems adalah untuk mengajak kita bagaimana seorang pria berusaha untuk memperbaiki semua masalah nya yang ada. Yang bikin gregetan adalah cara yang diambil oleh Howard untuk keluar dari permasalahannya. Bagaimana tidak gregetan jika ia masih saja mau mengambil risiko baru lagi sesaat setelah pintu cahaya untuk menuju jalan keluar hadir di depan matamya. Naskah yang mereka kerjakan bersama Ronald Bronstein ini ingin memperlihatkan jika kerakusan hanya akan menghadirkan persoalan yang baru lagi. Dan siapa tahu, jika Howard mungkin tidak akan bisa lari dari permasalahannya, tidak perduli seberapapun keras nya perjuangan yang telah ia lakukan. 

Harusnya dengan penggambaran karakter seperti ini, karakterisasi Howard berpotensi menjadi protagonist yang unlikeable. Namun fakta di lapangan justru sebaliknya. Memang, Howard jauh dari kata orang yang baik. Ia berselingkuh, hobi berjudi, pembual dan kasar, namun ia tetap adalah seorang family man yang mau berusaha sebaik mungkin untuk perduli dengan keluarganya, terutama anak-anaknya. Kita boleh menyayangkan setiap keputusannya, namun tidak berarti penonton bisa dengan mudah membenci nya. Untuk saya, selalu ada harapan jika usaha Howard setidaknya ada satu saja yang membuahkan hasil, setelah Howard senantiasa diterpa oleh konflik beruntun dalam hidup nya. Faktor akting Adam Sandler sendiri juga ikut berperan untuk penonton mudah mendukungnya. 

Sandler berhasil menggambarkan kecemasan dalam diri Howard, baik melalui amarah bahkan ketika menyetir mobil dalam diam sekalipun. Secara perlahan juga tersirat gambaran putus asa melalui ekspresinya, hingga nanti pada puncaknya tangisan pun akhirnya keluar dari Howard. Susah rasanya untuk tidak merasa kasihan saat dirinya tengah berada di posisi terpuruk seperti itu. Sandler kembali membuktikan jika ia merupakan aktor bertalenta. Meski saya juga kurang sependapat jika ini adalah penampilan yang groundbreaking karena menurut saya, kita memuji akting Sandler disini tidak terlepas juga akibat penampilan-penampilan buruk dari Sandler sebelumnya. 

Tidak hanya Sandler, penampilan dari supporting cast pun tidak boleh diremehkan. Julia Fox yang menjalani debut nya disini, tidak berakhir hanya menjadi eye candy saja berkat penampilan menawannya. Juga yang menjadi scene stealer adalah Keith Williams sebagai Phil, bodyguard kasar yang senantiasa memberikan teriakan-teriakan intimidatif untuk menakuti Howard. Kevin Garnett pun tidak mengecewakan dalam menjalani debutnya. 

8/10

Sunday, 8 December 2019


"You're the first person in this process who's spoken to me like a human"- Charlie

Plot

Pernikahan Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson) tengah berada di ujung tanduk sebab Nicole menggugat cerai Charlie. Awalnya, masing-masing ingin menyelesaikan secara damai. Namun perlahan, konflik antara mereka makin lama makin rumit sehingga keduanya melibatkan pengacara untuk mendapatkan jalan keluar. Permasalahan pun kian melebar, termasuk perebutan hak asuh Henry (Azhy Robertson), putra semata wayang Charlie dan Nicole. Nicole tentunya ingin Henry tinggal bersamanya di Los Angeles, namun masalahnya, Charlie pun memiliki keinginan yang sama dan ingin mengasuh Henry di New York. Charlie keberatan jika harus bolak balik New York-Los Angeles terus-terusan karena disamping banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, namun pekerjaannya sebagai sutradara teater pun ikut terganggu.



Review

Pada adegan pembuka, Marriage Story menyapa kita dengan voice over yang masing-masing merupakan testimoni dari Charlie dan Nicole. Diawali dengan Charlie menggambarkan sosok Nicole yang didominasi akan pujian nya terhadap Nicole, begitu pun sebaliknya. Nicole digambarkan oleh Charlie sebagai kepribadian yang mampu membuat orang nyaman di dekatnya, pendengar yang baik, aktris berbakat, tidak egois dan jago menari. Sedangkan Nicole menyukai Charlie yang berani untuk tidak mendengar pendapat orang lain demi cita-citanya, sangat menjaga kerapian, mandiri dan suka menjadi seorang ayah. Dari dua voice over yang terdengar, tampak bila Charlie dan Nicole seperti pasangan yang mencintai dan begitu mengenal satu sama lain, hingga ketika voice over selesai dan Noah Baumbach menghadirkan fakta kepada penonton jika keduanya tengah menghadapi proses perpisahan. Kurang dari 10 menit, Baumbach telah mengikat atensi saya untuk terus mengikuti kisahnya hingga akhir. 

Kita pun menangkap jika yang menginginkan perceraian adalah Nicole. Maka dari itu, narasi di awal akan bergerak dengan menelusuri motif dibalik keputusan Nicole tersebut dan sepenuhnya diambil dari sudut pandang Nicole. Namun sebelum menuju kesana, Baumbach memilih untuk membangun kedekatan penonton dengan Nicole. Kita diajak untuk mengenalnya, bagaimana interaksi antara dia dengan Charlie, Henry serta ibu dan adik nya, hingga ke pekerjaannya. Dari baris dialog, belum terlalu frontal karena Baumbach sengaja untuk menyebarkan keping-kepingnya terlebih dahulu sebelum kita akhirnya mendapatkan jawaban kala Nicole curhat dengan calon pengacara nya, Nora  Fanshaw (Laura Dern). Dan dari obrolan inilah, saya yang awalnya hanya berekspektasi Marriage Story sebagai film drama perceraian kebanyakan, mendapatkan suguhan adegan emosional yang mampu membuat saya terkesima. Dan percayalah, adegan seperti ini akan menyapamu berkali-kali dalam Marriage Story. 

Yang membuat Marriage Story begitu fantastis adalah kepekaan rasa dari Baumbach dalam membangun konfliknya serta keberhasilannya Baumbach untuk membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter. Baumbach tidak buru-buru dalam menjalankan narasinya. Pembagian screentime antara Charlie dan Nicole saya rasa juga sudah adil, karena Marriage Story sepenuhnya memang diambil dari POV dua karakter ini. Kita diajak untuk melihat perjalanan kedua karakter untuk mencoba menyelesaikan permasalahan diantara mereka, yang nantinya secara perlahan semakin melemahkan dan harapan untuk bisa kembali bersama juga ikut menipis. Dari Charlie dan Nicole sendiri menghadapi konflik ini dengan berbeda, dimana Nicole lebih terlihat fragile dan lemah, berbanding terbalik dengan Charlie yang lebih kalem serta santai. 

Namun dibalik terlihat lemahnya Nicole, nyatanya ia lebih bijak, fokus dan taktikal dalam mengurus perceraiannya. Dari baris dialog saja, kita mengetahui jika Nicole sudah beberapa kali mengunjungi kantor untuk mendapatkan pengacara, sebelum akhirnya ia menunjuk Nora sebagai pengacara resminya. Berkat ini pula Nicole sudah beberapa langkah di depan dibandingkan dengan Charlie yang tanpa sadar semakin ditekan oleh situasi. Minim pengetahuan tentang perceraian dan kenaifannya dalam menghadapi situasi mengakibatkan ia tertinggal jauh.

Iya, naif. Sebab Charlie masih menganggap Nicole tidak akan full power dalam melawannya. Charlie masih berpikir jika pintu untuk menyelesaikan permasalahan dengan calon mantan istri bisa dilakukan tanpa harus melibatkan pengacara, serta tanpa harus berakhir dengan saling menyakiti. Fakta ini juga mengindikasikan jika Charlie belum kenal betul dengan istrinya, yang turut pula didukung dengan curhatan Nicole sebelumnya. Pada momen ini, rasanya mudah bagi penonton untuk mendukung Nicole. Terlebih lagi juga akan terkuak fakta baru bila Charlie juga bukanlah suami yang baik-baik amat karena satu dosa yang telah dilakukan.

Menit per menit durasi film berjalan, Baumbach akan menghadirkan beberapa fakta untuk mendukung narasi. Yang membuat Marriage Story hebat lagi adalah kenyataan jika film ini cukup informatif bagi penonton yang sama sekali tidak tahu bagaimana proses perceraian serta peliknya urusan dalam mengambil hak asuh anak. Sudah rahasia umum jika fakta bukanlah hal yang konkrit dalam peradilan, namun saya tidak menduga juga jika satu statement yang terucap, bahkan sudah terlupakan mungkin saja, bisa menjadi motif yang kuat untuk menekan lawan. Ketika Charlie berusaha untuk mendapatkan pengacara pun kita disuguhkan dengan fakta serta situasi yang menarik. Dan Baumbach  dengan cermatnya menghadirkan dialog-dialog seringan mungkin untuk meminimalisir tersesatnya penonton. Sering kali juga terdapat humor menggelitik yang terselip di tengah situasi serius, seperti momen di persidangan atau ucapan dari Nicole kala Nora memeluknya pertama kali. Hal ini yang membuat Marriage Story tidaklah terlalu depresif untuk diikuti seperti Revolutionary Road atau Blue Valentine. 

Kala Adam Driver hampir mendominasi jalan cerita di pertengahan, di saat itu juga penonton mulai menyaksikan karakter Charlie semakin terlihat kehabisan jalan. Karakternya yang pada awalnya tenang, mulai menunjukkan kekhawatiran, dan pada satu titik pun kita akhirnya melihat keputus asaan yang ia rasakan. Ingat ketika saya sebelumnya bilang bila Baumbach mampu membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter saja? Iya, pada momen inilah, kita bisa bersimpati pada karakter Charlie. Toh, terlepas dari kekurangannya, ia tetap adalah seorang ayah yang menyayangi putra nya. Dan melihat perjuangannya untuk mendapatkan hak asuh penuh, hingga nantinya bersedia keluar uang banyak demi mendapatkan pengacara yang mampu melawan Nora, Charlie berhasil menjadi lawan sepadan Nicole dalam hal merebut simpati penonton. 

Marriage Story secara mengejutkan berhasil mengaduk-aduk perasaan saya melihat konflik terjadi. Baumbach sukses memposisikan saya layaknya anak yang tengah menyaksikan ayah ibu nya bertengkar untuk mendapatkan saya. Kita ingin keduanya baik-baik saja, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menemani mereka kala dibutuhkan. Ada 2 atau 3 kali momen yang mampu membuat saya meneteskan air mata. Seperti tentu saja ketika Nicole akhirnya mengungkapkan alasan mengapa ia memutuskan untuk berpisah dengan Charlie. Ekspresi hopeless dari Adam Driver pun sering membuat saya trenyuh melihat nasib Charlie. Namun pertahanan saya untuk tidak menangis akhirnya jebol juga tepatnya pada saat Henry dan Charlie membaca sesuatu. Air mata yang menyayangkan kondisi sehingga membawa pasangan ini hingga ke titik itu. 

Baumbach juga begitu pintar untuk menyampaikan maksud tanpa harus ada dialog, hanya cukup dengan visual saja. Ambil contoh gambar di atas, dimana Nicole dan Charlie di dalam kereta, keduanya saling menatap dengan posisi berseberangan, dan terletak tiang pegangan kereta di tengah-tengah mereka. Mengindikasikan bila sebenarnya ada sekat di antara mereka berdua, namun sekat itu pula yang menghalangi mereka untuk membicarakan perasaan masing-masing. Situasi pun kembali dihadirkan oleh Baumbach ketika mereka berdua memutuskan untuk berbicara. Dengan pengambilan gambar yang sama, namun tanpa sekat. Dan pada momen ini lah kita mendapati momen penguras emosi terbesar yang mampu memaksa saya merasa miris dan sedih dalam diam, dimana Baumbach menelanjangi rasa terpendam masing-masing dari Nicole maupun Charlie. Brilian.

Adam Driver dan Scarlett Johansson jelas bermain fenomenal disini. Bagi saya, ini adalah peran paling emosional dari ScarJo, lengkap dengan ditanggalkannya kesan seksi yang selalu melekat pada dirinya sehingga penonton lebih terfokus pada aktingnya. Johansson mampu menampilkan kerapuhan Nicole tampak begitu nyata dan tidak mendramatisir, serta diimbanginya juga dengan kesan strong mother tanpa kehilangan kehangatan. Lihat saja momen ketika ia mengikat tali sepatu Charlie di suatu kesempatan. Driver pun juga tidak kalah fenomenal nya, dengan penampilannya sebagai Charlie yang perlahan semakin tidak tahu harus bagaimana lagi. Driver begitu piawai dalam berbicara secara subtil melalui mimik muka sehingga penonton ikut merasakan, meski tanpa iringan dialog atau ekspresi menangis dsb. Dengan meyakinkannya pula ia mempresentasikan kejatuhan seorang Charlie akibat kalah atas kondisi secara perlahan. Kala ia menyanyikan lagu "Being Alive", disitu pula puncaknya Driver membuncahkan semua rasa kesedihan dan pahit walau tanpa harus dengan air mata mengalir. Malah sepertinya penonton lah yang mampu ia buat menangis (saya hampir aja nangis lagi).

Marriage Story begitu merefleksikan pada kenyataan, dibantu dengan tiada hitam dan putih pada karakternya. Keduanya memiliki kelebihan, dan tak terlepas dengan kekurangan juga. Baumbach pun mengakhiri film nya dengan tone yang cukup hangat namun kental akan ironi berkat iringan musik dari Randy Newman. Pada akhirnya, kehidupan harus tetap berlangsung, dan kita pun kembali untuk beradaptasi dalam fase kehidupan yang baru. Marriage Story tentu memiliki kekurangan, dan yang paling jelas adalah durasinya yang cukup panjang yaitu 136 menit, namun dalam pengalaman menonton pertama saya tidak terlalu memikirkan kekurangan film ini. Yang saya tahu, Marriage Story adalah salah satu film tentang perceraian terbaik, bersama dengan Revolutionary Road atau Blue Valentine.



8,75/10

Thursday, 5 December 2019

"I prayed I'd never sin again if I could just get out of here. But then the fighting starts, and then you forget about everything. You're just trying to survive, stay alive"- Frank Sheeran

Plot

Berawal dari pertemuannya dengan Russel Bufalino (Joe Pesci), Frank Sheeran (Robert De Niro) yang awalnya hanyalah supir truk pengantar daging, semakin tenggelam dalam dunia mafia berkat pengaruh Russel yang merupakan salah satu orang paling berpengaruh di Pennsylvania. Kepercayaan yang Russel berikan kepada Frank membuat mereka berteman, dan pertemanan inilah yang mengantarkan Frank nantinya bisa bekerja menjadi pengawal pribadi Jimmy Hoffa (Al Pacino). Jimmy Hoffa sendiri adalah pemimpin serikat buruh di Amerika serta pendiri dari International Brotherhood of Teamsters.



Review

Dengan Goodfellas dan Casino, The Irishman bagaikan penutup trilogi film bertemakan mafia milik Martin Scorsese. Dua aktor yang juga terlibat di dua film tersebut ikut hadir, yaitu Robert De Niro dan Joe Pesci. The Irishman menandakan reuni panjang antara Scorsese bersama De Niro dan Pesci, dimana keduanya terakhir bekerja sama dengan Scorsese pada film Casino. Bagi Joe Pesci sendiri, ini adalah comeback nya setelah 9 tahun absen dalam dunia akting. 

Sebelumnya, saya ingin memberikan pujian kepada studio special effect Industrial Light and Magic yang bertanggung jawab "memudakan" para karakter di adegan flashback nya. Pekerjaan yang mereka lakukan nyaris sempurna, sehingga saya sering bertanya-tanya apakah proses syuting untuk bagian flashback ini dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Tentu bisa dimengerti jika budget dari film ini yang menyentuh angka 159 juta Dollar sebagian besar untuk membuat efek muda tiap karakter terlihat meyakinkan. Masih ada beberapa kekurangan pastinya, tetapi bagi saya masih bisa dimaklumi. 

The Irishman masih didominasi dengan segala tetek bengek kehidupan mafia yang mungkin telah Anda temui di film-fim mafia lainnya, seperti pengkhianatan, pengaruh mafia di dunia pemerintahan dan pastinya saling melenyapkan per individu yang dianggap bisa membahayakan organisasi. Namun yang membedakan The Irishman dengan film lainnya, termasuk Casino dan terutama Goodfellas, bagi saya adalah karakter Frank dan bagaimana Scorsese menyajikan ironi kehidupan dunia mafia nya. Biasanya protagonist utama dalam film mafia memiliki ambisi besar untuk bisa menguasai sesuatu, namun tidak untuk Frank. Disini Frank hanya lah sebagai "karyawan" yang mampu melakukan pekerjaannya dengan baik serta bisa dipercaya sehingga bos yang menyewa jasa nya pun mudah memberikan pekerjaan seberat apapun kepada Frank karena reputasinya. Tidak ada keinginan Frank untuk menjadi kepala pemimpin suatu organisasi. Tidak ada juga niat dari Frank untuk mengkhianati bos yang mempekerjakannya. Yah, setidaknya nanti kala ia harus menjalankan pekerjaan yang mungkin paling berat serta mempengaruhi kehidupannya.

Mengenai ironi yang saya sebut sebelumnya, bila pada Goodfellas serta Casino, Scorsese menyajikan glorifikasi dunia hitam mafia, dengan karakternya menghambur-hamburkan uang yang banyak, bermain wanita, dan sesuka hati bisa menghabisi seseorang dengan alasan apapun, tidak perduli apakah masuk akal atau tidak. Berkat itu juga Goodfellas dan Casino terasa menyenangkan, meskipun film nya sendiri begitu kental dengan dunia kriminalitas. Namun tidak untuk The Irishman. Bila dalam Goodfellas, tiap karakter diberikan kesempatan untuk memperlihatkan keberhasilan atas pekerjaan yang dilakukan, dalam The Irishman, Scorsese memperlihatkan akan busuknya kehidupan mafia yang kejam.  Lengkap pula dengan bagian aftermath yang terdapat dalam film ini, namun minus di dua film predesor. Ya, dengan aftermath yang tersaji, Scorsese menyajikan sebuah fakta pahit yang harus diterima satu karakter. Sebuah hasil memilukan yang tak terlepas dari semua pekerjaan kotor yang telah dilakukan. 

The Irishman terasa begitu padat berkat segala konspirasi serta konflik-konflik yang terjadi. Tidak hanya itu, begitu banyak karakter-karakter yang terlibat dan berpengaruh pada keberlangsungan narasi. Maka merupakan hal yang wajar jika penonton sedikit tersesat, merasa bingung siapa karakter ini dan kapan sebelumnya karakter ini diperkenalkan. Percayalah, Scorsese telah berusaha sebisa mungkin untuk membantu penonton untuk tidak merasakan kebingungan. Terlihat dimana Scorsese berbaik hati menyertakan nama masing-masing karakter pada saat diperkenalkan, lengkap pula dengan "berita" kematian masing-masing dari karakter.

Kenyataan bila naskah yang diadaptasi dari buku Charles Brandt terasa sangat padat, begitu banyak nya karakter serta durasinya yang bukan main panjangnya untuk saya merupakan hal positif serta negatif dari The Irishman. Negatifnya, tentu film ini kurang bisa mencengkeram penonton kasual yang belum pernah mencicipi film Scorsese sebelumnya. The Irishman bertumpu sepenuhnya dengan banter dialognya yang banyak, serta narasi yang disuarakan oleh De Niro sendiri. Melelahkan? Tentu saja, jika Anda, sekali lagi belum pernah menyentuh film-film Scorsese sama sekali. Dan sekali lagi, durasi 3 jam lebihnya benar-benar menuntut kesabaran penonton.

Namun jika Anda merupakan penggemar film, atau lebih tepatnya penggemar Scorsese, The Irishman jelas merupakan sajian mafia epic yang tidak cukup hanya ditonton sekali saja. Berbagai poin cerita mungkin terlupa dengan seiring durasi berjalan, namun itu tidak masalah karena The Irishman sudah berhasil mengikat dengan narasinya. Tentu untuk saya sendiri, The Irishman tidak cukup ditonton sekali saja. Ada perasaan ingin menonton kembali dari awal, karena selain kisahnya sendiri yang benar-benar menarik (kisah dunia underworld memang tak bisa disangkal selalu menarik untuk diikuti), namun juga berkat penyutradaraan dari Scorsese yang semakin menunjukkan tajinya walau telah berusia cukup uzur.

Identitas gaya penyutradaraan Scorsese tentu saja masih mudah terasa. Opening nya saja ia tampilkan dengan tracking shot ciri khas Scorsese, sebelum kita akhirnya melihat sosok Frank yang sedang duduk di kursi roda nya, dan seketika breaking the 4th wall pun sudah hadir, dimana Frank pun mulai menceritakan kisah nya sambil menatap ke kamera. Voice over mendominasi dalam jalannya menit-menit film berjalan untuk membantu penonton supaya tidak terlalu bingung dengan rumitnya penceritaan yang ada. 

Di atas kertas, film Scorsese yang ke 26 ini terlihat kelam, namun fakta di lapangan cukup berbeda, dimana Scorsese masih menyelipkan beberapa black comedy yang bisa membuat mu tertawa, setidaknya untuk saya. Dan mengejutkannya lagi, Al Pacino, yang baru pertama kali bekerja sama dengan Scorsese, merupakan penyumbang tawa terbanyak berkat karakternya yang keras kepala, kharismatik dan memiliki masalah pada short temper nya. Komentarnya mengenai nama "Tony" yang begitu mainstream untuk orang kelahiran Italia adalah satu dari sekian banyak nya Al Pacino mampu membuat saya tertawa di kala adegan yang sebenarnya bisa meningkatkan tensi ketegangan. Naskah dari Steven Zaillian begitu pintar dalam menyajikan humor nya yang pas akan timing serta berkelas. 

Akting yang begitu berenergi dari Al Pacino turut pula diimbangi dengan penampilan memuaskan dari Robert De Niro dan Joe Pesci. Pesci sendiri memerankan karakter yang begitu berbeda dibandingkan dengan dua peran sebelumnya di Goodfellas dan Casino. Disini ia tampil dengan lebih tenang, lebih mengandalkan baris dialog untuk menunjukkan kewibawaan tanpa menghilangkan atmosfir intimidatif dari karakternya. De Niro pun tampil luar biasa sebagai protagonist utama dalam menampilkan konflik batin dari Frank dengan memanfaatkan ekspresi muka yang subtil, kaya makna, serta tatapan mata nya yang sayu akibat dari kondisi yang tidak mengijinkannya untuk mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri. Tidak heran jika nantinya ketiga nama aktor veteran ini akan tampil di daftar nominasi aktor utama/pendukung terbaik di perhelatan Oscar tahun depan.

Momen terbaik The Irishman sendiri adalah ketika Frank dihadapkan pada dilema yang memaksanya harus menghadapi keputusan yang sangat sulit. Dari sini, Scorsese meminimalisir penggunaan soundtrack-soundtrack nya demi mengoptimalkan ketegangan di setiap adegan. Slow build yang dilakukan Scorsese kala Frank menginjakkan kaki di kota Detroit berhasil memaksa saya ikut merasakan kegelisahan serta dilematis yang dirasakan Frank. Apakah ia harus mengikuti perintah dari orang yang telah membesarkannya atau menyelamatkan salah satu teman terdekatnya. Yang mana pun nanti ia pilih, tentu tidak akan berdampak baik untuk Frank. Disinilah The Irishman menunjukkan betapa pahitnya dunia mafia yang Frank geluti. 

Begitu ironis kala Frank rela melakukan berbagai kejahatan tentunya untuk membuat keluarganya sejahtera dan hidup tenang. Frank begitu menyayangi keluarganya, bahkan ketika salah satu putrinya didorong oleh pemilik toko roti, Frank tanpa pikir panjang menghampiri dan menghajar pemilik tersebut. Namun pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan Frank tetaplah kejahatan dan semua benih kejahatan yang ia lakukan harus memaksanya untuk semakin menjauh dari keluarga, terutama anak-anaknya. Bisa saja Frank melakukan pekerjaannya sebagai hitman dengan brilian, namun bukan berarti ia juga berhasil menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. 

Setelah sebelumnya kita menyaksikan semua intrik serta konflik yang terjadi, 30 menit terakhir dalam The Irishman justru tampil dengan sunyi. Mengeksplorasi kehidupan tua dari satu karakter yang penuh dengan penyesalan, bersalah atas semua kesalahan yang telah dilakukan, tanpa seorang pun disisinya. Meninggalkan ia sendiri setelah yang terkasih, teman atau bahkan musuhnya telah berkunjung ke kehidupan selanjutnya terlebih dulu. Kehidupan masa tua nya ini seolah merupakan pembalasan atas masa lalu akibat penyakit yang diderita, rasa berdosa dan sesal, juga kesendirian yang harus ia tempuh. Sebuah aftermath yang cukup emosional dan sempurna untuk menutup kisah epik dari Scorsese ini. 

9/10

Sunday, 17 November 2019

"A king has no friends. Only followers and foe"- Sir John Falstaff

Plot

Hal (Timothee Chalamet), pangeran berjiwa bebas serta pewaris sah akan tahta kerajaan Inggris, harus segera mengisi kursi raja setelah wafatnya sang ayah, King Henry IV (Ben Mendelsohn), akibat penyakit. Didorong oleh rasa benci dan hubungan tidak baik dengan ayahnya, Hal berkeinginan untuk menjadi raja yang berkuasa atas idealisme nya sendiri, serta membuktikan jika ia adalah raja yang jauh lebih baik ketimbang ayahnya. Niat dari Hal ini bukan hal yang mudah dipertahankan mengingat kekacauan dan konflik yang ditinggalkan oleh sang ayah bersama kerajaan yang lain.




Review

Umurnya belum genap 24 tahun, namun aktor muda Timothy Chalamet telah memiliki pengalaman berakting yang tidak bisa diremehkan. Chalamet merupakan salah satu aktor muda saat ini yang diyakini akan memiliki masa depan yang cemerlang sebagai aktor. Sebelum 2 tahun lalu ia mengangkat nama lewat Call Me by Your Name, yang pula mengantarkan dirinya mendapatkan nominasi Oscar pertama untuknya, Chalamet telah mencuri perhatian melalui penampilan mengesankan di film Miss Stevens dan Lady Bird. Tidak berlebihan jika banyak menganggap dirinya adalah sebagai aktor muda terbaik saat ini dan digadang-gadang sebagai the next Leonardo Dicaprio.

Dalam The King, Chalamet kembali menunjukkan performa yang prima sebagai raja muda yang masih hijau dalam menangani seluk beluk mengenai kerajaan. Tentu bukan sembarang aktor untuk bisa memerankan seorang raja. Perlu kharisma dan kewibawaan tingkat tinggi untuk bisa meyakinkan penonton jika ia layak untuk menjadi seorang raja, dan Chalamet memiliki ini. Tanpa tahta menghiasi kepalanya, telah terpancar kharisma seorang pria yang patut disegani dari Chalamet. Terlihat kala dalam satu adegan ketika ia satu layar dengan adik dari Hal, Thomas (Dean-Charles Chapman), penonton sudah bisa merasakan jika Hal lebih layak menjadi raja ketimbang Thomas. Dalam menunjukkan kemampuan akting, tatapan mata senantiasa ia jadikan wadah untuk berbicara kepada penonton sebagai gambaran suasana hati yang sedang dirasakan karakter nya. 

Kematangan akting dari Chalamet berperan cukup besar untuk bisa membuat saya betah senantiasa mengikuti film keluaran dari Netflix ini. Jujur, film bertemakan kerajaan bukanlah selera saya. Apalagi The King memiliki tempo lambat dengan minim intensitas ketegangan, sebelum nantinya pasukan Inggris yang diketuai Hal sebagai King Henry V menginjakkan kaki di wilayah Prancis untuk berperang. Untungnya, naskah garapan Joel Edgerton dan David Michod, yang juga duduk di kursi sutradara, cukup solid.

Ada konflik yang tersaji di dalam kerajaan, dari isu siapa yang sebaiknya menjadi pengganti King Henry IV, serta tidak berpengalamannya Hal ketika ia telah menduduki kursi raja. Keinginan Hal sebenarnya hanya satu, yaitu ia tidak ingin mencontoh cara berkuasa sang ayah. Karena itu sebisa mungkin ia menjauhi konflik dan memprioritaskan kedamaian. Namun tentunya keinginan ini tidak bertahan lama ketika ia didesak oleh beberapa situasi yang mempertaruhkan harga diri kerajaan Inggris. Tidak hanya itu, kapabilitas Hal sebagai raja pun juga ikut dipertaruhkan. Setidaknya satu jam pertama, narasi cerita dipenuhi akan konflik apakah nantinya Hal tetap ingin menjadi raja sesuai keinginannya atau ia harus menunjukkan "kekejaman" layaknya raja sebelumnya untuk membuktikan jika ia pantas untuk menjadi raja.

Walau memang sekali lagi temponya berjalan lambat, tetapi narasi ini telah menjadi fondasi yang cukup kuat untuk menjembatani pada adegan perperangan yang menjadi klimaksnya. Perperangan yang terjadi sebenarnya tidak lah menunjukkan hal yang baru, bahkan bisa dibilang bagaikan copy paste dari Battle of Bastard nya Game of Thrones, dengan mengandalkan teror claustrophobic untuk membuat penonton menahan nafas. Glorifikasi dikesampingkan dimana Michod lebih memilih menyajikan perang nya serealistis mungkin lengkap dengan lumpur tanah yang menambah kesan sesak akibat ruang untuk bergerak begitu sempit. Pilihan yang patut diapresiasi karena mampu menggambarkan neraka akan perperangan. Namun perang antara Inggris dan Prancis ini cukup terasa menegangkan dikarenakan adanya narasi yang solid sebelumnya. Pada perang inilah terlihat apakah Hal layak menjadi raja atau tidak. Dari perang ini pula lah, keputusan Hal untuk mengangkat temannya sebelum menjadi raja yang merupakan mantan prajurit pemabuk dan hobi merampok, John Falstaff (Joel Edgerton) sebagai taktikal perang adalah keputusan yang keliru atau tidak. 

Joel Edgerton sendiri bermain memukau dengan memerankan seorang mentor sekaligus teman bagi Hal. Karakter nya senantiasa menjadi moral compass untuk tetap membimbing Hal supaya dirinya tidak kehilangan jati diri sebenarnya. Namun yang menjadi scene stealer sendiri adalah Robert Pattinson yang berperan sebagai pangeran Prancis eksentrik, Dauphin. Akting yang ia tampilkan disini semakin menambah keyakinan saya jika nanti ia tidak akan mengecewakan kala ia memerankan Bruce Wayne di film The Batman mendatang. 

Michod pun menutup kisah The King dengan menampilkan fakta menghenyak, yang semakin menguatkan jika Hal tidak akan bisa menjadi raja yang sesungguhnya jika ia tidak memiliki orang terpercaya di dekatnya. Walau keakuratan sejarah dari film ini patut dipertanyakan, namun tak tertampik jika The King merupakan sajian film historical drama yang cukup menghibur berkat narasinya yang solid serta penampilan memukau para aktor nya. Kredit lebih juga patut diberikan untuk sinematografer, Adam Arkapaw, dalam kemampuannya menghadirkan gambar demi gambar yang memanjakan mata.

7,75/10

Sunday, 13 October 2019


"You didn't have to wait your whole life to do something special"

Plot

Berhasil mengakhiri masa perbudakan dalam sekapan Jack (Michael Bowen) dan gang nya, tidak berarti Jesse Pinkman (Aaron Paul) bisa hidup dengan tenang. Kini ia harus menjalani kehidupannya sebagai buronan. Dengan fakta tersebut, Jesse pun ingin memulai kehidupannya baru dan meninggalkan semua masa lalunya. 



Review

Bila Anda telah membaca tulisan saya mengenai Breaking Bad, Anda pasti tahu jika saya sangat mencintai tv series satu ini, melebihi Game of Thrones sekalipun. Tentu saja, ketika Netflix menghadirkan film lanjutan kisah Breaking Bad berjudul El Camino, dengan membawa Vince Gilligan yang notabenenya adalah kreator tv series itu sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, bohong sekali jika saya tidak merasakan kebahagiaan. Terlebih, dari trailer nya yang meyakinkan serta masih kental akan aura "Breaking Bad" nya, El Camino tampak menjanjikan. 

Bila "Granite State" dan "Felina" bagaikan epilog dari kisah perjalanan the kingpin, The Heisenberg, Walter White (Bryan Cranston), maka 2 jam dari durasi El Camino adalah sepenuhnya kisah epilog untuk Jesse. Tentu nya sebagai penggemar Breaking Bad, kita sangat ingin mengetahui nasib Jesse setelah kurang lebih 2 tahun harus menjalani hidup layaknya budak dalam genggaman Uncle Jack. Kisah Jesse pun menarik diikuti karena untuk pertama kalinya, ia harus beraksi seorang diri, setelah sebelumnya ia selalu bersama Walter ataupun Mike Ehrmantraut (Jonathan Banks) sebagai partner in crime nya. 

Untuk Anda yang belum sama sekali menyentuh Breaking Bad, sebaiknya tidak usah repot-repot untuk mencoba El Camino. Sekali lagi, penceritaan El Camino diambil tidak lama setelah Jesse meloloskan diri. Maka ceritanya tentu sangat berkaitan dengan Breaking Bad. El Camino ini bagi saya adalah sebuah bentuk surat cinta untuk para penggemar atau bisa juga merupakan salam perpisahan untuk salah satu karakter paling dicintai dalam serial ini. Fokus penceritaan hanya satu, yaitu kisah bagaimana Jesse memulai kembali setelah semua yang telah terjadi. Disajikan dengan ciri khas Vince Gilligan, yaitu slow burning dengan menggulirkan kisahnya dengan perlahan namun terus berkembang, mengembangkan serta mengeksplorasi karakter dan sedikit bumbu black comedy nya yang masih saja ampuh untuk menjadi ice breaking di kala momen yang tersaji intensitas nya meninggi. 

Harus diakui memang, keputusan Vince Gilligan untuk menerapkan pola yang sama seperti pada tv series nya ke dalam El Camino adalah langkah perjudian. Memang, pola tersebut akan bekerja jika di terapkan pada sistem tv series yang memiliki puluhan episode. Namun untuk media film yang memiliki durasi terbatas, tentu saja pergerakan narasi perlahan ini tidak selalu berhasil. Dalam El Camino, untuk sebuah kisah buronan internasional, memang harus diakui terasa cukup sunyi dan kalem. Mungkin hanya ada dua-tiga kali intensitas film meningkat, namun tidak sampai ke taraf maksimal. Gilligan lebih memilih memfokuskan cerita pada pendalaman karakter Jesse setelah kembali bisa menghirup udara bebas.

Petunjuk akan seperti apa El Camino sebenarnya telah terpapar dalam perbincangan singkat melalui adegan flashback antara Mike dan Jesse. Sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki semua yang lalu, yang tersisa untuk Jesse adalah memulai semuanya dari awal kembali. Maka bila ekspektasi Anda untuk menantikan perjalanan heroik dari Jesse maka saya sarankan untuk segera mempertimbangkan kembali, karena El Camino sepenuhnya adalah usaha Jesse untuk kembali memulai semuanya. Dan ini saya rasa adalah pilihan yang ideal untuk Gilligan dalam upayanya memberikan akhir yang cocok untuk Jesse.

Terdapat dua jenis narasi di film ini, yaitu present and past time. Bila narasi masa kini memperlihatkan Jesse untuk segera mendapatkan kehidupan baru nya sembari memulihkan luka masa lalu, maka flashback nya sendiri memiliki peranan untuk menanamkan simpati lebih dalam terhadap Jesse. Kita diperlihatkan sedikit kepingan momennya selagi menjalani kehidupannya sebagai tahanan Uncle Jack. Rasanya sedikit mustahil jika kita tidak merasakan rasa simpati terhadap beratnya kehidupan Jesse kala itu. Tidak ada harga diri sama sekali serta kerap mendapatkan perlakuan yang memalukan, memberikan tekanan mental yang kuat bagi Jesse, sehingga kondisi nya tidak jauh berbeda seperti veteran perang yang sehabis mengalami neraka hidup di dunia perang. Tidak hanya itu, flashback nya juga memberikan ruang bagi Gilligan untuk menghadirkan beberapa cameo karakter yang paling berpengaruh dalam hidup Jesse. Ya, termasuk karakter yang paling dinantikan hadir di dalam El Camino, and you know who.

Terdapat pula pada momen flashback nya, El Camino memberikan masa dimana Jesse menghabiskan waktu bersama Todd (Jesse Plemons), salah satu karakter yang memberikaan penderitaan besar baik fisik maupun batin kepada Jesse. Dan setelah melihat masa "hang out" mereka berdua, saya yakin Anda akan memiliki kepuasan kembali mengingat bagaimana nasib Todd berakhir dalam series nya. Perubahan fisik signifikan yang terjadi pada Jesse Plemons mungkin akan menjadi topik yang paling dibicarakan, ketimbang penampilan cemerlangnya dalam menampilkan Todd yang creepy, mampu tampil begitu dingin, bertindak seperti pria normal dan memiliki attitude baik, padahal ia merupakan orang yang begitu mudah menarik pelatuk untuk membunuh demi sebuah alasan yang remeh jika diambil sudut pandang orang normal. Jesse dan Todd memang seolah ditakdirkan menjadi rival, terlihat bagaimana Gilligan memberikan karakterisasi yang berlawanan pada satu aspek.

El Camino memang masih kental akan aroma Breaking Bad nya, lengkap dengan sajian sinematografi menawan layaknya series tersebut, namun meski begitu, El Camino tidak lah sekelam Breaking Bad. Minus adegan yang mampu membuat penonton merasakan ketegangan, serta mara bahaya yang mampu membuat Jesse tertangkap. Mungkin keputusan Gilligan ini akan membuat kecewa bagi siapa saja yang mengharapkan adegan seru nan memikat dalam film ini.

Aaron Paul, yang setelah Breaking Bad berakhir seolah kesulitan untuk mendapatkan peran yang tepat dalam media film, menunjukkan disini jika ia telah begitu mengenal karakter yang telah ia perankan selama 5-6 tahun. Meski versi Jesse disini berbeda, namun kesan familiar tetap terasa. Terlebih untuk mengobati kangen para penggemar untuk melihat Jesse versi awal mula Breaking Bad, tersaji pada sebuah adegan flashback kala film mendekati akhir. Lengkap pula kembali terucapnya kata ikonik milik Jesse, yang sempat absen sebelumnya.

El Camino memang bukan film yang sempurna. Bahkan ketidak puasan mungkin akan ada bahkan dari barisan penggemar setia Breaking Bad. Namun untuk saya, El Camino sudah menjalankan perannya dengan baik, yaitu untuk mengingat kembali mengapa para penggemar bisa jatuh cinta pada salah satu serial tv terbaik yang pernah ada tersebut, serta memberikan akhir yang layak untuk Jesse Pinkman, one of the most loveable character in tv series.  Tentunya saya kedepannya tidak ada lagi proyek spin off dalam melanjutkan kisah salah satu karakter Breaking Bad (Better Call Saul adalah sebuah prekuel), sebab semua kisah sempurna pastinya memiliki kisah akhir yang sempurna pula, dan bagi saya, El Camino memiliki itu. Jangan sampai titah sejarah sempurna Breaking Bad dihancurkan akibat keinginan serakah demi mendapatkan keuntungan. Enough is enough.

8/10


Monday, 31 December 2018


"Listen to me, we're going on a trip now, it's going to be rough."- Malorie

Plot

Virus misterius yang menyerang seluruh dunia, termasuk negeri Amerika (tentu saja) mengakibatkan Malorie (Sandra Bullock) terjebak di dalam rumah, bersama orang-orang lainnya yang secara beruntung belum ikut terkena virus tersebut, salah satunya adalah Tom (Trevante Rhodes) yang menyelamatkan Malorie. Virus yang tersebar itu memberikan gejala ke siapapun yang terkena melalui kontak mata untuk melakukan tindakan membunuh dirinya sendiri. 




Review

Film yang diadaptasi dari novel Josh Malerman dengan judul yang sama ini segera saja menjadi sebuah pop culture tersendiri berkat berpuluh gambar meme yang tersebar di internet. Konsep cerita nya memang tidak sepenuhnya original karena di tahun yang sama kita telah dihadiri A Quiet Place yang sama-sama memiliki genre horror. Bila pada film John Krasinki tersebut ancaman akan hadir bila para karakternya mengeluarkan suara sekecil apapun, karakter-karakter yang terlibat dalam Bird Box harus dipaksa harus menutup mata mereka demi menghindari virus misterius yang mengancam mereka. Bird Box pun membuka narasinya dengan langsung menghadirkan tragedi chaos yang langsung saja menyita perhatian saya. Saya yang awalnya hanya ingin melihat sekitar 15 menit di awalnya saja, seketika berniat untuk langsung melahap habis film produksi Netflix ini. Kalau di adegan awal nya saja sudah menghadirkan keseruan gila seperti itu, tentu saya akan mendapatkan hal lebih gila lagi di menit-menit sisanya. Dan sayangnya, keinginan tersebut berakhir dengan rasa yang sedikit kecewa karena di sisa menitnya, karena film dari Susanne Bier ini sama sekali tidak ada letupan konflik yang mampu menyaingi adegan chaos tersebut. Jangankan menyaingi, mendekati saja pun tidak.

Bier menyajikan dua cerita timeline yang berbeda. Yang pertama adalah perjuangan Malorie melakukan perjalanan dengan kedua anaknya ke suatu tempat, lalu yang kedua adalah cerita 5 tahun sebelumnya menceritakan kisah bertahan hidup Malorie dan Tom dimana Malorie yang saat itu masih dalam kondisi mengandung. Narasi yang kedua tentu diniati Bier untuk mengeksplorasi karakter Malorie serta pertemuannya dengan Tom yang merupakan love interest dari Malorie. Namun disinilah yang merupakan faktor terlemah Bird Box. Sama seperti The Purge (2013), potensi yang luar biasa menarik pada Bird Box tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh Bier. 

Tempo film yang begitu tinggi di awal film tidak bisa dijaga oleh Bier. Praktis, setelah Malorie harus terjebak di dalam rumah yang dimiliki Greg (BD Wong), tensi film melambat tanpa adanya konflik yang berarti. Tidak ada perdebatan hebat yang terjadi antar penghuni yang bertahan hidup, tidak ada juga ancaman dari luar rumah yang membuat penonton menahan nafas. Ada satu momen yang sebenarnya bisa dimaksimalkan oleh Bier meletupkan konfliknya saat para karakter harus keluar dari rumah tersebut akibat persediaan makanan di dalam rumah telah menipis. Namun kembali, potensi tersebut dilewatkan saja. Andaikan saja Bird Box memiliki sutradara seperti Ari Aster yang memiliki visi luar biasa dalam menakut-nakuti penontonnya. Saya masih berharap bila di akhir film, Bird Box akan menghadirkan momen ending yang powerful layaknya Hereditary (my favorite movie this year), tetapi kembali, saya dikecewakan akan ending nya yang tampaknya diniati untuk membuka potensi sekuel film ini. Saya mencoba mencari tahu di internet apakah memang Bird Box versi novel memiliki akhir yang sama, dan kenyataannya versi novel dari Malerman memiliki ending yang lebih disturbing dibandingkan filmnya.

Naskah Bird Box yang ditulis oleh Eric Heisserer juga tidak memberikan ruang eksplorasi dalam terhadap karakter-karakternya sehingga saya tidak menyalahkan Anda jika Anda tidak terlalu perduli karakter selain Malorie dan Tom, bahkan untuk Tom sendiri masih kurang digali dengan dalam walau memang ada beberapa dialog didalamnya yang menceritakan tentang dirinya. Interaksi antar karakter minim sekali akan nuansa yang berwarna, seolah memang perbincangan yang terjadi tampak diniati sebagai pembunuh waktu. Satu-satunya faktor yang membuat saya cukup bertahan mengikuti Bird Box tidak lain tidak bukan adalah karena adanya John Malkovich yang memerankan Douglas berkat karakternya yang tidak bisa ditebak akan kelakuannya. Karakter Douglas juga terasa manusiawi dibandingkan karakter lainnya. Terdapat ambiguitas yang tersimpan, dan hal ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh baik oleh Heisserer.

Sandra Bullock jelas telah melakukan tugasnya dengan baik. Bullock adalah salah satu aktris yang memiliki kharisma likeable yang terpancar. Berkatnya, Malorie terlihat sebagai wanita yang tidak lemah walaupun memerankan karakter yang tengah mengandung. Bullock mampu menghidupkan setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Hal tersebut terlihat di bagian ending nya yang cukup emosional berkat delivery dari Bullock. Sayang memang, Bullock tidak dimodali dengan naskah yang brilian. Bird Box jelas memiliki semua potensi yang bisa memberikan teror yang tak terlupakan kepada penonton, namun sekali lagi, Bird Box hanya berakhir sebagai film penghasil ide untuk kreator meme. Tidak jelek, tetapi tentunya bisa berakhir jauh lebih memuaskan dengan semua potensi didalamnya.

7/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!