Showing posts with label Crime. Show all posts
Showing posts with label Crime. Show all posts

Sunday, 9 February 2020

"This is me, all right? I'm not a fuckin' athlete. This is MY fuckin' way. This is how I win. All right?"

Plot

Memiliki usaha berlian sendiri, tidak membuat kehidupan seorang Howard Ratner (Adam Sandler) jauh dari kesulitan. Ia terbelit hutang dengan saudara ipar nya sendiri, Arno (Eric Bogosian) sebesar $ 100 ribu. Perihal tersebut semakin pelik kala Arno menyewa kolektor berperangai kasar, Phil (Keith Williams) dan Nico (Tommy Kominik) yang akan berbuat apapun demi mendapatkan uang pembayar hutang dari Howard. Howard bukannya tanpa usaha, dimana ia berharap berlian opal temuannya dari negara Ethiopia mampu terjual di harga kisaran $ 1 juta pada acara suatu lelang. Namun, niat Howard tersebut pun harus berbentur pula dengan keinginan atlit bintang bola basket dari Boston Celtic, Kevin Garnett (diperankan oleh Kevin Garnett yang asli) untuk membeli opal tersebut. Polemik Howard semakin dilengkapi dengan kehidupan keluarga nya yang sedang tidak baik-baik saja. Howard harus berpisah dengan istrinya, Dinah Ratner (Idina Menzel) yang menggugat cerai Howard akibat perselingkuhan Howard dengan Julia (Julia Fox) yang juga merupakan karyawan di toko berlian Howard.




Plot

Berdasarkan sinopsis yang saya tulis di atas, Anda mampu sedikit menangkap seperti apa film yang sudah tersedia di Netflix ini. Uncut Gems mengisahkan usaha dari suatu karakter untuk menyelesaikan masalah yang sedang menghimpit nya. Pergerakan narasi hampir semuanya berpusat pada Howard, sehingga layar akan didominasi oleh sosok nya. Berita buruk jika Anda merupakan haters dari Adam Sandler. Lagian jika Anda merupakan haters, ngapain juga untuk ikutan menyaksikan film ini. Anyway, duo Safdie (Benny-Josh) enggan untuk membagi permasalahan demi permasalahan Howard layaknya pembagian chapter dan lebih memilih untuk langsung menggabungkannya di setiap pergerakan narasi. Dibantu dengan pergerakan kamera yang cukup dinamis, lahir lah sebuah ketidak nyamanan akan sesak nafas akibat dari setiap keributan yang hadir di layar. Seriusan, hampir tiap menit dalam Uncut Gems itu kita harus melihat setidaknya satu karakter harus berteriak dalam pengucapan dialog, terutama tentu saja si Howard. Kalau bisa saya ingin kasih Adam Sandler seteguk gelas air minum untuk sekedar istirahat sebentar dari teriakan-teriakannya. Kalau Anda cukup teliti, Anda bisa menangkap jika suara Adam Sandler sendiri terdengar serak di beberapa adegan.

Uncut Gems memiliki dasar cerita sederhana memang, namun penyuntingan dari Safdie Brothers yang benar-benar menjadi pembeda. Berkat penyutradaraan mereka, adegan pintu tidak bisa dibuka saja tersaji dengan sangat intens, melebihi adegan dari film thriller di tahun yang sama. Itu hanya satu contoh saja, karena Uncut Gems dipenuhi dengan adegan serupa. Dan percaya atau tidak, Uncut Gems adalah film pertama keluaran dari A24 yang pergerakan narasi nya begitu cepat seperti ini yang saya tonton. Biasanya, film-film dari A24, seperti yang kita ketahui, pergerakan nya cukup lambat layaknya film indie atau film festival. Dengan fakta ini bagi saya memberikan kejutan menyenangkan juga. Membuktikan bila A24 juga mampu memproduksi film semacam ini. Percayalah, Uncut Gems akan memberikan sebuah sajian drama roller coaster yang berlaju kencang seolah tiada akhir. Masih ada beberapa momen "mengambil nafas" atau boleh saya sebut sebagai check point, sebelum nanti kita kembali ditempatkan pada sirkuit laju yang kencang. Yang lebih parah, kebanyakan momen intens dalam film ini bersettingkan di tempat yang sempit, seperti di dalam mobil dan toko kecil milik Howard. Tidak heran jika para pengidap claustrophobia akan tidak nyaman saat sedang menonton film ini.

Balik lagi ke cerita, poin dari Uncut Gems adalah untuk mengajak kita bagaimana seorang pria berusaha untuk memperbaiki semua masalah nya yang ada. Yang bikin gregetan adalah cara yang diambil oleh Howard untuk keluar dari permasalahannya. Bagaimana tidak gregetan jika ia masih saja mau mengambil risiko baru lagi sesaat setelah pintu cahaya untuk menuju jalan keluar hadir di depan matamya. Naskah yang mereka kerjakan bersama Ronald Bronstein ini ingin memperlihatkan jika kerakusan hanya akan menghadirkan persoalan yang baru lagi. Dan siapa tahu, jika Howard mungkin tidak akan bisa lari dari permasalahannya, tidak perduli seberapapun keras nya perjuangan yang telah ia lakukan. 

Harusnya dengan penggambaran karakter seperti ini, karakterisasi Howard berpotensi menjadi protagonist yang unlikeable. Namun fakta di lapangan justru sebaliknya. Memang, Howard jauh dari kata orang yang baik. Ia berselingkuh, hobi berjudi, pembual dan kasar, namun ia tetap adalah seorang family man yang mau berusaha sebaik mungkin untuk perduli dengan keluarganya, terutama anak-anaknya. Kita boleh menyayangkan setiap keputusannya, namun tidak berarti penonton bisa dengan mudah membenci nya. Untuk saya, selalu ada harapan jika usaha Howard setidaknya ada satu saja yang membuahkan hasil, setelah Howard senantiasa diterpa oleh konflik beruntun dalam hidup nya. Faktor akting Adam Sandler sendiri juga ikut berperan untuk penonton mudah mendukungnya. 

Sandler berhasil menggambarkan kecemasan dalam diri Howard, baik melalui amarah bahkan ketika menyetir mobil dalam diam sekalipun. Secara perlahan juga tersirat gambaran putus asa melalui ekspresinya, hingga nanti pada puncaknya tangisan pun akhirnya keluar dari Howard. Susah rasanya untuk tidak merasa kasihan saat dirinya tengah berada di posisi terpuruk seperti itu. Sandler kembali membuktikan jika ia merupakan aktor bertalenta. Meski saya juga kurang sependapat jika ini adalah penampilan yang groundbreaking karena menurut saya, kita memuji akting Sandler disini tidak terlepas juga akibat penampilan-penampilan buruk dari Sandler sebelumnya. 

Tidak hanya Sandler, penampilan dari supporting cast pun tidak boleh diremehkan. Julia Fox yang menjalani debut nya disini, tidak berakhir hanya menjadi eye candy saja berkat penampilan menawannya. Juga yang menjadi scene stealer adalah Keith Williams sebagai Phil, bodyguard kasar yang senantiasa memberikan teriakan-teriakan intimidatif untuk menakuti Howard. Kevin Garnett pun tidak mengecewakan dalam menjalani debutnya. 

8/10

Saturday, 14 December 2019


"This is a twisted web, and we are not finished untangling it, not yet."- Benoit Blanc

Plot

Penulis novel terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer), ditemukan tewas di pagi hari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke 85. Dugaan kuat bila Harlan tewas akibat bunuh diri, namun dugaan tersebut tidak menghentikan detektif swasta, Benoit Blanc (Daniel Craig), untuk melakukan investigasi serta mengumpulkan satu demi satu pernyataan dari tiap anggota keluarga, termasuk caretaker pribadi Harlan, Marta (Ana de Armas). 



Review

Tidak akan ada yang memungkiri bila Star Wars: The Last Jedi merupakan film paling divisive pada dekade ini. Kritikus boleh saja menyukai, namun tidak bagi para penggemar, dan hal ini bisa dilihat di situs Rotten Tomatoes dimana terlihat jelas perbedaan antara rating dari kritikus dan penggemar. Tak perlu ditanya juga bagaimana penggemar Star Wars begitu membenci film tersebut dan sering kali, salah satu kambing hitam yang sering disalahkan atau menjadi korban hujatan adalah Rian Johnson, yang tidak lain tidak bukan adalah sutradara dari The Last Jedi. Kredibilitas seorang Rian Johnson pun dipertanyakan, dan tidak jarang pula ia dianggap sebagai sutradara terburuk di generasi sekarang. Penilaian yang berlebihan menurut saya, karena terlepas bagus atau tidaknya The Last Jedi, resume dari Rian Johnson tidak lah sembarangan. Ia merupakan orang yang menyutradarai episode Breaking Bad, Ozymandias, yang masih menjadi satu-satunya episode tv series yang memegang rating sempurna di imdb. Dengan Looper, Johnson pun mampu menghadirkan kisah time travel yang menegangkan. Dan mengingat Knives Out adalah film pertama yang disutradarai juga ditulis oleh Johnson setelah The Last Jedi, saya menganggap jika ini adalah ajang pembuktian untuk Johnson jika penilaian buruk dari para penggemar Star Wars adalah salah besar.

Apabila Anda merupakan penggemar film bertipe drama kriminal ala detektif dengan sentuhan whodunit, maka Knives Out jelas film yang sangat tepat untuk Anda. Pada setengah jam awal saja, Rian Johnson telah menghadirkan momen interogasi intens yang melibatkan Blanc serta dua letnan polisi, Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) yang akan memberikan pertanyaan kepada tiap anggota keluarga yang ditinggalkan mengenai kejadian di saat pesta ulang tahun. Dari Linda (Jamie Lee Curtis), putri sulung Harlan bersama suaminya, Richard (Don Johnson), Walt (Michael Shannon), putra Harlan yang menjalankan penerbitan buku yang ditulis Harlan, hingga Joni (Toni Collette), semuanya memberikan pernyataan berdasarkan dari pertanyaan yang diajukan oleh Elliot. Dari permulaan, setiap kesaksian yang diberikan oleh mereka terlihat aman-aman saja, hingga kendali interogasi dipegang oleh Detektif Blanc, yang sontak akan membuka tabir baru sehingga penonton mempelajari jika terdapat konflik antara karakter yang terlibat dengan Harlan. Tampak juga jika hubungan antar anggota keluarga tidak lah sebaik yang diperkirakan.

Dari momen interogasi itu saja, saya telah yakin jika Rian Johnson paham betul bagaimana menghadirkan sebuah kisah misteri yang mampu mengikat erat penonton untuk senantiasa mengikuti hingga akhir. Gelontoran baris dialog yang ia tulis dihadirkan begitu dinamis dan tentunya berpotensi menyimpan kunci petunjuk jawaban sehingga bukan pilihan yang bijak jika Anda pangling sedikit saja dari layar.  Sebagai editor, Bob Ducsay menunjukkan kepiawainnya disini dengan editing yang dinamis dan menjadikan adegan demi adegan layaknya puzzle jigsaw. Selain itu, kasus yang ada tidak pernah gagal untuk menggelitik penonton supaya ikut terlibat dalam menduga-duga siapa tersangka yang paling mencurigakan untuk melakukan pembunuhan, apalagi ketika Johnson menghadirkan setiap konflik yang terjadi melalui flashback yang ada. Penonton secara sukarela memperhatikan alibi, motif bahkan sampai ke karakterisasi masing-masing karakter. Ya, Johnson seolah mengajak penonton untuk terlibat langsung laiknya detektif Blanc.

Tulisan naskah dari Johnson merupakan faktor utama mengapa Knives Out berjalan begitu menyenangkan dan tidak pernah membosankan. Tidak hanya Johnson teliti dalam menyebarkan kepingan-kepingan petunjuk melalui dialog, namun juga piawai dalam meminimalisir adanya plot hole yang mengganggu. Ditambah lagi, Knives Out tidak hanya berfokus untuk mencari jawaban siapa pelaku, namun senantiasa ada turning point dimana naskahnya melebarkan sayap dan menambah fokus penceritaan, sehingga membuat Knives Out seolah tidak pernah kehabisan bensin untuk senantiasa menjaga atensi penonton untuk tetap mengikuti kisahnya. Subverts expectations yang dilakukan Rian Johnson mungkin menjadi poin yang paling dikritisi pada The Last Jedi, namun untuk kisah orisinil seperti ini, tentu saja poin tersebut menjadi satu kekuatan, dan ini tidak terlepas dari ketelitian Johnson dalam membangun kasusnya. 

Knives Out memang tidak berakhir dengan tanpa cela. Yang paling mengganggu jelas saat filmnya mencoba menyentuh ke ranah aksi yang bagi saya sedikit out of place sehingga kalaupun tanpa adegan tersebut, rasanya Knives Out tidak lah kekurangan apapun, bahkan mungkin jauh lebih baik. Dan mengenai dialog nya, Johnson memang telah meminimalisir untuk meniadakan plot hole mengganggu untuk kasus nya, namun saya tak menampik ada beberapa poin yang patut dipertanyakan sehingga ada poin-poin itu seperti dipaksakan supaya mendukung plot nya. 

Pada beberapa kesempatan, terdapat sentuhan isu politik yang terpapar dari dialog nya. Yang paling kentara adalah fakta negara asal dari Marta yang sering kali berubah-ubah keterangannya dari masing-masing karakter. Kritik satir untuk penduduk Amerika? Saya tidak tahu. Namun yang pasti, ada maksud tersembunyi dari Johnson. 



Naskah dari Rian Johnson memang menjadi kekuatan utama, namun tentu saja film yang bagus memerlukan para pemeran yang bermain optimal. Bersama The Irishman, Knives Out adalah salah satu film yang memiliki ensemble cast yang brilian. Masing-masing aktor mampu menghidupkan karakter masing-masing sehingga walaupun tidak terlalu mendapatkan screentime yang banyak, namun penonton tidak melupakan kehadirannya. Namun bila saya harus memilih yang terbaik, akan ada 3 nama yang muncul, yaitu Daniel Craig yang tampil mencolok dengan aksen southern nya, serta piawai dalam menghadirkan sosok detektif Blanc yang pintar layaknya detektif dan juga tidak jarang komikal, lalu Chris Evans yang patut mendapatkan kredit lebih usai mampu menanggalkan sosok Captain America dalam dirinya dengan memerankan Ramson yang menyebalkan dan terakhir tentu saja ada Ana de Armas sebagai Marta yang menjadi sumber emosi setiap menit film berjalan serta mudah untuk mendapatkan dukungan dari penonton berkat kharisma likeable (serta cantik, tentu saja) dari Ana. Susah untuk menjelaskan lebih jauh karena berpotensi spoiler, namun yang jelas pada saat turning point nya muncul di layar, tetap tidak bisa melepaskan dukungan saya terhadap Marta.

Ditutup dengan iringan musik akustik lembut dari Nathan Johnson, Knives Out pun berakhir bagaikan kelegaan dari penonton setelah kita akhirnya mengetahui jawaban sebenarnya melalui sebuah adegan yang sangat intens dan juga menuntut daya ingat dari penonton mengenai petunjuk-petunjuk yang telah disebar oleh Johnson. Ditambah pula dengan sebuah shot gambar yang cukup memorable, Rian Johnson membuktikan kepada penonton kasual seperti saya bila ia tidaklah seburuk seperti penggemar Star Wars tuduhkan dengan menghadirkan sebuah film misteri yang susah terlupakan. Tidak heran bila beberapa tahun kedepan, label classic movie akan menempel erat untuk Knives Out. 

8,5/10

Saturday, 7 December 2019

"Motherhood is a mental illness"- Ramona

Plot

Sebagai stripper yang baru bekerja di club Moves, Destiny (Constance Wu) kesulitan untuk mendapatkan penghasilan yang memuaskan. Sadar jika kemampuannya dalam "menghibur" perlu ditingkatkan, Destiny pun mencoba mendekati Ramona (Jennifer Lopez), stripper kelas atas yang juga bekerja di tempat yang sama layaknya Destiny. Ramona dengan senang hati menerima Destiny sebagai muridnya, dan perlahan hubungan mereka pun semakin dekat sehingga mereka berdua pun berteman. 



Review

Diangkat dari artikel New York Magazine karya dari Jessica Pressler bulan Desember 2015, Hustlers bisa saja hanya menjadi film yang mengeksploitasi tubuh-tubuh indah para aktris yang terlibat dikarenakan tema film nya sendiri begitu kental dengan dunia malam serta pastinya, striptease itu sendiri. Namun di tangan Lorone Scafaria, Hustlers memiliki cerita yang lebih dari sekedar 4 stripper yang melakukan tindakan kriminal demi pendapatan lebih. Kental dengan unsur kekeluargaan, persahabatan serta usaha untuk bertahan hidup, Hustlers bisa saja menjadi film bertemakan kriminal yang emosional dan mampu memberikan perspektif lain untuk para pekerja malam yang sering mendapatkan stigma negatif ini. Ada usaha menuju kesana, namun sayangnya, Scafaria terlarut menyajikan hidup glamor dan perilaku foya-foya para karakter nya, ketimbang mengambil opsi untuk memperdalam interaksi, atau kehidupan intim para karakter kala tidak sedang beraksi di pole dance atau merayu para pria yang akan menjadi korban.

Scafaria menyajikan Hustlers dengan gaya non linear, dimana kala film berjalan sepuluh menit, kita sudah mendapati sosok Destiny tengah diwawancarai oleh jurnalis, Elizabeth (Julia Stiles). Meski Anda bukan penonton yang telah mengetahui kisah dari film ini diangkat, Anda sudah bisa menangkap dari obrolan antara Destiny dan Elizabeth jika nantinya Destiny dan Ramona akan melakukan tindakan di luar hukum. Serta dari obrolan ini juga lah, tertangkap jika akan ada konflik yang terjadi antara Destiny dan Ramona.

Penonton perlu merasakan kedekatan dengan Destiny serta pertemanannya dengan Ramona, sehingga ketika konflik mulai bermuara yang menyebabkan keretakan hubungan pertemanan antar keduanya, penonton akan menyayangkan kenyataan itu dan berharap sebisa mungkin keduanya tetap berteman, dan Scafaria jelas menyadari ini. Karena itu lah, ketimbang untuk menggerakkan Hustlers langsung masuk ke aspek kriminal nya, Scafaria lebih memilih untuk membangun kedekatan tersebut dengan menghadirkan hari-hari dimana Ramona mengajari Destiny bagaimana menari erotis di atas panggung serta menghibur para klien dengan lebih sensual. Tidak hanya itu, Destiny pun diperkenalkan dengan teman-teman Ramona serta memberikan informasi lebih dalam perihal Wall Street guys yang kerap kali menjadi pelanggan Moves. Bagaimana untuk setiap kelas nantinya mendapatkan perlakuan yang berbeda, dan untuk para bos-bos Wall Street jelas akan mendapatkan treatment khusus. Mereka dibiarkan bertindak sesuka hati tanpa harus khawatir akan konsekuensi selama uang terus dikeluarkan. 

Mungkin Anda sebagai perempuan akan merasakan ketidaknyamanan melihat bagaimana berkuasa nya para pria disini dengan kekuasaan yang dimiliki, namun jangan khawatir, karena malah sebaliknya, mayoritas disini para pria ditampilkan layaknya pria hidung belang yang bodoh dan mudah tertipu akibat akal mereka yang telah tergoda akan keindahan tubuh perempuan. Scafaria pun sempat menyinggung harga diri para laki-laki yang masih merasa malu untuk melaporkan kejahatan yang dilakukan Ramona dkk hanya karena tidak ingin dilihat lemah setelah menjadi korban para wanita. Iya, dengan filmnya yang kental akan pekerjaan yang bagi saya menjatuhkan harga diri wanita, disini Scafaria bermurah hati untuk memperlakukan para stripper terlihat lebih cerdas juga kuat.

Mengenai relasi Destiny-Ramona yang menjadi salah satu fokus utama, walau saya tidak terlalu terikat lebih dalam, namun setidaknya saya menyukai hubungan keduanya. Ramona terlihat bak seorang kakak bagi Destiny, yang notabenenya memiliki masa lalu menyedihkan yang erat dengan kesepian. Destiny sendiri hanya tinggal bersama nenek nya seorang diri, dan nantinya pula ia akan memiliki putri dari hubungan yang tidak bertahan lama. Di berbagai kesempatan, Destiny sering mengungkapkan jika ia ingin menghasilkan uang sebanyak-banyak nya untuk bisa mandiri tanpa harus bergantung dengan orang lain. Keinginan ini juga yang diharapkan Scafaria yang juga menulis naskah untuk film ini supaya penonton memahami kala Destiny lebih memilih untuk tidak menghubungi Ramona walaupun kondisi Destiny tengah menjalani masa yang sulit. 

Pada saat ini lah, Destiny akhirnya kembali bertemu dengan Ramona. Berkat akting kaya rasa serta kuatnya chemistry antara Wu-Lopez, saya merasakan kehangatan kala Destiny memeluk erat Ramona. Dengan bertemu nya mereka berdua, Hustlers pun memasuki babak baruk dan disinilah elemen kriminal nya begitu kental terasa. Dan siapa sangka juga, kala film mulai menghadirkan praktek terbaru yang dijalani oleh Ramona bersama Destiny, serta dua teman mereka lainnya, Annabelle (Lili Reinhart) dan Mercedez (Keke Palmer), Hustlers justru menghadirkan beberapa momen komedik yang efektif mengundang tawa. 

Sumber tawa tidak jauh dari reaksi karakter nya sebab para pria yang teler akibat minuman yang dimasukkan obat campuran ketamine dan ekstasi. Ambil contoh ketika mereka melakukan metode ini untuk pertama kali, dimana kepanikan terjadi di salah satu room karena sang korban tidak sadar diri. Serta yang terbaik tentu saja saat Destiny tengah berkendara ke rumah sakit untuk mengantarkan korban yang pingsan. Kepanikan-kepanikan yang terjadi ini bagaikan reminder untuk penonton bila Destiny dan lainnya sejatinya masih amatir untuk melakukan tindakan kriminal, menandakan jika mereka terpaksa untuk melakukan metode kriminal nya.

Hustlers terlihat menjanjikan sebelum nantinya film bergerak menuju akhir, setidaknya setelah  momen perayaan natal yang dirayakan bersama. Dari sini Hustlers malah bergerak sedikit terburu-buru dalam menyajikan tiap kepingan-kepingan kejadiannya. Perpindahan tiap momen pun kurang mulus serta yang paling terasa adalah metode yang dilakukan oleh mereka tiba-tiba saja menemui kendala. Aspek ini akan berpengaruh besar terhadap mulai retaknya hubungan persahabatan antara Destiny dan Ramona. Terlebih lagi ketika Ramona mulai membawa anggota-anggota baru untuk menjalani bisnis kotornya. Destiny pun tidak menyukai kedekatan Ramona dengan salah satu anggota baru nya. Entah rasa tidak suka tersebut didorong karena kekhawatiran Destiny akibat kecerobohan karakter tersebut, atau sederhana karena rasa cemberu melihat teman dekatnya menemukan teman yang lain. 

Dan pada third act nya ini juga, keputusan Scafaria yang sebelumnya lebih memilih memperlihatkan kehidupan glamor para karakter nya memberikan dampak yang tak diinginkan. Pendekatan ini mengakibatkan keempat karakter utama jatuhnya sedikit unlikeable. Maksud saya, bagaimana mungkin penonton bisa bersimpati kala mereka berempat saja sudah melakukan tindakan kriminal dan mereka lebih memilih melakukan pesta serta foya-foya atas hasil yang mereka dapati? Karenanya, ketika kesulitan hidup kembali menghampiri Destiny dan metode kriminal yang mereka ambil mulai mendapatkan perhatian dari pihak berwajib, saya kesulitan untuk bersimpati pada tiap karakternya, termasuk Destiny. Bahkan pada saat ia ditinggal pergi selamanya oleh satu karakter, saya hanya membatin "okay, that's sad". Hanya itu. Hal ini tidak lepas karena minim nya screen time yang dihabiskan para karakter dengan orang-orang terkasih mereka. Bahkan sebenarnya Scafaria bisa mengeksplor lebih jauh atas penyesalan Destiny atas kejadian tragis yang menimpa korban terakhir nya, ketimbang hanya disebabkan keduanya sempat bercerita tentang anak mereka masing-masing. 

Walau Hustlers mungkin tidak terlalu berkesan, namun yang jelas, Hustlers akan selalu diingat sebagai film yang akhirnya berhasil memanfaatkan sebaik-baiknya talenta dari Jennifer Lopez. Meskipun Constanze Wu bermain prima sebagai sumber hati akan film ini, namun jelas J-Lo adalah scene stealer. Kharisma primadona nya begitu bersinar, bahkan kala ia berpakaian casual saja, kharisma tersebut tidak lah luntur. Totalitas nya dalam menjalani latihan pole dance terlihat hasil nya kala ia memamerkannya di adegan paling seksi dalam film ini. Tidak hanya seksi, namun juga terlihat elegan serta berkelas. 

7,25/10

Thursday, 5 December 2019

"I prayed I'd never sin again if I could just get out of here. But then the fighting starts, and then you forget about everything. You're just trying to survive, stay alive"- Frank Sheeran

Plot

Berawal dari pertemuannya dengan Russel Bufalino (Joe Pesci), Frank Sheeran (Robert De Niro) yang awalnya hanyalah supir truk pengantar daging, semakin tenggelam dalam dunia mafia berkat pengaruh Russel yang merupakan salah satu orang paling berpengaruh di Pennsylvania. Kepercayaan yang Russel berikan kepada Frank membuat mereka berteman, dan pertemanan inilah yang mengantarkan Frank nantinya bisa bekerja menjadi pengawal pribadi Jimmy Hoffa (Al Pacino). Jimmy Hoffa sendiri adalah pemimpin serikat buruh di Amerika serta pendiri dari International Brotherhood of Teamsters.



Review

Dengan Goodfellas dan Casino, The Irishman bagaikan penutup trilogi film bertemakan mafia milik Martin Scorsese. Dua aktor yang juga terlibat di dua film tersebut ikut hadir, yaitu Robert De Niro dan Joe Pesci. The Irishman menandakan reuni panjang antara Scorsese bersama De Niro dan Pesci, dimana keduanya terakhir bekerja sama dengan Scorsese pada film Casino. Bagi Joe Pesci sendiri, ini adalah comeback nya setelah 9 tahun absen dalam dunia akting. 

Sebelumnya, saya ingin memberikan pujian kepada studio special effect Industrial Light and Magic yang bertanggung jawab "memudakan" para karakter di adegan flashback nya. Pekerjaan yang mereka lakukan nyaris sempurna, sehingga saya sering bertanya-tanya apakah proses syuting untuk bagian flashback ini dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Tentu bisa dimengerti jika budget dari film ini yang menyentuh angka 159 juta Dollar sebagian besar untuk membuat efek muda tiap karakter terlihat meyakinkan. Masih ada beberapa kekurangan pastinya, tetapi bagi saya masih bisa dimaklumi. 

The Irishman masih didominasi dengan segala tetek bengek kehidupan mafia yang mungkin telah Anda temui di film-fim mafia lainnya, seperti pengkhianatan, pengaruh mafia di dunia pemerintahan dan pastinya saling melenyapkan per individu yang dianggap bisa membahayakan organisasi. Namun yang membedakan The Irishman dengan film lainnya, termasuk Casino dan terutama Goodfellas, bagi saya adalah karakter Frank dan bagaimana Scorsese menyajikan ironi kehidupan dunia mafia nya. Biasanya protagonist utama dalam film mafia memiliki ambisi besar untuk bisa menguasai sesuatu, namun tidak untuk Frank. Disini Frank hanya lah sebagai "karyawan" yang mampu melakukan pekerjaannya dengan baik serta bisa dipercaya sehingga bos yang menyewa jasa nya pun mudah memberikan pekerjaan seberat apapun kepada Frank karena reputasinya. Tidak ada keinginan Frank untuk menjadi kepala pemimpin suatu organisasi. Tidak ada juga niat dari Frank untuk mengkhianati bos yang mempekerjakannya. Yah, setidaknya nanti kala ia harus menjalankan pekerjaan yang mungkin paling berat serta mempengaruhi kehidupannya.

Mengenai ironi yang saya sebut sebelumnya, bila pada Goodfellas serta Casino, Scorsese menyajikan glorifikasi dunia hitam mafia, dengan karakternya menghambur-hamburkan uang yang banyak, bermain wanita, dan sesuka hati bisa menghabisi seseorang dengan alasan apapun, tidak perduli apakah masuk akal atau tidak. Berkat itu juga Goodfellas dan Casino terasa menyenangkan, meskipun film nya sendiri begitu kental dengan dunia kriminalitas. Namun tidak untuk The Irishman. Bila dalam Goodfellas, tiap karakter diberikan kesempatan untuk memperlihatkan keberhasilan atas pekerjaan yang dilakukan, dalam The Irishman, Scorsese memperlihatkan akan busuknya kehidupan mafia yang kejam.  Lengkap pula dengan bagian aftermath yang terdapat dalam film ini, namun minus di dua film predesor. Ya, dengan aftermath yang tersaji, Scorsese menyajikan sebuah fakta pahit yang harus diterima satu karakter. Sebuah hasil memilukan yang tak terlepas dari semua pekerjaan kotor yang telah dilakukan. 

The Irishman terasa begitu padat berkat segala konspirasi serta konflik-konflik yang terjadi. Tidak hanya itu, begitu banyak karakter-karakter yang terlibat dan berpengaruh pada keberlangsungan narasi. Maka merupakan hal yang wajar jika penonton sedikit tersesat, merasa bingung siapa karakter ini dan kapan sebelumnya karakter ini diperkenalkan. Percayalah, Scorsese telah berusaha sebisa mungkin untuk membantu penonton untuk tidak merasakan kebingungan. Terlihat dimana Scorsese berbaik hati menyertakan nama masing-masing karakter pada saat diperkenalkan, lengkap pula dengan "berita" kematian masing-masing dari karakter.

Kenyataan bila naskah yang diadaptasi dari buku Charles Brandt terasa sangat padat, begitu banyak nya karakter serta durasinya yang bukan main panjangnya untuk saya merupakan hal positif serta negatif dari The Irishman. Negatifnya, tentu film ini kurang bisa mencengkeram penonton kasual yang belum pernah mencicipi film Scorsese sebelumnya. The Irishman bertumpu sepenuhnya dengan banter dialognya yang banyak, serta narasi yang disuarakan oleh De Niro sendiri. Melelahkan? Tentu saja, jika Anda, sekali lagi belum pernah menyentuh film-film Scorsese sama sekali. Dan sekali lagi, durasi 3 jam lebihnya benar-benar menuntut kesabaran penonton.

Namun jika Anda merupakan penggemar film, atau lebih tepatnya penggemar Scorsese, The Irishman jelas merupakan sajian mafia epic yang tidak cukup hanya ditonton sekali saja. Berbagai poin cerita mungkin terlupa dengan seiring durasi berjalan, namun itu tidak masalah karena The Irishman sudah berhasil mengikat dengan narasinya. Tentu untuk saya sendiri, The Irishman tidak cukup ditonton sekali saja. Ada perasaan ingin menonton kembali dari awal, karena selain kisahnya sendiri yang benar-benar menarik (kisah dunia underworld memang tak bisa disangkal selalu menarik untuk diikuti), namun juga berkat penyutradaraan dari Scorsese yang semakin menunjukkan tajinya walau telah berusia cukup uzur.

Identitas gaya penyutradaraan Scorsese tentu saja masih mudah terasa. Opening nya saja ia tampilkan dengan tracking shot ciri khas Scorsese, sebelum kita akhirnya melihat sosok Frank yang sedang duduk di kursi roda nya, dan seketika breaking the 4th wall pun sudah hadir, dimana Frank pun mulai menceritakan kisah nya sambil menatap ke kamera. Voice over mendominasi dalam jalannya menit-menit film berjalan untuk membantu penonton supaya tidak terlalu bingung dengan rumitnya penceritaan yang ada. 

Di atas kertas, film Scorsese yang ke 26 ini terlihat kelam, namun fakta di lapangan cukup berbeda, dimana Scorsese masih menyelipkan beberapa black comedy yang bisa membuat mu tertawa, setidaknya untuk saya. Dan mengejutkannya lagi, Al Pacino, yang baru pertama kali bekerja sama dengan Scorsese, merupakan penyumbang tawa terbanyak berkat karakternya yang keras kepala, kharismatik dan memiliki masalah pada short temper nya. Komentarnya mengenai nama "Tony" yang begitu mainstream untuk orang kelahiran Italia adalah satu dari sekian banyak nya Al Pacino mampu membuat saya tertawa di kala adegan yang sebenarnya bisa meningkatkan tensi ketegangan. Naskah dari Steven Zaillian begitu pintar dalam menyajikan humor nya yang pas akan timing serta berkelas. 

Akting yang begitu berenergi dari Al Pacino turut pula diimbangi dengan penampilan memuaskan dari Robert De Niro dan Joe Pesci. Pesci sendiri memerankan karakter yang begitu berbeda dibandingkan dengan dua peran sebelumnya di Goodfellas dan Casino. Disini ia tampil dengan lebih tenang, lebih mengandalkan baris dialog untuk menunjukkan kewibawaan tanpa menghilangkan atmosfir intimidatif dari karakternya. De Niro pun tampil luar biasa sebagai protagonist utama dalam menampilkan konflik batin dari Frank dengan memanfaatkan ekspresi muka yang subtil, kaya makna, serta tatapan mata nya yang sayu akibat dari kondisi yang tidak mengijinkannya untuk mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri. Tidak heran jika nantinya ketiga nama aktor veteran ini akan tampil di daftar nominasi aktor utama/pendukung terbaik di perhelatan Oscar tahun depan.

Momen terbaik The Irishman sendiri adalah ketika Frank dihadapkan pada dilema yang memaksanya harus menghadapi keputusan yang sangat sulit. Dari sini, Scorsese meminimalisir penggunaan soundtrack-soundtrack nya demi mengoptimalkan ketegangan di setiap adegan. Slow build yang dilakukan Scorsese kala Frank menginjakkan kaki di kota Detroit berhasil memaksa saya ikut merasakan kegelisahan serta dilematis yang dirasakan Frank. Apakah ia harus mengikuti perintah dari orang yang telah membesarkannya atau menyelamatkan salah satu teman terdekatnya. Yang mana pun nanti ia pilih, tentu tidak akan berdampak baik untuk Frank. Disinilah The Irishman menunjukkan betapa pahitnya dunia mafia yang Frank geluti. 

Begitu ironis kala Frank rela melakukan berbagai kejahatan tentunya untuk membuat keluarganya sejahtera dan hidup tenang. Frank begitu menyayangi keluarganya, bahkan ketika salah satu putrinya didorong oleh pemilik toko roti, Frank tanpa pikir panjang menghampiri dan menghajar pemilik tersebut. Namun pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan Frank tetaplah kejahatan dan semua benih kejahatan yang ia lakukan harus memaksanya untuk semakin menjauh dari keluarga, terutama anak-anaknya. Bisa saja Frank melakukan pekerjaannya sebagai hitman dengan brilian, namun bukan berarti ia juga berhasil menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. 

Setelah sebelumnya kita menyaksikan semua intrik serta konflik yang terjadi, 30 menit terakhir dalam The Irishman justru tampil dengan sunyi. Mengeksplorasi kehidupan tua dari satu karakter yang penuh dengan penyesalan, bersalah atas semua kesalahan yang telah dilakukan, tanpa seorang pun disisinya. Meninggalkan ia sendiri setelah yang terkasih, teman atau bahkan musuhnya telah berkunjung ke kehidupan selanjutnya terlebih dulu. Kehidupan masa tua nya ini seolah merupakan pembalasan atas masa lalu akibat penyakit yang diderita, rasa berdosa dan sesal, juga kesendirian yang harus ia tempuh. Sebuah aftermath yang cukup emosional dan sempurna untuk menutup kisah epik dari Scorsese ini. 

9/10

Sunday, 27 October 2019

"The people you killed never got their proper due, and it saddens me that they're all but forgotten"- Hyung Min

Plot

Berdasarkan pengakuan Kang Tae-oh (Ju Ji-hoon), tersangka pembunuhan berantai, detektif Hyung Min (Kim Yoon-seok) mencari bukti kuat pembunuhan yang telah dilakukan supaya mampu menjebloskan Tae-oh ke dalam jeruji besi.



Review

Dari awal menit bergulir, sang sutradara Kim Tae-Gyun tanpa basa-basi langsung menghadirkan plot utama. Tanpa pengenalan karakter, atau juga aksi kejahatan pelaku. Bagi saya, pilihan yang diambil Tae-Gyun cukup berisiko. Pasalnya, pilihan ini akan membingungkan penonton sehingga menimbulkan kesulitan untuk segera beradaptasi dengan ceritanya. Saya pribadi cukup membutuhkan waktu selama 10 menit durasi cerita berjalan untuk segera mengerti perihal cerita utamanya. 

Film yang memiliki judul asli Amsusarin ini diadaptasi dari kisah nyata. Mengenai pengakuan terduga pembunuhan yang mengaku kepada seorang detektif bila ia benar telah melakukan kejahatan tersebut. Tentunya informasi yang ia berikan nanti tidak gratis. Harus ada harga yang dibayar, dan Hyung-Min yang tentu saja membutuhkan bukti-bukti kuat itu, memutuskan untuk mengikuti permainan dari Tae-Ho, meskipun ia harus merogoh kocek yang dalam untuk mengikuti kemauan Tae-Ho, serta bertaruh apakah ucapan dari Tae-Ho bisa dipercaya atau tidak. 

Hampir semua durasi Dark Figure of Crime mengikuti perjalanan sang detektif dalam mencari bukti sesuai apa yang dikatakan Tae-Ho. Dan sama seperti Hyung-Min, penonton pun menyimpan keraguan atas semua yang diakui oleh Tae-Ho. Terlebih, pada satu kesempatan, dengan jelas Tae-Ho secara tiba-tiba menyangkal atas semua apa yang telah ia katakan. Sikap unpredictable Tae-Ho ini memaksa Hyung-Min untuk lebih taktikal lagi supaya bisa mengakali Tae-Ho.

Meski bukan cerita baru, namun siapa yang tidak tertarik dengan kisah pencarian bukti seperti ini. Tetapi saya harus akui, pada menit-menit awal, Dark Figure of Crime belum terlalu mencengkeram saya, karena ya itu tadi, narasinya langsung bergerak ke plot utama. Ibarat kata, Kim Tae-Gyun langsung menghidangkan main course kepada tamu restoran, sebelum menyajikan appetizer terlebih dahulu. Beberapa pertanyaan jelas hadir, seperti siapa detektif Hyung-Min dan Kang Tae-Ho, mengapa Hyung-Min bersedia saja menerima mentah-mentah akan pernyataan Tae-Ho, mengingat akan sikapnya yang dari permukaan saja telah menimbulkan teka-teki. 

Pergerakan cerita pun cenderung repetitif. Kita akan mengikuti usaha Hyung-Min mencari bukti, lalu nantinya Hyung-Min akan menemui Tae-Ho di kantor polisi untuk meminta lagi keterangan lebih lanjut. Dan narasi berulang-ulang seperti itu setidaknya hingga durasi film menginjak 40-50 menit. Kebosanan jelas mulai melanda walau sedikit demi sedikit kisah misterinya mulai merenggut atensi. Hingga nanti Tae-Gyun menghadirkan adegan flashback mengenai Tae-Ho. Meski tidak berkesan, namun cukup efektif untuk bisa menggaet atensi penonton yang mungkin telah dilanda kebosanan. Dalam setiap adegan kunci, musik indah namun haunting dari Mok Young-Jin kerap hadir untuk menambah kesan misteriusnya. 

Sedikit demi sedikit pula kita akan mempelajari karakter Hyung-Min dan Tae-Ho. Pertanyaan saya terhadap sikap Hyung-Min yang begitu antusias dalam menangani kasus Tae-Ho, walau tidak gamblang, setidaknya kita mengetahui motivasi nya. Kenapa tidak gamblang karena secara tersirat, motivasi Hyung-Min bisa jadi terhubung dengan erat atas kejadian di masa lalu. Bisa saja, usaha mati-matian yang ia lakukan atas dasar rasa kecewa nya dan ia tidak ingin rasa kecewa yang ia rasakan pada saat itu dirasakan juga oleh kerabat korban. Disisi lain, dengan flashback yang ada, penonton pun bisa menangkap motif dari kejahatan Tae-Ho. Entah ia merupakan seorang psikopat atau bukan, namun yang jelas karakter ini butuh banget terapi khusus untuk mengendalikan amarah nya. 

Dark Figure of Crime sayangnya tidak mempunyai adegan intens seperti film kriminal Korea Selatan lainnya, yang mencegah film ini menjadi sajian yang spesial. Ambil contoh The Chaser (2008) (diperankan Kim Yoon-Seok juga) yang masih berintensitas tinggi yang mampu mencengkeram perhatian penonton meski minim adegan aksi. Dalam Dark Figure of Crime, investigasi yang dijalani Hyung-Min disajikan dengan tempo yang santai, cenderung datar bahkan. Interogasi yang dilakukan Hyung-Min terhadap Tae-Ho pun minus akan atmosfir panas dengan penuh bentakan. Entah berapa kali saya pengen gitu sekali aja Hyung-Min kehilangan kesabaran lalu memukul Tae-Ho karena bosan dengan permainan dari Tae-Ho.

Bila di film The Chaser Kim Yoon-Seok memerankan karakter mantan polisi yang bertemperamen tinggi, disini sebagai Hyung-Min, ia jauh lebih kalem, tenang dan lebih mengandalkan kata-kata untuk bisa beradu dengan lawannya. Walau begitu, akting Kim Yoon-Seok tetaplah mengagumkan seperti biasa. Tetapi yang paling mencuri perhatian tidak terelakkan lagi adalah Ju Ji-Hoon yang berhasil membuat karakter Tae-Ho begitu mengesalkan karena muka dua nya serta begitu manipulatif. 

7,5/10


Sunday, 13 October 2019


"You didn't have to wait your whole life to do something special"

Plot

Berhasil mengakhiri masa perbudakan dalam sekapan Jack (Michael Bowen) dan gang nya, tidak berarti Jesse Pinkman (Aaron Paul) bisa hidup dengan tenang. Kini ia harus menjalani kehidupannya sebagai buronan. Dengan fakta tersebut, Jesse pun ingin memulai kehidupannya baru dan meninggalkan semua masa lalunya. 



Review

Bila Anda telah membaca tulisan saya mengenai Breaking Bad, Anda pasti tahu jika saya sangat mencintai tv series satu ini, melebihi Game of Thrones sekalipun. Tentu saja, ketika Netflix menghadirkan film lanjutan kisah Breaking Bad berjudul El Camino, dengan membawa Vince Gilligan yang notabenenya adalah kreator tv series itu sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, bohong sekali jika saya tidak merasakan kebahagiaan. Terlebih, dari trailer nya yang meyakinkan serta masih kental akan aura "Breaking Bad" nya, El Camino tampak menjanjikan. 

Bila "Granite State" dan "Felina" bagaikan epilog dari kisah perjalanan the kingpin, The Heisenberg, Walter White (Bryan Cranston), maka 2 jam dari durasi El Camino adalah sepenuhnya kisah epilog untuk Jesse. Tentu nya sebagai penggemar Breaking Bad, kita sangat ingin mengetahui nasib Jesse setelah kurang lebih 2 tahun harus menjalani hidup layaknya budak dalam genggaman Uncle Jack. Kisah Jesse pun menarik diikuti karena untuk pertama kalinya, ia harus beraksi seorang diri, setelah sebelumnya ia selalu bersama Walter ataupun Mike Ehrmantraut (Jonathan Banks) sebagai partner in crime nya. 

Untuk Anda yang belum sama sekali menyentuh Breaking Bad, sebaiknya tidak usah repot-repot untuk mencoba El Camino. Sekali lagi, penceritaan El Camino diambil tidak lama setelah Jesse meloloskan diri. Maka ceritanya tentu sangat berkaitan dengan Breaking Bad. El Camino ini bagi saya adalah sebuah bentuk surat cinta untuk para penggemar atau bisa juga merupakan salam perpisahan untuk salah satu karakter paling dicintai dalam serial ini. Fokus penceritaan hanya satu, yaitu kisah bagaimana Jesse memulai kembali setelah semua yang telah terjadi. Disajikan dengan ciri khas Vince Gilligan, yaitu slow burning dengan menggulirkan kisahnya dengan perlahan namun terus berkembang, mengembangkan serta mengeksplorasi karakter dan sedikit bumbu black comedy nya yang masih saja ampuh untuk menjadi ice breaking di kala momen yang tersaji intensitas nya meninggi. 

Harus diakui memang, keputusan Vince Gilligan untuk menerapkan pola yang sama seperti pada tv series nya ke dalam El Camino adalah langkah perjudian. Memang, pola tersebut akan bekerja jika di terapkan pada sistem tv series yang memiliki puluhan episode. Namun untuk media film yang memiliki durasi terbatas, tentu saja pergerakan narasi perlahan ini tidak selalu berhasil. Dalam El Camino, untuk sebuah kisah buronan internasional, memang harus diakui terasa cukup sunyi dan kalem. Mungkin hanya ada dua-tiga kali intensitas film meningkat, namun tidak sampai ke taraf maksimal. Gilligan lebih memilih memfokuskan cerita pada pendalaman karakter Jesse setelah kembali bisa menghirup udara bebas.

Petunjuk akan seperti apa El Camino sebenarnya telah terpapar dalam perbincangan singkat melalui adegan flashback antara Mike dan Jesse. Sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki semua yang lalu, yang tersisa untuk Jesse adalah memulai semuanya dari awal kembali. Maka bila ekspektasi Anda untuk menantikan perjalanan heroik dari Jesse maka saya sarankan untuk segera mempertimbangkan kembali, karena El Camino sepenuhnya adalah usaha Jesse untuk kembali memulai semuanya. Dan ini saya rasa adalah pilihan yang ideal untuk Gilligan dalam upayanya memberikan akhir yang cocok untuk Jesse.

Terdapat dua jenis narasi di film ini, yaitu present and past time. Bila narasi masa kini memperlihatkan Jesse untuk segera mendapatkan kehidupan baru nya sembari memulihkan luka masa lalu, maka flashback nya sendiri memiliki peranan untuk menanamkan simpati lebih dalam terhadap Jesse. Kita diperlihatkan sedikit kepingan momennya selagi menjalani kehidupannya sebagai tahanan Uncle Jack. Rasanya sedikit mustahil jika kita tidak merasakan rasa simpati terhadap beratnya kehidupan Jesse kala itu. Tidak ada harga diri sama sekali serta kerap mendapatkan perlakuan yang memalukan, memberikan tekanan mental yang kuat bagi Jesse, sehingga kondisi nya tidak jauh berbeda seperti veteran perang yang sehabis mengalami neraka hidup di dunia perang. Tidak hanya itu, flashback nya juga memberikan ruang bagi Gilligan untuk menghadirkan beberapa cameo karakter yang paling berpengaruh dalam hidup Jesse. Ya, termasuk karakter yang paling dinantikan hadir di dalam El Camino, and you know who.

Terdapat pula pada momen flashback nya, El Camino memberikan masa dimana Jesse menghabiskan waktu bersama Todd (Jesse Plemons), salah satu karakter yang memberikaan penderitaan besar baik fisik maupun batin kepada Jesse. Dan setelah melihat masa "hang out" mereka berdua, saya yakin Anda akan memiliki kepuasan kembali mengingat bagaimana nasib Todd berakhir dalam series nya. Perubahan fisik signifikan yang terjadi pada Jesse Plemons mungkin akan menjadi topik yang paling dibicarakan, ketimbang penampilan cemerlangnya dalam menampilkan Todd yang creepy, mampu tampil begitu dingin, bertindak seperti pria normal dan memiliki attitude baik, padahal ia merupakan orang yang begitu mudah menarik pelatuk untuk membunuh demi sebuah alasan yang remeh jika diambil sudut pandang orang normal. Jesse dan Todd memang seolah ditakdirkan menjadi rival, terlihat bagaimana Gilligan memberikan karakterisasi yang berlawanan pada satu aspek.

El Camino memang masih kental akan aroma Breaking Bad nya, lengkap dengan sajian sinematografi menawan layaknya series tersebut, namun meski begitu, El Camino tidak lah sekelam Breaking Bad. Minus adegan yang mampu membuat penonton merasakan ketegangan, serta mara bahaya yang mampu membuat Jesse tertangkap. Mungkin keputusan Gilligan ini akan membuat kecewa bagi siapa saja yang mengharapkan adegan seru nan memikat dalam film ini.

Aaron Paul, yang setelah Breaking Bad berakhir seolah kesulitan untuk mendapatkan peran yang tepat dalam media film, menunjukkan disini jika ia telah begitu mengenal karakter yang telah ia perankan selama 5-6 tahun. Meski versi Jesse disini berbeda, namun kesan familiar tetap terasa. Terlebih untuk mengobati kangen para penggemar untuk melihat Jesse versi awal mula Breaking Bad, tersaji pada sebuah adegan flashback kala film mendekati akhir. Lengkap pula kembali terucapnya kata ikonik milik Jesse, yang sempat absen sebelumnya.

El Camino memang bukan film yang sempurna. Bahkan ketidak puasan mungkin akan ada bahkan dari barisan penggemar setia Breaking Bad. Namun untuk saya, El Camino sudah menjalankan perannya dengan baik, yaitu untuk mengingat kembali mengapa para penggemar bisa jatuh cinta pada salah satu serial tv terbaik yang pernah ada tersebut, serta memberikan akhir yang layak untuk Jesse Pinkman, one of the most loveable character in tv series.  Tentunya saya kedepannya tidak ada lagi proyek spin off dalam melanjutkan kisah salah satu karakter Breaking Bad (Better Call Saul adalah sebuah prekuel), sebab semua kisah sempurna pastinya memiliki kisah akhir yang sempurna pula, dan bagi saya, El Camino memiliki itu. Jangan sampai titah sejarah sempurna Breaking Bad dihancurkan akibat keinginan serakah demi mendapatkan keuntungan. Enough is enough.

8/10


Wednesday, 2 October 2019


"I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it's a comedy"- Arthur Fleck

Plot

Mengisahkan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), pengidap pseudobulbar affect (penyakit dimana seseorang secara tiba-tiba menangis atau tertawa yang tak terkendali), yang harus menghadapi segala benturan-benturan realita hidup, dari karir yang tidak kunjung berkembang, sang ibu, Penny Fleck (Frances Conroy) terobsesi akan Thomas Wayne (Brett Cullen), serta berbagai kesialan yang seolah enggan menghindarinya.




Review

Perlukah film yang disutradarai oleh Todd Philips ini dibuat? Atau pertanyaan yang lebih tepatnya, perlukah memberikan pendalaman karakter dan sentuhan humanis diberikan pada salah satu musuh terbesar Batman ini? Pertanyaan demi pertanyaan, serta diselingi dengan keraguan kerap hadir kala Joker resmi diumumkan akan rilis pada tahun ini di beberapa tahun belakang. Saya mengakui, rasa cemas pecinta film bisa dimengerti. Walau dalam komik nya sendiri memang terdapat beberapa kisah origin dari Joker, namun tetap salah satu daya tarik dari Joker adalah kesan misteri nya. Terlebih pendekatan yang dilakukan oleh Christopher Nolan dalam The Dark Knight 11 tahun lalu terbukti berhasil. Dan berbicara The Dark Knight, pastinya penampilan monumental nan ikonik dari mendiang Heath Ledger telah memberikan standar yang begitu tinggi dalam memerankan si badut kriminal yang gak lucu ini. Beban berat tentu disandang oleh Joaquin Phoenix selaku aktor pemeran Joker, terlebih setelah kegagalan Jared Leto di Suicide Squad dalam memerankan karakter yang sama. 

Sebelum membahas penampilan Phoenix, mari kita fokus kepada penceritaan terlebih dahulu. Dibantu oleh Scott Silver di departemen penulisan naskah, Philips tampak telah paham betul dalam menghadirkan film origin yang benar. Ketimbang menitik beratkan narasi akan sajian aksi serta seru-seruan layaknya film beradaptasi dari comic book, Philips lebih mengedepankan pada pendalaman karakterisasi, mengembangkannya secara perlahan, serta mengajak penonton untuk menyelami lingkungan hidup sang karakter utama. Tidak ada hal luar biasa yang terdapat dalam diri Arthur Fleck. Ia tidak memiliki latar belakang militer, bukan juga pemilik kekuatan super dan latar belakang keluarganya pun cenderung biasa saja. Hanya saja, dengan mengidap mental illnes, Arthur terlihat berbeda dengan orang lainnya. Bahkan akibat perbedaan tersebut, Arthur harus menerima perlakuan tidak menyenangkan oleh orang sekitar nya. 

Terinspirasi dari film klasik Martin Scorsese, The King of Comedy, layaknya Rupert Pupkin, kehidupan Arthur bisa dibilang cukup menyedihkan dengan dekatnya ia akan nasib buruk dan seolah ditolak eksistensinya. Ia tinggal di apartemen sederhana dengan ibunya yang renta. Kehidupan pekerjaannya pun juga tidaklah lancar, ditambah keinginannya untuk menjadi stand up comedian pun terlihat mustahil. Berbagai permasalahan seolah enggan untuk menjauhi nya, terutama kala ia harus dipecat dari pekerjaannya sebagai badut penghibur. Lewat karya nya inilah, Philips dan Silver ingin memperlihatkan jika rentetan dari nasib buruk yang terjadi sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang berbuat nekad dalam berbuat jahat karena pada dasarnya, tidak ada seorang pun di dunia ini terlahir menjadi seorang penjahat. 

Film Joker sendiri adalah film kedua dari DC Comic yang menerima rating R setelah Watchmen akibat kandungan kekerasan serta tumpahan darah nya. Namun bagi saya sendiri pendekatan realistis akan kisah Arthur Fleck menjelma menjadi kriminalitas level atas dari Philips dan Silver yang lebih memikat, namun disturbing. Berkat kisah Arthur ini, muncul di benak jika apa yang terjadi pada Arthur sesungguhnya bisa terjadi kepada setiap orang pinggiran yang seolah tidak diterima eksistensi nya oleh masyarakat. Pandangan Arthur akan hidup, lengkap dengan make up badutnya yang ia ungkapkan pada acara bincang-bincang milik Murray Franklin (Robert De Niro, aktor yang sama memerankan Rupert Pupkin di The King of Comedy) pun walau terdengar gila, namun masuk akal dan mendekati apa yang terjadi pada realita kehidupan. Khalayak media menggembar-gemborkan akan kematian seseorang hanya karena memiliki relasi dengan tokoh berpengaruh, padahal warga seperti Arthur setiap hari nya mengalami penderitaan dan begitu dekat nya dengan peliknya kehidupan seolah jauh dari pemberitaan. Ditambah dengan pergerakan para badut yang terjadi dalam film ini lah yang membuat Joker begitu disturbing. Semoga saja tidak ada orang iseng yang ingin mengikuti dan menerapkan aksi serupa di dunia nyata. Namun tak bisa ditampik, apa yang Philips dan Silver sajikan disini bagaikan sebuah kritik keras terhadap kaum menengah ke atas.

Dengan fakta ini, serta penyakit psikis yang ia alami, rasanya hampir mustahil untuk tidak berempati terhadap Arthur Fleck. Tidak menjustifikasi apa yang ia lakukan nantinya adalah benar, namun setidaknya sebagai penonton, kita bisa mengerti mengapa Arthur nantinya menjelma menjadi pelaku kriminal. Ironis memang, kita mampu bersimpati kepada karakter yang malah tidak memiliki simpati sama sekali kepada orang lain. Meski demikian, saya sedikit kurang menyukai penanganan karakter Thomas Wayne (Brett Cullen) dalam film ini. Memang, kita mengenal karakter ini berdasarkan point of view dari Arthur sehingga wajar sosok Thomas Wayne disini terlihat orang kaya yang brengsek dan apatis, namun untuk penonton seperti saya yang hanya mengenal karakter ini dalam film Batman Begins, dan bagaimana influentalnya karakter ini pada pembentukan karakter Bruce Wayne di trilogy The Dark Knight, saya sedikit kurang menerima sih akan penggambaran karakter nya disini yang begitu berbeda. Lol. 

Pada saat kalimat "THE END" muncul di akhir, tak sadar saya sendirian bertepuk tangan cukup keras, yang seketika saya hentikan karena tak ingin menarik perhatian. Terdengar juga dari bisikan penonton di dekat saya yang berkomentar "kapan nonton film ini lagi? Bagus banget soalnya". And you know what? I agreed 100% with him/her. Saya rela merogoh kocek saya yang gak banyak untuk kembali menyaksikan sajian spesial dari Todd Philips ini. Saya terkesima berkat pendekatan realistisnya, betapa beraninya Philips dan Silver dalam menyajikan narasinya yang begitu dekat akan realita yang terjadi sekarang. Bukan berlebihan jika dalam beberapa tahun kedepan, film ini akan dianggap sebagai film klasik, juga akan memiliki penggemar militan yang sangat banyak. Bukan mustahil juga jika Anda akan menemui di jalanan ada orang yang mengimitasi tarian dari Arthur. Joker bukan lagi hanya sebagai karakter, namun telah menjadi simbol berkat film ini. Ya, jika dalam superhero kita memiliki Batman Begins sebagai film origin terbaik, maka tidak salah jika Joker adalah film origin terbaik mengenai supervillain.

Namun, tidak bermaksud untuk melupakan pekerjaan fantastis Philips dan Silver lakukan, apa yang membuat Joker terasa spesial adalah penampilan luar biasa dan Oscar worthy dari Joaquin Phoenix. Berbeda dengan Jared Leto, Phoenix merupakan salah satu aktor yang paling dihormati dalam dunia perfilman berkat talenta aktingnya. Ia pun termasuk underrated jika ditilik dari jumlah nominasi Oscar yang "baru" 3 kali saja dan sama sekali belum membawa patung emas tersebut. Namanya pun tidak sepopuler layaknya Leonardo DiCaprio ataupun Robert Downey Jr. Jika Anda pun baru pertama kali melihat akting dari Mr. Phoenix, well, anggap saja Anda sial. Hentikan membaca sekarang dan silahkan tonton akting dari beliau di film-film lainnya.

Joaquin Phoenix adalah aktor yang hebat, tidak ada yang berani menyangkal fakta ini, namun tetap saja, performanya sebagai pria yang broken, lengkap dengan health issue yang diidap karakter yang ia perankan, mampu ia sajikan dengan begitu total sehingga membuat saya terkesima. Phoenix berhasil menjadi magnet terbesar sehingga mata penonton tidak akan pernah lepas dari layar. Setiap menit sebenarnya karakter yang ia mainkan selalu  muncul, namun hingga film berakhir, saya masih merasa kurang dan ingin melihatnya kembali berakting sebagai Joker. Setiap gestur badan yang ia tampilkan seolah memiliki makna, dan walaupun tawa seorang Joker darinya tidak sememorable seperti yang Heath Ledger lakukan, namun tak seperti karakter-karakter Joker lainnya yang menggambarkan gila atau maniak nya karakter Joker melalui tawa, disini tiap tawa yang dihasilkan Phoenix malah terkesan rasa pedih dan derita akibat ketidak adilan hidup yang selalu ia terima. Sebagai contoh dengar saja tawanya tanpa henti kala ia ingin melakukan stand up comedy nya. Namun momen terbaik Phoenix hadir kala ia beradu akting dengan Robert De Niro saat film mendekati akhir. Adegan yang sebelumnya terkesan biasa, bahkan lucu, berubah menjadi intens, menegangkan dan ditutup dengan memberikan shock therapy untuk penonton. Dan pegang ucapan saya ini, pihak Academy akan kehilangan kredibilitas nya jika mereka berani untuk tidak mencantumkan nama Joaquin Phoenix dalam gelaran Oscar tahun depan. 

Anggap saya berlebihan dan overreacted, namun honestly speaking, you need to watch this movie. Tidak banyak film yang saya tonton pada tahun ini, namun saya berani menjamin, Joker adalah salah satu film terbaik keluaran tahun 2019. Dengan realistisnya Todd Philips memberikan pendekatan pada karakterisasi Arthur Fleck sebelum menjelma menjadi Joker, Atmosfir kelam dan gelap seolah tanpa kebahagiaan di kota Gotham versi Philips, dan tak lupa juga performa fantastis Joaquin Phoenix, Joker meludahi ekspektasi rendah saya sebelumnya dan menertawakan kepada setiap penikmat film yang meremehkan film ini. Dan ya, setelah trilogi The Dark Knight, DC boleh kembali bangga karena, sekali lagi, film keluaran mereka kali ini mampu membuat semua film beradptasi comic book dari kompetitor terlihat seperti film untuk anak-anak.

8,75/10

Thursday, 26 September 2019


"As a species we're fundamentally insane. Put more than two of us in a room, we pick sides and start dreaming up reasons to kill one another. Why do you think we invented politics and religion?"- Ollie

Plot

Kota kecil, Maine Town, secara tiba-tiba saja diserang kabut misterius. David Drayton (Thomas Jane) beserta putranya terjebak di dalam mall beserta penduduk lainnya. Pada suatu kejadian, David mengetahui jika didalam kabut tersebut, mereka ikut kedatangan tamu yang siap memangsa mereka.




Review

The Mist yang disutradarai oleh Frank Darabont ini, mungkin lebih dikenal disebabkan oleh endingnya. Walau memang endingnya merupakan aspek utama yang akan membuat The Mist susah terlupakan, namun secara keseluruhan, The Mist memiliki berbagai aspek positif yang mengantarkan film ini sebagai salah satu film alien invasion terbaik yang pernah saya saksikan.

Aspek terkuat yang membuat film yang diadaptasi dari novel Stephen King ini cukup spesial di mata saya adalah karena realistisnya Darabont dalam menggambarkan ketakutan-ketakutan dari warga Maine Town. Darabont menunjukkan jika karakter manusia yang sebenarnya akan terlihat kala berada dalam situasi yang mengancam nyawa mereka. Diperlihatkan disini penduduk yang terkurung dalam grocery store terbagi menjadi tiga yang diwakili oleh satu karakter masing-masing. Ada hardcore denial yang diketuai oleh Brent Norton (Andre Braugher), lalu David yang memilih berusaha sebisa mungkin untuk mencoba menyelamatkan diri, dan terakhir ada Mrs. Carmody (Marcia Gay Harden) yang berpendapat jika tragedi ini adalah hasil dari campur tangan Tuhan. Tinggal nantinya warga lainnya memilih berdiri di pihak mana, sesuai dengan apa yang mereka yakini demi bertahan hidup. Disinilah, bagi saya, pusat konflik dan sumber utama yang menyebarkan horor yang mengancam penduduk Maine Town yang terjebak.

Di tengah kesulitan yang menempatkan diri dalam posisi ujung tanduk, manusia akan menunjukkan diri sebenarnya demi bertahan hidup. Hal ini yang tampaknya ingin dieksplorasi oleh Darabont. Peristiwa kabut dan monster misterius yang terselubung di dalamnya, rupanya menjembatani akan tergerusnya kesabaran penduduk Maine Town yang terperangkap. Apapun dilakukan supaya bisa tetap menghembuskan nafas, tidak memperdulikan lagi nilai-nilai moral. Elemen ini jelas menimbulkan pertanyaan, siapa monster yang sesungguhnya?

Thomas Jane cukup baik dalam memerankan karakter alpha male, namun scene stealer dan paling membekas dalam benak penonton adalah karakter Mrs. Carmody yang diperankan secara menakjubkan oleh Marcia Gay Harden. Siapa yang sangka jika karakter ini nantinya lebih mampu memberikan ancaman bagi David dan kerabatnya. Penggambaran karakter nya pun cukup membantu, dimana ia cerewet, lalu tiap kata keluar dari mulutnya tidak jauh dari "konspirasi" agama. Yap, mudah sekali penonton untuk membencinya. Dengan ini juga membuktikan jika Gay Harden telah menunaikan tugasnya dengan brilian.

Oke, mari bicara tentang ending nya. Mungkin Stephen King menyukai ending yang diberikan Darabont. Tetapi saya pribadi, saya cukup kontra dan merasa ending nya hanya diniati Darabont supaya memberikan efek shocking, tanpa didukung dengan build up meyakinkan. Sehingga saya cukup mempertanyakan bagaimana mungkin si A tega melakukan "itu", meskipun bahaya mendekat. Ada janji yang terucapkan, namun apakah hal itu telah cukup kuat untuk melakukan tindakan nekat itu?

Terlepas dari kritik sebelumnya, saya tak bisa memungkiri jika Darabont menyajikan ending nya dengan apik sehingga meninggalkan bekas yang dalam di dalam pikiran penonton. Kita sebagai penonton, mungkin merasakan campur aduk dan bingung harus bereaksi seperti apa. Kesal? Kecewa? Merasakan kasihan setelah melihat raungan penyesalan dari David? Entahlah. Yang pasti, Darabont sukses menghadirkan sebuah adegan penuh ironis dan putus asa mendalam, dibantu lantunan The Host of Seraphim yang mengentalkan atmosfir tragis nya. Bukan salah Anda jika ending dari The Mist ini akan terpatri dalam di pikiran dan susah terlupakan.

7,75/10






"Painful memory is far more agonizing than pain in the heart"- Lee Sung-ho

Plot

Ahli patologi, Dr. Kang Min-ho (Kyung-gu Sol), diminta untuk melakukan autopsi terhadap gadis korban mutilasi yang ditemukan di daerah laut. Penyelidikan yang dilakukan oleh detektif Min Seo-Young (Hye-jin Han) pun berakhir dengan satu tersangka bernama Lee Sung-ho (Seung-bum Ryoo), seorang aktivis pembela lingkungan yang mengidap penyakit polio semenjak masih kecil yang memaksa dirinya harus berjalan dengan tongkat. Tanpa disadari oleh detektif Min, Lee Sung-ho memiliki rencana yang jauh lebih besar yang melibatkan Dr. Kang.



Review

Suatu kesalahan masa lalu bisa saja dilupakan, namun tidak ada jaminan apakah kita bisa terlepas sepenuhnya dari kesalahan tersebut. Dan kita juga tidak bisa menjamin balasan seperti apa yang akan diterima akibat dosa yang telah dilakukan. Sebagai pelaku, mungkin melupakan bukanlah hal yang sulit, namun bagaimana dengan pihak korban? Kim Hyeong-joon dengan film thriller nya yang sakit ini kemungkinan besar mampu membuat Anda untuk lebih berhati-hati lagi dalam melakukan suatu keputusan. Sebuah drama tragedi pembalasan dendam yang mengeksplorasi sisi gelap dalam diri manusia yang mampu membuat manusia bertransformasi menjadi sosok monster.

Di awal, No Mercy seolah mengarahkan bila kasus yang terjadi tidak lebih dari adalah aksi kriminal "biasa". Namun tidak butuh waktu lama, penonton akan sadar bila hal tersebut hanya sekedar kamuflase, karena seperti yang dibilang Inspektur Yoon (Ji-ru Sung), motif yang sebenarnya tidak lain tidak bukan adalah murni dendam. Tidak salah memang bila penonton akan teringat pada film fenomenal yang juga dari Korea Selatan, Oldboy (2003). Fokus utama sama-sama berpusat akan dendam, dan tentunya pula twist ending nya yang mampu membuat kita bersumpah serapah. Dan kisah investigasi nya pun mengingatkan saya akan film The Chaser. Namun, bila dalam film tersebut tokoh utama nya telah berhasil menangkap satu tersangka, hanya tinggal mencari bukti kuat. Pada No Mercy, kita diberikan narasi sebaliknya. Di setengah jam awal, kita telah mengetahui siapa pelaku sebenarnya, yaitu Lee Sung-ho, bahkan detektif Min telah memiliki bukti yang cukup kuat untuk menjebloskan Lee Sung-ho ke jeruji besi. Lalu, apa yang membuat No Mercy menarik dan beda? Jawabannya ada pada story Dr. Kang. Disini Dr Kang malah dipaksa untuk sebisa mungkin mencari cara supaya pelaku utama tidak mendekam di penjara dengan cara mengaburkan segala bukti kuat yang telah ditemukan supaya Lee Sung-ho tidak ditangkap.  

Narasi inilah yang merupakan daya tarik utama No Mercy. Menyaksikan bagaimana Dr. Kang mati-matian mensabotase bukti-bukti yang telah didapatkan tentu saja memberikan sajian thriller yang sangat menghibur. Narasi ini disajikan dengan tempo yang intens, diselingi pula dengan investigasi yang dilakukan oleh pihak polisi yang kebanyakan dilakukan oleh detektif junior, Min Seo-Young, yang sebaliknya ingin secepatnya menjebloskan Lee Sung-ho ke jeruji penjara. Rasa dilematis dari penonton pun ikut terbawa. Sulit membenarkan tindakan Dr. Kang, namun Dr. Kang pun berada di posisi yang tidak memiliki pilihan. Konflik batin pun semakin kental kala penonton akhirnya mengetahui alasan dibalik tindakan yang dilakukan Lee Sung-ho. Sehingga kita yang dari awal sepenuhnya mendukung Dr. Kang atau Detektif Min, berbalik memaklumi atas perbuatan Lee Sung-ho.

Twist ending nya pun semakin melengkapi tragedi dendam berdarah ini. Bagaimana rasa dendam yang telah mengakar begitu dalam mampu mematikan rasa manusiawi seseorang, sehingga mendorong untuk memberikan penghakiman sendiri yang dirasa setimpal. Entah terisnpirasi dari mana Hyeong-Joon bisa kepikiran untuk mengakhiri film nya ini dengan ending yang sakit seperti itu. Oh ya, untuk kalian yang memang memiliki kelemahan tersendiri dalam melihat darah, saya sarankan untuk tidak mencoba film ini karena seperti film-film thriller dari Korea Selatan lainnya, Hyeong-joon pun tidak sungkan-sungkan untuk menampilkan adegan-adegan berdarahnya. Bahkan adegan kala Dr. Kang melakukan autopsi pada mayat pun diperlihatkan terang-terangan oleh Hyeong-joon sehingga bukanlah keputusan yang bijak untuk menikmati film ini dengan menyantap makanan.

Hyeong-joon tentu telah melakukan pekerjaan yang brilian dalam mempresentasikan kisah pembalasan dendam ini. Walau memang masih ada beberapa hal yang bisa diperbaiki seperti cara menggulirkan narasinya yang kurang memperhatikan hal-hal detil sehingga menghasilkan beberapa pertanyaan yang sedikit mengganggu. Namun hal tersebut saya rasa bisa tertutupi oleh betapa menegangkannya jalinan cerita serta karakterisasi yang menarik pada masing-masing karakter. Dibantu pula dengan penampilan maksimal oleh pemeran-pemeran utamanya, terutama Kyung-go Sol yang secara meyakinkan memerankan Dr. Kang. Lihatlah transformasi nya dari Dr. Kang yang terlihat tenang diawal, menjadi orang yang seolah baru saja mengalami mimpi buruk. Rasa frustrasi nan putus asa begitu tergambar jelas dari ekspresi mukanya. Tentu juga twist ending nya yang susah dilupakan, membuat saya bertanya mengapa No Mercy seolah dibawah radar jika membicarakan film thriller terbaik dari negeri ginseng.

8,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!