Sunday, 20 October 2019


Satu aspek terhebat di dalam dunia fiksi, baik itu film, tv series, atau bahkan novel sekalipun, adalah kita mampu "dipaksa" untuk terikat dan perduli karakter yang diceritakan. Berbeda level lagi jika karakter tersebut mampu mempengaruhi hingga ke dalam kehidupan satu individu, misalnya lihat fenomena dari penggemar Game of Thrones yang telah memiliki anak, tidak sedikit serentak menamai putri mereka Khaleesi atau Daenerys sebagai bentuk cinta mereka terhadap karakter yang diperankan Emilia Clarke ini. Tidak jarang juga ada orang yang begitu nekad mengakhiri hidupnya ketika karakter yang dicintai dijemput kematian di dalam cerita. Atau contoh paling terkenal, nama Sherlock Holmes begitu dihormati di ranah Inggris seolah dirinya adalah sosok legenda, padahal ia "hanyalah" karakter rekaan dari pengarang Sir Conan Doyle. Begitulah hebatnya pengaruh suatu karakter, jika diberikan modal naskah dan narasi yang tepat, mampu mempengaruhi hingga dicintai oleh penonton/pembaca. 

Tentunya Anda memiliki karakter favorit tersendiri, dan sering kali memang karakter tersebut terlibat dalam kisah yang kita gemari pula. Setelah beberapa tahun lalu, saya menulis mengenai karakter favorit saya dalam media Anime/Manga, sudah saatnya saya juga ingin berbagi kepada Anda mengenai karakter favorit saya di dalam dunia film, yang saya ringkas hanya 15 saja. Dan percayalah, mungkin 15 bagi Anda sudah banyak, namun untuk saya, cukup sulit untuk menyaring karakter terfavorit hanya menjadi 15 saja. Ini saja selagi menulis, saya pun masih mengingat-ingat kembali apakah ada karakter yang terlupakan sembari membaca ulang list yang telah saya tulis di contekan kertas. 

Baiklah, supaya barokah waktu Anda, langsung saja inilah 15 karakter film favorit versi saya:

15. Mike Lowrey (played by Will Smith)

Movie: Bad Boys/Bad Boys II


Dwilogi Bad Boys bagi Anda mungkin tidaklah terlalu spesial, namun untuk saya pribadi, dua film ini sangat influental. Pertama kali yang saya tonton adalah Bad Boys II, ketika ditayangkan di salah satu siaran tv swasta Indonesia, dan tidak perlu waktu lama saya udah jatuh cinta sama film yang disutradarai oleh Michael Bay ini. Gak usah ditanyakan lagi begitu kocak dan gilanya interaksi antara  duo detektif Miami, Mike dan Marcus (Martin Lawrence). Bahkan menurut saya, Bad Boys bisa memiliki penggemar yang cukup banyak ya berkat dua karakter ini, karena jika dilihat pada aspek naskah, ataupun adegan aksi nya, bisa dibilang tidaklah terlalu spesial, meskipun harus diakui cukup seru, apalagi adegan car chase yang melibatkan puluhan mobil hingga kapal layar. Namun tak diragukan lagi, Mike dan Marcus lah yang menjadi faktor utama mengapa Bad Boys begitu enjoyable. Dan jika harus memilih, karakter Mike lah yang saya rasa patut masuk dalam list ini. Melalui karakter ini juga, saya mulai mengidolai Will Smith yang sukses memerankan sosok detektif yang berkharisma, terkadang konyol tanpa harus melunturkan kekerenannya.

14. Eames (played by Tom Hardy)

Movie: Inception


Karakter film yang memiliki aura badass atau tipe pendiam memang paling mudah untuk mencuri perhatian. Dan bagi saya, aktor Tom Hardy sangat cocok memerankan karakter bertipe ini. Memerankan Eames dalam Inception, Tom Hardy membuktikan bila ia tetap bisa mencuri perhatian penonton walaupun hanya memerankan karakter sampingan. Ia berhasil menjadi scene stealer di setiap kemunculannya, berkat perpaduan karakter nya yang cool, aksen British-Amrik nya yang tak pernah membosankan, dan kharisma sang aktor sendiri yang saya percayai mampu membuat pria normal bisa menjadi homo dengan hanya tatapan mata nya. 
...
..
Ahhh...shit.

13. Rupert Pupkin (played by Robert De Niro)

Movie: The King of Comedy


Film klasik namun terlupakan dari Martin Scorsese yang baru saya tonton, dan seketika saya pun langsung jatuh cinta pada filmnya, dan juga karakter utamanya, Rupert Pupkin. The King of Comedy sendiri memiliki pengaruh besar terhadap Joker-nya Todd Philips. Berbanding terbalik dengan dua karakter sebelumnya, saya menyukai karakter ini bukan karena karakter ini keren, tetapi murni betapa relatable nya karakter yang diciptakan oleh Scorsese ini. Mustahil sekali jika Anda tidak mengasihani atau setidaknya tidak bersimpati terhadap karakter satu ini. Karakter Rupert Pupkin ini bisa dideskripsikan dengan satu kalimat, the unrecognized talent. Ingin menjadi komedian terkenal, namun sayangnya Rupert dijauhi oleh nasib baik. Meski dengan kerja keras dan talenta nya yang tidak bisa dibilang buruk, namun apa daya kesempatan tak kunjung juga datang walaupun telah dikejar, hingga ia pun rela melakukan tindakan nekad, demi menggapai mimpinya. Akting Robert De Niro begitu luar biasa dalam memerankan Rupert Pupkin yang simpatik berkat tatapan serta gestur tubuhnya yang kaya akan rasa.


12. Daniel Plainview (played by Daniel Day Lewis)

Movie: There Will Be Blood


Tokoh satu ini bisa jadi merupakan salah satu karakter yang paling Anda benci berkat karakterisasi nya yang benar-benar mendefinisikan arti rakus itu sendiri. Daniel tidak perduli akan hal lain, asal tujuan dan keinginan yang ia miliki dapat tercapai, termasuk memanfaatkan anak angkat nya demi mendapatkan simpati calon rekan bisnis nya. Tapi mau bagaimana lagi, saya tidak mudah melupakan karakter yang diperankan brilian oleh Daniel Day Lewis ini. There Will Be Blood begitu adiktif tentu saja karena adanya Daniel Plainview, serta kisah rivalitas nya dengan Eli Sunday (Paul Dano). Dari tokoh ini pun kita belajar, rasa haus untuk mendapatkan semuanya tentu harus diganti dengan pengorbanan dan kehilangan yang besar. Sedikit demi sedikit menit bergulir, kita perlahan memahami pandangan Daniel terhadap hidup atau manusia di sekitarnya. Dan parahnya, saya pun bisa memahami pemikiran itu tercipta. Bukan menyetujui, tetapi tidak bisa menyalahi sepenuhnya.

11. Arthur Fleck/Joker (played by Joaquin Phoenix)

Movie: Joker


Yap, karakter yang masih diperbincangkan hangat ini begitu membekas di dalam benak sehingga tidak segan saya memasukkan nama ini dalam list tidak penting ini. Siapa sangka bila pilihan Todd Phillips untuk menyajikan background dari karakter supervillain legenda ini dengan realistis serta humanis dicintai oleh penonton. Namun, tidak perduli secerdas dan serealistis apapun naskahnya, semua aspek tersebut tidak akan berarti banyak jika aktor utama tidak memerankan Joker/Arthur dengan baik. Untungnya Joaquin Phoenix bukan aktor sembarangan. Berkatnya, mudah kita untuk bersimpati terhadap karakternya, tanpa melunturkan sisi kesadisan karakter nya sendiri. Saya sangat menyukai adegan setiap Arthur tertawa, terlihat begitu jelas akan penderitaannya, dan semua itu berkat luar biasanya penampilan Joaquin Phoenix. Jika Oscar tidak terlalu mendengarkan backlash dari media, maka rasanya hampir mustahil jika Phoenix, at least, tidak mendapatkan nominasi Oscar di kategori Best Actor.

10. Leonard Shelby (played by Guy Pearce)

Movie: Memento


Memento disanjung berkat naskah nya yang terasa orisinil dan misteri yang menyelimuti nya begitu captivating serta mampu mempermainkan daya ingat penonton dengan narasi non linear uniknya, sehingga bisa diprediksi jika penampilan para aktor yang terlibat sedikit terlupakan, terutama Guy Pearce yang memerankan protagonist utama. Memerankan Leonard Shelby, pengidap penyakit short term memory loss, Guy Pearce harus menyeimbangkan sisi cerdas Leonard dengan investigasi yang ia lakukan serta kebingungan luar biasa akibat penyakitnya, dan Pearce sukses berakting dengan menawan, tanpa harus membuat Leonard terlihat linglung dan bodoh karena daya ingat nya yang sebentar. Mudah untuk mendukung karakter ini dengan background nya yang tragis, meskipun di akhir nanti kita akan dibuat mempertanyakan moral Leonard berkat ambiguitas yang dihadirkan Nolan.

9. William James (played by Jeremy Renner)

Movie: The Hurt Locker


Jujur saja, The Hurt Locker sebenarnya jenis film yang bisa saja saya benci karena pendekatannya yang lamban seperti arthouse, minim deru tembakan atau ledakan untuk kadar film perang. Terbukti dengan pendekatan berbeda dari Kathryn Bigelow, saya cukup dilanda kebosanan di awal film berjalan, meskipun sudah disajikan dengan adegan pembuka yang cukup intens. Namun, semenjak muncul nya karakter ini di layar, seketika kebosanan saya semakin lama semakin tergerus. Faktor utama tidak lain tidak bukan adalah perbedaan signifikan pada karakterisasi James dibandingkan tentara lainnya. Bisa dibilang, James ini memiliki kepribadian yang sama sekali tidak cocok dengan kakunya birokrasi atau sistem dalam tugas tentara. Ia menjalani semuanya dengan peraturan yang ia miliki sendiri, cenderung sembrono bahkan bila dilihat kacamata tentara lain. He just doesn't give a fuck. Sebagian besar penonton pasti mudah menyukai karakter bertipe pemberontak, dan tidak terkecuali adalah William James.

8. "The Dude" Jeffrey Lebowski (played by Jeff Bridges)

Movie: The Big Lebowski


Jeff Bridges boleh saja mendapatkan Oscar pertamanya ketika memerankan Rooster Cogburn dalam True Grit, tetapi peran yang akan selalu melekat pada dirinya tidak lain adalah ketika ia memerankan karakter ini. Rambut gondrong, tanpa pekerjaan atau pasangan, hobi minum white russian serta main bowling dengan kedua temannya yang gak kalah aneh nya dalam mengisi harinya, bisa dibilang untuk pria berumur seperti The Dude ini adalah kehidupan yang kalo bisa kita hindari dalam kehidupan nyata. Tapi, toh, The Dude malah menikmati semua itu. Bahkan dengan segala kesialan atau permasalahan yang nanti ia hadapi pun tidak membuatnya untuk terlalu memikirkannya. Bagi saya sih karakter ini sempurna sekali sebagai bentuk escapism untuk beristirahat sejenak dari semua permasalahan hidup. Siapa juga yang gak pengen punya pandangan hidup seperti The Dude, yang bisa tetap menjalani hidup tanpa perlu ambisi untuk menggapai sesuatu. Tapi tentunya pandangan seperti ini hanya berlaku dalam film saja.

7. Michael Corleone (played by Al Pacino)

Movie: The Godfather Trilogy



Dalam karirnya sebagai aktor, Al Pacino memang begitu lekat dengan peran sebagai protagonist antihero bergenre drama kriminal. Serpico, Tony Montana, Carlito dan mungkin yang paling populer, Michael Corleone. Karakter-karakter yang ia perankan tersebut memiliki keunikan tersendiri, namun favorit saya adalah perannya sebagai Michael dalam trilogi abadi ini. Perjalanannya sebagai pahlawan perang yang sama sekali tidak ingin terlibat akan bisnis mafia dalam keluarganya, hingga nantinya ia malah menjadi pemimpin keluarga tersebut yang bertangan dingin dan lebih taktikal juga tanpa kenal ampun demi meloloskan rencana nya. Character arc dari Michael ini dipenuhi dengan tragedi, dimana ketika ia bisa meraih kemenangan, namun ia juga harus mengorbankan semua yang ia sayangi. Terutama penampilannya di Part II, Al Pacino menunjukkan akting luar biasa dengan memperlihatkan betapa menakutkannya sosok Michael melalui tatapan mata nya yang tajam, serta ketenangannya dalam menjalankan agenda Michael. Kekalahannya dalam ajang Academy Awards tahun 1975 sendiri bagi saya adalah salah satu kesalahan dari pihak Academy yang sukar dimaafkan.

6. Vito Corleone (played by Marlon Brando/Robert De Niro)

Movie: The Godfather Part I & II



Satu karakter yang diperankan dua aktor legendaris, dalam dua film yang sering dinobatkan sebagai film terbaik sepanjang masa, serta dua aktor pemeran berhasil mendapatkan masing-masing piala Oscar. Rasanya dengan penjabaran ini sudah cukup menggambarkan betapa karakter ini sangat ikonik  nan melegenda dalam sejarah perfilman. Dan lebih hebatnya lagi, baik di Part I maupun Part II, screentime milik Vito Corleone bisa dibilang cukup terbatas, tetapi sudah lebih dari cukup untuk membuat karakter satu ini begitu membekas untuk penonton. Jika peran Marlon Brando di Part pertama memperlihatkan begitu wibawa serta kharismatik sang Godfather dalam memerankan tugasnya sebagai kepala keluarga, di sekuel nya, Robert De Niro berhasil menjadi screen stealer berkat perjalanannya sebagai Vito muda yang awalnya hanya pria imigran biasa, namun nantinya malah berhasil menjadi salah satu orang berpengaruh dan dihormati dalam lingkungannya. De Niro pun secara jeli "mengimitasi" gestur-gestur ikonik dari Vito-nya Brando dengan brilian.

5. Tyler Durden (played by Brad Pitt)

Movie: Fight Club



Bisa dibilang karakter ini adalah impian banyak laki-laki. Ya, setelah nonton Fight Club untuk pertama kali, seketika terbersit dalam benak, "gokil juga nih kalo gw kayak Tyler". Bukan tanpa alasan, karena siapa yang gak pengen jadi cowok badass, keren, punya keberanian melawan sistem kapitalis, pihak berwajib serta orang-orang berdasi yang punya jabatan? Tyler Durden adalah contoh ideal bagaimana alpha male di dalam sebuah film. Tidak heran sih jika karakter ini berhasil membuat karir seorang Brad Pitt melejit dan digilai banyak wanita. Namun, terlepas dari penampilan fisiknya yang ikonik, saya sendiri menganggap pandangan atau filosofi nya terhadap sistem yang tengah berlaku di masyarakat jauh lebih menarik. Seperti ucapannya kepada si Narator (Edward Norton) di dalam bar jika masyarakat sekarang sudah menjadi budak nya merk-merk terkenal. Kita terus saja membeli barang, tanpa mempertanyakan apakah kita membutuhkan atau tidak, dan masih banyak pemikiran idealis lainnya seiring film bergulir. Pemikiran-pemikiran yang saya lewatkan saat menonton pertama kali, namun lama kelamaan merasuki jika kita menonton kembali.

4. Chris Gardner (played by Will Smith)

Movie: The Pursuit of Happyness



Keakuratan kisah yang diangkat oleh Gabriel Muccino dari pebisnis sukses Chris Gardner ini mungkin patut dipertanyakan, namun rasanya tidak ada yang mempertanyakan performa luar biasa dari Will Smith dalam menghidupkan karakter Chris Gardner. Setiap tumpahan emosi yang ia keluarkan begitu nyata, rasa putus asa dan kehilangan semangat akibat cobaan yang datang silih berganti mudah ikut menenggelamkan penonton di dalam kesedihan. Andai pun karakter ini hanyalah fiktif, tetap tidak menghentikan saya untuk menjadikan karakter ini merupakan karakter yang paling inspiratif yang pernah saya tonton. Puncaknya adalah ketika akhirnya nasib baik mulai datang kepadanya. Lihatlah ekspresi tangis bahagia yang ditampakkan oleh Will Smith, sebuah adegan yang setiap kali saya tonton entah harus berapa kali pun tetap saja saya juga ikut menangis bahagia seperti Chris Gardner. Luar biasa.

3. Bruce Wayne/Batman (played by Christian Bale)

Movie: The Dark Knight Trilogy



Bukan tanpa alasan mengapa Batman begitu disukai oleh penggemar, melebihi Superman sekalipun yang notabenenya merupakan wajah dari Justice League. Dan dalam trilogy The Dark Knight nya, Christopher Nolan kembali menumbuhkan cinta para penggemar terhadap karakter superhero tercinta mereka ini, setelah pesonanya sempat meredup akibat Batman & Robin. Nolan mengerti betul dalam menangani karakterisasi Batman/Bruce Wayne. Batman bukanlah superhero yang sempurna. Setiap aksi yang ia lakukan kerap kali melibatkan kerusakan bahkan mengancam nyawa orang yang terlibat, termasuk polisi. Namun begitu, ia tetap berpijak pada keadilan versi dirinya. Ia ingin membawa nilai kebaikan ke dalam kota Gotham. Bahwa peran Batman hanyalah sebagai bentuk simbol untuk menumbuhkan spirit pahlawan setiap individu. Akhir kisah dalam film The Dark Knight semakin memantapkan pesan tersebut, dimana pengorbanan harus diambil demi kebaikan. Batman terasa humanis karena ketidak sempurnaannya, dan dengan ketidak sempurnaannya itu pula menjadi alasan Batman adalah salah satu superhero terkeren dan paling disukai.

2. Tommy Riordan (played by Tom Hardy)

Movie: Warrior



Sebelum memerankan Bane dalam The Dark Knight Rises, Tom Hardy telah menunjukkan tease bagaimana sosok Bane yang nanti akan ia perankan. Tommy Riordan yang ia perankan begitu dingin, dipenuhi dengan kemarahan dan kecewa akibat masa lalu yang pahit. Tatapannya walaupun tajam penuh kebencian, namun terlintas kekosongan pada sorot mata nya. Tom Hardy seolah terlahir memerankan peran ini. Aura badass begitu kental yang membuat saya pasti akan bergidik ngeri jika saja terlibat masalah dengannya, dan tak perlu dipertanyakan lagi bagaimana Hardy memberikan sentuhan emosional pada karakternya, sehingga tidak menjadikan Tommy hanya sosok pria badass, tanpa sentuhan hati. Mau lihat salah satu man tears terbaik? Maka tonton lah Warrior, dan lihat lah akting Tom Hardy yang satu ini.

1. The Joker (played by Heath Ledger)

Movie: The Dark Knight



Saya selalu berpendapat jika salah satu karakter yang ditulis dengan baik adalah karakter diberikan sentuhan background yang jelas sehingga memiliki fondasi yang kuat. Tetapi karakter satu ini mematahkan pendapat saya tersebut, because I fuckin' love this character so much!! Walau ia merupakan supervillain, namun berkat pesona, dibantu juga akting menakjubkan dari Heath Ledger, Joker berhasil menjadi scene stealer dan penggemar selalu menantikan sosoknya hadir di layar. The Dark Knight adalah film yang hebat serta didukung dengan salah satu ensemble cast terbaik yang pernah ada, namun berkat adanya Joker lah, The Dark Knight menjadi sajian klasik dan begitu dicintai oleh penggemar. Akting monumental Heath Ledger sukses besar dalam menampar keras setiap penikmat film yang sebelumnya sempat meragukan, bahkan mengejek dirinya ketika Nolan mengumumkan jika Ledger yang akan memerankan Joker. Karakter Joker begitu melekat dalam diri Ledger sehingga saya tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa broke character ketika kamera tidak merekam. 

So, lemme ask you a question, who's your favorite movie character?

Sunday, 13 October 2019


"You didn't have to wait your whole life to do something special"

Plot

Berhasil mengakhiri masa perbudakan dalam sekapan Jack (Michael Bowen) dan gang nya, tidak berarti Jesse Pinkman (Aaron Paul) bisa hidup dengan tenang. Kini ia harus menjalani kehidupannya sebagai buronan. Dengan fakta tersebut, Jesse pun ingin memulai kehidupannya baru dan meninggalkan semua masa lalunya. 



Review

Bila Anda telah membaca tulisan saya mengenai Breaking Bad, Anda pasti tahu jika saya sangat mencintai tv series satu ini, melebihi Game of Thrones sekalipun. Tentu saja, ketika Netflix menghadirkan film lanjutan kisah Breaking Bad berjudul El Camino, dengan membawa Vince Gilligan yang notabenenya adalah kreator tv series itu sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, bohong sekali jika saya tidak merasakan kebahagiaan. Terlebih, dari trailer nya yang meyakinkan serta masih kental akan aura "Breaking Bad" nya, El Camino tampak menjanjikan. 

Bila "Granite State" dan "Felina" bagaikan epilog dari kisah perjalanan the kingpin, The Heisenberg, Walter White (Bryan Cranston), maka 2 jam dari durasi El Camino adalah sepenuhnya kisah epilog untuk Jesse. Tentu nya sebagai penggemar Breaking Bad, kita sangat ingin mengetahui nasib Jesse setelah kurang lebih 2 tahun harus menjalani hidup layaknya budak dalam genggaman Uncle Jack. Kisah Jesse pun menarik diikuti karena untuk pertama kalinya, ia harus beraksi seorang diri, setelah sebelumnya ia selalu bersama Walter ataupun Mike Ehrmantraut (Jonathan Banks) sebagai partner in crime nya. 

Untuk Anda yang belum sama sekali menyentuh Breaking Bad, sebaiknya tidak usah repot-repot untuk mencoba El Camino. Sekali lagi, penceritaan El Camino diambil tidak lama setelah Jesse meloloskan diri. Maka ceritanya tentu sangat berkaitan dengan Breaking Bad. El Camino ini bagi saya adalah sebuah bentuk surat cinta untuk para penggemar atau bisa juga merupakan salam perpisahan untuk salah satu karakter paling dicintai dalam serial ini. Fokus penceritaan hanya satu, yaitu kisah bagaimana Jesse memulai kembali setelah semua yang telah terjadi. Disajikan dengan ciri khas Vince Gilligan, yaitu slow burning dengan menggulirkan kisahnya dengan perlahan namun terus berkembang, mengembangkan serta mengeksplorasi karakter dan sedikit bumbu black comedy nya yang masih saja ampuh untuk menjadi ice breaking di kala momen yang tersaji intensitas nya meninggi. 

Harus diakui memang, keputusan Vince Gilligan untuk menerapkan pola yang sama seperti pada tv series nya ke dalam El Camino adalah langkah perjudian. Memang, pola tersebut akan bekerja jika di terapkan pada sistem tv series yang memiliki puluhan episode. Namun untuk media film yang memiliki durasi terbatas, tentu saja pergerakan narasi perlahan ini tidak selalu berhasil. Dalam El Camino, untuk sebuah kisah buronan internasional, memang harus diakui terasa cukup sunyi dan kalem. Mungkin hanya ada dua-tiga kali intensitas film meningkat, namun tidak sampai ke taraf maksimal. Gilligan lebih memilih memfokuskan cerita pada pendalaman karakter Jesse setelah kembali bisa menghirup udara bebas.

Petunjuk akan seperti apa El Camino sebenarnya telah terpapar dalam perbincangan singkat melalui adegan flashback antara Mike dan Jesse. Sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki semua yang lalu, yang tersisa untuk Jesse adalah memulai semuanya dari awal kembali. Maka bila ekspektasi Anda untuk menantikan perjalanan heroik dari Jesse maka saya sarankan untuk segera mempertimbangkan kembali, karena El Camino sepenuhnya adalah usaha Jesse untuk kembali memulai semuanya. Dan ini saya rasa adalah pilihan yang ideal untuk Gilligan dalam upayanya memberikan akhir yang cocok untuk Jesse.

Terdapat dua jenis narasi di film ini, yaitu present and past time. Bila narasi masa kini memperlihatkan Jesse untuk segera mendapatkan kehidupan baru nya sembari memulihkan luka masa lalu, maka flashback nya sendiri memiliki peranan untuk menanamkan simpati lebih dalam terhadap Jesse. Kita diperlihatkan sedikit kepingan momennya selagi menjalani kehidupannya sebagai tahanan Uncle Jack. Rasanya sedikit mustahil jika kita tidak merasakan rasa simpati terhadap beratnya kehidupan Jesse kala itu. Tidak ada harga diri sama sekali serta kerap mendapatkan perlakuan yang memalukan, memberikan tekanan mental yang kuat bagi Jesse, sehingga kondisi nya tidak jauh berbeda seperti veteran perang yang sehabis mengalami neraka hidup di dunia perang. Tidak hanya itu, flashback nya juga memberikan ruang bagi Gilligan untuk menghadirkan beberapa cameo karakter yang paling berpengaruh dalam hidup Jesse. Ya, termasuk karakter yang paling dinantikan hadir di dalam El Camino, and you know who.

Terdapat pula pada momen flashback nya, El Camino memberikan masa dimana Jesse menghabiskan waktu bersama Todd (Jesse Plemons), salah satu karakter yang memberikaan penderitaan besar baik fisik maupun batin kepada Jesse. Dan setelah melihat masa "hang out" mereka berdua, saya yakin Anda akan memiliki kepuasan kembali mengingat bagaimana nasib Todd berakhir dalam series nya. Perubahan fisik signifikan yang terjadi pada Jesse Plemons mungkin akan menjadi topik yang paling dibicarakan, ketimbang penampilan cemerlangnya dalam menampilkan Todd yang creepy, mampu tampil begitu dingin, bertindak seperti pria normal dan memiliki attitude baik, padahal ia merupakan orang yang begitu mudah menarik pelatuk untuk membunuh demi sebuah alasan yang remeh jika diambil sudut pandang orang normal. Jesse dan Todd memang seolah ditakdirkan menjadi rival, terlihat bagaimana Gilligan memberikan karakterisasi yang berlawanan pada satu aspek.

El Camino memang masih kental akan aroma Breaking Bad nya, lengkap dengan sajian sinematografi menawan layaknya series tersebut, namun meski begitu, El Camino tidak lah sekelam Breaking Bad. Minus adegan yang mampu membuat penonton merasakan ketegangan, serta mara bahaya yang mampu membuat Jesse tertangkap. Mungkin keputusan Gilligan ini akan membuat kecewa bagi siapa saja yang mengharapkan adegan seru nan memikat dalam film ini.

Aaron Paul, yang setelah Breaking Bad berakhir seolah kesulitan untuk mendapatkan peran yang tepat dalam media film, menunjukkan disini jika ia telah begitu mengenal karakter yang telah ia perankan selama 5-6 tahun. Meski versi Jesse disini berbeda, namun kesan familiar tetap terasa. Terlebih untuk mengobati kangen para penggemar untuk melihat Jesse versi awal mula Breaking Bad, tersaji pada sebuah adegan flashback kala film mendekati akhir. Lengkap pula kembali terucapnya kata ikonik milik Jesse, yang sempat absen sebelumnya.

El Camino memang bukan film yang sempurna. Bahkan ketidak puasan mungkin akan ada bahkan dari barisan penggemar setia Breaking Bad. Namun untuk saya, El Camino sudah menjalankan perannya dengan baik, yaitu untuk mengingat kembali mengapa para penggemar bisa jatuh cinta pada salah satu serial tv terbaik yang pernah ada tersebut, serta memberikan akhir yang layak untuk Jesse Pinkman, one of the most loveable character in tv series.  Tentunya saya kedepannya tidak ada lagi proyek spin off dalam melanjutkan kisah salah satu karakter Breaking Bad (Better Call Saul adalah sebuah prekuel), sebab semua kisah sempurna pastinya memiliki kisah akhir yang sempurna pula, dan bagi saya, El Camino memiliki itu. Jangan sampai titah sejarah sempurna Breaking Bad dihancurkan akibat keinginan serakah demi mendapatkan keuntungan. Enough is enough.

8/10


Wednesday, 2 October 2019


"I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it's a comedy"- Arthur Fleck

Plot

Mengisahkan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), pengidap pseudobulbar affect (penyakit dimana seseorang secara tiba-tiba menangis atau tertawa yang tak terkendali), yang harus menghadapi segala benturan-benturan realita hidup, dari karir yang tidak kunjung berkembang, sang ibu, Penny Fleck (Frances Conroy) terobsesi akan Thomas Wayne (Brett Cullen), serta berbagai kesialan yang seolah enggan menghindarinya.




Review

Perlukah film yang disutradarai oleh Todd Philips ini dibuat? Atau pertanyaan yang lebih tepatnya, perlukah memberikan pendalaman karakter dan sentuhan humanis diberikan pada salah satu musuh terbesar Batman ini? Pertanyaan demi pertanyaan, serta diselingi dengan keraguan kerap hadir kala Joker resmi diumumkan akan rilis pada tahun ini di beberapa tahun belakang. Saya mengakui, rasa cemas pecinta film bisa dimengerti. Walau dalam komik nya sendiri memang terdapat beberapa kisah origin dari Joker, namun tetap salah satu daya tarik dari Joker adalah kesan misteri nya. Terlebih pendekatan yang dilakukan oleh Christopher Nolan dalam The Dark Knight 11 tahun lalu terbukti berhasil. Dan berbicara The Dark Knight, pastinya penampilan monumental nan ikonik dari mendiang Heath Ledger telah memberikan standar yang begitu tinggi dalam memerankan si badut kriminal yang gak lucu ini. Beban berat tentu disandang oleh Joaquin Phoenix selaku aktor pemeran Joker, terlebih setelah kegagalan Jared Leto di Suicide Squad dalam memerankan karakter yang sama. 

Sebelum membahas penampilan Phoenix, mari kita fokus kepada penceritaan terlebih dahulu. Dibantu oleh Scott Silver di departemen penulisan naskah, Philips tampak telah paham betul dalam menghadirkan film origin yang benar. Ketimbang menitik beratkan narasi akan sajian aksi serta seru-seruan layaknya film beradaptasi dari comic book, Philips lebih mengedepankan pada pendalaman karakterisasi, mengembangkannya secara perlahan, serta mengajak penonton untuk menyelami lingkungan hidup sang karakter utama. Tidak ada hal luar biasa yang terdapat dalam diri Arthur Fleck. Ia tidak memiliki latar belakang militer, bukan juga pemilik kekuatan super dan latar belakang keluarganya pun cenderung biasa saja. Hanya saja, dengan mengidap mental illnes, Arthur terlihat berbeda dengan orang lainnya. Bahkan akibat perbedaan tersebut, Arthur harus menerima perlakuan tidak menyenangkan oleh orang sekitar nya. 

Terinspirasi dari film klasik Martin Scorsese, The King of Comedy, layaknya Rupert Pupkin, kehidupan Arthur bisa dibilang cukup menyedihkan dengan dekatnya ia akan nasib buruk dan seolah ditolak eksistensinya. Ia tinggal di apartemen sederhana dengan ibunya yang renta. Kehidupan pekerjaannya pun juga tidaklah lancar, ditambah keinginannya untuk menjadi stand up comedian pun terlihat mustahil. Berbagai permasalahan seolah enggan untuk menjauhi nya, terutama kala ia harus dipecat dari pekerjaannya sebagai badut penghibur. Lewat karya nya inilah, Philips dan Silver ingin memperlihatkan jika rentetan dari nasib buruk yang terjadi sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang berbuat nekad dalam berbuat jahat karena pada dasarnya, tidak ada seorang pun di dunia ini terlahir menjadi seorang penjahat. 

Film Joker sendiri adalah film kedua dari DC Comic yang menerima rating R setelah Watchmen akibat kandungan kekerasan serta tumpahan darah nya. Namun bagi saya sendiri pendekatan realistis akan kisah Arthur Fleck menjelma menjadi kriminalitas level atas dari Philips dan Silver yang lebih memikat, namun disturbing. Berkat kisah Arthur ini, muncul di benak jika apa yang terjadi pada Arthur sesungguhnya bisa terjadi kepada setiap orang pinggiran yang seolah tidak diterima eksistensi nya oleh masyarakat. Pandangan Arthur akan hidup, lengkap dengan make up badutnya yang ia ungkapkan pada acara bincang-bincang milik Murray Franklin (Robert De Niro, aktor yang sama memerankan Rupert Pupkin di The King of Comedy) pun walau terdengar gila, namun masuk akal dan mendekati apa yang terjadi pada realita kehidupan. Khalayak media menggembar-gemborkan akan kematian seseorang hanya karena memiliki relasi dengan tokoh berpengaruh, padahal warga seperti Arthur setiap hari nya mengalami penderitaan dan begitu dekat nya dengan peliknya kehidupan seolah jauh dari pemberitaan. Ditambah dengan pergerakan para badut yang terjadi dalam film ini lah yang membuat Joker begitu disturbing. Semoga saja tidak ada orang iseng yang ingin mengikuti dan menerapkan aksi serupa di dunia nyata. Namun tak bisa ditampik, apa yang Philips dan Silver sajikan disini bagaikan sebuah kritik keras terhadap kaum menengah ke atas.

Dengan fakta ini, serta penyakit psikis yang ia alami, rasanya hampir mustahil untuk tidak berempati terhadap Arthur Fleck. Tidak menjustifikasi apa yang ia lakukan nantinya adalah benar, namun setidaknya sebagai penonton, kita bisa mengerti mengapa Arthur nantinya menjelma menjadi pelaku kriminal. Ironis memang, kita mampu bersimpati kepada karakter yang malah tidak memiliki simpati sama sekali kepada orang lain. Meski demikian, saya sedikit kurang menyukai penanganan karakter Thomas Wayne (Brett Cullen) dalam film ini. Memang, kita mengenal karakter ini berdasarkan point of view dari Arthur sehingga wajar sosok Thomas Wayne disini terlihat orang kaya yang brengsek dan apatis, namun untuk penonton seperti saya yang hanya mengenal karakter ini dalam film Batman Begins, dan bagaimana influentalnya karakter ini pada pembentukan karakter Bruce Wayne di trilogy The Dark Knight, saya sedikit kurang menerima sih akan penggambaran karakter nya disini yang begitu berbeda. Lol. 

Pada saat kalimat "THE END" muncul di akhir, tak sadar saya sendirian bertepuk tangan cukup keras, yang seketika saya hentikan karena tak ingin menarik perhatian. Terdengar juga dari bisikan penonton di dekat saya yang berkomentar "kapan nonton film ini lagi? Bagus banget soalnya". And you know what? I agreed 100% with him/her. Saya rela merogoh kocek saya yang gak banyak untuk kembali menyaksikan sajian spesial dari Todd Philips ini. Saya terkesima berkat pendekatan realistisnya, betapa beraninya Philips dan Silver dalam menyajikan narasinya yang begitu dekat akan realita yang terjadi sekarang. Bukan berlebihan jika dalam beberapa tahun kedepan, film ini akan dianggap sebagai film klasik, juga akan memiliki penggemar militan yang sangat banyak. Bukan mustahil juga jika Anda akan menemui di jalanan ada orang yang mengimitasi tarian dari Arthur. Joker bukan lagi hanya sebagai karakter, namun telah menjadi simbol berkat film ini. Ya, jika dalam superhero kita memiliki Batman Begins sebagai film origin terbaik, maka tidak salah jika Joker adalah film origin terbaik mengenai supervillain.

Namun, tidak bermaksud untuk melupakan pekerjaan fantastis Philips dan Silver lakukan, apa yang membuat Joker terasa spesial adalah penampilan luar biasa dan Oscar worthy dari Joaquin Phoenix. Berbeda dengan Jared Leto, Phoenix merupakan salah satu aktor yang paling dihormati dalam dunia perfilman berkat talenta aktingnya. Ia pun termasuk underrated jika ditilik dari jumlah nominasi Oscar yang "baru" 3 kali saja dan sama sekali belum membawa patung emas tersebut. Namanya pun tidak sepopuler layaknya Leonardo DiCaprio ataupun Robert Downey Jr. Jika Anda pun baru pertama kali melihat akting dari Mr. Phoenix, well, anggap saja Anda sial. Hentikan membaca sekarang dan silahkan tonton akting dari beliau di film-film lainnya.

Joaquin Phoenix adalah aktor yang hebat, tidak ada yang berani menyangkal fakta ini, namun tetap saja, performanya sebagai pria yang broken, lengkap dengan health issue yang diidap karakter yang ia perankan, mampu ia sajikan dengan begitu total sehingga membuat saya terkesima. Phoenix berhasil menjadi magnet terbesar sehingga mata penonton tidak akan pernah lepas dari layar. Setiap menit sebenarnya karakter yang ia mainkan selalu  muncul, namun hingga film berakhir, saya masih merasa kurang dan ingin melihatnya kembali berakting sebagai Joker. Setiap gestur badan yang ia tampilkan seolah memiliki makna, dan walaupun tawa seorang Joker darinya tidak sememorable seperti yang Heath Ledger lakukan, namun tak seperti karakter-karakter Joker lainnya yang menggambarkan gila atau maniak nya karakter Joker melalui tawa, disini tiap tawa yang dihasilkan Phoenix malah terkesan rasa pedih dan derita akibat ketidak adilan hidup yang selalu ia terima. Sebagai contoh dengar saja tawanya tanpa henti kala ia ingin melakukan stand up comedy nya. Namun momen terbaik Phoenix hadir kala ia beradu akting dengan Robert De Niro saat film mendekati akhir. Adegan yang sebelumnya terkesan biasa, bahkan lucu, berubah menjadi intens, menegangkan dan ditutup dengan memberikan shock therapy untuk penonton. Dan pegang ucapan saya ini, pihak Academy akan kehilangan kredibilitas nya jika mereka berani untuk tidak mencantumkan nama Joaquin Phoenix dalam gelaran Oscar tahun depan. 

Anggap saya berlebihan dan overreacted, namun honestly speaking, you need to watch this movie. Tidak banyak film yang saya tonton pada tahun ini, namun saya berani menjamin, Joker adalah salah satu film terbaik keluaran tahun 2019. Dengan realistisnya Todd Philips memberikan pendekatan pada karakterisasi Arthur Fleck sebelum menjelma menjadi Joker, Atmosfir kelam dan gelap seolah tanpa kebahagiaan di kota Gotham versi Philips, dan tak lupa juga performa fantastis Joaquin Phoenix, Joker meludahi ekspektasi rendah saya sebelumnya dan menertawakan kepada setiap penikmat film yang meremehkan film ini. Dan ya, setelah trilogi The Dark Knight, DC boleh kembali bangga karena, sekali lagi, film keluaran mereka kali ini mampu membuat semua film beradptasi comic book dari kompetitor terlihat seperti film untuk anak-anak.

8,75/10

Thursday, 26 September 2019


"As a species we're fundamentally insane. Put more than two of us in a room, we pick sides and start dreaming up reasons to kill one another. Why do you think we invented politics and religion?"- Ollie

Plot

Kota kecil, Maine Town, secara tiba-tiba saja diserang kabut misterius. David Drayton (Thomas Jane) beserta putranya terjebak di dalam mall beserta penduduk lainnya. Pada suatu kejadian, David mengetahui jika didalam kabut tersebut, mereka ikut kedatangan tamu yang siap memangsa mereka.




Review

The Mist yang disutradarai oleh Frank Darabont ini, mungkin lebih dikenal disebabkan oleh endingnya. Walau memang endingnya merupakan aspek utama yang akan membuat The Mist susah terlupakan, namun secara keseluruhan, The Mist memiliki berbagai aspek positif yang mengantarkan film ini sebagai salah satu film alien invasion terbaik yang pernah saya saksikan.

Aspek terkuat yang membuat film yang diadaptasi dari novel Stephen King ini cukup spesial di mata saya adalah karena realistisnya Darabont dalam menggambarkan ketakutan-ketakutan dari warga Maine Town. Darabont menunjukkan jika karakter manusia yang sebenarnya akan terlihat kala berada dalam situasi yang mengancam nyawa mereka. Diperlihatkan disini penduduk yang terkurung dalam grocery store terbagi menjadi tiga yang diwakili oleh satu karakter masing-masing. Ada hardcore denial yang diketuai oleh Brent Norton (Andre Braugher), lalu David yang memilih berusaha sebisa mungkin untuk mencoba menyelamatkan diri, dan terakhir ada Mrs. Carmody (Marcia Gay Harden) yang berpendapat jika tragedi ini adalah hasil dari campur tangan Tuhan. Tinggal nantinya warga lainnya memilih berdiri di pihak mana, sesuai dengan apa yang mereka yakini demi bertahan hidup. Disinilah, bagi saya, pusat konflik dan sumber utama yang menyebarkan horor yang mengancam penduduk Maine Town yang terjebak.

Di tengah kesulitan yang menempatkan diri dalam posisi ujung tanduk, manusia akan menunjukkan diri sebenarnya demi bertahan hidup. Hal ini yang tampaknya ingin dieksplorasi oleh Darabont. Peristiwa kabut dan monster misterius yang terselubung di dalamnya, rupanya menjembatani akan tergerusnya kesabaran penduduk Maine Town yang terperangkap. Apapun dilakukan supaya bisa tetap menghembuskan nafas, tidak memperdulikan lagi nilai-nilai moral. Elemen ini jelas menimbulkan pertanyaan, siapa monster yang sesungguhnya?

Thomas Jane cukup baik dalam memerankan karakter alpha male, namun scene stealer dan paling membekas dalam benak penonton adalah karakter Mrs. Carmody yang diperankan secara menakjubkan oleh Marcia Gay Harden. Siapa yang sangka jika karakter ini nantinya lebih mampu memberikan ancaman bagi David dan kerabatnya. Penggambaran karakter nya pun cukup membantu, dimana ia cerewet, lalu tiap kata keluar dari mulutnya tidak jauh dari "konspirasi" agama. Yap, mudah sekali penonton untuk membencinya. Dengan ini juga membuktikan jika Gay Harden telah menunaikan tugasnya dengan brilian.

Oke, mari bicara tentang ending nya. Mungkin Stephen King menyukai ending yang diberikan Darabont. Tetapi saya pribadi, saya cukup kontra dan merasa ending nya hanya diniati Darabont supaya memberikan efek shocking, tanpa didukung dengan build up meyakinkan. Sehingga saya cukup mempertanyakan bagaimana mungkin si A tega melakukan "itu", meskipun bahaya mendekat. Ada janji yang terucapkan, namun apakah hal itu telah cukup kuat untuk melakukan tindakan nekat itu?

Terlepas dari kritik sebelumnya, saya tak bisa memungkiri jika Darabont menyajikan ending nya dengan apik sehingga meninggalkan bekas yang dalam di dalam pikiran penonton. Kita sebagai penonton, mungkin merasakan campur aduk dan bingung harus bereaksi seperti apa. Kesal? Kecewa? Merasakan kasihan setelah melihat raungan penyesalan dari David? Entahlah. Yang pasti, Darabont sukses menghadirkan sebuah adegan penuh ironis dan putus asa mendalam, dibantu lantunan The Host of Seraphim yang mengentalkan atmosfir tragis nya. Bukan salah Anda jika ending dari The Mist ini akan terpatri dalam di pikiran dan susah terlupakan.

7,75/10






"Painful memory is far more agonizing than pain in the heart"- Lee Sung-ho

Plot

Ahli patologi, Dr. Kang Min-ho (Kyung-gu Sol), diminta untuk melakukan autopsi terhadap gadis korban mutilasi yang ditemukan di daerah laut. Penyelidikan yang dilakukan oleh detektif Min Seo-Young (Hye-jin Han) pun berakhir dengan satu tersangka bernama Lee Sung-ho (Seung-bum Ryoo), seorang aktivis pembela lingkungan yang mengidap penyakit polio semenjak masih kecil yang memaksa dirinya harus berjalan dengan tongkat. Tanpa disadari oleh detektif Min, Lee Sung-ho memiliki rencana yang jauh lebih besar yang melibatkan Dr. Kang.



Review

Suatu kesalahan masa lalu bisa saja dilupakan, namun tidak ada jaminan apakah kita bisa terlepas sepenuhnya dari kesalahan tersebut. Dan kita juga tidak bisa menjamin balasan seperti apa yang akan diterima akibat dosa yang telah dilakukan. Sebagai pelaku, mungkin melupakan bukanlah hal yang sulit, namun bagaimana dengan pihak korban? Kim Hyeong-joon dengan film thriller nya yang sakit ini kemungkinan besar mampu membuat Anda untuk lebih berhati-hati lagi dalam melakukan suatu keputusan. Sebuah drama tragedi pembalasan dendam yang mengeksplorasi sisi gelap dalam diri manusia yang mampu membuat manusia bertransformasi menjadi sosok monster.

Di awal, No Mercy seolah mengarahkan bila kasus yang terjadi tidak lebih dari adalah aksi kriminal "biasa". Namun tidak butuh waktu lama, penonton akan sadar bila hal tersebut hanya sekedar kamuflase, karena seperti yang dibilang Inspektur Yoon (Ji-ru Sung), motif yang sebenarnya tidak lain tidak bukan adalah murni dendam. Tidak salah memang bila penonton akan teringat pada film fenomenal yang juga dari Korea Selatan, Oldboy (2003). Fokus utama sama-sama berpusat akan dendam, dan tentunya pula twist ending nya yang mampu membuat kita bersumpah serapah. Dan kisah investigasi nya pun mengingatkan saya akan film The Chaser. Namun, bila dalam film tersebut tokoh utama nya telah berhasil menangkap satu tersangka, hanya tinggal mencari bukti kuat. Pada No Mercy, kita diberikan narasi sebaliknya. Di setengah jam awal, kita telah mengetahui siapa pelaku sebenarnya, yaitu Lee Sung-ho, bahkan detektif Min telah memiliki bukti yang cukup kuat untuk menjebloskan Lee Sung-ho ke jeruji besi. Lalu, apa yang membuat No Mercy menarik dan beda? Jawabannya ada pada story Dr. Kang. Disini Dr Kang malah dipaksa untuk sebisa mungkin mencari cara supaya pelaku utama tidak mendekam di penjara dengan cara mengaburkan segala bukti kuat yang telah ditemukan supaya Lee Sung-ho tidak ditangkap.  

Narasi inilah yang merupakan daya tarik utama No Mercy. Menyaksikan bagaimana Dr. Kang mati-matian mensabotase bukti-bukti yang telah didapatkan tentu saja memberikan sajian thriller yang sangat menghibur. Narasi ini disajikan dengan tempo yang intens, diselingi pula dengan investigasi yang dilakukan oleh pihak polisi yang kebanyakan dilakukan oleh detektif junior, Min Seo-Young, yang sebaliknya ingin secepatnya menjebloskan Lee Sung-ho ke jeruji penjara. Rasa dilematis dari penonton pun ikut terbawa. Sulit membenarkan tindakan Dr. Kang, namun Dr. Kang pun berada di posisi yang tidak memiliki pilihan. Konflik batin pun semakin kental kala penonton akhirnya mengetahui alasan dibalik tindakan yang dilakukan Lee Sung-ho. Sehingga kita yang dari awal sepenuhnya mendukung Dr. Kang atau Detektif Min, berbalik memaklumi atas perbuatan Lee Sung-ho.

Twist ending nya pun semakin melengkapi tragedi dendam berdarah ini. Bagaimana rasa dendam yang telah mengakar begitu dalam mampu mematikan rasa manusiawi seseorang, sehingga mendorong untuk memberikan penghakiman sendiri yang dirasa setimpal. Entah terisnpirasi dari mana Hyeong-Joon bisa kepikiran untuk mengakhiri film nya ini dengan ending yang sakit seperti itu. Oh ya, untuk kalian yang memang memiliki kelemahan tersendiri dalam melihat darah, saya sarankan untuk tidak mencoba film ini karena seperti film-film thriller dari Korea Selatan lainnya, Hyeong-joon pun tidak sungkan-sungkan untuk menampilkan adegan-adegan berdarahnya. Bahkan adegan kala Dr. Kang melakukan autopsi pada mayat pun diperlihatkan terang-terangan oleh Hyeong-joon sehingga bukanlah keputusan yang bijak untuk menikmati film ini dengan menyantap makanan.

Hyeong-joon tentu telah melakukan pekerjaan yang brilian dalam mempresentasikan kisah pembalasan dendam ini. Walau memang masih ada beberapa hal yang bisa diperbaiki seperti cara menggulirkan narasinya yang kurang memperhatikan hal-hal detil sehingga menghasilkan beberapa pertanyaan yang sedikit mengganggu. Namun hal tersebut saya rasa bisa tertutupi oleh betapa menegangkannya jalinan cerita serta karakterisasi yang menarik pada masing-masing karakter. Dibantu pula dengan penampilan maksimal oleh pemeran-pemeran utamanya, terutama Kyung-go Sol yang secara meyakinkan memerankan Dr. Kang. Lihatlah transformasi nya dari Dr. Kang yang terlihat tenang diawal, menjadi orang yang seolah baru saja mengalami mimpi buruk. Rasa frustrasi nan putus asa begitu tergambar jelas dari ekspresi mukanya. Tentu juga twist ending nya yang susah dilupakan, membuat saya bertanya mengapa No Mercy seolah dibawah radar jika membicarakan film thriller terbaik dari negeri ginseng.

8,5/10

Wednesday, 25 September 2019


"I guess, no matter how much you try to ignore all these things that are really happening, sometimes they just find a way to creep in"- Celeste

Plot

Berawal dari tragedi penembakan yang terjadi di sekolahnya, Celeste (versi remaja diperankan Raffey Cassidy), yang merupakan salah satu korban yang selamat walaupun sempat terkena tembakan di leher, malah menjadi pusat perhatian nasional ketika ia unjuk suara di momen memorial para korban. Dalam waktu singkat, Celeste menjadi penyanyi pop yang memiliki masa depan yang cerah. Dibantu oleh manajernya (Jude Law) serta saudari nya, Eleanor (Stacy Martin), langkah Celeste terlihat begitu mudah untuk menjadi bintang muda. Tanpa ia sadari bila dunia industri yang tengah ia jalani malah menjadi bumerang akan dirinya sendiri.




Sutradara Brady Corbet membuka Vox Lux dengan meyakinkan. Saya sudah tahu jika plot dasar cerita nya akan mengangkat tragedi penembakan, namun tetap saja adegan yang disajikan Corbet mampu memberikan kesan menegangkan serta mencekam. Atmosfir thriller begitu tebal, dan tak terpungkiri, atensi saya sepenuhnya telah terenggut. Namun sayangnya, atensi ini semakin lama semakin tergerus akibat penceritaan yang membosankan dan tiada momen-momen perebut atensi kembali untuk durasi kurang lebih 1 jam kemudian. 

Percayalah, saya pun mengira jika Vox Lux merupakan cerita yang diadaptasi dari kisah nyata berkat dasar ceritanya mengangkat tragedi yang sering terjadi di negara Amerika Serikat, dan setelah saya gugling, ternyata cerita dalam Vox Lux sepenuhnya adalah fiktif. Kenyataan ini seketika memberikan tanda tanya besar, mengapa Corbet memberikan pendekatan narasinya begitu minim dramatisasi di paruh awal? Padahal, Corbet menceritakan kisah seorang remaja yang berhasil selamat dari kejadian traumatis. Namun, penonton sama sekali tidak diajak untuk melihat pergulatan batin Celeste, yang notabenenya adalah gadis remaja berumur 13/14 tahun! Rasanya hampir mustahil untuk bisa menerima jika disini sang gadis remaja diperlihatkan masih bisa hidup dengan normal, meniti karir nya tanpa ada konflik berarti. Diperparah lagi dengan keputusan Corbet untuk meringkas momen-momen yang terjadi pada kehidupan Celeste hanya dibantu dengan narasi voice over yang disuarakan oleh Willem Defoe. 

Sebenarnya Vox Lux memiliki sub plot yang berpotensi memperkaya cerita, seperti hubungan kakak beradik Celeste dan Eleanor, yang diceritakan ternyata memiliki bakat yang lebih baik dibanding Celeste. Namun karena Celeste lebih memiliki background cerita yang lebih bisa dijual, talenta Eleanor tak terlalu tampak, bahkan dirinya harus rela berakhir hanya menjadi "the guardian angel" nya Celeste. Hubungan keduanya memiliki peranan penting nanti di paruh kedua, tetapi jatuhnya menjadi datar karena ketiadaan konklusi yang memuaskan antar keduanya. Padahal cerita keduanya cukup memiliki fondasi yang lumayan. Kisah Celeste yang menolak hubungan asmara antar Eleanor dan sang manajer pun terbilang dibiarkan lewat begitu saja tanpa pendalaman.

Saya juga mempertanyakan mengapa begitu nihilnya peran media di paruh awal. Bila ditilik bagaimana kerja media entertainment dalam memburu kisah-kisah selebritis, terutama yang tengah menanjak popularitasnya dalam dunia nyata, rasanya sukar dipercaya sama sekali tidak ada media yang membuat teori praduga, seperti misal Celeste memanfaatkan tragedi untuk ketenaran. Tentu saja jika Corbet mau memberikan sedikit konflik Celeste di mata publik akan memberikan daya tarik supaya penonton tetap mau menghabiskan waktu di sisa durasi film. Tetapi sekali lagi, Corbet lebih memilih untuk mengangkat kehidupan Celeste yang terlalu terbawa arus oleh kebebasan. Bukannya saya menganggap pilihan Corbet tidak penting, karena narasi ini akan berpengaruh di paruh kedua, namun pada narasi ini pun, Corbet seolah setengah-setengah dalam mengangkat isu nya. Praktis, parahnya narasi cerita di 1 jam awal ini memberikan kebosanan yang luar biasa untuk saya. Ditambah lagi akting biasa saja dari para pelakon, terutama Raffey Cassidy yang cenderung senantiasa bermuka datar. 

Beruntung film ini memiliki Natalie Portman dalam jajaran aktor nya. Perannya disini seketika cukup mengingatkan saya akan performanya di Black Swan (2010) sebagai Nina, yang mana Portman memerankan Celeste yang terkesan eksentrik, fucked up, sosiopat, aktris yang seenaknya sendiri, dan begitu lekat dengan sensasi serta kontroversi. Tentu Celeste versi dewasa ini merupakan hasil dari terlalu cepatnya ia mengalami ketenaran sehingga ia begitu tenggelam dengan dunia selebritas yang penuh intrik dan tekanan. Bila saja Corbet di paruh awal lebih memilih untuk mengeksplorasi karakter Corbet, penonton pasti akan memiliki keterikatan emosional terhadap Celeste di paruh akhir. Namun tanpanya, disini Celeste hanya terkesan wanita dewasa yang menyebalkan serta kekanak-kanakan. Mudah bagi saya untuk tidak menyukai Celeste, ANDAI saja aktris yang memerankannya bukanlah Portman.

Bukan hal baru lagi untuk aktris peraih satu kali Oscar ini dalam memerankan karakter yang memiliki gangguan psikis. Apalagi untuk karakter Nina dan Celeste tidaklah jauh berbeda. Keduanya berambisi besar, hidup dalam dunia entertain, dan selalu memiliki kecemasan berlebihan. Bedanya, Celeste disini jauh lebih "cerewet" dibanding Nina. Sekali lagi, mudah untuk penonton tidak menyukai Celeste, namun berkat pendekatan Portman, penonton tidak merasakan hal tersebut. Iya, Celeste merupakan wanita menyebalkan, namun ia juga begitu perduli dengan putri semata wayangnya, Albertine (yang juga diperankan oleh Raffey Cassidy). Disinilah Portman memberikan pendekatan hati dan rasa setiap kali Celeste menunjukkan perhatiannya kepada Albertine. Selain itu, Portman juga melakukan pekerjaan hebat setiap kali karakter nya harus menunjukkan kegelisahan. Puncaknya kala Celeste tengah mengalami mental breakdown di ruang wardrobe. Bagi saya, keberadaan Natalie Portman tidak hanya memberikan performa mengagumkan, tetapi ia juga berhasil menyelamatkan penonton dari rasa bosan dalam menikmati Vox Lux. Paruh akhir menjadi menarik dan jauh lebih berwarna dibanding paruh awal nya. Rating yang saya berikan tentu jauh akan lebih rendah andai Vox Lux tidak dibintangi oleh Portman. Apalagi kala ending nya yang saya anggap sebagai momen redemption untuk Celeste, nyatanya berujung datar dan memberikan kesan "lah, begini aja?" kala closing credits hadir.

6,75/10


Saturday, 21 September 2019


"Better to be king for a night than schmuck for a lifetime."- Rupert Pupkin

Plot

Meski telah berusia 30an, nyatanya Rupert Pupkin (Robert De Niro) masih memiliki mimpi untuk menjadi komedian terkenal. Kesempatan untuk menggapai mimpi itu seolah menemukan jalan, kala di suatu malam, Rupert berhasil memanfaatkan kesempatan di tengah keriuhan puluhan penggemar dari host talk show terkenal, Jerry Langford (Jerry Lewis), yang  ingin meminta tanda tangan idola nya. Rupert sendiri sukses menyelinap masuk ke dalam mobil Jerry dan tanpa basa basi, mengutarakan niatnya untuk bisa hadir di acara talk show dari Jerry. 




Review

Sebenarnya saya udah lama memendam keinginan untuk segera menonton film kolaborasi  kelima antara Scorsese dan De Niro ini, tapi beneran deh, susah sekali nyari versi downlodan nya. Sempat terlupakan, baru-baru ini tetiba saja saya mendapatkan rekomendasi dari teman jika film ini bagai hidden gems dari Scorsese. Semangat untuk menyaksikan The King of Comedy pun akhirnya kembali hadir. Setelah berusaha cukup lama, saya akhirnya mendapatkan downloadan nya. Dan siapa yang menyangka, meski memiliki kata "Comedy" di judul nya, namun film ini didominasi akan tamparan ironi realita bagi pemimpi layaknya Rupert Pupkins. Anggap saja saya berlebihan, namun karena kisahnya begitu relatable, The King of Comedy adalah film yang paling tidak mudah dinikmati dari Scorsese setelah Silence.

Kisah berpusat pada karakter Rupert Pupkins. Ia pria lajang, berumur 34 tahun dan masih tinggal dengan ibunya di apartemen sederhana. Memiliki impian untuk menjadi komedian besar, Rupert sering berlatih bermonolog di dalam kamar nya, yang sering pula mengganggu ketenangan ibu nya. Melalui perspektif penonton, kita bisa mengetahui jika Rupert bukanlah pria tanpa bakat. Setidaknya bagi saya, Rupert sadar akan bakatnya tersebut dan tidak salah jika ia bermimpi untuk menjadi komedian. Menjadi permasalahan adalah Rupert kesulitan untuk mendapatkan kesempatan, sehingga talenta komedinya tersebut sama sekali tidak mampu menghantarkan dirinya kepada kesuksesan. Maka ketika akhirnya ia menemukan setitik harapan cerah supaya bisa berkarir di dunia komedi saat ia berhasil berbincang dengan Jerry, disitulah ia rela melakukan apa saja untuk menggapai mimpinya. I mean, literally, apa saja.

Lebih dari itu, Rupert adalah seseorang yang naif nan polos. Dirinya bagai anak kecil yang masih dipenuhi api semangat membara demi mengejar impiannya yang terjebak dalam tubuh pria dewasa. Di kala kebanyakan pria dewasa seperti dirinya untuk lebih memilih realistis dan mengubur impiannya, Rupert menolak. Dengan cara apapun, ia akan mengabulkan mimpinya. Pada akhirnya, ia ingin kelihaian komedinya disadari dan dinikmati oleh banyak orang. Namun, asumsi saya, yang terpenting untuk Rupert adalah ia mampu membuktikan kepada orang sekitarnya jika ia bukanlah omong kosong dan bodoh seperti anggapan orang banyak. Penggambaran karakter Rupert ini lah yang senantiasa memberikan kesan tidak nyaman untuk saya sebagai penonton.

Melihat sosok Rupert yang begitu optimis di tengah kondisi minim harapan, tak ketinggalan sering kali senyum yang ia lontarkan, tentu saja memberikan kesan pedih dan miris. Ditambah lagi Rupert adalah sosok yang berdedikasi, dimana ia terus berlatih dan berlatih di apartemen sederhananya, tidak perduli jika latihannya tersebut rupanya mengganggu ketenangan ibu nya yang tinggal bersama dirinya. Terpenting bagi Rupert, ia akan selalu berlatih sembari menanti kesempatan akhirnya datang kepadanya. Rasanya tidak mungkin Anda tidak bersimpati pada karakter ini setelah melihat berbagai usahanya untuk menjemput kesempatan tersebut. Saya jujur hampir meneteskan air mata pada adegan "laugh scene", dimana Rupert berlatih monolog di depan gambar penonton yang tertempel di dinding, kamera menyorot dari belakang Rupert, sambil bergerak perlahan menjauhi Rupert, untuk menangkap kesepian dan betapa ironis nya kehidupan yang dijalani Rupert. Pada adegan ini pula kita bisa merasakan sensitivitas rasa dari Scorsese. 

Kritik terhadap dunia hiburan pun tidak ketinggalan disuarakan oleh Scorsese. Dan disinilah fungsi karakter Jerry Langford. Jerry boleh saja merupakan entertainer yang sukses, namun kesuksesan tersebut malah memberikan tekanan pada Jerry. Tidak hanya itu, Jerry pun juga harus pandai dalam menghadapi penggemarnya yang banyak, terutama bagaimana ia harus menghadapi penggemar militan layaknya Masha (Sandra Bernhard). Bukannya memberikan kebahagiaan, kesuksesan yang ada justru menghadirkan kehampaan dalam diri Jerry. Tak dieksplor terlalu dalam memang, namun apa yang dihadirkan Scorsese disini sudah cukup efektif. Penonton, seperti saya, memang sering kali seenak jidat menilai kepribadian para aktor/entertainer seperti Jerry, padahal apa yang kita lihat hanya lah dari layar, tanpa memikirkan bagaimana kehidupan mereka ini kala layar kamera tidak menyorot mereka. 

Meski sudah berumur lebih dari 3 dekade, nyatanya The King of Comedy masih memiliki tingkat relevansi yang tinggi jika ditonton pada zaman sekarang. Hal ini tidak terlepas dari fakta bagaimana industri hiburan zaman dahulu hingga sekarang bekerja tidak lah terlalu jauh berbeda. Talenta dan integritas bukan menjadi faktor utama dari kesuksesan, melainkan aspek non teknis seperti skandal, riwayat buruk dari entertainer lah yang malah menjadi sorotan sehingga lebih berpengaruh besar dalam mendongkrak nama dari artis itu sendiri. Lihat saja sekarang, banyak sekali talenta-talenta berbakat namun seolah tenggelam dengan mereka yang lebih mengandalkan kontroversi maupun konflik demi mendapatkan jatah spotlight. Scorsese seolah menampar keras sistem ini melalui ending gelap yang hadir pada film ini. Kala akhirnya nama Rupert Pupkin menjadi headline di seluruh wilayah, namun harus dibayar mahal akibat kenekadannya.

Sudah begitu banyak film-film hebat yang tercipta dari kolaborasi Scorsese dan De Niro, seperti Casino, Raging Bull dan tentu saja Goodfellas. De Niro pun senantiasa bermain cemerlang di bawah arahan Scorsese, namun bagi Scorsese, penampilan terbaik De Niro selama bekerja sama dengannya adalah pada film ini, dan saya sepertinya sepakat dengan Scorsese. Patut diingat, De Niro sebelumnya telah memerankan karakter anti hero berkharisma yang dekat dengan kriminal seperti Vito Corleone , Travis Bickle dan Jake Lamotta. Namun, sosok De Niro yang selalu memerankan pria karismatik sepenuhnya hilang disini. De Niro bermain luar biasa dalam memberikan performanya sebagai Rupert yang polos, naif, always thinking "everything is gonna be fine", clumsy, terkesan bodoh dan mudah ditipu. Seperti yang saya tulis sebelumnya bila Rupert bagaikan anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa, dan De Niro berhasil merepresentasikannya dengan brilian. Dengarkan saja teriakan "Maaaaaa!!!" setiap kali ia dibentak oleh sang ibu. Jika Anda ingin melihat betapa luasnya range akting dari De Niro, maka The King of Comedy adalah pilihan yang tepat. Puncaknya kala De Niro melakukan stand up comedy di akhir. Kaya akan gestur tubuh, ekspresi muka yang tepat sasaran, dan kejutannya, stand up yang ia lakukan benar-benar lucu secara alami. Ya, kelucuan yang hadir tanpa kita sadari adalah sebagai distraksi bila sebenarnya bit demi bit yang dibawakan oleh Rupert adalah pengalaman hidupnya sendiri. Bravo!

Sayang memang, film ini tenggelam jika dibandingkan film-film masterpiece Scorsese lainnya. Mungkin karena pada saat itu, The King of Comedy tidak berhasil meraih kesuksesan jika ditilik dari pendapatan uang, bahkan bisa dibilang cukup gagal besar, walau para kritikus menyukai nya. Padahal bila dilihat dari kualitas, The King of Comedy jelas bisa disandingkan dengan Goodfellas, Raging Bull atau Taxi Driver sekalipun, lewat performa luar biasa dari De Niro (yang secara mengejutkan tidak mendapatkan nominasi aktor terbaik versi Oscar!!) serta begitu dekatnya kisah yang diangkat oleh Scorsese. Masterpiece tersembunyi dari Scorsese berkat tamparan realita dunia hiburan yang begitu penuh ironi, dibalut komedi hitam yang tidak akan membuat mu tertawa, melainkan malah trenyuh dan hati tercabik kala melihat perjalanan sosok Rupert Pupkin.

8,75/10

Friday, 13 September 2019


"That's all"- Miranda Pristley

Plot

Lulusan anyar jurusan jurnalis yang seketika mendapatkan pekerjaan yang diklaim beberapa orang merupakan pekerjaan yang membuat sejuta wanita rela untuk membunuh siapapun, itulah Andy Sachs (Anne Hathaway) yang secara mengejutkan mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten kedua Miranda Priestly (Meryl Streep), pemimpin redaksi majalah fashion, Runway. Miranda sendiri telah dianggap sebagai the living legend dalam dunia modeling serta dihormati oleh banyak orang, namun selain itu, dirinya pula dikenal sebagai wanita bertangan dingin dan tak kenal ampun jika telah berkaitan dengan pekerjaan. 



Review

Anda dan saya pasti pernah mendapatkan satu bos kejam tanpa ampun dalam suatu pekerjaan, dan jika memang salah satu dari Anda belum pernah merasakan, well, I will congratulate but feel a pity to you. Berada di bawah pimpinan yang kejam tanpa hati memang terdengar seperti kiamat dan kalau bisa dihindari, tetapi bila dipikir lebih dalam lagi, sebenarnya kita telah mendapatkan suatu pengalaman yang sulit untuk dilupakan, serta sering kali, pimpinan kita yang kejam tersebut malah menjadi salah satu bos yang mungkin pula sulit kita gerus dalam ingatan. Pengalaman seperti inilah yang akan didapatkan Andy, seorang gadis muda yang baru saja menyelesaikan studi kuliah nya di jurusan jurnalis, hidup di salah satu kota tersibuk di dunia, New York, harus menerima kenyataan jika dirinya akan segera mendapatkan bos kejam yang kelak akan memberikan pelajaran paling berharga sepanjang hidupnya.

"Million girls would kill for that job", statement yang tiap kali Andy dengar untuk posisi yang kini ia tempati. Memang, bukan sembarang orang yang memiliki kesempatan untuk bisa menjadi asisten pribadi seseorang yang dianggap begitu powerful dan berpengaruh. Pada awalnya pun, Andy sama sekali buta akan dunia fashion, bahkan ia tidak pernah membaca majalah Runway sehingga ia tidak mengenal siapa itu Miranda Pristley dan mengapa sosoknya begitu ditakuti, yang kelak ia akan ketahui dalam hitungan menit kala Andy menginjakkan kakinya di gedung kantor majalah tersebut untuk memenuhi panggilan interview.

Penonton pun juga tidak perlu menunggu lama karena saat film baru berjalan 2 menit saja, kita telah diajak berkenalan dengan sosok Miranda. Entrance dari Miranda sendiri diracik begitu apik oleh David Frankel, sang sutradara. Dengan memperlihatkan para pegawai bekerja, berlari kesana kemari melakukan tugasnya masing-masing, termasuk Emily (Emily Blunt), asisten pribadi pertama Miranda, lalu diperlihatkan pula Miranda yang perlahan menuju ke meja kantor nya. Kesan akan betapa ditakutinya Miranda oleh bawahannya telah sukses didapatkan penonton, dan saat lift elevator dibuka, kita pun akhirnya melihat sosok Miranda. Tidak butuh waktu lama, Meryl Streep langsung saja melakukan monolog, memberikan komando perintah pada Emily dan bawahan lainnya agenda apa saja yang harus dikerjakan, hingga ia tiba di meja kantor, melihat sekilas Andrea dan siap melakukan interview untuknya. Dan dalam durasi kurang lebih 1 menit itu pula, penonton telah terpana dan terkesima akan karakter ini.

Judul film ini tentu saja merujuk pada karakter Miranda. Kata "Devil" pun telah menggambarkan dirinya merupakan seorang pimpinan yang kalau bisa kita hindari, bahkan untuk hadir dalam mimpi pun jangan. Namun, dengan performa memikat dari Meryl Streep, saya justru selalu menantikan kehadirannya di setiap menit dalam film. Setiap gestur yang ia lakukan sangat mempesona dan anggun (ditambah lagi kecantikan abadi dari Meryl Streep), terlihat meyakinkan jika dirinya memang adalah sosok bos yang layak dihormati dalam dunia mode, ditambah dengan busana yang ia kenakan semakin menambah dosis keanggunannya. Saya pribadi suka sekali setiap kali Miranda menopangkan dagu di salah satu tangannya.


Sayang memang penampilan spesial dari Meryl Streep tidak diimbangi dengan penulisan cerita yang bisa dibilang sangat klise. Walau fondasi cerita nya cukup rapi, namun kisahnya sendiri bisa dibilang predictable. Penonton sudah bisa menebak jika karakter Andy akan mengalami kesulitan beradaptasi dalam pekerjaan terbaru nya, kemudian saat telah menemui titik terendah, ia akan bangkit dan berhasil memberikan pelayanan kerja yang baik sehingga bisa membuat Miranda kagum dan mulai menganggap dirinya. Konflik pun tercipta sesuai dengan tebakan saya, yaitu dengan keberhasilan Andy melakukan pekerjaan nya, ia justru semakin melupakan kehidupan pribadinya. Sebagai penulis naskah, Aline Brosh McKenna, memang seolah menolak untuk melakukan perbedaan. Konklusi dari konflik yang tercipta pun terkesan menggampangkan dan masih meninggalkan beberapa pertanyaan di benak. Saya pribadi cukup menyayangkan minus nya karakter Nigel (Stanley Tucci) di bagian akhir. Padahal karakter Nigel merupakan karakter yang paling suportif dan berpengaruh akan tahan banting nya Andy selama bekerja di Runway.

Beruntung The Devil Wears Prada memiliki protagonist utama sekaliber Anne Hathaway. Penampilannya bukan lah yang terbaik, namun ia cukup berhasil menggambarkan konflik batin yang dirasakan Andy. Anne pun juga memiliki pesona likeable sehingga tidak sulit penonton untuk memberikan simpati terhadap karakternya.

Ceritanya memang klise dan ringan, namun justru karena itu film ini mudah untuk diikuti. Ditambah lagi elemen komedinya ditangani dengan baik oleh David Frankel yang sadar akan timing. Tentu pusat komedinya adalah sulitnya Andy dalam memenuhi banyaknya permintaan dari Miranda yang sudah pasti tidak akan memaafkan kesalahan sekecil apapun, tidak perduli juga betapa mustahil nya order dari nya, yang hanya ingin ia ketahui adalah permintaannya terpenuhi atau tidak. Cocok sekali untuk dinikmati dalam waktu senggang, seraya bagi yang pernah berada di posisi Andy, bisa jadi The Devil Wears Prada menjadi wadah untuk penonton bernostalgia sembari menertawakan kesialan demi kesialan Andy, dan mengingat kembali hari-hari neraka ketika masih menjadi bawahan dari bos mengerikan tanpa kenal ampun.

7,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!