Showing posts with label 2019. Show all posts
Showing posts with label 2019. Show all posts

Sunday, 9 February 2020

"This is me, all right? I'm not a fuckin' athlete. This is MY fuckin' way. This is how I win. All right?"

Plot

Memiliki usaha berlian sendiri, tidak membuat kehidupan seorang Howard Ratner (Adam Sandler) jauh dari kesulitan. Ia terbelit hutang dengan saudara ipar nya sendiri, Arno (Eric Bogosian) sebesar $ 100 ribu. Perihal tersebut semakin pelik kala Arno menyewa kolektor berperangai kasar, Phil (Keith Williams) dan Nico (Tommy Kominik) yang akan berbuat apapun demi mendapatkan uang pembayar hutang dari Howard. Howard bukannya tanpa usaha, dimana ia berharap berlian opal temuannya dari negara Ethiopia mampu terjual di harga kisaran $ 1 juta pada acara suatu lelang. Namun, niat Howard tersebut pun harus berbentur pula dengan keinginan atlit bintang bola basket dari Boston Celtic, Kevin Garnett (diperankan oleh Kevin Garnett yang asli) untuk membeli opal tersebut. Polemik Howard semakin dilengkapi dengan kehidupan keluarga nya yang sedang tidak baik-baik saja. Howard harus berpisah dengan istrinya, Dinah Ratner (Idina Menzel) yang menggugat cerai Howard akibat perselingkuhan Howard dengan Julia (Julia Fox) yang juga merupakan karyawan di toko berlian Howard.




Plot

Berdasarkan sinopsis yang saya tulis di atas, Anda mampu sedikit menangkap seperti apa film yang sudah tersedia di Netflix ini. Uncut Gems mengisahkan usaha dari suatu karakter untuk menyelesaikan masalah yang sedang menghimpit nya. Pergerakan narasi hampir semuanya berpusat pada Howard, sehingga layar akan didominasi oleh sosok nya. Berita buruk jika Anda merupakan haters dari Adam Sandler. Lagian jika Anda merupakan haters, ngapain juga untuk ikutan menyaksikan film ini. Anyway, duo Safdie (Benny-Josh) enggan untuk membagi permasalahan demi permasalahan Howard layaknya pembagian chapter dan lebih memilih untuk langsung menggabungkannya di setiap pergerakan narasi. Dibantu dengan pergerakan kamera yang cukup dinamis, lahir lah sebuah ketidak nyamanan akan sesak nafas akibat dari setiap keributan yang hadir di layar. Seriusan, hampir tiap menit dalam Uncut Gems itu kita harus melihat setidaknya satu karakter harus berteriak dalam pengucapan dialog, terutama tentu saja si Howard. Kalau bisa saya ingin kasih Adam Sandler seteguk gelas air minum untuk sekedar istirahat sebentar dari teriakan-teriakannya. Kalau Anda cukup teliti, Anda bisa menangkap jika suara Adam Sandler sendiri terdengar serak di beberapa adegan.

Uncut Gems memiliki dasar cerita sederhana memang, namun penyuntingan dari Safdie Brothers yang benar-benar menjadi pembeda. Berkat penyutradaraan mereka, adegan pintu tidak bisa dibuka saja tersaji dengan sangat intens, melebihi adegan dari film thriller di tahun yang sama. Itu hanya satu contoh saja, karena Uncut Gems dipenuhi dengan adegan serupa. Dan percaya atau tidak, Uncut Gems adalah film pertama keluaran dari A24 yang pergerakan narasi nya begitu cepat seperti ini yang saya tonton. Biasanya, film-film dari A24, seperti yang kita ketahui, pergerakan nya cukup lambat layaknya film indie atau film festival. Dengan fakta ini bagi saya memberikan kejutan menyenangkan juga. Membuktikan bila A24 juga mampu memproduksi film semacam ini. Percayalah, Uncut Gems akan memberikan sebuah sajian drama roller coaster yang berlaju kencang seolah tiada akhir. Masih ada beberapa momen "mengambil nafas" atau boleh saya sebut sebagai check point, sebelum nanti kita kembali ditempatkan pada sirkuit laju yang kencang. Yang lebih parah, kebanyakan momen intens dalam film ini bersettingkan di tempat yang sempit, seperti di dalam mobil dan toko kecil milik Howard. Tidak heran jika para pengidap claustrophobia akan tidak nyaman saat sedang menonton film ini.

Balik lagi ke cerita, poin dari Uncut Gems adalah untuk mengajak kita bagaimana seorang pria berusaha untuk memperbaiki semua masalah nya yang ada. Yang bikin gregetan adalah cara yang diambil oleh Howard untuk keluar dari permasalahannya. Bagaimana tidak gregetan jika ia masih saja mau mengambil risiko baru lagi sesaat setelah pintu cahaya untuk menuju jalan keluar hadir di depan matamya. Naskah yang mereka kerjakan bersama Ronald Bronstein ini ingin memperlihatkan jika kerakusan hanya akan menghadirkan persoalan yang baru lagi. Dan siapa tahu, jika Howard mungkin tidak akan bisa lari dari permasalahannya, tidak perduli seberapapun keras nya perjuangan yang telah ia lakukan. 

Harusnya dengan penggambaran karakter seperti ini, karakterisasi Howard berpotensi menjadi protagonist yang unlikeable. Namun fakta di lapangan justru sebaliknya. Memang, Howard jauh dari kata orang yang baik. Ia berselingkuh, hobi berjudi, pembual dan kasar, namun ia tetap adalah seorang family man yang mau berusaha sebaik mungkin untuk perduli dengan keluarganya, terutama anak-anaknya. Kita boleh menyayangkan setiap keputusannya, namun tidak berarti penonton bisa dengan mudah membenci nya. Untuk saya, selalu ada harapan jika usaha Howard setidaknya ada satu saja yang membuahkan hasil, setelah Howard senantiasa diterpa oleh konflik beruntun dalam hidup nya. Faktor akting Adam Sandler sendiri juga ikut berperan untuk penonton mudah mendukungnya. 

Sandler berhasil menggambarkan kecemasan dalam diri Howard, baik melalui amarah bahkan ketika menyetir mobil dalam diam sekalipun. Secara perlahan juga tersirat gambaran putus asa melalui ekspresinya, hingga nanti pada puncaknya tangisan pun akhirnya keluar dari Howard. Susah rasanya untuk tidak merasa kasihan saat dirinya tengah berada di posisi terpuruk seperti itu. Sandler kembali membuktikan jika ia merupakan aktor bertalenta. Meski saya juga kurang sependapat jika ini adalah penampilan yang groundbreaking karena menurut saya, kita memuji akting Sandler disini tidak terlepas juga akibat penampilan-penampilan buruk dari Sandler sebelumnya. 

Tidak hanya Sandler, penampilan dari supporting cast pun tidak boleh diremehkan. Julia Fox yang menjalani debut nya disini, tidak berakhir hanya menjadi eye candy saja berkat penampilan menawannya. Juga yang menjadi scene stealer adalah Keith Williams sebagai Phil, bodyguard kasar yang senantiasa memberikan teriakan-teriakan intimidatif untuk menakuti Howard. Kevin Garnett pun tidak mengecewakan dalam menjalani debutnya. 

8/10

Wednesday, 29 January 2020


"Just 'cause millions of people aren't cheering when you do it, it doesn't mean it's not important"- Saraya

Plot 

Lahir dalam keluarga yang lekat dengan dunia gulat, Saraya (Florence Pugh) dan Zak (Jack Lowden) membantu promosi gulat independen kecil milik kedua orang tua mereka, Ricky (Nick Frost) dan Julia (Lena Headey) yang bernama World Association of Wrestling (WAW). Bersama Saraya, Zack juga ikut melatih anak-anak muda untuk bergulat di promosi tersebut, sembari tetap mengadakan event kecil-kecilan untuk menghasilkan uang. Keduanya ingin menggapai mimpi mereka untuk bisa tampil di event gulat terbesar di dunia, WWE (World Wrestling Entertainment). Rekaman bergulat Zak dan Saraya dikirimkan ke WWE, dan kesempatan tersebut datang ketika Hutch Morgan (Vince Vaughn), trainer yang bekerja untuk WWE, memanggil Zak dan Saraya untuk berpartisipasi di try out pada episode Smackdown di London.




Review

Dengan deretan film-film yang selama ini telah WWE produksi, setidaknya film seperti The Scorpion King dan Rundown yang cukup menghasilkan kesuksesan. Selebihnya, kebanyakan film-film tersebut harus dirilis langsung ke dalam bentuk DVD atau straight to video, bukti bila kebanyakan atau hampir semua film rilisan WWE berakhir dengan mengenaskan, entah itu karena pendapatan yang tidak balik modal atau ulasan "kejam" para kritikus yang bahkan mungkin malas untuk mereview film-film ini. Kendalanya adalah selama ini, WWE studios selalu memilih mengedepankan genre aksi yang disuntikkan kepada film-film mereka. Film seperti The Marines (yang gak tahu kenapa bisa sampai hingga sekuel ke 6), 12 Round, atau Vendetta, jelas sekali jika WWE Studios begitu mencintai film aksi. Hingga membuat mereka lupa jika sebenarnya ada kisah yang bisa lebih dieksplorasi pada perjalanan setiap wrestler yang mereka miliki. Diproduksi oleh legenda hidup dari WWE, Dwayne "The Rock" Johsnon, Fighting With My Family menceritakan perjalanan karir Saraya Knight, atau yang lebih populer kita kenali sebagai Paige, dalam meraih kesuksesan di dunia gulat bersama WWE dan nantinya berhasil menjadi salah satu pegulat wanita berpengaruh dalam memantik api membara dunia gulat wanita. 

Fighting With My Family mungkin formulaic. Ya, film ini bisa dibilang tidak terlalu mengambil langkah revolusioner dalam menceritakan kisah biografi nya. Ini bukan lah sajian biografi berani layaknya Straight Outta Compton, tetapi sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Stephen Merchant mengambil approach yang bijak dalam menggulirkan narasi nya. Merchant tampaknya meyakini jika Saraya/Paige akan berhasil menjadi top divas di WWE sudah diketahui atau bahkan ditebak oleh penonton kasual yang tidak mengikuti WWE. Ya film biografi mana yang pada akhir cerita nya tidak menampilkan momen klimaks atau keberhasilan tokoh yang diangkat? Maka dari itu, narasi nya benar-benar didominasi oleh perjuangan Saraya untuk bisa bertahan ketika harus berlatih fisik maupun mental di pengembangan karir yang dinamai NXT, dan yang pasti sesuai judulnya, konflik yang dialami Saraya dengan keluarganya, terutama dengan Zak. Justru untuk saya, kepingan-kepingan story arc milik Zak lah yang berhasil muncul menjadi pembeda di bagian narasi.

Dunia gulat memang tidak untuk semua orang, terutama di Indonesia. Walau sempat booming di periode awal 2000an, sajian wrestling cukup menjadi hal tabu ketika media di Indonesia menggembar-gemborkan korban-korban yang jatuh akibat mempraktekkan aksi-aksi gulat sehingga penayangan WWE (kala itu masih WWF) dihentikan sama sekali di tayangan televisi swasta. Wrestling gear para pegulat sendiri yang begitu menampilkan aurat juga sangat tidak cocok untuk Indonesia yang masih mengedepankan agama. Kondisi ini sih yang membuat saya secara sembunyi-sembunyi untuk mengikuti perkembangan dunia wrestling, apalagi kalau menonton pertarungan para pegulat wanita, udah deh, harus pintar-pintar mencari waktu dan kondisi. Ibarat kata, ketahuan menonton wrestling match sudah bisa disandingkan aib nya dengan menonton blue film.

Namun kecintaan saya yang telah tertanam di masa kecil susah untuk dihilangkan, tentu saja. Kenangan kala saya bermain gulat dengan dua kakak saya setelah menyaksikan Smackdown yang kala itu masih ditayangkan di R*TI terus terpatri di ingatan. Masih begitu lekat di ingatan ketika saya kecewa berat ketika The Rock gagal mengalahkan Triple H di event Judgement Day setelah berhasil comeback dalam pertarungan Iron Match nya. Mungkin dengan fakta ini lah, ikatan emosi telah terhubung dengan Zak dan Saraya kala di opening nya, kita menyaksikan Zak bersorak kala melihat wrestler idola nya meraih kemenangan, dan segera mempraktikkan salah satu move ke adiknya, Saraya.

Dengan berbagai momen sekilas, kita diajak Merchant untuk lebih mengenal keluarga Knight dalam mengelola bisnis gulat independen kecil milik mereka. Dari Zak yang menjadi pelatih untuk para pemuda berusia tanggung di kota Norwich, bahkan satu dari murid nya ada yang mengalami disabilitas, lalu Saraya, yang ternyata diambil dari nama panggung milik ibu nya kala berkarir di dunia gulat, juga ikut membantu Zak sebagai sparring partner baik ketika latihan atau di pertandingan resmi kecil-kecilan. Lalu tentunya ada Ricky dan Julia yang senantiasa membantu mereka berdua. Tidak ketinggalan Merchant membangun bumbu-bumbu konflik nya, seperti Saraya yang sempat dicemooh akibat penampilannya yang jauh dari kata feminim, Zak yang menanti kehadiran buah hati bersama pacarnya, Courtney (Hannah Rae) dan kesulitan finansial yang dialami keluarga Knight. Pembangunan konflik nya terasa straight to the point karena nanti kala film menginjak ke pertengahan durasi, semuanya menyatu dan memiliki pengaruh kala Fighting With My Family mulai menyentuh pada konflik utama nya, yaitu fakta dimana Zak harus menerima kenyataan jika ia tidak berhasil memenuhi kriteria standar yang dibutuhkan WWE. Dan lebih pahit nya lagi, adiknya sendiri ternyata merupakan satu-satunya kontestan yang direkrut oleh Hutch Morgan untuk bergabung dengan WWE dan mengikuti proses pengembangan bakat di NXT.

Bayangkan jika Anda di posisi Zak. Sebagai individu yang memiliki passion yang besar untuk dunia gulat, berlatih dari kecil hingga dewasa untuk meraih mimpi dan berharap akan tiba momen ribuan penonton menyerukan nama panggung Anda, harus menelan pil pahit kehidupan kala fakta tidak beriringan dengan harapan dan keinginan. Kesempatan satu kali seumur hidup gagal tercapai, ditambah harus menyaksikan adik nya sendiri yang tak disangka-sangka berhasil meraih kesempatan tersebut. Hal ini yang membuat Zak menjadi sympathetic character utama dalam kisah ini dan berhasil menjadi poin positif besar, setidaknya untuk saya. Walau cerita memang berfokus pada perjuangan kisah Saraya/Paige, namun saya senantiasa tidak sabar untuk melihat keadaan Zak. Ada rasa kekhawatiran jika ia akan mengambil langkah yang salah akibat kekecewaan yang mendalam dan menelantarkan keluarga nya, terutama Courtney dan anak nya yang baru lahir. Terlebih keluarga Knight sendiri mempunyai sejarah dengan dunia kriminal.

Untuk yang mengikuti dunia wrestling, pasti bisa memahami jika industri ini sangat lah kejam. Tidak semua orang bisa menjadi main event superstar. Kemampuan, bakat dan kerja keras tidak cukup, harus ada faktor X supaya seseorang berhasil menjadi seorang pegulat papan atas, terutama untuk perusahaan raksasa WWE. Banyak pegulat yang berbakat, namun tidak semuanya yang memiliki faktor X tersebut. Sang owner, Vince McMahon menyebutnya "brass ring", dan sekali lagi, tidak semua superstar yang memiliki itu. Bahkan top face dalam sejarah WWE seperti Stone Cold, The Rock hingga John Cena sebenarnya tidak lah memiliki skill bintang 5 jika berbicara pada aspek bergulat nya saja, namun nama-nama tersebut, di mata Vince McMahon, memiliki faktor X itu sehingga berhasil menjadi ikon dalam WWE. Hingga sekarang, WWE pun masih berusaha untuk mencari suksesor John Cena untuk menjadi top face besar layaknya dia. Naskah Merchant cukup berhasil menyinggung hal ini. Zak mungkin lebih memiliki teknik gulat lebih baik dibanding Saraya, namun bagi Hutch, Zak tidak memiliki faktor X yang bisa menghantarkannya menjadi bintang.

Berbanding terbalik dengan Saraya. Meskipun teknik nya biasa-biasa saja, tetapi Hutch melihat ada sesuatu dalam diri Saraya, yang membuatnya jauh lebih unik dibandingkan superstar wanita milik WWE lainnya. Sudah menjadi rahasia umum jika sebelum women's revolution dalam WWE, kebanyakan pegulat wanita milik WWE direkrut dari model yang diajarkan teknik-teknik bergulat, yang berfungsi untuk menjadi eye candy para penonton pria dewasa. Dari Sable, Torrie Wilson, Stacy Kiebler, divisi wanita didominasi dengan pegulat wanita yang pirang dan berbodi seksi. Bahkan living legend seperti Trish Stratus saja pada awal nya berkaris sebagai manajer seksi, sebelum akhirnya memiliki teknik wrestling yang memadai dan mendapatkan respect dari WWE Universe (sebutan WWE untuk para penggemar). Saraya berbeda karena dibanding wanita lainnya, teknik nya sudah di atas rata-rata karena telah berkarir di dalam dunia gulat semenjak dini. Mungkin karena ini lah, Hutch memilih Saraya tanpa ragu-ragu, karena ia meyakini, Saraya memiliki kapabilitas untuk menghadirkan sebuah gebrakan yang baru.

Konflik ini lah yang mengakibatkan kerenggangan akan hubungan antara Zak dan Saraya. Dari awal yang selalu berlatih bersama, mendadak hubungan antar keduanya mendingin. Terlebih Saraya harus berangkat ke negeri Amerika untuk mendapatkan pelatihan di developmental territory, NXT. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi mental keduanya. Zak kehilangan semangat untuk melatih anak didiknya di WAW karena terlalu berfokus untuk kembali mendapatkan kesempatan untuk try out untuk WWE. Sedangkan Saraya yang sebenarnya memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan teman-teman wanita nya di NXT yang kebanyakan mantan model, justru mendapatkan kesulitan akibat kehilangan daya juang. Bahkan ia tidak sengaja mempermalukan dirinya sendiri ketika ia sadar jika orang yang selama ini ia remehkan, justru memiliki fighting spirit jauh lebih besar ketimbang dirinya. Secara terpisah, keduanya berperang terhadap diri sendiri. Zak dengan rasa iri dan cemburunya, dan Saraya yang merasa tidak enakan dengan saudara nya tersebut. Hingga pada di suatu titik, keduanya bertemu kembali di dalam ring, yang awalnya mereka dipertemukan untuk menjalani rutinitas acara wrestling untuk WAW pada umumnya, menjadi panggung puncak atas drama konflik yang terjadi antara keduanya.

Mungkin adegan yang terjadi di ring tersebut tidak lah terlalu melahirkan sebuah ironi yang luar biasa, namun sudah cukup untuk membuat saya sebagai penonton menyayangkan atas situasi yang terjadi. Semua ini tentu saja berkat pondasi naskah yang solid nan kokoh dari Merchant. Kita dibuat perduli akan hubungan persaudaraan mereka, dan kita pun bingung untuk mendukung siapa karena keduanya memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yang lebih menarik bagi saya justru adu mulut yang terjadi antara Zak dan Saraya setelah turun dari ring. Kalimat dari Saraya begitu mengena untuk saya, bahwa kita telah memiliki peran ideal masing-masing. Mungkin peran tersebut tidak mendapatkan perhatian banyak orang, namun tidak melunturkan betapa penting nya peran tersebut. Tanpa Zak sadari jika ia sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan sebuah harapan untuk anak didiknya yang mungkin saja bisa terjun ke dunia kriminalitas bila tanpa bimbingannya. Jujur saja,momen ini berhasil menyentil saya

Cukup disayangkan karena perseteruan batin antara keduanya tidak memiliki konklusi yang memuaskan. Ada kesan terburu-buru untuk akhirnya dua karakter ini kembali menemukan pijakannya dan bangkit kembali. Pergerakan narasi redemption nya pun terasa generik dan bergerak biasa saja tanpa terlalu meninggalkan kesan. Di adegan akhir pun, Merchant sebenarnya cukup berlebihan dalam hal menyuntikkan elemen dramatisasinya. Untungnya minor ini tertutupi berkat performa apik para pemeran utama. Tahun 2019 tampaknya menjadi tahun dimana nama seorang Florence Pugh patut menjadi salah satu rising star yang tak bisa diremehkan. Semenjak Midsommar, Pugh telah menyajikan salah satu kekuatannya, yaitu permainan emosi yang tidak terkesan berlebihan dan hal ini ia tunjukkan di film ini. Lihatlah ekspresinya kala menahan tangisan di adegan bandara. Atau kebisuan penuh arti saat ia gagal melakukan "promo" untuk pertama kali di depan penonton. Jack Lowden bermain pada ekspresi subtil untuk menggambarkan perasaan Zak dan ia melakukannya dengan baik. Dwayne Johnson tetaplah Dwayne Johnson, berkharisma dan selalu mencuri perhatian di setiap kehadirannya. Salah satu momen terbaik film ini pun ketika ia secara tiba-tiba melakukan persona nya sebagai The Rock yang kental mengandung unsur nostalgia. Vince Vaughn juga kembali menghadirkan performa solid sebagai trainer yang tegas.

Apakah film ini hanya diperuntukkan bagi penggemar wrestling? Tentu saja tidak. Baik anda merupakan penggemar atau bukan, Anda bisa menikmati film ini karena elemen-elemen wrestling nya disuntikkan sesuai dengan porsi nya. Bahkan bila Anda pun merupakan termasuk pihak yang meremehkan industri ini, justru Anda wajib menonton nya supaya setidaknya Anda mulai bisa mengapresiasi para "pelakon" yang terlibat di dunia wrestling. Mereka yang terlibat dengan dunia ini, tidak hanya mempertaruhkan badan mereka, namun juga kehidupan, keluarga serta mimpi hanya untuk menghibur para penggemar. Saya harap, dengan keberhasilan film ini mampu membuka mata WWE Studios supaya selanjutnya bisa membuat film-film yang mengedepankan hati, ketimbang sajian aksi.

8/10

Wednesday, 15 January 2020


"Damn ye! Let Neptune strike ye dead, Winslow! Haaark!"- Thomas Wake

Plot

Pemuda bernama Ephraim Winslow (Robert Pattinson) ditugaskan untuk mengoperasikan mercusuar di pulau terpencil di New England. Disana, ia akan ditemani dan diawasi oleh Thomas Wake (Willem Defoe), pria tua yang tampaknya telah lama bekerja di tempat tersebut.




Review

Bayangkan jika Anda diperintahkan untuk bekerja di tempat terpencil, hanya ditemani satu orang saja, melakukan pekerjaan berat layaknya kuli, dan parahnya, tanpa adanya hiburan teknologi dari smartphone mu, televisi, radio dan lainnya. Silahkan tanya diri sendiri, berapa lama Anda akan bertahan? Situasi ini lah yang melandasi sajian horror kedua milik Robert Eggers, setelah karya pertamanya, The Witch (2015), yang menyeramkan itu. Bila di karya debut nya, Eggers bermain dengan kutukan dongeng sihir, pada The Lighthouse, Eggers menampilkan kepiawaiannya dalam ngetwist psikologi karakter-karakter di film nya dengan menempatkan mereka pada situasi terisolasi. Dan karena masih bekerja sama dengan rumah produksi A24, jauhi harapan Anda bila ini adalah film konservatif seperti film horor psikologi pada umumnya. Siap-siap untuk mengantisipasi pergerakan narasi yang cenderung lambat, dan juga yang pasti akan kaya makna tersembunyi di dalam nya. Tentu film ini menantang kejelian serta kesabaran.

Eggers telah menanam bibit-bibit aura horor nya dengan terlebih dahulu memperkenalkan setting tempat yang akan menjadi panggung narasi nya. Dari deburan ombak kencang yang tak pernah berhenti, rumah tempat tinggal sementara untuk Winslow dan Thomas yang ala kadarnya dan minim pencahayaan, suara "misterius" yang memekakkan telinga, telah lebih dari cukup untuk menebalkan kesan terisolir pulau tersebut dengan dunia luar. Ditambah dengan film yang ditampilkan dalam balutan hitam putih untuk menambah kesan jadul, atau horor nya. Unsettling, tapi entah kenapa, perhatian saya telah terenggut sepenuhnya. Turut diselingi dengan sambutan dari Wake kepada Winslow yang tidak terlalu berkesan. Malam pertama Winslow semakin lengkap kala ia mengalami mimpi aneh yang melibatkan sosok mitologi di lautan (perhatikan poster film di atas).

40-50 menit awal film bergerak cenderung lambat dengan menyaksikan keseharian kedua karakter di pulau tersebut. Bisa jadi melelahkan, namun untungnya |Eggers masih berbaik hati untuk membangun perlahan konflik melalui interaksi antara Winslow dan Wake yang akan menjadi pusat nya. Karakter Wake sendiri memang bukanlah seorang atasan yang menyenangkan bagi pemula seperti Winslow. Banyak bicara dan selalu memerintah, ditambah lagi pembagian kerja yang ia berikan kepada Winslow juga tidak berimbang. Bila Wake bertugas di malam hari untuk merawat lampu mercusuar, sebaliknya, Winslow harus bekerja di pagi hingga siang dengan diberikan tanggung jawab atas pekerjaan-pekerjaan berat, seperti mengambil batu bara, membersihkan mesin jam, hingga harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu atau mengepel. Cobaan Winslow tidak berhenti di situ, dimana burung camar pun ikut-ikutan mengganggu hari-hari nya. Momen-momen ini memiliki substansi supaya penonton mampu memahami betapa berat dan tidak mengenakkannya keseharian Winslow selama bekerja di pulau tersebut.

Sampai ketika Winslow bangun di pagi hari setelah menghabiskan malam bermabuk-mabukan bersama Wake untuk merayakan kepulangan mereka, disitulah Eggers menaikkan tensi nya dengan menyajikan drama psikologi horor kepada penontonnya. Sebagai editor, Louis Ford menunjukkan taji nya disini. Penonton akan dibuat kebingungan mana fakta atau ilusi berkat editing nya. Parahnya lagi, kita juga tidak tahu harus percaya dengan siapa antara Winslow dan Wake. Point of view sedari menit pertama diambil dari Winslow, sehingga kita pun sulit untuk memegang sepenuhnya setiap ucapan dari Wake yang sering kali bertolak belakang dengan apa yang kita saksikan. Mempercayai Winslow pun bukan lah kebijakan yang tepat disebabkan kewarasannya yang semakin tergerus atas faktor tertekan dan kesepian yang melanda. Ya, sosok Winslow semakin lama semakin dikuasai oleh pulau tersebut. 

Hubungan antara Winslow dan Wake pun keanehannya berhasil membuat saya menggaruk kepala saya. Terkadang mereka menghabiskan waktu dengan pesta bersama sembari bersenda gurau, namun di lain kesempatan, tidak jarang terjadi adu mulut antar keduanya, dan semakin mendekati akhir, konflik antara mereka sudah masuk ke level baku hantam. Efektif sekali untuk menambah dosis ketidak nyamanan kepada penonton.

The Lighthouse disokongi oleh penampilan memikat dari Willem Defoe dan Robert Pattinson. Sebagai Wake, Defoe sukses memerankan karakter nya yang keras bagaikan seorang kapten bajak laut. Tubuhnya terlihat telah termakan usia, namun sosoknya layaknya raksasa ketika melontarkan perintah sehingga membuat karakter Winslow mau tidak mau menuruti perintahnya. Namun performa Pattinson patut menjadi highlight dalam film ini. Saya tahu jika Pattinson telah membuktikan dirinya mampu berakting di film-film sebelumnya (kecuali perannya di Twilight franchise), namun saya tidak mengira jika ia memiliki kapabilitas akting seperti yang ia tunjukkan dalam film ini. Kegilaan seorang Winslow ditampilkannya secara total. Simpati mudah diberikan untuknya kala ia berteriak penuh keputus asaan, walau akal sehat nya patut dipertanyakan. Lihatlah ekspresi nya di akhir film yang menyeimbangkan rasa sakit juga kegilaan.

8/10

Saturday, 11 January 2020



"You shouldn't be wasting your years on this God forsaken place. Far, far away from here, beyond the world of Thors, as the son of Thors, you must go there. That is your true battle."

Plot

Periode awal 1013 AD, periode dimana Raja Danish, Sweyn Forkbeard menguasai sebagian besar daratan England. Namun, dikarenakan usia sang raja sudah memasuki uzur, Raja Sweyn mulai mempertimbangkan penerus yang baginya layak untuk menyandang mahkota seorang raja. Raja Sweyn memiliki dua anak, yaitu Harold dan Canute. Bila Harold memiliki kapabilitas yang baik sebagai pangeran, tidak untuk Canute, yang tidak pernah berbicara di depan publik dan hampir selalu menutup muka nya dikarenakan malu. Sebab itulah, Raja Sweyn memerintahkan Canute untuk terjun langsung di medan perang, dengan pengawasan dari Ragnar, orang kepercayaan Raja Sweyn. 

Di sisi lain, di daratan Iceland yang damai, terdapat mantan komandan Jomsvikings bernama Thors yang tengah hidup damai dengan keluarganya. Pada masa nya sebagai komandan, Thors terkenal dengan kemampuan bertarung serta berpedang nya yang di atas rata-rata sehingga dirinya sangat ditakuti dalam dunia perang. Ia pun dijuluki sebagai "The Troll of Jom". Namun, Thors mulai lelah dengan perperangan, dan ketika ia akhirnya menjadi suami Helga, Thors melakukan suatu tindakan paling hina sebagai ksatria, yaitu kabur pada saat perang tengah berlangsung dengan cara memalsukan kematian ketika ia jatuh ke dalam laut. Selama 15 tahun setelah ia kabur, Thors dan Helga membangun sebuah keluarga yang damai di Iceland dan telah memiliki dua anak, yaitu Ylva dan Thorfinn.



Keberadaan Thors pun akhirnya diketahui oleh Floki, mantan rekan Thors di dunia perang. Floki pun memaksa Thors untuk ikut bergabung dengan Jomsvikings kembali, yang kini bergabung dengan pihak Danish, dan membantu mereka dalam perperangan melawan England. Floki pun mengancam jika Thors menolak ajakan dari nya, maka Floki dan pasukan perang nya akan menyerang desa yang menjadi tempat tinggal Thors. Thors pun terpaksa menerima ajakan Floki demi keselamatan desa nya. Namun, Floki sendiri pun memiliki rencana terselubung, dimana ia menjalin kesepakatan dengan Askeladd, ketua dari para tentara bayaran untuk membunuh Thors dalam perjalannnya.






Review

Sedikit berbagi, mood saya untuk menulis belakangan ini menurun secara drastis, yang secara tidak langsung pun ikut berimbas pada semangat saya untuk menonton atau pun membaca. Praktis, setelah Anomalisa, tontonan yang saya ikuti hanya lah anime ini. Niat untuk menulis ulasan Vinland Saga pun ikutan molor, dimana anime nya sendiri sudah menutup tirai ceritanya pada tgl 30 Desember 2019 kemarin. Bahkan terlintas dalam benak untuk sama sekali tidak menulis review untuk anime ini di dalam blog. Ya, serendah itu niat menulis saya. Namun, saya kembali berpikir, alangkah rugi nya saya jika sama sekali tidak berbagi kepada kalian mengenai Vinland Saga, yang bagi sebagian besar penikmat anime, merupakan salah satu, jika bukan, anime terbaik yang dirilis tahun baru.

Sebagai rumah studio yang bertanggung jawab dalam menangani animasi Vinland Saga, beban berat disandang oleh Wit Studio. Mengadaptasi manga critical acclaim layaknya Vinland Saga jelas bukanlah pekerjaan yang gampang. Ekspektasi tinggi tertancap dalam penggemar yang mengikuti kisahnya di manga. Tidak hanya itu, turut pula diselingi dengan keraguan apakah Wit Studio mampu melakukan pekerjaan baik, mengingat karya dari Makoto Yukimura ini sering disebut sebagai salah satu manga yang unadaptable. Apalagi masih terpatri jelas bagaimana kecewa yang sangat mendalam atas adaptasi anime terbaru Berserk. Hal yang wajar muncul skeptisme besar atas dirilisnya anime ini. Dan bagaimana hasil akhir nya? Well, you just read the closing statement from the first paraghraph.

Bila pada manga nya Makoto Yukimura sedikit menggunakan gaya cerita non linear dimana kita telah melihat Thorfinn dalam bentuk remaja dan telah bergabung dengan Askeladd, pada anime nya, justru kita mengikuti kisah nya benar-benar dari awal, tepatnya momen sebelum Thors berangkat ke medan perang setelah dipaksa oleh Floki. Bagi saya, ini pilihan yang cukup berani dari Wit Studio. Walaupun di chapter awal pembaca tidak terlalu mengerti akan inti atau konteks cerita, namun tak terpungkiri, Yukimura-sensei telah merenggut atensi pembaca dengan situasi perang yang ada. Sebaliknya, Vinland Saga versi anime dibuka dengan atmosfir yang tenang, juga hingga akhir episode pertama berakhir, tidak ada hal yang terlalu signifikan terjadi, selain kita mempelajari karakter sentral untuk episode-episode awal ini, siapa lagi kalau bukan Thors. Ya, setidaknya untuk 4 episode awal. Terdapat sebuah momen besar yang bisa saya katakan sangat berani yang dilakukan oleh Yukimura-sensei demi melahirkan motivasi utama bagi salah satu karakter protagonist utama. Bila Anda telah mengikuti manga ataupun anime nya, Anda pasti tahu momen apa yang saya maksud.

Bahkan lebih dari itu, momen tersebut ikut pula melahirkan sebuah pertanyaan yang secara tidak langsung ikut mempengaruhi beberapa karakter utama yang mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Iya, kurang lebih, inti cerita dari Vinland Saga adalah pencarian jati diri dan juga tujuan hidup dari masing-masing karakter, dengan kumpulan perperangan antara Danish dan England, serta intrik politik yang ikut menyertai menjadi jembatan atas narasi tersebut.

Satu hal yang membuat saya lebih mudah menyukai manga/anime bergenre seinen ketimbang shounen adalah setiap author memiliki kebebasan dalam menyajikan narasi yang lebih berani dan provokatif. Mereka lebih leluasa untuk menyentuh ke ranah yang bisa dibilang masih tabu demi narasi, ambil contoh the infamous rape scene from Berserk, dan dalam Vinland Saga, bagaimana seorang anti hero utama dengan mudah nya membantai habis satu desa supaya keberadaan mereka tidak diketahui oleh musuh. Bukan berarti dalam animanga Shounen tidak ada sama sekali yang berani melakukan hal yang sama (ex. Hunter X Hunter dan Fullmetal Alchemist), namun Anda bisa menemukan dengan mudah di animanga berjenis seinen.

Dalam Vinland Saga, satu-satu nya elemen shounen yang disuntikkan dalam cerita adalah Thorfinn itu sendiri yang masih berusia remaja. Namun karakterisasi nya jauh bertolak belakang, dimana sebagai protagonist utama, karakterisasinya lebih mendekati sebagai sosok anti hero ketimbang hero. Motivasi nya sendiri hanya satu, yaitu balas dendam. Dan untuk mencapai tujuan nya, telah banyak darah yang tumpah atas perbuatannya di medan perang, salah satu elemen yang dihindari dalam kisah animanga Shounen. Bagaimana sosok Thorfinn kecil yang ceria layaknya anak kecil lainnya, bertransformasi menjadi sosok remaja yang dengan mudahnya membunuh serta diliputi kebencian. Secara bijak, Wit Studio menyediakan proses transformasi Thorfinn dengan memperlihatkan perjuangannya untuk beradaptasi dengan kehidupannya yang baru. Hal ini membuat transformasi Thorfinn tersaji secara terperinci ketimbang apa yang ada di dalam manga.

Thorfinn sendiri nantinya akan bergabung dengan grup Askeladd. Tanya mengapa? Well, tentu saja untuk membalaskan dendam atas perbuatan Askeladd. Untuk membalaskan dendam nya, Throfinn ingin membunuh Askeladd dalam duel layaknya ksatria, ketimbang menggorok leher nya diam-diam kala Askeladd tengah beristirahat. Narasi ini memberikan kompleksitas sendiri akan hubungan antara Askeladd dan Thorfinn. Di satu sisi, Askeladd tampak hanya memanfaatkan kemampuan Thorfinn demi agenda nya tersendiri. Namun tidak jarang, Askeladd menaruh hormat kepada Thorfinn dan memperlakukan Thorfinn layaknya murid.

Karakterisasi menjadi kekuatan utama dari Vinland Saga. Setiap karakter memiliki layers, tidak one dimensional dan masing-masing memiliki motivasi yang berbeda, dan ini tidak hanya berlaku untuk karakter-karakter utama saja. Bahkan karakter minor seperti Atli, salah satu anggota grup Askeladd, pun bagaikan memiliki character arc nya sendiri ketimbang hanya menjadi salah satu bawahan dari Askeladd. Dan berbicara Askeladd, tak terpungkiri, ia berhasil menjadi karakter terbaik di dalam penceritaan Vinland Saga.

Patut diingat, Askeladd adalah the main antagonist dalam kisah Vinland Saga. Sebagai pemimpin grup Viking, ia tidak ragu menghalalkan segala cara demi menjalankan agenda nya. Dia taktikal, dan lebih menggunakan otak nya ketimbang terjun langsung untuk beradu pedang. Dan kemampuan pedang atau bertarung nya pun tidak bisa diremehkan, terlihat bagaimana ia mampu merepotkan Thors, yang notabene nya adalah karakter terkuat dalam dunia Vinland Saga. Tidak cukup dari itu, ia merupakan karakter yang kharismatik dan badass, baik sebagai pemimpin atau pun karakter, sehingga cukup susah untuk membencinya. Apalagi ketika di akhir-akhir episode, Askeladd menjadi salah satu fokus penceritaan dan kita pun akhirnya mengetahui backstory Askeladd serta motivasi utama nya. Character arc pada Askeladd pun memiliki ironi tersendiri, dimana rencananya selalu lancar ketika ia melakukan apa yang sebenarnya tidak ia inginkan, namun keberuntungan tersebut mulai menjauh kala Askeladd bertindak sepenuhnya berdasarkan keinginannya.


Penceritaan Vinland Saga makin kaya ketika Yukimura-sensei tidak melupakan "hati" pada narasinya, di tengah perperangan serta gorefest yang terjadi. Bagaimana Yukimura-sensei menyajikan kesedihan seorang ibu yang kasih sayangnya dikhianati kala melihat seorang anak menampilkan sisi pembunuh nya. Dan untuk Askeladd sendiri, siapa sangka bila karakter yang awal nya digambarkan seolah tanpa hati dan hanya bergerak berdasarkan keuntungannya sendiri, adalah sosok penyayang ibu dan tanah air nya, sehingga rela melakukan tindakan nekad yang terjadi di episode akhir. Aspek ini yang membuat Vinland Saga bukanlah tipe anime/manga yang mudah terlupakan. Ditambah pula balutan kental akan histori Viking nya yang diselipkan oleh sang author. Bahkan karakter-karakter utama dalam Vinland Saga sendiri diambil dari tokoh-tokoh sejarah di masa Viking.

Saya sangat mensyukuri atas keberhasilan Wit Studio dalam mengadaptasi Vinland Saga. Dengan ini, popularitas Vinland Saga semakin meningkat. Dan siapa tahu, dengan populer nya anime ini, semakin banyak manga Seinen yang diangkat ke dalam media anime, supaya mampu mengimbangi kedigdayaan animanga Shounen. Wit Studio mampu menciptakan atmosfir yang tepat di setiap momen-momen penting nya. Untuk adegan fight nya sendiri, Wit Studio berhasil memanfaatkan media animasi nya untuk menciptakan sebuah fight yang memberikan impresi mendalam, terlepas akan durasi singkat atas pertarungan tersebut. Setelah beberapa anime seinen yang cukup mengecewakan fans, pekerjaan brilian Wit Studio ini tentu saja layak sekali untuk diapresiasi. Semoga saja di season 2 nya nanti, Wit Studio masih menangani anime Vinland Saga.

Tidak ada cerita yang sempurna, begitu pula Vinland Saga. Dan dari sini, saya akan sedikit menyentuh spoiler, jadi lewatkan paragraf berikut ini jika Anda belum mengikuti sama sekali kisah nya.

Spoiler Ahead!

Kritik terbesar saya adalah transformasi tiba-tiba pada karakter Prince Canute. Sosoknya yang pemalu, terlihat pengecut, lemah dan sama sekali tidak memiliki kewibawaan sebagai pemimpin atau bahkan raja, berhasil menjadi sosok yang 180 derajat berbeda, dengan karakternya yang mendadak menjadi pangeran yang tegas, berwibawa serta taktikal? Saya tahu, banyak anime/manga yang mengambil pendekatan serupa, namun bagi saya, sangat susah untuk mempercayai transformasi yang muncul dalam hitungan beberapa menit. 

Spoiler Ends

Iya, hanya itu. Setidaknya hingga arc pertama habis yang dirangkum dalam 24 episode dan 54 chapter nya. Dengan setting nya yang diambil pada saat invasi Danish di tanah England, mungkin terbayang di benak bila Vinland Saga akan didominasi dengan kisah-kisah perperangannya, namun Vinland Saga tidak lain tidak bukan adalah kisah dimana tokoh-tokoh nya mencoba mencari tujuan hidup mereka di tengah perperangan yang terjadi. Dan percayalah, ketika Anda telah selesai menonton episode 24, Anda akan teriak dalam diri Anda, "I NEED TO READ A FUCKING MANGA!!". Yes, that's how great Vinland Saga is.

8,75/10

Saturday, 14 December 2019


"This is a twisted web, and we are not finished untangling it, not yet."- Benoit Blanc

Plot

Penulis novel terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer), ditemukan tewas di pagi hari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke 85. Dugaan kuat bila Harlan tewas akibat bunuh diri, namun dugaan tersebut tidak menghentikan detektif swasta, Benoit Blanc (Daniel Craig), untuk melakukan investigasi serta mengumpulkan satu demi satu pernyataan dari tiap anggota keluarga, termasuk caretaker pribadi Harlan, Marta (Ana de Armas). 



Review

Tidak akan ada yang memungkiri bila Star Wars: The Last Jedi merupakan film paling divisive pada dekade ini. Kritikus boleh saja menyukai, namun tidak bagi para penggemar, dan hal ini bisa dilihat di situs Rotten Tomatoes dimana terlihat jelas perbedaan antara rating dari kritikus dan penggemar. Tak perlu ditanya juga bagaimana penggemar Star Wars begitu membenci film tersebut dan sering kali, salah satu kambing hitam yang sering disalahkan atau menjadi korban hujatan adalah Rian Johnson, yang tidak lain tidak bukan adalah sutradara dari The Last Jedi. Kredibilitas seorang Rian Johnson pun dipertanyakan, dan tidak jarang pula ia dianggap sebagai sutradara terburuk di generasi sekarang. Penilaian yang berlebihan menurut saya, karena terlepas bagus atau tidaknya The Last Jedi, resume dari Rian Johnson tidak lah sembarangan. Ia merupakan orang yang menyutradarai episode Breaking Bad, Ozymandias, yang masih menjadi satu-satunya episode tv series yang memegang rating sempurna di imdb. Dengan Looper, Johnson pun mampu menghadirkan kisah time travel yang menegangkan. Dan mengingat Knives Out adalah film pertama yang disutradarai juga ditulis oleh Johnson setelah The Last Jedi, saya menganggap jika ini adalah ajang pembuktian untuk Johnson jika penilaian buruk dari para penggemar Star Wars adalah salah besar.

Apabila Anda merupakan penggemar film bertipe drama kriminal ala detektif dengan sentuhan whodunit, maka Knives Out jelas film yang sangat tepat untuk Anda. Pada setengah jam awal saja, Rian Johnson telah menghadirkan momen interogasi intens yang melibatkan Blanc serta dua letnan polisi, Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) yang akan memberikan pertanyaan kepada tiap anggota keluarga yang ditinggalkan mengenai kejadian di saat pesta ulang tahun. Dari Linda (Jamie Lee Curtis), putri sulung Harlan bersama suaminya, Richard (Don Johnson), Walt (Michael Shannon), putra Harlan yang menjalankan penerbitan buku yang ditulis Harlan, hingga Joni (Toni Collette), semuanya memberikan pernyataan berdasarkan dari pertanyaan yang diajukan oleh Elliot. Dari permulaan, setiap kesaksian yang diberikan oleh mereka terlihat aman-aman saja, hingga kendali interogasi dipegang oleh Detektif Blanc, yang sontak akan membuka tabir baru sehingga penonton mempelajari jika terdapat konflik antara karakter yang terlibat dengan Harlan. Tampak juga jika hubungan antar anggota keluarga tidak lah sebaik yang diperkirakan.

Dari momen interogasi itu saja, saya telah yakin jika Rian Johnson paham betul bagaimana menghadirkan sebuah kisah misteri yang mampu mengikat erat penonton untuk senantiasa mengikuti hingga akhir. Gelontoran baris dialog yang ia tulis dihadirkan begitu dinamis dan tentunya berpotensi menyimpan kunci petunjuk jawaban sehingga bukan pilihan yang bijak jika Anda pangling sedikit saja dari layar.  Sebagai editor, Bob Ducsay menunjukkan kepiawainnya disini dengan editing yang dinamis dan menjadikan adegan demi adegan layaknya puzzle jigsaw. Selain itu, kasus yang ada tidak pernah gagal untuk menggelitik penonton supaya ikut terlibat dalam menduga-duga siapa tersangka yang paling mencurigakan untuk melakukan pembunuhan, apalagi ketika Johnson menghadirkan setiap konflik yang terjadi melalui flashback yang ada. Penonton secara sukarela memperhatikan alibi, motif bahkan sampai ke karakterisasi masing-masing karakter. Ya, Johnson seolah mengajak penonton untuk terlibat langsung laiknya detektif Blanc.

Tulisan naskah dari Johnson merupakan faktor utama mengapa Knives Out berjalan begitu menyenangkan dan tidak pernah membosankan. Tidak hanya Johnson teliti dalam menyebarkan kepingan-kepingan petunjuk melalui dialog, namun juga piawai dalam meminimalisir adanya plot hole yang mengganggu. Ditambah lagi, Knives Out tidak hanya berfokus untuk mencari jawaban siapa pelaku, namun senantiasa ada turning point dimana naskahnya melebarkan sayap dan menambah fokus penceritaan, sehingga membuat Knives Out seolah tidak pernah kehabisan bensin untuk senantiasa menjaga atensi penonton untuk tetap mengikuti kisahnya. Subverts expectations yang dilakukan Rian Johnson mungkin menjadi poin yang paling dikritisi pada The Last Jedi, namun untuk kisah orisinil seperti ini, tentu saja poin tersebut menjadi satu kekuatan, dan ini tidak terlepas dari ketelitian Johnson dalam membangun kasusnya. 

Knives Out memang tidak berakhir dengan tanpa cela. Yang paling mengganggu jelas saat filmnya mencoba menyentuh ke ranah aksi yang bagi saya sedikit out of place sehingga kalaupun tanpa adegan tersebut, rasanya Knives Out tidak lah kekurangan apapun, bahkan mungkin jauh lebih baik. Dan mengenai dialog nya, Johnson memang telah meminimalisir untuk meniadakan plot hole mengganggu untuk kasus nya, namun saya tak menampik ada beberapa poin yang patut dipertanyakan sehingga ada poin-poin itu seperti dipaksakan supaya mendukung plot nya. 

Pada beberapa kesempatan, terdapat sentuhan isu politik yang terpapar dari dialog nya. Yang paling kentara adalah fakta negara asal dari Marta yang sering kali berubah-ubah keterangannya dari masing-masing karakter. Kritik satir untuk penduduk Amerika? Saya tidak tahu. Namun yang pasti, ada maksud tersembunyi dari Johnson. 



Naskah dari Rian Johnson memang menjadi kekuatan utama, namun tentu saja film yang bagus memerlukan para pemeran yang bermain optimal. Bersama The Irishman, Knives Out adalah salah satu film yang memiliki ensemble cast yang brilian. Masing-masing aktor mampu menghidupkan karakter masing-masing sehingga walaupun tidak terlalu mendapatkan screentime yang banyak, namun penonton tidak melupakan kehadirannya. Namun bila saya harus memilih yang terbaik, akan ada 3 nama yang muncul, yaitu Daniel Craig yang tampil mencolok dengan aksen southern nya, serta piawai dalam menghadirkan sosok detektif Blanc yang pintar layaknya detektif dan juga tidak jarang komikal, lalu Chris Evans yang patut mendapatkan kredit lebih usai mampu menanggalkan sosok Captain America dalam dirinya dengan memerankan Ramson yang menyebalkan dan terakhir tentu saja ada Ana de Armas sebagai Marta yang menjadi sumber emosi setiap menit film berjalan serta mudah untuk mendapatkan dukungan dari penonton berkat kharisma likeable (serta cantik, tentu saja) dari Ana. Susah untuk menjelaskan lebih jauh karena berpotensi spoiler, namun yang jelas pada saat turning point nya muncul di layar, tetap tidak bisa melepaskan dukungan saya terhadap Marta.

Ditutup dengan iringan musik akustik lembut dari Nathan Johnson, Knives Out pun berakhir bagaikan kelegaan dari penonton setelah kita akhirnya mengetahui jawaban sebenarnya melalui sebuah adegan yang sangat intens dan juga menuntut daya ingat dari penonton mengenai petunjuk-petunjuk yang telah disebar oleh Johnson. Ditambah pula dengan sebuah shot gambar yang cukup memorable, Rian Johnson membuktikan kepada penonton kasual seperti saya bila ia tidaklah seburuk seperti penggemar Star Wars tuduhkan dengan menghadirkan sebuah film misteri yang susah terlupakan. Tidak heran bila beberapa tahun kedepan, label classic movie akan menempel erat untuk Knives Out. 

8,5/10

Sunday, 8 December 2019


"You're the first person in this process who's spoken to me like a human"- Charlie

Plot

Pernikahan Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson) tengah berada di ujung tanduk sebab Nicole menggugat cerai Charlie. Awalnya, masing-masing ingin menyelesaikan secara damai. Namun perlahan, konflik antara mereka makin lama makin rumit sehingga keduanya melibatkan pengacara untuk mendapatkan jalan keluar. Permasalahan pun kian melebar, termasuk perebutan hak asuh Henry (Azhy Robertson), putra semata wayang Charlie dan Nicole. Nicole tentunya ingin Henry tinggal bersamanya di Los Angeles, namun masalahnya, Charlie pun memiliki keinginan yang sama dan ingin mengasuh Henry di New York. Charlie keberatan jika harus bolak balik New York-Los Angeles terus-terusan karena disamping banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, namun pekerjaannya sebagai sutradara teater pun ikut terganggu.



Review

Pada adegan pembuka, Marriage Story menyapa kita dengan voice over yang masing-masing merupakan testimoni dari Charlie dan Nicole. Diawali dengan Charlie menggambarkan sosok Nicole yang didominasi akan pujian nya terhadap Nicole, begitu pun sebaliknya. Nicole digambarkan oleh Charlie sebagai kepribadian yang mampu membuat orang nyaman di dekatnya, pendengar yang baik, aktris berbakat, tidak egois dan jago menari. Sedangkan Nicole menyukai Charlie yang berani untuk tidak mendengar pendapat orang lain demi cita-citanya, sangat menjaga kerapian, mandiri dan suka menjadi seorang ayah. Dari dua voice over yang terdengar, tampak bila Charlie dan Nicole seperti pasangan yang mencintai dan begitu mengenal satu sama lain, hingga ketika voice over selesai dan Noah Baumbach menghadirkan fakta kepada penonton jika keduanya tengah menghadapi proses perpisahan. Kurang dari 10 menit, Baumbach telah mengikat atensi saya untuk terus mengikuti kisahnya hingga akhir. 

Kita pun menangkap jika yang menginginkan perceraian adalah Nicole. Maka dari itu, narasi di awal akan bergerak dengan menelusuri motif dibalik keputusan Nicole tersebut dan sepenuhnya diambil dari sudut pandang Nicole. Namun sebelum menuju kesana, Baumbach memilih untuk membangun kedekatan penonton dengan Nicole. Kita diajak untuk mengenalnya, bagaimana interaksi antara dia dengan Charlie, Henry serta ibu dan adik nya, hingga ke pekerjaannya. Dari baris dialog, belum terlalu frontal karena Baumbach sengaja untuk menyebarkan keping-kepingnya terlebih dahulu sebelum kita akhirnya mendapatkan jawaban kala Nicole curhat dengan calon pengacara nya, Nora  Fanshaw (Laura Dern). Dan dari obrolan inilah, saya yang awalnya hanya berekspektasi Marriage Story sebagai film drama perceraian kebanyakan, mendapatkan suguhan adegan emosional yang mampu membuat saya terkesima. Dan percayalah, adegan seperti ini akan menyapamu berkali-kali dalam Marriage Story. 

Yang membuat Marriage Story begitu fantastis adalah kepekaan rasa dari Baumbach dalam membangun konfliknya serta keberhasilannya Baumbach untuk membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter. Baumbach tidak buru-buru dalam menjalankan narasinya. Pembagian screentime antara Charlie dan Nicole saya rasa juga sudah adil, karena Marriage Story sepenuhnya memang diambil dari POV dua karakter ini. Kita diajak untuk melihat perjalanan kedua karakter untuk mencoba menyelesaikan permasalahan diantara mereka, yang nantinya secara perlahan semakin melemahkan dan harapan untuk bisa kembali bersama juga ikut menipis. Dari Charlie dan Nicole sendiri menghadapi konflik ini dengan berbeda, dimana Nicole lebih terlihat fragile dan lemah, berbanding terbalik dengan Charlie yang lebih kalem serta santai. 

Namun dibalik terlihat lemahnya Nicole, nyatanya ia lebih bijak, fokus dan taktikal dalam mengurus perceraiannya. Dari baris dialog saja, kita mengetahui jika Nicole sudah beberapa kali mengunjungi kantor untuk mendapatkan pengacara, sebelum akhirnya ia menunjuk Nora sebagai pengacara resminya. Berkat ini pula Nicole sudah beberapa langkah di depan dibandingkan dengan Charlie yang tanpa sadar semakin ditekan oleh situasi. Minim pengetahuan tentang perceraian dan kenaifannya dalam menghadapi situasi mengakibatkan ia tertinggal jauh.

Iya, naif. Sebab Charlie masih menganggap Nicole tidak akan full power dalam melawannya. Charlie masih berpikir jika pintu untuk menyelesaikan permasalahan dengan calon mantan istri bisa dilakukan tanpa harus melibatkan pengacara, serta tanpa harus berakhir dengan saling menyakiti. Fakta ini juga mengindikasikan jika Charlie belum kenal betul dengan istrinya, yang turut pula didukung dengan curhatan Nicole sebelumnya. Pada momen ini, rasanya mudah bagi penonton untuk mendukung Nicole. Terlebih lagi juga akan terkuak fakta baru bila Charlie juga bukanlah suami yang baik-baik amat karena satu dosa yang telah dilakukan.

Menit per menit durasi film berjalan, Baumbach akan menghadirkan beberapa fakta untuk mendukung narasi. Yang membuat Marriage Story hebat lagi adalah kenyataan jika film ini cukup informatif bagi penonton yang sama sekali tidak tahu bagaimana proses perceraian serta peliknya urusan dalam mengambil hak asuh anak. Sudah rahasia umum jika fakta bukanlah hal yang konkrit dalam peradilan, namun saya tidak menduga juga jika satu statement yang terucap, bahkan sudah terlupakan mungkin saja, bisa menjadi motif yang kuat untuk menekan lawan. Ketika Charlie berusaha untuk mendapatkan pengacara pun kita disuguhkan dengan fakta serta situasi yang menarik. Dan Baumbach  dengan cermatnya menghadirkan dialog-dialog seringan mungkin untuk meminimalisir tersesatnya penonton. Sering kali juga terdapat humor menggelitik yang terselip di tengah situasi serius, seperti momen di persidangan atau ucapan dari Nicole kala Nora memeluknya pertama kali. Hal ini yang membuat Marriage Story tidaklah terlalu depresif untuk diikuti seperti Revolutionary Road atau Blue Valentine. 

Kala Adam Driver hampir mendominasi jalan cerita di pertengahan, di saat itu juga penonton mulai menyaksikan karakter Charlie semakin terlihat kehabisan jalan. Karakternya yang pada awalnya tenang, mulai menunjukkan kekhawatiran, dan pada satu titik pun kita akhirnya melihat keputus asaan yang ia rasakan. Ingat ketika saya sebelumnya bilang bila Baumbach mampu membuat penonton tidak sepenuhnya untuk mendukung salah satu karakter saja? Iya, pada momen inilah, kita bisa bersimpati pada karakter Charlie. Toh, terlepas dari kekurangannya, ia tetap adalah seorang ayah yang menyayangi putra nya. Dan melihat perjuangannya untuk mendapatkan hak asuh penuh, hingga nantinya bersedia keluar uang banyak demi mendapatkan pengacara yang mampu melawan Nora, Charlie berhasil menjadi lawan sepadan Nicole dalam hal merebut simpati penonton. 

Marriage Story secara mengejutkan berhasil mengaduk-aduk perasaan saya melihat konflik terjadi. Baumbach sukses memposisikan saya layaknya anak yang tengah menyaksikan ayah ibu nya bertengkar untuk mendapatkan saya. Kita ingin keduanya baik-baik saja, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menemani mereka kala dibutuhkan. Ada 2 atau 3 kali momen yang mampu membuat saya meneteskan air mata. Seperti tentu saja ketika Nicole akhirnya mengungkapkan alasan mengapa ia memutuskan untuk berpisah dengan Charlie. Ekspresi hopeless dari Adam Driver pun sering membuat saya trenyuh melihat nasib Charlie. Namun pertahanan saya untuk tidak menangis akhirnya jebol juga tepatnya pada saat Henry dan Charlie membaca sesuatu. Air mata yang menyayangkan kondisi sehingga membawa pasangan ini hingga ke titik itu. 

Baumbach juga begitu pintar untuk menyampaikan maksud tanpa harus ada dialog, hanya cukup dengan visual saja. Ambil contoh gambar di atas, dimana Nicole dan Charlie di dalam kereta, keduanya saling menatap dengan posisi berseberangan, dan terletak tiang pegangan kereta di tengah-tengah mereka. Mengindikasikan bila sebenarnya ada sekat di antara mereka berdua, namun sekat itu pula yang menghalangi mereka untuk membicarakan perasaan masing-masing. Situasi pun kembali dihadirkan oleh Baumbach ketika mereka berdua memutuskan untuk berbicara. Dengan pengambilan gambar yang sama, namun tanpa sekat. Dan pada momen ini lah kita mendapati momen penguras emosi terbesar yang mampu memaksa saya merasa miris dan sedih dalam diam, dimana Baumbach menelanjangi rasa terpendam masing-masing dari Nicole maupun Charlie. Brilian.

Adam Driver dan Scarlett Johansson jelas bermain fenomenal disini. Bagi saya, ini adalah peran paling emosional dari ScarJo, lengkap dengan ditanggalkannya kesan seksi yang selalu melekat pada dirinya sehingga penonton lebih terfokus pada aktingnya. Johansson mampu menampilkan kerapuhan Nicole tampak begitu nyata dan tidak mendramatisir, serta diimbanginya juga dengan kesan strong mother tanpa kehilangan kehangatan. Lihat saja momen ketika ia mengikat tali sepatu Charlie di suatu kesempatan. Driver pun juga tidak kalah fenomenal nya, dengan penampilannya sebagai Charlie yang perlahan semakin tidak tahu harus bagaimana lagi. Driver begitu piawai dalam berbicara secara subtil melalui mimik muka sehingga penonton ikut merasakan, meski tanpa iringan dialog atau ekspresi menangis dsb. Dengan meyakinkannya pula ia mempresentasikan kejatuhan seorang Charlie akibat kalah atas kondisi secara perlahan. Kala ia menyanyikan lagu "Being Alive", disitu pula puncaknya Driver membuncahkan semua rasa kesedihan dan pahit walau tanpa harus dengan air mata mengalir. Malah sepertinya penonton lah yang mampu ia buat menangis (saya hampir aja nangis lagi).

Marriage Story begitu merefleksikan pada kenyataan, dibantu dengan tiada hitam dan putih pada karakternya. Keduanya memiliki kelebihan, dan tak terlepas dengan kekurangan juga. Baumbach pun mengakhiri film nya dengan tone yang cukup hangat namun kental akan ironi berkat iringan musik dari Randy Newman. Pada akhirnya, kehidupan harus tetap berlangsung, dan kita pun kembali untuk beradaptasi dalam fase kehidupan yang baru. Marriage Story tentu memiliki kekurangan, dan yang paling jelas adalah durasinya yang cukup panjang yaitu 136 menit, namun dalam pengalaman menonton pertama saya tidak terlalu memikirkan kekurangan film ini. Yang saya tahu, Marriage Story adalah salah satu film tentang perceraian terbaik, bersama dengan Revolutionary Road atau Blue Valentine.



8,75/10

Thursday, 5 December 2019

"I prayed I'd never sin again if I could just get out of here. But then the fighting starts, and then you forget about everything. You're just trying to survive, stay alive"- Frank Sheeran

Plot

Berawal dari pertemuannya dengan Russel Bufalino (Joe Pesci), Frank Sheeran (Robert De Niro) yang awalnya hanyalah supir truk pengantar daging, semakin tenggelam dalam dunia mafia berkat pengaruh Russel yang merupakan salah satu orang paling berpengaruh di Pennsylvania. Kepercayaan yang Russel berikan kepada Frank membuat mereka berteman, dan pertemanan inilah yang mengantarkan Frank nantinya bisa bekerja menjadi pengawal pribadi Jimmy Hoffa (Al Pacino). Jimmy Hoffa sendiri adalah pemimpin serikat buruh di Amerika serta pendiri dari International Brotherhood of Teamsters.



Review

Dengan Goodfellas dan Casino, The Irishman bagaikan penutup trilogi film bertemakan mafia milik Martin Scorsese. Dua aktor yang juga terlibat di dua film tersebut ikut hadir, yaitu Robert De Niro dan Joe Pesci. The Irishman menandakan reuni panjang antara Scorsese bersama De Niro dan Pesci, dimana keduanya terakhir bekerja sama dengan Scorsese pada film Casino. Bagi Joe Pesci sendiri, ini adalah comeback nya setelah 9 tahun absen dalam dunia akting. 

Sebelumnya, saya ingin memberikan pujian kepada studio special effect Industrial Light and Magic yang bertanggung jawab "memudakan" para karakter di adegan flashback nya. Pekerjaan yang mereka lakukan nyaris sempurna, sehingga saya sering bertanya-tanya apakah proses syuting untuk bagian flashback ini dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Tentu bisa dimengerti jika budget dari film ini yang menyentuh angka 159 juta Dollar sebagian besar untuk membuat efek muda tiap karakter terlihat meyakinkan. Masih ada beberapa kekurangan pastinya, tetapi bagi saya masih bisa dimaklumi. 

The Irishman masih didominasi dengan segala tetek bengek kehidupan mafia yang mungkin telah Anda temui di film-fim mafia lainnya, seperti pengkhianatan, pengaruh mafia di dunia pemerintahan dan pastinya saling melenyapkan per individu yang dianggap bisa membahayakan organisasi. Namun yang membedakan The Irishman dengan film lainnya, termasuk Casino dan terutama Goodfellas, bagi saya adalah karakter Frank dan bagaimana Scorsese menyajikan ironi kehidupan dunia mafia nya. Biasanya protagonist utama dalam film mafia memiliki ambisi besar untuk bisa menguasai sesuatu, namun tidak untuk Frank. Disini Frank hanya lah sebagai "karyawan" yang mampu melakukan pekerjaannya dengan baik serta bisa dipercaya sehingga bos yang menyewa jasa nya pun mudah memberikan pekerjaan seberat apapun kepada Frank karena reputasinya. Tidak ada keinginan Frank untuk menjadi kepala pemimpin suatu organisasi. Tidak ada juga niat dari Frank untuk mengkhianati bos yang mempekerjakannya. Yah, setidaknya nanti kala ia harus menjalankan pekerjaan yang mungkin paling berat serta mempengaruhi kehidupannya.

Mengenai ironi yang saya sebut sebelumnya, bila pada Goodfellas serta Casino, Scorsese menyajikan glorifikasi dunia hitam mafia, dengan karakternya menghambur-hamburkan uang yang banyak, bermain wanita, dan sesuka hati bisa menghabisi seseorang dengan alasan apapun, tidak perduli apakah masuk akal atau tidak. Berkat itu juga Goodfellas dan Casino terasa menyenangkan, meskipun film nya sendiri begitu kental dengan dunia kriminalitas. Namun tidak untuk The Irishman. Bila dalam Goodfellas, tiap karakter diberikan kesempatan untuk memperlihatkan keberhasilan atas pekerjaan yang dilakukan, dalam The Irishman, Scorsese memperlihatkan akan busuknya kehidupan mafia yang kejam.  Lengkap pula dengan bagian aftermath yang terdapat dalam film ini, namun minus di dua film predesor. Ya, dengan aftermath yang tersaji, Scorsese menyajikan sebuah fakta pahit yang harus diterima satu karakter. Sebuah hasil memilukan yang tak terlepas dari semua pekerjaan kotor yang telah dilakukan. 

The Irishman terasa begitu padat berkat segala konspirasi serta konflik-konflik yang terjadi. Tidak hanya itu, begitu banyak karakter-karakter yang terlibat dan berpengaruh pada keberlangsungan narasi. Maka merupakan hal yang wajar jika penonton sedikit tersesat, merasa bingung siapa karakter ini dan kapan sebelumnya karakter ini diperkenalkan. Percayalah, Scorsese telah berusaha sebisa mungkin untuk membantu penonton untuk tidak merasakan kebingungan. Terlihat dimana Scorsese berbaik hati menyertakan nama masing-masing karakter pada saat diperkenalkan, lengkap pula dengan "berita" kematian masing-masing dari karakter.

Kenyataan bila naskah yang diadaptasi dari buku Charles Brandt terasa sangat padat, begitu banyak nya karakter serta durasinya yang bukan main panjangnya untuk saya merupakan hal positif serta negatif dari The Irishman. Negatifnya, tentu film ini kurang bisa mencengkeram penonton kasual yang belum pernah mencicipi film Scorsese sebelumnya. The Irishman bertumpu sepenuhnya dengan banter dialognya yang banyak, serta narasi yang disuarakan oleh De Niro sendiri. Melelahkan? Tentu saja, jika Anda, sekali lagi belum pernah menyentuh film-film Scorsese sama sekali. Dan sekali lagi, durasi 3 jam lebihnya benar-benar menuntut kesabaran penonton.

Namun jika Anda merupakan penggemar film, atau lebih tepatnya penggemar Scorsese, The Irishman jelas merupakan sajian mafia epic yang tidak cukup hanya ditonton sekali saja. Berbagai poin cerita mungkin terlupa dengan seiring durasi berjalan, namun itu tidak masalah karena The Irishman sudah berhasil mengikat dengan narasinya. Tentu untuk saya sendiri, The Irishman tidak cukup ditonton sekali saja. Ada perasaan ingin menonton kembali dari awal, karena selain kisahnya sendiri yang benar-benar menarik (kisah dunia underworld memang tak bisa disangkal selalu menarik untuk diikuti), namun juga berkat penyutradaraan dari Scorsese yang semakin menunjukkan tajinya walau telah berusia cukup uzur.

Identitas gaya penyutradaraan Scorsese tentu saja masih mudah terasa. Opening nya saja ia tampilkan dengan tracking shot ciri khas Scorsese, sebelum kita akhirnya melihat sosok Frank yang sedang duduk di kursi roda nya, dan seketika breaking the 4th wall pun sudah hadir, dimana Frank pun mulai menceritakan kisah nya sambil menatap ke kamera. Voice over mendominasi dalam jalannya menit-menit film berjalan untuk membantu penonton supaya tidak terlalu bingung dengan rumitnya penceritaan yang ada. 

Di atas kertas, film Scorsese yang ke 26 ini terlihat kelam, namun fakta di lapangan cukup berbeda, dimana Scorsese masih menyelipkan beberapa black comedy yang bisa membuat mu tertawa, setidaknya untuk saya. Dan mengejutkannya lagi, Al Pacino, yang baru pertama kali bekerja sama dengan Scorsese, merupakan penyumbang tawa terbanyak berkat karakternya yang keras kepala, kharismatik dan memiliki masalah pada short temper nya. Komentarnya mengenai nama "Tony" yang begitu mainstream untuk orang kelahiran Italia adalah satu dari sekian banyak nya Al Pacino mampu membuat saya tertawa di kala adegan yang sebenarnya bisa meningkatkan tensi ketegangan. Naskah dari Steven Zaillian begitu pintar dalam menyajikan humor nya yang pas akan timing serta berkelas. 

Akting yang begitu berenergi dari Al Pacino turut pula diimbangi dengan penampilan memuaskan dari Robert De Niro dan Joe Pesci. Pesci sendiri memerankan karakter yang begitu berbeda dibandingkan dengan dua peran sebelumnya di Goodfellas dan Casino. Disini ia tampil dengan lebih tenang, lebih mengandalkan baris dialog untuk menunjukkan kewibawaan tanpa menghilangkan atmosfir intimidatif dari karakternya. De Niro pun tampil luar biasa sebagai protagonist utama dalam menampilkan konflik batin dari Frank dengan memanfaatkan ekspresi muka yang subtil, kaya makna, serta tatapan mata nya yang sayu akibat dari kondisi yang tidak mengijinkannya untuk mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri. Tidak heran jika nantinya ketiga nama aktor veteran ini akan tampil di daftar nominasi aktor utama/pendukung terbaik di perhelatan Oscar tahun depan.

Momen terbaik The Irishman sendiri adalah ketika Frank dihadapkan pada dilema yang memaksanya harus menghadapi keputusan yang sangat sulit. Dari sini, Scorsese meminimalisir penggunaan soundtrack-soundtrack nya demi mengoptimalkan ketegangan di setiap adegan. Slow build yang dilakukan Scorsese kala Frank menginjakkan kaki di kota Detroit berhasil memaksa saya ikut merasakan kegelisahan serta dilematis yang dirasakan Frank. Apakah ia harus mengikuti perintah dari orang yang telah membesarkannya atau menyelamatkan salah satu teman terdekatnya. Yang mana pun nanti ia pilih, tentu tidak akan berdampak baik untuk Frank. Disinilah The Irishman menunjukkan betapa pahitnya dunia mafia yang Frank geluti. 

Begitu ironis kala Frank rela melakukan berbagai kejahatan tentunya untuk membuat keluarganya sejahtera dan hidup tenang. Frank begitu menyayangi keluarganya, bahkan ketika salah satu putrinya didorong oleh pemilik toko roti, Frank tanpa pikir panjang menghampiri dan menghajar pemilik tersebut. Namun pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan Frank tetaplah kejahatan dan semua benih kejahatan yang ia lakukan harus memaksanya untuk semakin menjauh dari keluarga, terutama anak-anaknya. Bisa saja Frank melakukan pekerjaannya sebagai hitman dengan brilian, namun bukan berarti ia juga berhasil menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. 

Setelah sebelumnya kita menyaksikan semua intrik serta konflik yang terjadi, 30 menit terakhir dalam The Irishman justru tampil dengan sunyi. Mengeksplorasi kehidupan tua dari satu karakter yang penuh dengan penyesalan, bersalah atas semua kesalahan yang telah dilakukan, tanpa seorang pun disisinya. Meninggalkan ia sendiri setelah yang terkasih, teman atau bahkan musuhnya telah berkunjung ke kehidupan selanjutnya terlebih dulu. Kehidupan masa tua nya ini seolah merupakan pembalasan atas masa lalu akibat penyakit yang diderita, rasa berdosa dan sesal, juga kesendirian yang harus ia tempuh. Sebuah aftermath yang cukup emosional dan sempurna untuk menutup kisah epik dari Scorsese ini. 

9/10

Sunday, 17 November 2019

"A king has no friends. Only followers and foe"- Sir John Falstaff

Plot

Hal (Timothee Chalamet), pangeran berjiwa bebas serta pewaris sah akan tahta kerajaan Inggris, harus segera mengisi kursi raja setelah wafatnya sang ayah, King Henry IV (Ben Mendelsohn), akibat penyakit. Didorong oleh rasa benci dan hubungan tidak baik dengan ayahnya, Hal berkeinginan untuk menjadi raja yang berkuasa atas idealisme nya sendiri, serta membuktikan jika ia adalah raja yang jauh lebih baik ketimbang ayahnya. Niat dari Hal ini bukan hal yang mudah dipertahankan mengingat kekacauan dan konflik yang ditinggalkan oleh sang ayah bersama kerajaan yang lain.




Review

Umurnya belum genap 24 tahun, namun aktor muda Timothy Chalamet telah memiliki pengalaman berakting yang tidak bisa diremehkan. Chalamet merupakan salah satu aktor muda saat ini yang diyakini akan memiliki masa depan yang cemerlang sebagai aktor. Sebelum 2 tahun lalu ia mengangkat nama lewat Call Me by Your Name, yang pula mengantarkan dirinya mendapatkan nominasi Oscar pertama untuknya, Chalamet telah mencuri perhatian melalui penampilan mengesankan di film Miss Stevens dan Lady Bird. Tidak berlebihan jika banyak menganggap dirinya adalah sebagai aktor muda terbaik saat ini dan digadang-gadang sebagai the next Leonardo Dicaprio.

Dalam The King, Chalamet kembali menunjukkan performa yang prima sebagai raja muda yang masih hijau dalam menangani seluk beluk mengenai kerajaan. Tentu bukan sembarang aktor untuk bisa memerankan seorang raja. Perlu kharisma dan kewibawaan tingkat tinggi untuk bisa meyakinkan penonton jika ia layak untuk menjadi seorang raja, dan Chalamet memiliki ini. Tanpa tahta menghiasi kepalanya, telah terpancar kharisma seorang pria yang patut disegani dari Chalamet. Terlihat kala dalam satu adegan ketika ia satu layar dengan adik dari Hal, Thomas (Dean-Charles Chapman), penonton sudah bisa merasakan jika Hal lebih layak menjadi raja ketimbang Thomas. Dalam menunjukkan kemampuan akting, tatapan mata senantiasa ia jadikan wadah untuk berbicara kepada penonton sebagai gambaran suasana hati yang sedang dirasakan karakter nya. 

Kematangan akting dari Chalamet berperan cukup besar untuk bisa membuat saya betah senantiasa mengikuti film keluaran dari Netflix ini. Jujur, film bertemakan kerajaan bukanlah selera saya. Apalagi The King memiliki tempo lambat dengan minim intensitas ketegangan, sebelum nantinya pasukan Inggris yang diketuai Hal sebagai King Henry V menginjakkan kaki di wilayah Prancis untuk berperang. Untungnya, naskah garapan Joel Edgerton dan David Michod, yang juga duduk di kursi sutradara, cukup solid.

Ada konflik yang tersaji di dalam kerajaan, dari isu siapa yang sebaiknya menjadi pengganti King Henry IV, serta tidak berpengalamannya Hal ketika ia telah menduduki kursi raja. Keinginan Hal sebenarnya hanya satu, yaitu ia tidak ingin mencontoh cara berkuasa sang ayah. Karena itu sebisa mungkin ia menjauhi konflik dan memprioritaskan kedamaian. Namun tentunya keinginan ini tidak bertahan lama ketika ia didesak oleh beberapa situasi yang mempertaruhkan harga diri kerajaan Inggris. Tidak hanya itu, kapabilitas Hal sebagai raja pun juga ikut dipertaruhkan. Setidaknya satu jam pertama, narasi cerita dipenuhi akan konflik apakah nantinya Hal tetap ingin menjadi raja sesuai keinginannya atau ia harus menunjukkan "kekejaman" layaknya raja sebelumnya untuk membuktikan jika ia pantas untuk menjadi raja.

Walau memang sekali lagi temponya berjalan lambat, tetapi narasi ini telah menjadi fondasi yang cukup kuat untuk menjembatani pada adegan perperangan yang menjadi klimaksnya. Perperangan yang terjadi sebenarnya tidak lah menunjukkan hal yang baru, bahkan bisa dibilang bagaikan copy paste dari Battle of Bastard nya Game of Thrones, dengan mengandalkan teror claustrophobic untuk membuat penonton menahan nafas. Glorifikasi dikesampingkan dimana Michod lebih memilih menyajikan perang nya serealistis mungkin lengkap dengan lumpur tanah yang menambah kesan sesak akibat ruang untuk bergerak begitu sempit. Pilihan yang patut diapresiasi karena mampu menggambarkan neraka akan perperangan. Namun perang antara Inggris dan Prancis ini cukup terasa menegangkan dikarenakan adanya narasi yang solid sebelumnya. Pada perang inilah terlihat apakah Hal layak menjadi raja atau tidak. Dari perang ini pula lah, keputusan Hal untuk mengangkat temannya sebelum menjadi raja yang merupakan mantan prajurit pemabuk dan hobi merampok, John Falstaff (Joel Edgerton) sebagai taktikal perang adalah keputusan yang keliru atau tidak. 

Joel Edgerton sendiri bermain memukau dengan memerankan seorang mentor sekaligus teman bagi Hal. Karakter nya senantiasa menjadi moral compass untuk tetap membimbing Hal supaya dirinya tidak kehilangan jati diri sebenarnya. Namun yang menjadi scene stealer sendiri adalah Robert Pattinson yang berperan sebagai pangeran Prancis eksentrik, Dauphin. Akting yang ia tampilkan disini semakin menambah keyakinan saya jika nanti ia tidak akan mengecewakan kala ia memerankan Bruce Wayne di film The Batman mendatang. 

Michod pun menutup kisah The King dengan menampilkan fakta menghenyak, yang semakin menguatkan jika Hal tidak akan bisa menjadi raja yang sesungguhnya jika ia tidak memiliki orang terpercaya di dekatnya. Walau keakuratan sejarah dari film ini patut dipertanyakan, namun tak tertampik jika The King merupakan sajian film historical drama yang cukup menghibur berkat narasinya yang solid serta penampilan memukau para aktor nya. Kredit lebih juga patut diberikan untuk sinematografer, Adam Arkapaw, dalam kemampuannya menghadirkan gambar demi gambar yang memanjakan mata.

7,75/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!