Wednesday, 27 November 2019

"This world is about the power of the sword and coin. If that sword can destroy humans, you could conquer the world with it. If you're the greatest thief in the world, you have to steal the world"

Plot

Bersetting pada era Sengoku, dimana peperangan merebut wilayah satu sama lain terjadi di berbagai wilayah Jepang, menyebabkan tersebarnya berbagai kesulitan di semua tempat. Tidak terkecuali Provinsi Kaga yang diserang kemiskinan akibat kekeringan, kelaparan dan terjangkit wabah penyakit yang mengakibatkan kematian. Karena itu, pemimpin provinsi Kaga, Daigo Kagemitsu melakukan kesepakatan dengan dua belas iblis. Daigo meminta kesejahteraan dan kekuasaan pada wilayahnya, dengan rela menyerahkan semua yang ia punya sebagai bayarannya. 

Pada saat bersamaan, istri Daigo, Nuinokata, sedang dalam proses melahirkan. Dan tidak lama setelah Daigo mengadakan kesepakatan dengan para iblis tersebut, anak pertama mereka pun hadir di dunia. Namun tragisnya, anak pertama mereka lahir dengan mengenaskan, dimana ia lahir tanpa organ tubuh seperti mata,  telinga, kulit, hidung, tangan dan kaki, namun ia tetap menghembuskan nafas. Ketika Daigo melihat sang anak, Daigo pun merasa yakin jika kesepakatannya dikabulkan oleh dua iblis dan memerintahkan dukun beranak yang membantu istrinya melahirkan untuk membunuh anak tersebut. Tentu Nuinokata menolak, namun Daigo tetap pada keputusannya.



Dikarenakan tidak tega, dukun beranak tersebut memilih membuang si anak di sungai ketimbang membunuhnya, dengan menyerahkan keberuntungan si anak sepenuhnya pada Buddha. Taktir pun mempertemukan nya dengan Jukai, mantan bawahan Raja Shiba yang kini berprofesi sebagai dokter ahli prostetik. Jukai merasa kasihan dengan kondisi yang dialami oleh anak tersebut sehingga memutuskan untuk merawatnya serta memberikan anggota tubuh prostetik padanya. Jukai pun memberikan nama untuknya Hyakkimaru. 

16 tahun kemudian, Hyakkimaru telah menjadi ronin dengan kemampuan di atas rata-rata berkat latihan yang diberikan oleh Jukai. Tujuan Hyakkimaru hanya satu, yaitu memburu para iblis atau siluman. Dalam perjalanannya, Hyakkimaru bertemu dengan pencuri cilik bernama Dororo, yang diselamatkan nya dari serangan siluman. Melihat kehebatan Hyakkimaru, Dororo pun memutuskan untuk menemani Hyakkimaru mengembara seraya mengharapkan keuntungan dari setiap siluman yang nantinya akan dibasmi oleh Hyakkimaru. 




Review

Melihat premisnya, seketika saya teringat film dari Joko Anwar terbaru, Perempuan Tanah Jahanam, yang memiliki sedikit kemiripan dari kutukan dan bayi yang lahir cacat. Apakah bang Joko terinspirasi dari Dororo, mengingat kisah Dororo hasil karya dari Osamu Tetzuka ini telah ada semenjak tahun 60an, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, dengan premis nya tersebut telah menanamkan rasa ketertarikan saya untuk mencoba mengikuti anime nya. 

Dengan 24 episode, Dororo didominasi akan cerita Hyakkimaru berusaha mengalahkan para siluman yang ia temui. Tersibak fakta pula jika ia mampu membasmi siluman tertentu, Hyakkimaru akan mendapatkan satu demi satu organ tubuhnya kembali. Pada saat menyelamatkan Dororo pertama kali saja, Hyakkimaru mendapatkan wajahnya kembali tidak lama setelah mengalahkan si siluman. Pada awal hingga pertengahan, kisah Dororo harus diakui cukup repetitif. Hyakkimaru dan Dororo berkunjung di suatu wilayah, dan akan bertarung dengan siluman yang mendiami di wilayah tersebut. Kisah pun hampir selalu berakhir dengan kemenangan Hyakkimaru, dan kita pun akan bertanya, bagian tubuh mana yang akan didapatkan oleh Hyakkimaru. Mudah beranggapan jika episode-episode tersebut terkesan filler, namun setelah mengakhiri 24 episode yang ada, saya akhirnya mengerti mengapa Dororo memiliki jalan kisah seperti ini. 

Perjalanan Hyakkimaru memang didominasi dengan pertarungannya dengan para siluman, namun bersamaan pula, Hyakkimaru sedang melakukan pertarungan dengan ayahnya sendiri, Daigo Kamitsu. Daigo merupakan orang paling bertanggung jawab yang menyebabkan Hyakkimaru harus menderita semenjak kecil. Akibat kesepakatan yang ia lakukan bersama dua belas iblis, Hyakkimaru harus menjadi tumbal. Dengan semakin banyak siluman yang ia kalahkan, semakin dekat pula Hyakkimaru mampu mengalahkan Daigo. Ya, ini adalah kisah seorang pria yang ingin merebut apa yang seharusnya ia miliki, dan dengan keinginan tersebut, Hyakkimaru bersedia melawan ayahnya sendiri, yang bekerja sama dengan para iblis. Kalimat sederhananya, Hyakkimaru sedang berperang melawan dunia.

Wilayah-wilayah yang dikunjungi, Hyakkimaru dan Dororo akan selalu mendapati suatu tempat yang menjadi korban dari situasi perang yang terjadi. Kemiskinan serta kelaparan mengakibatkan banyak jatuh korban yang meninggal, anak-anak menjadi yatim piatu dan masyarakat yang masih hidup harus mencari segala cara untuk tetap bertahan. Tidak hanya itu, penyakit pun tidak jarang menyerang di suatu tempat. Kondisi yang penuh akan keputusasaan ini lah yang menyebabkan suatu individu rela melakukan apapun. Daigo tidak sendiri, karena di berbagai wilayah lain, masih ada pemimpin yang tidak sungkan untuk melakukan pengorbanan demi kemakmuran wilayah nya.

Hyakkimaru dan Dororo akan sering berjumpa fakta sebuah tragedi naas yang terjadi. Selalu akan ada rahasia kelam yang tersimpan di suatu wilayah yang kelak akan mereka temui. Contohnya pada Moriko arc yang berhasil memberikan efek mendalam bagi Hyakkimaru dan Dororo. Tergambar jelas luka dalam akibat perang sehingga mampu memaksa seseorang harus mengorbankan apa yang paling berharga di dalam diri mereka.  Moriko arc sendiri ditutup dengan momen memorable yang berhasil membuat arc ini menjadi fan favorite dalam anime Dororo.

Membahas Dororo tidak akan bisa lepas dari motif para karakter, yang bagi saya merupakan aspek terkuat untuk anime ini. Masing-masing karakter memiliki motif sehingga rela melakukan tindakan seberat apapun demi keyakinan yang dimiliki. Ambil contoh Daigo. Mudah saja membenci tindakannya, karena pada kenyataannya, setiap konflik dan penderitaan yang dialami oleh karakter-karakter utama di Dororo tidak bisa dilepaskan karena keputusan dari Daigo. Namun, apa yang mendorong Daigo hingga nekad melakukan kesepakatan bersama iblis juga tidak bisa kita salahi sepenuhnya. Memang, niat utamanya adalah untuk menasbihkan dirinya menjadi penguasa, namun, kenyataannya dengan kesepakatan yang ia lakukan, wilayah yang ia kuasai ternyata menjadi salah satu sedikit wilayah yang makmur, kaya dan rakyatnya sejahtera.  Tentunya semua ini berkat pengorbanan yang dilakukan Daigo.

Namun yang menjadi masalah, apa yang telah dikorbankan Daigo, Hyakkimaru, masih hidup dan semakin hari semakin kuat untuk bisa mengambil kembali bagian tubuhnya. Terlebih, setiap kali Hyakkimaru mengalahkan siluman dan mendapatkan anggota tubuh, maka provinsi Kaga sedikit demi sedikit harus mengalami bencana kembali. Kekeringan dan wabah penyakit juga kembali melanda. Hyakkimaru pun memiliki alasannya tersendiri. Ya siapa coba yang bisa menerima kenyataan harus hidup minus organ-organ tubuh layaknya manusia normal? Tentu saja Hyakkimaru ingin melihat, berbicara, dan mengendus sesuatu seperti manusia lainnya. Ketika ia memiliki kesempatan untuk merebut kembali apa yang seharusnya ia miliki, tentu Hyakkimaru tidak akan tinggal diam.

Situasi inilah yang seketika memberikan pergelutan batin untuk penonton. Kita kesulitan untuk mendukung tindakan setiap karakter. Pada awalnya, gampang saja kita menaruh dukungan untuk Hyakkimaru dan berharap ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun berkembang dari episode ke episode, kita pun menyadari jika setiap kali Hyakkimaru menginjakkan kaki di suatu tempat, tidak jarang tempat tersebut akan diterpa kesialan. Eksistensi Hyakkimaru juga memberikan efek besar atas kesusahan yang dialami Provinsi Kaga. Ditambah lagi, semakin sering Hyakkimaru membantai siluman, jiwa kemanusiaannya juga ikutan terkikis sedikit demi sedikit. Dan berjalannya waktu pun Hyakkimaru harus terjebak dalam situasi dimana ia harus pula membunuh sesama manusia. Apakah kehadiran Hyakkimaru benar-benar memberikan kesialan dan sebaiknya ia "hilang" saja?

Hyakkimaru pun mendapatkan rival sepadan, Tahomaru, yang tidak lain tidak bukan adik kandungnya sendiri. Saya sempat menduga awalnya jika Tahomaru tidak lain hanya lah bocah egois layaknya antagonis pada umumnya. Namun ternyata tidak demikian. Malahan, Osamu Tetzuka memposisikan Tahomaru layaknya hero yang sebenarnya disini. Ia pangeran yang pengertian, perduli terhadap rakyatnya dan rela berjuang sendiri kala mereka kesulitan. Hubungan dekat dengan dua pengawal pribadi nya, Mutsu dan Hyogo juga memberikan pendalaman karakter untuk Tahomaru. Karakterisasi ini semakin membingungkan penonton untuk memberikan dukungan kepada siapa. Memang, ada momen dimana Tahomaru terlihat bak samurai kejam, namun itu hanya ia tunjukkan kepada Hyakkimaru. Setiap tindakannya memang murni untuk menjaga kesejahteraan rakyatnya. Berbeda dengan Hyakkimaru karena di pertengahan episode, Hyakkimaru bertransformasi menjadi anti hero setelah dalam suatu arc, ia benar-benar tidak perduli dengan apa yang terjadi pada suatu desa akibat tindakan yang ia lakukan. Secara perlahan, Hyakkimaru bisa saja menjadi iblis sepenuhnya.

Disinilah fungsi peran Dororo unjuk gigi. Pertama, Dororo menyuntikkan banyak energi positif untuk anime ini. Anime Dororo begitu kental akan atmosfir kelamnya, juga kepribadian Hyakkimaru terlalu gloomy serta keterbatasan bicara nya juga menambah kesan tersebut. Namun berkat Dororo, perjalanan Hyakkimaru menjadi tidak membosankan. Tetzuka pun juga memberikan pendalaman untuk Dororo, sehingga ia jatuhnya tidak menjadi side kick normal saja. Akan ada penggemar yang tidak menyukai Dororo karena terlalu seringnya berteriak "Aniki" dan tidak jarang menempatkan mereka berdua dalam situasi bahaya, namun keberadaan Dororo bagai pengingat untuk Hyakkimaru jika ia adalah manusia. Terkadang juga Dororo menampilkan kedewasaannya berkat pengalaman hidupnya yang pahit. Tercipta nuansa yang menarik akan hubungan Hyakkimaru-Dororo dan semakin jauh perjalanan mereka, semakin tersadar juga untuk mereka berdua jika mereka saling membutuhkan.

Saya sangat menyukai konflik yang terjadi dalam Dororo. Namun sayang, anime ini tidak terlepas dari kekurangan yang cukup mengganggu. Pertama, struktur "monster of the week" nya menyebabkan kental nya kesan filler. Misal pada satu episode, ada satu kejadian yang cukup monumental dan berpengaruh besar untuk Hyakkimaru dan Dororo, namun setelah nya, kejadian tersebut seolah tidak terjadi karena tidak diungkit kembali. Tidak jarang saya merasa apakah saya menonton episode yang benar atau tidak karena keanehan ini.

Pacing Dororo juga cukup parah. Saya sebenarnya bukanlah tipe penonton yang terlalu kritikal terhadap pacing, namun apa yang tersaji dalam Dororo memang susah untuk dinafikan. Transisi antar adegan ke adegan lain terasa kasar, sehingga banyak kejadian yang terasa menggantung. Belum sempat menonton untuk meresapi suatu kejadian, namun adegan nya telah berpindah ke situasi yang lain. Tentu saja ini cukup mengganggu bagi saya dalam mencoba untuk mendalami kisahnya. Untungnya permasalahan pacing ini hanya terasa di 10 episode awal, karena mendekati akhir, pacing yang ada tidak terlalu kenikmatan menonton saya.

Pertarungan yang terjadi dalam Dororo juga tidak memiliki koreografi yang mind blowing, namun bagi saya ini tidak menjadi masalah karena toh dengan narasi yang mendasarinya saja, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya perduli dengan adegan fight nya, terutama ketika Hyakkimaru dan Tahomaru harus beradu pedang.

Overall, Dororo mungkin tidak akan menjadi anime instant classic, namun berkat konflik cerita yang sangat menarik dan membuat saya tidak sabar untuk segera mengakhirinya, Dororo memberikan pengalaman menonton yang cukup berkesan. Untuk Anda yang menyukai anime bertemakan dark fantasy dengan sentuhan sejarah samurai Jepang, Dororo adalah tontonan yang wajib untuk Anda.

8/10

Sunday, 24 November 2019


Yap. Akhirnya niat saya untuk mereview pertunjukan wrestling terkabulkan juga. Belakangan, saya kembali mengikuti secara rutin bisnis ini, terima kasih atas hadirnya AEW yang sukses mengembalikan rasa cinta saya pada wrestling, setelah sekian lama minat saya sempat hilang setelah saya kecewa berat atas keputusan WWE dalam membunuh momentum hangat cerita dari the rise of Becky Lynch. Mungkin saya akan membahas di postingan lainnya, namun setelah Wrestlemania 35, saya memang tidak terlalu berminat lagi akan dunia wrestling. The rise of Becky Lynch merupakan faktor besar mengapa saya kembali tertarik menyaksikan WWE di pertengahan akhir tahun 2018. Setiap weekly show saya ikuti perkembangannya, apalagi feud antara Becky dengan salah satu WWE rookie terbaik sepanjang sejarah, mantan juara dunia UFC wanita, Ronda Rousey, yang berpotensi besar menjadi one of the best rivalry of the decade. Namun sayang, WWE kembali melakukan blunder akibat overproduced yang sering kali mereka lakukan, hingga akhirnya WWE memutuskan untuk melibatkan Charlotte Flair untuk ikutan "gabung" bersama Becky dan Ronda di main event wanita pertama di Wrestlemania. Dan hasilnya, match mereka pun terasa underwhelming, begitu juga kemenangan Becky yang terasa antiklimaks.

Kekecawaan saya pada WWE semakin bertambah setelah mereka kembali melakukan blunder atas hasil main event di Hell in a Cell pay-per-view yang sukses menjadi salah satu kontroversi terbesar di tahun ini. Tidak hanya Becky yang mereka bunuh momentum nya, namun juga top face WWE, Seth Rollins yang ikutan kena dampak atas keputusan bodoh WWE itu. Saya pun merasa cukup, meninggalkan WWE (lagi), dan mencoba untuk mengikuti AEW, perusahaan wrestling terbaru dengan di dalamnya ada beberapa mantan pro wrestler dari WWE, seperti Chris Jericho dan Jon Moxley. Moxley sendiri sempat menjadi perbincangan hangat setelah hadir dalam podcast Talk is Jericho dan blak-blakan menceritakan mengapa dirinya keluar dari WWE. Saat ini, Jon Moxley berhasil menjadi pro wrestler paling populer dalam AEW, dan AEW sendiri dengan weekly show mereka, AEW Dynamite dan Full Gear, pay-per-view pertama milik AEW setelah era Dynamite, berhasil memuaskan penggemar. Terutama match milik Jon Moxley vs Kenny Omega yang kontroversial itu akibat tingkat kebrutalan dan kekerasannya yang tinggi, sehingga memecah pendapat penggemar, apakah mencintai atau bahkan membenci match tersebut.

AEW Dynamite tayang di setiap malam Rabu, dimana dalam waktu bersamaan, developmental brand milik WWE, NXT, juga tayang, sehingga Wednesday Night War tercipta. Dan berkat ini juga, dunia wrestling kembali bergelora. Perang antara siapa brand yang terbaik pun selalu menjadi perdebatan. NXT sendiri boleh saja diperlakukan layaknya produk kelas 3 dalam WWE setelah Monday Night Raw dan Smackdown, namun NXT dalam beberapa tahun terakhir berhasil menjadi produk kesayangan penggemar WWE. Hal ini dibelakangi akan match quality dari NXT selalu berkualitas, para superstars nya yang menarik dan mudah dicintai. Dan yang paling penting, NXT memiliki niat untuk membuat penggemar senang, tidak seperti main roster yang malah sering kali membuat penggemar marah atas booking yang aneh dan tidak beralasan.

Sebenarnya saya sudah memiliki niat untuk menulis review wrestling pertama saya di blog ini pada Full Gear kemarin, namun dikarenakan saya berhalangan untuk menyaksikan pay-per-view tersebut, saya pun menunda kembali niat itu, dan akhirnya, viola, kehormatan jatuh pada pay-per-view dari NXT, yang berjudul NXT Takeover WarGames. 

NXT WarGames hanya diisi 4 match saja, namun semuanya sangat menjanjikan. Terlebih semenjak debut di 2 tahun lalu, WarGames belum pernah sekalipun mengecewakan, yah, sebenarnya semua Takeover tidak ada yang mengecewakan sih. Ekspektasi penggemar jelas meninggi, ditambah build up di beberapa minggu belakangan terasa seru dan menarik dengan tema invasi antar brand karena WarGames pun diadakan berdekatan dengan pay-per-view dari main roster, yaitu Survivor Series.

Women's WarGames: Team Ripley (Rhea Ripley, Dakota Kai, Tegan Nox & Candice LeRae vs Team Baszler (Shayna Baszler, Io Shirai, Bianca Belair & Kay Lee Ray


WWE tengah gencar menggenjot dunia wrestling wanitanya dengan sering kali mengadakan pertarungan bertajuk "the first ever.....". Setelah tahun ini women's wrestling menciptakan sejarah atas suksesnya mengisi slot main event di Wrestlemania, NXT pun tidak ketinggalan untuk menorehkan sejarah pula dengan mengadakan wargames untuk wanita pertama kali nya. 

Dengan nama-nama yang terlibat, rasanya hampir mustahil jika match ini berakhir tidak memuaskan. Ada Rhea Ripley yang dipercaya akan menjadi top female face (hero dalam dunia wrestling) di masa akan datang, ada juga Io Shirai, one of the best female wrestler right now, serta ada Kay Lee Ray, dan tentunya Shayna Baszler , the NXT Women's Champion, yang mendominasi di kelas nya dalam NXT. 

Setiap kontestan memiliki momen masing-masing, terkecuali mungkin Shayna, yang terlihat sekali harus menyimpan stamina nya karena ia harus berkompetisi lagi esoknya melawan Becky Lynch dan Bayley di Survivor Series. Ripley menjalankan perannya sebagai the powerhouse dengan baik, Bianca pun memiliki momennya sendiri seperti melakukan 450 Splash, dan bersama Kay Lee Ray, she often took a bump from another superstars. Candice LeRae juga menghadirkan top rope reverse rana yang cantik. Namun, favorit saya tentu nya adalah Io Shirai yang kembali membuktikan kehebatannya dalam bergulat. Momen puncaknya adalah ketika Io melakukan beautiful moonsault from the top of the cage. She's insane.


Namun, tidak perduli briliannya pertarungan ini, yang paling tertancap di benak penonton adalah momen turn heel (istilah villain dalam dunia wrestling) dari Dakota Kai yang menghajar secara brutal the poor Tegan Nox. Dalam waktu singkat, Dakota Kai berhasil menjadi heat magnet di NXT untuk kedepannya. Kritik kecil mungkin adalah seringnya NXT melakukan narasi yang sama. Setelah Io yang mengkhianati Candice, kini Dakota juga memiliki narasi yang serupa. Mungkin NXT ingin mengikuti kesuksesan rivalitas antara Gargano dan Ciampa. Selain itu, akibat penyerangan dari Dakota ini, Tegan Nox tidak bisa ikut tampil sehingga pertarungan ini tidak berimbang menjadi 2 vs 4. Narasi sederhana dimana para hero harus overcoming the odds. Hasilnya pun cukup mengejutkan dimana Team Ripley berhasil meraih kemenangan walau hanya berdua saja, mengakibatkan tiap anggota Team Braszley terlihat sedikit lemah. Minor complaint ini sedikit mempengaruhi rating saya pada match ini.

Rating: ****

Triple Threat: Pete Dunn vs Killian Dain vs Damian Priest (The Winner become No. 1 Contender for NXT Championship)


Jujur saja, saya masih asing dengan Damian Priest dan Killian Dain. Saya yakin pun kebanyakan penggemar NXT ikut merasakan hal yang serupa. Maka dari itu, bagi saya sendiri, match ini selain menentukan siapa penantang baru berikutnya untuk Adam Cole (BAY BAY!!), namun juga bertujuan untuk mengenalkan kepada kita akan kemampuan dari Killian Dain dan Damian Priest. Beruntungnya mereka berdua bekerja bersama Pete Dunn, yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi skill bergulat nya. Pete Dunn melakukan tugasnya dengan brilian untuk carry the match tanpa harus membayangi Killian dan Damian. Untuk saya sendiri, saya terkesan dengan Damian Priest. Priest memiliki kharisma, kemampuan nya pun berimbang atas power dan agility, dan juga Priest juga yang paling sering menerima serangan dari Dunn dan Killian, sehingga teknik selling nya pun ikutan bersinar. 

Walau tidak terlalu berkesan, namun triple threat ini masih memiliki memorable moment seperti momen trading punches and kicks antara Dunn-Killian-Damian, the Razor's Edge onto the announce table, drama near-falls nya berjalan meyakinkan. Good match, with a right winner.

Rating: ***3/4

Finn Balor vs Matt Riddle


Easily the worst match of the show, and actually it was not a bad match, it was good, though. Finn Balor yang kembali ke NXT setelah 4 tahun dengan menghadirkan salah satu momen paling mengejutkan di dunia wrestling tahun ini setelah melakukan Pele Kick pada Johnny Gargano, menandai akan turn heel nya Balor. Finn Balor memiliki momentum besar di tangannya, setelah karirnya menemui kebuntuan di main roster, maka sungguh sangat bijak dalam match nya dengan Matt Riddle ini, Balor wajib menggenggam kemenangan. Dibalik cerita sendiri, dalam WarGames ini Balor harusnya menghadapi Gargano, namun dikarenakan cedera, maka option B nya adalah Gargano digantikan Matt Riddle. Meski level Riddle belum setara Gargano, namun dalam beberapa kesempatan, Riddle telah membuktikan kemampuannya. Bahkan Riddle adalah salah satu babyface dalam dunia wrestling yang kredibilitas nya tidak akan rusak meskipun beberapa kali menelan kekalahan.

Narasi dalam match ini sederhana, Finn Balor ingin membuktikan jika dirinya belumlah habis dan ia pun menunjukkan nya disini, dimana ia mampu mengalahkan Riddle tanpa harus melakukan dirty tactics, strategi umum yang sering dilakukan oleh heel. Riddle juga tidak kalah bersinar dimana ia melakukan spear dan Jackhammer combo pada Balor secara meyakinkan.  Match yang cukup menghibur, namun sayang harus sedikit tenggelam akibat match-match lainnya yang memiliki stipulation.

Rating: ***1/2

Men's WarGames: Team Ciampa (Tomasso Ciampa, Keith Lee, Dominik Dijakovic & Mysterious Guest: Kevin Owens) vs Undisputed Era (Adam Cole, Roderick Strong, Kyle O'Reilly & Bobby Fish)


Masih meneruskan tradisi di setiap Takeover WarGames dengan main event nya selalu berhasil menjadi match of the night. Team Ciampa harus menerima fakta karena kekurangan orang dibandingkan Undisputed Era, sebelum nanti mereka mendapatkan kejutan besar dengan return nya Kevin Owens dan bergabung dengan Team Ciampa. Comeback ini pun bukan tanpa narasi karena ini adalah continuity dari build up yang dilakukan dalam beberapa minggu belakang. 

Seolah tidak ingin kalah dengan para wanita, disini semua delapan pegulat pria ini rela melakukan beberapa spot brutal yang mengejutkan dan mudah menjadi highlight di pertarungan ini. Salah satu yang terbaik adalah Panama Sunrise dari Adam Cole on the steel between the rings. That was sick and brutal!

Flow dalam match ini juga mengalir dengan baik, serta menampilkan apik nya kerja sama setiap anggota dari Undisputed Era. Dengan match ini juga, Undisputed Era semakin memperlihatkan jika mereka adalah stable terbaik saat ini di WWE. Tentunya saya berharap, Undisputed Era bisa meneruskan sepak terjang nya di main roster nanti. Siapa tahu, stable ini mampu mengikuti kesuksesan akan The Bullet Club dari NJPW. Dari Team Ciampa, walau Dijakovic masih harus berusaha lebih lagi untuk over di mata penonton, namun tidak untuk Keith Lee yang mencuri perhatian berkat agility nya yang mengagumkan meski dengan tubuh besarnya. 

Match ini diakhiri dengan holyshit spot, yaitu Ciampa melakukan Air Raid Crash from top of the cage and landing trhough two tables. OH. MY. GOD. What a way to ending this match. Dengan comeback mengejutkan dari Kevin Owens serta momen-momen WoW yang terjadi dalam match ini, tentu saja rating tinggi dari saya sudah bisa dipastikan.

Rating: ****1/2

Overall:

Hanya dengan 4 match, namun hampir semuanya memiliki kualitas baik, dengan dua WarGames match nya benar-benar mendefinisikan arti dari epic itu tersendiri. NXT Takeover senantiasa menghadirkan kualitas yang berkelas, dan tidak terkecuali untuk NXT Takeover satu ini.

What. a. war

NXT Takeover WarGames 2019: 8,5/10

Saturday, 23 November 2019

"When you have a secret, you're careful with the secrets of others"- Mitsuko

Plot

Izumi (Megumi Kagurazaka) merupakan istri dari penulis terkenal, Yukio Kikuchi (Kanji Tsuda). Mungkin publik menganggap kehidupan Izumi sangat bahagia karena memiliki suami sukses seperti Yukio, namun faktanya, Izumi harus menjalani kehidupan monoton sebagai istri dari Yukio. Kehidupannya senantiasa sama, dari menyuguhkan teh hingga merapikan sendal saat Yukio pergi maupun pulang. Semuanya selalu berjalan sama, hingga Izumi hapal betul aktivitas yang dilakukan Yukio. Sampai suatu hari, Izumi mendapatkan tawaran untuk menjadi model majalah dewasa. Disisi lain, detektif Kazuko (Miki Mizuno) tengah menangani kasus pembunuhan mutilasi yang terjadi di distrik Maruyama-cho, pusatnya hotel cinta di wilayah Shibuya, Tokyo.



Review

Guilty of Romance merupakan film ketiga dari trilogi Hate milik Sion Sono, sutradara asal Jepang yang memiliki reputasi dengan film-film nya yang disturbing akibat keberaniannya dalam menyajikan film nya dengan grafis kekerasan serta seksual tingkat tinggi, dipadu pula dengan tema film nya yang kelam.  Sono pun dengan santai juga menambahkan elemen-elemen tabu dalam menuturkan kisahnya. Dengan reputasi seperti ini, tidak heran jika Sion Sono memiliki pengikut setia  tersendiri yang selalu menantikan film-film karya dari nya. Bagi saya sendiri, walau telah sering mendengar citra sutradara satu ini, baru sekarang saya tergerak untuk mencoba karya filmnya. Dan Guilty of Romance merupakan film dari Sono yang pertama kali saya cicipi.

Dari menit awal film ini berjalan, atmosfir tidak nyaman sudah menghampiri, bahkan sebelum detektif Kazuko menginjakkan kaki nya di ranah tkp pembunuhan.  Di lokasi tkp nya sendiri, kita sudah disuguhkan sajian gambar demi gambar yang membuat bulu kuduk saya berdiri, terutama gambar dimana sosok manekin di atas. Tersibak pula fakta jika pembunuhan ini bukanlah kasus yang biasa. Terdapat bagian-bagian tubuh terpisah korban yang disambung dengan boneka. Iya, hanya dengan beberapa menit saja, saya bisa mengerti mengapa Sion Sono sering disebut sebagai sutradara yang gila. 

Setelah disajikan penampakan yang mencekam ini, Guilty of Romance mulai berjalan secara non linear. Sono membagi kisahnya dalam 5 chapter, dan pada chapter pertama adalah kita berkenalan dengan Izumi dan menyaksikan kisah hidupnya dalam menjalani peran nya sebagai istri. Pada chapter ini, Sono sengaja menjalankan narasinya dengan repetitif supaya penonton mampu merasakan betapa monotonnya keseharian dari Izumi. Bayangkan saja, Izumi harus melakukan kegiatan yang sama berulang kali di setiap hari, hingga hal terkecil seperti merapikan sendal supaya bisa langsung dipakai ketika sang suami pulang ke rumah. Entah berapa kali Sono memfokuskan gambar pada sendal tersebut, dan juga beberapa pembagian gambar pun disengaja dengan mengambil angle yang sama pula. Cara ini terbukti efektif supaya penonton ikut merasakan kebosanan yang sama seperti Izumi rasakan.

Ada hasrat dan keinginan yang besar dalam diri Izumi, yang ia curahkan dalam jurnal nya, namun harus terpenjara sebab perannya sebagai istri. Memang, sebagai istri, sudah menjadi kewajiban Izumi untuk melayani sang suami, namun disini kita bisa merasakan jika Izumi malah sama sekali tidak diperlakukan sebagai istri, yang ada malah jatuhnya Izumi bagaikan pembantu untuk suaminya. Dalam jurnal yang ia tulis, terungkap jika Izumi ingin sekali melakukan banyak hal, namun sekali lagi, harus terpendam sehingga ia harus menjalani hidup yang membosankan. 

Keinginan Izumi untuk melakukan sesuatu yang baru seolah mendapatkan angin segar kala tiba-tiba ia mendapatkan tawaran untuk menjadi model di majalah dewasa. Walau sempat enggan pada awalnya, namun Izumi pun akhirnya tertarik untuk mengambil tawaran tersebut. Lambat laun, pekerjaan baru nya ini menjadi lembar baru untuk Izumi. Kehidupan sehari-hari nya secara otomatis membuat Izumi menjadi kaku atau lebih tepatnya kurang ekspresif, namun dengan pekerjaan baru nya, lambat laut Izumi berhasil tampil lepas bagai burung lepas dari sangkarnya. Ia memiliki keberanian untuk melakukan apa yang ia inginkan.

Secara perlahan, Sono membangun kedekatan antara Izumi dengan penonton. Mudah untuk memahami motif dari Izumi setelah kita turut menyaksikan dari berbagai kilasan aktivitas sehari-hari nya. Ada rasa kasihan dan muak saat Izumi yang telah menjadi istri yang setia dan begitu penurut, malah eksistensi nya seolah dianggap tidak ada. Namun, saat Izumi mulai semakin menikmati kehidupan nya yang baru, ada pula rasa cemas apa yang akan terjadi pada Izumi nanti nya. Meski Izumi terlihat begitu menikmati, namun sebagai penonton, saya mengetahui kebahagiaan Izumi tidak akan bertahan lama. Tanpa sadar, rasa simpati saya telah tercipta untuk karakter ini.

Berawal dari suatu kejadian, Izumi pun akhirnya berjumpa dengan Mitsuko (Makoto Togashi) dan dari sini lah Izumi mulai merasakan gelapnya dunia yang tengah ia jalani. Cerita pun mulai mengalami transisi, dari kental nya aroma drama hingga perlahan atmosfir horror mulai mengambil alih. Dari sini, Guilty of Romance tidak mudah dinikmati berkat misteriusnya karakter Mitsuko. Meski tampak dari permukaan, Mitsuko tidak jauh berbeda seperti Izumi, namun Mitsuko terlihat manipulatif, lengkap dengan tingkah laku nya yang tidak bisa ditebak. Terlihat kabur apakah intensi nya ingin membantu Izumi atau malah sebaliknya.

Tampak jelas Sono ingin memperlihatkan jika setiap orang pasti memiliki sisi gelap nya masing-masing, namun sisi tersebut harus terpendam akibat benturan moral atau pun konsekuensi yang harus dihadapi. Contohnya saja disini kita diperlihatkan seorang istri yang normal-normal saja, namun dalam dirinya memiliki hasrat seks yang kuat juga liar. Seks menjadi pintu keluar dari rutinitas monoton yang ia jalani. Sono juga tanpa malu-malu menghadirkan adegan-adegan seks nya, sehingga bukan lah pilihan yang bijak jika Anda ingin menyaksikan film ini dengan keluarga Anda. Eksplorasi mengenai dunia PSK ikut pula menjadi sasaran Sono, dimana disini muncul "opini" menarik dari nya yang tersampaikan lewat barisan dialog dari Izumi ataupun Mitsuko.

Mendekati akhir, instensitas semakin meninggi, hingga nanti kita pun mendapati fakta yang miris dan menyakitkan, setidaknya untuk saya. Tidak sadar, rasa marah saya rasakan ketika mengetahui twist sehingga mendistraksi saya sepenuhnya jika twist ini sedikit terasa dipaksakan. Rasanya terlalu kebetulan jika adegan tersebut semuanya telah direncanakan. Guilty of Romance sebenarnya bisa menutup konklusi nya dengan powerful, meninggalkan kesan yang dalam karena cerita nya telah solid, namun Sono lebih memilih untuk sedikit pelit ketimbang menceritakan kejadian yang sesungguhnya.

SPOILER

Pada pertengahan cerita, telah terungkap jika mayat yang ditemukan oleh detektif Kazuko adalah Mitsuko. Dan Sono pun mengindikasikan bila Izumi adalah pelaku dari pembunuhan tersebut. Setelah mengetahui fakta bila suaminya, Yukio Kikuchi ternyata tidak lain hanyalah seorang pria brengsek yang sering "jajan" di luar dan wanita panggilan yang kerap menemani Yukio adalah tidak lain tidak bukan adalah Mitsuko, rasanya mudah dimengerti jika Izumi ingin sekali membunuh Mitsuko. Turtu dibantu juga oleh ibu Mitsuko, Shizu Ozawa (Hisako Okata) akibat dorongan rasa benci atas kelakuan putri semata wayangnya. Yang mengganggu adalah siapa yang melakukan mutilasi? Kenapa harus repot-repot melibatkan manekin untuk menyembunyikan tubuh Mitsuko? Tersibak fakta juga jika Mitsuko jatuh cinta pada ayahnya sendiri. Motif Mitsuko melakukan aktivitas menjual dirinya saja bagai sebuah pelarian dari rasa kesedihan atas kematian sang ayah.

Spoiler End

Sebagai Izumi, Megumi Kagurazaka bermain total dimana ia harus dituntut untuk melakukan adegan seks frontal serta sering beradegan telanjang. Ia beperan cukup baik dalam memerankan seorang istri yang setia, polos dan suci. Penonton mudah menyukai karakter nya karena pesona likeable nya. Momen terbaik nya kala ia berbicara sendiri di depan kaca (dengan total nudity), bertransformasi dari wanita yang kaku bagaikan robot hingga dirinya menjadi wanita yang lebih ekspresif. Makoto Togashi juga bermain cemerlang dalam memerankan Mitsuko yang bermuka dua serta manipulatif. Namun the show stealer jatuh pada aktris senior, Hisako Okata. Dengan screentime yang singkat, ia berhasil memberikan kesan mendalam akibat atmosfir horror yang ia pancarkan. Adegan perbincangan di meja makan menjadi momen terbaik dalam film ini sebagian besar berkat kuatnya akting nyonya Okata.

Guilty of Romance ditutup dengan cukup dragging, karena untuk saya, tidak perlu Sono menyajikan sebuah aftermath untuk satu karakter setelah momen menegangkan yang telah terjadi sebelumnya. Andai film ini ditutup tidak lama dari momen tersebut, rasanya Guilty of Romance jauh lebih baik. Secara keseluruhan, Guilty of Romance memang tidak terlalu spesial, namun berkat dasar cerita nya yang berani serta penyutradaraan Sono yang unik, tentu saja saya tertarik untuk mencoba film Sono lainnya.

7,75/10

Sunday, 17 November 2019

"A king has no friends. Only followers and foe"- Sir John Falstaff

Plot

Hal (Timothee Chalamet), pangeran berjiwa bebas serta pewaris sah akan tahta kerajaan Inggris, harus segera mengisi kursi raja setelah wafatnya sang ayah, King Henry IV (Ben Mendelsohn), akibat penyakit. Didorong oleh rasa benci dan hubungan tidak baik dengan ayahnya, Hal berkeinginan untuk menjadi raja yang berkuasa atas idealisme nya sendiri, serta membuktikan jika ia adalah raja yang jauh lebih baik ketimbang ayahnya. Niat dari Hal ini bukan hal yang mudah dipertahankan mengingat kekacauan dan konflik yang ditinggalkan oleh sang ayah bersama kerajaan yang lain.




Review

Umurnya belum genap 24 tahun, namun aktor muda Timothy Chalamet telah memiliki pengalaman berakting yang tidak bisa diremehkan. Chalamet merupakan salah satu aktor muda saat ini yang diyakini akan memiliki masa depan yang cemerlang sebagai aktor. Sebelum 2 tahun lalu ia mengangkat nama lewat Call Me by Your Name, yang pula mengantarkan dirinya mendapatkan nominasi Oscar pertama untuknya, Chalamet telah mencuri perhatian melalui penampilan mengesankan di film Miss Stevens dan Lady Bird. Tidak berlebihan jika banyak menganggap dirinya adalah sebagai aktor muda terbaik saat ini dan digadang-gadang sebagai the next Leonardo Dicaprio.

Dalam The King, Chalamet kembali menunjukkan performa yang prima sebagai raja muda yang masih hijau dalam menangani seluk beluk mengenai kerajaan. Tentu bukan sembarang aktor untuk bisa memerankan seorang raja. Perlu kharisma dan kewibawaan tingkat tinggi untuk bisa meyakinkan penonton jika ia layak untuk menjadi seorang raja, dan Chalamet memiliki ini. Tanpa tahta menghiasi kepalanya, telah terpancar kharisma seorang pria yang patut disegani dari Chalamet. Terlihat kala dalam satu adegan ketika ia satu layar dengan adik dari Hal, Thomas (Dean-Charles Chapman), penonton sudah bisa merasakan jika Hal lebih layak menjadi raja ketimbang Thomas. Dalam menunjukkan kemampuan akting, tatapan mata senantiasa ia jadikan wadah untuk berbicara kepada penonton sebagai gambaran suasana hati yang sedang dirasakan karakter nya. 

Kematangan akting dari Chalamet berperan cukup besar untuk bisa membuat saya betah senantiasa mengikuti film keluaran dari Netflix ini. Jujur, film bertemakan kerajaan bukanlah selera saya. Apalagi The King memiliki tempo lambat dengan minim intensitas ketegangan, sebelum nantinya pasukan Inggris yang diketuai Hal sebagai King Henry V menginjakkan kaki di wilayah Prancis untuk berperang. Untungnya, naskah garapan Joel Edgerton dan David Michod, yang juga duduk di kursi sutradara, cukup solid.

Ada konflik yang tersaji di dalam kerajaan, dari isu siapa yang sebaiknya menjadi pengganti King Henry IV, serta tidak berpengalamannya Hal ketika ia telah menduduki kursi raja. Keinginan Hal sebenarnya hanya satu, yaitu ia tidak ingin mencontoh cara berkuasa sang ayah. Karena itu sebisa mungkin ia menjauhi konflik dan memprioritaskan kedamaian. Namun tentunya keinginan ini tidak bertahan lama ketika ia didesak oleh beberapa situasi yang mempertaruhkan harga diri kerajaan Inggris. Tidak hanya itu, kapabilitas Hal sebagai raja pun juga ikut dipertaruhkan. Setidaknya satu jam pertama, narasi cerita dipenuhi akan konflik apakah nantinya Hal tetap ingin menjadi raja sesuai keinginannya atau ia harus menunjukkan "kekejaman" layaknya raja sebelumnya untuk membuktikan jika ia pantas untuk menjadi raja.

Walau memang sekali lagi temponya berjalan lambat, tetapi narasi ini telah menjadi fondasi yang cukup kuat untuk menjembatani pada adegan perperangan yang menjadi klimaksnya. Perperangan yang terjadi sebenarnya tidak lah menunjukkan hal yang baru, bahkan bisa dibilang bagaikan copy paste dari Battle of Bastard nya Game of Thrones, dengan mengandalkan teror claustrophobic untuk membuat penonton menahan nafas. Glorifikasi dikesampingkan dimana Michod lebih memilih menyajikan perang nya serealistis mungkin lengkap dengan lumpur tanah yang menambah kesan sesak akibat ruang untuk bergerak begitu sempit. Pilihan yang patut diapresiasi karena mampu menggambarkan neraka akan perperangan. Namun perang antara Inggris dan Prancis ini cukup terasa menegangkan dikarenakan adanya narasi yang solid sebelumnya. Pada perang inilah terlihat apakah Hal layak menjadi raja atau tidak. Dari perang ini pula lah, keputusan Hal untuk mengangkat temannya sebelum menjadi raja yang merupakan mantan prajurit pemabuk dan hobi merampok, John Falstaff (Joel Edgerton) sebagai taktikal perang adalah keputusan yang keliru atau tidak. 

Joel Edgerton sendiri bermain memukau dengan memerankan seorang mentor sekaligus teman bagi Hal. Karakter nya senantiasa menjadi moral compass untuk tetap membimbing Hal supaya dirinya tidak kehilangan jati diri sebenarnya. Namun yang menjadi scene stealer sendiri adalah Robert Pattinson yang berperan sebagai pangeran Prancis eksentrik, Dauphin. Akting yang ia tampilkan disini semakin menambah keyakinan saya jika nanti ia tidak akan mengecewakan kala ia memerankan Bruce Wayne di film The Batman mendatang. 

Michod pun menutup kisah The King dengan menampilkan fakta menghenyak, yang semakin menguatkan jika Hal tidak akan bisa menjadi raja yang sesungguhnya jika ia tidak memiliki orang terpercaya di dekatnya. Walau keakuratan sejarah dari film ini patut dipertanyakan, namun tak tertampik jika The King merupakan sajian film historical drama yang cukup menghibur berkat narasinya yang solid serta penampilan memukau para aktor nya. Kredit lebih juga patut diberikan untuk sinematografer, Adam Arkapaw, dalam kemampuannya menghadirkan gambar demi gambar yang memanjakan mata.

7,75/10

Saturday, 2 November 2019

"You may have changed the future. but you didn't change our fate"- Grace

Plot

Prajurit wanita setengah cyborg dari masa depan bernama Grace (Mackenzie Davis), memiliki tugas untuk menyelamatkan Dani Ramos (Natalia Reyes) dari buruan Legion, teknologi AI di masa depan yang akan membumi hanguskan umat manusia. Dari Legion sendiri mengirimkan terminator tipe Rev-9 (Gabriel Luna), terminator berteknologi super canggih yang memiliki kemampuan untuk memisahkan diri serta beregenerasi tanpa batas, demi membunuh Dani. Grace dan Dani nantinya akan bertemu dengan Sarah Connor (Linda Hamilton) yang memiliki tujuan berjaga-jaga mengantisipasi kebangkitan Skynet.



Review

Dengan menghadirkan dua aktor dari dua film klasik terdahulu nya, lalu mengajak kembali James Cameron yang kini duduk di kursi produser, serta keputusan untuk menganggap ketiga film sekuel setelah T2: Judgement Day seolah tidak ada, terlihat usaha dari pihak Paramount dan 20th Century Fox untuk menggembirakan hati penggemar franchise ini dengan menghadirkan film teranyar supaya bisa berakhir dengan kualitas yang bisa dibanggakan. Terlebih lagi dengan nama-nama ternama di bangku sutradara maupun naskah, yang kini diemban oleh Tim Miller (Deadpool 2) dan trio David S. Goyer (The Dark Knight trilogy), Justin Rhodes, dan Billy Ray (Hunger Games, Captain Phillips, Gemini Man). Di atas kertas, Dark Fate jelas sangat menjanjikan. Dan jangan salahkan bila ekspektasi penonton akan melambung tinggi.

Namun yang jelas, sehebat apapun pihak dibelakang layar Dark Fate, rasanya sulit untuk melakukan perubahan total pada dasar penceritaan. Maka pilihan yang rasional adalah tetap berpijak pada penceritaan klasik film-film Terminator awal dan melakukan perubahan seperlunya. Toh, bila harus belajar pada Terminator Genisys, mengubah cerita dasar secara signifikan juga tidak menjamin film berakhir dengan baik.

Dark Fate dibuka dengan adegan-adegan yang familiar ala Terminator jika Anda merupakan penikmat film yang mengikuti franchise ini dari awal, terutama dengan T2: Judgement Day. Dua karakter misterius yang mendadak muncul, lalu berusaha untuk mencari target utama dari misi masing-masing. Dan dalam setengah jam awal saja, Dark Fate telah menyajikan adegan aksi beradrenalin tinggi dengan melibatkan pertarungan beroktan tinggi, lalu dilanjutkan dengan car chase yang seketika, lagi, mengingatkan saya akan adegan car chase yang terjadi dalam T2: Judgement Day. Walau tidak terlalu memorable, namun ini sudah sangat efektif untuk mempertunjukkan kehebatan masing-masing dari Grace dan terutama Rev-9, sebelum nanti kita akan diperlihatkan kehadiran kembali Sarah Connor yang berhasil membuat saya ingin teriak kegirangan, ditambah dengan iringan soundtrack legendaris milik Brad Fiedel yang telah menjadi ciri khas franchise ini.

Setelah dibuka dengan cukup menjanjikan, Dark Fate mulai berjalan dengan intensitas yang cukup perlahan demi membangun narasi penceritaan. Selain karakter the chosen one nya yang beralih ke Dani Ramos, selebihnya memang Dark Fate tidak terlalu memiliki perbedaan yang signifikan, dan sekali lagi, saya mengerti akan pilihan ini. Oh, mengenai John Connor, penonton akan mendapatkan jawabannya sedari awal, yang memberikan petunjuk jika Dark Fate merupakan sekuel setelah Judgement Day. Dan dari ketika Dark Fate mulai bergerak perlahan, membangun fondasi cerita, tersibak sedikit demi sedikit kelemahan dari film ini. Karena ketika adegan aksi absen di layar, disitu pula Dark Fate tidak memiliki magnet yang cukup kuat untuk tetap mencengkeram atensi penonton.

Pergerakan cerita cenderung monoton dan repetitif, tidak ada yang terlalu spesial, hingga nanti karakter Arnold Schwarzenegger, sang ikon dalam franchise ini, muncul di layar. Tidak bisa terpungkiri sih memang, sosok Arnold sangat efektif dalam menarik atensi penonton kembali. Tercipta juga hubungan "love hate relationship" antara Sarah dan sang terminator, yang kini memiliki nama yaitu Carl. Terdapat usaha untuk memodifikasi mengenai sosok Terminator, namun hingga akhir nanti, narasi ini hanya lewat saja tanpa menimbulkan kesan.

James Cameron merupakan the godfather dalam franchise ini, dan saya rasa beliau mengerti salah satu aspek terbesar mengapa dua film awal Terminator sangat dicintai oleh penikmat film hingga jatuhnya menjadi salah satu yang terbaik di genre aksi, terlepas dari visual effect atau ide ceritanya yang visioner, dan aspek tersebut adalah emosi atau hati. Jika di film pertama, kita disajikan hubungan romansa antara Sarah dan Kyle, pada sekuelnya, hubungan emosi berpusat pada John dan sang terminator, T-800. Terdapat momen-momen kehangatan yang tercipta. Salah satunya, siapa yang bisa melupakan momen ketika John bermain high five dengan T-800? Kehangatan seperti ini yang saya tidak temukan di film-film Terminator selanjutnya, dan sayangnya termasuk Dark Fate.

Sangat disayangkan karena Dark Fate memiliki kumpulan karakter yang memiliki sejarah masing-masing, seperti Grace dan Dani, atau Dani dengan Sarah yang memiliki kisah yang hampir sama, hingga Sarah dan Carl. Goyer and co. telah memiliki modal awal yang sangat baik, namun sayang sekali, kesempatan membangun hubungan emosional sangat minim tampil di layar. Interaksi yang terjadi berlingkup pada usaha menyelamatkan diri, atau strategi untuk bisa mengalahkan Rev-9. Kuantitasnya jauh lebih banyak dibandingkan obrolan yang menyentuh ke ranah pribadi dalam rangka usaha membangun relasi antar karakter. Akibatnya, tidak ada emosi yang terbangun, sehingga narasi sepenuhnya bertumpu pada pertanyaan, bagaimana Rev-9 di akhir nanti dikalahkan, bukan lagi apakah karakter-karakter utamanya bisa selamat, yah, mungkin pengecualian untuk Sarah dan Carl sih.

Saya cukup menyayangkan keputusan dari Goyer dan tim untuk malu-malu dalam mengungkapkan peran Dani di masa depan sehingga dirinya menjadi target utama bagi Legion, karena saya rasa sebagian besar penonton telah bisa menebak jawaban yang telah disiapkan. Saya sebenarnya masih berharap jika Goyer-Rhodes-Ray ingin menyiapkan kejutan, namun ternyata pun tidak ada. Jawaban yang telah disiapkan sama persis dengan apa yang dalam pikiran saya, dengan sedikit sentuhan emosional yang melibatkan relasi antara Grace dan Dani.

Untungnya, kelemahan pada narasi ditambah minimnya pendalaman relasi antar karakter sedikit ditutupi dengan gelaran adegan aksi nya yang harus diakui sangat menghibur. Dengan rating R, Tim Miller terlihat bebas dalam menggeber sajian aksinya. Darah bercipratan, lalu tubuh tercabik dengan memanfaatkan kekuatan dari Rev-9 yang benar-benar sukses besar dalam merepotkan Grace, Sarah, bahkan Carl. Baik di darat, udara atau pun dalam air, semuanya tidak masalah bagi Rev-9, walau sayangnya memang disini sosok Rev-9 mungkin tidak terlalu membekas karena fakta generiknya karakterisasi yang dimiliki. Mungkin disengaja ya, yah, namanya juga robot kan.



Linda Hamilton dan Arnold boleh saja menjadi scene stealer, namun hal yang paling mengejutkan adalah penampilan prima dari Mackenzie Davis yang tampaknya akan menjadi salah satu heroine terbaik pada tahun ini. Tidak hanya sexy, namun juga Mackenzie tampil begitu badass di setiap sajian aksi nya, terutama kala ia mengayunkan rantai yang mampu mencabik-cabik tubuh Rev-9. Dengan dikelilingi karakter-karakter keren di dekatnya, mudah untuk melupakan karakter Dani, terlebih memang sebelum mendekati third act, penonton belum memiliki alasan cukup kuat untuk terikat sepenuhnya dengan karakter ini.

7,5/10

Tuesday, 29 October 2019

The Dark Knight will always remain my favorite movie of all time. Jika Anda ingin mengkritik film ini di depan saya, maka mohon pikir ulang jika Anda tidak ingin berdebat panjang dengan saya, because I love this movie 'till I die. Berkat The Dark Knight, tumbuh rasa cinta terhadap dunia film. Muncul keinginan untuk mempelajari lebih dalam mengenai dunia perfilman, dan meskipun saya gak punya keberanian untuk self proclaimed jika saya telah pintar menilai suatu film, namun setidaknya saya mampu untuk mengapresiasi lebih sebuah film sehingga bisa menangkap lebih teliti kala menonton nya. Karena itu lah, 6 tahun lalu, di bulan yang sama, saya tergerak untuk membuat blog pribadi sebagai wadah untuk sharing mengenai penilaian saya mengenai suatu film. Ya, awalnya sih dalam blog ini, saya hanya ingin mengulas ulang film saja, namun berpikir kembali jika saya punya ketertarikan lebih pada media hiburan lainnya, seperti musik juga anime atau manga. Dunia wrestling pun juga sebenarnya ingin saya ulas disini, tetapi karena tidak terlalu mengikuti secara rutin, saya pun mengurungkan niat ini, walaupun mungkin saja kedepannya, saya tergerak untuk membahas nya disini. Dan ditambah pula kalimat per kalimat dalam blog ini adalah pendapat subjektif saya, maka akhirnya saya menamakan blog ini My Style, My Words. Dengan tulisan pertama saya adalah The Dark Knight, dimulailah perjalanan saya untuk ngeblog di internet.


Jujur saja, menumpahkan semua pikiran dan pendapat ke dalam bentuk tulisan jelas bukanlah pekerjaan yang gampang. Terbukti, di awal-awal tulisan saya di blog ini, bisa Anda temukan betapa medioker nya saya dalam menyusun kalimat. Walau hingga saat ini saya masih merasa banyak kekurangan, namun saya cukup pede sih jika saya telah mengalami peningkatan dibanding di masa awal. Berikut salah satu kalimat yang saya susun dimana jika saya baca sekarang membuat saya malu setengah mati,

Film dibuka dengan sekelompok perampok yang akan merampok bank (ya iyalah,namanya jg perampok :D)
........
#cringeworthymoment

Yahhh, harap dimaklumin ya, namanya juga awal mula. Toh, untuk memulai sesuatu kita harus berani jelek terlebih dulu. Radiohead pun sebelum menghasilkan musikal jenius pada album Ok Computer atau Kid A juga harus mengawali debut mereka dengan album Pablo Honey, yang sering dianggap sebagai album terburuk dalam perjalanan karir musik Radiohead. 

Selama ngeblog, banyak yang saya pelajari. Selain kematangan dalam menulis, satu dari sekian banyak hal yang saya pelajari adalah pentingnya konsistensi, dan ini saya merasa masih kurang banget. Konsistensi bagi saya berkaitan erat dengan kerajinan, ketekunan dan tekad yang kuat untuk memulai. Penyakit saya adalah poin ketiga. Sering sekali saya setelah menonton film, ada keinginan untuk sharing di blog, tapi ketika sudah depan laptop, rasa malas muncul dan keinginan tinggal lah keinginan. Periode terparah saya ketika rasa malas benar-benar menguasai adalah tahun 2015. Terbukti dari sedikitnya postingan yang saya hasilkan pada tahun itu. Bahkan rasanya mungkin saya udah lupa tuh kalo saya punya blog pada tahun itu. Pertengahan 2016 pun juga saya sempat absen 4 bulan untuk kembali nulis disini, disebabkan rasa malas, juga mengenai perihal masalah dalam kehidupan pribadi yang benar-benar menguras tenaga serta emosi. Ah, tahun 2016. One of the worst year I ever had.

Tahun 2017 hingga tahun ini saya mencoba untuk kembali konsisten. Terutama tahun 2017, dimana menjadi tahun yang paling aktif saya ngeposting. Gak nyangka juga sih sampe bisa ngeposting lebih dari 70 tulisan. Relatif sih, tapi bagi saya pribadi, angka itu udah luar biasa. Memang di tahun 2018 dan tahun ini tulisan saya kembali sedikit karena disebabkan budget yang kembali menipis. Tapi semangat untuk ngeblog hingga sekarang masih belum padam, bahkan terus menambah. Semoga konsistensi ini bisa saya pertahankan ya. Mengingat di akhir tahun ini dan tahun depan, banyak film-film yang saya nantikan, terutama Bad Boys 3: For Life yang akan dirilis di awal tahun 2020.  

Ah, bicara soal budget, sebenarnya salah satu keinginan saya adalah saya bisa menghasilkan uang lewat blog ini. Ya, siapa tahu kan bisa gitu, untuk modal nonton film di bioskop aja lumayan. Ya masa cuma ngandelin download film bajakan terus, kan gak baik, lol. Tapi hingga saat ini, setiap kali melihat pendapatan di adsense rasanya miris dan sedih pengen nangis karena masih sedikitnya traffic yang ada. Lalu, kalo gak mendapatkan keuntungan sama sekali, kok masih pengen ngeblog sih?



Pembaca. Ya, terdengar klise sih memang, tetapi walaupun sedikit, namun ketika melihat ternyata ada saja visitor yang mau membaca, bahkan meninggalkan komentar, rasanya ada kebanggaan tersendiri. Postingan Berserk menjadi favorit saya karena saya gak nyangka jika tulisan tersebut bisa mengundang banyak pembaca dan komentar. Hingga sekarang, tulisan saya tersebut masih menjadi postingan saya yang paling populer dalam blog ini. Untuk Anda, siapa saja yang sering mengunjungi blog gak penting ini, saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Berkat Anda lah, semangat saya untuk terus menulis dalam blog ini terus terjaga. 1 pembaca sangat berarti untuk saya. Sekali lagi, terima kasih. 

Oh ya, dalam kesempatan ini, saya ingin shout out untuk dua blogger inspirasi saya. Yang pertama adalah Mbak Niken, blogger mengenai review film yang pertama kali saya kunjungi dan berhasil membuat saya betah akan kenyinyiran nya serta betapa lugas nya ketika mengulas film. Meski selera kami gak selalu sama (review nya mengenai film Joker berhasil bikin geram, lol), tetapi ada daya mistis sendiri di setiap kata-kata yang ia tulis sehingga walaupun postingannya panjang, tapi saya betah aja gitu untuk baca hingga akhir. Lalu, blogger kedua, dan ini secara tidak langsung udah saya jadiin mentor atau suhu, yaitu Bang Rasyid dengan blog nya Movfreak. Bang Rasyid ini bisa dibilang merupakan contoh yang baik dan ideal bagi siapa saja yang masih baru dalam dunia blogging. Konsisten atau produktivitas nya itu loh yang selalu bikin saya takjub. Dalam setiap ulasannya juga bang Rasyid begitu pintar dalam memilah kata serta mengangkat poin-point tertentu ketika mereview  film. Dua blogger ini awalnya saya ikuti karena ingin mendapatkan rekomendasi film, tetapi jatuhnya menjadi inspirasi yang mendorong saya untuk juga ikutan membuat blog. Terima kasih, Mbak Niken dan Bang Rasyid. God Bless you all.

Dalam menulis, yang paling sulit bagi saya adalah mengawali serta mengakhiri. Saya sendiri bingung sekarang untuk menutup tulisan saya yang gak penting ini bagaimana caranya. Hmm, mungkin terima kasih lagi untuk kalian, yang membaca? Lol. Tapi seriusan, terima kasih lagi loh untuk kalian. Kunjungan kalian benar-benar berpengaruh besar dalam menjaga semangat saya untuk senantiasa ngeblog disini. Dan semoga selalu begitu. 6 tahun, dan semoga akan terus berlanjut hingga ke tahun-tahun berikutnya. Ada amin?

Sunday, 27 October 2019

"The people you killed never got their proper due, and it saddens me that they're all but forgotten"- Hyung Min

Plot

Berdasarkan pengakuan Kang Tae-oh (Ju Ji-hoon), tersangka pembunuhan berantai, detektif Hyung Min (Kim Yoon-seok) mencari bukti kuat pembunuhan yang telah dilakukan supaya mampu menjebloskan Tae-oh ke dalam jeruji besi.



Review

Dari awal menit bergulir, sang sutradara Kim Tae-Gyun tanpa basa-basi langsung menghadirkan plot utama. Tanpa pengenalan karakter, atau juga aksi kejahatan pelaku. Bagi saya, pilihan yang diambil Tae-Gyun cukup berisiko. Pasalnya, pilihan ini akan membingungkan penonton sehingga menimbulkan kesulitan untuk segera beradaptasi dengan ceritanya. Saya pribadi cukup membutuhkan waktu selama 10 menit durasi cerita berjalan untuk segera mengerti perihal cerita utamanya. 

Film yang memiliki judul asli Amsusarin ini diadaptasi dari kisah nyata. Mengenai pengakuan terduga pembunuhan yang mengaku kepada seorang detektif bila ia benar telah melakukan kejahatan tersebut. Tentunya informasi yang ia berikan nanti tidak gratis. Harus ada harga yang dibayar, dan Hyung-Min yang tentu saja membutuhkan bukti-bukti kuat itu, memutuskan untuk mengikuti permainan dari Tae-Ho, meskipun ia harus merogoh kocek yang dalam untuk mengikuti kemauan Tae-Ho, serta bertaruh apakah ucapan dari Tae-Ho bisa dipercaya atau tidak. 

Hampir semua durasi Dark Figure of Crime mengikuti perjalanan sang detektif dalam mencari bukti sesuai apa yang dikatakan Tae-Ho. Dan sama seperti Hyung-Min, penonton pun menyimpan keraguan atas semua yang diakui oleh Tae-Ho. Terlebih, pada satu kesempatan, dengan jelas Tae-Ho secara tiba-tiba menyangkal atas semua apa yang telah ia katakan. Sikap unpredictable Tae-Ho ini memaksa Hyung-Min untuk lebih taktikal lagi supaya bisa mengakali Tae-Ho.

Meski bukan cerita baru, namun siapa yang tidak tertarik dengan kisah pencarian bukti seperti ini. Tetapi saya harus akui, pada menit-menit awal, Dark Figure of Crime belum terlalu mencengkeram saya, karena ya itu tadi, narasinya langsung bergerak ke plot utama. Ibarat kata, Kim Tae-Gyun langsung menghidangkan main course kepada tamu restoran, sebelum menyajikan appetizer terlebih dahulu. Beberapa pertanyaan jelas hadir, seperti siapa detektif Hyung-Min dan Kang Tae-Ho, mengapa Hyung-Min bersedia saja menerima mentah-mentah akan pernyataan Tae-Ho, mengingat akan sikapnya yang dari permukaan saja telah menimbulkan teka-teki. 

Pergerakan cerita pun cenderung repetitif. Kita akan mengikuti usaha Hyung-Min mencari bukti, lalu nantinya Hyung-Min akan menemui Tae-Ho di kantor polisi untuk meminta lagi keterangan lebih lanjut. Dan narasi berulang-ulang seperti itu setidaknya hingga durasi film menginjak 40-50 menit. Kebosanan jelas mulai melanda walau sedikit demi sedikit kisah misterinya mulai merenggut atensi. Hingga nanti Tae-Gyun menghadirkan adegan flashback mengenai Tae-Ho. Meski tidak berkesan, namun cukup efektif untuk bisa menggaet atensi penonton yang mungkin telah dilanda kebosanan. Dalam setiap adegan kunci, musik indah namun haunting dari Mok Young-Jin kerap hadir untuk menambah kesan misteriusnya. 

Sedikit demi sedikit pula kita akan mempelajari karakter Hyung-Min dan Tae-Ho. Pertanyaan saya terhadap sikap Hyung-Min yang begitu antusias dalam menangani kasus Tae-Ho, walau tidak gamblang, setidaknya kita mengetahui motivasi nya. Kenapa tidak gamblang karena secara tersirat, motivasi Hyung-Min bisa jadi terhubung dengan erat atas kejadian di masa lalu. Bisa saja, usaha mati-matian yang ia lakukan atas dasar rasa kecewa nya dan ia tidak ingin rasa kecewa yang ia rasakan pada saat itu dirasakan juga oleh kerabat korban. Disisi lain, dengan flashback yang ada, penonton pun bisa menangkap motif dari kejahatan Tae-Ho. Entah ia merupakan seorang psikopat atau bukan, namun yang jelas karakter ini butuh banget terapi khusus untuk mengendalikan amarah nya. 

Dark Figure of Crime sayangnya tidak mempunyai adegan intens seperti film kriminal Korea Selatan lainnya, yang mencegah film ini menjadi sajian yang spesial. Ambil contoh The Chaser (2008) (diperankan Kim Yoon-Seok juga) yang masih berintensitas tinggi yang mampu mencengkeram perhatian penonton meski minim adegan aksi. Dalam Dark Figure of Crime, investigasi yang dijalani Hyung-Min disajikan dengan tempo yang santai, cenderung datar bahkan. Interogasi yang dilakukan Hyung-Min terhadap Tae-Ho pun minus akan atmosfir panas dengan penuh bentakan. Entah berapa kali saya pengen gitu sekali aja Hyung-Min kehilangan kesabaran lalu memukul Tae-Ho karena bosan dengan permainan dari Tae-Ho.

Bila di film The Chaser Kim Yoon-Seok memerankan karakter mantan polisi yang bertemperamen tinggi, disini sebagai Hyung-Min, ia jauh lebih kalem, tenang dan lebih mengandalkan kata-kata untuk bisa beradu dengan lawannya. Walau begitu, akting Kim Yoon-Seok tetaplah mengagumkan seperti biasa. Tetapi yang paling mencuri perhatian tidak terelakkan lagi adalah Ju Ji-Hoon yang berhasil membuat karakter Tae-Ho begitu mengesalkan karena muka dua nya serta begitu manipulatif. 

7,5/10


Friday, 25 October 2019



"Kamu....adalah kesalahan yang harus aku hapus"- Nyi Misni

Plot

Disebabkan faktor keuangan yang menipis, Maya (Tara Basro) pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Desa Harjosari, dengan niatan menjual rumah yang diyakini milik orang tua Maya.  Maya sendiri sama sekali tidak ada ingatan mengenai kedua orang tuanya karena semenjak ia kecil, Maya diasuh oleh bibi nya. Ditemani Dini (Marissa Anita), Maya rela melakukan perjalanan jauh ke desa tersebut, tanpa menyadari jika mereka berdua akan disambut dengan teror yang mengancam nyawa mereka.



Review

Nama Joko Anwar semakin dikenal luas berkat fenomena film remake nya 2 tahun lalu, Pengabdi Setan. Keberhasilan luar biasa film tersebut pun membuat penonton Indonesia mengantisipasi film-film Joko Anwar selanjutnya. Tentu saja sambutan penuh antusias dari penonton hadir ketika tersiar kabar Joko Anwar kembali akan merilis film horor lainnya berjudul Perempuan Tanah Jahanam pada tahun ini. 

Faktor mengapa Joko Anwar memiliki penggemar yang cukup besar dan sering diklaim sebagai sebagai salah satu sutradara Indonesia terbaik saat ini adalah visi nya sebagai sutradara maupun penulis naskah yang out of the box, cenderung berani serta terasa fresh sehingga terlihat berbeda dibandingkan film-film Indonesia lainnya. Ide dasar Joko Anwar memang selalu menarik, namun sayang, sering kali fondasi dasar tersebut juga tidak jarang tidak diimbangi dengan eksekusi yang memadai, seperti Kala dan Modus Anomali, yang terlihat sekali akan ambisiusnya Joko Anwar dalam memasukkan ide-ide liar miliknya. Menariknya, visi Joko Anwar selalu berhasil di dalam filmnya yang jauh lebih sederhana, seperti Janji Joni dan A Copy of Mind. Lalu, ada Pintu Terlarang yang masih menjadi film Joko Anwar terfavorit versi saya, yang menyeimbangkan ide gila serta eksekusi nya yang over the top namun berhasil. Lalu, bagaimana dengan Perempuan Tanah Jahanam sendiri?

Perempuan Tanah Jahanam (PTJ) masih menghadirkan ide liar dari sang sutradara. Saya cukup yakin sutradara Indonesia lain mungkin gak akan kepikiran untuk menghadirkan cerita horor berani seperti ini. Dengan setting film yang bertempat di dalam hutan belantara, PTJ begitu terasa atmosfir  mistis yang mencekam. Ditambah lagi Joko Anwar begitu pelit dalam menghadirkan cahaya terang di setiap menit PTJ bergulir. Rumah besar yang menjadi alasan utama mengapa Maya dan Dini rela mengunjungi desa Harjosari yang terpencil pun di garap Joko Anwar dengan teliti untuk menghadirkan kesan angker nya, seperti akar pohon yang menempel di dinding dan juga lukisan fotografi berukuran raksasa yang membuat saya berpikir betapa beraninya Maya dan Dini menatap lukisan tersebut dalam durasi yang cukup lama di tengah situasi rumah angker tersebut. 

Joko Anwar pun pintar dalam menghadirkan kisah misterius nya. Salah satu nya adalah apa yang terjadi di desa Harjosari. Semenjak Maya dan Dini menginjakkan kaki mereka di desa tersebut, penonton sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di desa itu. Ya, jika kota Palembang diserang dengan kabut asap, maka desa Harjosari memiliki kabut misterius yang sangat pekat. Selain itu, dari adegan pembuka pun Joko Anwar telah menebarkan pertanyaan mengenai identitas Maya, yang mendadak mendapatkan teror kala ia sedang melakukan tugasnya sebagai petugas karcis tol di malam hari. 

Menit-menit awal ketika Joko Anwar tengah membangun narasinya saat Maya dan Dini memulai kisah mereka di desa Harjosari memang sedikit cenderung monoton. Meski aura horor cukup kental, namun selain itu sama sekali tidak ada momen yang spesial. Joko Anwar tampaknya menyadari ini, sehingga ia pun menyiasati permasalahan ini dengan menyisipkan beberapa momen yang diniati untuk menakuti penonton. Namun untuk saya sendiri, yang memang sudah cukup berpengalaman dalam hal ditakuti dalam media bergenre horor, strategi ini pun mudah saya baca sehingga punchline nya sudah bisa saya tebak (dan sering kali benar). Untungnya saja misteri yang disimpan oleh Joko Anwar yang saya nyatakan sebelumnya telah berhasil merenggut atensi saya sehingga monotonnya pergerakan narasi di awal bisa saya maafkan. Ditambah adegan pembuka bersetting di gerbang tol sudah lebih dari cukup untuk mencengkeram atensi penonton, termasuk saya. Adegan ini pun juga berhasil menjadi favorit saya, karena luwesnya Joko Anwar dalam menghadirkan transisi momen santai, bahkan cenderung komedi, lalu seketika menjadi intens akibat hadirnya satu karakter.

Intensitas mulai memuncak di pertengahan film, ketika sesuatu terjadi pada satu karakter. Dari sini, kegilaan Joko Anwar mulai nampak. Seperti film-film Joko Anwar sebelumnya, ia sama sekali tidak malu dalam menampakkan adegan-adegan kekerasan, bahkan jika melibatkan karakter wanita sekalipun. Tidak tanggung-tanggung, Joko Anwar pun menjadikan tubuh manusia sebagai media  bermainnya dalam usaha menakuti penonton. Saya yakin, body horor yang dilakukan Joko Anwar disini merupakan salah satu yang terbaik dalam sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Tidak hanya disturbing, namun juga memberikan efek miris dan tak tega dari penonton akibat keberanian Joko Anwar.  By the way, kreativitas Joko Anwar juga terlihat saat ia begitu pintar nya dalam melibatkan seni pertunjukan asli Indonesia, yaitu wayang, untuk menjadi key point sebagai jawaban akan misterinya. Berkat ini pula saya yakin penonton akan merasakan hal yang berbeda kala melihat wayang selanjutnya.

Walau begitu, PTJ memiliki beberapa permasalahan yang membuat film ini bisa dikatakan adalah salah satu film terlemahnya Joko Anwar. Pertama adalah karakterisasi dari Maya yang terasa dangkal dan kurang menarik. Karakter Maya ini mudah sekali kita temukan di film-film horor lainnya. Tidak ada pendalaman karakter, tidak ada juga narasi yang kuat sebagai pembenaran mengapa Maya mengambil keputusan berani untuk mengunjungi desa kelahirannya. Saya rasa hanya karena kesulitan uang "saja" kurang cukup untuk mendorong seseorang mengambil keputusan yang seperti dilakukan Maya, apalagi tidak ada ikatan batin sama sekali yang tercipta pada diri Maya terhadap desa Harjosari, sehingga bagi saya keputusan Maya ini tidak hanya nekad, tetapi juga bodoh. Oh ya, kebodohan karakter utama dalam film horor untuk mengambil keputusan bukanlah suatu dosa, namun dikarenakan ini adalah film Joko Anwar, yang notabenenya dikenal sebagai sutradara yang out of the box, maka maaf saja, saya harus buat pengecualian. 

Kedua, dan bagi saya ini cukup fatal, adalah pilihan Joko Anwar dalam mengungkapkan jawaban sebenarnya akan kisah misteri yang menaungi desa Harjosari. Tidak hanya terlalu gamblang, namun juga merusak intensitas ketegangan yang tengah berlangsung akibat terlalu lama nya adegan ini berjalan. Padahal dalam Pintu Terlarang, Joko Anwar mampu memaparkan plot twist nya dengan cemerlang, karena Joko Anwar mau bersabar menunggu setelah intensitas yang terjadi sebelumnya telah berakhir. Kelemahan rutin milik Joko Anwar dalam menghadirkan beberapa baris dialog yang terdengar kaku pun juga masih hadir dalam PTJ.

Sebagai Maya, Tara Basro sudah berusaha seoptimal mungkin untuk menghidupkan karakter ini karena perihal naskah mengenai karakterisasi Maya yang cukup dangkal. Untung saja, Tara Basro cukup memiliki aura likeable sebagai protagonist utama. Lemahnya karakter Maya juga berhasil ditutupi oleh hadirnya Dini sebagai sahabatnya, yang berhasil menjadi scene stealer akibat penampilan memukau dari Marissa Anita. Ia berhasil menjadi comic relief utama dalam PTJ berkat paparan dialog nya yang seolah tanpa filter, dan juga memberikan ekspresi ketakutan meyakinkan sehingga membuat penonton perduli akan keselamatannya. Akting dari aktris senior, Christine Hakim pun tampak seolah ingin menasbihkan dirinya sebagai aktris terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. 

Meski memiliki beberapa permasalahan yang cukup mengganggu, namun tak terelakkan jika PTJ adalah bukanlah film horor yang sembarangan. Totalitas diberikan baik dari Joko Anwar dan kru nya yang harus berpindah kesana kemari untuk pengambilan gambar bersetting hutannya, juga dari barisan pemeran yang harus beradaptasi melakukan akting di medan yang cenderung sulit. PTJ pun ditutup dengan ending miris nan mencekam, yang membuat saya bersimpati banget sama penduduk Harjosari. 

7,5/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!